Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Debat (Catatan). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Debat (Catatan). Tampilkan semua postingan

Dusta Waris Kristen

Sesungguhnya, muslim tidak dibenarkan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran mengikuti nafsunya sendiri tanpa ilmu, dan menurut salahsatu hadits Rasulullah, barangsiapa yang tidak mengindahkan peringatan ini maka bersiaplah untuk mendapatkan tempatnya di neraka!

Itu sebabnya kenapa siswa Sekolah Minggu GMDKK hampir tidak pernah mengutip ayat-ayat Al-Quran -- khususnya dalam interaksi dengan kaum harbi -- karena itu sama artinya dengan membuang segenggam mutiara ke tumpukan kotoran hewan ternak bernama babi. 

Namun karena harbi yang satu ini patut dianggap sudah berlaku sangat kurang ajar dalam menyajikan dusta kristen dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran seperti dimuat di sini, maka sebagai pengecualian, kali ini perlu rasanya ditunjukkan kesalahan sekaligus bukti betapa menyedihkan sesungguhnya kebodohan umat yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai kaum sesat lagi menyesatkan ini.

Kita langsung saja!

KESALAHAN PERTAMA
TS dagelan ini dengan pedenya mengklaim bahwa Nabi Isa Almasih SUDAH WAFAT dalam perjalanan ke langit berdasarkan serampangan mengutil ayat QS. 5:117  sebagai dalil. Padahal QS. 5:117 adalah sequel dari QS. 5:116 yang "mengillustrasikan" dialog antara Allah SWT dengan Nabi Isa Almasih dalam sidang HARI PENGHAKIMAN di akhirat kelak. Bukan pada waktu beliau "diangkat" oleh Allah SWT ke sisi-Nya sekitar 2000 tahun lalu.

Selengkapnya terjemah firman Allah SWT yang mengisahkan kejadian yang akan datang tsb adalah sbb:

[116] "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib".

[117] "Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya Yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan Aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu."

KESALAHAN KEDUA
Firman Allah yang melekat pada peristiwa pengangkatan Nabi Isa Almasih adalah QS. 3:55. Selengkapnya terjemah ayat-ayat tsb adalah sbb:

[55] "(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (mewafatkanmu) dan mengangkat kamu kepada-Ku." 

Allah berfirman kepada Nabi Isa Almasih pada waktu DIA mengangkat beliau di mana ada disebutkan kata "akan" pada kalimat "mewafatkanmu" yang dengan sangat terang benderang menyiratkan bahwa kematian  nabi Isa Almasih TIDAK TERJADI pada waktu pengangkatannya melainkan kelak, yakni setelahnya, pada suatu waktu yang sudah ditentukan-Nya.

Dalam salahsatu hadits masyhur, Rasulullah saw bersabda,

" ..... Pada masa beliau, Allah akan membinasakan semua agama selain Islam, Isa akan membunuh Dajjal, dan beliau akan tinggal di muka bumi selama empat puluh tahun. Setelah itu ia meninggal dan kaum muslimin menshalatinya." [HR. Abu Daud No. 4324 dan Ahmad No. 2/437. Syaikh Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih]

Ini adalah informasi dari Allah untuk seluruh umat manusia yang disampaikan-Nya melalui Nabi Muhammad saw, bahwa nabi isa Almasih akan wafat setelah menunaikan seluruh tugasnya sebagai Nabi Allah yang tertunda pada masa kenabiannya dulu. 

Dengan demikian, kisah dalam QS. 5:117 baru akan terjadi setelah kematian beliau. 

KESALAHAN KETIGA
Sepintas, menggunakan QS. 21:34 untuk mendukung asumsi ngasal pada dua kesalahan di atas tampak cerdas, tapi sesungguhnya jauh lebih ngasal dibanding kedua asumsi ngasal sebelumnya.

Tidak ada manusia yang meragukan fakta bahwa adalah benar tidak ada manusia yang  hidup abadi di dunia (baca: di bumi -- karena semua manusia hidup di bumi). Dan sudah sejak lama Allah mengingatkan akan hal itu antara lain dalam QS. 7:25:

[25] Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan."

Artinya, sampai detik ini belum pernah ditemui cerita yang mengisahkan ada manusia yang lahir di bumi, hidup di bulan, mati di planet Mars, dimakamkan di planet Jupiter, dan dibangkitkan dari kematiannya di planet Mercurius!

Jadi, karena QS 7:25 merupakan sunatullah atas fitrah seluruh umat manusia tanpa kecuali, maka itulah sebabnya kenapa Nabi Isa Almasih dipastikan tidak akan mati sebelum beliau kembali lagi ke bumi kelak!

Pertanyaannya sekarang, kembali ke bumi dari mana?

KESALAHAN KEEMPAT
Perhatikan lagi QS. 3:55 di atas. Allah berfirman bahwa sebelum menyampaikan Nabi Isa Almasih kepada akhir ajalnya di bumi, Allah berkenan untuk lebih dulu mengangkat beliau "kepada-Nya." 

Islam mengajarkan bahwa Arsyi Allah berada di atas langit, maka kata "mengangkat" dalam ayat ini jelas mengindikasikan suatu tempat yang letaknya "di atas" bumi, bisa di mana saja antara lapisan langit pertama hingga langit ketujuh, atau tempat lain yang ditentukan oleh Allah sebagai tempat terbaik bagi Nabi Isa Almasih "di sisi-Nya." 

Yang pasti, tempat tsb bukan di sorga, karena setiap muslimin paham dengan sempurna bahwa tidak ada manusia yang sudah mendiami sorga sebelum selesainya seluruh proses sidang Allah SWT pada HARI PENGHAKIMAN setelah terjadinya kiamat nanti.

Karena itu, bicara tentang "di sisi-Nya", maka mau tidak mau kita harus masuk ke alam langit di mana segala sesuatu diukur menurut parameter langit.

Jadi, benarkah perjalanan waktu sejak peristiwa diangkatnya Nabi Isa ke langit hingga hari ini sudah berlangsung selama 2000 tahun? 

Dalam perhitungan waktu manusia di bumi, jawabnya, BENAR!
Tapi dalam perhitungan waktu langit, sesungguhnya peristiwa itu baru terjadi 2 hari yang lalu! 

Allah SWT berfirman,
"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. 32: 5)

Artinya, Nabi Isa Almasih berada "di atas sana" baru 2 hari yang lalu, sehingga sama sekali tidak cukup alasan untuk menganggapnya sebagai manusia yang hidup abadi sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT sendiri dalam QS. 21:34 sebagai hal yang mustahil!

Perihal perbedaan perhitungan waktu antara makhluk bumi dan makhluk Allah SWT lainnya di langit ini, selain sama-sama dijelaskan dalam Al-Quran dan alkitab (lihat tulisan Paulus dalam 2Petrus 3:8) juga didukung oleh penjelasan ilmiah dari para saintis modern jaman now, seperti salahsatu contohnya bisa dicermati di sini.

Dengan demikian, adalah luar biasa konyol membuat kesimpulan berdasarkan asumsi cacat nalar kristen bahwa menurut Al-Quran Nabi Isa Almasih pasti sudah wafat, sementara di sisi lain sangat boleh jadi saat ini beliau sedang tertidur lelap, atau boleh jadi pula sedang menikmati "quality time" yang disediakan oleh Allah SWT untuk beliau,  karena tempat terbaik "di sisi-Nya" tentulah tempat yang luar biasa istimewa seperti yang menjadi impian seumur hidup setiap muslim bila tiba saatnya meninggalkan dunia ini!

KESALAHAN KELIMA
Ini merupakan kesalahan klasik ajaran Paulus yang mendorong pengikutnya untuk senantiasa berdusta, bahkan tidak ragu untuk merobah, memutilasi, atau merekayasa firman Allah sesuka hati demi tercapainya tujuan kotor mereka! Ajaran Paulus ini, dalam keseharian di Sekolah Minggu GMDKK disebut sebagai ajaran kurang ajar!

Lihatlah! Demi membenarkan pikiran gilanya bahwa Allah SWT mengamini Nabi Isa Almasih "berfirman" kepada orang mati, pengikut Paulus yang sangat kurang ajar ini seenak perutnya mengedit QS. 6:111 menjadi begini:

"Dan sekalipun KAMI BENAR-BENAR menurunkan MALAIKAT kepada mereka, dan ORANG (ISA) yang TELAH MATI "BERFIRMAN" kpd mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran)." (QS. Al-An'am 6: Ayat 111)

Padahal teks terjemah yang benar (tanpa huruf kapital) sama sekali bukan berbicara tentang Nabi Isa Almasih, melainkan tentang Nabi Muhammad saw sbb:

[111] "Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran)."

Silahkan simak keterangan dan tafsir dari Kemenag RI, Al-Misbah, Al-Muyassar, Al-Jalalain, Ibnu Katsir, dan asbabun nuzul ayat tsb di sini.

KESALAHAN ABADI
Kesalahan abadi umat tersesat ini, yang diwariskan secara turun-temurun mengenai penyaliban, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Nabi Isa Almasih yang mereka paksa menjadi Yesus Kristus sejak tahun 325M hingga kiamat nanti adalah, kekufuran nyata yang tidak mau mengikuti petunjuk dari langit, namun sibuk sendiri mengikuti prasangka dan apa yang mereka karang-karang sendiri, lalu diimani sendiri! 

Allah SWT berfirman, 
"Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, lsa putera Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat lsa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. 4: 157-158)

Dengan demikian, maka sempurnalah pertunjukan kebodohan, kekurang-ajaran, dan kesesatan Kristen sebagai umat sesat lagi menyesatkan yang disajikan dalam TS DUSTA KRISTEN yang dibantah mentah-mentah oleh tulisan ini yang juga dimuat pada forum yang sama di sini.

Wallahu a'alam bisyawwab.
Semoga Allah SWT mengampuni kelemahan dan kesalahan saya.
Amin, Ya, Arrahman Ya, Arrahim.


[Bagus Pamungkas]

Kisah Penangkapan Yesus Yang Luput Dari Perhatian Pengikut Paulus


Ini memang agak panjang, tapi kalau kalian malas bacanya, maka selamanya akan tetap bodoh seperti domba betulan!

Perhatikan!
Ini menurut "kabar burung" dari injil-injil kanonik. 

Baca lagi Lukas 22:35-36
Ketika mencoba untuk menghindari kejaran tentara Romawi yang dalam skenario para bapa gereja nantinya akan dikisahkan sebagai peristiwa heroik luar biasa Yesus yang rela mengorbankan dirinya untuk mati terkutuk di tiang salib, maka di tengah malam buta, dengan sangat tergesa-gesa Yesus mengajak 11 muridnya (Yudas tidak ikut dalam rombongan "lari malam" ini karena nanti akan menyusul bersama tentara Romawi dan para imam Taurat) untuk bersembunyi di taman Getsemani.

Lukas 22:35-36 ini menceritakan bahwa Yesus dan sebelas murid setianya sedang mempersiapkan strategi penyelamatan diri mereka dari kejaran tentara Romawi, bahkan "siap" untuk melawan mati-matian meski hanya bersenjatakan seadanya, yaitu beberapa batang tongkat dan dua bilah pedang(?).

[22:35] Lalu Ia berkata kepada mereka: "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?" 
[22:36] Jawab mereka: "Suatupun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.

Perhatikanlah bagaimana suasana kepanikan mereka yang di satu sisi harus segera melarikan diri, sementara di sisi lain perbekalan mereka, terutama senjata, benar-benar sangat minim.

Dalam adegan di taman Getsmanilah kemudian kita bisa membaca sendiri dari injil-injil kanon kalian bagaimana paniknya Yesus -- anak manusia yang kalian anggap sebagai tuhan itu -- hingga mengungkapkan perasaannya seperti lazimnya makhluk lemah tak berdaya dengan berkata "ingin mati rasanya" saking takut kepada besarnya ancaman yang sedang mendatangi dirinya. Pada situasi genting ini, Yesus masih mengandalkan perlindungan dari 3 muridnya yang gagah; Petrus dan dua anak Zebedeus. Baca lagi Matius 26:36-38 di bawah ini,

[26:36] Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." 
[26:37Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 
[26:38] lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. "

Coba pikir sendiri, mungkinkah tuhan mengandalkan keselamatan dirinya pada perlindungan dari makhluk ciptaannya sendiri? Tentu saja TIDAK!

Itu sebabnya sebagai hamba Allah yang taat, Yesus kemudian menggantungkan nasibnya kepada kemahakuasaan Allah, seperti dapat disimak dalam permohonannya kepada Allah yang dengan jelas mengungkapkan penyerahan diri secara total (sesuai definsi "Muslim" menurut terminologi dalam ajaran Islam) kepada kehendak Allah. Bukan kepada kehendaknya sendiri yang tentu saja lebih pilih melarikan diri sejauh-jauhnya dari kejaran tentara Romawi daripada mati konyol di tiang salib!

Teks lengkap doa Yesus bisa kalian simak dalam Lukas 22:42 ini,

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Lalu apa yang terjadi?
Laporan selanjutnya tertulis dalam Lukas 22:43-44 begini:

"Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah."

Sampai di sini, kita stop dulu sejenak. Kalian bacalah sekali lagi penggalan cerita ini mulai dari awal sampai ke bagian ini.

Kenapa?
Supaya kalian bisa lihat sendiri bahwa sama saja seperti kita semua, Yesus juga makhluk ciptaan Allah yang lemah, punya rasa gentar dan sangat takut pada ancaman terhadap keselamatan jiwanya, bahkan bisa demikian panik sampai ingin mati (maksudnya jelas: bunuh diri) daripada mati terhina di tiang salib!
Sampai di sini, cukup jelas ya?
YESUS TAKUT DAN TIDAK SUDI MATI SECARA HINA DINA DI TIANG SALIB!
Nah, sekarang catat yang lebih penting untuk kalian ingat baik-baik dalam benak kalian, yaitu berita dari kitab kalian sendiri yang mengabarkan bahwa di atas semua rasa gentar dan takutnya itu, ternyata Yesus lebih takut lagi melihat wujud malaikat Allah!

Coba kalian PIKIR SAJA SENDIRI deh; 
Masa sih ada tuhan yang takut pada makhluk ciptaannya sendiri?

Jika kalian angap itu wajar dalam apa yang kalian yakini sebagai "dwinatur" Yesus, maka persoalannya akan semakin ruwet! Bukankah doktrin dwinatur ini yang melahirkan jargon Yesus adalah 100% manusia dan 100% Tuhan?

Kalian tahu bagaimana seharusnya memahami jargon konyol tsb?
Pada saat yang sama ketika Yesus adalah 100% manusia, saat itu juga dia adalah 100% Tuhan! Artinya, kapanpun juga, di manapun juga, dalam situasi seperti apapun juga, Yesus yang 100% manusia itu adalah adalah 100% Tuhan!

Tapi pada kenyataannya, kuulangi, pada kenyataannya tokh selama hidupnya Yesus adalah manusia biasa seperti kita-kita ini, dan tak ada secuilpun natur ilahi pada dirinya seperti sudah sama-sama kita buktikan di atas tadi. Jadi, wajar saja jika dia bisa sampai demikian takutnya melihat Malaikat Allah!

Kalian bayangkanlah sendiri betapa dahsyatnya wujud Malaikat Allah yang datang untuk memberi Yesus kekuatan ini dibandingkan dengan iblis yang pernah seenak perut menenteng-nenteng anak manusia yang kalian jadikan tuhan itu dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan begitu kurang ajarnya menaruh Yesus di atap Bait Allah lalu menyuruhnya melompat ke tanah supaya seluruh tulang belulangnya remuk redam! 

Kepada Iblis yang pasti wujudnya menyeramkan saja Yesus tidak takut, tapi kenapa kepada malaikat Allah dia demikian takut sampai keringatnya menetes deras bagai darah yang tercurah ke bumi?

Ini kan sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa Yesus bukan tuhan? 
Jika benar dia adalah tuhan, tentu iblis tidak akan berani sekurang ajar itu terhadap dirinya, dan yang pasti Malaikat tidak perlu datang untuk memberinya kekuatan, bukan?!

Kita lanjutkan sedikit lagi.
Setelah malaikat Allah memberinya kekuatan, maka cerita ketakutan Yesus tadi berobah menjadi keberanian yang luar biasa!

Tentang ini bisa kalian ikuti kisahnya dalam Markus 42:32-50, di mana ketika akhirnya Yesus ditawan oleh tentara Romawi, semua muridnya langsung lari tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing!

Makanya, kisah selanjutnya menjadi "mbulet", karena kebenaran peristiwa penyaliban Yesus itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya dan TERBUKTI tetap menjadi MISTERI hingga hari ini.

Kenapa misteri?
Sebab segala cerita yang tertulis dalam kitab kalian tentang apa yang terjadi setelah Yesus ditawan oleh tentara Romawi jelas tidak bisa diterima sebagai kebenaran absolut sebab dikarang oleh penulis injil yang tidak jelas identitasnya, bukan saksi mata kejadian sebenarnya, bukan pula murid Yesus, bahkan baru mulai direka-reka supaya sesuai dengan kehendak para bapa gereja sekitar 50 s.d 100 tahun setelah Yesus "raib" entah ke mana! 

Sampai di sini, harap kalian GARISBAWAHI dan INGAT BAIK-BAIK!
Bagi umumnya umat Islam, atau paling tidak bagi GM sendirilah dulu, kisah di atas itu tidak penting karena pada prinsipnya tidak ada urgensinya dengan iman umat Islam. Tapi di lain pihak menjadi sangat penting untuk kalian ketahui karena jika pendeta kalian tidak pernah menceritakannya seperti yang GM suguhkan ini, setidaknya kitab kalian sendiri sudah membuktikan bahwa dari sepotong cerita di atas saja, sudah bisa ditarik kesimpulan sangat logik; MUSTAHIL Yesus adalah Tuhan!
Sedangkan tentang keyakinan kalian bahwa Yesus mati di tiang salib guna menebus dosa umat manusia sesuai nubuat para nabi terdahulu, juga tidak kalah mustahilnya. Sebab sekalipun sudah "di-othak-athik-gathuk" oleh para Bapa Gereja supaya Yesaya 52 dan 53 menjadi cocok untuk nubuat penyaliban Yesus, nyatanya cerita itu adalah nubuat yang salah alamat! Ini membuktikan bahwa hanya dari sepotong kisah di atas saja sudah tampak jelas bahwa Yesus tidak sudi disalib bahkan lebih pilih bunuh diri daripada mati konyol di tiang salib!

Itu sebabnya kenapa Gus Mendem "Sitopap Salimbubu" ini (tanya artinya pada orang batak​) memilih untuk jadi "penghalang" alias "batu sandungan" buat siapapun dari kalian yang coba memaksakan iman "bodong" kristen (layaknya motor bebek tahun 70-an tanpa surat-surat) kepada sodara-sodara muslimku di manapun juga!

Lalu, apakah cuma itu alasannya kenapa tiba-tiba saja GM mengupas serba sedikti kisah tentang penangkapan dan penyaliban Yesus di atas? 
Jawabnya TIDAK JUGA!

Alasan lainnya adalah karena aku sempat membaca TS tolol dari kawan kalian  yang sudah lama terbukti selalu berpikir menggunakan otak domba betulan dalam salahsatu lapaknya menulis begini:
Re-Quote:
"Jika kau berkeras maka jibril akan susah payah hidup dalam diri Isa almasih.
---> jiwanya Almasih diperkuat oleh RK (QS 5:110).
Kecuali kau bilang Jibril berinkarnasi dalam tubuh Isa."
(Lihat selengkapnya di sini
Ini bukti bahwa kawan kalian itu sama tidak tahunya dengan kalian bahwa QS. 5:110 sebetulnya sudah sejak lama dijelaskan oleh kitab kalian sendiri!

Yang dimaksud dalam QS 5:110 sudah ditunjukkan oleh Lukas 22:43 di mana diceritakan Allah mengirim Malaikat untuk memberi nabi-Nya kekuatan dalam menghadapi detik-detik akhir menjelang peristiwa penyaliban yang hingga detik ini sampai datangnya kiamat nanti akan tetap tinggal sebagai teka-teki, khususnya bagi kalian.

Jadi, arti QS 5:110 itu bukan menjadikan penghulu para Malaikat bernama Jibril alayhi salam untuk selamanya berada di sisi, apalagi sampai berinkarnasi ke dalam wujud nabi Isa alaihissalam, cuma sekedar untuk pemberi kekuatan doang! 

Ini jelas menyalahi kodratnya sebagai Malaikat pembawa wahyu Allah kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun di seantero jagad raya ini sejak awal penciptaan alam semesta hingga kiamat nanti!

Lantas, kenapa Yesus diceritakan demikian takut melihat Malaikat Jibril?

Jawabnya, jelas saja takut! Sebab wujud Malaikat yang selanjutnya dikisahkan dalam Lukas 22:44 memang luar biasa dahsyat sebagaimana digambarkan dalam beberapa hadits, antara lain yang "soft" saja deh, misalnya dalam kitab tafsir Sowi halaman 176 Jilid 4.

Dikisahkan Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakan diri (untuk yang pertama kali) yang tingginya telah ada di ufuk (melewati batas penglihatan).

Maka bertanya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam

"Wahai Jibril aku tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk (yang sangat besar) seperti bentuk mu ini.

Malaikat Jibril menjawab: "Wahai Muhammad. "Aku (hanya) membentangkan dua sayap. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapnya seluas antara timur dan barat."

"Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata: "Sesungguhnya penciptaanmu sangat Besar"

Malaikat Jibril berkata: "Dan tidaklah aku disamping ciptaan-ciptaan Allah hanyalah sesuatu yang kecil. Dan Allah telah menciptakan Israfil, dia lebih besar dan memiliki 600 sayap, dan setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, sampai-sampai dia melipatnya sekecil mungkin."

Sedangkan pada saat-saat lain bertemu dengan Nabi dalam wujud manusia, Malaikat Jibril biasanya selalu mengenakan busana kebesarannya, putih laksana mutiara yang larut, dengan rupa yang begitu elok dan rupawan, dan dengan kekuatan yang dahsyat penuh mukzijat.

Kalian mau tau juga seberapa besar malaikat Isrofil sang peniup terompet kematian seluruh makhluk Allah pada hari kiamat nanti?

Baca catatan lama GM di sini

Nah, sekarang kalian sudah tau bukan, kenapa bagi umumnya umat Islam Mustahil Yesus adalah tuhan?

Kenapa, coba?
Karena jangankan Al-Quran, sedangkan kitab kalian sendiri juga membuktikan bahwa dia memang BUKAN Tuhan!

NGERTI ya?

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Gus Mendem | Orat-oret akhir pekan kedua Januari 2018]

Pdt. Budi Asali, Berkelit Dengan Cara Yang Sangat Buruk!


Catatan kecil Gus Mendem tentang kualitas mental seorang pendeta
Atas ajakan dari akhi Indra Zainuddin agar sekali-sekali saya juga mampir untuk titip thread di grup kampung sebelah dengan nama sangat percaya diri yaitu MEMPERTANGGUNG-JAWABKAN IMAN KRISTEN maka kemarin saya pun menuliskan lagi TS basi -- namun belum pernah terjawab dengan benar -- begini:

TENTANG DOKTRIN DOSA WARIS ATAU DOSA ASAL
Jika benar ini merupakan ajaran Yesus, maka mari kita mulai dari yang simpel-simpel saja dulu.

Tolong tunjukkan di mana dalam alkitab ada tertulis bahwa Yesus pernah menyebut-nyebut nama Adam dan mengajarkan pula kepada murid-muridnya bahwa beliau terlahir khusus untuk mati di tiang salib guna menebus dosa yang konon katanya telah diwariskan oleh Adam kepada setiap anak manusia.

INGAT!
Yang diminta adalah PEMBUKTIAN dari alkitab bahwa Adam dan dosa waris memang dikenal oleh Yesus dan menjadi bagian dari ajaran beliau. BUKAN ngarang bebas!


Dengan mengesampingkan sebagian besar komentar dari laskar kristrus odong-odong yang cuma berebut "tebar sampah" saja di TS tsb, maka untuk membuktikan kualitas "pertanggung jawaban Iman" umat kristen sebagaimana yang mereka gadang-gadang lewat nama grup tsb, berikut ini saya lampirkan penggalan screenshot (dengan kualitas sangat buruk) rekaman dialog saya dengan akun yang mengaku sebagai "pendeta" Budi Asali seperti berikut:

CATATAN: Jika TS di atas masih belum dihapus oleh yang "mbaureksa" di grup tsb, maka dialog serabutannya bisa disimak di sini.

Kisah Pertemuan Nabi Musa Dengan Allah Menurut Alkitab Dan Al-Quran


Dalam salahsatu threadnya berjudul Satu Cerita Tiga Versi Dalam Alquran di forum diskusi GUS MENDEM DAN KAWAN-KAWAN, dengan bermodalkan studi  terjemah Al-Qur'an dan riwayat urutan turunnya surah-surah Al-Quran, sparing-partner lama saya; Theos Anner, MEMPERTANYAKAN periwayatan 'pertemuan' nabi Musa dengan Allah yang menurutnya tidak konsisten karena bentuk penulisan dalam ayat-ayat (dia menukil QS. 27:7-12; QS 28:29-35; dan QS 20:9-36) yang merujuk kepada peristiwa tsb yang ditudingnya sebagai kontradiktif.

Intinya -- seperti mudah sekali ditebak -- dia ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa firman ALLAH dalam Al-Qur'an mencla-mencle, dan hal ini sudah tentu cukup dijadikan alasan untuk mengajak seluruh pembaca supaya rame-rame meragukan kebenaran Ilahiyah dalam Al-Qur'an.

Sebetulnya tidak ada yang aneh pada periwayatan dalam 3 surah yang ditudingnya sebagai '3 versi' tsb, sebab riwayat dalam QS. 27:7-12 sejatinya adalah 'penggalan' wahyu Allah kepada nabi Muhammad saw yang menceritakan tentang mukjizat tongkat nabi Musa dalam peristiwa -- kita persingkat saja -- pada QS 28:29-30 dan QS 20:9-14. 

Sedangkan muatan paling substansial dari QS 28:29-30 dan QS 20:9-14 sebenarnya adalah tentang bagaimana ALLAH MEMPERKENALKAN DIRI kepada nabi Musa. 

Dan karena peristiwa ini sama-sama tertulis, baik dalam Al-Qur'an maupun dalam Alkitab, maka cerita selanjutnya menjadi sangat menarik, sebab tela'ah komparatif terhadap dua kitab ini tentang peristiwa yang sama ternyata berujung menjadi bumerang bagi si penggugat Al-Qur'an!

PERIWAYATAN AL-QUR'AN TENTANG PERTEMUAN NABI MUSA DENGAN TUHAN 
Ketika beliau keluar dari negeri Madyan untuk kembali ke Mesir, di perjalanan Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa. Al-Qur'an memuat kisah ini dalam 2 rangkaian ayat yaitu pada [QS 28:29-30] dan [QS 20:9-14] 

[28:29] Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung ia berkata kepada keluarganya: "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan".

[28:30] Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: "Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam (Innii anaa allaahu rabbu al';aalamiina)

[20:9] Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? 
[20:10] Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu". 
[20:11] Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa. 
[20:12] Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. 
[20:13] Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). 
[20:14] Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau';budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii).

Secara jelas Al-Qur'an menginformasikan bahwa Tuhan memperkenalkan diri-Nya dengan nama "Allah", yang tiada "ilah" selain diri-Nya. Informasi ini menunjukkan bahwa nama tersebut merupakan proper name dari Tuhan. BUKAN istilah atau nama jabatan.

Kita menemukan catatan alkitab terhadap peristiwa yang sama pada kitab Keluaran 3:2-14 dengan gaya bahasa yang 'sangat manusiawi' tetapi sedikit agak 'complicated' sbb: 

[Keluaran 3:2-14] Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: "Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?" Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: "Musa, Musa!" dan ia menjawab: "Ya, Allah." Lalu Ia berfirman: "Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus." Lagi Ia berfirman: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub." Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah. Dan TUHAN berfirman: "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, ke tempat orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Feris, orang Hewi dan orang Yebus. Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir." Tetapi Musa berkata kepada Allah: "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" Lalu firman-Nya: "Bukankah Aku akan menyertai engkau? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau: apabila engkau telah membawa bangsa itu keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini." Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? - apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

Dalam rangkaian cerita ini terlihat pemakaian istilah untuk Tuhan dengan bermacam-macam sebutan: Malaikat TUHAN, Allah dan TUHAN. 

Dalam terminologi Kristen, kata Allah adalah nama jabatan, sedangkan kata TUHAN merupakan terjemahan dari nama diri YHWH (sebagian Kristen melafadzkannya dengan Yahweh, sebagian lain Yehova atau Jehova). Tidak jelas apakah ketika Tuhan akan bertemu dengan Musa, malaikatnya 'mempersiapkan jalan' terlebih dahulu, lalu baru Tuhan muncul dan menyapa Musa. 

Dan agak aneh juga ketika Musa menjawab: "ya Allah", maksudnya tentu "ya Tuhan", untuk menunjukkan bahwa Musa sudah mengerti yang menyapanya adalah Tuhan. Dan dialog 'nggak nyambung' ini kembali terjadi ketika Tuhan melanjutkan dengan penjelasan: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub." Tentunya ini dimaksudkan sebagai, "Akulah Tuhan dari nenek-moyangmu!" 

Lagi-lagi dialog ini terlihat nggak nyambung karena dari caranya menjawab, tampak jelas Musa sudah mengetahui bahwa yang menyapanya adalah Tuhan. Artinya Musa tentu memahami kalau Tuhan yang menyapanya merupakan juga Tuhan dari nenek-moyangnya, kecuali kalau Musa memang belum mengerti menggunakan logika sederhana ini.

Setelah Tuhan menjelaskan siapa diri-Nya dan melanjutkannya dengan perintah agar Musa menyelamatkan kaumnya dari siksaan Fir'aun di Mesir, Musa terkesan ragu. Dan keraguannya itu tampak bukan karena harus berhadapan dengan Fir'aun, tapi justru ditujukan kepada kaumnya sendiri. Musa mengatakan "apabila aku mendapatkan orang Israel" menunjukkan prediksinya bahwa amanat yang akan dia laksanakn akan mendapat tantangan dari kaum Israel sendiri, dan tantangan tersebut pasti terkait dengan pertanyaan: "Siapa yang menyuruh Musa?" 

Kembali dialog terlihat aneh karena Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan nenek-moyang Musa sekaligus merupakan Tuhan dari kaum Israel yang akan diselamatkan, tapi mengapa Musa masih meragukan sikap dari kaumnya sendiri? 

Sebagian tafsir Kristen mengungkapkan perkataan Musa selanjutnya soal pertanyaan tentang nama Tuhan:

"Mah shemo?" [siapakah nama-Nya]. Dalam tata bahasa Ibrani, untuk menanyakan sesuatu atau seseorang, biasanya digunakan bentuk tanya "mi?" Namun penggunaan kata "ma", bukan hanya bermaksud menanyakan nama secara literal namun hakikat atau pribadi dibalik nama itu. [Lihat penjelasannya di sini]  

Lalu Tuhan menjawab "Aku adalah Aku" dan "Akulah Aku yang mengutus kamu." 

Lebih lanjut penafsiran dari link tersebut:

"Ehyeh Asyer Ehyeh" yang artinya "AKU ADA YANG AKU ADA". Tapi Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkannya dengan sebagai, "AKU ADALAH AKU." 

Terjemahan ini tidak tepat. Jika "AKU ADALAH AKU", seharusnya dalam teks Ibrani tertulis "ANOKHI HAYAH ANOKHI". Kenapa? Sebab kata "EHYEH", merupakan bentuk kata kerja imperfek [menyatakan sesuatu yang sedang berlangsung atau belum selesai] dari akar kata "HAYAH". 

G. Johanes Boterweck dan Helmer Ringren dalam Theological Dictionary of The Old Testament menjelaskan bahwa kata "Hayah" digunakan dalam Perjanjian Lama dan diterjemahkan dengan opsi sbb:

1. "Exist, be Present" [Ada, Hadir] 
2. "Come into Being" [menjadi] 
3. Auxilaries Verb [kata kerja bantu]

DR. Harun Hadiwyono dalam bukunya IMAN KRISTEN, menyatakan bahwa kata "Ehyeh" bermakna "Aku Berada."  Namun penulis lebih cenderung menerjemahkannya menjadi "AKU [AKAN] ADA!"

Penafsiran tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyatakan nama diri-Nya. Hal ini berbeda dengan informasi Al-Qur'an yang menyatakannya dengan jelas bahwa Tuhan yang dimaksud adalah ALLAH. Penyebutan nama Tuhan berdasarkan Al-Qur'an tersebut juga bukan berasal dari pertanyaan Musa yang ragu akan sikap kaumnya, tapi merupakan 'inisiatif' Tuhan sendiri. Al-Qur'an mencatat kekhawatiran Musa justru tertuju kepada Fir'aun, bukan kepada bgaimana sikap kaumnya nanti.

[20:45] Berkatalah mereka berdua: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas."

[20:46] Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat."

Alkitab melanjutkan ceritanya bahwa pengenalan nama Tuhan dilakukan setelah Musa dan Harun menghadap Fir'aun dan meminta agar dia membebaskan kaum Israel dari penindasan. Lalu Fir'aun bereaksi dengan mempersulit pekerjaan kaum Israel (Keluaran 5:6-19) sehingga membuat Bani Israel berbalik menyalahkan Musa (Keluaran 5:20-21). Akibatnya, Musa 'memprotes' Tuhan (Keluaran 5 :22-23). Setelah itu Tuhan menjanjikan bahwa Dia akan menaklukkan Fir'aun (Keluaran 6:1) dan ini dilanjutkan dengan 'proklamasi' nama Tuhan secara berulang-ulang:

Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: 

"Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. Bukan saja Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka tinggal sebagai orang asing, tetapi Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku. Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat. Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu, supaya kamu mengetahui, bahwa Akulah, TUHAN, Allahmu, yang membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir. Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN."

Kata TUHAN merupakan terjemahan dari YHWH, suatu nama yang dianggap merupakan nama diri Tuhan dalam kekristenan. Kisah ini menjelaskan bahwa jawaban Tuhan sebelumnya atas keraguan Musa terhadap umatnya tidak bekerja dengan efektif. Pernyataan "Aku adalah Aku" tidak akan bisa meyakinkan orang-orang Israel begitu mereka mendapat tekanan dari Fir'aun, sehingga Tuhan kembali menjelaskan siapa diri-Nya dengan menyatakan nama diri 'YHWH', lalu dilanjutkan dengan janji-janji bahwa kaum Israel yang mau mengikuti Musa akan dibebaskan dari perbudakan dan diberikan negeri yang dijanjikan kepada nenek-moyang mereka. 

Ada satu pernyataan yang menarik disini. Ketika Tuhan menegaskan bahwa nama YHWH tersebut belum dinyatakan kepada Abraham, Ishak dan Yakub sekalipun Tuhan telah membuat perjanjian dengan mereka. Lalu dengan memakai nama apa Tuhan membuat perjanjian tsb? Katakanlah ada 2 pihak membuat perjanjian, seharusnya masing-masing pihak mencantumkan nama jelas yang menunjukkan identitasnya, kemudian keduanya membubuhkan tanda-tangan di atas materai sebagai suatu ikatan yang mengikat bagi masing-masing. Sangat aneh kalau ada salah satu pihak tidak mencantumkan nama jelasnya. Itu tidak dapat difahami sebagai suatu perjanjian, atau jika dipaksakan juga, maka merupakan perjanjian yang sangat ganjil. Dan hebatnya lagi, kaum Israel tetap saja tidak mempercayai nama yang disampaikan Musa (Keluaran 6:9)

[Lihat bagaimana alkitab memuat informasi yang simpang-siur tentang kapan nama YHWH pertama kali diperkenalkan di sini]

Persoalan ini tentu saja memunculkan banyak teori dari kalangan Kristen sendiri, dan tidak ada satu pihakpun yang bisa memastikan yang mana dari sekian banyak pendapat mereka yang benar.
  • Teori pertama dikemukakan oleh John Mc.Faydyen
Menurutnya, para Patriakh atau leluhur Israel, belum mengenal nama Yahweh. Mereka hanya mengenal nama El Shaday. Nama Yahweh baru diungkapkan melalui Musa. Nama Yahweh diambil dari suku Keni dan Midian yang sudah tinggal lama di Horeb. Kemudian nama Yahweh diadopsi menjadi nama Tuhan bagi orang Israel.
  • Teori kedua dikemukakan oleh Thomas Scott dan Robert Jamieson
Menurut mereka, ungkapan dalam Keluaran 6:3 bukan suatu pernyataan melainkan suatu bentuk pertanyaan, sehingga menghasilkan bentuk kalimat, "Namun dengan Nama-Ku, Yahweh, belumkah, atau tidakkah Aku memperkenalkan diri pada mereka?"
Dia menjelaskan bahwa Keluaran 6:3 merupakan kehadiran pewahyuan secara khusus mengenai nama Yahweh, namun bukan berarti untuk pertama kalinya nama Yahweh itu didengar oleh para leluhur Israel. [Lebih lengkap, lihat di sini]

Si penulis lalu menyatakan keberpihakannya kepada teori ketiga dengan menyatakan:
Beberapa kesimpulan penting yang dapat kita peroleh dari kajian singkat ini adalah: Pertama, nama Yahweh sudah dikenal sejak zaman Adam [Kej 2:7], Enos [Kej 4:26] dan leluhur Israel Namun pada zaman Abraham, Yitshaq dan Yakob, sebutan El Shadai lebih populer dan familiar untuk menyebut nama Yahweh. Kedua, nama Yahweh disingkapkan secara definit dan ekslusif pada Musa demi tugas perutusannya. Nama Yahweh dihubungkan sebagai nama yang membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, nama yang dihubungkan sebagai pemberi Torah bagi Israel. Ketiga, makna kata "tidak" atau "belum" dalam Keluaran 6:2, bukan bermakna bahwa nama Yahweh sama sekali tidak dikenal. Merujuk pada pengalaman Hagar, yang menamakan Yahweh yang memberi air di padang gurun, sebagai El Roi, maka nama Yahweh sesungguhnya telah dikenal namun lebih familiar dengan sebutan-sebutan pengganti, untuk mensifatkan karakter dan karya-Nya.

Dalam suatu diskusi dengan penulis yang bersangkutan, dia menerima jawaban mengapa sampai nama YHWH tersebut tidak familiar dan populer pada jalan manusia sebelum Musa, dan jawabannya adalah: "Karena manusia semakin jauh terpisah dari Tuhan (Kej 3:24) maka bukan hanya mengakibatkan disorientasi hubungan personal dengannya melainkan pengetahuan mengenai nama pribadinya." Ini jelas merupakan alasan yang kembali menimbulkan tanda-tanya:

1. Karena Kejadian 3:24 bercerita tentang Adam dan Hawa, maka jika alasan tersebut yang digunakan, maka seharusnya pihak yang 'lupa' pada nama Tuhannya adalah Adam dan Hawa. Namun pada Kejadian 4:1 justru Hawa-lah yang dinyatakan menyebut nama tersebut. 

2. Jika terkait dengan soal popularitas, maka tentunya harus dijelaskan berapa banyak manusia sebelum jaman Musa yang bertindak jauh dari Tuhan dan berapa banyak yang merupakan hamba-Nya yang taat. Hal ini tidak bisa digeneralisir karena tokh disebut-sebut bahwa nama YHWH sudah dikenal?

Jelas terlihat betapa alasan yang dikemukakan sangat lemah, dan teori-teori yang muncul di sekitar simpang-siur informasi kapan nama YHWH tersebut pertama kali diperkenalkan pun tetap menjadi tanda-tanya besar.

ASAL MULA NAMA YHWH DAN TEMUAN ARKEOLOGI
Dari persepektif Islam, akan muncul pertanyaan: "Jika Al-Qur'an menyatakan bahwa nama tersebut adalah 'ALLAH' sedangkan alkitab menyebutnya YHWH, lalu darimana asalnya nama YHWH tersebut?" 

Indikasi tentang asal-mula nama ini bisa kita dapati pada temuan arkeologi berupa prasasti yang dibuat pada jaman Fir'aun Amenhotep III [Baca penjelasannya di sini]

Prasasti tersebut diperkirakan dibuat tahun 1400 BC pada masa pemerintahan Fir'aun Amenhotep III. Fir'aun ini termasuk salah seorang raja Mesir dari generasi ke-18, yaitu suatu generasi raja-raja Mesir yang berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan menyebar sampai ke wilayah Syria dan Palestina, sehingga terbuka kemungkinan untuk berinteraksi dengan suku-suku nomaden yang mendiami wilayah tersebut. Orang Mesir menjuluki suku-suku nomaden tersebut dengan kata 'Shahu'. Al-Qur'an dan alkitab mengindikasikan bahwa Shahu ini merupakan kelompok-kelompok penyembah berhala [QS 7:138] dan [Keluaran 23:23-24]. Prasasti tersebut mengidentifikasikan salahsatu Shahu yang berada di wilayah Palestina dengan sebutan "the land of the Shasu of Yahweh." 

Ada beberapa analisa dari para arkeolog soal nama ini:
Now let us draw some conclusions regarding the Land of the Shasu of Yahweh. Since no geographical term that is anything like Yahweh has been identified, this suggests that the hieroglyphic phrase t3 sh3sw ya-h-wa should be translated as "the land of the nomads who worship the God Yahweh" rather than as "the land of the nomads who live in the area of Yahweh." In addition, the fact that no geographical term anything like Yahweh has been identified also strengthens the likelihood that the words ya-h-wa in the Soleb and Amarah texts are indeed early mentions of the God of Israel. 

[Sekarang mari kita menarik beberapa kesimpulan tentang Tanah Shasu Yahweh. Karena tidak ada istilah geografis yang sesuatu seperti Yahweh telah diidentifikasi, hal ini menunjukkan bahwa frase sh3sw hiroglif ya t3-h-wa harus diterjemahkan sebagai "tanah suku nomaden yang menyembah TUHAN," daripada sebagai "tanah suku nomaden yang tinggal di daerah Yahweh. "Selain itu, fakta bahwa tidak adanya istilah geografis yang mengidentifikasikan Yahweh juga memperkuat kemungkinan bahwa kata-kata ya-h-wa dalam teks Soleb dan Amarah memang awal menyebutkan dari Allah Israel].

Para ahli ini berusaha untuk memunculkan istilah 'Yahweh' bukan merujuk kepada nama suatu tempat, tapi merupakan nama sesembahan dari suku nomaden tersebut.

Amnehotep III berkuasa tahun 1390 -1352 BC, jauh sebelum masa pemerintahan Ramses II, dan Meneptah berkuasa tahun 1279 - 1203 BC, sebagai Fir'aun yang diindikasikan berkuasa pada jaman nabi Musa saat peristiwa eksodus terjadi sebagaimana diinformasikan oleh alkitab. [Lihat penjelasan wikipedia di sini

Penyebutan nama tersebut memunculkan beberapa pertanyaan terkait dengan beberapa hipotesa tentang nama Yahweh dalam Perjanjian Lama:
  1. Berdasarkan alkitab, nama Yahweh belum diperkenalkan sebelum peristiwa eksodus, lalu darimana suku nomaden penyembah berhala yang hidup jauh di Palestina mengenal nama tersebut?
  2. Jika digunkan hipotesa lain yang menyatakan bahwa nama tersebut sudah diperkenalkan namun tidak populer (karena manusia yang hidup telah terpisah dari Tuhan), lalu mengapa justru nama Yahweh lebih populer di tengah-tengah suatu suku nomaden penyembah berhala, dan bukan didapatkan dari orang-orang Israel yang hidup ditengah-tengah bangsa Mesir sebagai budak?
Fakta-fakta tersebut memunculkan suatu kemungkinan bahwa nama Yahweh sebenarnya berasal dari nama berhala yang disembah oleh suku Shasu di wilayah Palestina, lalu orang-orang Israel yang diselamatkan Musa menyeberang ke wilayah tersebut mengadopsi nama itu menjadi nama Tuhan. Apakah mustahil ini yang terjadi?

KEDEGILAN BANGSA ISRAEL
Untuk memahami bahasan ini, terlebih dahulu kita harus mengungkapkan bagaimana sebenarnya perilaku kaum Israel pengikut nabi Musa ini. Alkitab menceritakan bahwa karakter mereka yang suka membangkang dan tidak tahu berterima-kasih, termasuk kecenderungan untuk menciptakan Tuhan selain yang disembah oleh nabi Musa. Baru saja mereka diselamatkan dari bangsa Mesir dan menyeberang lautan, mereka sudah mulai bertingkah banyak menuntut kepada Musa, bahkan ketika Musa tidak bersama mereka selama 40 hari karena sedang berada di atas bukti Sinai, mereka membuat patung sapi dari emas lalu menyembahnya. Hal ini benar-benar membuat Musa marah besar dan membanting loh-loh batu berisi hukum-hukum Taurat yang didapatnya dari Tuhan. Kerepotan Musa terhadap kelakuan kaumnya ini tercatat pada Kejadian 15 s.d 20 dan Kejadian 32, sehingga akhirnya Tuhan dan Musa sendiri menyatakan 'nubuat' tentang masa depan bangsa ini:

Begini firman Tuhan pada Ulangan 31:16-18
TUHAN berfirman kepada Musa: "Ketahuilah, engkau akan mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu dan bangsa ini akan bangkit dan berzinah dengan mengikuti allah asing yang ada di negeri, ke mana mereka akan masuk; mereka akan meninggalkan Aku dan mengingkari perjanjian-Ku yang Kuikat dengan mereka. Pada waktu itu murka-Ku akan bernyala-nyala terhadap mereka, Aku akan meninggalkan mereka dan menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, sehingga mereka termakan habis dan banyak kali ditimpa malapetaka serta kesusahan. Maka pada waktu itu mereka akan berkata: Bukankah malapetaka itu menimpa kita, oleh sebab Allah kita tidak ada di tengah-tengah kita? Tetapi Aku akan menyembunyikan wajah-Ku sama sekali pada waktu itu, karena segala kejahatan yang telah dilakukan mereka: yakni mereka telah berpaling kepada allah lain.

Ini ucapan Musa seperti yang tercatat pada Ulangan 31:24-29
Ketika Musa selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab sampai perkataan yang penghabisan, maka Musa memerintahkan kepada orang-orang Lewi pengangkut tabut perjanjian TUHAN, demikian: "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati. Suruhlah berkumpul kepadaku segala tua-tua sukumu dan para pengatur pasukanmu, maka aku akan mengatakan hal yang berikut kepada mereka dan memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap mereka. Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."

Bahkan sampai di jaman Yesus Kristus, alkitab mencatat kelakuan bangsa Israel ini melalui kecaman Yesus terhadap mereka, seperti tertulis dalam Matius 23:13-36.

"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh, dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu! Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka? Sebab itu, lihatlah, Aku (coba diganti dengan: Allah) mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota, supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semuanya ini akan ditanggung angkatan ini!"

Informasi ini menunjukkan bahwa keingkaran bangsa Israel terhadap nabi-nabi mereka terjadi terus-menerus mulai dari jaman Musa sampai ke jaman Yesus Kristus.

Indikasi alkitab tentang kelakuan bangsa Israel ini dikonfirmasi oleh Al-Qur'an:

[7:138] Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)". 

[7:139] Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.

Informasi dari alkitab dan Al-Qur'an ini membuka peluang bahwa masuknya tuhan-tuhan selain Tuhan yang diajarkan kepada bangsa ini merupakan suatu keniscayaan. Bahwa suatu waktu kelak, ketika Musa telah meninggal, bangsa Israel akan menyembah Tuhan yang lain! 

Lalu bagaimana cara menjelaskan mengapa nama Yahweh ini bisa masuk kedalam Perjanjian lama?

Terdapat penelitian para ahli alkitab yang menyatakan bahwa 5 kitab pertama dari Perjanjian Lama yang disebut sebagai Taurat (Pentateuch) yang semula diklaim ditulis oleh Musa, merupakan hasil tulisan banyak orang yang dilakukan setelah Musa, sekalipun sebagian isinya masih merepresentasikan ajarannya. Kitab yang berisi informasi tentang pertemuan Musa dengan Tuhan yang memunculkan nama Yahweh bukan mustahil berasal dari orang-orang Israel setelah kematian Musa sebagaimana diprediksi sendiri oleh Musa akan melakukan penyimpangan terhadap apa yang sudah diajarkannya.

Secara umum Documentary Hypothesis adalah teori yang mengatakan bahwa 5 kitab pertama dalam Alkitab (Pentateukh) tidak ditulis oleh seorang penulis, melainkan dikumpulkan dan diedit dari karya-karya lainnya oleh beberapa orang penulis. [Silahkan Download di sini]

Sebagaimana halnya sebuah catatan sejarah, kita semua tahu bahwa isi dan arah informasi yang terdapat di dalamnya selalu terkait erat dengan kepentingan siapa yang menulisnya. Ketika bangsa Israel memasukkan nama Yahweh kedalam Taurat mereka, maka mereka memperkirakan akan munculnya pertanyaan dari pembaca: "Mengapa nama tersebut tidak pernah disebut oleh nenek-moyang kita sebelumnya?" 

Terlihat kesan bahwa ayat yang berbunyi: "tetapi dengan nama-Ku, TUHAN, Aku belum menyatakan diri" sengaja dicantumkan untuk mengantisipasi pertanyaan ini. Namun penulis yang lain kemungkinan ingin memuat bahwa nama ini sudah dikenal dan disebut oleh nenek-moyang mereka, sebab nama Tuhan yang tidak dikenal sebelumnya -- dan tiba-tiba muncul pada jaman Musa -- terlihat tidak begitu meyakinkan, lalu sipenulis pun memunculkan penyebutan nama tersebut pada kitab Kejadian 2:7 dan Kejadian 4:26. 

Kelakuan bangsa Israel ini terhadap kitab mereka makin memperjelas bahwa apa yang mereka buat merupakan sebuah kitab sejarah yang tambal-sulam.

Berdasarkan urut-urutan penjelasan di atas, mulai dari penjelasan alkitab dan Al-Qur'an tentang peristiwa pertemuan Musa dengan Tuhan, pengungkapan beberapa hipotesa terhadap kapan pertamakali munculnya nama Yahweh, temuan dan analisa prasasti Amenhotep III, informasi kedegilan bangsa Israel, dan pendapat ilmiah tentang sipenulis Taurat (Pentateuch), maka kita bisa menarik suatu benang merah tentang kemungkinan besar nama Yahweh tersebut merupakan nama yang dimunculkan belakangan oleh bangsa Israel, hasil adopsi dari suatu nama berhala yang disembah oleh suatu kaum nomaden di wilayah Palestina. [Lihat lagi di sini]

[Dari Catatan om Gus Mendem]

INFORMASI TAMBAHAN:
  • Dari Mas Derry: Pemakaian nama YHWH sebagai nama BERHALA
  • Dari Sha La: Nama Tuhan "EHEYEH ASYEF EHEYEH"
  • Dari Ayuzaar: Yahudi bertuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai 'Yahweh'. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: "Yahweh: The God of Judaism as the 'tetragrammaton YHWH', may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God's name is never articulated, least of all in the Jewish.

[Sumber: Arda Chandra | Suaramuslim | Suara Muslim Menjawab]