Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Dialog, Bukan Debat Kristen-Muslim


Liputan6.com, Jakarta - Belakangan masyarakat Indonesia ramai dan hiruk-pikuk membicarakan metode debat ala Zakir Naik, seorang dokter bedah dari India yang menjadi juru dakwah atau "evangelis Muslim" populer.

Oleh sebagian masyarakat Islam di Indonesia, Zakir Naik, yang di negaranya India menjadi buron pemerintah karena dugaan keterlibatannya (baik langsung maupun tidak langsung) dalam berbagai kasus intoleransi, kekerasan, dan terorisme sehingga ceramah-ceramahnya dicekal, dinilai sukses mengalahkan rival-rivalnya terutama Kristen tetapi juga Muslim non-Salafi.

Di India sendiri, tradisi debat publik antar-tokoh agama bukanlah hal baru, baik antara tokoh Muslim dan Kristen maupun antar-tokoh Muslim sendiri yang berbeda mazhab, organisasi, dan haluan pemikiran.

Zakir Naik hanyalah melanjutkan tradisi debat yang sudah lama mengakar di India maupun di kawasan Islam pada umumnya.

Selain Zakir Naik, tokoh Muslim populer lain yang menggunakan metode debat dalam berdakwah adalah Ahmed Deedat (1918-2005), seorang misionaris Muslim yang juga kelahiran India (Gujarat) tetapi menetap di Afrika Selatan, yang oleh Zakir Naik dianggap sebagai gurunya.

Dedaat adalah pendiri International Islamic Missionary Organization. Sama seperti Zakir Naik, Ahmed Deedat juga gemar berdakwah dengan "menguliti" Kristen (umatnya, ajarannya, kitab suci-nya, maupun sistem teologinya).

Dalam konteks masyarakat Islam Indonesia sendiri, metode debat pernah menjadi "tren" sejumlah tokoh Muslim, tetapi bukan dalam konteks berdebat dengan tokoh-tokoh Kristen, melainkan dengan sesama Muslim yang berbeda ormas keislaman dan pandangan keagamaan.

Debat yang cukup populer misalnya antara KH Abdul Wahab Chasbullah (salah satu pendiri Nahdlatul Ulama) dengan Syaikh Ahmad Surkati (pendiri Jam'iyyah al-Islah wa al-Irsyad wa al-Islamiyah atau dikenal dengan al-Irsyad saja) atau Ahmad Hassan (pendiri Persatuan Islam) mengenai berbagai topik atau masalah pemikiran dan wacana keislaman.

Apakah metode debat hanya dilakukan oleh para tokoh Muslim saja? Tentu saja tidak. Kristen juga punya banyak tokoh misionaris-evangelis populer, baik yang suka debat maupun tidak, yang memukau banyak orang.

Sebut saja Joel Osteen, Billy Graham, T.D. Jakes, Ted Haggard, Franklin Graham, Rick Warren, Ian Paisley, dsb. Islam dan Kristen memang dua agama misionaris-dakwah yang kuat. Karakteristik kedua agama dari rumpun Semit ini berbeda dengan agama-agama lain yang tidak begitu kuat "doktrin misionarismenya".

Dulu, di Jawa (dulu belum ada "Negara Indonesa"), umat Kristen juga punya penginjil dan tokoh misionaris ahli debat yang bernama Radin Abbas, yang populer dengan sebutan Kiai Sadrach (1835-1924) dari Jawa Tengah.

Ia adalah murid Kiai Ibrahim Tunggul Wulung yang juga seorang pendeta Kristen dan penginjil populer di Jawa Tengah dan Jawa Timur di abad ke-19. Dulu, sebutan "kiai" disematkan kepada siapa saja (atau apa saja) yang dianggap memiliki keahlian, kelebihan, kesaktian, kharisma, dan keramat.

Dalam menggalang pengikut Kristen, Kiai Sadrach menggunakan metode debat publik yang bisa berlangsung berhari-hari. Selain sebagai penginjil ulung, Kiai Sadrach dan Kiai Ibrahim Tunggul Wulung adalah tokoh-tokoh anti kolonialisme Balanda.

Meskipun tentu saja tidak ada masalah menggunakan metode debat, dan memang Islam juga dalam batas tertentu menggarisbawahi tentang metode debat yang baik dengan argumen, logika, dan retorika untuk "menundukkan" lawan.

Tetapi dalam konteks relasi antar-agama, khususnya Muslim-Kristen yang menjadi fokus tulisan ini, dialog adalah jalan terbaik untuk membangun hubungan harmonis dan toleran kedua kelompok agama ini.

Ada sejumlah perbedaan substansial antara debat dan dialog. Pertama, dalam debat yang dicari adalah kalah-menang. Sementara dalam tradisi dialog, tidak ada kalah-menang. Semuanya adalah "pemenang", karena setiap agama memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing, yang tidak bisa dihakimi oleh orang lain yang tidak pernah "mengalami sendiri dari dalam".

Dalam konteks dialog, juga tidak ada istilah "lawan" atau "musuh" yang perlu dikalahkan. Yang dianggap "lawan" dalam debat (baca, lawan debat) adalah "teman" dalam dialog (baca, teman dialog).

Karena tidak ada "lawan debat", melainkan "teman dialog", maka dalam tradisi dialog yang menjadi agenda atau fokus utama bukanlah "kalah-menang" melainkan bagaimana masing-masing bisa merasakan dan merayakan kemenangan.

Kedua, dalam metode debat yang selalu dicari adalah kekurangan dan kelemahan pihak lawan, untuk kemudian diserang dengan gigih supaya kalah. Pendebat itu seperti petinju yang selalu mencari kekurangan dan kelemahan lawan. Maka, begitu ia mengetahui "titik lemah" di bagian tubuh rivalnya, maka ia akan terus menyerang dan meninju bagian tubuh yang lemah itu untuk melumpuhkan lawan.

Sebaliknya, dalam dialog, yang menjadi fokus utama adalah kelebihan dan kekuatan masing-masing pihak yang bisa dijadikan sebagai medium untuk membangun kerja sama produktif-kreatif di masa depan.

Ketiga, dalam tradisi debat, masing-masing pihak konsentrasi pada "perbedaan", bukan pada "persamaan" sebagaimana dalam dialog. Kalaupun membahas sejumlah perbedaan (doktrin, ajaran, teks, wacana, simbol, ritual, maupun tradisi keagamaan), maka itu dilakukan dalam rangka untuk mencari "makna dan pemahaman otentik dari dalam" (dari masing-masing agama), sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Dengan kata lain, perbedaan dalam konteks dialog dijadikan sebagai "medium belajar" untuk saling-memahami masing-masing agama.

Hal ini tentu saja berbeda dengan debat, di mana perbedaan itu justru dijadikan sebagai bahan olok-olok untuk menunjukkan kedangkalan dan kelemahan agama lain di satu sisi serta supremasi, kehebatan, dan keunggulan agamanya sendiri di pihak lain.

Selanjutnya, dalam tradisi dialog, ketimbang memperuncing perbedaan seperti dalam debat, masing-masing pihak mencari persamaan masing-masing agama yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk membangun "common ground" yang positif-konstruktif, yang didasari pada spirit saling menghargai dan menghormati masing-masing agama.

Pencarian dan penekanan pada "persamaan" itu dalam rangka untuk mewujudkan persatuan, bukan perpecahan antaragama.

Kempat, dalam dialog, ada komitmen bersama yang tulus dari masing-masing pihak untuk membangun hubungan antaragama yang dinamis, dan menyehatkan tanpa melukai masing-masing pihak itu. Komitmen semacam ini tidak ada dalam tradisi debat karena energinya terkuras untuk melumpuhkan dan mempermalukan lawan.

Kelima, tradisi dialog bertumpu pada kerendahatian dan "relativisme". Sedangkan dalam debat ada semacam keangkuhan dan persepsi tentang "kemutlakan" agamanya sendiri. Klaim tentang agamanya sendiri yang paling benar, serta tidak ada kebenaran dalam agama-agama lain merupakan salah satu ciri utama tradisi debat.

Sementara itu, dalam tradisi dialog, meskipun masing-masing mengakui kebenaran agamanya tetapi juga mengakui dan menghargai pendapat pengikut agama lain, yang mengakui kebenaran agamanya, sehingga timbul sikap terbuka atau inklusif (open minded), bukan tertutup dan eksklusif.

Ada cukup banyak karya akademik yang membahas tentang pentingnya dialog agama ini. Antara lain, Muslims, Chrisians, and the Challenge of Interfaith Dialogue, karya Jane I. Smith.

Sarjana dan praktisi dialog agama kenamaan, Leonard Swidler juga pernah menulis buku bagus berjudul Trialogue: Jews, Christians, and Muslims in Dialogue.

Profesor Mahmoud Ayoub yang ahli di bidang kajian Islam, Al-Qur’an, dan perbandingan agama juga pernah menulis buku yang sangat simpatik dan mendapat respons positif dari publik Kristen dan Muslim berjudul A Muslim View of Christianity: Essays on Dialogue. Buku ini membahas berbagai isu keislaman-kekristenan dari perspektif "dialog" bukan "debat" agama, sangat kontras dengan apa yang didakwahkan oleh Zakir Naik.

Selain itu, juga cukup banyak karya yang memuat kasus-kasus real dan sukses tentang dialog Kristen-Muslim di berbagai negara, sehingga mampu mengubah dan mentransformasi hal-hal yang pada mulanya sangat negatif-destruktif, kemudian menjadi positif-konstruktif, dari keburukan menjadi kebaikan, dari perpecahan dan konflik menjadi persatuan dan harmoni, dari ketidakpercayaan menjadi kepercayaan (trust), dari lawan menjadi kawan. Begitu seterusnya.

Beberapa karya itu antara lain A Muslim and A Christian in Dialogue, buku hasil kolaborasi antara David Shenk, seorang sarjana, aktivis, dan tokoh Kristen Mennonite Amerika, dengan Badru Kateregga, seorang akademisi, praktisi, dan tokoh Muslim dari Uganda yang pernah menjadi Duta Besar Uganda untuk Arab Saudi.

Kemudian Christian-Muslim Dialog in Northern Nigeria, sebuah studi kasus kerja sama Kristen-Muslim yang sangat apik di Nigeria.

Juga tidak lupa buku Basudara Stories of Peace from Maluku: Working Together for Reconciliation. Buku yang diedit oleh Pdt. Jacky Manuputty, Zairin Salampessy, dan Ihsan Ali-Fauzi, semuanya para aktivis-praktisi perdamaian, berisi tentang kisah-kisah heroik tentang proses rekonsiliasi dan perdamaian Kristen-Muslim di Maluku.

Jadi, ketimbang berdebat, kenapa kita tidak memupuk dan menumbuhkembangkan dialog Kristen-Muslim saja? Dengan begitu kesalahpahaman semakin diminimalisir, sekaligus supaya tercipta kesalingpemahaman antara kedua kelompok agama ini.


[Sumber: Liputan6]





Ketika Kita Bicara Tentang Kitab Berisi Wahyu Dari Tuhan


KETIKA KITA BICARA TENTANG KITAB WAHYU DARI TUHAN

Ya, ketika kita bicara tentang kitab wahyu dari Tuhan, maka siapa pun pasti akan sepakat bahwa kita sedang membicarakan KITAB SUCI yang berisi firman Tuhan. 

Selanjutnya, tanpa perlu ditanya lagi, pasti kita juga sama-sama sepakat bahwa TIDAK MUNGKIN Tuhan melakukan kesalahan sekecil apa pun dalam menyampaikan segala firman-Nya kepada setiap makhluk ciptaan-Nya sendiri, termasuk tentu saja kepada kita, makhluk bernama manusia ini.

Ini menjadi menarik karena belajar dari pengalaman, akhirnya kita menemukan dan menjadi yakin bahwa ternyata ada kitab yang, konon katanya suci karena berisi wahyu dari Tuhan, tapi isinya penuh dengan cacat logika!

Hal ini sudah sama-sama kita buktikan melalui sejarah panjang dan pengalaman empiris masing-masing dalam menyaksikan -- atau mendengar dari para pendahulu -- bagaimana kemudian dalam upaya membenarkan keyakinannya berdasarkan pada kitab suci yang tidak benar, maka dari generasi ke generasi umat Kristen tidak berhenti berusaha hingga jungkir balik, mati-matian coba mencari kesalahan ayat-ayat dalam kitab suci umat Islam!

Namun  tragisnya, selalu saja terbukti, lagi, lagi, dan lagi, bahwa di ujung usaha keras itu, hampir dapat dipastikan justru merekalah yang terjungkal, NYUNGSEP di kubangan usahanya sendiri!

Lantas, bagaimana dengan kitab mereka yang konon pula katanya "sudah disucikan" (baca: dikanonisasi) dan yang di Indonesia diberi nama ALKITAB?

Menurut saya, baru dari namanya saja sudah langsung ketahuan TIDAK SUCI!

Kenapa? Karena nyata betul namanya tidak orisinil, alias hasil nyolong dari perbendaharaan kata dalam bahasa asli yang digunakan oleh AL-QUR'AN! 

Siapa yang tidak tau bahwa nama kitab itu sebenarnya adalah BIBEL? 
Bagaimana ceritanya bisa menjadi ALKITAB, coba? 

Jadi, jika namanya saja sudah jelas tidak asli, lantas bagaimana pula dengan isinya? Bukan begitu?

Jika itu anda tanyakan ke saya, WAH!
Kalau soal isinya sih, jangan tanya deh! Sekitar 6-7 tahun dulu saya sendiri sempat ikut mendokumentasikan INDEKS DAFTAR KESALAHAN AYAT-AYAT DALAM ALKITAB seperti yang masih bisa diteliti satu demi satu di sini.

Nah, kalau sebuah kitab suci dari Tuhan sampai bisa dibuatkan indeks kesalahannya oleh manusia,  maka apakah anda masih percaya bahwa kitab model begini betul-betul 100% berisi wahyu dari Tuhan? 

Menurut hemat saya sih, orang yang sehat lahir dan bathinnya pasti akan menolak tegas-tegas bila dipaksa untuk percaya dengan begitu saja bahwa kitab "yang disucikan" ini berisi wahyu dari Tuhan dan 100% bebas dari intervensi tangan-tangan jahil manusia kardus yang seenaknya saja menulis ayat-ayat ambigu, mustahil, kontradiktif, dusta dll serupa itu, lalu memaksa pembacanya supaya percaya bahwa semua itu adalah firman Tuhan!

INGAT! Tadi kita semua sudah sepakat bahwa TIDAK MUNGKIN Tuhan melakukan kesalahan sekecil apapun, dalam hal apapun, apalagi jika itu sudah menyangkut hukum-hukum dan segala ketetapan-Nya!

Sampai di sini, balik ke cerita INDEKS DAFTAR KESALAHAN AYAT-AYAT DALAM ALKITAB tadi, sekalipun anda sudah lihat sendiri betapa massif koleksi kesalahan ayat-ayat alkitab di sana, tapi jangan heran bila di mana pun itu, tidak sedikit dari sekian banyak pengikut Paulus yang nekad, yang dengan busung dada akan klaim bahwa seluruh kesalahan itu SUDAH DIJAWAB semua!  

YA, dijawab! Namun apapun jawabannya, tetap tidak merobah sedikitpun fakta bahwa kitab suci mereka penuh bertabur error!  

Saya sendiri juga sudah pernah ikut baca apa yang mereka klaim sebagai  jawaban itu. Dan tahukah anda bagaimana kesimpulan dari jawaban mereka?

Kira-kira begini: 

"Tidakkah anda tahu bahwa alkitab ditulis oleh beberapa kelompok orang secara bertahap, atau bergantian dari generasi yang satu ke generasi lainnya, sehingga adalah SANGAT WAJAR bila dalam prakteknya terjadi salah kutip atau salah tulis di sana-sini!" 

Membaca "excuse" seringan itu, apalagi jika anda pernah belajar "Theotolologi", saya yakin pikiran anda pasti langsung melayang ke arah Roh Kudus, bukan? 

Ya, kita semua sudah BOSEN mendengar bagaimana umat seberang ini berkaok-kaok memastikan bahwa para penulis alkitab (baca: pengarang kitab Perjanjian Lama yang berisi Mazmur & Taurat, berikut kitab Perjanjian Baru yang berisi Injil-injil kanonik serta surat-surat mesra Paulus cs kepada jemaat non-indonesia) menulis KARANGAN mereka di bawah bimbingan langsung dari Roh Kudus yang mereka yakini adalah Tuhan itu sendiri!

Nah, coba pikir sekali lagi, bagaimana mungkin Tuhan bisa sedemikian teledor sehingga  Mahakarya-Nya melalui tangan manusia-manusia yang tak jelas identitasnya itu akhirnya cuma menghasilkan setumpuk kesalahan dari mulai yang minor, mayor, sampai fatal, dalam kitab wahyu-Nya sendiri? 

Terlepas bagaimana hebatpun umat seberang coba membuat alasan untuk "membenarkan" KESALAHAN ini, saya yakin siapa saja yang dengan kesadaran penuh dapat menggunakan akalnya secara paripurna pasti tidak akan dapat menerima semua alasan mereka!  

Bagaimana mungkin Tuhan bisa lebih bodoh, atau lebih pikun, dari manusia ciptaan-Nya sendiri? Jawabnya tentu saja SANGAT MUSTAHIL!

Dan berangkat dari kemustrahilan inilah kita pun akhirnya sampai pada kesimpulan sebagaimana diinformasikan oleh Tuhan sendiri di dalam Al-Qur'an, maka BENAR adanya; bahwa sejatinya kandungan kitab suci umat kristen memang sudah carut-marut akibat diobok-obok oleh para editornya!

Saya yakin sebenarnya tidak sedikit umat kristen yang menyadari, dan diam-diam mengakui hal ini. Tapi apa daya, janji kosong bahwa barangsiapa percaya Yesus adalah Tuhan dijamin akan masuk sorga, nampaknya masih demikian kuat memikat hati untuk terus diimani?

Akibatnya, merekapun nekad berupaya sekuat tenaga mencari kesalahan dalam Al-Qur'an yang terbukti tidak pernah salah, semata-mata cuma untuk menenangkan diri bahwa jika memang ada, maka apa yang selama ini mereka imani tidak salah-salah banget!

Karena itu sungguh aneh dan lucu rasanya jika kita menemukan masih ada saja tukang ngeyel dari umat ini yang tiap kali bicara tentang topik apa pun itu, selama sama-sama tertulis dalam Alkitab dan Al-Qur'an dan informasi yang disampaikan berbeda, maka yang HARUS DISALAHKAN adalah Al-Qur'an!

Dengan bukti segerobak pasir seperti di atas tadi, kenapa mereka tidak pernah mau bersikap jujur mengakui bahwa YANG SALAH ADALAH ALKITAB?

Jika ada yang masih pura-pura blo'on tapi sebenarnya coba mengakali pembaca dengan bertanya, "Parameternya apa sehingga anda menuduh alkitab yang salah?", maka jawabnya sederhana saja. 

"Bukankah sejak awal tadi sudah saya tunjukkan bukti bahwa Alkitab penuh dengan error, sedangkan anda sama sekali tidak pernah mampu membuktikan hal yang sama terdapat dalam Al-Qur'an?"

Jadi, jika sudah sedemikian banyak ditemukan bukti error dalam penulisan alkitab sedangkan dalam Al-Qur'an sama sekali tidak ada, apakah lantas informasi dari alkitab yang bertentangan dengan informasi dari Al-Qur'an masih pantas disebut lebih benar?

Come on, man! Mbok realistis saja kenapa sih? 
Lha wong kitab suci sampeyan itu penuh perkeliruan begitu kok ya, masih ngeyel juga?

Makanya, MIKIR YANG BETUL!
Gitu aja kok repot?

[Renungan akhir pekan - Gus Mendem Menjawab Fitnah Misionaris​]


Urgensi Al-wala’ wal baro’ Terhadap Aqidah Seorang Mukmin


Berikut adalah penggalan tulisan yang saya petik dari KIBLAT.NET yang seutuhnya dapat di lihat di sini.

Urgensi Al-wala’ wal baro’ Terhadap Aqidah Seorang Mukmin
Persaudaraan menjadi salah satu karakteristik dalam ajaran Islam. Ketika seseorang mengucapkan syahadat, maka secara otomatis dia telah mengikat persaudaraan dengan mukmin lainnya. Dia tidak boleh mendhalimi saudara mukmin lainnya, tidak boleh mendustainya, menghina, mencela, apalagi membunuh. Selain itu, dia juga punya haq dan kewajiban untuk saling membantu saudara lainnya, membela kehormatannya, menolongnya dari serangan musuh dan sebagainya. Bahkan dalam hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkan persaudaraan tersebut layaknya seperti satu anggota badan, jika salah satu anggota badan sakit maka anggota badan lainnya juga akan ikut merasakan sakit.

Dalam kajian aqidah, prinsip persaudaraan seperti ini disebut dengan al-wala’ wal baro’ artinya cinta terhadap sesuatu atau seseorang hanya karena Allah dan benci terhadap seseorang atau sesuatu juga hanya karena Allah. Juga, atau dalam makna lain adalah menjadikan orang muslim sebagai saudara yang berhak mendapatkan loyalitas dan menganggap orang-orang kafir sebagai musuh yang tidak boleh loyal atau bahkan saling membantu dalam menciptakan makar terhadap Islam.

Para ulama menyimpulkan bahwa prinsip al-wala’ wal baro’ seperti ini menjadi syarat keimanan seseorang. 

Allah ta’ala berfirman:

وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadnya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik.” (QS. Al-Maidah: 81)

Tentang ayat itu, Syikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah mensyaratkan bagi seorang muslim untuk tidak berwali atau mengambil teman setia dari orang-orang kafir. Kata Law dalam ayat tersebut menandakan syarat yang harus dimiliki oleh seorang mukmin, yaitu tidak boleh mengangkat pemimpin atau penolong-penolong dari orang-orang kafir. Karena antara keimanan dan menjadikan orang kafir sebagai penolong adalah dua prinsip yang berlawanan, dua prinsip itu tidak mungkin bisa berkumpul dalam hati orang mukmin. [lihat: Ibnu Taimiyah, Al-Iman, hal: 14]

Syaikh Hamad bin ‘Atiq mengatakan, “Adapun perihal memusuhi orang-orang kafir dan musyrik, maka ketahuilah sesungguhnya Allah telah mewajibkan hal itu dan menekankan kewajiban ini dan Allah mengharamkan berwali kepada mereka dan menegaskan keharamannya. Sehingga dalam Kitabullah tidak ada hukum yang lebih banyak dalilnya dan lebih gamblang penjelasannya setelah wajibnya tauhid dan haramnya syirik melebihi masalah ini.” [Abdul Azizi bin Muhammad bin Ali Alu Abdul Lathif, Nawaqidhul Iman al Qauliyah wal ‘Amaliayah, hal: 359].

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifati prinsip al-wala’ wal baro’ dengan ikatan keimanan paling kuat yang dimiliki oleh orang mukmin.

“Tali keimanan yang paling kuat adalah loyalitas karena Allah dan permusuhan karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [Shohih Al-Jami’: 2539]

Demikianlah konsekuensi keimanan seseorang kepada Allah. Persaudaraan menjadi simbol tali keimanan yang melekat pada dirinya. Sehingga ketika ada musuh yang mendhaliminya sementara dia tidak mau menolongnya, maka tentu keimanannya perlu dipertanyakan kembali. Apalagi jika dia ikut-ikutan membantu atau membela musuh ketika mereka menyerang kaum muslimin, tentunya orang yang seperti ini akan mendapatkan ancaman yang cukup tegas dalam syariat Islam.

Hukum Membantu Orang Kafir dalam Memerangi Kaum Muslimin
Besarnya perhatian Islam terhadap persaudaran antara sesama muslim, juga menimbulkan efek hukum yang cukup tegas atas orang-orang yang membantu orang kafir dalam memerangi kaum muslimin. Tentunya orang awwam pun bisa memahami bagaimana jika ada seseorang yang senang ketika saudaranya yang seagama didhalimi, apalagi kalau sampai membantu mereka untuk menyerang kaum muslimin. Tentu hal itu akan sangat berlawanan dengan prinsip keimanan yang diyakininya.

Membantu orang kafir dalam memerangi kaum muslimin adalah salah satu tabiat orang munafik. Ia merupakan bagian dari cabang kemunafikan yang selalu muncul untuk meyerang Islam. Allah ta’ala telah menjelaskannya dalam berbagai macam nash Al-Qur’an, diantaranya adalah:

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS. An-Nisa’ 138-139)

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana…” (QS. Al-Maidah: 52)

Para ulama pun telah sepakat bahwa barangsiapa yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpinnya, penolongnya, atau ikut bergabung dan membantu mereka dalam memerangi ummat Islam maka dia telah murtad, keluar dari agama Islam. [Lihat: Tafsir At-Tabari, 3/140, Majmu’atu Tauhid, Hal: 38, Ad-Duraru Sunniah, 7/ 201, Fatawa Bin Baz, 1/ 272]

Syaikh Sulaiman bin Abdullah, cucunya Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam risalahnya Ad-Dalail Fi Hukmi Muwalati Ahli Isyraak menyebutkan lebih dari dua puluh dalil tentang larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau penolong. Diantara kumpulan dalil-dalil tersebut adalah:

Allah menegaskan bahwa orang yang mengangkat orang kafir sebagai wali maka dia termasuk bagian dari golongan mereka.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al Maidah: 51)

Imam Ath-Thabari ketika menafsirkan ayat ini berkata, ”Siapa saja yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, sekutu atau membantu mereka dalam melawan kaum muslimin, maka ia adalah orang yang se-idiologi dan seagama dengan mereka. Karena tak ada seorangpun yang menjadikan orang lain sebagai walinya kecuali ia ridha dengan diri orang itu, agamanya, dan kondisinya. Bila ia telah ridha dengan diri dan agama walinya itu, berarti ia telah memusuhi dan membenci lawannya, sehingga hukum (kedudukannya) seperti hukum walinya.” [Tafsir Ath Thabari 6/160].

Ibnu ‘Atiyah menjelaskan, "maksudnya adalah mencintai dan mengikuti mereka dalam seluruh tujuan yang mereka inginkan.”  [Tafsir Ibnu ‘Atiyah, 8/152]

Al-Baidhawi berkata, “Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai wali (penolong) maka dia termasuk dari golongan mereka." Ayat ini menegaskan tentang wajibnya menjauhi mereka. [Tafsir Al-Baidhawi, 5/ 192]

Kesimpulan hukum tersebut juga ditegaskan oleh para ulama lainnya, misalnya Ibnu Hazm dalam Al Muhala 13/35 , Asy Syaukani dalam Fathul Qadir 2/50, Al Qasimi dalam Mahasinu Ta’wil 6/240.

Allah ta’ala berlepas diri dari mereka yang menjadikan orang kafir sebagai pemimpinnya.

Allah ta’ala berfirman:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya ia terlepas dari pertolongan Allah ….” (QS. Ali Imran :28).

Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa dia tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah sedikitpun bahkan Allah berlepas diri darinya dalam setiap keadaan. [Fathul Qodir, 1/331]

Dalam sebuah hadits Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan ummatnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa membantu dalam rangka membunuh seorang mukmin dengan separuh kalimat saja, ia akan menghadap Allah, tertulis di antara kedua matanya: Aayisun min rohmatillah… (orang yang berputus asa dari rahmat Allah)." [HR. Ibnu Majah]

Membantu orang kafir dalam rangka memerangi kaum muslimin merupakan amalan yang dapat membatalkan keimanan.

Allah berfirman:

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 80-81)

Ketika kota Baghdad ingin digempur oleh pasukan Tartar, sebagian kaum muslimin ada yang ikut bergabung bersama pasukan tersebut. mengomentari hal itu, Ibnu Taimiyah berkata, “Barangsiapa diantara mereka bergabung ke dalam pasukan Tartar maka dia lebih berhak untuk dibunuh terlebih dahulu daripada pasukan Tartar. Karena dalam pasukan Tartar ada pasukan yang ikut berperang karena terpaksa dan ada juga tidak. Sementara sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan bahwa hukuman terhadap orang murtad lebih besar daripada orang kafir asli disebabkan beberapa hal.” [Ibnu Taimiyah: Majmu’ Fatawa, 28/534]

Dalam kitab Majmu’atu Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan bahwa pembatal keislaman yang kedelapan adalah membantu dan tolong menolong dengan orang-orang kafir dalam memusuhi umat Islam, dengan dalil QS. Al Maidah:51. [Lihat: Majmu’atu Tauhid, hal: 38]

Syaikh Abdullah bin Abdul Latif Alu Syaikh berkata, “Saling tolong menolong dengan orang kafir adalah kafir yaitu seperti membantu mereka dengan harta, jiwa dan pikiran.”  [Ad-Duraru Sunniyah: 7/ 201]

Bagaimana Jika yang Diperangi adalah Ahlu Bughat atau Orang Khawarij?

Dalam konteks koalisi yang dipimpin Amerika untuk menggempur IS/ISIS, mungkin sebagian orang akan bertanya, bukankah yang mereka perangi itu orang-orang khawarij yang juga mengancam keamanan ummat Islam lainnya?

Dalam menanggapi masalah ini, jumhur ulama berpendapat bahwa memohon pertolongan kepada orang kafir dalam memerangi ahlul bughat atau khawarij adalah haram. Hanya kalangan ulama Hanafiah saja yang membolehkannya namun dengan syarat yang cukup ketat, yaitu kekuasaan Islam lebih kuat (lebih mendominasi) daripada kekuasaan mereka. Karena pada dasarnya tujuan memerangi khawarij bukan dalam rangka ingin membunuh mereka akan tetapi menahan kekejaman atau memaksa mereka untuk taat kembali. [Lihat: Al-Sarkhasi, Al-Mabshut, 10/135]

Al-Qarafi, salah seorang ulama Malikiah, berkata, “Tidak boleh membunuh tawanan mereka, hartanya juga tidak boleh dijadikan ghanimah, keturunan mereka tidak boleh ditawan dan tidak boleh memohon bantuan kepada orang musyrik dalam memerangi mereka.”  [Al-Qarafi, Al-Dzakhiroh, 12/9]

Imam Nawawi berkata, “Tidak boleh memohon bantuan kepada orang kafir untuk memerangi mereka, karena orang kafir tidak boleh menguasai urusan kaum muslimin, oleh karena itu, bagi orang yang terkena qishas tidak boleh diwakilkan kepada orang kafir, demikian juga tidak boleh bagi imam mengangkat orang kafir sebagai algojo dalam menegakkan hudud atas orang muslim." [An-Nawawi, Raudhatul Thalibin, 10/60]

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sama sekali tidak memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk berkuasa (memusnahkan) orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 141)

Memang berbeda ketika berhadapan dengan orang kafir, sebagian ulama membolehkan meminta bantuan kepada orang kafir jika memang keadaannya dharurat dan menbutuhkan hal itu. Standarnya tetap melihat pertimbangan maslahat dan mudharat dan yang paling penting dalam hal ini adalah mereka menetapkan syarat yaitu kaum muslimin tetap menjadi penguasa yang tertinggi, karena jika kekuasaan kafir lebih mendominasi dalam pasukan tersebut, suatu saat dikhawatirkan mereka akan menguasai urusan kaum muslimin. [lihat: Asyaibani, Syarh As-Sair Al-Kabir, 4/1422, An-Nawawi, Syarh Muslim, 2/198, Ibnu Hajar, Fath Bari, 6/176, As-Syaukani, Nailul Authar, 8/44]

Semua pertimbangan hukum tersebut bermuara kepada kemaslahatan bagi Islam dan kaum muslimin, sehingga Syaikh Hamud ‘Uqala As-Syu’aibi menyebutkan beberapa alasan kenapa tidak boleh bagi pemimpin muslim meminta bantuan kepada orang kafir untuk memerangi orang khawarij dalam kondisi apapun. Hal itu karena disebabkan beberapa hal, diantaranya:

Banyak dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dan pendapat ulama yang melarang memohon bantuan kepada orang kafir dalam rangka memerangi orang kafir lainnya. Jika pendapat ini lebih rajih maka larangan meminta bantuan kepada orang kafir untuk memerangi orang Islam tentu lebih utama.

‘Illah (alasan) bolehnya memerangi ahlul bughat (khawarij) adalah untuk menahan kekejaman mereka dan memaksa mereka untuk taat kepada amir bukan untuk dibunuh. Oleh karena itu dalam hal ini tidak butuh bantuan orang kafir.

Meminta bantuan kepada orang kafir berarti menjadikan mereka sebagai wali dan menandakan kecondongan hatinya kepada mereka.

ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,…” (QS. Hud: 113)
  • Meminta bantuan orang kafir akan memudahkan mereka untuk memecah belah kekuatan muslimin sehingga mereka dapat menguasai urusan kaum muslimin
  • Meminta bantuan kepada orang kafir sama saja memberikan kepada mereka legitimasi untuk intervensi langsung terhadap urusan kaum muslimin dan akan menampakkan kelemahan kaum muslimin serta secara tidak langsung menjadikan mereka sebagai pemimpin yang akan dijadikan tempat bagi kaum muslimin untuk berhukum (mengambil kebijakan).[6]

Demikianlah ketegasan Islam dalam menyikapi ummatnya yang ikut bergabung bersama orang kafir atau turut membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin. Tentu bagi kita yang memahami hukum tersebut dan berkomitmen dengan ajaran Islam, tidak mungkin terbawa-bawa untuk membantu dengan segala bentuk kempanye memerangi saudara kaum muslimin, di belahan dunia mana pun. Memang kita tidak dilarang bermu’amalah dengan orang-orang kafir dan saling membantu dalam hal kemaslahatan kaum muslimin, tapi sangat naif sekali, jika hal itu menyebabkan sebagian orang Islam rela mendukung atau membantu mereka demi menghancurkan saudaranya sendiri. 


Wa’iyadzubillah.

Penulis: Muhammad

Referensi kitab:
  • Tafsir At-Tabari, Ibnu Jarir At-Tabari
  • Tafsir Ibnu ‘Atiyah, Ibnu ‘Atiyah
  • Tafsir Al-Baidhawi, Al-Baidhowi
  • Al Muhala, Ibnu Hazm
  • Fathul Qadir, Asy Syaukani
  • Mahasinu Ta’wil, Al Qasimi
  • Al-Mabshut, Al-Sarkhasi
  • Al-Dzakhiroh, Al-Qarofi
  • Raudhatul Thalibin, An-Nawawi
  • Syarh As-Sair Al-Kabir, As Syaibani
  • Syarh Muslim, An-Nawawi
  • Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqalani
  • Nailul Authar, As-Syaukani
  • Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah
  • Ahkam Alu Dzimmah, Ibnu Qoyyim
  • Kitab Al-Iman, Ibnu Taimiyah
  • Nawaqidhul Iman al Qauliyah wal ‘Amaliayah, Abdul Azizi bin Muhammad bin Ali Alu Abdul Lathif
  • Majmu’atu Tauhid, Muhammad bin Abul Wahab
  • Fatawa Bin Baz, Abdul Aziz bin Baz

Source: KIBLAT.NET 

Ka'bah, Antara "Maqam" dan "Makam" Nabi Ibrahim As


Dua orang Indonesia pernah hampir bertengkar tatkala mereka berbeda persepsi tentang monumen yang terletak di depan ka'bah. Apakah itu "maqam Ibrahim" atau "makam Ibrahim"?

Kalau diteruskan, mungkin, mereka akan berbunuhan tatkala berbincang tentang "nafsu" dalam makna yang satu, dan "nafsu" dalam makna yang lain lagi.

Apa pasal? Ternyata mereka terjebak pada perbedaan makna kata yang mirip bunyinya dan berlaku secara luas, mentang-mentang sama-sama tak pernah kuliah di linguistik. Terlebih lagi, kata-kata itu merupakan bagian dari kajian nilai-nilai keislaman. Sehingga rasanya tidak ada salahnya jika kita kupas sedikit permasalahan perbedaan itu.


"Maqam" dan "Makam" sama bunyinya, namun tak sama maknanya. Para pihak bersitegang berpegang pada definisi masing-masing. Akibatnya, mereka pun bertengkar!

Pasti akan lebih parah lagi, seandainya saja mereka berdiskusi tentang "nafsu", sambil "bernapsu" pula. Bisa-bisa mereka benar-benar akan berbunuhan. Saya tak paham apakah itu karena bawaan bangsa ini memang senang bertengkar atau kita ini bangsa yang sudah sangat kaya dengan kosa kata.

"Maqam" berasal dari bahasa Al Quran yang berarti tempat berpijak, atau biasa juga dipakai sebagai tempat berdiri untuk menggapai tempat yang lebih tinggi. Misalnya, saya mau memasang lampu di kamar. Karena saya pendek, maka saya ambil sebuah bangku. Bangku itu adalah maqam saya. Kaum sufi menggunakan istilah maqam untuk menamai tahapan pencapaian kualitas ruhani. Mereka biasa mengatakan, "Perjalanan ruhani akan melewati tujuh maqam." Nah, yang di depan ka'bah itu adalah maqam Ibrahim, bukan makamnya, karena ia adalah batu yang digunakan Nabi Ibrahim ketika meninggikan ka'bah.

Kata, "makam" dalam bahasa kita bermakna kuburan.
Makam wali-wali, misalnya, jangan diartikan sebagai level kerohanian para wali seperti muraqabah, musyahadah, dll. Makam para wali adalah kuburan wali-wali, tempat jenazah para wali ditempatkan selepas kewafatannya. Ziarah makam wali-wali sangat dianjurkan oleh tokoh-tokoh sufi untuk mengingati mati.

Kita tahu bahwa Nabi Ibrahim wafat di Pelestina dan dikuburkan di sana. Jadi, makam Nabi Ibrahim ada di Palestina, bukan di Makkah!

Lalu, yang diributkan itu sebetulnya apa? Perhatikan video di bawah ini.

MAQAM NABI IBRAHIM Sa.



Kita lanjutkan sedikit lagi. Bagaimana dengan nafsu?
"Nafsu", dalam bahasa Arab dan juga dalam bahasa Al Quran, diartikan sebagai jiwa (soul), sesuatu yang immaterial yang terdapat dalam tubuh manusia yang di dalamnya terdapat berbagai daya.

"Nafsu" dalam pengertian ini tidak boleh dibunuh. Membunuh nafsu sama artinya dengan membunuh diri. Tapi, nafsu, dalam bahasa Indonesia, dipahami sebagai birahi, dan cendrung berkonotasi negatif. Orang Indonesia sangat jijik melihat orang yang selalu "bernafsu". Siapa yang berani mengatakan, "Pak SBY, misalnya, "memimpin dengan nafsu?"

Al Quran sendiri tidak pernah menggunakan kata "nafsu" untuk menggambarkan birahi manusia, tetapi menggunakan kata "hawa". Kalau kita gunakan kata "hawa" memaknai birahi, orang Indonesia akan berpikir bahwa yang kita maksud adalah "rasa pada kulit", seperti kita sering menyebut "Bandung berhawa dingin". Nanti, orang-orang akan mengelompokkan "hawa nafsu" bersama-sama dengan "hawa dingin", "hawa panas", "hawa sejuk", dlsb.

Itu baru dua contoh kepusingan yang saya sebutkan. Silakan cari contoh-contoh lain yang sering membuat orang keliru memahami terminologi Al Quran menggunakan terminologi lokal. Kepusingan itu terjadi ketika terminologi Al Quran diterjemahkan bulat-bulat ke dalam kosa kata Bahasa Indonesia yang mirip bunyinya, atau tulisannya, seperti kedua contoh di atas. Kosa bahasa Indonesia yang dipilih itu sering sudah terlanjur didefiniskan berbeda dengan maksud yang diinginkan.

Coba juga kita perhatikan, jangan-jangan ada beda antara 'taqwa' (bahasa Al Quran) dan 'takwa' (bahasa Indonesia), 'ikhlas' (bahasa Al Quran) dan 'ikhlas' (bahasa Indonesia), 'tafakur' (bahasa Al Quran) dan 'tafakur' (bahasa Indonesia), 'sabar' (bahasa Al Quran) dan 'sabar' (bahasa Indonesia). Saya belum cek dengan baik. Coba buka Al Quran dan buka pula kamus Bahasa Indonesia. Jangan-jangan, pasangan-pasangan kata itu saling berbeda makna.

Contoh kata yang juga sering disalahartikan adalah kata "pahit" dalam kalimat ini; "Sampaikanlah kebenaran itu walaupun pahit."

Coba renungkan, apakah "pahit" yang dimaksud di situ adalah pahit bagi si pendengar sehingga pendengar itu harus demam dua hari dua malam ketika penyampaian itu menyakitkannya? Ataukah "pahit" itu sejatinya pahit bagi si pembicara, sehingga ia mesti bermujahadah sebelum berbicara? 

Wallahu a'lam.
Bagaimana pendapat Anda?

[Dari Mas Jufran Helmi]


Mengapa Islam Dibenci?

Kemarin, salahseorang sahabat baru saya menulis statusnya di facebook seperti ini:

Islam diHUJAT ... Islam MENJAWAB .... LALU, alasan apa lagi ISLAM dibenci?

Sebagai sesama muslim, awalnya saya tergerak untuk merespons pertanyaan sahabat saya itu lewat kolom comment di bawah statusnya. Namun demi menghormati pesan kangmas dan pakde saya beberapa hari lalu agar saya jangan terlalu "pecicilan" dan seenaknya saja keluar-masuk dan meninggalkan tulisan di wilayah-wilayah yang sarat SARA, maka niat itu pun akhirnya saya urungkan. Dan sebagai gantinya, kemudian saya coba menuangkan apa yang sempat terlintas di benak saya menyangkut pertanyaan sahabat baru saya itu ke dalam webblog ini.

Jawaban saya kira-kira begini:
  1. Ada sebagian kecil umat Islam yang berfikir radikal dan karena itu tidak segan-segan untuk bertindak radikal pula.
  2. Entah sudah berapa dasawarsa, umat di luar Islam terlanjur terprovokasi oleh kelompok-kelompok anti-Islam untuk menutup sebelah mata mereka dari fakta dan mulai terbiasa menjeneralisasi dengan sebelah matanya yang terbuka bahwa perilaku radikal sekelompok kecil umat Islam tadi adalah cerminan dari perilaku seluruh umat Islam. Meskipun pada kenyataannya pemikiran seperti itu jauh dari benar.
  3. Menurut CIA Factbook edisi Juli 2009, pemeluk Islam di seluruh dunia terus bertambah hingga saat ini sudah hampir mencapai angka 1,7 milyar atau 24,2% dari total penduduk bumi yang hanya berjumlah 6,7 milyar. Itu pun hampir separuhnya, atau 2,4 milyar adalah penduduk RRT (1,3 milyar) dan India (1,1 milyar). Anehnya, pertumbuhan ini lebih banyak - dan lebih pesat - terjadi di negara-negara barat, khususnya di negara-negara bekas Eropa Barat, USA, bahkan di Rusia dan negara-negara Balkan. Hal ini tentu saja dianggap sangat mengganggu kewibawaan Vatican khususnya, dan superioritas negara-negara barat pemeluk Kristen pada umumnya (menurut wikipedia, jumlah penduduk dunia yang beragama Kristen - dengan semua sektenya - saat ini sebanyak 2,1 milyar).
  4. Islam sudah cukup lama dianggap identik dengan bangsa Arab yang rata-rata amat kaya dengan sumber-sumber minyak bumi - bahkan uranium! - yang tidak dimiliki oleh kebanyakan bangsa-bangsa barat (yang pelan tapi pasti akan dilanda resesi sumber daya alam ini). Tidak dapat dipungkiri bahwa karakter bangsa Arab rata-rata keras, spontan, defensif, kurang bersahabat, dan mudah terprovokasi. Mendiskreditkan negara-negara Arab (dengan segala cara, termasuk memprovokasi individu-individunya) adalah salahsatu upaya untuk menghalalkan invasi militer atas nama "perang terhadap teroris" yang membungkus maksud sebenarnya yakni menguasai sumber-sumber kekayaan alam tadi. Coba telisik lagi kebijakan pemerintah Bush Jr. terhadap negara-negara Arab dan hubungannya dengan rekayasa peristiwa serangan 11 september. Siapa saja sebetulnya yang berada di balik aksi kejahatan terhadap kemanusiaan terbesar abad ini yang sangat, sangat, mencengangkan dunia itu?
  5. Suka atau tidak suka, keberatan atau tidak keberatan, serangan 11 September sudah terlanjur menjadi momentum besar yang memberi justifikasi lebih besar lagi kepada bangsa mana pun yang berinisiatif untuk tampil ke podium dan meneriakkan yel-yel, "Mari perangi teroris, mari perangi Islam!" Padahal yang menari-nari di belakang mereka adalah kelompok-kelompok radikal Israel yang mendukung kepentingan zionis.
  6. Muncul para oportunis amatiran yang mendaulat diri sendiri sebagai intelektual Islam dan mengaku mendapat "hidayah" untuk meninggalkan Islam karena Islam tidak sejalan dengan pemikirannya yang "merdeka." Atau gampangnya, mereka memproklamirkan diri sebagai pribadi-pribadi liberal sejati guna mendapatkan simpathy dari banyak fihak di negara-negara barat yang pada umumnya menganut faham ini. Sebut saja nama Ali Sina misalnya, yang memetik tidak sedikit keuntungan financial dengan memanfaatkan situasi (1), (2), (3), dan (4) di atas (baca: membentuk opini sesat tentang Islam di puncak segala ketidaktahuan rata-rata penduduk non-muslim negara-negara barat menyangkut ajaran Islam yang sesungguhnya). Aksi ini dilakukannya dengan menjungkir-balikkan isi Al Qur'an, Hadits, sejarah Rasulullah dan logika ajaran Islam itu sendiri melaui cyber war dan propaganda anti-Islam yang dilancarkannya melalui situs Islam Watch dan yayasan FFI (Faith Freedom International). Meskipun untuk itu ia sendiri secara sadar (atau berpura-pura) harus menjadi kafir karenanya. Pribadi sesat lain yang lebih gigih dalam upayanya "menyesatkan" siapa saja (baik muslim maupun non-muslim) dengan metode yang stereotye dengan Ali Sina adalah Robert Spencer AKA Shaik Ya Mami melalui situsnya yang berlabel Jihad Watch. Bedanya dengan Ali Sina adalah bahwa mantan muslim yang mengaku atheis tapi sesungguhnya beralih agama menjadi Katolik ini terus menerus mengobarkan kebencian rasis terhadap umat Islam sedunia melalui semua cara yang dapat dilakukannya dalam mengekspose isue-isue tentang jihad. Nampaknya ia faham betul bahwa di benak sebagian besar non-muslim, terutama di negara-negara barat, sudah terlanjur tertanam imej bahwa jihad adalah sama dan sebangun dengan terorisme.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada organisasi-organisasi yang mewakili kepentingan anti-Islam siap menyediakan dukungan dana hampir tidak terbatas bagi siapa saja yang bersedia mendiskreditkan Islam terutama melalui teknologi informasi (TV, surat kabar, majalah, tabloid, buku, seminar, ceramah, situs-situs internet dlsb) terutama di negara-negara yang rawan konflik sentimen agama. Indonesia termasuk negara yang menjadi sasaran mereka. Itu sebabnya di luar negeri kita lebih banyak mendengar atau membaca berita tentang kejahatan kemanusiaan (meski kecil) yang menimpa orang-orang non-muslim daripada sebaliknya.

Disadari atau tidak, Indonesia adalah salahsatu lambang supremasi Islam yang dibanggakan oleh umat muslim di seluruh dunia. Hampir 87% dari jumlah penduduknya yang (menurut CIA factbook edisi Juli 2009 tadi - jadi, bukan dari catatan badan statistik nasional yang sama-sama tidak kita percayai) berjumlah 240 juta itu, sebanyak 207 juta adalah muslim! Fakta ini telah sekian lama menempatkan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar nomor 1 di dunia.

Di atas itu, Indonesia juga merupakan cermin kerukunan hidup antar umat beragama yang sulit dicari tandingannya di negara-negara lain. Sebab walaupun mayoritas (hampir mutlak) penduduknya adalah Islam, tetapi toleransi terhadap agama-agama lain (terutama yang diakui dan dilindungi oleh konstitusi negara) terbukti sangat tinggi. Ini bukan karena intervensi pemerintah, akan tetapi memang pada dasarnya tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari budaya yang diturunkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia sendiri. Hal ini bukan saja diamini dan disampaikan oleh Barrack Obama selaku Presiden AS dalam pidato pertamanya di luar negeri tahun lalu di Cairo, tetapi juga menjadi anjuran seorang Preiden AS kepada para pemimpin negara-negara Islam sedunia agar dijadikan contoh. Padahal lebih dari separuh penduduk bumi tahu bahwa AS adalah negara musuh Islam (atau sebaliknya) sebelum masa pemerintahan Obama.

Sayangnya, dan ini betul-betul patut disayangkan, di Indonesia sendiri nampaknya mulai tumbuh Ali Sina dan Robert Spencer kecil yang dapat kita jumpai aksi-aksi cyber war-nya melalui situs jejaring sosial seperti facebook, blogger, maupun forum-forum diskusi lainnya di internet. Sebut saja misalnya blog FFI Indonesia, Murtadin Kafirun, Islam Expose, Admin212 dan ruang-ruang publik lain yang mereka beri label forum diskusi ini atau itu dengan topik utama; menghujat dan melecehkan seluruh panji-panji Islam.

Tentu saja aksi mereka ini mendapat reaksi keras dari netters muslim melalui situs-situs tandingan seperti Menjawab Faithfreedom Indonesia, Contra-FFI Indonesia, Muslim Menjawab Tantangan, The Defenders of Da'wah dan masih banyak lagi situs-situs serupa yang selama ini telah dikenal baik oleh kedua belah fihak yang melibatkan diri dalam kancah cyber war ini.

Barisan berikut yang setiap saat siap untuk memanfaatkan peluang adalah misionaris-misionaris muda Kristen yang sama gigihnya dalam upaya mengkristenkan sebanyak mungkin umat Islam Indonesia melalui "metoda-metoda standar" mereka lewat berbagai cara, termasuk media internet yang hampir setali tiga uang caranya dengan (atau banyak sekali mengadopsi) pola-pola yang diterapkan oleh Ali Sina dan Robert Spencer. Sebuah cita-cita yang sejujurnya patut diacungi jempol mengingat kalkulasi matematiknya yang hampir nisbi.

Mengapa Islam dibenci?
Catatan di atas tentu saja belum mewakili ratusan, bahkan mungkin ribuan alasan lain yang berkembang sendiri-sendiri di berbagai belahan bumi ini. Namun agar tidak melebar ke sana ke mari, saya pikir lebih baik kita coba melihat apa yang berkembang di belahan bumi Nusantara tercinta ini saja.

Ketika pertanyaan ini iseng-iseng saya bawa kepada pakde saya yang lain, beliau mengatakan bahwa pertanyaan saya sebetulnya agak bias. Lalu dengan enteng beliau melanjutkan, "Yang seharusnya kamu perhatikan bukanlah kebencian itu sendiri, akan tetapi tujuan akhir - atau agenda - di balik semua upaya fihak-fihak yang coba mengobarkan rasa benci terhadap Islam."

Diam-diam saya pikir pendapat pakde saya ini ternyata makes sense juga, dan pertanyaan tentang mengapa Islam dibenci pun menjadi tambah menarik.

Dari merenung-renung setelah diberi sepotong wejangan itu akhirnya saya pikir, mengapa saya harus ikut-ikutan "terperangkap" dan memutar otak keras-keras sebagai orang yang harus menjawab pertanyaan itu? Mengapa saya tidak santai-santai saja dan membayangkan diri saya sebagai orang yang justru menyebabkan orang lain terdorong untuk mencetuskan pertanyaan itu?

Ingin tahu apa yang kemudian saya dapatkan menyangkut agenda tersembunyi di balik upaya mengobarkan kebencian terhadap Islam ini?

Mari kita lanjutkan!

[Gus Mendem]





Email Dari Mas Mohammad Taufiq


Salam,
Ini adalah email yang panjang. Mohon luangkan waktu anda untuk memahaminya dengan baik. Saya mengundang seluruh umat manusia, apa pun agamanya, untuk membaca email ini dengan harapan semoga kita semua dapat memetik hikmah darinya. Saya menulis email ini dilandasi oleh beberapa pertanyaan, yakni yang jawabannya seringkali tidak memuaskan saya, seperti:

1. Al Quran adalah untuk seluruh umat manusia. Akan tetap kenapa sampai saat ini hanya orang-orang yang mengaku beragama Islam saja yang mendominasinya? Kenapa agama Kristen juga tidak menggunakan Al Quran? Kenapa Yahudi juga tidak? Kenapa orang Hindu dan Budha pun tidak? Atau mungkin saja ada, tapi yang pasti tentulah hanya segelintir saja.

2. Bagaimana Agama Islam dapat menjelaskan nasib seorang manusia pada hari kiamat nanti jika ia terlahir, katakanlah di negara Nicaragua, beragama Kristen atau Yahudi, tidak pernah mengenal Al Quran, tidak mengetahui ajaran Nabi Muhammad, dan sampai tiba ajalnya tidak pula pernah mengenal Islam. Padahal ia seorang yang berbudi baik, berperilaku santun, dermawan, ramah, dan suka membantu orang lain. Apakah menurut pandangan Islam ia akan masuk neraka? Jawaban yang saya terima beragam.
  • Ada yang mengatakan jika memang ia belum pernah mendengar tentang Islam, maka ia adalah pengecualian dari neraka, tapi jika sudah, maka dia harus memeluk Islam.
  • Ada yang secara eksrim mengatakan bahwa apa pun amalannya, jika ia mati dalam keadaan tidak beragama Islam, maka ia masuk neraka.
Menurut saya, jawaban-jawaban di atas terdengar tidak logis. Tidak adil, karena tidak satu pun manusia yang dapat menentukan agama apa yang dianut orang tuanya saat ia dilahirkan. Kalaupun misalnya ada seseorang yang tidak pernah mendengar tentang Islam tapi karena amal baiknya lalu masuk surga, mengapa dengan amalan yang sama, saudara seimannya yang pernah mengenal Islam (tapi tidak memeluk Islam) harus masuk neraka?

Untuk pendapat yang ekstrim, lebih tidak adil lagi. Seorang berbudi luhur yang sepanjang hidupnya selalu mengamalkan kebajikan tetapi ketika mati harus masuk neraka semata-mata karena tidak memeluk agama yang sama sekali tidak pernah ia lihat atau dengar. Tidakkah ini bertentangan dengan sifat Tuhan yang Maha Adil? Saya tidak tahu bagaimana pandangan orang Yahudi dan Nasrani akan hal ini. Tapi saya duga kemungkinannya sama saja, semua orang akan menganggap bahwa agamanya yang paling benar. Agamanyalah yang akan menyelamatkan dirinya dari api neraka.

Untuk itu, pernyataan bahwa Al Quran untuk seluruh umat manusia rasanya perlu kita tinjau kembali. Karenanya saya coba untuk membaca Al Quran dengan melepas semua atribut keagamaan saya. Saya coba membaca Al Quran, bukan sebagai umat Islam, tapi sebagai manusia. Dan sedapat mungkin saya coba untuk menghilangkan asumsi-asumsi yang ada dalam tafsir Al Quran (biasanya ditandai dengan kurung) kecuali untuk kata ganti orang atau benda sesuai dengan konteks ayat. Saya coba berangkat dari 'kosong'. Meski susah, tapi saya coba. Dimulai dari ayat berikut:

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." [QS.3:85]

Jika demikian, siapakah orang yang beragama Islam itu? Ini yang saya dapatkan; Islam adalah kata dari bahasa arab yang bermakna berserah diri, tunduk patuh. Untuk merujuk ke orangnya digunakan kata muslim yang berarti orang yang tunduk patuh, yang berserah diri. Saya coba search ke dalam Al Quran dengan menggunakan keyword berserah diri dan menemukan banyak ayat yang menurut hemat saya relevan antara satu sama lain seperti di antaranya adalah sebagai berikut:

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." [QS.3:67]

Ayat ini melekatkan kata muslim (berserah diri) kepada Nabi Ibrahim (Abraham). Jadi, Ibrahim adalah orang Islam (Muslim).

"Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." [QS.27:44]

Nabi Sulaiman (Solomon) dan Ratu Saba, Balqis, berserah diri pada Allah. Nabi Sulaiman dan pengikutnya adalah orang-orang Islam (Muslim).

"Dan Ya'qub berkata: "Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri." [QS.12:67]

Nabi Ya'qub (Jacob) mengaku berserah diri, Nabi Ya'qub adalah orang Islam (Muslim).

"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia (Musa dan Harun): "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." [QS.10:90]

Nabi Musa (Moses) dan Nabi Harun (Aron) mengaku berserah diri. Dengan demikian Nabi Musa dan Nabi Harun adalah orang Islam (Muslim). Sedangkan pengikutnya, bani israil, seharusnya juga muslim.

"Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." [QS.3:52]

Nabi Isa (Yesus) dan pengikutnya mengaku berserah diri, Maka nabi Isa dan pengikutnya juga orang Islam (Muslim).

Masih banyak lagi ayat lain yang mengindikasikan Nabi-nabi di atas (serta nabi-nabi yang tidak disebutkan di sini) dan para pengikutnya mengaku Muslim. Hal ini dapat kita temui melalui googling dengan keyword "Tunduk Patuh". Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa setiap Nabi sejak jaman Adam sampai jaman Nabi Muhammad (termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa) dan para pengikut mereka sesungguhnya adalah Muslim. Dengan kata lain, dalam pandangan Al Quran mereka beragama Islam.

Dari kenyataan di atas saya mulai paham ayat berikut:

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." [QS.3:85]

Lalu, bagaimana dengan umat Hindu, Budha, atau agama bumi lainnya? Apakah Islam juga mencakup pengertian agama bumi?

Saya menemukan janji Allah berikut ini yang membuktikan bahwa Al Quran juga mengakui agama bumi di luar agama yang dibawa oleh para nabi, yakni agama yang kita kenal dengan sebutan shabiin:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [QS.2:62]

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [QS.5:69]

Ayat ini menjawab pertanyaan tentang bagaimana nasib seseorang yang tidak pernah datang kitab kepada mereka (ummi) ataupun peringatan para Rasul (bukan hanya rasul Muhammad). Al Quran menyiratkan bahwa Allah tetap memperhitungkan mereka sepanjang mereka beriman kepada Allah. Saya memberikan penekanan pada kata Allah disini dari bahasa arab yang berarti Al Ilah atau Tuhan. Sehingga tiap orang bisa saja mempunyai sebutan kepada Tuhannya tergantung bahasa yang digunakan.

Cerita nabi Ibrahim berikut meyakinkan saya:

"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." [QS.6:75-79]

Nabi Ibrahim mencontohkan bagaimana proses pencariannya kepada Tuhan melalui tanda-tanda kekuasaan Tuhan di langit dan di bumi tanpa petunjuk kitab, bahkan ia sempat berganti-ganti 'Tuhan'. Namun pada akhirnya berbuah kesimpulan adanya suatu dzat tunggal yang maha kuasa. Jadi Tuhan kita adalah Tuhan yang satu. Hanya sebutannya yang berbeda, Allah, Alah, Yahwe, Sang Hyang Widhi, dlsb, yang pada dasarnya merupakan dzat yang sama, yakni Tuhan yang satu.

Akhirnya saya paham kenapa Ibrahim diangkat jadi Imam untuk semua manusia.

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim." [QS.2:124]

Beliau merupakan contoh yang sempurna untuk agama yang lurus, baik agama samawi ('Islam', Kristen, Yahudi) maupun agama bumi (tanpa kitab). Nabi Muhammad pun dalam Al Quran diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim yang lurus:

"Katakanlah (Muhammad): "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah. "Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik." [QS.3:95]

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya." [QS.4:125]

Nabi Ibrahim adalah nabi kesayangan Allah.

Sekarang saya sudah mulai paham sifat universal Al Quran. Al Quran menjanjikan hukuman kepada yang tidak taat dari golongan 'Islam' (yg kita kenal sekarang ini, pengikut nabi Muhammad), sama kerasnya dengan hukuman yang diberikan kepada golongan Yahudi dan Nasrani yang tidak taat kepada Rasulnya. Di saat yang sama, Al Quran juga menjanjikan Surga kepada golongan Muhammad yang taat pada Rasulnya sama baiknya dengan janji yang diberikan pada golongan Kristen dan Yahudi yang taat pada Rasulnya, bahkan golongan Shabiin di luar agama samawi.

Saya paham sekarang bahwa istilah Islam dan Muslim itu bukan hanya merujuk kepada umat nabi Muhammad, akan tetapi juga kepada umat-umat nabi yang lain, termasuk umat nabi Musa (Yahudi) dan umat nabi Isa (Kristen). Saya juga paham kenapa Allah di dalam Al Quran tidak pernah menyebut yahudi dan nasrani sebagai "Diin" atau agama. Karena bagi Allah, kita semua adalah satu agama. Agama Ibrahim yang lurus, dimana nabi Ibrahim adalah Imamnya. Akhirnya saya pun paham maksud ayat ini, tentunya setelah membaca Al Quran tanpa sentimen agama.

"Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." [QS.21:92]

Satu pertanyaan lagi yang timbul, kenapa syariat 3 agama samawi, yakni 'Islam' (saya beri tanda kutip untuk menandai bahwa ini adalah Islam golongan Muhammad) Kristen, danYahudi ini begitu berbeda? Kenapa tidak disatukan saja?

"Manusia itu adalah umat yang satu. maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." [QS.2:213]

Manusia adalah umat yang satu, namun terpecah-pecah karena dengki antar mereka semata. Allah tidak menyukai perpecahan dan manusia yang bergolong-golongan.

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu." [QS.23:52-54]

Allah membenci orang yang memecah agama tauhid ini menjadi golongan-golongan, seperti 'Islam', Kristen, dan Yahudi. Semua Rasul diperintahkan untuk mengajarkan agama yang berserah diri (agama Ibrahim yang lurus), bukan membentuk golongan. Dan karena itu tentunya para Rasul pun akan menyeru kepada pengikutnya agar tidak menjadi bergolongan.

Bergolong-golongan tentu saja akan menjadi sesuatu yang nampak wajar apabila kita dalam satu agama, dan disodori syariah yang berbeda-beda. Yahudi dengan hukum taurat, Kristen dengan hukum Injil, dan 'Islam' dengan hukum Al Quran. Tapi tidak semua dari kita menyadari pesan -pesan dalam kitab suci masing-masing yang menyeru kepada agama yang satu, bukan menjadikan kita bergolong-golongan. Sungguh kita tidak menyadari, sehingga akhirnya terbentuklah dunia seperti yang kita kenal sekarang ini.

Saya baru menyadari makna ayat berikut:

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." [QS.3:64]

Nabi Muhammad menyeru kepada Ahli kitab (orang yang berpegang kepada Taurat dan Injil), agar mencari persamaan, yakni ketauhidan, bukan mengajak para ahli kitab pindah 'agama'. Dengan kata lain Nabi Muhammad mengakui syariah yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa.

"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa." [QS.5:46]

"Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam." [QS.10:37]

Adapun jika difahami dengan benar, maka firman Allah SWT berikut ini sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengkonfirmasikan bahwa ajaran Taurat atau Injil itu salah atau sudah expired seperti pendapat kebanyakan orang.

"Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik." [QS.135]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." [QS.5:51]

Nabi Muhammad diperintah oleh Allah untuk tidak menjadi bergolongan seperti golongan Yahudi atau golongan Nasrani. Tetapi harus tetap menegakkan agama Ibrahim yang lurus. Beliau tidak diperintahkan untuk meng-convert para ahli kitab agar menjadi pengikutnya. Bahkan diperingatkan untuk tidak berdebat dengan mereka. Namun jika terpaksa harus berdebat, beliau - dan tentu saja semua pengikutnya - diperintahkan untuk berdebat dengan cara-cara yang baik.

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." [QS.29:46]

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu." [QS.5:68]

Nabi Muhammad mengatakan kepada umat Nabi Musa dan Umat Nabi Isa agar menegakkan ajaran kitab masing-masing, agar bisa dipandang sebagai beragama oleh Allah. Jika kita tidak menjunjung tinggi ajaran kitab masing-masing, hanya akan menambah kekafiran.

Injil membenarkan Taurat, Al Quran membenarkan Injil dan Taurat. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa Al Quran adalah untuk semua 'golongan' - atau lebih baik saya sebut umat - adalah benar.

Berikut adalah apa yang diinginkan Allah, Tuhan kita semua:

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." [QS.16:92]

Masalah jumlah umat hendaknya jangan dipusingkan, itu hanyalah ujian. Yang menambah kedengkian kita pada golongan lain.

"Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." [QS.16:93]

Saya mencoba memahami kiblat sebagai 'panutan syariah' atau panutan kitab dan saya akhirnya memahami kenapa dalam agama tauhid, agama Ibrahim yang lurus, terdapat 3 syariah yang semuanya diakui kebenarannya sampai sekarang. Ayat berikut berbicara tentang kiblat, yang dalam pandangan umat 'Islam' berarti ka'bah secara fisikal dan sebagai penunjuk arah sujud dalam sholat.

"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus" [QS.2:142]

Saya mengganti kata kiblat dengan kata panutan syariah, bahasa kasarnya, saya dapat arti seperti ini: orang yang kurang akalnya heran melihat orang mengganti agama atau golongannya, misalnya dari syariah Injil menjadi syariah Al Quran atau dari syariah Al Quran menjadi Syariah Taurat misalnya. Tapi Tuhannya tetap satu, yakni Allah.

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." [QS.2:143]

Ini alasan sebenarnya, kenapa syariah itu menjadi 3 dalam satu agama, Tuhan menetapkan syariah kita seperti sekarang ini, agar Tuhan tahu, siapa yang benar-benar mengikuti Rasul atau kiblat masing-masing dan tetap menjaga agar tidak menjadi bergolongan, tetap menjaga agama yang satu. Godaan untuk menjadi bergolongan (menjadi eksklusif dan merasa benar sendiri) sangat besar karena adanya perbedaan syariah. Dan sungguh itu terasa berat, sangat berat untuk mengakui kebenaran agama orang lain. Sehingga lebih banyak yang terjebak dalam gelimang aktualisasi rasa dengki.

"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." [QS.2:144]

Allah akan memalingkan kita ke 'syariah' yang kita sukai. Sangat wajar jika seorang anak Yahudi akan memilih syariah Yahudi yang telah lebih dulu dianut oleh orang tuanya. Ayat ini membuat saya tidak perlu merasa beruntung dilahirkan dari keluarga Muslim, demikian juga anak Yahudi atau Nasrani tidak perlu merasa beruntung dilahirkan dari keluarga Yahudi atau Nasrani. Sebab sesungguhnya masing-masing agama yang diimani keluarga tersebut - bila diamalkan dengan baik dan benar sesuai dengan ajaran Tauhid melalui para rasul-Nya - maka Insya Allah, ridha Tuhan akan tetap menjadi keniscayaan.

Khusus untuk syariah Muhammad yang datang belakangan, diserukan untuk memalingkan muka ke arah Masjidil Haram, agar para ahli kitab tahu, bahwa syariah yang diajarkan Nabi Muhammad adalah benar dari Tuhan. Sekarang, saya pribadi meyakini bahwa Masjidil Haram itu adalah salah satu tempat yang diklaim oleh 3 agama samawi. Saya akan memberikan penjelasan pada email yang lain.

"Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu - kalau begitu - termasuk golongan orang-orang yang zalim." [QS.2:145]

Nabi Muhammad diperingatkan untuk tidak mengikuti keinginan para ahli kitab agar menjadi bergolongan dan merasa benar sendiri, seperti yang terjadi di dunia hingga detik ini. Masing-masing syariah dibenarkan, dan tidak tidak pula perlu menjadi bergolongan.

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." [QS.2:146]

Dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad (Al Quran), para pemegang Injil dan Taurat akan menemukan hal yang tidak asing - karena sama seperti apa yang tertulis dalam kitab mereka. Bahkan hal ini diumpamakan oleh Allah 'seperti mengenali anak sendiri.'

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." [QS.2:148]

Pada hakikatnya, kebenaran bagi setiap syariah adalah bahwa kita melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT, yakni berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan sebagaimana ditegaskan lagi dalam kisah berikut:

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". [QS.2:111]

"(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [QS.2:112]

Orang-orang Yahudi maupun Nasrani mengklaim bahwa hanya merekalah masing-masing yang paling benar, yang berhak masuk surga. Dibantah oleh Allah dalam ayat berikutnya, "Tidak demikian, siapa pun yang berserah diri, berbuat kebajikan, maka dapat pahala", dan bisa mendapat ganjaran surga, tanpa melihat syariah yang diyakininya!

Akhirnya saya pribadi meyakini bahwa syariah adalah sekumpulan rules, peraturan dari Tuhan, bukan penentu masuk tidaknya kita ke Surga. Kepatuhan pada syariah yang kita ikutilah yang akan membawa kita kepada ganjaran yang baik dari yang Maha Kuasa. Syariah adalah penguji kepatuhan.

Apa pun agama anda, kembalilah ke ajaran murni yang sebenarnya dari KITAB masing-masing. Kita sebenarnya sedang diuji oleh yang Maha Kuasa dengan perbedaan syariah. Syariah yang berbeda seharusnya tidaklah membuat kita saling iri hati, dengki, bahkan sampai mengobarkan peperangan. Tuhan kita adalah Tuhan yang satu. mari kita damaikan perselisihan antara orang-orang yang beriman di antara kita.

Umat Muhammad dan Umat Musa harusnya berterima kasih kepada para misionaris umat Isya. Berkat mereka benua Amerika, Eropa, dan penjuru dunia lain telah mengenal agama Ibrahim yang lurus lewat syariah Injil.

Umat Isya dan umat Musa harusnya berterima kasih pada pendakwah-pendakwah 'Muslim' yang hingga saat ini mampu mengajak lebih dari 2 Milyar manusia di muka bumi ini mengenal Agama Tauhid melalui syariah Al Quran.

Umat Isya dan Umat Muhammad seyogyanya berterima kasih kepada umat Nabi Musa yang karena derajatnya ditinggikan oleh Allah, mereka mampu memberikan warna pada ilmu pengetahuan di antara umat manusia.

Mari sebarkan perdamaian. Anda tentu tidak akan meledakkan bom di gereja, sinagog, mesjid, dan tempat-tempat ibadah lain karena sekarang anda tahu bahwa orang-orang yang ada di dalam sana sedang memuliakan Tuhan yang juga anda sembah, meski dengan cara yang berbeda, tapi direstui oleh Tuhan anda.

Dengan pemahaman ini saya yakin ayat berikut sudah terpenuhi:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." [QS.110:1-3]

Apakah waktunya sudah dekat?
Mari saudara-saudaraku, kita saling bahu membahu menegakkan agama Ibrahim yang lurus. Dengan kembali memurnikan ajaran kitab masing-masing, lepaskan segala asumsi dan arogansi agama. Berpegang teguhlah pada kitab yang kita pegang, apa pun itu. Jangan mengambil asumsi di luar dari kitab yang diturunkan oleh Allah.

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui." [QS.6.115]

Kalimat Tuhan tidak hanya ada di dalam kitab Al Quran, akan tetapi juga ada di dalam kitab Injil dan Taurat. Dan yakinlah bahwa pesan kelurusan agama Ibrahim akan tetap kekal dalam kitab-kitab suci tersebut. Tidak ada tangan manusia yang dapat merobah (kemurnian) nya.

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." [QS.6:116]

Menyebarkan pemahaman ini adalah tugas yang berat, kebanyakan orang di muka bumi ini masih menyangka bahwa golongan merekalah yang terbaik. Padahal sesungguhnya tidak. Karena itu, mari kita tegakkan agama Ibrahim yang lurus!

Allah bersama kita.

Salam,
Mohammad Taufiq