Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Qisash Yang Berbuah Kesempatan Memeluk Rasulullah SAW


بِسْمِ ٱللّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيم

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ، أَخْبَرَنَا خَالِدٌ، عَنْ حُصَيْنٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ، رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ قَالَ: بَيْنَمَا هُوَ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ وَكَانَ فِيهِ مِزَاحٌ بَيْنَا يُضْحِكُهُمْ فَطَعَنَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَاصِرَتِهِ بِعُودٍ فَقَالَ: أَصْبِرْنِي فَقَالَ: «اصْطَبِرْ» قَالَ: إِنَّ عَلَيْكَ قَمِيصًا وَلَيْسَ عَلَيَّ قَمِيصٌ، «فَرَفَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَمِيصِهِ، فَاحْتَضَنَهُ وَجَعَلَ يُقَبِّلُ كَشْحَهُ»، قَالَ إِنَّمَا أَرَدْتُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

Berkata kepada kami ‘Amru bin ‘Aun, mengabarkan kami Khalid, dari Hushain, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Usaid bin Hudhair, dia seorang laki-laki dari Anshar: “Ketika dia (Usaid bin Hudhair) sedang berbicara dengan kaumnya dan di dalamnya ada canda yang membuat mereka tertawa, maka Nabi ﷺ memukul pinggangnya dengan sebatang kayu. Maka dia (Usaid) berkata, ‘Beri saya kesempatan untuk qishash (membalas setimpal).” Beliau bersabda, “Silakan membalas.” Dia berkata, “Engkau memakai baju, sedangkan saya (ketika engkau pukul) tidak memakai baju.” Maka Rasulullah ﷺ mengangkat bajunya. Maka dia (Usaid bin Khudair) langsung memeluknya dan mencium pinggangnya. Lalu dia berkata, ‘Inilah yang aku inginkan wahai Rasulullah.”

Hadits ini dikisahkan oleh:
  1. Imam Abu Daud, Sunan Abi Daud, Kitabul Adab, Bab fi Qublatil Jasad No. 5224
  2. Imam Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 556
  3. Imam Al Baihaqi, Syu’abul Iman, Bab Maa Ja’a fi Qublatil Jasad No. 13586
  4. Imam Al Baghawi, Syarhus Sunnah Bab Al Qishahsh fil Athraf, 10/169
  5. Imam Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, 3/288
Tinjauan Sanad:
  • ‘Amru bin ‘Aun.
Beliau adalah seorang Al hafizh dan Imam. Para ulama mengambil hadits darinya, seperti Bukhari, Abu Daud, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ali Al Baghawi, Ad Darimi, dan banyak lainnya. Para ulama menyatakan beliau adalah TSIQAH, seperti Abu Hatim, Abu Zur’ah, Al ‘Ijli, [Siyar A’lamin Nubala, 8/377]

  • Khalid, yaitu Khalid bin Abdullah Al Wasithiy
Beliau adalah TSIQAH, sebagaimana dikatakan Abu Zur’ah, Abu Hatim, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Sa’ad, dan lainnya. [Tahdzibut Tahdzib, 3/100].

  • Hushain, yaitu Hushain bin Abdurrahman As Salamiy
Terjadi perselisihan para imam tentang beliau. Disebutkan bahwa beliau salah satu imam. Imam Ahmad mengatakan: TSIQAH (terpercaya) dan amanah. Al ‘Ijli mengatakan: tsiqah dan kokoh. Ibnu Abi Hatim bertanya kepada Abu Zur’ah: “dia tsiqah.” Apakah dia hujjah? Abu Zur'ah menjawab: “Ya, Demi Allah!”

Namun, An Nasa’i mengatakan: hafalannya berubah. Abu Hatim berkata: “Tsiqah, tapi hapalannya buruk di akhir hayatnya.” Yazid bin Harun mengatakan: “yakhtalith (hapalannya kacau).” Ali mengatakan: “lam yaktalith (tidak kacau).” [Mizanul I’tidal, 1/552]

  • Abdurrahman bin Abi Laila
Beliau Tsiqah, orang Kufah, dan dipakai oleh penyusun enam kitab hadits (Kutubus Sittah). Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr dalam Syarh Sunan Abi Daud.

  • Usaid bin Hudhair, seorang sahabat nabi senior, ikut dalam Bai’at ‘Aqabah, ikut pula perang Badar, dan semua sahabat nabi adalah tsiqah dan ‘adil menurut aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Jadi, semua perawi hadits ini tsiqah, tetapi sanadnya terputus (inqitha’), yaitu pada “Abdurrahman bin Abi Laila dari Usaid bin Hudhair.” Benarkah Abdurrahman bin Abi Laila mendengarkan hadits ini dari Usaid bin Hudhair?

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa Abdurrahman bin Abi Laila tidak pernah mendengarkan hadits dari Usaid bin Hudhair. [Tahdzib At Tahdzib, 6/260]

Imam Abu Abdillah Dhiya’uddin Al Maqdisi memasukan hadits ini dalam kategori “isnaduhu munqathi’ (sanadnya terputus)”. Beliau berkata: “Aku tidak tahu, benarkah Abdurrahman bin Abi Laila mendengarkan hadits ini dari Usaid bin Hudhair ataukah tidak?” (Al Ahadits Al Mukhtarah No. 1471)

Dan, kita tahu bahwa hadits yang sanadnya inqitha’ adalah dhaif.

Namun, hadits ini memiliki SYAHID (penguat) yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim, dengan sanad: “… dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari AYAHNYA, dari Usaid bin Hudhair.” Dan Imam Al Hakim mengatakan: hadits ini SHAHIH, dan Imam Adz Dzahabi dalam At Talkhish-nya menyepakati penshahihan Imam Al Hakim. [Al Mustadrak, 3/327]

Jadi, riwayat ini menunjukkan bahwa hadits ini maushul (bersambung sanadnya), bukan terputus antara Abdurrahman bin Abi Laila dari Usaid bin Hudair. Tapi dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari AYAHNYA yakni Abi Laila dari Usaid bin Hudhair.

Oleh karenanya, akhirnya para muhaddits menilai bahwa hadits ini SHAHIH semisal Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Isnadnya shahih sesuai syarat Syaikhain/Al Bukhari dan Muslim.” [Ta’liq Musnad Ahmad, 17/329. Cat kaki hadits No. 11229]

Juga Syaikh Al Albani [Misykah No. 4675, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 2554].


[Dari catatan Farid Nu’man Hasan]

Menurut hadits, ayah bunda nabi Muhammad SAW adalah kafir dan kini berada di neraka


Muslim yang baru pertama kali mendengar, atau membaca judul seperti di atas pasti akan terkejut dan terheran-heran sendiri. Bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam, penutup para nabi, pembawa rahmat bagi seluruh alam, Nabi bagi seluruh umat manusia yang juga dikenal sebagai "kekasih" Allah, kedua orangtuanya disebut-sebut dalam hadits sebagai Kafir dan saat ini sudah berada di neraka pula?

Ya, memang mengherankan!
Tapi seperti kata para pendahulu, sebetulnya ini adalah perkara khilafiah yang sudah ada jauh sebelum kita sendiri lahir, dan tentu saja sudah selesai dibahas tuntas oleh para ahlul hadits yang paling mengetahui-seluk beluk cerita ini. Tapi belakangan, ternyata isu ini muncul lagi dan beredar di internet dalam bentuk berbagai bentuk tulisan, bahkan dalam tayangan video ceramah satu-dua orang ustadz kondang, yang baik disengaja atau tidak, dapat diartikan sebagai bentuk "pembunuhan karakter" Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam dengan cara menyerang martabat dan kehormatan beliau, sekaligus merendahkan intelektualitas seluruh umat Islam!

Ada tiga isu utama dalam cerita ini,
  1. Ayah bunda Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam kafir
  2. Ayah bunda Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam sudah berada di neraka
  3. Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam tidak mampu menyelamatkan kedua orangtuanya 


MAKNA KAFIR
MENURUT PERSPEKTIF AL-QURAN


kata "Kafir" disebutkan sebanyak 517 kali dalam 438 ayat Al-Quran


TINJAUAN SANAD HADITS 
AYAH  RASULULLAH SHALLALLAHU ALAYHI WASALAM 
KINI SUDAH BERADA DI NERAKA


● Dalil Firanda Talafi menyatakan orang tua Nabi Saw Kafir dan masuk Neraka adalah hadits riwayat Imam Muslim dari Hammad: 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَن ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ فِي النَّارِ، فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ، فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
Telah menyampaikan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, menyampaikan kepada kami ‘Affan, menyampaikan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Tsabit, dari Anas bahwasanya seorang laki-laki berkata: "Ya Rasulullah, dimanakah ayahku?" Nabi Saw bersabda: "Di dalam neraka." Ketika orang itu pergi, Nabi memanggilnya kembali dan bersabda: Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka.

Hadits ini Dha‘if menurut Imam as-Suyuthi, diriwayatkan oleh Ibnu Syahin dalam an-Nasikh wa al-Mansukh. [Ad-Durar al-Muntatsirah (pinggir Fatawi Haditsiyah) hlm. 234]

SANAD
Dalam sanad HR Imam Muslim di atas terdapat nama perawi yang diperbincangkan para ulama, yakni: Hammad bin Salamah.

Mengenai Hammad bin Salamah, para ulama terbagi menjadi dua kelompok:
1. Para ulama ahlul hadits yang men-tsiqah-kan di antaranya:
  • Ibnu Mahdi,
  • Ibnu Mu’in,
  • Al-Ajli, dan
  • Ibnu Hibban.

2. Para ulama ahlul hadits yang membuat catatan khusus tentangnya antara lain:
  • Yahya bin Sa’id al-Qaththan,
  • Ali bin Al-Madini,
  • Ahmad bin Hanbal,
  • An-Nasai,
  • Adz-Dzhabai,
  • Ya’qub bin Syaibah,
  • Abu Hathim ,
  • dan yang lainnya,

●● Termasuk Imam Muslim sendiri.

 PERAWI
Mengenai Hammad, Imam Muslim berkata:

وحماد يعدّ عندهم إذا حدّث عن غير ثابت؛ كحديثه عن قتادة، وأيوب، ويونس، وداود بن أبي هند، والجريري، ويحيى بن سعيد، وعمرو بن دينار، وأشباههم فإنه يخطىء في حديثهم كثيراً
“Dan Hammad dipermasalahkan menurut para ulama besar ahli hadits jika meriwayatkannya dari selain Tsabit; seperti periwayatan dari Qatadah, Ayyub, Yunus, Dawud bin Abu Hindi, Aljariri, Yahya bin Sa’id, Amr bin Dinar dan lainnya, karena Hammad melakukan banyak kesalahan dalam Hadits periwayatan mereka.”  [At-Tamyizi: 218]

 ALASAN PENOLAKAN

Para ulama ahli hadits sepakat, bahwa ketika Hammad menginjak usia lanjut, hafalannya mengalami gangguan. Bahkan dicurigai anak angkatnya melakukan penyisipan teks pada hadits-hadits Hammad.

Imam al-Baihaqi berkata:

حماد ساء حفظه في آخر عمره، فالحفاظ لا يحتجون بما يخالف فيه
“Hammad buruk hafalannya di akhir usianya, maka para ulama hadits tidak menjadikan hujjah dengan hadits Hammad yang terdapat kontradiksi di dalamnya.” [Syarh al-‘Ilal: 2/783]

Imam Abu Hathim berkata:
حماد ساء حفظه فى آخر عمره
“Hammad buruk hafalannya di usia lanjutnya.” [Al-Jarh wa At-Ta’dil: 9/66].

Imam Az-Zaila’i berkata:

لما طعن فى السن ساء حفظه. فالاحتياط أن لا يُحتج به فيما يخالف الثقات
“Ketika Hammad berusia lanjut, hafalannya menjadi buruk, maka untuk lebih hati-hatinya hendaknya tidak menjadikannya sebagai hujjah pada hadits-haditsnya yang menyelisihi periwayat-periwayat tsiqah lainnya.” [Nashbu Ar-Rayah: 1/285].


PERBANDINGAN RIWAYAT HAMAD 
DENGAN RIWAYAT MA’MAR BIN AL-MUTSANNA

Berikut adalah jalur sanad Ma’mar dari Tsabit, dari Anas, 

اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله، اَيْنَ اَبِي؟ قَالَ فِي النَّارِ. قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْك..َ؟
قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِكَافِرٍ، فَبَشِّّرْهُ بِالنَّارِ
Sesungguhnya seorang A’rabi bertanya kepada Rasulullah Saw: "Di mana ayahku?" Rasulullah bersabda: "Dia di neraka." A’rabi pun bertanya kembali: "Di mana ayahmu?" Rasulullah pun menjawab: "Sekiranya engkau melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira (padanya) dengan neraka."

Dalam sanad Ma’mar ini tidak disebutkan keberadaan ayahanda Nabi SAW. 
●● Sanad Ma’mar ini dipandang lebih kuat (atsbat) daripada sanad Hammad. 

Para ahli hadits mencatat bahwa di hari tuanya daya ingat Hammad bin Salamah dipertanyakan (diragukan) dan sebagian riwayatnya telah ditolak. [Lihat penjelasannya di sini

IMAM BUKHARI 
SAMA SEKALI TIDAK MERUJUK RIWAYAT DARI HAMMAD

Demikian pula Imam Muslim dalam Ushul Hadits (hadits-hadist yang berhubungan dengan prinsip-prinsip dalam syariat Islam), kecuali melalui Tsabit.

Dari berbagai perspektif, sanad Ma’mar tidak bercacat. Hal ini semakin dikuatkan lagi dengan pengakuan Imam Bukhari dan Imam Muslim yang sama-sama merujuk hadits dari Ma'mar. Dengan demikian, periwayatan Ma'mar dipercaya lebih jelas dan lebih dapat dipercaya.

Sementara itu, hadits dengan narasi serupa dengan riwayat Ma’mar juga muncul melalui jalur sanad yang lain.
  • Al-Bazzar,
  • Thabrani,

Baihaqi mengutipnya dari Ibrahim bin Sa’ad dari Al-Zuhri dari Amir bin Sa’ad dari Sa’ad bin Abi Waqqash. Sanad hadits ini shahih berdasarkan syarat Imam Bukhari dan Muslim.


HADIST IMAM MUSLIM 
DARI JALUR HAMMAD ADALAH HADIST AHAD.

Para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa Hadits Muslim dari jalur Hammad tersebut merupakan Hadits Ahad yang Matruk Ad-zhahir.

● Hadits Ahad adalah hadits yang bertentangan dengan nash Al-Quran, atau hadits mutawatir, atau kaidah-kaidah syariat yang telah disepakati atau ijma’ yang kuat. Maka zhahir hadits tersebut wajib ditinggalkan dan tidak boleh dijadikan hujjah dalam masalah-masalah aqidah.

Imam Nawawi menegaskan,

ومتى خالف خبر الاحاد نص القران او اجماعا وجب ترك ظاهره
“Kapan saja hadits Ahad bertentangan dengan nash ayat Al-Quran atau ijma’, maka wajib ditinggalkan zhahirnya.” [Syarh Al-Muhadzdzab, juz :4 hal : 342]

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqalani menulis,

قال الكرماني : ليعلم انما هو اي – خبر الاحاد – في العمليات لا في الاعتقاد
“Imam al-Karamani berkata, “Ketahuilah sesungguhnya hadits Ahad hanya boleh dibuat hujjah dalam hal amaliah bukan dalam hal aqidah.” [Fath Al-Bari juz : 13 hal : 231]

Ibnu Taimiyyah menjelaskan,

ان هذا من خبر الاحاد فكيف يثبت به اصل الدين اللذي لا يصح لايمان الا به
“Sesungguhnya ini termasuk hadits ahad, bagaimana (mungkin) fondasi agama yang merupakan standar keabsahan iman, bisa menjadi tsubut/tetap dengannya.” [Minhaj As-Sunnah, juz 2 hal : 133]

KONTRADIKSI HADITS HAMMAD 
DENGAN AL-QURAN DAN HADITS-HADITS SHAHIH LAINNYA

Berbekal satu hadits Ahad, musuh-musuh Islam tampaknya tidak ragu untuk terus menyerang martabat dan kehormatan Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam dengan tujuan yang jauh lebih buruk lagi, yakni berusaha mempengaruhi umat Islam untuk menerima pemikiran sempit mereka sebagai sebuah keniscayaan -- bahwa untuk menyelamatkan ayahnya sendiri dari neraka saja beliau tidak mampu -- apalagi untuk menolong seluruh umatnya? Dan ironisnya, dengan mengesampingkan sejumlah dalil-dalil shahih lainnya, ternyata ada juga sebagian dari umat Islam sendiri yang secara diam-diam atau secara terang-terangan ikut mengamininya! 

Ini keliru! Mengingat perkara sorga dan neraka pada hakekatnya adalah ghaib, dan tidak ada satu manusiapun di muka bumi ini yang mengetahuinya secara pasti kecuali hanya Allah Subhanahu Wata'ala semata!

Artinya, mengatakan si fulan dan si fulan saat ini ada di neraka atau di sorga adalah perbuatan lancang yang mendahului Allah!  

Firman Allah,

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ
Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. An-Naml:65)

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
"Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud:123)

Dengan Hujjah dari Imam Muslim yang notabene Hadist tsb Perawi nya yg Lemah dan temasuk Hadist Ahad tsb, Wahabi Talafi telah Berani Ketok Palu Bahwa Ayah Dan Ibu Nabi Saw Kafir dan di neraka

Hanya dengan 1 dalil Hadist, Wahabi telah membuang Dalil yg Lainnya.

Hadits Abu Hurairah ra:

نْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ قَرْنًا فَقَرْنًا حَتَّى كُنْتُ مِنْ الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ
“Aku diutus dari sebaik-baik anak Adam, Keturunan demi keturunan, hingga aku berada di dalam keturunan yang kemudian melahirkan aku.” [HR Bukhari].

Ali bin Abu Thalib ra meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda:

خَرَجتُ مِن نِكَاحِ وَ لَم أَخرُجُ مِن سفاح، مِن لدن آدم إلىَ أن ولدني أَبِي و أُمِّي لَم يُصِبنِي مِن سفاح الجاهلية شيءٌ
”Aku lahir dari pernikahan dan tak pernah lahir dari perzinaan, dari Adam hingga ayah dan ibuku melahirkan aku. Perzinaan dan menyentuh diriku sekalipun pada zaman Jahiliyah. [HR Baihaqi, Abu Nu’aim, Ibnu Katsir, Ibnu Sa’ad, Thabrani, Al-Haitsami, Al-Hakim, dan lain-lain].

Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda: "Kakek buyutku dan nenek buyutku tak pernah berkumpul kecuali dalam perkawinan yang sah. Allah senantiasa memeliharaku dari tulang sulbi yang baik ke alam rahim yang suci, dan garis itu tak pernah bercabang kecuali aku berada di dalam dua cabang yang terbaik." [Lihat: Tarikh 1:349, karya Ibnu Asyakir, Ad-Durul Mantsur 3: 294 dan 5::98 karya As-Suyuthi, dan Al-Wafa’ Bagian Pertama, Bab 10 karya Ibnul Jauzi].

Imam Ibn Abbas ra berpendapat bahwa makna ayat di atas adalah turun temurunnya engkau di tubuh ayah ayahmu yang kesemuanya hamba yang bersujud.

Taqallubaka ditafsirkan sebagai terbolak balikmu maksudnya di antara ayah ke ibu, ke putra, lalu ke istrinya, lalu ke putra, lalu ke istrinya, dan kesemuanya mereka adalah hamba hamba Nya yang bersujud, yaitu bukan musyrikin.

Cukuplah keterangan berikut ini sebagai peringatan bagi kita:

Telah berkata sebagian ulama:
“Telah ditanya Qodhi Abu Bakar bin ‘Arobi, salah seorang ulama madzhab Maliki mengenai seorang laki-laki yang berkata bahwa bapak Nabi berada di dalam neraka. Maka, beliau menjawab bahwa orang itu terlaknat, karena Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan melaknat mereka di dunia dan akherat dan menyiapkan bagi mereka itu adzab yang menghinakan”. (QS. Al-Ahzab: 57).

Dan tidak ada perbuatan hina yang lebih besar dibandingkan dengan perkataan bahwa Ayahanda Nabi Saw berada di dalam neraka.

Betapa tidak?
Ibnu Munzir dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ketika kepada beliau dikatakan: “Engkau anak dari kayu bakar api neraka”, maka berdirilah Rasulullah SAW dalam keadaan marah, kemudian berkata: 

ما بال أ قوام يؤذونني فى قرابتي و من أذاني فقد أذى الله
“Bagaimana keadaan kaum yang menyakiti aku dalam hal kerabatku, dan barangsiapa menyakiti aku maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah!”.




[Sumber: generasisalaf]






Allah memiliki tangan dan keduanya adalah kanan?


Dari Abdullah ibn ‘Amrin, ia berkata Ibn Numair dan Abu Bakar menyampaikan dari Nabi Shallallahu Alayhi Wasalam di dalam hadits Zubair, di mana beliau bersabda,

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ، وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ، الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِي حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar cahaya, dari tangan kanan ar-Rahman dan kedua tangan-Nya adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang adil dalam kekuasaannya, adil kepada keluarga mereka dan apa yang berada dalam tanggungannya.” [Shahih Muslim 3/1457, Sunan Turmudzi 5/250 riwayat Abu Hurairah, Sunan Nasai 7/221 riwayat Abdullah bin Amr bin al-Ash (derajat hadits shahih)]

Sebagian kalangan menganggap bahwa hadits tersebut termasuk dalam kategori tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya), padahal mustahil Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam beranggapan demikian, sebab sebagaimana kita ketahui, beliau sendirilah yang menyampaikan firman Allah yang sangat jelas ini kepada kita,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar Maha Melihat ” (QS. Asy-Syuura: 11)

Dengan demikian tentu saja sangat mustahil bila Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasalam berkeyakinan sama dengan sebagian kaum jahiliyah tentang arti “kedua tangan-Nya adalah kanan” dengan cara membandingkannya dengan anggota tubuh manusia. Andaikata beliau keliru memahami arti kalimat itu sekalipun, mustahil Allah akan membiarkan kekasih-Nya dalam keadaan tersesat. 

Jadi, apa yang biasa disebut dengan "gagal mikir" sebagaimana ditunjukkan oleh kaum Jahiliah dalam memaknai hadits tersebut sebenarnya karena keterbatasan atau ketidaktahuan mereka tentang paramasastra yang dipahami secara berjenjang dalam komunitas masyarakat pengguna bahasa Arab saja. Artinya, sama halnya dengan masyarakat kita yang tidak seluruhnya mengerti pramasastra bahasa Indonesia, demikian pula dengan masyarakat penutur bahasa Arab.

Imam Ibnu Qutaibah, salahseorang pakar studi-studi hadits masyhur menjelaskan tentang makna hadits tersebut sbb: 

“Kalimat 'kedua tangan-Nya adalah kanan' sesungguhnya merupakan simbol untuk menjelaskan kelengkapan dan kesempurnaan (karena kiri dipahami sebagai simbol dari kebalikannya). Dengan kata lain, makna kanan di sini adalah untuk menunjukkan kesempurnaan yang utuh. Orang Arab sangat menyukai segala sesuatu yang berbau kanan daripada kiri. Karena kanan dimaknai sebagai simbol kesempurnaan dan kiri dianggap sebagai simbol kekurangan. Oleh karena itulah ada pepatah di kalangan masyarakat Arab yang menyebutkan "Keberuntungan (al-yamn) datang dari tangan kanan, dan keburukan (asy-syu’m) datang dari tangan kiri" [Ensiklopedia Hadits hal. 197]

Jika benar-benar dicermati,  penjelasan Imam Ibnu Qutaibah ini sebetulnya sudah menjawab ketidak tahuan orang-orang yang membaca hadits namun cenderung memahaminya secara literal. 

Dalam syariat Islam sendiri sebenarnya sejak masa kanak-kanak sudah diajarkan hal-hal yang berhubungan dengan derajat kanan dan kiri ini. Adab Islam mengajarkan agar segala aktifitas kita hendaknya didahului oleh tangan atau kaki kanan. Misalnya saja dalam berwudhu, bersalaman, makan, memasuki mesjid, memegang Al-Quran, bersedekah, menulis, memberi, menerima dan masih banyak hal lainnya yang dilakukan dengan mendahulukan tangan, atau kaki kanan. Sedangkan tangan kiri, sebagai contoh saja, kita kerap melihat sendiri bagaimana panik dan malu biasanya seorang ibu apabila menyaksikan anaknya memberikan sesuatu kepada orang lain bahkan kepada anak yang lebih kecil sekalipun, dengan menggunakan tangan kiri. Secara naluriah biasanya si Ibu akan buru-buru berseru pada anaknya untuk menggunakan tangan kanannya sebagai ganti tangan kiri. 

Kenapa?
Karena pada hakekatnya tangan kanan merupakan simbol dari kemuliaan, kesempurnaan dan kedermawanan, apalagii jika itu dinisbatkan kepada Allah sebagaimana dijelaskan dalam salahsatu hadits, 

يَمِينُ اللَّهِ مَلْأَى، لَا يَغِيضُهَا شَيْءٌ سَخَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَبِيَدِهِ الْأُخْرَى الْمِيزَانُ، يَرْفَعُ الْقِسْطَ وَيَخْفِظُ

“Tangan kanan Allah adalah dermawan (memberikan kebaikan tanpa henti), tidak ada sesuatu apa pun yang bisa menahannya baik siang dan malam, dan kedua tangan-Nya merupakan timbangan (keadilan), diangkatnya keadilan dan dijaganya.”  [Sunan Ibnu Majah 1/81, Musnad Ahmad 12/247, 13/487, as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 2/362, as-Sunan al-Kabir, an-Nasai 7/154, 10/126, Musnad Abu Ya’la 11/229, at-Tauhid, Ibnu Khuzaimah 1/162, 1/191, 2/503, Ibanah al-Kabir, Ibnu Bathah 7/295, 7/196, at-Tauhid, Ibnu Mandah 2/128, 2/191, Ushul I‘tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah 3/461, 3/462, al-Asma wa ash-Shifat, al-Baihaqi 2/152, 2/153 (derajat hadits shahih)]

Jadi, maksud kalimat “kedua tangan-Nya adalah kanan” dalam hadits di atas tidak dapat diartikan secara harfiah bahwa Allah memiliki dua tangan dan keduanya adalah tangan kanan, melainkan harus dimengerti sebagai simbol atau indikasi bahwa nilai kebaikan tiada henti yang kelak akan diberikan-Nya kepada orang-orang adil di akhirat adalah sebanyak dan sebaik dua tangan kanan Allah. 

Adapun tentang tangan kanan atau tangan kiri Allah sendiri, juga tidak dapat kita samakan dengan anggota tubuh kita atau anggota tubuh segala makhluk ciptaan Allah lainnya, karena sudah dijelaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, sehingga wujud seperti apa pun yang dapat kita bayangkan dengan memberdayakan seluruh kemampuan puncak panca indera kita tentang Allah, sudah pasti bukan Allah!

Jadi, jelaslah bahwa untuk mengetahui maksud dari sebuah hadits dibutuhkan pengetahuan ekstra, meliputi berbagai aspek terkait hadits itu sendiri, termasuk di dalamnya mempelajari kebiasaan-kebiasaan masyarakat Arab dalam memaknai sebuah kata atau kalimat yang sama, tapi dalam konteks yang berbeda.



Isa Almasih, Sebagai Hakim Yang Adil



Dari Judul asli:
MENJAWAB FITNAH MISIONARIS TENTANG HAKIM YANG ADIL

Berdasarkan dalil berikut ini, misionaris Kristen menyatakan bahwa Yesus adalah Hakim Yang Adil pada hari kiamat (atau setelahnya), dan hal itu dikuatkan oleh Hadits Nabi Muhammad sendiri. 

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. (Muttafaqun ‘alaih)

Bagi yang pernah membaca Hadits aslinya, maka membaca kalimat di atas ini langsung mengerti bahwa ini adalah Hadits yang "dimutilasi", karena nampak sekali para sales produk kadaluwarsa bermerek "Ajaran Kasih" Kristen ini ingin mengaitkannya dengan  QS. At-Tiin: 8 yang menegaskan bahwa hanya Allah lah hakim yang adil. Tidak dapat disangkal lagi bahwa menurut kitab suci Islam sendiri, memang hanya Allah lah hakim yang paling adil, bukan? 

Berbekal dua potong dalil ini mereka berharap, bahkan optimis akan sukss meyakinkan dan mengajak semua orang, khususnya umat Nabi Muhammad saw, untuk mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus adalah Allah sesuai dengan dalil-dalil yang tertulis di dalam Al-Quran dan Hadits, sumber dari segala sumber hukum dalam ajaran islam sendiri! 

Dengan modal dalil yang maknanya dibelokkan di sana-sini semisal potongan hadits di atas, mereka tidak sungkan-sungkan berusaha mengajak umat Islam untuk menjadi umat kuffar dan murtad dari Islam dengan mengakui Isa Almasih, atau yang mereka sebut sebagai Yesus Kristus, sebagai Tuhan.

KAJIAN
Sebelum menanggapi isu di atas, maka sekedar mengingatkan saja; bagi siapapun yang mengerti ilmunya, pasti akan tertawa geli menyaksikan tingkah bodoh dan upaya licik para pemfitnah ajaran Islam ini. 

Tapi demi ilmu, mari kita kupas saja isu di atas dari beberapa sisi agar terang benderang membuktikan kebodohan para musuh-musuh Islam ini.

A. Dari Sisi Dalil
Hadits lengkap di atas seharusnya tertulis begini:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Perhatikanlah, bahwa sejak awal mereka sudah memelintir dalil yang mereka tampilkan untuk menjungkir-balikkan pesan sebenarnya dari Hadits Rasulullah tsb. Menurut dalil ini, Nabi Muhammad saw menubuatkan bahwa kelak Nabi Isa as akan turun kembali ke bumi untuk menjadi hakim yang adil bagi umat manusia yang berselisih paham tentang ajarannya dan bagi mereka yang mengaku sebagai pengikutnya tapi secara terang-terangan justru menentang ajarannya. Beliau akan memulai misi kedua dan sekaligus misi pamungkasnya di dunia dengan tindakan-tindakan khusus terhadap ajaran Kristen dan segala atributnya yang dilambangkan dengan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah.

Hadits ini sangat jelas mengindikasikan bahwa kedatangan Nabi Isa untuk kedua kalinya ini berhubungan langsung dengan umat yang terkait dengan ajaran beliau, yaitu Yahudi dan Kristen, sementara pada hadits lain dinubuatkan juga beberapa hal terkait dengan umat dan syarai'ah Islam.

Dari sini, jelas terlihat kenapa pengikut rasul gadung penuh roh dusta dan bodoh ini coba meneyembunyikan pesan utama Hadits di atas dengan cara memotong habis semua bagian yang sebenarnya sangat mengancam "kenyamanan" iman kosong mereka selama ini. Dan sebagai gantinya, mereka berusaha keras untuk membelokkan muatan Hadits yang seharusnya menjadi bahan perenungan dan kajian mendalam bagi mereka sendiri, menjadi usaha yang sangat menyedihkan untuk menyesatkan umat Islam dengan isu pokok, yaitu pertanyaan tentang siapa Hakim Yang Adil. 

Artinya, walau sudah terang-terangan diperingati oleh nubuatan 
Rasulullah saw lewat hadits tsb, mereka tetap mengharapkan pengakuan bahwa iman mereka yang menuhankan Nabi Isa as tidak salah, karena menurut Al-Quran dan Hadits yang mereka kutip di atas, Nabi yang mereka tuhankan itu sebetulnya adalah Tuhan itu sendiri.

B. Dari sisi kalimat, "Hakim Yang Adil"
Bacalah lagi dengan cermat kata per kata yang ditulis dalam bahasa aslinya, Arab, pada rangkaian kalimat Hadits di atas di mana menurut terjemah bahasa Indonesianya di artikan sebagai "Hakim Yang Adil" dari kata yang dalam bahasa aslinya disebut dan dimaknai sebagai "Hakaman Adlan"حَكَمًا عَدْلاً 

Apakah kata "Hakim Yang Adil" yang digunakan dalam hadits di atas sama arti dan maknanya dengan kata "Hakim Yang Paling Adil" dalam QS. At-Tiin: 8?

Perhatikan ini!

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ 

Bukankah Allah hakim yang paling adil? (QS. At-Tiin: 8)

Kata yang digunakan adalah bi ahkamil haakimiin (بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ)

Mari secara ringkas saja kita cermati bentuk kata yang digunakan pada masing-masing ayat Hadits dan Al-Quran di atas, sekaligus kita buktikan apakah menurut kaidah tata-bahasa Arab ada persamaan atau perbedaan arti dari keduanya .

Asal kata: بِأَحْكَمِ adalah kata sifat yaitu suatu keadaan sebagai pembanding dengan yang lainnya. Jadi arti kata بِأَحْكَمِ adalah lebih bijaksana = seadil-adilnya = paling adil di antara yang lainnya.

Sedangkan kata الْحَاكِمِينَ = Al Haakimiin artinya para hakim atau hakim-hakim, merupakan bentuk jamak dari kata Hakim.

Jadi ayat itu menerangkan bahwa Allah adalah بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ atau hakim paling adil, paling bijaksana di antara semua hakim.

Ayat dalam hadits menunjukkan bahwa Hakim yang dimaksud jumlahnya lebih dari satu, bahkan sangat banyak, bisa ratusan, ribuan, bisa juga jutaan, sehingga digambarkan dengan menggunakan kata الْحَاكِمِينَ Al Hakimiin = para hakim atu hakim-hakim. 

Artinya, Nabi Isa as beserta hakim-hakim adil lainnya termasuk di dalam pengertian "Hakim Yang Adil" dalam Hadits.

Dari sedikit penjelasan ini, sekarang kita tahu bahwa pengertian "Hakim Yang Adil" yang dinisbatkan kepada Nabi Isa As dalam Hadits sangat berbeda dengan "Hakim Yang Paling Adil" yang menggambarkan Maha Adilnya penghakiman Allah menurut Al-Quran.

Nabi Isa As digambarkan sebagai "Hakim Yang Adil", bukan "Hakim Yang Paling Adil", Sedangkan Allah adalah satu-satunya Hakim Yang Paling Adil, Paling Bijaksana, sesuai dengan sifat-Nya sebagai Tuhan bagi seluruh makhluk Yang Maha Bijaksana, Maha Adil (lihat lagi Asma'ul Husna).

Di samping Hakim yang tidak adil, di dunia ini Hakim yang adil juga sangat banyak, seperti yang diterangkan dalam Al-Quran Surah At-Tiin yang menggunakan bentuk jamak untuk kata Hakim. Dan Nabi Isa adalah salahsatu dari Hakim-Hakim ini.

Di dalam Al-Quran Hakim memang diperintah oleh Allah untuk berbuat adil, karena ini memang syarat mutak sebagai seorang Hakim. Jadi, terlepas dia adil atau tidak, tapi hakim (yang wajib berlaku) adil itu tentu saja jumlah sangat banyak!

Perhatikan ayat lainnya,
وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika “hakamta” (kamu menghakimi) mereka, “fa ahkam (maka hakimi perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al- Maidah: 42).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa perintah untuk menghakimi yang di dalam ayat tersebut menggunakan kata حَكَمْتَ (hakamta = kamu menghakimi), maka hakimilah (menggunakan kata fa ahkam = فَاحْكُمْ) dengan adil. Jadi hakim yang adil itu banyak, bukan hanya satu. Tetapi hakim yang paling adil atau paling bijaksana, menggunakan kata بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ  bi ahkamil haakimiin dan itu hanya untuk Allah saja (QS. At-Tiin: 8).

C. Dari sisi waktu
Perhatikan lagi Hadits di atas!

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil.”

Menurut Hadits ini Nabi Isa as dinubuatkan akan turun ke dunia, kemudian menjadi hakim yang adil di dunia, sebelum kiamat terjadi. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hari Penghakiman setelah terjadinya kiamat, di mana Allah lah sebagai satu-satunya Hakim yang akan mengadili seluruh makhluk-Nya (yang dibangkitkan dari kematian pada saat terjadinya kiamat) untuk mempetanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia, termasuk di dalam hal ini adalah nabi Isa as sendiri yang sudah lebih dulu wafat sebelum kiamat terjadi! 

Perhatikan ayat berikut ini,

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ 
 الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ 

(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (QS. Al-Mu'min: 16-17).
إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ

“Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26).

Dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ

“Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan ath-Thabrani]

Dan masih banyak lagi dalil-dalil sejenis lainnya, baik dalam Al-Quran maupun Hadits yang menjelaskan tentang pengadilan Allah di Yaumil Mahsyar kelak. Tetapi cukuplah ini saja untuk memberikan pengetahuan yang benar tentang kapan pengadilan Nabi Isa as berlangsung dan kapan pula Pengadilan Allah akan dilaksanakan.

Tapi jika para salesmen produk kadaluwarsa bermerek "ajaran kasih" Kristen masih ingin memperjuangkan dalil hebat yang mereka pikir sakti di atas tadi padahal mudah sekali dibuktikan sebagai dalil ngawur, maka silahkan saja.

Carilah sendiri di dalam Al-Quran; cukup satu ayat saja yang menyebutkan bahwa Nabi Isa as akan mengadili manusia di hari penghakiman Allah di akhirat kelak! 

Anggap saja ini sebagai tantangan dari umat Islam yang berlaku seumur hidup, bahkan sampai 7 turunan semua umat kristen di seluruh dunia! 

Silahkan!
Ditunggu!



[Sumber: Kajian Al-Mubayyin]

Hadits Online



IN ENGLISH



HADITS IMAM BUKHARI
  1. By Syed Hussaini



IN BAHASA INDONESIA



KITAB HADITS 9 IMAM
  1. By Lidwa Pustaka 






















NOTE: This page is just a begining ....



DOWNLOAD: Petunjuk Cara Memahami Hadits

Judul eBook: Agar Tidak Keliru Memahami Hadits Shahih
Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, MA خفظه الله

Pengantar:
Telah kami posting sebelumnya e-book Kaidah Emas Mengenal Hadits Shahih dan Dhaif, selanjutnya setelah diketahui status hadits akan keshahihannya maka selanjutnya adalah memahami hal-hal yang terkandung dalam hadits tersebut, penulis menyebutkan dengan padat 8 kaidah [aturan]  memahami sebuah hadits agar tidak keliru memahaminya.
Kaidah ini sangat perlu diketahui sehingga jangan lagi seseorang berhujjah dengan sebuah hadits padahal hadits tersebut telah dinasakh, atau memakai sebuah hadits dan membuang hadits lain padahal keduanya shahih, memahami sebuah hadits dengan akalnya padahal maksud hadits telah disebutkan oleh para sahabat dan kekeliruan-kekeliruan lainnya.
Kami menyarankan kita semua membaca eBook ini sehingga kita tidak tergesa pada sesuatu yang mana ilmu kita didalamnya sangatlah sedikit, selamat menyimak dan kami berharap eBook ini bermanfaat bagi kita semua…


DISCLIMER: Blog ini hanya membantu menyediakan materi seperti contoh di atas semata-mata untuk kepentingan pembaca. Segala bentuk resiko dan tanggungjawab atas konten informasi yang mungkin ditemui di dalam materi yang disajikan oleh narasumber, sepenuhnya di luar tanggungjawab pengasuh blog ini. Demikian untuk dimaklumi. Atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Hadits Bathil Gubahan Misionaris Kristen - Bagian 1

Berikut adalah sebagian dari sekian banyak hadits-hadits palsu "hasil rekayasa" kaum kuffar yang mereka lakukan dengan cara mengedit ayat-ayat hadits asli, bahkan mengarang sendiri apa yang kemudian mereka katakan sebagai hadits Rasulullah Saw. 

Selama bertahun-tahun ini menjadi bagian penting dari materi propaganda misionari mereka yang terus menerus disebarkan ke ruang-ruang forum dialog lintas iman di internet, dan bagaikan virus rabies, tampaknya cukup berhasil mengkontaminasi tidak sedikit otak laskar kristus odong-odong yang bagaikan penderita rabies parah, berlomba-lomba pula menyebarkannya ke hadapan kita tanpa sedikit pun bekal ilmu pengetahuan tentang hadits!

Kita langsung saja. 

1. URAT NADI MUHAMMAD PUTUS KARENA RACUN KHAIBAR 
Shahih Bukhari Volume 5, Book 59, Number 713
Dikisahkan oleh Aisha: Pada waktu sakitnya sebelum dia mati, sang Nabi sering mengatakan, “Wahai Aisha! Aku masih merasa kesakitan karena daging yang kumakan di Khaybar, dan sekarang aku merasa urat nadiku dipotong oleh racun itu.”

Hadits aslinya:
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar Telah menceritakan kepada kami Gundar Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’ad dari Urwah dari Aisyah dia berkata; Aku pernah mendengar bahwa seorang nabi tidak akan meninggal hingga dia di suruh memilih antara dunia dan akhirat. Aisyah berkata; Kemudian ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman. Aisyah berkata; Aku mengira pada waktu itulah beliau diberi pilihan.[HR. Bukhari Vol 44, Buku 427 No. 4081] 

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Hausyab Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari Bapaknya dari ‘Urwah dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Tidaklah seorang nabi sakit kecuali akan diberi pilihan antara dunia dan akhirat. Aisyah berkata; Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit yang menyebabkan kematiannya, aku mendengar beliau menuturkan dengan terputus-putus, beliau bersabda: Bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, baik dari para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih dan mereka itulah sebaik-baik teman. Maka aku tahu bahwa waktu itu beliau sedang diberi pilihan.[HR. Bukhari Vol 45, Buku 107 No. 4220]

2. AISYA MASIH BERMAIN BONEKA KETIKA DINIKAHI OLEH MUHAMMAD
Sahih Bukhari Volume 8, Buku 73, Nomer 151
Dinyatakan ‘Aisha: Aku biasa bermain dengan boneka2 di depan sang Nabi, dan kawan2 perempuanku juga biasa bermain bersamaku. Kalau Rasul Allah biasanya masuk ke dalam (tempat tinggalku) mereka lalu bersembunyi, tapi sang Nabi lalu memanggil mereka untuk bergabung dan bermain bersamaku. (Bermain dengan boneka2 atau bentuk2 yang serupa itu dilarang, tapi dalam kasus ini diizinkan sebab Aisha saat itu masih anak kecil, belum mencapai usia pubertas) [Fateh-al-Bari halaman 143, Vol.13]

Hadits aslinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ayahnya dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata; Aku pernah bermain bersama anak-anak perempuan di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku juga mempunyai teman-teman yang biasa bermain denganku, apabila Rasulullah shallaallahu’alaihi wa sallam masuk, mereka bersembunyi dari beliau. Sehingga beliau memanggil mereka supaya bermain bersamaku. [HR Bukhari Vol 58, Buku 153 No. 5665] 

3. TIDAK ADA BUKTI MUHAMMAD PERNAH DIKHITAN
Tuduhan tsb sepenuhnya "asbun", sebab tentang khitan Rasulullah saw cukup jelas disebutkan dalam salahsatu hadits sbb: 

Rasulullah SAW bersabda: Diantara kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepadaku adalah, aku dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan, karena itu tidak ada orang yang melihat aurat/kemaluanku. [HR. Al- Thabrani, Abu Nuaym, al Khatib dan ibn Asakir (diriwayatkan dari Ibn Abbas, Ibn Umar, Anas, Abu Hurairah. menurut Diya al Maqdisi, hadits ini shahih. Al Hakim selain menilai shahih, juga mengatakan mutawatir) Lihat Al-Khasa is Al-kubra, Jlid.1, hal. 90-91]. Lihat juga tulisan terkait di sini.

4. NAFAS (NYAWA) MUHAMMAD ADA DI TANGAN ISA IBN MARYAM
Mutiara Hadits 2002 jilid III No.152
Muhammad Berkata; "Nafsihi bi yadihi Isabnu Maryama!" Artinya, "Nafasku ada di tangan Isa Putra Mariam"

Rasulullah tidak pernah mengucapkan kalimat demikian, tetapi yang benar adalah begini:
Dari Annas ra bahwasanya ada seorang yang datang kepada Rasulullah saw dan berkata: "Wahai Rasulullah, apakah aku tidak bisa masuk surga karena mukaku yang jelek dan hitam ini?“ tanya seseorang.

Laa walladzi nafsi bi yadhi, maa aiganta bi rabbika wa aamanta bimaa jaa’a bihi rasuluhu. "Tidak! Demi ALLAH yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, selama kau yakin pada Tuhanmu dan percaya pada ajaran Rasul-Nya,” jawab Rasulullah saw.

5. MUHAMMAD DIRACUN PEREMPUAN YAHUDI SEHINGGA MENDERITA SELAMA BERTAHUN-TAHUN SEBELUM MATI
Sahih Al-Bukhari Volume 5, Book 59, Number 713
Muhamad diracun oleh perempuan Yahudi sehingga menderita selama bertahun-tahun sebelum mati. 

Hadits yang benar tentang kisah wanita Yahudi yang coba meracuni Nabi adalah sbb:
Dikisahkan oleh Anas bin Malik: Seorang wanita Yahudi membawa daging domba (masak) beracun untuk sang Nabi yang lalu memakannya. Wanita itu lalu dihadapkan kepada Muhammad dan Muhammad ditanyai pengikutnya, “Haruskah kita bunuh dia?” Dia berkata, ”Tidak” Aku terus mengamati akibat racun itu di mulut Rasul Allah. [HR. Bukhari 3.786]

Dikisahkan oleh Abu Hurairah: Ketika Khaibar dikalahkan, sup domba beracun disuguhkan pada sang Nabi (SAW) sebagai hadiah (dari orang-orang Yahudi). Sang Nabi memerintah, ”Kumpulkan semua orang Yahudi yang ada di sini, berdiri di hadapanku.” Orang-orang Yahudi dikumpulkan dan sang Nabi berkata (pada mereka), ”Aku akan bertanya pada kalian. Maukah kalian menjawab dengan jujur?” Mereka berkata, ”Ya.” Sang Nabi bertanya, ”Siapakah ayah kalian?” Mereka menjawab, ”Ini dan itu” Dia berkata, ”Kalian bohong, ayah kalian bukan ini dan itu.” Mereka berkata, ”Kau benar.” Dia berkata, ”Maukah kalian menjawab jujur jika aku tanya sesuatu?” Mereka menjawab, ”Ya, wahai Abu Al-Qasim, dan jika kami harus berbohong, kau dapat menyadari kebohongan kami seperti tadi kau telah ketahui tentang ayah kami.” Lalu dia bertanya, ”Siapakah yang akan masuk neraka?” Mereka berkata, ”Kami akan berada di neraka untuk jangka waktu sebentar, dan setelah itu kau akan mengganti posisi kami.” Sang Nabi berkata, ”Kalian dikutuk dan dihina di neraka! Demi Allah, kami tidak akan pernah mengganti posisi kalian di neraka.” Lalu dia bertanya, ”Maukah kalian menjawab jujur jika aku tanya sesuatu?” Mereka menjawab, “Ya, wahai Abu Al-Qasim.” Dia bertanya, ”Apakah kau telah meracuni sup domba ini?” Mereka menjawab, ”Ya.” Dia bertanya, ”Mengapa kalian lakukan itu?” Mereka menjawab, “Kami ingin tahu engkau pembohong atau bukan dan jika engkau memang pembohong, kami akan menyingkirkanmu, dan jika engkau memang seorang nabi, maka racun itu tidak akan mempan pada dirimu.” [Hadits Sahih Bukhari 4, Buku 53, No. 394]

Sebenarnya seorang wanita Yahudi menyajikan (daging) kambing beracun kepada Rasul Allah. Beliau mengambil sedikit daging, memasukannya ke dalam mulutnya, mengunyahnya dan lalu memuntahkannya. Lalu dia berkata kepada para pengikutnya: “Berhenti! Sungguh, kaki domba ini berkata padaku bahwa dia telah diracuni.” Lalu dia meminta wanita Yahudi itu dipanggil dan dia bertanya padanya, “Apa yang menyebabkanmu melakukan hal itu?” Dia menjawab, ”Aku ingin tahu apakah engkau benar-benar seorang nabi; jika memang benar maka Allah tentunya akan memberitahu dirimu, dan jika engkau ternyata berbohong maka aku akan dapat membebaskan kaumku dari dirimu.” [Dari Ibn Sa’d halaman 249]

Ketika Rasul Allah beristirahat dari pekerjaannya, Zaynab bt. Al-Harith, istri dari Sallam bin Mishkam, menyajikan baginya sebuah daging domba bakar. Dia telah bertanya sebelumnya bagian domba manakah yang paling disukai Rasul Allah dan diberitahu bagian kaki depannya. Lalu dia membubuhi bagian itu dengan racun, dan dia juga meracuni bagian lainnya. Setelah itu dia menghidangkan daging itu. Ketika daging itu disajikan di hadapan Rasul Allah, dia mengambil bagian kaki depannya dan mengunyah sebagian kecil, tapi tidak ditelannya. Di sebelah dia terdapat Bishr bin Al-Bara bin Marur yang seperti Rasul Allah juga mengambil bagian daging itu. Akan tetapi Bishr menelan daging itu ketika sang Rasul Allah memuntahkan daging dan berkata, “Tulang ini memberitahu diriku bahwa ia diracuni.” Dia bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan ini?” Wanita itu menjawab, “Bagaimana kau telah memperlakukan kaumku sudah nyata di hadapanmu. Jadi aku berkata, “Jika dia memang benar-benar nabi, maka dia akan diberitahu; tapi jika dia seorang raja, maka aku akan dapat menyingkirkannya.”  Sang Nabi mengampuninya. Bishr mati karena daging yang dimakannya. [Dari Tabari Volume 8, halaman 123, 124]

6. MUHAMMAD MENYUKAI PERAWAN-PERAWAN CILIK 
Sahih Bukhari. 62. No. 17
Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah: Ketika saya menikah, Rasulullah berkata kepada saya, “Wanita tipe seperti apa yang kamu nikahi?” Saya menjawab. “Saya telah menikahi seorang ibu muda”. Dia (Rasulullah) berkata, “Kenapa? Apakah kamu tidak menyukai perawan-perawan cilik sehingga bisa meraba-raba mereka? Jabir juga berkata: Rasullulah berkata, “Kenapa kamu tidak menikahi seorang gadis belia sehingga kamu bisa bermain-main dengan dia dan dia bermain-main dengan kamu?”

Hadits hasil editing di atas berasal dari hadits asli sebagai berikut:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah dari Wahab bin Kaisan dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu berkata: Aku pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu peperangan lalu untaku berjalan lambat hingga aku kelelahan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menemuiku. Jabir berkata: Aku katakan kepada Beliau (setelah bertanya kepadaku): Iya. Beliau bertanya: Apa sebabnya? Aku katakan: Untaku berjalan sangat lambat hingga aku kelelahan dan tertinggal. Kemudian Beliau berhenti turun dan memukul untaku dengan tongkat Beliau lalu berkata: Kendarailah. Maka aku mengendarainya. Sungguh aku melihat unta itu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya kepadaku: Apakah kamu sudah menikah? Aku jawab: Sudah. Beliau bertanya lagi: Dengan seorang gadis atau janda? Aku jawab: Janda. Beliau berkata: Mengapa tidak dengan seorang gadis sehingga kamu dapat bersenda gurau dengannya dan dia bisa bersenda gurau denganmu. Aku katakan: Sesungguhnya aku punya saudara-saudara perempuan. Aku ingin jika aku menikahi seorang wanita dia adalah orang yang akan tetap dapat menyatukan saudara-saudara perempuanku itu, menyisir dan membimbing mereka. Beliau berkata: Sungguh kamu sudah terlambat maka jika kamu bisa mendahului maka kamu akan menjadi orang yang hebat. Kemudian Beliau berkata: Apakah kamu akan menjual untamu? Aku jawab: Ya. Maka Beliau membeli untaku dengan satu ‘uqiyah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba sebelum aku tiba, aku tiba setelah tengah hari. Lalu kami datang ke masjid dan aku dapati Beliau di pintu masjid, lalu Beliau berkata: Baru sekarang kamu tiba? Aku jawab: Ya. Maka beliau berkata: Biarkanlah untamu itu. Maka Beliau masuk ke dalam masjid lalu shalat dua raka’at, dan akupun masuk ke masjid lalu shalat. Kemudian Beliau memerintahkan Bilal untuk menimbang baginya satu ‘uqiyah. Lalu Bilal menimbang satu ‘uqiyah untukku dengan timbangan yang akurat. Kemudian aku pergi hingga berpaling meninggalkan Beliau. Kemudian Beliau berkata: Panggilah Jabir untuk menemuiku. Aku katakan: Sekarang Beliau mengembalikan unta itu kepadaku padahal tidak ada yang lebih aku benci kecuali unta itu. Beliau berkata: Ambillah untamu dan harga jualnya tetap buatmu. [HR. Bukhari Vol 18, Buku 50 No.1955].

7. MUHAMMAD SERING MENGENAKAN PAKAIAN WANITA
Sahih Muslim, number 4415
4415 صحيح مسلم
صحيح البخاري .. كتاب الهبة و فضلها و التحريض عليها .. باب من أهدى إلى صاحبه و تحرى بعض نسائه دون بعض
فدار إليها فكلمته فقال لها لا تؤذيني في عائشة فإن الوحي لم يأتني وأنا في ثوب امرأة إلا عائشة
“So he turned to her so she talked to him so he said: do not hurt me in Aisha, because the revelation did not come to me when I am in the dress of any other woman except with I am in the dress of Aisha.” [Lihat: www.hadith.al-islam.com]

Hadits ini panjang, tapi kita petik substansi-nya saja:
“Lalu dia (Muhammad) berpaling pada Aisha agar aisha berbicara padanya, lalu dia berkata: Jangan sakiti aku Aisha, karena wahyu tidak datang padaku ketika aku memakai pakaian wanita lain kecuali memakai pakaianmu Aisha.”

Mungkinkah Muhammad mengidap kelaian transvestite?
Jawabannya, TIDAK! Nauzubillahi Minzaliq!

Sebab beginilah hadits yang sebenarnya:
Aisyah berkata: Kaum muslimin selalu menunggu datangnya hariku untuk memberikan hadiah mereka kepada Nabi. Maka para maduku berkumpul dikediaman Ummu Salamah (untuk merundingkannya), mereka berkata:”Wahai Ummu Salamah, kaum muslimin selalu menunggu datangnya Aisyah untuk memberikan hadiah mereka pada Rasulullah, tentu tidak hanya Aisyah saja yang menginginkannya, melainkan kita semua juga sama sepertinya. Oleh karena itu sampaikanlah kepada Nabi keinginan kami, agar beliau menyampaikan kepada kaum muslimin untuk memberikan hadiah mereka dimanapun beliau berada.” Maka Ummu Salamah pun berbicara kepada Nabi mengenai hal itu (pada hari gilirannya), namun Nabi mengacuhkannya. Kemudian pada hari (gilirannya) yang lain beliau datang kembali dan Ummu Salamah menyampaikan hal yang sama, ia berkata:”Wahai Rasulullah, para maduku mengadu bahwa kaum muslimin selalu menunggu hari Aisyah untuk memberikan hadiah mereka. Sampaikanlah kepada mereka untuk memberikan hadiah dimanapun engkau berada.” Namun Nabi masih saja mengacuhkannya. Dan pada saat Ummu Salamah menyampaikan hal yang sama untuk yang ke tiga kalinya, Nabi berkata:”Wahai Ummu Salamah, janganlah kamu menyakitiku dengan (memintaku untuk mengurangi hak) Aisyah, karena wahyu tidak diturunkan kepadaku saat aku berada diselimut istri-istriku kecuali (ketika aku bersama Aisyah).” [HR.Al-Bukhari]

8. MUHAMMAD MELANGGAR SUMPAHNYA SENDIRI UNTUK TIDAK MENGUNJUNGI ISTRI-ISTRINYA SELAMA SEBULAN
Sahih Bukhari 43, No 648
Sang Nabi tidak mengunjungi istri-istrinya karena Hafsa membocorkan rahasia kepada Aisha, dan sang Nabi berkata bahwa dia tidak akan mengunjungi para istrinya selama sebulan karena dia marah pada mereka ketika Allah membatalkan sumpahnya untuk tidak menyentuh Maria lagi. Ini adalah hadits palsu ala FFi. 

Hadits shahih sebenarnya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdurrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid Ath Thawil dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah terjatuh dari kudanya hingga mengakibatkan betisnya atau bahunya terluka. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjauhi isteri-isterinya selama sebulan. Beliau lalu duduk di ruangan yang agak tinggi yang tangganya terbuat dari kayu. Para sahabatnya lalu mengunjunginya, Beliau lalu shalat mengimami mereka dengan duduk sedangkan para sahabatnya shalat dengan berdiri. Setelah salam, beliau bersabda: Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir maka takbirlah kalian, jika rukuk maka rukuklah kalian, jika sujud maka sujudlah kalian, dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri. Kemudian Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam turun kembali setelah dua puluh sembilan hari. Mereka pun berkata, Wahai Rasulullah, bukankan engkau mengasingkan diri selama satu bulan? Beliau menjawab: Satu bulan itu dua puluh sembilan hari. [HR Bukhari Vol 8, Buku 30, No. 365]

9. ALLAH MENJADIKAN AWAN SEBAGAI SARINGAN HUJAN SUPAYA BUMI TIDAK TENGGELAM TERENDAM AIR
Hadits Bukhari tentang "pemindahan" Arsyi Allah
Diriwayatkan dari Ibnu Abi ‘Ashim, Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya ‘Arsy sebelumnya berada di atas air. Setelah Allah menciptakan langit (ke-7), ‘Arsy itu ditempatkan di langit yang ke-7. Dia jadikan awan sebagai saringan untuk hujan. Apabila tidak dijadikan seperti itu, tentu bumi akan tenggelam terendam air.”

Hadits shahih aslinya adalah sbb:
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib Telah menceritakan kepada kami Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: ‘Berinfaklah, maka aku akan berinfak kepadamu.’ Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya tangan Allah terisi penuh, pemberian-Nya siang maupun malam tidak pernah menguranginya. Juga beliau bersabda: Tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah memberikan nafkah (rezeki) semenjak Dia mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak pernah berkurang apa yang ada pada tangan kanan-Nya. Beliau bersabda: Dan ‘Arsy-Nya ada di atas air, di tangan-Nya yang lain terdapat neraca, Dia merendahkan dan meninggikan [HR Bukhari Vol 45, Buku 203, No 4316]

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hammam telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tangan kanan Allah selalu penuh dan sama sekali tidak pernah kurang karena berderma (infak), Dia sangat dermawan baik malam maupun siang, tidakkah kalian tahu apa yang telah diinfakan-Nya semenjak Ia mencipta langit dan bumi dan itu semua tidak mengurangi apa yang berada di tangan kanan-Nya? Dan arsy-Nya berada diatas air, dan ditangan-Nya yang lain urusan menjulurkan atau menahan, karenanya Dia meninggikan atau merendahkan.” [HR. Bukhari Vol. 77, Buku 47, No. 6869]

10. MUHAMMAD KETAKUTAN MELIHAT GERHANA MATAHARI KARENA MENGIRA TERJADI KIAMAT
Sahih Bukhari 18:167
Diceritakan oleh Abu Musa: Saat terjadi gerhana Matahari, Rasulullah terperanjat ketakutan. Ia mengira kalau kalau saat itu Hari Kiamat. Hadits diatas telah dipelintir oleh kaum kuffar menjadi hadits palsu. 

Ini hadits yang benar
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin ‘Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dengan tergesa-gesa seolah akan terjadi hari kiamat. Beliau lantas mendatangi masjid dan shalat dengan berdiri, rukuk dan sujud yang paling panjang, yang pernah aku lihat dari yang beliau pernah lakukan. Kemudian beliau bersabda: “Inilah dua tanda-tanda yang Allah kirimkan, ia tidak terjadi karena hidup atau matinya seseorang, tetapi ‘(Dia, Allah mempertakuti hamba-hambaNya dengannya) ‘ (Qs. Az-ZUmar: 16). Maka jika kalian melihat sesuatu padanya (gerhana), maka segeralah untuk mengingat Allah, berdoa dan minta ampunan.” [HR. Bukhari Vol 11, Buku 173, No./999]

11. DALAM PERANG KHAIBAR MUHAMMAD MEMBANTAI PRIA DAN ANAK-ANAK LALU MENJADIKAN SEMUA WANITA SEBAGAI TAWANAN
Sahih Bukhari V.5 B.59 N.512
Dinarasikan oleh ‘Abdul ‘Aziz: “Kata Anas, ketika nabi menyerbu Khaibar orang-orang di kota berseru “Muhamad dan pasukannya datang”. Kami mengalahkan mereka semua, menjadikan mereka tawanan dan harta rampokan dikumpulkan. Nabi membunuh para pria yang melawan, membantai anak-anak keturunan mereka dan mengumpulkan para wanita menjadi tawanan”

Hadits yang benar
Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Ima’il bin ‘Ulayyah berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berperang di Khaibar. Maka kami melaksanakan shalat shubuh di sana di hari yang masih sangat gelap, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Thalhah mengendarai tunggangannya, sementara aku memboncenmg Abu Thalhah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu melewati jalan sempit di Khaibar dan saat itu sungguh lututku menyentuh paha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau menyingkap sarung dari pahanya hingga aku dapat melihat paha Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang putih. Ketika memasuki desa beliau bersabda: Allahu Akbar, binasalah Khaibar dan penduduknya! Sungguh, jika kami mendatangi halaman suatu Kaum, maka (amat buruklah pagi hari yang dialami oleh orang-orang yang diperingatkan itu) ‘ (Qs. Asf Shaffaat: 177). Beliau mengucapkan kalimat ayat ini tiga kali. Anas bin Malik melanjutkan, (Saat itu) orang-orang keluar untuk bekerja, mereka lantas berkata, ‘Muhammad datang! ‘ ‘Abdul ‘Aziz berkata, Sebagian sahabat kami menyebutkan, Pasukan (datang)! ‘ Maka kami pun menaklukan mereka, para tawanan lantas dikumpukan. Kemudian datanglah Dihyah Al Kalbi seraya berkata, Wahai Nabi Allah, berikan aku seorang wanita dari tawanan itu! Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, Pergi dan bawalah seorang tawanan wanita. Dihyah lantas mengambil Shafiyah binti Huyai. Tiba-tiba datang seseorang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, Wahai Nabi Allah, Tuan telah memberikan Shafiyah binti Huyai kepada Dihyah! Padahal dia adalah wanita yang terhormat dari suku Quraizhoh dan suku Nadlit. Dia tidak layak kecuali untuk Tuan. Beliau lalu bersabda: Panggillah Dihyah dan wanita itu. Maka Dihyah datang dengan membawa Shafiah. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Shafiah, beliau berkata, Ambillah wanita tawanan yang lain selain dia. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerdekakan wanita tersebut dan menikahinya. Tsabit berkata kepada Anas bin Malik, Apa yang menjadi maharnya? Anas menjawab, Maharnya adalah kemerdekaan wanita itu, beliau memerdekakan dan menikahinya. Saat berada diperjalanan, Ummu Sulaim merias Shafiah lalu menyerahkannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat malam tiba, sehingga jadilah beliau pengantin. Beliau lalu bersabda: Siapa saja dari kalian yang memeliki sesuatu hendaklah ia bawa kemari. Beliau lantas menggelar hamparan terbuat dari kulit, lalu berdatanganlah orang-orang dengan membawa apa yang mereka miliki. Ada yang membawa kurma dan ada yang membawa keju/lemak. Anas mengatakan, Aku kira ia juga menyebutkan sawiq (makanan yang dibuat dari biji gandung dan adonan tepung gandum). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencampur makanan-makanan tersebut. Maka itulah walimahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [HR. Bukhari Vol 8, Buku 23, No 358]

Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari ‘Abdul ‘Aziz bin Shuhaib dan Tsabit Al Banani dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat Shubuh dalam keadaan masih gelap, kemudian beliau mengendarai tunggangannya seraya bersabda: Allahu Akbar, hancurlah Khaibar! Sesungguhnya kami apabila mendatangi perkampungan suatu kaum, (maka amat buruklah pagi hari yang dialami orang-orang yang diperingatkan tersebut) (Qs. Ash Shaaffaat: 177). Orang-orang Khaibar keluar seraya berkata, Muhammad dan Al Khamis! Tabit berkata, Al Khamis artinya pasukan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengalahkan mereka, membunuh pasukan dan menawan tawanan. Maka Shafiah menjadi bagian Dihyah Al Kalbi, kemudian ia menjadi milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau kemudian menikahinya, dan maharnya adalah pembebasannya. ‘Abdul ‘Azizi berkata kepada Tsabit, Wahai Abu Muhammad, apakah kamu bertanya kepada Anas bin Malik, apa yang Beliau jadikan mahar untuk wanita tersebut? Tsabit menjawab, ‘Maharnya adalah pembebasannya.’ Ia pun tersenyum. [HR. Bukhari Vol 11, Buku 69 No. 895]

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas radliallahu ‘anhu berkata; Diantara tawanan (perang Khaibar) ada Shafiyah (binti Huyyay) kemudian dia menjadi hak milik Dihyah Al Kalbiy dan kemudian Shafiyah menjadi milik Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. [HR. Bukhari Vol 18, Buku 171, No. 2076] 

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melaksanakan shalat Shubuh dekat Khaibar ketika hari masih gelap, kemudian bersabda: Allahu Akbar, hancurlah Khoibar. Sesungguhnya kami apabila mendatangi perkampungan suatu kaum, (maka amat buruklah pagi hari yang dialami orang-orang yang diperingatkan tersebut). QS Ash Shaffat; 177. Ketika penduduk Khaibar keluar dan berjalan dalam kegelapan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membunuh para pasukan mereka dan menawan anak-anak mereka. Dan diantara tawanan tersebut terdapat seorang wanita bernama Shafiyah, semula ia tawanan milik Dihyah Al Kalbi lalu diberikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau menikahinya dan menjadikan pembebasannya sebagai mahar pernikahannya. Abdul ‘Aziz berkata kepada Tsabit: Wahai Abu Muhammad, apakah kamu pernah bertanya kepada Anas, Apa yang beliau jadikan maharnya?. Maka Tsabit menganggukkan kepalanya tanda membenarkan. [HR. Bukhari Vol 44, Buku 225, No.3879]

12. MUHAMMAD MENGAKUI ISA IBN MARYAM ADALAH HAKIM YANG ADIL DI HARI KIAMAT
Hadits Muslim No. 127
“Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, sesungguhnya telah dekat masanya ISA ANAK MARYAM akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil.” [Hadits Shahih Muslim 127]

Hadits di atas telah "dimutilasi" sedemikian rupa demi tujuan kepentingan para misionaris kristen dari isi selengkapnya begini:
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu Syihab dari Ibnu Al Musayyab bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Demi Dzat yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh tiada lama lagi akan segera turun Ibnu Maryam (Isa Alaihissalam) yang akan menjadi hakim yang adil, menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah dan harta benda melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya. [HR. Muslim Vol 18.Buku 165 No. 2070] 

13. KEKUATAN SEKS MUHAMMAD SETARA DENGAN 40 PRIA!
Tabaqat Vol 8, Page 200
Muhammad berkata: “Jibril membawakanku makanan satu periuk. Kumakan makanan itu dan kekuatan seks-ku bertambah menjadi sama dengan empatpuluh orang.” [Tabaqat Vol 8, Page 200]

Hadits yang benar
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa’ telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pasti akan datang pada manusia suatu zaman yang ketika seseorang berkeliling membawa shadaqah emas, lalu ia tidak mendapati seseorang yang mau menerimanya lagi. Lalu akan terlihat satu orang laki-laki akan diikuti oleh empat puluh orang wanita, yang mereka mencari kepuasan dengannya karena sedikitnya jumlah laki-laki dan banyaknya wanita.” [HR. Bukhari Vol 13, Buku 18, No.1325]

14. SEBELUM MATI MUHAMMAD MOHON UNTUK DIHUBUNGKAN DENGAN TEMAN YANG MAHA TINGGI (ISA IBN MARYAM)
 
Hadits Shahih Bukhari 1574
Doa Nabi Muhammad SAW sebelum beliau wafat: "Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang Maha Tinggi ... "

Hadits yang benar:
Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Abdullah, Yunus berkata; Az Zuhri berkata; Telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab -di antara orang-orang yang berilmu-, bahwa Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam keadaan sehat wal afiat, beliau pernah bersabda: ‘Sesungguhnya seorang nabi tidaklah diwafatkan hingga diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga lalu ia dipersilahkan untuk memilih.’ Aisyah berkata; Ketika malaikat pencabut nyawa datang kepada Rasulullah, sementara kepala beliau berada di pangkuan saya, maka Rasulullah pingsan beberapa saat. Tak lama kemudian ia sadar kembali. Setelah itu, beliau menatap pandangannya ke atas sambil mengucapkan: Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku, Allah Yang Maha Tinggi! ‘ Aisyah berkata; Dengan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memilih untuk hidup Iebih lama lagi bersama kami. Aisyah pernah berkata; Saya teringat ucapan yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sehat; Itulah kata-kata terakhir yang pernah beliau ucapkan, yaitu: ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku Yang Maha Tinggi.’ [HR. Bukhari Vol 44, Buku 450 No. 4104]

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair dia berkata; telah menceritakan kepadaku Al Laits dia berkata; telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Sa’id bin Musayyab dan ‘Urwah bin Zubair – ia termasuk kalangan ahli ilmu- bahwa Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam masih dalam keadaan sehat wal afiat, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya seorang nabi tidaklah diwafatkan hingga diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga lalu ia dipersilahkan untuk memilih.’ Ketika (malaikat pencabut nyawa) datang kepada beliau, sementara kepala beliau berada di pangkuan saya, maka Rasulullah pingsan beberapa saat. Tak lama kemudian ia sadar kembali. Setelah itu, beliau menatap pandangannya ke atas sambil mengucapkan: Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku, Allah Yang Maha Tinggi! ‘ Aku berkata; Dengan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memilih untuk hidup lebih lama lagi bersama kami dan saya tahu bahwa itu adalah ucapan yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sehat. Aisyah mengatakan; Itulah kata-kata terakhir yang pernah beliau ucapkan, yaitu: ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku Yang Maha Tinggi.’ [HR.Bukhari Vol 60, Buku 44 No. 5872]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad Telah menceritakan kepada kami Affan dari Shakhr bin Juwairiyah dari Abdurrahman bin Al Qasim dari Bapaknya dari Aisyah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersandar di dadaku, Abdurrahman bin Abu Bakr masuk ke rumah sambil membawa kayu siwak yang biasa dia pakai. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun melihat kepadanya. Aku berkata kepadanya; ‘Berikan siwak itu kepadaku wahai Abdurrahman! ‘ Lalu dia memberikannya kepadaku. Kemudian aku bersihkan, dan aku kunyah setelah itu aku berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun bersiwak dengannya. Aku tidak pernah melihat sebelumnya beliau bersiwak sebaik itu. Setelah selesai, beliau mengangkat tangannya, atau jarinya seraya berkata; ‘Arrafiiqul A’laa, Arrafiiqul A’laa (Ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi) sebanyak tiga kali. Lalu beliau wafat. Aisyah berkata; ‘Beliau wafat di antara dagu dan tenggorokanku.’ [HR. Bukhari Vol 44, Buku 430, No. 4084] 

15. MUHAMMAD MENGANJURKAN CAT RAMBUT! 
Sahih Bukhari 7.72.786
Diriwayatkan Abu Huraira: Sang Nabi berkata, “Yahudi dan Kristen tidak mengecat rambut mereka jadi kau harus melakukan kebalikan dari yang mereka lakukan.”

Hadits yang benar
Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Asad telah menceritakan kepada kami Wuhaib dari Ayyub dari Muhammad bin Sirin dia berkata; saya bertanya kepada Anas Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyemir rambutnya? dia menjawab; "Beliau tidak menyemir rambut karena ubannya kecuali hanya sedikit." [HR. Bukhari Vol 57, Buku108, No. 5444] 

16. MUHAMAD MENGHALALKAN PRAKTEK AZL (COITUS INTERRUPTUS)
Sahih Muslim No. 3388:
Jabir melaporkan: Kami dulu mempraktekkan azl semasa hidup Rasulullah. Berita ini (praktek azl) terdengar oleh Rasulullah , dan ia tidak melarang kami.

Hadits yang benar
Telah menceritakan kepada kami Hibban bin Musa telah memberitakan kepada kami Abdullah, telah memberitakan kepada kami Yunus dari Az Zuhri menuturkan; telah memberitakan kepadaku Abdullah bin Muhairiz Al Jumahi bahsawanya Abu Said Al Khudzri memberitakan kepada dia, bahwa ketika ia duduk-duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ada seorang laki-laki anshar dan berujar; ‘Wahai Rasulullah, kami memperoleh tawanan wanita namun kami juga menyukai harta, bagaimana tanggapan anda mengenai ‘azl?" Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: "Apa kalian mengerjakan itu dengan anggapan tidak akan mendatangkan anak? Hendaklah tidak usah kalian lakukan, sebab tidaklah sebuah jiwa yang telah Allah tetapkan untuk muncul selain musti akan terjadi." [HR. Bukhari Vol 62, Buku 9, No. 6113] 

17. MUHAMMAD PEMIMPIN YANG DISKRIMINATIF
Sahih Bukhari 59, No 637
Dikisahkan oleh Buraida: Nabi mengirim Ali ke Khalid untuk membawa Khumus (barang rampasan) dan aku membenci Ali, dan Ali yang yang telah mandi (setelah melakukan hubungan seksual dengan seorang tawanan wanita). Aku berkata kepada Khalid, ” Apakah kau tidak melihatnya (yang dilakukan Ali)?” Ketika kami bertemu Nabi aku menyebutkan peristiwa itu kepadanya. Ia berkata, ”O Buraida! Apakah kamu membenci Ali?” Aku berkata, ” Ya.” Ia berkata, ” Apakah kamu benci dia, karena ia mendapat lebih banyak dari khumus (rampasan) tersebut.”

Hadits yang benar
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyar Telah menceritakan kepada kami Rauh bin ‘Ubadah Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Suaid bin Manjuf dari ‘Abdullah bin Buraidah dari Bapaknya dia berkata; "Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengutus ‘Ali untuk menemui Khalid bin Al Walid agar mengambil seperlima harta rampasan perang. Aku adalah orang yang membenci Ali yang pada waktu itu dia sudah mandi. Lalu aku berkata kepada Khalid; "Apa kau tidak melihat apa yang dilakukannya?" Tatkala aku menemui Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam aku sampaikan kepada beliau perihal Ali maka beliau bersabda: "Wahai Buraidah! Apakah kau membenci ‘Ali?" Aku (Buraidah) menjawab: "Ya." Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: "Jangan membencinya karena ia berhak mendapatkan yang lebih dari itu dari harta rampasan perang." [HR. Bukhari Vol 44, Buku 349 No. 4003]

18. TENTARA MUSLIM DI BAWAH PIMPINAN MUHAMMAD TUKANG PERKOSA TAWANAN PERANG
Sahih Muslim no. 3373
Abu Sa’id al-Khudri melaporkan: Kami menangkap tawanan-tawanan wanita dan kami ingin melakukan ‘azl (coitus interruptus) dengan mereka.

Hadits yang benar
Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Musa -yaitu Ibn Uqbah- telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Yahya bin Hibban dari Ibn Muhairiz dari Abu Sa’id Al Khudri saat perang bani Musthaliq, bahwa para sahabat mendapatkan para tawanan wanita, dan mereka ingin menikmatinya (jimak) namun tidak menginginkan para tawanan wanita itu hamil. Maka mereka bertanya kepada nabi tentang ‘azl (mengeluarkan sperma di luar kenaluan wanita), maka Nabi bertanya: ‘Bukan sebaiknyakah kalian tidak melakukannya, sebab Allah telah menetapkan siapa saja yang hidup hingga hari kiamat tiba? ‘ Sedang Mujahid berkata dari Qaza’ah aku mendengar Abu Sa’id berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidaklah manusia yang dicipta melainkan Allah lah yang menciptanya.” [HR. Bukhari Vol 77, Buku 38, No. 6860]  Lihat juga tulisan terkait di sini.


Dan masih banyak lagi!