Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Yesus (Penyaliban). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus (Penyaliban). Tampilkan semua postingan

Allah Sangat Membenci Korban Manusia


Perhatikan baik-baik apa yang tertulis dalam alkitab berikut ini.

KITAB ULANGAN
12:31 Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka.

18:10 Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban .... dst.

18:12 Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu.

Jadi, sekalipun Allah memerintah bangsa Israel untuk tetap melaksanakan kurban bakaran dan kurban sembelihan, namun ayat-ayat di atas cukup jelas menunjukkan betapa Allah sangat membenci praktek barbar manusia yang mengurbankan manusia sebagai persembahan atau penebus dosa, terlepas kepada Allah, kepada Dewa-Dewa, atau kepada Gendrewo, bahkan kepada Iblis sekalipun!

Bukan hanya benci, Allah juga tidak menunda-nunda waktu untuk "menghilangkan" kaum ini dari hadapan kita dengan cara-Nya sendiri - baca seluruh perikop Ulangan 12

Tentang konsekuensi kebencian Allah terhadap kurban manusia ini, maka seperti tercatat dalam kitab Musa, DIA memberi contoh melalui kisah keluarga Abraham, yakni ketika Allah menguji Abraham dengan perintah agar menyembelih putra yang sangat dikasihinya sebagai kurban. Kita sama-sama tahu bahwa karena kepatuhannya kepada Allah, maka walau dengan sangat berat hati namun Abraham tetap melaksanakan perintah tsb. Tapi pada detik-detik terakhir, ternyata Allah menukar putra Abraham dengan seekor domba! Kenapa?
Karena pelajaran dari peristiwa ini bukan tentang apa atau siapa yang dikurbankan, melainkan terpusat pada teladan yang dicontohkan oleh Abraham tentang kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya! Peristiwa ini juga sekaligus sebagai bukti bahwa Allah tidak menerima kurban manusia!
YA! Allah menguji kepatuhan Abraham dengan memberinya ujian yang luar biasa berat bagi seorang ayah yang selama hampir satu abad lamanya memohon kepada Allah agar diberi keturunan, dan setelah pada akhirnya doanya dikabulkan dan sang anak lahir, justru kemudian Allah memintanya untuk dikurbankan. Bayangkanlah betapa beratnya ujian itu andaikata kita adalah Abraham!

Oleh karena itu, jika Allah telah demikian tegas menyatakan kebenciannya terhadap kurban manusia, bagaimana mungkin justru DIA sendiri yang mengorbankan "anak tunggal" yang sangat dikasihi-Nya sebagai kurban penebus "dosa asal" seluruh umat manusia yang sebenarnya tidak pernah ada?

Dogma gereja akan berdalih bahwa "anak manusia" bernama Yesus yang dikurbankan itu bukan manusia. Sebab tidak ada manusia yang sanggup menanggung beban dosa seluruh umat manusia, kecuali Allah sendiri. Tapi gereja lupa pada dogma "maksa" mereka lainnya, bahwa Yesus adalah 100% manusia dan 100% tuhan!

Dengan kata lain, gereja akan berjibaku mati-matian mempertahankan dusta asal mereka tentang dosa asal bahwa sekalipun tidak ada bukti-bukti alkitabiyah yang mendukungnya, tapi Yesus harus diimani sebagai tuhan!

Ini NONSENSE!
Pertama, tidak ada satu ayat pun dalam alkitab yang dapat dijadikan dalil ketuhanan Yesus yang tidak langsung remuk dihantam oleh ayat-ayat lain dari alkitab sendiri!

Kedua, dalam Perjanjian Lama dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Mahapengampun, dan segala dosa manusia akan diampuni-Nya apabila manusia, sebagai hamba, benar-benar memohon ampun kepada-Nya dengan niat dan cara yang sungguh-sungguh, seperti diterangkan dalam Mazmur 51:3, Mazmur 86:5, dan Mazmur 103:11-12.

Bahkan dalam Perjanjian Baru sekalipun, hal serupa juga dijelaskan sebagaimana tercatat dalam Matius 6:14-15 dan 1Yohanes 1:9

Artinya, Allah bukan Tuhan yang haus darah seperti yang digambarkan oleh Paulus dalam ajaran-ajarannya yang menyimpang jauh dari ajaran Yesus! Dan di atas semua itu, sesungguhnya tidak pernah ada apa yang disebut-sebut sebagai dosa asal, dan karenanya tentu saja tidak pernah ada pula ritual yang disebut-sebut sebagai penebusan dosa di tiang salib!

Itu sebabnya kenapa dalam kitab Kristen sendiri tidak ada satupun catatan tentang seluruh nabi dan rasul Alah yang pernah mengajarkan doktrin nyeleneh ini. Bahkan Yesus sendiri tidak pernah tahu apa itu dosa asal atau dosa waris dari Adam!

Mau bukti?
Buka 1Yohanes 4:1 dan ujilah iman Kristen sendiri!
Baca seluruh isi bible terjemah indonesia milik masing-masing dan carilah, di mana dapat ditemukan jawaban untuk pertanyaan mudah berikut ini?
  • Kapan Yesus pernah menyebut nama Adam?
  • Kapan Yesus pernah mengajarkan tentang dosa asal atau dosa waris?
  • Kapan Yesus pernah menyatakan bahwa dia dilahirkan untuk menebus dosa yang diwariskan oleh Adam?
Jika ada, maka iman Kristen benar, sebab itu berarti Yesus memang mengenal Adam dan mengerti bahwa kelahirannya adalah untuk mati konyol menjadi tumbal sebagai manusia terkutuk di tiang salib. Tapi jika tidak ada, maka cerita kita di sini yang benar, sedangkan iman Kristen salah!

Sederhana saja bukan?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Gus Mendem]

Benarkah Yesus Pernah MATI Tersalib?

Coba kita kutip teks-teks Al-Qur'an yang menyatakan bahwa secara umum murid-murid nabi Isa as -Hawariyyin- adalah orang-orang yang beriman, taat dan setia kepada nabi Isa as, dan dari sebuah Hadits yang kita kutip menunjukkan bahwa orang yang kemudian ditangkap dan disalib adalah salah seorang murid nabi Isa as yang dengan kerelaannya bersedia untuk diserupakan dengan nabi Isa as, sehingga dari al-Quran dan al-Hadits kita memperoleh kesimpulan bahwa orang yang dibunuh dan disalib bukanlah nabi Isa as dan bukan pula seorang pengkhianat.

Dan dari penelusuran teks-teks Bible sendiri, yaitu sebuah kitab yang diimani oleh umat Kristiani yang meyakini bahwa Yudas adalah seorang pengkhianat, ternyata banyak ayat yang secara implisit "tersamar" menyatakan bahwa Yudas Iskariot bukanlah seorang pengkhianat, namun seorang yang disebut Yesus sebagai seorang yang terbesar dan termulia di antara keduabelas murid-muridnya. 

Secara implisit pula kita dapatkan dari Bible bahwa kemudian Yudas diserupakan dengan Yesus ketika orang-orang yang akan menangkap Yesus terjatuh ke tanah, sehingga tidak menyaksikan proses penyerupaan Yudas ke Yesus. Sehingga mereka menyangka bahwa orang yang mereka tangkap adalah Yesus Kristus, padahal sesungguhnya adalah Yudas Iskariot yang telah diserupakan dengan Yesus. Pada tulisan  tersebut telah terbukti bahwa orang yang ditangkap adalah Yudas Iskariot, dan pada kajian ini, kita akan membuktikan juga bahwa orang yang ditangkap itu memang Yudas Iskariot, namun dari sisi yang lain. 

Jika sebelumnya kita membuktikan dari sisi fragmen saat-saat menjelang pengepungan dan menjelang penangkapan, maka kali ini kita akan membuktikan dari sisi setelah proses penangkapan dan pengadilan atas orang yang ditangkap.

Ternyata murid Yesus yang lain yang bernama Petrus mengetahui bahwa orang yang telah ditangkap dan sedang di adili oleh orang-orang Yahudi bukanlah Yesus, melainkan temannya yaitu Yudas yang telah diserupakan dengan Yesus sehingga Petrus menyangkal kalau dikatakan orang yang telah ditangkap dan sedang diadili adalah Yesus Kristus gurunya. Petrus adalah salah seorang dari duabelas orang murid Yesus yang selalu setia menemani dan taat mengikuti ajaran Yesus. Petrus adalah orang yang paling berani dalam membela Yesus.

Ketika orang-orang Yahudi bersama sejumlah pasukan mengepung Yesus dan murid-muridnya, Petrus dengan heroiknya tampil ke depan tanpa rasa takut sedikitpun menghadapi mereka yang berjumlah jauh lebih banyak. Konon Petrus dengan pedangnya berhasil memotong telinga salah seorang dari pasukan yang bernama Malchus, namun Yesus yang telah mengetahui kekuatan musuh jauh lebih besar dan mengetahui perlawanan tidak akan menghasilkan kemenangan sedikitpun, seketika itu juga Yesus menghentikan perlawanan Petrus. 

Yang perlu dicatat dalam kisah di atas adalah keberanian Petrus menghadapi sedemikian banyak orang yang akan menangkap Yesus. Sikap semacam itu adalah sikap orang yang teguh iman, tidak takut mati, rela berkorban jiwa, atau tegasnya, adalah sikap seorang kesatria.

Sikap semacam itu adalah hal yang biasanya dimiliki oleh seorang yang teguh memegang prinsip dan ideologi, seperti halnya dalam Islam, para sahabat utama Nabi Muhammad saw juga rela mengorbankan harta dan jiwa mereka demi membela Islam dan Nabi Muhammad saw. Demikian pula dengan kaum Hawariyyin seperti Petrus. Aadalah wajar bila dia bersikap demikian untuk membela Yesus gurunya, apalagi duabelas murid Yesus adalah orang-orang pilihan Yesus sendiri yang diangkat dari duabelas suku Israel. 

Bible mengisahkan, konon Petrus menyangkal pernah bersama-sama dengan Yesus, menyangkal mengenal Yesus dan menyangkal sebagai murid Yesus. Menurut Bible, secara implisit penyangkalan tersebut dilakukan Petrus hanyalah untuk menghindari agar dirinya tidak ikut ditangkap bersama-sama Yesus atau dengan kata lain Petrus takut untuk ditangkap. 

Kisah tersebut tentu saja melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik akal sehat, apakah mungkin Petrus yang heroik dan tidak takut mati, hanya dalam hitungan  jam saja tiba-tiba menjadi seorang pengecut yang takut ditangkap dan takut mati? Apakah Yesus salah memilih orang untuk dijadikan muridnya, ataukah Yesus telah gagal membentuk keimanan bagi murid-muirdnya? Untuk dapat menjawab semua itu, perlu diselidiki dan dikaji apa makna dan motif sesungguhnya dari penyangkalan Petrus tersebut.

LINTASAN KISAH
Sebelum kita mengkaji latar belakang dan motif penyangkalan Petrus, marilah kita lihat lintasan kisah yang melatar-belakanginya. Ketika orang-orang Yahudi dan pasukan prajurit Romawi berhasil mengepung Yesus dan murid-muridnya, tampilah Petrus melawan mereka untuk membela dan menyelamatkan Yesus. Dalam sekejap salah seorang dari mereka terpotong telinganya oleh pedang Petrus, namun melihat kekuatan musuh yang jauh lebih besar dan melihat perlawanan Petrus tidak akan berarti apa-apa, maka Yesus menghentikan perlawanan Petrus tersebut. Lalu Yesus tampil ke depan berkata kepada orang-orang yang ingin menagkapnya: “Siapakah yang kamu cari?” Tanya Yesus. “Yesus dari Nazaret” Jawab pasukan itu. lalu Yesus menegaskan, “Akulah Dia!” 

Saat itu juga mereka mundur hingga terjatuh ke tanah. Tentu bukan tanpa sebab hingga mereka mundur dan terjatuh ke tanah, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya, penyebab itulah yang oleh para penulis Injil tidak dijelaskan dalam Injilnya. Dalam tulisan sebelumnya telah kita bahas bahwa saat itulah terjadinya proses perubahan wajah Yudas yang menyerupai wajah Yesus. Karena mereka terjatuh ke tanah, maka mereka tidak menyaksikan proses perubahan tersebut. Inilah rencana Allah SWT untuk menyelamatkan Yesus. Dan setelah itu, Yudas yang telah diserupakan dengan Yesus berkata kepada mereka yang akan menangkap Yesus: “Siapakah yang kamu cari?” Tanya Yudas yang sudah berubah wujud menyerupai Yesus. “Yesus dari Nazaret.” Jawab pasukan itu lagi. “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi” Tegas Yudas yang berwajah Yesus. Maka orang-orang Yahudi itupun menangkap Yudas yang mereka kira adalah Yesus dan membawanya kepada imam-imam Yahudi untuk diadili.

Sementara itu Petrus mengikuti dari kejauhan untuk mengetahui nasib apa yang akan menimpa sahabatnya itu.  Sepertinya Petrus mengetahui bahwa bukan Yesus yang ditangkap tetapi seseorang yang diserupakan dengan Yesus. Namun, umat Kristen meyakini bahwa orang yang ditangkap adalah Yesus bukan Yudas, karena ayat-ayat dalam Bible secara tekstual memang menyatakan demikian. Tetapi keyakinan tsb sangat lemah, karena banyak mengabaikan kejanggalan-kejanggalan kontekstualnya, yang pada kesempatan yang lalu telah membuktikan bahwa Yesus dan murid-muridnya sama sekali tidak membicarakan tentang seorang pengkhianat, tetapi seorang yang terbesar di antara keduabelas murid-muridnya. Dan umat Kristen tentu sepakat bahwa orang yang di-maksud Yesus adalah Yudas Iskariot, dan itu berarti Yudas bukanlah seorang pengkhianat!

Kembali lagi pada kisah Petrus, Petrus terus mengikuti Yudas yang ditangkap untuk diserahkan kepada imam-imam Yahudi. sesampainya mereka di bait Allah tempat Yudas akan disidang, Petrus berhenti dan menunggu di luar untuk mengetahui nasib Yudas selanjutnya. Ketika Petrus sedang menunggu jalannya sidang itulah datang orang-orang Yahudi kepada Petrus, dan sepertinya mereka mengenali Petrus sebagai orang yang selalu bersama-sama dengan Yesus dan sebagai murid Yesus. 

Di sinilah terjadi dialog antara orang-orang Yahudi dengan Petrus di mana dalam dialog tersebut orang-orang Yahudi mendakwa Petrus sebagai orang yang selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili, dan mendakwa Petrus sebagai murid orang yang sedang diadili. Namun Petrus menyangkal semua dakwaan tersebut, Petrus tidak mengakui selalu bersama-sama, mengenal dan sebagai murid orang yang sedang disidang. 

Penyangkalan-penyangkalan Perus itulah yang diyakini oleh Umat Kristiani sebagai penyangkalan terhadapa Yesus. Sekarang mari kita lihat dialog selengkapnya.


FRAGMEN PENYANGKALAN
Berikut kutipan dialog antara orang-orang Yahudi dengan Petrus:

  • Injil Matius 26:69-74,
  • Injil Markus 14:67-71
  • Injil Lukas 22:56-60 ,
  • Injil Yohanes 18-25-28
  • Yahudi 1 : Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.
  • Petrus : Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.
  • Yahudi 2 : Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.
  • Petrus : Aku tidak kenal orang itu.
  • Yahudi 3 : Pasti engkau juga salah seorang dari. ….mereka, itu nyata dari bahasamu.
  • Petrus : Aku tidak kenal orang itu.

Kata "itu" yang digarisbawahi dalam fragmen di atas adalah sebagai kata ganti yang menunjuk kepada "seseorang" yang sedang diadili. Ketika orang-orang Yahudi berkata kepada Petrus "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu", orang-orang Yahudi tersebut mendakwa Petrus adalah orang yang selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili, yang mereka pikir adalah Yesus.

Terhadap dakwaan tersebut, Petrus menyangkal dengan mengatakan "Aku tidak tahu apa yang engkau maksud." Jawaban Petrus tersebut menunjukkan bahwa dia tidak dapat memahami bila dikatakan orang yang sedang diadili adalah Yesus dan tidak dapat mengerti bila dikatakan dia selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili. Jawaban Petrus tersebut mempunyai dua kemungkinan:

Pertama, Petrus menyangkal bila dikatakan selalu bersama-sama dengan Yesus, dan itu berarti orang yang sedang diadili adalah Yesus. 

Kedua, Petrus menyangkal jika maksud peranyaannya adalah bahwa orang yang sedang diadili adalah Yesus, sehingga dia juga menyangkal bila dikatakan selalu bersama-sama dengan orang tersebut. Dalam dakwaan berikutnya yaitu yang kedua dan ketiga, Petrus didakwa "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu", Petrus secara konsisten berturut-turut menyangkal "Aku tidak kenal orang itu.", 

Jawaban Petrus tersebut juga mempunyai dua kemungkinan.

Pertama, Petrus menyangkal kenal dengan Yesus, hal itu berarti orang yang sedang disidang adalah Yesus,

Kedua, Petrus menyangkal kenal pada orang yang disidang, hal itu berarti bukan Yesus orang yang sedang disidang.

Dalam Yohanes 18:25 dakwaannya berbunyi, "Bukankah engkau juga seorang muridnya?" Dalam dakwaan tersebut, kata "nya" yang bergaris bawah adalah sebagai kata ganti yang menunjuk kepada orang yang sedang diadili. Terhadap dakwaan tersebut Petrus menyangkal "Aku bukan muridnya", yang mempunyai dua kemungkinan juga.

Pertama, Petrus menyangkal bila dikatakan sebagai murid Yesus, hal itu berarti orang yang sedang diadili adalah Yesus,

Kedua, Petrus hanya menyangkal bila dikatakan murid dari orang yang sedang diadili. Berarti orang yang sedang diadili 
bukan Yesus.

YESUS ATAU YUDAS?
Sekarang mari kita uji dua kemungkinan di atas.
Siapa sebenarnya yang sedang disangkal oleh Petrus? Yesuskah, ataukah orang lain yang diserupakan dengan Yesus?

Bila kita mengasumsikan orang yang sedang disidang adalah Yesus, maka artinya orang yang disangkal oleh Petrus adalah Yesus.

Asumsi tersebut melahirkan pertanyaan sangat mendasar, mungkinkah Petrus menolak mengakui bahwa ia mengenal dan selalu bersama-sama dengan Yesus, dan menolak mengakui pula sebagai murid Yesus? Jika mungkin, lalu apa motif Petrus melakukan itu semua? Asumsi di atas, walau bagaimanapun praktis membuat kita menganggap Petrus sebagai seorang pengecut, pembohong, munafik, dan manusia tidak teguh iman!

Disebut pengecut dan pembohong, karena sejatinya Petrus adalah murid Yesus dan orang yang selalu bersama-sama dengan Yesus. Disebut munafik dan tidak teguh iman karena beberapa jam sebelumnya Petrus telah menunjukkan sikap sebagai seorang kstaria yang sangat heroik dalam membela Yesus.

Ditinjau dari catatan-catatan yang melatarbelakanginya, maka tidak ada satu motifpun yang mendorong Petrus untuk menjadi seorang pengecut. Apakah Petrus takut ditangkap hingga harus menyangkal segala dakwaan orang-orang Yahudi? Tentu saja tidak!

Jika orang-orang Yahudi ingin menangkap murid-murid Yesus juga, tentu mereka sudah menangkapnya ketika mereka mengepung Yesus dan murid-muridnya di taman Getsemani. Tapi pada kenyataannya tidak. Mereka membiarkan murid-murid Yesus pergi. 


Menyebut Petrus sebagai pengecut, secara tidak langsung telah memberikan label kepada Yesus sebagai orang yang tidak teliti dan gagal. Ya, gagal membentuk keimanan Petrus sehingga menjadi seorang pengecut, pembohong, munafik dan tidak teguh iman! Tidak teliti karena telah salah memilih orang yang akan diberi pelimpahan kepemimpinan selanjutnya.

Yohanes 21:17 mencatat: 

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”  

Tentu saja tuduhan sebagai pengecut dan munafik itu menjadi tidak mungkin, karena sejarah telah membuktikan bahwa Petruslah yang kemudian memegang kepemimpinan. Karenanya, mustahil Petrus menjadi seorang pengecut, menyangkal gurunya yang sangat dikasihinya itu.

Jika bukan Yesus yang diadili, lalu siapa yang disangkal Petrus?
Umat Kristen yang rajin membaca Bible t
entu akan menjawab bahwa orang yang diadili adalah orang yang ditangkap di taman Getsemani, lalu diadili untuk kemudian disalib!

Memberikan nama Yudas sebagai orang yang diadili ternyata selaras dengan keseluruhan konteks ayat-ayat Bibel yang mencatat peristiwa ini. Selaras bahwa Yesus secara kontekstual menyebut Yudas sebagai orang yang terbesar, bukan sebagai pengecut.  Yudas telah membuat Yesus sangat terharu.

Kenapa Yesus terharu?
Karena Yudas berkorban nyawa menggantikan Yesus untuk ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Kisah tsb selaras pula dengan sifat Petrus yang pemberani, heroik dan pantas menjadi seorang pengganti kepemimpinan Yesus.

Dengan demikian maka yang disalib bukan Yesus, melainkan Yudas! 

Wallahu’alam


[Sumber: Indra Wibowo



Kisah Penangkapan Yesus Yang Luput Dari Perhatian Pengikut Paulus


Ini memang agak panjang, tapi kalau kalian malas bacanya, maka selamanya akan tetap bodoh seperti domba betulan!

Perhatikan!
Ini menurut "kabar burung" dari injil-injil kanonik. 

Baca lagi Lukas 22:35-36
Ketika mencoba untuk menghindari kejaran tentara Romawi yang dalam skenario para bapa gereja nantinya akan dikisahkan sebagai peristiwa heroik luar biasa Yesus yang rela mengorbankan dirinya untuk mati terkutuk di tiang salib, maka di tengah malam buta, dengan sangat tergesa-gesa Yesus mengajak 11 muridnya (Yudas tidak ikut dalam rombongan "lari malam" ini karena nanti akan menyusul bersama tentara Romawi dan para imam Taurat) untuk bersembunyi di taman Getsemani.

Lukas 22:35-36 ini menceritakan bahwa Yesus dan sebelas murid setianya sedang mempersiapkan strategi penyelamatan diri mereka dari kejaran tentara Romawi, bahkan "siap" untuk melawan mati-matian meski hanya bersenjatakan seadanya, yaitu beberapa batang tongkat dan dua bilah pedang(?).

[22:35] Lalu Ia berkata kepada mereka: "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?" 
[22:36] Jawab mereka: "Suatupun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.

Perhatikanlah bagaimana suasana kepanikan mereka yang di satu sisi harus segera melarikan diri, sementara di sisi lain perbekalan mereka, terutama senjata, benar-benar sangat minim.

Dalam adegan di taman Getsmanilah kemudian kita bisa membaca sendiri dari injil-injil kanon kalian bagaimana paniknya Yesus -- anak manusia yang kalian anggap sebagai tuhan itu -- hingga mengungkapkan perasaannya seperti lazimnya makhluk lemah tak berdaya dengan berkata "ingin mati rasanya" saking takut kepada besarnya ancaman yang sedang mendatangi dirinya. Pada situasi genting ini, Yesus masih mengandalkan perlindungan dari 3 muridnya yang gagah; Petrus dan dua anak Zebedeus. Baca lagi Matius 26:36-38 di bawah ini,

[26:36] Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." 
[26:37Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, 
[26:38] lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku. "

Coba pikir sendiri, mungkinkah tuhan mengandalkan keselamatan dirinya pada perlindungan dari makhluk ciptaannya sendiri? Tentu saja TIDAK!

Itu sebabnya sebagai hamba Allah yang taat, Yesus kemudian menggantungkan nasibnya kepada kemahakuasaan Allah, seperti dapat disimak dalam permohonannya kepada Allah yang dengan jelas mengungkapkan penyerahan diri secara total (sesuai definsi "Muslim" menurut terminologi dalam ajaran Islam) kepada kehendak Allah. Bukan kepada kehendaknya sendiri yang tentu saja lebih pilih melarikan diri sejauh-jauhnya dari kejaran tentara Romawi daripada mati konyol di tiang salib!

Teks lengkap doa Yesus bisa kalian simak dalam Lukas 22:42 ini,

"Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

Lalu apa yang terjadi?
Laporan selanjutnya tertulis dalam Lukas 22:43-44 begini:

"Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah."

Sampai di sini, kita stop dulu sejenak. Kalian bacalah sekali lagi penggalan cerita ini mulai dari awal sampai ke bagian ini.

Kenapa?
Supaya kalian bisa lihat sendiri bahwa sama saja seperti kita semua, Yesus juga makhluk ciptaan Allah yang lemah, punya rasa gentar dan sangat takut pada ancaman terhadap keselamatan jiwanya, bahkan bisa demikian panik sampai ingin mati (maksudnya jelas: bunuh diri) daripada mati terhina di tiang salib!
Sampai di sini, cukup jelas ya?
YESUS TAKUT DAN TIDAK SUDI MATI SECARA HINA DINA DI TIANG SALIB!
Nah, sekarang catat yang lebih penting untuk kalian ingat baik-baik dalam benak kalian, yaitu berita dari kitab kalian sendiri yang mengabarkan bahwa di atas semua rasa gentar dan takutnya itu, ternyata Yesus lebih takut lagi melihat wujud malaikat Allah!

Coba kalian PIKIR SAJA SENDIRI deh; 
Masa sih ada tuhan yang takut pada makhluk ciptaannya sendiri?

Jika kalian angap itu wajar dalam apa yang kalian yakini sebagai "dwinatur" Yesus, maka persoalannya akan semakin ruwet! Bukankah doktrin dwinatur ini yang melahirkan jargon Yesus adalah 100% manusia dan 100% Tuhan?

Kalian tahu bagaimana seharusnya memahami jargon konyol tsb?
Pada saat yang sama ketika Yesus adalah 100% manusia, saat itu juga dia adalah 100% Tuhan! Artinya, kapanpun juga, di manapun juga, dalam situasi seperti apapun juga, Yesus yang 100% manusia itu adalah adalah 100% Tuhan!

Tapi pada kenyataannya, kuulangi, pada kenyataannya tokh selama hidupnya Yesus adalah manusia biasa seperti kita-kita ini, dan tak ada secuilpun natur ilahi pada dirinya seperti sudah sama-sama kita buktikan di atas tadi. Jadi, wajar saja jika dia bisa sampai demikian takutnya melihat Malaikat Allah!

Kalian bayangkanlah sendiri betapa dahsyatnya wujud Malaikat Allah yang datang untuk memberi Yesus kekuatan ini dibandingkan dengan iblis yang pernah seenak perut menenteng-nenteng anak manusia yang kalian jadikan tuhan itu dari satu tempat ke tempat lainnya, bahkan begitu kurang ajarnya menaruh Yesus di atap Bait Allah lalu menyuruhnya melompat ke tanah supaya seluruh tulang belulangnya remuk redam! 

Kepada Iblis yang pasti wujudnya menyeramkan saja Yesus tidak takut, tapi kenapa kepada malaikat Allah dia demikian takut sampai keringatnya menetes deras bagai darah yang tercurah ke bumi?

Ini kan sudah lebih dari cukup sebagai bukti bahwa Yesus bukan tuhan? 
Jika benar dia adalah tuhan, tentu iblis tidak akan berani sekurang ajar itu terhadap dirinya, dan yang pasti Malaikat tidak perlu datang untuk memberinya kekuatan, bukan?!

Kita lanjutkan sedikit lagi.
Setelah malaikat Allah memberinya kekuatan, maka cerita ketakutan Yesus tadi berobah menjadi keberanian yang luar biasa!

Tentang ini bisa kalian ikuti kisahnya dalam Markus 42:32-50, di mana ketika akhirnya Yesus ditawan oleh tentara Romawi, semua muridnya langsung lari tunggang langgang menyelamatkan diri masing-masing!

Makanya, kisah selanjutnya menjadi "mbulet", karena kebenaran peristiwa penyaliban Yesus itu tidak dapat dipercaya sepenuhnya dan TERBUKTI tetap menjadi MISTERI hingga hari ini.

Kenapa misteri?
Sebab segala cerita yang tertulis dalam kitab kalian tentang apa yang terjadi setelah Yesus ditawan oleh tentara Romawi jelas tidak bisa diterima sebagai kebenaran absolut sebab dikarang oleh penulis injil yang tidak jelas identitasnya, bukan saksi mata kejadian sebenarnya, bukan pula murid Yesus, bahkan baru mulai direka-reka supaya sesuai dengan kehendak para bapa gereja sekitar 50 s.d 100 tahun setelah Yesus "raib" entah ke mana! 

Sampai di sini, harap kalian GARISBAWAHI dan INGAT BAIK-BAIK!
Bagi umumnya umat Islam, atau paling tidak bagi GM sendirilah dulu, kisah di atas itu tidak penting karena pada prinsipnya tidak ada urgensinya dengan iman umat Islam. Tapi di lain pihak menjadi sangat penting untuk kalian ketahui karena jika pendeta kalian tidak pernah menceritakannya seperti yang GM suguhkan ini, setidaknya kitab kalian sendiri sudah membuktikan bahwa dari sepotong cerita di atas saja, sudah bisa ditarik kesimpulan sangat logik; MUSTAHIL Yesus adalah Tuhan!
Sedangkan tentang keyakinan kalian bahwa Yesus mati di tiang salib guna menebus dosa umat manusia sesuai nubuat para nabi terdahulu, juga tidak kalah mustahilnya. Sebab sekalipun sudah "di-othak-athik-gathuk" oleh para Bapa Gereja supaya Yesaya 52 dan 53 menjadi cocok untuk nubuat penyaliban Yesus, nyatanya cerita itu adalah nubuat yang salah alamat! Ini membuktikan bahwa hanya dari sepotong kisah di atas saja sudah tampak jelas bahwa Yesus tidak sudi disalib bahkan lebih pilih bunuh diri daripada mati konyol di tiang salib!

Itu sebabnya kenapa Gus Mendem "Sitopap Salimbubu" ini (tanya artinya pada orang batak​) memilih untuk jadi "penghalang" alias "batu sandungan" buat siapapun dari kalian yang coba memaksakan iman "bodong" kristen (layaknya motor bebek tahun 70-an tanpa surat-surat) kepada sodara-sodara muslimku di manapun juga!

Lalu, apakah cuma itu alasannya kenapa tiba-tiba saja GM mengupas serba sedikti kisah tentang penangkapan dan penyaliban Yesus di atas? 
Jawabnya TIDAK JUGA!

Alasan lainnya adalah karena aku sempat membaca TS tolol dari kawan kalian  yang sudah lama terbukti selalu berpikir menggunakan otak domba betulan dalam salahsatu lapaknya menulis begini:
Re-Quote:
"Jika kau berkeras maka jibril akan susah payah hidup dalam diri Isa almasih.
---> jiwanya Almasih diperkuat oleh RK (QS 5:110).
Kecuali kau bilang Jibril berinkarnasi dalam tubuh Isa."
(Lihat selengkapnya di sini
Ini bukti bahwa kawan kalian itu sama tidak tahunya dengan kalian bahwa QS. 5:110 sebetulnya sudah sejak lama dijelaskan oleh kitab kalian sendiri!

Yang dimaksud dalam QS 5:110 sudah ditunjukkan oleh Lukas 22:43 di mana diceritakan Allah mengirim Malaikat untuk memberi nabi-Nya kekuatan dalam menghadapi detik-detik akhir menjelang peristiwa penyaliban yang hingga detik ini sampai datangnya kiamat nanti akan tetap tinggal sebagai teka-teki, khususnya bagi kalian.

Jadi, arti QS 5:110 itu bukan menjadikan penghulu para Malaikat bernama Jibril alayhi salam untuk selamanya berada di sisi, apalagi sampai berinkarnasi ke dalam wujud nabi Isa alaihissalam, cuma sekedar untuk pemberi kekuatan doang! 

Ini jelas menyalahi kodratnya sebagai Malaikat pembawa wahyu Allah kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun di seantero jagad raya ini sejak awal penciptaan alam semesta hingga kiamat nanti!

Lantas, kenapa Yesus diceritakan demikian takut melihat Malaikat Jibril?

Jawabnya, jelas saja takut! Sebab wujud Malaikat yang selanjutnya dikisahkan dalam Lukas 22:44 memang luar biasa dahsyat sebagaimana digambarkan dalam beberapa hadits, antara lain yang "soft" saja deh, misalnya dalam kitab tafsir Sowi halaman 176 Jilid 4.

Dikisahkan Nabi Muhammad melihat Malaikat Jibril menampakan diri (untuk yang pertama kali) yang tingginya telah ada di ufuk (melewati batas penglihatan).

Maka bertanya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam

"Wahai Jibril aku tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk (yang sangat besar) seperti bentuk mu ini.

Malaikat Jibril menjawab: "Wahai Muhammad. "Aku (hanya) membentangkan dua sayap. Sesungguhnya aku memiliki 600 sayap, yang ukuran setiap sayapnya seluas antara timur dan barat."

"Rasulullah shalallahu alaihi wassalam berkata: "Sesungguhnya penciptaanmu sangat Besar"

Malaikat Jibril berkata: "Dan tidaklah aku disamping ciptaan-ciptaan Allah hanyalah sesuatu yang kecil. Dan Allah telah menciptakan Israfil, dia lebih besar dan memiliki 600 sayap, dan setiap sayapnya seukuran seluruh sayapku. Sesungguhnya dia melipat sayapnya karena takut kepada Allah, sampai-sampai dia melipatnya sekecil mungkin."

Sedangkan pada saat-saat lain bertemu dengan Nabi dalam wujud manusia, Malaikat Jibril biasanya selalu mengenakan busana kebesarannya, putih laksana mutiara yang larut, dengan rupa yang begitu elok dan rupawan, dan dengan kekuatan yang dahsyat penuh mukzijat.

Kalian mau tau juga seberapa besar malaikat Isrofil sang peniup terompet kematian seluruh makhluk Allah pada hari kiamat nanti?

Baca catatan lama GM di sini

Nah, sekarang kalian sudah tau bukan, kenapa bagi umumnya umat Islam Mustahil Yesus adalah tuhan?

Kenapa, coba?
Karena jangankan Al-Quran, sedangkan kitab kalian sendiri juga membuktikan bahwa dia memang BUKAN Tuhan!

NGERTI ya?

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Gus Mendem | Orat-oret akhir pekan kedua Januari 2018]

Tahukah Anda Apa Sebab Yesus Disalib?


Menurut alkitab begini:
KARENA PARA IMAM BESAR YAHUDI MENGINGKAN DIA MATI

KITAB MATIUS 26:
[1] Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya:
[2] Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.
[3] Pada waktu itu berkumpullah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi di istana Imam Besar yang bernama Kayafas,
[4] dan mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan untuk membunuh Dia.

Lihatlah bagaimana manusia sedang bersekongkol merencanakan untuk membunuh “tuhan“, yaitu Yesus!

[14] Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.
[15] Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
[16] Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

YESUS TIDAK INGIN DISALIB

[38] lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Lihatlah, Yesus bersedih hati. Kenapa dia bersedih? Bukankan Yesus diutus ke dunia untuk disalib?

[39] Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
[40] Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
[41] Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”
[42] Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”

Mengapa Yesus berdoa? 
Kepada siapa dan untuk apa ia berdoa?

YESUS DITANGKAP DAN DISALIB

[47] Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.
[48] Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia.”
[49] Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Salam Rabi,” lalu mencium Dia.
[50] Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Hai teman, untuk itukah engkau datang?” Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.

MENGAPA YESUS HARUS DITANGKAP SECARA PAKSA?

MATIUS 27
[45] Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.
[46] Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?.

Lihatlah, dari awal hingga akhir kita tidak melihat sama sekali tanda-tanda bahwa penyaliban Yesus dimaksudkan untuk menebus dosa manusia. Sebaliknya, yang tampak jelas justru Yesus "menolak" untuk disalib! Jika memang Yesus bersedia untuk disalib demi menebus dosa manusia, lantas mengapa berikut ini ada pertanyaan MENGAPA:
  • Mereka harus bersekongkol (berkonspirasi) untuk menangkap Yesus? Siapa sebenarnya yang menginginkan Yesus disalib?
  • Mengapa Yesus sedih dan berdoa serta meminta muridnya untuk berjaga jaga??? Mengapa Yesus repot reput melakukan hal tersebut? Bukankah dia di utus untuk menebus dosa manusia???
  • Mengapa Yesus harus ditangkap paksa?
  • Mengapa Yesus harus meronta-ronta saat disalib sambil berseru, “Eli, Eli, lama sabakhtani?”
Hal tsb sangat jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak ingin disalib, sehingga dengan demikian ajaran bahwa penyaliban Yesus adalah untuk menebus dosa manusia dengan sendirinya gugur!

LANTAS, DARI MANA DATANGNYA IDE PENEBUSAN DOSA MANUSIA ITU?

Ternyata umat Kristen "terperangkap" oleh Surat Paulus Kepada Jemaat Di Galatia 3
[13] Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Kalimat di atas BUKAN wahyu dari Tuhan kepada Yesus, bukan pula sabda Yesus kepada Paulus, akan tetapi melulu "karangan" Paulus yang -- bahkan sangat kontradiktif dengan sabda Yesus sendiri, termasuk sabda para nabi terdahulu -- yang jelas-jelas membantah adanya dosa waris!

Tidak peraya? 
Silahkan buka Yehezkiel 18: 20, Ulangan 24: 16, Matius 16: 27, Yeremia 31: 29-30, 2Tawarikh 25: 4.

Lalu, bagaimana menurut olah pikir akal sehat kita sendiri?

Bagi kebanyakan umat kristen, jika ditanya mengapa Yesus mati disalib, pada umumnya akan menjawab, untuk menebus dosa manusia, dan semua itu sudah digariskan oleh "Bapa-Nya" disurga.

Benarkah? 
Seperti biasa, kita semua akan menganggap jawaban seperti itu sudah klise dan lebih banyak didasari oleh fanatisme keagamaan saja dibanding mengedepankan akal sehat. Padahal jawaban yang realistis dan faktual bisa saja kita telusuri dari berbagai sumber, di antaranya dengan memperhatikan latar belakang peristiwa penyaliban itu sendiri dari catatan sejarah.

RINGKASNYA BEGINI:

Awalnya para pemuka agama merasa terancam dengan keberadaan Yesus. Mereka menganggap Yesus dapat menjatuhkan reputasi dan pengaruh mereka karena ajaran Yesus adalah ajaran langit yang sejati, ajaran yang benar-benar dapat menghidupkan yang mati!

Oleh karena itu, setelah peristiwa Yesus 'mengamuk' di bait Allah dan menyebut diri-Nya Mesias, para ahli Taurat dan pemuka agama pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Dengan segera mereka mengadakan sebuah rapat tertutup untuk mengambil alih peran Yesus. Dan ketika itu, tidak ada cara lain kecuali BUNUH YESUS!

Mereka pun segera menuduh Yesus telah menghina Allah dengan mengatakan bahwa Ia adalah mesias anak Allah. Tetapi jika alasan itu yang dikemukakan, Yesus tidak akan dihukum mati. Akhirnya para pemuka agama itupun melakukan konspirasi dengan tokoh-tokoh politik saat itu, di antaranya Pontius Pilatus!

Ya, mereka menghasut orang banyak untuk menyalibkan Yesus dengan dalih bahwa Yesus menyebut dirinya Raja!

Dengan dimunculkannya opini publik tersebut, maka tersebarlah berita bahwa Yesus melakukan kegiatan melawan kekaisaran romawi, dan karenanya harus dihukum mati!

Namun saat itu Pilatus sebenarnya sadar bahwa semua itu hanyalah akal-akalan para pemuka agama saja. Oleh karena itu atas desakan isterinya, ia pun kemudian mencuci tangannya sebagai lambang bahwa ia tidak ikut campur atas darah Yesus.

Wallahualambissawab.


[Sumber: Catatan Gus Mendem | Facebook September 7, 2012 at 11:38 PM]


Penyaliban Dan Kematian Yesus Menurut Petrus


Menarik untuk disimak, Perpustakaan Nag Hammadi, dikenal juga sebagai The Dead Sea Scrolls, sebuah koleksi teks Gnostik Gereja perdana yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, antara tahun 1947 s.d 1956.

Empat injil Perjanjian Baru sepakat bahwa Yesus mati tersalib atas perintah gubernur Romawi untuk Palestina, Pontias Pilatus, pada kisaran tahun tiga puluhan abad pertama Masehi. Tapi peristiwa ini bukan saja tidak disebutkan dalam injil-injil Nag Hammadi, bahkan sebagian daripadanya malah terang-terangan mencela orang-orang yang mengatakan kematian Yesus dengan cara tersalib! 

Dalam injil-injil Koptik yang tidak menyebutkan kisah penyaliban, nama Pilatus juga tidak disebutkan sama sekali. Injil versi Nag Hammadi mengisahkan kematian Yesus, namun tidak persis sama dengan  keempat injil Perjanjian Baru yang mengisahkan kematiannya di tiang salib. Tampak ada pertentangan frontal antara para penulis injil-injil Perjanjian Baru dengan kisah Petrus yang menolak kematian Yesus di tiang salib. 

Memang sulit menerima dan mengakui kesimpulan dari suatu temuan sebagai kebenaran absolut, karena ini harus melalui suatu proses reformasi besar-besaran atas iman yang dilandasi oleh dogma. Dapatkah akal sehat menjembatani dua kutub yang berbeda dalam penambatan kisah-kisah kenabian tanpa prasangka bahwa temuan itu hanya sebuah temuan yang belum tentu benar? Akal sehat dapat dijadikan alat ukur untuk melacak kebenaran, dan tidak harus mandeg di satu titik tanpa kelanjutan. Terlebih lagi, karena membicarakan ajaran sebuah agama yang berpijak pada naskah dan tulisan dari kesaksian seorang penulis, memang perlu kepekaan sendiri.

Tidak bermaksud memprovokasi temuan ini terhadap keyakinan agama, tetapi seyogyanya ia dapat dijadikan bahan tela'ah bersama secara jujur, apakah temuan dimaksud didukung oleh fakta atau tidak. Karena walau bagaimanapun, sebagai temuan, naskah tua tersebut merupakan fakta yang tidak dapat ditolak. Tinggal pertanyaannya sekarang, bersediakah gereja membuka pintu ketika ada seorang juruselamat lain datang mengabarkan tentang kematian Yesus yang berbeda dengan kabar dari inji-injil yang selama ini mereka imani?

Salahsatu temuan dari Nag Hammadi menyebutkan kisah penyaliban Yesus sebagai Berikut:
Disebutkan dalam injil Petrus melalui mulut Petrus sendiri,

"Aku melihat seolah-olah mereka menangkapnya. Aku bertanya, "Apa yang kulihat ini, Tuan? Engkaukah yang mereka tangkap? Ataukah mereka memukuli dua telapak kaki dan dua tangan orang lain? Sang Juruselamat berkata, "Orang yang mereka paku dua tangan dan telapak kakinya itu adalah pengganti. Mereka meletakkan orang yang diserupakan itu di dalam kehinaan. Lihatlah dia! Lihat juga aku!"

Apa yang dikisahkan oleh Petrus ini berasal dari salahsatu temuan naskah kuno di Nag Hammadi, Mesir, menjelaskan peristiwa monumental yang tentu saja menimbulkan kontroversi dalam kekristenan. Dijelaskan dalam ayat tersebut bahwa Yesus selamat dari rencana pembunuhan para imam besar melalui tangan Gubenur Romawi Pontias Pilatus. Keterangan Petrus di atas nyata menyangkal kematian Yesus di tiang Salib! 

Menurut Petrus, "Seolah-olah mereka menangkapnya". Dan perhatikan pula kalimat selanjutnya. Sang juruselamat berkata, "Orang yang mereka paku dua tangan dan telapak kakinya itu adalah pengganti. Mereka meletakkan orang yang diserupakan itu di dalam kehinaan. Lihatlah dia! Lihat juga aku!"

Ini kesaksian Petrus, panatua dari semua murid Yesus, sebagai salahsatu orang terdekatnya yang bercakap-cakap secara berhadapan muka dengan Yesus dan melihat langsung ketiga orang yang terpaku di tiang salib. 

Lantas, siapa sebenarnya yang ada di sana? 
Menurut injil-injil Perjanjian Baru, di antara tiga orang yang disalibkan itu, ada dua Yesus, yaitu Yesus Barabas dan Yesus Nazarat. Dengan demikian, satu-satunya kemungkinan menjawab siapa yang mati disalib adalah Yesus Barabas, bukan Yesus Nazarat yang bersama Petrus menyaksikan dan membicarakan peristiwa penyaliban tsb dari kejauhan. Yesus barabas adalah seorang penjahat yang ditangkap oleh pemerintah romawi, dijobloskan kedalam penjara atas dasar kejahatannya.

Markus, Matius dan Yohanes tidak jelas memberikan keterangannya dalam injil-injil mereka tentang siapa sebenarnya yang disalib. "Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan." (Markus 15:15)
Kata "sesah", dari transliterasi bahasa Yunani "φραγκέλλος (phragellōsas)" ke dalam bahasa Inggris "flogged", selain bermakna "dicemeti atau dicambuk", juga dapat diartikan sebagai "ditukar (barter), dijual, atau dirobah".

Jika penulisan injil-injil Perjanjian Baru benar, maka telah terjadi perobahan, seolah-olah yang diserahkan adalah Yesus Nazarat, padahal sesungguhnya Yesus Barabas. Probabilitas ini bukan hal yang mustahil mengingat berita dari injil-injil Perjanjian baru tidak dapat dipastikan kebenarannya karena pengumpulan berita tentang penyaliban Yesus oleh para pengarangnya bukan berasal dari mendengar atau menyaksikan sendiri peristiwanya, melainkan mengutip berita dari kisah kisah para pengabar Injil generasi awal yang tidak dapat pula dipastikan kebenarannya. 
Dalam peredaran kitab pelengkap (kitab-kitab rahasia, atau kitab-kitab apokripa), nama injil Petrus ada disebut, tetapi pekabarannya berbeda dengan Nag Hammadi. Padahal injil-injil tsb lahir dari era yang sama. Tentu perlu jangkauan akal kita terhadap sejarah secara total, apakah kitab-kitab tersebut memang memenuhi lingkup sejarah yang sebenarnya, atau telah terjadi pengeditan. Tanpa berburuk sangka pada penggali sejarah, diperlukan kemampuan khusus untuk menela'ah sejarah, mengapa pemberitaan tentang ini berbeda antara versi Koptik Mesir dan versi Yunani? Padahal keberadaan Nag Hammadi sama-sama diakui oleh dunia Kristen.

Disebutkan pula dalam kumpulan buku terbesar temuan Nag Hammadi, Yesus berkata:
"Orang lain yang merasakan empedu dan cuka, bukan aku. Orang lainlah yang memikul salib di atas pundaknya. Juga orang lain yang dipakaikan mahkota duri di atas kepalanya. Aku sendiri bersukacita di tempat tinggi. Aku mentertawai kebodohan mereka."

Ayat ini jelas mengungkapkan pernyataan Yesus sendiri yang menjawab pertanyaan apakah Yesus mati tersalib. Menurut pengakuan Yesus, yang disalib adalah orang lain, bukan dia. Penyangkalan Yesus ini, yang diungkapkan oleh kumpulan naskah terbesar Nag Hammadi menjadi bukti bahwa Yesus selamat dari penyiksaan sebagaimana dikisahkan dalam Perjanjian Baru. Apakah karena alasan temuan tsb tidak sesuai dan bertentangan dengan kisah-kisah dalam Perjanjian Baru lalu dikeluarkan dari daftar kitab kanon Perjanjian Baru?

Kitab Yohanes versi Nag Hammadi juga ternyata mendukung pernyataan Yesus. Yohanes menuliskan penrnyataan Yesus; 

"Tidak terjadi pada diriku semua yang dikatakan oleh orang-orang itu.

Menarik untuk dicatat, bagaimana riwayat tentang Yesus ditulis dalam banyak versi dan dalam beberapa fase. Penulisan alkitab oleh orang-orang Romawi diolah dengan bahasa khusus sendiri, dan ada pula yang mengolah penulisan alkitab dengan bahasa umum. Ini bisa dilihat dari tidak adanya kesamaan dari dua sisi pengabaran tentang Yesus. Satu riwayat menyebutkan Yesus mati tersalib sementara yang lainnya menyebutkan Yesus sama sekali tidak pernah disalib. 

Menyimpulkan fakta ini berdasarkan logika nalar yang terbentur pada doktrin agama memang sulit dielakkan. Tetapi pemaparan ini paling tidak adalah langkah awal, bahwa ada masalah yang belum terpecahkan dari temuan-temuan itu yang seolah ditutup-tutupi oleh otoritas pembuat doktrin. 

Kita petik nasehat Yesus dari Injil Thomas
[2] Yesus berkata, “Barangsiapa mencari, janganlah berhenti mencari sampai dia menemukan. Ketika dia menemukannya, dia akan susah hati. Ketika dia susah hati, dia akan terpana dan akan berkuasa atas segalanya.” 

[3] Yesus berkata, “Jika para pemimpinmu berkata, ‘Lihatlah, kerajaan itu ada di sorga,’ maka burung-burung di udara akan mendahului kamu. Jika mereka mengatakan, ‘Kerajaan itu ada di laut’, maka ikan-ikan akan mendahului kamu. Sesungguhnya, kerajaan itu ada di dalam dan di luar kamu. Pada saat kamu mengenal dirimu sendiri, maka kamu akan dikenal, dan kamu akan mengetahui bahwa kamu adalah anak-anak dari Bapa yang hidup. Tetapi jika kamu tidak mengenal dirimu sendiri, kamu hidup di dalam kefakiran dan kamu adalah kefakiran itu sendiri.” 
Kesimpulannya, Memahami Yesus, tidak hanya sebatas menyatakan beriman kepadanya. Tetapi harus mampu menjelajahi dimensi ruang kehidupan Yesus yang sesungguhnya. Benarkah kehidupan Yesus pada jamannya sama dengan Yesus seperti yang digambarkan oleh Alkitab?

[Sumber: Zulkarnain El-Madury | Kompasiana]

Bibel Sendiri Menyiratkan Bahwa Yesus Tidak Pernah Disalib!


Jadi, benarkah Yesus pernah disalib?
Jika pertanyaan ini diajukan kepada umat paulus, seketika itu juga mereka akan menjawab, "YA!"

Tetapi cobalah tanyakan lebih lanjut, misalnya begini, "apakah anda yakin dengan jawaban anda itu?" Lalu perhatikan dengan seksama apa jawabnya?

Mereka menjawab "YA!" tadi karena sudah terlanjur terbius oleh doktrin gereja yang mengiming-imingi janji sorga bahwa asal percaya Yesus sebagai Kristus (sebutan Mesias dalam pengertian kekristenan, atau Yesus yang "menyelamatkan" melalui soteriologi salib via dolorosa) maka dijamin jika mati nanti pasti masuk sorga!

Padahal Mesias menurut doktrin Kristen sangat berbeda dengan Mesias dalam pengertian Yahudi, satu-satunya masyarakat di dunia ini yang memiliki konsep Mesias di dalam tradisi keagamaannya, sementara pengikut kristen tnggal menjiplak dan seenak perut memodifikasinya sesuai selera sendiri.

Kematian Yesus dikayu salib harus diyakini telah "menyelamatkan" mereka, yaitu dengan mempercayai azab, penderitaan, penghinaan, kematian secara tragis yang sangat memalukan bagi 'orang suci' yang diurapi Tuhan (yang sebenarnya hanya pantas untuk orang terkutuk: Ulangan 21:22-23), kemudian bahkan menganggap tindakan barbar tersebut sebagai hal yang sakral, maka mereka telah dijamin pasti masuk surga.

Misionaris Kristen secara gencar memberitakan bahwa soteriologi salib ini berbeda dari soteriologi Islam, yang mengharuskan manusia melakukan kebaikan lebih banyak dari keburukan jika manusia ini ingin mengalami keselamatan, yakni masuk surga.

Dalam penilaian yang salah tersebut, soteriologi Islam yang menempatkan perbuatan manusia pada tempat utama, menurut para misionaris pewarta Kristen ini menyebabkan umat Muslim terus menerus merasa tidak pasti mengenai masa depan mereka di alam akhirat.

Jadi menurut umat Paulus sedunia, justru kematian melalui penyaliban Yesus dikayu salib inilah sebagai satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan mereka memasuki surga. Karena itu mereka harus percaya, asal percaya, tidak boleh meragukan sedikitpun atas dogma tersebut, menerima dengan patuh, dengan iman (sola fide). Selanjutnya mereka tinggal menerima keselamatan saja, jika mati nanti langsung masuk surga, tanpa harus membayar apapun, sebab semuanya diberikan secara gratis (sola gratia), karena Yesus, demi manusia, sudah menanggung hukuman berat ini di dalam azab, kesengsaraan dan kematiannya secara terkutuk (Galatia 3:13).

Tapi bagaimana jika ternyata Yesus tidak pernah disalib?

Melalui Al Qur'an, Tuhan yang disembah Yesus  menegaskan bahwa Yesus tidak pernah disalib.

Dan karena ucapan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa, selalu dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka benar-benar tidak tahu (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), melainkan hanya mengikuti persangkaan belaka, jadi mereka tidak yakin telah membunuhnya. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa ke hadirat-Nya. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS. 4:157-158).

Beeberapa pernyataan dari Alkitab juga menolak klaim terjadinya penyaliban terhadap Yesus.

1. MAZMUR  91 menolak klaim atas penyaliban terhadap Yesus, karena:

(a) Allah mendengar tangisannya, doanya, menghilangkan rasa takutnya (Mazmur 91:15, 5, 3) dan menyelamatkannya dari penangkapan (Mazmur 91:3). (15) Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. (5) Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, (3) Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang.

(b) Tak ada malapetaka yang akan menimpa Yesus, apalagi kematian melalui penyaliban! (Mazmur 91:10). (10) Malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu

(c) Yesus bahkan menonton pada saat orang yang mirip dengannya disalibkan (Mazmur 91:8). (8) Engkau hanya menontonnya dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik.

(d) Allah akan menurunkan para malaikat untuk melindungi dan mengangkatnya (Mazmur 91:11-12, 14). (11) Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. (12) Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu. (14) Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku

(e) Yesus hidup panjang umur dari sejak dilahirkan sampai akhir zaman saat ia turun kembali ke bumi (Mazmur 16). (16) Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku."

Ayat-ayat Mazmur ini dijadikan dasar penolakan penyaliban Yesus karena ayat ini pula yang menegaskan bahwa Yesus adalah anak kesayangan Allah dalam Perjanjian Baru (khususnya dalam Luk 4:10-12 dan Mat 4:5-10).

2. YEREMIA 23 menolak klaim atas penyaliban terhadap Yesus karena:

Yesus adalah calon raja teokratis Yahudi saat itu. (5) Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. (6) Apabila ia memerintah, orang Yehuda akan selamat, dan orang Israel akan hidup dengan aman. Raja itu akan disebut 'TUHAN Keselamatan Kita'. Hal yang sama juga dinubuatkan dalam Mazmur/ Psalm 9 (6) Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus! (7) Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. (8) Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. (9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk." Tetapi sayang, Yesus hanya menjadi 'raja sehari' seperti yang diungkap dalam Mat (21:1-9); Mark (11:1-10); Luk (19:28-38) dan Yoh (12;12-15), karena ia dikhianati oleh kaumnya yang bersekutu dengan penjajah Romawi, sehingga ia diangkat ke langit, diselamatkan (poin 1). Karena itu, nubuat dari Nabi Zakharia (9:9-10) hanya terpenuhi sampai ayat 9, (9) Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.

3. YESAYA  52 & 53, menolak klaim penyaliban terhadap Yesus karena:

(a) Yang menjadi korban adalah orang yang sangat buruk rupa (Yesaya 52:14; 53:2) (14) Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia, begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi, (2) Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Sedangkan yang disalibkan sangat tampan (setampan bintang film The Messiah), bahkan meskipun ia berlumuran darah tetap saja ia terlihat tampan di The Passion of The Christ.

(b) Yang menjadi korban adalah orang yang sangat dihinakan, selalu dijauhi orang (Yesaya 53:3) (3) Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Sedangkan Yesus bahkan sejak dilahirkan pun membuat heboh banyak orang (Mat 2:1-11; Luk 2:8-20), saat remaja telah memukau imam-imam Yahudi di Bait Allah (Luk 2:41-52), dalam kehidupannya selalu menjadi pujaan orang banyak, sangat dihormati orang (Mat 21:1-7; Mark 11:1-11; etc), diurapi roh kudus (Mat 3:16-17; Mark 1:10-11; Luk 14:15-21; Yoh 1:32), penuh mukzijat menurut 4 injil kanonikal selama masa pelayanannya, dari menyembuhkan orang sakit, memperbanyak makanan, mengusir setan dan membangkitkan orang mati.

(c) Yang menjadi korban tidak mengatakan apapun (Yesaya 53:7), sedangkan yang dianggap Yesus banyak berkata-kata, sejak mulai penangkapan sampai terjadi penyaliban (7) Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

(d) Yang menjadi korban tidak pernah melakukan kejahatan dan menipu (Yesaya 53:9) (9) Ia dikuburkan bersama orang jahat; makamnya di tengah-tengah orang kaya, walaupun ia tak pernah melakukan kejahatan, dan tak pernah menipu." Sedangkan Yesus menurut Alkitab dapat dikatakan pernah melakukan kejahatan, yaitu menjuluki anjing tanpa alasan apapun kepada seorang wanita (Kanaan, Mat 15:22-26/ Siro fenisia? Mark 7:26-27), pernah mengutuk pohon ara karena tidak ada buahnya sedangkan saat itu Yesus merasa kelaparan (Mat 21:18-20; Mark 11:12-20), pernah bersama murid-muridnya mencuri gandum bahkan di hari sabat (Mat 12, Mark 2:22, Lukas 6), dan mungkin menipu pemilik keledai karena Bibel tidak menceritakan kapan Yesus mengembalikan seekor keledai (atau 2 ekor Mat 21) yang katanya hanya dipinjam sebentar (Mark 11, Lukas 19:30).

(e) Yang menjadi korban penebus salah adalah orang yang sangat merelakan dirinya dikorbankan (Yesaya 53:10). (10) Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. Sedangkan Yesus tidak rela disalibkan, terungkap dalam doanya di taman Getsmani, sehingga beliau diselamatkan sedangkan orang yang diserupakan dengan beliau ditangkap (Mat 26:36-46; Mark 14:32-42; Luk 22:39-46).

Figur hamba Tuhan yang menderita dalam Yesaya tersebut tentu saja bukan Yesus, karena Yesus tidak memenuhi kriteria sesuai dengan apa yang tertulis di dalamnya. Dalam konteks historisnya pun, Yesaya bukan mengarah (menubuatkan) pada suatu figur mesianik yang jauh di depan, yang belum lahir, yang akan di azab, yang azab dan kematiannya menyelamatkan, menebus umat manusia di seluruh dunia dalam segala zaman, tetapi suatu figur historis tertentu pada zaman ketika Yesaya ditulis (masa Pembuangan di Babel, abad VI SM). Bisa saja figur tersebut adalah seorang imam, seorang nabi Yahudi, yang azabnya mendatangkan kesembuhan, kebaikan dan kesejahteraan bagi bangsa Yahudi sendiri, bukan untuk dunia secara universal dalam segala zaman.

Bahkan dalam dokumen Yahudi ekstrakanonik juga memuat gagasan soteriologis Yahudi yang serupa. Dalam 4 Makkabe 5:1-6:28 (50 M berdasarkan 2 Makabe 125 SM) terdapat kisah tentang Eleazar, seorang tua dari keluarga imam. Dikisahkan, menjelang ajal sebagai seorang martir di perapian yang panas bernyala-nyala Eleazar berkata, "Ya, Tuhan, Engkau mengetahui bahwa aku dapat luput. Tetapi kini aku sekarat di dalam perapian ini demi Taurat. Berilah rakhmat-Mu pada umat-Mu; semoga kekejaman yang aku alami ini melunasi semua yang harus mereka tanggung. Biarlah darahku menyucikan mereka, ambillah nyawaku sebagai suatu pengganti bagi mereka" (6:27-28). Dan, hal yang terpenting adalah kenyataan sejarah bahwa pada akhirnya para pejuang Makkabe melalui pengurbanan diri mereka sampai mati syahid secara mengerikan melawan Raja Antiokhus IV Epifanes terhadap bangsa dan agama Yahudi membuahkan kemerdekaan dan penyucian bagi bangsa Yahudi untuk jangka waktu yang cukup panjang (142-63 SM). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Yesaya 53 terpenuhi oleh Elazar, kontras dengan gerakan Yesus yang tidak menghasilkan kemerdekaan dari bangsa Romawi, bahkan akhirnya orang Islam yang membebaskan Yahudi dari cengkeraman Romawi melalui Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 640 M, sehingga dapat dibangun Bait Suci ke-3 (Masjid Al-Aqsa) diatas 'bukit suci' yang telah dijadikan tempat pembuangan sampah oleh para penyembah trinitas.

Berdasarkan hal di atas, maka sungguh benar Allah dengan firman-Nya, yang menjelaskan bagaimana mereka berselisih pendapat tentang (pembunuhan) Isa. Al-Qur'an tidak menyatakan Alkitab yang berselisih, tetapi dengan terang menyebut kata "mereka" yang artinya orang-orang, karena sebenarnya Alkitab pun menolak adanya pembunuhan dan penyaliban terhadap Yesus Isa Al-Masih 'alaihissalam. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bagian Alkitab (Perjanjian Baru) yang mengkonstruksi soteriologi salib, yang mengisahkan terbunuhnya Yesus di kayu salib, bukan berasal dari firman Allah, tetapi berasal dari orang-orang yang berselisih pendapat. Mereka inilah yang menuliskan Perjanjian Baru, jauh setelah terjadinya peristiwa penyaliban itu sendiri, yaitu pada permulaan abad kedua Masehi, dibawah arahan surat-surat Paulus (yang berisi doktrin dosa waris, penebusan dosa & pembatalan hukum Taurat yang sudah lengkap sejak tahun 50 M), dalam rangka membangun doktrin soteriologi salib dalam Perjanjian Baru.

Dengan mengkonstruksi doktrin soteriologi salib, gereja perdana berhasil mengubah kematian orang yang dianggap sebagai Yesus yang secara faktual adalah sia-sia menjadi kematian yang bertujuan sesuai keinginan mereka. Mereka juga dapat mengatasi kegoncangan jiwa dan rasa malu yang besar, dengan melakukan rasionalisasi atas berbagai hal buruk yang  sangat tragis, yang menurut mereka telah dialami oleh Yesus. Dalam rangka merasionalisasi inilah, sakralisasi terhadap jalan salib dan kematian atas orang yang dianggap sebagai Yesus dilakukan: Ya, memang Yesus harus disengsarakan dan dizalimi dan dibunuh karena semua ini sudah dikehendaki (Yunani: dei) Allah untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka (dosa warisan maupun dosa masa kini) dengan jalan mengurbankan Yesus, yang sangat sesuai dengan ajaran Paulus.

Oleh umat Kristen Perjanjian Baru, teks Yesaya dikenakan kepada orang yang dianggap Yesus, seperti dapat kita baca dalam 1 Petrus 2:22-25; khususnya ayat 24 yang memuat kutipan langsung dari teks Yesaya: "Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhnya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurnya kamu telah sembuh." Mereka juga menempelkan ayat-ayat Perjanjian Lama pada lidah dan mulut orang yang dianggap Yesus, sehingga seolah-olah Yesus memang terlahir untuk disalibkan, seolah-olah Yesus rela mati untuk menebus dosa manusia sedunia, seolah-olah Yesus mati secara terkutuk dan mengenaskan sebagai tiket gratis ke surga. Padahal semua itu tinggal mencomot isi Perjanjian Lama dan dimasukkan dalam Perjanjian Baru. Dan tentu saja orang yang tergantung di kayu salib dan mengatakan Eloi, Eloi lama sabhaktani oleh penulis Markus 15:34 dan Matius 27:46 (dengan mencomot Mazmur 22:1) bukanlah Yesus, tetapi orang yang dianggap sebagai Yesus.

Dengan demikian, ada 3 poin penting yang dapat disimpulkan, yaitu:
  1. Yesus bukanlah hamba Tuhan yang menderita (ebed YHWH) dalam Yesaya 52 dan 53, tetapi anak kesayangan Allah dalam Mazmur 91, Mesiah versi Yahudi yang akan menjadi raja teokratis Yahudi saat itu menurut Yeremia 23, Mazmur 9 dan Zakharia 9, yang dikhianati bangsanya, namun beliau 
  2. diselamatkan oleh Allah, diangkat ke langit.
  3. Yesus tidak dibunuh maupun disalibkan, meskipun peristiwa penyaliban tersebut ada, tetapi yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Yesus, bukan Yesus.
  4. Soteriologi salib tidak berasal dari Yesus, tetapi sepenuhnya ciptaan gereja perdana sesuai arahan surat-surat Paulus (seorang penyesat/ rasul palsu yang ditolak oleh Yesus/ Wahyu 2:2), yang dibangun jauh sesudah masa kehidupan Yesus. Karena itu, soterilogi salib bukan jalan keselamatan, tetapi jalan kebinasaan.
Jadi, masih percayakah anda bahwa Yesus pernah disalib sebagai free tiket untuk masuk sorga?

Bila demikian, semestinya anda saat ini sedang hidup di dalam Surga (Mat 16:28; Mark 9:1; Luk 9:27). Bila tidak, dan ternyata memang tidak, maka ini adalah bukti lain dari omong kosong inneracy Alkitab.

Nah, apa lagi yang anda tunggu?


Semoga bermanfaat