Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Sorga Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sorga Islam. Tampilkan semua postingan

Saat ini, sudah adakah penghuni sorga dan neraka?


TANYA

Saya masih bertanya-tanya ustadz, apakah surga dan neraka itu sudah berpenghuni? Kalau dari nash-nash yang pernah saya baca, di neraka sudah ada orang-orang yang disiksa, sebagaimana kabar dari Rasullah Shallallahu 'alayhi wa sallamketika naik ke Mi’raj. Bagaimana kejelasan tentang hal ini? Mohon diterangkan berdasarkan dalil-dalil yang sahih.


JAWAB
Surga adalah tempat yang disediakan Allah bagi hamba-hamba yang dicintai dan taat kepada-Nya. Di dalamnya penuh dengan kesenangan dan kenikmatan tanpa ada yang dapat mengurangi dan mengusik kesuciaannya. Kenikmatan Surga bersifat kekal. Belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran seorang pun manusia.

Neraka adalah tempat tinggal yang disediakan Allah untuk orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya, yaitu mereka yang menentang aturan-aturan-Nya, dan tidak mempercayai para rasul-Nya. Di dalamnya terdapat siksaan yang paling hina sebagai hukuman bagi musuh-musuh-Nya.

Surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah Ta’ala. Keberadaan keduanya tidak akan pernah berakhir. Allah Ta’ala menciptakan surga dan neraka sebelum menciptakan yang lain, sekaligus menciptakan penduduk di dalamnya. Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Thahawi Rahimahullah dalam bukunya yang berjudul Al ‘Aqidah At Thahawiyah.

Ibnu Abdil Izz Al Hanafi Rahimahullah memberi komentar keterangan di atas, ia mengatakan ‘mengenai pernyataannya bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan surga dan neraka, ahlus sunnah sependapat bahwa surga dan neraka memang telah diciptakan dan sudah ada sejak dahulu kala.’

Al-Qur’an mengindikasikan 'keberadaan surga' di beberapa surat. Di antaranya;

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran: 133)

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha,Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. An Najm: 13-15)

Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, telah terjadi sebuah gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Aisyah memberi kabar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Ketika Aku berdiri di sini aku melihat semua yang dijanjikan kepadamu. Aku bahkan melihatku sendiri memetik beberapa buah di surga, ketika engkau melihat aku melangkah ke depan. Dan aku melihat api neraka, beberapa bagiannya mamakan bagian-bagian yang lain, ketika engkau melihat aku melangkah ke belakang.”

Imam Bukhari Rahimahullah menyediakan Bab khusus dalam shahihnya tentang hadits-hadits mengenai diskripsi surga dan tentang telah diciptakannya surga. Beliau mengutip banyak hadits yang menunjukkan bahwa surga telah diciptakan. Diantaranya adalah hadits yang menyatakan bahwa pada saat mayit dimasukan ke dalam kubur, Allah Ta’ala memperlihatkan kepada mayit itu tempatnya di surga atau di neraka. Ada lagi hadits bahwa nabi melihat tempat Umar bin Khatab di surga.

PARA PENGHUNI SURGA DAN NERAKA
Sebagaimana yang kita telah ketahui bersama bahwa surga dan neraka telah diciptakan, lalu siapa penghuninya sekarang ini?

Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam banyak menceritakan tentang para penghuni Surga (jannah) atau neraka (jahannam), baik ketika melaksanakan mi’raj maupun ketika bermimpi atau dari mimpi para sahabat yang beliau benarkan.

Imam Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dari Asma’ bahwa Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

”Surga berada begitu dekat denganku sehingga, jika aku mau, aku dapat memetik beberapa buahnya. Neraka juga didekatkan sekali kepadaku sehingga aku berkata ‘Ya Allah, bahkan aku masih bersama mereka, aku melihat seorang dari mereka sedang dicakar oleh seekor kucing, dan aku bertanya mengapa ini? Mereka mengatakan kepadaku, ia menyekap kucing tersebut sampai mati kelaparan, ia tidak memberinya makan, atau melepaskannya supaya kucing tersebut dapat memakan tikus-tikus yang berkeliaraan di muka bumi.”

Dalam hadits yang lain ditambahkan,

”Aku juga melihat Abu Thumamah, Umar bin Malik yang sedang ditarik batang tenggorokannya di dalam neraka.”

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam melihat Amir bin Amir Al Khuja’i dikeluarkan isi perutnya di dalam neraka.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Shallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda dalam khutbahnya ketika gernaha matahari, “Aku melihat neraka, dan aku melihat sebagian isinya adalah wanita.”

Mengenai surga, Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam menceritakan dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Usamah bin Zaid,

“Aku berdiri di depan pintu surga dan melihat bahwa sebagian besar dari orang-orang yang masuk surga adalah orang-orang miskin dan papa, sedangkan yang kaya tertahan, sementara penduduk neraka diperintahkan untuk dibawa ke dalam neraka.”

Imam Tirmidzi meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Telah diperlihatkan kepadaku tiga orang pertama yang akan masuk surga: seorang mati syahid, seorang yang beramal shalih, dan seorang budak yang menyembah Allah dengan penuh keyakinan dan pengabdian serta tulus dan setia kepada tuannya.”

Rasulullah Shallahu ‘alayhi wa sallam juga menyebut bahwa Beliau melihat beberapa sahabat di dalam jannah, diantaranya sahabat Ja’far bin Abdil Muthalib, Hamzah bin Abdul Muthalib, Zaid bin Haritsah, Zaid bin Amir bin Nufail, Haritsah bin An Nu’man, dan Bilal bin Rabah.

ORANG-ORANG YANG MASUK SURGA SEBELUM HARI KIAMAT
Ada beberapa orang atau golongan yang masuk surga sebelum datangnya Hari Akhir, yaitu:
  • Nabi Adam ‘alayhi salam
Manusia pertama yang masuk surga adalah bapak umat manusia, Adam as dalilnya QS. 2:35, tetapi Adam melanggar perintah Allah Ta’ala dengan memakan buah dari pohon yang telah dilarang, lalu Allah mengirim adam dari surga ke dunia yang penuh penderitaan dan kekurangan.
  • Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam
Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Aisyah, telah terjadi sebuah gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam. ‘Aisyah memberi kabar bahwa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa sallambersabda,

”Ketika aku berdiri di sini aku melihat semua yang dijanjikan kepadamu. Aku bahkan melihatku sendiri memetik beberapa buah di surga, ketika engkau melihat aku melangkah ke depan. Dan aku melihat api neraka, beberapa bagiannya mamakan bagian-bagian yang lain, ketika engkau melihat aku melangkah kebelakang.”
  • Para Syuhada
Di antara orang yang akan masuk surga sebelum hari kiamat adalah para syuhada fi sabilillah. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Masruk bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tentang ayat 169 dari Surat Ali Imran, Ia berkata kami juga menanyakan hal itu, dan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Arwah mereka berada dalam perut burung burung berwarna hijau dan mereka mempunyai cahaya yang datang dari Arsy. Mereka berkeliaraan di surga ke mana saja mereka inginkan, kemudian mereka mencari perlindungan di bawah cahaya itu. Rabb mereka akan datang secara tiba tiba kepada mereka lalu bertanya, apakah kalian menginginkan sesuatu? Mereka menjawab ‘apalagi yang kami inginkan, sementara kami dapat pergi ke mana saja yang kami inginkan di surga’, Allah Ta’ala akan datang dan menanyakan hal tersebut tiga kali. Ketika mereka sadar bahwa mereka tidak diijinkan menjawab tidak, lalu mereka berkata’ Ya Rabb, bisakah kami dikembalikan lagi ke tubuh tubuh kami dan dibunuh sekali lagi di jalanmu ? Ketika Allah Ta’ala mengetahui bahwa mereka tidak mempunyai keinginan atau keperluan apa-apa lagi, maka Allah Ta’ala membiarkan saja mereka.”

Siapa saja dari manusia yang meninggal dunia maka baginya akan diperlihatkan tempatnya di surga atau di neraka, pada waktu pagi dan sore.

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

”Apabila seseorang meninggal akan diperlihatkan tempatnya pada pagi dan sore hari. Jika ia calon penghuni surga ia akan menjadi penghuni surga, jika ia calon penghuni neraka ia akan menjadi penghuni neraka, lalu dikatakan kepadanya inilah tempatmu sekarang, sampai Allah Ta’ala memasukanmu kedalamnya pada hari kiamat nanti."

Sebagai bahasan terakhir, pernyataan Imam Nawawi di dalam syarh sahih Muslim di bawah ini perlu diperhatikan:

“Orang-orang yang dikabarkan berada di dalam jannah bukan berarti ia sudah berada di jannah, hal itu adalah sebagai kabar gembira bagi para sahabat dengan kesaksian Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, baik di dalam mimpinya maupun ketika mi’raj. Apabila penghuni surga sudah ada sebelum Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam, berarti bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,”Aku datang ke pintu jannah dan meminta supaya pintu itu dibuka. Penjaga jannah bertanya,”Siapakah engkau”? Aku berkata, ”Muhammad.” Penjaga surga berkata lagi, ”Aku diperintah untuk tidak membuka pintu ini bagi siapa saja sebelum engkau.”

Beberapa sahabat yang dikabarkan masuk jannah mereka masih hidup dan mustahil mereka ketika itu berada di dalam jannah. Al Kirmani berkata, ”Seseorang tidak akan masuk surga kecuali setelah ia mati.” [lihat Syarh Shahih muslim]

KESIMPULAN
Bahwasannya Rasulullah adalah orang yang pertama kali masuk janah dan tidak ada orang yang mendahuluinya. Orang orang yang dikabarkan di dalam jannah atau di neraka adalah wahyu sebagai kabar gembira atau peringatan. Para syuhada akan diizinkan mengunjungi jannah, sebagai keutaman bagi mereka, namun mereka belum menikmati jannah dengan jasadnya.

Wallahu 'alam bissyawwab.

[sumber: www.kiblat.net]

REF:
Syirah Aqidah Thahawiyah, Muhamad ibnu Abdil Izz, darul ‘alam alkutub, cet ketiga, 1418 H / 1997 M.Fathul Bary, ibnu hajar asqolani, jilid 2, darul kutub ilmiyah, cet pertama 1410 H / 1989 M.Surga dan neraka, Sulaiman Al asqor, serambi ilmu semesta, cet kesatu, 1421 H / 2000 M.Syareh Shahih Muslim, Imam Nawawi. 

Sorga Yang Dijanjikan Oleh Allah

SORGA yang dalam bahasa Arab disebut al-Jannah diambil dari ungkapan al-hadiqah zatusy-syajar (kebun atau taman yang terdiri dari berbagai macam pepohonan). Ini untuk menggambarkan pada benak orang Arab ketika itu bahwa ada suatu tempat yang sangat indah nan diliputi berbagai macam kenikmatan luar biasa. Kontras sekali dengan wilayah Jazirah Arab yang kering kerontang dari hamparan padang pasir.

Keistimewaan surga dan kenikmatan yang ada di dalamnya digambarkan Allah SWT dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, 

"Aku (Allah) telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh suatu balasan (surga) yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati.” [HR Bukhari].

Setelah Rasulullah SAW menggambarkan surga, Beliau SAW kemudian membaca ayat Alquran,

“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS As-Sajadah [32]: 17).

Kenikmatan yang diberikan Allah SWT di dalam surga bersifat kekal, tidak pernah habis, dan banyaknya tak terhitung. Dari semua kenikmatan tersebut, nikmat yang paling tinggi yang akan dirasakan penghuni surga ialah menyaksikan Allah SWT. Seperti diterangkan dalam firman-Nya,

"Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya." (QS Al-Qiyamah [75] :22-23).

Luas surga digambarkan seluas langit dan bumi. Seperti diterangkan Alquran, 

"Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS Ali Imran [3]: 133). 

Disebutkan pula, di dalamnya mengalir sungai-sungai yang bermacam-macam dan diberi nama sesuai dengan keadaan dan sifat airnya.

Ada sungai air jernih, yaitu airnya selalu dalam keadaan jernih, tidak berubah rasa dan baunya. Ada pula sungai susu karena airnya terdiri atas air susu yang juga tidak berubah rasanya. Kemudian, ada juga sungai arak (khamar), yaitu airnya terdiri atas khamar yang sangat lezat rasanya, tapi tidak memabukkan. Selanjutnya, ada pula sungai madu, yang airnya terdiri atas madu yang disaring. (QS Muhammad [47]: 15).

Perhiasan yang diberikan kepada penghuni surga terdiri atas emas, mutiara, serta pakaian yang terbuat dari sutra. (QS Fathir [35]: 33), baik sutra yang halus tipis maupun tebal. (QS Ad-Dukhan [44]: 53). Sedangkan, makanan dan minuman mereka terdiri atas berbagai macam jenis, terserah apa saja yang mereka inginkan, semuanya tersedia. (QS Az-Zukhruf [43]: 71).

Penghuni surga benar-benar dimanjakan. Piring-piring dan gelas-gelas mereka saja semuanya terbuat dari emas. Di samping peralatan dari emas, ada pula peralatan yang terbuat dari perak dan kristal (QS Al-Insan [76]: 15). Di samping itu, penghuni surga dilayani pelayan-pelayan muda bagaikan mutiara yang bertaburan dengan pakaian sutra yang sangat indah dan menyedapkan pandangan mata. Mereka tetap tinggal muda dan tidak pernah berubah menjadi tua. (QS Al-Insan [76]: 19-21).

Di dalam surga juga tidak ada lagi permusuhan, tidak ada perasaan dengki antarsesama penghuninya. Hidup mereka rukun dan damai bagaikan saudara-saudara kandung. Mereka tidak pernah merasa penat, lelah, atau letih. (QS Al-Hijr [15] :45-48).

Penduduk surga juga tidak pernah melakukan perkataan dusta, omong kosong, apalagi yang bersifat dosa. Seluruh yang keluar dari lisan mereka hanyalah perkataan kedamaian dan kebaikan. (QS Al-Waqi'ah [56] : 25-26). Di samping itu, penduduk surga juga tidak mengenal adanya usia tua dan muda. Umur para penghuninya sebaya dan tidak pernah bertambah tua. Semua mereka dalam keadaan sehat dan tidak pernah dihinggapi penyakit.

Penduduk surga atau mereka yang akan memasukinya disebut dengan ahlul jannah atau ashabul jannah. Mereka adalah orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Tapi, bukan berarti orang mukmin yang belum mencapai derjat mutakin (takwa) tidak bisa masuk ke dalamnya. Setiap orang mukmin di akhirat kelak akan ditimbang amal baik dan buruknya. Allah SWT bersikap sangat adil dalam hal ini. Jika amal baik lebih berat dan lebih banyak dari amal yang jahat, ia akan dimasukkan ke dalam surga. Tapi, sebaliknya, jika amal yang jahat lebih banyak, ia akan dimasukkan ke dalam neraka.

Hukuman yang diberikan Allah SWT di dalam neraka setimpal dengan kejahatan yang dilakukan orang tersebut. Setelah habis masa hukuman itu, ia akan dimasukkan ke dalam surga dalam keadaan tubuh dan jiwa yang sudah suci. Karena itu, tidak ada orang mukmin yang akan kekal dalam neraka.

Seberat-beratnya siksa yang dideritanya, pada akhirnya ia akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Seperti diterangkan Rasulullah SAW dalam hadits dari Abu Sa‘id al-Khudri, 

"Para penghuni surga akan masuk ke surga dan penghuni neraka akan masuk ke dalam neraka. Kemudian, Allah berfirman, 'Keluarkanlah dari neraka itu orang yang ada di dalam hatinya iman sekalipun sebesar biji sawi'. Mereka lalu dikeluarkan dari neraka dalam keadaan tubuh yang hitam hangus dan kemudian dimasukkan ke dalam nahr al-hayah (sungai kehidupan). Kemudian, mereka tumbuh seperti tumbuhnya benih di samping tanah yang terkena banjir. Tidaklah engkau tahu bahwa benih itu akan keluar kekuning-kuningan dan berseri-seri." [HR Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i].

Orang-orang yang berdosa juga bisa mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW di akhirat kelak. Di samping memberikan syafaat ‘uzma (besar), Rasulullah SAW juga memberikan syafaat yang lain setelah mendapat izin dari Allah SWT. Dengan demikian, bisa saja orang Mukmin yang berdosa besar mendapat syafaat dari Rasulullah SAW sehingga dikeluarkan dari neraka.

Hadits Hadits Shahih Tentang Sorga


Rasulullah SAW telah menerangkan sifat-sifat Surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertaqwa dengan keterangan yang lengkap.

Keterangan ini membuat tenteram hati orang-orang yang beriman. Orang-orang yang shalih merasakan kenikmatan dengan mengetahuinya, sementara orang-orang yang bertaubat merasakan kesenangan dengan mengingatnya.

1. Orang yang Pertama Kali Masuk Surga
Dari Annas bin Malik radiyallahu ‘anhu, ia berkata bawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada hari Kiamat nanti, aku akan mendatangi pintu Surga, kemudian aku meminta untuk dibukakan (pintunya), maka penjaganya bertanya, ‘Siapa Anda?’ Aku menjawab, ‘Muhammad’. Selanjutnya dia berkata, ‘Hanya untukmu aku diperintahkan agar membuka pintu ini dan dilarang bagi seorangpun sebelummu”. [HR. Muslim no. 188]. 

Dari Hudzaifah radiyallahu ‘anhu, ia berkata bawa Rasulullah bersabda, “Semua anak adam berada di bawah panjiku pada hari Kiamat, dan aku orang pertama yang dibukakan pintu Surga”. [lihat Shahiihul Jaami’ no. 6995]. 

2. Sifat Kelompok Orang Yang Pertama Masuk Surga
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang pertama kali masuk Surga laksana bulan di malam pertama. Orang yang masuk setelah mereka laksana bintang yang sangat terang di langit yang cerah. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak beringus, dan tidak meludah. Sisir mereka terbuat dari emas. Keringat mereka adalah minyak kesturi. Tempat Bukhur (Pewangi ruangan dan tubuh) mereka adalah batang kayu gaharu. Isteri-isteri mereka semuanya adalah bidadari, bentuk tubuh mereka semuanya sama yaitu seperti bentuk tubuh bapak mereka Adam; tingginya enam puluh hasta di langit”. [Muttafaq ‘alaih_Bukhari no.3327 dan Muslim no.2834]. 

3. Pintu-Pintu Surga 
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menginfakkan sepasang hartanya (emas, perak dan lain-lain) di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu Surga, ‘Wahai hamba Allah, ini baik’. Barangsiapa yang termasuk ahli shalat, dia akan dipanggil dari pintu ahli shalat. Siapa yang termasuk ahli jihad, akan dipanggil dari pintu jihad. Siapa yang termasuk ahli puasa akan dipanggil dari pintu ‘ar-Rayyan‘. Siapa yang termasuk ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah. Abu Bakar radiyallahu ‘anhu berkata, ‘Ayah ibuku menjadi tebusanmu Wahai Rasulullah, tidak mengherankan orang-orang itu masing-masing dipanggil dari pintu tersebut, tetapi apakah ada yang dipanggil dari seluruh pintu tersebut?’ Beliau menjawab: ‘Ya, semoga engkau termasuk dari mereka’”. [Muttafaq ‘alaih_Bukhari no.1897 dan Muslim no.1027]. 

Dari Sahl bin Sa'ad ia berkata, Rasulullah bersabda, “Di dalam surga ada delapan pintu, di antaranya ada yang bernama ‘ar-Rayyan’. Pintu itu tidak dimasuki kecuali hanya oleh orang-orang yang berpuasa”. [HR. Al-Bukhari no. 3257] 

4. Tidak Ada Kematian dalam Surga 
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Jika penduduk Surga sudah masuk ke Surga, maka ada yang berseru: ‘Sesungguhnya kalian akan hidup dan tidak akan mati, kalian akan tetap sehat dan tidak akan sakit, kalian aka tetap muda tidak akan tua, kalian juga akan selalu hidup senang dan tidak akan mendapat kesusahan”. [HR. Muslim no.2837 diriwayatkan oleh Ahmad no.11905 dan at-Tirmidzi no. 3246]

5. Kedudukan Penghuni Surga dan Tingkatan-Tingkatan Surga 
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Sipa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan, maka wajib bagi Allah untuk memasukkannya ke Surga, baik dia hijrah di jalan Allah atau tetap tinggal di tanah airnya. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kita memberitahukan ini kepada orang banyak?’ Beliau berkata, ‘Sesungguhnya di Surga ada seratus tingkatan yang telah disediakan oleh Allah bagi para Mujahidin fii Sabilillah, setiap dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi, maka jika kalin memohon kepada Allah, mohonlah Surga ‘Firdaus’ yang tinggi, karena Surga Firdaus itu ada di tengah-tengah Surga dan paling atas, dan di atsnya terdapat ‘Arsy ar-Rahman. Dari san sungai-sungai mengalir’ “. [HR. Al-Bukhari no.742, lihat juga Shahiihul Jaami’ no. 7873] 

Jihad yang dimaksud adalah sebenar-benarnya jihad, bukab jihad menurut pemahaman mereka yang membuat kerusakan di muka bumi dengan menggunakan brbagai bentuk kekerasan. Mereka beranggapan bahwa perbuatan mereka adalah Jihad fii Sabilillah. Allahu ‘alam itu adalah urusan mereka dengan Allah. 

6. Sifat-Sifat Penduduk Surga
Dari Mu’adz bin Jabal radiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Penghuni Surga akan masuk Surga dengan tubuh dan wajah yang tidak berbulu dan bercelak, mereka berumur 30 tahun atau 33 tahun.” [Shahiihul Jaami’ no. 7928]. 

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Akan masuk Surga sekelompok kaum yang hati mereka seperti burung (yaitu dari isi kelembutan, ketakutan dan kehormatan)”. [Shahiihul Jaami’ no.7924] 

Dari Anas bin Malik, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Orang mukmin di Surga akan diberi kekuatan sekian dan sekian dalam urusan jima.’  Ada sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah dia mampu untuk itu?’ Nabi menjawab: ‘Dia akan diberi seratus kekuatan’”. [Shahiihul Jamii’ no. 7962]. 

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa yang masuk Surga akan hidup senang dan tidak akan mengalami kesusahan, pakaiannya tidak akan lusuh dan masa mudanya tidak akan sirna.” [HR. Muslim no. 2836, diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad no. 8835, 9290].

7. Wanita-Wanita Penduduk Surga 
Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Berangkat pagi-pagi atau siang hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sungguh tempat satu hasta kalian di Surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kalaulah seorang wanita penduduk Surga menampakkan dirinya kepada penduduk dunia, niscaya dia akan menerangi antara keduanya dan bumi akan penuh dengan wewangian. Sungguh, penutup kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya”. [HR. Al-Bukhari]. 

Dari Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Ssungguhnya para isteri penghuni Surga bernyanyi untuk suami-suami mereka dengan suara yang sangat merdu, yang tidak pernah di dengar oleh siapapun. Di antara bait yang mereka dendangkan:

Kami adalah wanita-wanita yang cantik jelita
Kami para isteri kaum yang mulia
Kami melihat dengan mata yang indah
Demikian juga di antara bait yang mereka dendangkan adalah :
Kami adalah wanita-wanita abadi, yang tidak akan mati
Kami adalah wanita-eanita yang merasa aman,tidak merasa takut
Kami adalah wanita-wanita yang menetap, tidak akan berpindah.”

[Shahiihul Jaami’ no. 1557]

8. Makanan dan Minuman Penghuni Surga
Dari Jabir radiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Para penduduk Surga akan makan dan minum di dalamnya, mereka tidak buang air besar, tidak beringus dan tidak buang air kecil. Akan tetapi makanan mereka menghasilkan sendawa yang wanginya sewangi minyak kesturi. Mereka diberikan insting untuk bertasbih dan bertahmid seperti kalian diberi insting untuk bernafas.” [HR. Muslim no. 2835, diriwayatkan oleh Imam Ahmad no.14408, Abu Dawud no.4741]. 

Dari Muawiyah bin Haidah ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di Surga ada lautan Air, lautan madu, lautan susu, lautan khamr, kemudian darinya sungai-sungai mengalir.” [Shahiihul Jaami’ no.2118]. 

Dari Anas, Rasulullah bersabda, “Apakah kalian tahu apa ‘al-Kautsar’ itu? al-Kutsar adalah sungai yang diberikan kepadaku dari Rabbku di Surga. Dia memiliki banyak kebaikan, ummatku akan mendatanginya pada hari kiamat, jumlah bejananya sebanyak jumlah bintang di langit. Ada seorang hamba yang dicegah bergabung dengan mereka, maka akupun memprotes, ‘Wahai Rabbku, dia adalah bagian dari ummatku’, lalu akan dijawab, ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah engkau meninggal’”. [Shahiihul Jaami’ no.6904].

9. Pemandangan di Surga 
Di Surga ada kenikmatan yang abadi, kebaikan yang merata, dan Rahmat dari Allah ar-Rahman dan ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Di sana ada dipan-dipan tinggi yang terlihat bersih dan suci, ada gelas-gelas yang tertata rapi yang disediakan untuk minum, tidak perlu diminta dan dipersiapkan. Ada bantal-bantal dan tilam-tilam untuk beralaskan di waktu santai. Di sana terhampar karpet-karpet dan sajadah-sajadah untuk perhiasan dan bersuka ria. 

Semua nikmat yang disebutkan dalam Kitabullah atau Sunnah Nabi-Nya, namanya sama dengan yang dilihat di dunia. Tetapi ketika benda-benda ini disebut namanya, hanyalah sebagai penamaan saja agar bisa dipahami penduduk dunia. Adapun yang sebenarnya dan hakekat kesenangan-kesenangan tersebut diserahkan kepada Allah yang Mahaagung, Mahabijaksana, lagi Yang menegakkan seluruh langit dan bumi. Adapun karakter kenikmatan Surga diserahkan kepada cita rasa kenikmatan di sana, sesuai dengan cita rasa orang-orang yang Allah berikan cita rasa tersebut kepada mereka. 

Kehidupan penduduk Surga semua berisi kesejahteraan an diliputi kemakmuran. Para Malaikat mengucapkan salam sejahtera kepada penduduk Surga dalam keadaan yang sentosa, mereka saling mengucapkan salam satu dengan yang lainnya, dan mereka dikirimi salam oleh ar-Rahman. Suasananya seluruhnya mencerminkan kedamaian. [lihat Al-Yaumul Akhir fii Zhilaalil Qur’an, hal.321-323 dengan ringkas]. 

(a) Kamar-Kamar di Surga 
Dari Abu Sa’id al-Kuhudri radiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya para penduduk Surga berusaha untuk melihat penhuni-penghuni kamar yang ada di atas mereka, sebagaimana kalian berusaha melihat bintang yang bergemerlapan cahanya di langit sebelah timur atau barat karena perbedaan keutamaan di antara mereka. Para sahabat bertanya,“‘Wahai Rasulullah, apakah itu kedudukan para Nabi yang tidak mungkin dapat dicapai oleh selain mereka?’ Beliau menjawab, ‘Tentu, demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Dari Abu Malik al-Asy’ari, bahwa Nabi bersabda, “Di Surga ada kamar-kamar yang bagian luarnya bisa dilihat dari dalam dan sebagian dalamnya bisa dilihat dari luar. Itu disediakan Allah bagi orang yang memberikan makanan, melembutkan ucapan, selalu berpuasa dan shalat di waktu malam ketika manusia sedang terlelap tidur”.[Shahiihul Jaami’ no.2119]. 

(b) Kemah-Kemah, Taman-Taman dan Tanah Surga 
Dari Abu Musa al-Asy’ari radiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Bagi orang mukmin di Surga ada sebuah kemah dari mutiara yang berlubang. Panjangnya enam puluh mil, di dalamnya orang-orang mukmin diberi isteri-isteri yang apabila ia menggilir mereka, masing-masing tidak melihat yang lainnya”. [Muttafaq ‘alaih]. 

(c) Pohon di Surga 
Dari Abu Sa’id al-Kuhudri radiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Di Surga ada dua pohon yang apabila orang melintasinya dengan naik kuda yang terlatih dan cepat selama seratus tahun, niscaya tidak akan selesai melewatinya.” [Muttafaq ‘alaih]

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda, 

ﻣﺎ ﻓﻲﺍﻟْﺠﻨﺔِ ﺷﺠﺮَﺓٌ ﺇﻻَّ ﻮَﺳﺎ ﻗﻬﺎ ﻣﻦْ ﺬَﮪﺏ
“Tidak ada sebuah pohonpun di Surga, melainkan batangnya terbuat dari emas”. [Shahiihul Jaami’ no. 5523]. 

(d) Pasar di Surga 
Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Di Surga ada sebuah pasar yang diadakn hanya pada hari Jum’at. Maka keika itu angin berhembus dari utara kemudian menerpa wajah-wajah mereka hingga menjadikannya semakin indah, merekapun kembali kepada isteri-isteri mereka dalam keadaan yang semakin bagus dan tampan, maka isteri-isteri mereka berkata: ‘Demi Allah, kalian semakin bagus dan tampan setelah meninggalkan kami.’Mereka juga berkata: ‘Kalian juga semakin bagus dan cantik setekah kami tinggalkan”. [HR. Muslim] 

(e) Istana-Istananya 
Dari Jabir bin ‘Abdullah radiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda, “Aku masuk Surga, ternyata di sana ada sebuah istana dari emas, maka aku bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ mereka berkata, ‘Milik seorang pria Quraisy’. Aku mengira orang itu adalah diriku, maka aku bertanya, ‘Siapa dia?’ mereka menjawab, ‘Umar bin al-Khathab’. Ketika itu tidak ada yang menghalangiku untuk memasukinya, melainkan aku tahu rasa cemburumu. ‘Umar berkata, ‘Apakah pantas aku cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?”. [Muttafaq ‘alaih]. 

(f) Sungai-Sungainya 
Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi bersabda, “Aku masuk ke Surga, ternyata di sana ada sungai yang di pinggirnya ada kemah-kemah yang terbuat dari mutiara. Maka aku memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu, ternyata airnya adalah minyak kesturi yang sangat harum, lalu akau bertanya, ‘Apa ini, Wahai Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalh kautsar yang diberikan Allah kepadamu.” [Shahiihul Jaami’ no.3260]. 

10. Kenikmatan Penghuni Surga yang Paling Agung 
Dari Shuhaib bin Sinan, Rasulullah bersabda, “Bila penduduk Surga telah masuk Surga dan penduduk Neraka telah masuk Neraka, maka ada yang berseru, ‘Wahai penduduk Surga, sesungguhnya kalian memiliki janji di sisi Allah yang ingin Dia tunaikan kepada kalian’, maka mereka bertanya, ‘Apakah itu?’ bukankah Allah telah memberatkan timbangan amal kebaikan kami, memasukkan kami ke Surga dan menyelamatkan kami dari Neraka?’ Maka disingkaplah tirai, merekapun melihat kepada Allah. Demi Allah, Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang paling mereka cintai dan yang paling menyejukkan pandangan mereka dai pada melihat-Nya.” [Shahiihul Jaami’ no.535_lihat juga Syarhul ‘Aqidah ath-Thahaawiyyah, hal.144 dan Mawaariduzh-Zham-aan “IV/131-136″] 

11. Penduduk Surga yang Paling Rendah dan Paling Tinggi Derajatnya 
Dari al-Mughirah bin Syu’bah, Rasulullah bersabda, “Musa bertanya kepada Rabbnya, ‘Siapa penduduk Surga yang paling rendah tingkatannya?’ Allah menjawab, ‘Seseorang yang datang setelah seluruh penduduk Surga masuk ke Surga. Maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam Surga.’ Orang itu berkata, ‘Bagaimana caranya,Wahai Rabbku? Semuanya telah menempati tempatnya dan mengambil bagiannya.’ Maka dikatakan kepadanya, ‘Apakah kamu rela bila memiliki kerajaan seperti milik seorang raja di dunia?’ Orang itu menjawab: ‘Tentu..aku rela wahai Rabbku.’ Allah berkata kepadanya, ‘Inilah bagianmu dan yang semisalnya, semisalnya dan semisalnya lagi. Pada yang kelima kalinya dia berkata, ‘Tentu! Aku rela wahai Rabbku.’ Selanjutnya Allah berkata: ‘Ini adalah bagianmu dan sepuluh kali lipatnya. Bagimu pula segala apa yang diingini oleh jiwamu dan yang menyenangkan pandanganmu.’ Maka dia berkata, ‘Aku rela wahai Rabbku. Siapa yang paling tinggi derajatnya?’ Mereka orang-orang yang aku pilih. Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku sendiri dan Aku tutup dengannya. Kenikmatan itu tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” [HR. Muslim].


[Sumber: Cinta Islam]

Allah Menjamin Sorga Bagi Seluruh Umat Nabi Muhammad SAW


Di dalam Al-Quran Al-Karim dan Hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam terdapat sekian banyak kabar gembira dan ancaman dari Allah kepada  hamba-Nya yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Jika Allah telah berjanji, maka tidak ada keraguan bahwa Dia pasti akan menepatinya. Demikian pula jika Dia telah memberi peringatan dan ancaman kepada hamba-Nya maka Dia pasti akan membuktikan ancaman tsb jika Dia tidak berkenan mengampuni kesalahan-kesalahan hamba-Nya.

Di antara janji Allah kepada seluruh hamba-Nya tanpa membedakan antara satu dengan yang lainnya adalah; kabar gembira bahwa siapa pun dijamin akan masuk surga jika sungguh-sungguh beriman dan bertakwa kepada-Nya serta mengikuti dan mentaati syariat Rasul-Nya, shallallahu alaihi wasallam.

Berikut ini adalah beberapa di antara ayat-ayat Al-Quran dan hadits shahih yang menerangkan hal itu. 

1. Allah ta’ala berfirman: “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

2. Allah ta’ala berfirman: “Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar.” (QS. At-Taubah: 72)

3. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam surga dan kenikmatan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka; dan Rabb mereka memelihara mereka dari azab neraka. Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”. Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.”  (QS. Ath-Thuur: 17-20)

4. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (QS. Al-Kahfi: 107-108)

5. Allah ta’ala berfirman: “Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal shalih, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah.” (QS. Al-Kahfi: 30-31)

6. Allah ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu, berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya. “Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja kami kehendaki”. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar: 73-74)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ : « مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan (tidak mau masuk surga).” [HR. Al-Bukhari no.6851, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu].

BEBERAPA PELAJARAN PENTING 
DARI FIRMAN ALLAH DAN HADITS NABI 
DALAM PERKARA INI


PELAJARAN PERTAMA
Orang-orang yang dijanjikan oleh Allah pasti masuk Surga dan bebas dari siksa api Neraka adalah siapa saja yang memiliki sifat dan perilaku sebagai berikut:
  1. Beriman kepada Allah dengan baik dan benar.
  2. Selalu giat dalam beramal shalih atau bertakwa kepada Allah kapan dan dimana pun ia berada.
  3. Selalu bersikap taat dan tunduk serta mengikuti syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di dalam Al-Quran Al-Karim dan Al-Hadits yang shohih.

PELAJARAN KEDUA

Amal Shalih atau perbuatan baik adalah bagian dari makna dan hakekat iman. Bahkan amal shalih adalah konsekuensi dan tanda kejujuran iman seorang hamba. Maka dari itu, dalam banyak ayat, Allah ta’ala selalu menyebutkan amal shalih berdampingan dengan iman.

PELAJARAN KETIGA
Makna iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah ialah: Pembenaran dengan hati, ucapan dengan lisan, dan perbuatan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dan menguat dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan akan berkurang dan melemah dengan berbuat maksiat kepada Allah, dan mengikuti seruan-seruan setan.

Dengan demikian, seorang muslim yang berbuat maksiat atau dosa besar selain kesyirikan, kekufuran dan kemunafikan yang besar, maka tidak boleh "dikeluarkan" dari agama Islam atau divonis sebagai orang kafir dan musyrik atau murtad. Akan tetapi menurut aqidah dan manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwa muslim yang berbuat dosa besar hanya dihukumi di dunia ini sebagai muslim fasiq, atau mukmin yang lemah dan tidak sempurna imannya. Sedangkan di akhirat ia berada di bawah kehendak Allah, atau terserah kepada Allah.

Jika Allah, insha Allah, berkehendak mengampuni dosa-dosanya, maka ia akan terbebas dari siksa api Neraka dan berhak masuk surga secara langsung. Namun jika Allah tidak mengampuninya, maka ia akan disiksa di dalam api Neraka sesuai dengan kadar dosa-dosanya, lalu setelah itu ia akan dikeluarkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan yang hakiki dan kekal abadi.

PELAJARAN KEEMPAT
Jalan yang dapat mengantarkan seorang hamba memasuki  Surga Allah hanya  satu, yaitu jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan diikuti oleh para sahabat beliau radhiyallahu anhum ajma’in. Hal ini diterangkan dalam salahsatu sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

« مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ »
“Barangsiapa mentaatiku, ia pasti masuk Surga!”


Ini sesuai dengan firman Allah ta’ala yang artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah (surga-surga) yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100).

PELAJARAN KELIMA
Barangsiapa yang mengaku CINTA RASUL dan ingin masuk Surga, akan tetapi pada kenyataannya ia selalu menyelisihi dan menentang ajaran beliau dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, akhlak dan adab, maka pengakuan cintanya kepada Rasul itu bohong, dan ia dipastikan jatuh dalam kesesatan dan berakhir di Neraka. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Barangsiapa menentang Ar-Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalannya kaum mukminin, maka Kami biarkan dia leluasa bergelimang dalam kesesatan (berpaling dari kebenaran), dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’ : 115).

Demikian beberapa pelajaran penting dari ayat-ayat di atas secara ringkas. Semoga dapat dipahami dan bermanfaat bagi kita semua.
Amin, Ya, Rabbal Alamin.


[Klaten, 21 April 2012 | Muhammad Wasitho Abu Fawaz]


Jaminan Sorga Bagi Nabi Muhammad Saw Dan Pengikutnya



  • Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad akan masuk sorga
Agar Allah mengampuni dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukimu jalan yang lurus. (QS. Al-Inshiqaq :2)
  • Allah memberikan jaminan bahwa Nabi Muhammad yang pertama masuk sorga.
Hadits riwayat Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Aku datang ke pintu sorga pada hari kiamat, lalu aku meminta supaya pintu sorga dibuka. Penjaga sorga bertanya: “Engkau siapa?” Saya menjawab: “Muhammad!” Lalu dia berkata: “Saya diperintahkan, supaya tidak membukakan pintu sorga kepada siapapun sebelum engkau.”
  • Allah memberikan jaminan bahwa 10 sahabat Nabi masuk sorga.
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang petama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dengan mereka dan mereka ridho kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka sorga-sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)
  • Allah memberikan jaminan bahwa 70.000 umat Nabi Muhammad akan masuk sorga tanpa hisab
Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata: “Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang Nabi atau dua orang Nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang Nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya,’ lalu dikatakan, ‘Perhatikanlah ke ufuk.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.’ Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, ‘Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk sorga tanpa hisab, sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, ‘Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.’ Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, ‘mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak minta di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal.” [HR. Bukhari  No. 8270]

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: "aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Akan masuk sorga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan.” [HR. Bukhari]
  • Allah memberikan jaminan bahwa umat Islam masuk sorga
Hadits Nabi,
يأبى قال من أطاعني دخل الجنة ومن عصاني فقد أبى رواه البخاري
Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Setiap ummatku pasti akan masuk sorga, kecuali yang tidak mau.” Shahabat bertanya, “Ya Rasulallah, siapa yang tidak mau?” Beliau menjawab, “Mereka yang mentaatiku akan masuk sorga dan yang menentangku maka dia telah enggan masuk sorga.”

Dari Abi Said bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bila ahli sorga telah masuk sorga dan ahli neraka telah masuk neraka, maka Allah SWT akan berkata, Orang yang di dalam hatinya ada setitik iman, hendaklah dikeluarkan. Maka mereka pun keluar dari neraka.”

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Dikeluarkan dari neraka orang yang mengucapkan dan di dalam hatinya ada seberat biji dari kebaikan.”

Rasulullah Saw bersabda: “Semua ummatku akan masuk sorga, kecuali orang yang enggan (tidak mau).” [HR. Bukhori 22/248]

Dari sedikit penjelasan di atas, maka sangat jelas bagi siapa saja yang mengerti bahasa Indonesia, bahwa Nabi Muhammad saw sudah dijamin oleh Allah sebagai penghuni Sorga!

Adapun kaum kuffar dan kaum munafik yang selalu berteriak-teriak menyerukan pemahaman mereka yang keliru tentang Nabi Muhammad saw yang menurut mereka belum dijamin masuk sorga, sebenarnya adalah bukti nyata betapa jauh mereka terperangkap dalam kebodohan diri sendiri sehingga sama sekali tidak mampu melihat kebenaran sejati sebagai akibat terlalu banyak dicekoki dogma "melawan akal" oleh para Bapa Gereja! 


Salam bagi kaum yang mengikuti petunjuk!


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

BACA JUGA


Jaminan Sorga Bagi Setiap Muslim



Berikut adalah sebagian dari kumpulan hadits Shahih tentang jaminan sorga bagi setiap umat Islam:

Al-Bukhari[1] dalam kitab Shahih-nya meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari r.a., bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW: 'Tunjukkan kepadaku amalan apa yang dapat memasukkan aku ke dalam surga?" Beberapa dari yang hadir bertanya: "Gerangan siapa dia?" Jawab Nabi SAW: "la adalah seorang cerdik pandai," seraya melanjutkan sabdanya: "Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, menegakkan shalat, membayar zakat dan menghubungi sanak kerabat."

Demikian pula Al-Bukhari meriwayatkan bahwa seorang Arab Badui datang menghampiri Nabi SAW seraya bertanya: "Beritahukan kepadaku tentang suatu amal perbuatan; bila kulaksanakan, aku dapat masuk surga." Jawab Rasulullah SAW: "Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun, mendirikan shalat yang fardhu, mengeluarkan zakat yang wajib, serta berpuasa di bulan Ramadhan." Maka orang itu berkata: "Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, aku tidak akan berbuat lebih dari ini!" Setelah orang itu pergi, Nabi SAW berkata: "Barangsiapa ingin melihat seorang ahli surga, lihatlah ia."

Berdasarkan beberapa hadits dan berita lainnya, saya memperkirakan bahwa orang Badui yang dimaksud adalah Malik bin Nuwairah bin Hamzah At-Tamimi.[2]

Dalam Shahih Bukhari, dengan sanad sampai Ubadah, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Barangsiapa bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya, bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa (yang terjadi dengan) kalimat-Nya, yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan (dengan tiupan) ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah haq (benar) dan neraka haq, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga dengan amalan apa pun yang telah ia perbuat."

Juga dalam Shahih Bukhari melalui riwayat dari Junadah, disebutkan pula seperti riwayat sebelumnya, hanya ditambahkan sedikit di dalamnya, " ... melalui kedelapan pintu surga, dari mana pun ia hendak memasukinya."

Juga dalam Shahih Bukhari dari Abu Dzar r.a. yang berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika beliau sedang tidur dan mengenakan baju putih. Kemudian aku mendatanginya lagi, dan beliau sudah terjaga. Maka bersabdalah beliau SAW: "Barangsiapa di antara hamba Allah yang menyebut 'La ilaha illa Allah' kemudian meninggal dunia, dan ia tetap dalam keadaan ikrarnya itu, maka ia akan masuk surga." Aku bertanya: "Bagaimana kalau ia pernah berzina atau mencuri?" Jawabnya: "Walaupun ia pemah berzina atau mencuri." Tanyaku lagi: "Walaupun ia pernah berzina dan mencuri?" Jawab Rasulullah SAW: "Ya, walaupun ia pemah berzina dan mencuri, dan betapa pun Abu Dzar tidak menyukai (ucapan ini)."

Dalam Shahih Bukhari, melalui Abu Dzar pula disebutkan: Telah berkata Nabi SAW kepadaku, bahwa malaikat Jibril berkata: "Barangsiapa, di antara umatmu, meninggal dunia dalam keadaan tiada menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga (atau ia tak akan masuk neraka)." Kemudian aku bertanya: "Kendatipun ia pernah berzina dan mencuri?" Jawab Nabi Muhammad SAW: "Ya, walaupun ia pernah berbuat hal itu."

Disebutkan di dalamnya dengan sanad dari Abu Dzar, yang berkata: Aku keluar pada suatu malam, dan kulihat Rasulullah SAW berjalan sendirian, tidak seorang pun bersamanya. Ketika itu aku kira beliau sedang tidak ingin seseorang berjalan menyertainya. Maka aku pun berjalan di belakangnya, di bawah sinar bulan. Namun tiba-tiba beliau menoleh dan melihatku lalu bertanya: "Siapa ini?" Kujawab: "Abu Dzarl Semoga aku dijadikan penebus jiwamu."*Dan beliau memanggilku: "Hai Abu Dzar, kemarilah!" Maka aku pun berjalan bersamanya sebentar, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya orang-orang yang banyak hartanya di dunia ini, akan menjadi orang-orang yang sedikit pahalanya, pada Hari Kiamat kelak. Kecuali siapa yang diberi Allah rezeki yang banyak lalu ia menyedekahkan dengan tangan kanan dan kirinya, dari depan dan belakangnya, serta berbuat kebaikan dengan hartanya itu." Kata Abu Dzar selanjutnya: Kemudian aku berjalan lagi sebentar bersamanya, dan beliau berkata kepadaku: "Tunggu di sini sampai aku kembali!" Lalu beliau pergi ke balik bukit berbatu sehingga aku tak dapat melihatnya. Aku pun menantinya cukup lama, sehingga kudengar beliau kembali seraya mengucapkan: "Walaupun ia mencuri dan berzina." Setelah Rasulullah tiba, aku tak sabar untuk menanyakan kepadanya: "Ya Rasulullah, semoga diriku dijadikan tebusan bagi jiwamu, siapakah gerangan yang engkau ajak bicara di balik kegelapan malam itu, padahal aku tidak mendengar seseorang berbicara kepadamu?" Jawab Nabi SAW: "Dia itu Jibril, yang menampakkan diri padaku di balik bukit di sana, dan ia berkata: 'Beritahukanlah kepada umatmu kabar gembira, bahwa barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia akan masuk surga.' Kemudian aku bertanya kepadanya: 'Ya Jibril, sekalipun ia mencuri dan berzina?' Jawabnya: 'Ya, walaupun begitu.' Tanyaku lagi: “Walaupun ia mencuri dan berzina?' 'Ya, kendatipun begitu,' jawabnya. Aku bertanya lagi: "Walaupun ia mencuri dan berzina?' Jawab Jibril: 'Ya, walaupun ia pernah minum khamr'."

Mungkin yang dimaksud dengan zina, mencuii dan minum khamr dalam hadits di atas ialah sebagai ungkapan tentang semua dosa besar (kaba’ir). Maka maksudnya ialah barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Allah Tuhan Yang Mahaesa, ia akan masuk surga atau tidak masuk neraka, walaupun ia pernah mengerjakan dosa besar. Hal ini sesuai pula dengan hadits riwayat Ubadah, sebelum ini, yakni ucapan beliau: "... dengan amalan apa pun yang pemah ia perbuat..."

Catatan Tambahan

Harus diketahui bahwa orang-orang Mukmin yang berbuat maksiat, kelak pada hari Kiamat, akan diazab sekadar besar-kecilnya dosa-dosa mereka, kemudian setelah itu, mereka akan beroleh kemuliaan di surga. Demikianlah menurut kesepakatan (ijma') Ahlul-Bayt (para pengikut dan pendukung) mereka. Yang demikian itu sudah menjadi pengetahuan setiap orang tanpa keraguan sedikit pun.

Oleh sebab itu, hadits-hadits yang menyatakan adanya jaminan keselamatan bagi kaum Muslim, apa pun juga amalan-amalan mereka, tidaklah berarti bahwa orang-orang yang telah berbuat maksiat dari mereka, secara mutlak tidak akan memperoleh siksaan dari Allah SWT. Tetapi, maksud yang sebenarnya ialah bahwa mereka tidak diazab secara abadi dan langgeng sebagaimana yang dialami orang-orang kafir. Oleh sebab itu, hadits-hadits ini atau yang serupa dengannya tidak boleh menjadi pegangan satu-satunya bagi mereka. Mengenai kejahatan-kejahatan mereka yang telah lalu, tidak ada sesuatu yang dapat mereka lakukan kecuali bertobat dan menyesal atau menerima azab di neraka Jahannam, sekadar yang patut mereka terima, atau adakalanya mereka mendapat ampunan dan maghfirah dari Allah SWT dan memperoleh syafaat dari para pemberi syafaat (yang beroleh izin dari-Nya).

Tersebut dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Mu'adz bin Jabal yang berkata: Aku pernah membonceng kendaraan Rasulullah SAW, dan jarak antara aku dengan beliau hanya bagian belakang untanya. Lalu beliau berkata kepadaku: "Hai Mu'adz!” Jawabku: "Labbaik wa Sa'daik, ya Rasulullah." Sejenak kemudian beliau berkata lagi: "Hai Mu'adz!" "Labbaik wd Sa'daik, ya Rasulullah", jawabku. Lalu beliau berkata: "Tahukah engkau apakah hak Allah atas hamba-hamba-Nya?"

Aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Sabda beliau: "Hak Allah aias hamba-hamba-Nya ialah menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." Kemudian setelah berjalan sebentar, beliau berkata: "Ya Mu'adz bin Jabal!" "Labbaik wa Sa'daik, ya Rasulullah," jawabku. Beliau bertanya lagi: "Tahukah engkau apakah hak hamba atas Allah jika mereka telah melakukannya?" Jawabku: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau pun melanjutkan: "Hak hamba atas Allah ialah bahwa la tidak menyiksa mereka."

Tercantum dalam Shahih Bukhari dari 'Utbah, yang berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Tak seorang hamba pun datang — pada Hari Kiamat — dengan ucapan 'La ilaha illa Allah' semata-mata demi keridhaan Allah kecuali diharamkan atasnya api neraka."

Juga di dalamnya dari 'Utban bin Malik Al-Anshari pula, bahwa ia mengunjungi Rasulullah SAW dan meminta agar beliau singgah ke rumahnya dan shalat di sana, karena ia ingin menjadikannya sebagai mushalla[3] Kemudian 'Utban berkata: Lalu Rasulullah SAW berangkat dan shalat dua rakaat bersama kami dan sesudah itu kami suguhkan hidangan Harirah (tepung yang dimasak dengan susu). Berkata 'Utban selanjutnya: Sesaat kemudian, beberapa orang datang ke rumahku, lalu salah seorang dari mereka berkata: "Mana Malik bin Ad-Dukhsyun?"[4] Dan seorang lainnya berkata: "Dia adalah seorang munafik. la tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya." Maka Rasulullah SAW bersabda: "Jangan berkata demikian, tidaklah kamu melihatnya telah berucap 'La ilaha illa Allah' semata-mata demi keridhaan Allah?" Jawab orang itu: "Sungguh kami sering melihatnya pergi dan berkawan dengan orang-orang munafik." Sabda Nabi SAW selanjutnya: "Allah mengharamkan api neraka bagi siapa saja yang mengucapkan 'La ilaha illa Allah' semata-mata karena berharap ridha Allah."

Muslim juga meriwayatkan hadits ini dalam kitab Shahih-nya dengan pelbagai saluran. Akan tetapi, akhir kalimat hadits yang diriwayatkan itu, sebagai berikut: "Bukankah ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah?" Mereka menjawab: "Ya, memang ia mengucapkan hal itu, namun tidak disertai dengan ketulusan hatinya." Maka Rasulullah SAW bersabda: "Tiada seorang pun bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan' bahwa aku adalah Rasul Allah akan dimasukkan ke dalam api neraka atau menjadi umpannya." Anas berkata: "hadits ini betul-betul membuatku kagum sedemikian sehingga kusuruh anakku menulisnya."

Perhatikaniah, adakah susunan kalimat lain yang lebih jelas daripada ini yang menetapkan keselamatan bagi segenap umat yang beriman akan keesaan Allah? Adakah berita gembira yang lebih besar daripada berita bahwa surga disediakan bagi umat Islam secara keseluruhan? Sungguh mengherankan, dengan masih adanya orang yang tidak meragukan kesahihan hadits tersebut, tetapi ia tetap saja menetapkan penilaian yang berlawanan dengan petunjuk di dalamnya. Tidakkah ia ingat firman Allah:

" . . . hendaknya orang-orang yang melanggar perintah-Nya takut akan ditimpa bencana atau azab yang pedih . . . " (QS. An-Nur: 63)

Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya, dari Anas, yang berkata: Rasulullah SAW pernab bersabda: "Allah menujukan firman-Nya kepada penghuni neraka yang paling ringan azabnya, pada hari Kiamat: 'Seandainya kau memiliki segala suatu yang ada di bumi, bersediakah engkau menebus dirimu dengan semua itu?' Maka orang itu akan berkata: 'Ya!' Allah pun akan berfirman: 'Dahulu Aku hanya menginginkan sesuatu darimu yang jauh lebih ringan dari ini, ketika engkau masih dalam sulbi Adam, yaitu agar kau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, namun engkau mengabaikannya dan tetap menyekutukan-Ku'."

Mungkin, yang dapat disimpulkan dari hadits ini ialah bahwa sesungguhnya orang itu diazab dengan api neraka semata-mata karena ia tidak mau kecuali menyekutukan Allah. Seandainya bukan karena hal itu, ia pasti akan selamat. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlut-Tauhid (yakni semua kaum Muslim) pasti akan selamat.

Hadits tersebut menunjukkan pula bahwa penghuni neraka yang paling ringan azabnya ialah si musyrik. Maka dapatlah disimpulkan bahwa tidak seorang pun muwahhid (orang yang mengesakan Allah) akan berada di sana. Sebab, seandainya di sana ada seorang muwahhid, niscaya azabnya lebih ringan dari si musyrik. Tentunya hal terakhir ini bertentangan dengan kandungan hadits tersebut.[5]

Dalam keenam kitab Shahih, Musnad Ahmad, kitab-kitab Ath-Thabrani, dan lain-lain, banyak dijumpai hadits seperti ini. Terutama dalam kelompok hadits-hadits syafaat, antara lain — seperti dalam — Shahih Bukhari dan Muslim bahwa kelak (pada Hari Kiamat) akan dikatakan kepada Nabi Muhammad SAW: "Keluarkan dari neraka siapa yang mempunyai iman dalam kalbunya walau seberat biji sawi."

Dan seandainya kami hendak mengetengahkan semua hadits syafaat yang mengandung kabar gembira yang amat mengagumkan, terutama yang tercantum dalam kedua kitab Shahih itu, niscaya persoalannya akan berkepanjangan. Tetapi kami hanya mengisyaratkan, agar dapat diteliti kembali oleh siapa saja yang menginginkannya. Bahkan, lebih dari yang telah dinukilkan sebelum ini, Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari 'Utsman bin 'Affan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: "Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan mengetahui bahwasanya tiada Tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga."

Jelas sekali — menurut hadits ini — bahwa sekadar mengetahui (secara sadar) akan keesaan Allah, dapat menyebabkan seseorang masuk surga.

Begitu juga sebuah hadits serupa, yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dalam kitab Al-Kabir, dari 'lmran bin Hushain yang berkata: Rasulullah SAW pemah bersabda:

"Barangsiapa mengetahui (menyadari) bahwa Allah adalah Tuhannya, dan bahwa aku adalah Nabi-Nya dengan disertai ketulusan hatinya, maka Allah akan mengharamkan tubuhnya dari jilatan api neraka."

Riwayat-riwayat ini lebih terang-benderang daripada cahaya matahari di siang hari. Dan kesahihannya lebih dikenal daripada "api di atas gunung yang tinggi." Di dalamnya tercantum berita-berita yang menggembirakan, yang mungkin agak meringankan diri seorang Muslim dari akibat perbuatan dosa-dosa besar yang menjerumuskan.

Nah, silakan mengkajinya kembali dalam kitab-kitab hadits Ahlus-Sunnah, agar kita lebih memahami betapa semua itu menetapkan surga bagi Anda maupun saudahaditsra-saudara Anda. Semua yang telah kami sebutkan, tidaklah lebih dari serpihan sebutir biji atau setitik air dari gelombang samudera. Kami cukupkan di sini apa yang telah disebutkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. dan diulang-ulanginya dalam beberapa bab dari kitabnya itu dengan pelbagai saluran sanad yang berbeda-beda. Kami pun tidak merasa perlu menyuguhkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab Shahih lainnya, sebab dengan kadar yang kami paparkan di atas, telah cukup jelas bagaikan cahaya yang menyingsing di pagi hari.

Lebih dari itu, kami memiliki banyak hadits shahih lainnya yang kami peroleh melalui kedua belas Imam kami:

Diriwayatkan oleh para Imam penunjuk jalan, Ucapan dan hadits mereka selalu dimulai dengan:

Datuk kami (Nabi SAW) meriwayatkan dari Jibril, yang menerimanya dari Allah Tuhan Maha Pencipta.

Itulah As-Sunnah yang kedudukannya langsung setelah Al-Kitab. Dan itulah perisai yang menyelamatkan dari azab. Simaklah dari kitab Ushul Al-Kafi dan lainnya, hadits-hadits yang mengumandangkan berita-berita gembira bagi mereka yang beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir. Walaupun banyak di antaranya yang mengkhususkan keterangan-keterangan di atas yang bersifat umum dengan persyaratan walayah* terhadap keluarga Rasulullah dan 'itrah-nya. yang suci. Yaitu mereka yang oleh Rasulullah SAW dikaitkan secara langsung dengan Al-Quran, dan dijadikan panutan bagi ulul-albab, bagaikan bahtera-bahtera penyelamat apabila gelombang-gelombang fitnah dan bencana datang menerjang. Mereka itu laksana bintang-bintang penunjuk jalan apabila kegelapan kesesatan menghalangi pandangan, pintu pengampunan satu-satunya bagi siapa saja yang ingin memperolehnya atau buhul tali yang kuat erat tempat bergabung seluruh umat demi kesatuan. Maka tidak syak lagi bahwa walayah mereka merupakan bagian dari Ushul Ad-Din (pokok-pokok agama). Untuk menjelaskan hal itu, kami telah cukup banyak menyebutkan argumentasi amat kuat serta bukti-bukti yang terang benderang, baik berupa dalil-dalil 'aqliyah maupun naqliyah. Kami mempersilakan para peneliti menelaahnya dalam kitab karangan kami berjudul Sabil Al-Mu'minin yang di dalamnya telah kami jelaskan setiap jalan menuju kebenaran dan kami singkapkan dengan kekuatan logikanya setiap awan kegelapan yang menghadang. Dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.▪

CATATAN KAKI
[1] Dalam kitab Shahih Muslim terdapat banyak hadits yang serupa dengan ini. Silakan Anda pelajari pada jilid I, bab "Keimanan yang Membawa Seseorang Masuk ke dalam Surga" dan bab "Tentang Oiang yang Menghadap Tuhannya dengan Kebulatan Iman yang Mantap, Akan Dimasukkan dalam Surga dan Dihindarkan dari Api Neraka". Dan juga pada jilid yang sama ini akan Anda temukan kabar-kabar gembira yang memuaskan hati seoiang Mukmin yang percaya kepada Allah dan Hari Akhir.

[2] Dia adalah seorang kaya raya, pemurah dan mulia serta kawan bepergian para raja. Sehingga ia dijadikan contoh teladan atau perumpamaan dalam kemuliaan seperti dalam bait di bawah ini:

Tiada tempat menggembala lebih baik daripada Sa'dan
Tiada air lebih jernih daripada Shaddâ`
Tiada pemuda kesatria seperti Malik

Mengenai Malik ini akan kami nukilkan peristiwa yang terjadi padanya bersama Khalid bin Walid pada Bab VII yang akan datang. * Sebuah ungkapan yang biasa diucapkan oleh seseorang kepada orang lain yang sangat dicintainya — penerjemah.

[3] Bagaimanakah pendapat para pengikut mazhab Wahhabi tentang isi hadits shahih ini yang bertentangan dengan doktrin mazhab mereka? (Yakni bahwa para sahabat meminta Nabi SAW shalat di tempat itu, demi memperoleh berkahnya — penerjemah.).

[4] Demikianlah yang termaktub dalam Shahih Bukhari yang naskahnya ada pada saya. Mungkin yang benar ialah Malik bin Dukhsyum (dengan m) bukan Dukhsyun (dengan n). Nama lengkapnya: Malik bin Ad-Dukhsyum bin Ghunm bin 'Auf bin 'Amr bin 'Auf, yaitu salah seorang yang pemah turut serta dalam peperangan Badr dan peperangan-peperangan sesudahnya. Dia pulalah yang menawan Suhail bin 'Amr pada peiang Badr. Kendatipun demikian ia dikenal tebagai seorang munafik. Hanya Allah saja yang lebih tahu tentang keadaannya yang sebenarnya.

[5] Karena seorang muwahhid, dari kalangan Muslim, walaupun ia melakukan dosa terbesar pun, tidak akan mendapat siksaan sepedih orang-orang musyrik (meskipun seandainya si musyrik ini tidak melakukan dosa apa pun selain kemusyrikannya).

[6]Karena setiap penganut mazhab Imamiyah maupun Sunnah, kedua-duanya beriman kepada Allah, membenarkan Rasulullah SAW, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji, berpuasa di bulan Ramadhan, beriman kepada Hari Kebangkitan, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, sebagumana yang disaksikan oleh perkataan dan perbuatan mereka, dan seperti yang dapat disimpulkan secara pasti dari buku-buku mereka, yang lama maupun yang baru, dan yang ringkas maupun yang terinci. * Yang dimakmd dengan walayah atau wilayah ialah mendukung, mencintai dan menjadikan keluarga Rasulullah sebagai wali atau pemimpin yang diikuti -- penerjemah.


[Dari berbagai sumber]

Luas Surga Dan Neraka


Berapakah kira-kira luas surga?
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu, dan kepada Syurga yang luasnya SELUAS LANGIT dan BUMI, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Ali Imran: 133)

“Berlomba-lombalah kamu sekalian untuk mendapatkan ampunan Tuhanmu dan syurga yang luasnya SELUAS LANGIT dan BUMI yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepadam Allah dan rasulNya” (QS. Al-Hadiid: 21)

Subhaanallah, Surga itu luasnya seluas langit dan bumi? Berapakah luasnya langit dan bumi itu? Bisakah ilmu pengetahuan mengukurnya? Surga begitu luasnya, sementara penduduk bumi kita yang berisi sekitar lima milyar orang saja masih menyisakan demikian luas tempat yang belum dihuni.

Baiklah, sekedar untuk berhitung dan yang penting adalah untuk menambah keimanan kita akan kebesaran Allah Swt, mari kita mencoba mengukurnya. 

Berdasarkan informasi dari Al-Qur’an. Bahwa langit ini dicipta oleh Allah Swt sebanyak TUJUH lapis. Pernyataan ini didukung paling tidak oleh delapan ayat Al-Qur’an yaitu Al-Isra’: 44, Al-Mukminuun: 17, Al-Mukminuun: 86, Al-Mulk: 3, Al-Baqarah: 29, At-Thalaq: 12, Nuh: 15 dan An-Naba’: 12

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’: 44)

Langit diciptakan oleh Sang Pencipta sebanyak tujuh lapis, sementara untuk langit terdekat saja yang masih mampu dipandang teropong manusia yang tercanggih sekalipun sudah membuat manusia ‘takluk’ tidak dapat membayangkan. Maka bumi sungguh ibarat debu jika dibandingkan dengan luasnya surga. Demikian pula keindahan bumi beserta isinya, sungguh amat sangat tidak sepadan jika dibandingkan dengan keindahan Surga.

Benarlah kata sebuah hadits Qudsi yang menyatakan bahwa, keindahan surga yang diberikan Allah kepada para hambaNya, belum pernah didengar telinga, belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terlintas di dalam hati.

Sekedar illustrasi matematis, mari kita bayangkan berapa luasnya jagad raya langit pertama itu. Garis tengah untuk langit pertama atau jagad raya ini diperkirakan sebesar 30 milyar tahun cahaya. Berarti garis tengah jagad raya kita ini sepanjang: 30.000.000.000 X 360 X 24 X 60 X 60 X 300.000 KM = 279.936.000.000.000.000.000.000 KM. Ini bukan luasnya langit, tetapi baru garis tengahnya saja.

Yang sedang kita hitung inipun masih luas langit terdekat saja. Belum lagi langit lapis ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima, ke enam, dan yang ke tujuh. Yang kesemuanya itu jauh lebih besar dibanding langit pertama. Lalu bisakah kita membayangkan luas surga? Bagaimana dengan keindahannya?
Subhaanallah!

Logika ilmu pengetahuan mungkin bakal terhenti, tinggal logika iman yang bisa mengukurnya.

Rasulullah pernah bersabda bahwa di surga sebuah pohon akan bisa kita lalui dari ujung ranting timur ke ujung ranting barat sejauh 100 tahun perjalanan. Satu lagi, bahwa menurut ilmu pengetahuan, ternyata jagad raya ini tidak tetap, tetapi terus mengembang bertambah lama bertambah besar dan tentu juga bertambah luas. Menurut penelitian Stephen Hawking setiap satu milyar tahun jagad raya mengembang sekitar sepuluh sampai dengan lima belas persen.

Surga memang luar biasa hebatnya. Luar biasa indahnya. Bahkan kita tidak bisa membayangkannya. Tetapi yang lebih menarik adalah ‘pernyatan sikap’ para sufi dan para wali Allah, yang mengatakan bahwa mereka tidak terpesona dengan surga yang tidak terbayangkan keindahannya itu. Sebab mereka lebih terpesona dan lebih cinta kepada Pencipta dan Pemilik Surga, yaitu Allah Swt.

Artinya keindahan Allah Swt, Kebesaran, dan kehebatannya, sungguh melebihi surga itu sendiri. Subhaanallah! hanya saja acapkali manusia ‘terperangkap’ pada keindahan hadiahnya saja tapi lupa kepada Dzat Yang Maha Pemberi hadiah.

Berapakah kira-kira luas neraka?
Suatu saat Abu Hurairah ra, mengatakan, ketika kami bersama rasulullah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras, seperti benda yang jatuh menggelegar. Nabi yang mulia mengatakan:

“Tahukah kamu sekalian, suara apa itu? Kami menjawab: hanya Allah dan rasulNya sajalah yang lebih mengetahuinya. Nabi menjawab, itu tadi adalah suara dari sebuah batu yang dijatuhkan ke dalam jurang neraka sejak tujuh puluh tahun yang lalu, baru sampai ke dasarnya ini tadi…” [HR.Muslim]

Benda yang jatuh, secara ilmu fisika dapat dihitung jarak tempuhnya berdasarkan gravitasi yang berlaku. Jika gravitasi bumi kita ini adalah 9,8 m/detik, maka dengan mudah kita bisa menghitung jarak tempuh batu yang jatuh mengikuti rumus 1/2 gt2. 

Jika jatuhnya ke bumi kita, maka perhitunmgannya adalah sbb:
Jarak tempuh batu selama 70 tahun adalah, 0,5 x [70X360X24X60X60] x [70X360X24X60X60] x 9,8 M = 23.228.686.172.160.000 M = 23.228.686.172.160 KM, Bandingkan garis tengah bumi kita hanya: 12.756 KM. Ini berarti, bahwa neraka memiliki kedalaman: 23.228.686.172.160 KM/12.756 KM = 1.821.000.797.441,2 dikalikan diameter bumi. Ini jika yang digunakan adalah gravitasi ‘bumi kita’.

Artinya bahwa, jika jurang neraka itu diukur berdasarkan gravitasi bumi kita, maka neraka memiliki kedalaman = 1.821.000.797.441,2 dikalikangaris tengahnya bumi. Atau jika kita menggali sebuah sumur, maka sumur itu akan mencapai kedalaman seperti yang kita hitung di atas. Apabila sumur itu menembus bumi, maka akan terjadi berulang kali, sampai sebanyak 1.821.000.797.441,2 kali! 

Dari sini saja kita sudah sulit membayangkan betapa dalamnya jurang neraka seperti yang diinformasikan oleh rasulullah saw tadi. Jadi jurang neraka itu sedalam: 1.821.000.797.441,2 dikalikan ‘tebal’nya bumi. Ah, betapa menggiriskan!

Yang baru kita illustrasikan tadi kedalaman vertikal neraka, bagaimana pula lebar horizontalnya. Semestinya lebar horizontal lebih luas dari vertikalnya, ibarat bumi yang memiliki permukaan lebih luas dibanding ketinggian atmosfir bumi. Tetapi kedalaman itu, ‘belum seberapa, sebab nanti di yaumil akhir, bumi kita ini akan diganti oleh bumi yang lain. Sehingga gravitasi yang dimaksud tentu bukan gaya gravitasi bumi kita ini. Tetapi gravitasi bumi baru, yang jauh lebih hebat dan lebih dahsyat kekuatan daya tariknya.

“Ketika bumi ini diganti dengan bumi yang lain, begitu pula dengan langitnya, Mereka bermunculan dari kuburnya masing-masing menghadap kepada Allah Yang Maha Esa dan Maha Perkasa”. (QS. Ibrahim 14: 48)

Jangankan dipakai ukuran bumi baru yang kita belum tahu gravitasinya. Andaikata dipakai ukuran gaya tariknya Black Hole saja, yg mempunyai perbandingan 1 : 100 trilyun (perbandingan ini telah dianalisis pada suatu diskusi ilmiah yang bejudul “Menikmati keindahan Allah melalui logika dan tanda-tanda”), maka kedalaman neraka menjadi sangat sangat menggiriskan Secara matematis kedalaman itu menjadi: 23.228.686.172.160 KM X 100.000.000.000.000 = 232.286.861.721.600.000.000.000.000 KM

Sebagai gambaran, bila 1 trilyun atau 1000 milyar manusia sekalipun dimasukkan kedalam neraka sekaligus maka tiap orangnya masih bisa diberi jatah ruang lebih dari 200 trilyun kilometer persegi. Sehingga kalau seseorang dimasukkan ke dalam neraka, jangan harap mudah menemukan teman ‘senasib dan sependeritaan’, apalagi sampai berbagi duka dan saling memberi dorongan agar ‘tabah’.

Tulisan ini belum lagi membicarakan dahsyatnya suhu neraka serta ragam siksaan dan kualitas siksaannya. Sebagai gambaran singkat Rasulullah saw pernah berkata, andaikata dari dalam neraka yang dahsyat itu menerobos keluar apinya meskipun hanya sebesar lubang jarum saja, maka hancur binasalah bumi kita. Tulisan ini juga belum menggambarkan bahwa di neraka tubuh manusia tidak langsung gosong atau meleleh tapi memuai dahulu.

Rasulullah SAW pernah berkata bahwa ada gigi seorang kafir yang akan menjadi sebesar gunung Uhud di neraka. Hadits lain meriwayatkan bahwa tebal kulit manusia di neraka akan (memuai) hingga setebal 3 hari perjalanan, jauh lebih tebal ibanding kulit sapi yang digoreng dan memuai hingga setebal kerupuk kulit. Inilah mungkin hikmah kenapa jatah ruang neraka untuk setiap penghuninya diberi kapasitas yang sedemikian luasnya.

Setelah kita membayangkan keindahan surga yang ternyata tidak bisa dibayangkan saking dahsyatnya, dan setelah kita berhitung matematis tentang kedalaman neraka, yang ternyata juga tidak bisa kita bayangkan betapa mengerikan kedalaman neraka itu, masihkah kita mau menunda amal akhirat kita untuk suatu masalah dunia yang ternyata sangat kecil dan tidak abadi ini. Ya Allah, berilah kami kebaikan di atas dunia ini, dan berilah kami kebaikan di akhirat nanti, hindarkanlah kami dari siksaMu yang amat pedih…


[Sumber: Tausyah Wordpress