Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Nabi Zakaria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Zakaria. Tampilkan semua postingan

Al-Quran, Tentang Nama YAHYA Dalam Surah Maryam Ayat 7


BismilLaahirRahmaanirRahiim.
1. Pengantar
Pada surah ke-19 dalam Al-Qur’an yang menyandang nama Maryam, kisah kelahiran ‘Isa yang penuh mukjizat (ayat 16-34) didahului oleh kisah kelahiran Yaḥya yang juga penuh mukjizat (ayat 1-15). Ia terlahir sebagai anak Nabi Zakariyya ‘alayhis-salaam yang uzur serta istrinya yang renta dan mandul. Dalam berbagai tradisi, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam diidentifikasi sebagai John Sang Pembaptis (John the Baptist). Sebagian misionaris Kristen lantas merujuk kepada satu permasalahan yang muncul pada ayat ketujuh dalam Surah Maryam, di mana kelahiran Yaḥya diumumkan:

yohanna1
“Wahai Zakariyya, sungguh Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yaḥya; tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.”

Para misionaris tadi menyatakan bahwa ayat ini mengandung kesalahan. Dalam pemahaman mereka, menurut ayat ketujuh itu nama Yaḥya (John) semestinya unik, sehingga tak seorang pun sebelum kelahirannya memiliki nama demikian. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua puluh lima rujukan terhadap nama John. Maka menurut mereka nama John (Yaḥya) tidaklah unik atau istimewa dan kesalahan Al-Qur’an menjadi jelas.

Sepertinya, awal mula kontroversi ini digagas oleh Abraham Geiger yang menulis buku berjudul Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?:

“Ia (yakni Muhammad) mengajukan bahwa sebelum John Sang Pembaptis tak seorang pun menyandang nama John. Seandainya ia memahami sejarah Yahudi maka ia sepatutnya sadar bahwa, selain beberapa orang bernama sama yang menurut sejarah tidaklah penting dalam Kitab Tawarikh (Chronicles), ada ayah dan anak dari pendeta Makabea yang terkenal, Mattathias, yang sama-sama bernama John. Kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab, maka mereka mencoba memberikan makna lain bagi kata-kata yang terang dan tak diragukan lagi itu.”[1]

Namun Geiger tidak mengutip satu pun penafsir dari kalangan Muslim untuk mendukung pernyataan-pernyataannya, dan sebagaimana akan ditunjukkan pada bagian-bagian di bawah, kita perlu berpikir bahwa jangan-jangan klaimnya bahwa “kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab” adalah karangannya semata-mata.

Karena para misionaris itu tidak mampu memberi jawaban lebih lanjut atas masalah ini, maka kitalah yang harus menyelidiki serta menyediakan informasi utama yang seolah hilang. Benarkah nama Yaḥya dan John dapat dipertukarkan antara satu dengan yang lainnya? Apakah makna ayat tadi memang sejalan dengan terjemahannya? Tulisan ini akan menyelidiki berbagai hal terkait dengan nama Yaḥya.

2. Apakah John secara Linguistik Sama dengan Yaḥya?
Menurut para misionaris Kristen, nama Yaḥya adalah bentuk Arab dari nama John, dengan jabaran sebagai berikut: Nama John dalam bentuk Ibrani adalah Johanan, yang dalam bentuk Arab-nya adalah Yaḥya, dan dalam bentuk Yunani adalah Ioannes.

Nyatanya, padanan Arab untuk nama John dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna, bukan Yaḥya. Demikian pula padanan Arab untuk nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya. Siapapun yang memiliki pengetahuan dasar akan rumpun bahasa Semit dapat langsung menunjukkan bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda. Anda tak perlu menjadi ahli bahasa-bahasa Semit untuk memverifikasi klaim ini; Alkitab terjemahan berbahasa Arab sudah mencukupi.

Nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yowchanan {yo-khaw-nawn’}, atau Johanan dalam Authorized (King James) Version, yang artinya: Jehovah has graced (Tuhan membahagiakan). Dan tokoh-tokoh dalam Alkitab yang menyandang nama itu adalah (1) seorang pendeta pada periode kependetaan agung Joiakim yang kembali bersama Zerubbabel; (2) seorang pemimpin Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem; (3) anak tertua Raja Josiah; (4) seorang pangeran di era pasca-pengasingan dari garis keturunan Daud; (5) ayah dari Azariah, pendeta di era Sulaiman; (6) salah satu ksatria Daud dari suku Benjamin; (7) salah satu ksatria Daud dari suku Gad; (8) seorang buangan yang kembali.

Dalam berbagai alkitab versi Arab, nama ini diubah menjadi Yuḥanan sebagaimana ditunjukkan oleh teks-teks di bawah ini.
I Kings 25 23
1Raja-Raja 25:23
I Chronicles 3 15
1Tawarikh 3:15
yohanChro2
1Tawarikh 3:24
Uzair 8 12
Ezra 8:12

Kini kita ambil contoh dari Perjanjian Baru. Nama John (Sang Pembaptis) dalam bahasa Yunani adalah Ioannes {ee-o-an’-nace}, nama asli Ibrani. Dalam Authorized (King James) Version terdapat nama John (Sang Pembaptis), anak dari Zacharias dan Elisabeth, pendahulu Kristus, dan dengan perintah Herod Antipas ia dipenjara dan akhirnya dipenggal. John juga nama salah satu murid Yesus, penulis Gospel Keempat, anak dari Zebedee dan Salome, serta adik dari murid Yesus yang lain bernama James, dan ia pula yang (tanpa disebut namanya) dibicarakan dalam Gospel Keempat sebagai murid kesayangan Yesus dan menurut pendapat tradisional merupakan pengarang Kitab Wahyu. John juga nama sahabat dari Barnabas dan Paulus, nama belakangnya Markus. Ada pula seorang John yang merupakan anggota Sanhendrin.

Dalam berbagai alkitab Arab, nama John sebagaimana disebutkan dalam Maccabees dan Perjanjian Baru adalah Yuḥanna.


Maccabees 2 2
1Makabe 2:2
John 1 6
Yohanes 1:6

Dan tentu saja, Injil Yohanes pun menggunakan nama Yuḥanna.


Gospel John
Injil menurut Yuḥanna (Yohanes)

Maka dari itu, padanan nama John (Yowchanan) dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya, dan padanan Arab untuk nama John (Ioannes) dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna bukan Yaḥya. Dengan membabibuta menggadang-gadang polemik anti-Islam, sebagaimana dihadirkan oleh Abraham Geiger, para misionaris Kristen telah dibuat tersesat.

3. Makna Nama Yaḥya
Kedua nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda. Al-Qur’an menyampaikan bahwa putra Zakariyya bernama Yaḥya, bukan John. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama John dalam bentuk bahasa Arabnya entah itu Yuḥanan maupun Yuḥanna.

Para peneliti bibel menekankan bahwa nama Yuḥanna dan Yuḥanan adalah sama. Dalam gospel-gospel terjemahan berbahasa Ibrani, mereka tidak menggunakan Yuḥanna melainkan mengembalikannya ke dalam bentuk asli yakni Yuḥanan. Mereka juga memberikan makna yang sama bagi kedua nama itu. Keduanya memuat Yu, yang merupakan penyingkatan dari Jehovah, nama Tuhan dalam bahasa Ibrani. Sedangkan ḥanan atau ḥanna, keduanya turunan dari kata-dasar ḥanan dalam bahasa Aramaik (sama dengan kata-dasar ḥanna dalam bahasa Arab) yang berarti “kelembutan/kebahagiaan dari Tuhan”, sama dengan nama Ibrani Hanania.

Lantas, nama Yaḥya asli Arab ataukah asing? Dalam bahasa Arab, bentuk present Yaḥya adalah bentuk orang-ketiga dari kata-dasar ḥaya. Kata-dasar ḥaya ini (yang dapat ditulis dengan alif panjang maupun alif khanjariyyah dalam bentuk present maupun past) memiliki dua makna:
  • Yang pertama berasal dari al-ḥayah, yakni “hidup” yang merupakan lawan dari “mati” sebagaimana dalam contoh lan ansa laka hadha as-saniÊ¿a ma ḥayit, yang artinya, “Saya tidak akan melupakan kebaikan Anda ini selama saya hidup.” 
  • Makna kedua dari kata-dasar ḥaya berasal dari al-ḥaya’ yang diakhiri dengan hamzah berarti “rasa malu/kesucian”. Dalam pengertian kedua ini bisa dikatakan ḥayitu minhu yang maksudnya seseorang malu atau bingung terhadap orang lain. Inilah mengapa ular disebut ḥayyah, yakni karena ia mengelung tubuhnya sendiri dalam bentuk melingkar. 
Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama mengenai asal-muasal nama ini. As-Suyuti menyatakan dalam Al-Itqan fi Ê¿Ulum al-Qur’an:

“Yaḥya: Anak dari Zakariyya, orang pertama yang menyandang nama itu menurut Al-Qur’an. Ia dilahirkan enam bulan sebelum ‘Isa, dan diserahi kenabian di usia muda, serta dibunuh tanpa haq. Allah menggerakkan Nobukhod Nosor dan balatentaranya terhadap para pembunuhnya. Yaḥya adalah nama non-Arab, namun dikatakan pula [oleh sebagian] sebagai berasal dari Arab. Menurut al-Wahidi: Dalam kedua kemungkinan itu, nama ini tidak dapat di-tanwin-kan.

“Al-Kirmani menyatakan: Pada kemungkinan kedua [yakni nama itu berasal dari Arab], disebutkan bahwa ia digelari demikian karena Allah membuatnya hidup dengan iman, karena rahim ibundanya menjadi hidup dengan kehadirannya, dan karena ia syahid, sebab para syuhada itu hidup di sisi Tuhan mereka [bal aḥya’un Ê¿inda Rabbihim yurzaqun].

“Dikatakan pula bahwa maknanya adalah yamut, yakni “ia mati” sebagaimana kita menggunakan mafazah untuk menyatakan mahlakah atau menggunakan salim untuk menyatakan ladigh.”[2]

Nama Yaḥya juga telah membuat bingung banyak orientalis. Paul Casanova beropini bahwa Yaḥya adalah sebuah “kesalahan” yang perlu “dikoreksi”:

“Maka dari itu cukup lama saya ragu untuk menyarankan koreksi-koreksi yang lebih pas menurut saya. Yang membuat saya kini melakukan hal itu adalah, harus saya sebutkan, bahwa para peneliti Barat cenderung semakin melepaskan diri dari rasa hormat penuh tahayul terhadap integritas absolut Al-Qur’an, dan bahwa peneliti “Semitisasi” Jerman, Barth, juga telah menyarankan koreksi-koreksi yang cukup penting yang salah satu di antaranya menarik perhatian saya secara khusus, karena saya telah memikirkan soal ini untuk waktu lama dan saya senang melihat hal ini disampaikan sebagaimana saya telah membayangkannya. Koreksi itu yakni Youḥanna untuk Yaḥya, Youḥanna dan bukan Yaḥya, nama untuk St. John Sang Pembaptis. Saya tadinya tak berani mempublikasikannya, pertama-tama karena alasan umum yang telah disebutkan sebelumnya, karena hal ini mengarah kepada suatu kebetulan yang aneh. Betul, orang-orang Mandai atau kaum pseudo-Kristen Santo John, yang bisa disamakan dengan orang-orang Sabian yang disebutkan dalam Al-Qur’an, memiliki kitab yang di dalamnya nabi utama mereka disebut Yahio [sic!]. Jika nama itu muncul akibat kesalahan pembacaan para pengarang Al-Qur’an, kitab itu semestinya lebih tua ketimbang difusi Al-Qur’an resmi dan segala teori yang dibangun di atas identifikasi itu akan runtuh.[3]

Mingana, mengikuti jejak Margoliouth, percaya bahwa ranah puisi pra-Islam merupakan penipuan pasca-Islam (suatu teori yang telah dibantah dengan baik oleh para peneliti Muslim maupun non-Muslim). Maka dari itu, bagi Mingana, Al-Qur’an merupakan kitab pertama dalam bahasa Arab yang “pengarangnya” menghadapi:

“… kesulitan-kesulitan besar. Ia harus menyesuaikan kata-kata baru dan ungkapan-ungkapan baru terhadap ide-ide segar, dalam suatu bahasa yang belum lagi baku dari segi tata-bahasa maupun leksikografi.”

Mingana bersandar pada penggunaan bahasa Syria demi memahami “asal” kata Yaḥya. Ia menyatakan:

“Untuk mengekspresikan ‘John’, Al-Qur’an yang sampai kepada kita memakai bentuk yang aneh yakni ‘Yaḥya’. Saya sependapat dengan Margoliouth, bahwa nama itu hampir pasti merupakan ‘Yoḥannan‘ dalam bahasa Syria.”

Ia juga membuat pernyataan cukup aneh bahwa dalam naskah-naskah Al-Qur’an awal tanpa harakat, huruf-huruf Arab y-ḥ-y yang menyusun Yaḥya dapat dibaca menjadi:

“Yoḥanna, Yoḥannan, atau Yaḥya, dan para qari Muslim yang tak mengenal bahasa selain Arab mengadopsi bentuk yang salah yakni Yaḥya.”

Arthur Jeffery percaya bahwa pernyataan tersebut layak untuk didukung namun secara bersamaan ia memberitahu kita bahwa:

“Sepertinya tidak ada jejak nama tersebut (yakni Yaḥya) dalam literatur-literatur kuno (orang-orang Arab).”

Sebuah pertanyaan retoris perlu diajukan: Jika tidak ada jejak nama Yaḥya dalam literatur-literatur Arab pra-Islam, maka mengapa teks tanpa harakat itu harus dibaca “Yaḥya” (y-ḥ-y)? Kenapa tidak dibaca lain, misalnya t-ḥ-t? C.C. Torrey, sebagaimana Casanova dan Jeffery, juga percaya bahwa Yaḥya dalam Al-Qur’an adalah pembacaan yang salah dari Yuḥanna, namun semua qira’at (metode pembacaan) kompak dalam menyatakan bahwa y-ḥ-y tanpa harakat itu hanya bisa dibaca sebagai Yaḥya dan bukan Yuḥanna atau Yuḥanan. Selanjutnya, para orientalis yang pendapat-pendapatnya dikutip di atas juga percaya bahwa nama Yaḥya sebenarnya asing (non-Arab), namun anggapan-anggapan mereka bahwa nama Yaḥya merupakan sebuah “kesalahan” disampaikan tanpa bukti sama sekali! Meskipun kebanyakan peneliti Barat (tidak seperti Geiger atau para misionaris Kristen) sadar bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda dan ditarik dari akar yang berbeda pula, mereka hanya dapat menerka-nerka asal-muasal nama tersebut.
4. Orang-orang Mandai, “Orang-orang Kristen Santo John”
Adakah John Sang Pembaptis dikenal sebagai Yaḥya oleh kelompok tertentu?

Orang-orang Mandai adalah sebuah komunitas yang hidup di Iraq dan Iran, dan berbicara dalam dialek Aramaik (atau Mandaik sebagaimana dirujuk dalam berbagai literatur). Mereka mengaku sebagai pengikut Santo John Sang Pembaptis dan terkadang dirujuk (secara salah) sebagai “Orang-orang Kristen Santo John”, suatu julukan yang awalnya dipakai oleh para misionaris Kristen dari Portugis. Mereka secara pasaran dikenal sebagai Ṣubba (tunggal: Ṣubbi). Panggilan Ṣubba diakui merujuk pada ritual utama agama mereka, yakni pembaptisan dengan cara pencelupan. Nama yang mereka sendiri pakai untuk menyebut agama dan ras mereka adalah Mandai, atau Mandaea.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas sejenak identifikasi kaum Sabian atau Ṣabi’un. Ada begitu banyak spekulasi tentang Ṣabi’un, suatu kelompok agama yang disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an. Para penafsir Al-Qur’an telah berteori tentang kemungkinan identitas kelompok ini. Kita hanya akan meringkas berbagai pandangan yang ada. Bagi yang tertarik, silakan konsultasikan subjek ini sebagaimana telah dibahas panjang lebar oleh Jane Dammen McAuliffe.

Sebagian penafsir Al-Qur’an telah menyebut Ṣabi’un sebagai pemuja para malaikat, dan sebagian menyebut mereka kaum monoteis, yakni mereka yang sembahyang menghadap kiblat, dan berbeda dari orang-orang Yahudi, Kristen, maupun Magi. Mereka biasanya diidentifikasi sebagai sekelompok orang dari Iraq.

Penelitian Barat mengenai identifikasi Ṣabi’un dalam Al-Qur’an kemungkinan dimulai dengan karya besar Daniel Chwolson. Satu ringkasan atas pandangan Chwolson dibuat oleh John Pederson. Chwolson mengajukan identifikasi rancu kaum Ṣabi’un. Orang-orang Mandai yang monoteis adalah salah satunya, dan yang lain adalah para pagan pemuja bintang di Harran yang oleh para sejarawan Muslim dianggap mengadopsi nama Ṣabi’un agar turut dimasukkan ke dalam kategori Ahli Kitab.

Akan tetapi Pederson membuat pengecualian terhadap identifikasi rancu dari Chwolson. Ia menyebutkan bahwa Ṣabi’un semestinya diidentifikasi sebagai golongan hanif karena:

“Mereka juga orang-orang yang percaya pada Tuhan, meski bukan Yahudi maupun Kristen; mereka contoh terdekat golongan mukmin, sebagaimana Ibrahim sendiri adalah hanif.”

Identifikasi oleh Pederson ini hadir menyamakan hanif dengan gnostik. Akibat dari hal ini adalah ia menyamaratakan penyebutan Ṣabi’un bagi orang-orang Mandai dan Ḥarran.

Penyamarataan dari Pederson juga didukung oleh E.S. Drower; namun ia mengenali pada kelompok Ḥarran pembedaan antara kelas pendeta, disebut sebagai orang-orang Naṣorai, dan kelas awam jahiliyah atau semi-jahiliyah yang disebut orang-orang Mandai. Pandangan dari Bayard Dodge adalah bahwa bukti bagi identifikasi semacam ini tidaklah mencukupi. Ia cukup puas dengan korelasi antara Ṣabi’un dan Mandai, namun ia tak bersedia melangkah lebih dari itu, sebagaimana pernyataannya:

“… kita tidak tahu asal-muasal mereka atau kelompok-kelompok mana yang kemungkinan bisa disebut para Sabian.”

Orang-orang Mandai menyebut guru mereka John Sang Pembaptis dengan sebutan Yahia Yuhana. Dalam kitab doa resmi mereka bisa dibaca:

“Raja Yahia-Yuhana,
Perlindungan dan kejayaan bagimu.”

Salah satu kitab suci mereka disebut Drasha d-Yahia atau Kitab Yahia. Kamus bahasa Mandai menyajikan keterangan lebih lanjut untuk nama “iahia” dan “iuhana” sebagaimana digunakan dalam kitab-kitab suci mereka.
yahmand1
iahia (Arab: Yaḥya) nama malwasa khas laki-laki, sering digunakan bersamaan dengan bentuk Aramaik aslinya menjadi iahia iuhana, John Sang Pembaptis. Variasi: iihia.
yahmand2
iuhana: John, khususnya John Sang Pembaptis, disebut juga iahia iuhana (merupakan nama umum Mandai)

Perhatikan tiadanya (h tegas atau Ø­ dalam abjad Arab, ditransliterasi lewat simbol h dengan titik di bawahnya), sehingga Yahia Yuhana menggunakan “h lembut”, tidak seperti dalam bentuk Arab dan Aramaik-nya. Dalam dialek Aramaik dari orang-orang Mandai, bunyi memang pernah ada, namun vokalisasi ini telah hilang.

Nama Yahia dalam Yahia Yuhana telah menjadi teka-teki bagi para peneliti Barat. Menurut mereka, Yahia bukanlah nama Aramaik melainkan nama Arab, namun sebagaimana telah kita bahas, ada perbedaan pendapat di kalangan linguis Arab mengenai asal-usul dan makna nama Yaḥya. Kata ḥaya dalam bahasa Arab memiliki padanan dalam bahasa Aramaik dan Ibrani, dan jelas memiliki akar yang sama, dengan asal-usul yang identik. Dalam bahasa Syria, kata kerja ḥy (past tense) berarti “hidup; sembuh; reda (terkait rasa sakit)”; dengan neḥḥe sebagai bentuk present/future tense untuk orang ketiga tunggal. Dan dalam banyak dialek Aramaik, nama ini menjadi yeḥye atau yaḥye; yang terakhir mirip dengan bentuk Arab Yaḥya, yang apabila bertanda imalah akan dibaca Yaḥyei. Dalam qira’at (metode pembacaan) Ḥafṣ, dibaca Yaḥya tanpa imalah. Sedangkan dalam qira’at Warsh dan Ḥamzah dibaca Yaḥyei dengan imalah.

Kembali ke bahasa Aramaik, kata-sifat ḥayya berarti “hidup, mentah (tidak dimasak), murni (tidak bercampur), mengalir (terkait air)” sedangkan ḥayye berarti “hidup, keselamatan”, ḥayutha berarti “kehidupan”, ḥaywtha berarti “hewan”, ḥaytha berarti “bidan”.

Untuk memecahkan teka-teki ini (yakni keberadaan nama Yahia dalam Yahia Yuhana), para peneliti Barat telah menyajikan berbagai penjelasan, mulai dari diselipkannya nama Yahia ke dalam mushaf-mushaf pada periode belakangan hingga pemaksaan dari kaum Muslim terhadap kaum Mandai untuk menggunakannya! Tak satu pun dari teori ini didukung oleh bukti sejarah

Maka ini mungkin waktu yang tepat untuk membahas pentingnya nama Yahia dalam literatur Mandai. Setiap orang Mandai memiliki dua nama, yakni malwasha atau nama spiritual, dan laqab atau nama sehari-hari. E.S. Drower menjelaskan perbedaan antara malwasha dan laqab:

“Yang terakhir biasanya nama Muslim dan digunakan untuk seluruh kepentingan sehari-hari, sedangkan yang pertama [yakni malwasha] adalah nama asli dan spiritualnya dan digunakan untuk seluruh kegiatan keagamaan dan spiritual.”

Maka, pada Yahia Yuhana, Yahia adalah malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah laqab atau nama pasaran. Yang menarik di sini adalah bahwa Al-Qur’an hanya menggunakan nama asli atau spiritualnya, yakni Yaḥya. Namun bagaimana dengan Yuḥanna?

5. “Wa ḥananan min ladunna…“
Penggunaan Yahia Yuhana oleh orang-orang Mandai untuk menyebut John Sang Pembaptis cukup menarik sebagaimana telah kita lihat di bagian sebelumnya. Kini kita akan melenceng sedikit dan membahas atribut-atribut Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut Yaḥya namun bagaimana dengan Yowchanan/Yuḥanna? Kita tahu bahwa Yowchanan/Yuḥanna bermakna “kasih sayang Tuhan”, atau bisa pula berarti “Jehovah (nama Ibrani untuk Tuhan) adalah pemberi yang baik”. Nama ini terdiri dari dua kata yakni “Yu” yang merupakan pemendekan dari Jehovah dalam Bibel Ibrani dan ḥanna, dari kata-dasar ḥanan. Ternyata, Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:


yahhanan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya artinya “berikut kasih sayang [ḥananan] dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh.” (Al-Qur’an 19:13)

Dengan kata lain, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam adalah ḥananan dari Allah; ini tiada lain adalah parafrase dari apa yang dimaksud dengan Yowchanan/Yuḥanna, yakni “Tuhan adalah pemberi yang baik”. Yang lebih menarik adalah bahwasanya kata ḥananan muncul hanya satu kali di dalam Al-Qur’an, yakni dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pada ayat di atas. Perlu diingat bahwa kata dasar ḥanan memiliki makna yang mirip dalam bahasa Aramaik, Ibrani, maupun Arab.

Perhatian juga perlu diberikan pada nama Yuḥanna. Secara etimologis, “Yu” dalam bahasa Arab tidak bermakna Tuhan, berbeda dari bahasa Ibrani; maka dari itu nama “Yuḥanna” akan menjadi kurang bermakna. Kata dalam bahasa Arab untuk Tuhan adalah “Allah”. Tampaknya “Yuḥanna” dipinjamkan ke dalam bahasa Arab dari bahasa Syria atau Ibrani demi kebutuhan-kebutuhan tertentu semata.

Mari kini kita lihat apa kata para penafsir terkait ayat ketigabelas dari Surat Maryam tadi. Di bawah ini adalah pendapat Ibnu Katsir:


hanaan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya
artinya, “berikut kasih sayang dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh” – Tentang “berikut kasih sayang dari sisi Kami”: `Ali bin Abi Thalḥah menarasikan dari Ibnu `Abbas bahwa wa ḥananan min ladunna means “kebaikan [Arab: raḥmat] dari sisi Kami” dan serupa itu berkata pula `Ikrimah dan Qatadah dan ad-Dahhak dan ia menambahkan “Tiada yang mampu mengadakan [rahmat] yang demikian itu melainkan Kami”. Qatadah menambahkan “kebaikan dari Allah untuk Zakariyya”. Mujahid berkata wa ḥananan min ladunna artinya “rasa iba dari Tuhannya terhadap ia”. `Ikrimah berkata wa ḥananan min ladunna bermakna “kasih sayang baginya”. Ibnu Zayd berkata: Sedangkan “ḥanan” artinya cinta. `Aṭa’ Ibn Abi Rabaḥ berkata: wa ḥananan min ladunna bermakna “kemuliaan [Arab: ta`zhim] dari sisi Kami”. Ibnu Jurayj memberitahu kami, `Amr Ibn Dinar menyampaikan kepadaku bahwa ia mendengar `Ikrimah menarasikan dari Ibnu `Abbas perkataannya: “Tidak, demi Allah, aku tak tahu apa arti hanan“. Ibnu Jarir berkata: Ibnu Ḥumayd menyampaikan kepada kami, Jarir menarasikan kepada kami dari Manṣur: Aku bertanya kepada Sa`id Ibn Jubayr tentang wa ḥananan min ladunna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang itu dan ia tidak tahu banyak tentang hal tersebut. […]

Banyak referensi Islami seperti Tafsir al-Qurtubi atau Al-Itqan oleh As-Suyuti dan lainnya yang menarasikan keterangan-keterangan serupa dari Ibnu ‘Abbas terkait “ḥanan”.
6. Eksegesis Surah Maryam Ayat 7
“… lam naj’al lahu min qablu samiyya.”
“… tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.” [Al-Qur’an 19:7]

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya mengenai ayat ini:

yahya_ibnkathir
Artinya:
“Dan Mujahid berkata: ‘[Untuk] lam naj’al lahu min qablu samiyya, [samiyya berarti] ‘shabihan’ – yang sepadan dengannya.’ Ia menarik pemaknaan ini dari perkataan Allah [surah 19 ayat 65]: ‘… fa’budhu washthabir liÊ¿ibadatihi hal ta’lamu lahu samiyya’, ‘… maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah Engkau mengetahui ada sesuatu yang [layak untuk menjadi] samiyya bagi-Nya?’. Maka arti [dari samiyya] adalah shabihan – yang sepadan dengannya. Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalḥah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa itu artinya: Tiada perempuan mandul yang melahirkan seseorang seperti dia sebelumnnya. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Zakariyya ‘alayhis salaam mandul sebagaimana istrinya [yang mandul sejak semula], tidak seperti Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah. Alasan terkejutnya mereka [Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah] terhadap berita gembira kelahiran Ishaq adalah karena usia tua dan bukan karena kemandulan. Inilah mengapa Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam berkata [dalam keterkejutannya]: ‘abasy-syartumunii ‘alaa am-massaniya l-kibaru fabima tubasy-syiruun’, artinya: ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut? Lalu bagaimana engkau menyampaikannya?’ [surah 15 ayat 54]. Meskipun ia berputrakan Isma’il 13 tahun sebelumnya. Demikian pula istrinya berkata: ‘yaa waylataa a-alidu wa anaa ‘ajuu zuwwa haadzaa ba’lii syaikhan inna haadzaa lasyai-un ‘ajiib. Qaaluu ata’jabiina min amrilLahi rahmatulLahi wabarakaatuHuu ‘alaykum ahla l-bayti innaHuu Ḥamiidu m-Majiid’, artinya: ‘Aduhai, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib. Mereka (para malaikat) berkata: Mengapa engkau merasa heran terhadap ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Mulia’ [surah 11 ayat 72-73].”

Kata kuncinya di sini adalah samiyya dan analisis rinci atas kata ini disajikan pada Appendix A. Kata samiyya muncul hanya dua kali di dalam Al-Qur’an, pada surah 19 ayat 7 dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam dan pada surah 19 ayat 65 yang merujuk kepada Allah

Dengan metode menggunakan ayat Al-Qur’an untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an lainnya, Ibnu Katsir sampai pada poin bahwa kelahiran Yaḥya tidaklah seperti kelahiran-kelahiran lain. Penjelasan ini juga didukung oleh hadits dari Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata bahwa yang dimaksud di sini adalah bahwa tidak pernah ada anak lelaki seperti Yaḥya dalam pengertian terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. Meskipun Ishaq lahir dari orangtua yang juga tua, tak satu pun dari mereka mandul. Dengan alasan inilah Ishaq tidak sama dengan Yaḥya dalam hal kelahiran.

Dan As-Suyuti menyebutkan dalam tafsirnya:

yahya_durr
Artinya:
“Diriwayatkan Al-Faryabi dan Ibnu Abi Shaybah juga ‘Abd ibn Humayd dan Ibnu al-Mundhir serta Ibnu Abi Ḥatim dan Al-Hakim yang menilainya sahih bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’. Diriwayatkan ‘Abdurrazzaq dan Aḥmad dalam Al-Zuhd dari jalur ‘Ikrimah. Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’: Tak pernah seorang perempuan mandul melahirkan anak seperti ia. Diriwayatkan Aḥmad dalam Al-Zuhd dan ‘Abd Ibnu Ḥumayd dan Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim bahwa Sai’id Ibnu Jubayr berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’ yakni [samiyya berarti] shabihan – yang sepadan dengannya. ‘Abd Ibnu Ḥumayd meriwayatkan keterangan serupa dari jalur ‘Atha’. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh dari Yaḥya Ibnu Khallad al-Zarqi bahwa ketika ia [Yaḥya] lahir, ia dibawa kepada Sang Nabi yang memberinya kurma yang telah dikunyah dan berkata: “Aku akan memberinya nama yang tidak pernah diberikan [kepada siapapun] sebelumnya: Yaḥya bin Zakariyya” dan ia pun memanggilnya Yaḥya.

Dari pembahasan di atas, kita lihat bahwa para ‘ulama memiliki dua pandangan terkait ayat lam najÊ¿al lahu min qablu samiyya:
  1. Samiyy berarti shabihan atau mithlan, yakni yang sepadan dengannya. Ayat ini diartikan bahwa kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam tidak seperti kelahiran yang lain, yang mana ia terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. 
  2. Tidak seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam pernah diberi nama demikian oleh Allah.
At-Ṭabari menyajikan hadits untuk kedua penafsiran tersebut, namun berpendapat bahwa penafsiran yang kedua lebih tepat. Al-Qurtubi menyebutkan kedua pendapat tersebut, namun tidak cenderung pada salah satunya. Dan Ibnu Katsir, yang mengutip pendapat At-Tabari, juga tidak cenderung pada yang manapun.

7. Kesimpulan
Geiger dan para misionaris Kristen telah menunjuk kepada suatu kerumitan yang muncul pada ayat ke-17 dalam surah ke-19 di mana kelahiran Yaḥya disebutkan. Menurut pemahaman mereka, nama Yaḥya adalah padanan dalam bahasa Arab untuk nama John. Mereka juga memahami bahwa nama Yaḥya unik, dan tiada seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pernah memiliki nama tersebut. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua-puluh-lima rujukan pada nama John, dan untuk alasan inilah Al-Qur’an dianggap salah. Tulisan ini telah menunjukkan secara menyeluruh bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda dan berasal dari dua akar bahasa yang berbeda.

Geiger dan para Misionaris gagal memahami bahasa asli dari dua nama tsb dan karenanya salah kaprah dalam menyimpulkan bahwa Al-Quran salah.

Ayat dalam QS 19:7 yang dibaca lam najʿal lahu min qablu samiyya dapat diterjemahkan dalam dua pengertian:
  1. Samiyy, berarti shabihan atau mithlan, contohnya; seseorang seperti dia. Terjemahan ayat ini adalah menjelaskan bahwa proses kelahiran Yahya tidak sama dengan anak-anak lainnya karena ia lahir dari ayah yang sudah uzur dan dari ibu yang mandul. 
  2. Nama Yahya unik, dan tidak ada seorang pun sebelum kelahirannya yang pernah diberi nama Yahya oleh Allah. Ini yang tampak jleas luput dari perhatian para misionaris.
Apakah Yaḥya juga disebut Yowchanan [atau Yuḥanna]? Tampaknya begitu, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Melalui Mandaeanlah kita mendapatkan nama ganda Yahia Yuhana. Menurut literatur Mandaic, Yahia adalah nama malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah nama laqab atau awam. Al-Qur'an hanya menggunakan nama sebenarnya dan nama rohani, yaitu Yaḥya; Yuḥanna dinyatakan sebagai parafrasa dalam ayat 19:13 mungkin karena fakta bahwa "Yu" dalam bahasa Arab tidak berarti Tuhan, maka membuat kata "Yuḥanna" secara etimologis tidak memiliki arti apa-apa. Agaknya, "Yuḥanna" dipinjam ke dalam bahasa Arab melalui sumber-sumber Ibrani atau Siria. Yang menarik, Encyclopaedia Judaica di bawah entri 'Yohanes Pembaptis' [37] hanya menyebutkan nama Arab: Yaḥya ibn Zakariyya. Tidak seperti entri untuk Musa, Yesus, dll, tidak ada catatan apapun tentang nama ini.

Penggunaan nama Yahia Yuhana di antara orang-orang Mandaean tentu menarik. Perlu juga dicatat bahwa banyak literatur mereka yang mencatat memang ada mantera Mandaean yang berasal dari masa pra-Islam. [38] Penelitian dan temuan temuan lebih lanjut tentunya akan memberi lebih banyak informasi tentang asal mula sastra Mandaic, insya allah.

Sekali lagi misionaris Kristen gagal menunjukkan kontradiksi “historis” dalam Al-Qur'an. Seandainya mereka mau menyelidiki kontroversi ini, bahkan sedikit saja, maka mereka tidak akan pernah membuat blunder seperti itu. Tetapi sebagaimana kita ketahui, ada preferensi di antara para misionaris Kristen untuk secara buta mengikuti setiap polemik murahan, dan karena perdebatan tentang asumsi "kontradiksi" ini tidak sampai berlarut-larut, maka kita tidak akan terganggu olehnya.


CATATAN:
Lebih lengkap, silahkan pelajari di sini

Dan seperti biasa, Maha Benar Allah Dengan segala Firman-Nya
[Disadur bebas dari ISLAMIC AWARNESS - And No One Had The Name Yaḥya (John?) Before: A Linguistic & Exegetical Enquiry Into Qur'an 19:7]




Masalah Seputar Sebutan Maryam Saudara Harun dan Saudara Musa


QS. Maryam:
[27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

[28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Masalah dipanggilnya Maryam saudara Harun ini sering dijadikan alasan para Misionaris untuk melontarkan tuduhan-tuduhan bahwa Al-Qur’an telah salah menuliskan fakta sejarah, menganggap Maryam Ibunda Isa As hidup semasa Harun as dan Musa as, yang rentang waktunya berbeda sekitar 15 abad!

Benarkah tuduhan tersebut, dan apa alasan-alasan mereka melontarkan tuduhan tersebut?

1. Maryam yang dikisahkan di dalam Al Qur’an punya nama yang mirip dengan Miryam yang benar-benar saudara Harun dan Musa didalam alkitab.

Kel. 15:20 Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari.

2. Maryam yang dikisahkan didalam Al-Qur’an punya ayah yang bernama Imran yang mirip dengan nama Ayah Miryam, Harun dan Musa didalam Al-kitab.


Bilangan 26:59 Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir; dan bagi Amram perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan

1Tawarikh 6:3 Anak-anak Amram ialah Harun, Musa dan Miryam. Anak-anak Harun ialah Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.

Selanjutnya, mari sama-sama kita simak yang berikut ini:

PERTAMA, soal perbedaan makna panggilan dan penjelasan. Mari kita perhatikan secara seksama keterangan maryam saudara Harun di dalam Al Qur’an.

QS. Maryam 
[27] Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.

[28] Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”,

Penyebutan Saudara Harun kepada Maryam didalam Qs Maryam 28 adalah satu-satunya ayat yang menyebut demikian. dan penyebutan “saudara Harun” bukan sebuah penjelasan tentang beliau tetapi sebagai sebuah panggilan kepadanya. panggilan dari Kaumnya setelah mengetahui ia punya anak.

Apakah sebuah panggilan pasti bermakna yang sebenarnya? tidak bukan? Banyak sekali kemungkinan dari makna sebuah panggilan. Bisa makna sesungguhnya, bisa sebagai panggilan “alias”, bisa sebagai olok-olok, dan bisa juga bermakna kiasan dll.

Bandingkan dengan apa yang tercatat didalam alkitab, bahwa Miryam saudara Harun adalah sebuah penjelasan tentang siapa Miryam!

Kita ambil contoh tentang sebuah panggilan dari yang tercatat didalam alkitab: Yohanes pembaptis memanggil kepada orang Farisi dan saduki sebagai keturunan Ular beludak.

Matius 3:7 Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: “Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?

Lukas 3:7 Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: “Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang?

Apakah dengan keterangan ayat ini bisa menjadi keterangan bahwa Orang yahudi dari golongan Farisi dan Saduki adalah keturunan Beludak yang sesungguhnya?

Apalagi panggilan tersebut bukan saja dilakukan oleh Yohanes pembaptis tetapi Yesus pun juga menggunakan panggilan demikian.

Matius 12:34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

Bahkan Yesus tidak sekedar memanggil sebagai Keturunan saja tetapi juga memanggil Ular kepada para Ahli Taurat dan orang farisi.

23:29 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh

23:30 dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu.

23:31 Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu.

23:32 Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!

23:33 Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?

23:34 Sebab itu, lihatlah, Aku mengutus kepadamu nabi-nabi, orang-orang bijaksana dan ahli-ahli Taurat: separuh di antara mereka akan kamu bunuh dan kamu salibkan, yang lain akan kamu sesah di rumah-rumah ibadatmu dan kamu aniaya dari kota ke kota,

Apakah mereka yang suka membuat tuduhan kepada Al-Qur’an tersebut juga berfikir bahwa Para Ahli Taurat dan orang Farisi benar-benar Ular dan keturunan ular beludak?

Jika mereka konsisten dengan teori “tuduhannya” tersebut, tetapi saya rasa hanya orang gila yang menganggap makna panggilan Ular dan keturunan Ular beludak adalah makna sesungguhnya bukan makna kiasan ,bahwa Orang Farisi benar-benar keturunan Ular!

KEDUA, tentang keterangan ayat-ayat lain.
Kita harus perhatikan juga ayat-ayat lain yang menjelaskan tentang Maryam didalam Al-Qur-an. Di dalam Al QUr’an secara jelas menyebut Maryam hidup semasa Zakaria ayah Yahya (Yohanes Pembaptis).

[35] (Ingatlah), ketika istri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitulmakdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

[36] Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.”

[37] Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

[37] Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

[38] Di sanalah Zakaria mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

[39] Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

[39] Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

[40] Zakaria berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya”.

[41] Berkata Zakaria: “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)”. Allah berfirman: “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari”.

Jelas sekali Bahwa Maryam tidak sekedar hidup semasa Zakaria ayah Yahya (Yohanes) tetapi Zakaria adalah yang memelihara dan mendidiknya.

Adapun keterangan soal latar belakang Maria Ibu Yesus /Isa As didalam Injil yang empat (kanonik) sangat minin sekali menjelaskan tentangnya,satu-satunya Injil yang menjelaskan adalah Injil Lukas!

Dan ternyata keterangan dari Al Qur’an sama dengan keterangan Lukas bahwa Ibunda Isa as (Yesus) yaitu Maryam (Maria) hidup semasa Zakaria ayah Yahya (Yohanes).

Bahkan didalam Injil Lukas tidak sekedar hidup semasa ternyata Maryam adalah sanak/ saudara dari Istri Zakaria yang keturunan Harun

Lukas 1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

Perhatikan Kitab Lukas 1:
1:5. Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.

1:59 Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya,

1:60 tetapi ibunya berkata: “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.”

1:61 Kata mereka kepadanya: “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.”

KETIGA, tidak ada keterangan di dalam Al-Qur’an Maryam hidup semasa dengan Harun dan Musa. Tidak ada satupun ayat yang mendukung bahwa Maryam ibu Isa As hidup semasa Harun dan Musa. Dan persoalan itu sangat berbeda sekali dengan keterangan Alkitab yang secara jelas dan tegas bahwa miryam hidup semasa dengan Harun dan Musa.

Juga Kitab Bilangan 12:
12:1 Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush.

12:4 Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: “Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan.” Maka keluarlah mereka bertiga.

12:5 Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya.

Mi. 6:4 Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu

KEEMPAT, soal nama Ayah yang mirip.
Tak ada satupun keterangan di dalam Al-Qur’an bahwa Imran juga ayah dari Harun dan Musa, karena sangat jelas Al-Qur’an hanya menyebut nama anak Imran hanya Maryam! Itu sangat berbeda sekali dengan apa yang tercatat didalam alkitab.

Bilangan 26:59 Dan nama isteri Amram ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir; dan bagi Amram perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan.

1Tawarkh. 6:3 Anak-anak Amram ialah Harun, Musa dan Miryam. Anak-anak Harun ialah Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.

Dan soal kesamaan nama anak dan ayah ini, apanya yang aneh? Bukankah pada saat itu banyak orang yang menggunakan nama-nama yang sama dengan nama leluhurnya? Apakah mustahil terjadi kesamaan nama secara alamiah?

Apakah dengan nama yang sama antara anak dan Ayah, maka dianggap orang yang sama dengan pemilik nama sebelumnya? Sebagai contoh kongkrit adalah apa yang tertulis di dalam alkitab:

Kejadian 37:2  Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun–jadi masih muda–biasa menggembalakan kambing domba ... "

Matius 1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria .... "

Apakah Yusuf suami Maria adalah orang yang sama dengan apa yang tercatat didalam Kejadian 37:2?
TIDAK, bukan?

Jadi, tuduhan tentang "kesalahan fatal"  Al-Qur'an menyebut "Maryam saudara Harun” itu tentu saja dilandasi pemikiran tidak cerdas yang mengira Maryam = Miryam saudara Harun dan Musa!

Pikirkanlah sendiri, sebuah tuduhan yang berdasar argumen kuat, atau semata-mata cuma latah asal mangap saja?

Wallahu 'alam bisyawwab.

[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]