Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Kristologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kristologi. Tampilkan semua postingan

101 bukti Ketuhanan Yesus menurut Injil dan Al-Quran


Meskipun dalam al-Qur’an ada disebut-sebut tentang kaum Shabi’in dan Majusi, tetapi para ulama atau pelajar muslim lebih cenderung mempelajari agama Yahudi dan Kristen. Hal ini dapat dimaklumi, karena Yahudi dan Kristen dianggap bertanggungjawab atas penyelewengan ajaran-ajaran para nabi utusan Allah. Bahkan, dalam penyelewengan itu Yahudi dan Kristen merekam perjalanan wahyu sejak nabi Adam as.

Dari pihak orientalis sendiri, yang berlatar belakang Yahudi maupun Kristen, mereka sangat serius mempelajari Islam. Lantas mengapa kita tidak serius mempelajari mereka? Hal ini perlu dilakukan agar Islam tetap terpelihara dari segala bentuk serangan orientalis.

Banyak aspek yang dapat kita perbandingkan antara Kristen dengan Islam. Misalnya tentang konsep ketuhanan, konsep nabi, konsep hukum, konsep akhirat, konsep wahyu, konsep kitab suci, dan lain sebagainya.

Berikut ini, yang menjadi sorotan adalah konsep ketuhanan Kristen, khususnya ketuhanan Yesus Kristus yang amat problematis. Hal ini sudah lama terbukti karena sejak "pada mulanya" tidak henti menimbulkan polemik berkepanjangan yang tampaknya tidak kunjung usai.

Masalahnya, umat kristen lebih percaya kepada dogma gereja ketimbang bukti-bukti alkitab sendiri yang sudah demikian jelas menunjukkan bahwa Yesus memang bukan tuhan melainkan hanya utusan Tuhan, alias seorang nabi.

Berikut adalah bukti-bukti alkitab dimaksud yang sudah sejak lama "published" di berbagai situs kristologi.

101 bukti Ketuhanan Yesus menurut Injil dan Al-Quran

Syahadat Nabi Isa as, Menurut Islam Atau Kristen?


Dalam brosur “Dakwah Ukhuwah” berjudul “Membina Kerukunan Hidup Antarumat Beragama,” secara licik para misionaris mengelabui umat Islam untuk menggiring akidah agar pindah agama menjadi Kristen.

Puluhan ayat Al-Qur'an dikutip dalam brosur tersebut untuk diselewengkan kepada pengertian yang mendukung doktrin Kristen. Salah satu ayat yang menonjol dalam brosur tersebut adalah surat Az-Zukhruf 61:

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat, karena itu janganlah kamu ragu tentang kiamat itu dan ikutlah Aku, itulah jalan yang lurus.”

Kata “ikutlah aku, itulah jalan yang lurus” ini diselewengkan misionaris sebagai ucapan Yesus sendiri yang berarti orang yang mengimani Al-Qur'an, yaitu umat Islam, harus mengikuti Yesus karena Yesus itulah jalan yang lurus (shirathal mustaqim).

“Jalan yang lurus” (shirathal mustaqim) yang dimaksud dalam ayat tersebut bukannya Yesus yaitu menjadi Kristen. Sama sekali bukan.

Jalan yang lurus yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah jalah Tauhid. Pengertian inilah yang paling tepat, karena surat Az-Zukhruf 61 itu belum berhenti, tapi masih ada kelanjutannya, yaitu ayat 64:

“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus” (Qs. Az Zukhruf 64).

Syahadat Yesus dalam Alkitab, Islami ataukah Kristiani?

Para misionaris tidak perlu menggurui umat Islam untuk mengikuti jalan yang lurus. Karena umat Islam lebih tahu dan akidahnya sudah sesuai dengan ajaran para nabi Allah dari Adam sampai Muhammad SAW, termasuk Yesus (Nabi Isa AS).

Jika para misionaris ingin mengajak umat Islam untuk menaati ajaran Yesus, mari kita buktikan, siapakah yang imannya sesuai dengan ajaran Yesus. Perhatikan sabda Yesus dalam Alkitab berikut:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Injil Yohanes 17:3).

“And this is life eternal, that they might know thee the only true God, and Jesus Christ, whom thou hast sent” (Yohanes 17:3, Alkitab King James Version 1810).

“Eternal life is to know you, the only true God, and to know Jesus Christ, the one you sent” (Yohanes 17:3, Contemporary English Version).

“And eternal life means to know you, the only true God, and to know Jesus Christ, whom you sent” (Yohanes 17:3, Today’s English Version).

“And this is life eternal, that they should know thee the only true God, and him whom thou did send, even Jesus Christ” (Yohanes 17:3, Revised Standard Version 1611).

Untuk lebih meyakinkan para pembaca, marilah perhatikan ayat tersebut menurut bahasa-bahasa daerah:

“Ikolah iduik sajati nan kaka tu; iyolah, urang musti tawu pulo jo Bapak, hanyo Angkau sajolah Allah nan bana, urang musti tawu pulo jo Isa Almasih nan Bapak utuih” (Yohanes 17:3, Injil Baso Minang).

“Gesang sejatos inggih menika, menawi tiyang wanuh dhateng Paduka, Allah ingkang sejatos, ingkang mboten wonten tunggilipun, sarta tepang kaliyan Yésus Kristus, utusan Paduka” (Yohanes 17:3, Alkitab boso Jowo).

“Dupi hirup langgeng teh nya eta: Terang ka Ama, Allah sajati anu mung hiji, sareng ka utusan Ama, Yesus Kristus” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Sunda).

“Ka'dhinto' odhi' se salerressa sareng se langgeng; sopaja oreng oneng ka Junandalem, Allah se settong sareng se salerressa, jugan oneng ka Isa Almasih se eotos Junandalem” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Madura).

“Ini no tu hidop yang kekal, biar dorang tau butul-butul Tuhan cuma satu-satunya Allah yang banar, deng Yesus Kristus yang Tuhan da utus” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Manado sehari-hari).

“Alai na mananda Ho, Debata na sasada i, na sintong i, dohot Jesus Kristus na sinurum, i do hangoluan na salelenglelengna” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Toba, Sumut).

Pada ayat tersebut Yesus mengaku dengan jujur bahwa satu-satunya Allah yang benar adalah Allah SWT, dan dia hanya seorang utusan Tuhan. Ini berarti Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat (syahadatain), yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab, akan menjadi: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Isa rasuulullah.”

Sepeninggal Yesus, nabi kita Muhammad SAW juga mengajarkan dua kalimat syahadat (syahadatain) yaitu: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammaadar rasuulullah.” Kalimat syahadatain adalah pintu awal menjadi seorang muslim bagi seluruh manusia di dunia.

...Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat, demikian pula umat Islam. Sebaliknya, umat Kristen memiliki 12 syahadat (credo) sendiri yang dikenal dengan ”12 Syahadat/Pengakuan Iman.” Syahadat 12 ini bukan warisan Yesus, tapi hasil rumusan konsili Konstan*ti*nopel tahun 381 M...

Ini adalah bukti bahwa umat Islamlah yang meneruskan ajaran Yesus tersebut. Sementara umat Kristen tidak mengenal dua kalimat syahadat.

Pada ayat tesebut, sangat jelas sekali Yesus berterus terang sejujur-jujurnya bahwa satu-satunya Tuhan yang benar hanyalah Bapa (Allah SWT) dan dia hanya seorang utusan saja.

Apa yang diucapkan Yesus dalam Injil Yohanes 17:3 tadi, sama sekali tidak tidak diamalkan oleh mereka. Bahkan mereka menjadikan Yesus sebagai Tuhan atau Allah itu sendiri yang mereka sembah. Na’udzubillahimindzalik.

Ajaran dua kalimat syahadat Yesus dalam Yohanes 17:3 itu membuktikan bahwa umat Islamlah agama yang "melestarikan" ajaran Yesus bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah dan dia (Yesus) hanyalah seorang utusan Tuhan, bukan Tuhan maupun penjelmaan Tuhan! Sedangkan umat Kristiani menjadikan Yesus sebagai salah satu oknum Tuhan dalam doktrin Trinitas.

Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat, demikian pula umat Islam. Sebaliknya, umat Kristen memiliki 12 syahadat (credo) sendiri yang dikenal dengan ”12 Syahadat/Pengakuan Iman.” Syahadat 12 ini bukan warisan Yesus, tapi hasil rumusan konsili Konstan*ti*nopel tahun 381 M yang diadakan oleh kaisar Theodosius yang dikenal dengan Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel (Credo Niceano-Constantinopolitanum).

Jelaslah bagi kita, siapa yang lebih taat kepada syahadat warisan Nabi Isa. Jika para misionaris penulis brosur ”Dakwah Ukhuwah” itu ingin menaati ajaran Yesus, maka ajaran yang paling taat kepada syahadat Yesus adalah Islam.

Dari: H. Insan LS Mokoginta (Wencelclaus)


Jaminan Sorga Umat Kristen Menurut Al-Qur'an



Ayat-ayat alkitab dibawah ini merupakan tanggapan netters Kristen untuk membuktikan bahwa dalam alkitab terdapat jaminan keselamatan (diartikan masuk sorga) bagi yang percaya pada ketuhanan Yesus Kristus.
  • Barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
  • Mereka yang mendengarnya, akan hidup.
  • Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.
  • Setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.
  • Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
  • Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
  • Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan,
  • Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.
Ayat-ayat tersebut punya pola pengandaian, banyak memakai kata ‘barangsiapa’ dan ‘akan’ yang artinya: JIKA anda percaya kepada Yesus, maka NANTI anda AKAN masuk sorga. Padanan dari ayat tersebut dalam Al-Qur’an sebenarnya banyak.

[Al Baqarah 82] Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

[An Nisaa 57] Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang shaleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai;

[An Nisaa 122] Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?

[Al A’raaf 42] dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.

[Yunus 9] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam syurga yang penuh keni`matan.

[Huud 23] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni syurga; mereka kekal di dalamnya.

[Ar Ra’d 29] Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.

[Ibrahim 23] Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah “salaam”

[Al Kahfi 107] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,

[Maryam 60] kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,

[Thaahaa 75] Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia),

[Al Hajj 14] Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

[Al Hajj 23] Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Al Hajj 56] Kekuasaan di hari itu ada pada Allah, Dia memberi keputusan di antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh adalah di dalam syurga yang penuh keni`matan.

[Al Ankabuut 7] Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.

[Al Ankabuut 58] Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,

[Ar Ruum 15] Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira.

[Luqman 8] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, bagi mereka syurga-syurga yang penuh keni`matan,

[As Sajdah 19] Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan.

[Asy Syura 22] Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

[Al Jatsiyah 30] Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata.

[At Taghaabun 9] (Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan, itulah hari dinampakkan kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.

[At Thalaaq 11] Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya.

[Al Buruuj 11] Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar.

Berbeda dengan ajaran Kristen yang mengaitkan soal masuk sorga HANYA dengan percaya (sekalipun dalam beberapa diskusi netters Kristen disini mengatakan bahwa kalau sudah percaya maka perbuatannya sudah pasti merupakan amal saleh, ini perlu didiskusikan lebih lanjut, fakta yang ada, amal saleh dan perbuatan baik dapat dilakukan oleh semua orang, tidak peduli apapun agamanya, bahkan atheis sekalipun). Maka Al-Qur’an mengaitkan sorga dengan iman dan amal saleh, artinya beriman saja tidak akan membuat anda masuk sorga kalau tidak pernah beramal saleh, sebaliknya semua amal saleh anda akan sia-sia kalau tidak didasari iman kepada Allah.

Namun semua ayat Al-Qur’an tersebut tidak diartikan bahwa anda yang merasa telah beriman dan beramal saleh PASTI masuk sorga, karena selama anda menjalani hidup maka dipastikan iman dan amal saleh anda selalu berobah, kadang naik dan kadang turun, itu adalah hal yang manusiawi dan terjadi pada semua orang.

Kondisi keimanan dan amal saleh yang tidak stabil tersebut bisa disebabkan oleh ujian yang diberikan Allah kepada manusia yang punya kodrat memiliki kecenderungan ke arah baik dan buruk. Al-Qur’an sendiri menyampaikan:

[Ali Imran 142] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.

[Al Ankabuut 2] Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?

[Ali Imran 186] Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.

[Al Hujuurat 3] Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

[Al An’aam 145] Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.

[Al An’aam 53] Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya) ?”

[Al Anbiyaa 35] Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

[Muhammad 31] Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.

[Al Mulk 2] Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

[Al Insaan 2] Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

Jadi menurut Al-Qur’an, hidup di dunia tidak lain hanyalah periode untuk menguji keimanan dan perbuatan kita, mengapa harus diuji? Karena hanya dengan ujianlah bisa dibuktikan apakah seorang manusia memang menjalankan hidupnya sesuai perintah Allah atau tidak. Dalam menjalani hidup sering kita tergelincir melakukan dosa, itu juga manusiawi karena mana ada manusia yang tidak punya dosa..?, untuk itu Allah memberikan mekanisme lain:

[Ali Imran 135-136] Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.

[An Nisaa 64] Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita`ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

[An Nisaa 106] dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[An Nisaa 110] Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[Al maaidah 39] Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[Al Maaidah 73-74] Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[Al A’raaf 153] Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[An Anfaal 39] Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu;

(ini sebagian dari ayat Al-Qur’an tentang pengampunan Allah, masih banyak ayat yang lain lagi, terus terang capek mengutipnya karena sangat banyak ayatnya, silahkan anda cari sendiri dalam Al-Qur’an)

Jadi, ayat alkitab memang tidak pernah menyatakan adanya jaminan anda masuk sorga karena percaya kepada Yesus. Sebab semua ayat yang dikutip diatas hanyalah kalimat pengandaian, dan itu sama saja dengan ayat yang ada dalam Al-Qur’an.

Lalu mengapa umat Kristen sampai bisa punya pikiran SUDAH dijamin dan PASTI masuk sorga, hanya dengan syarat percaya?

Itu datangnya dari doktrin gereja yang dicekoki terus-menerus, menjadi ‘candu spriritual’, bikin mabok dan melayang-layang, lupa bahwa kita harus terus menjalani kehidupan dengan segala kemungkinan, bisa istiqomah (konsisten) dengan keimanan dan amal saleh kita, bisa juga terjerumus. Al-Qur’an mengatakan:

[Al Baqarah 111] Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”.

Tahu artinya angan-angan kosong?
Sesuatu yang belum ada ditangan, tapi pikiran kita menganggapnya itu sudah ada di tangan. Itulah yang namanya angan-angan kosong, dan Al-Qur’an telah memperingatkan anda dengan bahasa yang lugas dan jelas.

Sekarang silahkan pikir sendiri, di hadapan anda ada dua pilihan soal keselamatan dan jaminan masuk sorga. Mana yang akan anda pilih?

Anda mau ‘melayang-layang’ menikmati angan-angan kosong sendiri, atau kembali kedunia nyata, menjalani sisa kehidupan anda, selalu berhati-hati agar tidak tergelincir, selalu memohon kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang bisa memberi anda petunjuk atau malah akan menyesatkan anda jika anda menghadap-Nya dengan sombong, prasangka buruk dan kedurhakaan?

Semuanya terserah anda!

[Sumber: Serangan Balik Untuk FFI | Islam Menjawab Fitnah]

Perumpamaan, Di Dalam Injil Dan Al-Qur'an


Sebelum mulai, ada baiknya lebih dulu sama-sama kita tegaskan dan garisbawahi di sini bahwa tidak sedikitpun tersirat dalam pemahaman umat Muslim bahwa Yesus, atau Isa Al Masih, memiliki kekurangan, asal bicara, tidak konsisten, penipu, apalagi mengarang-ngarang wahyu Ilahi. Sebab semua umat Muslim meyakini dengan segenap hati bahwa beliau adalah Rasul Allah yang senantiasa mendapat petunjuk dan hidayah dari-Nya. Oleh karenanya, apa pun yang diucapkan dan diajarkannya tentu bukan sesuatu yang beliau karang-karang sendiri, melainkan berdasarkan apa yang diterimanya dari Allah.

Kalaupun ada analisa terhadap ucapan-ucapan beliau di dalam Alkitab yang mengarah kepada kritisi, semua itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggugat beliau sebagai utusan Allah, namun lebih banyak merupakan kritik kepada alkitab, terutama Injil (Matius, Markus, Lukas dan Johanes) yang patut diduga mengandung kesalahan-kesalahan dalam pencatatan dan merekam apa yang diucapkan Yesus semasa hidupnya.

Dalam dialog, umat Kristian kerapkali menggunakan ayat Matius 13:13 dan Yohanes 1:1 untuk menuduh sekaligus mengunci pembelaan mereka terhadap lawan diskusinya:

"Karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti,""Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."

Tentang Yohanes 1:1 ini, silahkan lihat urutan ke-75 pada artikel Ketuhanan Yesus Menurut Injil Dan Al-Qur'an atau klik di sini. Sedangkan tentang Matius 13, mungkin ada perlunya bila kita coba telusuri baik-baik ayat-ayat di dalamnya guna mengetahui apa sebenarnya maksud pesan moral yang tertulis di sana:
  • 13:1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau.
  • 13:2 Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai.
  • 13:3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: "Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.
  • 13:4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.
  • 13:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.
  • 13:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.
  • 13:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati.
  • 13:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.
  • 13:9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"
Sampai di sini, ucapan Yesus terlihat begitu baik, beliau telah memberikan perumpamaan yang indah. Jelas terlihat bahwa Yesus memisahkan antara si penabur dan benih, yang diartikan bahwa si penabur adalah ORANG YANG MENYAMPAIKAN FIRMAN ALLAH dan benih adalah FIRMAN ALLAH itu sendiri.

Dari sini terlihat adanya pertentangan antara Matius 13 dengan Yohanes 1 yang menyatakan bahwa Yesus adalah firman, sebab Matius 13 menunjukkan bahwa Firman Allah adalah ajaran-ajaran Allah yang disampaikan melalui orang yang ditunjuk-Nya, sebagai petunjuk hidup bagi manusia, dan orang yang telah ditunjuk itu sekaligus memberikan contoh tentang bagaimana Firman tersebut seharusnya dijalankan. Namun dalam prakteknya ada petunjuk Allah tersebut yang diterima dengan baik dan bermanfaat bagi si penerima, tapi ada juga yang tidak berguna sama sekali.

Ada empat golongan orang yang menerima petunjuk, di antaranya hanya satu yang bisa menjadikan petunjuk tersebut sebagai penyelamat hidupnya. Ini sungguh suatu perumpamaan yang indah. Pada ayat 13:18-19, Yesus bahkan menjelaskan apa maksud perumpamaan tersebut:
  • 13:18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu.
Setelah itu beliau memberikan perumpamaan: Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis, yang diartikan beliau:
  • 13:19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Yesus, baik dalam perumpamaan maupun dalam arti sebenarnya tidak ada kesan maupun pengertian bahwa Yesus adalah firman. Namun yang tampak jelas justru kesan bahwa beliau adalah penabur, sebagaimana dikuatkan pula dengan kata merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu. Apa yang telah ditaburkan kedalam hati? Siapa yang menaburkannya?

Makna yang logik di sini adalah: Yesus telah menyampaikan petunjuk Allah (firman Allah) namun si penerima ternyata tidak mengerti. Tidak dijelaskan di sini mengapa si penerima tidak mengerti. Apakah karena kebodohan atau karena tidak mau mengerti.

Di dalam Al-Qur'an, Allah menjelaskan ada dua pengertian tentang apa yang disebut petunjuk, yaitu firman yang diwahyukan oleh Allah dan bagaimana manusia memahami firman itu sendiri. Umat Muslim meyakini bahwa Firman Allah terhimpun dalam kitab-kitab wahyu; Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur'an.

"Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Al Baqarah[2]:2-5)

Ayat pertama di atas merujuk kepada Al-Qur'an dan kitab-kitab yang telah diturunkan Allah sebelumnya, sedangkan ayat ke-lima menegaskan pada pemahaman atas petunjuk yang diberikan Allah bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Apabila ada orang yang telah diberi petunjuk namun tidak memahami petunjuk tersebut penyebabnya dijelaskan oleh Allah karena qalbu dari si penerima tidak siap, sehingga menjadi tugas manusialah untuk mempersiapkan dirinya supaya dapat memahami Firman-Firman Allah dengan cara mebersihkan qalbunya. Lebih lengkap tentang mekanisme memahami petunjuk ini dapat dilihat pada artikel Pandangan Al-Qur'an Tentang Keabsahan Firman Tuhan atau silahkan klik di sini.

Selanjutnya Yesus menjelaskan apa maksud perumpamaan: Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar, beliau menjelaskan:
  • 13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
  • 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.
Ayat-ayat ini menunjuk kepada mereka yang sekalipun telah memahami dan menerima firman tersebut, namun tidak "tahan banting" hingga akan kembali mengingkarinya (murtad) begitu mengalami penindasan dan penganiayaan terhadap dirinya sebagai konsekuensi atas penerimaannya itu. Yesus menyatakan orang seperti ini ibarat tanah yang berbatu dan tipis.

Selanjutnya Yesus memberikan perumpamaan lain: Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, yang diartikannya:
  • 13:22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.
Inilah gambaran manusia yang juga disinggung dalam Al-Qur'an, yakni mereka yang terpedaya oleh tipuan dan kesenangan duniawi sehingga membuatnya lupa akan segala petunjuk Allah.

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadiid[57]:20)

Terakhir, Yesus menggambarkan orang-orang yang diberi kemampuan untuk memahami petunjuk dengan: Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah, yang beliau artikan:
  • 13:23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."
Di sini juga tidak dijelaskan faktor yang menyebabkan mengapa seseorang tidak dapat atau dapat mengerti dan memahami Firman Allah. Al-Qur'an mengajarkan kepada kita bahwa dapat mengerti dan memahami Firman Allah tergantung pada kehendak dan kekuasaan Allah semata, sementara di sisi manusianya sendiri ada kewajiban untuk mempersiapkan diri agar dapat memahami dan menerima Firman Allah dengan cara lebih dulu membersihkan qalbunya (Lihat kembali Pandangan Al-Qur'an Tentang Keabsahan Firman Tuhan).

Di antara ungkapan maupun perumpamaan-perumpamaan pada kelompok ayat sebelumnya, berikut ini kita temui dialog yang menarik, yakni yang menjelaskan mengapa Yesus menyampaikan ajarannya lewat perumpamaan dan tidak menjelaskannya secara langsung.
  • 13:10 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?"
  • 13:11 Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
  • 13:12 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
  • 13:13 Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti.
  • 13:14 Maka pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.
Ini juga sesuai dengan ajaran Al-Qur'an tentang perumpamaan:

"Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al Baqarah[2]:26-27)

Perumpamaan adalah salahsatu cara Allah menyampaikan ajaran-Nya melalui para Nabi dan Rasul yang dipilih dan diutus-Nya. Sedangkan baik Alkitab maupun Al-Qur'an sama-sama menjelaskan bahwa dari perumpamaan tersebut dapat terjadi dua kemungkinan pada manusia, yakni memperoleh pemahaman atau malah tersesat. Dan dari kedua kitab wahyu ini pula kita mengerti bahwa manifestasi pemahaman Firman Allah tergantung pada perkenan Allah semata.

Tentang ini, dalam Al-Qur'an disebutkan secara terang dan jelas, tentunya dengan beberapa penyebab sesuai apa yang disampaikan pada ayat ke-27 surat Al-Baqarah di atas. Sedang dalam Alkitab, disampaikan secara tersirat seperti di antaranya melalui ayat-ayat:

"Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak
. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."

Jelas disebut bahwa rahasia kerajaan sorga adalah karunia yang diberikan, dan jelas pula bahwa ada orang yang diberikan karunia ada yang tidak. Siapa yang berkuasa memberikan karunia? Tentunya Allah. Lalu mengapa ada yang diberi karunia dan ada yang tidak?

Dalam ayat-ayat selanjutnya diterangkan, karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberikan. Apa yang harus dipunyai seseorang agar karunia pemahaman Firman Allah tersebut diberikan? Dalam rangkaian ayat Matius 13 ini ini tidak ada penjelasan, namun kita dapat menemukannya dalam Al-Qur'an pada kalimat penegasan bahwa ALLAH TIDAK AKAN MEMBERI PETUNJUK KEPADA ORANG-ORANG ZALIM, KAFIR DAN FASIK:

"... dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al Baqarah[2]:258)
"... dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (QS. Al Baqarah[2]:264)
"... Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. Al-Maaidah[5]:108)

Zalim di sini dapat diartikan sebagai zalim terhadap Allah seperti mempersekutukan-Nya dengan yang lain, zalim terhadap sesama manusia seperti berbuat tidak adil, keji, dll, atau bahkan terhadap diri sendiri seperti mabuk, tidak menjaga kesehatan, dan lain-lain serupa itu.

Adapun arti kafir ditujukan kepada mereka yang kufur, yakni orang-orang yang menolak beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, dan Hari Pembalasan Allah. Maka mereka ini telah sesat sejauh-jauhnya.

Sedangkan arti fasik adalah mereka yang percaya kepada Allah, akan tetapi tidak mengamalkan perintah-Nya, bahkan dengan sengaja melanggar larangan-larangan-Nya.

Dari keterangan ini, cukup jelas kiranya bahwa pemahaman terhadap petunjuk Allah - umat Muslim menyebutnya hidayah - Insya Allah, akan diperoleh jika kita tidak termasuk dalam kelompok mana pun seperti yang disebutkan di atas.

Pertanyaan besar kemudian muncul ketika kita coba memahami lagi ucapan Yesus: Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Jika memang kepada murid-muridnya sudah diberikan rahasia kerajaan sorga, mengapa Yesus tetap menjelaskan arti dari perumpamaan tersebut? Mungkinkah Yesus tidak konsisten?

Dalam ayat selanjutnya, ketidak-mengertian murid-murid ini tergambar ketika Yesus kembali menyampaikan perumpamaan dalam Matius 13:24-35. Namun anehnya, ternyata murid-murid Yesus - yang disebutkan telah diberi karunia mengetahui rahasia kerajaan sorga itu - tidak juga mengerti maksud perumpamaan tersebut, seperti terlihat berikut ini:
  • 13:36 Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu."
Dan sekali lagi Yesus harus menjelaskan maksud perumpamaan dalam Matius 13:37-50. Dan setelah diberikan penjelasan sejelas-jelasnya, barulah para murid tersebut mengerti.
  • 13:51 Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti."
Perumpamaan yang disampaikan Yesus ternyata tidak dimengerti oleh siapapun, sampai beliau harus menerangkan sendiri apa artinya. Padahal sebelumnya beliau sudah menegaskan: Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Lalu disambung lagi: Karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar, dan tidak mengerti.

Murid-murid Yesus sendiri, yang kita semua tahu sehari-harinya hidup bersama beliau, ternyata tidak dapat memahami makna yang tersimpan di balik perumpamaan-perumpamaan seperti tertulis dalam Matius 13. Lalu, bagaimana dengan sebagian besar umat Kristian dewasa ini yang nyata-nyata tidak hidup di zaman beliau, dan karenanya tidak sempat bertanya langsung kepada beliau, mungkinkah mereka juga termasuk dalam kelompok seperti yang ditegaskan oleh Yesus sendiri dengan kalimat:

"Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap." (?) atau;

Karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar, dan tidak mengerti. (?)

Wallahualam bissawab.


[Disadur dari naskah asli: Matius 13, Mungkinkah Yesus Kristus Tidak Konsisten? | Oleh Archa]

Kekinian Zabur, Taurat, dan Injil menurut Al Qur'an

Al-Quran menyebut Zabur (Mazmur) sebagai tulisan, sedangkan Taurat (Torah) dan Injil (Bible) sebagai Al kitab. Suatu isyarat dari Allah SWT bahwa Zabur, Taurat, dan Injil yang masing-masing diturunkan kepada Nabi Daud Alaihissalam, Nabi Musa Alaihissalam, dan Nabi Isa Alaihissalam berbentuk tulisan, kitab, atau yang menyerupainya.

Ayat-ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan hal ini di antaranya adalah:

"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, 'Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur [1] kepada Daud." (QS. An Nisa[4]:163)

"Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur [2] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh." (QS. Al Anbiyaa[21]105)

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu'jizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. [3] Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh?" (QS. Al-Baqarah[2]:87)

"Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. [4] Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya." (QS. Al Baqarah[2]:113)

Untuk Taurat, Al-Quran bahkan menyebutkan dengan sangat jelas bahwa ia diturunkan oleh Allah benar-benar dalam bentuk lembaran-lembaran atau kepingan dari batu (atau kayu) yang disebut dengan luh. [5]

"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik." (QS. Al-A'raaf[7]:145)

Satu dari (hanya) enam syarat keimanan umat Muslim - yang disebut Rukun Iman - adalah kewajiban mengimani Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Quran. Dalam ayat-ayat Al Qur'an, Allah melatakkan keempatnya sama penting. Al-Quran juga membenarkan apa yang ada dalam Zabur, Injil dan Taurat, bahkan janji-janji Allah tercantum di dalam keempatnya.

"Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. [6] Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa)." (QS. Ali Imran[3]:3-4)

"Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamupun telah didustakan (pula), mereka membawa mu'jizat-mu'jizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan yang sempurna." [7] (QS. Ali Imran[3]:184)

Kendati pada dasarnya Zabur, Taurat, dan Injil diturunkan terbatas, dan hanya untuk bangsa Israel - namun kini dianggap sebagai kitab-kitab suci pemeluk agama Nasrani di dunia - tidak banyak kita dapati orang, atau kelompok-kelompok yang seara khusus membicarakan, apalagi sampai memperdebatkan isi dan ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab Zabur. Lain halnya dengan Taurat dan Injil yang selama berabad-abad lamanya telah menjadi objek perdebatan melawan Al Qur'an, atau sebaliknya.

Dalam Al-Quran cukup jelas disebutkan bahwa Taurat dan Injil adalah ajaran yang diturunkan dalam bentuk kitab kepada Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS. Jadi, bukan kitab-kitab yang berisikan kesaksian manusia.

Sedangkan Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru) yang kita kenal sekarang ini adalah kitab lain, atau kitab-kitab yang telah 'ditambah-kurangi' isinya oleh tangan manusia, sehingga bercampur dengan kesaksian-kesaksian manusia sendiri, namun tetap disebut sebagai Taurat dan Injil.

Tidak jelas siapa yang menamakan kesaksian-kesaksian tersebut sebagai Taurat dan Injil, kapan hal itu dilakukan, dan dalam peristiwa apa. Rasanya kita perlu sama-sama meneliti kembali hal ini dengan sangat kritis. Sebab, jika pada waktu itu novelis besar seperti Ernest Hemingway sudah lahir dan menulis sebuah novel misalnya, maka tidak seorangpun dapat melarangnya untuk memberi judul pada novel itu 'Injil' atau 'Taurat'. Tapi mestinya kita dapat dengan mudah mengerti bahwa novel tersebut, tentu saja, bukan Injil atau Taurat sebagaimana yang dimaksud di dalam Al-Quran. Berbeda halnya dengan Taurat dan Injil yang ada sekarang.

Non-Muslim mengatakan bahwa pada waktu turunnya Al-Quran, sudah ada Alkitab (Perjanjian Lama atau Taurat, dan Perjanjian Baru atau Injil), bahkan sejak tahun 200 M, jauh sebelum kenabian Muhammad SAW dan tidak ada satu kalimatpun tertulis dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa kitab-kitab tersebut bukan Taurat dan Injil. Untuk mengklarifikasi hal ini, simak ayat-ayat Al-Quran berikut:

"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi." (QS. Maryam[19]:30)

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya." (QS. Ali Imran[3]:79)

"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-A'raaf[7]:157)

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, 'Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan : "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisaa[4]"171)

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib." Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al-Maaidah[5]:117-118)

"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus." (QS. Maryam[19]:30-36)

"Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya ni'mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh syaitan; sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)ku." Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu, maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka, lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim ya'ni siksaan hari yang pedih (kiamat)." (QS. Az-Zukhruf[43]:59-65)

"Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa." (QS. An-Nisaa[4]:157)

Jika Al-Quran sendiri mewajibkan setiap Muslim mengimani kitab-kitab sebelumnya, maka isi dari kitab-kitab sebelumnya itu tentu saja harus sama seperti apa yang diturunkan oleh Allah. Apakah mungkin Allah mewajibkan umat Muslim untuk mengimani ajaran yang saling berbeda dan bertentangan? Lebih jauh lagi, apakah mungkin Allah memerintahkan manusia untuk mengimani kitab-kitab yang berisi tulisan dan kesaksian manusia yang dalam konteks ini, tidak jelas atas otoritas siapa, kemudian mensejajarkan tulisan-tulisan itu dengan wahyu atau firman-Nya? Dengan demikian, tentunya mudah untuk difahami bahwa Taurat dan Injil yang dimaksud oleh Al-Qur'an bukanlah Taurat dan Injil (Alkitab) yang ada sekarang.

Lalu, di manakah Taurat dan Injil, kitab-kitab ajaran Tauhid yang diturunkan Allah itu?

Pertanyaan ini juga merupakan pertanyaan umat Islam. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bagi umat Kristian tidak ada suatu pemikiranpun yang menyatakan bahwa Injil merupakan sebuah kitab, apalagi tidak ada indikasi sejarah yang mengisyaratkan bahwa dulunya memang ada kitab yang bernama Injil. Namun sesungguhnya ada fakta menarik yang tercantum dalam Alkitab, bahwa dikhabarkan Yesus pergi ke suatu tempat dan mengajarkan Injil, artinya bahwa Injil memang sudah ada pada waktu itu, walaupun tidak jelas apakah berbentuk buku atau ajaran. Yang pasti tidak mungkin semasa hidupnya Yesus memerintahkan Mathius, Markus, Lukas, dll untuk menuliskan kesaksiannya dalam sebuah buku, lalu buku itulah yang dibawa-bawa Yesus dan diajarkan kepada umatnya. Sebab kita semua tahu bahwa ketiga orang yang namanya disebut belakangan tidak hidup di zaman yang sama dengan Yesus.

Ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini, yang menerangkan bagaimana Ahli Kitab[8] dan perilaku mereka pada waktu Al-Quran diturunkan layak untuk kita cermati:

"Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya). Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?" (QS. Ali Imran[3]: 70-71)

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maaidah[5]:15)

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Baqarah[2]:79)

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." (QS. Al Baqarah[2]:146)

Ayat-ayat di atas mengindikasikan adanya kebenaran - atau isi Alkitab - yang disembunyikan, sekaligus juga peringatan atas perbuatan merobah, menulis, mencampur-adukkan isi Alkitab melalui tangan-tangan mereka sendiri. Itulah sebabnya mengapa TIDAK DITEMUKAN SATU AYATPUN DALAM AL-QUR'AN YANG MENYATAKAN BAHWA TAURAT DAN INJIL ADALAH PALSU. Sebab Taurat dan Injil (kitab-kitab wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa dan Isa) memang sebenar-benarnya ada, namun untuk kepentingan sekelompok manusia, kemudian disembunyikan oleh 'oknum-oknum' Ahli Kitab.

Untuk kepentingan manusia inilah kemudian dimunculkan kitab-kitab yang ditulisi oleh tangan-tangan mereka sendiri tadi sebagai ganti Taurat dan Injil yang disembunyikan. Ajaran Kitab Taurat dan Injil versi baru ini ada yang sesuai dengan ajaran Al-Qur'an namun banyak yang telah dijungkir-balikkan. Itu sebabnya mengapa kemudian turun ayat, "Telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan banyak dari isi Alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkan."

Jadi, pertanyaan mengenai keberadaan kitab Taurat dan Injil asli di atas dapat kita ganti menjadi:

Di manakah Kitab-kitab itu sekarang? Siapa yang sengaja menyembunyikannya?

Bahkan rasanya pertanyaan itu masih perlu diperjelas lagi menjadi:

Siapakah yang diuntungkan dengan disembunyikannya Taurat dan Injil yang asli, dan fihak manakah yang paling dirugikan jika kitab-kitab tersebut terungkap?

Anda semua tentu mengetahui saat-saat paling kritis dalam sejarah penyebaran ajaran Kristian yang dimulai sejak kematian Yesus. Sejarah masa-masa di mana umat Kristus pertama dikejar-kejar dan dibunuh, sejarah munculnya gereja, sejarah konsili, dll. Ada baiknya jika peristiwa-peristiwa sejarah tersebut diteliti kembali secara sangat kritis.

Adapun tentang peristiwa turunnya Nabi Isa alaihissalam, atau Yesus, kembali ke bumi, perlu kiranya kita cermati pula hadist Rasulullah dibawah ini:

"Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, katanya Rasulullah bersabda: Demi Allah yang jiwaku ditangannya, sesungguhnya telah dekat masanya Isa anak Maryam akan turun ditengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil, akan dihancurkannya salib, dibunuhnya babi, dihapuskannya pajak dan kekayaan akan melimpah ruah, sehingga tidak seorangpun yang bersedia menerima pemberian." [HR. Muslim]

"Jabir bin Abdullah mendengar Rasulullah bersabda: Nabi Isa akan turun ketengah-tengah umat, lalu pemimpin-pemimpin mereka berkata: Sudilah anda shalat dan menjadi pemimpin kami, jawab nabi Isa alaihassalam: Tidak! Masing-masing kamu boleh menjadi pemimpin bagi yang lain, selaku suatu kehormatan yang dilimpahkan Allah kepada umat ini." [HR. Muslim]

Bagaimana jika kita tafsirkan bahwa turunnya nabi Isa alaihissalam kembali ke bumi nanti akan mengungkap dan mengembalikan kitab Injil yang diturunkan Allah kepadanya? Perintah Allah yang selama ini disembunyikan, yakni yang berisi perintah agar menghancurkan salib (mengkoreksi ajaran yang menyebut Yesus sebagai menebus dosa manusia), membunuh babi (mengharamkan babi), membolehkan makmum untuk menjadi imam (menghapus otoritas gereja yang mengambil inisiatif sebagai 'jembatan' hubungan manusia dengan Tuhan), dlsb?

Lalu, bagaimana pulakah pertolongan Allah untuk umat Kristian yang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya telah tersesat atau disesatkan? Apakah ada petunjuk Allah yang dapat menolong? Apakah umat Kristian harus menunggu sampai Nabi Isa alaihissalam turun ke bumi?

Eloknya, dan ini sangat penting untuk diketahui baik oleh umat Muslim maupun umat Kristian sendiri, bahwa dalam Al-Qur'an kita diberitahu: AL-QUR'AN MENYERUKAN PERINTAH ALLAH AGAR UMAT KRISTIAN KEMBALI MELURUSKAN AJARANNYA. AL-QUR'AN TIDAK MEMINTA AGAR UMAT KRISTIAN BERGANTI AGAMA MENJADI ISLAM.

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." (QS. Ali Imran[3]:64)

"Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan." (QS. Al-Maaidah[5]:15)

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". (QS. Al-Maaidah[5]:68)

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Maaidah[5]:77)

Apakah anda, khususnya saudara-saudara pemeluk Kristian, dipaksa berpindah agama oleh Al-Qur'an? Sama sekali tidak! Anda diseru untuk meluruskan ajaran yang selama ini anda yakini. Jika anda sudah meluruskan aqidah anda, menyatakan bahwa Allah itu Tuhan Yang Satu, tidak memiliki sekutu, baik dalam angan-angan apalagi secara lahiriah, tidak mempercayai adanya ritual penebusan dosa (sebab dosa manusia hanya mungkin dihapus jika manusia itu sendiri yang memohon ampun dan bertobat kepada Allah satu-satunya yang paling berhak mengampuni dan menghapus dosa-dosa manusia), maka terlepas dari apakah anda pemeluk Kristian atau Muslim, anda akan disebut sebagai seorang Ahli Kitab yang beriman. Lantas, mungkin saja anda bertanya, apakah ada Ahli Kitab yang seperti itu, dan bagaimana imbalannya menurut Al-Qur'an?

"Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang)." (QS. Ali Imran[3]:113)

"Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya." (QS. Ali Imran[3]:199)

"Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan." (QS. Al-Maaidah[5]:65)

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri." (QS. Al-Maaidah[5]:82)

"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur an dan kenabian Muhammad SAW)." (QS. Al-Maaidah[5]:83)

Dengan demikian tentunya dapat difahami bahwa 'keberatan' umat Muslim terhadap Kristianiti dewasa ini sesungguhnya bukan terletak pada para pemeluknya, melainkan pada ajarannya yang diyakini telah menyimpang dari apa yang disampaikan dan diajarkan sendiri oleh Yesus, atau yang oleh umat Muslim dikenal sebagai Nabi Isa alaihissalam.

Umat Muslim mempercayai dan tanpa keraguan sedikitpun mengimani Isa alaihissalam, atau Yesus, sebagai Rasul Allah, dan kitab suci Injil sebagai kitab wahyu yang diturunkan Allah melalui beliau. Maka wajarlah apabila berdasarkan temuan-temuan ilmiah, apalagi Al-Qur'an sendiri menyiratkan bahwa kerasulan Yesus dan kesucian Injil telah 'dikotori' oleh tangan-tangan manusia, maka banyak umat Muslim yang merasa sangat prihatin dan oleh karenanya sebagian dari mereka merasa terpanggil untuk ikut meluruskan kesalahan tersebut demi kepentingan umat Kristian sendiri. Adapun jika kemudian ada di antara umat Kristian yang bertanya; "apa perdulimu?" maka perhatikanlah kembali firman Allah dalam (QS. Al-Maaidah[5]:82) di atas;

" ......... Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani ....."

Berbeda dengan umat Kristian, dalam hal ini para misionaris, yang cenderung sangat gigih mengajak umat lain, termasuk umat Muslim untuk memeluk agama Kristian, maka tugas umat Muslim (bagi yang merasa terpanggil untuk melaksanakannya) terbatas hanya untuk menyampaikan seruan Allah agar saudara-saudaranya itu kembali ke ajaran Tauhid, yakni menyembah Tuhan Yang Satu. Hanya sebatas itu. Tidak lebih, tidak kurang.

Mengapa demikian? Simaklah firman Allah berikut ini:

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut162 dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah[2]:256)

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah394, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya395, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah396, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini397 orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,[9] dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam[10] itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa398 karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Maaidah[5]:3)

"Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku." (QS. Qaf[50]:45)

Semoga ada manfaatnya.

Amin.



CATATAN KAKI
[1] Zabur ialah lembaran-lembaran yang berisi wahyu yang diberikan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. yang isinya mengandung hikmah-hikmah [Tafsir no. 256 www.myquran.org]
[2] Yang dimaksud dengan Zabur di sini ialah seluruh kitab yang diturunkan Allah kepada nabi-nabi-Nya. Sebahagian ahli tafsir mengartikan dengan kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud a.s. dengan demikian Adz Dzikr artinya adalah kitab Taurat. [Tafsir no. 974 www.myquran.org]
[3] Maksudnya: kejadian Isa a.s. adalah kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mu'jizat 'Isa a.s. Menurut jumhur musafirin, bahwa Ruhul Qudus itu ialah malaikat Jibril. [Tafsir no. 69 www.myquran.org]
[4] Al Kitab yang dimaksud di sini adalah Taurat dan Injil.
[5] Luh ialah kepingan dari batu atau kayu yang tertulis padanya isi Taurat yang diterima Nabi Musa a.s. sesudah munajat di gunung Thursina. [Tafsir no. 566 www.myquran.org]
[6] Al Furqaan ialah kitab yang membedakan antara yang benar dan yang salah. [Tafsir no. 182 www.myquran.org]
[7] Yakni: kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi yang berisi hukum syari'at seperti Taurat, Injil, dan Zabur. [Tafsir no. 257 www.myquran.org]
[8] Ahli kitab adalah mereka yang mengikuti ajaran agama yang diwahyukan Allah melalui kitab-kitab Zabur, Taurat, Injil, dan Al Qur'an
[9] Agama yang dimaksud di sini adalah agama bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Sebab dengan turunnya Al-Qur'an melalui Muhammad salallahualaihiwassalam, maka sempurnalah seluruh ajaran tauhid yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul Allah sebelum beliau, demikian pula dengan seluruh kitab-kitab wahyu Allah.
[10] Pengertian Islam di sini adalah: tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Allah.


[Sumber: Archa | Jowo jw it | Kitab Risalah | Madrasah Kita | myquran.org]