Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Allah menciptakan Adam seperti bentuk-Nya?


Allah SWT Menciptakan Adam Seperti Bentuk-Nya?

Hadits ini menjadi salah satu perbincangan yang sangat serius di kalangan ahli hadits, ahli makna, dan ahli tafsir. Banya ahli hadits yang menilainya shahih dengan memberikan ta’wil mulai dari yang sewajarnya sampai pada tingkat yang melebihinya. Ada pula kalangan ahli hadits yang menilainya dhaif, walaupun hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak sahabat dan terdapat dalam kitab-kitab Shahih s/d Mu’jam. Hadits tersebut sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Saw:

فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Maka sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti bentuk-Nya“. [Shahih Muslim 4/2017, 4/21/83 - derajat hadits shahih]

Yang menjadi perdebatan adalah “ha-dhamir“ yang terdapat dalam kata  عَلَى صُورَتِهِ  apakah artinya “seperti bentuk-Nya" (Allah), ataukah “seperti bentuknya" (Adam). Bila “ha-dhamir“ tersebut dikhitabkan kepada Allah, maka adalah mustahil bentuk Allah seperti bentuk Adam sebagai makhluk. 

Bila bentuk Adam sebagaimana bentuk Allah dalam wujud-Nya, maka ini pun bisa berarti bahwa setiap bentuk keturunan Adam adalah manifestasi dari bentuk Allah. Sedangkan bentuk Allah tidak dapat disifati dengan apa pun. Dan apa pun, atau bagaimanapun imajinasi kita tentang rupa Allah dapat dipastikan bukan Allah. 

Karena sesuatu yang berbentuk adalah sesuatu yang dapat dikenali oleh indera pengihatan. Sedangkan indera penglihatan kita belum pernah bertemu dengan-Nya, jadi bagaimana mungkin sesuatu yang belum pernah dilihat dapat dikenali bentuknya ?

Kesalahan ini terjadi karena hadits yang disampaikan terlalu pendek. Seandainya hadits tersebut disampaikan sedikit lebih lengkap, maka tidak akan ada perdebatan di kalangan para ahli. Mari kita cermati redaksi tersebut lebih lengkap dari sebelumnya.

خَلَقَ اللَّهُ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ، طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا
“Allah menciptakan Adam seperti bentuknya, tingginya 60 hasta.“

Dengan penambahan kata "tingginya 60 hasta", sudah pasti itu adalah tingginya Adam a.s bukan tingginya Allah. Karena kata tinggi di sini di sifatkan untuk ukuran tinggi badan Adam a.s. 

Ada satu lagi hadits yang diperdebatkan sebperti halnya hadits di atas. Hadits tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إِذَا ضَرَبَ أَحَدُكُمْ، فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ، فَإِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Di mana (kalian) memukul seseorang, maka jangan dipukul diwajahnya, karena sesungguhnya Allah menciptakan Adam seperti wajahnya.“ 

[Shahih Ibnu Hibban 12/420, 13/19, Musnad Ahmad 12/275, 12/382, 16/427, Mushanaf Aburrazzaq 9/444, as-Sunnah, Abdullah bin Ahmad 1/267, as-Sunnah, Ibnu Abi Ashim 1/229, Musnad al-Bazzar 15/161, as-Sunan al-Kabir, an-Nasai 6/479, Musnad Abu Ya’la 11/157, at-Tauhid, Ibnu Khuzaimah 1/82 - derajat hadits hasan shahih]

Kata "wajah" di sini pun sebenarnya adalah wajah Adam AS, bukan wajah Allah. Tentang wajah Allah Quran suci telah menerangkannya:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُوالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.“ (QS. 55 – ar-Rahman: 27)

Sedangkan setiap wajah manusia tidak ada yang memiliki kebesaran, kemuliaan dan kekekalan sebagaimana Wajah Allah. Jadi adalah mustahil apabila hadits tersebut harus diartikan bahwa wajah Adam sebagaimana wajah Allah. 

Tentang ta’wil hadits tersebut, Imam Ibnu Qutaibah berkata: “Saya membaca di dalam kitab Taurat: “Sesungguhnya ketika Allah Swt menciptakan langit dan bumi, Dia berfirman: “Kami menciptakan manusia dengan bentuk Kami. Lalu Dia menciptakan Adam dari intisari bumi. Kemudian ditiupkan pada wajahnya kehidupan.“ [Ensiklopedia Hadits hal. 213-214]

Dalam kalimat: “Allah menciptakan Adam dari intisari bumi“ dapat dikatakan sebagai penutup perdebatan ini. Karena tidak mungkin kita akan beranggapan bahwa bentuk dan wajah Allah pun berasal dari inti sari bumi. Bila bentuk dan wajah Allah berasal dari inti sari bumi berarti penciptaan bumi lebih dahulu daripada keberadaaan Allah. Dan bila Allah memiliki bentuk dan wajah, maka harus ada pula al-mushawwir (pembentuk)-nya, dan bila al-mushawwir-nya ada, maka ia pun berwujud terlebih dahulu daripada Allah. Apabila begitu jadinya, maka konsekwensinya ada tuhan lain selain Allah, karena Allah ada dari hasil penciptaan bukan yang menciptakan. Dan menurut Allah sendiri, ini mustahil.

Sebenarnya penjelasan tentang kedua hadits di atas telah dijelaskan di dalam al-Quran. Hanya mungkin saja ayat ini terlewat oleh para ahli dari penelitiannya. Adapun ayat itu berbunyi:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلآئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُوْنٍ . فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِيْنَ
“Dan ketika Rabb Pemelihara kamu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan telah Kutiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dalam keadaan bersujud.” (QS. 15 – al-Hijr: 28-29)

Tahulah kita sekarang tentang maksud dari kitab Taurat yang mengatakan “Allah menciptakan Adam dari intisari bumi” adalah “dari tanah liat kering dari lumpur hitam” dan setelah itu “yang diberi bentuk.” Dengan keterangan ini semakin jelaslah, bahwa yang dibentuk itu adalah Adam a.s. bukan Allah.

Perlu pula diketahui, bahwa yang dikatakan dengan “intisari bumi“ adalah bahan-bahan penciptaan manusia. Al-Quran suci telah menerangkan hal tersebut kepada kita. Adapun bahan-bahan tersebut adalah:

آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ 
“Adam diciptakan oleh-Nya dari tanah (thuraab) kemudian Dia berfirman kepada Adam Jadilah, maka Jadi ” (QS. Ali-Imran:  99)

Maksud dari kata تُرَابٍ  (thuraab) adalah: unsur-unsur dzat asli yang terdapat dalam tanah yang dinamakan dzat anorganis. 

Sedangkan maksud dari kata كُنْ فَيَكُونُ (jadilah maka jadi) mengisyaratkan kepada unsur kegaiban atau kekuatan mistis yang Allah lekatkan kepada Adam dan sebagian anak keturunannya. Sehingga Adam dan sebagian anak keturunannya diberikan kemampuan untuk mempelajari, mendalami dan menjalankan ilmu-ilmu gaib. 

Firman Allah,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
“dan sesungguhnya aku menciptakan manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang dibentuk.” (QS. Al-Hijr: 28)

Yang dimaksud dengan kata حَمَإٍ (hamaain) berarti zat lemas (Nitrogen)

Firman Allah,
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
“Dia (Allah) menciptakan manusia dari tanah kering (tembikar)” (QS. Ar-Rahman: 14)

Yang dimaksud dengan kata صَلْصَالٍ (shal-shalin) adalah: tanah setengah kering yakni, dzat pembakar (Oksigen) dan yang dimaksud dengan اَلْفَخَّارِ (al-fakhor) adalah dzat arang (Carbonium). 

Firman Allah,

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ . ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
“yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah (at-thiin). Kemudian Dia menjadikan keturunannya (Adam) dari saripati air yang hina (air mani).” (QS. As-Sajadah: 7-8)

Yang dimaksud dengan طِينٍ (thiin) adalah: atom dzat cair (Hidrogenium). Sedangkan yang dimakud dengan مَاءٍ مَهِينٍ (main mahiin) adalah: protein, vitamin dan calcium.

Firman Allah,

إِنَّا خَلَقْناهُمْ مِنْ طِينٍ لاَّزِبٍ
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari tanah liat (laazib).” (QS. Ash-Shafat: 11)

Yang dimaksud dengan لاَّزِبٍ (Laazib) adalah: dzat besi (Ferrum, Yodium, Kalium, Silicum dan Mangan). Dengan adanya unsur-unsur besi ini, maka tidaklah aneh apabila ada sebagian keturunan Adam yang mampu memiliki ketahanan tubuh yang kuat. Bahkan, adapula di antara mereka yang memiliki kekebalan tubuh seperti tak mempan oleh pukulan besi dan yang sejenisnya.Hal ini dikarenakan mereka mampu memaksimalkan potensi dzat-dzat besi yang berada di dalam tubuh mereka, baik melalui jalan latihan atau pun melalui doa-doa khusus.

Firman Allah, 

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
"(Dia telah) menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al-Alaq: 2)

Yang dimaksud dengan عَلَقٍ (alaq) adalah proses akhir dari penciptaan bentuk manusia, yang mana Allah memberikan daging, kulit, darah, urat syaraf, tulang, organ-organ dalam tubuh seperti : paru-paru, jantung, hati, lambung dan yang lainnya, sebelum Allah meniupkan ruh kehidupan kepada janin tersebut. Adalah proses peniupan ruh kehidapan kepada janin, sebagaimana firman-Nya:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوحِي 
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)-nya, dan telah Ku-tiupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku,” (QS. Al-Hijr: 29)

Dengan adanya keterangan-keterangan ini, maka selesai pula perjalanan intelektual kita dalam masalah ini - Alhamdulillah!


Hanya ada satu Tuhan Penguasa Seluruh Alam Semesta, yaitu Allah!

Allah; Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhannya Yesus adalah satu-satunya Tuhan Di Seluruh Jagad Raya ini.

Perhatikan!
Setiap umat Islam di seluruh permukaan bumi dijamin PASTI HAFAL LUAR KEPALA surah Al-Fatihah ini. Tapi di sini, cukup kita bahas ayat pertama dalam lingkaran putih saja.
Hal itu dijelaskan pada ayat pertama dari surah pertama Al-Quran yang memperkenalkan SIAPA SESUNGGUHNYA ALLAH kepada setiap manusia yang mampu dan mau menggunakan akalnya untuk berpikir secara paripurna.

Allah menyatakan diri-Nya sebagai TUHAN SEMESTA ALAM, satu-satunya Tuhan yang paling berhak mendapatkan segala bentuk puji-pujian dan penghambaan dari setiap makhluk, disusul dengan berbagai petunjuk pada ayat-ayat dalam surah-surah berikutnya tentang bagaimana seharusnya manusia menggunakan akal untuk beerpikir agar dapat memahami dan mengenal SIAPA SESUNGGUHNYA ALLAH.

Hanya mereka yang tidak mampu dan, atau tidak mau berpikir dengan baik tentang Allah sajalah yang hari gini masih bingung tentang eksistensi Allah. Sedangkan mereka yang mampu berpikir, dipastikan tidak sedikitpun merasa ragu tentang keberadan dan kemahakuasaan Allah sebagaimana sudah diperkenalkan-Nya kepada umat manusia melalui semua nabi dan rasul-Nya, serta kitab-kitab suci yang diwariskan oleh para nabi dan rasul Allah kepada masing-masing kaumnya.
Jadi, ketika di dalam salahsatu kitab suci para nabi ditemui firman Allah yang menyebutkan kata; "Tuhan negeri Mekkah" dalam kaitannya dengan bangsa Arab, maka hanya manusia yang bernalar dengan mekanisme berpikir otak domba sajalah yang mengartikannya secara gagal mikir sebagai sebuah pernyataan bahwa Allah hanyalah Tuhan untuk negeri Arab saja.
Itu sama gagal mikirnya dengan ketika dalam kitab suci lainnya Allah berfirman dengan menyebut diri-Nya sebagai; "Tuhan Israel" dalam kaitannya dengan bangsa Israel, maka orang-orang yang oleh kitab sucinya sendiri disamakan dengan domba ini pun mengira bahwa selain "Tuhan negeri Mekkah", ternyata masih ada "Tuhan lain" yang menjadi "Tuhan Israel."  

Padahal sudah cukup dijelaskan dalam semua kitab para nabi, terutama dalam Al-Quran, bahwa tidak ada Tuhan-Tuhan lain di mana pun di seluruh jagad raya ini, kecuali hanya Allah!

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!


[Gus Mendem]

Baca juga: 

Nama ALLAH dalam kekristenan

Etimologi dari kata Allāh telah dibahas secara luas oleh para filolog Arab klasik. Ahli tata bahasa dari aliran Basra menganggapnya sebagai salah satu yang dibentuk secara spontan (murtajal) atau sebagai bentuk lāh (dari akar kata bahasa "lyh" dengan makna luhur atau tersembunyi). Yang lain berpendapat bahwa kata itu dipinjam dari bahasa Syria atau Ibrani, tetapi sebagian besar menganggapnya berasal dari kontraksi kata Arab itu sendiri yang menggabungkan kata al- (sang) dan ilāh (sesembahan) menjadi "al-lah" yang berarti Yang Disembah, atau Tuhan.

Akademisi lain ada yang menyatakan bahwa nama Allāh dapat ditemui dalam bahasa Semit lainnya, termasuk bahasa Ibrani dan Aram yang beasal dari kata "El". Sedangkan bentuk bahasa Aram yang sesuai adalah Elah (אלה), tetapi bentuk empatiknya adalah Elaha (אלהא). Ini ditulis sebagai ܐܠܗܐ (Ĕlāhā) dalam bahasa Aram Alkitab dan ܐܲܠܵܗܵܐ (Alâhâ) dalam bahasa Suryani sebagaimana digunakan oleh Gereja Suriah Timur. Kedua kata tsb hanya memiliki satu arti, yaitu Tuhan.

Penutur bahasa Arab dari semua agama Abraham, termasuk Kristen dan Yahudi, menggunakan kata "Allah" untuk kata ganti "Tuhan". Sampai dewasa ini orang-orang Arab Kristen tidak memiliki kata lain untuk "Tuhan" selain "Allah". Kata Allah dalam tradisi Kristen Asyria (Church of the east) di Mesopotamia (sekarang Iraq) juga digunakan dalam liturgi berbahasa Arab. Demikian juga Gereja Syria dan Koptik Mesir yang sama-sama menyebar sejak abad pertama, yakni sejak Yesus mengutus para muridnya ke berbagai daerah. Bahkan keturunan bangsa Arab yang berbahasa Malta, menggunakan kata Allah untuk "Tuhan", kendati hampir seluruh populasi Malta adalah pemeluk Katolik Roma.

Based on an exclusive interview with the Archbishop, hosted by SHOP-RT  

Orang Kristen Arab menggunakan istilah Allāh al-ab (الله الأب) untuk Allah Bapa, Allāh al-ibn (الله الابن) untuk Allah Anak, dan Allāh al-rūḥ al-quds (الله الروح القدس) bagi Allah Roh Kudus di dalam banyak ritual Tradisi Gereja. Contohnya dalam tradisi Tanda Salib ketika berdoa, memasuki ruang ibadah, dan juga pembaptisan. Mereka menggunakan terms "basmallāh" sendiri untuk Tuhan Trinitas yang berbunyi: "Dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Satu Tuhan." Akan tetapi doa Syria, Latin, dan Yunani tidak menyertakan kata "Satu Tuhan" di akhir kalimat. Penambahan kata "satu Tuhan" ini dimaksudkan untuk menekankan aspek monoteistik dalam keyakinan Trinitarian, tapi lebih khusus untuk membuatnya terdengar familiar di kalangan Muslim yang tegas-tegas menolak konsep Tuhan Trinitas.

Beberapa temuan arkeologi seperti penemuan prasasti pra-Islam kuno dan makam yang dibuat oleh orang Kristen Arab di reruntuhan gereja Umm el-Jimal di Yordania Utara, berisi referensi kata-kata Allah. Beberapa batu nisan makam di sana bertuliskan nama-nama seperti "Abd Allah" yang artinya adalah "hamba Allah".

Nama Allah dapat pula ditemukan berkali-kali dalam laporan dan daftar nama-nama para martir Kristen di Arab Selatan, seperti yang dilaporkan oleh dokumen-dokumen Syriac antik tentang nama-nama para martir sejak era kerajaan Himyarite dan Aksumite yang dimulai pada tahun 110 SM.

Seorang pemimpin Kristen bernama Abd Allah ibn Abu Bakar bin Muhammad menjadi martir di Najran pada tahun 523, ia mengenakan cincin yang bertuliskan "Allah adalah Pemilikku". Pada sebuah prasasti martyrion Kristen dari era 512M, referensi tentang Allah dapat ditemukan dalam bahasa Arab dan Aram yang menyebut kata "Allah" dan "Alaha", demikian pula dalam tulisan-tulisan lain yang dimulai dengan kalimat "Dengan Pertolongan Allah".

Dalam Injil-injil pra-Islam pun, nama yang digunakan untuk Tuhan adalah "Allah", sebagaimana dibuktikan oleh beberapa versi  Perjanjian Baru bahasa Arab yang ditemukan oleh orang-orang Kristen Arab selama era pra-Islam di Arabia Utara dan Selatan.

Jadi, jika ada umat kristen yang mengatakan nama Allah baru muncul di tanah Arab pada abad ke-6 dengan asumsi bodoh bahwa sebelum masa itu tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang mengenal nama Allah, maka kita patut menaruh rasa belas kasihan yang sebesar-besarnya di atas kepala orang ini karena sejarah menunjukkan bahwa dia lebih bodoh dari asumsi bodohnya sendiri, sekaligus membuktikan pula bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang sejarah kekristenan.

Kita tidak perlu harus repot-repot menggali sejarah dari masa dinasti Himyarite dan Aksumite yang sudah ada 400 tahun sebelum Kristen sendiri lahir, tapi cukup merujuk pada sejarah kristen saja, khususnya Kristen Arab dan Kristen Suriah Timur - atau Kristen Koptik - yang sejak abad pertama Masehi sudah  menyebut Tuhan dengan nama Allah!

Atau jika ada umat Kristen yang mengklaim  - merujuk Kristen Arab dan Kristen Koptik - bahwa mereka sudah lebih lebih dulu menggunakan sebutan Allah sebagai kata ganti Tuhan daripada Islam, maka kita patut menaruh rasa belas kasihan yang lebih besar lagi di atas kepala orang ini, sebab Allah adalah nama yang sudah dikenal oleh manusia pertama;  Adam, sebagai sebutan untuk satu-satunya Tuhan yang benar, Pencipta alam semesta berikut seluruh isinya ini bahkan milyaran tahun sebelum Krtisten sendiri lahir!

Tinggal yang perlu mereka pikirkan sekarang adalah; siapakah sebenarnya Allah yang sudah lebih dulu dikenal oleh bangsa-bangsa terdahulu jauh sebelum Kristen sendiri lahir?  

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Gus Mendem]



ALLAH Adalah Satu-Satunya Tuhan Yang Benar!

Sekalipun Disebut Dengan Nama Yang Berbeda, ALLAH Adalah Satu-Satunya Tuhan Yang Benar!


Screenshot di atas ini hanya sebagian dari contoh penulisan ayat pertama Kitab Kejadian 1:1 Bibel versi pararel dalam berbagai bahasa (lebih lengkap, lihat di sini), di mana menurut Smith & Van Dyke, kata "ELOHIM" dalam ayat berbahasa Ibraninya, atau "GOD" dalam terjemah Inggrisnya, tidak bisa tidak, tetap diartikan sebagai "ALLAH" dalam terjemah bahasa Arabnya.

Kita bisa lihat pula dalam alkitab online Ortodoks Koptik bahwa kata ELOHIM tsb juga diartikan sebagai ALLAH oleh umat kristen sekte ini (lihat di sini). Sementara dalam Bibel terjemah Indonesia, LAI juga mengartikan "ELOHIM" dalam Kitab Kejadian 1:1 sebagai "ALLAH" (lihat di sini).

Artinya, terlepas ditulis dalam bahasa apa dan disebut dengan lafadz apapun, kata ganti TUHAN dalam Kitab Kejadian 1:1 itu tetap dimaksudkan sebagai ALLAH dalam bahasa Arab!

Ini membuktikan kepada umat kristen bahwa:

Pertama: Nama ALLAH sudah ada dan dikenal oleh manusia, bahkan jauh sebelum manusia itu sendiri diciptakan!  [1] 

Ingat! Kitab Kejadian 1:1 dalam Bibel anda adalah ayat yang menceritakan awal proses penciptaan alam semesta saat mana manusia sendiri belum tercipta, akan tetapi nama ALLAH sudah disebut!

Kedua: Disebut dengan nama apapun, khususnya dalam kitab-kitab suci agama Samawi atau dalam Bibel anda sendiri, misalnya saja menurut terminologi yang dikenal oleh bangsa Yahudi sebagai Adonai, El, Elohim, Elyon, Elohe Yisrael, El Olam, El Roi, El Shaddai, Immanuel, YHWH, Ehyeh-Asher-Ehyeh, Eloah dst, sekali lagi, di dalam Al-Quran yang ditulis dalam bahasa Arab, tetap saja sama artinya dengan ALLAH!

Sementara itu, dengan merujuk pada kitab-kitab yang dipercaya oleh umat Kristen sebagai Taurat, Zabur dan Injil, maka Bibel -- yang dianggap sebagai gabungan dari ketiga kitab tadi -- memperkenalkan ALLAH sebagai YHWH, dengan tambahan 10 "nama pribadi" dan 7 "nama gelar" yang kesemuanya akan kembali lagi kepada YHWH yang menurut alkitab adalah sebagai pemilik nama pribadi & gelar tsb (lihat di sini), atau kepada ALLAH menurut Al-Quran. (lihat di sini). 

Tentang ini kita kerapkali melihat umat Kristen langsung kalang kabut tatkala diminta untuk menjelaskan nama pribadi dan gelar YHWH ini secara gamblang alias tidak "mbulet" seperti pada umumnya tiap kali coba menjelaskan doktrin-doktrin Kristen lainnya kepada umat Islam.

FAKTANYA; jangankan menjelaskan nama pribadi dan gelar YHWH, sedangkan menjelaskan perbedaan (jika memang berbeda) antara Allah dan Tuhan menurut pengakuan iman mereka sendiri saja, tidak ada satu kristenpun yang mampu dengan cerdas membuat pendengarnya mengerti, kecuali cuma melawak ngalor ngidul ngarang bebas mengikuti asumsi sendiri!

Sebut saja contoh paling sederhana ini misalnya;
Siapa yang dimaksud sebagai Tuhan dan siapa pula yang dimaksud sebagai Allah dalam ayat-ayat alkitab berikut ini?

[Yesaya 45:21]
" ..... Bukankah Aku, Tuhan? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku!  Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!"

[Markus 12:29]
" ........ Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah, Tuhan itu esa."

Sementara di lain pihak, Al-Quran memperkenalkan ALLAH dengan 98 "nama indah lainnya" yang dikenal dengan sebutan "asmaul husna" sebagai nama-nama yang menjelaskan sifat-sifat utama-Nya sebagai Sang Khalik (lihat di sini). 

Nama-nama ini jauh lebih banyak dan tentunya lebih sempurna merepresentasikan ALLAH dengan segala sifat-sifat utama-Nya yang perlu diketahui oleh manusia dibandingkan dengan 17 "nama pribadi dn gelar" YHWH menurut alkitab.

Kebalikan dari umumnya umat Kristen, tentang "Asmaul Husna" ini umat Islam tidak pernah bingung apalagi sampai kalang kabut untuk menjelaskannya satu demi satu, mengingat keterangan tentangnya lebih dari cukup di dalam literatur Islam.



Wallahu a'lam bisyawwab....

CATATAN KAKI

[1] Ketika masih di dalam kandungan, seorang janin mengadakan perjanjian dengan Allah Ta'ala. Janin yang menyanggupi perjanjian itu akan lahir ke dunia. Sedangkan yang tidak sanggup dengan perjanjian tersebut tidak akan hidup, atau mati saat setelah dilahirkan.

Mengenai perjanjian Allah Ta'ala dengan janin itu sudah dijelaskan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan terdapat dalam Al Qur'an Surat Al A'raaf ayat 172 yang artinya, 

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah Ta'ala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" merka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)".

Janji janin kepada Allah Ta'ala adalah Keesaan terhadap Allah Ta'ala. Hal ini disaksikan oleh Adam dan penduduk langit. Namun setelah terlahir ke dunia, kita tidak mengingat perjanjian itu karena fitrah manusia yang pelupa.

Sebenarnya, bayi yang berada di dalam rahim semuanya beragama Islam dan berada di jalan Allah Ta'ala. Hanya orang tua merekalah yang menjadikan mereka beragama selain Islam dan melupakan Allah Ta'ala.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallalhu alayhu wasalam telah bersabda: 

"Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”

Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik dalam Al-Muwaththa` [No. 507]; Al-Imam Ahmad  dalam Musnad-nya [No. 8739]; Al-Imam Al-Bukhari  dalam Kitabul Jana`iz [No. 1358, 1359, 1385], Kitabut Tafsir (No. 4775], Kitabul Qadar [No. 6599]; Al-Imam Muslim dalam Kitabul Qadar [No. 2658].


Wallahu a'lam bisyawwab....


Al-Qur'an, Surah Al-Ikhlas


KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLAS

Surat Al-Ikhlas memiliki banyak keutamaan, antara lain:
Surat ini berisikan sifat Allâh Azza wa Jalla, orang yang mencintainya dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla.

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ
Dari ‘Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang laki-laki memimpin sekelompok pasukan, (ketika mengimami shalat) dia biasa membaca di dalam shalat jama’ah mereka, lalu menutup dengan ”Qul huwallaahu ahad”. Ketika mereka telah kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka beliau berkata:  “Tanyalah dia, kenapa dia melakukannya!” Lalu mereka bertanya kepadanya, dia menjawab: “Karena surat ini merupakan sifat Ar-Rahmaan (Allâh Yang Maha Pemurah), dan aku suka membacanya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukan kepadanya bahwa Allâh mencintainya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 7375; Muslim, no. 813]
Sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
Dari Abud Darda’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Apakah seseorang dari kamu tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’ân di dalam satu malam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang (mampu) membaca sepertiga al-Qur’ân (di dalam satu malam)?” Beliau bersabda: “Qul Huwallaahu Ahad sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân.”  [HR. Muslim, no. 811]
Maknanya adalah bahwa kandungan al-Qur’ân ada tiga bagian:
1) hukum-hukum, 2) janji dan ancaman, 3) nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Dan surat ini semuanya berisi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . [Majmu’ Fatawa 17/103]
SEBAB TURUN SURAT AL-IKHLAS
Sebab turun surat al-Ikhlâs ini adalah pertanyaan orang-orang kafir tentang Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana disebutkan di dalam hadits :
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
Dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allâh menurunkan: (Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa). [HR. Tirmidzi, no: 3364; Ahmad, no: 20714; Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah 1/297. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani]
Hadits ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlâs termasuk surat Makiyyah, dan nampaknya termasuk surat yang awal turun di kota Makkah.
ARTI AYAT DAN TAFSIRNYA
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa”.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yakni: Dia Yang pertama dan Esa, tidak ada tandingan dan pembantu, tidak ada yang setara dan tidak ada yang menyerupai-Nya, dan tidak ada yang sebanding (dengan-Nya). Kata ini tidak digunakan untuk menetapkan pada siapapun selain pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , karena Dia Maha Sempurna dalam seluruh sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya”. [Tafsir Ibnu Katsir]
Para Ulama penyusun Tafsir al-Muyassar berkata, “Katakanlah wahai Rasul, ‘Dia-lah Allâh Yang Esa dengan ulûhiyah (hak diibadahi), rubûbiyah (mengatur seluruh makhluk), asma’ was shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya), tidak ada satupun yang menyekutui-Nya dalam perkara-perkara itu”. [Tafsir al-Muyassar, 11/96]
اللَّهُ الصَّمَدُ
Allâh adalah ash-Shamad.
Ash-Shamad adalah satu nama di antara Asmaul Husna yang dimiliki Allâh Azza wa Jalla . Penjelasan para Ulama Salaf tentang makna ash-Shamad berbeda-beda, tetapi semua perbedaan itu bisa diterima, karena maknanya tidak kontradiksi, bahkan saling melengkapi. Oleh karena itu  semua arti itu dapat ditetapkan pada diri Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Inilah keterangan para Ulama tentang makna ash-Shamad:
  • (Rabb) yang segala sesuatu menghadap kepada-Nya dalam memenuhi semua kebutuhan dan permintaan mereka. Ini pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ikrimah.
  • As-Sayyid (Penguasa) yang kekuasaan-Nya sempurna; as-Syarîf (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna; al-‘Azhîm (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna; al-Halîm (Maha Sabar) yang kesabaran-Nya sempurna; al-‘Alîm (Mengetahui) yang ilmu-Nya sempurna; al-Hakîm (Yang Bijaksana) yang kebijaksanaan-Nya sempurna. Dia adalah Yang Maha Sempurna dalam seluruh sifat kemuliaan dan kekuasaan, dan Dia adalah Allâh Yang Maha Suci. Sifat-Nya ini tidak layak kecuali bagiNya, tidak ada bagi-Nya tandingan dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Maha Suci Allâh Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Ini pendapat Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalhah Radhiyallahu anhu.
  • Yang Maha Kekal setelah semua makhluk-Nya binasa. Ini pendapat al-Hasan dan Qatâ
  • Al-Hayyu al-Qayyûm (Yang Maha Hidup, Maha berdiri sendiri dan mengurusi yang lain), yang tidak akan binasa. Ini pendapat al-Hasan.
  • Tidak ada sesuatupun yang keluar dari-Nya dan Dia tidak makan. Ini pendapat ‘Ikrimah.
  • Ash-Shamad adalah yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Ini pendapat ar-Rabi’ bin Anas.
  • Yang tidak berongga. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ‘Atha bin Abi Rabbah, ‘Athiyah al-‘Aufi, adh-Dhahhak, dan as-Suddi.
  • Yang tidak memakan makanan dan tidak minum minuman. Ini pendapat asy-Sya’bi.
  • Cahaya yang bersinar. Ini pendapat Abdullah bin Buraidah
Imam Thabarani rahimahullah berkata, “Semua makna ini benar, dan ini semua merupakan sifat Penguasa kita ‘Azza wa Jalla. Dia adalah tempat menghadap di dalam memenuhi semua kebutuhan, Dia adalah yang kekuasaan-Nya sempurna, Dia adalah ash-Shamad, yang tidak berongga, dia tidak makan dan tidak minum,  Dia adalah Yang Maha Kekal setelah makhlukNya (binasa)“.
Dan imam al-Baihaqi juga berkata seperti ini. [Lihat semua keterangan di atas di dalam Tafsir Ibnu Katsir surat al-Ikhlas]
Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah menyebutkan lima makna ash-Shamad, lalu berkata, “Perselisihan ini termasuk ikhtilaf tanawwu’ (perselisihan jenis) dalam ungkapan, bukan perselisihan dalam makna. Karena semua pendapat ini kembali kepada satu makna, yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya. Dan janganlah merisaukanmu pengingkaran sebagian khalaf terhadap sebagian makna-makna yang diriwayatkan dari Salaf ini, demikian juga anggapan mereka (khalaf) bahwa perkataan-perkataan Salaf ini tidak didukung oleh lughah (bahasa Arab). Karena itu adalah perkataan orang yang tidak memahami (kedudukan-pen) tafsir Salaf, dan dia tidak mengambil faedah ketetapan makna-makna lafazh lughah (bahasa Arab) dari tafsir salaf, Wallahu a’lam.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/201, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr]
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Yaitu: (Allah) ini Yang berhak diibadahi, Dia tidak dilahirkan sehingga akan binasa. Dia juga bukan suatu yang baru yang didahului oleh tidak ada lalu menjadi ada. Bahkan Dia adalah al-Awwal yang tidak ada sesuatupun sebelum-Nya, dan al-Âkhir yang tidak ada sesuatupun setelah-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyaar]
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang menyamai-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya”. [Syarh Aqîdah Wasitiyah, hlm. 114, penerbit. Dar Ibnu Haitsam]
Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Dan tidak ada tandingan yang menyamai-Nya dalam nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr]
BANTAHAN ANGGAPAN “ALLAH MEMILIKI ANAK”
Banyak sekali bantahan Allâh Azza wa Jalla di dalam kitab suci-Nya terhadap orang-orang yang  beranggapan bahwa Allâh memiliki anak, antara lain firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.[Al-An’am/6: 101]
Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah pemilik dan pencipta segala sesuatu, maka bagaimana mungkin ada di antara makhluk-Nya yang menandingi-Nya. Allâh Maha Tinggi dan Maha Suci dari anggapan mereka itu.
Sesungguhnya beranggapan bahwa Allâh memiliki anak merupakan celaan manusia kepada Allâh Yang Maha Kuasa, padahal mereka sangat tidak pantas mencela-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ أَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ إِنِّي لَنْ أُعِيدَهُ كَمَا بَدَأْتُهُ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُؤًا أَحَدٌ
Allâh berkata: “Anak Adam mendustakanKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Dia juga mencelaKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Adapun pendustaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah memulai penciptaannya. Sedangkan celaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku memiliki anak, padahal Aku adalah Ash-Shamad, Aku tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara denganKu.” [HR. Bukhori, no. 4975]
Karena besarnya dosa keyakinan Allâh Azza wa Jalla memiliki anak, maka hampir-hampir dunia ini hancur karenanya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ﴿٨٨﴾ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا
Dan mereka berkata, “Rabb yang Maha Pemurah mempunyai anak”.  Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan bahwa Allâh yang Maha Pemurah mempunyai anak.  [Maryam/19: 88-91]
Namun walaupun demikian besar dosa manusia itu, tetapi Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Sabar. Bahkan Dia tetap memberikan rizqi dan kesehatan sementara di dunia ini kepada orang-orang yang sangat lancang tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ أَحَدٌ أَوْ لَيْسَ شَيْءٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ
Tidak ada seorangpun yang lebih sabar daripada Allâh terhadap gangguan yang dia dengarkan. Sebagian manusia menganggap Allâh memiliki anak, namun Dia tetap memberikan keselamatan/kesehatan dan memberi rizqi kepada mereka. [HR. Al-Bukhâri, no. 6099; Muslim, no. 2804]
KANDUNGAN SURAT AL-IKHLAS
Surat ini memuat berbagai kandungan dan faedah yang agung, antara lain:
  • Penetapan sifat ahadiyyah (keesaan) bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
  • Penetapan sifat shamadiyyah bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya
  • Mengenal Allâh dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya[1].
  • Penetapan tauhid dan kenabian.
  • Kedustaan orang yang menganggap Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak.
  • Kewajiban beribadah kepda Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, karena hanya Dia yang memiliki hak untuk diibadahi.[2]

Inilah sedikit penjelasan tentang surat yang mulia ini, semoga bermanfaat.
Wallahu A’lam.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote
[1] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi
[2] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi



Arti dan makna Tauhid menurut Islam


MAKNA TAUHID
Kata ‘tauhid’ dalam bahasa Arab adalah mashdar (kata benda) yang berasal dari kata kerja:

وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا
wahhada – yuwahhidu –tauhîdan, artinya membuat sesuatu menjadi satu. [Lihat Lisânul ‘Arab, Bâb wa ha da; At-Ta’rîfât, hlm. 96; Al-Hujjah, 1/305, 306]

Adapun secara istilah agama, tauhid artinya mengimani keberadaan Allâh, mengesakan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan rubûbiyah dan ulûhiyah, dan beriman kepada seluruh nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. [Lihat Lawâmi’ul Anwâr, hlm. 57; Al-Qaulus Sadîd, hlm. 16; At-Tanbîhât as-Saniyyah, hlm.9; dan Al-Qaulul Mufîd, 1/5]

TAUHID ADALAH AQIDAH BAWAAN MANUSIA [1]
Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan manusia memiliki fitrah beriman kepada-Nya dan mentauhidkan-Nya. Manusia itu dilahirkan dalam keadaan mengimani keberadaan Allâh Azza wa Jalla bahwa tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia. Seandainya manusia dibiarkan pada fitrahnya yang asli, dia pasti tumbuh menjadi orang yang mentauhidkanNya. [Lihat: Tafsîr al-Baghawi, 3/482; Tafsîr Ibni Katsîr, 3/688; dan Ma’ârijul Qabûl, 1/91, 93]

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allâh; (tetaplah atas) fitrah Allâh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Ar-Rûm/30:30]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Semua bayi dilahirkan di atas fitrah, kemudian kedua orang tuanya menjadikannya beragama Yahudi, Nashrani, atau Majusi. [HR. Al-Bukhâri, no. 1359 dan Muslim, no. 2658]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda meriwayatkan dari Rabbnya, bahwa Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ
Sesungguhnya Aku (Allâh) telah menciptakan hamba-hambaKu semuanya hanif (lurus; muslim), dan sesungguhnya setan-setan mendatangi mereka lalu menyesatkan mereka dari agama mereka. [HR. Muslim, no. 2865]

Oleh karena itu Nabi Adam Alaihissallam, bapak semua manusia dan semua anaknya yang hidup di zamannya adalah orang-orang yang bertauhid. Keturunan Nabi Adam setelahnya terus berada di atas tauhid sampai datang kaum Nabi Nûh Alaihissallam, setan menampakkan syirik sebagai sesuatu yang bagus kepada mereka dan mengajak mereka menuju syirik, sehingga mereka terjerumus ke dalam syirik.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allâh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi kabar peringatan, dan Allâh menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. [Al-Baqarah/2: 213]

Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu, beliau berkata:

كَانَ بَيْنَ نُوحٍ وَآدَمَ عَشَرَةُ قُرُونٍ، كُلُّهُمْ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْحَقِّ. فَاخْتَلَفُوا، فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ
Antara Nabi Nuh dengan Nabi Adam ada sepuluh generasi, mereka semua berada di atas syari’at yang haq, tetapi kemudian mereka berselisih, maka Allâh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi kabar peringatan”. [Riwayat Thabari di dalam tafsirnya, 4/275 dan al-Hâkim dalam al-Mustadrak, 2/546. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/569]

Dan penyebab perselisihan manusia pertama kali di muka bumi adalah kemusyrikan yang dilakukan oleh kaum Nabi Nûh Alaihissallam , disebabkan oleh sikap ghuluw (melewati batas) dalam mengagungkan orang-orang shalih. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kaum Nabi Nûh Alaihissallam:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah (tuhan-tuhan) kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr”.[Nûh/71:23]

Tuhan-tuhan yang disembah oleh kaum Nabi Nuh di atas, asalnya adalah orang-orang shalih yang telah mati. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا صَارَتْ الْأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوحٍ فِي الْعَرَبِ بَعْدُ أَمَّا وَدٌّ كَانَتْ لِكَلْبٍ بِدَوْمَةِ الْجَنْدَلِ وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ وَأَمَّا يَغُوثُ فَكَانَتْ لِمُرَادٍ ثُمَّ لِبَنِي غُطَيْفٍ بِالْجَوْفِ عِنْدَ سَبَإٍ وَأَمَّا يَعُوقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانَ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرَ لِآلِ ذِي الْكَلَاعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنْ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: “Patung-patung yang dahulu ada pada kaum Nabi Nûh setelah itu berada pada bangsa Arab. Adapun Wadd berada pada suku Kalb di Daumatul Jandal. Suwâ’ berada pada suku Hudzail. Yaghûts berada pada suku Murâd, lalu pada suku Bani Ghuthaif di al-Jauf dekat Saba’. Ya’uq berada pada suku Hamdan. Dan Nasr berada pada suku Himyar pada keluarga Dzil Kila’. Itu semua nama-nama orang-orang shalih dari kaum (sebelum-pen) Nuh. Ketika mereka mati, syaithan membisikkan kepada kaum mereka: “Buatlah patung yang ditegakkan pada majlis-majlis mereka, yang mereka dahulu biasa duduk. Dan namakanlah dengan nama-nama mereka!”. Lalu mereka melakukan. Patung-patung itu tidak disembah. Sehingga ketika mereka (generasi pembuat patung) mati, ilmu (agama) telah hilang, patung-patung itu tidak disembah”. [HR. Al-Bukhâri, no. 4920]

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Ini memberikan faidah berhati-hati dari ghuluw dan sarana-sarana kemusyrikan, walaupun niatnya baik. Karena sesungguhnya syaithan memasukkan mereka (orang-orang di zaman Nabi Nuh–pen) dari pintu ghuluw (melampaui batas) terhadap orang-orang shalih dan berlebihan di dalam mencintai mereka. Sebagaimana telah terjadi semisal itu di dalam umat ini. Syaithan menampakkan kepada mereka berbagai bid’ah dan ghuluw dengan bentuk mengagungkan orang-orang sholih dan mencintai mereka. Sehingga akhirnya syaithan menjerumuskan mereka di dalam perkara yang lebih besar dari itu, yaitu menyembah orang-orang shalih itu dari selain Allâh Azza wa Jalla ”. [Fathul Majîd, hlm: 197, penerbit: Dar Ibni Hazm]

MACAM-MACAM TAUHID
Allâh Azza wa Jalla telah menyebutkan macam-macam tauhid di dalam banyak ayat di dalam kitab-Nya. Di antaranya adalah firman Allâh Azza wa Jalla di permulaan surat al-Fâtihah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allâh, Rabb semesta alam. [Al-Fâtihah/1: 2]

Lafazh Allah menetapkan adanya tauhid uluhiyah.
Lafazh ‘Rabb semesta alam’ menetapkan adanya tauhid rububiyah.
Juga firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat ini:

الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. [Al-Fâtihah/1: 3]
menetapkan adanya tauhid asma’ dan sifat.
Juga firman Allâh Azza wa Jalla dalam surat yang sama:

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Yang menguasai di Hari Pembalasan. [Al-Fâtihah/1:4]
menetapkan adanya tauhid rububiyah.

Dan firman Allâh:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. [Al-Fâtihah/1: 5] - menetapkan adanya tauhid uluhiyah.

PEMBAGIAN JENIS TAUHID
Ayat-ayat yang yang menjelaskan macam-macam tauhid banyak sekali dan gamblang menjelaskan macam-macam tauhid ini. Oleh karena itu para Ulama dari kalangan Salaf umat ini dan semua madzhab empat, Hanafiyah, Mâlikiyah, Syâfi’iyah, Hanabilah, mereka semua menjelaskan tiga macam tauhid.

Tiga macam tauhid ini adalah:
  1. Tauhid Rubûbiyah.
  2. Tauhid Ulûhiyah (Ibadah).
  3. Tauhid Asmâ dan Sifat.
Sebagian Ulama menyebutkan tiga macam tauhid ini sekaligus, sebagian yang lain menyebutkan sebagian macam tauhid pada waktu pembicaraan tentang permasalahan-permasalahannya. Dan sebagian Ulama menjadikan macam tauhid menjadi dua jenis:
  • Tauhid fil ma’rifah wal itsbât (tauhid berkaitan dengan pengetahuan dan penetapan), ini mencakup Tauhid Rubûbiyah dan tauhid asmâ’ dan sifat-sifat Allâh).
  • Tauhid fit thalab wal qashd, ini adalah tauhid ulûhiyah
Kedua pembagian itu benar, diambil dari nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah. [Lihat: Madârijus Sâlikîn, 3/484, karya imam Ibnul Qayyim al-Hanbali; Syarah ath-Thahâwiyah, hlm. 24, karya imam Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi; dan Syarah Fiqih Akbar karya imam Mula Ali al-Qari al-Hanafi]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVIII/1436H/2015M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]
_______
Footnote
[1] Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari kitab Tashîl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah, hlm. 35-37, penerbit: Darul ‘Ushaimi lin nasyr wa tauzi’, karya Prof. Dr. Abdullah bin Abdul ‘Aziz bin Hammaadah al-Jibrin dan beberapa rujkan yang lain.


[Sumber: Al-manhajj ]

20 Sifat Wajib Dan Mustahil Bagi Allah Subhanahuwata'ala

Sifat-Sifat Allah SWT
Sifat-sifat utama Allah yang diperkenalkan kepada umat manusia terdiri atas 3 bagian, yaitu:
● Sifat wajib,
● Sifat mustahil dan
● Sifat jaiz.

1. SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT
Sifat wajib adalah sifat yang harus ada pada Dzat Allah swt. sebagai kesempurnaan bagi-Nya. Sifat-sifat wajib Allah tidak dapat diserupakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya maka sifat Allah wajib diyakini dengan akal (wajib aqli) dan berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Nabi saw. (wajib naqli). 

Menurut para ulama kalam sifat wajib bagi Allah itu ada 20 sifat, sebagai berikut:
  1. Wujud artinya Ada
  2. Qidam artinya Dahulu
  3. Baqa’ artinya Kekal
  4. Mukhallafatu lil Hawaditsi artinya Berbeda dari Semua Makhluk
  5. Qiyamuhu Binafsihi artinya Tidak membutuhkan unsur lain di luar diri-Nya  
  6. Wahdaniyah artinya Esa
  7. Qudrat artinya Maha Kuasa
  8. Iradat artinya Berkehendak
  9. Ilmu Maha Mengetahui
  10. Hayat artinya Hidup
  11. Sama’ artinya Mendengar
  12. Bashar artinya Melihat
  13. Kalam artinya Berfirman
  14. Qadiran artinya Mahakuasa
  15. Muridan artinya Maha Berkehendak
  16. ‘Aliman artinya Maha Mengetahui
  17. Hayyan artinya Mahahidup
  18. Sami’an artinya Maha Mendengar
  19. Bashiran artinya Maha Melihat
  20. Mutakalliman artinya Maha Berkata-kata 
Kedua puluh sifat wajib Allah ini dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu sifat Nafsiyah, Salbiyah, Ma’ani, dan Ma’nawiyah.

(a). Sifat Nafsiyah adalah sifat yang hanya berkaitan dengan Dzat Allah semata-mata. Sifat ini terdapat dalam sifat wujud.

(b). Sifat Salbiyah adalah sifat yang hanya dimiliki oleh Allah, sedangkan makhluk tidak memilikinya. Sifat ini terdapat dalam lima sifat Allah, yaitu qidam, baqa, mukhalafatu lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, dan wahdaniyah. 

(c). Sifat Ma’ani adalah sifat-sifat abstrak yang wajib ada pada Allah. Sifat ini terdapat pada tujuh sifat Allah, yakni qudrat, iradat, ‘ilmu, hayat, sama’, basher, dan kalam. 

(d). Sifat Ma’nawiyah adalah keumuman/kelaziman dari sifat ma’ani. Sifat ini tidak dapat berdiri sendiri karena setiap ada sifat ma’ani tentu ada sifat ma’nawiyah. Sifat-sifat yang termasuk ma’nawiyah ada tujuh, yaitu qadiran, muridan, ‘aliman, hayyan, sami’an, bashiran, mutakalliman. 

2. SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH SWT
Sifat mustahil bagi Allah swt. adalah sifat yang tidak layak dan tidak mungkin ada pada Allah swt. Sifat-sifat mustahil ini merupakan kebalikan dari sifat wajib bagi Allah sehingga jumlahnya sama. Sifat-sifat mustahil bagi Allah adalah sebagai berikut:
  1. 'Adam artinya tidak ada
  2. Huduts artinya baru atau permulaan
  3. Fana artinya binasa atau rusak
  4. Mumatsalatu lil Hawaditsi artinya menyerupai yang baru
  5. Ihtiyaju li ghairihi artinya membutuhkan sesuatu selain dirinya
  6. Ta’adud artinya berbilang lebih dari satu
  7. ‘Ajzun artinya lemah
  8. Karahah artinya terpaksa
  9. Jahlun artinya bodoh
  10. Mautun artinya mati
  11. Shamamun artinya tuli
  12. ‘Umyun artinya buta
  13. Bukmun artinya bisu
  14. ‘Ajizan artinya Mahalemah
  15. Mukrahan artinya Maha terpaksa
  16. Jahilan artinya Mahabodoh
  17. Mayyitan artinya Mahamati
  18. Ashamma artinya Mahatuli
  19. A’ma artinya Mahabuta
  20. Abkama artinya Mahabisu
3. SIFAT JAIZ BAGI ALLAH SWT
Allah swt selain memiliki sifat Wajib dan Mustahil juga memiliki sifat Jaiz. 
Menurut bahasa, Jaiz artinya "boleh". Yang dimaksud dengan sifat Jaiz bagi Allah swt. adalah sifat yang boleh ada dan boleh tidak ada pada-Nya.

Sifat Jaiz ini tidak menuntut pasti ada, atau pasti tidak ada. Sifat Jaiz Allah hanya satu yaitu "Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu", artinya membuat sesuatu mungkin terjadi, atau tidak membuatnya terjadi sama sekali.

Maksud kalimat ini adalah, Allah memiliki kekuasaan penuh untuk menciptakan, berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu, sesuai dengan kehendak-Nya.

Demikian.

[Sumber: Slunt-Up]

Arti Echad Dalam Alkitab Dan Al-Quran


ECHAD DALAM ALKITAB = ACHAD DALAM AL-QURAN

Padanan kata yang sama untuk אחד (echad) di dalam Alkitab adalah  kata احد (achad) dalam Al-Quranul Karim. Kedua kata ini sama-sama bermakna SATU, atau lebih spesifik lagi, SENDIRI.

Bukti tentang ini dapat dengan mudah kita temui di dalam Al-Quran, pada firman Allah:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ -١- اللَّهُ الصَّمَدُ -٢- لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ -٣- وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ -٤- 

Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa (achad), Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun (achad) yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlash:1-4)

Arti Achad pada ayat pertama, bermakna NUMERIK yaitu SATU, sedangakan di ayat keempat bermakna MUTLAK DIRI, yaitu SENDIRI

Benarkan kata "Achad" dalam bahasa 'arab bermakna SENDIRI?
Perhatikan yang berikut ini.

Kata "Achad" adalah pecahan dari kata  احد

أَحَدُهُمْ   Achaduhum
أَحَدَهُمُ   Achadahumu

Artinya, seseorang dari mereka

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ٢٣:٩٩ 

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (achaduhum), dia berkata: "Ya Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia), (QS. Al-Mu'minuun: 99)


أَحَدٍ   Achadin
أَحَدًا  Achadan
أَحَدَ   Achada     

Artinya, Seorang

فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ ٦٩:٤٧ 

Maka sekali-kali tidak ada seorangpun (Achadin) dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (QS. Al-Haqqah: 47)


أَحَدَكُمُ   Achadakumu
أَحَدُكُمْ   Achadukum
أَحَدَكُم   Achadakum

Artinya, seorang dari kamu

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ  ٦:٦١ 

"Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu (achadakumu), ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya." (QS. Al-An'aam:61)

إِحْدَاهُمَا  Ichdaa-humma

Artinya, seorang dari kedua orang (Feminim)

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ قَالَتْ إِنَّ أَبِي يَدْعُوكَ لِيَجْزِيَكَ أَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَا ۚ فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ ٢٨:٢٥ 

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua (Ichdahuma) wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu". (QS. Al-Qashash: 25)

أَحَدٌ  Achadun

Artinya, seorangpun

وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ ٨٩:٢٦ 

"Dan tiada seorangpun (achadun) yang mengikat seperti ikatan-Nya." (QS. Al Fajr: 26)


أَحَدِهِم   Achadihim
أَحَدُهُم   Achaduhum
أَحَدِهِمْ   Achadihim

Artinya, seorang dari mereka


إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَن يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِم مِّلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ ۗ أُولَـٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ


Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka (achadihim) emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (QS. Ali-Imran:91)

إِحْدَاهُنَّ  Ichdaahunna

Artinya, seseorang di antara mereka (feminim) 

وَإِنْ أَرَدتُّمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَّكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا ۚ أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا ٤:٢٠

Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka (ichdaahunna) harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? (QS. An-Nisa: 20) 

أَحَدِهِمَا  Achadihima
أَحَدُهُمَا  Achaduhuma

Artinya, seorang dari dua orang

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ ٥:٢٧ 

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (achadihima) (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". (QS. Al-Maidah: 27) 

إِحْدَى  Ichda 

Artinya,  salahsatu

إِنَّهَا لَإِحْدَى الْكُبَرِ ٧٤:٣٥ 

Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu (ichda) bencana yang amat besar, (QS. Al- Mudattsir: 35)

أَحَدُكُمَا  Achadukumaa

Artinya, salahseorang dari dua orang

وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ ٦٣:١٠ 

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu (achadukuma); lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" [Al Munafiqun:10]

أَحَدَنَا   Achadanaa

Artinya, seorang dari kami

قَالُوا يَا أَيُّهَا الْعَزِيزُ إِنَّ لَهُ أَبًا شَيْخًا كَبِيرًا فَخُذْ أَحَدَنَا مَكَانَهُ ۖ إِنَّا نَرَاكَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ ١٢:٧٨ 
Mereka berkata: "Wahai Al Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang diantara kami (achadana) sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk oranng-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf: 78) 

Shadaq Allah ul 'adzhiim bi Kulli kalaamih
Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan segala Firman-Nya

Ayat-ayat di atas jelas sudah membuktikan sekaligus membantah bahwa kata Achad  (احد) dalam bahasa 'arab bukan bermakna satu kesatuan melainkan esa, satu, individual, absolut, SENDIRI.

Karena ALLAH itu ACHAD, jelas bahwa DIA HANYA SENDIRI yaitu SATU PRIBADI yang memiliki bermacam SIFAT.

Lalu, bagaimana kata ECHAD dalam bahasa ibrani?


ECHAD DALAM TANAKH

Word: אחד
Pronounc: ekh-awd'
Strong: #H259
Transliter: 
a numeral from 0258 (אחד) ; TWOT-61; adj 

AV-one 687, first 36, another 35, other 30, any 18, once 13, eleven + 06240 (עשר) 13, every 10, certain 9, an 7, some 7, misc. 87; 952 

1) one (number) 
1a) one (number) 
1b) each, every 
1c) a certain 
1d) an (indefinite article) 
1e) only, once, once for all 
1f) one ... another, the one ... the other, one after another, one by one 
1g) first 
1h) eleven (in combination), eleventh (ordinal) 

Dari kamus Lexicon di atas, adakah kata SATU KESATUAN?

Kejadian 1:5
יוֺם אֶחָד  YOM ECHAD = "Hari PERTAMA"

Kejadian 1:9
אֶל-מָקוֺם אֶחָד  EL-MAQOM ECHAD = "Pada SATU Tempat"

Kejadian 2:24
לְבָשָׂר אֶחָד  LE-BASAR ECHAD = "untuk SATU Daging"

Ayat kejadian 2:24 ini adalah dasar yang digunakan oleh para penyembah Yesus sebagai dalil memaknai ECHAD sebagai kesatuan.

Kejadian 11:6
עַם אֶחָד  AM-ECHAD = "SATU Bangsa"

Ayat diatas bukan bermakna satu kesatuan, melainkan pengunaan echad merujuk ke suatu komunitas yang lebih dari satu orang, ayat ini pun bukan dasar dari SATU KESATUAN.

Kejadian  42:11
בְּנֵי אִישׁ-אֶחָד  beney isy-ECHAD = "anak-anak SATU ayah"

Kejadian 42:16
שִׁלְחוּ מִכֶּם אֶחָד syilchu mikem ECHAD = "utuslah darimu SEORANG"

Ayat-ayat di atas sudah jelas membantah bahwa kata ACHAD-ECHAD itu bukan bermakna SATU KESATUAN yang valid untuk dianggap sebagai dasar Trinitas.

Di dalam Hebrew Morphology Lexicon, kata ECHAD di sebut "Numeral Cardinal" (Angka Utama). Sedangkan di dalam Targum kata ECHAD diterjemahkan menjadi CHAD  (חד)
Jadi di manakah dasar SATU KESATUAN itu?

KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA [KBBI

esa num tunggal; satu;
— hilang, dua terbilang, pb berusaha terus dng keras hati hingga maksud tercapai; berbilang dr — , mengaji dr alif, pb melakukan sesuatu hendaknya dr permulaan;
ber=e=sa-e=sa=an v 1 cak berada seorang diri saja; 2 merasa lengang;
meng=e=sa=kan v menjadikan (menganggap) satu: ~ Tuhan (mengakui bahwa Tuhan hanya satu); ke=e=sa=an n sifat yg satu: ~ Tuhan

THESAURUS
esa n ahad, satu, tunggal;

KAMUS SEASITE
esa ::: Tidak ada duanya; satu; tunggal; eka.
Sekali lagi, di manakah dasar ECHAD DAN ACHAD itu adalah SATU KESATUAN? 

Apalagi di dalam Surah Al-Ikhlash dan Syema', jelas maknanya adalah ESA (SENDIRI).
Bukan dua, atau tiga pribadi menjadi satu.

Wallaahu a'lam bi shawwab


-------------------
REFERERENSI