Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Al-Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Islam. Tampilkan semua postingan

Sejarah Al-Quran


Abstrak - Al-Qur’an adalah kitab suci berisi wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Salam sebagai pedoman hidup bagi umat manusia. 

Untuk memahami Al-Qur’an diperlukan berbagai ilmu, antara lain adalah Ulum Al-Qur-an

Ilmu ini mencakup berbagai pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an dari segi sebab turunnya, pengumpulan dan urutan-ururannya, pengetahuan tentang ayat-ayat makkiyah dan madaniyyah, nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.

Ulum Al-Qur’an dengan berbagai cabang dan macamnya tidak lahir sekaligus, tetapi melalui proses dan perkembangan yang dapat dibagi ke dalam fase periwayatan dan fase kodifikasi. Sampai saat ini telah lahir puluhan tokoh di bidang Ulum Al-Qur’an. Di antara mereka yang paling masyhur adalah Jalaluddin Al Suyuthi yang menulis kitab Al Itqan fi `Ulumil Qur-an dan Al Zarqany dengan karyanya Al Burhan fi `Ulumil Qur-an. Kedua kitab ini selalu menjadi rujukan dalam kajian-kajian Ulumul Qur-an. ~ Pengantar Ulum Al-Quran, Sejarah dan Perkembangannya

Adapun sedikit catatan terkait Sejarah Al-Quran yang kerap menjadi bahan perbincangan dalam dialog, bahkan perdebatan lintas iman Kristen dan Islam di berbagai media, di antaranya adalah sbb:

Sejarah Al-Quran

Intisari Ajaran Islam

Inti dari ajaran Islam sekaligus sebab berbagai kebaikan adalah takwa kepada Allah. Takwa adalah perbuatan melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya yang dilandasi oleh rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah. Seorang muslim menyembah Allah dalam rangka berharap ridha-Nya dan terhindar dari petaka di akhirat. Istilah takwa merupakan istilah yang paling banyak disebutkan di dalam Alquran. Adapun ayat yang paling menjelaskan tentang kedudukan takwa adalah:

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ​
Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah.Qur'an An-Nisa’:131


Seluruh ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan As-Sunnah (perilaku kehidupan Nabi Muhammad) dapat dikelompokkan menjadi tiga judul besar berdasarkan bidang kajian keilmuannya. Pertama, ajaran yang berhubungan dengan keimanan terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab suci yang diturunkan-Nya, para utusan-Nya, dan peristiwa di kehidupan setelah kematian. Pembahasan hal ini tercakup dalam bidang ilmu Aqidah (teologi). 
 
Kedua, ajaran yang berhubungan dengan perbuatan hati dan jiwa, nilai-nilai moral, dan aturan perilaku. Ajaran ini dimaksudkan untuk mengembangkan sifat-sifat mulia dan tercakup dalam bidang ilmu Akhlak dan Adab (etika). 
 
Ketiga, ajaran yang berhubungan dengan perbuatan raga yang mencakup perintah, larangan, dan kebolehan. Ajaran ini masuk dalam bidang ilmu Fiqih (hukum Islam).
 
Berikut adalah ringkasan Intisari Ajaran Islam:

Intisari Ajaran Islam

Soteriologi dalam perspektif Islam

ISLAM berasal dari perbendaharaan kata dalam bahasa Arab "salima yuslimu istislaam" yang berarti tunduk atau patuh. Juga dari kata "yaslamu salaam" yang berarti selamat, sejahtera, atau damai.

Dengan demikian, menurut kaidah tata-bahasa Arab, pecahan kata ISLAM mengandung pengertian:

  • Islamul wajh; ikhlas menyerahkan diri kepada Allah,
  • Istislama; tunduk secara total kepada Allah,
  • Salaamah atau Saliim; suci dan bersih,
  • Salaam; selamat, atau damai sejahtera, dan
  • Silm; tenang dan damai.

Sedangkan orang yang mensifati kata "tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Allah" seperti dimaksud dalam penjelasan di atas, dalam bahasa Arab disebut MUSLIM.

Jika kemudian ada yang bertanya; siapakah orang-orang yang disebut MUSLIM dalam ISLAM?

Allah menjawab dalam firman-Nya,
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya: 25).

"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. At-Taubah:71)

Dengan demikian, maka MUSLIM adalah semua Nabi dan Rasul Allah, dan mereka yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang melaksanakan segala  perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan cara mengikuti petunjuk dan ajaran semua Nabi dan Rasul Allah yang telah disempurnakan melalui ajaran penutup para Nabi dan Rasul Allah; yaitu Nabi Muhammad SAW.

Ya! MUSLIM dalam ISLAM adalah semua Nabi dan Rasul Allah dan seluruh pengikut, atau umatnya masing-masing. 

Sedangkan tentang pengikutnya, Nabi Muhammad SAW menegaskan;
“Semua umatku pasti akan masuk surga kecuali mereka yang enggan.” Para shahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah mereka yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku (tidak taat padaku) maka dialah orang yang enggan (masuk surga).” [HR. Al-Bukhari no.6851, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu] - [Lihat juga Syafaat Rasulullah SAW]  
Karena itu, berbicara tentang soteriologi atau keselamatan dalam Islam, tidak ada Muslim yang harus repot, sebab sesungguhnya sudah dijelaskan oleh kata "ISLAM" dan "MUSLIM" itu sendiri yang meliputi makna bahwa siapapun orangnya, selama dia "tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Allah" dengan cara mengikuti ajaran Rasul-Nya, maka Allah menjamin keselamatan dan kedamaiannya (yaslamu salaam) di dunia, terutama di akhirat!

Dalam banyak firman-Nya, Allah menjanjikan kehidupan kekal di sorga yang dipenuhi dengan jutaan kesenangan dan kenikmatan tak terbatas yang tidak pernah terbayangkan oleh manusia selama hidup di dunia, hanya kepada orang-orang:
  1. yang beriman dan berbuat baik (QS. Al-Baqarah: 25)
  2. yang mu’min lelaki dan perempuan (QS. At-Taubah: 72)
  3. yang bertaqwa (QS. Ath-Thuur: 17-20)
  4. yang beriman dan beramal saleh (QS. Al-Kahfi: 30,31,107,108)
  5. yang bertaqwa kepada Rabbnya (QS. Az-Zumar: 73-74)
  6. yang tidak mensekutukan-Nya dengan tuhan-tuhan dan sesembahan lain (QS. An-Nisa: 48)
Mereka yang tidak memenuhi kriteria di atas, apalagi yang mensekutukan-Nya dengan cara menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah, jelas tidak akan selamat masuk sorga! Dan sebagai gantinya, maka satu-satunya tempat selain sorga yang tersedia untuk menjalani kehidupan kekal di akhirat nanti adalah neraka!
Lalu, MUSLIM yang bagaimanakah yang dijamin keselamatannya oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana diterangkan di atas?

Mereka adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya senantiasa berupaya hingga ke puncak kesanggupan jasmani dan rohaninya untuk tetap berpegang teguh pada pilar-pilar ISLAM sebagaimana dimaksudkan dalam Rukun Iman, Rukun Islam, dan perilaku Ihsan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Untuk itu, ALLAH MENJANJIKAN

Jaminan Keselamatan bagi setiap muslim
Bidadari di sorga

Selayang Pandang Ma'rifat dan Tasawuf


Terhadap sesama manusia, yakni dalam interaksi hablum min annas, Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani mengambarkan contoh sikap yang pantas untuk kita teladani, yakni:

“Ia (yang tawadhu), jika bertemu dengan anak-anak di bawah umur atau yang lebih muda darinya, akan merendah seraya berkata: ‘Dia ini belum bermaksiat, sementara aku sudah banyak bermaksiat. Ia tentu lebih baik dari aku.’ 

Sementara jika ia bertemu dengan orang yang lebih tua, ia akan berkata: ‘Dia sudah lebih lama menyembah Allah daripada aku.’ 

Kepada orang alim, ia merendah sambil berkata: ‘Dia diberi sesuatu yang belum aku capai dan ia telah memperoleh sesuatu yang belum aku peroleh, mengetahui apa yang belum aku ketahui, dan beramal dengan landasan ilmu.’ 

Bahkan, terhadap orang bodoh pun, ia tetap merendah dan berkata: ‘Dia bermaksiat kepada Allah atas dasar ketidaktahuannya, sementara aku bermaksiat kepada-Nya dengan segala pengetahuan, dan aku tidak tahu bagaimana nasib akhirnya dan nasib akhir diriku.” ~ Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Lantas, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Allah Subhanahu wata'ala sebagai Sang Khalik?
Semoga catatan-catatan berikut dapat membantu kita untuk lebih mengerti.

Insya Allah!

Tasawuf
QA

Kritik Sejarah


Kritik terhadap sejarah Al-Quran sering kali justru mengabaikan konteks sejarah dan budaya pada masa dan di mana teks-teks suci ini diturunkan. Al-Quran adalah produk dari konteks sosial dan sejarah yang unik. Mengabaikan konteks ini dapat menyebabkan pemahaman yang terdistorsi terhadap ayat-ayat Alquran dan .....
Kritik Sejarah
QA

Kritik Otentitas


Problem otentisitas kitab suci menjadi persoalan yang cukup mendasar bagi kalangan sarjana barat, mulai dari problem kepengarangan (autorship), redaksi teks (redaction) problem makna (meaning) hingga kesejarahan teks yang dianggap masih menyisakan persoalan penting. Menyikapi hal itu mereka melakukan studi krisis dengan menerapkan pendekatan kritik-historis ....
Kritik Otentitas
QA

Kontradiksi Ayat


SEJAK JAMAN BATU, para "musuh Islam" tidak henti-hentinya membual tentang macam-macam kesalahan dalam ajaran Islam. Salahsatu bualan mereka adalah KONTRADIKSI ayat-ayat Al-Qur'an. Dan herannya, tidak sedikit pendukung mereka yang dengan demikian percaya diri kemudian ikut pula menyebarkan produk "ngarang bebas" tsb ke berbagai forum diskusi (atau debat) lintas agama karena mengira apa yang dikarang-karang tsb merupakan keniscayaan ng tak terbantah .....
Kontradiksi Ayat
QA

Kritik Mushaf


Para orientalis dan simpatisannya begitu getol "menyerang" Al-Quran, karena tidak rela melihat kenyataan demikian kuatnya keyakinan kaum muslimin terhadap keotentikan Al-Quran. Sedang kenyataan yang terjadi pada mereka, Injil terbukti bermasalah, yang membuat mereka kecewa. Sehingga dengan segala upaya, mereka juga ingin menjatuhkan Al-Qur’an. ....
Kritik Mushaf
QA

Kritik Sains


Bicara soal Sains dalam Al-Quran memang menarik, bukan melulu karena keajaibannya yang sudah bicara berbagai informasi tentang sains modern sejak 14 abad lalu - dan baru "disadari" kebenarannya oleh para ilmuan dalam beberapa dekade belakangan ini saja - tapi khusus dalam konteks ini adalah karena kerasnya respons penduduk kampung sebelah....
Kritik Sains
QA

Tentang Kitab Kitab Terdahulu


Rasulullah SAW bersabda: "Aku telah diberikan tujuh buah surat panjang (Sab'ul Ath Thiwal) sebagai pengganti Taurat. Dan aku juga telah diberikan beberapa surat yang ayatnya berjumlah seratus lebih (Al-Miani) sebagai pengganti Zabur. Dan aku telah diberikan beberapa surat yang jumlah ayatnya kurang...
Tentang Kitab Kitab Terdahulu

Kehidupan Akhirat


Sebagian orang beranggapan bahwa kematian adalah akhir segalanya. Padahal, kematian hanyalah jembatan antara kehidupan semantara di dunia ini dengan kehidupan kekal di akhirat kelak. Kematian seolah pintu gerbang kehidupan setelah mati. Di seberang pintu gerbang ini, yaitu kehidupan di akhirat, pada akhirnya kita akan memasuki surga atau neraka tergantung pada amal pebuatan yang dilandasi oleh seberapa baik iman kita pada Allah dan seberapa besar ridha Allah atas segala perbuatan kita selama hidup di dunia ini.

Bagaimana Islam mengisyaratkan kehidupan umat manusia di akhirat nanti?
Simak beberapa catatan berikut ini.

Kehidupan Akhirat

Kematian


Pada prinsipnya, kematian sama dengan dibunyikannya bel di sekolah yang menandai berakhirnya ujian. Allah memberi jangka waktu yang berbeda untuk menguji setiap manusia. Ada yang diberi waktu sangat singkat, cukup singkat, bahkan ada yang sangat lama dlsb.

Seperti halnya Allah memutuskan hari kelahiran kita, yang merupakan awal dari semua ujian, Allah pula yang memutuskan waktu berakhirnya jangka waktu tersebut. Dengan kata lain, hanya Allah yang maha mengetahui kapan, atau pada usia berapa kita akan mati - untuk selanjutnya mempertanggungjawabkan segala hasil ujian kita selama hidup di dunia - di hadapan Allah.

Beberapa catatan tentang kematian yang diajarkan dalam Islam di antaranya adalah sbb: 

Kematian

Kehidupan Dunia

Banyak manusia yang tidak memahami arti kehidupan di dunia. Mungkin kita sendiri termasuk dalam golongan mereka yang hanya berlomba-lomba untuk mendapatkan kesenangan hidup duniawi. Orang-orang yang lebih banyak mencari pemuasan hawa nafsu (semu), daripada berikhtiar memenuhi fitrahnya sebagai hamba yang taat, patuh, dan berserah diri kepada Rabb, Sang Pencipta.

Kendati semikian, kaena kasih sayangnya kepada kita semua Allah banyak mengajarkan hl-hal yang sepautnya kita pahami selama hidup di dunia fana ini seperti di antaranya sbb:

Kehidupan Dunia

Menjaga Iman Dan Taqwa

Allah Subhanahu wata'ala berfirman,
''Itulah Alquran yang tidak ada satu pun keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk bagi orang-orang bertakwa. Yaitu, mereka yang beriman kepada hal-hal gaib, mendirikan shalat, dan menyedekahkan sebagian harta yang mereka miliki dari rezeki Kami. Dan, juga mereka yang beriman dengan yang kami turunkan kepadamu wahai Muhammad, dan yang diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelummu. Mereka juga beriman kepada akhirat. Itulah mereka yang mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka. Dan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.'' (QS Al-Baqarah: 2-5)

Menjaga Iman Dan Taqwa


Al-Quran, Kajian

Bicara tentang Kajian Al-Quran dalam khasanah keilmuan Islam tentu saja sangat berbeda dengan apa yang dipahami oleh kebanyakan netter Kristen yang acapkali kita temui "waton jeplak" luar biasa sok tau coba membahas ayat-ayat Al-Quran di forum-forum debat lintas iman melulu berdasarkan asumsi sendiri dari hasil membaca teks terjemahannya saja.

Salahsatu contoh bisa disimak pada arsip Pendeta GKP Tangerang yang dengan penuh percaya diri coba mengaitkan doktrin Kristen dengan ayat-ayat Al-Quran sebagai justifikasi iman kristennya yang sudah jelas ditolak mentah-mentah oleh Al-Quran.

Padahal dalam Islam, membaca Al-Quran itu ada tata-kramanya, bahkan ada "ilmunya" agar pembaca dapat mengerti dengan baik riwayat, makna, maksud, dan ajaran dari setiap ayatnya.

Namun karena hal itu akan terasa sangat sulit untuk dipahami, khususnya oleh para netter penggiat dan pendukung misionaris kristen seperti disebutkan di atas, maka berikut ini disajikan beberapa "bacaan ringan" terkait kajian Al-Quran yang mudah dimengerti saja.

Al-Quran, Kajian

Syafaat Rasulullah SAW


Besarnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya benar-benar tiada tara dan tak terkira. Sampai-sampai beliau menangguhkan sebagian doanya hingga hari kiamat demi membela dan menyelamatkan mereka, sebagimana sabda beliau: 
“Setiap nabi pasti memiliki doa mustajab. Hanya saja mereka menyegerakan doa mereka di dunia. Namun, aku menunda doa itu demi menolong umatku pada hari kiamat. Insyaallah, doa itu akan terwujud,”  [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
Besarnya cinta beliau kepada umatnya juga tak tergantikan dengan tawaran masuknya separuh mereka ke surga. Beliau lebih memilih tawaran syafaat karena ingin membela  lebih banyak umatnya, sebagaimana tergambar dalam salah satu hadits: 
“Aku diberi pilihan antara syafaat dengan masuknya separuh umatku ke surga. Namun, aku memilih syafaat. Sebab, syafaat lebih menyeluruh dan lebih banyak. Mungkin saja kalian mengira sayafaatku hanya untuk orang-orang bertakwa? Tidak. Tetapi juga untuk orang-orang yang berdosa,”  [HR. At-Tirmidzi].
Berdasar hadits di atas, syafaat Rasulullah SAW tidak hanya bagi orang-orang yang bertakwa, tetapi juga bagi orang-orang mukmin yang berlumuran dosa, termasuk pelaku dosa besar, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Imam Ahmad:
“Syafaatku juga untuk umatku yang melakukan dosa besar.”

Bagaimana seluk beluk syafaat Rasulullah SAW sebagaimana dimaksud dalam hadits-hadits di atas? Simak yang berikut ini. 

Syafaat Rasulullah SAW

Tafsir Al-Quran


Tafsir Alquran (Arab: تفسير القرآن) adalah ilmu untuk memahami dan menafsirkan objek-objek yang bersangkutan dengan ayat-ayat Al-Quran dan "output"nya berfungsi sebagai mubayyin (pemberi penjelasan), menjelaskan tentang arti dan kandungan Al-Quran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami dan samar artinya. Kebutuhan umat Islam terhadap tafsir Al=Quran, sehingga makna-maknanya dapat dipahami secara penuh dan menyeluruh, merupakan hal yang mendasar dalam rangka melaksanakan perintah Allah sesuai yang dikehendaki-Nya.

Dalam memahami dan menafsirkan Al-Quran diperlukan bukan hanya pengetahuan bahasa Arab, tetapi juga berbagai macam ilmu pengetahuan yang menyangkut Al-Quran dan isinya. Ilmu untuk memahami Al-Quran ini disebut dengan Ushul Tafsir atau biasa dikenal dengan Ulumul Qur'an (ilmu-ilmu Alquran). 

Ada tiga bentuk penafsiran Al-Quran, yaitu (1) Tafsîr bil ma’tsûr, (2) at-tafsîr bir ra’yi, dan (3) tafsir isyari, dengan empat metode, yaitu (a) ijmâli, (b) tahlîli, (c) muqârin dan (d) maudhû’i. Sedangkan dari segi corak lebih beragam, ada yang bercorak sastra bahasa, fiqh, teologi, filsafat, tasawuf, ilmiyah dan corak sastra budaya kemasyarakatan lainnya.

Usaha menafsirkan Alquran sudah dimulai semenjak zaman para sahabat Rasulullah SAW sendiri. ‘Ali ibn Abi Thâlib (w. 40 H), ‘Abdullah ibn ‘Abbâs (w. 68 H), ‘Abdullah Ibn Mas’ûd (w. 32 H) dan Ubay ibn Ka’ab (w. 32 H) adalah di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan ayat-ayat Al-Quran dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain.

Adapun arsip di bawah ini hanya sebagian (sangat) kecil di antaranya, yang pernah GM publikasi sebagai respons terhadap pertanyaan seputar topik-topik dimaksud:

Tafsir Al-Quran

Mukjizat Al-Quran

Bicara tentang mukjizat Al-Quran, maka mau tidak mau, suka tidak suka, bosan tidak bosan, kita akan bicara tentang Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa salam. 

YA! Karena pertama, kita semua tahu bahwa Al-Quran hanya diturunkan kepada beliau sebagai satu-satunya manusia yang oleh karenanya tentu saja menjadi orang yang paling memahami setiap detil dari apa yang sekarang ini kita kenal sebagai Ulumul Qur'an. Kedua, karena kita juga tahu bahwa di samping ratusan mukjizat yang pernah diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui tangan beliau -- dan dapat kita ikuti kisah-kisahnya melalui hadits-hadits shahih tentang berbagai mukjizat tsb -- ternyata beliau lebih memilih untuk mengaku hanya memiliki satu mukjizat saja, yaitu Al-Quran!

Inilah sebabnya kenapa umat Islam tidak banyak bicara tentang berbagai mukjizat nabi Muhammad Shallallahu 'alayhi wa salam yang pada kenyataannya tidak kalah dahsyat dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat yang pernah diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui tangan para nabi dan rasul Allah pendahulu beliau, kecuali tentang Al-Quran.

Kenapa Al-Quran disebut sebagai mukjizat?
Dari sekian banyak jawaban, sekelumit di antaranya dijelaskan di bawah ini:

Mukjizat Al-Quran

Al-Quran Dan Sains Modern

Tidak ditemui dalam kitab-kitab suci umat sebelumnya, Al-Quran yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala untuk seluruh umat manusia melalui nabi terakhir-Nya, Muhammad Shallallahu 'alayhi wa salam, 14 abad lalu terbukti menyajikan banyak ayat-ayat dalam kategori "sains masa depan" sebagaimana kita ketahui; ternyata baru sebagian di antaranya yang dipahami dan dibuktikan kebenarannya oleh ilmuan modern dari berbagai disiplin ilmu sejak beberapa dekade belakangan ini saja.
   
Di antara yang sempat kami arsipkan di sini adalah sbb:

Al-Quran Dan Sains Modern

Al-Quran Dan Saintis

Majelis Pengajian Muslimah


Muslimah merupakan jati diri mulia yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada setiap wanita muslim. Selain itu, Muslimah juga merupakan ujung tombak yang akan dan terus melahirkan generasi emas di masa depan. Dari merekalah lahir generasi cerdas, berkharisma, bertaqwa dan menjadi harapan orangtua, agama, dan negara. Muslimah adalah ibu sekaligus madrasah pertama bagi anak-anaknya. Oleh karenanya, anak-anak yang berkarakter umumnya lahir dari ibu yang cerdas dan berakhlak mulia. Namun, menjadi muslimah yang baik di era modern sekarang ini tidaklah mudah, cobaan dan ujian yang dihadapi semakin lama semakin berat.

Menghadapi tantangan jaman dengan segala dinamikanya ini, yang perlu dilakukan adalah menguatkan keimanan, terus belajar dan mengamalkan ilmu sesuai hukum Allah. Tidak dapat disangkal, dewasa ini Muslimah dituntut untuk memiliki komitmen yang lebih tinggi dari sebelumnya agar tidak menyimpang dari ajaran Islam. Perkembangan jaman dan kompleksnya kemajuan teknologi yang mempengaruhi lingkungan dan gaya hidup modern adalah salahsau tantangan yang perlu disikapi dengan arif,

Oleh karenanya, di era yang kian modern ini, Muslimah perlu mengatur kehidupannya dengan bijak agar selamat dunia dan akhirat. Tak hanya itu, Muslimah juga harus memiliki landasan ilmu yang kokoh agar terhindar dari hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama. Muslimah yang kuat adalah mereka yang cerdas dan selalu bertindak sesuai dengan tuntunan agama, menjaga kehormatannya, berperilaku santun, kuat beribadah, melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi apa yang dilarang oleh agama.

Untuk itu Muslimah hendaknya bijak dalam menyikapi perkembangan jaman yang kian pesat dan cenderung menyesatkan banyak orang. Salahsatu cara yang dapat dan baik untuk dilakukan di antaranya adalah mengikuti kegiatan kegiatan yang bersifat positif, seperti misalnya pengajian. Jika karena satu dan lain hal tidak dapat menghadiri majelis-majelis ta'lim yang digelar di seputar lingkungan, sekurang-kurangnya membaca dapat menjadi pengganti.     

Majelis Tadabur Muslimah