Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Zionis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Zionis. Tampilkan semua postingan

Mengenal Organisasi Rahasia Freemasonry


FREEMASONRY adalah organisasi Yahudi Internasional, sekaligus merupakan gerakan rahasia paling besar dan palling berpengaruh di seluruh dunia. Freemasonry terdiri dari dua kata yang di satukan. Free artinya bebas atau merdeka, sedangkan Mason adalah juru bangun atau pembangun.

Tujuan akhir dari gerakan Freemason ini adalah membangun kembali cita-cita khayalan mereka, yakni mendirikan Haikal Sulaiman atau Solomon Temple.

Tentang Haikal Sulaiman atau Solomon Temple ini sendiri banyak sumber yang mendefinisikan berlainan. Salah satu tafsir yang paling populer adalah, bahwa Haikal Sulaiman berada di tanah yang kini di atasnya berdiri Masjidil Aqsha.

Mereka meyakini, tahun 1012 Sebelum Masehi (SM), Nabi Sulaiman membangun Haikal di atas Gunung Soraya di wilayah Palestina. Tapi pada tahun 586 SM, Raja Nebukhadnezar dari Babilonia menghancurkan Haikal Sulaiman ini. Tahun 533 SM, bangunan ini didirikan kembali oleh seorang bernama Zulbabil yang telah bebas dari tawanan Babilonia. Atas kebebasannya itulah, ia membangun kembali Haikal Sulaiman.

Pada tahun ke 70 M, seorang penguasa Romawi menaklukkan Palestina dan membakar serta menghancurkan Haikal Sulaiman ini. Kerusakan terus-menerus dialami setelah penyerbuan Bangsa Hadriyan. Begitu pula saat kekuasaan Muslim, konon Haikal Sulaiman di hancurkan dan sebagai gantinya didirikan Masjidil Aqsha pada abad ke-7.

Tapi tafsir lain tentang hal ini juga mengartikan Haikal Sulaiman juga sebagai wilayah kekuasan yang luas membentang. Bahkan ada yang menariknya hingga sampai wilayah Khaibar, saat kaum Yahudi diusir di zaman Rasulullah Muhammad. Karena itu, mereka meyakini harus menguasai seluruh dunia, bahkan hingga tanah Khaibar, tempat mereka terusir dahulu karena penghianatanya pada Rasulullah dan piagam Madinah.

Dan untuk itulah mereka bekerja dan membangun, yaitu untuk merebut Haikal Sulaiman dan mendirikan kekuasannya secara nyata, serta mempengaruhi pemerintahan dan kekuasan yang mampu mereka pengaruhi. Dan untuk menebar kekuasaan itu, salah satu rintangan besar yang dihadapi oleh gerakan ini adalah agama-agama, terutama agama Samawi atau agama-agama wahyu, Kristen dan Islam.

Sebelum kaum muslimin sadar tentang bahaya gerakan Freemason, perlawanan terhadap organisasi ini terlebih dulu dilakukan oleh kalangan pemimpin gereja. Perlawanan gereja Katholik ini terjadi karena Freemason telah menjadi organisasi tempat berkumpulnya kaum anti-agama. Dalam sebuah artikel berjudul The Earlier Period Of Freemasonry yang di Mimar Sinan, turki, Freemason disebut sebagai tempat berkumpul para anggota Mason yang mencari kebenaran di luar gereja. Dan ini menjadikan awal abad-18 sebagai tahun-tahun yang penuh pertarungan antara gereja Katholik dengan Freemason di Eropa. Sejak awal berdirinya, Fremason telah menyokong kebebasan beragama, sama persis dengan yang terjadi belakangan ini di berbagai negara, liberalisasi keagamaan.

Freemason berdiri di Inggris secara resmi pada tahun 1717. Tapi tampaknya, sebelum tahun itu pun, Freemasonry telah eksis. Bahkan sejak abad sebelumnya. Tahun 1641, seorang keluarga kerajaan Inggris, Robert Moray tercatat sebagai anggota cabang Freemason di Edinburg, tepatnya 20 Mei 1641. nama lain yang juga tercatat sebagai anggota Freemason sebelum tahun 1717 adalah Elias Ashmole tercatat sebagai anggota Freemasonry di Lanchasire pada 16 Oktober 1646. Dan ia juga salah seorang dari royal family atau keluarga kerajaan.

Dari catatan di atas, sebetulnya bisa ditarik kesimpulan bahwa tahun 1717 hanya tahun pemantapan saja dari tahap-tahap yang telah dilakukan oleh gerakan Freemson. Tahun ini dijadikan sebagai tahun ekspansi untuk melakukan dan menancapkan pengaruh mereka di seluruh dunia.

Tahun 1717 ini dijadikan sebagai tonggak bagi Freemason unuk memulai perangnya yang akan sangat panjang kepada umat beragama dan kepada agama itu sendiri. Seorang kepala gereja protestan di London yang bernama Anderson dan berdarah Yahudi menjadi motor penggeraknya pada 24 Juni 1717. Pada momentum inilah Freemason mendirikan Grand Lodge of England dengan menggabungkan empat lodge menjadi satu.

Banyak sumber Freemason menjelaskan bahwa sejarah berdirinya gerakan ini berakar jauh dan bisa dilacak hingga ke masa Ordo Knight of Templar saat perang Salib di Yerusalem, Palestina. Saat Paus Urbanus II, tahun 1095, usai Konsili Clermont menyerukan Perang Suci atau Crusade dan memobilisasi kaum Kristiani di seluruh Eropa untuk turut berperang merebut Yerusalem kembali dari kekuasaan Muslim. Paus Urbanus II membakar emosi massa dengan cara mengabarkan kabar bohong. Ia mengatakan umat Kristen di Palestina telah dibunuh, dibantai dan dibakar di dalam gereja-gereja oleh pasukan Turki Seljuk yang Muslim. Ia juga membakar kemarahan kaum Kristiani dengan mengatakan bahwa kaum kafir (Muslim Turki, pen.) telah dan sedang menguasai makam Yesus Kristus.

Paus UrbanusII menyerukan agar seluruh pertikaian yang terjadi selama ini antar pemeluk dan kesatrian Kristen harus diakhiri, karena ada musuh yang lebih berbahaya dan harus segera dihancurakan: Islam dan kaum Muslimin. Ia juga mengiming-iming dengan bujukan surgawi, bahwa siapa yang berangkat ke medan perang kan dibebaskan dari seluruh dosa dan di jamin akan mendapat surga. Hasilnya, ribuan kaum Kristiani berangkat menuju Palestina dengan kemarahan. Dan setibanya di sana, terjadi pembantaian besar-besaran atas penduduk Yerussalem dan Palestina.

Selama dua hari penyerbuan terjadi pembantaian yang tak bisa diterima akal sehat dan rasa kemanusiaan. Sebanyak 40.000 penduduk Palestina terbantai. Beberapa sejarawan menggambarkan, saat itu darah menggenangi tanah Yerusalem. Ada yang menyebut darah menggenang setinggi mata kaki, bahkan ada yang menggambarkan darah menggenang hingga lutut manusia dewasa. Tentara berperang dengan motivasi mendapatkan emas dan permata, dan juga banyak para kesatria Prancis tercatat membelah perut korban-korban mereka. Merka mencari emas atau permata yang kemungkinan di telan penduduk Palestina sebagai upaya penyelamatan harta.

Setelah mereka menguasai tanah Palestina, pasukan Salib yang terdiri dari banyak unsur mulai mendirikan kelompoknya masing-masing. Mereka tergabung dalam ordo-ordo tertentu. Para anggota ordo ini datang dari seluruh tanah Eropa, yang ditampung di biara-biara tertentu dan berlatih cara-cara militer di dalam biara tersebut. Dan satu dari sekian ordo yang sangat mencuat namanya adalah Ordo Knight of Templar.

Knight of Templar juga disebut sebagai tentara miskin Pengikut Yesus Kristus dan Kuil Sulaiman. Disebut miskin karena tergambar dari logo yang mereka gunakan, seperti dua tentara yang menunggang seekor keledai. Untuk menunjukkan bahwa mereka miskin, sampai-sampai satu keledai harus dinaiki dua orang tentara Knight of Templar. Bahkan tercatat, mereka dipaksa untuk makan tiga kali saja dalam semingu. Sedangkan nama Kuil Sulaiman mereka pakai karena mereka menjadikan markas mereka yang dipercayai sebagai situs runtuhnya Kuil Sulaiman atau Solomon Temple. Tapi sesungguhnya, pemilihan markas di bukit ini bukan sebuah kebetulan yang bersifat geografis semata, karena para pendiri ordo Knight of Templar sesunguhnya punya cirta-cita sendiri untuk mengembalikan kejayaan dan berdirinya Kuil Sulaiman sebagai tempat suci kaum Yahudi atau tempatnya kaum Mason. Sepanjang bisa terlacak, pendiri ordo ini adalah dua kesatria Prancis, yaitu Hugh de Pavens dan God frey de St Omer. Spekulasi dari kalangan sejarawan mengatakan, bahwa ada darah-darah Yahudi yang mengalir dalam tubuh dan cita-cita para pendiri Ordo Knigh of Templar. Para perwira tinggi Kristen tersebut, sesungguhnya proses convertion yang mereka lakukan hanyalah cara untuk menyelamatkan diri, dan sesungguhnya mereka masih berpegang teguh pada doktrin-doktrin Yahudi, terutama Kabbalah.

Meski mereka menamakan diri sebagai tentara miskin, sesunguhnya mereka tidak miskin sama sekali. Atau setidaknya, masa miskin itu hanya mereka rasakan di awal-awal berdirinya Knight of Templars. Dalam waktu yang singkat mereka mampu menjadi sangat kaya raya dengan jalan melakukan kontrol penuh terhadap peziarah Eropa yang datang ke Palestiana. Salah satunya adalah dengan cara merekrut anak-anak muda putra para bangsawan Eropa yang tentu saja akan melengkapi anak mereka dengan perbekalan dana yang seolah tak pernah kering jumlahnya. Mereka juga disebut sebagai perintis sistem perbankan pertama pada abad pertengahan.

Saat itu banyak orang-orang Eropa yang ingin pindah atau setidaknya berziarah ke Palestina. Dan tentu saja perjalanan yang jauh dari Eropa memerlukan bekal yang tidak sedikit. Ada yang membawa seluruh harta mereka dalam perjalanan, tapi karena tentara Salib disepanjang perjalanan hidup dalam kondisi ayng sangat mengenaskan dan mereka sangat tergiur oleh harta kekayaan, tidak jarang terjadi perampokan bahkan saling bunuh antar orang Kristen disepanjang perjalanan menuju Palestian. Lalu ditemukan cara, para peziarah tidak perlu membawa harta mereka dalam perjalanan. Mereka hanya perlu menitipkannya pada sebuah perwakilan Templar di Eropa, mencatat dan menghitung nilainya dan mereka berangkat ke Palestina berbekal catatan nilai harta yang nantinya akan ditukarkan dengan nilai uang yang sama di Palestina. Gerakan ini banyak didominasi oleh Ordo Knight of Templar yang membuat mereka sangat kaya raya karena mendapat keuntungan dari sistem bunga yang mereka kembangkan. Dan inilah embrio atau cikal bakal perbankan yang kita keanl sekarang.

Markas Knight of Templar di Prancis menjadi rumah penghimpunan harta terbesardi Eropa. Lambat laun mereka menjadi bankir bagi para Paus dan Raja. Bagaimana tidak cepat kaya, setiap tahunyya King Henry II of England mendonasikan uang untuk menanggung biaya hidup 15.000 tentara Knight of Templar dan juga Knight Hospitaler selama mereka berperang dalam Perang Salib di tahun 1170. Untuk menggambarkan betapa besarnya institusi perbankan yang dijalankan Templar, pada saat itu organisasi ini memiliki 7.000 pegawai lebih hanya untuk mengurusi masalah keuangan. Mereka juga memiliki tak kurang dari 870 istana, kastil, dan rumah-rumah para bangsawan yang terbentang dari London hingga Yerusalem.

Karena ordo ini sangat berkuasa, lambat laun mereka mulai menampakkan ciri aslinya, yakni sebagai penganut Mason. Mereka mengembangkan doktrin dan ajaran mistik, juga kekuatan sihir di biara-biara mereka. Mereka memuja setan dan mendatangkan roh-roh untuk berkomunikasi. Apa yang mereka praktikkan ini disebut sebagai Kabbalah, sebuah tradisi mistik Yahudi kuno yang telah berkembang bahkan sejak zaman sebelum Fir’aun.

Mengetahui hal ini, Raja Prancis Philip le Bel, pada tahun 1307 mengeluarkan seruan untuk menangkap dan membubarkan ordo Knight of Templar karena dituduh telah melakukan bid’ah. Dalam perkembangannya, Paus Clement V turut bergabung untuk memerangi kaum Mason ini dengan mengeluarkan kembali vonis inquisisi. Terjadi banyak penangkapan dan interogasi, dan beberapa pimpinan Ordo Knight of Templar yang bergelar Grand Master (penyebutan ini masih dipakai sebagai tingkat tertinggi dalam gerakan Freemasonry sampai sekarang, pen) ikut menjadi korban. Dari beberapa penangkapan dan interograsi didapatkan keterangan bahwa anggota-anggota Templar telah melakukan kejahatan seksual terhadap beberapa perempuan bangsawan, melakukan sodomi, menyembah kucing, memakan daging teman-teman mereka sendiri yang sudah mati. Bahkan salah seorang saksi mata mengatakan, para Templar memperkosa perawan-perawan hingga hamil dan bayinya dibunuh dengan cara yang sadis untuk kemudian di bakar dan diambil minyaknya, dijadikan minyak suci untuk persembahan para pemimpin mereka.

Pada tahun 1307, Raja Philip IV memerintahkan penangkapan Jacques de Molay. Dan setelah melalui penyiksaan demi penyiksaan, de Molay mengakui segala ritual bid’ah yang dilakukan oleh Ordo Templar. Pada tahun 1312, Ordo Knight of Templar dilarang dan dibubarkan. Dan atas perintah Gereja dan Raja , dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1314, para pimpinan Templar dihukum mati, termasuk Jacques de Molay, salah satu Grand Master terpenting Ordo Templar. Jacques de Molay sendiri divonis sebagai heretic (bid’ah) atau kafir dan dihukum dengan cara dibakar hidup-hidup di depan raja Philip IV. Dan sebelum menghembuskan napasnya, de Molay mengeluarkan kata-kata bahwa Raja Philip dan Paus Clement harus mengikutinya, mati, dalam waktu satu tahun. Dan sejarah mencatat, Raja Philip IV meninggal tujuh bulan kemudian, disusul Paus Clement sebulan setelah Raja Philip mangkat.

Setelah itu terjadi pemusnahan besar-besaran, sekali lagi atas kaum Yahudi, dan kali ini bermula dengan kasus Knight of Templar atau kaum Mason. Pemusnahan ini tak hanya terjadi di Palestina, tapi juga terjadi di Eropa. Mereka diburu untuk ditangkap dan dibunuh. Sampai akhirnya mereka berhasil melarikan diri dan mendapat perlindungan dari Raja Skotlandia, Robert The Bruce yang dilantik dan menduduki singgasana Raja pada tahun 1306. Dan di tanah baru ini pula mereka menyusun kekuatan kembali. Dan Skotlandia menjadi salah satu yang menentukan dalam perkembangan gerakan Freemason.

Versi yang lebih tua dari sejarah Freemason adalah kisah yang menyebutkan pembentukan Freemasonry pada zaman Raja Israel, Herodes Agripa I yang meninggal pada tahun 44 Masehi. Freemason pada zaman ini dibentuk untuk membendung ajaran agama yang disampaikan oleh Nabi Isa as. Konon waktu itu namanya The Secret Power atau kekutan yang Tersembunyi.
Tujuan utamanya adalah memusuhi pengikut Nabi Isa, menculik mereka, membunuh, melarang penyebaran agama baru tersebut, termasuk membunuhi baya-bayi Kristen. Tapi, berkenaan dengan segala kesadisan yang dilakukan Herodes ini, para sejarawan dunia, meyakini bahwa hal tersebut hanyalah mitos belaka dalam tradisi agama Kristen. Herodes Agripa I menjalankan segala misi The Secret Power ini dibantu dua pengikut setianya, Heram Abioud sebagai Wakil Presiden gerakan dan Moab Leumi sebagai pemegang rahasia utama gerakan ini. Tapi beberapa anggota Freemason juaga mempercayai dan menarik sejauh mungkin sejarah mereka ke masa lalu, bahkan hingga ke zaman Fir’aun. Itu pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa mereka kerap kali menggunakan simbol-simbol Mesir Kuno dalam tradisi dan aktivitas ritual mereka, seperti penggunaan Dewa Horus, Piramida, Matahari dan berbagai simbol Mesir lainnya. Penggunaan ini bermula dari penggalian Kuil Sulaiman oleh para Templa dan penemuan doktrin dan ajaran Kabbalah yang terus-menerus mereka eksplorasi dan diajarkan dari mulut ke mulut. Penggalian ini begitu serius mereka lakukan sehingga kelak akan mempengaruhi cara pandang kaum Templar dan juga rencana mereka pada kehidupan dunia.

Bahkan yang cukup mengejutkan adalah, dalam manuskrip-manuskrip kuno Mason dikatakan, orang pertama Mason adalah Adam! Kejadian itu berawal ketika Adam dan Hawa memakan daun dari pohon terlarang di taman surga. Daun yang disebut sebagia daun pengetahuan, dan karena itu pula Tuhan mereka melarang mereka memakannya. Dr.Albert Mackei, seorang anggota Mason dengan tingkatan 33 derajat dalam Encyclopedia of Freemasonry manuliskan, daun pengetahuan itu kelak diturunkan pada dua anak Adam dan Hawa, Seth dan Nimrod dengan kisah The Tower of Babel. Kedua anak ini pula menyusun bahasa untuk ilmu pengetahuan yang akan diturunkan kepada manusia-manusia berikutnya. Tapi, dalam perkamen-perkamen tua itu disebutkan bahwa, Tuhan dengan sengaja mengacaukan bahasa manusia yang mengakibatkan rahasia ilmu pengetahuan, yang diturunkan Adam dengan memakan daun dari pohon terlarang, hilang dan tak diketahui manusia-manusia setelah Seth dan Nimrod. Dan itu pula yang menjadi alasan kedua kaum ini memerangi Tuhan.

Bahkan menurut Talmud, setan-setan adalah keturunan dari Adam dan Hawa. Setelah Adam diusir dari surga, ia enggan mencampuri istrinya, Hawa. Dan pada saat itulah, dua setan perempuan mendatanggi Adam yang langsung digauli keduanya oleh Adam. Dalam Talmud disebutkan, Adam menggauli setan perempuan bernama Lelet selama lebih dari 130 tahun lamanya dan melahirkan banyak anak-anak setan begitu pula dengan Hawa selama ditinggal oleh Adam, Hawa juga digauli oleh setan laki-laki dan melahirkan banyak anak setan.

Wallahualambissawab.

Waspadai Kepentingan Kaum Zionis Di Ruang Ruang Facebook!


Inilah ke-25 butir rancangan penguasaan dunia yang dibacakan Roshtchild I pada pertemuan 13 keluarga Yahudi terkemuka dunia di Judenstrasse, Bavaria, tahun 1773. Seratus dua puluh empat tahun kemudian, rancangan ini disahkan menjadi agenda bersama Gerakan Zionis Internasional pimpinan Theodore Hertzl dalam Kongres Zionis Internasional I di Basel, Swiss (1897) dengan nama Protocol of Zions:
  1. Manusia itu lebih banyak cenderung pada kejahatan ketimbang kebaikan. Sebab itu, Konspirasi harus mewujudkan 'hasrat alami' manusia mi. Hal ini akan diterapkan pada sistem pemerintahan dan kekuasaan. Bukankah pada masa dahulu manusia tunduk kepada penguasa tanpa pernah mengeluarkan kritik atau pembangkangan? Undang-undang hanyalah alat untuk membatasi rakyat, bukan untuk penguasa.
  2. Kebebasan politik sesungguhnya utopis. Walau begitu, Konspirasi harus mempropagandakan ini ke tengah rakyat. Jika hal itu sudah dimakan rakyat, maka rakyat akan mudah membuang segala hak dan fasilitas yang telah didapatinya dari penguasa guna memperjuangkan idealisme yang utopis itu. Saat itulah, Konspirasi bisa merebut hak dan fasilitas mereka.
  3. Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa dahulu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus mengapa dengan kebebasan itu. Inilah tugas Konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan, dengan kekuatan uang.
  4. Demi tujuan, segala cara boleh dilakukan. Siapa pun yang ingin berkuasa, dia mestilah meraihnya dengan trik, pemerasan, dan pembalikan opini. Keluhuran budi, etika, moral, dan sebagainya adalah keburukan dalam dunia politik.
  5. Kebenaran adalah Kekuatan Konspirasi. Dengan kekuatan, segala yang diinginkan akan terlaksana.
  6. Bagi kita yang hendak menaklukkan dunia secara finansial, kita harus tetap menjaga kerahasiaan. Suatu saat, kekuatan Konspirasi akan mencapai tingkat di mana tidak ada kekuatan lain yang berani untuk menghalangi atau menghancurkannya. Setiap kecerobohan dari dalam, akan merusak program besar yang telah ditulis berabad-abad oleh para pendeta Yahudi.
  7. Simpati rakyat harus diambil agar mereka bisa dimanfaatkan untuk kepentingan Konspirasi. Massa rakyat adalah buta dan mudah dipengaruhi. Penguasa tidak akan bisa menggiring rakyat kecuali ia berlaku sebagai diktatur. Inilah satu-satunya jalan.
  8. Beberapa sarana untuk mencapai tujuan adalah: Minuman keras, narkotika, pengrusakan moral, seks, suap, dan sebagainya. Hal ini sangat penting untuk menghancurkan norma-norma kesusilaan masyarakat. Untuk itu, Konspirasi harus merekrut dan mendidik tenaga-tenaga muda untuk dijadikan sarana pencapaian tujuan tersebut.
  9. Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga Konspirasi akan memperoleh manfaat besar tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi Konspirasi untuk menguasainya.
  10. Konspirasi sengaja memproduksi slogan agar menjadi 'tuhan' bagi rakyat. Dengan slogan itu, pemerintahan aristokrasi keturunan yang tengah berkuasa di Perancis akan diruntuhkan. Setelah itu, Konspirasi akan membangun sebuah pemerintahan yang sesuai dengan Konspirasi.
  11. Perang yang dikobarkan Konspirasi secara diam-diam harus menyeret negara tetangga agar mereka terjebak utang. Konspirasi akan memetik keuntungan dari kondisi ini.
  12. Pemerintahan bentukan Konspirasi harus diisi dengan orang-orang yang tunduk pada kemginan Konspirasi. Tidak bisa lain.
  13. Konspirasi akan menguasai opini dunia. Satu orang Yahudi yang menjadi korban sama dengan 1.000 orang non-Yahudi (Gentiles/Ghoyim) sebagai balasannya.
  14. Setelah Konspirasi berhasil merebut kekuasaan, maka pemerintahan baru yang dibentuk harus membasmi rezim lama yang dianggap bertanggungjawab atas terjadinya semua kekacauan ini. Hal tersebut akan menjadikan rakyat begitu percaya kcpada Konspirasi bahwa pemerintahan yang baru adalah pelindung dan pahlawan dimata mereka.
  15. Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada Konspirasi, yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan.
  16. Penyusupan ke dalam jantung Freemason Eropa agar bisa mengefektifkan dan mengefisienkannya. Pembentukan Bluemasonry akan bisa dijadikan alat bagi Konspirasi untuk memuluskan tujuannya.
  17. Konspirasi akan membakar semangat rakyat hingga ke tingkat histeria. Saat itu rakyat akan menghancurkan apa saja yang kita mau, termasuk hukum dan agama. Kita akan mudah menghapus nama Tuhan dan susila dari kehidupan.
  18. Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu.
  19. Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi, dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, Konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya dari balik layar.
  20. Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki Konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia, hingga tidak ada satu kekutan non-Yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri.
  21. Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non-Yahudi mutlak dilakukan.
  22. Meletuskan perang dan memberinya—menjual—senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri, yang tinggal dihuni oleh fakir miskin.
  23. Satu rezim terselubung akan muncul setelah Konspirasi berhasil melaksanakan programnya.
  24. Pemuda harus dikuasai dan menjadikan mereka sebagai budak-budak Konspirasi dengan jalan penyebarluasan dekadensi moral dan paham yang menyesatkan.
  25. Konspirasi akan menyalahgunakan undang-undang yang ada pada suatu negara hingga negara tersebut hancur karenanya.

Wallahualambissawab.

Freemasonry Dan Target Utamanya


FREEMASONRY adalah organisasi Yahudi Internasional, sekaligus merupakan gerakan rahasia paling besar dan palling berpengaruh di seluruh dunia. Freemasonry terdiri dari dua kata yang di satukan. Free artinya bebas atau merdeka, sedangkan Mason adalah juru bangun atau pembangun.

Di permukaan "Freemasonry" membangun citra sebagai gerakan moral dengan membentuk antara lain gerakan 'theosofi' yang berkembang menjadi quasi-agama, serta gerakan kontradiksinya 'the Freethinkers' ("Pemikir Bebas"), yang secara jelas menyatakan diri sebagai gerakan atheisme (di Hindia Belanda theosofie masuk pada tahun 1901, demikianjuga gerakan de vrijdenkers, bersamaan dengan masuknya Sneevliet yang membawa paham komunis). Pendirian berbagai organisasi pro-bono tersebut bertujuan untuk mengobok obok landasan moral masyarakat, melakukan penyebaran pemikiran yang bertujuan untuk mengacaukan aqidlah, dan dengan itu menimbulkan konflik-konflik di dalam masyarakat. Untuk menutupi tujuan itu, "Freemasonry" di kemudian hari mendirikan perkumpulan yang berselubungkan sebagai klub charitas eksklusif seperti the Rotary Club, the Lions, serta LSM-LSM yang bergerak di bidang politik, hukum, serta lingkungan hiclup, dan sebagainya.

Perlahan lahan Organisasi ini sudah mulai mengakar khususnya lewat sistem ekonomi , Neo Lib adlah produknya. bagaimana sikap kita menghadapinya? ciri - ciri akhir zaman kah???

Target Illuminati dan Komite 300
Diambil dari buku: Conspirator's Hierarchy: The Story of the Committee of 300
Oleh: DR. John Coleman

1. Mendirikian Sebuah Pemerintahan Dunia Tata Dunia Baru dengan menyatukan gereja dan sistem moneter dibawah pengaturan mereka. Gereja pertama dibangun pada tahun 1920-an dan 1930-an. Mereka menyadari akan perlunya kepercayaan religi yang melekat dalam diri manusia, yang pada gilirannya akan dijadikan sebagai alat untuk mencapai target dari tujuannya, oleh karena itu mereka membangun sebuah majelis "gereja" untuk mengarahkan kepercayaan umat manusia ke arah yang diinginkan, sesuai dengan tujuan mereka.

2. Menyempurnakan perusakan secara keseluruhan identitas nasional semua bangsa, sebagai konsideran utama jika konsep Sebuah Pemerintahan Dunia berhasil dilaksanakan.

3. Melakukan penyempurnaan perusakan semua agama dan terutama agama Kristen, dengan sebuah pengecualian sebuah agama yang boleh eksis, yaitu agama hasil ciptaan mereka, seperti yang disebutkan di atas.

4. Menyempurnakan kemampuan alat kontrol setiap manusia melalui pengendalian pikiran (mind control) dan tekonotronik (techonotronic) sebagaimana disebut oleh Zbignew Brzezinksi, yang akan menciptakan sebuah robot seperti manusia dan sebuah sistem teror yang akan membuat Felix Dzerzinhski’s Red Terror terlihat seperti anak-anak yang sedang bermain.

5. Menyempurnakan akhir dari semua industrialisasi dan produksi nulkir yang menghasilkan tenaga listrik, yang mereka sebut dengan "the post-industrial zero-growth society"/masyarakat ..... . Kecuali komputer dan jasa industri. Industri-industri AS yang tersisa akan dipindahkan ke negara lain, seperti Meksiko yang terdapat tenaga kerja budak yang berlimpah-limpah. Seperti yang telah kita lihat pada tahun 1993 ini telah menjadi sebuah kenyataan melalui jalur North American Free Trade Agreement, dikenal dengan NAFTA. Orang yang tak memiliki pekerjaan di AS segera sesudah kehancuran industri akan menjadi pencandu opium-heroin atau kokain, atau menjadi statistik dari proses penghapusan "kelebihan penduduk", yang kita ketahui dengan sebutan Global 2000 Report.

6. Mendorong, dan pada akhirnya melegalisasi penggunaan narkoba/obat-obatan terlarang dan pembuatan pornografi dalam bentuk "seni", yang akan diterima oleh masyarakat global dan akhirnya menjadi suatu yang biasa.

7. Menyempurnakan depopulasi kota-kota besar menurut uji coba yang dijalankan oleh rezim Pol Pot di Kamboja. Sangatlah menarik untuk mengetahui bahwa rencana-rencana genocide/pembataian dibuat di AS oleh salah satu fondasi penelitian Club of Rome, dan dikepalai oleh Thomas Enders, seorang pegawai ranking atas State Department. Juga sangat menarik bahwa komite kini sedang berkinginan untuk mengembalikan para pembunuh Pol Pot ke Kamboja.

8. Menekan semua perkembangan ilmiah, terkecuali yang dianggap menguntungkan Illuminati. Yang menjadi sasaran khusus ialah energi nuklir untuk tujuan damai. Yang paling dibenci ialah percobaan peleburan/fusion yang kini sedang dicemoohkan dan ditertawakan oleh Illuminati dan JACKAL pressnya. Perkembangan peleburan/fusion torch ini akan memadamkan konsepsi Illuminati mengenai "terbatasnya sumber daya alam". Sebuah FUSION TORCH, jika digunakan dengan benar, akan menciptakan sumber daya alam yang berlimpah tetapi hingga kini belum dipergunakan, bahkan dari bahan-bahan yang paling biasa. Penggunaan FUSION TORCH banyak sekali dan akan menguntungkan umat manusia dalam segala hal, tetapi fakta ini belum juga sedikitpun diberitahukan kepada maysarakat.

9. Menyebabkan kematian atas tiga milyar orang pada tahun 2050, dengan melalui perang yang dibatasi di negara-negara maju, dan dengan bantuan kelaparan dan berbagai penyakit di negara-negara dunia ketiga, orang-orang yang mereka sebut "useless eater". Komitee 300 (Illuminati) memerintahkan Cyrus Vance untuk membuat tulisan ilmiah tentang masalah ini mengenai bagaimana cara melakukan pembunuhan massal seperti ini. Tulisan tersebut dibuat dengan judul "Global 2000 Report" dan diterima serta disetujui untuk dilaksanakan oleh mantan Presiden James Earl Carter dan Edwin Muskie, lalu oleh Menteri Negara untuk dan atas nama Pemerintahan AS. Atas persyaratan yang tercantum di Global 2000 Report, populasi AS harus dikurangi hingga 100 juta pada tahun 2050.

10. Untuk melemahkan akhlak bangsa dan untuk mengacaukan pekerja di tingkat buruh dengan menciptakan PHK. Dengan berkurangnya pekerjaan dalam kaitannya dengan aturan pertumbuhan nol industri yang diciptakan oleh Club of Rome, laporan menggambarkan kelak pekerja yang sudah dirusak akhlaknya dan dilemahkan semangatnya akan lari kepada alkohol dan narkoba. Generasi muda akan didorong melalui musik rock dan narkoba untuk memberontak status quo, dengan begitu akan meremehkan dan akhirnya menghancurkan keluarga. Mengenai ini, Komitee memesan Institut Tavistock untuk mempersiapkan sebuah cetak biru, bagaimana cara meraih tujuan mereka. Tavistock mengarahkan Standford Research untuk menjalankan pekerjaan dibawah pengarahan Prof. Willis Harmon. Kerja ini kemudian dikenal dengan "Aquarian Conspiracy"

11. Untuk menjaga orang dimanapun dalam penentuan takdir mereka masing-masing, dengan cara menciptakan krisis yang berkelanjutan lalu "mengatur" krisis tersebut. Ini akan membingungkan dan menghancurkan moral penduduk secara luas dimana mereka dihadapkan dengan terlalu banyak pilihan, dan akan menciptakan suatu skala kelesuan yang amat luas. Dalam kasus di AS, dibuatkan sebuah keagenan Management Crisis, yang disebut dengan Federal Emergency Management Agency (FEMA), yang keberadaanya mulai saya lampirkan pada tahun 1980.

12. Memperkenalkan cara pemujaan baru dan untuk melanjutkan penambahan cara pemujaan yang sudah ada, termasuk musik rock gangster, seperti the Rolling Stones (sebuah group gangster yang dibentuk/FAVORED oleh European Black Nobility), dan semua group ciptaan Tavistock yang diawali oleh the Beatles.

13. Meneruskan pembangunan cara pemujaan Fundamentalisme Kristen dimulai oleh Darby, seorang pelayan British East India Company, yang akan disalahgunakan untuk memperkuat ZIONIST STATE Israel dengan mengidentifikasi bangsa Yahudi melalui mitos "Orang-orang pilihan Tuhan", dan dengan menyumbang banyak uang, yang mereka percayai mereka menyumbang untuk alasan religi demi kemajuan umat Kristen.

14. Menekan penyebaran cara pemujaan keagamaan, seperti Persaudaraan Muslim, Fundamentalisme Muslim, THE SIKHS dan untuk menyelesaikan eksperimen tipe pengendalian pikiran Jim Jones dan "Anak Sam". Sangat berharga untuk diketahui bahwa Khomeini merupakan ciptaan dari Inteligensi Militer Inggris Divisi 6, M16 terbaru. Pekerjaan rinci ini menunjukkan proses tahap demi tahap dimana Pemerinthan AS menerapkan untuk menempatkan Khomeini pada kekuasaan.

15. Mengekspor gagasan "liberalisasi religius" ke seluruh dunia juga untuk mengikis semua agama yang ada, tetapi lebih khususnya tertuju pada agama Kristen. Ini dimulai dengan "Theologi Liberalisasi Jesuit", yang mangakhiri kekuasaan Keluarga Somoza di Nicaragua, dan kini sedang menghancurkan El Salvador, kini memasuki "perang saudara" tahun ke-25. Costa Rica dan Honduras juga dilibatkan dalam aktifitas revolusi, yang dihasut oleh Jesuit. Satu kesatuan sangat aktif dalam liberalisasi teologi ialah Misi Komunis Mary Knoll. Ini melibatkan perhatian media yang luas atas pembunuhan empat dari yang disebut "biarawati" Mary Knoll di El Savador beberapa tahun lalu. Empat biarawati iti merupakan agen Komunis subversif dan kegiatan mereka secara luas didokumentasikan oleh Pemerintah El Savador. Media massa AS dan media baru/new media menolak memberi pemeberitaan mengenai pendokumentasian massal yang dimiliki oleh Pemerintah El Savador, yang membuktikan apa yang dilakukan para biarawati Misi Mary Knoll di negara tersebut. Mary Knoll bekerja untuk banyak negara dan ditempatkan untuk memimpin peran utama dalam membawa Komunisme ke Rhodesia, Mozambik, Angola dan Afrika Selatan.

16. Menyebabkan keruntuhan ekonomi dunia dan menimbulkan kekacauan politik secara total.

17. Mengambil alih kekuassan atas semua kebijaksanaan dalam maupun luar negeri AS.

18. Memberikan dukungan penuh terhadap institusi supranasional seperti United Nations (PBB), IMF, Bank of International Settlements, Mahkamah Internasional dan sebisanya membuat institusi lokal menjadi kurang efektif, dengan perlahan-lahan menghapusnya atau membawa mereka ke dalam PBB.

19. Menyusup dan menumbangkan semua pemerintahan, dan bekerja dari dalam untuk menghancurkan integritas kedaulatan bangsa-bangsa yang merepresentasikan mereka.

20. Mengatur aparat teroris dunia dan untuk bernegoisasi dengan teroris kapanpun terjadi tindak terorisme. Perlu diingat bahwa Bettino Craxi-lah yang membujuk/meyakinkan Pemerintah Itali dan AS untuk bernegoisasi dengan penculik Perdana Menteri Moro dan Jendral Dozier, Red Brigades. Disamping itu, Dozier diperintahkan untuk tidak mengatakan apapun mengenai apa yang terjadi padanya. Jika suatu saat ia melanggar perintah tersebut, Henry Kissinger akan membuat ia mengalami apa yang dialami oleh Aldo Moro, Ali Bhutto dan Jenderal Zia ul Haq.

21. Mengambil alih kontrol pendidikan di Amerika dengan maksud dan tujuan untuk sepenuhnya menghancurkannya. Pada tahun 1993, kekuatan penuh efek dari peraturan ini menjadi kenyataan, dan akan menjadi lebih merusak lagi dengan adanya pengajaran "Outcome Based Education" (OBE) pada sekolah dasar.

Walahualambissawab.

Perang Masonik Melawan Agama


KEBERADAAN Masonry pertama kali diumumkan di Inggris pada tahun 1717. Sebelumnya, Masonry telah menyebar pertama di Inggris, lalu di Prancis dan seluruh Eropa. Masonry menjadi tempat pertemuan utama para penentang agama. Banyak kaum Mason Eropa bertemu di loge mereka, menyebut diri mereka sebagai “pemikir bebas”, yang bagi mereka berarti tidak mengakui agama-agama ilahiah. Sebuah artikel bertajuk “Periode-Periode Awal Freemasonry” dalam Mimar Sinan menyebutkan, “Tempat di mana kaum Mason berkumpul untuk mencari kebenaran di luar gereja menjadi tempat perlindungan."

Walau demikian, kelompok yang mencari kebenaran di luar agama ini juga menyembunyikan permusuhan terhadap agama. Oleh karena itu, organisasi tersebut segera menjadi pusat kekuatan yang membuat risau Gereja, khususnya Gereja Katolik. Konflik antara Masonry dan Gereja terus tumbuh, meninggalkan jejak di Eropa abad kedelapan belas dan kesembilan belas. Masonry mulai menyebar ke negara-negara lain di luar Eropa, pada paro kedua abad kesembilan belas, dan ke mana pun perginya, Masonry menjadi pusat filosofi dan aktivitas antiagama.

Sebuah artikel berjudul “Politik dan Freemasonry”, yang muncul di Mimar Sinan, menjelaskan tentang pertarungan melawan agama sebagai berikut:

Sejalan dengan tidak menjadi partai politik, Freemasonry menjadi terorganisir di awal abad kedelapan belas sebagai sebuah lembaga sosial berskala internasional sesuai dengan arus sosial politik. Untuk menyokong sekte-sekte dalam upaya untuk melaksanakan kebebasan beragama, Freemasonry melibatkan diri dalam pertarungan melawan kekuatan dan pengaruh kependetaan dalam upaya untuk menggapai sasaran tunggal mereka meruntuhkan kekuatan dan pengaruh Gereja atas masyarakat. Karena itulah, di tahun 1738 dan 1751 Freemasonry dinyatakan Paus sebagai tak bertuhan. Di negara-negara yang menerapkan prinsip kebebasan beragama itu, Freemasonry merupakan sebuah masyarakat misterius dan rahasia yang hanya dikenal namanya; di negara-negara ini Freemasonry diabaikan tapi juga didorong, mendapatkan anggota di antara kelas menengah dan pejabat-pejabat tinggi yang mempunyai waktu dan sarana, serta memasang pejabat-pejabat negara terkemuka di posisi-posisi kepemimpinan dalam organisasi-organisasinya. Di negara-negara selatan, di mana semua orang harus menganut Katolik, mereka mempertahankan karakter sebagai organisasi rahasia, terlarang, dan revolusioner yang menjadi sasaran pengawasan hukum. Di negara-negara ini, orang-orang muda yang berpikiran bebas dan para pegawai yang tidak puas dengan administrasi pemerintahan mulai memasuki loge-loge Masonik dan dengan demikian dimulailah rencana-rencana revolusioner dan diarahkan kepada rezim Spanyol, Portugal, dan Italia yang berada di bawah dominasi Vatikan.

Tidak diragukan bahwa di sini para penulis Masonik menggunakan bahasa yang mendukung organisasinya sendiri ketika menyebutkan bahwa Masonry sedang melakukan perlawanan terhadap dominasi Gereja. Namun, jika kita kaji masalah ini lebih dekat, kita akan melihat bahwa di banyak negara, “dominasi” yang sama juga cocok untuk rezim-rezim yang didirikan atau didukung oleh kaum Mason. Oleh karena itu, kita dapat dengan mudah memahami bahwa Masonry mengklaim berjuang melawan “dominasi” adalah kepura-puraan. Di luar fakta bahwa Gereja —karena agama Kristen telah menyimpang — mempertahankan gagasan-gagasan skolastik dan praktik-praktik yang menindas, permusuhan Masonry terhadap Gereja tidaklah didasarkan pada hal ini namun pada kebenciannya terhadap agama-agama monoteisme tradisional.Cukuplah dengan mengamati struktur Masonry dan berbagai ritual serta upacaranya untuk memahami hal ini.

Untuk memahami bagaimana Masonry abad kedelapan belas diorganisir, dan apa yang menjadi targetnya, salah satu hal yang harus terus kita lakukan adalah mengkaji berbagai masyarakat Masonik rahasia yang muncul pada periode itu. Salah satunya adalah Klub Api Neraka (“Hell-Fire Club”), yang aktif di Inggris di pertengahan abad kedelapan belas. Struktur Masonik klub ini dan karakter pagan dan antiagama digambarkan oleh penulis Masonik Daniel Willens dalam artikelnya, “Hell-Fire Club: Sex, Politics and Religion in Eighteenth-Century in England”. Inilah sepotong bagian yang menarik dari artikel yang diterbitkan dalam Gnosis, sebuah jurnal tentang tradisi-tradisi dalam di Barat.

Pada malam-malam yang diterangi cahaya bulan selama pemerintahan Raja George III dari Inggris, anggota-anggota Pemerintahan yang sangat berkuasa, para intelektual penting, dan artis-artis yang berpengaruh kadang dapat terlihat melintasi Sungai Thames dengan gondola ke sebuah reruntuhan biara di dekat Wycombe Barat. Di sana, di bawah bunyi nyaring bel biara yang ternoda, mereka mengenakan jubah biarawan dan bersenang-senang dengan segala bentuk kebejatan, yang berpuncak pada Misa Hitam yang diselenggarakan pada tubuh telanjang seorang wanita ningrat yang asusila dengan diketuai oleh bandot tersohor Sir Francis Dashwood. Kebaktian setan berakhir, lingkaran dalam akan berpindah tempat untuk merencanakan perjalanan Kerajaan Inggris.

“Persaudaraan nista” ini, begitu sebutannya, memberi pilihan nama Gotik yang sesuai untuk diri mereka, “Rahib-rahib St. Francis dari Medmenham”, walaupun mereka telah diabadikan dengan julukan populer “Klub Api Neraka” . Pada abad penuh gunjingan itu banyak spekulasi tentang kegiatan-kegiatan buruk masyarakat ini, dan di tahun 1765, Charles Johnstone menerbitkan sebuah roman berjudul Chrysal, or the Adventure of a Guinea, yang secara populer diyakini mengungkap rahasia-rahasia “Para Biarawan Medmenham ”. Perintis terpenting Para Biarawan itu adalah Klub Api Neraka yang didirikan sekitar tahun 1719 di London oleh Philip, Duke of Wharton (1698-1731).

Wharton adalah seorang politikus Whig yang terkemuka, seorang Freemason, dan ateis yang berupaya memperolok-olok agama dengan memimpin keramaian dengan hiasan-hiasan “satanik” di muka umum.... Dan Wharton selanjutnya menjadi Imam Besar Mason dari Loge Besar London pada tahun 1722....

Menjelang tahun 1739, dalam perjalanan pulang Dashwood mampir di Florence untuk menemui Abbe Nicolini, dan di sana pula ia berjumpa dengan Lady Mary Wortley Montagu (yang) akhirnya kelak bergabung dengan Dashwood dalam Klub Divan. Sayang, kondisinya tidak berjalan baik bagi Freemasonry di Italia. Paus Clement XII baru saja mengeluarkan dekrit In Eminenti Apostalatus Specula, yang mengungkapkan Inkuisisi atas Loge. Menjelang awal 1740, Paus meninggal, dan Dashwood pergi ke pertemuan tertutup untuk memilih paus baru di Roma. Di sana ia secara bermain-main memakai identitas Kardinal Ottiboni, salah seorang ketua penentang kaum Mason, dan memperoloknya di muka umum dengan ritual ejekan yang keji.

“Chapter room” adalah kunci untuk memahami kegiatan para Biarawan itu. Perabot isinya masih tidak diketahui, sehingga kegunaannya pun tetap menjadi misteri. Penulis-penulis penggemar sensasi memperkirakannya sebagai tempat persembunyian satanik, walau agaknya lebih masuk akal jika disimpulkan bahwa ruang itu digunakan untuk upacara-upacara Masonik. John Wilkes, seorang mantan anggota penting perkumpulan Medmenham yang tidak menjadi Freemason, mengeluh dalam sebuah artikel yang mencemarkan teman lamanya: “Tidak ada mata biasa yang berani menembus misteri Eleusinian Inggris chapter room. Sementara para biarawan berkumpul dalam semua upacara khidmat, lebih banyak lagi ritus-ritus rahasia dilaksanakan dan korban yang dipersembahkan dalam banyak kemegahan kepada BONA DEA.”  Putra Sir Robert Walpole, Horace, salah satu musuh politik Dashwood dan tentu saja seorang yang asing dengan biara, mencemooh: “Apa pun doktrin mereka, praktik-praktik mereka sebenarnya adalah pagan: Bacchus dan Venus adalah dewa-dewi yang hampir umum diketahui sebagai tujuan pengorbanan mereka; dan para peri serta tong bir yang diletakkan pada perayaan gereja baru ini, cukup menginformasikan para tetangga tentang corak para pertapa itu.”

Daftar nama keanggotaan Biarawan Medmenham sudah tidak ada, jika pun itu pernah ada, namun nama-nama yang paling dipercaya berhubungan dengan kelompok itu adalah saudara Dashwood, John Dashwood-King; John Montagu, Earl of Sandwich; John Wilkes; George Bubb Dodington, Baron Melcombe; Paul Whitehead; dan sekumpulan orang-orang lokal yang tidak terlalu profesional maupun bereputasi baik sekelompok orang yang di mata publik cukup berkemungkinan membuat skandal.

Keseluruhan pertanyaan tentang agama adalah pokok pesona yang terus dipraktikkan Dashwood. Penafsiran yang lebih canggih mungkin meliputi rumor tentang ilmu gaib yang bernuansa seksual, kitab kabbalis biara, gambaran Harpokrates yang berulang, koneksi lemah Dashwood dengan Ordo Masonik Kuil, dan tentu saja motto Thelemik di Biara Medmenham untuk menyimpulkan bahwa Klub Api Neraka adalah manifestasi awal dari “Crowleyanitas”. Suatu pendekatan yang lebih berkepala dingin akan memperhatikan kontak-kontak Masonik Dashwood dan menyimpulkan, dengan kemungkinan besar tepat, bahwa “chapter room” adalah sebuah kuil Masonik.

Alasan menyertakan kutipan panjang ini adalah untuk mendapatkan gambaran suasana berkembangnya Masonry abad kedelapan belas dan pengaruhnya terhadap masyarakat. Masonry tampil sebagai sebuah organisasi rahasia yang memancing rasa penasaran, dengan oposisinya terhadap keyakinan umum masyarakat memberikan semacam kepuasan psikologis bagi anggota-anggotanya. Karakteristik dasar ritus Masonik, sebagaimana ditekankan dalam kutipan di atas, adalah penyucian simbol dan konsep pagan, alih-alih agama-agama Monoteistik tradisional. Maka, mereka yang menjadi kaum Mason, dan memalingkan wajah dari agama Kristen, terwarnai pagan, walaupun tidak selalu berarti mengambil paganisme sebagai keyakinan, namun paling tidak dengan mengambil simbol-simbolnya.

Namun, Masonry tidak puas hanya untuk mempraktikkan upacara-upacara aneh; ia juga mengikuti sebuah strategi yang dirancang untuk mengasingkan Eropa dari agama-agama ketuhanan, dan memikatnya ke dalam paganisme. Di dalam bagian berikut kita akan mencermati beberapa titik puncak dari sejarah Eropa, negara per negara, dan mengikuti jejak perang Masonik ini melawan agama. Negara pertama yang mesti kita kaji adalah Prancis.

PERTARUNGAN MELAWAN AGAMA DI PRANCIS
Pada kajian-kajian sebelumnya kami telah membahas peranan penting Masonry dalam Revolusi Prancis. Sejumlah besar filsuf Pencerahan, terutama mereka yang paling kuat berpandangan antiagama adalah pengikut Mason. Kaum Jacobin, yang membangun panggung revolusi, dan menjadi pemimpinnya, adalah anggota loge.

Peran yang dimainkan kaum Mason di dalam revolusi diakui oleh seorang “agen provokator” bernama Count Cagliostro. Cagliostro ditangkap oleh Inkuisisi pada tahun 1789, dan mengakui beberapa hal penting selama interogasi. Dia mengawali dengan menyatakan bahwa kaum Mason di seluruh penjuru Eropa telah merencanakan serangkaian revolusi. Disebutkan bahwa sasaran utama kaum Mason adalah menghancurkan Kepausan atau menguasainya. Dalam pengakuannya, Cagliostro juga menyebutkan bahwa para bankir Yahudi mendukung semua kegiatan revolusioner ini secara finansial, dan bahwa uang Yahudi juga memainkan peran penting di dalam Revolusi Prancis.

Revolusi Prancis pada dasarnya adalah sebuah revolusi melawan agama. Dalam upaya mati-matian kaum revolusioner untuk menyingkirkan kependetaan dan aristokrasi, banyak pendeta yang terbunuh, institusi agama yang dihancurkan, dan tempat-tempat ibadah yang diruntuhkan. Kaum Jacobin bahkan ingin menghancurkan sama sekali agama Kristen, dan menggantikannya dengan sebuah kepercayaan pagan yang mereka sebut “agama logika”. Namun, dalam waktu singkat, mereka kehilangan kendali atas revolusi dan Prancis terjerumus ke dalam kekacauan total.

Misi Masonry di negara itu tidak berhenti dengan revolusi. Kekacauan yang tercipta oleh revolusi akhirnya reda ketika Napoleon meraih kekuasaan. Namun, stabilitas ini tidak berlangsung lama; ambisi Napoleon untuk menguasai seluruh Eropa akhirnya mengakhiri pemerintahannya. Setelahnya, konflik di Prancis berlanjut antara kaum monarkis dan revolusionis. Terjadi tiga kali revolusi lagi di tahun 1830, 1848, dan 1871. Di tahun 1848, “Republik Kedua” didirikan; dan di tahun 1871 dibentuk “Republik Ketiga”.

Kaum Mason sangat aktif sepanjang periode agitasi ini. Sasaran utama mereka adalah melemahkan Gereja dan lembaga-lembaga keagamaannya, menghancurkan nilai-nilai agama dan pengaruhnya atas masyarakat, dan menghapuskan pendidikan agama. Kaum Mason memandang “antiklerikalisme” (antikependetaan) sebagai pusat aktivitas sosial dan politik.

The Catholic Encyclopedia memberikan informasi penting tentang misi antiagama dari Timur Raya — begitulah Masonry Prancis dikenal.

Dari dokumen-dokumen resmi Masonry Prancis yang terutama tercakup dalam “Buletin” dan “Compterendu (Ikhtisar)” resmi Timur Raya, terbukti bahwa semua undang-undang antiklerikal yang disahkan di dalam parlemen Prancis telah diputuskan sebelumnya di loge-loge Masonik dan dilaksanakan di bawah arahan dari Timur Raya, dengan sasarannya diakui untuk mengendalikan segala hal dan semua orang di Prancis. “Saya menyatakan di dalam majelis tahun 1898,” ungkap deputi Masse, pembicara resmi Majelis tahun 1898, “bahwa adalah tugas tertinggi Freemasonry untuk semakin hari semakin banyak mencampuri pertarungan politis dan duniawi.” “Keberhasilan (dalam peperangan antiklerikal) dalam Freemasonry berskala luas; karena spiritnya, programnya, metodenyalah yang menang.”

“Jika Blok telah terbentuk, ini adalah berkat Freemasonry dan disiplin yang dipelajari di loge-loge. Kita membutuhkan kewaspadaan dan, di atas segalanya, kepercayaan timbal balik, jika ingin menuntaskan kerja yang belum selesai. Kerja ini, Anda tahu pertempuran anti-klerikal, sedang berlangsung. Republik harus membersihkan dirinya dari jemaah agama, menyapu habis mereka dengan sebuah hantaman dahsyat. Di mana saja, sistem yang setengah-setengah adalah berbahaya; musuh harus dihancurkan dengan sebuah pukulan tunggal.”

The Catholic Encyclopedia melanjutkan penjelasannya tentang pertarungan Masonry Prancis melawan agama:

Sejatinya, semua reformasi Masonik yang terlaksana di Prancis sejak 1877, seperti sekularisasi pendidikan, undang-undang menentang sekolah-sekolah privat Kristen dan pembinaan amal, penindasan atas ordo-ordo keagamaan, dan pembusukan Gereja, tampak berpuncak pada sebuah reorganisasi masyarakat manusia yang anti-Kristen dan tidak beragama, tidak hanya di Prancis namun di seluruh penjuru dunia. Jadi, Freemasonry Prancis, sebagai tolok ukur bagi seluruh Freemasonry, berpura-pura membuka era keemasan republik universal Masonik, yang mencakup persaudaraan Masonik semua manusia dan semua negara. ”Kemenangan orang Galilea,” kata Presiden Timur Raya, Senator Delpech, pada tanggal 20 September 1902, ”telah berlangsung selama dua puluh abad. Tetapi sekarang gilirannya mati. Gereja Romawi, yang dibangun atas mitos Galilea, mulai runtuh dengan cepat sejak hari pertama Perkumpulan Masonik didirikan.”

Yang dimaksud dengan ”orang Galilea” oleh kaum Mason adalah Almasih, karena menurut injil, Almasih lahir di kota Galilea di Palestina. Oleh karena itu, kebencian kaum Mason terhadap Gereja adalah ekspresi kebencian mereka terhadap Almasih dan semua agama monoteistik. Mereka mengira telah menghancurkan pengaruh agama ketuhanan dengan filosofi materialis, Darwinis, dan humanis yang mereka bangun di abad kesembilan belas, dan mengembalikan Eropa kepada paganisme pra-Kristen.

Ketika kata-kata ini disampaikan di tahun 1902, serangkaian undang-undang disahkan di Prancis memperluas jangkauan oposisi agama. Tiga ribu sekolah agama ditutup dan pendidikan agama apa pun terlarang untuk diberikan di sekolah-sekolah. Banyak pendeta ditangkapi, sebagian diasingkan dan orang-orang agama mulai dianggap sebagai warga negara kelas dua. Karena itulah, pada tahun 1904 Vatikan memutuskan semua hubungan diplomatik dengan Prancis. Namun ini tidak mengubah sikap negara itu. Setelah kematian ratusan ribu warga Prancis melawan tentara Jerman pada Perang Dunia I barulah kesombongan negara itu jinak dan sekali lagi mengakui pentingnya nilai-nilai religius.

Sebagaimana diyakini The Catholic Encyclopedia, perang melawan agama dari Revolusi Prancis hingga abad kedua puluh dilakukan oleh ”undang-undang antiklerikal yang disahkan oleh Parlemen Prancis” yang telah diputuskan sebelumnya di loge-loge Masonik dan dilaksanakan di bawah arahan Timur Raya.” 126 Fakta ini tampak jelas dari tulisan-tulisan Masonik. Misalnya, kutipan dari terbitan berbahasa Turki bertajuk ”Sebuah Pidato dari Saudara Gambetta pada tanggal 5 Juli 1875 di Loge Clémente Amitié” menyebutkan:

Sementara momok reaksi mengancam Prancis, dan doktrin keagamaan serta ide-ide terbelakang berkembang ofensif terhadap berbagai prinsip dan undang-undang sosial modern, di lingkungan organisasi-organisasi seperti Masonry yang tekun dan berpandangan jauh serta mengabdi kepada prinsip-prinsip persaudaraan, kita menemukan kekuatan dan konsolidasi dalam perjuangan melawan klaim-klaim Gereja yang berlebihan, pernyataannya yang dibesar-besarkan dan menggelikan serta berbagai perbuatannya yang keterlaluan dan menjadi kebiasaan. Kita harus terus berjaga-jaga dan melanjutkan perjuangan. Untuk mewujudkan gagasan tentang tatanan manusia dan kemajuan, mari kita tetap bertahan sehingga perisai-perisai kita tidak dapat ditembus.

Akan terlihat bahwa literatur Masonik secara konsisten menampilkan gagasan-gagasannya sebagai ”berpandangan jauh” sembari menuduh orang-orang beragama sebagai ”terbelakang.” Namun, ini tak lebih dari permainan kata-kata belaka. Ungkapan ”momok reaksi”, yang disebutkan pada kutipan di atas, adalah sesuatu yang juga ditentang orang-orang beragama yang tulus, namun menjadi eksploitasi sasaran oleh Masonry terhadap agama sejati dalam upaya mereka untuk menjauhkan manusia darinya. Apalagi, harus ditekankan sekali lagi bahwa filosofi materialis-humanis yang dianut kaum Masonlah yang sesungguhnya merupakan sistem pemikiran yang bertakhyul dan terbelakang, sebuah tempat bergantung bagi peradaban pagan Mesir Kuno dan Yunani Kuno.

Oleh karena itu, penggunaan istilah ”berpandangan jauh” dan ”terbelakang” oleh kaum Mason tidak berpijak pada kenyataan. Memang, hal ini tidak berdasar karena konflik antara kaum Mason dan masyarakat beragama tidak lebih daripada pelestarian konflik antara dua pemikiran yang telah ada semenjak abad-abad awal sejarah. Agamalah yang memproklamirkan pertama kali gagasan-gagasan ini: bahwa manusia diciptakan oleh kehendak Tuhan dan manusia bertanggung jawab untuk menyembah-Nya. Inilah kebenaran. Gagasan sebaliknya, bahwa manusia tidak diciptakan namun menjalani hidup yang sia-sia dan tanpa tujuan, diajukan oleh mereka yang menolak keberadaan Tuhan. Jika dipahami dengan tepat, tampaklah bahwa penggunaan istilah-istilah dangkal ”keterbelakangan” dan ”pandangan jauh” tidak memiliki landasan apa-apa.

Dengan menggunakan gagasan ”kemajuan”, kaum Mason berupaya menghancurkan agama. The Catholic Encyclopedia menyatakan:

Berikut dianggap sebagai cara-cara utama dari freemasonry:
(1) Menghancurkan secara radikal semua pengaruh sosial Gereja dan agama, yang secara busuk disebut ”klerikalisme”, dengan penyiksaan terbuka terhadap Gereja atau dengan sistem pemisahan antara Negara dan Agama yang bermuka dua dan curang, serta sejauh mungkin menghancurkan Gereja dan semua agama yang benar, yakni yang supramanusia, yang lebih dari sekadar bentuk pemujaan yang samar-samar terhadap tanah air dan umat manusia;
(2) Sekulerisasi, yakni dengan sistem ”non-sektarianisme” yang sama yang bermuka dua dan curang, semua kehidupan publik dan pribadi dan, di atas segalanya, pengajaran dan pendidikan populer. ”Non-sektarianisme” sebagaimana dipahami oleh golongan Timur Raya adalah sektarianisme yang anti-Katolik dan bahkan anti-Kristen, ateistik, positivistik, atau agnotis dalam genggaman non-sektarianisme. Kebebasan berpikir dan hati nurani anak-anak harus dikembangkan secara sistematis pada diri mereka di rumah dan dilindungi, sejauh mungkin, dari semua pengaruh yang mengganggu, tidak hanya dari Gereja dan para pendeta, tetapi juga dari orang tua anak itu sendiri, jika perlu, bahkan melalui cara tekanan moral dan fisik. Golongan Timur Raya menganggapnya sangat diperlukan dan sebuah jalan pasti yang sempurna untuk pewujudan final dari republik sosial universa.

Tampaklah bahwa Masonry telah menggerakkan sebuah program, yang disebut ”pembebasan masyarakat”, dengan tujuan untuk menghapuskan agama, sebuah program yang masih terus diterapkan. Program ini harus dibedakan dari model yang berusaha memberikan kesempatan bagi setiap warga negara, dari keyakinan religius apa pun, untuk mempraktikkan keyakinannya secara bebas. Alih-alih, model yang diimpikan oleh Masonry adalah bentuk cuci otak yang dirancang untuk melenyapkan agama sepenuhnya dari masyarakat dan pikiran individu serta, jika perlu, menyiksa para penganutnya.

Di negara mana saja ia berkembang, Masonry berupaya menggerakkan program ini, walaupun dengan cara menyesuaikan diri dengan budaya dan kondisi yang lazim di negara tersebut. Salahsatu negara itu adalah Jerman.

KAMPANYE ANTI-AGAMA DI JERMAN, “KULTURKAMPF”
Seratus lima puluh tahun yang lalu, negara Jerman belum ada. Wilayah yang sekarang disebut Jerman dikuasai oleh sejumlah kerajaan. Yang terluas di antaranya adalah Prussia, yang menempati bagian timur Jerman saat ini dan sebagian besar Polandia. Di tahun 1860, Prussia mulai mencaplok negara-negara kecil Jerman lainnya dan mendirikan Kekaisaran Jerman pada tahun 1871. Penguasa negara baru ini adalah Perdana Menteri Prussia dan Kanselir dari Kekaisaran Jerman baru, Otto van Bismarck.

Bismarck adalah seorang negarawan yang sukses, terutama di bidang politik luar negeri, tetapi tidak mencapai sukses serupa dalam urusan dalam negeri. Salah satu penyebabnya adalah sekelompok intelektual yang dikenal sebagai ”kaum Liberal Nasional” yang mirip dengan antiklerikal di Prancis, serta menjalankan politik antiagama. Untuk mencapai persatuan Jerman, kaum Liberal Nasional meyakini perlunya menyingkirkan orang-orang yang memiliki bentuk afiliasi apa pun di luar perbatasan mereka, dan menganggap hubungan antara sepertiga populasi dengan Paus Katolik sebagai sandungan terbesar bagi persatuan ini. Karena didorong oleh kaum Liberal Nasional, Bismarck memulai sebuah kampanye anti-Katolik yang dikenal sebagai Kulturkampf, atau ”perang budaya”. Kampanye ini juga digambarkan sebagai suatu perjuangan untuk mengontrol pikiran bangsa Jerman.

Selama Kulturkampf, kaum Katolik, terutama di Jerman bagian selatan, mengalami penindasan.
Di tahun 1872, untuk menegakkan sebuah undang-undang yang telah disahkan, semua pendeta Jesuit di negara ini ditahan dalam satu malam dan institusi-institusi mereka disita. Untuk menegakkan ”undang-undang Mei” (meigesetze) yang disahkan pada tahun 1873, semua pendeta yang bekerja kepada pemerintah dipecat, Gereja dilarang terlibat dalam semua hal yang berhubungan dengan pernikahan dan pendidikan, dan topik-topik khotbah dibatasi. Sejumlah uskup besar ditahan dan 1300 gereja akhirnya ditemukan tanpa pendeta.

Namun, karena taktik-taktik ini menimbulkan reaksi keras di kalangan Katolik di negara itu terhadap pemerintah, Kulturkampf  dikendurkan. Bismarck mengabaikan usulan-usulan kaum Liberal Nasional, yang telah membawanya ke dalam kampanye ini, dan mengurangi Kulturkampf sedikit demi sedikit sampai akhirnya ia batalkan sepenuhnya. Keseluruhan kampanye ini tidak menghasilkan apa pun selain penindasan atas kaum Katolik Jerman, dan kehancuran rasa kesejahteraan sosial negara itu. Banyak sejarawan hari ini meyakini bahwa hal itu adalah sebuah kegagalan yang merobek-robek rasa keamanan sosial bangsa Jerman. Apalagi, setelah Jerman, gelombang Kulturkampf  melanda Austria, Swiss, Belgia, dan Belanda, menimbulkan ketegangan sosial yang luar biasa di negara-negara ini.

Tatkala Nazi berkuasa, dimulailah sebuah kampanye antiagama yang lebih buruk daripada yang dilakukan Bismarck.

Menariknya, para intelektual Masonlah yang memikat Bismarck ke dalam kebijaksaan ini. The Catholic Encyclopedia menyebutkan:

Namun mereka (kaum Mason) tentu saja memajukan gerakan yang oleh Prussia, yang secara bertahap menjadi negara pemimpin di Jerman, dianggap sebagai ”representasi dan pelindung evolusi modern” melawan ”Ultramontanisme”, ”kefanatikan”, dan ”perebutan kuasa kepausan”. Mereka juga menghasut munculnya ”Kulturkampf”. Jurisconsult yang juga Mason tersohor, Imam Besar Bluntschli, adalah salah satu penghasut terdepan dalam konflik ini; dia juga menggerakkan ”Kulturkampf” Swis. Para Freemason Jerman dengan upaya-upaya tak kenal lelah memaksakan pengaruh yang menentukan atas hidup bangsa secara keseluruhan sejalan dengan prinsip-prinsip Masonik, dan dengan demikian mempertahankan sebuah ”Kulturkampf” yang diam-diam dan abadi. Sarana-sarana terpenting yang mereka gunakan adalah aneka perpustakaan, konferensi, afiliasi dari berbagai perkumpulan dan lembaga dengan perhatian yang sama, dan jika perlu, pembentukan lembaga-lembaga baru, sebagai sarana bagi semangat Masonik untuk merasuki bangsa.

Artinya, walaupun dihentikan secara resmi oleh Bismarck, Kulturkampf diteruskan oleh kaum Mason, sebagai kampanye propaganda antiagama berkelanjutan yang ditujukan kepada masyarakat luas. Buah paling pahit dari perjuangan ini dituai pada tahun 1920: kaum Nazi, yang bertujuan mengembalikan bangsa Jerman kepada paganisme pra-Kristen mereka, sedikit demi sedikit memperoleh kekuatan dan berkuasa di tahun 1933. Salah satu aksi Nazi yang paling penting adalah memprakarsai sebuah Kulturkampf kedua melawan otoritas agamis. Komentator Amerika Elbridge Colby menjelaskan bahwa ”kaum Nazi membuka sebuah Kulturkampf  baru melawan Gereja Katolik, memenjarakan para pendeta dan memecat para uskup; namun berbeda dengan tahun 1874, Hitler juga bergerak menentang kemapanan Protestan.”

Singkatnya, aktivitas-aktivitas yang diprakarsai oleh kaum Mason untuk menjauhkan masyarakat dari agama telah membangkitkan salah satu kediktatoran paling brutal dalam sejarah, ”Reich” Nazi, dan menyeret dunia ke dalam Perang Dunia II yang membinasakan 55 juta jiwa.

PERTARUNGAN MELAWAN AGAMA DI ITALIA
Negara lain yang jelas menampakkan aktivitas Masonik adalah Italia.
Hingga tahun 1870, wilayah Italia diduduki oleh beberapa negara kecil sisa-sisa masa feodal. Salah satu yang terpenting adalah Negara Kepausan. Negara ini berpusat di Roma, diperintah oleh Paus, dan mengontrol sebagian besar Italia pusat. Mason di Italia didirikan sebagai perpanjangan dari Mason Prancis, dan mulai berpengaruh di Italia pada awal abad kesembilan belas. Mereka bermaksud menghancurkan Negara Kepausan dan menghapuskan otoritas Gereja di Italia secara keseluruhan. Menurut penulis buku berjudul The Roman Catholic Church and the Craft, Imam Freemason Alec Mellor: ” Di Italia, asal usul loge-loge luar biasa sebagian besar bersifat politis; mereka membingungkan Masonry dengan pertarungan melawan kekuasaan duniawi Paus.”

Masonry mengawali pertarungannya melawan agama di Italia melalui masyarakat rahasia lain yang didirikan dan dikendalikannya. Masyarakat ini dikenal sebagai ” Carbonari.”

Sebuah terbitan Masonry Italia.
Masyarakat ini, yang pertama kali terdengar di Naples pada awal abad kesembilan belas, mengambil namanya dari para pembakar arang. Sebagaimana para Mason memakai lambang pembangun dinding dan mengekspresikan pemikiran mereka dengan simbol-simbol, maka Carbonari mengambil lambang dari para pembakar arang. Namun, masyarakat tersebut punya tujuan-tujuan tersembunyi. Anggota-anggota masyarakat tersebut berupaya mengawali sebuah program politik, pertama di Italia, dan kemudian di Prancis, untuk menghancurkan pengaruh Gereja, membangun sebuah pemerintahan baru dan menyekulerkan semua lembaga sosial.

Koneksi antara Masonry dan Carbonari begitu nyata. Kaum Mason secara otomatis menjadi anggota masyarakat Carbonari; bahkan, sejak saat memasuki masyarakat itu mereka meraih derajat imam. (Sementara, anggota-anggota Carbonari lainnya harus melewati proses kenaikan yang panjang sebelum mencapai derajat ini). Dua kardinal bernama Consalvi dan Pacca mengeluarkan sebuah maklumat pada tanggal 15 Agustus 1814 yang menuduh kaum Mason dan Carbonari diorganisir untuk campur tangan sosiopolitik dan penggalangan permusuhan terhadap agama.

Tuduhan ini terbukti karena anggota-anggota Carbonari telah mengorganisir tipu muslihat politis dan pemberontakan bersenjata. Pemberontakan bersenjata yang berlangsung di Macerata pada 25 Juni 1817 diorganisir oleh Carbonari, namun diberangus oleh aparat keamanan Negara Kepausan. Pada tahun 1820, di Spanyol dan Naples, dan pada tahun 1821 di Piedmont, pemberontakan revolusioner diorganisir oleh Carbonari terhadap Gereja dan ketenteraman publik.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Carbonari didirikan oleh kaum Mason yang terlibat bersama mereka dalam kegiatan-kegiatan revolusioner. Seusai Revolusi Juli di Prancis pada tahun 1930, organisasi tersebut kehilangan pengaruhnya dan secara bertahap menghilang. Di Italia, Carbonari bersatu dengan gerakan ”Italia Muda” yang didirikan oleh Guiseppe Mazzini.

Propaganda Masonik yang menggambarkan Garibaldi sebagai seorang pahlawan besar.
Mazzini, seorang ateis tersohor, selama bertahun-tahun telah bertarung melawan Negara Kepausan dan Gereja dan pada akhirnya menjadi seorang Mason ranking atas yang akan menjadi pendiri Persatuan Italia. Dengan dukungan dua orang Mason terkemuka lain, Guiseppe Garibaldi dan Count di Cavour, ia mendirikan Persatuan Italia pada tahun 1870, serta menggariskan perbatasan Negara Kepausan di belakang batas-batasnya yang telah ada. Setelahnya, Italia memasuki sebuah proses yang membuatnya kian menjauh dari agama, dan mempersiapkan pondasi bagi kediktatoran fasis Mussolini di tahun 1920-an.

Singkatnya, dapat kita katakan bahwa Mazzini, Garibaldi, dan Cavour merupakan tiga pemimpin terkemuka yang meakukan fungsi penting dalam pertarungan melawan agama di Eropa. Mazzini bukan saja sekadar pemimpin politik dalam pertarungan melawan agama, ia juga memegang peranan sebagai ideolog. Slogannya ”setiap bangsa sebuah negara” adalah percikan yang memicu pemberontakan kaum minoritas, yang menjadi penyebab keruntuhan kekaisaran-kekaisaran multietnis, seperti Austo-Hungaria dan Kesultanan Utsmani. Slogan Mazzini ini menjauhkan orang dari rasa persaudaraan keagamaan mereka; merupakan sebuah seruan yang mendorong mereka ke dalam konflik etnik antar sesamanya dan menginspirasikan mereka dengan ” kesombongan jahiliyah.” (QS. Al Fath, 48: 26)

Fakta bahwa seruan ini datang dari kaum Mason, tepatnya, para Mason ranking atas, tentu saja sangat signifikan. Menurut informasi dari publikasi loge 10.000 Freemason Terkenal, Mazzini tumbuh di dalam loge Masonik, dan bertahun-tahun kemudian, pada 1867, terpilih sebagai Imam Mason Timur Raya Italia. Pada tahun 1949, pada sebuah upacara untuk menandai pembukaan selubung patung Mazzini di Roma, 3.000 orang Mason dengan penuh terima kasih mengenang Imam Besar mereka. Garibaldi, tangan kanan Mazzini, mencapai tingkat ke-33 Dewan Tertinggi Italia di tahun 1863, dan di tahun 1864 terpilih sebagai Imam Mason Italia. Untuk mengenang Imam Mason ini, sebuah loge dinamai Garibaldi, yang diberikan kepada ”lembah” New York dengan nomor 542.

AGENDA REVOLUSIONER MASONIK DI RUSIA
Selain di Italia, jejak-jejak kegiatan revolusioner Masonik juga dapat ditemui di banyak negara lain di Eropa. The Catholic Encyclopedia menyebutkan: ” Di dalam gerakan-gerakan revolusioner setelahnya di Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, Amerika Tengah dan Selatan, badan-badan Masonik diklaim berperanan kurang lebih aktif. Di Rusia, Freemasonry pun akhirnya muncul sebagai ‘konspirasi politis’ dari klub-klub di wilayah itu yang terorganisir secara Masonik.”
Persekongkolan Masonik di Rusia khususnya, menarik untuk dikaji.

Masonry memasuki negara ini pada paro kedua abad kedelapan belas dan menyebar luas di kalangan intelektual. Walaupun di luar tampak sebagai klub budaya semata, di dalam loge-loge ini didiskusikan gagasan-gagasan antiagama dan antipemerintah dari bagian-bagian Eropa lainnya. Yang pertama kali menaruh perhatian adalah pendeta-pendeta dari Gereja Ortodoks. Para pendeta mengirimkan informasi yang telah mereka peroleh kepada Tsar Alexander I, yang berhubungan baik dengan Gereja, membeberkan persekongkolan Masonik untuk menggulingkan rezim Tsar. Menanggapi itu, Tsar mengeluarkan undang-undang di tahun 1822 untuk menutup seluruh loge Masonik di negara itu dan menetapkannya sebagai organisasi terlarang. Walau demikian, tindakan ini tidak dapat menyingkirkan kaum Mason; mereka terus saja bergerak di bawah tanah.

Tiga tahun setelah memberangus loge-loge tersebut, Tsar Alexander I sakit dan mangkat. Penggantinya adalah Tsar Nicholas I. Namun, pergantian Tsar Nicholas diwarnai serangkaian perselisihan dan intrik, serta menimbulkan situasi kacau di negara itu. Orang-orang tertentu yang ingin mengembalikan stabilitas dengan menumbangkan rejim tersebut berencana mengkudeta sang Tsar baru. Mereka mempunyai banyak pendukung di kalangan tentara. Merasa percaya diri dengan dukungan ini, sejumlah serdadu revolusioner bersama sejumlah orang sipil bergerak ke istana Tsar di ibukota St. Petersburg pada tanggal 14 Desember 1825. Dalam kontak senjata melawan tentara Tsar, kelompok revolusioner itu dikalahkan. Mereka dinamai ”kelompok Desember” sesuai dengan bulan terjadinya upaya revolusi mereka. Para pemimpin kelompok ini dibekuk dan lima orang digantung.

Kelompok Desember tak lain daripada para Mason
Para perwira, intelektual, dan penulis yang membentuk kelompok tersebut adalah anggota dari loge-loge yang dilarang oleh Tsar Alexander tiga tahun sebelumnya. Salah satu dari Mason yang revolusioner ini adalah penulis terkemuka Count Pushkin.

Meski usaha Kelompok Desember berakhir dengan kegagalan, para Mason tidak menghentikan niat mereka untuk menggulingkan Tsar. Mereka senantiasa memainkan peran penting dalam kelompok-kelompok penentang rezim Tsar. Pada Revolusi Pebruari 1917, pemimpinnya, Alexander Karensky, dan hampir semua pendukung dekatnya adalah Mason. 135 Begitu pula, pemerintahan yang baru mayoritas terdiri dari orang-orang Mason. 136 Satu-satunya kontribusi historis Pemerintahan Kerensky di usianya yang pendek itu adalah menyerahkan negara ke tangan Lenin dan kaum Bolsheviks pimpinannya.

MASONRY ABAD KEDUA PULUH: DIAM-DIAM DAN DARI KEJAUHAN
Tentunya tampak bahwa sejauh yang telah kita kaji, aktivitas kaum Mason di negara seperti Prancis, Jerman, Italia, dan Rusia, jelas-jelas menunjukkan sasaran Masonry berupa revolusi sosiopolitis. Masonry hendak membangun sebuah tatanan baru di mana lembaga-lembaga keagamaan dan keyakinan religius dihapuskan, dan untuk mencapai tujuan ini mereka telah berupaya menggulingkan monarki-monarki pendukung agama. Pada banyak negara Eropa, loge-loge Masonik menjadi pusat berkumpulnya para penentang agama, di sana disusun konspirasi untuk berbagai kudeta, pemberontakan, pembunuhan, plot politis dan politik antiagama. Di balik aneka aktivitas tersebut, baik berskala kecil atau besar, yang telah berlangsung sejak Revolusi Prancis di tahun 1789 hingga abad kedua puluh, ditemukan pengaruh Masonry.

RITUS ANEH DI KUIL HUMANISME
Kaum Mason ingin menjadikan seluruh dunia sebagai sebuah “kuil”. Namun, kuil yang mereka mimpikan bukan kuil agama sejati melainkan kuil humanisme. Mereka mengimpikan sebuah dunia tempat humanitas diberhalakan, dan manusia telah sepenuhnya mengingkari agama sejati, serta filosofi evolusionis dianggap sebagai satu-satunya filosofi yang benar.

Di dalam teks Masonik, sebuah upacara aneh yang diselenggarakan untuk maksud ini dijelaskan:
Saat ini, sebuah agama universal sedang mewujud, seperlahan-lahan mungkin, sehingga dapat memuaskan kesadaran akan artinya yang sepenuhnya. Bersamaan dengan agama universal ini, sebuah moralitas akan terbangun sepadan dengan pandangan akan dunia. Agama seperti ini akan menyatukan umat manusia di alam semesta. Itulah MASONRY. Agama ini akan diteruskan dari hati ke hati. Kuil agama ini kelak adalah kuil humanitas. Di antara himne yang dinyanyikan di dalam kuil ini barangkali Simfoni ke-9 Beethoven, komposisi musik paling mulia yang pernah muncul dari jiwa manusia.

Alih-alih daging dan darah banteng sebagaimana pada upacara-upacara Mithra, kita merayakan kelahiran ini dengan memakan roti dan meminum anggur merah. Di sini kita bersatu di dalam kepercayaan bersama yang mempunyai karakter sebuah komuni. Di sebuah tahun baru, Saya ingin membaptiskan perjuangan suci kita ini dan mengakhirinya: Makanlah sepotong roti lagi, saudara-saudaraku, kalian adalah misionaris agama ini, biarlah semua orang suci yang berbagi roti ini menjadi teman. Saudara-saudaraku, untuk menjadi saudara sedarah, minumlah seteguk nyala lagi dari gelas anggur kalian. (Mason, Tahun, 29, No. 40-41, 1981, hal. 105-107)

Menurut sejarawan Inggris Michael Howard, loge-loge Masonik memfokuskan upaya mereka pada paro kedua abad kesembilan belas untuk menumbangkan dua Kekaisaran penting yang tersisa: Kekaisaran Austro-Hungaria dan Rusia, dan dapat mencapai sasaran mereka sebagai akibat Perang Dunia I.

Dengan kata lain, pada awal abad kedua puluh, dalam skala luas, Masonry telah mencapai sasaran revolusi sosiopolitiknya.

Dogma materialis-humanis yang didukung oleh kaum Mason telah membawa penderitaan yang sangat terhadap kemanusiaan di abad kedua puluh. Perang Dunia II menewaskan 55 juta manusia. Foto tentara yang gugur dengan wajah hancur oleh bom di dekat Stalingrad, hanyalah satu contoh dari penderitaan besar manusia yang diciptakan oleh ideologi “humanis”.

Oleh karena itu, abad kedua puluh bukanlah sasaran revolusi Masonik. Karena beranggapan tidak menghadapi halangan lagi, alih-alih merencanakan plot-plot politik, kaum Mason lebih suka menyebarkan filosofi mereka. Mereka menebarkan filosofi materialis dan humanis kepada massa dengan kedok sains, atau melalui seni, media, sastra, musik dan semua wahana budaya populer. Dengan propaganda ini kaum Mason tidak bermaksud menghapuskan agama-agama ilahiah melalui sebuah revolusi seketika; mereka hendak mencapainya melalui jangka panjang, dan memperkenalkan filosofi mereka kepada semua orang sedikit demi sedikit.

Seorang Mason berkebangsaan Amerika menyimpulkan metode ini sebagai berikut:
Freemasonry bekerja dengan diam-diam, namun ini adalah kerja bagaikan sebuah sungai yang dalam, yang diam-diam mendorong menuju lautan. 

Pendeta tinggi J.W. Taylor, dari negara bagian Georgia di AS, membuat komentar menarik ini tentang hal yang sama:

Pengalihan tema-tema lama dan pembentukan yang baru tidak selalu timbul dari penyebab yang segera tampak yang ditetapkan dunia, namun merupakan kulminasi dari prinsip-prinsip yang telah bekerja selama bertahun-tahun dalam pikiran manusia, sampai akhirnya waktu yang tepat dan lingkungan yang sesuai menghidupkan kebenaran laten itu menggairahkan semua dengan sebuah penyebab umum yang kuat dan menggerakkan bangsa-bangsa laksana satu diri menuju pewujudan akhir yang agung. Dengan prinsip inilah Lembaga Freemasonry menyebarkan pengaruhnya ke dunia manusia. Freemasonry bekerja secara diam-diam dan rahasia, namun menerobos semua celah masyarakat dalam banyak relasinya, dan mereka yang menerima banyak kebaikannya terpesona akan pencapaiannya yang luar biasa, tetapi tidak dapat menduga dari mana datangnya.

Menurut majalah Voice yang diterbitkan oleh Loge Besar di Chicago, ” Maka, secara diam-diam namun pasti dan berkesinambungan, Masonry mengisi struktur besar masyarakat manusia.” 

”Pengisian struktur besar” ini akan terwujud ketika dasar-dasar filosofi Masonik materialisme, humanisme, dan Darwinisme diterima masyarakat.

Aspek paling menarik dari strategi diam-diam dan jauh ini adalah bahwa para Mason yang melaksanakannya hampir tidak pernah mengungkapkan bahwa hal itu dilaksanakan atas nama Masonry. Mereka melakukan pekerjaannya di bawah berbagai identitas, judul, posisi kekuatan yang berbeda, namun mereka menyebarkan filosofi yang mereka ambil melalui Masonry kepada masyarakat. Seorang Imam Mason Turki, Halil Mulkus, menjelaskan ini dalam sebuah wawancara beberapa tahun yang lalu:

Masonry sebagai Masonry tidak melakukan sesuatu pun. Masonry menuntun pribadi-pribadi; dan pribadi-pribadi yang terlatih di sini, serta para Mason yang berkontribusi bagi produksi perkembangan intelektual berada pada berbagai tingkat dalam karir mereka di tempat tinggal mereka di dunia. Mereka adalah rektor-rektor universitas, profesor, menteri negara, dokter, kepala administrasi di rumah sakit, pengacara, dan sebagainya. Di mana pun mereka hidup, mereka bertekad keras untuk menyebarkan ide-ide Masonik yang telah membentuk mereka ke tengah masyarakat.

Namun, ide-ide ini, yang dengan gigih dikaji dan coba diindoktrinasikan kepada masyarakat, sebagaimana telah kita pahami pada bagian-bagian sebelumnya, tidak lebih dari kebohongan. Filosofi Masonry berakar dari berbagai sumber seperti mitos-mitos Mesir Kuno, Yunani Kuno, dan Kabbalah. Dalam hasrat mereka untuk menyampaikan mitos-mitos ini kepada masyarakat, terkemas dalam paket sains dan logika, Mason menipu baik diri mereka maupun orang lain. Dalam era globalisasi, inilah peran ”Freemasonry Global”.

Hasil dari kebohongan ini sangat merusak. Program menjauhkan masyarakat dari agama yang dijalankan oleh Masonry di abad kedelapan belas dan kesembilan belas, membangkitkan berbagai ideologi neo-pagan seperti rasisme dan fasisme, serta ideologi sekuler dan kejam seperti komunisme. Penyebaran Darwinisme sosial mengubah manusia menjadi hewan yang berjuang untuk keberadaannya, yang hasil brutalnya muncul di paro kedua abad kesembilan belas dan kedua puluh. Perang Dunia I adalah hasil karya para pemimpin Eropa yang, atas anjuran Darwin, memandang perang dan pertumpahan darah sebagai kebutuhan biologis. Selama perang, sepuluh juta orang mati sia-sia. Perang Dunia II yang mengikutinya, yang menyebabkan kematian 55 juta orang, juga merupakan hasil karya totalitarianisme, seperti fasisme dan komunisme, yang merupakan hasil dari benih sekularisme militan yang ditaburkan oleh kaum Mason. Di seluruh penjuru dunia, selama abad kedua puluh, semua perang, konflik, kekejaman, kesewenang-wenangan, eksploitasi, kelaparan, dan kemerosotan moral yang destruktif, pada dasarnya adalah produk dari berbagai filosofi dan ideologi tak beragama. (Untuk rinciannya, lihat karya Harun Yahya, Bencana Kemanusiaan Akibat Darwinisme).

Singkatnya, filosofi Masonry telah berbuah kepahitan. Kejadiannya tidak bisa sebaliknya sebagaimana pada hukum ilahiyah. Secara historis, orang-orang pagan yang menolak agama Tuhan itu, dengan merujuk pada berbagai mitologi tradisional dan agama nenek moyang mereka, menempuh jalan menuju kehancuran. Freemasonry, sebuah pewujudan masa kini dari paganisme ini, sedang menyeret diri mereka, dan seluruh dunia kepada jurang kebinasaan.

Oleh karena itulah umat manusia harus melindungi diri dari potensi malapetaka ini, dengan mengatasi intimidasi dari apa dirujuk oleh Bediuzzaman Said Nursi, seorang sarjana Islam, sebagai ”penyakit yang bernama materialisme dan naturalisme”, dan dengan begitu mempertahankan keimanan masyarakat.

Wallahualambissawab.

Mengapa Islam Dibenci?

Kemarin, salahseorang sahabat baru saya menulis statusnya di facebook seperti ini:

Islam diHUJAT ... Islam MENJAWAB .... LALU, alasan apa lagi ISLAM dibenci?

Sebagai sesama muslim, awalnya saya tergerak untuk merespons pertanyaan sahabat saya itu lewat kolom comment di bawah statusnya. Namun demi menghormati pesan kangmas dan pakde saya beberapa hari lalu agar saya jangan terlalu "pecicilan" dan seenaknya saja keluar-masuk dan meninggalkan tulisan di wilayah-wilayah yang sarat SARA, maka niat itu pun akhirnya saya urungkan. Dan sebagai gantinya, kemudian saya coba menuangkan apa yang sempat terlintas di benak saya menyangkut pertanyaan sahabat baru saya itu ke dalam webblog ini.

Jawaban saya kira-kira begini:
  1. Ada sebagian kecil umat Islam yang berfikir radikal dan karena itu tidak segan-segan untuk bertindak radikal pula.
  2. Entah sudah berapa dasawarsa, umat di luar Islam terlanjur terprovokasi oleh kelompok-kelompok anti-Islam untuk menutup sebelah mata mereka dari fakta dan mulai terbiasa menjeneralisasi dengan sebelah matanya yang terbuka bahwa perilaku radikal sekelompok kecil umat Islam tadi adalah cerminan dari perilaku seluruh umat Islam. Meskipun pada kenyataannya pemikiran seperti itu jauh dari benar.
  3. Menurut CIA Factbook edisi Juli 2009, pemeluk Islam di seluruh dunia terus bertambah hingga saat ini sudah hampir mencapai angka 1,7 milyar atau 24,2% dari total penduduk bumi yang hanya berjumlah 6,7 milyar. Itu pun hampir separuhnya, atau 2,4 milyar adalah penduduk RRT (1,3 milyar) dan India (1,1 milyar). Anehnya, pertumbuhan ini lebih banyak - dan lebih pesat - terjadi di negara-negara barat, khususnya di negara-negara bekas Eropa Barat, USA, bahkan di Rusia dan negara-negara Balkan. Hal ini tentu saja dianggap sangat mengganggu kewibawaan Vatican khususnya, dan superioritas negara-negara barat pemeluk Kristen pada umumnya (menurut wikipedia, jumlah penduduk dunia yang beragama Kristen - dengan semua sektenya - saat ini sebanyak 2,1 milyar).
  4. Islam sudah cukup lama dianggap identik dengan bangsa Arab yang rata-rata amat kaya dengan sumber-sumber minyak bumi - bahkan uranium! - yang tidak dimiliki oleh kebanyakan bangsa-bangsa barat (yang pelan tapi pasti akan dilanda resesi sumber daya alam ini). Tidak dapat dipungkiri bahwa karakter bangsa Arab rata-rata keras, spontan, defensif, kurang bersahabat, dan mudah terprovokasi. Mendiskreditkan negara-negara Arab (dengan segala cara, termasuk memprovokasi individu-individunya) adalah salahsatu upaya untuk menghalalkan invasi militer atas nama "perang terhadap teroris" yang membungkus maksud sebenarnya yakni menguasai sumber-sumber kekayaan alam tadi. Coba telisik lagi kebijakan pemerintah Bush Jr. terhadap negara-negara Arab dan hubungannya dengan rekayasa peristiwa serangan 11 september. Siapa saja sebetulnya yang berada di balik aksi kejahatan terhadap kemanusiaan terbesar abad ini yang sangat, sangat, mencengangkan dunia itu?
  5. Suka atau tidak suka, keberatan atau tidak keberatan, serangan 11 September sudah terlanjur menjadi momentum besar yang memberi justifikasi lebih besar lagi kepada bangsa mana pun yang berinisiatif untuk tampil ke podium dan meneriakkan yel-yel, "Mari perangi teroris, mari perangi Islam!" Padahal yang menari-nari di belakang mereka adalah kelompok-kelompok radikal Israel yang mendukung kepentingan zionis.
  6. Muncul para oportunis amatiran yang mendaulat diri sendiri sebagai intelektual Islam dan mengaku mendapat "hidayah" untuk meninggalkan Islam karena Islam tidak sejalan dengan pemikirannya yang "merdeka." Atau gampangnya, mereka memproklamirkan diri sebagai pribadi-pribadi liberal sejati guna mendapatkan simpathy dari banyak fihak di negara-negara barat yang pada umumnya menganut faham ini. Sebut saja nama Ali Sina misalnya, yang memetik tidak sedikit keuntungan financial dengan memanfaatkan situasi (1), (2), (3), dan (4) di atas (baca: membentuk opini sesat tentang Islam di puncak segala ketidaktahuan rata-rata penduduk non-muslim negara-negara barat menyangkut ajaran Islam yang sesungguhnya). Aksi ini dilakukannya dengan menjungkir-balikkan isi Al Qur'an, Hadits, sejarah Rasulullah dan logika ajaran Islam itu sendiri melaui cyber war dan propaganda anti-Islam yang dilancarkannya melalui situs Islam Watch dan yayasan FFI (Faith Freedom International). Meskipun untuk itu ia sendiri secara sadar (atau berpura-pura) harus menjadi kafir karenanya. Pribadi sesat lain yang lebih gigih dalam upayanya "menyesatkan" siapa saja (baik muslim maupun non-muslim) dengan metode yang stereotye dengan Ali Sina adalah Robert Spencer AKA Shaik Ya Mami melalui situsnya yang berlabel Jihad Watch. Bedanya dengan Ali Sina adalah bahwa mantan muslim yang mengaku atheis tapi sesungguhnya beralih agama menjadi Katolik ini terus menerus mengobarkan kebencian rasis terhadap umat Islam sedunia melalui semua cara yang dapat dilakukannya dalam mengekspose isue-isue tentang jihad. Nampaknya ia faham betul bahwa di benak sebagian besar non-muslim, terutama di negara-negara barat, sudah terlanjur tertanam imej bahwa jihad adalah sama dan sebangun dengan terorisme.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada organisasi-organisasi yang mewakili kepentingan anti-Islam siap menyediakan dukungan dana hampir tidak terbatas bagi siapa saja yang bersedia mendiskreditkan Islam terutama melalui teknologi informasi (TV, surat kabar, majalah, tabloid, buku, seminar, ceramah, situs-situs internet dlsb) terutama di negara-negara yang rawan konflik sentimen agama. Indonesia termasuk negara yang menjadi sasaran mereka. Itu sebabnya di luar negeri kita lebih banyak mendengar atau membaca berita tentang kejahatan kemanusiaan (meski kecil) yang menimpa orang-orang non-muslim daripada sebaliknya.

Disadari atau tidak, Indonesia adalah salahsatu lambang supremasi Islam yang dibanggakan oleh umat muslim di seluruh dunia. Hampir 87% dari jumlah penduduknya yang (menurut CIA factbook edisi Juli 2009 tadi - jadi, bukan dari catatan badan statistik nasional yang sama-sama tidak kita percayai) berjumlah 240 juta itu, sebanyak 207 juta adalah muslim! Fakta ini telah sekian lama menempatkan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar nomor 1 di dunia.

Di atas itu, Indonesia juga merupakan cermin kerukunan hidup antar umat beragama yang sulit dicari tandingannya di negara-negara lain. Sebab walaupun mayoritas (hampir mutlak) penduduknya adalah Islam, tetapi toleransi terhadap agama-agama lain (terutama yang diakui dan dilindungi oleh konstitusi negara) terbukti sangat tinggi. Ini bukan karena intervensi pemerintah, akan tetapi memang pada dasarnya tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari budaya yang diturunkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia sendiri. Hal ini bukan saja diamini dan disampaikan oleh Barrack Obama selaku Presiden AS dalam pidato pertamanya di luar negeri tahun lalu di Cairo, tetapi juga menjadi anjuran seorang Preiden AS kepada para pemimpin negara-negara Islam sedunia agar dijadikan contoh. Padahal lebih dari separuh penduduk bumi tahu bahwa AS adalah negara musuh Islam (atau sebaliknya) sebelum masa pemerintahan Obama.

Sayangnya, dan ini betul-betul patut disayangkan, di Indonesia sendiri nampaknya mulai tumbuh Ali Sina dan Robert Spencer kecil yang dapat kita jumpai aksi-aksi cyber war-nya melalui situs jejaring sosial seperti facebook, blogger, maupun forum-forum diskusi lainnya di internet. Sebut saja misalnya blog FFI Indonesia, Murtadin Kafirun, Islam Expose, Admin212 dan ruang-ruang publik lain yang mereka beri label forum diskusi ini atau itu dengan topik utama; menghujat dan melecehkan seluruh panji-panji Islam.

Tentu saja aksi mereka ini mendapat reaksi keras dari netters muslim melalui situs-situs tandingan seperti Menjawab Faithfreedom Indonesia, Contra-FFI Indonesia, Muslim Menjawab Tantangan, The Defenders of Da'wah dan masih banyak lagi situs-situs serupa yang selama ini telah dikenal baik oleh kedua belah fihak yang melibatkan diri dalam kancah cyber war ini.

Barisan berikut yang setiap saat siap untuk memanfaatkan peluang adalah misionaris-misionaris muda Kristen yang sama gigihnya dalam upaya mengkristenkan sebanyak mungkin umat Islam Indonesia melalui "metoda-metoda standar" mereka lewat berbagai cara, termasuk media internet yang hampir setali tiga uang caranya dengan (atau banyak sekali mengadopsi) pola-pola yang diterapkan oleh Ali Sina dan Robert Spencer. Sebuah cita-cita yang sejujurnya patut diacungi jempol mengingat kalkulasi matematiknya yang hampir nisbi.

Mengapa Islam dibenci?
Catatan di atas tentu saja belum mewakili ratusan, bahkan mungkin ribuan alasan lain yang berkembang sendiri-sendiri di berbagai belahan bumi ini. Namun agar tidak melebar ke sana ke mari, saya pikir lebih baik kita coba melihat apa yang berkembang di belahan bumi Nusantara tercinta ini saja.

Ketika pertanyaan ini iseng-iseng saya bawa kepada pakde saya yang lain, beliau mengatakan bahwa pertanyaan saya sebetulnya agak bias. Lalu dengan enteng beliau melanjutkan, "Yang seharusnya kamu perhatikan bukanlah kebencian itu sendiri, akan tetapi tujuan akhir - atau agenda - di balik semua upaya fihak-fihak yang coba mengobarkan rasa benci terhadap Islam."

Diam-diam saya pikir pendapat pakde saya ini ternyata makes sense juga, dan pertanyaan tentang mengapa Islam dibenci pun menjadi tambah menarik.

Dari merenung-renung setelah diberi sepotong wejangan itu akhirnya saya pikir, mengapa saya harus ikut-ikutan "terperangkap" dan memutar otak keras-keras sebagai orang yang harus menjawab pertanyaan itu? Mengapa saya tidak santai-santai saja dan membayangkan diri saya sebagai orang yang justru menyebabkan orang lain terdorong untuk mencetuskan pertanyaan itu?

Ingin tahu apa yang kemudian saya dapatkan menyangkut agenda tersembunyi di balik upaya mengobarkan kebencian terhadap Islam ini?

Mari kita lanjutkan!

[Gus Mendem]