Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Yesus (Hikmah). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus (Hikmah). Tampilkan semua postingan

Yesus Di Mata Murid-Muridnya

Umat Kristen dan umat Islam sama-sama percaya pada Yesus, mencintainya, dan menghormatinya. Namun, cara pandang kedua umat ini sangat berbeda tatkala dihadapkan pada klaim keilahian Yesus.

Eloknya, perbedaan ini dapat dijembatani jika keduanya mau mencari dan merujuk jawaban yang benar pada Alkitab dan Al-Quran. Sebab, sesungguhnya baik Alkitab maupun Al-Quran  sama-sama mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah!

Sudah cukup jelas bagi semua orang bahwa Al-Quran menyangkal keilahian Yesus, sehingga kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan hal itu.

SEJAK AWAL PENCIPTAAN ALAM  SEMESTA HINGGA DETIK INI, 
YESUS ADALAH BAGIAN DARI CIPTAAN ALLAH, 
DAN TIDAK PERNAH MENJADI ALLAH

Tidak ada penulis alkitab yang percaya bahwa Yesus adalah tuhan
Banyak orang yang salah mengartikan alkitab; mereka mengira bahwa karena kepercayaan kepada Yesus sebagai Tuhan sudah sedemikian luasnya, maka mereka pun percaya bahwa pasti ini berasal dari Allah. Akan tetapi fakta-fakta dari alkitab sendiri menunjukkan dengan sangat meyakinkan berbagai bukti yang justru melawan anggapan itu.

Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Yesus bukan Tuhan. Dalam Alkitab, Tuhan yang sesungguhnya selalu digambarkan sebagai Allah, sosok lain yang berada jauh di atas Yesus.

Sebagian orang boleh jadi akan mengatakan bahwa segala yang diucapkan oleh Yesus atau yang ia lakukan ketika di dunia membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi alkitab sendiri menunjukkan bahwa nyatanya murid-murid Yesus tidak pernah sampai pada kesimpulan seperti itu walaupun mereka adalah orang-orang yang hidup dan berjalan bersama Yesus, sehingga tentu saja mendengar dan melihat sendiri apa saja yang pernah Yesus katakan dan lakukan. Lebih lanjut, Kisah Para Rasul memberitahukan bahwa para murid dibimbing oleh Roh Kudus. Jika Yesus adalah Tuhan, tentu saja mereka sudah lebih dulu mengetahuinya lewat informasi dari Roh Kudus. Tetapi nyatanya mereka tetap menyembah hanya satu-satunya Tuhan yang benar, yaitu Allah, yang disembah oleh Abraham, Musa, dan juga oleh Yesus (Lihat KPR 3:13).

Semua penulis Alkitab percaya bahwa Tuhan yang benar bukan Yesus. Gagasan bahwa Yesus adalah Allah tidak pernah menjadi bagian dari kepercayaan Kristen sampai alkitab dibukukan kemudian. Sedangkan sejarah membuktikan bahwa dibutuhkan waktu selama berabad-abad dan pertumpahan darah ribuan manusia tak berdosa sebelum akhirnya hal ini menjadi bagian dari iman umat Kristen.

Matius, Markus, dan Lukas, penulis ketiga Injil pertama, percaya bahwa Yesus bukan Tuhan (lihat Markus 10:18 dan Matius 19:17). Mereka percaya bahwa Yesus adalah putra Allah dalam arti sebagai orang yang benar. Alkitab menunjukkan bahwa selain Yesus, sebenarnya masih banyak lagi orang-orang yang  juga disebut sebagai anak-anak Allah (lihat Matius 23: 1-9).

Paulus, yang diyakini sebagai penulis dari sekurang-kurangnya tigabelas atau empatbelas surat dalam Alkitab, juga percaya bahwa Yesus bukan Tuhan.  Menurut Paulus, pada mulanya Allah menciptakan Yesus, kemudian menjadikannya sebagai media untuk menciptakan sisa ciptaan (lihat Kolose 1:15 dan 1Korintus 8: 6). Gagasan serupa ditemukan dalam suratnya kepada jemaat Ibrani, dan juga dalam Injil dan surat-surat Yohanes yang dikarang sekitar tujuh puluh tahun setelah Yesus tiada. Kendati demikian, dalam semua tulisan tsb Yesus masih digambarkan sebagai ciptaan Allah dan karenanya selamanya tunduk kepada Allah (lihat 1Korintus 15:28).

Oleh karena Paulus dan Yohanes percaya bahwa Yesus adalah makhluk pertama Allah, beberapa dari apa yang mereka tulis dengan sendirinya menggambarkan Yesus sebagai makhluk sangat istimewa  yang sudah ada sebelum yang lainnya. Ini sering disalahartikan dan disalahpahami sebagai bukti pastilah ia Tuhan. Sedangkan pada kenyataannya, mempercayai Yesus sebagai Allah sama artinya dengan menentang apa yang ditulis oleh para penulis ini. 

Meskipun para penulis alkitab percaya bahwa Yesus lebih hebat dari semua makhluk, namun mereka juga percaya bahwa ia tetap lebih rendah daripada Allah. Bahkan, Yohanes mengutip perkataan Yesus: "... Bapa lebih besar dari pada Aku." (Yohanes 14:28). Dan Paulus menyatakan bahwa kepala setiap wanita adalah suaminya, kepala setiap pria adalah Kristus, dan kepala Kristus adalah Allah (lihat 1 Korintus 11: 3).

Oleh karena itu, untuk menemukan sesuatu di sini dan mengklaim paparan ini mendukung doktrin gereja bahwa Yesus adalah Tuhan, sama artinya dengan telah salah mengutip, dan telah salah pula menginterpretasikan tulisan para penulis alkitab. Apa yang mereka tulis harus dipahami dalam konteks kepercayaan mereka bahwa Yesus adalah ciptaan Allah seperti yang sebelumnya telah mereka nyatakan dengan jelas.

Kita memang melihat bahwa di kemudian hari beberapa penulis memiliki pandangan yang lebih tinggi tentang Yesus, tetapi tidak ada penulis Alkitab yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang benar, yaitu Allah, yang disembah oleh semua nabi, termasuk oleh Yesus (lihat Yohanes 17: 3).

Adapun karena Yesus bukan bagian, dan sama sekali tidak pernah disebut-sebut dalam Perjanjian Lama, maka kita akan fokus pada informasi dari Perjanjian Baru saja yang menjadi sumber lahirnya berbagai doktrin Kristen, termasuk tentu saja, doktrin ketuhanan Yesus yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus sendiri.

Pembuktian dari KPR (Kisah Para Rasul)
Dalam injil-injil kanonik, Yesus dicatat banyak menunjukkan berbagai mukjizat yang menakjubkan. Dan orang-orang yang tidak pernah menyaksikan semua keajaiban itu kecuali sekedar  mendengar kabarnya saja, kemudian menganggapnya sebagai  bukti ketuhanan Yesus. Sedangkan  seluruh murid Yesus sendiri, yang bergaul, belajar, dan berjalan bersama Sang Guru selama lebih kurang 3,5 tahun serta menjadi saksi mata atas segala tindakan dan perkataan Yesus  tidak pernah sampai pada kesimpulan seperti itu.

Kisah Para Rasul dalam Alkitab merinci aktivitas para murid selama tiga puluh tahun setelah Yesus dikabarkan naik ke surga. Sepanjang periode ini mereka tidak pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan. Mereka secara terus menerus tetap, dan konsisten menggunakan gelar "Allah" untuk merujuk kepada Tuhan yang disembah oleh Yesus. 

Seperti ditegaskan oleh Petrus dalam KPR 2:22, maka tampak jelas bahwa sesungguhnya Allah lah yang melakukan segala mukjizat itu melalui tangan Yesus untuk meyakinkan orang banyak bahwa kedatangan Yesus ke tengah-tengah bangsa Israel adalah sebagai utusan-Nya. Petrus tidak melihat mukjizat sebagai bukti bahwa Yesus adalah Allah.

Faktanya, cara Petrus merujuk pada Allah dan pada Yesus menjelaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Karenanya ia selalu menolak gelar Allah untuk Yesus. 

Perhatikan referensi berikut:
"Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi." (KPR 2:32)

“Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan  dan Kristus." (KPR 2:36)

Kedua ayat ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa Allah bukan Yesus, demikian pula sebaliknya. Jika Yesus adalah Allah, tentu tidak perlu ada ayat seperti di atas, bukan?

Bagi Petrus, Yesus adalah hamba Allah. 
Petrus berkata, "Allah membangkitkan hamba-Nya ..." (KPR 3:26). Gelar hamba dalam ayat ini merujuk pada Yesus. Ini sudah jelas dari perikop sebelumnya di mana Petrus menyatakan, ”Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita, telah memuliakan hamba-Nya, Yesus.” (KPR 3:13).

Petrus pasti tahu bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub tidak pernah berbicara tentang Allah Tritunggal. Mereka selalu berbicara tentang Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Di sini, seperti dalam Matius 12:18, Yesus adalah hamba Allah. Matius memberi tahu kita bahwa Yesus adalah hamba Allah yang sama seperti yang dibicarakan dalam Yesaya 42:1. Jadi, menurut Matius dan Petrus, Yesus bukan Tuhan, melainkan hamba Allah. 

Perjanjian Lama berulang kali menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang berdiri sendiri, tidak bersekutu, dan tidak boleh disekutukan dengan apapun juga. (perhatikan antara lain, Yesaya 45: 5).

Semua murid Yesus berpegang teguh pada prinsip ini. Dalam KPR 4:24 kita diberitahu bahwa orang-orang percaya berdoa kepada Allah dengan mengucapkan kata: “... mereka mengangkat suara mereka bersama dalam doa kepada Tuhan. 'Tuhan Yang Berdaulat,' kata mereka, 'Engkau yang menjadikan langit dan bumi dan lautan, dan segala yang ada di dalamnya. ” Jelas bahwa doa mereka bukan ditujukan kepada Yesus, sebab dua ayat berikutnya merujuk kepada Yesus sebagai "hamba-Mu yang kudus, Yesus, yang telah Engkau-urapi." (KPR 4:27).

Jika Yesus adalah Allah, tentu saja murid-muridnya sudah sejak lama mengatakan hal tsb dengan jelas. Tapi sebaliknya, mereka terus memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias utusan Allah. Dalam Kisah Para Rasul, kita juga diberi tahu bahwa,  ”..... setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil  tentang Yesus yang adalah Mesias.” (KPR 5:42).

Kata "Kristus" dalam bahasa Yunani adalah gelar untuk manusia yang artinya “diurapi.”  Jika Yesus adalah Allah, mengapa para murid selalu merujuk kepadanya dengan gelar  untuk manusia seperti  hamba dan utusan Allah, dan secara konsisten menggunakan gelar Allah untuk pribadi lain yang membangkitkan Yesus?

Adakah yang mereka takutkan? Tidak! Mereka dengan berani memberitakan kebenaran tanpa khawatir terhadap resiko dipenjara oleh penguasa atau bahkan menerima kematian sekalipun! Contohnya, ketika berada di bawah ancaman maut tangan-tangan penguasa, dengan tegas Petrus berkata, ”Kita harus lebih taat kepada Allah daripada manusia! Allah nenek moyang kita membangkitkan Yesus ….." (KPR 5: 29-30).

Apakah Roh Kudus tidak bekerja untuk mereka? Menurut penulis alkitab, ternyata mereka selalu didukung oleh Roh Kudus (lihat KPR 2: 3, 4: 8, dan 5:32). Jadi, apa yang mereka lakukan pada hakekatnya hanya mengajarkan kebenaran sebagaimana yang mereka pelajari dari Yesus, termasuk  bahwa Yesus bukan Allah, melainkan hamba dan utusan-Nya (lihat lagi Matius 15:24-28)

Petrus, yang dipercaya sebagai panatua dari keduabelas murid Yesus - dan karenanya bicara atas nama semua murid Yesus - sudah cukup menegaskan bahwa apapun alasan yang di kemudian hari coba direkayasa oleh orang-orang yang tidak termasuk dalam lingkaran keduabelas murid Yesus, khususnya tentang Yesus adalah Allah, pada kenyataannya adalah AJARAN YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN OLEH YESUS! 


Syarat masuk sorga menurut ajaran Yesus


Kita sudah tahu perbedaan paling prinsipil antara pengikut Yesus dan pengikut Paulus, bukan?
Pengikut Yesus adalah mereka yang menyembah Tuhan yang disembah oleh Yesus, sedangkan pengikut Paulus adalah mereka yang menyembah Yesus!

Nah, karena menyembah Yesus, maka umat Kristen - yang mengira diri mereka adalah pengikut Yesus - harus tahu diri dan sadar sepenuhnya bahwa sesungguhnya mereka bukan pengikut Yesus melainkan pengikut Paulus.

Kenapa?
Karena pertama;  nama "Kristen" dengan segala attributnya adalah hasil jerih payah Paulus selama "menginjil" di Anthiokia, sedangkan kedua; Yesus tidak pernah mengenal kata "Kristen", dan yang paling jelas, tidak pernah mengajarkan penuhanan terhadap dirinya dan Roh Kudus, apalagi sampai disejajarkan dengan Bapa dalam formasi Aliansi Tiga Tuhan bergelar "Tritunggal." 

Bukti yang sekilas terlihat remeh namun sesungguhnya sangat fundamental tentang ini bisa sama-sama kita lihat dari pengakuan rata-rata umat Kristen yang dengan sangat percaya diri menyatakan bahwa Kristen Bukan Agama. Alasannya, yang menyelamatkan kami adalah iman kepada Yesus, bukan agama!

Padahal salahsatu ajaran pokok Yesus kepada pengikutnya yang tercatat dalam Matius 5:20 menegaskan begini:
"Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga."
Ini jelas merupakan syarat dari Yesus kepada siapapun yang mengaku sebagai pengikutnya, bahwa jika menginginkan sorga  maka harus menjalani kehidupan beragama lebih benar dari ahli Taurat dan orang-orang Farisi! Tapi apa kata umat Kristen yang mengira diri mereka sebagai pengikut Yesus tadi?
"KRISTEN BUKAN AGAMA!" Dan sebagai konsekuensinya, tentu saja seluruh umat Kristen adalah manusia-manusia yang secara sadar mengaku, "TIDAK BERAGAMA!"
Nah, sampai di sini coba anda pikir sendiri; bagaimana umat ini akan menjalani kehidupan beragama jika agama saja tidak punya? Lebih celaka lagi, bagaimana mungkin umat ini masih demikian percaya diri mengira jika mati nanti pasti masuk sorga yang dijanjikan oleh Yesus, padahal syarat utama untuk masuk sorga harus beragama?

Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, karena dalil di atas sudah menjelaskan sendiri bahwa siapapun yang hari gini masih mengaku sebagai umat Kristen, sudah dipastikan oleh Yesus sendiri tidak akan pernah masuk kerajaan sorga!

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

Kontradiksi ajaran Yesus vs ajaran Paulus dan lahirnya Teologi baru bernama Kristen

PAULUS dari Tarsus, adalah seorang Yahudi berkewarganegaraan Romawi, yang tidak pernah bertemu Yesus Kristus seumur hidupnya, mengambil bagian aktif dalam penganiayaan terhadap para pengikut Yesus, menerima “duri dalam daging dari utusan Setan”, mengaku sebagai murid ke-13 melalui sebuah “penglihatan” dengan narasi yang saling bertentangan di tiga tempat dalam Kisah Para Rasul. 

Dia mengubah doktrin dan ajaran Yesus Kristus agar sesuai dengan tradisi dan praktik pagan Yunani-Romawi. Dia berhasil mengubah iman Yahudi monoteistik menjadi agama pagan yang tidak memiliki kesamaan apa pun dengan ajaran Kristus kecuali namanya.

Teori Maccoby tentang Paulus
Menurut Hyam Maccoby (1924–2004), sarjana dan dramawan Yahudi Inggris yang mengkhususkan diri dalam studi tradisi agama Yahudi dan Kristen, pembentukan Kristen sebagai agama yang terpisah dari Yudaisme, sepenuhnya merupakan karya Paulus dari Tarsus. Dalam pandangan Maccoby ini sebagian besar didasarkan pada pandangan Heinrich Graetz .

Maccoby mengklaim bahwa Paulus adalah seorang Yahudi yang bertobat dan mungkin bahkan seorang non-Yahudi, yang berasal dari latar belakang yang terpapar pengaruh Gnostisisme dan agama-agama misteri pagan seperti kultus Attis, sebuah mitos yang melibatkan dewa kehidupan dan kematian serta kelahiran kembali. Agama-agama misteri, menurut Maccoby, adalah bentuk-bentuk keagamaan yang dominan di dunia Helenistik pada zaman itu dan karenanya, akan sangat memengaruhi psikologi mitologis Paulus. Maccoby sebagian memperoleh teori ini dari fragmen-fragmen tulisan para penentang Ebionit, khususnya dalam risalah tentang Heresies oleh Epiphanius dari Salamis.

Maccoby menganggap klaim Paulus terhadap pendidikan Yahudi Farisi ortodoks sebagai salah, menegaskan bahwa sementara banyak tulisan Paulus terdengar asli bagi yang belum tahu, mereka sebenarnya mengkhianati ketidaktahuan tentang kitab suci Ibrani asli dan seluk-beluk Hukum Yahudi. Maccoby menyimpulkan bahwa penelitian terhadap Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Paulus sama sekali tidak mengerti bahasa Ibrani, dan sepenuhnya hanya mengandalkan teks-teks Yunani yang tidak akan pernah digunakan oleh orang Farisi, karena teks-teks tsb tidak diterjemahkan dengan benar.

Menurut Maccoby, Paulus menggabungkan kisah sejarah penyaliban Yesus dengan unsur-unsur agama misteri kontemporer dan Gnostisisme [Yunani Kuno: γνῶσις gnōsis, pengetahuan; Arab: الغنوصية al-ġnūṣīh) adalah kepercayaan bahwa dunia material yang diciptakan oleh demiurge harus dijauhi dan dunia spiritual harus dianut (dunia Tuhan).], mengembangkan ide-ide mitis non-Yahudi baru seperti Tritunggal dan Perjamuan Terakhir. Paulus juga berupaya untuk menemukan pembenaran profetik untuk mitos yang baru diciptakannya dalam Perjanjian Lama. Paulus datang untuk menghadirkan Yesus sebagai dewa penyelamat yang sekarat dan bangkit mirip dengan yang dari kultus misteri Helenistik, menyatu dengan silsilah historis Yudaisme, sehingga melahirkan mitos baru yang kuat yang khotbahnya membuatnya mendapatkan banyak pengikut. Ketika kelompok Yerusalem dari murid-murid Yesus yang asli secara bertahap menyadari ajaran-ajaran Paulus, permusuhan sengit terjadi di antara mereka.

Maccoby menafsirkan bagian-bagian Perjanjian Baru tertentu (misalnya kisah Paulus tentang pertengkarannya dengan Petrus dalam Insiden di Antiokhia) sebagai sisa-sisa kisah otentik tentang permusuhan ini. Namun, Pemberontakan Yahudi tahun 66-70 segera membawa akhir yang kejam bagi sekte Yerusalem, dan secara defacto Gereja Non-Yahudi yang didirikan oleh Paulus muncul sebagai pemenang. Maccoby memandang Kitab Kisah Para Rasul sebagai upaya selanjutnya oleh Gereja Paulus untuk menyajikan image bahwa hubungan antara Paulus dan para pengikut di Yerusalem sebagai hubungan yang harmonis. Dengan demikian menunjukkan pula bahwa Gereja Paulus memilki hubungan yang dilegitimasi oleh rantai suksesi apostolik yang kembali ke para pengikut Yesus yang asli. Maccoby juga menduga bahwa sekte Yahudi-Kristen Ebionit mungkin merupakan cabang asli dari komunitas Yerusalem yang asli.

Maccoby memfokuskan karyanya untuk menelusuri akar anti-Semitisme kembali ke asal-usul Kristen awal, dan untuk memisahkan Kekristenan dari latar belakang Yahudi yang sesungguhnya. Maccoby menyalahkan kematian Yesus kepada penguasa Romawi dan kaki tangan Yahudi mereka dari golongan Saduki, yang mengendalikan Bait Suci, dananya, dan polisinya. Ia menganggap kisah Injil tentang permusuhan antara Yesus dan orang Farisi sebagai rekayasa Gereja Paulus, dan berpendapat bahwa Yesus sendiri menganut Yudaisme Farisi sebagaimana terungkap dalam teks-teks seperti Khotbah di Bukit. [Wikipedia]

Berikut beberapa ajaran Paulus yang terbukti kontradiksi dengan ajaran Yesus Kristus sebagaimana dapat ditemui dalam Perjanjian Baru.

Kendati sebagian orang mungkin tidak setuju, namun pada akhirnya setiap individu yang berpikiran adil tentu dapat menentukan kesimpulannya sendiri-sendiri.

Kontradiksi #1
Ini adalah hal yang utama. Yesus dengan jelas mengklaim telah menyampaikan Injil kepada dunia secara pribadi.

[Yoh 17:6-8] Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang yang telah Engkau berikan kepada-Ku dari dunia; mereka adalah milik-Mu dan Engkau telah memberikan Aku kepada mereka, dan mereka telah menuruti firman-Mu. Sekarang mereka telah tahu, bahwa semua yang telah Engkau berikan kepada-Ku itu berasal dari pada-Mu. Karena Aku telah memberikan kepada mereka segala firman yang telah Engkau sampaikan kepada-Ku, dan mereka telah menerimanya. Mereka telah tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Paulus ingin Anda berpikir bahwa doktrin-doktrin yang tidak diajarkan Yesus (misalnya Keilahian Kristus, penebusan darah, "rahmat", penurunan Hukum Taurat, penghapusan Sabat, hierarki gereja, dll) dibawa melalui dia.

[Galatia 1:12] Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui penyataan Yesus Kristus.

Yesus menghabiskan waktu bertahun-tahun melatih 12 rasul dan 70-an murid sebagai saksi Yesus dan perkataannya. Namun, doktrin utama gereja Kristen disampaikan kepada manusia melalui wahyu yang diklaim kepada satu saksi: Paulus. Yesus berkata bahwa 2 atau 3 saksi merupakan jumlah minimum yang diperlukan agar sesuatu menjadi benar.

Kontradiksi #2
Yesus mengajarkan bahwa Hukum Taurat tidak pernah dibatalkan.

[Matius 5:17-18] Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

[Lukas 16:16-17] [Matius 19:17]

Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tidak ada seorang pun yang baik, kecuali satu, yaitu Allah. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah."

Paulus mengajarkan bahwa Taurat dibatalkan.

[Roma 7:6] Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati, yang mengurung kita, sehingga kita melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat.

[Roma 10:4] Karena Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.

[Galatia 3:13] Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"

Kontradiksi #3
Yesus mengajarkan kesetaraan orang percaya.

[Matius 23:8] Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu, yaitu Kristus, dan kamu semua adalah saudara.

Paulus tidak hanya menempatkan dirinya sebagai guru, ia juga menetapkan hierarki gereja!

[1Korintus 12:28] Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Kemudian mereka yang diberi karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.

[1Timotius 2:7] Dan untuk itulah aku telah ditahbiskan menjadi pemberita Injil dan rasul, -- yang kukatakan itu adalah kebenaran dalam Kristus dan aku tidak berdusta -- dan aku telah ditahbiskan menjadi pengajar bangsa-bangsa lain dalam iman dan kebenaran.

Kontradiksi #4
Yesus berkata bahwa Injil harus diberitakan tanpa imbalan finansial.

[Matius 10:8] Sembuhkanlah orang sakit, tahirkanlah orang kusta, bangkitkanlah orang mati, usirlah setan-setan: kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

Paulus tidak setuju ajaran ini, begitu pula banyak gereja lainnya.

[1Korintus 9:11] Jika kami telah menabur benih rohani bagi kamu, bukankah lebih besar, kalau kami menuai hasil duniawi darimu?

Kontradiksi #5
Yesus mengajarkan untuk memberkati orang-orang yang tidak percaya.

Matius 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Paulus mengajarkan bahwa orang-orang yang tidak percaya harus dikutuk.

[1Korintus 16:22] Jika ada orang yang tidak mengasihi Tuhan Yesus Kristus, terkutuklah dia. Ya Tuhan, datanglah!

Kontradiksi #6
Yesus mengajarkan untuk mengikuti dan meneladani (meniru) Dia.

[Yohanes 10:27] Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.

Paulus mengajarkan untuk mengikuti dia.

[1Korintus 4:16] Karena itu aku menasihatkan kamu, ikutilah aku. [KJV=”Karena itu aku menasihatkan kamu, jadilah pengikutku.”]

Kontradiksi #7
Berikut ini adalah cara Yesus menangani seseorang yang dituduh melakukan dosa seksual.

[Yohanes 8:3-7] Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah. Mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah sedang berbuat zinah." Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu. Tetapi apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"  Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka dapat menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk dan menulis dengan jari-Nya di tanah seolah-olah Ia tidak mendengarkan mereka. Ketika mereka terus-menerus menanyai-Nya, Ia pun berdiri dan berkata: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Solusi Paulus sedikit lebih kejam.

[1Korintus 5:1,4,5] Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang demikian rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. Apabila kamu berkumpul bersama-sama dengan aku dan rohku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, maka aku harus menyerahkan orang itu kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya [NKJV = rohnya] diselamatkan pada hari Tuhan Yesus.

Kontradiksi #8
Beginilah cara Yesus menangani dosa penghujatan.

[Matius 12:31] Karena itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni. 

[Lukas 12:10] Dan setiap orang yang mengucapkan sesuatu melawan Anak Manusia akan diampuni, tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni.

Solusi Paulus sekali lagi, sangat kejam.

[1Tim 1:19] Dengan berpegang pada iman dan hati nurani yang murni, tetapi karena hati nurani itu ditinggalkan oleh beberapa orang, mereka kandas. 20 Di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.

Kontradiksi #9
Makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala dilarang dalam Hukum Taurat, dan secara khusus disebutkan sebagai sesuatu yang tidak diizinkan dalam Kitab Wahyu.

[Wahyu 2:14] Tetapi Aku mencela engkau karena engkau telah mengundang orang-orang yang mengikuti ajaran Bileam, yang telah mengajar Balakh untuk membuat orang Israel tersandung, makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala dan melakukan percabulan.

Paulus memberikan "kebebasan" untuk memakan makanan jenis ini.

[1Korintus 8:4,7,8,9] Mengenai hal memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, kita tahu: "Tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain kecuali satu." Tetapi tidak semua orang memiliki pengetahuan itu. Sebab ada orang yang masih tetap terikat pada berhala, dan karena hati nuraninya masih lemah, maka hati nuraninya itu menjadi najis. Tetapi makanan tidak membawa kita kepada Allah. Sebab jika kita makan, kita menjadi lebih baik dan jika kita tidak makan, kita menjadi lebih buruk. Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

[1Korintus 10:25] Makanlah segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani.

Kontradiksi #10
Yesus tidak mengalami kesulitan berbicara dengan perempuan, meskipun hal itu tidak lazim dalam budaya mereka.

[Yohanes 4:27] Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: ”Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?”

Berbeda dengan sikap sovinisme Paulus.

[1Korintus 14:34-35] Hendaklah perempuan-perempuanmu berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara, tetapi mereka harus taat, seperti yang tertulis dalam hukum Taurat. Dan jika mereka ingin mengetahui sesuatu, biarlah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab adalah suatu kehinaan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.

[1Timotius 5:14] Karena itu aku menghendaki, supaya perempuan-perempuan muda kawin, melahirkan anak, memimpin rumah tangga, dan jangan memberi kesempatan kepada lawan untuk mengucapkan celaan.

Kontradiksi #11
Yesus mengajarkan bahwa pengampunan Tuhan bergantung pada pengampunan kita terhadap orang lain.

[Matius 6:14-15] Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu tidak akan mengampuni dosamu. (TB)

Dan:

[Lukas 6:37] Ampunilah dan kamu akan diampuni.

Perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni dalam Matius 18:21-35 menggambarkan pokok ini dengan seseorang yang diampuni Tuhan, tetapi tetap tidak mau mengampuni orang lain.

Dalam anggapan Paulus, dia telah diampuni:

[1Timotius 1:13-17] meskipun aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman. Dan kasih karunia Tuhan kita telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku telah dikasihani, agar dalam diriku, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan segala kesabaran-Nya. Sebagai contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan memperoleh hidup yang kekal. Sekarang, bagi Raja segala zaman, yang kekal, yang tidak kelihatan, bagi Allah, satu-satunya yang bijaksana, hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

Tetapi ketika seseorang berbuat dosa terhadap Paulus, Paulus tidak mengampuni dosa yang telah diakuinya beberapa kalimat sebelumnya.

[1Timotius 1:18-20] Tugas ini kupercayakan kepadamu, anak Timotius, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan mengenai engkau, supaya oleh nubuat-nubuat itu engkau dapat berperang dengan baik, karena iman dan hati nurani yang murni, tetapi karena hati nurani yang murni itu telah ditolak oleh beberapa orang, sehingga mereka kandas karena iman,  di antaranya Himaneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.

Dengan tidak memahami prinsip pengampunan bersyarat (atau timbal balik) ini, Paulus menentang Yesus. Lebih jauh, Paulus meminta kita untuk percaya bahwa pengampunan diperoleh melalui cara lain:

[Efesus 1:7] Di dalam Dia kita memiliki penebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,

Kontradiksi #12
Paulus berkata bahwa seseorang diselamatkan oleh "iman" dan "pengakuan"

[Roma 10:9] Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

[1Korintus 12:3] Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.

Yesus justru mengajarkan hal yang sebaliknya.

[Mat 7:21-23] Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.  Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!

[Lukas 6:46] Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?

Yakobus menambahkan pengamatan ini:

[Yakobus 2:19] Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah? Itu baik, tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

Kontradiksi #13
Seperti yang dibahas dalam utas sebelumnya, Paulus ingin agar diketahui bahwa ia adalah bapa rohani bagi jemaatnya.

[1Korintus 4:15] Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pengajar dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Sebab aku telah memperanakkan kamu melalui Injil di dalam Kristus Yesus.

Paulus pasti lupa tentang angka kecil yang ditegaskan oleh Yesus ini.

[Matius 23:9] Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini; karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

Kontradiksi #14
Yesus mengajarkan tentang kelembutan.

[Mat 5:5] Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Kelembutan versi Paulus agak bersyarat dan bercampur dengan ancaman.

[1Korintus 4:21] Apakah yang kamu kehendaki? Akan aku datang kepadamu dengan tongkat, atau dengan kasih dan dengan roh kelembutan?

Kontradiksi #15
Paulus mengajarkan bahwa para pengikutnya akan menjadi hakim pada hari penghakiman.

[1Korintus 6:2-3] Tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika dunia akan dihakimi oleh kamu, tidakkah kamu layak untuk menghakimi perkara-perkara yang terkecil? Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Apalagi perkara-perkara yang berhubungan dengan hidup ini?

Yesus punya ide lain.

[Yohanes 5:22] Sebab Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.

Kontradiksi #16
Paulus secara khusus berusaha untuk menyenangkan manusia dan menjadikan dirinya "segala sesuatu" bagi semua orang.

[1Korintus 9:20-22] Bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi mereka yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di luar hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

[1Korintus 10:33] Sama seperti aku menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku sendiri, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka diselamatkan.

Paulus jelas gagal memahami ajaran-ajaran Yesus berikut ini:

[Lukas 6:26] Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu, karena demikian juga nenek moyang mereka memuji nabi-nabi palsu.

[Lukas 16:15] Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan manusia, tetapi Allah mengetahui hatimu; karena apa yang dikagumi manusia adalah kekejian di hadapan Allah."

[Yohanes 5:41] Aku tidak memerlukan penghormatan dari manusia.

Kontradiksi #17
Paulus membuat klaim seperti ini:

[Efesus 2:14-17] Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab di dalam tubuh-Nya Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang "jauh", dan kepada mereka yang "dekat".

Akan tetapi Yesus langsung menepisnya dengan kalimat ini:

[Matius 10:34] Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

Kontradiksi #18
Yesus mengajarkan bahwa Allah bukanlah Allah orang mati.

[Lukas 20:38] Sebab Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.

[Markus 12:27] Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Sebab itu, kamu sesat sekali.

Paulus melawan fakta ini sekaligus menunjukkan ketidaktahuannya akan ajaran Yesus.

[Roma 14:9] Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan bangkit kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.

Kontradiksi #19
Paulus mengajarkan agar berdoa di depan publik.

[1 Timotius 2:8] Karena itu aku menghendaki, supaya di mana-mana orang berdoa dengan mengangkat tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa keraguan.

Yesus mengajarkan doa sebagai ibadah pribadi.

[Matius 6:6] Tetapi engkau, apabila engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, dan apabila engkau telah menutup pintu, berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat rahasia; dan Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu dengan terang-terangan.

Kontradiksi #20
Paulus berpendapat bahwa sekali diselamatkan, selamanya diselamatkan.

[Roma 8:38-39] Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Sayangnya, itu tidak benar.

[Lukas 8:13-15] Mereka yang jatuh di atas batu karang itu ialah mereka yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira; tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja, tetapi dalam masa pencobaan mereka murtad. Dan yang jatuh dalam semak duri ialah mereka yang setelah mendengar firman itu, mereka keluar dan terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup ini, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Tetapi yang jatuh di tanah yang baik itu ialah mereka yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan jujur, lalu menghasilkan buah dalam ketekunan.

Kontradiksi #21
Yesus berhati-hati dalam mengaitkan ajaran-ajarannya dengan Tuhan. 

[Yohanes 7:16] Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku. "

Paulus tidak mengalami kesulitan untuk menerima pujian itu.

[Roma 2:16] Pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.

Kontradiksi #22
Yesus mengajarkan bahwa hidup kekal akan mengorbankan semua yang Anda miliki.

[Matius 19:29] Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudara laki-lakinya, saudara perempuannya, bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.

[Lukas 14:33] Demikianlah jugalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

Tidak hanya gagal mengajarkan hal ini, Paulus ia juga membual bahwa hidup kekal sepenuhnya gratis.

[Roma 6:23] Karena upah dosa adalah maut, tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.

Faktanya, banyak gereja yang kebablasan dan mengklaim bahwa mempercayai iman Kristen akan membuat Anda sejahtera secara materi.

Kontradiksi #23
Paulus menghormati otoritas duniawi, dengan menyatakan bahwa otoritas itu berasal dari Allah.

[Roma 13:1] Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah.

Yesus membantah gagasan ini.

[Yohanes 18:36] Jawab Yesus: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini."

Mungkin tidak seharusnya kita menganggap bahwa kita membutuhkan Yesus untuk memberi tahu kita bahwa kekuasaan duniawi sering kali korup, tetapi ini tetap saja:

[Matius 17:25-27] “Bagaimana pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya sendiri atau dari orang-orang asing?” Jawab Petrus kepadanya, “Dari orang-orang asing.” Yesus berkata kepadanya, “Jadi, anak-anak itu bebas. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing di laut dan tangkaplah ikan yang pertama muncul.”

Kontradiksi #24
Yesus mengajarkan kasih.

[Matius 25:34-43] Maka Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.  Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;  ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan? atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing dan kami memberi Engkau tumpangan? atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Atau bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?  Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Maka Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.  Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Paulus khawatir bahwa kesejahteraan akan terlalu banyak membebani gerejanya.

[1Timotius 5:9,16] Janganlah seorang janda yang berumur di bawah enam puluh tahun dimasukkan ke dalam daftar orang-orang yang sudah menikah.

Jikalau seorang percaya, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai janda-janda, biarlah mereka memberi mereka bantuan, dan janganlah jemaat menjadi terbebani, sehingga jemaat dapat memberi bantuan kepada mereka yang benar-benar janda.

[2Tesalonika 3:10] Sebab, juga ketika kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepadamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Kontradiksi #25
Ajaran Yesus tentang “Pengkudusan”

[Yohanes 17:17-19] Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia.  Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.

Paulus bertanya; Apakah “darah” dan “kebenaran-Mu” adalah hal yang sama?

[Ibrani 13:12] Itulah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang, supaya Ia mengkuduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.

Dan saya tidak begitu mengerti bagaimana maksudnya ini, tetapi sebenarnya ini agak lucu.

[1Korintus 7:14] Karena suami yang tidak percaya itu dikuduskan oleh isterinya dan isteri yang tidak percaya itu dikuduskan oleh suaminya. Sebab jika demikian, anak-anakmu dahulu najis, tetapi sekarang mereka kudus.

Kontradiksi #26
Paulus membuat pengakuan yang tegas bahwa ia tidak dapat mengendalikan sifat dosanya. 

[Roma 7:14-17] Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Karena apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku perbuat yang aku kehendaki, yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Tetapi sekarang bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku.

[Roma 7:25] Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Sebaliknya, tirulah Yesus yang mengajarkan begini:

[Matius 22:37-38] Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama." (Lihat juga Markus 12:30 dan Ulangan 6:5)

Dan

[Yohanes 8:34-35] Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah untuk selama-lamanya."

Dan

[Yohanes 5:14] “Jangan berbuat dosa lagi”

Jika Anda membenci sesuatu, bukankah seharusnya Anda berhenti melakukannya?

Kontradiksi #27
Yesus menubuatkan hal ini:

[Yohanes 9:4] “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja.”

Paulus berkata sebaliknya.

[Roma 13:12] Hari telah larut, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang.


[Sumber: AbeuSebelas]

REFERENSI:

Terkait:

Buku elektronik gratis: http://goo.gl/2xpiv

Pelajaran dari Yesus Tentang Bagaimana Melaksanakan Hukum Taurat

Di forum diskusi GUS MENDEM DAN KAWAN-KAWAN, saya pernah membuat status seperti ini,

Kasus menarik ....
PELAJARAN DARI YESUS TENTANG HUKUM TAURAT

"PERGILAH, DAN JANGAN BERBUAT DOSA LAGI MULAI DARI SEKARANG!"

Itu adalah nasehat dari seorang nabi Allah adik-adik kristen, bukan pengampunan atas dosa seorang anak manusia dari anak manusia lainnya yang selama ini kalian tuhankan!

Ternyata kalian masih belum mengerti juga pelajaran apa yang dapat kalian petik dari kisah Yesus dalam Yohanes 8:11 itu ya?

Begini:
Pertama, Kata TUHAN pada Yohanes 8:11 itu harus dikembalikan lagi kepada kata aslinya, yaitu TUAN!
Kedua, perhatikan ini!

INILAH PELAJARAN DARI YESUS TENTANG 
BAGAIMANA MELAKSANAKAN HUKUM TAURAT!

Dalam Bab-8 kitab injilnya, Yohanes mengisahkan bagaimana orang-orang Yahudi sengaja hendak mencobai Yesus, begini:

[4] Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
[5] Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
[6] Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
[7] Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
[8] Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
[9] Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya
[10] Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
[11] Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Ayat ini berkisah tentang tuduhan orang-orang Yahudi kepada seorang perempuan yang mereka tuding telah berbuat zina di lingkungan mereka. Dan menurut hukum Musa, perempuan pezina harus dirajam -- sampai mati!

Ketika orang-orang Yahudi mengadu dan mendesak keputusan dari Yesus, maka Yesus pun bereaksi seperti di atas, dan nyatanya, tak seorang Yahudi pun yang berani melempari perempuan itu dengan batu seperti seharusnya.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?
Sangat stereotype dengan rata-rata umat kristen yang pernah kita baca komentarnya ketika menjelaskan YOHANES 8:1-11 ini, seorang netter kristen pengguna ID fesbuk Neo Tristan yang nampaknya ingin sekali diakui sebagai debater handal menulis begini:

"Jelas sekali kan, bahwa Yesus adalah tuhan. Kalo Yesus bukan Tuhan, pasti dia akan melemparnya, karena Yesus tidak berdosa. Hanya Tuhan yang sanggup berbuat demikian; yaitu mengampuni kesalahan wanita tersebut. 

[YOH 8: 11] Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Dan ketika saya pertegas lagi dengan pertanyaan;

Kenapa Yesus bereaksi seperti digambarkan dalam YOH 8:7-8, 11 dan akhirnya membebaskan perempuan itu tanpa syarat?

Dia menambahkan penjelasannya begini:

"Kan Yesus ditanyain (minta pendapat) maka Yesus udah kasih pendapatnya. Jadi ada maslah apa lagi? Tuhan itu maha pengampun bro. Makanya Yesus mengampuni wanita tersebut dengan tidak melempar dia dan Yesus menyampaikan pesan jangan berbuat dosa lagi."

Dari jawaban dan penjelasan di atas kita bisa melihat sendiri betapa kuat stigma "Yesus adalah Tuhan" yang tertanam di benak rata-rata pengikut Paulus sehingga akal sehat mereka seolah-olah berhenti berputar karena dibekukan oleh doktrin gereja, dan nalar mereka pun praktis tidak mampu lagi memahami kitabnya sendiri secara logik, apalagi secara cerdas!

Padahal yang sesungguhnya harus difahami adalah begini:

Hukum Taurat Musa adalah HUKUM ALLAH Yang Maha Adil lagi Maha Penyayang, sekaligus juga Maha Tegas! Oleh karenanya TIDAK AKAN mencederai hak-hak dasar siapa pun juga, terutama orang-orang yag tidak bersalah!

Alasan Yesus tidak menjatuhkan hukuman kepada perempuan itu adalah karena menurut Hukum Allah, setiap tuntutan hukum kepada siapa pun juga HARUS dapat dibuktikan dengan MENGHADIRKAN SAKSI-SAKSI, termasuk SAKSI PELAKU.

Dalam kasus di atas, yakni zinah, bagaimanapun juga PELAKUNYA HARUS TERDIRI DARI 2 ORANG, yakni perempuan yang dituduh berzinah dan pria pasangan zinahnya.

Sedangkan seperti dapat kita simak sendiri dari kisah Yohanes 8:4-11 di atas, orang-orang Yahudi itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai SAKSI tapi tidak membawa serta -- atau tidak menghadirkan -- saksi kunci, yaitu pelaku zinah pasangan perempuan tsb.

Perlu digarisbawahi, kebohongan ini diisyaratkan oleh Yesus sebagai perbuatan "dosa", dan dengan itu pula kemudian dia menantang orang-orang Yahudi tsb seperti tertulis dalam Yohanes 8:7.

Karena orang-orang Yahudi itu sadar bahwa demi alasan ingin mencobai Yesus mereka telah berdusta -- dan tentu saja berdosa -- maka mereka pun kemudian satu-per-satu meninggalkan "arena sidang dadakan" tsb sehingga ancaman HUKUM RAJAM terhadap perempuan itu BATAL dilaksanakan!

VOILA!
Ternyata kita sedang berbicara tentang bagaimana seharusnya Hukum Taurat Musa dilaksanakan! BUKAN tentang Yesus yang dianggap oleh pengikut paulus sebagai Tuhan dan berkuasa mengampuni dosa!

Tentang kasus-kasus serupa ini, sebetulnya jauh-jauh hari sebelumnya Yohanes sendiri sudah mengisyaratkan sabda Yesus ini:

[Yohanes 5:30] "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku."

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Sumber: Catatan lama (banget) GM]



Ajaran Yesus tentang Hukum Tuhan di dalam Taurat


Kitab suci umat Kristen yang disebut Bibel (Bible, di Indonesia Alkitab) adalah sebuah kitab yang bukan terdiri dari sebuah kitab utuh, melainkan merupakan gabungan dari banyak kitab yang dibendel jadi satu. Kitab itu terdiri dari dua buah kita utama yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang mana kedua kitab utama tersebut masih terdiri dari banyak kitab-kitab lagi.

Lima buah kitab pertama dari Perjanjian Lama adalah apa yang diakui oleh umat Kristen sebagai kitab Taurat, yaitu kitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan. Di dalam kitab-kitab tsb terdapat apa yang diakui umat Kristen sebagai Hukum Taurat yang telah diajarkan oleh nabi Musa. Sedangkan kitab-kitab lain di Perjanjian Lama adalah apa yang sering disebut sebagai “kitab para nabi”.

Umat Kristen mengatakan kalau hukum Taurat ini sudah tidak berlaku lagi karena sudah digantikan oleh hukum kasih yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus. Hukum kasih tsb adalah seperti yang terdapat dalam Bibel Perjanjian Baru pada Markus 12 ayat 29-31:

12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.
12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Dan penghapusan hukum Taurat ini juga lah yang menjadi dasar dari ajaran Kristen mayoritas untuk tidak lagi menggunakan aturan yang terdapat dalam hukum Taurat tsb. Contohnya adalah pada hukum sunat dan larangan-larangan memakan daging babi.

Hukum Taurat melarang memakan daging babi, tapi umat Kristen menghalalkannya.

Hukum Taurat menyuruh bersunat –> umat Kristen tidak melakukannya, bahkan melarangnya.

Padahal dalam Bibel sendiri Yesus dengan sangat jelas menyebutkan bahwa kedatangannya tidak akan menghapuskan hukum Taurat, malah akan terus dilestarikan sampai hari kiamat nanti. Ia datang adalah untuk menggenapi hukum Taurat tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada Bibel Perjanjian Baru pada kitab Matius 5 ayat 17-20:

5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.
5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.
5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

ayat-ayat tersebut apabila dibaca tidak dengan pemikiran dibawah doktrin, melainkan dengan pemikiran yang jernih dan kritis, akan jelas menyatakan tetap berlakunya hukum Taurat. Bagaimana penjelasannya? Kita lihat dalam pembahasan berikut:
5:17 “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.

Yesus sangat jelas menyatakan di ayat ini bahwa ia datang adalah untuk menggenapi hukum Taurat, bukan untuk meniadakannya. Masalah yang sangat penting di sini adalah pada kata “menggenapi”. Apa yang dimaksud dengan menggenapi di sini? Orang Kristen yang berpikir di bawah doktrin akan langsung dengan mudah menyatakan bahwa kata menggenapi yang dimaksud adalah penggenapan janji Tuhan untuk kedatangan-Nya(?) atau anak-Nya(?) untuk melakukan karya penebusan untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, atau untuk menyelamatkan manusia dari cengkeraman maut sehingga maut tidak lagi menguasainya sehingga manusia akan beroleh hidup yang kekal, atau agar manusia dapat hidup di bawah kasih karunia bukan dibawah hukum Taurat lagi, dll dsbnya… yang inti semua itu dalam konteks bahasan kita ini adalah bahwa dengan kedatangan Yesus, maka hukum Taurat menjadi batal, tidak berlaku lagi, digantikan oleh hukum kasih karunia melalui diri dan pengorbanan Yesus.

Sangat mengherankan mendengar penjelasan dari umat Kristen tentang kedatangan Yesus yang merupakan penggenapan itu, yang mana membuat tidak berlakunya lagi hukum Taurat. Hal ini mengingat bahwa masih di ayat yang sama Yesus sudah memberikan sebuah informasi yang sangat penting tentang maksud dari kata “menggenapi” tsb. Syarat itu adalah pada kata “… Aku datang bukan untuk meniadakannya (hukum Taurat),…” yang sangat jelas merupakan syarat dari “menggenapi” itu tadi.

Jadi penggenapan yang dimaksud Yesus dalam ayat tsb haruslah dilakukan dengan syarat tidak meniadakan hukum Taurat, melainkan melengkapi dan menyempurnakannya. Dan cara Yesus menggenapinya adalah dengan memasukkan hukum kasih di sana. Bahwa dalam penerapan hukum Taurat sekalipun, berlaku kasih adalah lebih diutamakan. Hal ini sangat mudah dipahami oleh pola pikir manusia yang normal (bukan doktrinal), karena kata “menggenapi” memang berkonotasi melengkapi dan menyempurnakan. Seperti terdapat pada kalimat “Ia menggenapi jumlah komputer yang telah ia pasang menjadi 10 buah”, yang memberikan arti bahwa ia tidak bisa menggenapi jumlahnya menjadi 10 kalau yang 9 sebelumnya dibuang! Kita bisa melihatnya lebih jelas dalam Bible bahasa Inggris untuk ayat yang sama sebagai berikut:

5:17 Do not think that I have come to do away with or undo the Law or the Prophets; I have come not to do away with or undo but to complete and fulfill them.

Kemudian untuk menguatkan syarat penggenapan yang tidak boleh menghapuskan hukum Taurat, Yesus tercatat menambahkan informasi lagi pada ayat selanjutnya.

5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.

Ayat ini jelas menyatakan bahwa “…selama belum lenyap langit dan bumi ini…” artinya adalah sebelum hari Kiamat tiba, yang juga berarti selamanya, selama langit dan bumi masih ada! Jadi sebelum hari kiamat tiba, tidak akan ada hukum Taurat yang dibatalkan atau dihilangkan. Maka sangat aneh kalau dikatakan bahwa kedatangan Yesus adalah untuk menggenapi hukum Taurat yang dengannya hukum Taurat justru tidak berlaku lagi. Sedangkan, Yesus sendiri yang menyatakan di sana bahwa syarat utama dapat berlangsungnya penggenapan adalah harus dengan tidak dihilangkannya hukum Taurat.

Dan yang paling mengejutkan bagi umat Kristen kalau mereka membaca ayat-ayat ini dengan teliti, adalah pada ayat selanjutnya yang merupakan konsekuensi bagi mereka yang tidak melakukan dan tidak mengajarkan hukum Taurat.

5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Ayat ini merupakan penegasan yang lebih diperkuat lagi tentang tetap diberlakukannya hukum Taurat oleh Yesus, di mana dinyatakan bahwa barang siapa yang meniadakan hukum Taurat meskipun hanya salah satunya yang paling kecil sekalipun dan mengajarkan demikian pada orang lain, ia akan mendapatkan tempat yang paling rendah dalam surga. Sedangkan bagi yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat, ia akan mendapat tempat yang tinggi di surga.

Dalam pembacaan dengan konteks yang benar, ayat ini dapat mengejutkan atau bahkan menakutkan bagi umat Kristen. Kenapa? Jelas saja, siapapun tidak ingin mendapat tempat yang paling rendah, tetapi posisi mereka jelas terancam dengan adanya ayat ini. Bagaimana bisa begitu? Kita akan lihat dalam bahasan berikut.

Misalnya kita ambil contoh 2 perintah hukum Taurat, yaitu perintah bersunat, dan larangan makan daging babi. Keduanya adalah termasuk di dalam hukum Taurat. Apakah umat Kristen melakukan sunat dengan cara yang sesuai seperti diperintahkan hukum Taurat? Tidak! Apakah mereka mengajarkan untuk bersunat? Tidak! Apakah umat Kristen menghindari makan daging babi? Tidak! Apakah mereka mengajarkan untuk tidak makan daging babi? Tidak!

Dengan contoh-contoh hukum Taurat tadi, jelas terlihat bahwa secara umum umat Kristen tidak melakukan dan tidak mengajarkan ketentuan dalam hukum Taurat. Bahkan kebanyakan mereka menyampaikan ini pada umatnya dan orang lain dengan rasa kebanggaan yang besar, seakan-akan yang demikian itu adalah suatu hal yang bernilai tinggi dalam keagamaan mereka. Padahal bila kita merujuk pada ayat-ayat yang saya sebutkan di atas tadi itu, – kalau mereka bisa masuk surga – jelas mereka akan menempati posisi yang paling rendah di dalam surga, karena mereka tidak melakukan dan tidak mengajarkan hukum Taurat! Inilah pemahaman yang bisa didapat dari ayat tersebut.

Dan juga sebaliknya, bagi yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat, akan mendapat tempat yang tinggi di surga. Siapakah mereka-mereka ini? yang pertama tentu saja umat Yesus sendiri saat beliau masih hidup, yang kalau mereka melakukannya dengan benar sesuai perintah Tuhan, insyaallah akan diberikan derajat yang tinggi oleh Allah. Kemudian siapa lagi? Masih ada lagikah umat lain yang juga melakukan dan mengajarkan hukum Taurat? Ya, ternyata masih ada umat lain yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat. Siapakah mereka?

Islam melestarikan hukum Taurat dan hukum kasih
Islam? Ya, Islam. Apakah umat Islam melakukan dan mengajarkan hukum Taurat? Benar, umat Islam ternyata memang juga melakukan dan mengajarkan hukum Taurat! Akan tetapi hukum Taurat yang diajarkan dalam Islam dari nabi Muhammad adalah versi yang telah disempurnakan karena telah digenapi oleh ajaran Kasih. Hal ini karena hukum Taurat ternyata tetap dilestarikan dalam Al-Qur’an dan hadits nabi Muhammad dalam “versi” yang baru, yang sudah dilengkapi dan digenapi dengan ajaran kasih.

Kita akan lihat dalam 3 contoh perintah hukum Taurat, yaitu: tidak memakan daging babi, melakukan sunat, dan kisas (qishosh). Penjelasannya akan kita bahas sebagai berikut:

Hukum mengharamkan babi
Hukum Taurat yang mengharamkan memakan babi tetap diajarkan dalam Qur’an, tetapi sudah “digenapi” dengan ajaran Kasih dengan dibolehkannya umat memakannya apabila dalam keadaan terpaksa, misalnya untuk bertahan hidup disaat tidak ada makanan lain yang dapat dimakan. Hal ini karena meskipun larangan makan babi tetap dilestarikan, tapi dalam ajaran kasih mempertahankan kehidupan lebih diutamakan. Dan Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Berikut ayat pengharaman babi di Alkitab/Bibel dan Al-Qur’an.

Alkitab bahasa Indonesia (Imamat 11:7-8 dan Ulangan 14:8):

11:7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.
11.8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.
14:8 Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya.

Catatan:
Ayat yang saya kutip di atas adalah dari Alkitab terjemahan 1979 yang sudah diubah(?), sedangkan pada Alkitab terjemahan 1968 masih sesuai teks aslinya dengan menggunakan kata “babi”, bukan “babi hutan”. Dan penggunaan kata “babi” memang lebih sesuai karena dalam Alkitab bahasa Inggris digunakan kata “swine” yang berarti babi, dan bukan “wild boar” yang berarti babi hutan.

Bible bahasa Inggris (Leviticus 11:7-8 dan Deuteronomy 14:8):

11:7 And the swine, because it divides the hoof and is cloven-footed but does not chew the cud; it is unclean to you.
11:8 Of their flesh you shall not eat, and their carcasses you shall not touch; they are unclean to you.
14:8 And the swine, because it parts the hoof but does not chew the cud; it is unclean to you. You shall not eat of their flesh or touch their dead bodies.

Alkitab bahasa Indonesia sehari-hari (Imamat 11:7 dan Ulangan 14:8):

11:7 Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak.
11:8 Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.
14:8 Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan, bangkainya tak boleh disentuh.

Al-Qur’an Surat Al-Maidah (5) ayat 3:
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. ….. ….. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah ayat 3)

Hukum Sunat
Hukum Taurat yang memerintahkan untuk bersunat tetap diajarkan dalam Islam. Hanya saja kalau pada hukum Taurat sunat adalah suatu hal yang mutlak wajib untuk dilakukan dengan ketentuan yang ada, dan dengan ancaman yang keras bagi yang tidak melakukannya, maka sunat/khitan dalam Islam adalah versi hukum Taurat yang sudah digenapi dengan ajaran Kasih.

Dalam Islam bersunat sudah menjadi tradisi meskipun masih terjadi perbedaan pendapat tentang masalah wajib atau sunnah-nya hukum sunat ini. Kalau diambil jalan tengahnya, maka sunat/khitan hukumnya bisa dibilang adalah sunnah muakad, yaitu sunah yang sangat kuat dianjurkannya.

Hukum sunat dalam Islam yang sudah digenapi dengan ajaran kasih ini dapat dilakukan kapan saja, tidak harus pada saat masih bayi berusia 8 hari seperti ketentuan dalam hukum Taurat. Kebanyakan umat Islam melakukannya saat menginjak akhil balik. Islam juga membolehkan umat untuk tidak bersunat apabila terdapat alasan-alasan tertentu, misalnya: apabila ada seorang yang masuk Islam setelah dewasa dan takut untuk bersunat, maka dia boleh tidak bersunat, apalagi kalau dikhawatirkan malah membahayakan kesehatannya dalam kondisi-kondisi tertentu. Karena hal ini adalah juga seperti wudlu dan mandi yang kewajibannya bisa gugur kalau ditakutkan membahayakan jiwa (Ibnu Kudamah).

Juga tidak ada ancaman yang keras jika tidak melakukannya seperti yang terdapat di hukum Taurat. Hal ini karena meskipun hukum sunat tetap dilestarikan, tetapi dalam ajaran kasih mempertahankan kesehatan dan kehidupan lebih diutamakan, karena pada hakikatnya perintah sunat itu bertujuan untuk membersihkan dan menjauhkan diri dari penyakit.

Berikut ayat-ayat tentang hukum sunat di Alkitab Perjanjian Lama (Kejadian 17:10-14):
17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
17:11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.
17:12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
17:13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal
17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”

Dari ayat-ayat di atas ada 5 point yang bisa kita dapatkan:

1. Setiap laki-laki harus disunat
2. Yang dimaksud dengan sunat adalah mengerat/memotong kulit khatan
3. Anak laki-laki berumur 8 hari harus disunat
4. Hukum sunat adalah perjanjian yang kekal (berlaku selamanya)
5. Orang yang tidak bersunat harus dilenyapkan (dibunuh?) karena telah mengingkari perjanjian.

Yesus disunat (Lukas 2:21)
2:21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.

Yesus pun juga disunat ketika berumur 8 hari, mengikuti perintah dari hukum Taurat yang berlaku. Bagaimana mungkin ia sendiri akan membatalkannya?

Hukum Kisas (Qishash)
Hukum Taurat yang memerintahkan hukum kisas (qisos), yaitu pembalasan yang setimpal, mata ganti mata, tangan ganti tangan, nyawa ganti nyawa, tetap disebutkan dalam Qur’an, tetapi dalam versi yang juga sudah digenapi oleh ajaran kasih, yang mana meskipun sang ahli waris berhak menuntut pembalasan setimpal itu, akan tetapi ia dianjurkan untuk mengutamakan tidak melakukannya dan mengampuni si pelaku. Sekali lagi, hal ini adalah karena meskipun hukum Qisos ini tetap dilestarikan dalam Qur’an, tetapi dalam ajaran kasih harus diutamakan untuk berbuat baik dan memaafkan orang lain. Berikut ayat-ayat Bibel tentang kisas menurut hukum Taurat dan ajaran kasih Yesus:

Keluaran 21: 23-25

21:23 Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa,
21:24 mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki,
21:25 lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.

Matius 5: 38-39

5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.

Dalam Al-Qur’an pun hukum kisas tetap dilestarikan, hanya saja sudah disempurnakan dengan ajaran Kasih, bahwa memberi maaf adalah lebih mulia dan diutamakan. Juga bagi yang melepaskan hak kisasnya, maka itu akan menjadi penebus dosa baginya.

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu qishash atas orang-orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Barangsiapa mendapat ma’af dari saudaranya, hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik.” (Al Baqarah:178)

“Dan Kami tetapkan atas mereka di dalamnya (Taurat) bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka pun ada Qisasnya. Barangsiapa yang melepaskan hak Qisas, maka melepaskan hak itu jadi penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Al Maa-idah:45)

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik (Al-Mu’minim ayat 96)

QS. Asy-syura 40-43:

40. Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik Maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.
41. Dan Sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka.
42. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. mereka itu mendapat azab yang pedih.
43. Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, Sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diutamakan.

Dari 3 contoh perintah dalam hukum Taurat yang tetap dilestarikan dalam Islam melalui Qur’an dan hadits tsb, kita bisa melihat bahwa tidak ada perbedaan dalam ajaran Yesus dan ajaran nabi Muhammad. Bahwa seharusnya yang dimaksud Yesus bahwa beliau menggenapi hukum Taurat itu tidak berarti menghilangkannya, tetapi melengkapi dan menyempurnakannya dengan memasukan unsur ajaran kasih dalam perintah-perintah hukum Taurat sebelumnya yang keras dan kaku. Dan hal itu juga lah yang diajarkan oleh nabi Muhammad, dimana beliau tetap mengajarkan untuk tetap melakukan dan mengajarkan hukum Taurat, tetapi dalam versi yang sudah disempurnakan dengan menggenapinya dengan ajaran Kasih.

Kesimpulan
Pemahaman umat Kristen secara umum bahwa kedatangan Yesus telah menghapuskan hukum Taurat dan menggantinya dengan hukum Kasih, sehingga hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi dan harus ditinggalkan, adalah salah. Bila kita mengacu pada ajaran dasar umat Kristen, yaitu Alkitab/Bibel, dengan jelas tertulis di sana bahwa Yesus sendiri telah mengajarkan bahwa kedatangannya tidaklah untuk menghapuskan hukum Taurat, dan bahwa beliau hanya menggenapinya.

Menggenapi hukum Taurat yang dimaksudkan Yesus seperti tertulis di ayat tersebut jelas menyatakan bahwa syarat penggenapan yang dilakukannya adalah tidak dengan menghapuskan hukum Taurat. Jadi hukum Taurat dinyatakan olah Yesus masih tetap berlaku bahkan sampai hari Kiamat nanti, artinya sepanjang masa. Tetapi hukum Taurat yang tetap berlaku sepanjang masa itu adalah yang sudah digenapi oleh Yesus dengan memasukkan hukum kasih di dalamnya.

Nabi Muhammad pun ternyata memang datang tidak untuk menghapuskan hukum Taurat dan hukum kasih dari Yesus, tetapi beliau datang membawa Al-Qur’an dan hadits-haditsnya yang didalamnya tetap melestarikan ajaran Musa dan Yesus, dengan tetap melakukan dan mengajarkan hukum Taurat yang telah disempurnakan, yaitu hukum Taurat yang telah digenapi dengan ajaran Kasih.

Dan pemahaman yang benar terhadap pernyataan Yesus di Perjanjian Baru pada Matius 5 ayat 19 adalah bahwa siapa yang tidak melakukan dan tidak mengajarkan hukum Taurat, bila ia masuk surga, maka tempatnya adalah yang paling rendah. Tapi bagi siapa yang melakukan dan mengajarkan hukum Taurat maka tempatnya akan tinggi di surga.

Musa, Yesus, dan Muhammad, tiga nabi Allah yang mulia, mereka semua mengajarkan ajaran yang sama. Mereka melakukan dan mengajarkan hukum Taurat. Hanya saja versi yang diajarkan belakangan adalah yang lebih disempurnakan, karena telah digenapi dengan memasukkan ajaran kasih di dalamnya.

Bagaimana dengan anda? Apakah anda pengikut Yesus? Yesus melakukan dan mengajarkan hukum Taurat dengan kasih. Apakah anda melakukan dan mengajarkannya? Buat anda yang mengaku sebagai pengikut Yesus, sudah seharusnya anda melakukan dan mengajarkan seperti apa yang telah diwariskannya. Bila anda ingin mendapat tempat yang tinggi dalam surga, maka ikutilah orang-orang yang menjadi pengikut mereka, orang-orang yang mengikuti dan mengajarkan apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus dan nabi Muhammad.


[sumber: RKH | religiku]