Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Trending. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trending. Tampilkan semua postingan

Allah adalah Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhannya Yesus!



ALKITAB MENEGASKAN BAHWA "TUHAN" DAN "ALLAH" BUKAN DUA DEITI YANG TERPISAH 
AKAN TETAPI SEBAGAI SATU ENTITAS YANG SAMA.

Frase "TUHAN, ALLAHMU" yang MEMBUKTIKAN bahwa TUHAN dan ALLAH adalah SATU DEITI YANG SAMA disebutkan sebanyak 398 kali dalam alkitab, yakni 391 kali dalam Perjanjian Lama, dan 7 kali dalam Perjanjian Baru.

Dari 7 penyebutan "TUHAN, ALLAHMU" dalam Perjanjian Baru tsb, 6 di antaranya dinyatakan sendiri oleh Yesus Kristus.

Artinya, Yesus sangat mengetahui bahwa ALLAH adalah SATU-SATUNYA TUHAN, atau SATU-SATUNYA TUHAN adalah ALLAH, alias bukan merupakan dua oknum yang berbeda.

Akan tetapi umat Kristen yang mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus mengimani bahwa ALLAH dan TUHAN adalah DUA oknum yang BERBEDA berdasarkan ajaran Paulus dalam 1 Korintus 8:6 yang kemudian dijadikan landasan PENGAKUAN IMAN KRISTEN dalam teks KREDO RASULI sbb:

Aku percaya akan ALLAH,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi;
dan akan Yesus Kristus,
Putra-Nya yang tunggal, TUHAN kita,
yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh Perawan Maria;
yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Pontius Pilatus
disalibkan, wafat, dan dimakamkan;
yang turun ke tempat penantian
pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati;
yang naik ke surga,
duduk di sebelah kanan Allah Bapa
yang mahakuasa;
dari situ Ia akan datang
mengadili orang yang hidup dan yang mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik² yang kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.
Amin.


Ini adalah BUKTI bahwa doktrin Kristen tentang ketuhanan Tritunggal, di mana ALLAH dipisahkan dari TUHAN jelas merupakan doktrin yang menafikan eksistensi ALLAH, melawan kehendak TUHAN, dan menentang ajaran semua nabi, termasuk ajaran Yesus sendiri, yang sebenarnya sudah sangat jelas tertulis dalam alkitab! Perhatikan lagi cerita kita sebelumnya tentang ini  di sini:

Contoh ayat-ayat semisal ini sudah menjelaskan sendiri bahwa artinya hanya ada SATU TUHAN, yaitu ALLAH!

"Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu." (Imamat 18:2)

Atau

"Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (Ulangan 28:2)

Jadi, pengakuan iman kristen bahwa hanya ada SATU ALLAH yaitu Bapa, dan hanya ada SATU TUHAN yaitu Yesus Kristus, jelas tidak sama dengan apa yang selama ribuan tahun diajarkan oleh ALLAH melalui semua nabi dan rasul-Nya! 

Dengan demikian, petunjuk dari alkitab di atas prkatis menggugurkan segala teori dogmatis kristen tentang ketuhanan Tritunggal yang sejak pada mulanya memang sama sekali tidak pernah dikenal oleh nabi mana pun dalam sejarah kitab-kitab suci terdahulu, apalagi oleh Yesus sendiri!

Artinya, umat Paulus yang tidak sadar diri mengaku-ngaku sebagai pengikut Yesus tapi percaya dan mengimani bahwa Yesus adalah salahsatu oknum tuhan tritunggal versi doktrin kristen, tidak perlu berharap apapun dari Yesus kecuali sesaat setelah mati nanti, langsung ditendang ke neraka!

Demikianlah fakta alkitabiyahnya.
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!


[GM | Menyibak Tabir Di Balik Doktrin Kristen]

Pengertian Eka Dan Esa Dalam Bahasa Indonesia



“Esa” dan “Eka” ada dan tampaknya tidak ada masalah dalam dua kata ini. Kedua kata ini digunakan dan dipahami secara luas oleh penutur bahasa Indonesia sebagai kata ganti untuk menyatakan ‘Satu, Tunggal’ (KBBI Edisi-V Versi Daring). Kendati demikian, sesungguhnya makna keduanya berbeda ketika dilihat dari aspek morfologi.

“Eka“ seperti yang kita ketahui adalah bentuk terikat alias tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu kata yang mandiri. Kata ini biasanya ditulis serangkai dengan kata yang mengukutinya. Misalnya, ekabahasa (hanya memahami dan menggunakan satu bahasa; bersifat monolingual) dan ekakarsa (satu kehendak; satu niat).

Sedangkan di sisi lain, “Esa” bukan kata yang terikat. Dalam KBBI Edisi-V Versi Daring, "Esa" dikategorikan dalam kelas kata numeralia (bilangan). Sebagai numeralia, “Esa” pun dapat dibubuhi afiksasi. Misalnya, keesaan (sifat yang satu) dan mengesakan (menjadikan - menganggap - satu).

Lalu, benarkah “Esa” dan “Eka” sama-sama bermakna satu? 
Mari kita lihat etimologinya.

Bahasa Indonesia menyerap “Eka” dari bahasa Sansekerta. Dalam Sanskrit Loan Words in Indonesian (1997) karya JG de Casparis, "Eka" bermakna "Satu". Dalam sumber yang lain, kamus klasik Sanskrit-English Disctionary (M Monier-Williams, 1909), “Eka” bermakna Satu, Sendiri, Tersendiri, Single, dan terjadi sekali.

Sama seperti "Eka", “Esa” berasal dari bahasa Sansekerta. Dalam Sanskrit Loan Words in Indonesian (1997) karya JG de Casparis, "Esa" bermakna 'Satu, Hanya Satu (one, only)'. 

Mengacu pada Sanskrit-English Disctionary (yang dikutip oleh de Casparis), “Esa” juga mengacu pada ‘Tuhan' (Lord). Sementara menurut sumber lain, Kamus Umum Bahasa Indonesia karya Purwadarminta juga memaknai Esa sebagai ‘Tunggal, Satu’.

Meski sama-sama bermakna ‘Satu’, tapi “Eka” dan “Esa” digunakan dalam konteks yang berbeda. “Esa” digunakan untuk segala sesuatu yang merujuk kepada Tuhan. Misalnya seperti yang tertulis dalam sila pertama Pancasila: "Ketuhanan yang Maha Esa", atau dalam frasa "keesaan Tuhan". Sedangkan "Eka" digunakan untuk menunjuk kata bilangan seperti "Bhineka Tunggal Ika", atau "Ekabangasa" dlsb.

Sejauh ini, hampir tidak pernah ditemui penggunaan kata “Esa” yang bukan dalam konteks ketuhanan.

Ini berbeda dengan “Eka” yang cenderung lebih jamak dan longgar digunakan dalam pelbagai situasi dan konteks. Seperti, ekabahasa, ekawarna, ekafungsi, dan ekasuku. "Eka-" sebagai kata bilangan juga memiliki numeralia sejenis lain, seperti dwi-, tri-, catur-, panca- dan sebagainya.

Jika “Eka” terdapat bentuk jamak, maka “Esa” tidak punya bentuk jamak. Mungkin ini terkait dalam konteks “Tuhan”, dan tidak ada bentuk jamak untuk itu. "Esa" adalah satu, tunggal. Namun seperti kita ketahui, satu tidaklah sama dengan tunggal.

Satu adalah angka, bilangan; sementara tunggal adalah satu-satunya (numeralia), bukan jamak (ajektiva), dan utuh (ajektiva) [KBBI Edisi-V Versi Daring].

Sepertinya kata “Esa” lebih membutuhkan pendekatan konseptual, dibanding pendekatan numerik. Kita ambil contoh, ketika dinyatakan bahwa Tuhan itu satu, bagaimana kita menjelaskan definisi satu tersebut? Apakah satu itu dua minus satu, nol plus satu, empat minus tiga? Namun, akan lebih mudah bila kita menyebut Tuhan itu tunggal (Esa). 

Mengapa?
Karena konsep tunggal yang tidak hanya berupa angka (satu), tapi juga memiliki sifat dan konsep kesatuan yang utuh. Mungkin saja itu sebabnya bahasa Indonesia tidak mengenal istilah untuk sesuatu yang tidak tunggal.

Ini berbeda dengan “Eka” yang sama fungsinya pada kata dwi, tri, catur, panca, dst.  “Esa” tidak hanya dapat dipahami sebagai sebuah angka atau bilangan, tapi sebuah sifat yang satu, utuh, tidak ada duanya.


[Hotnida Novita Sary | Liputan 6]

Teka Teki Anak Perjanjian Abraham


Kita langsung saja. 
Perhatikan ayat alkitab berikut ini: 
[Kejadian 17:18-19] “Ah, sekiranya Ismael diperkenaankan hidup dihadapan-Mu! Tetapi Elohim berfirman: Tidak ...."
Ini adalah salahsatu bentuk keculasan umat ini yang benar-benar disengaja agar terkesan bahwa keturunan Abraham melalui Hagar tidak direstui, bahkan ditolak mentah-mentah oleh Allah! Tetapi jika kita jeli dan cermat dalam membaca alkitab, maka sesungguhnya alur cerita yang sebenarnya tidak demikian! Tidak ada sedikitpun penolakan Allah terhadap Ismael yang kelak menjadi leluhur Nabi Muhammad SAW, dan tidak ada pula penolakan Allah akan permohonan Abraham untuk putra sulungnya Ismael! Sekali lagi, TIDAK ADA! 

Alur cerita dalam Alkitab bisa kita kutip seperti apa adanya berikut ini:

Kejadian 17:15-19  LAI - Terjemah Baru 
15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. 16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." 17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" 18 Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" 19 Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian  yang kekal untuk keturunannya." 

Mencermati secara utuh ayat-ayat alkitab di atas, jelas terlihat bahwa Allah sama sekali tidak menolak permohonan nabi Abraham kepada-Nya perihal putra tunggal beliau, Ismael. 

Dengan demikian, makna sesungguhnya dari ayat-ayat ini adalah sebagai berikut:

Dari Sara, istri beliau yang pertama, Abraham tidak mempunya anak. Untuk itu Allah berjanji kepada Abraham bahwa Dia akan memberikan keturunan kepada Abraham melalui Sara walaupun umur Sara sudah sembilan puluh tahun dan Abrahan sendiri sudah seratus tahun.

Sebagai manusia biasa, wajar jika di dalam hatinya, Abraham merasa kurang yakin apakah masih mungkin memperoleh keturunan pada usianya yang sudah seratus tahun, sudah kakek-kakek dan tua renta, sementara istrinya Sara sudah pula menjadi nenek-nenek berumur sembilan puluh tahun. Sementara pada waktu peristiwa "percakapan" antara Allah dan Abraham itu tejadi, beliau sudah mempunya seorang putra bernama Ismael. Karena itulah kemudian Abraham berkata kepada Allah, biarlah, tokh baginya sudah cukup dengan mempunya Ismael? Tetapi Allah yang Mahamengetahui segala sesuatu berkehendak memberinya keturunan dari Sara. Dan terbukti memang setelahnya Sara mengandung dan melahirkan seorang putra yang kemudian mereka beri nama Ishak.

Nah, dari alur cerita tersebut, sangat jelas terlihat bahwa Allah sama sekali tidak menafikan keberadaan Ismael dari Hagar, Istri kedua beliau, namun di sisi lain berkehendak pula memberikan keturunan kepada Abraham dari Sara walaupun mereka sudah lanjut usia. Jadi, para misionaris yang dalam upaya penginjilannya kerap menampilkan mutilasi ayat-ayat kitab suci, bahkan termasuk dari kitab mereka sendiri, sebenarnya bertujuan menyesatkan pembaca dengan cara menimbulkan kesan bahwa seolah-olah permohonan Abraham untuk Ismael ditolak oleh Allah.

Jika kita baca kitab Kejadian 17:15-19 tadi dalam versi terjemahan bahasa Indonesia 1941; maka tidak akan kita temui permohonan Abraham dengan ucapan “Ah, ..... sekiranya” pada ayat ke-18 dan penolakan Allah dengan kata “Tidak!” pada ayat ke-19, yaitu ayat-ayat yang ternyata sudah dirobah sedemikian rupa oleh para editornya pada terbitan alkitab tahun-tahun setelahnya.  

Cermati narasi ayat-ayat di bawah ini, lalu bandingkan dengan ayat-ayat yang sama dari alkitab yang diterbitkan belakangan seperti sudah lebih dulu disebutkan di atas.

Kejadian 17: 15-19 Ejaan Lama Terbitan 1941 
(15) Dan lagi firman Allah kepada Ibrahim, maka akan hal Sarai, istrimoe itoe djangan lagi engkau panggil namanja Sarai, melainkan Sara itoelah akan namanja. (16) Karena akoe akan memberi berkat kepadanja serta daripadanja djoega akoe akan menganoegerahkan se’orang anak laki-laki kepadamoe; bahkan akoe akan memberi berkat kepadanja, sehingga ija akan djadi asal beberapa bangsapon akan berpentjaran dan daripadanja. (17) Maka pada masa itoe soedjoedlah Ibrahim dengan moekanja sampai ka boemi sambil tertawa, lalu berkata ija dalam hatinja: “Bolehkah djadi kanak-kanak bagai sa’orang jang soedah seratoes tahoen oemoernja? Bolihkan Sara jang soedah sambilan poeloeh tahoen oemoernja itoe lagi beranak? (18) Maka sembah Ibrahim kepada Allah : “ja Toehan, bijar apalah Ismail sahadja hidoep di hadapan hadiratMoe. (19) Maka firjman Allah, bahwa sasoenggoehnja Sarah, istrimoe itoe, beranak kelak bagimoe laki-laki sa’orang, hendaklah engkau namai akan dia Ishak; maka Akoe akan menegoehkan perdjandjiankoe dengan dia, ija-itoe soeatoe pardjandjian jang kekal, serta dengan anak-boeahnja jang kemoedian dari-padanja.
Dari perbandingan ayat-ayat yang sama dari kitab yang sama tapi dari cetakan tahun yang berbeda ini kita bisa melihat sediri, bahkan dengan sangat jelas, bahwa setiap kali alkitab dicetak ulang, maka selalu saja mengalami perobahan ayat-ayat yang bahkan adakalanya merobah arti ayat-ayat tersebut secara sangat signifikan!
Perobahan pada ayat-ayat yang berhubungan dengan Ismael sebagai leluhur nabi Muhammad SAW yang diplintir-plintir tersebut, tentu saja sangat mempengaruhi pemahaman umat Kristen tentang keadaan yang sebenarnya sehingga mereka, yang tidak memiliki cukup pengetahuan tentang sejarah perubahan ayat-ayat dalam kitabnya sendiri, lalu dengan serta merta latah ikut merendahkan Ismael, Hagar, dan umat Islam, persis seperti burung beo yang menirukan ucapan manusia tanpa tahu apa yang diucapkannya!

Jika Allah sebagaimana digambarkan dalam alkitab seolah seperti manusia yang cenderung bersifat diskriminatif, suka membedakan antara orang yang satu dengan orang lainnya, tentu saja Dia sama lemahnya dengan kita semua dan bukan Allah yang pantas untuk kita puji dan sembah setiap hari. Menurut ajaran Islam, Allah Mahaadil dan dipastikan berlaku sangat adil terhadap setiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk, tentu saja manusia. Jadi, segala tudingan sumir terhadap Ismael dan Hagar yang merupakan leluhur Nabi Muhammad SAW berdasarkan alkitab sesungguhnya sama sekali tidak beralasan. 

Dusta dan distorsi terjemah ayat-ayat alkitab jelas ditujukan oleh para petinggi kristen kepada Ismael.

Kejadian 17:19
 וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים אֲבָל שָׂרָה אִשְׁתְּךׇ יֹלֶדֶת לְךׇ בֵּן וְקָרָאתָ אֶת שְׁמוֺ יִצְחָק וַהֲקִמֹתִי אֶת בְּרִיתִי אִתּוֺ לִבְרִית עוֺלָם לְזַרְעוֺ אַחֲרָיו:

wayomer Elohim AVAL sarah isyteka yoledet lekha ben weqaraat et syemo Yitzchaq wahaqimoti et b'riti ito liv'rit 'olam l'zar'o acharin

Krejadian 17:19 
Tetapi Elohim berfirman: "Akan tetapi isterimu Sara yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya."
Jelas dalam teks ibrani di atas tidak terdapat kata "Lo" (לוא)  yang artinya "Tidak!"
Ketika Ismael berusia 13 tahun, Allah sekali lagi mendatangi Ibrahim melalui malaikat-Nya, dan janji lama yang sama diulangi lagi kepada Ibarahim (Kejadian pasal 17).

Belakangan – ketika Ibrahim berusia 100 tahun dan Sarah 90 tahun - ternyata Sarah juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishak, ini sesuai dengan janji-Nya.

Setelah Ishak berusia sekitar 2 tahun, maka Hajar dan putranya Ismael, menurut alkitab, diusir oleh Sarah. Sehinga Hagar dan Ismael – putranya yang ketika tu sudah berusia sekitar 16 tahun tapi digambarkan oleh ara editor alkitab seolah-olah masih bayi – terpaksa mengembara di padang gurun Bersyeba. Di tengah perjalanan persediaan air habis sehingga mereka kehausan, kemudian sebuah mata air menyembur atas perintah Tuhan. Setelah itu tidak ada lagi berita apapun tentang Ismael dalam alkitab, kecuali bahwa Ismaie menikahi seorang wanita Mesir, dan ketika Ibrahim meninggal, ia hadir bersama Ishak untuk menguburkan ayah mereka.

Tetapi di sisi lain, alkitab secara rinci melanjutkan kisah tentang Ishak, dua orang putranya, dan kedatangan Yakub ke Mesir, yang diakhiri dengan kisah meninggalnya Yusuf.

Peristiwa penting dalam sejarah Abraham berikutnya, seperti terekam dalam Kejadian 22, adalah pengorbanan anak satu-satunya kepada Tuhan, tetapi kemudian ditebus dengan seekor sembelihan yang besar.

Demikian catatan singkat tentang Abraham dalam hubungannya dengan Hak Kelahiran dan Anak Perjanjian.

Ada 3 hal penting yang harus digarisbawahi disini bagi setiap orang yang beriman kepada Allah:
Pertama, Ismael adalah anak sah Abraham, putra pertamanya, dan karenanya segala klaimnya tentang hak kelahiran adalah adil dan sah!

Kedua, perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan anak tunggalnya adalah tentang Ismael (karena ketika peristiwa itu terjadi, Ishak berlum lahir). Sedangkan perjanjian dan hukum khitan itu tidak akan memiliki nilai dan arti penting jika janji yang diulang-ulang itu tidak terkandung dalam firman Tuhan, “Melaluimu semua bangsa bumi akan diberkahi” dan khususnya ungkapan Benih “yang akan keluar dari mangkuk-mangkuk ia akan menjadi ahli warismu” (Kejadian 15:4). 

Janji itu dipenuhi ketika Ismael lahir (Kejadian 16), dan Abraham mendapat penghiburan bahwa pelayan utamanya Eliezer tidak akan lagi menjadi ahli warisnya.
Konsekuensinya, kita harus mengakui bahwa Ismael adalah pewaris martabat dan hak istimewa Abraham yang riil dan sah. Hak prerogatif bahwa “karena Ibrahim maka semua bangsa di bumi akan diberkahi” yang demikian sering diulang-ulang adalah warisan karena hak kelahiran Ismael. Warisan yang menjadi hak Ismael bukanlah tenda tempat di mana Abraham biasa bernaung atau seekor unta tertentu yang biasa ditunggangi oleh Abraham, melainkan hak untuk menaklukkan dan menduduki selama-lamanya wilayah yang terbentang sangat luas mulai dari sungai Nil sampai dengan sungai Eufrat, yang terbukti hingga kini dihuni oleh sekitar 10 bangsa-bangsa yang berasal dari keturunan Ismael. Negeri-negeri tersebut belum pernah ditaklukkan oleh keturunan Ishak, sebagai bukti pemenuhan yang nyata dari perjanjian antara Allah dengan Abraham untuk Ismael! 
Ketiga, Ishak juga lahir dan diberkati oleh Allah, dan bahwa untuk kaumnyalah negeri Kanaan dijanjikan dan terbukti benar-benar dikuasai oleh Yoshua. Tidak seorang muslim pun pernah berpikir untuk meremehkan kedudukan Ishak sebagai seorang nabi, karena memusuhi nabi Allah sama artinya dengan memusuhi Allah yang mengutus para nabi-Nya. Oleh karenanya, ketika umat Islam dihadapkan pada tuntutan untuk membedakan derajat antara Ismael dan Ishak, tidak ada sikap lain yang pantas ditunjukkan kecuali bersikap hormat pada kedua hamba Allah yang dimuliakan oleh Allah tersebut.


[Sumber: Benjamin Keldani, Menguak misteri Muhammad | Willy Versace Al-Aydruze Andri]

Sorga Menurut Logika Seorang Muslim


Kita mulai dari sini:
Surga Islam penuh dengan pesta seks dan kemaksiatan?
Bagi umat islam, tudingan seperti ini adalah cerminan dari cacat logika umat kristen yang betul-betul sudah rusak berat alias tidak waras lagi sebagai akibat terlalu banyak menelan doktrin dan dogma gereja yang awalnya diciptakan salah oleh Paulus sehingga terpaksa terus menerus dimodifikasi oleh penererusnya.

Menurut anda sorga itu apa?
  • Tempat kerja paksa?
  • Tempat penyiksaan?
  • Kantor polisi?
  • Tempat beribadah?
  • Atau tempat yang paling menyenangkan?
Sebenarnya penjelasan 'tafsir' tentang sorga dan bidadari menurut Al-Qur'an dan hadits cukup banyak bertaburan di internet, namun bagi kebanyakan umat kristen yang hasratnya bukan untuk belajar melainkan hanya ingin 'mengolok-olok' ajaran Muhammad saw, tentu saja dianggap bacaan tidak menarik.

Karena itu secara ringkas akan saya simpulkan saja bahwa menurut pandangan muslim, setidaknya saya, sorga adalah sesuatu yang "tak terbayangkan" bentuknya oleh manusia yang masih hidup di dunia, dan sesuatu yang "tak terbayangkan" bentuknya itu dipersiapkan sebagai tempat yang dijanjikan oleh Allah bagi siapa saja yang "lulus ujian" selama hidup di dunia.

Dalam konteks ini, kita persempit lagi menjadi: bagi mereka yang terbukti telah berusaha semampunya untuk melaksanakan segala perintah Allah dan berusaha sekuatnya pula menghindarkan dirinya dari melakukan segala bentuk perbuatan yang diharamkan oleh Allah, yakni perbuatan-perbuatan dosa yang sangat 'menggairahkan' dalam kehidupan dunia.

Di dunia, sebagai makhluk yang diberi "free will" oleh Allah kita bebas mendapatkan dan merasakan semua kenikmatan itu, namun di sisi lain, Allah juga menetapkan hukum-hukum yang jelas dalam mengaktualisasi kebebasan tsb sehingga kita juga menjadi tahu mana kenikmatan yang halal dan mana yang haram. Konsekuensinya, setiap muslim harus berjuang keras melawan dirinya sendiri (baca: godaan iblis) untuk tidak melakukan semua yang diharamkan oleh Allah baginya.

Sebagai manusia normal yang memiliki nafsu juga akal, larangan ini tentu saja sangat menyiksa sepanjang hidupnya. Tapi itulah yang namanya ujian!

[QS. 29:2] Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan,"Kami telah beriman", dan mereka tidak diuji? 

[QS. 18:7] Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.

[QS. 4:124] Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.

[QS. 98:6] Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Di sorga, segala kenikmatan itu kualitasnya beribu-ribu kali lipat lebih baik daripada di dunia!
Informasi tentang sorga dalam ajaran Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits, dari mana manusia diberitahu bahwa sorga adalah tempat yang tak terbayangkan menyenangkannya, tempat yang penuh dengan kenikmatan sebagai balasan atas amal perbuatan baik di dunia.

Penghuninya akan mendapatkan kenikmatan sempurna, diberi kekekalan, disediakan makanan, minuman dan kehidupan yang serba nikmat berikut jutaan kesenangan lainnya. Keinginan apa pun yang mungkin terlintas di kepala, termasuk bila ingin bercengkrama dengan bidadari, misalnya, dalam sekejap segera tersedia!

Sampai di sini, hampir seluruh kristen luar biasa keblinger memahami informasi tentang bidadari di sorga! Bidadari itu sejatinya hanya satu dari jutaan kesenangan lain yang boleh jadi diinginkan oleh penghuni sorga (baca: meninggal seblum menikah), boleh jadi juga tidak.

Al-Qur'an dan hadits juga menginformasikan bahwa bagi para suami atau isteri penghuni sorga yang merindukan kelanjutan hidup bahagia keluarga mereka di dunia dulu (bila seluruh anggota keluarganya "lulus" ujian) akan dipertemukan kembali dengan anak-anak dan pasangannya masing-masing dalam bentuk dan rupa yang jauh lebih baik dibandingkan ketika hidup di dunia. Pasangan mereka ini bahkan digambarkan lebih cantik atau lebih tampan dari para bidadari! 

Artinya para pria (meninggal setelah menikah) mendapatkan bidadari yang adalah istrinya sendiri ketika hidup di dunia, atau (bila isterinya tidak "lulus"ujian) mendapat bidadari sorga sebagai penggantinya.

Para isteri ini akan menjadi ratu bagi bidadari yang akan menjadi istri-isteri dari suaminya (bila si suami berkehendak memiliki lebih dari satu pendamping di sorga) demikian juga sebaliknya.

Kehidupan di dunia tidak sama dengan di sorga, dan itulah sebabnya kenapa disebutkan juga bahwa para bidadari ini senantiasa perawan dan tetap bersih (tidak BAK atau BAB dan tidak mengalami menstruasi, tidak lagi hamil) dan lain sebagainya.

Jika surga difahami lain dari yang dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadits, seperti pemahaman kristen misalnya, di mana diajarkan bahwa sorga adalah tempat manusia hidup kekal seperti malaikat, tidak kawin mawin, tidak makan dan minum, tidak menikmati kesenangan sebagai imbalan segala susah-payahnya dalam usaha mengatasi ujian, dan setiap hari dalam kehidupannya yang kekal itu hanya melantunkan kidung puja-pujian bagi Allah semata, lalu buat apa harus masuk sorga?

Tokh di dunia hal itu sudah kita lakukan? Bukankah kehidupan di sorga yang seperti itu di dunia saja (baca: di mana kita hidup hanya sebentar) sudah terasa demikian sangat membosankan? Apalagi jika selama-lamanya kita hanya akan melakukan hal yang sama? Apakah itu patut dianggap sebagai nikmat dari Allah?

Bagi siapapun yang hari gini masih Kristen, cobalah praktekkan "gladi resik" ini mulai sekarang. Caranya mudah, begitu bangun pagi, jangan sarapan, tapi langsung menghadap tembok di mana tergantung gambar Yesus, atau bentuk-bentuk berhala kekristenan lainnya seperti misalnya replika palang salib. Kemudian, mulailah lantunkan kidung-kidung pujian selama yang anda sanggup sampai anda merasa letih, lalu beristirahatlah. Tapi jika anda merasa haus atau lapar, INGAT! Jangan minum apalagi makan!

Setelah cukup beristirahat, kembalilah lagi menghadap tembok di mana tadi anda melantunkan kudung-kidung pujian, lalu lanjutkan lagi puji-pujian anda sampai anda merasa letih dan perlu istirahat, tapi INGAT! Jangan minum dan makan! Esoknya, lakukan lagi hal yang sama, demikian juga pada hari-hari berikutnya.

Jika itu benar-benar anda lakukan, maka dijamin! Belum genap seminggu, anda sudah merasa seperti orang gila karena tidak sanggup lagi melawan rasa bosan yang luar biasa! Padahal, hal seperti itulah yang menurut doktrin Kristen sendiri kelak akan anda lakukan setiap hari, yang lama satu harinya sama dengan seribu tahun di dunia, untuk selama-lamanya!        
  
Islam agama yang fundamennya adalah logika, dan ajaran islam sendiri yang mengisyaratkan bahwa hanya logika orang tidak waras yang mau menerima begitu saja janji-janji sorga yang sedemikian "dingin" dan "tak menggairahkan" bagi siapa pun juga!

Sorga memang seharusnya menjadi tempat di mana segala bentuk hukum Allah di dunia (yang sifatnya sebagai ujian bagi manusia) dilepaskan dari seluruh ikatannya. Di sorgalah semua citarasa yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang shaleh selama hidupnya boleh mereka dapatkan, bahkan dengan kualitas yang beribu kali lipat lebih baik daripada yang pernah dinikmati  oleh para pembangkang di dunia, yang pada gilirannya harus menerima konsekuensinya menjadi pesakitan di neraka untuk selama-lamanya! 

Tapi masuk sorga kristen? 
Sama saja dengan masuk neraka!


[Sumber: Gus Mendem Menjawab Kristen]



Al-Quran, miskonsepsi Trinitas dan ketuhanan Maria?


Di antara keistimewaan Islam adalah apabila berada pada posisi dicerca, dihina, dan dimarginalkan maka yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Islam disudutkan maka semakin terlihat kebenaran ajaran dan kesesuaiannya dengan fithrah manusia. Agama ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan menurut kadar akalnya masing-masing. Mungkin inilah rahasia mengapa Islam selalu berhasil menundukkan peradaban yang memusuhinya.

Terbukti di sejumlah negara seperti Amerika, Inggris, Belanda, dan negara Barat lainnya yang mengalami kondisi kekosongan spiritual, mulai menunjukkan geliat sebagian penduduknya menuju Islam. Munculnya kartun berisi penghinaan terhadap nabi di surat kabar Jylland Posten atau beredarnya film Fitna yang menghujat Islam hanya merupakan percikan kecil di antara kekhawatiran akan menguatnya syariat Islam di belahan dunia Barat.

Barat juga telah memunculkan sejumlah karya tulis yang menunjukkan kecemasan yang sama. Di antaranya adalah karya Robert Morey bertitle “Islamic Invasion: Confronting the World’s Fastest Growing Religion”.

Dari judulnya saja telah nampak sebuah wajah “ketakutan”. Hatta buku tersebut dikemas dengan “bergaya” sebagai karya tulis ilmiah, namun nyatanya isinya tidak seilmiah kemasannya. Motif kebencian dan islamophobia sedemikian menyeruak dan nampak berpengaruh besar terhadap obyektifitas kajian, tentu saja jika Barat masih mau berfikir tentang subyektif, obyektif, atau pun netralitas. Tidak mengherankan jika sejumlah kalangan muslim meminta buku tersebut dibredel dari peredaran. Namun menurut pendapat umum tindakan demikian kurang bijaksana. Justru buku tersebut merupakan sebuah simbol, asset, dan bukti monumental “kebencian” Barat yang katanya humanis. Fungsinya sebagai salah satu pijakan untuk melihat salah satu struktur dan pola pikir Barat dalam melihat Islam. Pada giliran selajutnya membalikkan keadaan dan akan semakin nampak keunggulan konsep Islam di antara yang lain.
Dalam salah satu tulisannya, Morey mempermasalahkan posisi Maryam dalam Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 73-75 dan 116. Al-Qur'an, dalam pandangan Morey, mengandung kesalahan kosep dalam mengungkapkan doktrin trinitas Kristen. Muhammad, tulis Morey, secara keliru menganggap bahwa umat Nashrani menyembah 3 (tiga) tuhan yaitu: Bapa, Ibu (Maryam), dan Anak (Isa).[1] Guna memperkuat argumentasinya, Morey juga mengutip pendapat Richard Bell dan Encyclopaedia Britanica yang menegaskan bahwa Al-Qur'an mengandung kesalahan konsep tentang trinitas, dan Muhammad sebagai penulis Al-Qur'an kurang memahami hal tersebut.[2]
Morey menambahkan bahwa umat Kristiani tidak pernah mengimani tiga Tuhan dan Maria bukan merupakan salah satu oknum dalam ketuhanan Trinitas sebagaimana konsep dalam Al-Qur'an. Morey sendiri nampaknya telah menjadi sedemikian yakin dengan argumentasinya yang didukung oleh sejumlah ‘kebingungan’ penulis dari kalangan Islam tentang tafsir ayat tersebut. Lantas, benarkah Al-Qur'an telah salah ketika menyebutkan bahwa Maryam pernah disembah sebagai tuhan?

FAKTA YANG DILUPAKAN
Ayat Al-Qur'an yang dipermasalahkan oleh Robert Morey adalah Surat Al Maidah ayat 73 sampai 75 sebagai berikut:

73. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

74. Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

75. Al masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang Sesungguhnya Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).

Juga ayat dalam Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 116 sebagai berikut:

116. Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.
Permasalahan pertama yang akan kita bahas terkait konsep penyembahan terhadap Maryam dalam dunia Kristen. Robert Morey secara tegas menolak posisi Maryam sebagai salahsatu Tuhan dari oknum ketuhanan trinitas. Nampak bahwa Morey telah mempersulit dirinya sendiri pada tahap awal dengan menempatkan realitas antara penuhanan Maryam dengan keanggotaannya sebagai salahsatu oknum trinitas.
Senada dengan Morey, Geoffrey Parrinder menyatakan bahwa ayat Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 116 sulit dipahami dalam kekristenan. Menurut Parrinder, pada abad V, Nestorius, seorang bangsawan Konstantinopel, telah memprotes penggunaan gelar ”ibu Tuhan” (theotokos, god-bearer) yang berkembang dan diterapkan kepada Maryam. Nestorius menyatakan, seharusnya digunakan kata ’ibu manusia’ Yesus (anthropotokos); ibu Kristus (cristo-tokos).

Nestorius juga tidak bersedia mengakui penggunaan frase seperti itu yang berarti bahwa ”Tuhan telah dilahirkan” dan ”Tuhan telah mengalami penderitaan” sebagaimana banyak digunakan pada hari ini. Nestorius mengajarkan bahwa Yesus adalah organ bejana dan kuil bagi anak Tuhan. Karena pemahaman inilah maka gereja Nestorian akhirnya terpisah.[3]

Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria di Indonesia, nampaknya juga memberikan pengakuan bahwa bentuk pseudotrinity yang terdiri dari Allah, Isa, dan Maryam adalah sebuah realitas yang pernah terjadi. Namun Noorsena membatasi bahwa reaksi Al-Qur'an yang kerap kali kritis terhadap sejumlah keyakinan Kristen, tidak semua didasarkan atas kekristenan yang orthodoks. Penilaian Islam tentang Kristen, menurut Noorsena, tidak ditujukan pada kekristenan yang lurus dan benar, namun lebih ditujukan kepada praktik-praktik sekte-sekte Kristen yang sesat dan menyimpang (heterodoks).[4] Hakikatnya, Noorsena mengakui bahwa praktik penuhanan terhadap pribadi Maryam bukanlah sebuah omong kosong, namun merupakan fakta historis.

Sebagai sebuah realitas historis, sisa-sisa penyembahan terhadap Maryam masih dapat ditemukan hingga hari ini. Di sejumlah wilayah Eropa, termasuk Polandia, bahkan Inggris Raya dan Perancis Selatan. Mmenurut survey yang dilakukan oleh Ean Begg pada tahun 1985, masih ditemukan patung bunda Maria yang berwarna hitam yang dikenal dengan sebutan black virgin atau Black Madonna.[5] Patung tersebut sengaja dibuat untuk dipuja atau disembah sebagai tuhan. Bahkan patun-patung tersebut selalu diasosiasikan dengan sejumlah situs pemujaan kaum pagan dari masa yang jauh lebih kuno.[6]

Ditengarai bahwa penyembahan terhadap pribadi Maria merupakan hasil proses adopsi dan perkembangan dari pemujaan terhadap sejumlah dewi pagan yang memiliki kisah kehidupan sama persis dengan kisah Yesus dan Ibunya, Maria.

Dalam kebudayaan paganisme dikenal Bacchus (Dionysius) yaitu dewa matahari Yunani yang lahir dari kandungan seorang perawan bernama Demeter yang mengandung dari benih Dewa Jupiter tanpa hubungan badan. Bacchus lahir pada tanggal 25 Desember dan terbunuh untuk menebus dosa manusia. Dikisahkan pula bahwa Bacchus kemudian bangkit kembali dari kematiannya.[7]

Bangsa Mesir juga mengenal Osiris, dewa matahari yang lahir pada 25 Desember dari kandungan seorang perawan yang disebut ’Perawan Dunia’. Osiris memiliki 12 orang murid. Salah satu muridnya yang bernama Typhone berkhianat hingga menyebabkan kematian Osiris. Setelah bersemayam selama tiga hari dalam kuburnya, Osiris bangkit kembali dari kematiannya. Ia diyakini sebagai inkarnasi Tuhan dan merupakan salah satu dari oknum trinitas 3 Dewa di Mesir.[8]

Demikian juga dalam cerita mithologi yang lain tersebutlah Mithra yang lahir pada tanggal 25 Desember. Memiliki pemujaan yang dilakukan setiap hari Minggu. Mithra adalah seorang juru selamat yang menebus dosa manusia. Dia tidak disalib namun mengurbankan lembu suci yang darahnya mensucikan dan menebus dosa manusia. Lembu itu tidak lain adalah inkarnasi dari sang Mithra sendiri. Perayaan Mithra biasanya ditandai dengan keberadaan pohon terang.

Penyembahan terhadap sosok ibu Tuhan umumnya terjadi dalam kepercayaan pagan yang dsebutkan di atas. Masing-masing wilayah penyembah paganisme memiliki Tuhan Ibu dan Tuhan Anak. Di Jerman, Hertha disembah sebagai ibu suci dengan anak dipangkuannya. Di Scandinavia, Disa disembah sebagai tuhan ibu dengan anak dipangkuannya juga. Sedangkan di Romawi purba, Venus atau Fortuna juga dipuja sebagi tuhan Ibu bersama Jupiter anaknya.[9]

Ralph Edward Woodrow dalam buku Babylon Mysteri Religion mengutip buku Frazer, The Golden Bought Volume 1 Halaman 356 menjelaskan fakta bahwa penyembahan terhadap Tuhan Ibu dan Tuhan Anak telah menyebar dan merasuk kepada masyarakat kerajaan Romawi dan sekitarnya. Hal tersebut diungkapkan oleh Woodrow sebagi berikut:

“The Worship of Great Mother … very popular under the Roman Empire, unscriptions prove that the two (the mother and the child) receive divine honors, … not only in Italy and especially at Rome, but also in the provinces, particularly in Arican, Spain, Portugal, France, Germany, and Bulgaria”.[10]

Akibatnya bisa dipastikan, penyembahan Tuhan Ibu dalam Kristen tidak dapat dihindari setelah para penyembah berhala dari Romawi, Yunani, Babilonia, dan Mesir memeluk ajaran Kristen. Dalam agama barunya tersebut para mantan penyembah berhala tidak mendapatkan penyaluran yang sesuai dengan semangat penyembahan Tuhan Ibu. Padahal mereka belum dapat sepenuhnnya meninggalkan ajaran paganisme. Woodrow menulis bahwa kompromi pun terjadi, pihak gereja mencarikn padanan terhadap figure ibu yang disembah oleh kaum mantan kaum pagan dalam khazanah kekristenan. Tuhan Ibu yang dimaksud tidak lain adalah Maria, Ibu Yesus.

“One of the best example of such a carry over from paganism may be seen in the way the worship o the great mother continued – only in a slightly different form and with a new name. You see many pagans had been drawn to Christianity, but so strong was their adoration for the mother goddess, they did not want to forsake her. Compromising church leaders saw that if they could find some similarity in Christianity with the worship of the mother goddess, they could greatly increase their numbers … but who could replace the great mother of paganism ? Mary, of course was the most logical person for them to choose … little by little, the worship that had been associated with the pagan mother was transferred to Marry”.[11]

Maka tidak mengherankan pasca munculnya kritik Nestorius yang menolak istilah “bunda Tuhan”, gereja justru mengukuhkan posisi Maria sebagai Theotokos atau Ibu Tuhan dalam Konsili Efesus tahun 431 M. Salah satu butir yang dihasilkan dalam konsili tersebut adalah sebagai berikut: 

“Menurut pengertian bahwa kesatuan ini tidak mencampur adukkan, kami mengaku bahwa anak dara kudus adalah theotokos (bunda Allah), karena Allah Firman menjelma menjadi manusia dan sejak pembuahan-Nya menyatukan pada diri-Nya bait yang diambil daripadanya (Maria)”.[12]
Berdasarkan informasi Ibnu Patrick, seorang sejarawan dan padri Kristen, menjelang Konsili Nicea 325M dari jumlah peserta keseluruhan 2.048 orang, terdapat sebagian peserta dari mahzab Mariamites dan Remitim yang berpendapat bahwa Yesus dan Ibunya adalah 2 (dua) Tuhan selain Bapa.[13]
Selain itu terdapat aliran Ebionit yang secara jelas juga memuja Maria sebagai Tuhan Ibu. Penganut aliran Ebionit dikenal sebagai aliran yang para penganutnya menggunakan bulu domba sebagai pakaian. Bulu domba tersebut dikenakan agar mereka dapat hidup dalam kesederhanaan. Dalam hal ini tradisi mereka mengenakan kulit domba sebagai pakaian mirip dengan tradisi kaum sufi generasi awal dalam Islam yang menutamakan kezuhudan. Gambaran tentang cara berpakain kaum Ebionit ini dapat kita lihat kemiripannya dengan kisah Perjanjian Baru dalam Ibrani 11: 37.

Tentang apakah penyembahan terhadap Maria adalah bentuk Kekristenan heterodoks yang menyimpang maka biarlah waktu yang akan menentukan. Sebab sejumlah pertarungan keyakinan yang medasar dalam dunia Kristen sendiri bahkan belum selesai hingga hari ini.

Sebut saja pertarungan antara kaum Trinitarian dan Unitarian. Satu pihak mengakui trinitas dengan sejumlah argumentasinya dan dipihak lain menolaknya dan menganggap bahwa Yesus hanya seorang nabi dan bukan Tuhan. Sedangkan bagi seorang penganut Kristen, terkait masalah penyembahan dan Ketuhanan Maria tentu akan lebih menguntungkan jika hal ini terhapus saja dari ingatan sejarah.

Masalah trinitas yang diakui mayoritas dunia Kristen dewasa ini juga bukan tanpa cacat sejarah. Konsili Nicea pada 325M, menurut informasi Ibnu Patrick, dihadiri oleh 2.048 orang peserta yang terdiri diri para uskup. 318 (tiga ratus delapan belas) orang diketahui sebagai pendukung konsep ketuhanan Yesus. Sedangkan 700 (tujuh ratus) orang uskup merupakan pendukung Arius yang menolak hakikat ketuhanan Yesus, dan sisanya memiliki sejumlah kepercayaan yang berbeda, termasuk yang mempercayai Ketuhanan Maria. Namun, anehnya berkat prakarsa Kaisar Konstantin, hanya pendapat 318 orang (pendukung ketuhanan Yesus) tersebut yang kemudian dimenangkan. Jelas kaisar Konstantin telah memerankan agenda politik pribadinya dengan sukses.
Lantas, di mana letak kesalahan atau miskonsepsi Al-Quran tentang trinitas Kristen? Al-Qur'an jelas dalam ayat tersebut tidak membahas tentang trinitas. Hal tersebut hanya merupakan bagian dari upaya Robert Morey dalam menyudutkan Islam. Namun jawaban atas pertanyaan ”apakah Al-Qur'an telah salah?” jawabannya adalah ”Tidak!”
Justru kehebatan Al-Qur'an adalah mampu memberikan isyarat bagi pengungkapan kebenaran sejarah, dimana dunia pun telah berusaha secara maksimal untuk melupakannya.

Tuduhan Robert Morey bahwa Al-Qur'an memiliki kesalahan konsepsi tentang trinitas terbukti tidak benar. Konsep Trinitas dalam dunia Kristen sendiri mengalami perkembangan dari masa ke masa termasuk bersentuhan dengan sejumlah peradaban dan kepercayaan lainnya. Kebenaran lain yang terungkap justru teletak pada ketidakbenaran pemahaman Morey terhadap sejarah agamanya sendiri. Sehingga bukunya ”Islamic Invasion” sering diwarnai dengan pemahaman yang tidak berdasar. Sebuah pemikiran yang hanya lahir didasarkan pada kebencian fanatis yang menutup semua pemikiran akal sehat orang waras.


Baca juga:

CATATAN KAKI:
[1] Robert Morey. Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion. (Christian Scholar Press, Las Vegas, 1992). Hal 185
[2] Robert Morey. Ibid. Hal. 186
[3] Geoffrey Parrinder. Yesus dalam Quran. (Terj. oleh Ali Masrur, ett. all). (Bintang Cemerlang, Yogyakarta, 2002). Hal. 88
[4] Bambang Noorsena. Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. Cetakan IX. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2001). Hal. 6-7
[5] Burton L. Mack. The Lost Gospel: The Book of Q and Christian Origins. (Element Books, Shaftesbury, 1994). Hal. 51 dalam Lynn Picknet and Clive Prince. The Templar Revelation : Secret Guardians of The True Identity of Christ. Edisi Indonesia : The Templar Revelation : Para Pelindung Sejati Identitas Kristus. (Bantam Press, 1997). Terjemah oleh FX Dono Suhadi. Cetakan II. (Serambi, Jakarta, 2006). Hal. 121
[6] Lynn Picknett dan Clive Prince. Ibid. Hal. 33
[7] Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Kristen dan Agama Berhala. (Modus Vol. 1 No. 9 Th. II/2004). Hal. 46
[8] Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Ibid. Hal. 46
[9] Tim Redaksi. Tuhan Ibu dan Ibu Tuhan. (Modus Vol. 1 No. 5/Th. II/ 2004). Hal. 25
[10] Tim Redaksi. Ibid. Hal. 26
[11] Tim Redaksi. Ibid. Hal. 28
[12] Tony Lane. The Lion Concise Book of Christian Thought. (Lion Publishing, England, 1984). Edisi Indonesia : Runtut Pijar Pemikiran Kristiani. Terjemah oleh Conny Corputy. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1990). Hal. 47
[13] Prof. Sjech Abuzahrah. Muhadlarat fi an Nasrabiyah. Edisi Indonesia: Tindjauan Tentang Agama Masehi. (AB. Sitti Sjamsijah, Surakarta, 1969). Hal. 140. Juga DR. Rauf Syalabi. Ya ahl al Kitab Ta’alaw ila kalimat sawa’. Edisi Indonesia: Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus. (Pustaka Alkautsar, Jakarta, 2001). Hal. 127