Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Kenapa Anjing Najis?


Allah SWT berfirman:

"(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar." (QS. An-Nisaa[4]:13).

Ketetapan hukum (syariat) ) dalam Islam [1] bersumber hanya dari tiga pokok ajaran, yakni Al-Qur'an, Hadits dan Ijtihad. Al-Qur'an adalah firman Allah swt, sedangkan Hadits adalahsabda Rasulullah saw yang bersumber dari firman Allah swt. [2]

Adapun Ijtihad secara harfiah berasal darikata 'jahada' yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. Menurut istilah dalam ilmu fikih, ijtihad berarti mengerahkan tenaga dan pikiran dengan sungguh-sungguh untuk menyelidiki dan mengeluarkan (mengistimbatkan) hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an. Seorang muslim yang melakukan ijtihad disebut dengan Mujtahid, sedangkan persoalan yang dipertimbangkannya disebut Mujtahid Fihi. Mereka inilah orang-orang yang sangat dalam penetahuannya tentang Al-Qur'an dan hadits nabi.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Sucinya wadah seseorang saat dijilat anjing adalah dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dengan menggunakan tanah.”

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda, ‘Apabila anjing menjilat wadah seseorang, maka keriklah (bekasnya) lalu basuhlah wadah itu tujuh kali,”  [HR Muslim].

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Siapa yang memegang anjing, maka pahala amal (ibadah)nya setiap hari akan berkurang satu qirath (1 inchi/2,5 cm), kecuali anjing penjaga atau anjing peliharaan,” [HR Al-Bukhari dan Muslim].

Hadits yang disabdakan oleh Rasulullah Saw di atas menunjuk pada dua hal:
  1. Keharusan mengerik wadah yang dijilat aniing.
  2. Menyucikan wadah bekas jilatan anjing dengan cara membasuhinya tujuh kali, salah satunya dengan menggunakan tanah.

Penemuan Ilmiah
Penemuan ilmiah berkaitan dengan hadits yang pertama adalah kesimpulan para dokter yang menetapkan bahwa dalam proses membasuh wadah bekas jilatan arijing harus disertai dengan tanah. Mereka menjelaskan alasannya secara detail sebagal berikut:

1. Dalam sebuah forum tentang kesehatan umum para dokter mengemukakan rahasia kenapa harus tanah tidak bahan lainnya. Dalam forum tersebut, dijelaskan sebagai berikut:

“Hikmah tujuh kali basuhan yang salah satunya dengan tanah dalam menghilangkan najis jilatan anjing adalah bahwa virus anjing itu sangat lembut dan kecil. Sebagaimana diketahui, semakin kecil ukuran mikroba, ia akan semakin efektif untuk menempel dan melekat pada dinding sebuah wadah. Air liur anjing yang mengandung virus berbentuk pita cair. Dalam hal ini, tanah berperan sebagai penyerap mikroba berikut virus-virusnya yang menempel dengan lembut pada wadah.”

2. Secara ilmiah, tanah mengandung dua materi yang dapat membunuh kuman-kuman. Menurut para dokter, ilmu Kedokteran modern telah menetapkan bahwa tanah mengandung dua materi: tetracycline dan tetarolite. Dua unsur ini digunakan untuk proses pembasmian (sterilisasi) beberapa kuman.

3. Beberapa dokter peneliti dahulu memperkirakan bahwa tanah kuburan mengandung kuman-kuman tertentu yang berasal dan bangkai-bangkai mayat yang dikubur. Namun sekarang, eksperimen-eksperimen dan beberapa hipotesa menjelaskan bahwa tanah merupakan unsur yang efektif dalam membunuh kuman. Demikianlah yang dilansir oleh himpunan dokter ahli. Mereka berpendapat sebagai berikut:

“Pada masa modern sekarang ini, para ilmuwan telah melakukan analisis terhadap tanah kuburan untuk mengetahui kuman-kuman yang terkandung di dalamnya. Mereka berkeyakinan dapat menemukan kuman-kuman yang membahayakan dalam jumlah yang banyak. Asumsi ini berdasarkan sebuah fakta bahwa banyak manusia yang matinya karena penyakit yang ditularkan melalui kuman.”

Namun setelah diadakan penelitian, ternyata mereka tidak menemukan bekas apa pun dari kuman penyakit tersebut di dalam tanah. Akhirnya, mereka menarik sebuah kesimpulan bahwa tanah memiliki keunggulan dalam membunuh kuman yang membahayakan. Jika tidak, tentu kuman akan banyak dan menyebar ke mana-mana. Padahal jauh sebelum mereka menemukan kesimpulan tersebut, Nabi Saw telah mengukuhkan hal itu dalam hadits-haditsnya, seperti yang tercantum di atas.

4. Menurut Muhammad Kamil Abd Al-Shamad, mukjizat ilmiah dengan jelas sangat mendukung pengguraian tanah pada salah satu dari tujuh kali basuhan dalam menghilangkan najis jilatan anjing. Ia melansir bahwa tanah mengandung unsur yang cukup kuat menghilangkan bibit-bibit penyakit dan kuman-kuman. Hal ini berdasarkan bahwa molekul-molekul yang terkandung di dalam tanah menyatu dengan kuman-kuman tersebut, sehingga mempermudah dalam proses sterilisasi kuman secara keseluruhan. Ini sebagaimana tanah juga mengandung materi-materi yang dapat mensterilkan bibit-bibit kuman tersebut.

5. Dalam pembahasannya, para dokter mengemukakan alasan penggunaan tanah dalam menghilangkan najis ini, dan mengapa membasuh dengan air saja tidak cukup untuk menghilangkannya. Menurut mereka, kenapa harus dibasuh dengan tanah? Alasannya, karena virus penyebab penyakit akan mencapai puncaknya dalam ukuran kecil. Semakin kecil bentuknya, maka virus itu akan semakin berbahaya, sebab potensi untuk menempel dan melekat pada dinding wadah semakin bertambah.

Membasuh dengan menggunakan tanah lebih kuat dalam proses sterilisasi dibanding membasuh dengan air. Karena, kekuatan tanah dalam menghentikan reaksi air liur anjing dan virus-virus yang terkandung di dalamnya, lebih besar dibandingkan dengan mengguyurkan air atau menggunakan tangan saat membersihkan dinding wadah bekas jilatan anjing. Hal itu dikarenakan ada perbedaan dalam daya tekan pada wilayah antara cainan (air liur anjing) dan tanah. Hal tersebut secara Fisika dapat diumpamakan seperti memasukkan kapur tulis pada bagian tinta.

Penemuan Ilmiah pada Hadits Kedua dan Hadits Ketiga
Hadits kedua dan ketiga mengisyaratkan perintah untuk mengerik wadab bekas jilatan anjing dan haram mendidik anjing untuk kepentingan yang tidak mendesak.

Ilmu pengetahuan telah berhasil menemukan beberapa kesimpulan yang mencengangkan berkaitan dengan kenajisan anjing berikut ini:

dr. Al-Isma’lawi Al-Muhajir mengatakan bahwa penemuan baru dalam kedokteran menguatkan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw. Ketika itu, para dokter mengingatkan untuk berhati-hati saat menyentuh anjing dan mencandainya. Begitu pula untuk waspada jika terkena cairan-cairan yang keluar darinya berupa air liur yang dapat mengakibatkan buta. Para dokter spesialis hewan mengungkapkan bahwa mendidik anjing dan berinteraksi dengan cairan-cairan yang keluar darinya berupa kotoran, air kencing, dan lain sebagainya, dapat menularkan sebuah virus yang disebut “tocks characins”. Virus ini dapat mengakibatkan kaburnya penglihatan dan kebutaan pada manusia.

Setelah melakukan pemerikasaan terhadap 60 ekor anjing, dr. Ian Royt, seorang dokter spesialis hewan di London, Inggris menyimpulkan bahwa seperempat binatang tersebut membawa telur-telur ulat di cairan-cairan yang keluar darinya. Ia menemukan 180 sel telur ulat dalam satu gram bulunya. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan yang ditemukan di lapisan unsur tanah.

Seperempat lainnya membawa 71 sel telur yang mengandung jentik-jentik kuman yang tumbuh berkembang. Tiga di antaranya dapat matang cukup dengan menempelkannya pada kulit.

Laporan para ahli yang dipublikasikan oleh surat kabar di Inggris Daily Mirror menyatakan bahwa sel-sel telur dan ulat ini sangat lengket dengan panjang mencapai 1 milimeter. Ia akan berpindah dengan mudah saat bersentuhan dengan anjing atau mencandainya. Ia akan terus tumbuh berkembang dengan pesat pada bagian yang terletak di belakang mata. Sebagai langkah antisipasi, para dokter menganjurkan untuk membasuh kedua tangan dengan baik, sebelum makan dan setelah bermain dengan anjing. Ini terutama ketika data statistik di Amerilka Serikat menyebutkan bahwa terdapat 10 ribu orang yang terkena virus ulat tersebut. Kebanyakan adalah anak-anak.

Lebih dari 1400 tahun yang lalu Nabi Saw telah menyarankan untuk tidak bersentuhan dengan anjing dan air Iiurnya. Karena pada setiap harinya, anjing sering menjilati tubuhnya. Inilah yang memindahkan kuman-kuman pada kulit, mulut, dan air liurnya. Dengan begitu, anjing berbahaya terhadap kesehatan.

Menurut dr, Abd Al-Hamid Mahmud Thahmaz, secara ilmiah, anjing dapat menularkan berbagai macam penyakit yang membahayakan. Karena, ada ulat-ulat yang tumbuh berkembang biak di dalam ususnya. Ulat itu mengeluarkan telur-telur bersamaan dengan keluarnya kotoran anjing. Ketika anjing menjilati pantatnya, maka telur-telur ulat tersebut akan berpindah padanya.

Kemudian dari jilatan anjing inilah, telur-telur ulat itu akan berpindah pada wadah, piring, dan tangan para pemiliknya. Di antaranya ada yang masuk ke dalam perut, lalu menuju ke pencernaan. Kemudian kulit telur-telur ulat itu terkelupas dan keluarlah anak-anak ulat yang langsung bercampur baur dengan darah dan lendir.

Melalui darah dan lendir tersebut, ulat-ulat penyakit ini merambah pada semua bagian organ tubuh, terutama hati yang merupakan target utama dari organ-organ yang ada di dalam tubuh. Kemudian ulat-ulat itu berkembang di anggota tubuh yang dimasukinya. Ia membentuk sebuah kantong yang penuh berisi dengan embrio anak-anaknya dan cairan bersih, seperti sumber air (mata air). Kantong itu terkadang membesar, sehingga bentuknya menjadi kepala embrio.

Penyakit ini dinamakan penyakit kantong cairan. Indikasinya muncul sesuai dengan anggota tubuh yang ditempatinya. Indikasi paling berbahaya menyerang otak dan otot jantung. Untuk menyembuhkan penyakit ini tidak ada obatnya kecuali dengan operasi.

Para dokter menguatkan bahaya ulat ini dan racun air liur yang disebabkan oleh anjing. Para dokter melaporkan bahwa penyakit ini biasanya berpindah pada manusia atau hewan melalui air liur pembawa virus yang masuk pada bekas jilatannya atau pada luka yang terkena air liurnya.

Sekelompok dokter menjelaskan bahwa ketika ulat-ulat ini sampai pada tubuh manusia, maka ia akan bersemayam di bagian organ tubuh manusia melalui air liur anjing. Para dokter mengatakan bahwa paru-paru dapat terkena ulat Echinococcosis.

Ulat yang bersemayam di paru-paru, yang bertempat di hati dan beberapa organ tubuh bagian dalam Iainnya, mengakibatkan terbentuknya kantong yang penuh dengan cairan. Dari luar, kantong ini diliputi oleh dua lapisan dengan ukuran kantong sebesar bentuk kepala embrio. Penyakit tersebut berkembang dengan lambat. Ulat Echinococcosis dapat tumbuh berkembang di dalam kantong itu selama bertahun-tahun. Dengan demikian, penyakit menular itu dapat berpindah dari anjing kepada manusia.


[Sumber: Islam menjawab Fitnah]

Ada Apa Dengan Sayap Lalat?


Dalam satu Hadist yang diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

"Jika lalat jatuh ke dalam minuman mu,tenggelamkanlah, hingga terbenam seluruhnya kedalam air,kemudian angkat dan buanglah.karena satu sayap lalat mengandung penyakit sementara sayap yang lain memiliki penawarnya."  [HR. Abu Hurairah]

Hadist ini menyatakan bahwa lalat mengandung penyakit pada satu sayap dan sayap yang lain adalah penawar (anti) dari penyakit tersebut. Para ilmuwan meneliti bahwa lalat membawa bakteri pada sayap sebelah kirinya dan membawa penawar (antidote) pada sayap sebelah kanannya. Jadi, dengan jalan menenggelamkan seluruhnya kedalam air, maka (dengan ijin Allah) antidote akan akan membunuh mikroba.

Banyak orang yang 'merasa' tidak sependapat dengan ajaran menenggelamkan lalat ke dalam makanan atau minuman yang dicemari oleh lalat, namun begitu hal ini hanyalah jalan terahir pada saat darurat. Misalnya, ketika seseorang berada di tengah gurun pasir di mana tidak ada lagi minuman selain apa yang telah dimasuki lalat itu. Dia tidak punya pilihan lain kecuali melakukan apa yang diajarkan dalam hadist ini. Sebab kalau tidak, maka dia akan mati karena kehausan. Seseorang boleh saja menolak melakukan hal itu, tapi dia tidak punya alasan untuk meragukan keotentikan hadist ini, karena hadist ini adalah hadist yang dianggap kuat dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Lalat adalah hewan yang banyak dijumpai di bumi ini. Ada sekitar 87.000 jenis lalat. Mereka mendapat makanannya dari tempat tempat sampah, bangkai hewan, atau tumbuhan mati yang mengandung banyak bakteri, mikroba, virus dan kuman.

Bakteri adalah organism hidup yang sangat kecil. Ada bermilyar-milyar bakteri dalam satu gram tanah pertanian. Dan ada berjuta-juta bakteri dalam satu percikan ludah. Pengaruh bakteri dalam kehidupan sangat tak terbatas. Tanpa bakteri tak ada tanaman yang dapat tumbuh. Dan kalau tidak ada tanaman yang tumbuh, tidak ada manusia atau hewan yang dapat hidup. Sebagian besar bakteri tidak berbahaya, tapi ada bakteri yang dapat menimbulkan penyakit, bahkan kematian.

Virus sebenarnya adalah Nucleid acid (baik DNA maupun RNA). Mereka memiliki kemampuan untuk membungkus dirinya dengan lapisan protein dan membentuk unit yang berbeda yang disebut Virion. Partikel virus atau virion ini memiliki kemampuan untuk menginvasi sel sel induk (host cell) yang membuat mereka memproduksi lebih banyak virus atau menghancurkan jaringan dari host cell ini. Itulah sebabnya virus menyebabkan terjadinya penyakit yang menjangkiti manusia, tumbuhan dan hewan.

Ada sejenis virus yang menularkan sel bakteri yang disebut “Bacteriophage” sedangkan tipe pembunuh untuk bakteri ini di sebut bacteriophage pembunuh. Sementara yang merupakan tipe tidak berbahaya disebut temperate bakteriophage.

Maha suci Allah yang menciptakan segala sesuatu berpasangan. Ada malam ada siang, ada posistif ada negative, begitu juga ada bacteri dan bacteriophage.

Allah yang Maha Kuasa memberikan lalat kemampuan untuk membawa kuman pada satu sayap dan pemunahnya pada sayap yang lain. Kalau tidak demikian, dipastikan spesies lalat sudah punah saat ini.

Lalat membawa virus dari berbagai penyakit yang kemudian ditularkan kepada manusia melalui makanan, minuman atau atau langsung ke tubuh manusia. Penyakit yang disebabkan oleh virus itu antara lain adalah, flu, cacar air, campak, daire, beberapa jenis kanker, dan beberapa penyakit yang berhubungan dengan sistim syaraf pusat dll.

Virus juga menyebabkan penyakit yang menulari ternak, kambing dan burung. Virulent bacteriophage membunuh sel bakteri dalam waktu sangat cepat. Temperate bacteriophage menjaga sel bakteri yang menyerang itu agar tetap hidup. Dibutuhkan sejenis kekebalan untuk menhadapi virus yang sama atau memproduksi virus yang sama.

Sekelompok peneliti di Arab Saudi dan Mesir melakukan beberapa eksperimen yang terkait dengan hal ini. Mereka menaruh air, air jeruk, dan madu pada beberapa wadah Kemudian membiarkan lalat masuk ke dalamnya. Kemudian beberapa lalat yang masuk itu ditenggelamkan. Hasnya, adah yang berisi cairan di mana lalat tidak ditenggelamkan memiliki (mengandung) banyak bakteri sementara pada wadah yang lalatnya ditenggelamkan sama sekali tidak ditemukan bakteri!

Manusia mengenal antidote untuk pathogen berbagai tipe bakteri dan bacteriophage baru pada akhir abad 20. Sementara Nabi telah mengungkapkannya 1400 tahun yang lalu, ketika manusia tidak tahu apa-apa mengenai ilmu pengetahuan. Tapi keakuratan informasi dalam hadist ini luar biasa; bahwa satu sayap lalat membawa antidote atas pathogen yang di bawa oleh sayap yang lain.

"Dan perumpamaan perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia dan tiada yang memahaminya, kecuali orang orang yang berilmu." (QS. Al-Ankabut: 43)

Subhanallah!


Lalat, Seperti Diceritakan Dalam Al-Quran

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj [22]: 73-74)

Hikmah Pertama
Pernahkah kita berfikir sejenak tentang hikmah penciptaan seekor lalat yang dianggap menjijikkan oleh manusia? Cerita tentang lalat bukanlah hikayat baru. Lalat pernah mewarnai kisah sejarah yang tercatat dalam lembaran Al-Quran yang mulia. Buktinya? Perhatikan lagi kalam Agung ini:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ۬ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابً۬ا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُ ۥ‌ۖ وَإِن يَسۡلُبۡہُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـًٔ۬ا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُ‌ۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلۡمَطۡلُوبُ

"Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah." (QS. Al-Hajj [22]: Ayat 73)

Gambaran yang dilukis dalam ayat Al-Quran ini menunjukkan pengajaran yang berguna untuk difikirkan secara teliti. Ini karena Allah SWT telah mendatangkan perbandingan yang ringkas tetapi pengaruhnya cukup besar kepada manusia khususnya kepada golongan kafir. Pengaruh besar yang dimaksudkan ialah karena ia melibatkan soal Aqidah. Dakwaan golongan kafir yang mengatakan patung-patung ukiran tangan mereka adalah Tuhan harus disembah telah dijawab oleh Allah SWT dengan sindiran tajam yang menusuk jiwa-jiwa mereka. Allah SWT telah menghina golongan yang menyembah patung dengan suatu penghinaan yang melumpuhkan daya fikir mereka secara logika.

Dalam membicarakan konsep ketuhanan, siapapun tidak dapat lari dari penjelasan tentang konsep penciptaan. Oleh yang demikian itu, Allah SWT telah menyuruh golongan ini menciptakan seekor lalat seandainya mereka mengaku mempunyai kekuatan dan kekuasaan yang diberikan patung sesembahan mereka. Lalu, kehinaan ini terus menerus menusuk ke ulu hati mereka memandangkan patung keras tidak bernyawa itu yang mana mungkin mampu menciptakan serangga sekecil lalat, bahkan tidak memberikan sedikit manfaat pun kepada mereka yang menyembahnya.

Tidak cukup dengan itu, Allah SWT menurunkan lagi perintah dengan gaya bahasa dan uslub yang cukup berbekas yaitu seandainya patung itu berkuasa, maka halaulah lalat yang hinggap dihidung ukiran itu tanpa bantuan siapa pun. Ternyata patung itu tidak mampu. Karena jelas tidak memiliki kemampuan untuk langsung memberikan reaksi tindak balas seperti manusia, misalnya.

Begitu juga Allah SWT turut menyuruh agar golongan kafir memohon kepada patung mereka menghapuskan segala macam penyakit berbahaya yang dibawa oleh lalat, yang tentu saja, tidak mampu mereka buktikan!

Uslub Balaghah
Di dalam ayat di atas, Allah SWT menyeru kepada manusia dengan seruan يا أيها الناس atau, “Wahai sekalian manusia!” Ini adalah seruan yang bersifat universal. Menurut terminologi bahasa arab, seruan itu seolah-olah sebagai suatu panggilan yang jauh. Lalu, apa pula yang dimaksudkan dengan suatu panggilan jauh? Maksud firman Allah SWT dalam ayat ini adalah suatu seruan kepada seluruh umat manusia sejak dahulu hingga datangnya hari kiamat.

Mengapa Allah SWT menyebut Lalat, bukan Gajah atau Onta?
Sebab ayat ini seolah-seolah menampar orang kafir yang berkata Tuhan mereka mampu melakukan segala-galanya. Oleh itu, diturunkanlah perintah untuk mencipta lalat yang menjijikkan itu agar mereka berfikir dan terus berfikir. Hatta, mencipta makhluk sekecil lalat - yang jorok - saja sesembahan mereka tidak mampu, konon pula hewan sebesar gajah dan unta?

Apa pula hikmah Allah SWT memilih Lalat untuk dijadikan contoh?
Seperti sudah dimaklumi oleh setiap manusia,  lalat merupakan serangga yang kecil, lemah dan hina bahkan kerjanya cuma memberi kemudharatan kepada manusia dengan mendatangkan bermacam penyakit yang berbahaya, bahkan  hingga membawa kematian pada manusia. Menurut Kitab Jaulah fi Dauhah Al-Adab, di antara penyakit berbahaya yang dibawa oleh lalat ialah jangkitan Tuberculosis (Jarsumah As-sel), Salmonella typhi (At-Taifud), Amebiasis (Ad-Dusnataria) dan Pink Eye (Ar-Ramd).

Hikmah Kedua

"Apabila lalat terjatuh ke dalam bekas minuman salah seorang di antara kamu, celuplah dan kemudian buanglah ia kerana pada sebelah sayapnya mengandung penawar dan di sebelah sayapnya yang lain mempunyai penyakit.”  [HR Bukhari, Imam Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah]

Betapa hebat mukjizat karunia Allah SWT kepada Rasulullah SAW yang mengetahui perkara-perkara ghaib. Sedangkan jika menurut logika akal, sungguh tidak relevan untuk mencelupkan lalat yang kotor untuk kedua kalinya ke dalam cawan minuman yang dicemari oleh lalat. Namun kajian sains modern membuktikan kebenaran kata-kata baginda Rasulullah SAW itu. Menurut Dr. Danial Zainal Abidin dari petikan buku Pengobatan Islam dan Bukti Sains Modern:
Pada hakikatnya, hadis ini memperkenalkan konsep vektor dalam penyebaran penyakit. Vektor ialah hewan dan serangga tertentu, contohnya lalat yang membawa kuman-kuman keapda makhluk lain, seperti manusia. Dalam konteks lalat, konsep vektor ini baru mulai difahami pada abad kesembilanbelas sedangkan Nabi Muhammmad sudah mengajarkan tentang hal itu pada abad ketujuh.
Hikmah Ketiga
Tidakkah anda tertarik saat membaca artikel di sebuah media online misalnya, yang mengatakan bahwa di negara-negara Eropah serangga-serangga kecil seperti lalat jarang ditemui. Ini berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara timur tengah dan beriklim khatulistiwa. Seperti disebutkan di atas, apabila iklim bertukar ke musim panas maka kehadiran lalat yang beribu-ribu itu akan memenuhi ruang udara negara Mesir. Umumnya masyarakat mengetahui lalat ialah sejenis serangga yang hidup di lingkungan yang kotor dan menjijikkan. Malah lalat terus aktif berkembang biak jika kawasan tersebut dibiarkan tanpa pengawasan manusia.

Justru, kita harus melihat ini sebagai hikmah mengapa Allah SWT mendatangkan serangga lalat kepada manusia. Bukankah Islam mengajarkan bahwa menjaga kebersihan adalah sebagian dari iman?
Nah, lihat dan fikirkanlah sendiri hikmahnya.

Apakah menurut anda lalat lebih memilih hidup di tempat bersih yang tidak ada pencemaran yang menjijikkan?

SubhanALLAH!

[Sumber: Rahsia Di Sebalik Kejadian Lalat | Faridrashidi.com]

Lebah, Seperti Diceritakan Dalam Al-Quran


“Dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah : Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, dipohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibikin manusia. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.“  (QS. An-Nahl[16]:68-69)

DELAPAN KEAJAIBAN LEBAH
Jika benar-benar diceramati, paling tidak ada delapan keajaiban yang dimilki oleh lebah, meliputi:

1. SPESIES DAN HABITATNYA
Dari keragaman spesies dan habitatnya. Lebah madu terdiri dari beberapa spesies dengan ciri fisik dan “tempat mangkal” yang saling berbeda: ada Apis dorsata atau lebah hutan, yang di tanah sunda sisebut odeng, dengan daerah penyebaran disekitar wilayah sub-tropis dan tropis Asia seperti Indonesia (dari Sumatra sampai papua), Filiphina dan sekitarnya. Selain itu, Apis laboriosa yang bisa dijumpai didaerah pegunungan Himalaya.

2. KEBHINEKAAN POLIMORFOSISMENYA
Dari sifat polimorfofismenya yang betul-betul bhineka. Setiap anggota koloni memiliki keunikan anatomis, fisiologis, dan fungsi biologis yang sangat berbeda. Selain ada betina yang kelak menjadi ratu (queen) dan jantan (drone ), ada juga kelompok lebah pekerja (worker bees), yang sebenarnya adalah lebah betina namun organ reproduksinya tidak berkembang sempurna. “Pencetakan” jenis kelamin ini sendiri telah disadari jauh-jauh hari, bahkan sejak masih dalam fase awal telur. Setelah kawin, lebah ratu akan mengelilingi sarang untuk mencari sel-sel yang masih kosong. Untuk mengeluarkannya sebutir telur, diperlukan waktu 0,5 menit. Setelah mengeluarkan 30 butir, sang ratu akan istirahat 6 detik untuk makan-diletakkannya didasar sel. Telur calon lebah pekerja disimpannya dibagian sel berukuran kecil, tutup yang rata, dan paling banyak jumlahnya. Sementara telur calon lebih jantan ditempatkan di sel yang ukurannya agak lebih besar, dengan tutup menonjol serta terdapat titik hitam di tengahnya. Ada pun telur calon ratu ditempatkan di sel paling besar, tak teratur dan bisanya terletak dipinggir sarang.

3. TATANAN KEHIDUPUPANNYA
Dari sisi tatanan kehidupannya, lebah merupakan insek sosial yang senantiasa hidup gotong royong dan saling berketergantungan. Pembagian tugas dan organisasinya sangat teratur, tertib, dan disiplin atas kesadaran sendiri untuk mencapai prestasi seoptimal mungkin sehingga kelangsungan dan kesanggupan membentuk koloni sangat kuat. Disamping ada tugas individual , misalnya lebah ratu tugasnya bertelur terus-menerus; lebah jantan mengawini ratu; sementara kelompok lebah pekerja menjaga dan member makan larva, membangun sel-sel baru dan memperbaiki yang lama, serta memproses nektar jadi madu. Ada juga tugas lain yang diemban secara bersama-sama, yaitu menjaga sarang dari serangan musuh.

4. HANYA MENGKONSUMSI  MAKANAN TERBAIK
Mengonsumsi makan yang baik, menghasilkan yang tak kalah baiknya. Hampir semua tanaman berbunga merupakan “ladang” bagi lebah. Dari sana hewan ini mengambil nectar, serbuk sari (pollen) dan air. Nectar adalah suatu senyawa kompleks yang dihasilkan kelenjar necterfier tanaman dalam bentuk larutan, dengan konsentrasi gula bervariasi, mulai 5% smapai 70% atau lebih- makin banyak nectar mengandung gula, makin senang lebah mengunjungi bunga tersebut dan air, antara 40% hingga 80%. Sementara tepung sari, yang dimanfaatkan lebah, terutama sebagai sumber protein, lemak, karbonhidrat, serta sedikit mineral diperoleh dari “antena” atau sel kelamin jantannya tumbuhan. Satu koloni lebah madu membutuhkan sekitar 50 kg tepung sari pertahun. Sekitar separuh dari tepung sari tersebut digunakan untuk makanan larva. Adapun unsur yang dihasilkan, selain madu, yang dipercaya bisa dijadikan makanan dan obat bagi sekian banyak penyakit, terdapat pula royal jelly, bee pollen, lem atau propolis, lilin lebah atau malam (beeswax), serta racun lebah (bee venom atau apitoxin).

5. MAKHLUK JENIS PEKERJA KERAS
Pekerja keras. Lebah pencari pakan merupakan lebah pekerja “ paling senior “ sekaligus tergesit, dengan kecepatan terbang mencapai 65 km perjam, bisa menempuh jarak 46 km nonstop. Bila sedang membawa nektar, diangkut dalam kantong tepung yang ada di kaki, kecepatannya tinggal 30 km perjam dengan kecepatan getaran sayap sebanyak 250 kali perdetik. Untuk mengumpulkan 1 kg madu, seekor lebah harus mengadakan perjalanan 90.000-180.000 kali dan mengunjungi banyak bunga sebelum pulang ke sarang. Ini berarti, jika setiap perjalanan menempuh jarak 3 km pulang pergi, seekor lebah harus menempuh jarak 3 x(90.000-180.000) km untuk menunaikan tugasnya itu.

6. KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI YANG SANGAT MENGAGUMKAN 
Memiliki cara komunikasi yang khas diantara sesamanya. Selain melalui feromon-senyaewa kimia yang dihasilkan dari kelenjar hipofarink ratu lebah-yang berfungsi mengatur aktifitas lebah-lebah pekerja, sebagai daya tarik seksual atau sebgai kompas penuntun koloni bila sedang migrasi, lebah utamnya dilakukan lebah pekerja mampu berkomunikasi lewat tarian. Saat seekor lebah pemandu (scout) mendapat sari bunga, sebenarnya memasuki sarang, ia akan melakukan gerakan dalam delapan tarian seperti mengibaskan perut , ditengah kerumunan lebah lainnya. Kibasan dan tarian tersebut dilakukan dalam pola berbeda dan terorganisasi. Lewat syarat itu, lebah-lebah pekerja lain dapat mengetahui posisi sumber makanan dimaksud tanpa kesulitan.

7. KEMAMPUAN ARSITEKTUR YANG LUAR BIASA
Arsitek cermat. Lebah membangun sarangnya dalam bentuk sel-sel heksagonal (segi enam). Disamping sebagai bentuk “gudang” paling efektif untuk menyimpan madu, mesti diakui, bentuk ini pun dapat memerangkap lebih banyak oksigen dan unsur lainnya yang mereka perlukan dibanding bentuk geometris lain, semisal lingkaran atau segi empat. Pembangunan sarang itu sendiri dimulai dari sudut-sudut yang berbeda hingga akhirnya bertemu secara tepat di tengah.

8. TIDAK SUKA MENGGANGGU DAN DIGANGGU 
Tidak mengganggu kecuali diganggu. Lebah - kecuali yang jantan - dibekali senjata andalan berupa sengat berduri, dengan racun didalamnya . Bagi yang hipersensitif, setiap sengatan dapat menyebabkan reaksi serius. Walau bagi yang tidak hipersensitif, tidak akan menimbulkan dampak apa-apa. Beruntung lebah jarang menggunakannya untuk mengganggu. Baginya, senjata tersebut berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan diri manakala diusik. Boleh jadi, karena keajaiban yang dimilikinya itulah, lebah dipilih untuk menggambarkan manusia seutuhnya. Karena manusia seutuhnya manusaia mukmin, menurut rasul adalah bagaikan lebah, tidak makan kecuali yang baik dan indah, seperti kembang yang semerbak; tidak menghasilkan sesuatu kecuali yang baik dan berguna, seperti madu dan beragam produk lainnya, diamping mampu beradaptasi dengan baik di berbagai tempat, menerima kebinekaan, suka bergotong royong, ulet dalam bekerja, cermat dan tepat dalam berfikir serta tidak mengganggu, kecuali diganggu.

Sementara kita berfikir tentang keajaiban-keajaiban di atas dari perspektif sains modern, maka fikirkan jugalah bahwa pengetahuan tentang ini telah diajarkan oleh Rasulullah SAW lebih dari 14 abad lalu! Dari manakah beliau mendapatkan pengetahuan yang sedemikian detil itu? Fikirkanlah!

Subhanallah!


Semut, Seperti Diceritakan Dalam Al-Qur'an



Profesor Robert Hickling sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti serangga dan merekam getaran-getaran bunyi yang mereka lepaskan. Namun, bahan-bahan yang diperoleh tidak bisa dinyatakan hingga ia mampu merekam bunyi-bunyi yang berasal dari semut. Ia bermaksud meneliti semut di sarangnya. Mereka tidak menemukan metoda yang lebih baik daripada mengikuti bunyi-bunyi semut.

Bagaimanapun, hal yang mengejutkan ilmuwan itu adalah bahwa frekwensi bunyi-bunyi yang dilepaskan semut-semut itu bervariasi dari satu semut dengan semut lain, dan dari jenis semut yang satu dengan jenis semut yang lain. Ada dua belas ribu spesis dalam dunia semut di muka bumi, melebihi ras manusia. Di hadapan jumlah yang luar biasa ini para peneliti bingung mengenai bagaimana mereka mencocokkan semua bunyi tersebut.

Beraneka bunyi semut bisa direkam dengan sukses, dan bagian-bagian dari riset ini diterbitkan di majalan Journal of Sound and Vibration tahun 2006, dan itu adalah pertama kali manusia dapat mendengar suara semut yang sebenarnya!

Peneliti ini menerbitkan banyak riset dan yang paling penting adalah tentang komunikasi antar semut dengan judul Analisis Komunikasi Akustik Oleh Semut di Jurnal Acoustical Society of Amarican Magazine.

Peneliti-peneliti ini menunjukkan bahwa semut-semut melebihi kita dalam komunikasi akustik. Para ilmuwan mengharapkan bahwa semut menggunakan antena-antena untuk mengirim dan menerima getaran suara. Semut memperkuat isyarat-isyarat suara yang diterima seperti yang alat-alat penerima yang canggih.

Lebih dari itu, semut-semut itu bisa menghilangkan bunyi-bunyi yang melebihi batas, sehingga hal tersebut menjadi filtrasi atau klarifikasi terhadap bunyi untuk mencirikannya dari yang lain. Ini merupakan sistem komunikasi yang sangat maju, yang selama ini tidak dikenal para ilmuwan, dan mereka baru menemukannya beberapa tahun yang lalu. Namun al-Qur’an al-Karim telah menyinggung hal tersebut dan mengatakan kepada kita bahwa semut-semut itu berbicara.
Allah berfirman, ‘Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, ‘Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’ (QS. an-Naml: 18)

Di dalam ayat ini, ada suatu bukti yang jelas bahwa semut-semut mempunyai suatu bahasa untuk memahami satu sama lain, dan Allah mengaruniai Sulaiman kemampuan untuk mendengar dan memahami suara-suara mereka. Para ilmuwan berusaha untuk menangkap isyarat-isyarat akustik yang diucapkan semut-semut. Namun, mereka membedakan empat macam bunyi setelah melakukan pengamatan selama bertahun-tahun.

Semut menggunakan sinyal akustik tertentu yang dilepaskanya saat marah. Seekor semut memberi peringatan, lalu ia mengeluarkan panggilan yang bisa diterima, dipahami, dan direspon kawannya dengan segera. Untuk mendengarkan suara semut yang sedang memberi peringatan kepada kawannya, silakan klik di sini.

Para ilmuwan menyatakan bahwa semut-semut itu seperti kita, mereka melaksanakan tugas-tugas mereka secara efisien. Sambil kerja, semut-semut berbicara satu sama lain dan berkata seperti manusia. Kita menemukan bahwa semut-semut mengorganisir proses pengumpulan makanan dan tugas-tugas lain melalui bunyi-bunyi tertentu dan berbagai perintah yang dilepaskannya, sementara semut-semut lain mendengar dan merespon!

Ini adalah suara semut dalam keadaan normal dan saat bekerja, memindahkan sesuatu, dan mengumpulkan makanan, silahkan klik di sini.

Ketika semut menyerang seekor ulat, maka ia mengeluarkan suara yang menakutkan. Suara-suara tersebut benar-benar tidak bisa dipahami, dan mereka melakukan pertemuan seperti manusia.

Dengarkan suara seekor semut saat menyerang seekor ulat, di sini.
Phil De Vries menemukan bahwa serangga melepaskan getaran-getaran suara lemah yang dapat dibedakan oleh semut. Kumbang penghisap mengeluarkan zat yang mengandung gula yang disukai semut. Serangga ini mengeluarkan getaran selama ia bekerja, sehingga semut sering kali terjebak sebagai mangsanya. Getaran-getaran akustik itu merupakan alat komunikasi di antara serangga.

Allah berfirman:
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Isra’: 44)

Robert Hickling, salah seorang peneliti terkemuka mengatakan, "Semut-semut tidak bereaksi terhadap suara manusia dan tidak terpengaruh olehnya. Tetapi jika kita mengarahkan kepadanya getaran-getaran yang sesuai, maka semut terpengaruh olehnya dan meresponnya. Ini berarti bahwa semut-semut mempunyai bahasa sendiri dan mereka sepenuhnya seperti manusia."

Di sini kita ingat akan firman Allah:  

"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan."  (QS. An-Naml: 38)

Subhanallah!
Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.

[Sumber: eramuslim.com]

Tuhanpun Suka Mengajarkan Matematika


UMAT ISLAM sangat meyakini bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang benar-benar dijaga oleh Allah, karena Dia sendiri mengatakan demikian. Selain keaslian yang terjaga, ada sisi lain yang istemewa dari Al-Qur’an, yakni dijadikannya Al-Qur’an menjadi sebuah informasi bagi kehidupan. Informasi tersebut berkaitan dengan sebelum dan sesudah kejadian alam semesta. Meskipun bukan sebagai buku ilmu pengetahuan tetapi Al-Qur’an meliputi hal itu, buku pengetahuan.

Mengapa Al-Qur’an tidak mengambil posisi sebagai buku ilmu pengetahuan? 
Menjadi buku pengetahuan berarti mempersempit keistemewaannya sendiri dan malah kemungkinan besar malah bukan kitab yang handal karena fenomena alam semesta yang sampai saat ini belum mencapai titik akhir pengungkapan. Al-Qur’an adalah tanda dan isyarat “sesuatu” tetapi bukan “sesuatu” itu sendiri.

Nilai kesucian Al-Qur’an: TERJAGA KEMURNIANNYA
Hal ini merupakan sesuatu yang langka bagi sebuah kitab suci. Sepanjang perjalanan sejarah mengenai kitab suci, Al-Qur’an merupakan kitab yang tak pernah mengalami amandemen, meskipun ada peristiwa nasikh wa mansukh suatu ayat tetapi bukan itu yang kami maksud. Amandemen di sini adalah campur tangan manusia dalam upaya “gathuk-mathuk” mencocokkan ayat-ayat kitab suci dengan fenomena kehidupan, setelah kitab diturunkan dengan rentang waktu yang lama.

Al-Qur’an bukanlah demikian, sejak ayat terakhir diwahyukan tidak ada lagi amandemen dari Tuhan maupun usaha manusianya untuk mencoba merubah atau memperbaiki ayat yang sekiranya ada ayat yang tidak cocok bagi kehidupan. Yang ada adalah tafsir terhadap ayat-ayat al- mutasyabihat. Tanpa disangka kegiatan ini malah memunculkan berbagai disiplin ilmu dengan berbagai warna pemikiran, tergantung kecerdasan dan sudut yang digunakan para mufasiriin. Hal ini menjadi pembenaran bagi perkataan Al-ghazali: “ilmu masa lalu, ilmu yang ada sekarang ini dan ilmu yang akan datang semuanya ada dalam al-Qur’an.

Pertanyaan selanjutnya, sebetulnya apa yang membuat al-Qur’an itu terjaga kemurnian dan tak lekang oleh zaman? Ibarat sebuah bangunan yang mempunyai time live lebih lama tentu ada bebarapa faktor yang membuatnya demikian tahan lama. Factor tersebut semisal: kepintaran sang perancang, bahan yang digunakan, serta pertimbangan matematis maupun mekanis. Nah kemungkinan juga demikian dengan al-Qur’an. Allah sebagai perancang tentu tak ada yang meragukan keilmuan-Nya bahkan Ia Maha pintar. Sedangkan untuk bahan Al-Qur’an, tak ada yang tahu karena masih terjadi perdebatan di kalangan umat dalam memahami hakikat al-Qur’an itu sendiri: sebagai kalamullah atau makhluk.

Faktor ketiga: MATEMATIS.
Apakah Al-Qur’an juga dibangun dengan perhitungan? Ayat-ayat diletakkan, urutan surat, bahkan jumlah ayat dalam surat juga diperhitungkan oleh Tuhan? Jika ya, apa manfaatnya? Logika sederhana yang bisa kita bangun adalah demikian: sebuah rumah dirancang sedemikian rupa, sesuai dengan zaman, peradaban, keadaan alam sekitar. Nah dari hal yang demikian tentunya perancang akan memperhitungkan sudut-sudut antar penyangga, atap harus dibentuk bagaimana dan dari apa, serta berapa jumlah yang dibutuhkan agar yang disangga tiang tidak begitu berat. Begitu juga dengan hubungan antar tiang satu dengan yang lain ( cagak, blandar maupun soko-soko yang lain) tentu dipasang dengan perhitungan yang matang.

Logika sederhana inilah, menurut saya, yang digunakan penulis ini untuk mengugkapkan keistemewaan al-Qur’an serta menggali ilmu-ilmu yang lain. Dengan menggunakan logika matematika, yakni menggunakan symbol huruf Arab maupun tanda-tanda waqof yang ditransformasikan ke angka-angka, AA. Gustaf, mencoba menggali kebenaran-kebenaran dan menemukan kebenaran yang lain, baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan maupun makna ibadah yang terbesit dalam rukunnya.

Setidaknya dari buku ini ada yang istemewa, yang diungkap oleh penulis, keistimewaan tersebut adalah mencoba mempertanyakan kebenaran al-Qur’an yang diturunkan pada 17 Ramadhan. Selama ini ada keyakinan al-Qur’an diturunkan pertama kali oleh Allah adalah 17 Ramadhan, tetapi benarkah demikian al-Qur’an diturunkan bulan Ramadhan memang benar tapi untuk tanggalnya tidak disebutkan secara detail dalam al-Qur’an. Metode al-Qur’an dan menerjemahkan symbol huruf maupun jumlah surat, ayat dn kata al-Qur’an. Metode al-Qur’an (huruf arab “JIBRIL” pun ditransformasikan menjadi nilai angka yang bila dijumlahkan nilainya 70) adalah modal utama untuk menemukan konklusi kebenaran.

Pada surat Muhammad, ayat 26-37 (sebagai ayat-ayat terakhir surat Muhammad) terdapat tanda ruku’, ‘ain. Tanda ruku’ ini di dalamnya ada angka 3, 9, 7 yang mempunyai makna) menurut AA. Gustaf, dengan memperhatikan ungkapan H.M Nur Abdurrahman, bahwa turunnya al-Qur’an adalah malam Ramadhan antara tanggal 20 s/d 30 sangatlah beralasan. Untuk selanjutnya, angka-angka pada tanda ruku’. Angkanya adalah: 3 (‘ain surah), 9 (jumlah ayat dalam satu ‘ain), dan 7 (‘ain juz).

Dalam sirah nabawiyyah dikatakan bahwa terdapat perbedaan tentang bulan turunnya wahyu pertama kali, ada yang mengatakan Rabi’ul awwal (bulan ke-3), Rajab (bulan ke-7) dan bulan Ramadhan (bulan ke-9). Ketiga bulan ini menunjukkan angka-angka yang terdapat pada ‘ainayat ke-28 (surat Muhammad), yaitu 3, 9, dan 7.

Selain itu, kombinasi ketiga angka tersebut menghasilkan sesuatu yang menarik dan perlu dikaji. Pertama, bila angka 9 dijadikan sebagai bulan Hijriyah, maka bulan tersebut ada bulan Ramadhan. Jikan angka 3 X 7 = 21. Bila 21 dijadikan hari maka wahyu pertama turun pada tanggal 21 Ramadhan. Kedua, bila angka 3 + 7 = 10, maka bisa saja al-Qur’an turun pada tanggal 10 Ramadhan. Berdasarkan perhitungan tanggal 21 Ramadhan jatuh pada hari senin. Diriwayatkan dari Abu Qotadhah bahwa Nabi mengatakan bahwa hari Senin merupakan hari kelahiran Beliau dan pada hari itu (senin) wahyu pertama turun.

Uniknya, selama ini kita mengetahui bahwa turunnya al-Qur’an adalah 17 Ramadhan. Menurut perhitungan dengan tahun yang sama seperti tanggal 21 Ramadhan, maka tanggal 17 Ramadhan jatuh pada hari Kamis. Jadi tanggal mana yang benar? W’allahu a’lam.

Kalau kita mencermati, buku ini bukanlah buku yang pertama kali dalam memahami kandungan al-Qur’an secara matematika. Ada buku yang lain, semisal karyanya K.H. Fahmi Basya: Matematika Islam. Hanya saja buku ini lebih mudah dipahami dengan buku-buku yang serumpun, meskipun penulisan buku ini masih terlihat sebagai “gathuk mathuk”. Sehingga kebenaran yang diungkap penulis perlu dikaji lebih lanjut.


[Tulisan Mas Khoirul Anwar - di KOMPASIANA]

Pembuktian Bahwa Bumi Bulat


Para kafir harby sering kali menuduh Ayat Alqur’an tidak ilmiah berkaitan dengan anggapan bahwa menurut Alqur’an bumi itu datar. Berikut ini dalil Alqur’an yang biasa mereka gunakan:

DALIL PERTAMA:
firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr: 19, “Dan Kami (Allah) telah menghamparkan bumi….”. Nah lihatlah, kata mereka, bukankah ayat ini dengan gamblang telah menjelaskan bahwa bumi itu terhampar, dan tidak dikatakan bulat…! Kemudian mereka pun dengan enteng mengkafirkan semua orang yang berseberangan faham dengan mereka.

DALIL KEDUA:
adalah firman Allah pada surat Al-Baqarah: 22, “Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan (firasy) bagimu.”

DALIL KETIGA:
adalah firman Allah pada surat Qaf:7, “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”

DALIL KEEMPAT:
adalah firman Allah pada surat An-Naba 78: 6-7,  “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?

DALIL KELIMA
adalah firman Allah pada surat Al-Ghasyiyah: 20, “Dan bumi bagaimana dihamparkan?”
Memang secara tekstual, bunyi ayat-ayat di atas mengatakan bahwa bumi ini terhampar, seumpama firasy, karpet, atau tempat tidur. Namun, apakah sesederhana itu sajakah memahamkan ayat Al-Qur’an….? Apakah memahamkan al-Qur’an yang agung cukup secara tekstual saja, kemudian mengabaikan arti kontekstualnya…? Kalau demikian, yakni Al-Qur’an hanya difahamkan secara tekstual saja, maka pasti akan hilanglah kehebatan dan keagungan Al-Qur’an itu. Padahal ada banyak ayat suci Al-Qur’an dan hadis yang mendudukkan derajat orang-orang berpengetahuan berada beberapa tingkat di atas orang awam. Dalam hal ini, pemahaman kontekstual jelas memerlukan daya nalar yang lebih tinggi dibandingkan sekedar pemahaman tekstual saja. Dengan demikian, pantaslah kiranya jika Allah dalam Al-Qur’an dan Nabi dalam banyak hadis beliau, memuji dan menyatakan bahwa orang yang berilmu pengetahuan, yang memakai akal dan nalar, memiliki derajat yang tinggi jauh berbeda dengan orang awam.

PEMBAHASAN MASALAH
Pada surat Al-Hijr ayat 19 dikatakan bahwa Allah telah menghamparkan bumi. Disitu tidak ada dikatakan bagian yang dihamparkan adalah bagian bumi tertentu, tetapi yang terhampar adalah bumi secara mutlak. Sehingga dengan demikian, jika kita berada di suatu tempat di bagian manapun dari pada bumi itu (selatan, barat, utara, dan timur), maka kita akan melihat bahwa bumi itu datar saja, SEOLAH-OLAH TERHAMPAR di hadapan kita. Kemudian jika kita berjalan dan terus berjalan dengan mengikuti satu arah yang tetap, maka bumi itu akan terus menerus kita dapati terhampar di hadapan kita sampai suatu saat kita kembali ke tempat semula saat awal berjalan. Hal ini telah jelas membuktikan bahwa justru bumi itu bulat adanya. Sebaliknya, jika saja bumi itu berbentuk kubus, misalnya, maka pasti hamparan itu suatu saat akan terpotong, dan kita akan menuruni suatu bagian yang menjurang, menurun, TIDAK LAGI TERHAMPAR…..!

Selanjutnya, jika bumi itu adalah sebuah hamparan seperti karpet atau tikar, maka jika ada orang yang melakukan perjalanan lurus satu arah secara terus menerus, maka orang itu pada akhir perjalanannya akan sampai pada ujung bumi yang terpotong, dan tidak akan pernah kembali ke tempatnya semula, di mana dia memulai perjalanannya yang pertama dulu. Penelitian dan pengalaman manusia telah membuktikan bahwa perjalanan yang dilakukan secara terus menerus ke satu arah tertentu tidak pernah menemukan ujung dunia yang terpotong, melainkan terus menerus yang ditemukan hanyalah hamparan demi hamparan di tanah yang dilalui, untuk kemudian perjalanan itu berakhir pada tempat semula saat perjalanan pertama dimulai. Hal ini tidak mungkin dapat terjadi jika saja bumi itu tidak bulat keberadaannya.

Penjelasan yang lebih gamblang adalah pada surat Al-Baqarah ayat 22: “ Dia (Allah) yang telah menjadikan bumi itu firasy (hamparan, kapet) BAGIMU ……” Perhatikan kata-kata “bagimu”. Al-Qur’an dalam hal ini, tidak sekedar mengatakan bahwa bumi itu hamparan umpama karpet saja, kemudian berhenti pada kalimat itu, tapi ada kata tambahan lain yaitu “bagimu”. Artinya, bagi kita manusia yang tinggal di atas permukaan bumi ini, bumi terasa datar. Walaupun, bumi itu pada kenyataannya adalah tidak datar. Hanya TERASA DATAR bagi kita manusia. Terasa datar bukan berarti benar-benar datar, bukan….?

Penjelasan kata “karpet (firasy)” bagimu bukankah bisa diartikan sebagai sesuatu yang berfungsi untuk diduduki atau dipakai tidur, dengan aman dan nyaman…?. Kata firasy dalam bahasa Indonesia dapat diartikan karpet, atau ranjang adalah sesuatu yang nyaman dan aman dan dipakai untuk tidur. Nampaknya arti seperti ini dapat dipakai, sebab keberadaan struktur bumi ini memang berlapis-lapis. Bagian intinya sangat panas dengan suhu ribuan derajat celcius yang mematikan. Namun demikian, pada bagian LAPISAN YANG PALING ATAS, ada sebuah lapisan keras setebal 70 kilometer, disebut lapisan kerak bumi yang paling aman dan nyaman, dengan suhu yang aman pula bagi kehidupan. Seolah-olah lapisan bumi bagian atas itu adalah ‘karpet’ atau ‘ranjang’ yang terbentang luas dan melindungi manusia serta seluruh makhluk Allah yang berada di atasnya, aman dari bahaya lapisan bumi bagian dalam yang cair, yang sangat panas lagi mematikan itu.

Kemudian dalam QS.Qaf:7, “Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata…”

Perhatikan gambaran bumi dalam ayat lainnya:

waal-ardha ba’da dzaalika dahaahaa
[79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
Tejemahan bahasa Indonesia kembali menyatakan kata ini dengan ‘hamparan’.
Lalu ketika Al-Qur’an menyebut kata ‘al-ardha‘ atau ‘al-ardhi‘ yang diterjemahkan menjadi ‘bumi’, bisa juga merujuk kepada ‘permukaan bumi’ atau lapisan bumi paling luar tempat kita berpijak, lihat ayat ini:

walakum fii al-ardhi mustaqarrun wamataa’un ilaa hiinin
[2:36] dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”

wa-idzaa tawallaa sa’aa fii al-ardhi liyufsida fiihaa wayuhlika alhartsa waalnnasla waallaahu laa yuhibbu alfasaada

[2:205] Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.

Ayat-ayat tersebut merupakan sinyal-sinyal ilmiah dari Al-Qur’an tentang proses pembentukan kulit bumi, tempat kita berpijak, disitu ada indikasi terjadinya proses yang berangsur-angsur, mulai dari sedikit lalu meluas menjadi seperti permukaan bumi yang ada sekarang, ibarat orang menggelar/menghamparkan permadani.

Kata ‘farsya’ juga diartikan sebagian para ulama dengan ‘alas’ atau ‘tunggangan’. Sebagian ulama tafsir mengartikan sebagai ‘yang disembelih’, dalam hal ini adalah terkait dengan kambing, domba dan sapi (lihat Tafsir Al-Mishbah – Quraish Shihab). Ini menjelaskan bahwa hewan yang diembelih tersebut bisa dimanfaatkan, misalnya kulitnya sebagai alas untuk tempat duduk.

wamina al-an’aami hamuulatan wafarsyan
[6:142] Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih.

Ini dijelaskan dalam ayat Al-Qur’an yang lain:

waallaahu ja’ala lakum min buyuutikum sakanan waja’ala lakum min juluudi al-an’aami buyuutan tastakhiffuunahaa yawma zha’nikum wayawma iqaamatikum wamin ashwaafihaa wa-awbaarihaa wa-asy’aarihaa atsaatsan wamataa’an ilaa hiinin

[16:80] Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

Maka lagi-lagi kata ‘farasy’ dalam ayat tersebut tidak mengandung unsur ‘datar’ melainkan ‘alas tempat duduk’. Tentu saja suatu yang dihamparkan/digelar/dibentangkan akan membentuk sesuai tempat dimana dia dihamparkan, hamparan akan berbentuk melengkung kalau dasar tempatnya juga melengkung, hamparan akan berbentuk datar kalau dasar tempatnya juga datar.

Kata tersebut juga dipakai dalam ayat lain:

muttaki-iina ‘alaa furusyin bathaa-inuhaa min istabraqin wajanaa aljannatayni daanin
[55:54] Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat.

wafurusyin marfuu’atin
[56:34] dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.
Ayat tersebut juga tidak menyinggung tentang suatu bidang yang datar, tapi mengenai suatu benda yang ‘dibentangkan‘ untuk tempat duduk-duduk atau istirahat.

al’farasyi’ dalam ayat ini diartikan sebagai ‘anai-anai/laron’ yang baru lahir sehingga posisi mereka bertumpuk-tumpuk bergerak makin lama makin meluas, maka kata ini diikuti dengan ‘al-mabtsuutsi’ = bertebaran, menyebar makin lama makin luas, dalam kalimat ini juga tidak ada korelasi antara kata ‘faraasyi’ dengan datar, melainkan menjelaskan sesuatu yang berkembang meluas. Bisa dilihat dalam ayat ini:

yawma yakuunu alnnaasu kaalfaraasyi almabtsuutsi
[101:4] Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran,


Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

QS 2:22
alladzii ja’ala lakumu al-ardha firaasyan

[2:22] Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu

Farasya = ‘fa-ra-syin’
Kata tersebut berasal dari kata ‘farasya’ yang berarti : to spread out, extend, stretch forth, furnish = menghampar, mempunyai kata turunan : furusy (berbentuk jamak, bentuk tunggalnya :firasy). Kata ‘firasy’ berarti : hamparan yang biasanya digunakan untuk duduk atau berbaring. Dari situ kata tersebut juga bisa diartikan : permadani, kasur atau ranjang. Dalam kalimat ini tidak ada kaitan sesuatu yang terhampar dengan ‘datar’.

Ketahuilah wahai saudaraku seiman, bahwa bumi yang kita tempati ini berbentuk bulat menurut kesepakatan para ulama. Hal ini mereka nyatakan jauh-jauh hari sebelum para ilmuwan barat menyatakan hal ini. Berkata Imam Ibnu Hazm dalam Al-Fishal fil Milal wan Nihal (2/97) : Pasal penjelasan tentang bulatnya bumi. Tidak ada satupun dari ulama kaum muslimin semoga Allah meridlai mereka- yang mengingkari bahwa bumi itu bulat, dan tidak dijumpai bantahan atau satu kalimat pun dari salah seorang dari mereka, bahkan al-Quran dan as-Sunnah telah menguatkan tentang bulatnya bumi.

Hal senada pernah dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan menukil perkataan Imam Abul Husain Ahmad bin Jafar bin Munadi salah seorang ulama Hanabillah yang sangat masyhur di zamannya- berkata : Demikianlah juga para ulama sepakat bahwasanya bumi dengan segala gerakannya, baik di darat maupun di laut itu bulat [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 25/159] Dan Syaikhul Islam pun menukil adanya ijma para ulama mengenai hal ini dari Imam Ibnu Hazm dan Abul Faraj Ibnul Jauzi. [Lihat Majmu Fatawa 6/586]

Berkata Imam Ibnu Hazm : Kita katakan kepada orang yang tidak memahami masalah ini : Bukankah Allah mewajikan kepada kita untuk shalat Dzuhur apabila matahari telah bergeser ke arah barat (zawal)? Pasti dia akan menjawab : Ya. Lalu tanyakan kepadanya tentang makna bergesernya matahari ke arah barat, pasti jawabannya adalah bahwa matahari telah berpindah dari tempat pertengahan jarak antara waktu terbitnya dengan waktu tenggelamnya, dan ini terjadi di semua waktu dan semua tempat. Maka orang yang mengatakan bahwa bumi itu datar dan tidak bulat dia harus mengatakan bahwa orang yang tinggal di daerah bumi paling timur harus shalat Dhuhur saat matahari barusan terbit, juga orang yang tinggal di daerah paling barat tidak menjalankan shalat Dhuhur kecuali di pengunjung siang dan ini adalah sesuatu yang sudah keluar dari ketetapan syariat Islam [Lihat Al-Fishal 2/87 dengan diringkas)

Adapun firman Allah. Artinya : Dan bumi bagaimana dihamparkan? {Al-Ghasyiyah [88] : 20] Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa bumi itu datar, karena sebuah benda yang bulat kalau semakin besar, maka akan semakin tidak kelihatan bulatnya dan akan nampak seperti datar. [Lihat Hidayatul Hairan Fi Masalatid Daurah oleh Syaikh Abdul karim Al-Humaid hal. 56]

Berkata Syaikh Bin Baz : Keberadaan bumi itu bulat tidak bertentangan dengan bahwa permukaan bumi itu datar yang layak untuk dijadikan tempat tinggal, sebagaimana firman Allah Taala. Artinya : Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan [Al-Baqarah [2] ; 22]

Juga firmanNya. Artinya: Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak? [An-Naba [78] : 6-7] Artinya: Dan bumi bagaimana dihamparkan ? [Al-Ghasyiyah [88] : 20]

Kesimpulannya, bumi itu bentuknya bulat namun permukaannya datar agar bisa dijadikan tempat tinggal dan dimanfaatkan oleh manusia. Dan saya tidak menemukan dalil naqli dan hissi yang menentang masalah ini [Lihat Al-Adilah An-Naqliyah wal Hissiyah oleh Syaikh Ibnu Baz hal. 103]

LANGITPUN BULAT
Adapun mengenai keberadaan bahwa langit itu bulat, maka ini pun sesuatu yang telah disepakati oleh para ulama Islam. Berkata Imam Ibnu Katsir : Imam Ibnu Hazm, Ibnul Munadi dan Ibnu Jauzi serta para ulama lainnya telah menukil adanya ijma bahwa langit itu bulat [Lihat Al-bidayah wan Nihayah 1/69 tahqiq DR Abdullah At-Turki, lihat juga Al-Fishal 1/97-100]

Dan ini pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Telah kami jelaskan bahwa langit itu bulat menurut para ulama dari kalangan sahabat dan tabiain, bahkan tidak hanya satu orang ulama yang mana mereka adalah orang paling mengetahui tentang riwayat menyatakan bahwa langit itu bulat, seperti Abul Husain bin Munadi, Ibnu Hazm dan Ibnul Jauzi [Majmu Fatawa 25/195]

Dalil mengenai masalah ini sangat banyak, di antaranya adalah firman Allah Artinya : Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya [Yasin [36] : 40] Berkata Hasan Al-Bashri bahwa maksudnya adalah berputar, berkata Ibnu Abbas : Berputar pada falak seperti falkah mighzal Falkah mighzal adalah kayu berbentuk bulat yang digunakan untuk menenun kain. Juga firman Allah. Artinya : Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terjaga [Al-Anbiya : [21] : 32]

Keberadaan langit sebagai atap bumi, sedangkan bumi itu bulat maka langit pun bulat. Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyah : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bhawa Arsy itu seperti kubah, dan ini adalah sebuay isyarat bahwa langit itu bulat”. Kemudian setelah ini, pahamilah wahai saudaraku, bahwa bumi kita ini adalah pusat alam semesta. Dia berada persis di tengah-tengah lingkaran langit. Hal ini adalah sesuatu yang disepakati oleh para ulama sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam beberapa tempat dalam Majmu Fatawa beliau. Beliau berkata : “Bahwasanya bumi terletak di tengah bulatan langit. Yang menunjukkan hal ini adalah bahwasanya semua benda langit itu terlihat dari bumi di segala penjuru langit dalam jarak yang sama, ini semua menunjukkan bahwa jauhnya antara bumi dan langit itu sama dari segala sisi, dan ini dengan tegas menunjukkan bahwa bumi itu terletak persis di tengah-tengah” [Lihat Majmu Fatawa 25/195]

Ilmuan Eropa, Galileo Galilei (1546-1642) mengatakan dengan tegas bahwa bumi berbentuk bulat. Pernyataannya ini oleh otoritas Gereja dianggap  menyimpang sehingga dia harus dihadapkan pada hukuman mati.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebenaran pernyataan Galileo tersebut pun semakin jelas. Belakangan, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa dialah orang pertama yang menemukan teori bulatnya bumi.

Bagaimana Pendapat Ulama Islam?
Sebenarnya jauh-jauh sebelum Galileo, sudah banyak ulama dan ilmuan yang mengatakan bahwa pelanet bumi ini berbentuk bulat.

Lebih jelasnya mari kita lihat beberapa perkataan ulama Islam berikut ini:Ilmuan Islam, Ibnu Khaldun (1332 – 1406 M / 732H – 808 H): “Ketahuilah, sudah jelas di kitab-kitab para ilmuan dan peneliti tentang alam bahwa bumi berbentuk bumi….” (Muqaddimah Ibnu Khaldun, Kairo).

Ulama Islam, Ibnu Taimiyah (1263-1328 M): “Ketahuilah, bahwa mereka (para ulama) sepakat bahwa bumi berbentuk bulat. Yang ada di bawah bumi hanyalah tengah. Dan paling bawahnya adalah pusat….” (Al-Jawab Ash-Shahih li Man Baddala Din Al-Masih).

Bagi Qazuaini (seorang ilmuan), salah satu bukti bumi berbentuk bulat adalah bintang-bintang dan planet-planet yang berbentuk bulat (Atsar Al-Bilad wa Akhbar Al-Bilad).

Selain mereka, masih banyak ilmuan dan ulama Islam klasik yang menyebutkan di dalam bukunya bahwa bumi berbentuk bulat. Di antara buku tersebut adalah:

1. Muruj Al-Dzahab wa Ma’adin Al-Jauhar, oleh Mas’udi Ali Husain Ali bin Husain (w. 346 H).
2. Ahsan Taqasim fi Ma’rifah Al-Aqalim, oleh Al-Maqdisi (w. 375 H)
3. Kitab Shurah Al-Ardh, oleh Ibnu Hauqal
4. Al-Masalik wa Al-Mamalik, oleh Al-Ishthikhry
5. Ruh Al-Ma’ani, oleh Imam Al-Alusi (ulama tafsir Al-Qur’an)
6. Mafatih Al-Ghaib, oleh Fakhru Ar-Razi (ulama tafsir Al-Qur’an)
Dan lain-lain.

Apakah Pendapat Mereka Bertentangan dengan Al-Qur’an?
Tentu saja tidak. Justru Dr. Hadi bin Mar’i dalam bukunya “Mausu’ah Al-Ilmiyah fi I’jaz Al-Qur’anul Karim” (Penerbit Attawfiqiah, Kairo) mengambil dalil bumi berbentuk bulat dari isyarat Al-Qur’an. Demikian juga para ahli tafsir lainnya.  

Ada satu ayat Al-Qur’an lagi yang patut kita perhatikan sebagai tambahan penjelasan masalah ini, inilah jawaban telak tentang tuduhan bumi itu datar menurut Alqur’an:surat Az-Zumar ayat 5

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا
هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ 

“Dia (Allah) menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Maha Mulia, Maha Pengampun.” (QS.Az-Zumar:5)

Kata “at-takwir” artinya adalah menggulung. Pada ayat di atas dengan jelas Allah berfirman bahwa malam menggulung siang dan siang menggulung malam. Kalau malam dan siang dapat saling menggulung, pastilah karena keduanya berada pada satu TEMPAT YANG BULAT secara bersama-sama. Bagaimana keduanya dapat saling menggulung jika berada pada tempat yang datar….? Kalau saja kejadian itu pada tempat yang datar, mestinya akan lebih tepat jika dipakai kata MENIMPA atau MENINDIH.

Dari keterangan ayat di atas juga dapat diperoleh gambaran bahwa pada permukaan bumi ini setiap saat, separuh permukaannya senantiasa malam, dan separuh lagi permukaannya adalah siang hari. Hal ini dapat digambarkan dari keterangan ayat, dimana seolah-olah bagian kepala dari sang malam itu menggulung bagian ekor dari sang siang, namun pada saat yang sama bagian kepala dari sang siang sedang menggulung pula bagian ekor dari sang malam. Sebanyak bagian siang yang digulung malam, maka pada saat yang bersamaan, sebanyak itu pula bagian malam yang sedang digulung oleh sang siang. Sekali lagi, keterangan ini menggambarkan bahwa terjadinya hal menakjubkan tersebut di atas bumi, hanya jika permukaan BUMI ITU BULAT adanya…!

Ajaibnya, keterangan-keterangan ini ditulis dalam ayat-ayat Al-Qur’an pada 14 abad yang lalu, disaat orang-orang Eropa dan Amerika masih primitif, dan masih menganggap bumi ini datar serta menganggapnya sebagai pusat bagi jagad raya ini.

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya….

BUMI BERBENTUK SEGI EMPAT DAN DATAR DALAM ALKITAB KRISTEN
Matius 24:31 Dan Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dengan meniup sangkakala yang dahsyat bunyinya dan mereka akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari KEEMPAT PENJURU BUMI, dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain.

Markus 13:27 Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari dari KEEMPAT PENJURU BUMI, dari ujung bumi sampai ke ujung langit
Wahyu 7:1. Kemudian dari pada itu aku melihat empat malaikat berdiri pada dari KEEMPAT PENJURU BUMI dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut atau di pohon-pohon
Wahyu 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa pada dari KEEMPAT PENJURU BUMI, yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.

Matius 12:42 Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo!

Saudara saudari semua, meski kita naik ke puncak gunung tertinggi di Tibet &  dapat melihat sejauh ribuan mil, tapi tetap lah kita tak dapat melihat seluruh bumi, bagian belakang bumi yg bundar tetap tidak kelihatan. Ini hanya bisa berlaku jika bumi itu datar! Ini ayatnya:

Matius 4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,
Lukas 4:5 Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia.

Daniel 4:10 Adapun penglihatan yang kudapat di tempat tidurku itu, demikian: di tengah-tengah bumi ada sebatang pohon yang sangat tinggi;11 pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi.

Ayat-ayat diatas ini pun bermakna bumi itu datar, bukan bundar, karena mustahil orang dapat melihat pohon setinggi apapun dari bagian belakang bumi yang bundar. Ini cuma berlaku jika bumi datar! 
  • Mungkinkah TUHAN menulis bumi berbentuk segi empat?
  • Mungkinkah TUHAN keliru?
  • Mungkinkah TUHAN mengatakan bumi itu datar?

Jelas ini bukan Firman Tuhan!

Masih banyak ayat alkitab yang menyatakan bumi ini datar, bersudut 4, berujung ini masih banyak lagi lainnya:

Matius 12:42, Lukas 11:31, Kisah Rasul 1:8, Kisah Rasul 13:47, Roma 10:18, Yesaya 24:16 , Yesaya 5:26, Amsal 30:4, Amsal 17:24, Mazmur 135:7, Mazmur 98:3 , Mazmur 72:8, Mazmur 67:8, Mazmur 65:9, Mazmur 65:6, Mazmur 61:3, Mazmur 59:14, Mazmur 46:10, Mazmur 22:28, Mazmur 19:5, Mazmur 2:8, Ayub 38:13, Ayub 37:3, Ayub 28:24, Ulangan 33:1, Ulangan 28:6, Ulangan 28:49, Ulangan 13:7.

Silahkan cek sendiri di alkitab, terlalu panjang jika saya harus menuliskan satu persatu! Sekarang silahkan Anda menilai Alqur’an ataukah Bible yang tidak ilmiah?
Wallohu’alam bishowab.


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]