Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Kristen. Tampilkan semua postingan

Sejarah Dan Asal-Usul Kristen


KRISTEN berasal dari seorang Yahudi bernama Yesus, yang lahir di Betlehem, Palestina, antara tahun 8 hingga 4 SM. Tradisi biasanya menyebutkan bahwa dia lahir dalam bulan Desember tahun pertama era Kristen yaitu, tahun 1 M, akan tetapi telah diketahui sekarang bahwa hal ini salah. Dalam catatan-catatan yang menyangkut Yesus -yakni Injil, empat di antaranya terdapat dalam perjanjian baru yang ditulis Matius, Markus, Lukas, dan Yahya- kita diberi tahu bahwa dia lahir selama berkuasanya Raja Herodes dan pada saat Kerajaan Romawi melaksanakan sensus penduduk.

Kerajaan Romawi melaksanakan sensus penduduk empat belas tahun sekali. Sensus pertama berlangsung tahun 6 M; ini berarti bahwa sensus sebelumnya dimulai tahun 8 SM, selama pemerintahan Kaisar Augustus dan tanah Judea diperõntah Kerenius yang dapat kita baca dalam Lukas 2:1-5. 

Kita juga diberi tahu tentang bintang yang menuntun orang Majus ke tempat Yesus berada, dan astronom Keppler, menghitung bahwa timbul konjungsi antara Saturnus, Jupiter, dan Mars kira-kira tahun 7 SM yang menampakkan kesan sebagai bintang baru yang terang benderang. Semua data ini mendukung kesimpulan bahwa Yesus lahir antara tahun 8 hingga 4 SM. Kita juga dapat menentang pendapat bahwa Yesus lahir bulan Desembers karena dalam Injil Lukas terdapat gembala yang menggembalakan ternaknya pada malam hari (2:8). Namun di Palestina pun cuaca dingin dan turun sadju, jadi saat kelahiran itu pastilah di luar musim dingin karena para gembala tidak akan keluar pada saat tersebut. Musim yang lebih mungkin adalah musim semi atau musim rontok.

 Penganut ajaran Kristen percaya bahwa ibu Yesus, yakni Maria, melahirkan Yesus dalam keadaan masih perawan dan belum bersetubuh dengan suaminya yaitu Yusuf. Anak tersebut lahir karena kekuasaan Tuhan melalui roh kudus. Kaum Katolik bahkan berkeyakinan bahwa Maria tetap perawan setelah kelahiran Yesus.

Saudara laki-laki dan perempuan Yesus yang disebutkan dalam Markus 6:1-6 adalah anak-anak Yusuf dari perkawinannya yang terdahulu. Tidak banyak yang kita ketahui tentang Yesus di masa kanak-kanak; kisahnya mulai banyak diungkapkan untuk perjalanan hidupnya setelah berusia tigapuluhan, saat dibaptis oleh Yahya. Yahya membaptis manusia sebagai persiapan mereka untuk menerima kedatangan "juru selamat;" pada waktu Yesus datang, dia menolak membaptis Yesus dengan menyatakan bahwa Yahya tidak pantas membaptis Yesus, bahkan sebaliknya dialah yang pantas dibaptis. Namun Yesus tetap meminta Yahya membaptis dirinya; setelah dibaptis dia mengasingkan diri selama 40 hari dan memikirkan "juru selamat" yang bagaimanakah sebenarnya.

Selama itu iblis menggoda dia, membujuk Yesus agar menjadi pahlawan bagi bangsa Yahudi, atau memenangkan dukungan bangsanya lewat perbuatan kegaiban atau dengan memenuhi kepuasan material bangsa Yahudi. Yesus menolak godaan ini, karena Dia sadar bahwa Dia haruslah "juru selamat" yang menderita, yang akan mati demi bangsanya.

 Setelah meninggalkan gurun, dia memilih dua belas orang sebagai teman dan muridnya. Murid-murid ini mempunyai latar belakang yang beragam: Petrus dan Andreas adalah bersaudara dan nelayan miskin; Yacob dan Yahya, juga bersaudara, adalah nelayan juga, namun lebih makmur; Matius (atau Levi) adalah pengumpul pajak yang bekerja bagi orang Romawi; ada anggota kelompok Zealot yang fanatik; dan Yudas Iskariot, orang yang pada akhirnya mengkhianati Yesus dan menyerahkannya kepada musuhnya. 

Dari kedua belas muridnya, Petrus, Yacob dan Yahya merupakan teman Yesus yang paling dekat. Dalam Markus 6:1-6 Yesus disebut "tukang kayu," dan dari sini diasumsikan bahwa sebelum terkenal, Yesus meneruskan profesi ayahnya sebagai tukang kayu. Kita tidak mengetahui latar belakang pendidikannya walaupun mungkin dia memperoleh pendidikan dari cendekiawan monastik Yahudi, yakni kaum Essenes, yang ajarannya banyak mirip dengan ajaran Kristen. Namun dari kitab-kitab Injil dapat kita lihat bahwa dia adalah manusia yang cerdas, arif dan penuh humor. Ajarannya dia sampaikan lewat perumpamaan, dongeng, kisah-kisah pendek yang mengandung makna mendalam. Teknik pengajaran seperti inilah yang ditempuh para rabbi karena lebih mudah menangkap makna lewat kisah-kisah pendek dibandingkan lewat kisah-kisah panjang, atau lewat diskusi formal yang panjang. Kisah-kisah atau perumpamaan Yesus adalah sederhana dan langsung kena, kisah yang mudah disimak oleh siapa pun. Akan tetapi, dia juga menggunakan kotbah, dan kotbah yang terkenal adalah kotbah bukit (kotbah ini bukanlah satu kotbah panjang, melainkan adalah intisari yang diambil dari ucapan-ucapan Yesus dalam berbagai kejadian). 

Di samping memberikan ajaran, Yesus juga menyembuhkan banyak penyakit dan bahkan menghidupkan kembali orang mati. Perlahan-lahan namanya termasyhur ke seluruh negeri dan orang mulai berbisik-bisik mempersoalkan siapakah dia. Pertama kali Yesus mengaku sebagai "juru selamat" yang telah lama dinanti-nantikan di Caesarea Phillippi. Setelah dia menanyakan kepada murid-muridnya tentang siapakah dia disebut khalayak ramai, dia bertanya tentang siapakah dia di mata para muridnya? Petrus, yang merupakan orang pemberani, menjawab, "Engkau adalah juru selamat." Semenjak itu Yesus mulai memperkenalkan ajaran-ajaran dan perintah-perintahnya kepada kedua belas muridnya tentang tujuan kedatangannya. Lalu dia diberi nama Kristus yang berarti "orang yang diurapi." Segera setelah pengakuan oleh Petrus tentang dia (Yesus) sebagai "juru selamat," dia mengajak Petrus, Yahya dan Yacob ke suatu bukit, di mana pakaian dan wajah Yesus menjadi bercahaya putih mengkilap dan dia berkomune dengan Nabi Elisa dan Musa. Peristiwa ini disebut Transfigurasi (perubahan tubuh). Namun selama tiga tahun misi Yesus, tantangan terhadap ajarannya meningkat terutama dari pihak Parisi dan Saduki.

Kaum Saduki adalah kelompok kecil aristokrat yang sangat berpengaruh yang mengaku sebagai keturunan Sulaiman. Kelompok Parisi terbentuk pada saat Kekaisaran Yunani ingin menanamkan pengaruhnya di Palestina, dan Kaum Parisilah yang sangat menentang pengaruh (Helenisasi) ini. Kedua kelompok ini, dengan alasan yang berbeda, memusuhi Yesus; kaum Parisi menolak karena ajaran-ajaran Yesus menentang sikap kaum Parisi.

Kita tahu orang Yahudi sangat berpegang erat kepada 10 perintah Allah, sementara Yesus memperbaharui penafsiran tentang makna kesepuluh perintah tersebut. Selama bertahun-tahun hukum itu berubah menjadi doktrin yang mendasari ajaran Yudaisme, yang menjadi dasar bagi orang Yahudi untuk mengasihi Tuhan dan sesamanya. Bagi kebanyakan orang Parisi, tradisi lebih penting daripada hukum, dan Yesus sangat lantang menentang sikap orang Parisi ini.

Kaum Saduki menentang Yesus karena mereka bekerja sama dengan bangsa Romawi, dan karena itu mereka sangat berpengaruh dan menikmati hak-hak istimewa. Mereka khawatir Yesus bisa menimbulkan kesulitan yang berakhir pada situasi yang mengancam pada prestise dan kekuasaan mereka.

Setelah kira-kira tiga tahun, Yesus pergi ke Yerusalem menunggang keledai dan disambut sebagai pembebas dan "juru selamat," karena saat itu bertepatan dengan berlangsungnya pesta paskah dan Yerusalem dipadati oleh banyak manusia. 

Paskah adalah hari yang ditunggu-tunggu bagi kedatangan "juru selamat" bangsa Yahudi, sehingga suasana saat Yesus memasuki kota amatlah eksplosif. Lalu dia masuk ke Bait Allah dan mengusir semua pedagang, pembunga uang dan orang-orang lain yang dia anggap mengotori tempat suci tersebut. Penduduk menunggu tindakannya yang selanjutnya, yakni hal mengumumkan dirinya sebagai Raja yang akan mengusir penjajah Romawi; namun tindakan yang ditunggu-tunggu itu tidak pernah muncul. Sebaliknya Yesus mengadakan perjamuan dengan murid-muridnya, yang dinamakan perjamuan terakhir (sebagian cendekiawan menyebutnya perjamuan paskah), sesudah itu dia pergi ke Taman Getsemane. Di sana dia ditangkap serdadu yang dipimpin oleh Yudas Iskariot.

 Pertama kali setelah ditangkap, Yesus diajukan ke hadapan para imam dan dituduh menghujat Allah, suatu kejahatan besar dalam hukum Yahudi, namun karena mereka tidak dapat menjatuhkan hukuman mati, keputusan mereka harus disahkan oleh penguasa Romawi. Lalu Yesus dihadapkan kepada penguasa, Pontius Pilatus, dan dituduh melakukan pemberontakan subversi dan menghindari pajak; Pilatus tidak ingin menghukum orang yang tidak bersalah, namun disebabkan tekanan para imam dan amarah bangsa Yahudi -yang merasa tertipu kalau Yesus tidak memperlihatkan dirinya sebagai "juru selamat" dalam arti penuh kemenangan dalam peperangan- dia terpaksa membuat keputusan yang tidak menyenangkan dan Yesus dihukum dengan penyaliban. Putusan itu dilaksanakan, dan Yesus mati setelah penuh penderitaan selama tiga jam di kayu salib.

Akan tetapi, bagi Gereja Kristen, itu bukanlah akhir, melainkan adalah awal. Tiga hari kemudian Yesus bangkit dari kematian (tiga hari berdasarkan perhitungan Yahudi -Yesus meninggal hari Jumat dan bangkit hari Minggu). Para wanita yang pergi ke makamnya pada Minggu pagi menemukan makamnya sudah kosong, namun pakaiannya masih terlipat di dalam kubur. Kemudian Yesus sendiri menampakkan dirinya kepada mereka; kemudian mereka berlari untuk memberitahukan hal itu kepada murid-murid Yesus yang sebelumnya meragukan kebangkitan Yesus; namun kemudian mempercayainya.

Beberapa saat kemudian Yesus mengajak mereka ke suatu bukit, memberkati mereka lalu mereka terangkat ke surga. Semenjak itu Yesus tidak pernah menampakkan diri lagi di bumi ini. 

Sementara itu murid-murid Yesus tidak bisa menentukan langkah-langkah mereka seterusnya. Namun pada hari Pantekosta, pada saat mereka semua berkumpul di Yerusalem, Roh Kudus turun dari surga dan hinggap pada masing-masing mereka. Sejak itu mereka diubahkan, tidak lagi cemas dan takut, melainkan sudah menjadi rasul-rasul yang berani yang menjelajahi dunia ini untuk menyampaikan kabar gembira tentang Tuhan Yesus Kristus.

Pada awalnya mereka berharap Yesus segera muncul kembali, namun hal itu tidak terjadi demikian. Iman baru ini segera menyebar di seluruh dunia lama.

Hebatnya, misi penyebaran Injil yang paling spektakuler bukanlah oleh salah satu murid Yesus melainkan adalah oleh Saul (Paulus) dari Tarsus, yang mengalami pertobatan pada saat dia dalam perjalanan ke Damascus untuk menangkapi orang-orang Kristen; sebagai hasil pertobatan ini, dia banyak melakukan perjalanan untuk pekabaran Injil, mengalami penderitaan yang berat, bahkan mati martir demi imannya. Dia menuliskan banyak surat nasihat dan penguatan iman kepada gereja-gereja baru yang dia dirikan, dan dokumen-dokumen ini, yang terdapat dalam PerjanJian Baru, sangat penting karena merupakan salah satu tulisan Kristen pertama yang kita miliki.

Pada tahun-tahun awal tersebut, ajaran baru ini masih dianut orang Yahudi, namun ternyata agama baru ini segera menghilang dari antara orang-orang Yahudi dan dianut oleh orang-orang di luar Yahudi. Pemisahan antara ajaran Yahudi dan Kristen mulai nyata dan akhirnya tak dapat dihindarkan; para penganut Kristen tidak lagi merayakan hari-hari besar Yahudi serta tidak mempertahankan tradisi dan budaya Yahudi. 

Pemisahan ini diakui pada Dewan Yerusalem pada tahun 48 M, pada saat pembatasan-pembatasan Yudaistis terhadap orang-orang Kristen yang bukan Yahudi diberlakukan. Mula-mula dengan enggan diberi toleransi oleh Kerajaan Romawi, faham Kristen di bawah masa pemerintahan Kaisar Nero yang sangat membenci ajaran Kristen. Nero berusaha memojokkan orang Kristen dengan menuduh bahwa kebakaran besar kota Roma disebabkan oleh orang Kristen (64 M), serta membunuh orang-orang Kristen, di antaranya Petrus dan Paulus. Banyak orang Kristen berkeyakinan bahwa dengan kematian rasul-rasul ini, dan kematian orang-orang yang secara pribadi mengenal Kristus, perlu dibuat rekaman tertulis tentang kehidupan Kristus.

Selama empat puluh tahun berikutnya masih banyak tulisan tentang Yesus, namun hanya empat di antaranya yang diakui dalam Perjanjian Baru. Akan tetapi tindakan pembunuhan ini bukanlah yang terakhir, bahkan meningkat selama pemerintahan Kaisar Domitian (81-96 M). 

Selama dua ratus tahun ajaran Kristen merupakan doktrin yang ilegal hingga akhirnya Kaisar Konstantin, setelah melihat cahaya terang di malam hari sebelum melakukan suatu pertempuran, yang meliputi salib dengan tulisan "dengan tanda ini kamu ditaklukkan," memberikan hak legal kepada orang-orang Kristen pada tahun 313 M dan menjadikan agama Kristen sebagai agama negara Kekaisaran Romawi.

Apa yang terjadi kepada gereja muda ini selama masa yang penuh kesulitan tersebut? Tantangan muncul dari berbagai arah, namun penyebarannya makin pesat. Walaupun pada mulanya Yerusalem dianggap sebagai pusat suci, namun sikap permusuhan yang diperlihatkan orang-orang Yahudi yang menguasai Yerusalem mendorong pemindahan pusat Kristen; mula-mula ke Antiokia, bergeser ke Roma. Selama periode Konstantine, Agama Kristen makin kuat dan melembaga.

Salah satu masalah pertama yang harus dipecahkan adalah masalah Trinitas, keyakinan umat Kristen akan Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang pada hakikatnya identik namun terpisah satu sama lain. Banyak pendapat yang berbeda diajukan untuk menjawab masalah Trinitas, dan tahun 325 Konstantin meminta Dewan Pertama Nicaea untuk membahas masalah ini dengan saksama, yakni 'Aryan Heresy' yang menyatakan bahwa Kristus diciptakan Tuhan untuk membantu dalam penciptaan dunia ini, dan menerima status ketuhanan dari Tuhan, jadi tidak sama esensinya dengan Tuhan. Status ketuhanannya dapat dicabut oleh Tuhan.

Dewan ini melahirkan Nicene Creed suatu bentuk pengakuan iman yang digunakan hingga dewasa ini dan mencakup kata-kata: - Kami percaya akan satu Tuhan, Tuhan Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. - Kami percaya akan Yesus Kristus, anak tunggal Allah, yang diturunkan oleh Allah Bapa, bukan diciptakan, yang satu dengan Allah Bapa. - Kami percaya akan Roh Kudus, Tuhan, pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapa dan anak.

Lalu gereja dihadapkan dengan sekumpulan masalah, terutama masalah intern. Romawi Barat dan Timur mulai terpisah semakin jauh dan akhirnya benar-benar terpisah. Memang sebab pemisahan ini bukan hanya hal di atas, karena masih banyak titik-titik perpecahan antara Barat dan Timur. Dibandingkan dengan Kristen Barat, Kristen Timur lebih menekankan ikon-ikon. 

Ikon merupakan gambar flat pada kayu, gading atau bahan-bahan lain, yang memperlihatkan Yesus, Perawan Maria, atau orang suci yang lain dan melembaga dalam Gereja Yunani. Selama abad kedelapan, ikon-ikon dilarang oleh Kaisar Leo III, namun protes keras menyebabkan larangan ini dicabut pada Sidang Umum ketujuh yang berlangsung di Nicaea tahun 787. Ini tampaknya merupakan kemenangan Gereja Timur. Namun perpecahan di antara keduanya tidak akan diatasi oleh sidang tersebut dan masalah ini mengemuka pada abad ke 11 pada waktu Roma menerima pemberian suatu tambahan ke dalam Nicene Creed, suatu hal yang tidak disetujui Gereja Timur. Tambahan itu adalah "dan anak" setelah frasa "kami percaya dalam Roh Kudus, Tuhan pemberi kehidupan, yang diturunkan dari Allah Bapa ..." Jadi, Gereja-gereja Timur tidak menerima bahwa Roh Kudus diturunkan dari Allah Bapa dan Anak, melainkan hanya dari Allah Bapa. 

Tentang masalah ini Timur dan Barat sama sekali tidak mempunyai titik temu dan menimbulkan pemisahan tahun 1054, karena wakil Paus menempatkan surat-surat ekskomunikasi pada altar St. Sophia di Konstantinopel. Sejak itulah muncul Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Yunani. Unsur-unsur doktrinal membuat mereka tetap terpisah: Gereja Katolik dipimpin oleh satu tampuk pimpinan yang disebut Paus, sementara Gereja Ortodoks menyerahkan kepemimpinan di tangan para bishop atau patriark; pandangan tentang Roh Kudus juga berbeda, Gereja Ortodoks tetap memberikan kedudukan penting bagi ikon-ikon dalam pemujaan, para pelayan gerejanya dibolehkan menikah, dan lain-lain.

Segera kemudian, yakni tahun 1096, Paus Urbanus II mengorganisasi Gereja Katolik ke dalam satu pola seragam yang bertahan selama hampir 200 tahun -tentara salib. Mula-mula dibentuk untuk dua tujuan, yakni mengurangi tekanan Turki atas Kekaisaran Timur dan untuk menjamin keamanan para peziarah yang berkunjung ke Yerusalem, tentara salib segera mengalami degradasi cita-cita; mereka ingin membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Muslim. 

Gereja Katolik tetap berperan penting hingga abad pertengahan. Berpusat di Roma, Paus memegang kekuasaan tertinggi, yang melampaui kekuasaan raja dan ratu. Namun sejak akhir abad keempat belas mulailah timbul tantangan terhadap kekuasaan Paus yang begitu besar. Timbullah gerakan reformasi yang dimulai Lollards dan Hussites; gerakan ini berubah menjadi ancaman serius terhadap supremasi Gereja Katolik ketika tahun 1617, seorang imam bernama Martin Luther menentang keras penjualan surat aflat oleh gereja. Dia lalu menolak supremasi Paus, menyangkal transubstantiation, serta mendorong para bangsawan Jerman untuk memberontak dan memisahkan kekuasaan mereka. Para bangsawan, yang sebelumnya terdisilusi dengan kontrol oleh Gereja dan Paus, membutuhkan sedikit dorongan dan banyak di antara mereka segera bergabung dengan Martin Luther. 

Tindakan Luther merupakan awal tumbuhnya berbagai sekte yang didasari kepada doktrin pokok Luther namun berkembang sesuai dengan jalan yang ditempuh masing-masing sekte. Pandangan Luther mendapat formalisasi dalam Gereja Lutheran yang tumbuh subur di Jerman, Skandinavia dan Amerika. Namun Luther pun bertentangan dengan bekas sekutunya menentang Paus. Salah satu bekas pendukungnya, Zwingli, mengembangkan pandangan Eukaristi yang menyebabkan Luther dan Zwingli berpisah.

Pengaruh Reformasi menyebar ke seluruh Eropa.
Pembaharu yang lain, John Calvin, memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma tahun 1533. Pandangannya hampir sama dengan Luther, namun dia yakin akan adanya karunia tertentu untuk kelompok tertentu. Pengikut Calvin menyebar di Jerman, Negeri Belanda, Skotlandia, Swiss, Amerika Utara dan cukup berpengaruh di Inggris. Inggris juga mengikuti anjuran para pembaharu namun dengan motif yang agak berbeda.

Tahun 1521 Raja Henry VIII telah mengeluarkan suatu traktat yang menyerang Luther yang menyebabkan dia mendapat titel 'Pembela Iman" dari Paus. Akan tetapi Raja Henry VIII sangat ingin menikahi putri Anne Boleyn namun sebelum bisa menikahi Anne, dia harus menceraikan Catherine of Aragon. Sayangnya Paus tidak merestui perceraian itu (Roma dipengaruhi oleh saudara-saudara Catherine yang ada di Spanyol, negeri asal Catherine) dan Henry terpaksa mengabaikan kekuasaan Paus pada tahun 1534. Lalu dia menyatakan dirinya sebagai kepala Gereja Inggris, dan dapat membatalkan perkawinannya dengan Catherine. 

Ajaran "Tiga puluh sembilan pasal," yang menyangkut hal-hal yang kontroversial serta mengungkapkan bagaimana kedudukan Gereja Inggris mengenai masalah perceraian tersebut, dikeluarkan tahun 1571 selama pemerintahan Ratu Elizabeth I, anak perempuan Henry. Gereja Inggris mengakui kerajaan sebagai kepala gereja, bukan Paus, juga menolak transubstantiation, meniadakan biara serta menggantikan bahasa Latin dengan bahasa Inggris untuk dipakai di Gereja. Tetapi reaksi terhadap Roma masih belum mencapai bentuknya yang paling ekstrim.

Pada abad ketujuh belas, George Fox, dari Leicestershire (Inggris), mulai menyebarkan ajaran bahwa manusia dapat berhubungan dengan Tuhan tanpa melakukan suatu 'hiasan' (upacara) ritualis yang ditetapkan oleh gereja-gereja Katolik, dan bahwa gereja-gereja yang telah diperbaharui belum cukup jauh melangkah dalam penolakan mereka terhadap upacara dan hierarki gerejawi. 

Seorang kristen, menurut George Fox tidak membutuhkan imam atau pendeta/pastor, dan juga tidak membutuhkan bait suci. Tidak ada gunanya ketujuh sakramen Gereja Katolik; tidak dibutuhkan suatu sakramen apa pun. Fox lalu mulai menyebarkan ajarannya dan melakukan berbagai perjalanan ke daerah-daerah pedalaman. Pada umumnya, saat berdirinya gerakan Fox ini dianggap terjadi pada tahun 1652, yakni saat terjadinya kebaktiannya yang sangat berhasil untuk pertama kalinya. Pengikutnya disebut "Quakers," atau "Perkumpulan Sahabat-sahabat." Sampai sekarang juga mereka tidak mempunyai bait suci kecuali rumah-rumah kebaktian, dan dalam kebaktian mereka tidak ada liturgy, tetapi sebaliknya, setiap orang dapat berbicara bila mereka merasa bahwa mereka mempunyai sesuatu yang bermanfaat untuk diutarakan, tanpa memperhatikan atau mempedulikan berapa usia yang mau berbicara tersebut dan apa kedudukannya dalam masyarakat.

Berbagai perkembangan baru telah terjadi di Inggris pada periode setelah Perang Saudara. Banyak orang merasa tidak senang dengan penyatuan gereja dan negara yang dilakukan oleh Henry VIII, tetapi selama periode persemakmuran (Commonwealth period) di Inggris, mereka menjadi lega melihat bahwa kedua hal tersebut (gereja dan negara) telah dipisahkan kembali. Akan tetapi, dengan naiknya Charles II menjadi pangeran, Undang-undang Uniformitas dikeluarkan pada tahun 1662 yang memulihkan status quo tersebut dan memerintahkan semua pastor untuk menerima "Buku Doa Bersama." Imam-imam yang menolak untuk menerima (oleh karena itu disebut Non-Conformis) ketentuan-ketentuan Undang-undang ini akan dikeluarkan dari Jemaah mereka dan dianiaya. Hal ini berlangsung sampai dengan keluarnya Undang-undang Toleransi pada tahun 1689 yang memberikan mereka beberapa hak hukum (legal). 

Akibatnya, perkembangan Gereja Baptis dan Gereja Reformasi bersatu mengalami perkembangan cepat. Gereja Baptis, yang didirikan oleh John Smith, menganggap bahwa pembaptisan bayi adalah melawan perintah Alkitab. Hanya orang dewasa yang telah mengerti makna sumpah yang diucapkannyalah yang dapat dibaptis. Mereka juga mencoba untuk meyakinkan bahwa jemaat ikut aktif dalam perjalanan Gereja, dan mencontoh Kisah rasul-rasul dengan mengangkat deakonis dari antara jemaatnya (lihat Kisah Rasul-Rasul 6: 1-6) untuk membantu mengarahkan dan menuntun gereja tersebut. Gereja Reformasi Bersama adalah suatu koalisi dari Gereja Presbiterian Inggris (yang dikembangkan dari ajaran Calvin) dan gereja-gereja Jemaat Inggris dan Wales yang didasarkan pada ajaran-ajaran dari tokoh pembaharu lainnya yang telah menyebarkan ajarannya pada zaman Calvin, yakni Robert Browne (1550-1633).

Terlepas dari pandangan-pandangan mereka yang sangat sama, tetapi usaha-usaha untuk menyatukan kelompok-kelompok ini barulah berhasil pada tahun 1972 dengan pembentukan Gereja Reformasi Bersatu. Gereja Metodis pada mulanya adalah merupakan suatu gerakan dalam Gereja Inggris. Pendirinya, John Wesley (1703-1791), tetap menolak untuk berpisah dari gereja induknya. Akan tetapi, setelah kematiannya, disadari bahwa Gereja Metodis tidak dapat lagi dimasukkan dalam Gereja Inggris, dan lalu memisahkan diri pada tahun 1795. John Wesley dan saudaranya Charles, melalui studi mereka yang ketat dan metodis terhadap Injil (sehingga mereka disebut dengan nama Metodis), merasa bahwa keselamatan diperoleh hanya karena kasih dan karunia Tuhan, bukan karena suatu perbuatan atau kebaikan manusia.

Menjelang akhir abad kesembilan belas, ada gelombang atau kegairahan lain mengenai perhatian keagamaan. Hal ini sebagian disebabkan penemuan-penemuan ilmiah dalam abad tersebut yang mengancam berbagai keyakinan yang hingga waktu itu telah diterima sebagai kebenaran religius yang tidak dapat dibantah (misalnya, mengenai taman firdaus dan masalah penciptaan). Dalam hal ini, reaksi dari Pencerahan (Enlightement) dalam tahun-tahun sebelumnya turut berperan. Akibatnya adalah bermunculannya banyak sekte yang memisahkan diri dari gereja induk mereka, sebagaimana yang terjadi dalam Reformasi yang memunculkan gereja-gereja yang diperbaharui yang memisahkan diri dari iman Katolik.

Di Inggris, Bala Keselamatan berkembang sebagai suatu kekuatan besar, bukan saja karena ketaatan beragamanya, tetapi juga karena reformasi dan bantuan sosialnya. Di bawah kepemimpinan William Booth (1829-1912), Bala Keselamatan tersebut memisahkan diri dari gereja Metodis dalam tahun 1865 dan membentuk sendiri suatu organisasi yang bergaya militer karena kelompok tersebut menganggap dirinya sebagai laskar perang Tuhan dan memerangi ketidakadilan sosial. Dibandingkan dengan kebanyakan sekte Gereja, mereka sangat sedikit memperhatikan sakramen, walaupun mereka menerima bahwa beberapa orang Kristen mungkin melihat sakramen itu merupakan pertolongan dan bantuan.

Di Amerika juga terjadi suatu gejolak keagamaan yang demikian. Pada tahun 1830, Mormon, atau Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Hari Terakhir, dibentuk oleh Joseph Smith (1805-1844) yang mengklaim telah mengalami suatu wahyu Tuhan, menemukan tablet-tablet emas yang tertulis dalam Buku Mormon, yakni yang merupakan kitab suci penganut Mormon. 

Pada mulanya ajaran Mormon ini terlarang karena pandangan-pandangan mereka yang menyimpang dari ajaran Kristen dan praktek poligami mereka, tetapi Mormon ini merayap ke seluruh Amerika dan akhirnya menetap di Salt Lake City, tempat markas mereka terletak hingga kini. Aliran spiritual mulai ada tahun 1848 ketika dua orang perempuan, yakni saudara perempuan Fox yang berumur dua belas dan lima belas tahun, menyebabkan suatu kegemparan di antara, penduduk kota mereka, Arcadia, New York State, dengan mengklaim bahwa mereka telah dapat berkomunikasi dengan roh-roh. Walaupun ada yang menyatakan bahwa suara-suara gaduh tersebut adalah suara gabungan dari suara kedua anak perempuan tersebut, tetapi mereka (penduduk kota tersebut) berkumpul sedemikian banyak mendukung supaya Gereja Spiritual didirikan. Penganut aliran Spiritual yakin, selain pada pandangan-pandangan Kristen biasa, bahwa, melalui mereka, nasihat dan tuntunan dapat diperoleh. 

Advent Hari Ketujuh juga mulai ada di Amerika, yang membangun reputasinya dalam tahun 1860, dan setelah itu sekte ini cepat menyebar ke seluruh dunia. Berbeda dengan sekte-sekte Kristen lainnya, mereka membuat hari ketujuh sebagai Sabat (yaitu, mereka menjalankannya seperti yang dilakukan oleh orang Yahudi, dimulai dari saat matahari terbenam pada hari Jumat sampai matahari terbenam hari Sabtu). Sama seperti Gereja Baptis, mereka hanya membaptis orang-orang dewasa, dan juga membuat pembatasan-pembatasan mengenai apa yang dapat dimakan dan diminum oleh jemaatnya. Misalnya, mereka tidak boleh minum alkohol dan memakan makanan kerang-kerangan.

Sebelum mengakhiri ulasan ini, tiga kelompok Kristen lainnya harus disebut yakni: Christian Science, Saksi Jehova, dan gerakan Pantekosta. Christian Science didirikan oleh Mrs. Mary Baker Eddy pada tahun 1879, yang mempertahankan bahwa satu-satunya realitas hanyalah pikiran dan semua yang lainnya adalah illusi. Oleh karena itu penyakit jangan dirawat dengan obat, tetapi harus disembuhkan dengan mempraktekkan pemikiran yang benar.

Saksi Jehova, yang didirikan oleh C.T. Russell, yakin bahwa kedatangan kedua kalinya Yesus serta akhir dunia ini akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi, dan bila hal itu terjadi maka hanya suatu kelompok elit saja yang selamat, yaitu kelompok Saksi Jehova itu sendiri. Mereka mempunyai Alkitab dengan terjemahan mereka sendiri dan mereka menyisihkan banyak waktu, usaha, dan uang untuk kegiatan-kegiatan missionaris.

Yang terakhir, yakni gerakan Pantekosta, yang bermula dari suatu missi di Los Angeles dalam tahun 1906 yang dilakukan oleh W.J. Seymour, mengajarkan bahwa setiap orang Kristen dapat mengalami kehadiran Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri dan menerima hadiah-hadiah roh. Oleh karena itu kebaktian Pantekosta adalah merupakan upacara yang sangat emosional, di mana jemaatnya menjadi dirasuki oleh Rohul Kudus dan tampak berbicara dalam lidah (berbahasa roh), sebagaimana yang dilakukan oleh murid-murid Yesus yang pertama. Walaupun gerakan Pantekosta telah mempunyai gereja sendiri, tetapi gerakan ini telah juga mempengaruhi aspek-aspek lain dari Gereja (Kristen), dan dalam GereJa Katolik gerakan tersebut juga berpengaruh dengan munculnya apa yang disebut gerakan Karismatik, orang-orang Katolik bermaksud menerima Rohul Kudus dalam diri mereka sendiri.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas secara mendalam sekte-sekte Kristen, bahkan tulisan ini tidak menyebut semua sekte yang ada, karena ada banyak gerakan-gerakan dan aliran-aliran pemikiran yang berbeda dalam Gereja Kristen. Penulis hanya mencoba untuk menempatkan dalam latar belakang historis dan teologis sekte yang paling menyebar. [Media Isnet]

Konsili Nicea, Arian, dan Ortodoksi




KONSILI NICEA
Konsili di Nicea diadakan dua kali, yaitu pada tahun 325 dan 787. Konsili Nicea-I diadakan oleh Kaisar Constantinus untuk menyelesaikan pertikaian tentang Trinitas (Arianisme). Konsili direncanakan semula diadakan di Ancyra namun kemudian dipindahkan ke Nicea dan dibuka pada 20 Mei 325. Konsili dibuka oleh kaisar, Constantinus.

Tujuan utama Constantinus adalah untuk menjamin adanya kesatuan dan kestabilan politik dalam kerajaannya jika dibandingkan dengan perumusan keputusan teologis tentang Trinitas. Sesudah pidato pembukaan oleh kaisar, pimpinan konsili dialihkan kepada Hosius, uskup Cordoba yang telah menemani Constantinus dari Barat, meskipun ada beberapa pandangan yang menginginkan agar Eusthathius, uskup Antiokia, yang menjadi pemimpin konsili.

Golongan Arian mempersembahkan Pengakuan Iman Arianisme yang disusun oleh Eusebius dari Nikomedia, namun konsili segera menolaknya. Kemudian Eusebius dari Kaesarea mempersembahkan Pengakuan Iman baptisan yang berlaku dalam jemaatnya di Palestina. Pengakuan iman ini diterima oleh konsili sebagai pengakuan iman yang sah setelah ditambahkan kata homoousios di dalamnya.

Pengakuan Iman Nicea berbunyi: "Aku percaya kepada satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah yang diperanakkan dari Bapa, yang dari hakikat Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang. Allah sejati dari Allah sejati, yang diperanakkan, bukan dijadikan, sehakikat (homoousios) dengan Bapa, yang oleh-Nya segala sesuatu ada, yaitu apa yang di surga dan yang di bumi. Yang demi kita manusia dan demi keselamatan kita, turun dan menjadi daging, menjelma menjadi manusia, menderita sengsara dan bangkit pula pada hari yang ketiga, naik ke surga, dan akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. Dan kepada Roh Kudus."

Konsili memutuskan empat anathema anti Arianisme. Pengakuan ini ditandatangani oleh semua uskup yang hadir kecuali dua orang uskup, yaitu Theonas dari Marmanika dan Sekondus, uskup Ptolemais. Keduanya dipecat dan diusir oleh konsili.

Jumlah uskup yang hadir dalam konsili ini sulit ditetapkan. Pada umumnya dianggap jumlah peserta adalah 318 uskup. Data ini didasarkan pada tulisan Athanasius. Tampaknya angka ini hanyalah perelambang dari jumlah hamba Abram dalam Kejadian 14:14. Jumlah peserta mungkin 220 hingga 250 orang. Itulah sebabnya konsili ini dikenal juga dengan sebutan Sinode 318 Bapa Gereja. Konsili Nicea I ini disebut juga sebagai konsili oikumenis yang pertama.

Konsili Nicea-II (787) diadakan oleh Ratu Irene atas permintaan Tarasius, patriarkh Constantinopel untuk menyelesaikan pertikaian Ikonoklastik. Paus Hadrianus-I menerima undangan Ratu Irene dan ia mengirim dua orang wakilnya dengan syarat: Sinode Ikonoklasik di Hiera pada tahun 753 harus dikutuk. Patriarkh Antiokia, Aleksandria dan Yerusalem tidak dapat menghadiri konsili karena wilayah mereka berada dalam kekuasaan Islam. Mereka masing-masing diwakili oleh dua biarawan.

Konsili dibuka pada 17 Agustus 786 namun konsili dibubarkan oleh tentara Ikonoklastik sehingga tidak bersidang hingga 24 September 787. Konsili menyatakan bahwa ikon hanya mendapat penghormatan (proskunesis) seperti penjelasan Paus dalam suratnya kepada konsili. Namun konsili menambahkan bahwa mereka menghormati ikon dengan kasih yang relatif (schtikoi pothoi) karena pemujaan (latreia) hanya ditujukan kepada Tuhan Allah saja.

Keputusan konsili ditandatangani oleh semua yang hadir dan juga oleh kaisar serta anaknya Constantinus. Konsili menghasilkan 22 kanon yang berhubungan dengan masalah disiplin gereja seperti membatalkan pemilihan uskup, imam dan diakon oleh pemerintah, simoni dikutuk, imam dilarang meninggalkan diosis-nya tanpa seizin uskup, wanita dilarang tinggal di rumah uskup dan dalam biara laki-laki, dan kesederhanaan para klerus dipertegaskan lagi. 

ARIAN VS ORTODOKSI
Secara teritorial, pada tahun 284 M. kaisar Diocletian menghasilkan keputusan strategis untuk membagi kekaisaran Romawi dalam dua teritori dengan penguasanya sendiri-sendiri, untuk alasan keamanan dan kemudahan administrasi. Penyatuan kekaisaran dilakukan kembali oleh Konstantin setelah ia mengalahkan penguasa Romawi Timur, tetapi kemudian terbagi lagi pada tahun 392 M. saat Theodosius-I membagi kembali teritori kekuasaan Kekaisaran kepada dua anaknya yang masih kecil, wilayah timur untuk anaknya Arcadius yang masih berumur 18 tahun, dan bagian barat kepada Honorius yang masih berumur 10 tahun. Tindakan ini menandakan awal kehancuran kekaisaran Romawi. Gereja Barat dikepung dan oleh bangsa barbar, sedangkan Gereja Timur akan menghadapi tekanan dari Kerajaan Persia dan Muslim.

Kembali pada masa kekuasaan Konstantin, Pada masa awal pertumbuhan kekristenan, paska digelarnya konsili Nicea, polarisasi antara gereja wilayah Romawi barat dan timur mulai meruncing. Pada dasarnya perbedaan utama kedua gereja tersebut terletak pada kecenderungan mereka terhadap penerimaan baik paham Arian maupun Athanasius. Gereja barat yang dimotori kekaisaran dapat menerima sepenuhnya kredo Nicea yang dipengaruhi pemikiran Tertullian dan Athanasius. Sedangkan di pihak lain, gereja Timur lebih dipengaruhi Arian dan pemikiran Origen bahwa anak (Yesus) lebih rendah dari Bapak. Pendukung doktrin Arian terutama adalah Kaisar Konstantin dan anak-anaknya. Nantinya, Gereja Timur akan berpusat di Konstantinopel, Byzantium, kota yang didirikan oleh Konstantin tahun 330 M. dan menjadi Ibu Kota Romawi guna menggantikan teritori barat yang semakin terancam bangsa barbar.

Konsili Nicea tidak berhasil meredam kekisruhan antar pengikut Kristen, hal ini sangat dirisaukan Konstantin. Konsensus tidak berhasil ditemukan dan Konstantin mendesak agar Athanasius mau berunding kembali, sayangnya pendirian Athanasius terlalu kuat untuk menerima tawaran tersebut. Hal ini membuat sang kaisar putus asa. Ia dan penerusnya menganggap Athanasius sebagai pembuat masalah. Pada tahun 330, sang Kaisar memanggil kembali Arius dan kawan-kawan yang telah diasingkan oleh keputusan Nicea. Ia ingin mengembalikan nama Baik Arius dan pendukungnya. Usaha Konstantin ini didukung oleh Eusebius dari Nicomedia dan Origen, pendukung setia faksi Arius, yang juga haus akan balas dendam terhadap pendukung doktrin Nicea, khususnya Athanasius.

Tindakan paling nekat mereka adalah menyerang Athanasius yang saat itu menjabat sebagai uskup Alexandria menggantikan Alexander. Ia dikeluarkan dari kantornya berdasarkan keputusan Konsili Tyre di tahun 335 M. Dan kemudian dibuang ke Gaul. Tetapi Athanasius adalah orang yang keras kepala dan selalu berusaha untuk pulang kembali ke Alexandria. Bahkan pengusiran Athanasius dari Alexandria sempat dilakukan oleh 6 kaisar yang berbeda. Kebebalan Athanaius sangat dikenal saat itu hIngga sempat muncul frase “Athanasius contra mundum” atau Athanasius melawan dunia. Di tahun yang sama, Arius dan kerabatnya diijinkan untuk mendapat komuni Gereja di konsili Yerusalem. Tetapi semua ini tetap tidak dapat meyakinkan para penatua di Alexandria untuk menerima Arius sepenuhnya. Konstantin selajutnya memanggil Arius ke Konstantinople pada 336 M., dan memerintahkan Alexander, uskup kota tersebut untuk mengijinkan Arius memasuki gereja kota tersebut. Tetapi sebelum hal itu tewujud, Arius keburu tewas akibat penyebab yang misterius, beberapa mencurigai kalau ia diracuni. Beberapa pihak mencurigai bahwa rival Arius berada di balik kematian ini. Konstantin menyusul kematian Arius tidak lama setelahnya.

Walaupun doktrin Arian mungkin akan dirasakan asing oleh umat Kristen awal-generasi Yakobus. Ia mungkin masih memiliki beberapa kesamaan dalam memandang posisi Yesus yang lebih rendah dari Bapa. Bertentangan dengan pandangan kebanyakan, yang menganggap Gereja Barat dengan pusatnya Roma sebagai asal mula penyebaran Kristen, Gereja Timur ternyata memiliki konsep-konsep kekristenan yang lebih tua. Perlu diingat bahwa Penyebaran Kristen awal dimulai di Jerusallem oleh dewan rasul, bukan di Roma. Konsep Kristen Gereja Barat lebih terpengaruh oleh pemikiran Paulus dan pagan Romawi.

Kematian Konstantin mengantar salah satu anaknya, Konstantius, kaisar romawi Timur beserta kalangan terdekatnya untuk tetap mendukung perkembangan doktrin Arius. Saudaranya, Constans yang menguasai gereja barat mendapat dukungan dari faksi konsili Nicea. Kemudian terjadilah berbagai intrik dan pesaingan untuk memperebutkan kekuasaan. Berbagai konsili berbau politik diadakan oleh kedua belah pihak untuk menyerang satu sama lain. Constans meninggal di tahun 350 M., dan dua tahun kemudian sebagian besar daerah kekuasaanya dikuasai oelh saudaranya, Konstantinus. Peristiwa ini merupakan pukulan telah bagi faksi Nicea. Sang Kaisar merupakan pendukung Arianisme sejati, dan memperlakukan pendukung faksi Nicea dengan penuh kekejaman untuk memasukan mereka ke dalam paham Arian. Sejarah Kristen dalam era Konstantinus dikenal sebagai periode yang kelam. Kaum Arian akhirnya memiliki kesempatan untuk membalas segala perlakuan yang merek dapat paska doktrin Nicea diberlakukan.

Kematian Konstantinus di tahun 362 M. Menandakan berakhirnya masa keemasan Arianisme. Penggantinya, Julianus tidak memiliki pendirian di antara baik paham Arian maupun Ortodoksi Nicean. Julianus adalah seorang Pagan sejati. Selanjutnya Jovian mendukung sentimen ortodox dan menentang Arianisme, akibatnya seluruh bagian Barat mengikuti pandangannya dan kembali mempercayai doktrin Nicea. Tetapi keandaanya mulai berubah saat dua bersaudara Valentinian dan Valens, memasuki kekuasaan tahun 364 M.. Valentinian mendukung keputusan Nicea dan menghabisi seluruh gereja Arian di barat. Bersebrangan dengannya, Valens mengambil posisi Arianisme dan menyerang penyebaran ortodksi di bagian Timur.

Sayangnya sang Kaisar terburu menghadapi perang dengan bangsa Goth di tahun 378 M., Gratian, yang menggantikan Valentinian di Barat, di tahun 376, menjadi penguasa seluruh kekaisaran di tahun 378 - mengembalikan posisi ortodoks ke atas angin. Selanjutnya Theodosius Agung, dengan melarang penyebaran Arianisme di gereja-gereja dan mengeluarkan peraturan yang membatasi gerak Arianisme, menghasilkan kejayaan Doktrin Nicea di mana-mana. Tidak ada yang berani mengexpresikan pandangan Arianisme kecuali Bangsa Barbar seperti Goth, Vandal, dan Burgundy. Tampaknya sejarah persaingan antar faksi yang penuh kekerasan ini belum bisa berakhir, dengan tidak ada pihak yang bisa dipersalahkan atas kesalahan terbesar. Tahun 382 Konsili Konstantinopel digelar oleh pendukung Athanasius dan berhasil menguatkan posisi ortodoks. Sayangnya kemenangan ini tidak sempat disaksikan Athanasius.

Kaum Arian akan memiliki posisi yang lebih kuat seandainya mereka tidak saling bertikai di dalam faksi mereka sendiri. Sebagaimana diketahui, setelah putusan Nicea diberlakukan, kaum Arian terbagi atas berbagai sekte yang masing-masing darinya mengklaim kebenaran. Beberapa bahkan sudah melenceng jauh dari pemikiran Arius yang sebenarnya. Kaum Arian yang berusaha menafsirkan sendiri pemikiran Arius cenderung memasuki kesalahan yang sama. Terdapat tiga faksi utama dalam tubuh Arianisme, yang pertama adalah Anomeans, yang menekankan perbedaan antara Bapa dan Anak; Homeans, yang menyiratkan kesamaan antara anak dan Bapa “berdasarkan kesesuaian kitab suci”, dan Semi-Arians, yang menekankan istilah homoiousion, yang mengexpresikan baik kesamaan dan perbedan antara Bapa dan Anak.

Di abad kelima, kaum Arian yang semakin tertekan oleh perlakukan Kekaisaran, mengungsi kepada bangsa-bangsa Barbar yang lambat laun mulai menguasai Romawi barat. Mereka menemukan tempat di antara kaum Goth, Heruli, Suevi, Vandals, dan Burgundy. Setelah merasa aman, mereka kemudian memperlakukan kaum ortodoks dengan kekejaman yang hampir sama dengan yang pernah mereka dapatkan. Kaum Vandal, yang menancapkan kekuasaan di Afrika, turut memberlakukan kebijakan yang sama terhadap pendukung Nicea. Awalnya Ginseric, raja mereka, dan kemudian Huneric, anaknya, menghancurkan gereja-gereja dan membuang uskup-uskupnya ke pengasingan, dengan dasar perlakukan tersebut serupa dengan yang pernah dilakukan Kaisar terhadap kaum Donatik, Arian, dan lainnya yang dianggap menyimpang dari ajaran ortodoks.

Dio awal abad keenam, kaum Arian berjaya di sebagian Asia, Eropa, dan Afrika. Banyak dari uskup Asia yang mendukung Arianisme. Kaum Vandal di Afrika, Goth di Italia, kaum Gaul, babgsa Suevi, Burgundy, dan Spaniard dengan terbuka menyokong kepercayaan Arianisme mereka. Kaum Yunani yang sempat mendukung doktrin Nicea turut memperoleh kekerasan dimanapun mereka berada. Dalam periode yang disebut sebagai abad kegelapan di Eropa ini, kekerasan antara Arian dan Ortodoks terjadi seakan tidak pernah berhenti dan selalu berulang. Hingga kemudian Justinian berkuasa dan merestorasi keadaan. Ia berhasil mengusir kaum Vandal dari Afrika dan Goth dari Italia. Akhirnya beberapa raja penganut Arian, seperti Sigismund, raja Burgundy, Theodimir-Raja Suevi di Lusitania, dan Receared, raja Spanyol, tanpa penumpahan darah mengakui pelepasan meeka dari doktrin Arian. Entah ada alasan apa di balik peristiwa tersebut, tetapi efeknya sejak itu, Kaum Arian mulai sedikit demi sedikit melemah dan tidak pernah memperoleh kekuatan yang sama lagi.

Dalam hal penggunaan kitab Suci, Saat gereja barat tengah menuju persetujuan dalam penentuan canon Perjanjian Baru, Gereja timur masih belum sepenuhnya sepakat dalam hal tersebut. Penyebabnya antara lain, Gereja timur mencakup wilayah yang lebih heterogen, mulai dari Syria, Turki (Byzantium) hingga Mesir. Sebelumnya gereja di wilayah-wilayah tersebut sudah memiliki pilihan canon kitab suci masing-masing. Gereja Syria contohnya, walaupun sempat menggunakan canon Tatian selama beberapa waktu, pada abad keempat seluruh naskah Diatessaron dimusnahkan oleh perintah Uskup Theodoretus dari Cyrrhus dan Rabbula dari Edessa. Mereka menggantikannya dengan empat Injil yang terpisah. Pada abad kelima, gereja Syria menggunakan Pesshita yang berisi seluruh kitab Perjanjian Baru kecuali surat II dan III Johannes, II Petrus, Yudas, dan kitab Wahyu. Beberapa aliran gereja timur masih menggunakan canon tersebut hingga saat ini. Tetapi secara keseluruhan, konsep kristianitas versi Paulus yang menyebar pesat di barat mengelami penerimaan yang lebih lambat di kawasan ini.

Selanjutnya sebagai pengingat, ada pula gereja Afrika (Koptik) yang berpusat di Alexandria. Dalam hal penggunaan kitab suci, gereja ini sangat dipengaruhi pemikiran Clement dari Alexandria. Contohnya gereja ini mengakui dua surat Clement sebagai bagian dari kitab suci. Gereja aliran lain yang berpusat di Ethiopia bahkan menggunakan kitab-kitab tak dikenal seperti Sinodos (kumpulan doa yang dianggap sebagai karya Clement dari Roma), Octateuch (dianggap ditulis Petrus kepada Clement dari Roma), Kitab Perjanjian (berisikan instruksi Yesus sebelum peristiwa kenaikan), dan Didascalia (lebih seperti Didache yang berisikan peraturan-peraturan gereja). Naskah tertua yang pernah ditemukan saat ini merupakan naskah yang berasal dari keluarga Alexandria, tidak lain adalah codex Sinaiticus yang turut memuat kitab Hermas dan surat Barnabas. Membuktikan bahwa pada abad keempat masih ada gereja yang tidak menggunakan canon resmi.

Seperti yang telah disebutkan tadi bahwa gereja barat lebih sepakat dalam menentukan canon, hal tersebut dipengaruhi oleh keadaan politik dan sosial pasca-Nicea. Contohnya saat Athanasius melarikan diri dari tekanan gereja timur (yang masih menganut Arianisme), ia malah mendapatkan tanggapan yang baik di gereja barat. Sinode Carthage merupakan penentu akhir kontroversi canonisasi, dan setelah itu hampir-hampir tidak ada revisi terhadap Perjanjian Baru. Gereja Katolik tidak segera meresmikan susunan Bible hingga tanggal 8 April 1546, di mana konsili Trent terpaksa diadakan akibat tekanan politik. Gereja Katolik akhirnya mengakui Bible yang berisi 73 kitab sebagai bacaan utama mereka. Keputusan ini mengakibatkan perbedaan dengan aliran Protestan yang hanya menggunakan Bible yang berisi 66 kitab.

Pihak Protestan menyebut 7 kitab tambahan yang digunakan Katolik sebagai apokrip, sedangkan Martin Luther walaupun tidak secara terbuka menolak keotentikan beberapa surat dalam Perjanjian Baru, kadang ia menempatkan beberapa surat dalam derajat yang rendah dibandingkan dengan surat lainnya. Seperti Marcion, ia menempatkan surat–surat Paulus dalam derajat utama dan harus dianggap sebagai sumber keterangan utama mengenai ajaran Kristen. Surat lainnya seperti Yudas, Yakobus, dan Petrus (Catholic Epistles) ia tempatkan pada derajat yang lebih rendah karena menyiratkan pertentangan terhadap ajaran Paulus.

Hingga kini dapat kita simpulkan bahwa canonisasi Perjanjian Baru tidak pernah didasarkan atas pertimbangan literal atau historis, melainkan lebih atas dasar konsensus di antara gereja-gereja masa lampau. Akibatnya seperti yang bisa ditemukan saat ini, berupa banyaknya kontradiksi ditemukan di antara kita-kitab Perjanjian Baru. Martin Luther yang menyadari adanya pertentangan ajaran Paulus dalam beberapa surat akhirnya harus menempatkan beberapa surat dalam derajat yang berbeda. Belum lagi dengan ditemukannya berbagai keraguan atas keotentikan kitab-kitab tertentu di abad pasca-pencerahan yang menambah keraguan terhadap kredibilitas para Bapak Gereja awal dalam memproses canonisasi Perjanjian Baru.

Beberapa naskah kuno yang selama ini diungkap bahkan seakan membuka mata kita bahwa selama ini terdapat berbagai bacaan lain di luar Perjanjian Baru yang dianggap sebagai tulisan suci oleh gereja-gereja di abad awal. Masalah hilangnya beberapa bacaan tersebut dari sejarah, kita dapat menyalahkannya pada tindakan-tindakan gereja pada masa sesudahnya yang sangat protektif.

[Dari Mas Andry Lau]