Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Rukun Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rukun Iman. Tampilkan semua postingan

Iman kepada Allah Subhanahu Wata'ala


Iman kepada Allah ta’ala meliputi empat perkara:

I. Beriman kepada wujud Allah ta’ala:
Wujud Allah ta’ala telah dijelaskan dan ditetapkan oleh fitrah, aqal, syar’i dan panca indera.

1. Adapun penetapan fitrah terhadap wujud Allah: maka sesungguhnya setiap makhluq telah diciptakan dalam keadaan (fitrahnya) beriman kepada Penciptanya tanpa didahului dengan berfikir atau belajar terlebih dahulu. Dan tidak ada satupun yang bergeser dari ketentuan fitrah ini kecuali orang yang diterpa hatinya sesuatu yang dapat menggeser hatinya dari fitrah tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

“Tidak ada satu (bayi) yang lahir melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai yahudi atau menjadikannya nashrani atau menjadikannya majusi.” [HR. Bukhari]

2. Adapun penunjukan akal terhadap wujud Allah Ta’ala: maka sesungguhnya makhluq-makhluq ini baik yang telah lalu dan yang akan datang- haruslah memiliki pencipta yang menciptakannya, karena tidak mungkin sebuah jiwa/seseorang menciptakan dirinya sendiri dan tidak mungkin ia muncul/ada dengan tiba-tiba. Seseorang itu tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri karena segala sesuatu  tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, “ (hal ini disebabkan) karena sebelum ia tercipta ia sama sekali tidak ada/tidak memiliki wujud, maka bagaimana mungkin ia menjadi pencipta?

Ia tidak mungkin ada dengan tiba-tiba, karena setiap yang terjadi itu mesti ada yang menjadikannya, dan dikarenakan keberadaannya dalam keteraturan yang ajaib ini, dan keterkaitan yang amat erat ini serta hubungan yang amat kuat antara sebab dan akibat, antara sesama makhluq merupakan hal-hal yang menunjukkan bahwa makhluq-makhluq itu tidak tercipta dengan tiba-tiba. Karena sesuatu yagn ada secara tiba-tiba pada dasarnya tidak lahir dari dasar keteraturan, lalu bagaimana mungkin ia bisa tetap dan berkembang dalam keteraturan?

Jika semua makhluq ini tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri dan tidak mungkin tercipta dengan tiba-tiba maka menjadi pastilah adanya Dzat Yang Menciptakannya yaitu Allah Rabb semua alam.

Allah Ta’ala telah memberikan dalil akal dan argumentasi yang pasti di dalam Surah Ath Thur, dimana Allah berfirman,

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?” (QS. Ath Thur 30)

Maksudnya bahwa mereka tidaklah diciptakan tanpa Pencipta dan tidaklah pula mereka menciptakan diri mereka sendiri, maka semakin pastilah keberadaan Allah sebagai pencipta mereka. Itulah sebabnya, ketika Jubair bin Muth’im ra. mendengarkan Rasulullah saw membaca surat Ath Thur hingga sampai pada ayat ini:

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka itu tidak meyakini (apa yang mereka katakan) Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau mereka kah yang berkuasa?” (QS. Ath Thur 35-37)

Beliau (Jubair”) berkata – dan beliau pada saat ini masih dalam keadaan musyrik – “Hatiku seperti mau terbang (mendengarkannya) dan itulah awal mulanya iman menempati hatiku.” [HR. Bukhari]

Contoh lain untuk memperjelas hal tersebut: yaitu apabila ada seseorang bercerita kepada anda tentang sebuah istana yang terbentang dikelilingi dengan taman-taman, disela-selanya mengalir beberapa sungai, dipenuhi dengan permadani, dihiasai dengan berbagai jenis perhiasan lalu ia berkata kepada anda: bahwa istana ini dengan segala isinya yang sempurna menciptakan dirinya sendiri atau ia ada/tercipta dengan begitu saja tanpa ada yang menciptakannya; maka anda pasti segera mengingkarinya dan menganggapnya sebagai kebohongan, (anda juga akan) menganggap pembicaraan tersebut sebagai pembicaraan orang yang amat bodoh. Lalu bagaimana mungkin setelah itu (anda mengatakan) bahwa jagad raya yang luas ini, dengan buminya, dengan langitnya, dengan bintang-bintangnya, dengan orbit-orbitnya, dan dengan keteraturannya yang begitu mengagumkan; telah menciptakan dirinya sendiri atau tercipta begitu saja tanpa adanya pencipta?

3. Adapun dalil syar’i yang menunjukkan wujud Allah Ta’ala: Bahwa semua kitab-kitab samawi telah berbicara tentang hal ini. Dan segala peraturan hidup (yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut) yang mengandung kemaslahatan dan kebaikan bagi semua makhluk adalah merupakan dalil dan tanda bahwa (peraturan hidup tersebut) berasal dari Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui apa yang paling baik bagi makhluq-makhluq-Nya. Demikian pula berita-berita yang menjelaskan tentang alam semesta (dalam kitab-kitab tersebut) yang kemudian terbukti kebenarannya secara nyata: juga merupakan dalil yang akan menunjukkan bahwa berita itu berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu yang Ia khabarkan.

4. Adapun dalil indrawi/penunjukan panca indra terhadap keberadaan Allah maka dapat dilihat dari dua sisi:Pertama: Bahwa kita sering mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa atau bantuan atas orang-orang yang mendapat musibah, yang semua itu menunjukkan dengan pasti akan keberadaan Allah ta’ala. 

Allah berfirman:

“Dan ingatlah kisah Nuh sebelum itu ketika dia berdoa dan kami memperkenakan doanya? (QS Al Anbiya 76)

“(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu diperkenankannya bagimu” (QS. Al Anfal 9)

Dan di dalam Shahih Bukhari dari Anas bin Malik ra. ia berkata:

“Sesungguhnya ada seorang badui masuk (ke mesjid) pada hari Jumat sementara Rasulullah saw sedang berkhotbah. Lalu ia (badui tersebut) berkata: “Wahai Rasulullah! Harta (kami) telah habis dan keluarga-keluarga kami telah kelaparan. Berdoalah kepada Allah untuk kami” Maka Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Lalu tiba-tiba bergumpallah awan seperti gunung dan tidaklah Rasulullah saw turun dari mimbar beliau melainkan aku melihat air hujan mengalir di sela-sela jenggot beliau. Kemudian pada Jumat yang kedua, orang badui itu (atau badui yang lain) berdiri lalu berkata: “Wahai Rasulullah bangunan (rumah kami) telah hancur, harta kami habis tenggelam, berdoalah kepada Allah untuk kami.” Maka (Rasulullah saw) mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, Lindungilah kami dan jangan (menurunkan musibah) atas kami.” Maka tidaklah beliau mengisyaratkan pada satu sisi melainkan ia terbebas (dari musibah) itu.”

Dan sampai hari ini, terkabulnya doa orang-orang yang berdoa adalah merupakan perkara yang dapat disaksikan, (tentu saja) bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat kepada Allah dan memenuhi syarat-syarat terkabulnya doa.

II. Mu'jizat Allah
Mu’jizat para nabi yang disaksikan atau didengarkan oleh manusia adalah merupakan bukti yang jelas pasti menunjukkan adanya Dzat Yang mengutus mereka (para nabi tersebut) yaitu Allah Ta’ala, karena mu’jizat-mu’jizat tersebut adalah merupakan perkara yang diluar batas kemampuan manusia, yang diciptakan oleh Allah untuk membuatkan dan menguatkan dan membantu para rasul tersebut.

Misalnya adalah mu’jizat Nabi Musa as. ketika Allah Ta’ala memerintahkan beliau untuk memukul laut dengan tangan beliau, lalu laut tersebut menjadi dua belas jalan yang kering sementara air laut tegak berdiri diantara jalan-jalan tersebut seperti gunung. 

Allah berfirman,

“Lalu kami wahyukan kepada Musa” Pukullah lautan itu dengan tongkatmu !” maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (QS. Asy Syu’ara : 63)

Contoh yang kedua adalah: mu’jizat Nabi Isa as. ketika ia menghidupkan orang-orang yang mati dan mengeluarkan mereka dari kuburan mereka. 

Allah berfirman:

”Dan ia menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah” (QS. Ali Imran 49)

Dan ingatlah ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan dzikir-KU” (QS. Al-Maidah 110)

Contoh yang ketiga mu’jizat Nabi Muhammad SAW ketika orang-orang Quraisy meminta beliau (untuk menunjukkan) sebuah mu’jizat maka beliau menunjuk kearah bulan lalu orang-orang melihat bulan itu terbelah dua. Allah berfirman tentang itu:

”Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata: ” (ini adalah) sihir yang terus-menerus” (QS. Al-Qamar 1-2)

Seluruh tanda-tanda yang dirasakan oleh panca indera yang diciptakan oleh Allah sebagai penguat dan pendukung para Rasul; menunjukkan dengan pasti akan wujud Allah Ta’ala.

Kedua: Beriman terhadap rububiyah Allah (bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pemelihara, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menolong-Nya).

Arti Ar Rabb adalah: Dzat yang memiliki (dan menguasai) penciptaan, kekuasaan dan segala perintah. Maka tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada penguasa selain Alah, tidak ada yang memberi perintah selain Allah. 

Allah berfirman,

“Ingatlah! (Hanya) bagi-Nya lah penciptaan dan perintah” (QS. Al-Ar’af : 54)

“Yang (berbuat) demikian itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nya lah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir : 3)

Dan belum diketahui bahwa ada diantara makhluq-makhluq ada yang mengingkari kerububiyahan Allah Ta’ala kecuali orang yang takabbur dan tidak yakin dengan apa yang ia katakan, sebagaimana terjadi pada Fir’aun ketika ia berkata kepada kaumnya:

“Akulah tuhan kalian yang maha tinggi” (QS. An-Nazi’ah : 24)

Allah berfirman,

“Wahai sekalian orang-orang! Aku tidak mengetahui adanya tuhan bagi kalian selain aku.” (QS. Al Qashash : 38).

Namun semua itu (perkataan Fir’aun tersebut) bukanlah berdasarkan landasan aqidah. 

Allah berfirman:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (Kebenaran)nya.” (QS. An Nahl :14)

Musa as. berkata kepada Fir’aun sebagaimana dikisahkan oleh Allah ta’ala:

“Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mu’jizat-mu’jizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun seorang yang akan binasa.” (QS. Al Isra’ 102).

Oleh karena itu orang-orang musyrik terdahulu tetap mengakui kerububiyahan Allah Ta’ala meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam keuluhiyahan-Nya.

Allah berfirman,

“Katakanlah: “Kepunyaan siapakah bumi ini dan semuanya yang ada padanya jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah: “Siapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah”: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” (QS. Al Mu’minun 84-69)

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab: “Sesungguhnya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Az Zukhruf : 9)

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab: “Sesungguhnya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az Zukhruf : 9)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka? Niscaya mereka menjawab “Allah”. Maka bagimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az Zukhruf : 87)

Dan perintah Allah Ta’ala mencakup perintah kauniyah dan syar’iyah. (Artinya) sebagaimana Ia adalah Yang mengatur dan menyelaraskan seluruh alam sesuai yang dikehendaki hikmah-Nya, Ia juga lah yang menetapkan hukum di dalamnya dalam bentuk perintah ibadah dan hukum-hukum mu’amalah sesuai yang dikehendaki oleh hikmah-Nya. Maka barangsiapa yang menganggap adanya dzat lain (memiliki kekuasaan) sebagai pembuat syari’at (undang-undang dan aturan) dalam beribadah atau pembuat hukum dalam mu’amalah, maka ia telah menyekutukan Allah (musyrik) dan belum mewujudkan keimanan.

III. Beriman kepada uluhiyah Allah 
Hanya Dialah satu-satunya Tuhan Yang benar dan patut disembah tanpa ada sekutu bagi-Nya

Berarti yang disembah dengan rasa cinta dan mengagungkan. 

Allah berfirman,

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang satu, tiada tuhan melainkan Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah : 163)

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran 18)

Maka sesuatu apapun yang dijadikan sebagai tuhan yang disembah selain Alah Ta’ala maka ketuhannnya adalah bathil adanya.

“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62)

Dan penamaan (sesuatu yang disembah selain Allah) sebagai tuhan tidaklah serta merta memberinya hak ketuhanan.

Allah ta’ala berfirman tentang Al Lata, Al Uzza dan Manat:

“(Semua itu) tidak lain kecuali merupakan nama-nama yang kalian berikan dan bapak-bapak kalian, Allah tidak menurunkan suatu keterangan apapun untuk (menyembah)nya.” (QS.An Najm : 13)

Allah juga berfirman tentang kisah nabi Hud as. ketika ia berkata kepada kaumnya:

“Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama berhala yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu?” (QS. Al ‘raf : 21)

Allah juga berfirman tentang kisah Nabi Yusuf a.s ketika beliau berkata kepada dua orang temannya di dalam penjara:

“Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.” (QS. Yusuf: 39-40)

Oleh karena itu, para Rasul Allah as. selalu berkata kepada kaum mereka:

“Sembahlah oleh kalian akan Allah, karena kalian tidak mempunyai selain ia.” (Al A’raf : 59) 

Akan tetapi, orang-orang musyrik enggan untuk melakukannya lalu mereka mengambil dan menjadikan tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, mereka meminta tolong dan bantuan dari tuhan-tuhan tersebut.

Namun Allah Ta’ala membatalkan perbuatan kaum musyrikin tersebut dengan dua argumentasi logika:1) Bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah itu sama sekali tidak memiliki ciri-ciri ketuhanan; karena mereka (tuhan-tuhan tersebut) adalah makhluq belaka yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mendatangkan manfaat/kebaikan bagi orang-orang yang menyembahnya, tidak bisa menolak kejelekan dari mereka dan tidak bisa menentukan hidup dan matinya orang-orang yang menyembahnya dan tidak pula menguasai suatu apapun yang di kerajaan langit.

Allah berfirman,

“Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk menolak sesuatu kemudhorotan dari dirinya dan tidak pula untuk mengambil suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak pula membangkitkan.” (QS Al Furqan: 3)

“Katakanlah: Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi dan mereka tidak mepunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya Dan tidaklah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang-orang yang telah diizinkannya.” (QS. Saba’ 22-23)


“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (QS. Al A’raf : 191-192)

Jika Keadaan/kondisi tuhan-tuhan tersebut demikian adanya, maka menjadikan mereka sebagai tuhan yang patut disembah adalah merupakan perbuatan yang benar-benar bodoh dan benar-benar bathil.

2) Bahwa orang-orang musyrik tersebut telah mengetahui bahwa Allah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan mengatur, Yang menguasai seluruh kerajaan/kekuasaan apapun. Hal ini seharusnya menyebabkan mereka mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya sebagaimana firman Allah:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hambaran bagimu dan langit sebagai atap; dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah : 21-22)

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Maka bagimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az Zukhruf : 87)

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” maka mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Tuhan kamu yang sebenarnya. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainka kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (QS. Yunus : 31-32)


IV. Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah
Maksudnya menetapkan dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala untuk Diri-Nya atau ditetapkan oleh Rasululah saw dalam as Sunnah, sesuai dengan Kebesaran Allah Ta’ala tanpa tahrif, atau ta’thil, atau takyif atau Tamtsil.

Allah berfirman.

"Hanya milik Allah asmaul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al A’raf: 180).


“Dan bagi-Nya lah sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ar Rum: 27)

“Tidak ada sesuatu pun serupa dengan Dia dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Sura: 11)

Dan ada dua golongan yang tersesat dalam masalah ini:Pertama: Golongan Mu’aththilah, yaitu golongan orang-orang yang mengingkari seluruh nama dan sifat Allah. Hal ini dikarenakan mereka menyangka bahwa penetapan nama dan sifat tersebut kepada Allah. Hal ini dikarenakan mereka menyangka bahwa penetapan nama dan sifat tersebut kepada Allah akan mengakibatkan terjadinya penyerupaan antara Allah dan makhluq-Nya. Namun sangkaan ini adalah salah ditinjau dari beberapa segi diantaranya:

1) Bahwa hal ini akan menyebabkan terjadinya hal-hal yang bersifat bathil dan mustahil seperti pertentangan di dalam Kalam (ucapan) Allah Ta’ala. Karena Allah sendiri telah menetapkan (baik dalam Al Qur’an maupun As Sunnah -pent.) nama-nama dan sifat-sifat untuk Diri-Nya, dan disamping itu Ia juga menafikan adanya sesuatu yang dapat menyerupai-Nya (dalam nama dan sifat-sifat-Nya). Seandainya penetapan (nama-nama dan sifat-sifat tersebut atas Allah) mengakibatkan terjadinya penyerupaan antara Allah dan makhluq-Nya maka berarti di dalam Kalam (ucapan) Allah terdapat pertentangan dan pendustaan antara satu dengan yang lain.

2) Bahwa adanya persamaan antara dua hal baik nama atau sifatnya; tidak berarti bahwa keduanya benar-benar sama (tanpa perbedaan apapun). Anda misalnya mendengar, melihat dan berbicara. Namun itu tidak berarti bahwa keduanya benar-benar sama dalam makna kemanusiaan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan. Anda juga dapat melihat bahwa hewan-hewan memiliki tangan, kaki dan mata. Namun ini tidak berarti bahwa (bentuk dan kualitas) tangan, kaki dan mata mereka sama persis. (Dengan demikian) apabila antara sesama makhluq saja terdapat perbedaan yang amat jelas dan nyata (padahal nama dan sifatnya sama), maka perbedaan yang terdapat antara Sang Pencipta dan makhluq tentulah lebih jelas dan besar.

Kedua: Golongan Musyabbihah yang menetapkan dan mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Allah namun mereka juga menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluq-makhluq-Nya karena mereka menyangka bahwa hal tersebut (penyerupaan -pent.) merupakan ketentuan yang dimaksudkan oleh dalil-dalil (yang menunjukkan nama dan sifat Allah) sebab Allah Ta’ala selalu berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat mereka pahami. Namun sangkaan ini salah dan bathil ditinjau dari beberapa segi, diantaranya:

1) Bahwa penyerupaan antara Allah Ta’ala dan makhluq-makhluq-Nya adalah merupakan perkara yang bathil dipandang dari sudut akal dan syar’i (agama). Dan adalah merupakan suatu hal yang tidak mungkin terjadi apabila Al Qur’an dan As Sunnah menunjukkan/menginginkan suatu perkara yang bathil.

2) Bahwa (memang benar) Allah Ta’ala berbicara kepada hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat dipahami oleh mereka dari segi asal makna suatu peristiwa. Adapun dari segi hakikat dan pembahasan secara terperinci dari maknanya tersebut maka itu merupakan suatu hal yang hanya Allah lah mengetahuinya (yaitu segala ayng berkaitan dengan Sifat-sifat Allah).

Maka apabila Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Ia Maha mendengar, maka makna “mendengar” ditinjau dari segi makna asalnya adalah merupakan perkara yang dketahui bersama yaitu (kemampuan mengetahui suara-suara). Namun hakekat “mendengar/pendengaran” yang dimiliki Allah Ta’ala tidaklah dapat diketahui, karena hakekat pendengaran itu berbeda-beda bahkan pada tingkat makhluq. Maka perbedaan antara Sang Pencipta dan makhluq tentulah lebih jelas dan besar.

(Demikian pula) Allah Ta’ala memberitahukan tentang dirinya bahwa Ia bersemayam di atas arsy-Nya. Dan makna bersemayam ditinjau dari segi makna asalnya telah diketahui dan difahami namun hakekat bersemayam yang dilakukan oleh para makhluq saja pun ternyata berbeda-beda, maka bersemayam di atas sebuah kursi yang kokoh tidaklah sama dengan bersemayam di atas seekor hewan yang selalu berlari. Maka apabila diantara sesama makhluq saja terdapat perbedaan (dalam melakukan “persemayaman”) maka perbedaan antara Sang Pencipta dan makhluq tentulah lebih jelas dan besar.

Iman kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah kami jelaskan, akan membuahkan beberapa faidah yang mulia diantaranya:

1. Perwujudan tauhid kepada Allah Ta’ala secara benar, dimana (seorang hamba) tidak lagi menggantungkan harapan kecuali kepada Allah, tidak lagi takut kecuali kepada-Nya dan tidak lagi menyembah kepada selain Allah.

2. Sempurna rasa cinta dan pengagungan terhadap Allah sebagaimana yang ditunjukkan oleh nama-nama Allah yang bagus dan sifat-sifat-Nya yang mulia.

3. Mewujudkan ibadah yang sebenarnya kepada Allah, dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.


[Sumber: Wahdah]


Allah Subhanahu Wata'ala


Iman kepada Malaikat

Iman kepada Malaikat merupakan salah satu landasan agama Islam.

AllahTa`ala berfirman,

Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya….” (QS. Al-Baqarah: 285)

Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab:

“(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” (Muttafaq `alaih)

Barangsiapa yang ingkar dengan keberadaan malaikat, maka dia telah kafir, keluar dari Islam.

Allah Ta`ala berfirman,

Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 136)

Batasan Minimal Iman kepada Malaikat
Syaikh Shalih bin `Abdul `Aziz Alu Syaikh hafidzahullah mengatakan: “Batas minimal (iman kepada malaikat) adalah keimanan bahwasanya Allah menciptakan makhluk yang bernama malaikat. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa taat kepada-Nya. Mereka merupakan makhluk yang diatur sehingga tidak berhak diibadahi sama sekali. Diantara mereka ada malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada para Nabi.” (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh)

Bertambah Iman Seiring dengan Bertambahnya Ilmu
Setelah itu, setiap kali bertambah ilmu seseorang tentang rincian hal tersebut (malaikat), wajib baginya mengimaninya. Dengan begitu, maka imannya akan bertambah.

Allah Ta`ala berfirman,

Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124)

Hakikat malaikat
Syaikh DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil mengatakan, “Dalil-dalil dari al-Qur`an, as-Sunnah, dan ijma` (kesepakatan) kaum muslimin (tentang malaikat) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
  1. Malaikat merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.
  2. Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah menciptakan jin dan manusia juga untuk beribadah kepada-Nya semata.
  3. Mereka adalah makhluk yang hidup, berakal, dan dapat berbicara.
  4. Malaikat hidup di alam yang berbeda dengan alam jin dan manusia. Mereka hidup di alam yang mulia lagi suci, yang Allah memilih tempat tersebut di dunia karena kedekatannya, dan untuk melaksanakan perintah-Nya, baik perintah yang yang bersifat kauniyyah, maupun syar`iyyah.
Allah Ta`ala berfirman,

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan: ‘Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim.” (QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29)

(Lihat Mu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin hal. 15)

Asal Penciptaan Malaikat
Allah Ta`ala menciptakan malaikat dari cahaya. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ummul Mu`minin `Aisyah radhiyallah `anha, dia mengatakan bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya.” [HR. Muslim]

Jumlah Malaikat
Jumlah mereka sangat banyak. Hanya Allah saja yang tahu berapa banyak jumlah mereka. Allah Ta`ala berfirman,

Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (QS. Al-Muddatstsir: 31) 

Ketika Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallammelakukan Isra` Mi`raj, berkata Jibril `alaihis salam kepada beliau:

Ini adalah Baitul Ma`mur. Setiap hari shalat di dalamnya 70 ribu malaikat. Jika mereka telah keluar, maka mereka tidak kembali lagi…. ” (Muttafaqun `alaihi)

Sifat Fisik Malaikat
Berikut ini kami sampaikan sebagian sifat fisik malaikat:
  1. Kuatnya fisik mereka
    Allah Ta`ala berfirman tentang keadaan neraka; “Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. Tahrim: 6)
    Panas api neraka, yang membuat besi dan batu meleleh, tidak membahayakan mereka. Demikian juga dengan Malakul jibal (Malaikat gunung), dimana dia menawarkan kepada Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallam untuk menabrakkan dua gunung kepada sebuah kaum yang mendurhakai beliau. Kemudian beliau menolak tawaran tersebut. (Hadits yang menceritakan kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
  2. Mempunyai sayap
    Allah Ta`ala berfirman, “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathiir: 1)
  3. Tidak membutuhkan makan dan minum
    Allah Ta`ala berfirman, “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’” (QS. Huud: 69 – 70) 

As Suyuthi rahimahullah berkata: “Ar-Razi dalam tafsirnya mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwasanya malaikat tidak makan, tidak minum, dan juga tidak menikah.”
Ke-ma`shum-an Malaikat
Allah Ta`ala telah manjadikan malaikat sebagai makhluk yang ma`shum, dimana  mereka tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Allah Ta`alaberfirman:

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah….” (lihat QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29 di atas)

Buah Iman kepada Malaikat
Diantara buah dari beriman kepada malaikat adalah:
  1. Mengetahui keagungan Allah Ta`ala yang telah menciptakan makhluk-makhluk yang mulia, yaitu malaikat.
  2. Kecintaan kepada malaikat karena ibadah-ibadah yang mereka lakukan. (lihat Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh `Utsaimin)
Demikialah sedikit bahasan tentang malaikat. Untuk mendapatkan pembahasan yang lebih rinci tentang Malaikat, silahkan merujuk ke kitabMu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin karya DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil. Wallahu Ta`ala a`lam.


Iman Kepada Malaikat

Iman kepada kitab kitab suci Allah


Iman terhadap kitab suci merupakan salah satu landasan agama Islam

AllahTa`ala berfirman, 
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman dengan Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi….” (QS. Al-Baqarah: 177

Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau menjawab:
“(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para Malaikat, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: 
“Kitab (biasa disebut dengan Kitab suci) adalah kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat untuk para makhluk-Nya, dan petunjuk bagi mereka, supaya mereka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.”  [lihat kitab Rasaail fil `Aqiidah karya Syaikh Utsaimin]


Cakupan Iman dengan Kitab Suci
Masih dalam kitab yang sama, beliau juga mengatakan: “Iman dengan kitab suci mencakup 4 perkara:

  1. Iman bahwasanya kitab-kitab tersebut turun dari Allah Ta`ala.
  2. Iman dengan nama-nama yang kita ketahui dari kitab-kitab tersebut, seperti al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, Taurat kepada Musa, Injil kepada Isa, dan lain sebagainya.
  3. Pembenaran terhadap berita-berita yang shahih, seperti berita-berita yang ada dalam al-Qur`an dan kitab-kitab suci sebelumnya selama kitab-kitab tersebut belum diganti atau diselewengkan.
  4. Pengamalan terhadap apa -apa yang belum di-nasakh dari kitab-kitab tersebut, rida terhadapnya, dan berserah diri dengannya, baik yang diketahui hikmahnya, maupun yang tidak diketahui.” (Rasaail fil `Aqiidah)

Sumber dan Tujuan Penurunan Kitab Suci
Seluruh kitab-kitab suci sumbernya adalah satu, yaitu dari Allah Jalla wa `Alaa

Allah Ta`ala berfirman, 
“ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.  Dia menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan al-Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali Imran: 2-4)

Tujuan penurunan kitab-kitab suci juga satu, yaitu tercapainya peribadatan hanya kepada Allah semata, sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta`ala dalam surat al-Maidah ayat 44 – 50. [Untuk pembahasan lebih rinci, lihat kitab ar-Rusul war Risaalaat karya `Umar bin Sulaiman al-Asyqar, hal 231 – 235]

Kedudukan al-Qur`an di antara Kitab-kitab Suci Lainnya
Al-Qur`an merupakan kitab suci terakhir dan penutup dari kitab-kitab suci sebelumnya. Selain itu, al-Qur`an juga merupakan hakim atas kitab-kitab suci sebelumnya. 

Allah Ta`ala berfirman, 
“Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…. ” (QS. Al-Maidah: 48)

Al-Qur`an merupakan kitab suci paling panjang dan paling luas cakupannya. Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam bersabda: 
“Aku diberi ganti dari Taurat dengan as-sab`ut thiwaal (tujuh surat dalam al-Qur`an yang panjang-panjang). Aku diberi ganti dari Zabur dengan al-mi`iin (surat yang jumlah ayatnya lebih dari seratus). Aku diberi ganti dari Injil dengan al-matsani (surat yang terulang-ulang pembacaannya dalam setiap rekaat shalat) dan Aku diberi tambahan dengan al-mufashshal (surat yang dimulai dari Qaf sampai surat an-Naas).” [HR. Thabarani dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh al-Albani]

Di antara perkara lain yang menjadi kekhususan al-Qur`an dari kitab-kitab suci lainnya adalah penjagaan Allah terhadapnya. 

Allah Ta`ala berfirman, 
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sekilas Tentang Taurat
Taurat adalah kitab yang Allah turunkan kepada Musa `alahis salam. Taurat merupakan kitab yang mulia yang tercakup didalamnya cahaya dan petunjuk. Allah Ta`ala berfirman: 

“Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)….” (QS. Al-Maidah: 44)

Taurat yang ada saat ini – biasa disebut dengan kitab perjanjian lama – , setiap orang yang berakal tentu mengetahui bahwa taurat tersebut bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa `alaihis salam. Hal itu bisa diketahui dari beberapa bukti berikut:

  1. Ketidakmampuan mereka (baik Yahudi maupun Nashrani) dalam menunjukkan sanad ilmiah yang sampai kepada Musa `alaihis salam, bahkan mereka mengakui bahwa Taurat pernah hilang selama beberapa kali.
  2. Terjadi banyak kontradiksi di dalamnya, yang menunjukkan bahwa sudah banyak terjadi campur tangan para ulama yahudi dalam merubah isi Taurat.
  3. Banyak terdapat kesalahan ilmiah.
  4. Dan masih banyak bukti lainnya.

Allah Ta`ala berfirman: 
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)

Sekilas Tentang Injil
Sedangkan Injil, dia adalah kitab yang Allah turunkan kepada Isa `alaihis salam sebagai penyempurna dan penguat bagi Taurat, mencocoki dangannya dalam sebagian besar syariatnya, petunjuk kepada jalan yang lurus, membedakan kebenaran dan kebatilan, dan menyeru kepada peribadatan kepada Allah Ta`ala semata.

Sebagaimana taurat yang ada sekarang bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada Musa, demikian juga injil yang ada sekarang, juga bukan injil yang diturunkan kepada Isa `alaihimas salam. Di antara bukti dari penyataan tersebut:

  1. Penulisan injil terjadi jauh beberapa tahun setelah diangkatnya Isa`alaihis salam.
  2. Terputusnya sanad dalam penisbatan penulisan injil-injil tersebut kepada penulisnya.
  3. Banyak terdapat kontradiksi dan kesalahan ilmiah di dalamnya
  4. Dan masih banyak bukti lainnya.

[untuk mendapatkan pembahasan lebih rinci tentang keberadaan Taurat dan Injil yang ada sekarang, silahkan merujuk ke kitab Izhaarul Haq karya Rahmatullah al-Hindy]

Bolehkah mengikuti Taurat dan Injil setelah Turunnya al-Qur`an?
Jawabnya: Tidak boleh. Bahkan, kalau seandainya kitab-kitab tersebut (Taurat atau Injil yang ada sekarang) adalah benar berasal dari para Nabi  mereka, maka kita tetap tidak boleh mengikutinya karena kitab-kitab tersebut diturunkan khusus kepada umat nabi tersebut dan dalam tempo yang terbatas, dan kitab-kitab tersebut sudah di-nasakh oleh al-Qur`an. 

Allah Ta`ala berfirman, 
“Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang lain itu;…. ” (QS. Al-Maidah: 48)

Bahkan wajib bagi Yahudi dan Nashrani saat ini untuk mengikuti al-Qur`an. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: 
“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidaklah seorang pun dari Yahudi dan Nasrani yang mendengar akan diutusnya aku, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” [HR. Bukahri dan Muslim]

Demikianlah sedikit bahasan tentang Iman dengan kitab suci. 

Wahai Rabb kami, tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, kefakihan, dan ilmu.

** Rujukan utama: Al-Iman bil Kutub, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.



Kitab Kitab Suci Allah

Iman kepada Nabi dan Rasul Allah


DEFINISI NABI
Nabi menurut tata bahasa Arab berasal dari kata Ù†َبَّـأ dan Ø£َÙ†ْبَØ£ dengan hamzah, yang berarti Ø£َØ®ْبَر mengabarkan. Nabi disebut nabi karena dia mengabarkan dari Allah atau karena dia diberi kabar oleh Allah, bisa jadi nabi dari kata نبَا tanpa hamzah yang berarti tinggi, nabi disebut nabi karena derajat dan kedudukannya tinggi. Nabi secara istilah adalah seorang laki-laki merdeka di mana Allah mengabarkan syariat sebelumya kepadanya agar dia menyampaikan kepada orang-orang yang di sekitarnya dari kalangan pemilik syariat tersebut.

DEFINISI RASUL
Rasul secara bahasa adalah orang yang mengikuti berita orang yang mengutusnya. Orang-orang Arab berkata, جَØ£َØ¡َتِ الإبِÙ„ُ رَسَلاً yang berarti unta itu datang silih berganti. Rasul bisa digunakan untuk risalah, bisa pula untuk orang yang diutus. Rasul secara istilah adalah laki-laki merdeka yang diutus oleh Allah dengan syariat dan Dia memerintahkannya untuk menyampaikannya kepada orang yang tidak mengetahui atau menyelisihinya dari kalangan orang-orang di mana dia diutus kepada mereka.

ANTARA NABI DAN RASUL
kenabian lebih umum karena semua Rasul adalah Nabi tetapi tidak semua Nabi adalah Rasul. Jadi, orang yang bukan Nabi pasti bukan Rasul atau dengan kata lain, untuk menjadi Rasul dia harus menjadi Nabi terlebih dahulu.


Rasul membawa risalah kepada orang yang tidak mengetahui agama dan syariat Allah, atau kepada orang-orang yang merubah syariat dan agama untuk mengajar mereka dan mengembalikan mereka kepadanya. Sedangkan Nabi SAW diutus dengan dakwah syariat sebelumnya. Kenabian adalah pemberian Allah. Kenabian bukan derajat puncak yang bisa diraih dengan cara-cara dan latihan-latihan tertentu, manusia tidak mungkin mendapatkannya dengan usaha mereka karena ia bukan gelar yang mungkin diraih dengan jerih payah. Kenabian adalah derajat tinggi dan kedudukan mulia yang Allah berikan kepada orang yang dikehendaki-Nya.

Orang yang Allah berkehendak memilihnya sebagai Nabi telah disiapkan oleh Allah sedemikian rupa untuk memikul kenabian tersebut. Allah menjaganya dari setan dan melindunginya dari syirik serta menganugerahkan perilaku terpuji kepadanya. Dalil yang menetapkan bahwa kenabian adalah murni anugerah Allah adalah firman Allah; “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih.” (QS. Maryam: 58).

Firman-Nya kepada Musa;
“Hai Musa, sesungguhnya Aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalahKu dan untuk berbicara langsung denganKu.” (QS. Al-A’raf: 144).

Firman-Nya tentang ucapan Ya’qub kepada Yusuf;
“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi).” (QS. Yusuf: 6).

Manakala Allah mengutus Nabi Muhammad, orang-orang Jahiliyah melihatnya tidak layak menyandang anugerah kenabian, ada yang - menurut mereka - lebih layak darinya yaitu seorang laki-laki besar di Makkah atau Thaif, al-Walid bin al-Mughirah atau Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi, maka Allah mengingkari pandangan keliru mereka. Allah menjelaskan bahwa diri-Nya adalah Rabb yang bertindak mutlak, maka tidak seorang pun berhak cawe-cawe (campur tangan) dalam apa yang dikehendkai Allah termasuk memberikan derajat kenabian kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Firman Allah; “Dan mereka berkata, ‘Mengapa al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini.’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Az-Zukhruf: 31-32).

Firman Allah, “Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata, ‘Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah.’ Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am: 124).

Ayat-ayat ini mengandung petunjuk yang jelas bahwa kenabian tidak diperoleh dengan cara atau sarana tertentu. Ia murni nikmat Allah yang dengan hikmah dan ilmu-Nya diberikan kepada hamba yang dipilih-Nya. Ia bukan untuk orang yang mengharapkan apalagi mengklaimnya.

SIFAT NABI DAN RASUL
Nabi dan Rasul memikul tugas berat dan besar: menerima wahyu, melaksanakan dan menyampaikannya kepada umat, membimbing, dan memimpin umat. Karena itu Allah memilih untuk tugas besar ini figur yang berasal dari nasab terbaik, akal sempurna, dan jiwa yang bersih di samping Dia membekalinya dengan akhlak-akhlak dan sifat-sifat yang luhur, maka seorang Nabi dan Rasul adalah teladan akhlak dan sifat bagi umatnya.

Shidiq
Shidiq berarti jujur lawan kata dari kadzib (dusta). Bagi Nabi dan Rasul ini adalah sifat dasar dan pangkal. Jika tidak demikian maka yang bersangkutan mungkin berdusta atas nama Allah dan membohongi umatnya. Oleh karena itu Allah mengabarkan tentang rasul-rasul-Nya bahwa mereka adalah para shiddiqun.

Firman Allah; “Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul(Nya).” (QS. Yasin: 52).

Firman Allah tentang Ibrahim, “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur`an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi.” (QS. Maryam: 41).

Firman Allah tentang Muhammad, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zumar: 33).

Sabar
Allah mengutus para Rasul dan Nabii dengan membawa berita gembira dan menyampaikan peringatan. Mereka mengajak umat beribadah kepada Allah, memperingatkan mereka dari akibat buruk menafikan perintah Allah. Di jalan ini para Rasul mendapatkan tantangan dan permusuhan keras, hinaan, cacian, makian, pukulan, teror, intimidasi, pengucilan bahkan usaha makar sampai pembunuhan mereka dapatkan. Jika para Rasul tidak memiliki kesabaran tertinggi niscaya mereka tidak mampu mengemban amanat risalah Allah yang ada di pundak mereka dengan segala resiko dan tantangan berat yang menghadang.

Kepada Muhammad SAW Allah memerintahkan bersabar seperti kesabaran para Rasul Ulil Azmi. FirmanNya; “Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS. Al-Ahqaf: 35).

IMAN KEPADA SEMUA NABI DAN RASUL
Wajib meyakini bahwa Allah mengutus seorang Rasul pada masing-masing umat yang menyeru mereka kepada tauhid dan kufur terhadap apa yang disembah selain Allah. Beriman kepada seluruh Rasul dan Nabi adalah wajib, tanpa membedakan. Artinya kita tidak boleh beriman kepada sebagian dan kufur kepada sebagian yang lain. Sebab hal yang emikian itu sama artinya dengan tidak beriman kepada semuanya. Firman Allah; “Rasul telah beriman kepada al-Qur`an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasulNya,’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285).

Firman Allah; “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasulNya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasulNya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa`: 150-152).

Ini mernyiratkan bahwa kita wajib beriman kepada para nabi dan Rasul baik yang kita ketahui namanya maupun yang tidak. Adapun yang sudah kita ketahui namanya, maka kita beriman kepada mereka secara khusus, seperti kerpada: Nuh, Shalih, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad dan lain-lain. Dengan tetap meyakini sepenuhnya bahwa Allah juga memiliki Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul selain mereka. Firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah. Maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” (QS. Al-Ghafir: 78).

Dari Blog Indra Muslim


Iman Kepada Nabi Dan Rasul Allah