Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Note (Agama). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Note (Agama). Tampilkan semua postingan

Agama Menurut Sigmund Freud


A. Pendahuluan
            Sejarah perkembangan psikologi mencatat bahwa Sigmund Freud dilahirkan di Cekoslowakia pada 6 Mei 1856 dan meninggal pada tahun 1939. Ia adalah bangsa Yahudi yang tinggal berpindah-pindah dari Negara satu ke Negara lain. Di Negara tempat kelahirannya Cekoslowakia, Freud hanya tinggal selama 4 tahun kemudian pindah ke Wina, Austria. Freud mempunyai kebiasaan dari kecil, yaitu gemar sekali membaca kitab Injil.

            Perjalanan keilmuan Freud yang kemudian membuatnya dikenal oleh banyak orang dimulai setelah tamat sarjana muda. Freud giat mempelajari kebudayaan dan hubungan antarmanusia di dunia ini. Hal tersebut dikaji oleh Freud dengan sangat detail bahkan ia berani mengungkap keburukan-keburukan selain kebaikan-kebaikan perilaku manusia. Langkah yang telah ditempuh oleh Freud tersebut kemudian diketahui oleh orang banyak dan membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi Freud, yaitu dibenci oleh masyarakat luas pada zamannya.

            Meskipun demikian, Freud tampaknya tidak terlalu memperdulikan penentangan dari mereka. Ia tetap konsisten melakukan penyelidikan berkaitan dengan manusia dan kejiwaannya. Hal itu dibuktikan dengan tindakan konkret dalam kehidupannya. Selain mengkaji secara mendalam tentang kebudayaan dan hubungan antarmanusia, Freud mempelajari secara serius dan mengkritisi teori evolusi Darwin.

            Kemajuan ilmu pengetahuan ilmiah pada zaman itu tampak begitu pesatnya. Begitu juga dengan ilmu psikologi. Bidang psikologi mengalami revolusi, terutama dalam wawasan kehidupan jiwa dan kepribadian manusia. Hal tersebut berkat rintisan Sigmund Freud seperti diakui oleh banyak orang, seorang dokter sakit jiwa (psikiater) lulusan Universitas  di Wina tahun 1881 dengan spesialisasi psikoterapi. Freud sebagai dokter ahli jiwa, sembari bekerja menyusun teori kepribadian dan metode terapi untuk metode penelitian psikologi. Teori terapi tersebut terkenal dengan sebutan analisis asosiasi bebas.  Paham Freud selanjutnya disebutpsikoanalisis,  seperti yang dipelajari oleh banyak orang di zaman sekarang.[1]

B. Pendapat beberapa tokoh tentang Agama
            Agama adalah kekuatan ghaib yang diyakini berada di atas kekuatan manusia, didorong oleh kelemahan dan keterbatasannya. Manusia merasa berhajat akan pertolongan dengan cara menjaga dan membina hubungan baik dengan kekuatan ghaib tersebut. Sebagai relisasinya adalah sikap patuh terhadap perintah dan larangan kekuatan ghaib tersebut.[2]


a. A. Vergote

            Seluruh agama pasti didasari secara psikologis oleh psikisme manusia yang paling elementer dan fundamental. Dan tidak menjadi agama yang sejati sebelum mengalami bermacam-macam konflik dan ketegangan. Dengan itu orang akan mempunyai keyakinan religious yang mantap dan matang.

            “agama bersifat komuniter. Maka dari itu agama harus mempersatukan manusia dalam suatu persaudaraan. Orang sebetulnya baru dapat menghadap Allah secara otentik bila ia sanggup melibatkan orang lain pula dalam kehidupan pribadinya. Tidak mungkin menghadap Tuhan sendirian. Oleh karena itu kepekaan seseorang terhadap kepentingan komunitas merupakan tolak ukur yang baik untuk menilai sikap beragama seseorang.”[3]

b. Carl Gustav Jung
          Agama untuk mengetahui kedewasaan seseorang. Maka, kedewasaan seseorang terlihat setelah ia beragama.

c. Emile Durkheim
           Agama sebagai suatu “sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.” Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu “sifat kudus” dari agama dan “praktek-praktek ritual” dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas.[4]

d. William James
            Agama adalah keyakinan tertentu yang merupakan tempat paling “hangat” dalam kepribadian kita. Tempat itulah pusat kepribadian kita, sebab dari padanya kita hidup dan berkarya. Demi “set” keyakinan itu kita melibatkan diri dengan segenap jiwa raga kita. Oleh karena itu, dalam bukunya, ia menyebut “set” keyakinan tersebut “the habitual centre of his personal energy.”[5]


e. Mircea Eliade

            percaya kepada independensi atau otonomi agama. Agama bukan penampilan dari ekonomi atau lainnya. Agama bukan hasil dari realitas yang lain, agama bukan suatu variable dependen, seperti yang dikemukakan oleh ahli lain. Agama, menurut Eliade, harus dipahami sebagai yang mempengaruhi aspek-aspek kehidupan yang lain, sebagai variable independen. Agama tidak cukup dipahami seperti cara kerja sejarawan, tetapi juga harus dengan pendekatan dari dalam, secara fenomenologis. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pembicaraan mengenai saling mempengaruhi ini tidaklah spesifik mengungkap definisi agama, tetapi lebih dekat kepada pembahasan tentang teori. Namun, pendapatnya bahwa agama adalah sesuatu yang independen dan otonomi.[6]

            Eliade juga memulai menjelaskan agama dengan membedakan antara kehidupan sakral dan kehidupan profan. Yang sakral itu aktifitas kehidupan yang disengaja, yang supranatural, mengesankan, yang substansial dan penting; yang teratur, sempurna, tempat bersama leluhur, para pahlawan dan para dewa. Sebaliknya, yang profan adalah yang biasa-biasa saja dalam kehidupan sehari-hari, yang selalu berubah.[7]

C.  Agama Menurut Sigmund Freud
            Sigmund Freud menyatakan bahwa agama adalah ilusi, neurosis, menghalangi pemikiran kritis dan pemenuhan sikap kekanak-kanakan.

            Ia memandang bahwa agama adalah sebagai pemuasan keinginan kekanak-kanakkan. Ini menilik dari arti nama psikoanalisis itu sendiri yang secara sederhana diartikan sebagai sebuah perawatan medis bagi orang-orang yang menderita gangguan syaraf. Lebih jauh lagi Freud dan para pengikutnya yang meyakini agama sebagai sesuatu hal yang negatif dan neurotis (sakit saraf/jiwa) sekaligus agama sebagai pemuasan keinginan kekanak-kanakkan. Penyebabnya adalah paling tidak ada dua faktor yaitu:

            Pertama, kepercayaan yang kuat terhadap Tuhan dalam sosok bapak.
            Faktor ini lebih banyak disebabkan oleh adanya pengalaman hidup yang dilalui orang-orang beragama pada usia dini/kanak-kanak yang menganggap orang tua, terutama bapak yang dengan penuh kasih sayang dapat menenteramkan anak yang tidak berdaya dan ketakutan, dan pada akhirnya terciptalah surga buatan baginya. Dengan demikian agama adalah sebuah ilusi menurut Freud.

            Kedua, ritus-ritus wajib yang dijalankan secara rumit.
            Tidak dapat kita pungkiri adanya sejumlah aturan-aturan di dalam agama dan upacara-upacara keagamaan lainnya. Maka tidak heran jika Freud memandang agama adalah gejala neurosis atau penyakit jiwa dimana ketika manusia yang pada dasarnya adalah makhluk yang bebas lalu dengan adanya agama manusia menjadi makhluk yang terbatas dengan banyaknya aturan yang harus ditaati di dalam agama. Baginya dengan adanya agama malah akan membatasi manusia untuk bertindak sesuai keinginannya atau dengan kata lain terkekang oleh agama. Maka tidak heran jika hanya orang gilalah yang mau untuk dikekang oleh aturan agama sedangkan dia sendiri dapat memutuskan bagi dirinya untuk hidup bebas.

            Agama juga digambarkan berupa kekuatan untuk membela dan bertahan atau mental defense dalam menghadapi segala musibah seperti bencana alam yakni gempa bumi, banjir, penyakit, dan lain sebagainya. Manusia beragama ketika dalam masalah seperti ini dipandang oleh Freud sebagai anak-anak yang kemudian lantas mencari perlindungan kepada bapaknya. Itulah salah satu alasan dari Freud yang memandang bahwa agama merupakan pemuasan keinginan kekanak-kanakan.

D. Catatan Untuk Pemikiran Sigmund Freud
            Freud menyatakan bahwa agama adalah ilusi, neurosis dan menghalangi pemikiran kritis. Padahal tidak semua agama begitu. Agama khususnya Islam, sangat menghargai kebebasan berpikir sepanjang tidak keluar dari pemikiran yang menyesatkan. Pemikiran filsafat pun memiliki rambu-rambu metode berpikir yang ketat. Pemikiran yang bebas dapat disimak dalam dialog antara Tuhan dengan Ibrahim As. Yang mempertanyakan bagaimana cara menghidupkan orang mati. Allah tidak menghukum Nabi Ibrahim atas pertanyaan yang seakan-akan meragukan keagungan-Nya. Allah bahkan memperkuat keimanan Ibrahim dengan cara menunjukkan kearifan keagungan-Nya. Empat ekor burung lumat tercencang kemudian diletakkan di atas bukit yang berbeda arah. Setelah mendapatkan panggilan, burung itu hidup dan terbang kembali mendatangi Ibrahim As. Peristiwa tersebut bukanlah ilusi dari seorang penderita neurosis. Peristiwa itu kongkrit, bukan angan-angan, bukan salah persepsi terhadap stimulus yang biasanya terjadi pada penderita neurosis.

            Menggunakan kebebasan berpikir untuk mencari kebenaran tidaklah sama dengan ilusi dari seorang pengidap neurosis. Manusia yang sakit mentalnya karena mengalami neurosis tanpa bantuan pencerahan agama tidak akan mampu mencari kebenaran. Itulah sebabnya agama memerintahkan untuk memelihara akal dan melarang mengkonsumsi sesuatu yang dapat merusaknya, sehingga dengan demikian akal dapat menjalankan fungsinya dengan jalan berpikir secara jernih dan bebas disertai pilihan bertanggung jawab untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan manusia.

            Orang yang sering berilusi dan terkena neurosis adalah orang yang menggunakan dan menyalahgunakan obat-obat psikoterapika seperti shabu-shabu, ganja, heroin dan semacamnya. Agama melarang keras penggunaan  segala macam makanan, minuman dan perbuatan yang bisa merusak akal pikiran manusia. Bahayanya bisa berakibat fatal karena dapat merusak jaringan otak manusia, sehingga kehidupan pemakainya hanyaakan dipenuhi dengan ilusi. Oleh karena itu, tidak mungkin orang yang beragama mengidap ilusi dan neurosis karena hal ini berarti dia sakit dan tidak dapat menjalankan fungsi pengabdiannya kepada ilahi yang memerlukan kesadaran penuh. Hasil interogasi polisi terhadap pemakai obat-obat psikoterapika pada umumnya adalah tergolong orang yang kurang memiliki keyakinan beragama yang kuat.

            Kesediaan dan kesadaran untuk bertobat, ketenangan, ketegaran dan kepasrahan menghadapi suatu masalah rumit bukan pertanda suatu ilusi. Keadaan kejiwaan ini menunjukkan pula bahwa agama bukan sia-sia. Akan tetapi, agama merupakan kekuatan penyembuh yang sangat besar bagi manusia yang mengalami keguncangan emosi yang luar biasa.

Daftar Pustaka
  • Atmaja Prawira, Purwa, Psikologi Kepribadian: Dengan Perspektif Baru,(Yogyakarya: Ar-Ruzz media, 2013).
  • Dister, Niko Syukur, Psikologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANIUS (anggota IKAPI), 1989).
  • Jalaluddin, Psikologi Agama, (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004).
  • Saebani, Beni Ahmad, Pengantar Antropologi, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2012).
  • Dhavamony, Mariasusai, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS (anggota IKAPI), 1995).

[1] Purwa Atmaja Prawira, Psikologi Kepribadian: Dengan Perspektif Baru, (Yogyakarya: Ar-Ruzz media, 2013), hal. 182
[2] Dr. Jalaludin, Psikologi Agama, (jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 13
[3] Dr. Niko Syukur Dister, Psikologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANIUS (anggota IKAPI), 1989), hal. 107. Lihat juga, Vergote,Godsdienstpsychologie, Tielt/Den Haag, 1967, hal. 214-220
[4] http://bennydaniarsa.blog.fisip.uns.ac.id/2011/03/13/agama-dan-masyarakat/ E. Durkheim juga menulis tentang agama pada bukunya: The Elementary Forms of Religious Life, transl. by J.W. Swain, London, hal. 37 dan 41, lihat: Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS (anggota IKAPI), 1995), hal. 87
[5] Op, cit. Dr. Niko Syukur Dister, hal. 109. Lihat juga, William James, The Varieties of Religious Experience, New York, 1958, Mentor Books, hal. 162
[6] Beni Ahmad saebani, Pengantar Antropologi, (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2012).
[7] Mariasusai Dhavamony, Fenomenologi Agama, (Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS (anggota IKAPI), 1995), hal. 87

[Sumber: Ciputra Raharjo]

Agenda Penghancuran Islam




Perkembangan jaringan internet di dunia sangatlah pesat. Saking pesatnya kemajuan dan pemanfaatan ini, internet menjadi salah satu sarana sebagian orang-orang jahat untuk menunjukkan secara nyata kebencian dan rasa permusuhan terhadap Islam dan mereka tidak segan untuk melakukan pembodohan terhadap kaum muslimin. Tujuan mereka hanya satu, yaitu menghancurkan Islam.

Saat ini mereka tidak menggunakan cara-cara untuk mengeluarkan orang Islam dari Islam, tetapi yang mereka lakukan adalah menjauhkan orang dari Islamnya. Tulisan-tulisan sesat dan menyesatkan yang mereka buat tidak sedikit terpampang di grup-grup diskusi dunia maya. Brainwashing yang mereka lakukan tak ayal menyebabkan sebagain pemuda-pemudi kaum muslimin terpengaruh dan akhirnya mereka tak segan lagi menjadi orang yang meragukan Islam. 

Sebagian besar dari mereka tidak segan melakukan penipuan-penipuan dan pengakuan-pengakuan palsu untuk meyakinkan kita para pembaca untuk melakukan pembenaran apa yang jelas-jelas salah. Perkembangan yang muncul dikarenakan sifat Islamophobia yang dirasakan oleh orang-orang yang membenci Islam. 

Robert Moorey dalam bukunya Islamic Invasion yang secara global berisi kebohongan-kebohongan dan secara nyata menunjukkan Islamophobia menyatakan bahwa:

“Islam is the world's second largest and fastest growing religion. Across America, mosques are shooting up in record numbers. To reach Muslims with the gospel, you must first shake their faith in their religion, Islam”

Moorey secara sadar mengakui Islam, sebagai agama yang Rahmatan lil Alamin dan satu-satunya yang diridhai Allah seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an, adalah agama yang paling cepat berkembang semenjak keruntuhan Ottoman ditahun 1924. 

Ini semua disadari oleh musuh-musuh Islam, dan semuanya berawal dari rasa kebencian, dan munculnya keragu-raguan dari mereka sendiri terhadap apa yang selama ini mereka imani. Di Amerika Serikat; sebagai negara dimana orang secara bebas bisa membeli senjata, kekerasan, pemerkosaan, homosexual, Rasisme, penyimpangan sexual, pembunuhan di sekolah-sekolah (seperti kasus Virginia tech), dan turis-turis yang di perlakukan sebagai kriminal; muncul suatu propaganda yang bertujuan untuk membuat suatu opini publik tentang negatif dari Islam, yang disebut Neo-Conservative.

Neo-con adalah sebutan bagi jelmaan partai konservatif gaya baru yang didirikan oleh George H. Bush. Di dalam mewujudkan agenda politik dan tendensi zionisme di Amerika Serikat. Semenjak didirikannya partai ini, ideologi neo-con ini menyebar ke penjuru Eropa dan menjadi suatu ideologi tersendiri yang membawa misi sikap skeptis terhadap Islam dan memusuhi Islam. Agenda memerangi Islam telah mulai dicanangkan dengan berbagai bentuk propaganda, diantaranya adalah jargon “War against terrorism” dan melabelkan Islam sebagai teroris.

Mantan kepala biro “Jerussalem Post” dan asisten ilmuwan di “Cato Institute”, Leon T. Hadar, telah mendokumentasikan indikasi kebijakan luar negeri AS yang dikuasai Neo Con dalam bukunya yang ditulis awal 90-an tentang kebijakan pemerintah AS sebagai berikut:

“Now that the Cold War is becoming a memory, America’s foreign policy establishment has begun searching for new enemies. Possible new villains include ‘instabilty’ in Europe – ranging from German resurgence to new Russian imperialism – the ‘vanishing’ ozone layer, nuclear proliferation and narcoterrorism. Toping the list of potential new global bogeymen, however are the Yellow Perril, the alleged threat to America economic security emanating from East Asia, and the so-called Green Peril (green is the color of Islam). The peril is symbolized by the Middle Eastern Moslem fundamentalist”  [Leon T. Hadar, The ‘Green Peril” : Creating the Islamic Fundamentalist Threat, Policy Analysis, Cato Institute, no. 177, 27 Agustus 1992]

Untuk memenuhi ambisi dan agenda politik neo-con, upaya pembentukan opini dan pemburukan citra Islam dilakukan dengan berbagai cara. Di antaranya adalah dengan bombardir opini publik via media-media baik cetak maupun elektronik. Artikel dan esai yang tersebar di majalah, surat kabar maupun jurnal ramai memperbincangkan tentang isu Islam dan terorisme. 

Di Indonesia sendiri, seorang muslim yang secara kaafah memahami Islam berdasarkan Al-Qur'an dan tuntunan Nabi-Nya, akan mudah mengenali model perusakan citra Islam melalui opini publik. Mereka-mereka yang sudah tinggal lama dan "dimanjakan" di negara-negara yang menganut Neo-konservatif ini, akan berusaha membantu untuk memuluskan jalan dalam penghancuran Islam.

Untuk mengelabui tindak-tanduk mereka, tidak sedikit dari mereka melakukan pembohongan dengan cara mengaku sebagai muslim yang taat, memahami Al-Qur'an, dan Al Hadist, faham bahasa arab dan banyak di antara mereka dengan pongah mengsejajarkan diri dengan Nabi Muhammad -Alahi Sholatu Wassalam-, dan para sahabatnya serta ulama kau muslimin. Opini-opini mereka tidak akan jauh dari Islam, Arab Saudi, dan Wahabi. 

Sayangnya, banyak pemuda muslimin yang lemah iman menerima mentah-mentah opini-opini menyesatkan ini. Itulah yang terjadi. Sangat mudah ditebak, pemuda-pemuda yang mulai dihinggapi rasa jijik kepada Al-Qur'an dan Hadist, adalah pemuda-pemuda yang sangat mudah dipengaruhi. Pemuda-pemuda yang masih dalam taraf mencari jati diri, yang konon mereka mengakui mengalami pergulatan bathin dalam menemukan kebenaran versi mereka. Mereka-mereka adalah pemuda-pemuda yang merasa paling komunis setelah membaca buku-buka Karl Marx atau D.N Aidit, atau paling liberal setelah buku-buku liberal dan mereka tidak segan menginjak-injak Al-Qur'an dan Hadist Nabi. 

Apabila kita menelaah ulasan para jurnalis neo-con yang islamfobia, mereka banyak mengambil sumber informasi dari sumber-sumber yang secara nyata memusuhi Islam. Opini-opini itu kini tersebar di berbagai media. Sebagai contoh adalah yang bersumber dari nama-nama sebagai berikut:

1. Nina Shea, seorang direktur ”Center for Religious Freedom”. Ia menulis sebuah essay berjudul ”Saudi Publication on Hate Ideology Fill American Mosques” setelah melakukan studi yang inadequate (tidak memadai) dan absurd ridiculous (tidak masuk akal dan menggelikan). Ia hanya melakukan observasi pada 15 masjid di AS (yang tidak sampai 1 % dari jumlah keseluruhan Masjid di AS) lalu mengambil kesimpulan yang bias dan tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu, Nina Shea banyak melakukan penukilan-penukilan dengan memotongnya sehingga keluar dari konteks dan membawa alur studi kepada pemahamannya yang anti Islam.

2. Daniel Pipes. Seorang kolumnis Amerika Zionis dan Islamfobia. Ia adalah direktur sebuah forum yang disebut dengan ”Middle East Forum”. Operasinya didukung oleh beberapa grup seperti ”Christian Coalition”, ”The America Israel Public Affair Commitee”, ”The American Jewish Congress” dan ”Zionist Organization of America”. Dia juga orang yang berada di belakang website “Campus Watch”. Ayahnya, Richard Pipes, adalah salah satu arsitek kebijaksanaan metodologi neo-con mantan seorang dosen di Harvard University selama lebih dari 46 tahun yang pensiun pada tahun 1996. Richard sendiri adalah seorang kelahiran Polandia yang lahir dari keluarga Yahudi kaya raya. Richard Pipes pernah menjabat sebagai “Tim B” CIA pada tahun 1976 dan mengklaim bahwa Soviet memiliki senjata pemusnah massal, yang memicu perang dingin berkepanjangan.

3. Robert Spencer, seorang katolik yang berideologi neo-con yang namanya melambung pasca peristiwa 11 September dan memproklamasikan dirinya sebagai ‘spesialis Islam’. Dia adalah editor buku The Myth of Islamic Tolerance: How Islamic Law Treat Non Muslims (Mitos tentang toleransi Islam: Bagaimana hukum Islam memperlakukan non muslim) [New York: Promotheus Books, 2005]. Ia berada di belakang website “Jihad Watch” dan “Dhimmi Watch” bersama dengan rekannya, Hugh Fitzgerald.

4. Bat Ye’or, seorang konseptor utama pencipta istilah Dhimmitude yang ia formulasikan dalam bukunya yang berjudul “Islam and Dhimmitude : Where Civilisations Collide” [Cranbury, Ney Jersey : Associated University Presses, 2002]. Bat Ye’or sendiri sebenarnya bukanlah nama aslinya, ini adalah nama samaran pseudonim dengan bahasa Ibrani. Nama aslinya adalah Giselle Littman, seorang kelahiran Mesir namun beragama Yahudi. Ia mengklaim sebagai ahli spesialis Timur Tengah. Ia juga pernah menulis buku yang berjudul “The Jews in Egypt” pada tahun 1971 dengan nama samaran Yahudiyya Masriya. Dia menuduh bahwa bangsa muslim merampas hak kaum Yahudi dan mengkhianati perjanjian-perjanjian mereka dengan Yahudi. Dia memiliki dendam pribadi terhadap Islam setelah dirinya diusir oleh pemerintahan Mesir dan tinggal di Inggris. 

5. Stephen Schwarts, Ia mengklaim dirinya sebagai ahli dalam masalah keislaman, Schwarts sangat anti dengan Wahhabi dan Saudi Arabia. Di dalam bukunya yang berjudul “The Two Faces of Islam: The House of Saud from Tradition in Terror”, Schwarts tidak pernah menyokong satupun pendapatnya tentang Islam dengan Al-Qur’an maupun Sunnah. Sangat menggelikan ketikan orang yang mengaku ahli masalah Islam tidak pernah menyokong pernyataannya dari sumber Islam. Bahkan lebih parah lagi, sebagaimana diutarakan oleh Amir Butler, bahwa Schwarts bersikap kelewat batas dengan membandingkan antara Wahhabisme dengan Fasisme di Italia, Komunisme di Soviet atau Militerisme Jepang. Schwarts, yang berpindah dari agama Yahudi ke agama Islam ala sufi Naqshabandiyah, tetap menunjukkan sikap antipati terhadap dakwah.

6. Oriana Falacci, seorang penulis Italia yang dikenal dengan buku best-sellernya Anger and Pride (Kemarahaan dan Kebanggan) ini menyamakan antara ayat suci Al-Qur’an dengan Mein Kampf-nya Hittler [Mein-Kampf = perjuanganku adalah catatan harian Hittler yang dianggap kitab suci-nya kaum NAZI]. 



7. Melanie Philips, penulis Londonistan: How Britain is Creating a Terror State within [London: Gibson Square, 2006]. Di dalam bukunya, Melanie banyak melakukan klaim-klaim tanpa bukti, seperti ia menyatakan bahwa toko-toko buku Islam turut menjual buku Mein Kampf-nya Hittler. Ia juga menyandarkan beberapa ucapan kepada Abdurrahman as-Sudays (Imam besar Masjidil Haram, Makkah Al Mukarromah) yang sangat aneh dan tidak menunjukkan di mana perujukan ucapan tersebut ia dapatkan. Banyak sekali sumber-sumber penukilan di buku ini yang tidak diketahui asal muasalnya. Dan ini jelas merupakan kebohongan untuk memuluskan propagandanya.

8. Patrick Sookhdeo, mantan muslim asal Guyana yang murtad menjadi Kristen Anglikan Kanon. Ia menjadi direktur lembaga tidak jelas bernama “Institute for The Study of Islam and Christianity”. Dia memiliki beberapa tulisan, diantaranya “The Chalenge of The Church” (2006), “Understanding Islamic Terrorist: The Islamic Doctrin of War” (2004) dan lainnya. Sookhdeo menulis artikel berjudul “The Myth of a Moderate Islam” yang menyatakan bahwa kaum teroris dan ekstrimis Islam melakukan tindakan teror adalah berangkat dari ajaran islam itu sendiri, sehingga aktivitas itu sendiri merupakan representasi dari Islam.

9. Ayaan Hirsi Ali, seorang wanita zindiq asal Somalia yang mengaku sebagai muslimah, namun tindak-tanduk dan karya tulisnya menunjukkan akan kebenciannya terhadap Islam. Dan ini dapat dengan mudah kita dapatkan di grup-grup diskusi yang secara nyata menyokong ini. Ia hijrah ke Belanda dengan cara keimigrasian gelap, dan pernah menjadi mantan anggota partai sayap kanan Belanda. Hirsi Ali menyeru pemerintahan kafir untuk lebih waspada menghadapi kaum muslimin dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyudutkan kaum muslimin. Sikap anti islammnya inilah menyebabkan dirinya menjadi “one of the most influential people of 2005” versi majalah “Times”. Di dalam bukunya, “The Caged Virgin: An Emancipation for Women and Islam” menunjukkan sikap kebencian kepada syari'at Islam dan kecenderungannya di dalam atheis dan menentang syariat-syariat Islam. Di bukunya ini ia lebih banyak mengejek dan menghina syariat islam terhadap perlindungan wanita, ia juga mengejek wanita-wanita muslimah yang secara komitmen menjalani syari'at Islam secara kaffah. Tidak aneh pula kalau kebenciannya terhadap Islam sangat tinggi karena ia juga pernah menghadiri pertemuan tahunan Komite Yahudi Amerika. 

Dan masih banyak lagi dari para jurnalis dan penulis neo-con yang islamfobia, yang mendiskreditkan dan menfitnah Islam, termasuk di Indonesia ini. Ada suatu agenda tersembunyi dan propaganda terang-terangan di dalam menyudutkan kebangkita Islam di dunia. Barat khawatir akan kebangkitan Islam, dalam hal ini Amerika memiliki kepentingan besar di dalam menjaga eksistensinya. Mereka menjadi paranoid dan ketakutan besar terhadap gerakan puritan dan kebangkitan kaum muslim. Mereka khawatir bangkitnya kembali Daulah Khilafah Islamiyyah sebagaimana pada masa-masa kegelapan Eropa. Untuk itulah, mereka berupaya mempersiapkan diri melawan suatu ’peperangan’ dan mencuri start dengan memerangi Islam dengan mengatasnakaman anti terorisme. 

Madeline Albright, mantan dubes AS bagi PBB menyatakan ketika dirinya masih menjabat sekretaris negara: ”The Islamic terrorism threat will lead to a war of the future” [London: The Observer, 23 Oktober 1998, hal. 14]

Dan inilah yang mereka takutkan. Oleh karena itu mereka akan senantiasa menjaga ko-eksistensi mereka, mereka melakukan peperangan dan kekerasan terorganisir atas nama humanity (kemanusiaan) padahal merekalah yang pertama kali menginjak-injak humanity. Sikap arogan seperti inilah yang akan membenamkan Amerika ke dalam jurang kehancuran –dengan izin Allah Subhana wa Ta'ala- ke dalam jurang kehinaan.

Samuel Huntington dalam bukunya Clash of Civilitation and the Remakingh of World Order [New York: Touchstone books: 1996] berkata (hal. 51) : 

“The West won the world not by the superiority of its ideas or values or religion (to which few members of other civilization were converted) but rather by its superiority in applying organized violence. Westerners often forget this fact; non westerner never do.”

Dari pernyataan ini jelas bahwa orang barat tidak pernah menyadari kesalahan mereka ini, sedangkan lawan mereka tidak pernah melupakannya. Dan inilah yang akan menjadi bumerang bagi mereka, di saat itulah civilitation (peradaban) Amerika akan hancur dan kepemimpinan Islam akan bangkit dan menggantikan posisi mereka, dengan izin Allah -Subhana wa Ta'ala.

Dan sebagai kaum muslimin, mari kita jadikan Al-Qur'an dan As Sunnah sebagai tuntunan kita. Cintailah Allah dan Rasul-Nya. Letakkanlah keduanya di kepala-kepala kita. Dan yakinlah akan semua janji-janji Allah -Subhana wa Ta'ala-. Jangan takut untuk memperkenalkan Islam kepada istri-istri kita, dan lingkungan keluarga kita. Ajarilah anak-anak kita seperti Lukman Al Hakim mengajari anaknya.

Ajarilah anak-anak kita berbahasa arab sehingga mereka mampu membaca dam memahami Al-Qur'an, Janganlah kita meninggalkan sholat 5 waktu sekali pun, karena ketika kita mulai berani meninggalkan, maka Allah akan mencabut kecintaan kita kepada Islam dan akan menghinakan kita di hari kiamat. Ajari mereka Islam yang benar, jauhilah dari perbuatan-perbuatan syirik, dan menyimpang dari tuntunan Islam. Jauhkan keluarga kita dari makanan-makanan haram yang akan meracuni darah-darah mereka. Cintailah Makkah dan Madinah, karena Rosulullah telah menyatakan keutamaan kedua kota tersebut di Hadistnya yang mulia. 

Rosulullah tidaklah menyebutkan Washington D.C, New York, California, Amsterdam, Delft, Groningen, atau Jakarta sekalipun sebagai negeri yang rahmatan lil alamin. Tapi Rosulullah menyebut Makkah dan Madinah. Negeri-negeri yang Rahmatan lil Alamin bukanlah negeri-negeri di mana orang secara bebas bisa membeli senjata lalu menembakkannya kepada masyarakat sipil, bukanlah negeri di mana kekerasan, pemerkosaan, homosexual, Rasisme, penyimpangan sexual, anak-anak lahir di luar nikah, pembunuhan di sekolah-sekolah (seperti kasus Virginia tech), dan turis-turis yang di perlakukan sebagai kriminal, poltik standar ganda berlaku di sana.

Namun negeri yang Rahmatan lil Alamin adalah negeri di mana Penduduknya menyembah hanya kepada Allah -Subhana wa Ta'ala-,  Yaitu Allah -Subhana wa Ta'ala- yang disembah Nabi Adam Alaihi Salam hingga Nabi Ibrahim, Ismail, Ishaq Yakub Yusuf Ayub, Musa, Harun dan Daud -Alaihi Sallam-, yaitu Allah -Subhana wa Ta'ala- yang disembah oleh Nabi Isa dan Nabi Muhammad -Alaihi Sholatu Wassalam-, dan tidak melakukan kesyirikan, negeri di mana hukum-hukum Allah -Subhana wa Ta'ala ditegakkan, negeri di mana penduduknya saling mencintai atas dasar ketakwaan hanya kepada Allah -Subhana wa Ta'ala. Negeri yang dulunya gersang dan hanya suatu lembah yang tandus, dan kemudian di do'akan Nabi Ibrahim -alaihi Salam- hingga seperti sekarang. Negeri di mana Nabi Ismail dan ibundanya, Hajar, akhirnya menetap di sana. 

Jangan pernah terpengaruh oleh manisnya kalimat-kalimat orang yang secara jelas menunjukkan Islamophobia, yang hanya bisa mengandalkan otak-otak mereka. Tanyailah setiap pernyataan mereka dengan dalil dari Al-Qur'an dan Al Hadist, maka niscaya kita akan temui mereka tak berdaya, yang hanya berteriak  tanpa dalil yang jelas kecuali berdasarkan otak-otak ayam mereka, dan ingatan mereka pada masa kecil yang kita dapat pertanggungjawabkan. Merekalah dajjal-dajjal para pendusta agama ini.

Mereka adalah orang-orang yang meletakkan Al-Qur'an dan Al Hadist di tumpukan paling bawah. Mereka adalah musuh-musuh yang nyata. Slogan mereka tak lebih dari muntahan barang haram yang telah mereka makan dan kenakan. Mereka adalah orang-orang pengecut yang berlindung di balik ketiak-ketiak tuan mereka. Mereka yang terlena dengan keindahan dunia, dan menggadaikan iman-iman mereka. Mereka bekerja untuk kepentingan orang-orang yang membenci Islam. Sesungguhnya mereka tidak sadar siapa yang mereka hadapi. Mereka itu sombong, dan mereka menantang Allah -Subhana wa Ta'ala. 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا
“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.” (QS. An-Nuur[24]:55) 

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Al-Hajj[22]:40)

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ
“Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (Tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu?” (QS. Ali-Imran[3]:160)

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali-Imran[3]:120)

Semoga rangkuman ini bermanfaat buat kita, dan semakin meningkatkan ukhuwah Islamiyah di antara kaum Muslimin. Seluruh kebenaran datangnya hanya dari Allah -Subhana wa Ta'ala- dan kesalahan datang dari kekhilafan pribadi. Dan sesungguhnya seluruh urusan kaum muslimin adalah selalu baik, baik disaat diberikan kenikmatan oleh Allah -Subhana wa Ta'ala- dan kita bersyukur, dan disaat diberikan cobaan maka kita senantiasa bersabar. 

Semoga Allah memberikan kita keteguhan di atas Islam yang Haq.
Amin.

[Sumber: Sallysety | Dari berbagai sumber]

Email Dari Mas Mohammad Taufiq


Salam,
Ini adalah email yang panjang. Mohon luangkan waktu anda untuk memahaminya dengan baik. Saya mengundang seluruh umat manusia, apa pun agamanya, untuk membaca email ini dengan harapan semoga kita semua dapat memetik hikmah darinya. Saya menulis email ini dilandasi oleh beberapa pertanyaan, yakni yang jawabannya seringkali tidak memuaskan saya, seperti:

1. Al Quran adalah untuk seluruh umat manusia. Akan tetap kenapa sampai saat ini hanya orang-orang yang mengaku beragama Islam saja yang mendominasinya? Kenapa agama Kristen juga tidak menggunakan Al Quran? Kenapa Yahudi juga tidak? Kenapa orang Hindu dan Budha pun tidak? Atau mungkin saja ada, tapi yang pasti tentulah hanya segelintir saja.

2. Bagaimana Agama Islam dapat menjelaskan nasib seorang manusia pada hari kiamat nanti jika ia terlahir, katakanlah di negara Nicaragua, beragama Kristen atau Yahudi, tidak pernah mengenal Al Quran, tidak mengetahui ajaran Nabi Muhammad, dan sampai tiba ajalnya tidak pula pernah mengenal Islam. Padahal ia seorang yang berbudi baik, berperilaku santun, dermawan, ramah, dan suka membantu orang lain. Apakah menurut pandangan Islam ia akan masuk neraka? Jawaban yang saya terima beragam.
  • Ada yang mengatakan jika memang ia belum pernah mendengar tentang Islam, maka ia adalah pengecualian dari neraka, tapi jika sudah, maka dia harus memeluk Islam.
  • Ada yang secara eksrim mengatakan bahwa apa pun amalannya, jika ia mati dalam keadaan tidak beragama Islam, maka ia masuk neraka.
Menurut saya, jawaban-jawaban di atas terdengar tidak logis. Tidak adil, karena tidak satu pun manusia yang dapat menentukan agama apa yang dianut orang tuanya saat ia dilahirkan. Kalaupun misalnya ada seseorang yang tidak pernah mendengar tentang Islam tapi karena amal baiknya lalu masuk surga, mengapa dengan amalan yang sama, saudara seimannya yang pernah mengenal Islam (tapi tidak memeluk Islam) harus masuk neraka?

Untuk pendapat yang ekstrim, lebih tidak adil lagi. Seorang berbudi luhur yang sepanjang hidupnya selalu mengamalkan kebajikan tetapi ketika mati harus masuk neraka semata-mata karena tidak memeluk agama yang sama sekali tidak pernah ia lihat atau dengar. Tidakkah ini bertentangan dengan sifat Tuhan yang Maha Adil? Saya tidak tahu bagaimana pandangan orang Yahudi dan Nasrani akan hal ini. Tapi saya duga kemungkinannya sama saja, semua orang akan menganggap bahwa agamanya yang paling benar. Agamanyalah yang akan menyelamatkan dirinya dari api neraka.

Untuk itu, pernyataan bahwa Al Quran untuk seluruh umat manusia rasanya perlu kita tinjau kembali. Karenanya saya coba untuk membaca Al Quran dengan melepas semua atribut keagamaan saya. Saya coba membaca Al Quran, bukan sebagai umat Islam, tapi sebagai manusia. Dan sedapat mungkin saya coba untuk menghilangkan asumsi-asumsi yang ada dalam tafsir Al Quran (biasanya ditandai dengan kurung) kecuali untuk kata ganti orang atau benda sesuai dengan konteks ayat. Saya coba berangkat dari 'kosong'. Meski susah, tapi saya coba. Dimulai dari ayat berikut:

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." [QS.3:85]

Jika demikian, siapakah orang yang beragama Islam itu? Ini yang saya dapatkan; Islam adalah kata dari bahasa arab yang bermakna berserah diri, tunduk patuh. Untuk merujuk ke orangnya digunakan kata muslim yang berarti orang yang tunduk patuh, yang berserah diri. Saya coba search ke dalam Al Quran dengan menggunakan keyword berserah diri dan menemukan banyak ayat yang menurut hemat saya relevan antara satu sama lain seperti di antaranya adalah sebagai berikut:

"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." [QS.3:67]

Ayat ini melekatkan kata muslim (berserah diri) kepada Nabi Ibrahim (Abraham). Jadi, Ibrahim adalah orang Islam (Muslim).

"Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." [QS.27:44]

Nabi Sulaiman (Solomon) dan Ratu Saba, Balqis, berserah diri pada Allah. Nabi Sulaiman dan pengikutnya adalah orang-orang Islam (Muslim).

"Dan Ya'qub berkata: "Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri." [QS.12:67]

Nabi Ya'qub (Jacob) mengaku berserah diri, Nabi Ya'qub adalah orang Islam (Muslim).

"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia (Musa dan Harun): "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." [QS.10:90]

Nabi Musa (Moses) dan Nabi Harun (Aron) mengaku berserah diri. Dengan demikian Nabi Musa dan Nabi Harun adalah orang Islam (Muslim). Sedangkan pengikutnya, bani israil, seharusnya juga muslim.

"Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." [QS.3:52]

Nabi Isa (Yesus) dan pengikutnya mengaku berserah diri, Maka nabi Isa dan pengikutnya juga orang Islam (Muslim).

Masih banyak lagi ayat lain yang mengindikasikan Nabi-nabi di atas (serta nabi-nabi yang tidak disebutkan di sini) dan para pengikutnya mengaku Muslim. Hal ini dapat kita temui melalui googling dengan keyword "Tunduk Patuh". Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa setiap Nabi sejak jaman Adam sampai jaman Nabi Muhammad (termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa) dan para pengikut mereka sesungguhnya adalah Muslim. Dengan kata lain, dalam pandangan Al Quran mereka beragama Islam.

Dari kenyataan di atas saya mulai paham ayat berikut:

"Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." [QS.3:85]

Lalu, bagaimana dengan umat Hindu, Budha, atau agama bumi lainnya? Apakah Islam juga mencakup pengertian agama bumi?

Saya menemukan janji Allah berikut ini yang membuktikan bahwa Al Quran juga mengakui agama bumi di luar agama yang dibawa oleh para nabi, yakni agama yang kita kenal dengan sebutan shabiin:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [QS.2:62]

"Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [QS.5:69]

Ayat ini menjawab pertanyaan tentang bagaimana nasib seseorang yang tidak pernah datang kitab kepada mereka (ummi) ataupun peringatan para Rasul (bukan hanya rasul Muhammad). Al Quran menyiratkan bahwa Allah tetap memperhitungkan mereka sepanjang mereka beriman kepada Allah. Saya memberikan penekanan pada kata Allah disini dari bahasa arab yang berarti Al Ilah atau Tuhan. Sehingga tiap orang bisa saja mempunyai sebutan kepada Tuhannya tergantung bahasa yang digunakan.

Cerita nabi Ibrahim berikut meyakinkan saya:

"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam." Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." [QS.6:75-79]

Nabi Ibrahim mencontohkan bagaimana proses pencariannya kepada Tuhan melalui tanda-tanda kekuasaan Tuhan di langit dan di bumi tanpa petunjuk kitab, bahkan ia sempat berganti-ganti 'Tuhan'. Namun pada akhirnya berbuah kesimpulan adanya suatu dzat tunggal yang maha kuasa. Jadi Tuhan kita adalah Tuhan yang satu. Hanya sebutannya yang berbeda, Allah, Alah, Yahwe, Sang Hyang Widhi, dlsb, yang pada dasarnya merupakan dzat yang sama, yakni Tuhan yang satu.

Akhirnya saya paham kenapa Ibrahim diangkat jadi Imam untuk semua manusia.

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim." [QS.2:124]

Beliau merupakan contoh yang sempurna untuk agama yang lurus, baik agama samawi ('Islam', Kristen, Yahudi) maupun agama bumi (tanpa kitab). Nabi Muhammad pun dalam Al Quran diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim yang lurus:

"Katakanlah (Muhammad): "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah. "Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik." [QS.3:95]

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya." [QS.4:125]

Nabi Ibrahim adalah nabi kesayangan Allah.

Sekarang saya sudah mulai paham sifat universal Al Quran. Al Quran menjanjikan hukuman kepada yang tidak taat dari golongan 'Islam' (yg kita kenal sekarang ini, pengikut nabi Muhammad), sama kerasnya dengan hukuman yang diberikan kepada golongan Yahudi dan Nasrani yang tidak taat kepada Rasulnya. Di saat yang sama, Al Quran juga menjanjikan Surga kepada golongan Muhammad yang taat pada Rasulnya sama baiknya dengan janji yang diberikan pada golongan Kristen dan Yahudi yang taat pada Rasulnya, bahkan golongan Shabiin di luar agama samawi.

Saya paham sekarang bahwa istilah Islam dan Muslim itu bukan hanya merujuk kepada umat nabi Muhammad, akan tetapi juga kepada umat-umat nabi yang lain, termasuk umat nabi Musa (Yahudi) dan umat nabi Isa (Kristen). Saya juga paham kenapa Allah di dalam Al Quran tidak pernah menyebut yahudi dan nasrani sebagai "Diin" atau agama. Karena bagi Allah, kita semua adalah satu agama. Agama Ibrahim yang lurus, dimana nabi Ibrahim adalah Imamnya. Akhirnya saya pun paham maksud ayat ini, tentunya setelah membaca Al Quran tanpa sentimen agama.

"Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku." [QS.21:92]

Satu pertanyaan lagi yang timbul, kenapa syariat 3 agama samawi, yakni 'Islam' (saya beri tanda kutip untuk menandai bahwa ini adalah Islam golongan Muhammad) Kristen, danYahudi ini begitu berbeda? Kenapa tidak disatukan saja?

"Manusia itu adalah umat yang satu. maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." [QS.2:213]

Manusia adalah umat yang satu, namun terpecah-pecah karena dengki antar mereka semata. Allah tidak menyukai perpecahan dan manusia yang bergolong-golongan.

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu." [QS.23:52-54]

Allah membenci orang yang memecah agama tauhid ini menjadi golongan-golongan, seperti 'Islam', Kristen, dan Yahudi. Semua Rasul diperintahkan untuk mengajarkan agama yang berserah diri (agama Ibrahim yang lurus), bukan membentuk golongan. Dan karena itu tentunya para Rasul pun akan menyeru kepada pengikutnya agar tidak menjadi bergolongan.

Bergolong-golongan tentu saja akan menjadi sesuatu yang nampak wajar apabila kita dalam satu agama, dan disodori syariah yang berbeda-beda. Yahudi dengan hukum taurat, Kristen dengan hukum Injil, dan 'Islam' dengan hukum Al Quran. Tapi tidak semua dari kita menyadari pesan -pesan dalam kitab suci masing-masing yang menyeru kepada agama yang satu, bukan menjadikan kita bergolong-golongan. Sungguh kita tidak menyadari, sehingga akhirnya terbentuklah dunia seperti yang kita kenal sekarang ini.

Saya baru menyadari makna ayat berikut:

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)." [QS.3:64]

Nabi Muhammad menyeru kepada Ahli kitab (orang yang berpegang kepada Taurat dan Injil), agar mencari persamaan, yakni ketauhidan, bukan mengajak para ahli kitab pindah 'agama'. Dengan kata lain Nabi Muhammad mengakui syariah yang dibawa oleh Nabi Musa dan Nabi Isa.

"Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa." [QS.5:46]

"Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam." [QS.10:37]

Adapun jika difahami dengan benar, maka firman Allah SWT berikut ini sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengkonfirmasikan bahwa ajaran Taurat atau Injil itu salah atau sudah expired seperti pendapat kebanyakan orang.

"Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik." [QS.135]

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." [QS.5:51]

Nabi Muhammad diperintah oleh Allah untuk tidak menjadi bergolongan seperti golongan Yahudi atau golongan Nasrani. Tetapi harus tetap menegakkan agama Ibrahim yang lurus. Beliau tidak diperintahkan untuk meng-convert para ahli kitab agar menjadi pengikutnya. Bahkan diperingatkan untuk tidak berdebat dengan mereka. Namun jika terpaksa harus berdebat, beliau - dan tentu saja semua pengikutnya - diperintahkan untuk berdebat dengan cara-cara yang baik.

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri." [QS.29:46]

"Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu." [QS.5:68]

Nabi Muhammad mengatakan kepada umat Nabi Musa dan Umat Nabi Isa agar menegakkan ajaran kitab masing-masing, agar bisa dipandang sebagai beragama oleh Allah. Jika kita tidak menjunjung tinggi ajaran kitab masing-masing, hanya akan menambah kekafiran.

Injil membenarkan Taurat, Al Quran membenarkan Injil dan Taurat. Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa Al Quran adalah untuk semua 'golongan' - atau lebih baik saya sebut umat - adalah benar.

Berikut adalah apa yang diinginkan Allah, Tuhan kita semua:

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu." [QS.16:92]

Masalah jumlah umat hendaknya jangan dipusingkan, itu hanyalah ujian. Yang menambah kedengkian kita pada golongan lain.

"Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." [QS.16:93]

Saya mencoba memahami kiblat sebagai 'panutan syariah' atau panutan kitab dan saya akhirnya memahami kenapa dalam agama tauhid, agama Ibrahim yang lurus, terdapat 3 syariah yang semuanya diakui kebenarannya sampai sekarang. Ayat berikut berbicara tentang kiblat, yang dalam pandangan umat 'Islam' berarti ka'bah secara fisikal dan sebagai penunjuk arah sujud dalam sholat.

"Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka dari kiblatnya yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus" [QS.2:142]

Saya mengganti kata kiblat dengan kata panutan syariah, bahasa kasarnya, saya dapat arti seperti ini: orang yang kurang akalnya heran melihat orang mengganti agama atau golongannya, misalnya dari syariah Injil menjadi syariah Al Quran atau dari syariah Al Quran menjadi Syariah Taurat misalnya. Tapi Tuhannya tetap satu, yakni Allah.

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu, umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." [QS.2:143]

Ini alasan sebenarnya, kenapa syariah itu menjadi 3 dalam satu agama, Tuhan menetapkan syariah kita seperti sekarang ini, agar Tuhan tahu, siapa yang benar-benar mengikuti Rasul atau kiblat masing-masing dan tetap menjaga agar tidak menjadi bergolongan, tetap menjaga agama yang satu. Godaan untuk menjadi bergolongan (menjadi eksklusif dan merasa benar sendiri) sangat besar karena adanya perbedaan syariah. Dan sungguh itu terasa berat, sangat berat untuk mengakui kebenaran agama orang lain. Sehingga lebih banyak yang terjebak dalam gelimang aktualisasi rasa dengki.

"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." [QS.2:144]

Allah akan memalingkan kita ke 'syariah' yang kita sukai. Sangat wajar jika seorang anak Yahudi akan memilih syariah Yahudi yang telah lebih dulu dianut oleh orang tuanya. Ayat ini membuat saya tidak perlu merasa beruntung dilahirkan dari keluarga Muslim, demikian juga anak Yahudi atau Nasrani tidak perlu merasa beruntung dilahirkan dari keluarga Yahudi atau Nasrani. Sebab sesungguhnya masing-masing agama yang diimani keluarga tersebut - bila diamalkan dengan baik dan benar sesuai dengan ajaran Tauhid melalui para rasul-Nya - maka Insya Allah, ridha Tuhan akan tetap menjadi keniscayaan.

Khusus untuk syariah Muhammad yang datang belakangan, diserukan untuk memalingkan muka ke arah Masjidil Haram, agar para ahli kitab tahu, bahwa syariah yang diajarkan Nabi Muhammad adalah benar dari Tuhan. Sekarang, saya pribadi meyakini bahwa Masjidil Haram itu adalah salah satu tempat yang diklaim oleh 3 agama samawi. Saya akan memberikan penjelasan pada email yang lain.

"Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu - kalau begitu - termasuk golongan orang-orang yang zalim." [QS.2:145]

Nabi Muhammad diperingatkan untuk tidak mengikuti keinginan para ahli kitab agar menjadi bergolongan dan merasa benar sendiri, seperti yang terjadi di dunia hingga detik ini. Masing-masing syariah dibenarkan, dan tidak tidak pula perlu menjadi bergolongan.

"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui." [QS.2:146]

Dari ajaran yang dibawa Nabi Muhammad (Al Quran), para pemegang Injil dan Taurat akan menemukan hal yang tidak asing - karena sama seperti apa yang tertulis dalam kitab mereka. Bahkan hal ini diumpamakan oleh Allah 'seperti mengenali anak sendiri.'

"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." [QS.2:148]

Pada hakikatnya, kebenaran bagi setiap syariah adalah bahwa kita melaksanakan apa yang diperintahkan Allah SWT, yakni berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan sebagaimana ditegaskan lagi dalam kisah berikut:

"Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". [QS.2:111]

"(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [QS.2:112]

Orang-orang Yahudi maupun Nasrani mengklaim bahwa hanya merekalah masing-masing yang paling benar, yang berhak masuk surga. Dibantah oleh Allah dalam ayat berikutnya, "Tidak demikian, siapa pun yang berserah diri, berbuat kebajikan, maka dapat pahala", dan bisa mendapat ganjaran surga, tanpa melihat syariah yang diyakininya!

Akhirnya saya pribadi meyakini bahwa syariah adalah sekumpulan rules, peraturan dari Tuhan, bukan penentu masuk tidaknya kita ke Surga. Kepatuhan pada syariah yang kita ikutilah yang akan membawa kita kepada ganjaran yang baik dari yang Maha Kuasa. Syariah adalah penguji kepatuhan.

Apa pun agama anda, kembalilah ke ajaran murni yang sebenarnya dari KITAB masing-masing. Kita sebenarnya sedang diuji oleh yang Maha Kuasa dengan perbedaan syariah. Syariah yang berbeda seharusnya tidaklah membuat kita saling iri hati, dengki, bahkan sampai mengobarkan peperangan. Tuhan kita adalah Tuhan yang satu. mari kita damaikan perselisihan antara orang-orang yang beriman di antara kita.

Umat Muhammad dan Umat Musa harusnya berterima kasih kepada para misionaris umat Isya. Berkat mereka benua Amerika, Eropa, dan penjuru dunia lain telah mengenal agama Ibrahim yang lurus lewat syariah Injil.

Umat Isya dan umat Musa harusnya berterima kasih pada pendakwah-pendakwah 'Muslim' yang hingga saat ini mampu mengajak lebih dari 2 Milyar manusia di muka bumi ini mengenal Agama Tauhid melalui syariah Al Quran.

Umat Isya dan Umat Muhammad seyogyanya berterima kasih kepada umat Nabi Musa yang karena derajatnya ditinggikan oleh Allah, mereka mampu memberikan warna pada ilmu pengetahuan di antara umat manusia.

Mari sebarkan perdamaian. Anda tentu tidak akan meledakkan bom di gereja, sinagog, mesjid, dan tempat-tempat ibadah lain karena sekarang anda tahu bahwa orang-orang yang ada di dalam sana sedang memuliakan Tuhan yang juga anda sembah, meski dengan cara yang berbeda, tapi direstui oleh Tuhan anda.

Dengan pemahaman ini saya yakin ayat berikut sudah terpenuhi:

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat." [QS.110:1-3]

Apakah waktunya sudah dekat?
Mari saudara-saudaraku, kita saling bahu membahu menegakkan agama Ibrahim yang lurus. Dengan kembali memurnikan ajaran kitab masing-masing, lepaskan segala asumsi dan arogansi agama. Berpegang teguhlah pada kitab yang kita pegang, apa pun itu. Jangan mengambil asumsi di luar dari kitab yang diturunkan oleh Allah.

"Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui." [QS.6.115]

Kalimat Tuhan tidak hanya ada di dalam kitab Al Quran, akan tetapi juga ada di dalam kitab Injil dan Taurat. Dan yakinlah bahwa pesan kelurusan agama Ibrahim akan tetap kekal dalam kitab-kitab suci tersebut. Tidak ada tangan manusia yang dapat merobah (kemurnian) nya.

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)." [QS.6:116]

Menyebarkan pemahaman ini adalah tugas yang berat, kebanyakan orang di muka bumi ini masih menyangka bahwa golongan merekalah yang terbaik. Padahal sesungguhnya tidak. Karena itu, mari kita tegakkan agama Ibrahim yang lurus!

Allah bersama kita.

Salam,
Mohammad Taufiq


Ribuan Manuskrip Islam Kuno Tersimpan Di Amerika


Perpustakaan untuk buku-buku langka di Universitas Princeton, AS ternyata menyimpan ribuan manuskrip Islam yang ditulis dalam bahasa Arab, Persia, Turki Ustmani dan bahasa-bahasa lainnya dari berbagai negara Muslim di dunia.

Saat ini ada sekitar 9.500 manuskrip Islam yang tersimpan di Library’s Departemen of Rare Books and Special Collection, Universitas Princeton. Dari jumlah tersebut, 200 manuskrip pilihan di sediakan dalam bentuk online sehingga mudah diakses bagi siapa saja yang ingin melakukan penelitian.

Don Skemer, kurator manuksrip kuno mengatakan, Universitas Princeton adalah salah satu lembaga yang memiliki banyak koleksi manuskrip penting dan terbaik di dunia. Akses online terhadap 200 manuskrip Islam pilihan itu, kata Skemer, adalah bagian dari proyek digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam yang sudah dimulai sejak tahun 2005. Nantinya, seluruh manuskrip akan dikatalogkan secara online dilengkapi dengan informasi tentang penulis dan isi manuskrip untuk membantu para peneliti apakah akan memesan salinan dalam bentuk mikro film atau hanya perlu datang sendiri ke perpustakaan.

“Digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam secara khusus dilakukan agar perpustakaan bisa meningkatkan aksesnya terhadap koleksi-koleksi manuskrip yang sangat penting dan memberikan kesempatan bagi dunia untuk ikut membacanya lewat teknologi digital,” jelas Skemer.

Michael Cook, seorang profesor bidang studi Timur Jauh dan pakar Islam di Amerika menyambut proyek digitalisasi katalog manuskrip-manuskrip Islam di Universitas Princeton. “Perpustakaan online menandai kemajuan dalam hal layanan informasi tentang perkembangan manuskrip, di mana setiap orang bisa mengaksesnya lewat intenet,” ujarnya.

Manuskrip-manuskrip Islam yang tersimpan di Universitas Princeton adalah manuskrip-manuskrip bersejarah yang dari masa awal perkembangan Islam sampai jatuhnya dinasti Turki Ustmani yang menandai berakhirnya kekhilafahan Islam. Manuskrip-manuskrip itu berupa ensiklopedi, sejarah, biografi, literatur, buku-buku seni, ilustrasi, tentang hal-hal ghaib, astrologi, astronomy, matematika, kedokteran dan berbagai tulisan ilmiah serta spiritual dari berbagai belahan dunia Islam, mulai dari Spanyol, Afrika, Timur Tengah, India dan Indonesia.

Perpustakaan itu juga menyimpan manuskrip-manuskrip pilihan yang ditulis dalam bahasa Persia serta gambar-gambar miniatur jaman Mughal dan kaligrafi dari abad ke-18. (ln/isc/PU) Dari Eramuslim.