Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Judaisme dan Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judaisme dan Kristen. Tampilkan semua postingan

Torah Dan Mazmur Dalam Perjanjian Lama Alkitab


KITAB TORAH - TAURAT
Kitab Taurat adalah kumpulan firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Musa Alayhi Salam. Kitab ini berlaku hanya pada Nabi Musa Alayhi Salam dan Bani Israil.

Firman Allah,

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa.” (QS. Al-Baqarah: 87).

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab Taurat dan Kami jadikan kitab Taurat petunjuk bagi Bani Israil.” (QS. Al-Isra’: 2).

Kitab Taurat ini hanyalah salahsatu bagian dari Kitab suci agama Yahudi yang disebut Biblia/Al Kitab (terdiri dari Thora, Nabiin, dan Khetubiin). Di kemudian hari orang-orang Kristen menamainya Perjanjian Lama (Old Testament).

Konon Taurat yang tertuang dalam Perjanjian Lama tersebut berasal dari Nabi Musa Alayhi Salam dan dibagi menjadi lima kitab:
  1. Kitab Kejadian (Genesis) yang mengisahkan kejadian alam semesta, kejadian Adam dan Hawa serta dikeluarkannya mereka dari surga, dan turunnya Adam, dan sejumlah Nabi sampai Yusuf Alayhi Salam,
  2. Kitab Keluaran (Exodus) yang mengisahkan tentang keluarnya Bani Israil dari Mesir yang dipimpin Nabi Musa Alayhi Salam akibat penindasan Fir’aun, keberadaan Musa di Padang Tih, Semenanjung Sinai selama 40 tahun, munajat Musa Alayhi Salam.terhadap Yahwe (Allah), sampai turunnya Sepuluh Perintah Tuhan.
  3. Kitab Imamat (Leviticus) yang berisi kumpulan hukum/syariat dalam agama Yahudi.
  4. Kitab Bilangan (numbers) yang menerangkan jumlah keturunan dua belas Bani Israil pada zaman Nabi Musa Alayhi Salam .
  5. Kitab Ulangan (Deuteronomy) yang berisi pengulangan kisah kepergian Bani Israil dari Mesir dan pengulangan kumpulan peraturan.
Kata Taurat berasal dari bahasa Ibrani: “Thora” yang berarti syariat, perintah, atau hukum. Kitab Taurat itu sendiri memang diturunkan dalam bahasa Ibrani. Nama Taurat disebut dalam Al-Quran sebanyak delapan belas kali. Isi pokok kitab ini adalah Sepuluh firman atau Perintah Allah (Ten Commandements) yang diterima oleh Nabi Musa Alayhi Salam ketika berada di puncak gunung Tursina.

Sepuluh Firman atau Perintah yang mencakup asas-asas akidah (keyakinan) dan asas-asas syariat (kebaktian) itu termuat dalam kitab Keluaran pasal 20: 1–17 dan Kitab Ulangan pasal 5: 1–21 sbb:
  1. Keharusan mengakui ke-Esa-an Allah dan mencintai-Nya.
  2. Larangan menyembah patung atau berhala, sebab Alllah SWT tidak dapat diserupakan dengan makhluk-makhluk-Nya baik yang ada di langit, di darat, maupun di air.
  3. Perintah menyebut nama Allah SWT dengan hormat
  4. Perintah memuliakan hari Sabat (sabtu)
  5. Perintah menghormati ayah-ibu
  6. Larangan membunuh sesama manusia
  7. Larangan berbuat cabul (mendekati zina)
  8. Larangan mencuri
  9. Larangan berdusta (menjadi saksi palsu)
  10. Larangan berkeinginan memiliki atau menguasai barang orang lain dengan cara yang tidak benar.
Selain Sepuluh Firman atau Perintah Allah, Nabi Musa Alayhi Salam juga menerima wahyu lain tentang tata-cara melaksanakan shalat, berqurban, upacara dan lain sebagainya. Dalam menyiarkan ajaran tersebut, Nabi Musa Alayhi Salam dibantu oleh saudaranya, Nabi Harun Alayhi Salam.

Hanya saja, yang patut disesalkan, beberapa waktu lamanya setelah Nabi Musa Alayhi Salam wafat, isi kitab Taurat telah diubah oleh pemuka Yahudi. Sebagian firman Allah dalam kitab tersebut mereka gelapkan, sebagaimana telah diberitakan oleh Allah SWT dalam Al-Quran,

"Dan mereka tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya saat mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Jawablah (ya Muhammad): “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembarann-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan apa yang kamu dan bapak-bapak kamu belum ketahui.” Katakanlah: “Allah (telah menurunkannya)”. Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am: 91)

Maksudnya Nabi Muhammad Shallalhu Alayhi Wa Salam diperintah untuk meninggalkan orang-orang yang mempermainkan agama setelah menyampaikan petunjuk yang benar.

Di antara isi Kitab Taurat yang diubah adalah tentang kerasulan Muhammad dan sifat-sifatnya. Firman Allah SWT.

“Apakah kamu (umat Muhammad) masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal sebagian mereka telah mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 75)

Ayat ini menegaskah bahwa di antara orang Yahudi ada yang mengubah isi Taurat, antara lain yang berhubungan dengan kerasulan Muhammad Shallalhu Alayhi Wa Salam.

Setelah adanya perubahan isi dalam kitab Taurat tersebut, masihkah kita wajib mempercayainya? Salahsatu cara menyikapi kitab Taurat seperti yang diterangkan dalam Ensiklopedi Islam Indonesia karya Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta: Djambatan, 1992.

“… Oleh karena itu keimanan umat Islam dengan Taurat sebagai satu di antara kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelum Al-Quran, sudah cukup dalam bentuk membenarkan berita Al-Quran dan hadits Nabi, bahwa dulu Nabi Musa menerima firmann-firman Tuhan, yang dinamakan dengan Taurat. Sebagian firman-firman yang disampaikan kepada Musa itu disebutkan dalam Al-Quran dan apa yang disebutkan Al-Quran itu tentu dipercaya sebagai bagian dari kandungan Taurat” ~ Susi Anita

Kitab lain yang juga dikategorikan sebagai kitab Perjanjian lama oleh umat Kristen adalah Mazmur atau Zabur.

KITAB ZABUR - MAZMUR
Kitab Zabur atau Mazmur adalah kumpulan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Dawud Alayhi Salam.

"Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud." (QS. Al-Isra': 55)

Kata zabur - bentuk jamaknya zubur, berasal dari kata zabara-yazburuzabr yang arti harfiahnya adalah "menulis". Atau dalam pengertian lainnya berarti "kitab yang tertulis"

Zabur dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan mazmuur - bentuk jamaknya mazamir, dan dalam bahasa Ibrani disebut "mizmor", atau nyanyian rohani yang dianggap suci.

Kitab Zabur berisi kumpulan mazmur, yakni nyanyian rohani yang dianggap suci (Inggris: Psalm) yang berasal dari Nabi Dawud Alayhi Salam. 

150 nyanyian yang terkumpul dalam kitab ini berkisah tentang seluruh peristiwa dan pengalaman hidup Nabi Dawud Alayhi Salam mulai dari kejatuhannya, dosanya, pengampunan dosanya oleh Allah, suka-cita kemenangannya atas musuh Allah, kemuliaan Allah, sampai kemuliaan Mesias yang akan datang. Artinya, kitab ini sama sekali tidak mengandung hukum-hukum atau syariat (peraturan agama), karena Nabi Dawud Alayhi Salam diperintah oleh Allah untuk mengikuti peraturan yang dibawa oleh Nabi Musa Alayhi Salam.

Secara garis besar, nyanyian rohani yang disenandungkan oleh Nabi Dawud Alayhi Salam terdiri dari lima macam:
  1. ratapan dan doa individu;
  2. ratapan-ratapan jamaah;
  3. nyanyian untuk raja;
  4. nyanyian liturgy kebaktian untuk memuji Tuhan; dan
  5. nyanyian perorangan sebagai rasa syukur.
Nyanyian pujian dalam Kitab Zabur antara lain, Mazmur: 146
  1. besarkanlah olehmu akan Allah. Hai Jiwaku pujilah Allah.
  2. maka aku akan memuji Allah seumur hidupku, dan aku akan nyanyi pujian-pujian kepada Tuhanku selama aku ada.
  3. janganlah kamu percaya pada raja-raja atau anak-anak Adam yang tiada mempunyai pertolongan.
  4. maka putuslah nyawanya dan kembalilah ia kepada tanah asalnya dan pada hari itu hilanglah segala daya upayanya.
  5. maka berbahagialah orang yang memperoleh Ya'qub sebagai penolongnya dan yang menaruh harap kepada Tuhan Allah.
  6. yang menjadikan langit, bumi dan Taut serta segala isinya, dan yang menaruh setia sampai selamanya.
  7. yang membela orang yang teraniaya dan yang memberi makan orang yang lapar. Bahwa Allah membuka rantai orang yang terpenjara.
  8. dan Allah membukakan mata orang.

Latar belakang sejarah Judaisme dan Kristen

Kristen pada mulanya adalah salah satu mazhab dari agama Yahudi era Haikal ke-2, tetapi kemudian terpisah dari agama Yahudi pada abad pertama tarikh Masehi.

Perbedaan-perbedaan antara agama Kristen dan agama Yahudi awalnya berkisar seputar soal benar tidaknya Yesus adalah Almasih bangsa Yahudi, tetapi perbedaan-perbedaan ini akhirnya mustahil terukunkan.

Perbedaan-perbedaan utama antara kedua umat ini antara lain adalah pandangan tentang fitrah Almasih, penebusan, dosa, status titah-titah Tuhan kepada bangsa Israel, bahkan hakikat Tuhan itu sendiri! 

Dampak dari perbedaan-perbedaan ini, agama Yahudi secara tradisonal menganggap Kristen sebagai syituf (syirik), yakni agama yang menyembah Tuhan bangsa Israel dengan cara dan pemahaman yang tidak mencerminkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, Kristen secara tradisional menganggap agama Yahudi tidak lagi diperlukan sesudah wujudnya agama Kristen, dan bahwasanya bangsa Yahudi sudah tergantikan oleh Gereja, kendati keyakinan Kristen mengenai teologi dua perjanjian muncul sebagai fenomena sesudah umat Kristen merenungkan dampak teologi agama mereka terhadap Holokaus Nazi.

Sedari Abad Pertengahan, Gereja Katolik berpegang teguh pada Constitutio pro Judæis (pernyataan resmi mengenai umat Yahudi), yang berbunyi:
Dengan ini kami maklumkan bahwa tak seorang Kristen pun dibenarkan memaksa mereka untuk dibaptis dengan menggunakan kekerasan, jika mereka tidak rela dan menolak dibaptis. Tanpa keputusan pejabat politik setempat, tak seorang Kristen pun dibenarkan untuk mencelakai, membunuh, dan merampas uang mereka, maupun mengubah kebiasan-kebiasaan baik yang sudah lumrah diamalkan di tempat mereka bermukim.
Sebelum beremansipasi pada akhir abad ke-18 dan abad ke-19, orang Yahudi yang berdiam di negeri Kristen harus tunduk pada perintah-perintah dan larangan-larangan hukum yang merendahkan martabat mereka, antara lain perintah mengenakan pakaian tertentu sebagai tanda Yahudi semisal topi Yahudi dan lencana kuning, larangan menetap selain di kota-kota besar dan kota-kota kecil tertentu atau bermukim di luar kawasan-kawasan tertentu (kampung Yahudi) di dalam sebuah kota, dan larangan berkecimpung di bidang-bidang usaha tertentu semisal usaha dagang pakaian baru di Swedia pada Abad Pertengahan. Selain itu, orang Yahudi juga dikenai pajak-pajak khusus, disisihkan dari kehidupan bermasyarakat, dihalang-halangi menunaikan ibadat, dan dilarang berbahasa asing. Ada pula negara-negara yang mengusir umat Yahudi dari wilahnya, seperti Inggris pada tahun 1290 (diizinkan masuk kembali pada tahun 1655), dan Spanyol pada tahun 1492 (diizinkan masuk kembali pada tahun 1868). 

Pemukim-pemukim Yahudi pertama di Amerika Utara tiba di Nieuw Amsterdam, koloni Belanda, pada tahun 1654. Warga-warga Yahudi pertama ini tidak dibenarkan menjadi pejabat publik, membuka toko pengecer, maupun mendirikan sinagoga. Sesudah Nieuw Amsterdam direbut Inggris pada tahun 1664, hak-hak warga Yahudi tidak mengalami peningkatan, tetapi Asser Levy menjadi orang Yahudi pertama yang duduk sebagai anggota dewan juri pengadilan di Amerika Utara pada tahun 1671. 

Pada tahun 1791, negara Prancis yang baru saja mengalami revolusi menjadi negara pertama yang menghapus segala macam aturan khusus bagi orang Yahudi, disusul oleh Prusia pada tahun 1848. Emansipasi orang Yahudi Inggris Raya terwujud pada tahun 1858, sesudah hampir 30 tahun lamanya diperjuangkan oleh Isaac Lyon Goldsmid. Orang Yahudi akhirnya diperbolehkan menjadi anggota parlemen dengan disahkannya Undang-Undang Keleluasaan Orang Yahudi tahun 1858. Kekaisaran Jerman menghapus segala macam aturan khusus bagi orang Yahudi di Jerman pada tahun 1871, yang kelak diberlakukan kembali dengan Undang-Undang Nürnberg pada tahun 1935.

Ketenteraman hidup umat Yahudi di negeri-negeri Kristen sering kali dirongrong dengan aksi-aksi fitnah darah, pengusiran, paksaan berpindah agama, bahkan pembantaian. Prasangka buruk terhadap agama Yahudi merupakan biang keladi persekusi terhadap umat Yahudi di Eropa. Retorika dan antipati Kristen terhadap umat Yahudi muncul pada tahun-tahun permulaan sejarah agama Kristen dan disuburkan oleh aksi-aksi anti-Yahudi yang kian lama kian marak pada abad-abad selanjutnya. Perlakuan umat Kristen terhadap umat Yahudi juga mencakup tindak kekerasan bahkan pembunuhan yang berpuncak pada Holokaus. 

Perlakuan semacam ini dipicu oleh dakwah Kristen, dalam seni rupa dan ajaran-ajaran yang memasyarakat selama dua milenia, yang mengungkap pandangan hina terhadap orang Yahudi, serta dalam statuta-statuta yang sengaja dirancang untuk mempermalukan dan melekatkan citra buruk pada orang Yahudi. Partai Nazi dikenal gemar menindas komunitas-komunitas umat Kristen; beberapa di antaranya, semisal Gereja Bersaksi, Gereja Katolik,Kaum Quaker, dan Saksi Yehuwa, menolong dan menyelamatkan orang-orang Yahudi yang menjadi incaran rezim antiagama itu.

Sikap umat dan denominasi-denominasi Kristen terhadap bangsa dan agama Yahudi sudah berubah ke arah yang lebih positif semenjak Perang Dunia II. Paus Yohanes Paulus II dan Gereja Katolik "menjunjung tinggi pengakuan Gereja akan status terpilih yang bersifat permanen dan berkesinambungan dari bangsa Yahudi" maupun pengukuhan kembali perjanjian antara Tuhan dan bangsa Yahudi. Pada bulan Desember 2015, Vatikan mengeluarkan antara lain sepucuk dokumen berisi 10.000 kata, yang menegaskan bahwa umat Katolik harus bahu-membahu dengan umat Yahudi dalam memerangi antisemitisme.

Distorsi Trinitarian atas Kata “Echad”


Kata Ibrani untuk “dengar” ialah shema. Karena itu, kata Shema dipakai umat Yahudi sebagai nama kepada proklamasi sakral di Ulangan 6:4: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” [1] Ini sebenarnya sebuah terjemahan yang salah karena ia mengaburkan fakta bahwa “TUHAN” dalam naskah Ibrani asli adalah “Yahweh”. Ayat ini secara harfiah menyatakan, “Dengarlah, hai orang Israel: Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa!” New Jerusalem Bible memberikan terjemahan yang sangat baik: “Listen, Israel: Yahweh our God is the one, the only Yahweh”.

Ada sebuah artikel [2] yang beredar luas di Internet oleh seorang penulis yang tesisnya didasarkan pada tulisan penulis kedua, seorang yang bernama Nick Norelli, yang berpendapat bahwa “satu” dalam Ulangan 6:4 harus ditafsirkan menurut jalur pikir trinitaris. Untuk lebih spesifik, ada dua artikel: artikel yang pertama mengutip Norelli, dan yang kedua oleh Norelli sendiri. Meskipun pembahasan kita berpusat pada dua artikel tersebut, dimulai dengan yang pertama dan dilanjutkan dengan yang kedua, kita sebenarnya menyinggung banyak buku dan artikel yang menyampaikan argumentasi-argumentasi yang kurang lebih sama.

Artikel yang pertama (yang mengutip Norelli) agak pelik karena salah mengeja kata Ibrani untuk “satu” menjadi “eschad” (transliterasi yang benar adalah “echad” atau “eḥad”). Kesalahan ini (yang memperlihatkan ketidaktahuan akan alfabet Ibrani dengan memasukkan “s” yang non-eksisten) tampak konsisten di sepanjang artikel kecuali saat ia mengutip sumber-sumber lain. Hal ini disebut supaya ketika salah ejaan ini muncul dalam pembahasan kita, pembaca tidak akan menganggapnya sebagai salah ketik atau salah kutipan. [3]

Artikel yang pertama, di bagian yang berjudul “The Argument”, dimulai dengan mengutip sebuah pernyataan yang dibuat oleh seorang rabi (yang tidak diberi nama): “Kata echad dalam bahasa Ibrani berfungsi dengan cara yang persis sama dengan kata ‘one’ dalam bahasa Inggris.” Artikel ini selanjutnya mengatakan bahwa rabi itu “lalai menyebutkan, bahwa ada dua kata untuk ‘satu’ dalam bahasa Ibrani”.

Singkatnya, artikel ini menuduh rabi ini telah menutupi bukti penting yang membenarkan kasus trinitarian. Artikel itu melanjutkan: “ketika hal ini menjadi jelas Anda akan melihat bahwa seluruh maksud dari kata Eschad menjadi sangat jelas.” Dengan kata lain, rabi ini dituduh telah menggelapkan perkara dengan menahan informasi penting bahwa ada dua kata Ibrani untuk “satu”. Ini merupakan tuduhan yang amat berani dari seseorang yang bahkan tidak dapat mentransliterasikan kata Ibrani untuk “satu”.

Bertentangan dengan apa yang dituduhkan terhadap rabi itu, saya menyatakan tanpa kekhawatiran akan kontradiksi faktual bahwa rabi itu justru benar ketika ia berkata, “Kata echad dalam bahasa Ibrani berfungsi dengan cara yang persis sama dengan kata ‘one’ dalam bahasa Inggris.” Atau dalam hal ini bahasa Cina, Jerman, dan Perancis. Dan bertentangan dengan tuduhan yang ditujukan terhadap sang rabi, rabi itu tidak lalai menyebutkan bahwa ada kata lain untuk “satu” dalam bahasa Ibrani, karena memang tidak ada kata lain untuk “satu” selain echad! Namun pengkritik rabi dengan membabi buta mengikut seseorang yang bernama Nick Norelli, yang di dalam apa yang kita sebut “artikel kedua” tampaknya tidak lebih berpengetahuan tentang bahasa Ibrani dan dasar eksegesis Alkitabiah dibandingkan dengan pengkritik ini, tetapi tetap menulis sebuah artikel atas subjek ini yang memiliki “bentuk” ilmiah (penuh dengan catatan kaki) tetapi kurang berbobot.

Dalam artikel kedua yang ditulis Norelli,[4] Norelli tampaknya tidak memahami makna dasar dari kata Ibrani yachid yang ia sendiri timbulkan untuk dibahas. Mengenai kata ini ia mengatakan dengan tepat:

JPS Tanach 1917 menerjemahkan yachid sebagai only sebanyak 10 dari 12 kali kata itu muncul dalam teks Ibrani, dua kali yang lainnya diterjemahkan sebagai, solitary, dan 8 dari 10 kali itu kata itu dipakai untuk merujuk pada seorang anak tunggal.

Mari kita jelaskan apa yang dikatakan Norelli: Kata Ibrani yachid muncul 12 kali dalam Alkitab Ibrani; terjemahan JPS 1917 menerjemahkan yachid sebagai only (“hanya, saja”) sebanyak 10 kali, dan sebagai solitary (“tersendiri, tunggal”) sebanyak dua kali. Ini tepat.

Ini berarti menurut observasi Norelli sendiri, tidak satu kali pun kata yachid diterjemahkan sebagai “satu” dalam JPS Tanakh! Dengan kata lain, Norelli sendiri mengakui bahwa tidak sekali pun kata yachid pernah berfungsi sebagai kata Ibrani yang kedua untuk “satu”! Ia tampaknya tidak sadar bahwa ia sedang menyangkal tesisnya sendiri ketika ia mengakui (dengan tepat) bahwa makna dasar dari yachid adalah only (“hanya, saja”) alih-alih “satu”. Kata ini biasanya dipakai dalam konteks seperti only son (“anak tunggal”), tetapi “satu” bukanlah salah satu dari definisinya.

Sama membingungkannya, Norelli lalu menyediakan sebuah daftar yang berisi semua kata yachid yang dipakai dalam Alkitab. Berikut daftarnya, yang saya kumpulkan dari program Bibleworks. Nomor ayat sesuai dengan Alkitab Indonesia, bukan Alkitab Ibrani):
  • Kejadian 22:2 Ambillah anakmu yang tunggal itu
  • Kejadian 22:12 menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku
  • Kejadian 22:16 menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku
  • Hakim 11:34 Dialah anaknya yang tunggal
  • Mazmur 22:21 dan milikku satu-satunya (MILT)
  • Mazmur 25:16 aku sendirian dan tertindas (MILT)
  • Mazmur 35:17 dan satu-satunya milikku (MILT)
  • Mazmur 68:7 tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara
  • Amsal 4:3 sebagai anak tunggal bagi ibuku
  • Yeremia 6:26 seperti menangisi seorang anak tunggal
  • Amsal 8:10 perkabungan karena kematian anak tunggal
  • Zakaria 12:10 seperti orang meratapi anak tunggal

Andai saja Norelli menyimak sekilas daftar ini, ia akan melihat bahwa kata “satu” tidak pernah muncul. Dalam Alkitab-alkitab Inggris, yachid secara konsisten diterjemahkan sebagai only (kecuali dua kali diterjemahkan sebagai lonely, atau “sendirian”, “sebatang kara” yang dalam bahasa Ibrani didasarkan pada konsep only). Meskipun dengan bukti di hadapan mata yang dikumpulkannya sendiri, Norelli tidak dapat melihat bahwa yachid berarti only(“hanya”, “saja”) dan bukan “satu”! Apa masalahnya? Permasalahannya merupakan sesuatu yang pernah saya alami sebelumnya: kebutaan yang disebabkan oleh trinitarianisme; kita menolak untuk melihat apa yang sudah jelas. Ini benar-benar mengerikan, dan kiranya Allah berbelas kasihan atas kita.

Jika Anda mengambil daftar 12 ayat ini ke sebuah kelas Alkitab, dan meminta setiap orang dalam kelas untuk membacakan ayat-ayat tersebut dalam berbagai versi Alkitab (Inggris atau Indonesia) sebanyak yang dapat mereka temukan, dan lihat apakah mereka dapat menemukan bahkan satu versi yang menerjemahkan yachid sebagai “satu”.

Apa yang “lalai disebutkan” Norelli (menggunakan ungkapan yang secara tidak adil dikenakan kepada sang rabi) adalah fakta ini: Sementara Norelli dengan tepat mencatat bahwa yachid muncul 12 kali dalam Alkitab Ibrani, ia gagal menyebutkan fakta krusial bahwa echad muncul 977 kali! Sebuah kekhilafan kecil? Atau apakah ini sebuah tindakan yang disengaja untuk menutupi bukti penting dalam memahami arti “satu”?

Anda tentu ingat bahwa di artikel yang pertama, pengkritik rabi dengan yakin menegaskan bahwa ada dua kata Ibrani untuk “satu”, sambil memberi kesan bahwa kedua kata itu begitu erat terkait sehingga tidak dapat dibedakan secara semantik, berbeda hanya dalam satu hal, yaitu yachid adalah “satu” dalam arti tunggal sedangkan echad bisa jadi tunggal atau gabungan, sehingga memberi dukungan kepada trinitarianisme. Jika ini memang benar, kita akan melihat distribusi yang luas dari kedua kata itu di sepanjang Alkitab Ibrani. Namun statistik menunjukkan bahwa ini sepenuhnya palsu (977 versus 12).

Hanya echad ditemukan di sepanjang Alkitab sedangkan yachid muncul hanya dalam konteks-konteks terbatas. Sebagai contoh, yachid muncul 3 kali di Kejadian 22 untuk merujuk kepada anak “tunggal” Abraham Ishak, dan hal ini sendiri merupakan seperempat dari semua kemunculan yachid di dalam Alkitab! Dari 12 kali kemunculan yachid, 8 merujuk kepada seorang anak tunggal, dan ini sendiri merupakan dua pertiga dari semua referensi. [5]

Dengan perbedaan statistik sebesar 977 versus 12, perbedaan semantiknya dikaburkan oleh kontras numerikal ini. Penulis kedua artikel ini telah “membodohi” (“taken us for a ride”) kita. Atau barangkali mereka sendiri terlebih dulu telah dibodohi orang lain. Artikel-artikel yang ditulis berdasarkan premis yang sama yang termotivasi oleh doktrin seperti ini, banyak sekali beredar di Internet dan di beberapa buku.

Biarlah dinyatakan dengan tegas bahwa echad merupakan satu-satunya kata untuk “satu” dalam bahasa Ibrani, dan bahwa kata yachid (only) tidak akan pernah dapat menggantikan “satu” di dalam Shema (Ul.6:4). Coba baca ayat itu dengan menggantikan kata “satu” dengan only! Namun Norelli berargumentasi bahwa yachid adalah “satu” secara tunggal sedangkan echad bisa jadi tunggal atau gabungan untuk membuat Allah menjadi sebuah trinitas. Anda dapat merancang kemenangan dangkal dengan membuat aturan sendiri, atau dalam kasus ini mengarang-ngarang definisi sendiri, tetapi pada akhirnya Anda hanya menipu diri sendiri dan orang lain, dan ini bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan karena melibatkan firman Allah. Pada akhirnya kepada Allah yang hiduplah kita harus mempertanggung-jawabkan diri kita.

Berkenaan dengan fakta bahwa angka “satu” bisa memiliki makna tunggal atau gabungan, bukankah ini juga berlaku untuk semua bahasa utama yang lain? Kita dapat berbicara tentang satu pribadi atau satu keluarga, jadi bagaimana “satu” harus dimengerti dalam bahasa apa pun ditentukan dari kalimat itu secara keseluruhan, dan bukan dari kata “satu” itu sendiri. Dengan sendirinya kata “satu” tidak dapat dipakai untuk membuktikan bahwa Allah itu sebuah trinitas hanya karena “satu” bisa mengambil makna kesatuan. Arti kata “satu” dalam Ulangan 6:4 hanya dapat ditentukan dari ayat itu atau dari konteksnya, dan keduanya sama sekali tidak memberikan indikasi adanya Allah tritunggal, atau dalam kasus ini “Yahweh” yang tritunggal.

Untuk mengilustrasikan hal tersebut, pernyataan “tidak ada satu belalangpun yang tinggal di seluruh daerah Mesir” (Kel.10:19) mengacu kepada belalang tunggal secara numerik, bukan dua atau tiga belalang menyatu menjadi satu. Di sisi lain, “one man” bisa mengacu kepada seorang manusia secara numerik (“Abraham was only one man, yet he got possess­ion of the land”, Yeh.33:24) atau satu kesatuan dari sekelompok orang (“they came out as one man”, 1Sam.11:7). Jadi makna dari “one man”—apakah tunggal numerik atau gabungan—ditentukan oleh konteks, baik oleh kata he tunggal (Abraham) atau kata they jamak (orang Israel). Catatan: echad (“satu”) dipakai dalam semua ayat tersebut.

Tampaknya Norelli berusaha memperoleh semacam pengaruh psikologis atas para pembacanya, dengan meninggalkan sebuah tanda tanya dalam pikiran mereka: Barangkali, barangkali saja, kata “satu” (“Yahweh Allahmu itu satu”) harus dimengerti sebagai sebuah “satu” gabungan dan dengan demikian sebagai sebuah rujukan kepada Trinitas. Jika Norelli berhasil meninggalkan tanda tanya ini dalam benak para pembacanya, ia sudah mencapai objektifnya sekalipun ia tahu persis bahwa argumentasinya tidak membuktikan apa-apa.

Namun siapa saja yang mengizinkan tanda tanya itu mengendap di pikirannya akan menjadi korban yang mudah bagi kesalahan politeisme trinitarian yang merusak iman biblika. Alkitab Ibrani bersifat monoteistis ketat tanpa kompromi, sebuah fakta yang tidak akan diperdebatkan oleh sarjana Alkitab yang bertanggung jawab. Mengingat Shema dari Ulangan 6:4 dikutip dalam kedua artikel tersebut, mari kita melihatnya sekali lagi: “Dengarlah, hai orang Israel: Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa (satu)!”

Penulis kedua artikel tersebut sebenarnya lebih berani dari kebanyakan trinitarian yang lain karena mereka menerapkan arti “satu” gabungan kepada Yahweh alih-alih kepada Allah. Dalam ayat ini, “satu” merujuk secara spesifik kepada Yahweh, yang segera merobohkan argumentasi mereka. Mengapa? Kata “Yahweh” muncul 6,828 kali dalam Alkitab Ibrani. Kata ganti tunggal “aku” dan bukan kata ganti jamak “kami” dipakai setiap kali Yahweh merujuk kepada Diri-Nya Sendiri sebagai orang pertama. Demikian pula, ketika Yahweh dibicarakan sebagai orang ketiga, kata ganti tunggal “ia” atau “dia” selalu dipakai, bukan “mereka”. Melawan bukti yang berlimpahan ini, Norelli berusaha memperjuangkan kemungkinan kata “satu” memiliki arti gabungan di Ulangan 6:4.

Jika pronomina tunggal orang pertama dan ketiga (“Aku” dan “Ia”) yang muncul ribuan kali itu tidak cukup bukti bagi Norelli dan yang lain yang sepandangan dengannya, bagaimana dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yahweh adalah Allah dan “tidak ada yang lain” (misalnya Yes.45:5, “Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah”)? Perhatikan sekali lagi pronomina orang pertama tunggal (“Aku”).

Akan tetapi mereka yang menutup matanya kepada kebenaran tidak akan dapat dibujuk dengan bukti Alkitabiah sebanyak apa pun. Apakah mungkin sebenarnya trinitarianisme-lah yang sebenarnya mereka pedulikan, dan bukan kebenaran Alkitab? Tidak mengherankan rabi yang dikutip dalam artikel yang pertama mengungkapkan rasa frustasi terhadap argumentasi trinitarian yang didasari oleh penjelasan echad yang palsu itu. Ia bisa saja menyatakan terus-terang bahwa argumentasi ini nonsens, tetapi cukup sopan untuk tidak mengatakan demikian.

Dan apakah mungkin kedua penulis itu tidak tahu bahwa “Yahweh” bukanlah sebuah nama umum untuk Allah tetapi sebuah nama pribadi untuk Allah Israel? Bagaimana mungkin sebuah nama pribadi mempunyai referensi multi-pribadi? Bagaimana mungkin sebuah nama pribadi seperti Yahweh atau Yesus Kristus atau William Shakespeare, ketika digunakan secara referensial, merujuk kepada lebih dari satu pribadi tertentu? Di bidang kesarjanaan biblika, sudah terkenal bahwa “Yahweh” bukanlah satu cara umum untuk merujuk kepada Allah. “Yahweh” juga bukan sinonim untuk “Allah”. Zondervan Encyclopedia of the Bible, “Names of God”, mencatat:
Jika El (allah) adalah sebuah istilah umum untuk keilahian dalam pikiran orang-orang di daerah-daerah Alkitab dan Timur Dekat Kuno, nama Yahweh adalah nama Ibrani yang spesifik untuk Allah … Adalah signifikan bahwa pemakaian nama ini [Yahweh] untuk Allah merupakan sesuatu yang unik kepada bangsa Israel. Bangsa-bangsa Semit yang lain tampaknya tidak mengetahuinya atau setidaknya tidak memakainya untuk merujuk kepada Yang Ilahi kecuali melalui kontak dengan orang Ibrani yang membawanya kepada perhatian mereka. Nama itu adalah milik khusus umat perjanjian.
Sebagai nama Allah Israel yang dinyatakan secara khusus (Kel.3:14), “Yahweh” bukanlah sebuah referensi multi-pribadi. Nama itu merujuk kepada Dia saja, dan Ia telah menyatakan bahwa “tidak ada Allah kecuali Aku” (Ul.32:39; bdk. Yes.44:8; 45:5, dll.). Hal ini sudah dinyatakan dalam Perintah yang Pertama: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel.20:3; Ul.5:7). Pada Hari itu dapatkah kedua penulis artikel tersebut berharap untuk lolos dari tuduhan serius karena telah melanggar Perintah Pertama?

Saya telah merespon dengan nada keras kepada kedua penulis artikel yang eksposisinya begitu kurang bermutu sehingga tidak layak untuk sebuah studi firman Allah. Karena firman Allah adalah “firman kehidupan”, mereka yang tidak berhati-hati “membagikannya dengan tepat” (2Tim.2:15 ILT) harus mempertanggung jawabkan dirinya kepada Allah yang hidup karena telah memimpin orang lain ke dalam kesalahan. Menguraikan Kitab Suci bukanlah sebuah permainan untuk orang-orang yang mempunyai terlalu banyak waktu. Kita harus berjuang untuk memahami kebenaran Allah tanpa memedulikan harga yang harus dibayar, termasuk doktrin-doktrin yang kita sayangi. Hanya kebenaran Allah yang harus menang jika kita ingin masuk ke dalam hidup yang kekal. Atas alasan yang sama, saya akan dengan hormat dan dengan pikiran terbuka memperhatikan semua eksposisi firman Allah yang benar-benar berkomitmen kepada kebenaran.

Untuk lebih jelasnya, baca juga: ECHAD IN THE SHEMA

[Eric H.H Chang - Distorsi ayat alkitab | Dikutip dari buku The Only Perfect Man]

CATATAN KAKI
[1] Shema aslinya merujuk kepada proklamasi sakral di Ulangan 6:4 tetapi telah diperluas untuk mencakup Ulangan 6:4-9 dan 11:13-21, dan Bilangan 15:37-41.
[3] Kata Ibrani untuk “satu” (אֶחָד) kadang-kadang ditransliterasikan sebagai echad. “c” ditambahkan sebelum “h” untuk menandakan “h” keras atau parau berbeda dari “h” lembut. Dalam beberapa buku, “h” keras ditunjukkan dengan menempatkan sebuah titik di bawahnya (ḥ), tetapi keyboard Inggris tidak dapat mengetiknya dengan mudah, jadi titik itu sering dihilangkan atau “h” ditransliterasikan sebagai “ch”. Namun penulis artikel tidak tahu semua ini, jadi ia mengarang-ngarang eschad yang non-eksisten, tetapi mempunyai keberanian untuk mengkritik seorang rabi yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempelajari Kitab Suci Ibrani, sesuatu yang jelas belum dilakukan oleh pengkritiknya.
[4] https://rdtwot.files.wordpress.com/2007/06/yachid-vs-echad.doc, seperti apa adanya pada March 31, 2013.
[5] Empat yang lain tidak merujuk kepada seorang anak tunggal, dan ditemukan dalam kitab Mazmur dan para penerjemah Alkitab mengalami kesulitan untuk menemukan terjemahan yang sesuai untuk yachid yang sesuai dengan konteks.


Apakah Umat Yahudi Mengimani Roh Kudus Seperti Halnya Umat Kristen?

Ketika pertanyaan ini diajukan oleh QUORA kepada umat Yahudi, setidaknya ada 15 responden lain (hampir seluruhnya adalah umat Yahudi) di samping yang GM kutip tulisannya di bawah ini dengan tegas menolak mengimani ROH KUDUS sebagaimana umat Kristen mengimaninya sebagai unsur Tuhan Tritunggal.

Seperti penjelasan masing-masing responden yang dapat kita simak sendiri di sini, penolakan mereka pada umumnya berdasarkan pada pengertian, atau konsep tentang Roh Kudus sebagaimana dimaksud dalam kitab Tanakh, alkitab Ibrani. Bukan seperti doktrin Kristen yang memaksa sosok Roh Kudus menjadi Tuhan!

Artinya, secara kolektif umat Yahudi menganggap umat Kristen terlanjur salah kaprah mengartikan eksistensi Roh Kudus yang sesungguhnya sebagaimana dimaksud dalam kitab Tanakh.

Simak contohnya seperti salahsatu jawaban di bawah ini:  


TERJEMAH BEBAS
Apakah Umat Yahudi Mengimani Roh Kudus Seperti Halnya Umat Kristen?

Pertanyaan Anda sebetulnya memiliki dua sisi: satu bersifat teologis, yang lainnya bersifat linguistik. Masalahnya, bahasa tidak dapat ditafsirkan secara satu-per-satu dalam semua kasus. Beberapa kata dalam suatu bahasa bisa jadi memiliki arti langsung dan tunggal dalam bahasa lain. Bahkan dalam bahasa Inggris, terutama bila Anda menganggapnya sebagai jargon, Anda dapat menemui kata-kata dengan banyak arti - bahkan dalam  pengucapannya - semisal "bow" yang bisa berarti bagian depan dari perahu, atau bisa juga berarti pita yang diikatkan pada rambut anak perempuan. Dua makna yang tidak ada hubungannya, dan dua cara pengucapan yang sama tapi tidak terkait apapun antara arti yang satu dengan lainnya.

Ketika menerjemahkan kata dari bahasa Ibrani ke bahasa Inggris, Anda terpaksa harus berurusan dengan ambivalensi transliterasi dari huruf Ibrani sampai Romawi - terkadang tanpa cara yang jelas untuk menuliskan suara (vocal) yang tidak ditemui dalam perbendaaraan kata bahasa Inggris.

Berbagai kata Ibrani yang bisa diartikan dalam bahasa Inggris sebagai "roh" adalah:

Shekinah, Shechinah, atau Schechinah (bahasa Ibrani: שְׁכִינָה) - secara teknis artinya "tinggal" atau "menetap", dan secara khusus adalah di mana hadirat Tuhan berada.

Ruach ha-kodesh (bahasa Ibrani: רוח הקודש, atau "roh kudus" juga diterjemahkan sebagai ruaḥ ha-qodesh) -- ini mungkin bahasa Ibrani yang paling mendekati arti kata "Roh Kudus" -- dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai "Roh Kudus Yang Kudus."  Elke Weiss sudah menjelaskan konsep ini dengan sangat baik.

Nephesh (bahasa Ibrani נפש, secara harfiah berarti "makhluk hidup") - ini bisa dianggap sebagai jiwa seseorang, terkait dengan naluri alami.

Neshama (Ibrani: נשמה, harfiahnya "nafas") - berhubungan dengan intelek dan kesadaran akan Tuhan.

Chaya (Ibrani חיה, secara harfiah berarti "hidup") - dianggap sebagai bagian dari Tuhan.

Yechidah (Ibrani יחידה, secara harfiah berarti "singularitas") - juga disebut pintel Yid ("[batin] utama Yahudi").  

Aspek ini pada dasarnya adalah satu dengan Tuhan, Namun, ketika Anda mengacu pada konsep Kristen tentang Roh Kudus dalam Kekristenan - Anda menabrak konsep teologis yang dimaksud dalam Tanakh - atau Alkitab Ibrani. 

Yudaisme pada umumnya adalah monoteistik (itu karena ada konsep seperti nama Tuhan "Elohim" yang secara inheren merupakan kata jamak dan ada poin bahwa Yudaisme mengatakan bahwa Tuhan Yahudi lebih besar dari pada allah lain). Dengan demikian, Yudaisme melihat Tuhan sebagai Satu, dan tidak bisa menerima konsep Tritunggal tentang Tuhan. Dalam artian tertentu, Anda boleh mengatakan bahwa pendekatan Yudaisme terhadap Tuhan adalah sebagai Roh Kudus secara keseluruhan atau sebagai Tuhan/Bapa secara keseluruhan - namun tidak pernah keduanya sebagai kesatuan Tuhan, dan tentu saja bukan sama-sama sebagai Tuhan.

[Ted Exstein - Terlahir sebagai Yahudi]

Dari penjelasan ini tentu saja ganjil rasanya jika umat Kristen yang mendaulat kitab-kitab umat Yahudi bernama Taurat (5 kitab Tanakh, Alkitab Ibrani) dan Zabur termasuk bagian dari kitab suci Kristen -- yang dalam hal ini mereka anggap sebagai "kitab kadaluwarsa" dan karenanya disebut sebagai Perjanjian Lama -- secara suka-suka mengartikan ROH KUDUS sebagai bagian dari Tuhan Tritunggal, sementara umat Yahudi sendiri, yang masih berpegang teguh pada kitab-kitab tsb, tidak pernah menganggapnya demikian.

Lebih jauh lagi, umat Yahudi yang masih  berpegang teguh pada kitab Taurat tidak pernah mengenal konsep Tuhan Tritunggal yang pada prinsipnya sangat bertentangan dengan Konsep Monotheisme yang merka anut!

Dengan kata lain, doktrin Tuhan Tritunggal dalam Kekristenan sebenarnya tidak memiliki sumber pijakan yang jelas, melainkan hanya rekayasa para pendirinya saja yang memaksakan masuknya kepercayaan Pagan ke dalam ajaran murni Yesus yang sejatinya adalah Monotheisme. 

Jadi, jangan heran bila iman umat Kristen selalu terbentur keras bila coba dibandingkan dengan iman umat Yahudi, apalagi dengan iman umat Islam yang seperti halnya iman umat Yahudi, sama-sama tidak mengenal doktrin tuhan Tritunggal!

Karena "keganjilannya" yang menyempal jauh dari ajaran semua nabi terdahulu -- termasuk ajaran nabi Yesus as sendiri dan ajaran nabi Muhammad saw -- maka iman Kristen ini, dalam bahasa Jawa termasuk yang boleh disebut sebagai "nyeleneh" alias diciptakan sedemikian rupa supaya menjadi aneh sendiri!

Itu sebabnya kenapa rata-rata pengikutnya selalu bingung, lalu panik, dan ujungnya histeris, bila pengetahuan mereka tentang iman Kristen didesak terus dengan pertanyaan-pertanyaan serius yang berhubungan langsung dengan dalil-dalil dalam bundel beberapa kitab yang mereka namai sendiri sebagai alkitab!

Demikian.

Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!
Semoga Tuhannya Yesus memberkati,
- Amen!

Akal Akalan Yahudi Yang Dimanfaatkan Oleh Kristen

ABRAHAM DAN PERINTAH SUNAT
DALAM BERBAGAI DISKUSI lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, soal ritual khitan (sunat) sering dimunculkan oleh umumnya kaum Muslim adalah pertanyaan tentang mengapa ajaran Kristen tidak lagi mementingkan sunat sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan keturunannya sampai kepada Yesus Kristus? Sebab sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya juga melaksanakannya.

Sebaliknya, sanggahan yang umumnya diberikan oleh Kristen adalah bahwa sunat hanya diwajibkan bagi Abraham dan keturunannya (atau kemudian dipersempit lagi menjadi hanya untuk umat Yahudi sesuai alkitab Perjanjian Lama), sedangkan mereka sebagai orang non-Yahudi tidak terkena kewajiban tersebut, ini juga berdasarkan alkitab Perjanjian Baru, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Paulus.

Kisah tentang asal-muasal kewajiban sunat bersumber dari Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) yaitu ketika menceritakan kisah keluarga Abraham.

Dalam kronologis ceritanya, dimulai kitab Kejadian 12 ketika Tuhan berfirman memerintah Abraham (ketika itu masih bernama Abram) untuk pergi dari negerinya ke suatu tempat yang akan ditunjuk Tuhan, di situ Tuhan sudah mulai memberikan janji kepada Abraham:

[Kejadian 12:2] Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

[Kejadian 12:7] Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu."

Berdasarkan dari apa yang dijanjikan Tuhan tersebut, kita bisa melihat kata ‘bangsa’ dan ‘negeri’, ini bisa diartikan ‘kekuasaan untuk memerintah’ atau bisa juga diartikan ‘dominasi untuk mendiami suatu wilayah’, jadi Tuhan telah menjanjikan Abraham bahwa kelak dia dan anak keturunannya akan berdiam dalam suatu wilayah, berkuasa, mempunyai kesempatan mencari nafkah dengan mengelola wilayah tersebut. Namun terlihat ini masih merupakan janji ‘sepihak’ dan belum berbentuk perjanjian.
PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-1
Dalam Kejadian 13 sekali lagi Tuhan menyatakan janji kepada Abraham:
[Kejadian 13:14] Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
[Kejadian 13:15] sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.
[Kejadian 13:16] Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.
[Kejadian 13:17] Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu."

Di sini janji Tuhan mulai lebih terperinci:

  1. Wilayah tersebut terbentang "sejauh mata memandang" dari posisi Abraham pada waktu itu (tanah Kanaan, sesuai Kejadian 13:12)
  2. Jumlah keturunan Abraham "seperti debu tanah banyaknya’"
  3. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dijalani (disinggahi) oleh Abraham.

Namun sampai di sini kita masih bisa menyebutnya sebagai "janji sepihak" dan belum berupa perjanjian. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham baru disebut secara jelas pada Kejadian 15, setelah Tuhan memerintahkan Abraham untuk menyampaikan beberapa korban dan menjelaskan nasib yang akan diterima anak keturunan Abraham kelak, lalu dibuatlah perjanjian:

[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
[Kejadian 15:19] yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,
[Kejadian 15:20] orang Het, orang Feris, orang Refaim,
[Kejadian 15:21] orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."

Jadi perjanjian antara Abraham dengan Tuhannya adalah dengan tanda perjanjian berupa pengorbanan binatang lembu, kambing, domba dan burung (Kejadian 15:9)

PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-2
Sampai di sini kronologis ceritanya sangat runtut dan logis. "Kekacauan" alur cerita terjadi pada kisah selanjutnya. Setelah diselingi kisah keluarga Abraham, yaitu antara istrinya Sarai dan "budak" perempuannya Hagar pada Kejadian 16, cerita soal perjanjian antara Tuhan dengan Abraham muncul lagi pada Kejadian 17.

[Kejadian 17:2] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

Rupanya Tuhan merasa perlu untuk mengulang perjanjian yang sudah diadakan sebelumnya, dalam perjanjian JILID-2 ini tercantum "hak dan kewajiban" kedua-belah pihak:

[Kejadian 17:4] "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
[Kejadian 17:6] Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
[Kejadian 17:7] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
[Kejadian 17:8] Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."

Hak dan kewajiban Tuhan kelihatannya banyak mengulang kembali dari apa yang terdapat pada perjanjian JILID-1, cuma di sini terlihat ada yang "menyempal" yaitu ayat Kejadian 17:8, yang menyebut khusus tanah Kanaan, berbeda dengan perjanjian sebelumnya yang menyebut wilayah yang lebih luas. Mengapa terjadi perubahan? Kita bisa melihat kelanjutan ceritanya begini:

[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sarailah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
[Kejadian 17:20] Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."

REKAYASA HAK PERJANJIAN ISMAEL DAN ISHAK
Ooo..ternyata rupanya ini menyangkut Ismail dan Ishak! Terlihat jelas adanya upaya "penggiringan" cerita untuk mengeluarkan Ismail dari perjanjian JILID-1 dengan membuat perjanjian JILID-2, dan ini terkait dengan penguasaan tanah Kanaan tempat di mana mayoritas bangsa Yahudi berdiam. Ini diperkuat lagi dengan adanya ayat lain pada kitab Keluaran:

[Keluaran 2:24] Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

Setelah menggiring hak perjanjian tersebut kepada Ishak dan menyingkirkan Ismail, maka "giringan" selanjutnya adalah kepada Yakub anak Ishak dan menyingkirkan saudara kembar tuanya Esau. Pihak Kristen di sini memberikan alasan bahwa pembatalan perjanjian tersebut karena Esau dikatakan "tidak menghargai" perjanjian tersebut. Dalam Kejadian 25 dan 27 digambarkan hak tersebut dicabut dari Esau justru karena dia ditipu 2 kali oleh Yakub. Dengan giringan tersebut maka lengkaplah dasar "konstitusional" dari anak keturunan Yakub untuk memonopoli tanah Kanaan dan kebenaran ajaran Abraham!

Berbeda dengan perjanjian sebelumnya, perjanjian JILID-2 ini dikukuhkan dengan tanda yang lain, yaitu "sunat" atau khitan.

[Kejadian 17:9] Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
[Kejadian 17:10] Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
[Kejadian 17:11] haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

Posedur sunat diterangkan sangat jelas, menyebutkan mana bagian yang harus dipotong, siapa saja yang harus disunat, umur berapa harus disunat, dan apa konsekuensinya jika tidak disunat:

[Kejadian 17:12] Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
[Kejadian 17:13] Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
[Kejadian 17:14] Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

Isi perjanjian JILID-2 ini ternyata banyak menimbulkan pertanyaan, seperti di antaranya:

  1. Kewajiban sunat yang ditujukan pada "kamu dan keturunanmu, berada di antara kamu" menjadi kontradiksi dengan pengecualian kepada Ismail, apakah Ismail termasuk di dalamnya atau tidak? Di sini kelihatan seolah Tuhan tidak cermat dalam membuat perjanjian, dan ternyata Ismail "katut" alias ikutan disunat juga (Kejadian 17:23, dan Kejadian 17:25), para netters Kristen berdalih bahwa ketika sunat tersebut dilakukan, kebetulan Ismail berada dalam rumah, maka sesuai perjanjian harus ikut disunat sekalipun tidak termasuk dalam perjanjian, artinya di sini memakai satu ayat dan membuang, atau mengabaikan ayat yang lain, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.
  2. Memasukkan kalimat "dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu, orang yang engkau beli dengan uang" ke dalam perjanjian. Apakah artinya mereka dan keturunan mereka juga termasuk keluarga Abraham dan diberi hak atas tanah Kanaan? Menurut penafsiran salah seorang netters Kristen, para orang yang dibeli tersebut tidak punya hak, mereka disunat karena kebetulan berada dalam rumah Abraham dan menjadi "property"nya. Penafsiran ini juga terlihat berbenturan dengan janji Tuhan yang ada pada Kejadian 17:7 yang sama sekali tidak menyentuh adanya orang di luar Abraham dan keturunannya (harap diingat, dalam perjanjian JILIOD-2 tersebut sudah jelas disebut adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak).
  3. Penyebutan ketentuan waktu disunat umur 8 hari juga menimbulkan masalah, apakah sunat bagi si bocah merupakan tanda perjanjian antara dia sendiri dengan Tuhan, atau antara orang-tuanya dengan Tuhan, mengingat si bocah masih belum mengerti mengapa "burungnya" dipotong. Bagaimana kalau ternyata si bocah setelah besar dan mengerti tidak mau ikut perjanjian (seperti kasus Esau) misalnya? Ada pendapat menarik dari netters Kristen di sini yang menyatakan itu adalah tanda perjanjian antara orang-tuanya dengan Tuhan. Di sini juga muncul pertanyaan: Bagaimana halnya dengan orang-tua yang tidak punya anak laki-laki? Apakah perjanjian tersebut bisa dilakukan tanpa tanda yang sudah disyaratkan? Ada yang menjawab bahwa bagi keluarga yang tidak punya anak laki-laki, ya, tidak perlu adanya tanda sunat. Tapi bukankah dengan demikian syarat perjanjian tersebut lagi-lagi tidak terpenuhi (ingat adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak yang tertulis secara jelas).

KOMPLIKASI di atas menunjukkan adanya keanehan pada perjanjian tersebut yang "dinyatakan" sebagai Firman Tuhan. Sebab, mustahil Tuhan akan menyatakan hal-hal yang membingungkan dan saling "tembak-menembak" di antara kata-kata-Nya sendiri.

TUHAN RAGU-RAGU 
Cerita tentang perjanjian ini ternyata juga "tidak nyambung" dengan cerita selanjutnya:

[Kejadian 18:10] Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
[Kejadian 18:11] Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
[Kejadian 18:12] Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"

Ternyata Sara tidak tahu tentang firman Tuhan sebelumnya yang menginformasikan dia akan mempunyai anak yang dinamai Ishak (Kejadian 17:19), apakah Firman Tuhan tersebut ditujukan hanya kepada Abraham dan beliau tidak memberitahukannya kepada istrinya?

[Kejadian 18:17] Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
[Kejadian 18:18] Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
[Kejadian 18:19] Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

Melalui kalimat yang LUCU karena menggambarkan Tuhan yang terlihat bimbang, kita diinformasikan bahwa ternyata Abraham-pun juga merasa heran ketika diberitahu bahwa istrinya Sara akan melahirkan anak di hari tuanya. Kesan yang muncul sekitar perjanjian JILID-2 ini adalah cerita tersebut dikarang belakangan dan disisipkan. Seandainya Kejadian 17 kita hapus semuanya, maka cerita antara Kejadian 15, 16 dan 18 terlihat "masih agak nyambung".

Maka marilah kita mencoba meneliti sumber informasinya. Kitab Kejadian terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam 5 Kitab Musa [pentateuch] atau yang biasa disebut Taurat yang pada mulanya dipercayai ditulis nabi Musa AS. Namun dalam perkembangan selanjutnya -- bahkan para ahli Alkitabpun tidak lagi mempercayai ini -- sekalipun dalam 5 kitab tersebut dinyatakan memang ada yang berasal dari ajaran nabi Musa.

Hal ini tidak perlu diceritakan panjang lebar karena sudah banyak disampaikan orang, mari kita mengambil intinya saja bahwa: Kitab Kejadian merupakan tulisan dari kaum Yahudi, jauh setelah jaman Musa dan sekalipun banyak juga bersumber dari ajaran nabi tersebut, namun tidak sedikit yang berasal dari karangan para Rabi Yahudi yang tentu saja dipengaruhi oleh situasi sosial politik pada saat karangan tersebut dibuat. Termasuk di sini perilaku para pemuka agamanya. Adapun mengenai bagaimana karakter umat Yahudi sesudah kematiannya, nabi Musa sendiri sudah meramalkan:

[Kejadian 31:26] "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.
[Kejadian 31:27] Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.
[Kejadian 31:29] Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."

SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DARI REKAYASA INI?
Ramalan nabi Musa terhadap umatnya tersebut jelas terkait dengan kekhawatiran beliau terhadap Taurat. Di sini kita bisa bertanya: Siapakah yang sebenarnya akan mengambil keuntungan besar dengan adanya perjanjian JILID-2 ini? Jawaban yang lugas tentulah YAHUDI!

Cerita soal perjanjian JILID-2 tersebut kelihatannya sengaja dikarang untuk "melegalisir" monopoli Yahudi terhadap kebenaran ajaran Abraham melalui perjanjiannya dengan Tuhan, namun disajikan dengan kurang cermat sehingga menimbulkan kesan tambal-sulam.

Dan ini pada awalnya justru menyulitkan para pengikut Yesus Non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat serangan "Yahudi-sunat" ini kepada pengikut Yesus tentang monopoli kebenaran berdasarkan Taurat (Yesus menyatakan bahwa keberadaan beliau bukan untuk melenyapkan ataupun merubah hukum Taurat, dan memastikan tidak satu iota-pun dari Taurat yang akan hilang):

[Kisah 15:1] Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."

Ini menunjukan Yahudi "memperalat" sunat untuk menunjukkan monopolinya terhadap ajaran Taurat dan secara gamblang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yahudi yang sudah menggenggam hak monopoli perjanjian Tuhan dengan Abraham.


PAULUS YANG KEBABLASAN
Paulus sebagai orang yang sedang giat-giatnya mempromosikan ajaran Kristen terhadap Non-Yahudi, tentu saja merasa terhambat dan terhalangi oleh adanya pernyataan ini. "Target market" Paulus adalah orang Yunani dan Romawi yang dari sononya memang "takut" disunat, dan pernyataan Yahudi ini akan bisa membuat ajaran yang disodorkannya tidak laku dan tidak dibeli orang, dan Paulus bakalan bangkrut! Maka dia pun kemudian mengeluarkan penafsirannya tentang sunat, diantaranya ada pada Roma 5. Intinya dia menyatakan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh sunat atau tidak sunat (ini sebenarnya banyak kemiripan dengan ajaran Islam) namun penafsiran selanjutnya terlihat mengarah menjadikan Yesus sebagai penyelamat, dengan dasar argumentasi yang rumit mengaitkan antara "iman kepada Yesus dengan nilai suatu perbuatan"

[anda dapat menyimak tulisan sdr. Amor yang dengan sangat baik menyampaikan "‘pelintiran" Paulus soal iman dan perbuatan terkait dengan sunat Abraham ini di sini]

"Titik ekstrim" Yahudi yang menyatakan keselamatan terkait dengan pelaksanaan hukum Taurat dibalas dengan "titik ekstrim" lainnya dari Paulus yang menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada iman kepada Yesus. Saking berapi-apinya, Paulus pun menyampaikan ancaman ini:

[Galatia 5:2] Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
[Galatia 5:3] Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
[Galatia 5:4] Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

Ini terlihat sebagai suatu ajaran yang kebablasan dan menyulitkan penganut Kristen di jaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memberikan bukti sunat sangat baik bagi kesehatan. Maka ini menjadi buah simalakama bagi umat Kristen yang ingin bersunat dengan alasan kesehatan karena takut "kualat" seperti yang diancam oleh Paulus.

Pada waktu itu bantahan-bantahan Paulus memang banyak ditujukan kepada ajaran Yahudi karena memang Islam belum muncul. Ketika ajaran Islam mulai diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan isinya banyak mengkoreksi, baik ajaran Yahudi maupun Kristen, maka "moncong senjata" pun dialihkan.

Yahudi dan Kristen yang tadinya "gontok-gontokan" soal keyakinan masing-masing seakan-akan menemukan musuh bersama yang membuat mereka terlihat kompak kembali. Dan yang paling seru adalah bahwa urusan sunat yang tadinya menjadi "senjata andalan" Yahudi dalam menghadapi Kristen justru banyak dijadikan oleh umat Kristen untuk menyerang Islam.

Perjanjian JILID-2 yang menyingkirkan Ismail yang dalam ajaran Islam merupakan nenek moyang kaum Quraisy, sukunya nabi Muhammad SAW, digunakan untuk menyatakan bahwa ajaran Islam "tidak punya tempat" dalam sejarah perkembangan ajaran Tuhan.

Kristen di satu sisi menentang sunatnya, tapi di lain pihak mengakui perjanjiannya. Dan agar mereka dapat berada di posisi aman dalam kasus ini, maka ajaran Paulus soal sunat pun digunakan dengan penafsiran yang penuh dengan gaya AKROBATIK!

Tidakkah rekayasa ayat-ayat alkitab ini selalu menarik untuk disimak?
Wallahu 'alam bis shawab.


[Sumber: answering-ff.org | Panda]

Mesias Menurut Yahudi vs Mesias Menurut Kristen

Sebelum Yesus lahir ke dunia, umat Yahudi sudah memiliki konsep tentang "mesias" atau padanan kata Yunaninya "kristus", yaitu sebuah konsep lama yang mendambakan kedatangan seorang tokoh Yahudi, yang mampu membawa bangsa Yahudi menuju kejayaan.

Mereka berkeyakinan bahwa mesias yang diidam-idamkan itu akan datang kemudian dan berasal dari keturunan Daud (Yeremia 23:5; 33:15).

Secara harfiah, arti kata "mesias" atau "kristus" adalah "seseorang yang diurapi dengan minyak yang kudus" atau "seseorang yang ditahbiskan".

Dalam catatan-catatan Perjanjian Lama, ada banyak orang yang disebut sebagai "mesias", sebut saja misalnya Koresh dan Daud.

MAZMUR:
2:2. Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan Tuhan dan mesias-Nya (Daud - lihat juga 1 Samuel 16:12-13 dan 2 Samuel 5:1-5).

YESAYA:
45:1. Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada mesias, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup;

Nama-nama dengan gelar mesias menurut bibel
Selain Yesus, Koresh, dan Daud, Bibel juga mencatat beberapa nama lain yang juga disebut sebagai "Mesias", yaitu:
  1. Saul (1 Samuel 10:1),
  2. Harun (Imamat 8:12),
  3. Elisa (1 Raja-raja 19:16), dan
  4. Salomo (1 Raja-raja 1:39).
Jika digunakan padanan kata "mesias" dalam bahasa Yunani adalah "kristus", maka nama-nama berikut ini menjadi:
  • Yesus Kristus,
  • Koresh Kristus,
  • Daud Kristus,
  • Saul Kristus,
  • Harun Kristus,
  • Elisa Kristus, dan
  • Salomo Kristus.
Kendati demikian, kata "mesias" dalam ayat-ayat di atas di dalam Bibel berbahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "orang yang diurapi-Nya", padahal asal kata Ibraninya adalah "mesias".

Sementara kata "mesias" yang menunjuk kepada Yesus, dalam Perjanjian Baru ditulis dengan inisial besar, "Mesias". Ini tidak lain merupakan upaya terselubung yang dibuat-buat oleh tokoh-tokoh gereja untuk memberi kesan kepada umat manusia bahwa hanya ada satu mesias di dunia ini yaitu Yesus.

Kita sama-sama tahu bahwa umat Yahudi tidak mengakui Yesus sebagai nabi apalagi mesias. Mereka menganggap Yesus sebagai manusia yang lahir dari hasil perzinahan Maria dengan laki-laki tidak dikenal. Oleh karenanya, menurut umat Yahudi Yesus tidak pantas menjadi mesias, bahkan mereka menganggap Yesus sebagai nabi palsu hingga kemudian "membunuhnya" di tiang salib.

Ironisnya, ada cerita ganjil dalam bibel yang menyebutkan bahwa Yesus sendiri melarang murid-muridnya untuk memberitahukan kepada siapapun bahwa ia adalah mesias:

Lalu Yesus melarang murid-muridnya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa ia Mesias. (Matius 16:20)

Singkatnya, konsep "Mesias" sendiri sebenarnya adalah sebuah konsep purba yang 100% adalah milik umat Yahudi, yang sayangnya, hingga kini tidak pernah terwujud!

Jadi, jika umat Kristen mengklaim bahwa hanya ada satu mesias atau kristus yaitu Yesus, maka itu adalah bohong besar!

Perjanjian Baru, yang notabene di dalamnya banyak menyebut-nyebut kata "mesias" yang dimaksudkan untuk menunjuk kepada Yesus, adalah kumpulan kitab-kitab hasil karya orang-orang non-Yahudi (Yunani dan Romawi). Sehingga dengan sendirinya, konsep "mesias" dalam Perjanjian Baru tidak sama, bahkan bertolak belakang dengan pemahaman umat Yahudi yang sejatinya adalah satu-satunya bangsa di dunia ini yang menggagas dan hinga saat ini masih mempertahankan konsep tersebut!

Dengan kata lain, konsep "mesias" dalam Perjanjian Baru adalah konsep "waton jiplak" atau asal copas, yang tidak jelas tujuan dan peruntukannya, alias mengada-ada!

Kenapa?
Karena konsep Mesias dalam ajaran kristen tidak ada relevansinya dengan keberadaan kristen itu sendiri!

Coba yang mengaku sebagai umat kristen jawab;.apakah saat ini umat Kristen di seluruh dunia memang benar-benar sedang "menunggu" seorang mesias seperti halnya umat Yahudi? Jika iya, dan mesias yang ditunggu adalah Yesus, memangnya untuk menyelamatkan umat kristen dari apa?

Bukankah kalian sendiri yang meyakini bahwa lebih dari 2.000 tahun yang lalu Yesus sudah menyerahkan dirinya untuk mati tersalib guna menyelamatkan pengikut Paulus "yang percaya" dari dosa asal warisan Adam?

Padahal, menurut catatan sejarah kekristenan awal sendiri, kristen baru lahir sekitar 13 tahun setelah peristiwa "penyaliban" Yesus yang oleh penganutnya diyakini sebagai pengorbanan "sang mesias" untuk mati menebus dosa mereka, sebelum akhirnya dikabarkan terangkat ke sorga!

Sampai di sini, coba pikirkan sejenak dan pikirkan dengan baik!
Pertanyaan penting untuk diri sendiri yang perlu dijawab adalah; di mana letak hubungan teologis antara Yesus yang 100% beragama Yahudi dan menyembah Tuhan yang Mahaesa dengan pengikut Paulus yang tidak beragama tapi mengaku sebagai umat yang menuhankan tiga entitas sekaligus, yakni; Bapa, Roh Kudus, dan Yesus?

Jawabannya, Tidak ada!

Lantas, umat kristen menggantungkan harapan apa pada diri Yesus yang mereka paksa supaya menjadi mesias? Keselamatan akhirat di hari pengadilan Tuhan kelak berupa jaminan masuk sorga?

Nanti dulu!
Di atas tadi kita sudah lihat sendiri bukti bahwa Yesus tidak mengenal kristen karena kristen lahir jauh setelah ketiadaannya. Artinya, bagi Yesus kristen adalah sesuatu yang asing. Sesuatu yang tidak dikenalnya, apalagi jika di kemudian hari diketahiunya pula bahwa umat ini telah melakukan pengingkaran terhadap ajaran yang disampaikannya melalui bangsa Israel, yaitu untuk menyembah hanya kepada Allah, satu-satunya Tuhan Yang Esa!

Bagi Yesus, iman umat kristen yang menyeleweng dari ajaran pokok semua nabi yakni menuhankan satu tuhan menjadi menuhankan tiga tuhan adalah suatu kejahatan! Dan sesungguhnya hal ini sudah lama diingatkannya semasa masih hidup di dunia.

Perhatikanlah peringatannya ini:

MATIUS 7:21-23
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Jika kemudian kita perhatikan pula bagaimana Yesus memperkenalkan dirinya kepada bangsa Israel berikut ini;

MATIUS 15:24
"Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."

Maka semakin jelaslah bahwa selanjutnya, atas perintah Tuhan yang mengutusnya, Yesus hanya akan menyampaikan firman khusus dan terbatas hanya untuk bangsa Israel saja!

Oleh karena itu, lihatlah sendiri, di mana korelasi antara Yesus yang dianggap oleh umat kristen sebagai mesias, dengan iman seluruh umat kristen non-Israel?

Jawabannya, Tidak ada!

Jadi, bualan para bapa gereja tentang mesias ini sama saja seperti gambaran sekumpulan idiot yang hari ini sedang menunggu kendaraan sangat khusus ke suatu tujuan yang mereka sendiri tidak tahu persisnya ke mana, sedangkan kendaraan yang sedang mereka tunggu-tunggu itu sudah berangkat 2.000 tahun silam!


Bisa difahami?

[Sumber: Catatan Gus Mendem]


.