Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Judaisme dan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judaisme dan Islam. Tampilkan semua postingan

Persamaan Antara Islam dan Yudaisme

Zain Khan: Selamat datang di acara kami, saya Zain Khan. Hari ini topik acara kita adalah Persamaan antara Islam dan Yahudi. Tamu kita adalah Rabi Ben Abrahamson yang telah bekerja sepanjang hidupnya untuk membangun jembatan antara Islam dan Yahudi. Dia juga seorang sarjana peneliti terkait topik ini. Selamat datang di acara kami Rabbi Ben, saya Zain Khan, merasa sangat senang atas kehadiran anda di acara ini.



Ben Abrahamson: Senang berada di sini, terima kasih.

Zain Khan: Rabi Ben, mari kita langsung ke pertanyaan pertama. Bagaimana konsep Tuhan dalam Yudaisme, karena Islam percaya pada Tauhid yang merupakan Keesaan Tuhan?

Ben Abrahamson: Oh ya, Tauhid Isam dan Tauhid Yudaisme persis sama. Kami percaya pada satu Tuhan yang tidak bersekutu dengan apapun juga. Sebenarnya istilah ini (Tauhid) dan bagaimana mengaplikasikannya persis sama dalam Yudaisme dan Islam.

Zain Khan: Ben, apakah Islam disebutkan dalam Taurat yang merupakan Perjanjian Lama?

Ben Abrahamson: Ya, benar. Dalam kitab Keluaran, ketika Yitro, Shuyab (pbuh) ayah mertua Musa (pbuh), pergi dan mengadakan persembahan, persembahan yang ia buat disebut sebagai Shlamim, atau persembahan yang sempurna, atau lengkap. Dan dalam Taurat semua pengikut Shuyab disebut "Kenite", tetapi dalam terjemahan Taurat bahasa Aram mereka selalu disebut Salamai, Muslamim. Jadi kami memiliki kata Muslamim yang berarti Anak-anak Yitro, dan lebih jauh lagi, sebenarnya arti kata itu adalah umat yang takut kepada Tuhan. Muslamim adalah orang-orang yang bukan bagian dari Bani Israel, tetapi percaya pada Satu Tuhan dan mengikuti perintah-perintah Tuhan.

Zain Khan: Rabi Ben, menurut pendapat Anda dan penelitian Anda akankah umat Islam masuk surga menurut sudut pandang Yahudi?

Ben Abrahamson: Ya, kami ... Yudaisme percaya bahwa ada agama dasar yang harus diikuti oleh seluruh umat manusia. Dalam Al-Qur'an dikatakan hanya ada satu agama yang diterima di hadapan Allah SWT, yaitu Islam. Kami percaya ada satu keyakinan yang diperlukan oleh seluruh umat manusia. Dan kami menyebutnya iman Nuh (pbuh). Ini mirip dengan apa yang ditulis dalam Surat as-Syura. Dikatakan bahwa “Dia telah meletakkan agama yang sama untukmu ketika Dia memerintahkan Nuh: apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan yang Kami perintahkan kepada Abraham, Musa dan Yesus: 'Membangun agama dan tidak membuat perpecahan di dalamnya.' "Yudaisme memiliki gagasan yang sama, bahwa ada satu agama yang diberikan kepada Adam. Itu melibatkan tauhid dan pada prinsipnya melibatkan tujuh dari sepuluh perintah, yang harus mereka pertahankan. Mereka harus percaya pada penghargaan dan hukuman - Anda harus percaya pada hari akhir, harus percaya pada nabi Allah. Inilah agama yang diperlukan oleh seluruh umat manusia. Ini diperlukan oleh orang Yahudi, diperlukan oleh orang non-Yahudi. Orang-orang bijak kita sudah menegaskan bahwa Islam melampaui persyaratan minimum ini sebagai sebuah agama yang benar. Jadi kami percaya bahwa umat Muslim yang menjaga agamanya dengan benar dijamin tempatnya di dunia yang akan datang, yakni di akhirat, sama seperti Bani Israel.

Zain Khan: Timbul pertanyaan, apa perbedaan antara Yudaisme dan Islam?

Ben Abrahamson: Dari sudut pandang kami, pada dasarnya Islam dan Yudaisme adalah agama yang sama tapi dengan kelaziman yang berbeda, syariah yang berbeda, dan perjanjian yang berbeda. Kami punya sabat, kami punya halal dan haram, kami punya hari-hari puasa Yom Kippur. Islam punya haji, ramadhan, dan rukun Islam yang berbeda, tetapi pada dasarnya adalah Dien yang sama. Ini agama dasar yang sama. Yang berbeda adalah syari'ah dan perjanjiannya. Kami setuju dengan apa yang pernah dikatakan oleh Qatada (ibn al-Nu'man ra) bahwa "al-din wahid wa al-syari'ah mukhtalifah." Ada satu Dien, satu agama dasar untuk semua umat manusia, dan yang berbeda hanyalah syariahnya.

Zain Khan: Jika apa yang Anda katakan itu benar, lalu mengapa orang-orang Yahudi Arab tidak sejalan dengan Nabi Muhammad saw?

Ben Abrahamson: Pertama-tama Anda harus memahami bahwa ada berbagai kelompok Yahudi. Ada sebuah hadits yang menjelaskan bahwa ada tujuh puluh satu sekte Yahudi. Di Saudi, Al Jahiz dan Ibn Hazm menyebutkan bahwa ada kelompok yang disebut Saddukiyya. Yang "berbeda dari semua orang Yahudi lainnya, mereka percaya bahwa Uzayr adalah anak Allah" yang bukan merupakan kepercayaan yang diimani oleh orang-orang Yahudi Rabbinik dewasa ini. Saddukiyya adalah kelompok yang sama sekali berbeda. Mereka adalah kelompok yang berazaskan zaman Saduki dari Kuil Kedua. Mereka punya ritual pengorbanan. Mereka ingin menjadikan Arab seperti Yerusalem kecil, dengan ritual pengorbanan, hari-hari besar sendiri, dan mereka mencampur-aduknya dengan kepercayaan musrik lokal agar lebih dapat diterima (oleh penduduk setempat). Dan itu adalah kesalahan dalam banyak hal. Orang-orang ini, ketika melihat Nabi Saw datang untuk mereformasi dan melakukan perubahan, mereka menolak reformasi. Bahkan menentangnya. Tetapi ini bukan urusan sebagian besar orang Yahudi yang tinggal di luar Arab. Siapa ... bisa saya sebutkan sedikit di sini misalnya ... seperti ketika Khalifah 'Ali (ra) datang ke Babel, ke Kufa, awalnya, 80.000 dari Talmudei Yeshiva, para siswa, para rabi Yahudi, keluar untuk menemuinya, untuk mendukungnya. Khalifah 'Umar (ra) menggulingkan Exilarch yang menimbulkan masalah di Arab karena persoalan-persoalan yang berhubungan dengan isu separatis. Dia menunjuk seorang tokoh Rabinik bernama Bustonai sebagai penggantinya. Dan pada dasarnya menjadikan Yahudi Rabinik (Yudaisme) sebagai bentuk resmi Yudaisme di seluruh kerajaan Islam yang sedang tumbuh. Dan faktanya, jika Kalif 'Umar [ra] tidak mendukung orang-orang Yahudi Rabinik dengan menunjuk Bustonai, kemungkinan besar hari ini mayoritas orang Yahudi adalah Karaite atau Saduki. Tidak akan ada jenis Yahudi yang Anda lihat hari ini.

Zain Khan: Ben, orang Yahudi seperti apa yang ada di zaman sekarang?

Ben Abrahamson: Orang-orang Yahudi (yang ditemui) sekarang ini adalah keturunan dari .. mereka adalah keturunan pengikut Hillel, berasal dari orang-orang Yahudi Farisi pada zaman Bait Suci Kedua. Mereka adalah ... kami adalah orang-orang Yahudi yang percaya bahwa ketika Musa, (pbuh), diberi Taurat, ia tidak hanya diberi kitab lalu dibiarkan untuk mencari tahu sendiri. Tetapi kepadanya dijelaskan bagaimana menerapkannya dalam berbagai cara dan situasi yang memungkinkan. Jadi kami percaya Taurat berlaku dalam setiap aspek kehidupan kita, dalam segala hal yang kami lakukan, setiap tindakan yang kami buat, setiap transaksi bisnis yang kami lakukan, setiap hubungan interpersonal yang kami miliki. Kami percaya bahwa (Torah) ini membimbing hidup kita untuk mendengarkan dan tunduk kepada Tuhan. Kami juga percaya bahwa Tuhan mengutus banyak nabi ke dunia, bukan hanya kepada Bani Israel saja. Dan kami percaya bahwa Tuhan membuat perjanjian dengan bangsa-bangsa lain. Jadi kami sama sekali tidak punyai masalah untuk mengatakan bahwa seorang Muslim yang menjalankan agamanya dengan benar, dijamin mendapat bagian di akhirat, dunia yang akan datang, sama seperti kami. Dan orang Yahudi sekarang ini, kami puasa, tzawm. Kami punya beberapa shalat  ... kami punya raka'at. Kami membungkuk ketika mengucapkan barchu -- ruku adalah hal yang sama. Kami sujud. Kami melaksanakan 2,4,4,3 dan 1 raka'at dalam sehari, sedangkan tradisi Muslim adalah melaksanakan 2,4,4,3 dan 4. Jadi sangat mirip. Kami membuka dan menutup shalat dengan raka'at. Pada akhir shalat, kami menoleh ke kiri dan mengatakan Salaam (osei shalom) dan menoleh ke kanan dan mengatakan Salam (hu ya'aseh shalom). Kalender yang kita miliki juga sangat mirip. Banyak hal yang kami miliki dalam Yudaisme Rabinik berasal dari tradisi yang sama yang kita warisi dari Abraham [pbuh] untuk Bani Israel dan Muslim. 

Zain Khan: Rabi Ben, apa yang sedang anda kerjakan sekarang? Apa proyek Anda saat ini?

Ben Abrahamson: Well, jadi menarik ketika Anda menanyakannya. Yang saya kerjakan sekarang adalah Kalender. Sepertinya saya sedang berharap dapat melakukan sesuatu untuk tahun baru yang akan datang, tetapi tampaknya akan memakan waktu lebih lama lagi. Salahsatu kesamaan yang menarik antara Yudaisme dan Islam adalah Kalender. Baik dalam Islam maupun Yudaisme, kalender berasal dari siklus bulan. Dan kita memulai penghitungan bulan dengan melihat bulan, atau menghitung kapan bulan baru akan terlihat. Awal tahun, induk tahun, kami sebut Rosh Hashanah, yang dalam bahasa Arab disebut Ras as-Sana. Lalu kami memiliki Yom Kippur yang sesuai dengan Ashura. Ada cerita tentang kapan Nabi [saw] datang ke Madinah pada masa Asyura. Dan setelahnya Anda memiliki Paskah yang sesuai dengan Lailat al Baraat di bulan Sha'ban. Sefirat HaOmer sesuai dengan Ramadhan. Shavuot adalah Idul Fitri. Dan tanggal 9 Av sesuai dengan ibadah haji. Jadi masing-masing hari besar utama yang kami miliki berhubungan dengan hari-hari besar Islam, meskipun penekanannya telah berubah, dan Allah SWT melihat ini pantas diberikan kepada Muslim sebagai ritual yang paling sempurna. Ada saling keterkaitan di sini yang bisa sama-sama kita hormati. Dan kami percaya ... senang mengetahui bahwa ada sesama umat beragama yang menyembah dan berdoa serta tunduk kepada Tuhan seperti halnya kami.

Zain Khan: Rabi Ben, program ini tidak bersifat politis, tetapi ini adalah pertanyaan terakhir dan sifatnya sedikit politis. Apakah Anda melihat Timur Tengah yang damai di masa depan?

Ben Abrahamson: Ya, saya yakin akan hal itu. Saya positif ... kita punya contoh dari sejarah kita, Konstitusi Madinah, kekhalifahan awal, Mesir Fatimiyah, Muslim Spanyol, di mana hal ini terjadi. Hidup berdampingan secara damai, dan berkembang bersama masyarakat. Orang-orang Yahudi yang mengenal agama mereka dengan benar dapat melihat Muslim mengikuti agama yang sempurna, lengkap dalam segala hal. Dan orang-orang Muslim dapat melihat orang-orang Yahudi, Yahudi yang benar, sebagai orang-orang beriman. Jadi, jika kita benar-benar mengikuti teladan para nabi (semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada mereka) yang ditugaskan untuk membimbing kita, saya yakin kita akan melihat perdamaian.

Zain Khan: Terima kasih banyak, Rabbi Ben karena hadir di acara kami. Senang atas kehadiran Anda.

Ben Abrahamson: Saya senang berada di sini. Saya bersyukur untuk kesempatan berbicara yang diberikan.

Zain Khan: Ini adalah Rabi Ben Abrahamson. Dia menghabiskan seluruh hidupnya meneliti Islam dan Yudaisme. Dia juga seorang sarjana peneliti tradisi Yahudi. Kami membahas topik tentang Persamaan Islam dan Yudaisme. Sampai episode berikutnya, ini Zain Khan, hati-hati dan sampai ketemu lagi.

[Sumber: Rabbi Ben Abrahamson]   

Al-Quran, Tentang Makanan Yang Diharamkan Oleh Yahudi


BATALNYA YAHUDI YANG MENGHARAMKAN MAKANAN
[KAJIAN TAFSIR QS ALI IMRAN: 93-95]


A. TEKS AYAT DAN TERJEMAHANNYA

کُلُّ الطَّعَامِ کَانَ حِلًّا لِّبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اِلَّا مَا حَرَّمَ اِسۡرَآءِیۡلُ عَلٰی نَفۡسِہٖ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تُنَزَّلَ التَّوۡرٰىۃُ ؕ قُلۡ فَاۡتُوۡا بِالتَّوۡرٰىۃِ فَاتۡلُوۡہَاۤ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ فَمَنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ الۡکَذِبَ مِنۡۢ بَعۡدِ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ قُلۡ صَدَقَ اللّٰہُ ۟ فَاتَّبِعُوۡا مِلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israel melainkan makanan yang diharamkan oleh Israel (Ya`qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”. Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim. Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. 3:93-95)

B. KAITAN DENGAN AYAT SEBELUMNYA

Kaum Yahudi beranggapan bahwa untuk meraih kebaikan mesti melakukan ibadat dengan mengharamkan sebagian makanan yang paling disukai. Ayat 92 yang lalu menegaskan bahwa siapapun tidak akan maraih kebaikan yang sempurna, sebelum rela menginfakkan yang paling dicintai. Tegasnya untuk meraih kebaikan, bukan dengan mengharamkan apa yang disenangi, tapi menginfakkannya. Ayat selanjutnya menegaskan bahwa tidak ada makanan yang diharamkan kepada Bani Israel kecuali yang telah diharamkan oleh Israel itu sendiri. Kemudian ditegaskan pula bahwa orang yang membuat kebohongan pada Allah dengan mengharamkan yang halal, adalah termasuk golongan yang dzalim. Orang yang membuat kebohongan bakal dijerumuskan pada siksaan sebagai golongan yang dzalim.  

C. TINJAUAN HISTORIS

1. Membenarkan Rasul Membantah Kaum Yahudi
Rasul SAW pernah bersabda di depan kaum Yahudi أنَا عَلَى مِلة إبْرَاهِيم (aku berpegang teguh pada millah ibrahim). kemudian ada kaum Yahudi yang berkata kalau anda mengaku mengikuti millah Ibrahim, mengapa memakan daging unta dan minum susunya? Rasul bersabda كَانت حَلالاً لإبْراهِيم فَنَحْن نحِلهَا  (itu semua halal bagi Nabi Ibrahim, maka kamipun menghalalkannya). Yahudi berkata lagi: apa yang diharamkan oleh kami telah diharamkan sejak nabi Nuh dan Ibrahim dan berlaku sampai akhir? Tidak lama kemudian turunlah ayat كُل الطعَامِ كَانَ حِلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ dan seterusnya.[1]

2. Memansukh Hukum Terdahulu

عن ابن عباس  قالت اليهود فَأَخْبِرْنَا عَما حَرمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ قَالَ اشْتَكَى عِرْقَ النسَا فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا يُلَائِمُهُ إِلا لُحُومَ الْإِبِلِ وَأَلْبَانَهَا فَلِذَلِكَ حَرمَهَا قَالُوا صَدَقْتَ – قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ

Ibn Abbas (3 sH-68H) menerangkan bahwa Yahudi berkata pada Rasul SAW, terangkanlah pada kami tentang kisah Israel (Ya’qub) yang mengharamkan sebagian makanan untuk dirinya! Rasul SAW bersabda: Dia menderita sakit pada kakinya dan mohon kesembuhan, tapi tidak ada yang layak dinadzarkan selain daging unta dan susunya. Kemudian dia bernadzar dengan cara mengharamkan makanan tersebut untuk dirinya. Yahudi mengatakan Anda benar! [HR. Al-Tirmidzi].[2] Kata al-Tirmidzi hadits ini, nilai hasan (mendekati shahih) tapi gharib (agak asing).

Riwayat ini mengisahkan Israel, yaitu nabi Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim yang pernah sakit di kakinya menginginkan sembuh. Dia bernadzar untuk mengharamkan makanan yang paling ia senangi. Tatkala dia sembuh, memenuhi nadzarnya dengan mengharamkan makan daging unta dan susunya.[3] Ibn Hajar al-Asqalani (w.852H) mengutip riwayat ini dari Ibn Jarir al-Thabari (w.310H), dengan manyatakan bahwa sanad (mata rantai) haditsnya shahih.[4] Namun Muhammad Abduh menganggap riwayat ini sangat lemah, karena jarak antara Yaqub dan turunnya kitab Taurat cukup lama melebihi seribu tahun. Yang dimaksud إِسْرَائِيلُ pada ayat 93 ini bukan Yaqub sendiri tapi keturunannya. Allah SWT mengharamkan sebagian makanan hewani kepada Bani Israel diakibatkan kedzaliman mereka, sebagaimana ditersurat dalam berbagai ayat.[5]

D. TAFSIR KALIMAT

1.  كُل الطعَامِ كَانَ حِلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ  - Semua makanan adalah halal bagi Bani Israel. 

Seperti dikemukakan di atas, secara hitoris ayat ini membantah Yahudi yang beranggapan bahwa haramnya beberapa hewan ternak berlaku sejak Nabi Ibrahim. Sebenarnya pada jaman Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim segala makanan itu dihalalkan dan tidak ada yang diharamkan sama sekali.

2.  إِلا مَا حَرمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ  - selain makanan yang diharamkan oleh Israel untuk dirinya sendiri

Sebelum diharamkannya oleh Israel, semua makanan adalah halal bagi bani Israel. Apa yang dimaksud إِسْرَائِيلُ pada ayat ini yang telah mengharamkan sebagian makanan tersebut, terdapat dua versi. Menurut sebagian mufassir adalah nabi Yaqub yang telah mengharamkan daging unta dan susunya sebagai nadzar atas kesembuhannya. Sedangkan menurut sebagian lagi, diharamkannya makanan tersebut diakibatkan oleh kesalahan bani Israel, sebagai didikan terhadap mereka. Jadi apa yang dikatakan Yahudi كل شىء أصبحنا اليوم نحرمه فإنه كان محرما على نوح وإبراهيم حتى انتهى إلينا (semua itu telah kami haramkan, karena telah diharamkan kepada Ibrahim dan Nuh hingga sampai pada kami), telah dibantah oleh ayat ini. Tegaslah bahwa perkataan Yahudi yang menyebutkan diharamkannya hewan ternak sejak Nuh dan Ibrahim itu, adalah bohong.[6] Tidak ada hewan yang diharamkan sebelum Taurat diturunkan. Kalau pun hadits yang menyatakan Yaqub pernah bernadzar itu shahih, tidak memberi isyarat adanya hukum haramnya hewan sebelum Taurat, sebab hal itu hanya untuk dirinya sendiri.


3. مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزلَ التوْرَاةُ  - sebelum Taurat diturunkan.

Sebelum Taurat diturunkan, tidak ada makanan yang diharamkan, semuanya halal bagi bani Israel. Adapun setelah turun kitab taurat, ada makanan yang diharamkan, sebagai didikan kepada mereka agar jangan mudah membuat hukum tanpa dasar.

Adapun hewan yang diharamkan kepada mereka, diabadikan dalam ayat berikut:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الذِينَ هَادُوا حَرمْنَا عَلَيْهِمْ طَيبَاتٍ أُحِلتْ لَهُمْ وَبِصَدهِمْ عَنْ سَبِيلِ اللهِ كَثِيرًا

"Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah," (QS. 4:160).

وَعَلَى الذِينَ هَادُوا حَرمْنَا كُل ذِي ظُفُرٍ وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِبَغْيِهِمْ وَإِنا لَصَادِقُونَ

Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar. (QS. 6:146)

Dengan demikian tegaslah bahwa adanya hewan yang diharamkan bagi Yahudi adalah diakibatkan oleh kesalahan mereka sendiri. Sebelumnya, tidak ada hewan yang diharamkan bagi Bani Israel.

4. قُلْ فَأْتُوا بِالتوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ - Katakanlah: “(Jika apa yang kamu katakan itu ada dasarnya), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar”.

Ayat ini memerintahkan untuk menantang Bani Israel yang beranggapan ada hewan yang diharamkan sebelum diturunkan kitab Taurat. Sebenarnya sebelum kitab Taurat diturunkan semua makanan adalah halal hukumnya. Jika tidak percaya coba sama-sama membuka kitab Taurat yang asli, apakah terdapat keterangan di sana tentang hewan yang diharamkan sebelumnya? Tantangan kepada Bani Israel tentang hukum Taurat pernah juga dilakukan oleh Rasul SAW tentang hukuman zinah. Mereka mengaku bahwa yang berzina, menurut Taurat tidak dirajam, akhirnya Rasul SAW mengajak mereka untuk sama-sama membuka kitab Taurat. Perhatikan hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَن الْيَهُودَ جَاءُوا إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ فَذَكَرُوا لَهُ أَن رَجُلًا مِنْهُمْ وَامْرَأَةً زَنَيَا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ مَا تَجِدُونَ فِي التوْرَاةِ فِي شَأْنِ الرجْمِ فَقَالُوا نَفْضَحُهُمْ وَيُجْلَدُونَ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ كَذَبْتُمْ إِن فِيهَا الرجْمَ فَأَتَوْا بِالتوْرَاةِ فَنَشَرُوهَا فَوَضَعَ أَحَدُهُمْ يَدَهُ عَلَى آيَةِ الرجْمِ فَقَرَأَ مَا قَبْلَهَا وَمَا بَعْدَهَا فَقَالَ لَهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَامٍ ارْفَعْ يَدَكَ فَرَفَعَ يَدَهُ فَإِذَا فِيهَا آيَةُ الرجْمِ فَقَالُوا صَدَقَ يَا مُحَمدُ فِيهَا آيَةُ الرجْمِ فَأَمَرَ بِهِمَا رَسُولُ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ فَرُجِمَا قَالَ عَبْدُ اللهِ فَرَأَيْتُ الرجُلَ يَجْنَأُ عَلَى الْمَرْأَةِ يَقِيهَا الْحِجَارَةَ

Kaum Yahudi datang kepada Rasul SAW membawa seorang laki-laki dan perempuan yang berzina. Rasul bersabda pada mereka, "Apa yang kailan perbuat bagi yang berzina dari golongan kalian?" Mereka menjawab: "Kami mencoreng muka mereka dan memukulinya!" Rasul bersabda: "Tidakakah kalian temukan hukum rajam dalam kitab Taurat?" Mereka menjawab: "Kami tidak menemukannya!" Kemudian Abd Allah bin Salam berkata: "Kalian bohong! Sesungguhnya pada kitab Taurat itu ada ayat rajam! Coba bawa kemari kitab Taurat, dan bacalah, jika kalian benar!" Lalu orang diantara mereka (Ibn Shuraya) menutupi ayat rajam dan bacaannya meloncat pada ayat yang lain. Ayat rajam tidak mereka baca karena ditutupi dengan tangannya. Abd Allah bin Salam berkata, "Angkatlah tanganmu dan baca semuanya!" Lalu mereka membacanya dan mengatakan: "Engkau benar wahai Muhammad! Bahwa dalam kitab Taurat ada ayat rajam!" Lalu Rasul SAW memerintah kedua pezina itu dikenai hukuman rajam. Ibn Umar menerangkan: Saya melihat yang laki-laki menindih badannya ke perempuan untuk melindungi diri dari lemparan batu. [HR Bukhari].[7]
Dengan demikian kita bisa melihat sendiri bahwa sejak dahulu kaum Yahudi sudah terbiasa menyembunyikan kebenaran dan menggantinya dengan kebohongan. Mereka mencoba mengelabui Rasul SAW dengan menutupi kebenaran. Mereka menyangka bahwa perbuatan bohongnya itu tidak akan diketahui Rasul SAW. Sedangkan Rasul SAW mengetahui isi kitab Taurat secara keseluruhan bukan karena membacanya, melainkan berdasar petunjuk wahyu Allah SWT. Inilah sebagai bukti bahwa kerasulan Nabi Muhammad adalah benar. Sedangkan pengakuan Yahudi adalah kebohongan yang mengada-ada.

5. فَمَنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الظالِمُونَ  - Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim.

Orang yang berbuat kebohongan dan mengada-ada dalam hukum, termasuk orang yang dzalim. Mereka akan memikul hukuman berat dari Allah SWT.

E. BEBERAPA IBRAH
  1. Sebelum turunnya kitab Taurat, segala makanan dihalalkan untuk Bani Israel kecuali diharamkan oleh Nabi Yaqub untuk dirinya sendiri. Tatkala kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, maka ada beberapa hewan yang dilarang untuk dikonsumsi seperti yang berkuku satu, dan babi.
  2. Sebagian bani Israel mengharamkan hewan yang sebenarnya tidak diharamkan. Mereka mengatakan bahwa yang diharamkan itu telah berlaku sejak Nabi Ibrahim dan Nuh. Ayat ini membantah mereka. Karena kelakuan mereka berani membuat hukum yang tidak berdasar, maka Allah SWT mengharamkan banyak makanan bagi bani Israel seperti yang berkuku, yang berlemak dari sapi.
  3. Mengharamkan yang dihalalkan Allah merupakan kedzaliman besar yang berakibat hukuman bukan hanya di akhirat tapi juga di dunia.


[Dari pengajian Ust. Saifuddin Asm]
CATATAN KAKI
[1] Mansur Ali nashif, al-Taj al Jami Li Ushul Ahadits al-Rasul, IV h.81
[2] Sunan al-Tirmidzi, V h.294
[3] al-Taj, IV h.82
[4] Â Al-Asqalani (773-852H), al-Ijab fi Bayan al-Asbab, II h.716
[5] Tafsir al-Manar, IV h.4
[6] Muhammad Sayid Thanthawi, al-Tafsir al-Wasith, I h.674, Abu Hayan (w.745H), al-Bahr al-Muhith, III h.320, al-Alusi (w.1270H), Ruh al-Ma’ani, III h.130
[7] Shahih al-Bukhari, no.3363, hadits yang senada adalah no.4190, dan 6336



Kajian Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 121


Tentang orang-orang yang ingkar kepada-Nya, sungguh mereka merugi

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

alladziina aataynaahumu alkitaaba yatluunahu haqqa tilaawatihi ulaa-ika yu/minuuna bihi waman yakfur bihi faulaa-ika humu alkhaasiruuna

Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Surat Al-Baqarah [2]:121)

(1). Perlu disampaikan bahwasanya kita sekarang sudah memasuki ayat-ayat terakhir pembahasan panjang tentang Bani Israil. Pembahasan yang dimulai di ayat 40 ini sebentar lagi berakhir (untuk sementara) di ayat 123. Artinya tinggal 2 ayat lagi. Pembahasan berikutnya pindah ke Nabi Ibrahim dan keluarganya, guna menjelaskan terjadinya—dan sekaligus penyebab terjadinya—inkonsistensi, bias dan deviasi di sepanjang sejarah Bani Israil terhadap مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) datuk mereka Nabi Ibrahim. Sehingga gelar “agama-agama ibrahimik” yang sering disandangkan kepada agama-agama mereka (Yahudi dan Nashrani) hanyalah bersifat genealogi (garis keturunan bilogis) semata dan sama sekalai tidak lagi bersifat teologis. Ayat 119, 120, dan 121 bisa dikatakan kesimpulan dan sekaligus maksud dari penceritaan tersebut. Sedangkan ayat 122 dan 123 hanyalah epilog untuk mengingatkan pembaca bahwa rangkaian cerita ini adalah berkenaan dengan Bani Israil yang melupakan nikmat agama tauhid yang Allah karuniakan kepada mereka yang menyebabkan mereka (seharusnya) menjadi wangsa yang utama dan termulia (ayat 122); tetapi karena mereka selalu menyelisihi risalah tersebut, dengan cara menentang dan merusaknya, maka mereka masing-masing (secara personal) akan dimintai pertanggungjawaban kelak oleh Allah swt (ayat 123). Mari kita lihat sepintas ayat 119 dan 120.


Satu, ayat 119: “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggung-jawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.” Ayat ini hendak berpesan bahwa “Kamu Muhammad adalah pewaris agama Ibrahim yang sah, pewaris مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) Ibrahim yang sebenar-benarnya. Kamu bukan hanya keturunan genealoginya, tapi sekaligus penerus ajaran teologinya. مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka (Yahudi dan Nashrani) bukan lagi Ibrahim punya, melainkan hasil rekayasa mereka masing-masing. مِلّة (millah, pola hidup, cara berfikir) mereka bukan lagi penyerahan diri kepada Allah, tapi penyerahan diri kepada (kehendak) hawa nafu mereka. Alih-alih mereka meneruskan agama ibrahimik, mereka malah membunuh nabi-nabi dan merusak ajarannya.”


Dua, ayat 120: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti millah (pola hidup atau agama) mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan jika seandainya kamu benar-benar mengikuti hawa nafsu (kehendak) mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” Artinya, bukti terjadinya inkonsistensi, bias, dan deviasi yang terjadi pada mereka ialah sikap kebenciannya kepada Nabi Muhammad. Padahal agama ibrahimik tidak pernah menolerasi dan membenarkan kebencian kepada perbedaan agama dan keyakinan, bahkan dari rumpun kenabian yang berbeda sekalipun. Agama hanya memerintahkan membenci pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan, pelaku ketidakadilan, dan orang yang membuat kerusakan di muka bumi. Kebencian kepada kebenaran inilah yang menerangkan kenapa Nashrani berkolaborasi dengan penguasa Romawi selama 1000 tahun menjeremuskan bangsa-bangsa Eropa ke dalam Abad Kegelapan, kemudian berlanjut menjadi pendudukung kolonialisme Barat terhadap negara-negara lainnya selama hampir 500 tahun. Ini juga yang menerangkan kenapa wangsa Israil merampas tanah-tanah Bangsa Palestina dan membunuh penduduk aslinya dengan keji dan tak berperikemanusiaan, sebuah kejahatan yang tak pernah terdengar di sepanjang sejarah kemanusiaan. Pesan ini Allah sampaikan kepada umat Islam, melalui al-Qur’an, Kitab Suci terakhir hingga hari akhir, agar umat Islam jangan mengulangi apa yang terjadi pada mereka. Dan bukti kalau umat Islam juga mengalami inkonsistensi, bias dan deviasi ialah apabila mereka (umat Islam) juga sudah takut dan bahkan benci kepada perbedaan. Apabila mereka sudah mulai takut membaca karya-karya keilmuan yang berbeda dengan pandangan mereka. Kalau nanti umat Islam sudah TIDAK RIDHA kepada kelompok keagamaan dan kepercayaan lain, maka pada saatu itu muncul pertanda yang jelas bahwa umat Islam pun sudah mengalami inkonsistensi, deviasi dan biasa dari ajaran Islam Muhammadi, sebagaimana TIDAK RIDHA-nya Yahudi dan Nashrani kepada Nabi Muhammad yang dipandangnya berbeda dari apa yang mereka miliki dan amalkan selama ini. “Dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya, dan batu ujian (tola ukur) terhadap (kebenaran) kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kalian melalui pemberian-Nya kepadamu; maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kalian semuanya (kelak akan) kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kalian perselisihkan itu.” (5:48)


(2). Kenapa bisa terjadi inkonsistensi, bias, dan deviasi pada perjalanan sejarah Bani Israil terhadap garis teologi agama datuknya, Nabi Ibrahim as? Ayat 121 ini menjawabnya. Yaitu karena mereka menyimpan dan membaca Kitab Suci yang mereka imani tetapi tidak mebacanya dengan benar. Klausa “tidak mebacanya dengan benar” di sini bukan dalam pengertian tidak membaca dengan tahsin dan makhraj (spelling atau pengucapan) yang benar menurut kaidah-kaidah ilmu tajwid, tapi tidak menurut maksud dan kandungan makna ayat-ayat dari Kitab Suci tersebut. Mereka melakukan tahrif terhadap Kitab Suci sehingga ayat-ayatnya keluar dari makna sejatinya, menjadi tidak rasional dan ridak inspiratif. Ayat-ayat tersebut ‘dimanipulasi’ sedemikian rupa sehingga kehilangan ĕlan vital-nya. Ujung-ujungnya, agama menjadi kering dan kehilangan kemandiriannya. Agama menjadi tidak bisa berdiri tanpa topangan kekuasan yang justru berasal dari luar dirinya. Ulama-ulama—sebagai pemegang otoritas keagamaan—puas hanya menjadi mufti (tukang fatwa) dari penguasa tersebut. Fatwa ulama menjadi tidak memihak kepada rakyat yang tertindas, tapi kepada penguasa yang membayarnya. Ulama, atas nama agama dan Kitab Suci, menjadikan dirinya sebagai corong penguasa. Inilah yang menyebabkan ulama-ulama Bani Israil tidak lagi bertugas sebagai pembimbing umat menemukan, memilih, dan mengikuti kebenaran; sebaliknya, mereka justru memprovokasi umat untuk menentang legalitas Nabi Muhammad sebagai nabi yang telah ternubuwatkan di dalam Kitab suci mereka dengan jelas. Kalau begitu apakah di antara mereka pada akhirnya tidak ada yang mengimani Nabi Mhammad? Ada. Banyak juga. Siapa sajakah mereka itu? الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ أُوْلَـئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ [alladzĭyna ātaynaɦumul-kitāba yatlŭwnaɦu haqqa tilāwatiɦi ŭwlāika yu’minŭwna biɦi, orang-orang yang telah Kami berikan Kitab Suci kepadanya, (kemudian) mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah (yang) beriman kepadanya]. Mereka inilah yang diisyaratkan Allah di ayat berikut ini: “Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada (juga) golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” (3:113)


(3). Berdasarkan ayat yang barusan kita kutip (3:113), ternyata yang dimaksud dengan يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ (yatlŭwnaɦu haqqa tilāwatiɦi, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya) ialah “membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud.” Berdasarkan lahiriah ayat, “membaca Kitab Suci dengan bacaan yang sebenarnya” adalah membacanya di malam hari, kemudian tiap-tiap ayatnya membuat yang bersangkutan tersungkur sujud menunjukkan penerimaannya yang tanpa resĕrve kepada kandungan dari ayat-ayat tersebut, persis seperti bersujudnya para malaikat kepada Adam saat menerima perintah dari Tuhannya. Mengapa musti malam hari? Karena, “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak).” (73:6-7) Sedangkan secara batiniah, kata “malam” bisa diartikan sebagai “kondisi gelapnya jiwa” akibat kepandiran dan kejahilan diri. Artinya Kitab Suci hanya akan berfungsi sebagai penuntun manakala pembacanya menempatkan dirinya sebagai orang bodoh, orang tak berilmu, di hadapannya. Jikalau kondisi ini tidak tercapai, alih-alih mendapatkan petunjuk dan pencerahan, si pembaca malah justru menggurui Kitab Suci dengan menafsirkannya sekehendak hawa nafsunya, atau menafsirkannya sesuai dengan kecenderungan mazhabnya, organisasinya, partainya. Ketahuilah bahwa hanya orang yang merasa berada dalam kegelapanlah yang membuthkan suluh sebagai sumber cahaya yang menerangi. “Katakanlah: ‘Bagaimana pendapat kalian, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kalian tidak mendengar?’.” (28:71)


(4). Dan memang, faktanya, tanpa cahaya ilahi, jiwa manusia akan terus berkubang dalam kegelapan. Itu sebabnya Allah menekankan: وَمن يَكْفُرْ بِهِ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (wa man yakfur biɦi fa uwlāika ɦumul-khāsirŭwn, dan siapa saja yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi). Orang yang menolak atau menutup diri terhadap Kitab Suci sama sekali tidak merugikan Allah sedikit pun. Karena Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji (2:267, 14:8, 31:12, 35:15). Yang mereka rugikan adalah diri mereka sendiri. Allah mengirim Rasul dan Kitab Suci adalah bukti cinta-Nya kepada kita hamba-Nya. Dia dan Rasul-Nya tidak berpamrih kepada kita. “Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (26:109, 127, 145, 164, dan 180). Iman kita tidak menambah kemuliaan Allah dan Rasul-Nya. Keingkaran kita tidak mengurangi kemuliaan keduanya. Allah Maha Suci dari segala bentuk kebutuhan. Kitalah yang butuh kepada-Nya. Kitalah yang butuh kepada Rasul-Nya. Kitalah yang butuh kepada Kitab Suci-Nya. Ahli Kitab yang men-tahrif Kitab Sucinya, menentang dan mengkhianati Rasul-Nya, sungguh tidaklah merugikan Allah dan Rasulnya. Yang merugi adalah diri mereka sendiri beserta anak-anak mereka yang datang sesudahnya karena tertipu oleh ulah orang-orang tuanya. “Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (39:63)

AMALAN PRAKTIS
Umat Islam semuanya, dari mazhab manapun, memegang dan membaca Kitab Suci yang sama. Lalu kenapa mereka berpecah-belah sehingga persatuan baginya hanyalah angan tanpa kenyataan? Jawabannya: kita tidak membaca Kitab Suci dengan bacaan yang sebenarnya. Kita membacanya menurut perpekstif mazhab, kelompok, organisasi, dan partai kita masing-masing. Kitab Sucilah yang kita paksa bersujud kepada golongan kita, dan bukan golongan kita yang kita paksa bersujud kepada Kitab Suci.

[Sumber: Tafsir Al-Quran]








Kajian Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Baqarah Ayat 91





“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah.’ Mereka berkata: ‘Kami banya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.’ Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang al-Qur’an itu (Kitab) yang bak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: ‘Mengapa dahulu kamu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Baqarah: 91) Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Baqarah: 92)

Firman Allah: wa idzaa qiila laHum (“Dan apabila dikatakan kepada mereka.”) yaitu orang-orang Yahudi dan sebangsanya dari kalangan Ahlul Kitab. Aamanuu bimaa anzalallaaHu (“Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah,”) kepada Muhammad saw., benarkan dan ikutilah ia. Maka: qaaluu nu’minu bimaa unzila ‘alainaa (“Mereka berkata, kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.”) Artinya, cukup bagi kami mengimani kitab Taurat dan Injil yang telah diturunkan kepada kami. Kami tidak akan pernah mengakui kecuali kedua kitab itu saja.

Wa yakfuruuna waraa-aHu (“Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya.”) wa Huwal haqqu mushaddiqal limaa ma’aHum (“Padalah al-Qur’an itu adalah [Kitab] yang hak, yang membenarkan apa yang ada pada mereka.”) Maksudnya, padahal mereka tahu bahwa apa yang diturunkan kepada Muhammad saw. al-haqqu mushaddiqal limaa ma’aHum (“Yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka”) Artinya, al-Qur’an membenarkan kitab suci yang ada pada mereka, Taurat dan Injil, dengan demikian hujjah itu tegak di atas mereka, sebagaimana firman Allah: alladziina aatainaaHumul kitaaba ya’rifuunaHuu kamaa ya’rifu abnaa’aHum (“Orang-orang [Yahudi dan Nasrani] yang telah Kami beri al-Kitab [Taurat dan Injil] mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.”) (QS. Al-Baqarah: 146).

Kemudian Allah berfirman: fa lima taqtuluuna anbiyaa allaaHi min qablu in kuntum mu’miniin (“Lalu mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah, jika kamu mengaku benar-benar orang yang beriman?”) Artinya, jika kalian mengaku benar-benar beriman kepada apa yang diturunkan kepada kalian, lalu mengapa kalian membunuh para nabi yang datang kepada kalian dan membenarkan kitab Taurat yang ada pada kalian, berhukum pada isinya, dan tidak menghapusnya, sedang kalian mengetahui kebenaran mereka? Kalian membunuh mereka karena melampaui batas, keras kepala, dan sombong kepada para Rasul Allah. Kalian ini tidak mengikuti kecuali hawa nafsu, pendapat, serta keinginan kalian sendiri.

Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, (makna ayat ini) “Hai Muhammad, jika engkau katakan kepada orang-orang Yahudi dari kalangan Bani Israil, Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah’, dan mereka menjawab, `Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’, maka katakanlah kepada mereka, `Jika kalian benar-benar beriman, mengapa kalian membunuh para nabi, wahai orang-orang Yahudi, padahal di dalam kitab yang diturunkan kepada kalian; Allah telah mengharamkan kalian membunuh mereka, bahkan Dia memerintah kalian untuk mengikuti, mentaati, dan membenarkan mereka. Yang demikian itu merupakan pembeberan kebohongan dan celaan kepada mereka atas ucapan mereka, yaitu kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami saja.”‘

Firman-Nya: wa laqad jaa-akum muusaa bil bayyinaati (“Dan Musa telah datang kepadamu dengan membawa bukti-biikti kebenaran [mukjizat].”) Yaitu bukti-bukti yang jelas dan dalil-dalil qath’i bahwa ia adalah Rasul Allah dan bahwa tiada Ilah yang hak selain Allah. Yang dimaksud dengan “al aayaatul bayyinaatu” (“bukti-bukti yang jelas”) adalah berupa angin badai, belalang, kutu, kodok, darah, tongkat, tangan, pembelahan laut, penaungan dengan awan, manna, salwa, batu, dan mukjizat lainnya yang mereka saksikan. Setelah itu kalian jadikan anak sapi sebagai sembahan selain Allah pada zaman hidupnya Musa as.

Firman-Nya: mim ba’diHii (“Sesudah,”) maksudnya sesudah kepergian Musa ke gunung Thursina untuk bermunajat kepada Allah; wa antum dhaalimuun (“Sedang kamu berbuat zhalim”) Artinya, dengan tindakan kalian menyembah anak sapi itu, kalian telah berbuat zhalim, padahal kalian tahu bahwasanya tiada Ilah yang hak selain Allah.

Sebagaimana firman-Nya: wa lammaa suqitha fii aidiiHim wa ra-au annaHum qad dlalluu qaaluu la il lam yarhamnaa rabbanaa wa yaghfirlanaa lanakuunanna minal khaasiriin (“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, Sungguh jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.”) (QS. Al-A’raaf: 149).

[Sumber: Al-Quran Mulia]

Dusta Yahudi Dan Kristen Tentang Arti "Anak Allah" Menurut Al-Quran


Tafsir QS. Al-Maidah 18-19
[18] Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya, dan mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).

[19] Hai ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(Q. S. Al-Maa’idah:18-19)

Sudah sering diterangkan di sini tentang seruan Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani supaya mereka mengikuti kebenaran dengan beriman kepada nabi Muhammad dan Al-Quran, tetapi kenyataannya meskipun nabi Muhammad telah diutus dan Al-Quran pula telah diturunkan namun kebanyakan mereka tetap juga memilih kekufuran dan kesesatan. 

Setelah Allah menerangkan tentang perkataan dusta orang-orang Nasrani sebelum ini yang mengatakan bahwa nabi Isa adalah Tuhan maka ayat ini pula menerangkan tentang perkataan dusta yang lain dari orang-orang Nasrani bersama orang-orang Yahudi, yaitu mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya, Allah berfirman:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya, dan mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya, dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu)”.

Imam Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa sebab turun ayat ini adalah sekumpulan dari orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah, mereka berbicara kepada Rasulullah dan bagindapun berbicara kepada mereka, Rasulullah juga menyeru mereka supaya beriman kepada Allah dan memperingatkan mereka tentang murka Allah, namun mereka berkata: 

”Mengapa kamu menakut-nakuti kami wahai Muhammad? Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya!” 

Seperti itu pula perkataan orang-orang Nasrani, lalu turun ayat ini sebagai bantahan terhadap perkataan dusta mereka itu. Di dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasulullah supaya membantah perkataan mereka dengan suatu pertanyaan yang mesti mereka jawab dengan jujur, yaitu apabila mereka memang adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya maka mengapa Allah menyiksa mereka karena dosa-dosa mereka? Bahkan Allah mengutuk mereka sehingga mereka dilaknat menjadi kera dan babi. 

Kalaulah memang betul mereka adalah anak-anak Allah maka seorang bapa tidak akan menyiksa anak-anaknya, dan kalaulah mereka adalah kekasih-kekasih Allah maka yang mengasihi tidak akan menyiksa yang dikasihi. Sebenarnya bentuk bantahan berupa pertanyaan seperti ini adalah lebih tegas dan lebih kuat; isinya adalah berupa pengingkaran terhadap apa yang mereka katakan dan mereka tidak mampu untuk membantahnya lagi. Dengan pertanyaan ini maka terbuktilah kebohongan mereka.

Mengapa mereka mengatakan bahwa mereka sebagai anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya? 

Ada beberapa penjelasan yang bisa menerangkannya; mereka mengatakannya karena memahami bahwa diri mereka adalah orang-orang yang dekat kepada Allah seperti kedekatan orang tua dengan anaknya, atau mereka memahami bahwa mereka adalah pengikut-pengikut anak Allah; karena orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Uzair adalah anak Allah dan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa adalah anak Allah. 

Oleh karena mereka mengaku sebagai pengikut anak-anak Allah maka mereka menyebut diri mereka sebagai anak-anak Allah pula, atau mereka mengatakannya karena salah dalam memahami perkataan “anak” dan “kekasih” yang terdapat dalam kitab-kitab suci mereka. Apapun penjelasannya, ayat ini membantah kebohongan mereka, mereka itu hanya mencari kata-kata untuk membenarkan kesesatan dan kekafiran mereka.

Selanjutnya didalam ayat ini diterangkan perkara yang sebenarnya; yaitu mereka itu adalah manusia biasa seperti orang lain, tidak ada keistimewaan pada mereka, apabila mereka mau bertaubat dan beriman maka Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka, tetapi apabila mereka enggan untuk beriman dan tetap juga berpaling dari kebenaran maka Allah akan menyiksa mereka. 

Allah menjelaskan kuasa dan kehendak-Nya dalam mengampuni dan menyiksa manusia sebagai menerangkan bahwa Dia-lah yang berhak sepenuhnya untuk berbuat demikian. Berarti penjelasan ini sekaligus menerangkan tentang buruk dan tercelanya perkataan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berani mengatakan apa-apa yang merupakan hak Allah semata.

Kemudian didalam ayat ini juga diterangkan bahwa Allah adalah pemilik kerajaan langit, bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya; berarti hanya Allah yang berhak untuk mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan kebijaksanaan di alam semesta ini. 

Penerangan ini adalah sebagai penekanan dari apa yang telah disampaikan sebelumnya. Kemudian di penghujung ayat disebutkan bahwa kepada-Nya segala sesuatu akan kembali; sebagai peringatan bahwa nasib setiap makhluk pada akhirnya berada ditangan Allah; semua manusia akan dibalas di hari pembalasan kelak dan tidak siapapun yang berhak untuk menyatakan nasibnya dengan pengakuan dari dirinya sendiri.

Pada ayat berikutnya kembali Allah menyeru Ahlul-Kitab supaya beriman kepada nabi Muhammad; sesungguhnya pengutusan beliau merupakan karunia Allah yang sangat berharga, Rasulullah diutus sebagai menjelaskan kebenaran yang pernah disampaikan oleh para rasul yang terdahulu, dan sekaligus menghabiskan alasan yang mungkin akan mereka pakai bahwa tidak ada rasul yang diutus kepada mereka, Allah berfirman: 

“Hai ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Didalam ayat ini juga difahami bahwa pengutusan Rasulullah sebagai menjelaskan kembali syari’at para rasul adalah disaat manusia sangat memerlukannya, inilah yang difahami dari perkataan: 

“ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul.”. 

Rasulullah datang sebagai pembawa berita gembira bahwa yang beriman akan dimasukkan kedalam syurga dan pemberi peringatan bahwa yang kafir akan dimasukkan kedalam neraka, dan Allah adalah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. 

Wallahu A’lam! 


[Dari: Al-Faqiir Ilaa Rabbih, Musthafa Umar]

Shalat Yahudi Mirip Seperti Muslim

Ansara


Shalat Yahudi Mirip Seperti Muslim

REP | 01 August 2012 | 18:22 Dibaca: 25297    Komentar: 58    14
13438117961560642835
Keluarga Yahudi Berjamaah foto www.wn.com
Pencarian tentang shalat ini berawal dari buku yang saya baca tentang Islam dimasa lampau, diceritakan bahwa kiblat kaum muslimin dimasa nabi Muhammad awalnya mengarah ke Jerusalem (Baitul Maqdis) sama dengan kiblat kaum Yahudi dizaman itu. Atas perintah Allah SWT, nabi Muhammad mengubah kiblat dari Baitul Maqdis ke arah Kabah di Mekah.

Kalimat kiblat orang yahudi ini yang membuat saya penasaran, Yahudi punya kiblat untuk apa? Apa mereka shalat juga? (Shalat dalam bahasa Arab jika diterjemahkan berarti Do’a) Seperti apa tata cara Do’a (shalat) mereka? Setahu saya mereka berdoa menghadap tembok ratapan. Karena penasaran saya browsing di internet.

Secara tak sengaja saya menemukan artikel Jews Praying Like Muslim lengkap dengan link ke YouTube sayapun langsung melihat videonya dan video itu menunjukan tata cara shalat orang Yahudi yang ternyata mirip shalat orang Islam karena ada rukuk, sujud dan menyimpan tangan didada bedanya orang Yahudi membaca ayat-ayat Taurat dan Talmud orang Islam baca Aa-Quran. Ada 3 video yang saya temukan tentang shalat orang Yahudi. Semua video itu seolah menjawab tanda tanya saya selama ini tentang ayat di surat Maryam ayat 30 dan 31.

Dikisahkan dalam Quran, Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” (QS. Maryam [19]: 30) “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku dengan shalat dan zakat selama aku hidup.” (QS. Maryam [19] : 31)

Saya dulu sempat bingung dengan ayat itu sampai berpikir apa salah menerjemahkan? Masa nabi Isa shalat? Tapi jawaban itu akhirnya muncul dengan cara yang tak terduga yaitu lewat internet. Mungkin nabi Isapun dulu shalat seperti itu karena beliau orang Yahudi. Berarti shalat sebenarnya sudah diajarkan jauh sebelum nabi Muhammad ada. Petunjuk shalat yang diterima nabi Muhammad waktu Isra Miraj mungkin hanya untuk menyempurnakan tata cara shalat dari yang ada sebelumnya. 

Dibawah ini 3 video shalat Yahudi ▼



Shalat orang Yahudi ternyata ada wudhunya juga ▼



Video yang memperlihatkan keluarga Yahudi shalat berjamaah ▼



Selain video tata cara shalat orang Yahudi sayapun menemukan video shalatnya orang Kristen koptik kuno yang diliput oleh National Geographic Chanel. Sayang video itu berdurasi singkat tidak seperti video shalat orang Yahudi itu jadi belum jelas gerakannya walaupun sama ada sujudnya. Dan sebagian prianya memelihara janggut. Dibawah ini videonya ▼



Sungguh luar biasa, menurut saya hal ini menunjukan bahwa banyak kemiripan antara ajaran Yahudi dan kristen kuno dengan Islam sekarang. Menurut beberapa sumber yang saya baca, Yahudi shalat (berdoa) 3 kali sehari tapi jumlah rakaatnya tidak disebutkan. Ada kemungkinan shalat sudah diajarkan sejak nabi Ibrahim yang sudah mengajarkan tauhid (menyembah 1 Allah), sunat (khitan), kurban dan Haji. Hanya tata cara berdoa’a/shalat zaman dulu tidak terdokumentasi jadi sulit menelusuri sejarah awalnya.


[Sumber: Ansara | kompasiana]