Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Judaisme (Kitab). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Judaisme (Kitab). Tampilkan semua postingan

Kitab Suci umat Yahudi

Berikut ini adalah senarai dasar susastra utama seputar amal ibadah dan gagasan-gagasan dalam agama Yahudi.

1Tanak (Alkitab Ibrani) dan susastra Rabani
2. Susastra Zaman Talmud (susastra Rabani klasik)

3. Susastra Midras:

4. Susastra Halakah

5. Susastra utama perihal hukum dan adat-istiadat Yahudi

6. Susastra Soal Jawab

7. Gagasan dan etika Yahudi

8Sidur dan tata ibadat Yahudi
9Piyut (syair Yahudi klasik)


Sejumlah besar susastra Yahudi tradisional tersedia daring di berbagai basis data Taurat (versi elektronik dari khazanah susastra Yahudi tradisional). Banyak yang dilengkapi dengan opsi pencarian lanjutan.

Syariat
Landasan hukum dan adat-istiadat Yahudi (halakah) adalah Taurat (Pancasastra). Menurut tradisi Rabani, Taurat mengandung 613 butir titah. Ada titah-titah yang hanya berlaku bagi kaum lelaki atau kaum perempuan, ada yang hanya berlaku bagi puak-puak imam, yakni Kohanim dan Lewiyim (warga suku Lewi), dan ada pula yang hanya berlaku bagi kaum tani di Tanah Israel. Ada banyak titah yang hanya berlaku selama Haikal Yerusalem masih berdiri, dan hanya 369 butir titah yang masih dapat diberlakukan sekarang ini.


Kendati ada golongan yang hanya berpedoman kepada ayat-ayat tersurat dalam Taurat (misalnya kaum Saduki dan kaum Karayi), sebagian besar umat Yahudi juga berpedoman kepada hukum lisan, yang dilestarikan dalam bentuk tutur dari generasi ke generasi oleh kaum Farisi, dan kelak dibukukan sekaligus dijabarkan lebih lanjut oleh para rabi.

Menurut tradisi Rabani, Tuhan menurunkan hukum-hukum-Nya kepada Musa di Tur Sina dalam bentuk tulisan (Taurat) maupun lisan (hukum lisan). Hukum lisan adalah tradisi tutur yang diturunkan Tuhan kepada Musa, dan dari Musa diturunkan serta diajarkan kepada alim-ulama besar (tokoh-tokoh Yahudi Rabani) dari generasi ke generasi.

Selama berabad-abad, Taurat hanya dipandang sebagai suratan ayat-ayat yang diwariskan turun-temurun bersama-sama tradisi tutur. Lantaran khawatir ajaran-ajaran dalam bentuk tutur akan lekang dari ingatan orang, Rabi Yehudah Ha Nasi pun berusaha menghimpun berbagai macam pendapat ulama dalam satu kitab hukum yang kelak dikenal dengan sebutan Misnah.

Misnah terdiri atas 63 risalah hukum Yahudi, yang merupakan dasar dari kitab Talmud. Menurut Rabi Abraham bin Daud, Misnah dihimpun oleh Rabi Yehudah Ha Nasi sesudah Yerusalem diluluhlantakkan pada tahun 3949 berdasarkan perhitungan tarikh Dunia, atau pada tahun 189 berdasarkan perhitungan tarikh Masehi.

Selama empat abad berikutnya, Misnah dibahas dan diperdebatkan oleh komunitas-komunitas utama umat Yahudi, yakni di Israel dan di Babel. Ulasan-ulasan dari masing-masing komunitas pada akhirnya dibukukan menjadi dua kitab Talmud, yakni Talmud Yerusalem (Talmud Yerusyalmi) dan Talmud Babel (Talmud Babli). Isi kedua kitab Talmud ini selanjutnya dijabarkan lagi dengan ulasan-ulasan alim-ulama Taurat dari abad ke abad.

Ayat-ayat Taurat mengandung banyak kata yang dibiarkan tak terpahami artinya, dan banyak prosedur yang tidak disertai penjelasan maupun petunjuk. Fenomena semacam ini adakalanya digunakan untuk membenarkan pandangan yang mengatakan bahwa hukum tertulis sejak semula diwariskan berbarengan dengan tradisi tutur yang berkaitan dengannya. Menurut pandangan ini, pembaca Taurat mampu memahami ayat-ayat yang dibaca karena sudah mengetahui penjabarannya dari sumber lain, yakni sumber-sumber lisan.

Dengan demikian, Halakah, syariat warisan para rabi, berlandaskan perpaduan pembacaan Taurat dan tradisi tutur, yakni Misnah, Midras Halakah, dan Talmud beserta ulasan-ulasannya. Halakah berkembang perlahan-lahan, melalui suatu sistem berbasis preseden. Susastra yang memuat pertanyaan-pertanyaan kepada para rabi berikut jawaban-jawabannya disebut Soal Jawab (bahasa Ibrani: שאלות ותשובות‎, sye'elot u'tesyubot). Seiring perjalanan waktu dan perkembangan amalan ibadah ini, hukum-hukum agama Yahudi pun dirumuskan dan dibukukan dengan berpedoman kepada Soal Jawab. Kitab hukum yang paling utama, yakni Syulhan Aruk, sangat mempengaruhi ibadah Yahudi Ortodoks sekarang ini. [sumber]

Torah Dan Mazmur Dalam Perjanjian Lama Alkitab


KITAB TORAH - TAURAT
Kitab Taurat adalah kumpulan firman-firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Musa Alayhi Salam. Kitab ini berlaku hanya pada Nabi Musa Alayhi Salam dan Bani Israil.

Firman Allah,

“Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa.” (QS. Al-Baqarah: 87).

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab Taurat dan Kami jadikan kitab Taurat petunjuk bagi Bani Israil.” (QS. Al-Isra’: 2).

Kitab Taurat ini hanyalah salahsatu bagian dari Kitab suci agama Yahudi yang disebut Biblia/Al Kitab (terdiri dari Thora, Nabiin, dan Khetubiin). Di kemudian hari orang-orang Kristen menamainya Perjanjian Lama (Old Testament).

Konon Taurat yang tertuang dalam Perjanjian Lama tersebut berasal dari Nabi Musa Alayhi Salam dan dibagi menjadi lima kitab:
  1. Kitab Kejadian (Genesis) yang mengisahkan kejadian alam semesta, kejadian Adam dan Hawa serta dikeluarkannya mereka dari surga, dan turunnya Adam, dan sejumlah Nabi sampai Yusuf Alayhi Salam,
  2. Kitab Keluaran (Exodus) yang mengisahkan tentang keluarnya Bani Israil dari Mesir yang dipimpin Nabi Musa Alayhi Salam akibat penindasan Fir’aun, keberadaan Musa di Padang Tih, Semenanjung Sinai selama 40 tahun, munajat Musa Alayhi Salam.terhadap Yahwe (Allah), sampai turunnya Sepuluh Perintah Tuhan.
  3. Kitab Imamat (Leviticus) yang berisi kumpulan hukum/syariat dalam agama Yahudi.
  4. Kitab Bilangan (numbers) yang menerangkan jumlah keturunan dua belas Bani Israil pada zaman Nabi Musa Alayhi Salam .
  5. Kitab Ulangan (Deuteronomy) yang berisi pengulangan kisah kepergian Bani Israil dari Mesir dan pengulangan kumpulan peraturan.
Kata Taurat berasal dari bahasa Ibrani: “Thora” yang berarti syariat, perintah, atau hukum. Kitab Taurat itu sendiri memang diturunkan dalam bahasa Ibrani. Nama Taurat disebut dalam Al-Quran sebanyak delapan belas kali. Isi pokok kitab ini adalah Sepuluh firman atau Perintah Allah (Ten Commandements) yang diterima oleh Nabi Musa Alayhi Salam ketika berada di puncak gunung Tursina.

Sepuluh Firman atau Perintah yang mencakup asas-asas akidah (keyakinan) dan asas-asas syariat (kebaktian) itu termuat dalam kitab Keluaran pasal 20: 1–17 dan Kitab Ulangan pasal 5: 1–21 sbb:
  1. Keharusan mengakui ke-Esa-an Allah dan mencintai-Nya.
  2. Larangan menyembah patung atau berhala, sebab Alllah SWT tidak dapat diserupakan dengan makhluk-makhluk-Nya baik yang ada di langit, di darat, maupun di air.
  3. Perintah menyebut nama Allah SWT dengan hormat
  4. Perintah memuliakan hari Sabat (sabtu)
  5. Perintah menghormati ayah-ibu
  6. Larangan membunuh sesama manusia
  7. Larangan berbuat cabul (mendekati zina)
  8. Larangan mencuri
  9. Larangan berdusta (menjadi saksi palsu)
  10. Larangan berkeinginan memiliki atau menguasai barang orang lain dengan cara yang tidak benar.
Selain Sepuluh Firman atau Perintah Allah, Nabi Musa Alayhi Salam juga menerima wahyu lain tentang tata-cara melaksanakan shalat, berqurban, upacara dan lain sebagainya. Dalam menyiarkan ajaran tersebut, Nabi Musa Alayhi Salam dibantu oleh saudaranya, Nabi Harun Alayhi Salam.

Hanya saja, yang patut disesalkan, beberapa waktu lamanya setelah Nabi Musa Alayhi Salam wafat, isi kitab Taurat telah diubah oleh pemuka Yahudi. Sebagian firman Allah dalam kitab tersebut mereka gelapkan, sebagaimana telah diberitakan oleh Allah SWT dalam Al-Quran,

"Dan mereka tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya saat mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Jawablah (ya Muhammad): “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembarann-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan apa yang kamu dan bapak-bapak kamu belum ketahui.” Katakanlah: “Allah (telah menurunkannya)”. Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. Al-An’am: 91)

Maksudnya Nabi Muhammad Shallalhu Alayhi Wa Salam diperintah untuk meninggalkan orang-orang yang mempermainkan agama setelah menyampaikan petunjuk yang benar.

Di antara isi Kitab Taurat yang diubah adalah tentang kerasulan Muhammad dan sifat-sifatnya. Firman Allah SWT.

“Apakah kamu (umat Muhammad) masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal sebagian mereka telah mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 75)

Ayat ini menegaskah bahwa di antara orang Yahudi ada yang mengubah isi Taurat, antara lain yang berhubungan dengan kerasulan Muhammad Shallalhu Alayhi Wa Salam.

Setelah adanya perubahan isi dalam kitab Taurat tersebut, masihkah kita wajib mempercayainya? Salahsatu cara menyikapi kitab Taurat seperti yang diterangkan dalam Ensiklopedi Islam Indonesia karya Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta: Djambatan, 1992.

“… Oleh karena itu keimanan umat Islam dengan Taurat sebagai satu di antara kitab-kitab suci yang diwahyukan sebelum Al-Quran, sudah cukup dalam bentuk membenarkan berita Al-Quran dan hadits Nabi, bahwa dulu Nabi Musa menerima firmann-firman Tuhan, yang dinamakan dengan Taurat. Sebagian firman-firman yang disampaikan kepada Musa itu disebutkan dalam Al-Quran dan apa yang disebutkan Al-Quran itu tentu dipercaya sebagai bagian dari kandungan Taurat” ~ Susi Anita

Kitab lain yang juga dikategorikan sebagai kitab Perjanjian lama oleh umat Kristen adalah Mazmur atau Zabur.

KITAB ZABUR - MAZMUR
Kitab Zabur atau Mazmur adalah kumpulan firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Dawud Alayhi Salam.

"Dan sungguh, Kami telah memberikan kelebihan kepada sebagian nabi-nabi atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Dawud." (QS. Al-Isra': 55)

Kata zabur - bentuk jamaknya zubur, berasal dari kata zabara-yazburuzabr yang arti harfiahnya adalah "menulis". Atau dalam pengertian lainnya berarti "kitab yang tertulis"

Zabur dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan mazmuur - bentuk jamaknya mazamir, dan dalam bahasa Ibrani disebut "mizmor", atau nyanyian rohani yang dianggap suci.

Kitab Zabur berisi kumpulan mazmur, yakni nyanyian rohani yang dianggap suci (Inggris: Psalm) yang berasal dari Nabi Dawud Alayhi Salam. 

150 nyanyian yang terkumpul dalam kitab ini berkisah tentang seluruh peristiwa dan pengalaman hidup Nabi Dawud Alayhi Salam mulai dari kejatuhannya, dosanya, pengampunan dosanya oleh Allah, suka-cita kemenangannya atas musuh Allah, kemuliaan Allah, sampai kemuliaan Mesias yang akan datang. Artinya, kitab ini sama sekali tidak mengandung hukum-hukum atau syariat (peraturan agama), karena Nabi Dawud Alayhi Salam diperintah oleh Allah untuk mengikuti peraturan yang dibawa oleh Nabi Musa Alayhi Salam.

Secara garis besar, nyanyian rohani yang disenandungkan oleh Nabi Dawud Alayhi Salam terdiri dari lima macam:
  1. ratapan dan doa individu;
  2. ratapan-ratapan jamaah;
  3. nyanyian untuk raja;
  4. nyanyian liturgy kebaktian untuk memuji Tuhan; dan
  5. nyanyian perorangan sebagai rasa syukur.
Nyanyian pujian dalam Kitab Zabur antara lain, Mazmur: 146
  1. besarkanlah olehmu akan Allah. Hai Jiwaku pujilah Allah.
  2. maka aku akan memuji Allah seumur hidupku, dan aku akan nyanyi pujian-pujian kepada Tuhanku selama aku ada.
  3. janganlah kamu percaya pada raja-raja atau anak-anak Adam yang tiada mempunyai pertolongan.
  4. maka putuslah nyawanya dan kembalilah ia kepada tanah asalnya dan pada hari itu hilanglah segala daya upayanya.
  5. maka berbahagialah orang yang memperoleh Ya'qub sebagai penolongnya dan yang menaruh harap kepada Tuhan Allah.
  6. yang menjadikan langit, bumi dan Taut serta segala isinya, dan yang menaruh setia sampai selamanya.
  7. yang membela orang yang teraniaya dan yang memberi makan orang yang lapar. Bahwa Allah membuka rantai orang yang terpenjara.
  8. dan Allah membukakan mata orang.