Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Islam (Kajian). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam (Kajian). Tampilkan semua postingan

Benarkah Akal Wanita SETENGAH Akal Pria?


Shahihnya sebuah hadist bersifat mutlak dan tidak bisa diragukan hanya karena adanya oknum-oknum tertentu yang meragukan kebenaran islam dan berusaha mendiskreditkan kesempurnaan risalah Agama ini lewat Syubhat-syubhat yang mereka lontarkan misalnya kepada salahsatu hadist yang (menurut asumsi mereka) mengindikasikan bahwa perempuan sebagai kaum yang kurang akal dan pikirannya dibandingkan dengan kaum pria.
 
Mereka mengklaim Islam telah merendahkan martabat perempuan dan mengangap perempuan lebih terbelakang dari kaum lelaki. Padahal pemikiran seperti ini sangat bertentangan dengan konsep persamaan jender dan feminisme, dan tidak sejalan pula dengan ilmu pengetahuan modern.

Sayangnya, ada beberapa Da`i, bahkan Ulama yang coba "mengobati" keracunan interpretasi ini dengan membuat pernyataan bahwa Rasulullah Saw saat itu sedang bercanda bersama isteri-istrinya sehingga berkata demikian! 

Bukannya mengatasi masalah, pernyataan seperti ini justru makin memperparah penyimpangan tersebut. Kenapa? Karena kita semua mengimani bahwa Beliau tidak akan berkata berdasarkan kemauan atau atas hawa nafsunya sendiri, melainkan menurut apa yang diperintahkan oleh Allah dan setiap perkataan beliau adalah benar!
Oleh karena itu, kita akan cermati hadits tsb dengan pendekatan sains modern sekaligus coba menemukenali seluk beluk perbedaan mendasar antara pria dan wanita dari segi mentalitas dan tinjauan agama itu sendiri.

Jika dalam aspek ini terbukti bahwa perempuan memang kurang dari laki-laki, maka Hadits dimaksud justru merupakan salahsatu bukti mukjizat ilmiah Islam dan bukan merupakan canda Rasulullah Saw!
Hadist Nabawi:

يا ‏‏مَعْشرَ‏ ‏النساء تَصَدَّقْنَ وأكْثِرْن ‏‏الاستغفار، فإني رأيُتكُنَّ أكثر أهل النار. فقالت امرأة منهن ‏جَزْلة (أي ذات عقل راجح): ‏‏وما لنا يا رسول الله أكثرُ أهل النار؟ قال: تُكْثِرْنَ اللَّعن،‏ ‏وتَكْفُرْنَ‏ ‏العشير، ‏‏وما رأيت من ناقصاتِ عقلٍ ودين أغلبَ لذي ‏لبٍّ‏ ‏مِنْكُن. قالت يا رسول الله وما نقصانُ العقل والدين؟ قال: أما نُقصانُ العقل فشهادة امرأتين تعْدِلُ شهادةَ رَجُل، فهذا نقصان العقل، وتَمكثُ الليالي ما تُصلي، وتُفطر في رمضان، فهذا نقصان الدين [رواه البخاري ومسلم].‏
Terlebih dahulu kita akan merenungkan rincian Hadist yang meriwayatkan bahwa pada suatu hari raya `Ied Rasulullah Saw melewati para kaum perempuan, lalu Beliau berkata: “Wahai kaum perempuan bersedekahlah dan perbanyak istiqfaar, karena sesungguhnya saya melihat kebanyakan penghuni nereka (dari) kaum perempuan”, kemudian berkatalah seorang yang arif dari mereka (perempuan): “Mengapa kebanyakan dari kami penghuni neraka?, kemudian Beliau berkata: “ (karena) kalian kerap kali melaknak, dan tidak mensyukiri (mengingkari) kebaikan suami, dan  saya melihat kalian kurang akal dan agama (tetapi) sanggup mengalahkan akal (kaum) lelaki”, lalu perempuan itu berkata: “ apa maksud dari kurang akal dan agama?, Belaiu menjawab: “ ada pun kurang akal (adalah) kesaksiaan dua orang perempuan sebanding dengan kesaksian seorang lelaki, maka ini yang (dimaksud) kurang akal, dan (dikarenakan) kalian sering kali melewati malam tanpa sholat, dan berbuka di bulan Rhomadhon, maka demikian (disebut) kurang agama. (HR. Bukhari dan Muslim)
Interpretasi Ilmiah
Apa sebenaranya tafsiran ilmiah dari kata Pikiran?
Seperti yang diketahui,  dalam pengetahuan modern otak dan jantung adalah dua organ utama yang bertanggung jawab dalam berpikir, kesadaran, persepsi, pemahaman, pengambilan keputusan, emosi dan proses berpikir. Otak memiliki miliaran sel yang beroperasi secara terus menerus bahkan saat tidur, dalam rangka menyelia kerja seluruh tubuh, dan jantung, berfungsi mengurus aktifitas otak,  dan seterusnya.
Otak perempuan lebih kecil
Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa otak perempuan lebih kecil dari otak laki-laki hingga 10 %, dan ukuran jantung permpuan lebih kecil dari jantung lelaki. Dengan demikian terdapat perbedaan dalam jumlah sel-sel otak dan jantung, di mana perbedaan ini diperkirakan mencapai miliar sel! Oleh karenanya terdapat perbedaan mencolok dari jumlah sel-sel jantung dan otak antara perempuan dan laki-laki.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perbedaan antara otak laki-laki dan otak perempuan sangat besar, yang berdampak terhadap perbedaan cara berpikir, perilaku, reaksi, dan berpersepsi terhadap segala sesuatu. Boleh jadi, di antara sekian sebab, pemicu utama terjadinya banyak perceraian di dunia ini disebabkan ketidak mampuan memahami perbedaan cara berfikir antar pria dan wanita ini.
Penurunan sel-sel otak pada perempuan
Sesungguhnya kemungkinan penurunan jumlah sel-sel otak pada manusia yang bisa berujung dengan penyaikt dimensia atau kehilangan memori lebih banyak menimpa kaum wanita dari pada lelaki, dikarenakan jumlah sel-sel otak lelaki lebih banyak, dan kita tahu bahwa penyebab dimensia adalah rusaknya sel-sel otak bersamaan dengan bertambah tuanya usia. Dengan sedikitnya jumlah kandungan sel-sel otak perempuan dengan sendirinya akan mempercepat kemungkinan dimensia dibanding kaum lelaki.
Dalam penelitian yang dirilis oleh Harvard University (2007) Dr Jill Goldstein menyantakan bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara akal lelaki dan permpuan, baik dalam jumlah besar atau berat atau cara menangani informasi, serta terdapat perbedaan jumlah sel masing-masing daerah pada otak. Sehingga dia disimpulkan bahwa secara umum, otak perempuan memang lebih kecil dari otak laki-laki.
Hal ini juga ditemukan ilmuwan Kanada baru-baru ini bahwa otak wanita lebih aktif dari pada otak lelaki oleh karena itu otak lelaki lebih baik dalam hal stabilitas dan kenyamanan dan tidur, sementara itu kita sering menemukan perempuan dalam kondisi dan tegang cemas dibanding laki-laki bahkan pada saat tidur dikarenakan otak lelaki kerap dalam kondisi tenang. Maka dari itu kaum perempuan harus mengusahankan untuk mengimbangi hal tersebut dengan memperbanyakan amal kebaikan misalnya yang dapat meningkatan ketenangan dan stabilitas otak pemiliknya.
Keistimewaan fungsi otak masing-masing
Otak lelaki dapat menangani lebih dari satu kasus pada waktu yang sama dan otak wanita menangani hanya satu kasus, Tapi otak wanita unggul dari otak lelaki dalam kemampuan menanggung rasa kepelikan dan kesabaran dalam mendidik anak-anak atau hal yang serupa Subhanallah, Allah memberikan fungsi spesifik masing-masing pada pria dan wanita sesuai tabiaat dan peranannya dalam kehidupan.
Para ilmuwan mencoba memahami realitas berpikir perempuan dan perbandingannya dengan pikiran laki-laki untuk menemukan lebih banyak perbedaan sehingga masing-masing memiliki keistimewaan. Tapi hasilnya, otak pria dan otak wanita bekerja dengan cara yang sempurna dan masing-masing menjalankan fungsinya secara optimal.
Koneksi otak perempuan kurang
Jumlah koneksi antara sel-sel otak neuron di otak perempuan lebih sedikit jika dibandingkan dengan otak laki-laki. Koneksi-koneksi yang terdapat di antara sel-sel otak sangat mempengaruhi kecepatan dalam berpikir dan mentransfer informasi lewat sel-sel otak, tetapi terdapat bagian yang bertanggung jawab pada emosi di otak perempuan yang lebih besar. Karenanya wanita lebih emosional, sentimental, dan mampu membangkitkan emosi sehingga sangat berpontensi dalam godaan dan memprovokasi emosi. Para ilmuwan mengatakan bahwa perempuan lebih mampu menangkap sinyal emosional daripada pria. Itu sebabnya Rasulullah saw bersabda :
(وما رأيت من ناقصاتِ عقلٍ ودين أغلبَ لذي ‏لبٍّ ‏ ‏مِنْكُن) dan  saya melihat kalian kurang akal dan agama (tetapi) sanggup mengalahkan akal (kaum) lelaki”.
Ini dapat dijadikan kesimpulan ilmiah bahwa perempuan sangat berpotensi dalam menarik dan memprovokasi emosi kaum lelaki walaupun sekarang kita sudah mengetahui bahwa otak perempuan kurang, atau lebih kecil! dari otak laki-laki.
Otak lelaki tergolong pada level spesialisasi tinggi di mana setiap bagian dari bagian-bagiannya memiliki kekhususan tersendiri dalam mengatasi berbagai masalah, sementara diketahui bahwa wanita ketika mengatasi suatu masalah hampir sebagian besar otaknya berfungsi. Hal tersebut merupakan kekurang bagi akal perempuan di mana kemampun untuk mengambil keputusan kurang unggul jika dibandingkan laki-laki yang dengan keistimewaan akalnya, lebih unggul dalam pengambilan beberapa keputusan dari berbagai permasalahan pada saat yang sama.
Para ilmuwan menemukan bahwa jumlah distribusi dan pengurangan unsur abu-abu (pada gambar) di otak berbeda antara pria dan wanita,  dan unsur ini semakin berkurang ketika perempuan tertimpa skizofrenia atau penyakit gangguan mental. Dan di sini kita menemukan bahwa otak pria lebih tahan dari waktu ke waktu dalam keadaan sulit. Itu pula sebabnya Rasulullah Saw mewasiatkan “Perlakukanlah wanita dengan sangat baik.“ [Bukhari dan Muslim], hadist ini menegaskan pentingnya perhatian lelaki terhadap perempuan, kasih sayang dan perbuatan-perbuatan baik yang menyenangkan lainnya.
Otak lelaki lebih efisien
Otak wanita sangat berat mengatasi keadaan sulit yang membuat perempuan menjadi lebih banyak tertekan dan khawatir daripada pria. Kekurangan ini dapat mengurangi kemampuan perempuan dalam memecahkan masalah, beradaptasi dengan keadaan, dan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan. Bahkan otak wanita memproduksi lebih sedikit hormon serotonin (otak lelaki menghasilkan 50 % lebih beanyak). Hormon ini bertanggungjawab untuk kebahagiaan. Ini juga merupakan kekurangan bagi perempun.
Studi MRI dan tes IQ yang dilakukan pada pria dan wanita menunjukkan sedikitnya sel-sel yang terdapat pada wanita, sehingga kemampuan perempuan untuk melakukan perhitungan matematika kurang dari kapasitas lelaki.
Sebuah penelitian ilmiah dengan mengunakan MRI terhadap otak laki-laki dan permpuan, memperlihatkan otak perempun banyak terpengaruhi dalam kondisi stres dan kecemasan yang dihadapi sehari-hari dibandingkan laki-laki, oleh karena itu wanita perlu melakukan stabilisasi dengan amalan-amalan kebaikan seperti misalnya bersedekah kepada orang miskin, dan memuliakan para tamu. Dengan begitu akan memberikan kekuatan tambahan dalam menahan tekanan psikologis. Demikianlah Rasulullah Saw mewasiatkan kepada kaum perempun: “Wahai kaum perempuan bersedekahlah dan perbanyak istiqfaar….”

Kesimpulan
Dari pembahasan ini kita bisa menarik kesimpulan Mukjizat Ilmiah dari Hadist Rasulullah Saw dalam beberapa poin:
1. Deskripsi Nabi Saw terhadap permpuan bahwa mereka `kurang dalam pikiran` merupaka pengistilah ilmiah yang sangat terperinci dan tepat, di mana para ilmuwan telah membuktikan ukuran otak perempuan, jumlah sel-sel otak, ukuran jantung dan jumlah sel-sel jantung lebih kurang atau sedikit jika dibandingkan dengan otak dan jantung lelaki.
2. Otak dan jantung adalah organ yang bertanggungjawab dalam hal berpikir, berpersepsi dan berhitungnya manusia serta dalam merenungkan dan memahami sesuatu. Oleh karena itu kurangnya ukuran dan jumlah sel-sel otak dan jantung pada perempuan, menyebabkan pengurangan efisiensi dan tingkat persepsi dan kapasitas pengambilan keputusan dan kemampuan untuk perhitungan dan lain sebagainya.
3. Mengenai perkataan Nabi Saw kepada para perempuan “saya melihat kalian kurang akal dan agama (tetapi) sanggup mengalahkan akal (kaum) lelaki” merupakan realitas yang disimpulkan oleh para ilmuwan dewasa ini, bahwa otak wanita unggul dengan kemampuannya dalam membangkitkan perasaan pria, meneriman pesan-pesan emosional yang lebih dari laki-laki, maka dalam kasus ini perempun unggul seperti yang disabdakan Rasulullah Saw (أغلبَ لذي ‏لبٍّ ‏مِنْكُن) di mana tafsiran ilmiahnya: Meskipun kurangnya ukuran otak perempuan, tetapi memiliki kemampuan mengalahkan otak laki-laki yang lebih besar dikarenakan keistimewaan otak yang dia miliki.
4. Kurangnya akal perempuan tidak berarti mereka kurang dari laki-laki, karena Allah Swt melihat kepada  iman dan perbuatan baik manusia, dan Allah Saw tidak membedakan antara pria dan wanita kecuali dengan amal perbuatannya: “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan…” [ AliImran : 195 ]
“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” [ An-nisaa : 124 ]
5. Sesungguhnya Allah menciptakan setiap jenis kelamin wanita atau pria berdasarkan karakteristik, dan sesuai dengan peranan yang akan mereka jalani untuk menjamin kelangsungan hidup di Bumi. Maka perempuan memiliki peranan rumit dan berat seperti melahirkan dan membesarkan anak dan memperhatikan kebersihan rumah, makanan, minuman, dan perhatian terhadap setiap anggota keluarganya. Apa yang akan terjadi jika Allah Swt menciptakan pria dan wanita dengan tingkat pikiran, akal, otak dan jantung yang sama? Mungkin akan mustahil karena keduanya tidak ada yang sanggup untuk menanggung beban pekerjaan rutin diu rumah, dan perempuan tidak mampu membangkitkan emosi pria atau menarik (mengoda) untuk menikah dan memiliki anak! Demikianlah Allah Swt menciptakan perempuan dengan otak dan jantung khas dan berbeda dengan lelaki untuk menjamin kontinuitas kebahagian hidup antara dua jenis insan ini.
6. Ilmuwan membuktikan bahwa otak wanita kurang efisien dalam mengatasi  masalah dan kekhawatiran, sehinga wanita lebih cenderung berkeluh kesah dan marah ketimbang lelaki, seperti yang ditegaskan oleh Baginda Saw: 

“......(karena) kalian kerap kali melaknat, dan tidak mensyukuri (mengingkari) kebaikan suami.” 


Ketika otak perempuan gagal dalam mengatasi suatu permasalahan kecil yang dia hadapai, maka ia mengeluh, marah, dan menolak kebaikan-kebaikan suaminya dan tidak mensyukuri (atau mengingkari) kebaikan suami, sementara pada lelaki, para ilmuwan telah membuktikan bahwa bagian otak yang bertanggungjawab untuk mengatasi masalah dan kekhawatiran lebih besar dan efisien.
7. Mungkin para perempuan akan bertanya bagaimana kita mengatasi kekurangan ini? Solusi dari permasalahan ini telah disampaikan Nabi Saw berupa metode terapi ilmiah dalam sabada baginda: “Wahai kaum perempuan bersedekahlah dan perbanyak istiqhfaar..”

Sedekah dan istiqfar merupakan dua hal yang meliputi nilai material dan abstrak, atau mencangkup pengobatan rohani dan fisik.
Seorang perempuan ketika bersedekah dengan hartanya, sesungguhnya ia tengah menyingkir dari kekuranagn tersebut dan merasa bahagia, penelitian telah menunjukkan bahwa dengan bersedekah dapat meningkatkan sekresi hormon serotonin. Maka dari itu Apakah kekurangan ini menunjukkan keterbalakangan perempuan atau sebagi penghormatan dan motivasi untuk merahih kebahagiaan dengan amalan-amalan sholeh ?
8. Adapun kurang dalam agama sangat jelas karena perempuan memiliki masa nifas (bersalinan) atau siklus menstruasi di mana memungkinkan mereka tidak sholat dan berpuasa selama masa ini…sementara laki-laki berpuasa di bulan Ramadan dan melaksanakan sholat melebihi kaum perempuan…seperti halnya kekurangan agama, hal tersebut tidak merendahkan perempuan, tetapi justu menunjukkan kelebihan dan keistimewaan perempuan atas kaum lelaki.
Maka dari itu, harus kita renungkan bahwa Baginda Saw ingin memuliakan kaum perempuan sehingga Beliau tidak mengatakan `kurang akal` lalu diam, tetapi Beliau mengkaitkan dengan kekurang agama, seperti halnya perempuan memilikia alasan (halangan) Syar`i untuk tidak sholat selama dalam nifas dan haid, begitu juga dengan kekurangan akal disebabkan jumlah sel-sel otak, karena Allah Swt telah mengkhusukan mereka dengan amalan-amalan yang sesuai dengan kerja otaknya.

[eramuslim | Amri Hatta, Lc | terjemahan dari situs: www.kaheel7.com]

Refrensi:

Rasulullah SAW dan Orang-Orang Nasrani dalam Sesi Potret Al-Quran


Al-Quran, kamera kehidupan yang memotret muamalah Rasulullah Saw dengan orang-orang nasrani. Di sana banyak sesi tayangan yang memperlihatkan sikap Rasulullah Saw dan Al-Quran terhadap mereka.

Di antara sesi itu, sikap Al-Quran yang menolak keras pengembalian syariat Islam ke sumber-sumber nasrani. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw diberitakan pernah menimba ilmu dari mereka, di antaranya: Jabr dan Yaish, keduanya hamba bani al-Hudrami, Yasar, Bal’âm, dan Ābis.([1])

Yang disepakati bukan Rasulullah Saw yang menimba ilmu, tetapi merekalah yang duduk di bangku bimbingan dan tuntunan Rasulullah Saw di beberapa kesempatan. Namun, orang-orang kafir memutar balik fakta yang jauh dari kebenaran.

Pertemuan Rasulullah Saw dengan mereka sekali dua kali itulah dijadikan batu loncatan untuk melancarkan tudingan tersebut. Hakikatnya, yang demikian itu bukan batu loncatan, tetapi lumpur berpasir yang menyeret mereka sendiri ke dalam bantahan Al-Quran yang memperlihatkan kepicikan akal mereka yang lahir dari prasangka buta.

Di samping itu, seandainya Al-Quran memuat sepatah kata pun dari mereka yang disisipkan Rasulullah Saw, tentunya yang memeluk Islam dari ahli kitab mengetahui sisipan itu dan enggan menerima Al-Quran. Tetapi, semuanya mengagungkannya dengan penuh keyakinan.

Kemudian, Al-Quran itu sendiri berbahasa Arab, sementara yang diklaim sebagai sumber rujukan Rasulullah Saw tidak bernuansa Arab atau bukan dari orang-orang Arab. Jika karya-karya sastra yang diracik oleh talenta lidah para ahli sastra mereka tidak mampu menandingi ketinggian dan keanggunan bahasa Al-Quran, bagaimana mungkin mereka dengan berani menuduh Rasulullah Saw duduk belajar di bangku pendidikan mereka dan menyisipkan ilmu yang dipelajari ke dalam Al-Quran?

Jika Al-Quran mukjizat maknawi Rasulullah Saw yang senantiasa hidup mewarnai kehidupan umat qur’ani ini dengan hikmah dan tuntunan hidup sepanjang waktu diyakini Rasulullah Saw sebagai sumber kekekalan Islam dan kemuliaan dirinya yang memamerkan aneka ragam sifat-sifat maknawi dan akhlaknya yang menjadi teladan utama umat dengan penuh pesona yang memukau, bagaimana mungkin Rasulullah Saw mengotorinya dengan sisipan-sisipan manusia yang merusak keindahan estetika dan struktur sistematika Al-Quran itu sendiri?

Rasulullah Saw tidak pernah mengaku, meski itu satu pengakuan, sebagai pemilik atau penyusun syariat ini. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw tahu tugas dan misinya yang hanya terbatas selaku penyampai wahyu Allah SWT semata dengan penuh amanah, seperti yang ditegaskan Q.S. Fathir (35): 23, Q.S. As-Syura’ (42): 48, dan Q.S. Al-Ahqâf (46): 9.

Di lain sisi, Rasulullah Saw ummi (yang tidak pernah menyentuh proses belajar-mengajar yang mendiktekan baca-tulis seperti di bangku-bangku sekolah). Olehnya itu, mustahil terjadi sebuah transformasi ilmu pengetahuan begitu cepat yang kemudian didakwa sebagai sumber syariat Islam yang memenuhi ruang-ruang Al-Quran.  Sungguh itu kebodohan mutlak jika ada dari mereka yang berani mendakwakan tuduhan seperti ini.

Sikap Al-Quran ini terhadap apa yang dituduhkan oleh orang-orang kafir di atas merupakan jawaban maknawi ayat-ayat Al-Quran yang membongkang tuduhan tersebut dari akarnya, seperti kilau maknawi Q. S. An-Nahl (16):  103:

 (وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ)

Jika Anda telah meyakini kebenaran hakikat ini, maka tidak ada lagi artinya bagi Anda ocehan para orientalis, seperti  Goldziher (June 22, 1850 – November 13, 1921)  yang memoles dakwaan lama orang-orang kafir tersebut dan membumbuinya kalimat-kalimat mengecoh sehingga ia dikemas dan dipamerkan sebagai produk baru, padahal ia tidak lain kecuali kopian semata yang intinya tidak jauh beda dari aslinya. Ignác  Goldziher yang diperdaya sendiri oleh keintelektualannya menegaskan agama Yahudi dan agama Masehi telah berperan aktif dalam penyusunan kerangka syariat Islam.([2]) Karena pernyataan Goldziher isinya sama dengan dakwaan lama orang-orang kafir terhadap Al-Quran, Anda pun dengan mudah mematahkan pernyataan tersebut seperti yang tertera di atas dengan mengambil kekuatan cahaya maknawi Q.S. An-Nahl (16): 103.

Sesi berikutnya, pita Al-Quran menayangkan simpati Rasulullah Saw dan mukminin terhadap kekalahan orang-orang nasrani Romawi menghadapi dinasti Sasania dari bangsa Persia pada tahun 614 M. Kepedulian mereka terhadap sesama, mukminin dan orang-orang nasrani yang meyakini ketuhanan Allah SWT, disambut baik Al-Quran dengan turunnya Surah Ar-Rum yang memberi kabar gembira terhadap kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia 9 tahun kemudian. Sambutan ini menjadi pelipur lara terhadap kesedihan orang-orang beriman yang menginginkan kemenangan bangsa Romawi yang mengenal ketuhanan dari bangsa Persia yang mengabaikan ketauhidan dan lebih memilih menyembah api.

Kesedihan itu tidak dibiarkan Al-Quran berkepanjangan menyelimuti semangat dakwah dan jihad umat, khususnya setelah kota Konstantinopel ditaklukkan oleh mereka yang dihiasi dengan pembangunan rumah ibadah api sebagai sembahan mereka.

Sesi ini seperti menayangkan percakapan maknawi dari hati Rasulullah Saw dan mukminin yang dirundung duka, tersayat mendengar kekalahan mereka. Simpati ini seperti doa tersendiri terhadap mereka yang mengisyaratkan bahwa yang diridhai memakmurkan bumi dengan nilai-nilai peradaban yang islami adalah ahli tauhid yang mengenal hakikat ketuhanan. Tayangan ini dengan indah dan apik diberitakan Q.S. Ar-Rum (): 1-4.([3])

آلم @غُلِبَتِ الرُّومُ  @  فِي أَدْنَى الْأَرْضِ وَهُمْ مِنْ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُونَ @ فِي بِضْعِ سِنِينَ ۗ

Di lain sisi, orang-orang nasrani di lensa Al-Quran dipotret sebagai kaum yang lebih mudah tersentuh hatinya membenarkan Islam dari orang-orang Yahudi, khususnya ahli kitab mereka. Olehnya itu, Rasulullah Saw senantiasa menyambut baik kedatangan mereka menanyakan masalah-masalah agama. Buku-buku sirah dan hadits meriwayatkan kedatangan 20 orang-orang nasrani Mekah dan sekitarnya setelah mendengar beritanya di Habsyah. Mereka menanyakan hakikat agama Islam dan beberapa masalah yang terkait dengan apa yang mereka yakini selama ini. Setelah mendengarkan jawaban dan penjelasan Rasulullah Saw, mereka pun diajak memeluk Islam dan diperdengarkan Al-Quran. Genangan air mata mengucuri kulit wajah mereka sebagai pertanda pintu hati mereka telah terbuka menerima Islam yang diketuk dengan nada dan makna kebenaran ayat-ayat Al-Quran yang diperdengarkan. Kisah mengharukan ini dipotret indah Q.S Al-Qasash (28): 52-55 dan Q.S. Al-Maidah (5): 82-83 yang mengajak kita melihat kisah tersebut seperti tayangan hidup (live stream) yang menyuguhkan pesan-pesan kehidupan.

(الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِهِ هُمْ بِهِ يُؤْمِنُونَ@ وَإِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ @ أُولَٰئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوا وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ @ وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ).

            لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ@  وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Kenyataan ini benar-benar terbukti di lapangan. Prof. Dr. Ahmad Āq Kunduz di salah satu jumpa silaturahimnya dengan mahasiswa Al Azhar yang ikut berkecimpung di Thalabah Nur (yang membaca dan mengaji karya-karya Bediuzzaman Said Nursi) menyampaikan kisah yang menyentuh hati. Seorang guru besar di salah satu universitas Eropa memeluk Islam dan menafsirkan injil dengan nilai-nilai Al-Quran, meski ia terpaksa menyembunyikan keislamannya dan menegakkan shalat dengan diam-diam dan sembunyi. Alhamdulillah yang memperlihatkan kebenaran makna ayat-ayat di atas di dunia nyata sebagai bukti kebenaran agama ini.

Sesi terakhir Al-Quran yang sempat tersentuh tangan penulis, ayat mubahalah (saling melaknat antara dua orang atau kelompok dalam sebuah masalah yang diperdebatkan atau disengketakan. Yang terbukti salah oleh keadilan Allah SWT akan dilaknat) yang memotret Rasulullah Saw dan delegasi orang-orang nasrani Nejeran yang berjumlah 60 orang, di antaranya: Abdul Masih, pemimpin kaum mereka yang dituakan, dan al-Aeham, salah seorang yang dipertuangkan dalam masyarakat, dan Abu Haritshah bin Alqama, pendeta dan alim mereka.

Mereka enggan memeluk Islam setelah diajak Rasulullah Saw sehingga akhirnya terjadi debat sengit di antara mereka yang berujung mubahalah. Tantangan kenabian ini menghendaki mereka meminta tempo untuk bermusyawarah. Mereka meminta fatwa Abdul Masih dalam menyikapi tantangan tersebut, ia pun menjawab:

“Demi Allah, wahai orang-orang nasrani. Sesungguhnya kamu sekalian mengetahui bahwa Muhammad itu seorang nabi dan rasul Allah. Ia datang dengan berita pasti tentang nabi kalian, Isa AS. Tidak ada kaum yang melaknat nabi mereka, kecuali musnah oleh musibah. Jika Anda sekalian tetap ingin hidup di jalan agama kalian, tinggalkanlah mubahalah ini dan bergegaslah kembali ke negeri kalian.”

Mereka pun sepakat mengurungkan niat memasuki arena mubahalah ini. Rasulullah Saw menerima pengunduran tersebut dengan mewajibkan mereka membayar tebusan 2000 pakaian, alat persenjataan, seperti: perisai, tombak, dan kuda perang dan mengizinkan mereka menjalankan agama yang mereka yakini kebenarannya dengan jaminan keselamatan dari Rasulullah Saw terhadap harta dan jiwa mereka. Tidak lama setelah mereka tiba di Nejeran, Abdul Masih dan al-Aeham kembali menghadap Rasulullah Saw dan memperdengarkan ikrar keislaman mereka berdua.

Sesi ini dipotret langsung Q.S. Ali Imran (3): 61 seperti tayangan hidup yang menggambarkan kegigihan Rasulullah Saw dalam memenangkan kebenaran agama ini. Kegigihannya ditandai dengan keberanian melibatkan keluarganya dalam mubahalah tersebut.

            فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
            
Setelah Anda mengikuti potret Al-Quran yang menayangkan pelbagai sesi interaksi Rasulullah Saw dan orang-orang nasrani, Anda pun diajak untuk menjawab pertanyaan ini: ‘‘kenapa Al-Quran tidak dijumpai menayangkan usaha orang-orang nasrani untuk menghabisi Rasulullah Saw, seperti orang-orang Yahudi yang ditemukan beberapa kali ingin menghilangkan jejaknya, seperti yang dimuat Q.S. Al-Maidah (5): 11?’’

Jawabnya: ‘’gambaran umum, orang-orang nasrani senantiasa ditimpa kemalangan dan penindasan seperti layaknya kaum minoritas. Olehnya itu, mereka tidak mampu membentuk sebuah gerakan mobilisasi untuk menghabisi Rasulullah Saw. Meskipun demikian, sengketa di antara mereka dalam pelbagai bentuk tidak dapat dihindari, seperti Abu Amir, seorang pendeta yang berhasil meyakinkan sebagian pemuda Aush untuk mengikuti agamanya dan keluar bersama dengannya memusuhi Rasulullah Saw. Namun, tipu daya mereka gagal, dan Abu Amir pun lari ke Syam meminta pertolongan dari bangsa Romawi.’’([4])

Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati muamalah Rasulullah Saw dengan ahli kitab untuk menyuarakan hakikat berikut:

“Al-Quran kamera kehidupan yang memotret sisi-sisi muamalah Rasulullah Saw dengan ahli kitab yang menayangkan sikap Al-Quran sendiri dan Rasulullah Saw terhadap mereka. Di tulisan ini, Rasulullah Saw dengan gigih dan keterbukaannya yang santun memperjuangkan Islam dan mengajak mereka mengenal dan memeluknya dengan penuh keyakinan. Rasulullah Saw dengan berani menghadapi setiap gerakan mobilisasi mereka yang ingin menurunkan kibaran bendera Islam untuk diinjak-injak, seperti barang hina yang tidak punya nilai, dan memadamkan cahaya Islam yang begitu kuat menyoroti relung-relung hati mereka yang mendambakan hakikat ketauhidan yang benar. Alhamdulillahi Taala yang telah memenangkan Islam.”

[Dari: Dr. Muhammad Widus Sempo, MA. | Dakwatuna]

Catatan Kaki:
[1] Tafsir al-Qurtubi, vol. 5, hlm. 524
[2]  Ignac Goldziher, diarabkan oleh Muhammad Yusuf Musa, al-Aqîdah wa as-Syarîah fil Islam, hlm. 5
[3] Syekh Hasan Khalid (mufti Lebanon), Mawqif an-Nabi Saw min ad-Diyânât at-Tsalâts: al-Watsaniyyah, wa al-Yahudiyyah, wa an-Nasrâniah, hlm. 107
[4] Lihat: Tabaqât Ibn Saad, vol. 2, hlm. 119-120, dan Syekh Hasan Khalid (mufti Lebanon), Op. Cit, hlm. 116

Al-Quran, Tentang Tantangan Menembus Penjuru Langit Dan Bumi


Sampai sejauh yang mampu dicermati dan dicapai oleh akal manusia dalam bentangan alam semesta ini, Allah terus menerus "menantang" kita untuk mempelajari dan meneliti ayat-ayat Al-Quran agar manusia secara sadar berdasarkan kemampuan puncak akalnya sendiri -- artinya tanpa paksaan dari siapapun juga -- kian meyakini bahwa ayat-ayat Al-Quran memang benar datang dari Allah Yang Mahaperkasa, Sang Khalik Pencipta dan Penguasa alam semesta. Bahwa ayat-ayat Al-Quran mustahil buatan manusia, melainkan benar-benar merupakan firman Tuhan Yang Mahabenar. Ini agar manusia tidak menjadi takabur, terutama setelah dihadapkan pada demikian banyak mu'jizat yang terkandung dalam ayat-ayat suci Al-Quran.

Salahsatu ayat "tantangan" yang kita temui di dalam Al-Quran adalah firman Allah ini:
“Hai golongan jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintas) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali denga kekuatan (dari) ALLAH," (QS Al-Rahman[55]:33). 

Mari kita cermati lagi bagian-bagian penting dari Alam semesta ini. Allah swt menciptakan Alam semesta, dan DIA menyimpan rahasia yang hanya diketahui oleh-Nya. Alam ini membentang luas sekali sebagaimana fiman-Nya:

“Langit Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Kami benar-benar meluaskannya,” (QS Al-Dzariyat[51]:47).

Di dalam konstruksi alam semesta ini terdapat benda-benda angkasa, galaksi-galaksi serta bintang-bintang yang sepanjang pengetahuan manusia sampai sekarang ini jumlahnya mencapai lebih dari 120 miliar. Masing-masing benda angkasa ini memiliki miliaran bintang dan benda angkasa lainnya.

Sudah ratusan tahun lamanya para ilmuwan berupaya meneliti, mengamati, dan berusaha memecahkan rahasia alam ini dengan menggunakan berbagai instrumen penelitian di antaranya telescope yang beragam. Perangkat-perangkat untuk tujuan ini ada yang diletakan di puncak-puncak gunung, ada pula yang mengitar bumi seperti misalnya Hubble Space Telescope (HST).

Di antara alat telescope tersebut ada yang menggunakan sinar infra merah, sinar X seperti Chandra Observatory, dan juga menggunakan Radio Telescope dengan satu tujuan, yakni untuk mengetahui rahasia alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan yang Mahakuasa, ALLAH Swt.

Galaksi memiliki bentuk dan demensi yang sangat luar biasa. Berikut ini adalah deskripsi ringkas beberapa Galaksi berdasarkan angka menurut perhitungan para ilmuan:

1. Galaksi Milky Way (Bima Sakti)

Luas galaksi = 100 ribu tahun cahaya (satu tahun cahaya = 9,46 triliun KM), atau 100.000 x 9,4 triliun KM = 946 Triliun KM.

Jarak bumi dari pusat galaksi = 25 ribu tahun cahaya x 9,46 triliun KM = 236.500 triliun KM.

2. Galaksi Andromeda

Luas galaksi = 200 ribu tahun cahaya x 9,46 triliun KM = 1.892.000 triliun KM.
Jarak bumi dari pusat galaksi ini = 2 juta tahun cahaya x 9,46 triliun KM = 18.920.000 triliun KM.

Berdasarkan "perhitungan jarak" dari bumi ke pusat galaxi ini saja praktis kita langsung sadar bahwa ada luar biasa banyaknya galaksi-galaksi di atas sana yang mustahil dapat kita jangkau dengan menggunakan perangkat apapun yang mungkin dapat diciptakan oleh manusia post-modern sampai hari ini!

Dengan demikian, karena ukuran bumi ini luar biasa teramat sangat kecil dibandingkan dengan ukuran alam semesta ini, maka sebagian luar biasa sangat besar dari alam semesta ini tetap menjadi rahasia bagi manusia.
Hanya Allah Swt saja lah yang paling mengetahui kenapa hal ini dirahasiakan-Nya.

Masih banyak, bahkan ribuan galaksi diketahui biasanya berkumpul membentuk gugusan (clusters) yang luasnya lebih dari 10 juta tahun cahaya, dan ada juga sekumpulan gugusan bintang raksasa (supercluster) yang terjalin oleh tali (filaments) dan membentuk sebuah jaringan besar yang lebih luas lagi, seperti misalnya supercluster, yaitu galaksi yang dikenal dengan nama Great Wall, gugusan galaxi yang luasnya mencapai perkiraan 200-500 juta tahun cahaya!

Coba kita renungkan sejenak lalu tanya diri sendiri, seandainya seluruh umat manusia menjelajahi galaksi Bimasakti saja, (tanpa memperdulikan galaxi lainnya), apakah ada cara untuk melakukan itu?

Anggaplah ilmu pengetahuan mampu menciptakan sebuah pesawat ruang angkasa yang mampu melaju dengan kecepatan cahaya, apakah mereka mampu melakukan perjalanan yang lamanya sampai ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun?

Illustrasi benda-benda langit yang dapat diobservasi

Perhitungan ini hanya dari bumi ke pusat galaksi saja, dalam renungan kita, sehingga jika saja alam semesta ini masih akan melewati lagi masa selama itu, darimana bahan bakar yang akan digunakan untuk menjalankan pesawat tsb selama ribuan, jutaan, bahkan mungkin miliaran tahun? Dan ingat! Bilangan tahun yang kita bicarakan di sini bukan bilangan tahun biasa, melainkan tahun dalam kecepatan cahaya!

Sebagai contoh, NASA pada tahun 1980 melakukan peluncuran pesawat Voyager yang terdiri dari dua pesawat, dan misi ini mereka namakan The Intersteller Mission. Voyeger-1 memiliki kecepatan yang luar biasa menurut ukuran NASA. Untuk menempuh jarak dari Los Angeles ke ke New York (2.789 Miles atau 4.489 KM), pesawat ini hanya membutuhkan waktu kurang dari 4 detik!

Bayangkanlah kecepatannya seperti apa. Pesawat ini juga dibekali baterai untuk menopang perjalanan panjangnya. Namun yang kita saksikan dari bumi, baterai tsb hanya bertahan sampai awal tahun 2020, sementara pesawatnya sendiri ternyata hanya mampu melintasi sebagian kecil dari satu tahun cahaya saja!

Seandainya manusia berusaha untuk menjelajahi luar angkasa yang oleh para Ilmuwan disebut Great Wall tadi dengan ilmu pengetahuan dan ambisinya, walau memiliki pesawat dengan kecepatan cahaya yang dapat menempuh jarak 300.000 kilometer per detik sekalipun, apa jaminannya masing-masing pesawat tersebut dapat mencapai prakiraan "life time" (atau usia pakai seperti misalnya perangkat komputer yang maks. cuma 3 tahun) sampai 200 hingga 500 juta tahun?

Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya;

“Hai golongan Jin dan manusia! Jika kamu sanggup Menembus (melintas) penjuru langit dan Bumi, maka tembuslah, Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari) Allah,” (QS Al-Rahman(55):33).

Ayat-ayat Al-Quran semisal ini baru meliputi sebagian kecil dari langit dunia. Jika dibandingkan dengan langit kedua, ketiga, keempat, apalagi hingga langit ketujuh, maka yang sedang kita renungkan ini ibarat sebiji kacang ijo yang tercecer di tengah-tengah padang gurun Sahara!

Bagaimana mungkin kita mampu menjelajahi Kerajaan Allah yang ukuran luas dan besarnya hanya DIA saja Yang Mahamengetahui?

Tak diragukan lagi bahwa "menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi" seperti tantangan dari Allah Swt dalam QS. 55:33 benar-benar mustahil dapat dilakukan oleh manusia tanpa (bantuan dari) kekuatan dan mujizat Allah Swt!

Sebagaimana seluruh penciptaan alam semesta ini, seandainya manusia mencoba yang jauh lebih pendek saja, yaitu menembus bumi beserta tujuh lapisannya sekalipun, niscaya mereka akan hancur lebur sebelum mencapai inti bumi karena panas yang luar biasa serta bahaya lain dari jutaan rahasia yang tidak diketahui oleh manusia di kedalaman dasarnya.

Apakah manusia mampu melakukan hal itu?
Tampaknya pertanyaan ini sudah tidak perlu lagi dipikirkan sampai harus membuat kening berkerut-kerut!

Allah Swt berfirman:

“Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuataan (dari) Allah,”

Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjawabnya.

Kendati demikian, ternyata ada sebuah berita dari Al-Quran yang hampir terlewatkan!

Allah Swt memberitahu kita bahwa ada satu, dan hanya ada satu manusia yang pernah menembus semua langit alam semesta ini dengan kecepatan cahaya!

Siapakah dia? Tentunya kita telah sering mendengar nama manusia sangat istimewa ini, bukan?

YA! Dia adalah Nabi Muhammad Saw yang "mendapat kekuatan dari Allah" untuk menembus seluruh lapisan langit alam semesta ini dengan ditemani oleh Malaikat Jibril As untuk melihat sendiri berbagai rahasia yang tidak pernah dilihat oleh manusia manapun, termasuk Nabi-Nabi terdahulu -- dengan kuasa dan mukjizat Allah -- pada peristiwa Isra' Mikraj!

Kendati boleh jadi belum pernah kita dengar, tapi peristiwa ini sesungguhnya telah menjadikan Nabi besar Muhammad Saw sebagai "Astronot" pertama (dan terakhir?) yang pernah menjelajahi penjuru langit yang mustahil dapat dilakukan oleh siapapun, dan ajaibnya, hanya dalam tempo kurang dari 1 malam saja!

Sampai di sini, maka seperti yang diajarkan oleh beliau sendiri, seluruh penjelasan di atas sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjadi alasan bermegah-megah bagi pengikutnya, tapi justru sebaliknya; agar menjadi bahan perenungan, supaya semakin bertaqwa dan senantiasa berusaha mendekatkan diri ke hadirat Allah Swt Sang pencipta alam semesta Yang Mahaperkasa dan Mahamenentukan Segala Sesuatu!

[Dari Ben Bella | Dikutip dari Ensiklopedia Mukjizat Alqur’an & Hadits Edisi-IX] 

IQ, EQ & SQ

IQ, EQ DAN SQ
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Tentang Kecerdasan
Manusia adalah makhluk yang paling cerdas, dan Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. Sejumlah temuan para ahli mengarah pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling unggul dan akan menjadi unggul asalkan bisa menggunakan keunggulannya. Kemampuan menggunakan keunggulan ini dikatakan oleh William W Hewitt, pengarang buku The Mind Power, sebagai faktor yang membedakan antara orang jenius dan orang yang tidak jenius di bidangnya. Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah).
Sayangnya, menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia menganggurkan kecerdasan itu. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan dan seterusnya.
Ada banyak pendapat seputar kecerdasan manusia diantaranya Thorndikeadalah salah satu ahli yang membagi kecerdasan manusia menjadi tiga, yaitu:
  1. Kecerdasan Abstrak adalah kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa.
  2. Kecerdasan Kongkrit  adalah kemampuan memahami objek nyata.
  3. Kecerdasan Sosial adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional (Stephen Jay Could, On Intelligence, Monash University: 1994)
Pakar lain seperti Charles Handy juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu:
  1. Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung).
  2. Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide).
  3. Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi)
  4. Kecerdasan Musik
  5. Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri)
  6. Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain)
  7. Kecerdasan Spasial (Inside Organizaion: 1990)
Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner dan amp Associates memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual/Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraksan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik/Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal (Dr. Steve Hallam, Creative and leadership, Colloquium in Business, Fall: 2002).

B. Konsep Tentang Kecerdasan Intelektual (IQ)
1. Pengertian Inteligensi
Perkataan inteligensi dari kata Latin intelligence yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain. Pengertian inteligensi memberikan berbagai macam arti bagi para ahli, diantaranya:
  1. Menurut panitia istilah Paedagogik (1953) yang mengangkat pendapatStern, inteligensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir menurut tujuannya. (Dr. Bimo Walgito, 1980: 192)
  2. Terman memberikan pengertian inteligensi sebagai kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak. (Dr. Bimo Walgito, 1980: 192)
  3. Menurut Morgan, dkk (1984) ada dua pendekatan yang pokok dalam memberikan definisi mengenai inteligensi, yaitu:
1)         Pendekatan yang melihat faktor-faktor yang membentuk ineligensi itu yang disebut sebagai pendekatan faktor atau teori faktor.
2)       Pendekatan yang melihat sifat proses intelektual itu sendiri, yang sering dipandang sebagai teori orientasi-proses. (Dr. Bimo Walgito, 1980: 193)
Dari sekian banyak definisi tentang inteligensi yang dirumuskan oleh para ahli, secara umum dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari klasifikasi berikut:
  1. Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan, beradaptasi dengan situasi-situasi baru atau menghadapi situasi-situasi yang sangat beragam.
  2. Kemampuan untuk belajar atau kapasitas untuk menerima pendidikan.
  3. Kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menggunakan konsep-konsep abstrak dan menggunakan secara luas simbol-simbol dan konsep.(Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 163)
2. Pengukuran Inteligensi
Alfret Binet (1857-1911), seorang dokter dan psikolog Perancis bersama dengan mahasiswanya, Theopile Simon, merancang sebuah tes inteligensi, yang diberi nama “Chelle Matrique de I’inteligence” (Skala Pengukur Inteligensi) dengan tujuan untuk membedakan antara anak yang dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik dengan yang tidak. Tes ini berangkat dari konsep usia mental (Mental Age-MA), yang menganggap bahwa anak-anak yang terbelakang secara mental akan bertingkah laku seperti anak-anak normal yang berusia lebih muda. Binet  menguji 50 orang anak dari usia 3 hingga 11 tahun yang normal, serta anak yang mempunyai keterbelakangan menta juga diuji. Perbedaan antara usia mental (MA) dan usia kronologis (CA) – usia sejak lahir – inilah yang digunakan sebagai ukuran inteligensi. Anak yang cerdas memiliki MA di atas CA, sedangkan anak yang bodoh memiliki MA di bawah CA.
Sehingga, William Sterm (1871-1938), seorang psikolog Jerman, kemudian menyebutnya dengan istilah Intelligence Quotient (IQ) atau kecerdasan intelektual yang terletak di otak bagian Cortex (kulit otak dan sering digambarkan sebagai kemampuan daro otak kiri atau lebih tepatnya diungkapkan oleh pakar psikologi dengan “What I Think”. IQ menggambarkan intelligensi sebagai rasio antara usia mental (MA) dan usia kronologis (CA), dengan rumus:
IQ = MA/CA x 100%
Angka 100 digunakan sebagai bilangan pengali supaya IQ bernilai 100 bila MA sama dengan CA. Bila MA lebih kecil dari CA, maka IQ kurang dari 100. Sebaliknya, jika MA lebih besar dari 100.
Tabel 2.1
Klasifikasi IQ
IQ
Klasifikasi
Tingkat Sekolah
Di atas 139120 – 139110 – 11990 – 10980 – 8970 – 79Di bawah 70Sangat SuperiorSuperiorDi atas rata-rataRata-rataDi bawah rata-rataBorderlineTerbelakang secara mentalOrang yang sangat pandaiDapat menyelesaikan studi di universitas tanpa banyak kesulitanDapat menyelesaikan sekolah lanjutan tanpa kesulitanDapat menyelesaikan sekolah lanjutanDapat menyelesaikan sekolah dasarDapat mempelajari sesuatu tapi lambatTidak bisa mengikuti pendidikan di sekolah
Sumber: (Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 165)
Tes inteligensi ini mengalami perkembagan terus. Pada tahun 1938 David Weschler membuat tes Weschler Intelligence Scale for Children (WISC) untuk anak-anak dan Weschler Adult Intelligence Scale (WAIS) untuk orang dewasa. ((Dr. Bimo Walgito, 1980: 199)
Tetapi namanya juga temuan manusia, istilah teknis yang berasal dari hasil kerja Alfred Binet ini lama kelamaan mendapat sorotan dari para ahli dan mereka mencatat sedikitnya ada dua kelemahan (bukan kesalahan) yang menuntut untuk diperbaruhi, yaitu:
  1. Pemahaman absolut terhadap skor IQ : Steve Hallam berpandangan, pendapat yang menyatakan kecerdasan manusia itu sudah seperti angka mati dan tidak bisa diubah, adalah tidak tepat. Penemuan modern menunjuk pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu hanya 42% yang dibawa dari lahir, sementara sisanya, 58% merupakan hasil dari proses belajar.
  2. Cakupan kecerdasan manusia : kecerdasan nalar, matematika dan logika : Steve Hallam sekali lagi mengatakan bahwa pandangan tersebut tidaklah tepat, sebab dewasa ini makin banyak pembuktian yang mengarah pada fakta bahwa kecerdasan manusia itu bermacam-macam. Buktinya, Michael Jordan dikatakan cerdas selama berhubungan dengan bola basket. Mozart dikatakan cerdas selama berurusan dengan musik. Mike Tyson dikatakan cerdas selama berhubungan dengan ring tinju.
3. Teori-teori Inteligensi
Dalam teori inteligensi ada dua kubu yang bertentangan, ada yang menganggap bahwa inteligensi sebagai suatu kemampuan umum yang merupakan suatu kesatuan dan ada yang menganggap bahwa inteligensi ditentukan oleh banyaknya kemampuan yang saling terpisah.
a. Charles Spearman (1863 – 1945)
Chares Sperman mengembangkan pendekatan analisis faktor, ia percaya adanya suatu faktor  inteligensi umum, atau faktor “G” yang mendasari faktor-faktor khusus atau faktor “S” dalam jumlah yang berbeda-beda. Orang dapat dikatakan secara umum pandai atau sebaliknya, tergantung dari fakor “G” yang dimiliki. Menurut Sperman, orang yang cerdas mempunyai banyak sekali faktor umum, dan faktor umum ini merupakan dasar dari semua perilaku cerdas manusia, mulai dari keunggulan di sekolah sampai pada kemampuan berlayar.(Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 166)
b. Louis Thurstone (1877 – 1955)
Louis Thurstone menekankan pada aspek yang terbagi-bagi dari inteligensi yang menganggap bahwa inteligensi dapat dibagi menjadi sejumlah kemampuan primer. Menurut Thurstone, inteligensi umum yang dikemukakan oleh Sperman itu pada dasarnya terdiri dari 7 kemampuan primer yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 2.2
Kemampuan Mental Primer Thurstone
InteligensiKemampuan
Verbal ComprehensionWord Fluency NumberSpace MemoryPerceptual Speed

ReasoningKemampuan memahami makna kataKemampuan memikirkan kata secara tepat, seperti memikiran kata-kata yang bersajak.Kemampuan bekerja dengan angka dan melakukan perhitunganKemampuan memvisualisasikan hubungan bentuk ruang, seperti mengenali gambar yang sama yang disajikan dala sudut pandang yang berbeda.Kemampuan mengingat stimulus verbalKemampuan menangkap rincian visual secara cepat serta melihat persamaan dan perbedaan antara objek yang tergambar.Kemampuan menemukan aturan umum berdasarkan contoh yang disajikan, seperti menentukan bentuk keseluruhan rangkaian setelah disajikan sebagian dari rangkaian tersebut.
Sumber: (Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 167)
Pendukung dari teori ini adalah Howard Gardner yang mengatakan bahwa kita tidak mempunyai satu nteligensi saja, tetapi malah memiliki banyak inteligensi (multiple inteligensi), masing-masing inteligensi meliputi keterampilan-keterampilan kognitif yang unik dan ditampilkan dalam bentuk yang berlebihan pada orang-orang yang berbakat dan idiot yag memiliki keterampilan di bidang-bidang tertentu, seperti melukis, musik dan lain-lain. Gardner juga menekankan bahwa kerusakan otak mungkin mengurangi satu jenis kemampuan, tetapi tidak pada kemampuan lain.
c. Robert J. Stenberg (1988)
Stenberg memperkenalkan teori kontemporer tentang inteligensi yang dikenal dengan “Triarchic Theory of Intelligence.” Teori ini merupakan perluasan dari pendekatan psikometrik dan menggabungkannya dengan ide-ide terbaru dari riset terhadap bagaimana pemikiran terjadi yang memiliki tiga aspek yaitu:
Tabel 2.3
Aspek Intelektual Stenberg
Inteligensi
Kemampuan
Componential  Experiential ContextualPengkodean dan penggambaran informasi, dan perencanaan pelaksanaan solusi atas permasalahan pelaksanaan solusi atas permasalahan-permasalahan.Mampu memadukan maslaah-masalah baru dan masalah-masalah lama dengan cara-cara baru, mampu memecahkan masalah secara optimis.Mampu menyesuaikan, mengubah dan memilih lingkungan belajar untuk dijadikan sebagai sarana dalam pemecahan masalah.
Sumber: (Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 169)
Dari tabel di atas, dapat ditari sebuah kesimpulan bahwa kesuksesan dalam hidup atau karir dibutuhkan suatu tipe inteligensi yang sangat berbeda dengan yang dibutuhkan dalam kesuksesan akademis, dan kebanyakan psikolog percaya bahwa IQ tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kesuksesan dalam berkarir.

C. Konsep Tentang Kecerdasan Emosional (EQ)
Berdasarkan hasil penelitian Daniel Goleman, mengatakan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual (IQ), sedangkan pikiran emosional dgerakkan oleh emosi.
Menurut Goleman (1995), kecerdasan emosional (EQ) merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Kecerdasan ini di otak berada pada otak belakang manusia atau sering digambarkan sebagai kemampuan otak kanan dan  lebih tepat diungkapkan dengan “What I Feel”.(Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 170)
Daniel Goleman mengklasifikasikan kecerdasan emosional atas lima komponen yang penting, yaitu: mengenali emosi, (2) mengelola emosi, (3) motivasi diri sendiri, (4) mengenali emosi orang lain, dan (5) membina hubungan.
Sebenarnya, penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu jelas perumusannya. Berbeda dengan IQ, pengertian Quotient disana sangat jelas menunjuk kepada hasil bagi antara usia mental (Mental Age) yang dihasilkan melalui pengukuran psikologis dengan usia kalender (Chronological Age). Terlepas dari “kesalahkaprahan” penggunaan istilah tersebut, ada satu hal yang perlu digarisbawahi dari para “penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional”, bahwasanya potensi individu dalam aspek-aspek “non-intelektual” yang berkaitan dengan sikap, motivasi, sosiabilitas, serta aspek-aspek emosional lainnya, merupakan faktor-faktor yang amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang. Berbeda dengan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin untuk dipelajari dan dimodifikasi kapan saja dan oleh siapa saja yang berkeinginan untuk meraih sukses atau prestasi hidup.
Sejumlah penelitan terbaru mengenai otak manusia semakin memperkuat keyakinan bahwa emosi mempunyai pengaruh yang besar dalam menentukan keberhasilan belajar anak. Penelitian Le Doux misalnya menunjukkan betapa pentingnya integrasi antara emosi dan akal dalam kegiatan belajar. Tanpa keterlibatan emosi, kegiatan saraf otak akan berkurang dari yang dibutuhkan untuk menyimpan pelajaran dalam memori. Hal ini karena pesan-pesan dari indera-indera kita yaitu dari mata dan telinga terlebih dahulu tercatat pada struktur otak yang paling terlibat dalam memori emosi yaitu amigdala, sebelum masuk ke dalam neokorteks. Perangsang amigdala agaknya lebih kuat mematrikan kejadian dengan perangsangan emosional dalam memori. Semakin kuat rangsangan amigdala, semakin kuat pula pematrian dalam memori.(Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 173)
Dalam buku ESQ yang ditulis oleh Ary Ginanjar Agustian menyimpulkan bahwa inti kemampuan pribadi dan sosial yang merupakan kunci utama keberhasilan seseorang sesungguhnya adalah kecerdasan emosi.

D. Konsep Tentang Kecerdasan Spiritual (SQ)
Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing dari Harvard University dan Oxford University dalam bukunya Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence mendefinisikan kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value , yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.(Ari Ginanjar Agustian, 2001: 13)
Kecerdasan spiritual terletak dalam suatu titik yang disebut dengan God Spot. Kecerdasan inilah sebagai penentu kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini menjawab berbagai macam pertanyaan dasar dalam diri manusia. Kecerdasan ini menjawab dan mengungkapkan tentang jati diri seseorang, “Who I am”. Siapa saya? Untuk apa saya diciptakan?
Untuk membuktikan secara ilmiah tentang adanya kecerdasan spiritual ini, Zohar dan Marshall mengacu pada hasil penelitian psikolog dan neurolog. Di antaranya adalah penelitian neuropsikolog Michael Persinger di awal tahun 1990 dan penelitian ahli saraf V.S. Ramachandran di tahun 1997 yang menemukan eksistensi “titik Tuhan” (God Spot) dalam otak manusia. Pusat spiritual ini terletak di antara jaringan saraf dan otak. Bukti lain adalah neurologWolf Singer di era 1990 tentang The bending problem (problem ikatan), membuktikan adanya proses saraf dalam otak yang dicurahkan untuk menyatukan dan memberi makna atas pengalaman kita, suatu jaringan saraf yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Berdasarkan dari penelitian tersebut, Zohall dan Marshall berkesimpulan betapa SQ sangat dibutuhkan dalam mencapai kehidupan yang lebih bernilai dan bermakna, SQ telah berkembang sejak awal kehidupan hingga meninggal atau dalam ungkapan Zohall dan Marshall, SQ adalah suatu kemampuan yang sama tuanya dengan umat manusia. (Samsunuwiyati Mar’at, 2005: 170)
Untuk itu, berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. Pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif dan kognitif  manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari
Lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmonts, The Psychology of Ultimate Concerns:
  1. Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material
  2. Kemampuan mengalami tingkat kesadaran memuncak
  3. Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari
  4. Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual untuk menyelesaikan masalah
  5. Kemampuan untuk berbuat baik


PEMBAHASAN

A. Hubungan Antara Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ)
Telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa pada manusia memiliki tiga potensi kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan intelektual yang didefinisikan sebagai kecerdasan yang berkaitan dengan pikiran (nalar) yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi dan sebagainya,kecerdasan emosional yang didefinisikan sebagai kecerdasan yang berkaitan dengan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, dan kecerdasan spiritual yang didefinisikan sebagai kecerdasan yang menunjuk pada pusat diri yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini.
Ketiga kecerdasan ini mempunyai keterkaitan satu sama lain, keseimbangan antara IQ, EQ dan SQ  sangat dibutuhkan. Di Indonesia, kebanyakan orang sangat mengandalkan IQ dalam penerimaan-penerimaan militer ataupun berbagai bidang lain. Mereka tidak menyadari bahwa IQ hanya menyumbang 5% (maksimal 10%) dari kesuksesan seseorang, yang paling berpengaruh adalah EQ dan SQ seseorang. Sebagaimana yang dipopulerkan  oleh K.H. Abdullah Gymnastiar atau dikenal AA Gym  dan Ary Ginanjar  dengan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya.
Berikut akan dijelaskan bagaimana IQ tanpa EQ dan bagaimana IQ dan EQ tanpa SQ.
1. IQ tanpa EQ
Coba pikir, mulai dari kita belajar di Sekolah Dasar dari sistem NEM sampai kuliah sekarang dengan sistem IPK. Bahkan tidak jarang banyak perusahaan yang merekrut seseorang berdasarkan dari tes IQ saja. Padahal, menurut penelitian IQ hanya mempengaruhi kesuksesan sebesar 5% (maksimal 10%) saja.
Seperti apa IQ tanpa EQ?
Coba kita pahami berdasarkan kisah singkat berikut:
Eki memang tidak terlalu pintar dalam mata kuliah statistik. Entah kenapa pelajaran itu terasa berat dan susah ‘nyantol’ di otaknya. Di semester lalu ia mendapatkan nilai D untuk pelajaran itu. Namun Eki tidak putus asa, semester berikutnya dia mencoba lagi dengan perjuangan yang begitu keras. Dan pada akhir semester, dia berhasil mendapatkan nilai B. Betapa senangnya hati Eki ketika itu.
Di saat kesenangannya itu dia bercerita kepada Iko salah satu seorang temannya. “Ko akhirnya statistik ku dapat nilai B”, ujar Eki dengan hebohnya bagai mendapatkan durian runtuh.
“Ah baru dapat nilai B saja sudah seneng, aku yang dapat nilai A biasa-biasa saja”, sahut Iko. Iko memang terkenal pintar di kelasnya. Eki yang saat itu sedang berbinar-binar tiba-tiba langsung menciut hatinya ketika mendengar komentar dari Iko. Bagaikan kompor yang sedang menyulut tinggi tiba-tiba padam karena tersiram air.
Coba kita lihat bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Iko. Memang dia pintar, tetapi tidak mampu memahami perasaan yang dialami oleh Eki. Banyak orang di dunia ini pintar namun tidak mampu berkomunikasi secara perasaan kepada orang lain. Bagaikan paku yang pernah dihujam ke sebatang kayu, walaupun bisa dicopot kembali namun lubang itu akan masih tetap ada.
Sekarang kita lihat bagaimana EQ bekerja terhadap situasi seperti ini
Hei, kenapa kamu terlihat sedih hari ini Ki?” sapa Intan begitu masuk kelas.
Ya, aku Cuma dapat nilai B dalam statistik”, ujar Eki dengan nada lesu karena habis terciutkan oleh perkataan si Eko.
“Wow hebat dong. Kamu ngulang lagi kan kemarin gara-gara dapat nilai D, berarti bagus dong sekarang dapat nilai B”, hibur Intan kepada Eki.
“Iya, tapi si Iko dapat nilai A dan begitu aku cerita kepadanya…”
“Yaaah… kamu tau sendiri kan si Iko orangnya gimana? Tak perlu risau, udah jangan kau masukkan ke dalam hati omongan dia. Aku tahu kok perjuangan kamu, kamu sudah berusaha giat untuk mengejar nilai ini. Dan ingat tidak bahkan tiap hari minggu kamu bertanya kepada orang tentang hal yang tidak kamu mengerti. Malah aku salut melihat mahasiswa kayak kamu Ki”, ujar Intan membanggakan Eki dan senyum mulai terlihat di bibirnya.
Begitulah EQ bekerja dan mampu memberikan kesuksesan dalam diri kita. EQ dan komunikasinya yang baik mampu memberikan apresiasi ke dalam diri sendiri dan orang lain seperti yang dilakukan Intan. Walau Intan sebenarnya juga tidak kalah pintarnya dalam pelajaran dibandingkan Iko, namun dia juga pintar memahami perasaan orang lain. EQ membantu kita menjadi seseorang yang sukses dalam bersosial dan berkehidupan.
2. IQ dan EQ tanpa SQ
Banyak orang yang cakap dan pintar di dunia ini, salah satunya adalah Hitler. Kita semuan mengenal Hitler sebagai pemimpin yang handal. Mampu mempengaruhi sebagian belahan dunia untuk berada di dalam kekuasaannya. Hitler termasuk salah satu pemimpin yang hebat dalam hal IQ dan EQ. Buktinya dia mampu dielu-elukan oleh para pengikutnya. Bahkan ada sebuah statement yang berasal dari dia, “Seribu kebohongan akan menjadi satu kebenaran”.Namun di balik kejayaan, dia punya niatan yang buruk, tujuan yang tidak mulia. Itulah gambaran orang yang memiliki IQ dan EQ namun tanpa SQ, tidak menyadari makna dalam diri serta siapa dirinya dan untuk apa dirinya diciptakan.
Contoh lain di Indonesia adalah koruptor. Untuk menjadi seorang koruptor harus memiliki EQ dan IQ yang baik, dia cerdas dan harus pintar berstrategi, bernegosiasi dan merebu hati orang lain untuk mau diajak berspekulasi dan berkompromi. Semangat juang tinggi? Tentu, mereka tampak selalu prima dan percaya diri. Namun akhlak dan moralnya masih bobrok.

B. Aplikasi IQ, EQ dan SQ Dalam Kehidupan Sehari-hari
IQ, EQ, dan SQ bisa digunakan dalam mengambil keputusan tentang hidup kita. Seperti yang kita alami setiap hari, keputusan yang kita buat berasal dari proses:
  1. Merumuskan keputusan
  2. Menjalankan keputusan atau eksekusi
  3. Menyikapi hasil pelaksanaan keputusan
Rumusan keputusan itu seyogyanya didasarkan pada fakta yang kita temukan di lapangan realita (apa yang terjadi), bukan berdasarkan pada kebiasaan atau preferensi pribadi suka atau  tidak suka. Kita bisa menggunakan IQ yang menonjolkan kemampuan logika berpikir untuk menemukan fakta obyektif, akurat, dan untuk memprediksi resiko, melihat konsekuensi dari setiap pilihan keputusan yang ada. Rencana keputusan yang hendak kita ambil adalah hasil dari penyaringan logika, juga tidak bisa begitu saja diterapkan, semata-mata demi kepentingan dan keuntungan diri kita sendiri. Bagaimana pun, kita hidup bersama dan dalam proses interaksi yang konstan dengan orang lain. Oleh sebab itu, salah satu kemampuan EQ, yaitu kemampuan memahami (empati) kebutuhan dan perasaan orang lain menjadi faktor penting dalam menimbang dan memutuskan. Banyak fakta dan dinamika dalam hidup ini, yang harus dipertimbangkan, sehingga kita tidak bisa menggunakan rumusan logika atau matematis untung rugi. Kita pun sering menjumpai kenyataan, bahwa faktor human touch, turut mempengaruhi penerimaan atau penolakan seseorang terhadap kita (perlakuan kita, ide-ide atau bahkan bantuan yang kita tawarkan pada mereka). Dan untuk itulah diperlukan SQ untuk menyikapi hasil pelaksanaan keputusan yang kita buat.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian di atas kami dapat menyimpulkan, antara lain:
  1. Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berkaitan dengan pikiran (nalar) yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi dan sebagainya, kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang berkaitan dengan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, sedangkan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang menunjuk pada pusat diri yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan.
  2. IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri kita, sehingga tak mungkin juga kita pisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan.
  3. Peran IQ, EQ dan SQ dalam kehidupan digunakan untuk mengambil keputusan dalam hidup kita. IQ berperan ketika kita merumuskan keputusan, EQ berperan ketika kita menjalankan keputusan dan SQ berperan ketika kita menyikapi pelaksaan keputusan.
B. Saran
Sebagai pribadi, salah satu tugas besar kita dalam hidup ini adalah berusaha mengembangkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yang kita miliki, melalui upaya belajar (learning to do, learning to know (IQ), learning to live together (EQ) , dan learning to be (SQ), serta berusaha untuk memperbaiki kualitas diri-pribadi secara terus-menerus, hingga pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri dan prestasi hidup yang sesungguhnya. Sebagai saran tulisan ini, mari kita renungkan ungkapan dari Howard Gardner bahwa:

“INI BUKAN TENTANG SEBERAPA CERDAS ANDA,
 TETAPI BAGAIMANA ANDA MENJADI CERDAS!”

Dan sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 46 yang artinya:

”Tiadakah mereka mengembara di muka bumi,
sehingga mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka mengerti,
dan mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar! 
Sungguh, bukanlah matanya yang buta, tetapi yang buta ialah hatinya, 
yang ada dalam (rongga) dadanya.”




DAFTAR PUSTAKA
Ginanjar, Ary. 2001. Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga Wijaya Persada.
Mar’at Samsunuwiyati. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Pasiak, Taufik. 2006. Manajemen Kecerdasan: Memberdayakan IQ, EQ dan SQ untuk Kesuksesan Hidup. Bandung: PT. Mizan Pustaka.
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
http://abuafra.blogspot.com/2005/02/antara-iq-eq-sq.html. Diakses pada tanggal 11 April 2010 oleh Nurwasilah.
http://www.jasapsikologi.com. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011.
http:///www.mutiara-hati.com/ta/inteligensi.htm. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011.
http://id.wikipedia.org/wiki/IQ dan SQ/html file pdf. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011.
Ubaydillah. 19 Mei 2004. Selayang Pandang IQ, EQ dan SQ, (Online), (http://www.e-psikologi.com/pengembangan/110504.htm), diakses pada tanggal 11 Februari.

[Dari Catatan BEM Psikologi UIT]