Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Saintis). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Saintis). Tampilkan semua postingan

Tahukah Anda Berapa Lama Sebenarnya Kita Hidup Di Dunia?


وَالْعَصْرِ ١ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ ٢ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣ 
(1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr:1-3)

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT bersumpah demi waktu bahwa sesungguhnya manusia benar benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat menasehati agar mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.

Dalam ayat-ayat ini Allah SWT bersumpah demi masa, atau demi waktu, karena memang waktu manusia hidup di bumi ini sebenarnya sangat singkat. Oleh karenanya sudah selayaknyalah kita bersyukur karena senantiasa diingatkan oleh Allah SWT agar beriman dengan benar dan lebih banyak mengerjakan kebajikan serta amal shaleh daripada mengejar segala kesenangan dunia yang menyesatkan.

Ternyata Hidup Manusia Memang Sangat Singkat 
Berdasarkan pendekatan kosmik, para astronom dan fisikawan NASA menyimpulkan bahwa  rata-rata manusia di bumi hidup hanya selama 0,15 detik kosmik. Ini jika dihitung berdasarkan kalender waktu yang berlaku di bumi, dimana rata-rata "life-time" manusia hanya berkisar antara 60 s.d 70  tahun saja, atau setara dengan 0,15 detik kosmik dari perhitungan 1 detik kosmik yang setara dengan 475 tahun.

Waktu kosmik itu sendiri adalah waktu yang memperhitungkan umur alam semesta ini yang diperkirakan antara 10 s.d 15 milyar tahun, dengan itu kemudian para astronom ini mendefinisikan umur kosmik, yaitu dengan cara mengandaikan umur alam semesta seakan-akan hanya 1 tahun maka setiap detik kosmik adalah 475 tahun penanggalan kalender bumi (pelajari selengkapnya di sini). 

Sedangkan berdasarkan pendekatan menurut Al-Quran, perbedaan waktu itu bisa ditemui dalam  surah  As-Sajadah:

“(Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. As-Sajadah:5)

Jadi, ayat ini menginformasikan bahwa perbandingan antara 1 hari waktu akhirat adalah sama dengan 1000 tahun waktu dunia. Sungguh suatu rentang waktu yang sangat lama dan berbeda sangat tajam, sehingga wajarlah jika Allah SWT bersumpah demi masa.

Sedangkan jika kita bandingkan umur hidup manusia di dunia dengan waktu di akhirat dengan mengambil rata-rata usia manusia sekarang ini yang berkisar antara 60 s.d 70 tahun, atau kita ambil contoh dari usia Rasulullah SAW yang hidup hingga usia 63 tahun, maka dengan rumus sederhana berikut:

 63 tahun dunia x 1 hari akhirat
-------------------------------------------  =  0,063 hari akhirat x 24 jam = ± 1,5 jam
1000 tahun dunia

sesungguhnya lama kita hidup di dunia ini hanya 1, 5 jam waktu akhirat saja! 
Subhanallah!

Hasilnya, dunia yang selama ini sering kita banggakan, di mana pada umumnya manusia sibuk berlomba lomba mencari dan menikmati kesenangan serta kemegahan dunia, ternyata hanya berlangsung selama 1,5 jam waktu di akhirat. 

Selain itu jika "life-time" kita rata rata  63 tahun, sementara waktu yang kita gunakan untuk tidur atau beristirahat adalah 8 jam sehari, maka waktu yang kita gunakan hanya untuk tidur saja adalah selama 21 tahun. 

Artinya, 63 tahun waktu hidup dikurangi 21 tahun waktu tidur, sama artinya dengan waktu hidup kita untuk melakukan segala bentuk aktifitas manusia dengan berbagai ambisi masing-masing, sebenarnya hanya 42 tahun, atau 1 jam waktu akhirat saja!
Subhanallah!

MAU MENUNGGU SAMPAI KAPAN UNTUK BERTAUBAT?



[Edi Abdullah | Kompasiana]

Prof. DR. Keith L. Moore, Tentang Keajaiban Al-Qur'an


Keith L. Moore


DR. Keith L. Moore: "Ini Mustahil! Muhammad Pasti Menggunakan Mikroskop!"

DR. Keith L. Moore MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.

Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan referensi Al-Qur’an tentang ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor melihatnya dan berkata:

“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”

Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu mikroskop juga belum ada?”

“Iya, iya saya tahu. Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang profesor.

Ayat Al-Qur'an yang manakah itu? Perhatikan ini:

“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]

Jika dicermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, seperti lintah.

Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit!

Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.

Ajaibnya, embrio janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah, lalu menulisnya dalam sebuah buku.

“Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa!”

Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya memantapkan hatinya untuk memutuskan menjadi muallaf dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian dari penelitiannya yang selama ini membuat sang profesor pusing tujuh keliling!

Diam-diam rupanya dia merasa materi yang ditelitinya selama ini belum lengkap - atau ada tahapan dari perkembangan embrio yang kurang - namun kemudian dilengkapi oleh Al-Qur'an. (Islampos/atjehcybernet)




[Sumber: Islam Is Logic]

Gary Miller, Sang Penantang Al Quran - II


Pada tahun 1977, Profesor Gary Miller, seorang pendeta dan dosen matematika dan logika di Universitas Toronto, bermaksud berbuat sesuatu untuk agama Kristen dengan cara mengekspos sejarah dan kesalahan ilmiah di dalam Al-Quran sedemikian rupa agar dapat bermanfaat baginya dan bagi sesama pengkhotbah lainnya dalam upaya mereka menyeru umat Islam untuk beralih memeluk Kristen. Namun hasilnya sungguh bertolak belakang. Tulisan Miller tampil sangat fair dan komentar serta kajiannya sangat positif, bahkan lebih baik daripada tulisan sebagian umat Islam sendiri tentang Al-Quran. Ia menjelaskan tentang Al Quran seperti apa adanya dan pada akhirnya menyimpulkan bahwa tidak masuk akal bila ada yang mengatakan bahwa kitab tersebut adalah karya manusia!

Isu pertama yang mengherankan Profesor Miller adalah "tantangan" kepada pembaca di banyak ayat seperti di antaranya dapat diterjemahkan sebagai berikut:

"Maka apakah mereka tidak merenungkan Quran? Dan jika berasal dari selain Allah, tentulah mereka akan menemukan banyak pertentangan di dalamnya." (QS. An-Nisaa[4];82).

"Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada rasul Kami (rasul adalah gelar tertinggi yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang dipilih-Nya) maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar." (QS. Al-Baqarah[2]:23).

Walau pada awalnya Profesor Miller menantangnya, namun akhirnya ia sendiri heran pada apa yang kemudian ditemukannya.

Berikut adalah beberapa intisari yang diungkapkan Gary Miller dalam salahsatu ceramahnya yang boleh anda download di sini; The Amazing Quran.

Tidak ada penulis yang menulis buku lalu menyatakan kepada pembacanya bahwa kitab yang ditulisnya tidak mempunyai kesalahan. Adapun Al Quran justru sebaliknya. Ia memberitahu pembaca bahwa tidak ada kesalahan di dalamnya, sekaligus menantang siapa saja untuk coba menemukannya, jika ada.

Kendati Kitab Suci Al-Quran "diperkenalkan" kepada manusia oleh Nabi Muhammad saw, namun Al-Quran tidak menyebutkan peristiwa-peristiwa sulit yang terjadi dalam kehidupan pribadi beliau seperti kematian istri tercintanya Khadijah ra, atau kematian putra-putrinya. Cukup aneh, ayat-ayat yang diturunkan pada masa-masa kemenangannya justru berisi peringatkan melawan kecongkakan dan menyerukan agar lebih banyak melakukan pengorbanan serta ikhtiar. Jika seseorang menulis otobiografinya sendiri, tentu ia akan menonjolkan semua kemenangannya dan mencari-cari alasan untuk setiap kekalahannya. Kitab suci Al-Quran sebaliknya, konsisten dan logis. Al-Quran bukan sejarah tentang kurun waktu tertentu melainkan teks nyata yang menetapkan aturan-aturan menyeluruh tentang hubungan antara Allah (Yang Maha Kuasa) dengan hamba-hamba-Nya.

Miller memikirkan secara khusus tentang sebuah ayat yang dapat diterjemahkan sebagai berikut:

"Katakanlah, "Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras." (QS. Saba[34]:46)

Miller menunjukkan sebuah percobaan seorang peneliti di Toronto University tentang "Efektifitas Diskusi Bersama". Peneliti tersebut telah mengumpulkan sejumlah peserta diskusi dari latar belakang yang berbeda-beda lalu membandingkan hasilnya. Ia menemukan bahwa efisiensi maksimum dari sebuah diskusi akan tercapai ketika peserta diskusi terdiri dari dua orang, sedangkan bila lebih, menjadi kurang efisien.

Salahsatu surah - atau surat - dalam Al-Quran disebut surah Maryam (Maria) ra, sebagai penghargaan pada Bunda Maria yang bahkan sama sekali tidak ditemukan di dalam kitab Injil. Tidak ada surah Aishah ra, atau Fatimah ra (nama isteri dan putri Nabi Muhammad saw). Sedangkan nama Nabi Isa (Yesus) as, disebutkan sebanyak 25 kali di dalam Al-Qur'an sementara nama Nabi Muhammad saw sendiri hanya 5 kali saja.

Beberapa penyerang Al-Quran mengatakan bahwa setanlah yang telah mendiktekan kepada Nabi Muhammad saw tentang apa-apa yang harus ditulisnya di dalam kitab suci Al-Quran. Tapi tentu saja kemudian muncul pertanyaan: bagaimana hal tersebut dapat terjadi, sedangkan Al-Quran sendiri mengandung ayat-ayat yang (di antaranya) dapat diterjemahkan sebagai berikut:

"Dan bukankah Ash-Shayatîn (mahkluk yang keji, yaitu setan) telah diturunkan bersama itu dan tidak memperjalankan mereka, dan tidak ada yang dapat mereka mampu lakukan sama sekali "(TMQ 29:209-210). dan,

"Apabila kamu membaca Al Qur'an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk." (QS. An-Nahl[16]:98)

Jika Anda berada dalam situasi seperti Nabi (saw) ketika ia dan Abu-Bakar ra, berada di dalam Gua Hira dan 'dikepung' oleh orang-orang kafir yang dapat menemukan keduanya jika saja mereka mencari lebih ke dalam. Reaksi manusia biasa tentu akan mencari jalan belakang, atau jalan keluar lainnya, atau berdiam diri agar tidak terdengar. Namun, Nabi saw mengatakan kepada Abu-Bakar ra, "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita." (QS. At-Taubah[9]:40). Ini bukan mentalitas penipu, melainkan mentalitas seorang nabi yang yakin sepenuhnya bahwa Allah (Yang Maha Kuasa) pasti akan melindunginya.

Surat Al-Masad (Serat Palem) diturunkan sepuluh tahun sebelum kematian Abu-Lahab, paman Nabi Muhammad saw. Selama sepuluh tahun penuh itu Abu Lahab memiliki semua peluang untuk membuktikan bahwa Al-Quran itu salah. Bagaimanapun, dia tetap tidak yakin, atau sesungguhnya hanya berpura-pura yakin. Lantas, bagaimana mungkin Nabi Muhammad saw demikian meyakininya jika bukan karena percaya sepenuhnya bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa?

Mengomentari ayat yang dapat diterjemahkan sebagai berikut:

"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Hud[11]:49).

Miller menulis bahwa tidak ada Kitab Suci sebelumnya yang menggunakan cara seperti ini, memberi pembaca sebuah informasi dan mengatakan bahwa itu adalah informasi baru. Ini benar-benar sebuah tantangan yang unik. Bagaimana jika penduduk Makkah, meskipun berpura-pura, mengatakan bahwa mereka telah mengetahui hal itu sebelumnya? Bagaimana jika salah satu ahli kemudian menemukan bahwa informasi ini sudah diketahui sebelumnya? Namun, nyatanya hal itu tidak pernah terjadi.

Profesor Miller menyebutkan apa yang ada di dalam Ensiklopedia Katolik Kontemporer di bawah entri 'Quran'. Di sana dikatakan bahwa meskipun banyak sekali studi, teori, dan upaya menafikan Al-Quran sebagai kebenaran wahyu Tuhan tertulis dalam berbagai teks, namun tidak satu pun dalih mereka yang dapat diterima secara logis. Gereja sendiri tidak berani menerima teori tersebut tetapi pada saat yang sama tidak pula mengakui kebenaran teori Muslim bahwa kitab suci Al-Quran adalah, tanpa keraguan, merupakan wahyu terakhir dari langit.

Nyatalah bahwa Profesor Miller cukup adil dan jujur ​​dalam menempatkan dirinya untuk memilih cara yang benar. Semoga ia, begitu pula orang-orang yang mencari kebenaran dan tidak membiarkan prasangka buruk mencegahnya dari pencapaian itu mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Pada tahun 1977, Profesor Miller terlibat debat terbuka dengan penceramah Islam terkenal; Ahmad Deedat. Logikanya jelas dan pembenaran tampak berdasarkan niat untuk mencapai kebenaran tanpa keangkuhan atau prasangka buruk. Banyak orang yang kemudian memperkirakan bahwa ia akan segera memeluk Islam setelah debat itu (lihat rekaman videonya di sini).

Pada tahun 1978 Profesor Miller memutuskan memeluk Islam dan mengganti namnya menjadi Abdul Ahad Omar. Dia bekerja selama beberapa tahun di Universitas Minyak & Mineral di Saudi Arabia dan kemudian mengabdikan hidupnya untuk da'wah melalui program TV dan ceramah-ceramah umum tentang Islam (lihat sebagaian rekaman videonya di sini).

Renungkanlah, dan jangan biarkan prasangka mencegah Anda menemukan jalan yang benar

GARRY MILLER: SANG PENANTANG AL QUR'AN
Hidupku, Islamku - Perjalanan menuju alam abadi



Q-4

Al-Quran, Tentang Pendapat Tokoh Non-Muslim Terhadap Alkitab dan Al-Quran



TENTANG ALKITAB

1. Dr. Mr. D. N. Mulder dalam bukunya "Pem­bimbing ke dalam Perjanjian Lama", tahun 1963, pagina 12 dan 13, berkata sebagai berikut: "Buku ini dikarang pada waktu-waktu tertentu, dan pengarang-pengarangnya memang manusia juga, yang terpengaruh oleh keadaan waktunya dan oleh suasana di seki­tarnya dan oleh pembawaan pengarang itu sendiri. Naskah-naskah asli dari Kitab Suci itu sudah tidak ada Iagi. Yang ada pada kita hanya turunan atau salinan. Dan salinan itu bukannya salinan langsung dari naskah asli, melainkan dari salinan dan seterusnya. Se­ring di dalam menyalin Kitab Suci itu terseliplah salah salin."

2. Drs. M. E. Duyverman dalam bukunya "Pem­bimbing ke dalam Perjanjian Baru", tahun 1966, pagina 24 dan 25, berkata sebagai berikut: "Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesa­lahan dalam naskah asli yang dipergunakan­nya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, pada­hal perbaikan itu sering mengakibatkan per­bedaan yang lebih besar dengan yang sung­guh asli. Dan kira-kira pada abad keempat, di Antiochia diadakan penyelidikan dan pe­nyesuaian salinan-salinan; agaknya ter­dorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar diantara salinan-salinan yang dipergu­nakan dengan resmi dalam Gereja."

3. Dr. B. J. Boland dalam bukunya "Het Johan­nes Evangelie", p. 9, berkata sebagai berikut: "Zijn ons de waarheden van het Evangelie van Jesus Christus in haar corspron-kelij­ken onvervalschen, zul veren vorm over­geleverd of zijn de door het intermediair van den Griek schen Geest, van de Griek sche reid, het laat stea an te nemen...dat de letter der Nieuw-Testament-ische boeken in de eerste eeuwen anzer jaar­telling gewichtig wijzungen moet hebben ondergaan."
Artinya: Apakah kebenaran-kebenaran dari Injil Je­sus Kristus diserahkan kepada kita dalam bentuk murninya, asli dan tidak dipalsukan, ataukah telah dirubah melalui alam fikiran kebudayaan Gerika? Umumnya yang tera­khirlah yang diterima oleh orang jaman kini... bahwa tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Baru pada dua abad pertama perhitungan tahun kita, pasti telah mengalami perubahan besar.

4. Dr. A. Powel Davies dalam bukunya "The meaning of the Dead Sea Scrolls The New American Library" tahun 1961 , p. 106, berkata: "The first three, or Synoptic Gospels tell much the same story. There are discrepancies; but it is impossible to a considerable extent to reconcile them. John's Gospel, however, tells quit a different story from the other three. If John is right, then the other three are wrong; If the Synoptic are right, the John's gospel must surely be in error." Artinya: Tiga Injil pertama, yaitu Injil Synoptik, mem­bawakan cerita yang sama. Terdapat perten­tangan-pertentangan di dalamnya, sehingga tidaklah mungkin sedemikian jauh untuk mendamaikan ayat-ayat ini. Namun Injil Jo­hannes, menceritakan cerita-cerita yang amat berbeda dari ketiga Injil pertama itu. Bila Injil Johannes yang betul, maka ketiga Injil yang lain itu salah; bila ketiga Injil itu betul, maka Injil Johannes pasti salah.

5. Dr. G. C. Vari Niftrik dan Dr. B. J. Boland dalam bukunya "Dogmatika Masakini", cetak­an ketiga; tahun 1978, p. 322, berkata seba­gai berikut: "Kita tidak usah merasa malu bahwa terdapat pelbagai kekhilafan di dalam Al-Kitab; kekhi­lafan tentang angka-angka, perhitungan-­perhitungan tahun dan fakta-fakta. Dan tak perlu kita pertanggungjawabkan kekhilafan-­kekhilafan itu berdasarkan caranya isi Al-Ki­tab telah disampaikan kepada kita, sehingga dapat kita berkata: dalam naskah asli tentu­lah tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan-kekhilafan itu barulah ke­mudiannya terjadi di dalam turunan-turunan (salinan-salinan-pen) naskah itu."

6. Herman Bakels (1871-1954) dalam bukunya "Nij Ketters? Ya.. Om deere Gods", p. 119-120, lewat buku "Dialog antara Ahmadiyah dengan saksi-saksi Yehowa", p. 83 dan 88 berkata sebagai berikut: "De andere ses Bijbels (Weda, Awesta, de boeken over Boedha, Tao-teking, Con­fusius boeken, Kor'an) ken ik niet ge­noeg...Van onzen Bijbel weet ik dit zeker. Ik heb hem dertig jaar lang van voren tot achteren doorploeterd. En ik zeg ronde­ment; ik kan in Europa geen boek dat meer stikvol dingen-die-niet-waar-zijn zit dan de Bijbel." Artinya: Adapun enam buah kitab (Weda, Awesta, Kitab-kitab tentang Budha, Tao-teking, Kitab­-kitab Confusius, Al-Qur'an) tidak begitu saya kenal. Akan tetapi Bijbel kita ini, pasti saya ketahui. Sudah 30 tahun lamanya saya mengincah Bijbel kita ini dari awal sampai akhir. Oleh karena itu terus terang saya katakan, bahwa di Eropa, saya belum kenal sebuah kitab yang lebih padat dengan hal-hal yang tidak benar dari pada Bijbel. Dia juga berkata: "Bijna alle koeken zijn er misleidend, nip­seudepigra fisch. D.W.Z. niet geschreven door de auteurs op wier namen zestaan, maar wel later geschreven." Artinya: Hampir semua kitab-kitab dalam bibel itu menyesatkan, yakni memakai nama. palsu, yaitu tidak ditulis oleh pengarang-pengarang yang tercantum nama mereka di atasnya, melainkan ditulis jauh di belakang mereka.

7. Surat kabar di Ghana, yaitu Harian Times, 24 Juni 1964 yang dimuat oleh harian Mercusuar Yk. tertanggal 31-8-1968; Mr. RT. Payet, di dalam parlemen inggris tahun 1964 mengusulkan kepada Pemerintah Inggris dalam hal ini The British Home Secretary agar Injil dilarang beredar. Salah satu di antara sebabnya seperti yang ia katakan sebagai berikut: "I know of no book in history which could compare with the Bible as a source of bru­tality and sadistic conduct.
Artinya: Tidak ada di dalam sejarah satu buku yang merupakan sumber dari perbuatan-per­buatan yang brutal dan sadis selain Injil ini. (I. Sudibya Markus dalam buku "Dialog Islam­-Nasrani dan Usul Pelanggaran Injil di Inggris", terbitan Potrosari Ler. 28 Mgl.).

8. Prof. Herbert J. Muller dalam buku "The Uses of the Past, p. 168 lewat bukunya O. Hashem, "Marxiesme dan Agama", tahun 1965, Japi Surabaya, p. 45, berkata: "Scholars regard this text ( I Johannes 5:7) as a later interpolation however, since it does not appear in the best manuscripts." Artinya: Para sarjana menganggap bahwa naskah ini ( I Johannes 5:7) adalah suatu sisipan/tam­bahan kemudian, karena ayat seperti ini tidak diketemukan pada manuskrip-manuskrip ter­baik.

9. Kata Herman Bakel dan Dr. A. Powel Davies, "Injil Matius 28:19 dan Injil Markus 16:9-19 adalah sisipan. Bacalah bukunya." (Hashem, "Jawaban Lengkap Kepada Pendeta Dr. J. Verkuyl," terbitan JAPI, Surabaya, tahun 1969, halaman 94).



TENTANG AL-QUR'AN


1. Harry Gaylord Dorman dalam buku "Towards Understanding lslam", New York, 1948, p.3, berkata: "Kitab Qur'an ini adalah benar-benar sabda Tuhan yang didiktekan oleh Jibril, sempurna setiap hurufnya, dan merupakan suatu muk­jizat yang tetap aktual hingga kini, untuk mem­buktikan kebenarannya dan kebenaran Muhammad."

2. Prof. H. A. R. Gibb dalam buku "Mohamma­danism", London, 1953, p. 33, berkata seba­gai berikut: "Nah, jika memang Qur'an itu hasil karyanya sendiri, maka orang lain dapat menandingi­nya. Cobalah mereka mengarang sebuah ungkapan seperti itu. Kalau sampai mereka tidak sanggup dan boleh dikatakan mereka pasti tidak mampu, maka sewajarnyalah mereka menerima Qur'an sebagai bukti yang kuat tentang mukjizat."

3. Sir William Muir dalam buku "The Life of Mo­hamet", London, 1907; p. VII berkata sebagai berikut: "Qur'an adalah karya dasar Agama Islam. Ke­kuasaannya mutlak dalam segala hal, etika dan ilmu pengetahuan…"

4. DR. John William Draper dalam buku "A His­tory of the intelectual Development in Europe", London, 1875, jilid 1 , p. 343-344, berkata: "Qur'an mengandung sugesti-sugesti dan proses moral yang cemerlang yang sangat berlimpah-limpah; susunannya demikian fragmenter, sehingga kita tidak dapat mem­buka satu lembaran tanpa menemukan ungkapan-ungkapan yang harus diterima olehsekalian orang. Susunan fragmenter ini, mengemukakan teks-teks, moto dan per­aturan- peraturan yang sempurna sendirinya, sesuai bagi setiap orang untuk setiap peris­tiwa dalam hidup."

5. DR. J. Shiddily dalam buku "The Lord Jesus in the Qur'an", p. 111 , berkata: "Qur'an adalah Bible kaum Muslimin dan lebih dimuliakan dari kitab suci yang manapun, lebih dari kitab Perjanjian Lama dan kitab perjanjian Baru."

6. Laura Vaccia Vaglieri dalam buku "Apologie de I'Islamism, p. 57 berkata: "Dalam keselu­ruhannya kita dapati dalam kitab ini, suatu ko­leksi tentang kebijaksanaan yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang paling cer­das, filosof-filosof yang terbesar dan ahli-ahli politik yang paling cakap... Tetapi ada bukti lain tentang sifat Ilahi dalam Qur'an, adalah suatu kenyataan bahwa Qur'an itu tetap utuh melintasi masa-masa sejak turunnya wahyu itu hingga pada masa kini...Kitab ini dibaca berulang-ulang oleh orang yang beriman dengan tiada jemu-jemunya. Keistimewaan­nya pula, Qur'an senantiasa dipelajari/dibaca oleh anak-anak sejak sekolah tingkat dasar hingga tingkat Profesor. "

"Sebaliknya malah karena diulang-ulang ia makin dicintai sehari demi sehari. Qur'an membangkitkan timbul­nya perasaan penghormatan dan respek yang mendalam, pada diri orang yang mem­baca dan mendengarkannya.... Oleh karena itu bukan dengan jalan paksaan atau dengan senjata, tidak pula dengan tekanan mu­baligh-mubaligh yang menyebabkan penyi­aran Isiam besar dan cepat, tetapi oleh ke­nyataan bahwa kitab ini, yang diperkenalkan kaum Muslimin kepada orang-orang yang di­taklukkan dengan kebebasan untuk meneri­ma atau menolaknya adalah kitab Tuhan. Kata yang benar, mukjizat terbesar yang da­pat diperlihatkan Muhammad kepada orang yang ragu dan kepada orang yang tetap ber­keras kepala."

7. Prof. A. J. Amberry, dalam buku "De Kracht van den Islam", hlm. 38, berkata: "Qur'an ditulis dengan gaya tak menentu dan tidak teratur, yang menunjukkan bahwa penulisnya di atas segala hukum-hukum pengarang manusia."

8. G. Margoliouth dalam buku "Introduction to the Koran" (kata pendahuluan untuk buku J. M. H. Rodwell), London, 1918, berkata: "Diakui bahwa Our'an itu mempunyai kedudukan yang penting diantara kitab-kitab Agama di dunia. Walau kitab ini merupakan yang terakhir dari kitab-kitab yang termasuk dalam kesusasteraan ini, ia tidak kalah dari yang mana pun dalam effeknya yang meng­agumkan, yang telah ditimbulkannya ter­hadap sejumlah besar manusia yang telah menciptakan suatu phase kemajuan ma­nusia dan satu tipe karakter yang segar."

9. George Sale dalam buku "Joseph Charles Mardrus-Premilinary Discourse", berkata: "Di seluruh dunia diakui bahwa Qur'an tertulis dalam bahasa Arab dengan gaya yang paling tinggi, paling murni....diakui sebagai stan dard bahasa Arab... dan tak dapat ditiru oleh pena manusia... Oleh karena itu diakui seba gai mukjizat yang besar, lebih besar daripada membangkitkan orang mati, dan itu saja sudah cukup untuk meyakinkan dunia bahwa kitab itu berasal dari Tuhan."

10. E. Denisen Ross dari "Introduction to the Koran-George Sale", p. 5, berkata: "Qur'an memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum Muslimin daripada peranan Bible dalam agama Kristen. Ia bukan saja merupakan sebuah kitab suci dari kepercayaan mereka, tetapi juga merupakan text book dari upacara agamanya dan prinsip-prinsip hukum kemasyarakatan.....Sungguh sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa-masa ini, di mana ruang dan waktu hampir telah dipunahkan oleh penemuan-penemuan modern."

11. James A. Michener dalam "Islam the Misun­derstood Religion Readers Digest", Mei 1955, berkata sebagai berikut: "Berita Qur'an inilah yang mengusir patung-­patung dewa, dan memberikan ilham kepada manusia untuk merevolusikan hidup dan bangsa mereka.... Kombinasi antara persem­bahan kepada Satu Tuhan ditambah dengan perintah prakteknya yang membuat Qur'an menjadi khas. Bangsa yang beragama di Timur yakin bahwa negara mereka hanya akan diperintah dengan baik apabila hukum-­hukumnya sejalan dengan Qur'an.

12. W.E. Hocking dalam "Spirit of World Politics ­New York 32", p. 461 , berkata: "...saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa Qur'an berisi amat banyak prinsip-prinsip yang diperlukan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa hingga pertengahan abad ke-13, Islamlah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat."

13. Napoleon Bonaparte
a. Dari "Stanislas Cuyard-Ency des Sciences Religioses", Paris, 1880, jilid IX, p. 501 berkata sebagai berikut: " Selama abad-abad pertengahan, sejarah Islam peradaban sepenuhnya. Berkat keuletan kaum Musliminlah maka ilmu pengetahuan dan falsafah Yunani tertolong dari kebinasaan, dan kemudian datang membangunkan dunia Barat serta membangkitkan gerakan intelektual sampai pada pembaruan Bacon. Dalam abad ke-7 dunia lama itu sedang dalam sakaratulmauit. Muharnmad memberi kepada mereka sebuah Qur'an yang rnerupakan titik tolak ke arah dunia baru."
b. Dari buku "Bonaparte et I'Islarn oleh Cherlifs, Paris, p. 105, berkata sebagai berikut: "I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur'an wich alone can lead men to happiness. Artinya: "Saya berharap tidak lama lagi akan dapat mempersatukan seluruh manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi di seluruh negeri untuk mewujudkan satu kekuasaan pemerintahan yang berdasarkan prinsip­-prinsip ajaran Al-Qur'an, karena hanya Qur'anlah satu-satunya kebenaran yang dapat memimpin manusia menuju ke­bahagiaan."[1]


[1] Sumber terutama dari M. Hashem, "Kekaguman Dunia terhadap Islam", cetakan pertama, Bandung, Sumber: Pendapat Para Ilmuwan Non Muslim tentang: BIBEL & AL-QUR'AN. Penyusun :Drs. H. Wakhid Rosyid (Willibrordus Romanus Lasiman)

Gary Miller, Sang Penantang Al Quran - I

Gary Miller, adalah seorang ilmuwan matematika asal Kanada. Selain menjadi anggota dewan ahli di universitas, Miller juga aktif sebagai misionaris Kristen. Miller adalah ilmuwan yang sangat meminati bidang logika dan hal-hal logis. Pada awalnya, dia berpikir bahwa Al-Qur’an yang turun 14 abad yang lalu itu hanya membahas berbagai masalah di masa lalu. Namun seiring dengan menguatnya arus Islam di Barat, Miller pun terdorong untuk mempelajari Al-Quran lebih mendalam dengan tujuan mencari celah-celah kesalahannya, sekaligus membuktikan ketidakotentikan kitab suci umat Muslim itu.

Miller mengatakan, “Mulai hari itu, saya membaca Al-Quran untuk mencari celah-celah kesalahan kitab ini. Melalui usaha ini, saya berharap dapat mengangkat derajat pemeluk agama Kristen di hadapan ummat Islam.” Dikatakannya pula, “Karena Al-Quran diturunkan 14 Abad yang lalu di padang pasir, saya berpikir bahwa kitab ini sangat terbelakang serta dipenuhi dengan kekurangan. Namun semakin saya membaca Al-Quran, saya malah semakin menemukan kebenaran yang membuat saya terkesima. Saya menyadari bahwa Al-Quran ternyata membahas berbagai masalah yang sama sekali tak ditemukan di kitab samawi lainnya. Kitab ini membuat saya semakin penasaran untuk mempelajari lebih mendalam lagi. Ketika membaca sura An-Nisa’, ayat 82, saya sangat terkejut. Ayat tersebut menyebutkan;

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”

Tentunya, hal yang dialami oleh cendekiawan asal Kanada ini bukanlah yang pertama kali terjadi bagi seorang non-muslim. Al-Quran adalah samudera yang tak ada batasnya dan mengandung mutiara ilmu yang tak ada habis-habisnya untuk digali. Sejak 14 abad lalu, para pemikir dan cendikiawan dalam berbagai bidang mengarungi lautan ilmu yang tertuang dalam kitab ini. Namun sedemikian luas dan dalamnya samudera Al Quran, membuat mereka belum mampu menemukan tepi atau akhir dari lautan ilmu ini. Oleh karena itu, mereka hanya bisa pasrah sambil memuji keagungan dan kebesaran Allah Swt. Al-Quran dalam surat Furqon ayat 1 menyebutkan,

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.”

Sebagai seorang ilmuwan, Dr. Gary Miller memahami bahwa mengenali dan membandingkan berbagai pendapat adalah salah satu metode ilmiah dalam rangka membuktikan kebenaran. Dia juga mengatakan, “Al-Quran dengan ayat-ayat yang sangat lugas mengajak manusia untuk berpikir. Di dunia ini, tak ada seorang penulis pun yang menulis sebuah buku, kemudian dengan penuh keyakinan meminta semua pihak untuk membuktikan kesalahan-kesalahannya.”

Miller juga mengatakan, “Di saat mempelajari Al-Quran, saya menanti ayat yang menyinggung peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Rasulullah Saw, seperti wafatnya Sayidah Khadijah atau kehidupan anak-anaknya. Namun, saya malah dikejutkan oleh surat yang bernama Maryam. Sedangkan dalam kitab Injil dan Taurat, tak ada satupun surat khusus dengan nama Maryam. Selain itu, Al-Quran menyebut nama Isa Al-Masih sebanyak 25 kali, sedangkan kitab ini hanya menyebut nama Rasulullah Muhammmad Saw sebanyak 5 kali. Bahkan, tak ada surat yang menyebutkan nama putri atau istri Rasulullah Saw.”

Namun, cendekiawan Barat ini masih belum mantap dengan apa yang didapatkannya. Ia pun kembali melanjutkan mencari kesalahan-kesalahan Al-Quran. Kali ini, ia dikejutkan oleh ayat lainnya, yaitu Surat Al Anbiya ayat 30, yang berbunyi,

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup…”

Miller berkata, “Ayat ini menyinggung masalah ilmiah yang penemunya mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1973. Ayat ini menjelaskan teori "Big Bang" yang menghasilkan penciptaan dunia, langit, dan bintang-bintang.”

Miller melanjutkan, “Bagian akhir ayat tersebut menyebutkan bahwa air adalah sumber kehidupan. Ini merupakan salah satu keajaiban penciptaan alam yang baru dipahami oleh sains modern. Ilmuwan modern membuktikan bahwa sel hidup terbentuk dari sitoplasma atau zat separuh cairan lekat, sedangkan bagian inti sitoplasma bersumber dari air. Dengan mempelajari ayat ini, saya sama sekali tidak lagi mempercayai klaim-klaim bohong yang menyebut Al-Quran sebagai buatan Muhammmad Saw semata. Bagaimana mungkin Rasulullah Saw yang tak bisa menulis dan membaca sebelum diturunkannya A-Quran, 1400 tahun yang lalu, tiba-tiba dapat berbicara soal materi dan gas yang membentuk dunia?”

Akhirnya, riset panjang ini menyebabkan Dr. Gary Miller tunduk menerima Islam sebagai agama yang benar. Dia kini aktif menulis berbagai makalah terkait mukjizat-mukjizat sains yang tercantum dalam Al-Quran. Di antara karya-karya Miller berjudul “Al-Qur’an Yang Menakjubkan”, “Perbedaan Al-Quran dan Kitab Injil”, dan “Pandangan Islam tentang Metode-Metode Pemberian Kabar Gembira”.

Di samping berbicara mengenai mukjizat dan keagungan Al-Quran, Dr. Gary Miller juga membahas masalah lainnya. Dia mengatakan, “Di antara mukjizat Al Quran adalah menyampaikan ancaman-ancaman untuk manusia di masa mendatang yang tak bisa diprediksikan oleh manusia. Hal ini tak bisa diprediksi oleh manusia karena manusia seringkali menjadikan eksperimen sebagai tolak ukur kebenaran. Al-Qur’an juga mengidentifikasi sahabat dan musuh ummat Islam. Selain itu, kitab ini juga memperingatkan persahabatan dengan orang-orang musyrik dan mengingatkan bahwa ummat kristiani adalah sahabat yang paling dekat dengan umat Islam. Lebih dari itu, Al Quran mengemukakan data yang konkrit dan ini adalah di antara metode Al-Quran yang luar biasa.”

Menurut Miller, “Al-Quran juga menarik perhatian para pembacanya pada hal-hal yang spesifik, bahkan kitab ini juga menyampaikan informasi-informasi baru. Informasi semacam ini tak pernah disinggung dalam kitab samawi lainnya. Sebagai contoh, surat Al-Imran ayat 44 menyampaikan peristiwa undian untuk mengasuh Sayidah Maryam as. Ayat tersebut menyebutkan,

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.”

Dikatakannya pula, “Dalam Kitab Injil, jika kita ingin lebih mengetahui sebuah cerita atau mengkaji permasalahan, seringkali kita tidak mendapatkan jawabannya di kitab itu dan bahkan kita harus merujuk sumber-sumber referensi lainnya. Sementara Al-Quran menyatakan, jika seseorang ragu akan kebenaran yang disampaikannya, maka Al Quran sendiri yang akan menjawabnya. Namun, setelah saya mempelajari kitab ini secara detail, saya menyimpulkan bahwa tak seorangpun dapat menanggapi tantangan Al-Quran ini, karena pada prinsipnya, informasi-informasi dalam kitab ini bersumber dari Allah Swt dan berada di luar kemampuan manusia. Kitab ini mengungkap peristiwa masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.”

Pada tahun 1977, Miller terlibat debat terbuka dengan penceramah Islam terkenal; Ahmad Deedat. Logikanya jelas dan pembenarannya tampak berdasarkan niat baik untuk mencapai kebenaran tanpa kebanggaan beragama atau prasangka buruk. Banyak orang yang kemudian memperkirakan bahwa ia akan segera memeluk Islam setelah debat itu (lihat rekaman videonya di sini).

Pada tahun 1978 Miller memutuskan memeluk Islam dan mengganti namnya menjadi Abdul Ahad Omar. Dia bekerja selama beberapa tahun di Universitas Minyak & Mineral di Saudi Arabia dan kemudian mengabdikan hidupnya untuk da'wah melalui program TV dan ceramah-ceramah umum tentang Islam (lihat sebagaian rekaman videonya di sini).

Pesan Dr. Gary Miller kepada umat Muslim:

“Wahai ummat Islam, kalian tak mengetahui betapa Allah SWT telah melimpahkan kemuliaan kepada kalian, yang tak dimiliki oleh agama-agama lain. Untuk itu, bersyukurlah karena kalian telah menjadi muslim. Berpikirlah secara mendalam untuk mengungkap kebenaran-kebenaran yang indah dalam Al-Quran. Saya mempelajari Al-Quran secara mendalam, dan kitab inilah yang menyebabkan aku mendapatkan hidayah Ilahi.”

Renungkanlah, dan jangan biarkan prasangka mencegah Anda menemukan jalan yang benar.


GARRY MILLER: SANG PENANTANG AL QUR'AN
Hidupku, Islamku - Perjalanan menuju alam abadi