Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Sains). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Sains). Tampilkan semua postingan

Tulang Sulbi Dalam Tinjauan Tafsir dan Osteologi

TULANG SULBI mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (yakhruju min bain ash-Sulbi wa at-Tharā’ib), Al-Qur’an Surah Ath-Thariq ayat 7, dan hadits Nabi Muhammad SAW 1400 tahun silam, serta berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut. 

Dilihat dari sisi anatomi tubuh manusia, ash-Shulbi wa at-Tarā’ib (tulang punggung dan tulang dada) ini mencakup tulang belakang yang terdiri dari 7 tulang belakang leher, 12 tulang dada, 5 tulang lumbar, 5 tulang ekor, dan 5 tulang pinggul. 

As-Solb (tulang sulbi) dimulai dari pundak.Tulang sulbi adalah: tulang belakang dada + tulang lumbar + pangkal punggung, atau sama dengan  12+5+5 = 22 tulang belakang. 

Adapun at-Tarā’ib bukan merupakan tulang rusuk dada sebagaimana diketahui pada umumnya, melainkan pengkhususan, 4 tulang rusuk dari bagian kanan dada, 4 tulang rusuk dari bagian kiri dada yang mengikuti tulang selangka ditempat pemakaian kalung. Kemudian yang paling menarik adalah, tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW di dalam hadits, serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut.  

PENDAHULUAN 

Pada masa awal Al-Qur’an diturunkan, informasi-informasi dalam Al-Qur’an sebagiannya belum dapat dipahami oleh umat Islam saat itu, yang kebenarannya baru terbukti pada zaman sekarang ini, sehingga mustahil Al-Qur’an merupakan karya Nabi Muhammad SAW sendiri sebagaimana tuduhan para orientalis dan kaum yang memusuhi Islam lainnya, dengan tujuan untuk menghindari dan menutupi kebenaran. 

Allah berfirman,
اَفَلَا یَتَدَبَّرُوۡنَ الۡقُرۡاٰنَ ؕ وَ لَوۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ غَیۡرِ اللّٰہِ لَوَجَدُوۡا فِیۡہِ اخۡتِلَافًا کَثِیۡرًا
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)

Islam mengharuskan pemeluknya agar menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia terus berkembang seiring perkembangan zaman dan tersingkapnya rahasia alam. Al-Qur’an berlaku untuk semua zaman, bahkan banyak hal yang belum dapat dimengerti oleh manusia zaman sekarang, seperti banyak hal pula yang sudah mulai dipahami seiring perjalanan waktu, sebagaimana firman Allah dalam surah Shad [1]
     اِنۡ ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  وَ لَتَعۡلَمُنَّ نَبَاَہٗ بَعۡدَ حِیۡنٍ
“Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi.” (QS. Shad: 87-88)

Hubungan antara Sains dan Agama dalam beberapa tahun terakhir ini masih menjadi isu yang menarik untuk dikaji. Sejarah panjang keduanya telah melahirkan hubungan-hubungan yang kompleks. Harmonis dan Disharmonis. Meski demikian, isu hubungan agama dan Sains tidak selalu diisi dengan pertentangan dan ketidaksesuaian. Banyak kalangan yang berusaha mencari hubungan antar keduanya, dan ada pula kalangan yang beranggapan bahwa agama dan sains tidak akan pernah dapat dipertemukan, keduanya adalah etentitas yang berbeda, memiliki wuilayah masing-masing yang terpisah baik segi objek formal-material (ontologi), metode penelitian (epistimologi), serta peran yang dimainkan (aksiologi). 

Menurut Al-Attas, Ilmu merupakan satu kesatuan, namun dapat dikategorikan menjadi dua berdasarkan sifat dan tujuannya. Ilmu jenis pertama adalah ilmu pengenalan yang cara memperoleh ilmu tersebut berdasarkan wahyu, ilham dan ma’rifat, penyingkapan (kasyf), dan penyaksian langsung (musyahadah), Ilmu jenis kedua adalah Ilmu (Sains) yang diperoleh melalui akal dan hati (qalb) manusia, pengalaman serta pengamatan langsung. 

Ilmu pengenalan, meskipun pada tingkat awal bergantung kepada ilmu, namun tidak memerlukan bukti-bukti untuk mengesahkannya karena dia merujuk kepada pemahaman batin atas hakikat ruhaniyah. Sains menurut Al-Attas adalah Ta’wil terhadap alam semesta. [2]

Membahas hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyak atau tidaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dikandungnya, tetapi lebih utama adalah melihat, adakah Al-Qur’an atau jiwa ayat-ayatnya menghalangi ilmu pengetahuan atau mendorongnya, karena kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya diukur melalui sumbangan yang diberikan kepada masyarakat atau kumpulan ide dan metode yang dikembangkannya, tetapi juga pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan sosial yang diwujudkan, sehingga mempunyai pengaruh (positif atau negatif) terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. [3]

Pada dasarnya, secara tidak langsung Allah SWT telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan. Al-Qur’an yang merupakan sumber ilmu pengetahuan, dapat digunakan untuk menggali ilmu dan mengembangkan teknologi  yang belum ditemukan pada masa sekarang. [4] Adapun beberapa ilmu pengetahuan yang disinggung Al-Qur’an salah satunya ialah anatomi tubuh manusia. 

Manusia dalam keadaan kesempurnaan fisiknya dapat dibagi dalam beberapa bagian. Antara bagian satu dengan lainnya memiliki struktur dan fungsi yang berbeda. Antara organ satu dengan organ lainnya membutuhkan kerja dan aktifitas penuh dalam menunjang kehidupan manusia. Sistem saraf akan sempurna bila didukung oleh sistem jantung, hati, ginjal, paru-paru, dan organ lainnya. Atas keteraturan tersebut, sepatutnya manusia dapat mempertimbangkan bahwa dibalik susunan dan struktur organ-organ tersebut tersimpan rahasia luar indrawi. Keteraturan dan keseimbangan fungsi organ akan mengalami ketundukan dalam sistem yang telah ditetapkan oleh sang Pencipta organ sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an, sehingga manusia dapat mempertimbangkan untuk senantiasa memelihara dan menjaganya sampai kapanpun. [5]

Organ tubuh manusia terdiri atas saraf, jantung, hati, ginjal, paru-paru, dan organ lainnya. Organ tersebut memiliki kapasitas dan unsur-unsur yang berbeda-beda. Aktifitas dari organ-organ tersebut dalam pertumbuhan dan perkembangan menyesuaikan dengan perkembangan usia dan sistem kerja organ lainnya. [6]

Berikut ini akan dipaparkan salah satu organ tubuh manusia yang memiliki keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang fakta penciptaan dan kebangkitan kembali manusia dari tulang sulbi (tulang ekor). 

Pengertian Tulang Sulbi 
Sulbi secara bahasa berarti kasar, kuat (ghalidz), keras (syadid). Sulbi adalah tulang punggung dari sisi paling atas sampai akhir paling bawah. [7] Kamus-kamus bahasa menyepakati bahwa as-Solb adalah tulang punggung dari pundak sampai bagian punggung paling bawah. Jamaknya as-Solb adalah aslab dan aslāb. As-Solb juga berarti keturunan dan dikatakan juga mempunyai arti keturunan bangsa Arab, yakni orang yang murni bangsa dan keturunan Arab. [8] 
Kata sulbi (صلب) dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 8 kali di dalam 7 surah dengan arti yang berbeda-beda. Setidaknya terdapat 3 arti, yaitu: QS. An-Nisa’: 157, QS. Yusuf : 41, QS. Al-A’raf : 124, QS. Thaha: 71, QS. Asy-Syu’ara: 49, dan QS. Al-Maidah: 33, dengan arti salib, menyalib. Kemudian dalam QS. Ath-Thariq: 7 dengan arti tulang sulbi (punggung), dan QS. An-Nisa’: 23 dengan arti anak kandung. [9] 
Analisis terakhir sebagaimana disampaikan oleh kebanyakan kamus-kamus dan tafsir-tafsir, ditemukan bahwa as-Solb bersinonim dengan az-Zuhr, yaitu bagian tertentu dari punggung bukan keseluruhan bagian punggung. Sebagaimana dijelaskan dalam surah Al-A’raf: [10]

وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. “(Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS. Al-A’raf: 172)

Tulang sulbi (coccyx), adalah tulang terakhir pada rangkaian tulang belakang pada kera dan manusia (yaitu primata tak berekor), terbentuk oleh penggabungan 3-5 tulang ekor. [11] Tulang sulbi (sulbi, tulang belakang) mencakup tulang belakang dan dada (thorax/toraks), tulang belakang pinggang (lumbar), dan tulang kelangkang (sacrum/sakrum). 

Dilihat dari sudut pandang sistem saraf, dia mencakup pusat reproduksi yang memberikan perintah untuk ereksi, memancarkan sperma, dan menyiapkan kebutuhan-kebutuhan (prasyarat) aktivitas seksual. Sistem reproduksi diikat oleh saraf pembuluh darah (nerveplexus) yang muncul dari tulang belakang. Diantaranya adalah solar plexus (plexus jaringan saraf-saraf simpatis yang terletak di belakang lambung dan di depan aorta), hypogastric plexus (yang terletak antara bulu kemaluan dan pusat), plexus pelvinus NA (plexus hypogastricus inferior NA) (yang terletak di panggul). [12] 

Dalam plexus-plexus ini, ada dua yang saling terjalin, yakni sympathetic dan parasympathetic yang bertanggung jawab atas pengempisan/penurunan dan pengembangan/penaikan pembuluh-pembuluh, juga ereksi dan pengenduran syahwat serta berkaitan dengan kesempurnaan persetubuhan. Ini karena parasympathetic nervous system adalah bagian dari sistem saraf otonom yang menurunkan aktivitas fungsi tubuh, sedangkan sympathetic nervous system adalah bagian dari sistem saraf otonom yang menaikkan aktivitas fungsi tubuh. 

Bagian tulang belakang yang berperan dalam pengikatan saraf ini sejajar dengan bagian punggung kedua belas, lumbar pertama dan kedua, tulang ekor bagian kedua, ketiga, dan keempat. [13]

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa tulang sulbi adalah asal mula penciptaan manusia.

FUNGSI TULANG SULBI 

1. Asal Mula Penciptaan Manusia 

Allah SWT berfirman:
  يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ  خُلِقَ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ  فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ 
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia (manusia) diciptakan dari air yang terpancar, yang ke luar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada”. (QS. Ath-Thariq: 5-7).

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan manusia dari “air yang dipancarkan, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.” Di zaman sekarang, dalam tahap embrio, sains memberitahu bahwa organ kemaluan manusia, testikel pada pria dan ovarium pada wanita mulai berkembang di sekitar ginjal, antara sumsum tulang belakang, tulang rusuk kesebelas dan keduabelas. [14]

Seiring perkembangannya, mereka turun. Ovarium (sel telur wanita) berhenti dipanggul, sementara testis pada pria turun menuju skrotum (kantong buah pelir). Setelah penurunan itu, pada kehidupan seorang dewasa, mereka masih mendapat suplai syaraf dan tempat yang sama, yaitu di antara tulang belakang dan rusuk. [15] Dengan kata lain, tulang sulbi merupakan sumber yang mensuplai darah pada testis dan ovari yang terletak di antara tulang sulbi dan tulang dada, yaitu pembuluh darah vesticular artery (sistem pembuluh darah) dan ovary artery (pembuluh darah yang memasok darah beroksigen ke ovarium pada wanita) bermula dari satu tempat antara tulang sulbi dan tulang dada. [16] 

2. Berperan dalam Proses Pembentukan Organ 
Sel-sel lapisan tengah janin yang dihasilkan oleh pita primer memiliki keistimewaan berupa kemampuan yang luar biasa untuk melakukan pembelahan diri secara cepat, melakukan variasi dan spesifikasi, dan melakukan mutasi (perpindahan) dalam rangka membentuk beragam jenis dan jaringan tertentu, serta organ dan sistem tertentu. Adapun model variasi yang dilakukan sel-sel ini adalah pergerakannya dari simpul primer janin guna membentuk patok-patok pertama urat saraf punggung (notochord) yang menjadi cikal bakal pembentukan sistem saraf dengan beragam sub-subdivisinya. [17] Hingga akhir minggu keempat sejak pembuahan, pita primer terus-menerus bekerja membentuk sel-sel tengah dalam tubuh janin dengan penuh semangat. Setelah itu, ia berangsur-angsur melamban dalam memproduksi sel-sel tersebut, untuk kemudian menyusut cepat, hingga berukuran sangat kecil dan nyaris tidak terdeteksi, kemudian ia berangsur-angsur ditarik mundur ke daerah selangkangan atau tulang tungging janin (the sacrococcygeal region of the embrio). [18]

Kalangan ilmuwan disiplin embriologi dewasa ini menyadari bahwa sel-sel pita primer telah dianugerahi kemampuan yang luar biasa oleh Allah Sang Maha Pencipta untuk melakukan proses perpaduan sel-sel khusus. Oleh karena itu, ia disebut dengan nama “sel pita primer yang multipotensi” (pleuropotent primitive streak cells). Keistimewaan sel-sel ini dan sensitivitasnya yang luar biasa tampak jelas dari pertumbuhannya yang sangat cepat layaknya sejumlah tumor pengubah bentuk (teratoma) yang mengandung jaringan-jaringan, atau bermacam-macam organ jika ia terkena beberapa pengaruh, misalnya sinar. Hal ini menunjukkan kemampuan sel-sel tulang ekor/sulbi untuk membentuk seluruh jaringan dan organ tubuh selama proses pembentukan dirinya. [19] Ia juga mengisyaratkan kemampuannya untuk tumbuh, layaknya tumbuhan pada hari kebangkitan kelak dengan hanya disiram air khusus dari langit. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits:

"Kemudian Allah SWT menurunkan air khusus dari langit, sehingga mereka tumbuh seperti tumbuhnya kecambah."

Abu Hurairah menambahkan:

"Tidak ada bagian tubuh manusia kecuali akan binasa, kecuali hanya satu tulang. Ia adalah tulang ekor. Darinyalah manusia akan dirakit pada hari kiamat." [20]

3. Penghubung Antara Tulang Otak dengan Saraf 
Perasaan dan Otot Penggerak Tulang sulbi adalah tulang punggung dari sisi paling atas sampai akhir paling bawah. Allah menjadikan tulang punggung dari rangkaian beberapa ruas tulang, untuk memudahkan tegak lurus dan membungkuk, sekiranya ia terdiri dari selonjor tulang, maka tidak mungkin ia membungkuk. Tetapi seandainya ia terdiri dari ruas yang kecil-kecil, maka ia lebih mudah membungkuk dari pada tegak, sehingga sumsum di dalamnya pun tidak terpelihara. Oleh sebab itu ia dijadikan sedemikan rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik, dapat membungkuk dan dapat memelihara sumsum yang menghubungkan perasaan dengan otak. [21] 

Bagi tiap-tiap ruas tulang punggung itu empat bagian luar yaitu: lapisan tulang rawan, tulang belakang dan tulang sendi di bagian  kanan dan kiri. Lapisan tulang rawan itu agar tidak mudah pecah ketika terkena benda yang keras, sedangkan tulang keras yang di belakang untuk melindungi ruas tulang dari benturan benda lain. Rangkaian tulang-tulang ruas itulah yang menjadi kesatuan tulang punggung, kemudian diikat antara satu dengan lainnya dengan pengikat yang kuat, sehingga kelihatan hanya selonjor tulang.

Adapun tulang sendi yang ada di kanan dan kiri, adalah tempat memasang tulang rusuk untuk melindungi tulang punggung dari kiri dan kanan, sebagaimana tulang belakang melindunginya dari belakang. [22] Adanya otak menjadi pusat segala perasaan dan pikiran, dan harus berhubungan dengan seluruh anggota tubuh, sedangkan urat saraf tidak cukup untuk menghubungkan seluruh anggota dengan otak, maka sumsum yang di dalam tulang punggung itulah yang menghubungkan antara otak dengan saraf perasaan dan otot penggerak. Apabila badan terkena panas atau dingin, ataupun terkena suatu benda yang menyakitkan, maka perasaan itu disampaikan urat saraf kepada sumsum, dan sumsum itulah yang melanjutkan ke otak. Maka dengan spontan otak memerintahkan anggota-anggota badan melalui urat saraf penggerak untuk menolak segala gangguan itu. [23]

Di sepanjang tulang punggung terdapat dua puluh sembilan pasang saraf perasaan dan saraf penggerak, yang terletak pada kedua belah sampingnya. Perhatikanlah susunan otak, tulang punggung dan urat saraf, dalam hubungan antara satu dengan lainnya, berproses sebagai tenaga listrik, dengan sekejap mata mengirimkan listrik melalui urat saraf keseluruh anggota badan. [24]

KEISTIMEWAAN TULANG SULBI 

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan tulang sulbi dengan redaksi kata (الصلب) dengan arti tulang punggung, yaitu pada surah  ath-Thariq ayat yang ke-7, sementara di dalam hadits Rasulullah SAW, tulang sulbi ini dibahasakan dengan (الذنب عجب’) ajb adz-dzanab dengan arti tulang ekor.

Sejauh ini belum dijumpai kitab tafsir yang merelevansikan antara surah ath-Thariq ayat 7 dengan hadits tersebut. Akan tetapi dalam buku yang berjudul “Al-Qur’an VS Sains Modern Menurut Dr. Zakir Naik Sesuai atau Tidak Sesuai?” oleh Ramadhani dkk, dijelaskan bahwa tulang sulbi merupakan salah satu bagian dari tubuh manusia yang jarang diketahui. Tulang sulbi adalah bagian paling ujung dari tulang belakang manusia, mungkin lebih dikenal dengan sebutan tulang ekor. Dari buku tersebut dapat direlevansikan antara surah ath-Thariq ayat 7 dengan hadits Rasulullah SAW tentang tulang ekor.

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa sulbi adalah tulang punggung dari sisi paling atas sampai akhir paling bawah. Kamus-kamus bahasa juga menyepakati bahwa as-Solb adalah tulang punggung dari pundak sampai bagian punggung paling bawah, maka dapat diambil kesimpulan bahwa tulang sulbi yang disebutkan dalam Al-Qur’an merupakan satu bagian dengan ‘ajb adz-dzanab tulang ekor yang disebut dalam hadits. Karena tulang sulbi adalah bagian tulang belakang yaitu tulang punggung dari pundak sampai bagian punggung paling bawah, sementara ‘ajb adz-dzanab adalah tulang ekor yaitu bagian paling ujung dari tulang belakang tersebut.

Dr. Zaghul an-Najjar mengemukakan dalam bukunya, Al-I’jaz ‘Ilmi fi as-Sunnah an-Nabawiyyah, bahwa dalam sejumlah hadits Nabi, ‘ajb adz-dzanab (tulang ekor) disebut sebagai pangkal (benih dasar) yang menjadi titik tolak penciptaan manusia sewaktu dalam proses pembentukan janin dan ia akan tetap utuh meski seluruh tubuh telah hancur lebur dimakan tanah. Selanjutnya menjadi “benih” dan dihidupkannya kembali manusia pada hari kebangkitan. [25]

Salah satu hadits Nabi SAW tentang tulang ekor, adalah:

 كل ابن ادم يأ كله الرتاب إال عجب الذنب منه خلق و فيه يركب
“Seluruh (bagian tubuh) anak Adam akan dimakan tanah kecuali tulang ekor. Darinyalah ia diciptakan dan dengannyalah ia dirakit kembali” [HR. Muslim].

Hadits ini mengandung fakta-fakta ilmiah yang belum bisa dimengerti dan dipahami oleh ilmu pengetahuan kecuali baru pada beberapa tahun terakhir. Yaitu ketika para spesialis embriologi sebagaimana dikutip Dr. Muhammad Ali al-Barr dalam sebuah kajian panjang, mampu membuktikan bahwa semua bagian tubuh manusia tumbuh dari pita yang sangat kecil yang disebut dengan “pita pertama atau pita dasar”.

Pita ini tercipta dengan kekuasaan Allah SWT pada hari kelima belas setelah pembuahan ovum dan penanamannya di dalam dinding rahim. Tidak lama setelah itu, janin pun terbentuk ketiga tingkatannya dimana pada masing-masing tingkatan organ-organ tubuh tercipta, diawali dengan sistem saraf dan permulaan-permulaan terbentuknya tulang belakang. Pita sangat kecil ini diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk menjadi katalisator bagi organ-organ tubuh dalam membelah, menspesialisasi, membedakan diri, dan mengumpul dalam jaringan khusus. Dan semua organ tubuh saling melengkapi dan membantu dalam menjalankan seluruh fungsi tubuh. [26]
Dan ternyata, riset membuktikan bahwa pita pertama ini menyusut hingga terbenam di dalam pangkal tulang sulbi di ujung tulang belakang. Dan inilah yang dimaksud dengan tulang ekor dalam hadits Rasulullah SAW di atas. 
Ketika seseorang meninggal dunia, maka seluruh organ tubuhnya akan rusak dan musnah kecuali tulang ekornya yang disebutkan oleh beberapa hadits Rasulullah SAW sebagai bibit penciptaan kembali manusia pada hari kiamat. [27] Hadits Nabi ini juga hadir sebagai nota penjelasan atas firman Allah SWT:

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنقُصُ ٱلْأَرْضُ مِنْهُمْ ۖ وَعِندَنَا كِتَٰبٌ حَفِيظٌۢ
“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat)." (QS. Qaf: 4).

Dari petunjuk hadits nabawi dan ayat suci ini, dapat ditarik benang merah bahwa setelah tubuh orang-orang yang meninggal dunia yang ada di kubur terurai menjadi komponen-komponen dasar penyusunnya, yaitu air dan debu bumi, maka tidak ada yang tersisa kecuali satu komponen penting. Oleh karena itu, ayat suci diatas menyinggung ihwal air dan debu dengan ungkapan “apa yang dihancurkan oleh bumi (dari tubuh-tubuh mereka)”. Seolah-seolah yang asli dari diri mereka adalah apa yang tersisa setelah hilangnya semua itu.

Rasulullah SAW juga menjelaskan apa yang tersisa dari tubuh mayyit setelah mengalami penguraian, yaitu tulang ekor. Ia adalah tulang mirip biji sawi yang menjadi pangkal penciptaan, dan akan menjadi titik mula perakitan kembali manusia pada hari kebangkitan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ia adalah komponen terpenting di dalam tubuh manusia. [28] Lebih dari itu, dan ini yang terpenting, ‘ajbu dz-dznab atau tulang ekor, sari rikadatu atau relix dalam bahasa Hindu-Budha, berdasarkan penelitian mutakhir, sebagaimana yang disampaikan oleh Jamil Zaini, Trainer Asia Tenggara Kubik Jakarta ketika mengisi acara buka puasa bersama di al Azhar-Solo Baru dengan tajuk, “Inspiring Day, Inspiring The Spirit of Life”, tulang ekor ini merekam semua perbuatan anak Adam, dari sejak lahir hingga meninggal dunia. Ia merekam semua perbuatan baik buruk mereka. Dan perbuatan mereka ini akan berpengaruh pada kondisi tulang ekornya. Putih bersih atau hitam kotor. Semakin banyak energi positif atau kebaikan seseorang maka semakin bersih tulang ekornya, dan semakin banyak energi negatif atau keburukan seseorang maka semakin hitamlah tulang ekornya. [29] 

Pendapat lain dari Dr. Ahmad Syawqi Ibrahim yang secara akademis mempunyai latar belakang pendidikan dibidang kedokteran, menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Al I’jaz Al ‘Ilmi Hadits An Nabawi Khalqun Insan, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘ajbudz dzanab bukanlah ujung tulang ekor seperti yang terlintas dalam benak kebanyakan ulama, melainkan adalah atom. Maka, perbedaan di antara kedua ilmuwan ini mengenai ‘ajbudz dzanab ialah, Dr. Zaghul an-Najjar menjelaskan didalam bukunya yang di maksud dengan ‘ajbudz dzanab adalah tulang ekor, dan sel-sel tulang ekor ini tidak akan hancur. Sedangkan menurut Dr. Ahmad Syawqi Ibrahim yang dimaksud dengan ‘ajbudz dzanab adalah atom, bukan tulang sulbi.

Adapun persamaan pendapat kedua ilmuwan ini tentang ‘ajbudz dzanab adalah bahwa ada sel-sel atau atom yang tidak hancur dari tulang tersebut, karena dari sel-sel atau atom itulah manusia dibangkitkan kembali dihari akhir kelak -- Wallahu’alam bish Shawab.

TULANG SULBI DALAM PERSPEKTIF TAFSIR DAN OSTEOLOGI 

  يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ  خُلِقَ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ  فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ 
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan. Dia (manusia) diciptakan dari air yang terpancar, yang ke luar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada”. (QS. Ath-Thariq: 5-7).

Thantawi Jauhari menjelaskan dalam tafsir al-Jawahir, Yakhruju min bain ash-Shulbi wa at-Tarā’ib, yaitu air mani yang keluar dari laki-laki dan perempuan, karena air mani tersebut keluar dari keduanya lalu bersatu kemudian. [30] Dan ketahuilah bahwa dalam otak terdapat pusat akal dan fikiran, dan sebagai penggantinya dalam tubuh adalah jaringan syaraf yang terdapat pada tulang punggung. Jaringan syaraf ini memiliki banyak cabang yang tersambung ke seluruh anggota tubuh untuk mengingatkan anggota tubuh yang bergerak sehingga dapat melakukan sesuatu. Dan tak akan ada kemampuan berjima’ (bersetubuh) kecuali dengan adanya jaringan syaraf tersebut. Dan sudah diketahui bahwa tarā’ib yang merupakan tulang dada perempuan adalah tempat kalung dan perhiasan yang menghiasi wanita.

Maka hal terpenting bagi lakilaki saat berhubungan suami istri adalah kekuatan otot dan syaraf yang berada pada jaringan syaraf di tulang punggung. [31] Adapun pada perempuan, hal yang paling terpenting saat itu adalah keindahan perhiasan, dan yang paling terpenting adalah apa yang ada di dadanya (hatinya). Apabila baik dadanya (hatinya) dan indah perhiasannya, maka sempurnalah keadaan yang dengannya ia mendapat keturunan. Atas dasar inilah kaum laki-laki diungkapkan dengan shulbi (tulang punggung) dan perempuan dengan tarā’ib (tulang dada). Ini merupakan salah satu keindahan bahasa. [32] Dalam Ilmu Bayan disebut dengan majaz mursal, yaitu menyandarkan pada satu bagian terpenting namun bagian tersebut dapat mencakup keseluruhannya, sebagaimana halnya jika menyebut kata raqabah (leher) untuk mengungkapkan seorang budak dan ra’sun (kepala) untuk mengungkapkan kata kabsyun (domba jantan), yang dimaksud adalah budaknya secara utuh, bukan hanya lehernya saja. Yang dimaksud adalah domba jantan secara utuh, bukan kepalanya saja. Akan tetapi karena anggota tubuh tersebut (shulbi dan tarā’ib)  adalah hal yang istimewa dalam diri keduanya (suami dan istri/lakilaki dan perempuan), maka keduanya pun diungkapkan dengan shulbi dan tarā’ib. [33]

Begitulah dalam masalah ini, setiap suami dan istri memiliki anggota tubuh yang istimewa yang digunakan sebagai ungkapan sehingga sempurnalah usaha mereka untuk memperoleh keturunan. [34]

Kemudian Imam ar-Razi menjelaskan dalam tafsir Mafatihul Ghaib, bahwasanya lahirnya manusia yang awalnya dari setetes air adalah tanda adanya pencipta, adalah tanda-tanda yang sangat jelas atas keberadaan Allah SWT. Beberapa dalil keberadaan Allah:
  1. Susunan yang begitu mengagumkan pada tubuh manusia begitu sangat komplek, maka lahirnya tubuh dari unsur yang sangat sederhana menunjukkan keberadaan yang Maha Kuasa. 
  2. Pengetahuan manusia terhadap keadaan dirinya melebihi pengetahuannya terhadap yang lain, maka ketidaksempurnaan pengetahuan ini adalah dalil kesempurnaan Allah. 
  3. Bahwasannya apa yang dilihat oleh manusia dari keadaankeadaan ini pada diri anaknya dan anak-anak hewan yang terus berkelanjutan merupakan bentuk dalil yang kuat terhadap adanya Sang Pencipta. 
  4. Kesimpulan pada bab ini, yaitu bentuk dalil atas keberadaan sang pencipta yang arif bijaksana, dan menjadi dalil pasti adanya hari berbangkit, mahsyar dan perhitungan. [35] 
Karena penciptaan manusia disebabkan oleh susunan bagian-bagian yang berbeda-beda pada tubuh kedua orang tuanya. Bahkan semua makhluk seperti itu. Maka tatkala pencipta mampu menyusun bagian-bagian yang berbeda-beda tersebut sehingga tercipta dari manusia yang sama, maka wajib kita katakan: sesungguhnya setelah kematiannya dan terpisahnya semua anggota badan maka ini menunjukkan mampunya Pencipta untuk menyusun kembali bagianbagian tubuh yang sudah terpisah-pisah itu dan kembali menjadikan seperti semula. [36] 

Kamus-kamus bahasa menyepakati bahwa as-Solb adalah tulang punggung dari pundak sampai bagian punggung paling bawah. Jamaknya as-Solb adalah aslab dan aslāb. As-Solb juga berarti keturunan dan dikatakan juga mempunyai arti keturunan bangsa Arab, yakni orang yang murni bangsa dan keturunan Arab. Adapun at-Tarā’ib, kata dasarnya adalah tarībah yaitu tulang dada, sesuatu yang dekat dengan leher, sesuatu yang berada diantara buah dada dan tulang selangka, 4 tulang rusuk dari bagian kanan dan 4 tulang rusuk dari bagian kiri, atau tempat dibagian dada yang biasa dipakai kalung. [37] 

Sebagian mufassir mengatakan bahwa as-Solb adalah tulang sulbi laki-laki dan at-Tarā’ib adalah tulang dada perempuan. Dan, sebagian yang lain mengatakan: sesuatu yang keluar dari antara tulang sulbi adalah salah satu dari laki-laki dan perempuan, sedangkan dari Tarā’ib adalah keduanya.

Analisis terakhir sebagaimana disampaikan oleh kebanyakan kamus-kamus dan tafsir-tafsir, ditemukan bahwa as-Solb bersinonim dengan az-Zuhr, yaitu bagian tertentu dari punggung bukan keseluruhan bagian punggung. Begitu juga ditemukan bahwa maksud tarā’ib bukan seluruh tulang rusuk, tetapi tulang rusuk tertentu. [38] 

Telah diketahui bahwa tulang belakang terdiri dari 7 tulang belakang leher, 12 tulang dada, 5 tulang lumbar, 5 tulang ekor, dan  5 tulang pinggul. As-Solb (tulang sulbi) dimulai dari pundak. Tulang belakang leher bukan merupakan bagian dari tulang sulbi. Adapun ujung tulang sulbi yaitu pangkal punggung. Tulang sulbi adalah: tulang belakang dada + tulang lumbar + pangkal punggung, setara: 12+5+5 = 22 tulang belakang. Adapun at-Tarā’ib bukan merupakan tulang rusuk dada sebagaimana diketahui pada umumnya, melainkan pengkhususan, 4 tulang rusuk dari bagian kanan dada, 4 tulang  tulang rusuk dari bagian kiri dada yang mengikuti tulang selangka ditempat pemakaian kalung. [39]


Keterangan gambar:

A. Tulang Belakang 
Tulang Belakang (columna vertebralis) merupakan penopang tubuh utama. Terdiri atas jejeran tulang-tulang belakang (vertebrae). Di antara tulang-tulang vertebrae terdapat discus invertebralis merupakan tulang rawan  yang membentuk sendi yang kuat dan elastis. Discus invertebralismemungkinkan tulang belakang bergerak ke segala arah. Jika dilihat dari samping, tulang belakang membentuk lekukan leher (cervix), lekukan dada (thorax), lekukan pinggul (lumbar), dan lekukan selangkang (sacral). [40]
Fungsi columna vertebralis sebagai penopang badan yang kokoh sekaligus bekerja sebagai penyangga dengan perantaraan tulang rawan cakram intervertebralis yang lengkungnya memberi fleksibilitas untuk membengkok tanpa patah. [41] Lengkungan ini berfungsi sebagai penyangga berat dan memungkinkan manusia melakukan berbagai jenis posisi gerak. [42]

Bentuk ruas tulang belakang terdiri dari 12 ruas yang terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Badan ruas, merupakan bagian yang terbesar dengan bentuk tebal dan kuat yang terletak disebelah depan 
  2. Lengkung ruas, yang melingkari dan melindungi lubang ruas tulang belakang [43] 
Bagian ruas tulang belakang terdiri dari:
  1. Vertebra servikalis (tulang leher) ada 7 ruas 
  2. Vertebra torakalis (tulang punggung) ada 12 ruas 
  3. Vertebra lumbalis (tulang pinggang) ada 5 ruas 
  4. Vertebra sakralis (tulang kelangkang) ada 5 ruas 
  5. Vertebra koksigialis (tulang ekor) ada 4 ruas [44] 

B. Tulang Dada (Sternum) dan Tulang Rusuk (Costa)

Tulang dada terdiri atas bagian hulu atau tangkai (manubrium sterni), bagian badan (corpus sterni), dan taju pedang (processus xyphoideus). Tulang rusuk terdiri atas 12 pasang tulang rusuk, yaitu 7 pasang rusuk sejati (costa vera), 3 pasang rusuk tak sejati/palsu (costaspuria), dan 2 pasang rusuk melayang (costafluctuantes). [45] Bersama lekukan thorax pada tulang belakang, tulang dada dan tulang rusuk membentuk rongga dada (thorax) yang melindungi organ-organ penting seperti jantung, paru-paru, dan pembuluh darah. Tulang rusuk terdiri dari 12 pasang. Ujung belakangnya melekat pada ruas-ruas tulang belakang.

Tulang rusuk dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu: tulang rusuk sejati berjumlah tujuh pasang. Ujung belakangnya melekat pada ruas-ruas tulang belakang, sedangkan ujung depan melekat pada tulang dada. Tulang rusuk palsu berjumlah tiga pasang. Ujung belakang melekat pada tulang belakang dengan ujung depan melekat pada tulang rusuk di atasnya. Tulang rusuk melayang berjumlah dua pasang. Ujung belakang melekat pada tulang belakang, sedangkan ujung depan bebas tidak melekat. [46] Tulang rusuk merupakan tulang yang menyatu dengan tulang dada pada bagian depan dan menyatu dengan tulang belakang pada bagian belakang. Jadi ash-Shulbi wa at-Tarā’ib (tulang punggung dan tulang dada) itu menyatu.
Kemudian, dilihat dari aspek neurologi (saraf) tulang sulbi mencakup pusat reproduksi yang memberi perintah untuk ereksi, ejakulasi, dan menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan oleh kerja seksual. Selain itu, sistem reproduksi juga dikelilingi oleh aneka ragam jaringan saraf (plexus) yang berasal dari tulang sulbi, diantaranya solar plexus(plexus jaringan saraf-saraf simpatis yang terletak di belakang lambung dan di depan aorta), hypogastric plexus (yang terletak antara bulu kemaluan dan pusar), dan pelvis plexus (yang terletak dipanggul). [47] Di dalam jaringan saraf plexus ini terjadi jibaku antara saraf-saraf simpatik dan parasimpatik yang bertanggung jawab terhadap penyempitan dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah, ereksi, ejakulasi, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kerja seksual. [48] 

Keterangan gambar:
peranan utama kompenen simpatik dan parasimpatik sistem saraf otonom pada divis motoris dalam mengatur fungsi tubuh bagian internal. Saraf parasimpatik sistem saraf otonom berasal dari otak bagian bawah dan wilayah sakral sumsum tulang belakang. Saraf simpatik berasal dari wilayah tengah (toraks dan lumbar) sumsum tulang belakang. Sebagian besar jalur otonom terdiri atas dua neuron. Sinapsis diantara kedua neuron tersebut berada di dalam ganglion dalam sistem saraf tepi. Pada masing-masing pasangan, neuron yang mengirimkan sinyal dari sistem saraf pusat ke ganglion disebut neuron praganglionik yang membebaskan asetilkolin pada sinapsis. Neuron yang mengirimkan sinyal dari ganglion ke organ target disebut neuron pascaganglionik. Perhatikan pada diagram diatas, bahwa beberapa jalur simpatik meliputi suatu sinapsis ganglia simpatik yang menonjol dekat dengan sumsum tulang belakang. Sedang ganglia lain kurang menonjol, ganglia neuron parasimpatikterletak di dekat atau di dalam organ target. Sebagian besar akson simpatik membebaskan neurotransmitter norepinefrin pada organ targetnya. Neuron parasimpatik membebaskan asetilkolin. [49]


KESIMPULAN 

Dilihat dari sisi anatomi tubuh manusia, ash-Shulbi wa at-Tarā’ib (tulang punggung dan tulang dada) ini mencakup tulang belakang yang terdiri dari 7 tulang belakang leher, 12 tulang dada, 5 tulang lumbar, 5 tulang ekor, dan 5 tulang pinggul. 

As-Solb (tulang sulbi) dimulai dari pundak.Tulang sulbi adalah: tulang belakang dada + tulang lumbar + pangkal punggung, setara: 12+5+5 = 22 tulang belakang. Adapun atTarā’ib bukan merupakan tulang rusuk dada sebagaimana diketahui pada umumnya, melainkan pengkhususan, 4 tulang rusuk dari bagian kanan dada, 4 tulang rusuk dari bagian kiri dada yang mengikuti tulang selangka ditempat pemakaian kalung.

Dilihat dari sisi neurologi (saraf) tulang sulbi mencakup pusat reproduksi yang memberi perintah untuk ereksi, ejakulasi, dan menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan oleh kerja seksual. Selain itu, sistem reproduksi juga dikelilingi oleh aneka ragam jaringan saraf (plexus) yang berasal dari tulang sulbi, diantaranya solar plexus (plexusjaringan saraf-saraf simpatis yang terletak di belakang lambung dan di depan aorta), hypogastric plexus (yang terletak antara bulu kemaluan dan pusar), dan pelvis plexus (yang terletak di pinggul).

Kemudian yang paling menarik adalah, tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW di dalam hadits, serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut.


[Oleh Nirwana Dewi & Afrizal Nur | UIN Sultan Syarif Kasim Riau]

CATATAN KAKI
[1] Azhar, Manusia dan Sains dalam Perspektif Al-Qur’an, (Lantanida Jurnal, Vol. 4 No. 1, 2016), hal. 72
[2] Afrizal Nur, Relasi penafsiran Ayat 18 Surat Ibrahim dengan Sains, h. 2, disampaikan pada Seminar Nasioanl di UNISI Tembilahan, 25 Maret 2019.
[3] Eva Iryani, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan, (Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol. 17 No. 3 Tahun 2017), hal. 66
[4] Ridwan Abdullah Sani, Sains Dalam Al-Quran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), hal. 10.
[5] Haerani Harun dan Tamrin, Fungsi Organ Tubuh Manusia dari Sisi Medis dan Al-Qur’an, (Jurnal Inspirasi, No XIV Edisi Oktober 2011), hal. 1
[6] Ibid Nun, Vol. 4, No. 2, 2018
[7] Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, hal. 369-370
[8] Duktur Muhammad Fayyadh, I’jaz Ayat Al-Qur’an fi Bayani Khalaq al-Insan, terj. Leni Nurazizah,(Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2015), hal. 59
[9] Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Al-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Fazh Al-Qur’an Al-Karim, (Kairo: Dar al-Hadits), hal. 409-410
[10] Duktur Muhammad Fayyadh, I’jaz Ayat Al-Qur’an fi Bayani Khalaq al-Insan, terj. Leni Nurazizah, hal. 59
[11] Elizabeth A. Martin, Kamus Sains, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), terj. Ahmad Lintang Lazuardi, hal. 1130
[12] Dr. Ahsin Sakho Muhammad dkk, Ensiklopedi Kemukjizatan Ilmiah dalam al-Quran dan Sunnah 2, terj. Masturi Ilham Lc dkk, (Jakarta: PT Kharisma Ilmu, 2009), hal. 45
[13] Ibid. Nun, Vol. 4, No. 2, 2018 
[14] Dr. Zakir Naik, Al-Qur’an VS Sains Modern Menurut Dr. Zakir Naik Sesuai atau Tidak Sesuai? (Yogyakarta: Sketsa, TT), hal. 199
[15] Ibid. 86
[16] Ibid.
[17] Prof. Dr. Zaghul Raghib al-Najjar, Pembuktian Sains dalam Sunah,buku 1,terj. Zainal Abidin dkk, (Jakarta: Amzah, 2006), hal. 502
[18] Ibid.
[19] Ibid, hal. 503
[20] Ibid, hal 503
[21] Mochamadiyah Ja’far, Qur’an & Ilmu Pengetahuan Moderen, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1984) hal. 140
[22] Ibid, hal. 141
[23] Ibid.
[24] Ibid.
[25] Samir Abdul Halim dkk, Ensiklopedia Sains Islami, (Tangerang: Penerbit Kamil Pustaka,  hal. 99)
[26] Ibid, hal. 90
[27] Ibid, hal. 91
[28] Prof. Dr. Zaghul Raghib al-Najjar, Buku Pintar Sains Dalam Hadits Mengerti Mukjizat Ilmiah Sabda Rasullah, terj. Yodi Indrayadi, Lc dan Tim Penerjemah Zaman, (Jakarta: Zaman, 2013) hal. 496
[29] Nurliani Rahma Dewi dan Tim, Alam Dalam Juz 30, (Depok: Kuttab Al Fatih, 2016), hal. 83-84)
[30] Thantawi Jauhari, Al-Jawahir, (Beirut: Dar al-Fikr, T.TH), hal. 114
[31] Ibid, hal. 114
[32] Ibid.
[33] Ibid
[34] Ibid
[35] Abu Abdillah Muhammad bin ‘Amr bin Hasan bin Husain Taimi Ar-Razi, Mafatihul Ghaib, (Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabiy, 1420 H), hal. 120
[36] Ibid
[37] Duktur Muhammad Fayyadh, I’jaz Ayat Al-Qur’an fi Bayani Khalaq al-Insan, terj. Leni Nurazizah, hal. 59
[38] Ibid, hal. 59
[39] Ibid, hal. 59-60
[40] http://guratansemangat.blogspot.com/2016/09/struktur-dan-fungsi-rangkamanusia.html.
[41] Setiadi, Anatomi Dan Fisiologi Manusia, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hal. 287
[42] http://guratansemangat.blogspot.com/2016/09/struktur-dan-fungsi-rangka-
[43] Setiadi, Anatomi Dan Fisiologi Manusia, hal. 286
[44] Ibid
[43] Setiadi, Anatomi Dan Fisiologi Manusia, hal. 286
[44] Ibid
[45] http://guratansemangat.blogspot.com/2016/09/struktur-dan-fungsi-rangka-manusia.html.
[46] http://guratansemangat.blogspot.com/2016/09/struktur-dan-fungsi-rangka-manusia.html.
[47] Samir Abdul Halim dkk, Ensiklopedia Sains Islami, hal. 50
[48] Ibid, hal. 50
[49] Neil A. Campbell dkk, Biologi Edisi Kelima Jilid III, terj. Wasmen Manalu, (Jakarta: Erlangga, 2000), hal. 220 

DAFTAR PUSTAKA 
  • A. Martin, Elizabeth. Kamus Sains. terj. Ahmad Lintang Lazuardi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
  • al-Najjar, Zaghul Raghib. Buku Pintar Sains Dalam Hadits Mengerti Mukjizat Ilmiah Sabda Rasullah, terj. Yodi Indrayadi, Lc dan Tim Penerjemah. Jakarta: Zaman, 2013. 
  • al-Najjar, Zaghul Raghib. Pembuktian Sains dalam Sunah. Buku 1terj. Zainal Abidin dkk. Jakarta: Amzah, 2006. 
  • Afrizal Nur, Relasi penafsiran Ayat 18 Surat Ibrahim dengan Sains, disampaikan pada Seminar Nasioanl di UNISI Tembilahan, 25 Maret 2019. 
  • Ar-Razi, Abu Abdillah Muhammad bin ‘Amr bin Hasan bin Husain Taimi. Mafatihul Ghaib. Beirut: Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabiy, 1420 H. 
  • Baqi, Muhammad Fu’ad Abdul. Al-Mu’jam Al-Mufahras li Al-Fazh Al-Qur’an Al-Karim. Kairo: Dar al-Hadits. TT. 
  • Dewi, Nurliani Rahma dan Tim. Alam Dalam Juz 30. Depok: Kuttab Al Fatih, 2016. 
  • Halim, Samir Abdul dkk. Ensiklopedia Sains Islami. Tangerang: Penerbit Kamil Pustaka, 2015. 
  • Ibnu Manzhur.Lisan al-Arab. TT: Dar al-Hadits, 2003. 
  • Ja’far, Mochamadiyah. Qur’an & Ilmu Pengetahuan Moderen. Surabaya: Al-Ikhlas, 1984. 
  • Jauhari, Thantawi. Al-Jawahir. Beirut: Dar al-Fikr, T.TH. Muhammad, Ahsin Sakho dkk. 
  • Ensiklopedi Kemukjizatan Ilmiah dalam al-Quran dan Sunnah 2. terj. Masturi Ilham Lc dkk. Jakarta: PT Kharisma Ilmu, 2009. 
  • Naik, Zakir. Al-Qur’an VS Sains Modern Menurut Dr. Zakir Naik Sesuai atau Tidak Sesuai?. Yogyakarta: Sketsa, TT. 
  • Neil A. Campbell dkk. Biologi Edisi Kelima Jilid III, terj. Wasmen Manalu. Jakarta: Erlangga, 2000.
  • Nurazizah, Leni. Skripsi Tarjamah Kitab I’jaz Ayat al-Quran fi Bayani Khalaq al-Insan liduktur Muhammad Fayyad ila al-Lugah al-Indunisiyyah wa Musykilat at-Tarjamah al-Mustalahat alBiyulujiyyah fih. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2015. 
  • Sani, Ridwan Abdullah. Sains Berbasis Al-Quran. Jakarta: Bumi Aksara, 2015. 
  • Setiadi. Anatomi Dan Fisiologi Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007. 

JURNAL: 
  • Azhar, Manusia dan Sains dalam Perspektif Al-Qur’an, (Lantanida Jurnal, Vol. 4 No. 1). 2016. 
  • Eva Iryani, Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan, (Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol. 17 No. 3).  2017. 
  • Haerani Harun dan Tamrin, Fungsi Organ Tubuh Manusia dari Sisi Medis dan Al-Qur’an, (Jurnal Inspirasi, No XIV Edisi Oktober). 2011 
  • Web: http://bebenta.blogspot.com/2012/05/tulang-panggul-organreproduksi.html.
    Diakses 27 Januari 2019 
  • http://guratansemangat.blogspot.com/2016/09/struktur-dan-fungsirangka-manusia.html.
    Diakses 27 Januari 2019. 
  • http://islamkuchanel.blogspot.com/2017/11/mengungkap-kebenaranhadits-nabi.html.
    Diakses 30 Januari 2019. 
  • https://mekmad.blogspot.com/2015/04/tulang-sulbi-ilmu-osteologidalam-al.html.
    Diakses 27 Januari 2019. 
  • https://satujam.com/gambar-kerangka-manusia/.
    Diakses 27 Januari 2019


Singgasana-Nya Berada Di Atas Air


PARA ASTRONOM MENEMUKAN RESERVOAR AIR TERJAUH DARI BUMI
Konsep artis ini mengilustrasikan quasar, atau "pemberi makan" lubang hitam, mirip dengan APM 08279 + 5255, di mana para astronom menemukan uap air dalam jumlah besar. Kredit gambar: NASA / ESA
›
Gambar penuh dan keterangan
Dua tim astromer telah menemukan reservoar air terbesar dan tercepat yang pernah terdeteksi di alam semesta. Airnya saja setara dengan 140 triliun kali lebih besar dari seluruh air samudra yang ada di permukaan bumi, mengitari sebuah lubang hitam yang sangat besar bernama quasar, terletak lebih dari 12 milyar tahun cahaya dari bumi. 

"Wilayah di seputar quasar ini sangat unik dalam hal memproduksi air dalam jumlah yang sangat besar", kata Matt Bradford, seorang ilmuan Laboraorium Tenaga Pendorong Jet milik NASA di Pasadena, California. "ini menunjukkan bahwa air memang sudah lama tersedia di alam semesta, bahkan pada masa-masa awal." Bradford adalah pemimpin salahsatu dari dua tim yang terlibat dalam penemuan ini. Penelitian timnya sebagian dibiayai oleh NASA dan hasilnya diterbitkan dalam Jurnal Astrofisikal. 

Sebuah quasar digerakkan oleh tenaga lubang hitam sangat besar yang menyedot gas dan debu di seputar cincin yang melingakarinya. Dan ketika menyedot itu, sebuah quasar mengeluarkan energi yang luar biasa sangat besar. Kedua tim astronomer ini sama-sama mempelajari sebuah quasar bernama APM 08279+5255 yang menjadi wadah sebuah lubang hitam berukuran 20 milyar kali lebih masif dari matahari dan memancarkan energi seribu triliun kali lebih besar dari energi matahari. 

Para astromoer memperkirakan uap air sudah ada bahkan pada masa-masa awal alam semesta, tapi sebelumnya tidak pernah terdeteksi sampai sejauh ini. Memang ada uap air di Milky Way, tapi jumlahnya 4000 kali lebih kecil dibandingkan dengan air di quasar, sebab hampir semua air di Milky Way membeku menjadi es. 

Uap air adalah jejak gas penting yang mengungkapkan jatidiri sebuah quasar. Pada quasar APM 08279+5255 ini, uap air terdistribusi di sekeliling lubang hitam berupa gas dalam sebuah wilayah yang melingkupi teritori seluas ratusan tahun cahaya (1 tahun cahaya setara dengan 6 triliun mil). Keberadaannya mengindikasikan bahwa quasar ini memapari gas tsb dengan X-rays dan radiasi infra red, sehingga gas yang mengelilinginya menjadi hangat dan rapat tidak seperti apa yang dapat dijelaskan dalam standar ilmu astronomi. Kendati suhu gas ini 63 derjat di bawah 0 fahrenheit (minus 53 derajat celsius) dan kerapatannya 300 triliun kali lebih rendah dari atmosfir, tapi masih 5 kali lebih panas dan 10 s.d 100 kali lebih rapat (padat) dibandingkan dengan tipikal gas yang ada di galaxi seperti Milky Way. 

Prakiraan besaran uap air dan molekul-molekul lainnya, misalnya carbon monooxida, menunjukkan gas di sana cukup untuk "memberi makan" lubang hitamnya hingga lubang hitam ini dapat membesar lebih kurang enam kali lipat dari ukuran awalnya. Apakah pembesaran ini akan terjadi masih belum jelas, kata para atronomer, karena beberapa gas bisa saja berakhir menjadi padat dan berobah menjadi bintang, lalu keluar dari lingkar quasar.

Tim Bradford melakukan observasi sejak 2008, menggunakan seperangkat instrumen bernama "Z-spec' di observatorium sub-milimeter Institut Teknoloi California, sebuah teleskop setinggi 10 meter yang ditempatkan dekat puncak gunung Mauna Kea di Hawaii. Observasi ini dilanjutkan dengan menggunakan metode CARMA (Combined Array for Research in Millimeter-Wave Astronomy), sebuah jajaran cakram di gunung Inyo, California Selatan

Tim lainnya, dipimpin oleh Dariusz Lis, Senior Research Associate Physics di Caltech yang juga Deputy Director di Observatorium Submilimeter Caltech, menggunakan Plateu De Bure Inteferometer di pegununungan Alpen Perancis untuk mencari sumber-sumber air. Pada tahun 2010, secara tidak sengaja tim Lis mendeteksi keberadan air di quasar 8279+5255 dan mengamati ciri khas spektrumnya. Tim Bradfors mendapatkan lebih banyak informasi tentang air ini, termasuk massanya yang sangat besar, karena mereka mendeteksi beberapa ciri khas spektrum dalam air tsb. 

Para penulis laporan Bradford berjudul: "SPEKTRUM UAP AIR APM 0829+5255" termasuk:

Nguyen, Jamie Bock, Jonas Zmuidzinas and Bret Naylor of JPL; Alberto Bolatto dari University of Maryland, College Park; Phillip Maloney, Jason Glenn and Julia Kamenetzky dari University of Colorado, Boulder; James Aguirre, Roxana Lupu and Kimberly Scott dari University of Pennsylvania, Philadelphia; Hideo Matsuhara dari Institute of Space and Astronautical Science in Japan; and Eric Murphy dari Carnegie Institute of Science, Pasadena.

Z-spec dibiayai oleh National Science Foundation, NASA, The Research Corporation and the partner institutions.

Caltech mengelola JPL untuk NASA. Informasi tentang JPL online di http://www.jpl.nasa.gov


Whitney Clavin/Alan Buis 818-354-4673/818-354-0474
Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Calif.
whitney.clavin@jpl.nasa.gov / alan.buis@jpl.nasa.gov


2011-223

[Alihbahasa bebas dari situs NASA.Gov | Diakses 22 Agustus 2017, Jam  23:42 PM]

NOTE: Simak catatan debat menarik tentang isu ini di sini.  



Bibel, Al-Quran, Dan Sains Modern

Secara apriori mengasosiasikan Qur-an dengan Sains modern adalah mengherankan, apalagi jika pengasosiasian tsb berkenaan dengan hubungan harmonis dan bukan perselisihan antara Qur-an dan Sains. Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan pemikiran-pemikiran yang tak ada hubungannya seperti ilmu pengetahuan, merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada zaman ini?

Sesungguhnya sekarang para ahli Sains yang kebanyakannya terpengaruh oleh teori materialis, menunjukkan sikap acuh tak acuh bahkan sifat rnerendahkan terhadap soal-soal agama, karena mereka memandangnya sebagai hal yang didasarkan atas legenda.

Selain daripada itu, di negeri Barat (negeri pengarang, dan kalangan orang-orang yang terpelajar menurut sistem Barat), jika seseorang berbicara tentang Sains dan agama, kata agama itu difahami sebagai agama Yahudi dan Kristen tetapi tak ada orang yang memasukkan Islam dalam kata agama itu. Tentang Islam, orang Barat mempunyai gambaran yang salah dan karena itu mereka juga menunjukkan penilaian yang salah, sehingga sampai hari ini sangat susah bagi mereka untuk mendapatkan gambaran yang tepat dan sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Sebagai pengantar untuk konfrontasi antara Wahyu Islam dan Sains, adalah sangat perlu untuk memberikan suatu tinjauan tentang agama yang sangat tidak dikenal di negeri kita (Europa, Perancis).

Penilaian yang salah terhadap Islam di Barat adalah akibat kebodohan atau akibat sikap meremehkan dan mencemoohkan yang dilakukan secara sistematis. Akan tetapi di antara kekeliruan-kekeliruan yang tersiar, yang paling berbahaya adalah kekeliruan-kekeliruan atau pemalsuan fakta; jika ekeliruan penilaian dapat dimaafkan, maka penyajian fakta yang bertentangan dengan fakta yang sebenarnya, tidak dapat dimaafkan. Adalah menyedihkan jika kita membaca kebohongan-kebohongan besar dalam buku-buku yang serius yang ditulis oleh pengarang-pengarang yang mestinya sangat ahli.

Umpamanya kita baca dalam Encyclopedia Universalis, jilid VI, artikel: Evangile (Injil), suatu isyarat kepada perbedaan antara Injil dan Qur-an. Pengarang artikel tersebut menulis: "Pengarang-pengarang Injil tidak mengaku-aku, seperti Qur-an, menyampaikan otobiografi (riwayat hidup diri sendiri) yang didiktekan oleh Tuhan kepada Rasulnya secara ajaib." Begitulah kata penulis itu, padahal Qur-an bukan otobiografi. Qur-an adalah tuntunan dan nasehat. Terjemahan Qur-an yang paling jelek juga dapat mengungkapkan kenyataan ini kepada pengarang artikel tersebut. Pernyataan tersebut di atas, yakni bahwa Qur-an itu otobiografi sama besar kesalahannya dengan orang yang mengatakan bahwa Injil itu adalah riwayat hidup pengarangnya.Yang bertanggung jawab tentang pemalsuan terhadap idea Qur-an itu adalah seorang guru besar di Fakultas teologi Yesuite di kota Lion (Perancis selatan); tersiarnya kekeliruan semacam ini telah membantu memberi gambaran yang salah tentang Qur-an dan Islam.

Walaupun begitu tetap ada harapan untuk memperbaiki keadaan, karena sekarang agarna-agama tidak hidup sendiri-sendiri; banyak agama yang mencari perkenalan dan pemahaman timbal balik. Kita terharu dengan fakta bahwa pada eselon tertinggi orang-orang Katolik berusaha untuk memelihara hubungan dengan umat Islam, serta menghilangkan kesalahfahaman dan mengoreksi gambaran-gambaran yang keliru tentang Islam.

Saya telah menyebutkan perubahan besar yang terjadi pada-tahun-tahun yang terakhir ini dan menyebutkan pula suatu dokumen yang dikeluarkan oleh Sekretariat Vatikan untuk orang-orang bukan Kristen. Dokumen tersebut berjudul: Orientasi untuk dialog antara umat Kristen dan umat Islam, dokumen itu sangat berarti karena sikap-sikap baru terhadap Islam. Dalam cetakan ketiga (1970) kita dapatkan ajakan untuk "meninjau kembali sikap-sikap kita terhadap Islam, dan mengkritik purbasangka kita" kita dapatkan pula kata-kata seperti "kita harus bekerja keras lebih dahulu untuk merubah cara berfikir saudara-saudara umat Kristen, secara bertahap; ini adalah yang paling penting," "kita harus meninggalkan gambaran gambaran kuno yang kita warisi dari masa lampau atau gambaran-gambaran yang dirubah oleh prasangka dan fitnahan," "kita harus mengakui ketidak adilan yang dilakukan oleh Barat yang beragama Kristen terhadap umat Islam."1 Dokumen Vatikan yang terdiri dari 150 halaman itu menolak pandangan-pandangan kuno umat Kristen terhadap Islam dan menerangkan hal-hal yang sebenarnya.

Di bawah judul: "Membebaskan diri kita daripada prasangka-prasangka yang sangat mashur," para penulis dokumen tersebut mengajak umat Kristen sebagai berikut: "Di sini kita harus melakukan pembersihan yang mantap dalam cara berfikir kita. Secara khusus kami pikirkan penilaian tertentu yang "sudah jadi" yang sering dilakukan orang secara sembrono terhadap Islam. Adalah sangat penting untuk tidak menghidup-hidupkan dalam hati sanubari kita, pandangan-pandangan yang dangkal dan arbitrer yang tidak dikenal oleh orang Islam yang jujur.

Salah satu daripada pandangan arbitrer yang sangat penting untuk diberantas adalah pandangan yang mendorong untuk memakai kata "Allah" secara sistematis untuk menunjukkan Tuhannya umat Islam, seakan-akan Tuhannya umat Islam itu bukan Tuhannya umat Kristen.

Allah dalam bahasa Arab berarti Tuhan, Tuhan yang maha Esa, maha Tunggal. Oleh karena itu untuk menterjemahkannya dalam bahasa Perancis kita harus rnemakai kata "Dieu," dan tidak cukup hanya mengambil alih kata arab ("Allah") karena kata ini tak dimengerti orang Perancis. Bagi umat Islam, Allah itu juga Tuhannya Nabi Musa dan Tuhannya Yesus."

Dokumen Sekretariat Vatikan bagi umat bukan Kristen menekankan hal yang fundamental ini sebagai berikut:

"Adalah tak berguna untuk mengikuti pendapat beberapa orang Barat bahwa Allah itu sesungguhnya bukan Tuhan! Teks-teks yang dihasilkan oleh Konsili telah membenarkan kata-kata di atas. Orang tidak akan dapat meringkaskan kepercayaan Islam tentang Tuhan, secara lebih baik dari kata-kata Lumen Gentium (cahaya bagi manusia ) bagian dari Dokumen Konsili Vatikan II (1962-1965) yang berbunyi: "Orang-orang Islam yang mengikuti aqidah Nabi Ibrahim menyembah bersama kita kepada Tuhan yang Tunggal, yang maha penyayang, yang akan mengadili manusia pada hari akhir."2

Semenjak itu orang mengerti mengapa orang Islam melakukan protes terhadap kebiasaan orang Barat memakai kata 'Allah' untuk Tuhan. Orang-orang Islam yang terpelajar memuji terjemahan Qur-an oleh D. Masson yang memakai kata "Dieu" (Tuhan) dan tidak memakai kata "Allah."3

UMAT ISLAM DAN UMAT KRISTEN MENYEMBAH TUHAN YANG MAHA TUNGGAL

Kemudian Dokumen Vatikan mengkritik penilaian-penilaian lain yang salah terhadap Islam. "Fatalisme" Islam, suatu prasangka yang tersiar luas, dibahas dengan mengutip beberapa ayat Qur-an. Dokumen Vatikan tersebut menunjukkan hal-hal yang sebalik Fatalisme, yakni bahwa manusia itu akan diadili menurut tindakannya di Dunia.

Dokumen Vatikan tersebut juga menunjukkan bahwa konsep yuridisme atau legalisme dalam Islam itu salah, yang benar adalah sebaliknya, yakni kesungguhan dalam Iman.

Dibawakannya pula dua ayat yang sangat tidak dikenal orang di Barat. Ayat pertama: "Tak ada paksaan dalam agama" (Surat 2 ayat 256). Ayat kedua: "Dan Tuhan tidak menjadikan dalam agama sesuatu hal yang memaksa." (Surat 22 ayat 78)

Dokumen Vatikan tersebut juga menentang ide yang tersiar luas bahwa Islam itu adalah agama "rasa takut," dan menjelaskan bahwa Islam adalah agama cinta, cinta kepada orang-orang yang dekat, cinta yang berakar dalam Iman kepada Allah. Dokumen Vatikan tersebut juga menolak anggapan bahwa tak ada "moral Islam," serta anggapan yang dianut oleh orang Yahudi dan orang Kristen bahwa Islam itu adalah agama fanatisme. Dalam hal ini Dokumen tersebut mengatakan:

"Sesungguhnya, Islam dalam sejarahnya tidak pernah lebih fanatik daripada kota-kota suci Kristen ketika kepercayaan Kristen bercampur dengan nilai politik." Di sini para pengarang Dokumen Vatikan menyantumkan ayat-ayat Qur-an yang diterjemahkan oleh orang Barat sebagai "Perang Suci."4

"Perang suci yang dimaksudkan, dalam bahasa Arabnya adalah: Al Jihad fi sabililah, usaha keras untuk menyiarkan agama Islam dan mempertahankannya terhadap orang-orang yang melakukan agressi." Dokumen Vatikan meneruskan keterangannya: "Al Jihad bukan "kherem" yang tersebut dalam Injil. Jihad tidak bermaksud untuk memusnahkan orang lain, akan tetapi untuk menyiarkan hak-hak Tuhan dan hak-hak manusia di negeri-negeri baru."

Kekerasan yang timbul dalam Jihad adalah gejala-gejala yang mengikuti hukum perang. Pada waktu peperangan Salib bukanlah orang- Islam yang selalu melakukan pembantaian besar-besaran.

Dokumen Vatikan akhirnya membicarakan purbasangka bahwa Islam itu adalah agama beku yang mengungkung para pengkutnya dalam Abad Pertengahan yang sudah lampau dan menjadikan mereka tidak sanggup untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan tehnik pada zaman modern. Dokumen tersebut menyebutkan perbandingan dengan situasi-situasi serupa yang terdapat di negara-negara Kristen dan menyatakan "Kami menemukan dalam perkembangan tradisional pemikiran Islam suatu prinsip evolusi yang dapat menjadi pedoman untuk masyarakat beradab."

Bahwa Vatikan mempertahankan Islam, saya yakin, akan mengherankan pengikut-pengikut agama masa kini, baik ia orang Yahudi, orang Kristen atau orang lslam. Gejala tersebut merupakan manifestasi kesungguhan dan pikiran yang terbuka yang bertentangan sama sekali dengan sikap-sikap di masa dahulu. Tetapi sayang, sangat sedikit sekali orang-orang Barat yang mengetahui pergantian sikap yang diambil oleh eselon tertinggi daripada Gereja Katolik.

Setelah kita mengetahui hal tersebut di atas kita tidak begitu heran untuk mendengarkan langkah-langkah konkrit selanjutnya yang dilaksanakan untuk pendekatan ini.

Mula-mula adalah kunjungan resmi kepala Secretariat Vatikan untuk orang-orang bukan Kristen kepada (almarhum) Sri Baginda Raja Faesal, raja Saudi Arabia, kemudian kunjungan ulama-ulama Besar dari Saudi Arabia kepada Sri Paus Paul Vl pada tahun 1974. Kita merasakan arti spiritual yang dalam ketika Monsigneur Elchinger menerima para ulama itu di Cathedral Strasbourg dan mempersilahkan mereka untuk sembahyang di tengah-tengah Cathedral, walaupun menghadap ke arah Ka'bah.

Jika wakil-wakil tertinggi daripada umat Islam dan umat Kristen, dalam rasa kepercayaan kepada Tuhan yang sama dan rasa hormat menghormat terhadap perbedaan yang ada diantara mereka telah sefaham untuk melakukan dialog agama, apakah tidak wajar jika aspek-aspek lain dari kedua agama itu juga dihadapi? Maksud daripada konfrontasi ini adalah penyelidikan tentang Kitab Suci atas dasar hasil-hasil penyelidikan ilmiah dan pengetahuan-pengetahuan kritik kebenaran. Penyelidikan teks-teks ini harus dilakukan terhadap Qur-an sebagaimana ia telah dilakukan terhadap agama Yahudi dan Kristen.

Hubungan antara agama-agama dan Sains tidak sama di segala tempat dan segala masa. Adalah suatu fakta bahwa tak ada kitab suci agama monotheist yang menghukum Sains. Tetapi dalam prakteknya, kita harus mengakui bahwa ahli-ahli Sains bercekcok dengan penguasa keagamaan tertentu. Di dunia Kristen, selama beberapa abad, pembesar-pembesar menentang perkembangan Sains atas initiatif mereka sendiri dan tidak bersandar kepada teks autentik dalam Kitab Suci. Terhadap mereka yang memajukan Sains, mereka melancarkan tindakan-tindakan yang kita ketahui dalam sejarah, yaitu tindakan-tindakan yang menjerumuskan para ahli Sains dalam pembuangan, jika mereka ingin selamat daripada hukuman "mati dibakar," atau sedikitnya memaksa mereka untuk menebus dosa mereka dan memperbaiki sikap mereka serta memohon maaf.

Dalam hal ini, kita ingat peradilan Galile yang dituntut hanya karena ia mengikuti penemuan Copernikus tentang peredaran bumi. Galile kemudian dihukum dengan alasan menafsirkan Bibel secara keliru sebab tidak ada Kitab Suci yang dapat dibantah.

Bagi Islam, sikap terhadap Sains pada umumnya sangat berlainan. Tak ada yang lebih jelas daripada hadits Nabi yang sangat masyhur. "Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina" atau hadits lain yang maksudnya: mencari ilmu adalah wajib bagi seorang muslimin dan seorang muslimat. Adalah suatu kenyataan yang penting seperti yang akan kita lihat dalam fasal ini nanti, bahwa Qur-an yang mengajak memperdalam Sains. Qur-an itu memuat bermacam-macam pemikiran tentang fenomena alam, dengan perinci yang menerangkan hal-hal yang secara pasti cocok dengan Sains modern. Dalam hal ini tak ada hal yang serupa itu dalam agama Yahudi dan Kristen.

Tetapi adalah salah jika orang mengira bahwa dalam sejarah Islam, beberapa orang Islam mempunyai sikap yang berlainan terhadap Sains. Memang terjadi bahwa pada suatu waktu, kewajiban untuk belajar dan mengajar orang lain itu disalah fahamkan, dan orang pernah berusaha memberhentikan perkembangan ilmu pengetahuan. Tetapi perlu kita ingat bahwa pada zaman kejayaan Islam, antara abad VIII dan abad XII M. pada waktu orang membatasi perkembangan ilmu pengetahuan dipersempit di negara-negara Kristen, banyak sekali penyelidikan dan penemuan yang dilakukan orang di Universitas-universitas Islam. Pada waktu itulah kita dapatkan kebudayaan yang luar biasa. Di Cordoba (Qurtubah) perpustakaan Khalifah memuat 400.000 buku; Ibnu Rusyd mengajar di situ. Banyak orang dari berbagai daerah di Eropa datang ke Qurtubah untuk belajar, seperti pada waktu ini banyak orang belajar ke Amerika Serikat. 

Banyak manuskrip-manuskrip lama sampai kepada kita dengan perantaraan orang-orang Arab, dan membawa kebudayaan kepada negeri-negeri yang ditaklukkan. Banyak hutang kami (orang-orang Barat) kepada pengetahuan Arab dalam matematika (kata al jabar adalah kata Arab), astronomi, fisika dan optik, geologi, ilmu tumbuh-tumbuhan (botanik), ilmu kedokteran (Ibnu Sina) dan lain-lain. Untuk pertama kali Sains mempunyai sifat internasional dalam Universitas Islam pada abad pertengahan. Pada waktu itu manusia lebih mempunyai jiwa keagamaan daripada sekarang, akan tetapi dalam Dunia Islam hal tersebut tidak menghalangi seseorang untuk menjadi orang yang mukmin dan pandai sekaligus. Sains adalah saudara kembar daripada agama, dan akan tetap begitu.

Dalam negara-negara Kristen, abad pertengahan adalah abad stagnasi dan conformisme mutlak. Penyelidikan ilmiah dikekang, bukan oleh agama Yahudi dan Kristen, akan tetapi oleh mereka yang mengaku mengabdi kepada agama-agama tersebut. Sesudah Renaissance, reaksi yang wajar daripada ahli ilmu pengetahuan adalah untuk membalas dendam kepada musuh mereka kemarin, dan pembalasan dendam itu berlangsung sampai sekarang. Pada waktu ini, di negeri Barat, untuk bicara tentang Tuhan di kalangan ilmuwan adalah janggal. Sikap semacam ini juga terdapat dalam otak-otak yang muda yang menerima pengetahuan dari universitas-universitas Barat, termasuk otak-otak muda Islam.

Hal tersebut di atas adalah wajar karena ahli-ahli pengetahuan Barat yang terkemuka selalu-mengambil sikap yang ekstrim. Seorang yang pernah meraih hadiah Nobel dalam ilmu kedokteran pada tahun-tahun akhir ini telah menulis dalam satu buku tebal untuk awam, bahwa materi hidup itu tercipta sendiri secara kebetulan daripada unsur-unsur elementer. Dan bertitik tolak dari materi hidup yang sederhana itu, dengan pengaruh bermacam-macan faktor luar, terbentuklah benda hidup yang teratur dan secara berangsur-angsur akhirnya menjadi benda hidup yang sangat complex, yaitu manusia.

Tetapi orang yang memikirkan secara mendalam hasil-hasil yang mengagumkan daripada Sains masa kini dalam bidang "kehidupan" akan sampai kepada natijah (konklusi) yang sebaliknya. Pertumbuhan yang terjadi sebelum munculnya "kehidupan" serta pemeliharaan "kehidupan" itu akan nampak sangat berbelit-belit (complicated). Lebih banyak kita mengetahui perincian-perinciannya, lebih banyak pula kita merasa heran dan takjub. Sesungguhnya jika kita mengetahui perinci-perinci itu lebih banyak, kita lebih condong untuk mengurangi unsur: "kebetulan" dalam fenomena "kehidupan." Lebih banyak kita memiliki ilmu pengetahuan, khususnya mengenai hal-hal yang sangat kecil, lebih menonjollah argumentasi tentang adanya zat "pencipta." Tetapi manusia bukannya tunduk kepada fakta-fakta tersebut di atas, malahan ia menjadi sombong. Ia merasa berhak untuk menertawakan ide tentang Tuhan dan ia menganggap remeh segala sesuatu yang menghalangi kemauannya untuk kenikmatan dan kelezatan. Itulah masyarakat materialis yang sekarang ini berkembang di Barat.


KEKUATAN SPIRITUAL MANAKAH YANG DAPAT MENGHADAPI POLUSI PEMIKIRAN PARA AHLI PENGETAHUAN MODERN SEKARANG?

Agama Kristen dan agama Yahudi telah menunjukkan ketidak-mampuannya untuk membendung banjir materialisme serta ateisme di Barat. Agama Kristen dan agama Yahudi dalam keadaan kacau balau, dan dari tahun ke tahun telah menunjukkan daya tahan yang berkurang terhadap aliran yang akan menghancurkannya; seorang materialis ateis hanya dapat melihat dalam agama Kristen klasik, suatu agama yang diciptakan oleh manusia 2000 tahun yang lalu untuk menegakkan kekuasaan sekelompok kecil manusia terhadap manusia-manusia lain. Ia tidak dapat melihat dalam kitab suci Yahudi Kristen suatu bahasa yang ada hubungannya dengan bahasanya sendiri walaupun terlalu jauh; kitab suci Yahudi Kristen memuat hal-hal yang keliru, yang kontradiksi dan yang tidak sesuai dengan penemuan-penemuan ilmiah modern, sehingga ia tidak mau mempertimbangkan teks-teks yang oleh kebanyakan ahli-ahli teologi dipaksakan untuk diterima semua sebagai keseluruhan.

Bagaimana kalau ada orang yang mengajaknya berbicara tentang Islam? Ia akan tertawa lebar yang menunjukkan bahwa ia tidak banyak mengetahui tentang agama. Sebagai kebanyakan kaum terpelajar dari bermacam-macam agama, ia mempunyai gambaran-gambaran yang salah tentang Islam.

Dalam hal ini, kita harus menerima beberapa alasan. Pertama, dengan mengecualikan sikap-sikap baru dari tingkatan tertinggi daripada Gereja Katolik yang mulai menunjukkan hormat kepada Islam. Islam di negara-negara Barat selalu menjadi objek daripada "diffamation seculaire" (cemoohan penganut-penganut secularisme). Semua orang, Barat yang mempunyai pengetahuan dalam tentang Islam, mengetahui bahwa sejarahnya, dogmanya dan tujuannya sudah jauh dibelokkan orang. Kedua, dokumen-dokumen dalam bahasa-bahasa Barat mengenai Islam yang sudah diterbitkan, tidak mempermudah usaha seorang yang ingin mempelajari Islam. Dalam hal ini kita dapat mengecualikan beberapa penyelidikan-penyelidikan yang sangat khusus.

Dalam hal mempelajari Islam, pengetahuan tentang wahyu dalam Islam adalah sangat pokok (fundamental). Tetapi bagian-bagian daripada Qur-an khususnya yang ada hubungannya dengan hasil-hasil perkembangan Sains sering diterjemahkan secara keliru atau ditafsirkan sedemikian rupa sehingga seorang ahli Sains akan melancarkan kritik yang tidak tepat terhadap Qur-an, walaupun kritik-kritik kelihatannya benar.

Ada satu hal yang perlu kita garis bawahi: terjemahan yang tidak tepat dan penafsiran yang keliru (keduanya biasanya terjadi bersama-sama) yang tidak mengherankan pada satu atau dua abad yang lalu, pada waktu sekarang mengejutkan ahli Sains yang menolak untuk mempertimbangkan secara serius, suatu kata-kata yang diterjemahkan secara salah sehingga memberi keterangan yang tak dapat diterima menurut perkembangan Sains sekarang. Dalam bab tentang terjadinya janin manusia, kita akan melihat contoh kekeliruan seperti itu.

Mengapa terjadi kekeliruan dalam menterjemahkan Qur-an? Hal ini terjadi oleh karena penterjemah-penterjemah modern sering hanya mengambil alih interpretasi para ahli tafsir di zaman dahulu, tanpa pendirian kritik. Para ahli tafsir zaman dahulu itu dapat dimaafkan jika mereka memilih satu daripada beberapa arti kata bahasa Arab, oleh karena mereka tidak mengerti arti yang benar daripada kata atau kalimat itu, yaitu arti yang baru sekarang nampak dengan jelas berhubung kemajuan pengetahuan kita tentang Sains. Dengan kata lain, perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap terjemahan atau tafsiran-tafsiran yang tak dapat dilaksanakan secara baik pada suatu masa, karena sekarang kita sudah memiliki arti kata-kata yang sebenarnya. Persoalan penterjemahan seperti tersebut tidak timbul dalam wahyu Yahudi Kristen . Soal itu hanya khusus mengenai Qur-an.

Aspek-aspek ilmiah yang khusus untuk Qur-an itu sangat mengherankan aku, karena aku sama sekali tidak mengira bahwa dalam teks yang disusun semenjak lebih dari 13 abad, aku dapat menemukan keterangan-keterangan tentang hal-hal yang bermacam, yang sangat cocok dengan pengetahuan ilmiah modern. Pada permulaannya aku sama sekali tidak percaya dengan Islam. Aku mulai menyelidiki teks Qur-an dengan pikiran yang bebas dari segala prasangka, dan dengan pikiran obyektif. Jika ada faktor yang mempengaruhi aku, faktor itu adalah pendidikan yang aku terima ketika aku masih muda, pada waktu orang menamakan orang Islam dengan nama "Mohametans" untuk memberi kesan bahwa Islam adalah agama yang didirikan oleh seorang insan dan saleh karena itu agama itu tidak ada nilainya di hadirat Tuhan. Sebagai kebanyakan orang Barat, aku terpengaruh dengan pikiran-pikiran yang salah tentang Islam, dan aku merasa heran jika aku bertemu dengan orang-orang yang mengetahui soal-soal ke-Islaman, di luar kalangan para ahli (spesialis). Oleh karena itu aku mengaku terus terang bahwa sebelum mempunyai gambaran tentang Islam yang berlainan dengan gambaran orang Barat, aku sendiri sangat tidak tahu tentang Islam, jika akhirnya aku mengetahui bahwa penilaian Barat tentang Islam itu salah, hal itu adalah karena kejadian-kejadian yang istimewa. Di Saudi Arabialah aku menemukan bahan-bahan apresiasi yang menunjukkan kepadaku betapa salahnya pendapat orang-orang Barat tentang Islam.

Aku berhutang budi besar kepada almarhum Sri Baginda Raja Faisal yang aku hormati. Aku dapat mendengar daripadanya keterangan-keterangan tentang Islam, dan aku dapat membicarakan soal-soal penafsiran Qur-an mengenai Sains modern. Semua itu tak akan dapat aku lupakan. 

Sesungguhnya aku merasa mendapat kehormatan yang luar biasa dapat menerima keterangan-keterangan dari Sri Baginda dan para pengikut-pengikutnya.

Setelah aku dapat mengukur jurang yang memisahkan hakekat Islam daripada image yang dimiliki oleh orang-orang Barat, aku merasa ingin belajar bahasa Arab yang aku belum mengerti, agar dapat membantu aku mempelajari agama yang sangat tidak dikenal. Tujuanku yang pertama adalah untuk membaca Qur-an, menyelidiki teksnya, kalimat demi kalimat, dengan bantuan bermacam kitab tafsir yang sangat diperlukan untuk penyelidikan yang kritis. Aku mulai tugas itu dengan memperhatikan keterangan-keterangan Qur-an tentang fenomena alam. Ketepatan keterangan Qur-an dalam perinci-perincinya, yaitu hal yang hanya dapat ditemukan dalam teks original, telah menarik perhatianku karena cocok dengan konsepsi-konsepsi zaman sekarang. Padahal seorang yang hidup pada zaman Nabi Muhammad tidak dapat mempunyai ide sedikitpun tentang hal tersebut. Kemudian aku membaca beberapa buku karangan orang-orang Islam mengenai aspek ilmiah daripada teks Qur-an. Buku-buku tersebut memuat pengetahuan-pengetahuan yang sangat berfaedah, akan tetapi aku belum pernah melihat di negara-negara Barat, suatu penyelidikan yang menyeluruh tentang hal ini.

Yang menarik perhatian dalam menghadapi teks Qur-an untuk pertama kali adalah banyaknya hal-hal yang dibicarakan mengenai penciptaan alam, astronomi, keterangan tentang bumi, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan kelahiran manusia. 

Dalam Bibel aku telah menemukan kekeliruan-kekeliruan ilmiah yang besar, tetapi dalam Qur-an aku tidak menemukan sesuatu, semua itu mendorong diriku untuk bertanya-tanya: Jika pengarang Qur-an itu seorang manusia, mengapa pada abad VII Masehi, orang itu dapat menulis hal-hal yang terbukti cocok dengan Sains modern? Tidak ada kemungkinan untuk menyangsikan bahwa teks Qur-an yang kita miliki sekarang adalah teks yang bersejarah. (Fasal yang akan datang membicarakan hal ini). Apakah yang dapat kita jadikan penerangan lahiriyah terhadap kenyataan ini? Menurutku, tak ada penerangan semacam itu. Tak ada keterang an yang memuaskan yang dapat menjelaskan bagaimana seorang penduduk Jazirah Arab, dapat memiliki pengetahuan ilmiah tentang beberapa hal, dan pengetahuan itu mendahului ilmu pengetahuan sekarang 13 abad, karena orang itu hidup pada waktu yang memerintah Perancis adalah Raja Dagobert.

Sudah dibuktikan oleh Sejarah bahwa pada waktu Qur-an diwahyukan selama 23 tahun (622 M.), pengetahuan ilmiah terhenti semenjak beberapa abad. Dan sudah dibuktikan pula bahwa periode berkembangnya kebudayaan Islam dengan kemajuan ilmiahnya telah terjadi sesudah selesai turunnya wahyu atau Qur-an. Ada orang yang berkata "Jika dalam Qur-an terdapat keterangan-keterangan ilmiah yang mentakjubkan, maka sebabnya pada waktu sebelum itu telah terdapat ahli-ahli Sains Arab. Muhammad mendapatkan inspirasi dari karangan-karangan mereka." Untuk dapat menerima keterangan tersebut kita harus melupakan hal-hal yang terjadi dalam sejarah. Barang siapa mengetahui sedikit daripada sejarah Islam dan mengetahui bahwa perkembangan kebudayaan dan Sains dalam dunia Arab pada abad pertengahan ia tidak akan menerima khayalan semacam itu. Pemikiran seperti tersebut di atas sangat tidak tepat apalagi kalau kita ingat bahwa kebanyakan fakta Sains yang dikatakan oleh Qur-an secara pasti, baru mendapat konfirmasi pada zaman modern itu.

Kita tahu bahwa selama berabad-abad, banyak ahli tafsir Qur-an, termasuk mereka yang hidup dalam zaman kejayaan peradaban Islam, yang telah membuat kesalahan dalam menafsirkan beberapa ayat Qur-an yang mereka tidak dapat mengungkap kan arti yang sebenarnya. Hanya pada waktu yang kemudian, yang dekat daripada zaman kita ini, mereka dapat menafsirkannya secara benar. Hal ini mengandung arti bahwa untuk memahami ayat-ayat Qur-an, pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab saja tidak cukup. Di samping bahasa Arab, ahli tafsir perlu memiliki pengetahuan ilmiah yang bermacam-macam. Penyelidikan tentang Qur-an merupakan penyelidikan pluridiscipliner, encyclopedical. Dengan mengikuti persoalan-persoalan yang timbul, orang mengerti bahwa bermacam-macam pengetahuan ilmiah adalah sangat perlu untuk memahami ayat-ayat Qur-an tertentu.

Memang Qur-an bukannya suatu buku yang menerangkan hukum-hukum alam. Qur-an mengandung tujuan keagamaan yang pokok. Ajakan untuk memikirkan tentang penciptaan alam dialamatkan kepada manusia dalam rangka penerangan tentang kekuasaan Tuhan. Ajakan tersebut disertai dengan menunjukkan fakta-fakta yang dapat dilihat oleh manusia dan aturan-aturan yang ditetapkan oleh Tuhan untuk mengatur alam, baik dalam bidang Sains maupun dalam bidang masyarakat kemanusiaan. Sebagian daripada fakta-fakta tersebut ada yang mudah difahami, tetapi sebagian lainnya tidak dapat difahami tanpa pengetahuan ilmiah. Ini berarti bahwa manusia-manusia pada abad-abad dahulu hanya dapat mengetahui arti-arti yang nampak dan hal itu dapat membawa mereka kepada konklusi yang kurang benar karena kekurangan pengetahuan pada waktu itu.

Pemilihan ayat-ayat Qur-an untuk diselidiki segi ilmiahnya mungkin nampak kecil bagi pengarang-pengarang Islam yang telah menarik perhatian kepada fakta-fakta ilmiah sebelum aku. Secara keseluruhan aku rasa memang aku memilih jumlah yang lebih sedikit. Tetapi di lain fihak, aku telah membahas ayat-ayat yang sampai sekarang belum diberi perhatian yang cukup dari segi pandangan ilmiah. Jika aku melakukan kesalahan karena meninggalkan ayat-ayat yang telah mereka pilih, aku harap mereka mema'afkan; selain daripada itu, dalam beberapa buku, aku menemukan interpretasi ilmiah yang tidak tepat; untuk hal-hal tersebut aku sajikan interpretasiku pribadi yang didasarkan atas kebebasan pikiran dan rasa tanggung jawab.

Aku juga menyelidiki apakah dalam Qur-an disebutkan fenomena yang dapat difahami oleh manusia tetapi belum mendapatkan konfirmasi daripada Sains modern. Dalam rangka ini aku merasa bahwa Qur-an memuat isyarat bahwa dalam alam (universe) ini terdapat planet-planet yang seperti bumi.

Harus kuterangkan bahwa banyak ahli-ahli ilmu pengetahuan menganggap hal tersebut sangat mungkin, walaupun tingkat pengetahuan sekarang tidak dapat memberi kepastian. Aku merasa berkewajiban menuturkan hal ini, dengan reserve yang harus kita lakukan.

Aku telah melakukan penyelidikan ini semenjak kira-kira 30 tahun. Tetapi ada suatu fakta yang telah disebutkan oleh Qur-an dan harus ditambahkan kepada hal-hal yang kutulis mengenai astronomi (ilmu bintang). Fakta dalam Qur-an tersebut adalah: pembukaan angkasa. Pada waktu itu, orang meramalkan bahwa setelah percobaan-percobaan peluru-peluru kendali, pada suatu waktu manusia akan dapat keluar dari bumi dan menyelidiki angkasa. Orang sudah tahu bahwa ada ayat Qur-an yang mengatakan bahwa manusia pada satu waktu akan melaksanakan pembukaan angkasa. Hal tersebut sekarang sudah terjadi.

Konfrontasi Kitab Suci (Bibel atau Qur-an) dengan Sains, mengundang pemikiran-pemikiran yang ada hubungannya dengan "Kebenaran ilmiah;" supaya konfrontasi itu mempunyai arti, maka argumentasi ilmiah yang menjadi dasar harus sudah ditetapkan secara pasti dan tidak dapat didiskusikan lagi.

Mereka yang segan menerima campur tangan Sains dalam menilai Kitab Suci, mengingkari bahwa Sains dapat memberi patokan untuk perbandingan; (Bibel akan menderita kerugian jika dikonfrontir dengan Sains, tetapi Qur-an tidak takut konfrontasi tersebut); Mereka mengatakan bahwa Sains itu berubah menurut waktu, sehingga sesuatu hal mungkin dapat diterirna pada suatu waktu, akan tetapi kemudian ditolak.

Soal tersebut di atas memerlukan penjelasan sebagai berikut: kita harus membedakan teori ilmiah dan fakta yang diamati dan dikuasai. Teori adalah untuk menerangkan suatu fenomena atau kumpulan fenomena yang sukar difahami. Teori memang sering berubah-ubah, teori dapat dirubah sedikit atau sama sekali diganti dengan teori lain jika kemajuan ilmiah memungkinkan orang untuk menganalisa fakta secara lebih baik dan memikirkan suatu-penafsiran yang lebih berharga.

Sebaliknya, fakta yang diamati dan dibuktikan dengan eksperimen tidak dapat dirubah. Orang dapat menjelaskan sifat-sifatnya dengan lebih terperinci akan tetapi fakta itu tetap tidak berubah. Orang telah membuktikan bahwa bumi-beredar sekitar matahari dan bulan beredar sekitar bumi, tidak akan mengalami perubahan; pada masa yang akan datang mungkin orang akan dapat memberi gambaran tentang orbit-orbitnya.

Pemikiran bahwa teori itu dapat berubah, telah mendorongku umpamanya untuk tidak membicarakan satu ayat Qur-an yang dikatakan oleh seorang muslim ahli fisika sebagai ayat yang menerangkan konsep anti materi, sedangkan teori tersebut pada waktu ini banyak diperdebatkan. Sebaliknya orang dapat menerima dengan penuh perhatian suatu ayat Qur-an yang mengatakan bahwa asal kehidupan itu adalah air; kehidupan berasal dari air adalah suatu hal yang tak dapat dibuktikan akan tetapi telah dikuatkan oleh argumentasi bermacam-macam. 

Adapun mengenai pengamatan fakta-fakta, seperti perkembangan janin manusia, orang dapat mengkonfrontasikan bermacam-macam tahap yang disebutkan oleh Qur-an dengan penemuan-penemuan embryologie (ilmu janin) modern, dan menemukan persesuaian yang mutlak antara ayat Qur-an dengan Sains.

Konfrontasi Qur-an dengan Sains telah disempurnakan oleh dua perbandingan; di satu fihak konfrontasi ayat-ayat Bibel dengan Sains modern dalam hal-hal yang dibicarakan oleh keduanya. Di lain fihak perbandingan pandangan ilmiah tersebut dengan ayat-ayat Qur-an, wahyu yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad, dan dengan hadits, buku riwayat, serta ucapan Nabi Muhammad di luar ayat-ayat yang tersebut dalam Qur-an.

Pada akhir bagian ketiga daripada buku ini, orang akan menemukan hasil perbandingan antara riwayat Bibel dan riwayat Qur-an mengenai kejadian yang sama dengan hal yang sudah disaring oleh kritik ilmiah; sebagai contoh, kita telah mengadakan penyelidikan tentang penciptaan alam dan tentang Banjir Nabi Nuh. Untuk kedua masalah itu telah kita buktikan bahwa riwayat Bibel tidak sesuai dengan Sains. Tetapi kita akan menemukan bahwa riwayat-riwayat Qur-an, sesuai sepenuhnya dengan Sains. Orang akan melihat perbedaan-perbedaan yang menjadikan riwayat Qur-an dapat diterima di zaman modern sedang riwayat Bibel tak dapat diterima.

Konstatasi ini sangat penting, oleh karena di negara-negara Barat, orang-orang Yahudi, Kristen atau atheist semuanya berpendapat tanpa bukti sedikitpun, bahwa Muhammad menulis (mengarang) Qur-an atau memerintahkan orang menulis (mengarang) Qur-an dengan meniru Bibel. Orang mengiraR bahwa riwayat Qur-an tentang sejarah agama mengutip dari riwayat-riwayat Bibel. Sikap semacam itu sama sembrononya dengan sikap orang yang mengatakan bahwa Yesus telah menipu orang-orang pada zamannya dengan mengatakan bahwa ia mendapat inspirasi dari Perjanjian Lama selama ia berdakwah.

Kita mengetahui bahwa seluruh Injil Matius didasarkan atas kontinuitas dengan Perjanjian Lama. Ahli tafsir mana yang berani melepaskan kenabian Yesus oleh karena hal tersebut (kontinuitas dengan Perjanjian Lama)? Tetapi begitulah orang menilai Muhammad di negara-negara Barat. "Muhammad hanya meniru Bibel." Hal ini tentu saja merupakan penilaian yang sangat dangkal yang tidak memperdulikan kenyataan bahwa Bibel dan Qur-an dapat memberikan versi yang berlainan. Tetapi orang menganggap sepi perbedaan-perbedaan riwayat antara Qur-an dan Injil. Bahkan orang menyatakan bahwa riwayat-riwayat itu adalah identik, oleh karena itu pengetahuan ilmiah tidak boleh mencampuri. Soal-soal semacam ini akan kita bicarakan mengenai hikayat penciptaan alam dan banjir pada zaman Nabi Nuh.

Kumpulan-kumpulan Hadits bagi Nabi Muhammad adalah seperti Injil empat bagi Yesus, Hadits adalah riwayat mengenai perbuatan dan perkataan Nabi, yang mengumpulkannya bukan saksi-saksi mata (sedikitnya bagi kumpulan Hadits yang benar), yang dikumpulkan sesudah zamannya Nabi Muhammad.

Kitab Hadits sama sekali tidak merupakan kitab yang mengandung wahyu tertulis. Hadits bukan sabda Tuhan, tetapi meriwayatkan kata-kata Muhammad. Dalam buku-buku Hadits yang banyak tersiar kita dapatkan riwayat-riwayat yang mengandung kekeliruan ilmiah, khususnya mengenai resep obat-obatan. Tetapi siapa yang dapat mengatakan dengan pasti bahwa keteranganketerangan yang dinisbatkan kepada Nabi itu autentik? Kita tidak membicarakan problema-problema keagamaan, yang memang tidak kita bicarakan berhubung dengan persoalan Hadits. Banyak Hadits yang disangsikan kebenarannya; Hadits-Hadits itu telah dibicarakan oleh ulama-ulama Islam sendiri. Jika kita membicarakan aspek ilmiah daripada beberapa Hadits dalam buku ini, hal itu adalah pada dasarnya untuk menunjukkan perbedaan antara Hadits dan Qur-an, karena Qur-an tidak mengandung pernyataan ilmiah yang tak dapat diterima.

Konstatasi yang akhir ini menjadikan hipotesa bahwa Muhammad adalah pengarang Qur-an, tidak dapat diterima. Tidak mungkin seorang yang tak dapat membaca dan menulis menjadi pengarang nomor satu, penulis karya nomor satu dalam sastra Arab, dan memberitahukan soal-soal ilmiah yang tak ada manusia pada waktu itu dapat melakukannya, serta segala keterangannya tidak ada yang keliru.

Pemikiran-pemikiran yang akan kita kembangkan dalam penelitian ini dari segi pandangan ilmiah akan menyampaikan kita kepada suatu natijah yaitu: "tidak masuk akal bahwa seseorang yang hidup pada abad VII M. dapat melontarkan dalam Qur-an ide-ide mengenai bermacam-macam hal yang bukan merupakan pemikiran manusia pada waktu itu. Dan ide-ide itu cocok dengan apa yang akan dibuktikan oleh Sains beberapa abad kemudian."




BIBEL, QUR-AN, DAN SAINS MODERN

Judul Asli: La Bible Le Coran Et La Science
Alih bahasa: Prof. Dr. H.M. Rasyidi 
Penerbit Bulan Bintang, 1979 
Kramat Kwitang I/8 Jakarta