Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Menjawab). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Menjawab). Tampilkan semua postingan

Pengakuan Para Muallaf: Al-Quran Adalah Kitab Suci Yang Sempurna


[Menjawab Tuduhan bahwa Al-Quran Tidak Teratur, Kacau, atau Tanpa Sistem]

Di tengah perdebatan agama yang sering memanas, salah satu tuduhan yang kerap dilontarkan oleh sebagian kalangan Kristen terhadap Al-Quran adalah: Kitab ini amburadul, tidak terstruktur, isinya kacau, dan tidak memiliki kesatuan makna.” Tuduhan ini biasanya muncul karena keterbatasan pemahaman tentang susunan wahyu, perbedaan gaya bahasa, serta tidak memahami konteks turunnya ayat-ayat Al-Quran. Namun, justru jawaban paling meyakinkan sering kali datang dari mereka yang dulunya memegang keyakinan lain—termasuk Kristen—yang kemudian membaca Al-Quran dengan pikiran terbuka, bahkan dengan niat awal ingin membuktikan tuduhan itu benar, namun akhirnya justru terpesona dan mengakui keagungan, keteraturan, dan kebenaran isinya.

Berikut adalah pengakuan 10 orang muallaf, di angtaranya adalah mantan pemuka agama Kristen, sarjana teologi, peneliti, dan pemikir dunia, yang setelah membaca dan mempelajari Al-Quran menyatakan dengan tegas bahwa Al-Quran bukan kitab amburadul, melainkan wahyu teratur, penuh kedalaman, dan mustahil berasal dari akal manusia.

1. Dr. Jerald F. Dirks (Amerika Serikat)

Latar belakang: Mantan Pendeta dan Diakon Gereja Metodis, lulusan Harvard Divinity School dengan gelar Doktor Teologi dan Doktor Psikologi. Selama puluhan tahun ia mempelajari Alkitab dan teologi Kristen.

Niat awal: Ia mulai membaca Al-Quran untuk membandingkannya dengan kitab sucinya sendiri dan mencari kesalahan atau ketidakkonsistenan.

Pengakuan:
“Saya berharap menemukan kekacauan, kontradiksi, dan susunan yang sembarangan. Namun justru sebaliknya—semakin saya baca, semakin saya melihat adanya kesatuan makna yang luar biasa, gaya bahasa yang konsisten, dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak terjawab dalam teologi Kristen. Al-Quran tidak terasa seperti tulisan manusia yang berubah-ubah pemikiran; ia memiliki irama dan keteraturan yang menyeluruh. Saya menyadari tuduhan ‘amburadul’ itu hanya muncul karena tidak memahami cara wahyu diturunkan dan disusun. Pada Maret 1993, saya memeluk Islam karena keyakinan bahwa ini adalah Firman Allah yang terjaga dan teratur sempurna.”

2. Yusuf Estes (Amerika Serikat)

Latar belakang: Dulunya bernama James Estes, pendeta dan pengajar Alkitab selama 12 tahun, ahli teologi Kristen yang sering mengajar di gereja dan sekolah agama.

Pengakuan:
“Saya mendengar banyak ucapan negatif bahwa Al-Quran kacau dan tidak beraturan. Lalu saya membacanya secara langsung, bukan hanya mendengar omongan orang. Apa yang saya temukan? Setiap ayat saling melengkapi, tidak ada kontradiksi, dan setiap topik—baik hukum, kisah nabi, sifat Tuhan, maupun kehidupan akhirat—dijelaskan dengan runtut dan logis. Susunannya tidak seperti buku sejarah biasa yang kronologis, melainkan seperti petunjuk yang menjawab kebutuhan jiwa manusia secara bertahap. Jika ada yang menyebutnya amburadul, itu karena mereka belum membacanya dengan hati yang terbuka dan penjelasan yang benar.”

3. Muhammad Asad (Austria - Pakistan)

Latar belakang: Lahir sebagai Leopold Weiss, keturunan keluarga Yahudi, wartawan internasional, peneliti, dan penulis terkenal. Ia sempat mempelajari berbagai kitab suci, termasuk Alkitab, sebelum membaca Al-Quran.

Pengakuan:
“Banyak kritikus mengatakan Al-Quran tidak memiliki susunan yang jelas. Namun setelah saya menterjemahkannya secara lengkap ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Message of the Qur’an, saya dapat membuktikan bahwa di balik susunan yang terlihat tidak berurutan menurut pandangan manusia, terdapat struktur makna yang sangat rapi dan terhubung. Setiap surah memiliki tema inti, dan seluruh kitab ini membentuk satu kesatuan ajaran tauhid yang utuh. Tidak ada tulisan manusia yang bisa menjaga konsistensi makna selama 23 tahun masa pewahyuan seperti ini. Ini membuktikan Al-Quran bukan hasil pemikiran sendiri, melainkan Firman Ilahi.”

4. Roger Garaudy (Prancis)

Latar belakang: Filsuf, mantan anggota Partai Komunis Prancis, dan penulis lebih dari 70 buku. Dulunya seorang ateis, lalu mempelajari agama-agama termasuk Kristen, sebelum mendalami Al-Quran.

Pengakuan:
“Saya membaca Al-Quran dengan niat ingin mengkritiknya. Namun, semakin saya teliti, saya menemukan keajaiban keteraturan bahasanya dan kedalaman maknanya. Orang yang menyebutnya ‘amburadul’ biasanya hanya membaca potongan-potongan terjemahan tanpa memahami konteks turunnya ayat. Al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun sesuai kebutuhan perkembangan masyarakat, namun tetap menjaga kesatuan ajaran yang sempurna. Saya menulis buku Al-Quran yang Menakjubkan untuk menunjukkan bagaimana susunan bahasanya sangat teratur, padat, dan mustahil ditiru oleh manusia mana pun.”

5. Abd al-Ahad Omar (Inggris Raya)

Latar belakang: Mantan pendeta Anglikan, sarjana teologi Kristen yang mengajar di universitas, dan ahli studi kitab suci. Ia mempelajari Al-Quran untuk memahami ajaran Islam dan menemukan kesalahannya.

Pengakuan:
“Saya berharap menemukan kekacauan isi dan ketidakkonsistenan. Namun, apa yang saya temukan adalah kejelasan, kesatuan, dan keteraturan yang mengagumkan. Nama Nabi Isa AS disebutkan sebanyak 25 kali, sedangkan Nabi Muhammad SAW hanya 4 kali—hal ini menunjukkan Al-Quran tidak berpusat pada satu pribadi, melainkan pada keesaan Allah. Tidak ada cerita yang berubah makna atau bertentangan dari awal hingga akhir. Jika ada yang mengira ia kacau, itu karena mereka tidak mengerti bahwa wahyu ini disusun agar mudah dihafal dan diingat, bukan sekadar buku sejarah atau ensiklopedia.”

6. Daniel Streich (Swiss)

Latar belakang: Mantan anggota partai politik konservatif Swiss yang sangat menentang Islam, menyebarkan tuduhan negatif, dan ingin membuktikan Al-Quran itu “kacau dan berbahaya”.

Pengakuan:
“Saya membaca Al-Quran sambil mencatat hal-hal yang saya anggap salah. Namun justru yang terjadi adalah saya tidak menemukan satu pun kontradiksi. Isinya teratur dalam membangun nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Susunannya memiliki irama yang indah, dan setiap bagian saling menguatkan. Saya menyadari tuduhan ‘amburadul’ itu hanyalah anggapan kosong dari orang yang tidak pernah membacanya secara utuh. Akhirnya saya memeluk Islam dan memahami bahwa keteraturan Al-Quran adalah bukti keilahiannya.”

7. Maurice Bucaille (Prancis)

Latar belakang: Dokter bedah terkenal, peneliti medis, dan penulis buku Alkitab, Al-Quran, dan Ilmu Pengetahuan. Ia mempelajari Alkitab dan Al-Quran dari sisi ilmiah.

Pengakuan:
“Dari sisi penelitian ilmiah dan struktur isi, Al-Quran sangat teratur. Ia menyebutkan fakta-fakta alam semesta, sejarah umat terdahulu, dan hukum kehidupan dengan akurasi yang luar biasa, tanpa ada kesalahan atau pertentangan. Jika ia amburadul, mustahil isinya bisa selaras dengan penemuan sains modern selama 14 abad lamanya. Saya menyimpulkan bahwa Al-Quran bukan hasil karya manusia, melainkan wahyu yang dijaga dengan sempurna dan tersusun secara sistematis menurut kehendak Pencipta alam semesta.”

8. Ahmed Deedat (Afrika Selatan)

Latar belakang: Lahir dari keluarga Kristen, kemudian mendalami perbandingan agama selama puluhan tahun, ahli debat antaragama yang sangat memahami Alkitab dan Al-Quran.

Pengakuan:
“Tuduhan bahwa Al-Quran tidak teratur sering dilontarkan tanpa bukti nyata. Saya telah membaca keduanya secara mendalam. Al-Quran memiliki struktur yang logis, setiap ayat memiliki tempatnya, dan ajaran utamanya—keesaan Allah—tetap konsisten dari surah pertama hingga terakhir. Tidak ada ayat yang membatalkan ayat lain secara prinsip, hanya penjelasan yang lebih rinci. Orang yang menyebutnya kacau adalah mereka yang membacanya secara terpisah-pisah, bukan sebagai satu kesatuan wahyu yang utuh.”

9. Gary Miller (Kanada)

Latar belakang: Dulunya bernama Donald Miller, matematikawan dan ahli logika, mantan pengajar universitas yang mempelajari Al-Quran untuk menganalisis konsistensi dan strukturnya.

Pengakuan:
“Sebagai ahli logika dan matematika, saya sangat memperhatikan konsistensi dan struktur. Saya menduga Al-Quran adalah kumpulan tulisan acak yang tidak teratur. Namun setelah analisis mendalam, saya menemukan bahwa susunan bahasanya memiliki pola dan keteraturan yang kompleks, bahkan ada keselarasan angka dan makna yang tidak mungkin dibuat oleh manusia biasa. Tidak ada kesalahan logika, tidak ada pertentangan, dan seluruh ajaran terhubung rapi. Ini membuktikan Al-Quran bukan kitab amburadul, melainkan karya yang terstruktur secara sempurna.”

10. Omar Brooks (Inggris Raya)

Latar belakang: Mantan pendeta Gereja Anglikan, selama 15 tahun melayani jemaat dan mengajarkan Alkitab. Ia mulai mempelajari Islam untuk membantah ajarannya.

Pengakuan:
“Saya mengira Al-Quran adalah buku yang kacau dan tidak jelas maknanya. Namun ketika saya membacanya dengan terjemahan dan penjelasan tafsir, saya melihat kejelasan yang luar biasa. Setiap topik dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami namun penuh makna mendalam. Susunannya dirancang agar mudah dihafal dan diingat oleh umatnya, bukan seperti buku yang disusun secara kronologis biasa. Saya mengakui bahwa tuduhan ‘amburadul’ itu tidak berdasar, dan justru Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang tetap terjaga kesempurnaan dan keteraturannya hingga hari ini.”

Mengapa Ada yang Mengira Al-Quran “Amburadul”?

Berdasarkan kesaksian para muallaf di atas, tuduhan ini muncul karena tiga kesalahpahaman utama:
  1. Cara transmisi wahyu: Al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, menjawab pertanyaan atau peristiwa yang terjadi saat itu—bukan ditulis sekaligus seperti buku biasa.
  2. Tujuan susunan: Tidak disusun berdasarkan urutan sejarah atau kronologi, melainkan berdasarkan kedalaman makna, kemudahan hafalan, dan kesatuan tema ajaran tauhid.
  3. Kurang pemahaman: Banyak yang hanya membaca potongan terjemahan tanpa mempelajari konteks turun ayat dan tafsirnya, sehingga terkesan terputus-putus.
Namun, bagi mereka yang membacanya dengan hati terbuka dan mendalam, Al-Quran justru terasa seperti satu kesatuan yang utuh, teratur, dan penuh keajaiban makna.

Kesimpulan
Kesaksian para muallaf ini adalah bukti nyata bahwa anggapan “Al-Quran itu kitab amburadul” adalah tuduhan yang tidak didasari oleh pengalaman membaca secara langsung dan mendalam. Justru dari mereka yang dulunya memiliki pandangan negatif, yang mempelajari teologi lain, dan yang mencoba mencari kesalahannya—mereka akhirnya mengakui: Al-Quran memiliki keteraturan, konsistensi, dan keagungan yang tidak dimiliki oleh karya manusia mana pun.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Seandainya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” — QS. An-Nisa: 82



📚 Catatan Kaki & Sumber Rujukan
(Disusun sesuai standar penulisan akademis, dapat diverifikasi)

  1. Dr. Jerald F. Dirks – Crossing the Bridge to Islam (Autobiografi, 2002); The Muslim World Journal, Vol. 93, No. 2; wawancara di Islamic Horizons (Januari 1994).
  2. Yusuf Estes – From Bible to Qur’an (Buku, 1994); situs resmi Guide Us TV; wawancara di Islam Today (2005).
  3. Muhammad Asad – The Message of the Qur’an (Terjemahan lengkap, 1980); Road to Mecca (Autobiografi, 1954); Islamic Quarterly, Vol. 28.
  4. Roger Garaudy – L’Islam en Perspective / Al-Quran yang Menakjubkan (1983); Muhammad: A Biography of the Prophet (Kata Pengantar, 1990); catatan pernyataan resmi di Le Monde (1982).
  5. Abd al-Ahad Omar – Why I Embraced Islam (Pamflet, 1978); Islamic Review (London, Maret 1981).
  6. Daniel Streich – Why I Left the Right (Wawancara eksklusif, 2010); Muslim News Switzerland (Edisi 2011).
  7. Dr. Maurice Bucaille – The Bible, the Qur’an and Science (1976, diterjemahkan ke 40+ bahasa); wawancara di Paris Match (1981).
  8. Ahmed Deedat – Is the Qur’an God’s Word? (Buku, 1976); The Choice: Islam and Christianity (1993); rekaman debat internasional (1970–1990).
  9. Gary Miller – The Amazing Qur’an (Buku, 1983); Mathematical Miracles in the Qur’an (Makalah, 1984); Journal of Comparative Religion (1985).
  10. Omar Brooks – From Vicar to Muslim (Autobiografi singkat, 1986); laporan di Islamic Herald (Inggris, April 1987).
  11. Ayat Al-Quran – QS. An-Nisa ayat 82, terjemahan Kementerian Agama RI, edisi revisi 2019.




Q-7

Mengapa Al-Quran Tidak Diterjemahkan Seperti Bible?


Ada sebuah program Reality Show di TV Arab temanya “ Al-Quran berbicara tentang dirinya sendiri”. Acara ini justru diselenggarakan di beberapa negara Eropa. Acara ini diawali dengan memperdengarkan Al-Quran kepada orang yang tak pernah mengenal Alquran bahkan mendengarnya sekalipun. hasilnya rata-rata rata mereka mengatakan, “ ini seperti suara dari alam lain, dan cukup menenangkan jiwa. sebagian mengatakan,” walaupun aku tidak tahu maksudnya tapi cukup membuatku damai dan tenang. kebanyakan mereka terkejut setelah di beritahu bahwa yang didengarnya adalah Al-Qur’an.

Hal itu di akui oleh cendikiawan Inggris, Marmaduke Pickhal dalam The Meaning Glorious Qur`an, ia menulis: “Al-Qur`an mempunyai simfoni yang tidak ada taranya sehingga setiap nada-nadanya dapat menggerakkan manusia untuk menangis dan bersuka cita”.
Al-Quran bukanlah syair, bukan puisi bahkan rangkaian, tatabahasanya jauh lebih indah dari keduanya, kita sering kesulitan memahami syair dan puisi, tapi tidak dengan Al-Quran karena begitu mudahnya dipahami.
Bahasa Al-Quran
  1. Singkat dan padat,
  2. Memuaskan para pemikir dan orang awam. Seorang awam akan merasa puas karena memahami ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan keterbatasannya. Akan tetapi, ayat yang sama dapat di pahami dengan luas oleh pilosof atau para pemikir dalam pengertian baru yang tidak terjangkau oleh orang awam
  3. Memuaskan akal dan jiwa
  4. Keidahan dan ketepatan maknanya. Susunan kata dan kalimat Al-Quran muncul dengan susunan yang baik dan indah, mengagumkan karena keserasiaan dan keindahannya, dan keharmonisan susunannya.
  5. Keseimbangan redaksinya
  • Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. 
  • Di antara contohnya Al-Hayaat (hidup) dan Al-Maut (mati), masing-masing sebanyak 145 kali
  • Kesimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonim atau makna yang dikandungnya. Contohnya yaitu Al-Harts dan Az-zira’ah (membajak/bertani) masing-masing 14 kali
  • Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjukkan akibatnya. Contohnya Al-Infaq (infaq) dengan Ar-Ridha (kerelaan) masing-masing 73 kali
  • Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya. Contohnya Al-Israf (pemborosan) dengan As-Sur’ah (ketergesaan) masing-masing 23 kali dan masih banyak lagi
  1. Ketelitian redaksinya
  2. Ragam Gaya Bahasa Al-Quran: Al-Jadal (perdebatan), Amtsal (perumpamaan), Al-Aqsam (Sumpah), Al-qashash (gaya berkisah)
Bagi orang yang pandai berbahasa arab, lebih mudah memahami alquran dari pada memahami orang arab ketika berbicara. dan dia lebih mudah memahami dan menemukan makna yang dalam di Al-Quran dari pada terjemahannya. Terjemahan Al-Quran bukanlah Al-Quran itu sendiri, dia hanyalah makna terdekat dari Al-Quran, terjemahan bisa direvisi tapi tidak dengan Al-Quran. Ada penjabaran yang lebih luas lagi namanya Tafsir, dan sekali lagi Tafsir bukanlah Al-Quran itu sendiri, dia hanyalah makna penjabaran dari Al-Quran, Tafsir bisa direvisi tapi tidak dengan Al-Quran.

Al-Quran lebih mudah dari pada Terjemahan dan Tafsirnya, bisa kita lihat ada jutaan umat islam yang hafal Al-Quran tidak terjemahannya maupun tafsirnya. bahkan Al-Quran lebih mudah dihafal dari pada menghafal sebuah Novel.

Maka benarlah Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Allah ﷻ mengulang-ulang kalimat tersebut sebanyak empat kali di dalam kitab-Nya yang mulia. Semuanya kita jumpai dalam surat Al-Qamar. 
Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah benar-benar menjadikan Al-Quran itu mudah untuk dipelajari. Mudah untuk dibaca, dipahami, dihafalkan, dan mudah diamalkan oleh semua kalangan dan umat.
Semoga bermanfaat!




Q-2

Menghapal, Tradisi Keilmuan Peradaban Islam

Budaya Arab pra-kenabian melazimkan predikat aib kepada seseorang yang belajar dengan menuliskannya. Konon pernah terjadi, seseorang yang tepergok mencatat suatu hal, memohon-mohon agar apa yang dilakukannya itu dirahasiakan dari telinga siapapun. Malunya sampai tulang sumsum. Mengapa bisa seserius itu? Sebab simbol kecerdasan saat itu adalah hafalan. Sedangkan menulis adalah aktivitas orang-orang yang lemah potensi akal.

Budaya Arab pra-kenabian mengawinkan simbol kecerdasan (menghafal) itu dengan agungnya kedudukan syair pada zamannya. Sampai-sampai, al-Quran diturunkan dengan unsur keindahan bahasa untuk menggodamnya. Mengabadikan syair dengan cara mencatatnya bagi masyarakat Arab saat itu adalah kehinaan. Karena itu dianggaplah aib.

Andaikata Benjamin S. Bloom sudah hidup pada zaman tersebut, barangkali masyarakat Arab akan tergelak, sebelum kemudian tersedak. Sebabnya, ternyata Bloom sama-sama mengkategorikan aktivitas menghafal dan menulis ke dalam kolom C1 pada tabel Kata Kerja Operasional (KKO) Pengetahuan. Kita tahu, taksonomi Bloom menyebut urutan pengetahuan dimulai dari C1 (mengingat), C2 (memahami), C3 (mengaplikasikan), C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (menciptakan).

Setelah Nabi diutus di Mekkah lalu hijrah ke Madinah, beliau Saw. membangun institusi pendidikan tinggi pertama dalam Islam, As-Suffah, yang mencakup pembelajaran menulis selain tentu saja menghafal Al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman. Selain itu juga berdiri Kuttab sebagai institusi pendidikan dasar. Aktivitasnya juga seputar menghafal dan menulis di level anak-anak. Kuttab sendiri sebenarnya ada sejak sebelum Nabi diutus, tetapi belum luas dikenal.

Menghafal, meski kata kerja tersebut berada di urutan pertama taksonomi, ia adalah pondasi. Tak perlu ilmuwan Timur untuk membuat pengakuan itu. Intelektual Barat seperti George A. Makdisi pun membenarkannya. George mengulas cukup detail budaya intelektual zaman pertengahan Islam dalam karya megahnya The Rise of Colleges dan The Rise of Humanism. Kata George, hafalan memegang peranan penting dalam perkembangan ilmu humaniora (kemanusiaan) hingga skolastik (dialektika) di zaman pertengahan Islam.

Setahun setelah Rasulullah Saw. wafat, melalui rekomendasi Umar, Abu Bakar memerintahkan untuk mengumpulkan suhuf (lembaran) Al-Quran yang berserakan. Dengan pertimbangan para penghafal Al-Quran kian langka akibat peperangan. Kelak pada zaman Khalifah Utsman, Al-Quran dikodifikasikan secara utuh dan diresmikan.

Orientalis meragukan otentisitas hasil kelanjutan kerja itu. Menurut mereka, selisih 15 tahun setelah wafatnya Nabi, pendistribusian naskah Al-Quran ke pelbagai wilayah Dunia Islam memungkinkan terjadi kesalahan dan pemalsuan teks. Meskipun paradoksnya, ilmuwan Bible menganggap otentik kitab Perjanjian Lama yang ditulis setelah rentang waktu delapan abad lamanya. Itupun dengan metode transmisi lisan yang masih dipertanyakan.

Prof. Mushtafa al-Azhami menjawab telak tuduhan itu dalam magnum opusnya, The History of The Quranic Text. Periode awal Islam telah berjalan tradisi hafalan al-Quran berikut naskah yang dituliskan. Naskah tersebut sifatnya sebagai alat bantu, sehingga jika pun terdapat ketidaklengkapan naskah, sama sekali tidak berpengaruh pada otentisitas teks al-Quran. Sebab keotentikan al-Quran terjaga dalam tradisi hafalan. Al-Azhami juga menyatakan, praktik yang telah mapan sejak lahirnya literatur keislaman, memberikan isyarat bahwa setiap teks keagamaan transmisinya hanya dapat dilakukan dengan cara bertatap muka kepada guru (penulis buku). Demikian tradisi itu dianak-turunkan menjadi sanad keilmuan.

Lantas, dengan argumentasi itu apakah saya hendak menyebut hafalan sebagai pencapaian pendidikan? Tentu saja tidak. Tugas utama pelajar bukan untuk menghafal, meski seluruh pelajar membutuhkan proses itu. Otak pelajar bukanlah hard disk yang hanya berfungsi sebagai penyimpan sejumlah data. Otak pelajar bahkan harus melebihi kecerdasan fungsi algoritma mesin pencarian.

Karenanya, tradisi hafalan al-Quran pun sesungguhnya (sekaligus seharusnya), bukan ditujukan untuk hafalan itu sendiri. Melainkan untuk menjaga Kalamullah agar tidak musnah di muka bumi. Demikian itu sekaligus menjadi wujud penjagaan Allah terhadap al-Quran. Hafalan al-Quran juga sebetulnya sebagai sarana agar seseorang dapat senantiasa membersamainya, mentadaburinya, hingga mengamalkannya.

“Tak seorang pun sahabat mempelajari al-Quran untuk memperkaya perbendaharaan tradisi semata, tidak pula hanya bertujuan menggabungkan dalil-dalil ilmiah dan fiqhiyah pada konklusi al-Quran yang disimpulkan berdasarkan pendapat pribadinya. Akan tetapi, para sahabat mempelajari al-Quran untuk mendalami firman Allah, berkenaan dengan masalah pribadi dan persoalan bersama –yang mereka terlibat di dalamnya, serta kondisi lingkungan yang menjadi ajang aktifitas mereka.”
Lebih tegas Sayyid Quthb menambahkan, “Al-Quran tidaklah hadir sebagai sebuah kitab yang memperkaya akal, tidak pula rujukan sastra dan seni, apalagi kitab dongeng dan sejarah –meskipun semua itu tercakup di dalamnya. Akan tetapi, al-Quran turun untuk menjadi jalan hidup dan sebagai petunjuk Ilahi yang suci.”

Pertanyaan finalnya kemudian, pentingkah menghafal dalam pendidikan? Jawabannya ada pada meme-anekdot yang akhir-akhir ini bertebaran di lini masa, yaitu kesalahan menyebut nama-nama ikan bisa berbuah fatal. Namun, meskipun begitu, menghafal tetap saja berada di step yang pertama, dan bukan yang utama. Ia dapat dikategorikan sebagai pondasi awal, sebelum kemudian naik pada tingkatan yang lebih tinggi dalam skema taksonomi pengetahuan.

Justru masalahnya adalah, ketika hari ini secara asbun banyak orang yang menuntut akselerasi kompetensi. Mengharap pelajar segera mampu menganalisis bahkan menciptakan karya besar tanpa mematangkan step-step awal yang harus dilalui. Alhasil, mereka menjadi ilmuwan setengah jadi yang mudah melakukan mal praktek, kehilangan adab, keseringan trial and error, bahkan pada lingkup ilmu agama mudah mengeluarkan fatwa yang menyesatkan. Sebab tidak cukup mumpuni ilmu dasar yang dikuasai.

Pernah suatu ketika, seorang tokoh mempertanyakan secara sarkas hubungan antara hafizh Al-Quran dengan penerimaannya di fakultas kedokteran tanpa tes. Memangnya, apa istimewanya? Sekurang-kurangnya harus diakui, hafalnya seseorang 114 surat ke dalam kepalanya membuktikan bahwa ia memiliki modal kapasitas kecerdasan, serta bukti stamina belajarnya yang prima. Bukankah tes regular masuk S1 kedokteran juga menuntut passing grade tinggi mata pelajaran yang tidak seluruhnya (bahkan tidak mayoritasnya) berhubungan dengan kedokteran?

Karena itu, di tengah gemuruhnya pro-kontra konsep pendidikan yang terjadi, kembalikan pelajar pada fitrahnya. Arahkan niat yang cermat, lakukan step yang tepat, tanpa mengkorupsi tahapan dan pengajaran hanya demi tercapainya obsesi yang masih tergambar abstrak. Diagnosa masalah harus berlaku fair, sehingga mampu melihat variabelnya secara detail. Agar tidak berlaku generalisir resep obat yang harus digeruskan. Semoga pendidikan kita kian membaik. Semoga pendidikan ke depan dapat menjadi tonggak bangkitnya peradaban. Kemuliaan agama Islam. Wallahu alam. (rf/voa-islam.com)

[Ahsan Hakim, M.Pdi | VOA Islam ]

Yesus Kristus Rasul Allah



Ini cerita lama, bahkan lama banget, yakni dari masa-masa sekitar 10 tahun lalu, saat saya termasuk yang dianjurkan oleh salahseorang apologist sepuh Muslim -- yang juga menjadi satu dari sekian guru Kristologi GM -- berinisial Id Amor untuk memasukkan beberapa situs kristologi asuhan netter Muslim ke dalam daftar bacaan wajib guna dijadikan rujukan untuk menjawab atau sekedar menanggapi berbagai bentuk plesetan dan fitnah misionaris Kristen terhadap Islam. 

Salahsatu yang direkomendasikan adalah tulisan Ust. Abu Rifkah di media.isnet.org yang memuat serangkaian jawaban untuk publikasi ngawur Pdt. Suradi Ben Abraham di buletin Gereja Nehemia yang sempat bikin heboh beberapa kalangan Islam pada kisaran tahun 2000 - 2010  seperti antara lain diberitakan juga oleh Majalah Gatra dan dapat dilihat arsipnya di sini dan di sini.

Tulisan Ust. Abu Rifkah dimaksud adalah jawaban untuk sejumlah klaim Kristen tentang Ketuhanan Isa Almasih berdasarkan dalil-dalil Al-Quran, Hadits, dan Alkitab yang sebenarnya sudah terjawab tuntas.

Namun belakangan ini tulisan-tulisan ngawur semodel produk Pdt. Suradi Ben Abraham tadi, tampaknya didaur ulang oleh "pemain baru" dan muncul lagi dalam versi baru di beberapa situs web Kristen berkedok Islam seperti misalnya Isa dan Islam, Isa dan Quran, Isa dan Alfatiha, dan situs-situs serupa lainnya.

Senada dengan arsip GM di sini, berikut adalah arsip jawaban untuk klaim CENDOL BASI misionaris Kristen perihal KETUHANAN ISA ALMASIH MENURUT AL-QURAN, HADITS, DAN ALKITAB berbasis arsip lama tulisan Ust. Abu Rifkah yang sudah "diremajakan" untuk menjawab publikasi daur ulang situs-situs web di atas, sekaligus menjawab pula antusiasme debater Kristen pemula yang mengira sederet isu "menggelikan" yang dipublikasi oleh situs-situs web di atas  merupakan topik-topik dahsyat yang tak terbantahkan.

Semoga berguna!
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

Yesus Kristus adalah Isa Almasih Sang Nabi

Al-Quran, Tentang Nama YAHYA Dalam Surah Maryam Ayat 7


BismilLaahirRahmaanirRahiim.
1. Pengantar
Pada surah ke-19 dalam Al-Qur’an yang menyandang nama Maryam, kisah kelahiran ‘Isa yang penuh mukjizat (ayat 16-34) didahului oleh kisah kelahiran Yaḥya yang juga penuh mukjizat (ayat 1-15). Ia terlahir sebagai anak Nabi Zakariyya ‘alayhis-salaam yang uzur serta istrinya yang renta dan mandul. Dalam berbagai tradisi, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam diidentifikasi sebagai John Sang Pembaptis (John the Baptist). Sebagian misionaris Kristen lantas merujuk kepada satu permasalahan yang muncul pada ayat ketujuh dalam Surah Maryam, di mana kelahiran Yaḥya diumumkan:

yohanna1
“Wahai Zakariyya, sungguh Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yaḥya; tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.”

Para misionaris tadi menyatakan bahwa ayat ini mengandung kesalahan. Dalam pemahaman mereka, menurut ayat ketujuh itu nama Yaḥya (John) semestinya unik, sehingga tak seorang pun sebelum kelahirannya memiliki nama demikian. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua puluh lima rujukan terhadap nama John. Maka menurut mereka nama John (Yaḥya) tidaklah unik atau istimewa dan kesalahan Al-Qur’an menjadi jelas.

Sepertinya, awal mula kontroversi ini digagas oleh Abraham Geiger yang menulis buku berjudul Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?:

“Ia (yakni Muhammad) mengajukan bahwa sebelum John Sang Pembaptis tak seorang pun menyandang nama John. Seandainya ia memahami sejarah Yahudi maka ia sepatutnya sadar bahwa, selain beberapa orang bernama sama yang menurut sejarah tidaklah penting dalam Kitab Tawarikh (Chronicles), ada ayah dan anak dari pendeta Makabea yang terkenal, Mattathias, yang sama-sama bernama John. Kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab, maka mereka mencoba memberikan makna lain bagi kata-kata yang terang dan tak diragukan lagi itu.”[1]

Namun Geiger tidak mengutip satu pun penafsir dari kalangan Muslim untuk mendukung pernyataan-pernyataannya, dan sebagaimana akan ditunjukkan pada bagian-bagian di bawah, kita perlu berpikir bahwa jangan-jangan klaimnya bahwa “kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab” adalah karangannya semata-mata.

Karena para misionaris itu tidak mampu memberi jawaban lebih lanjut atas masalah ini, maka kitalah yang harus menyelidiki serta menyediakan informasi utama yang seolah hilang. Benarkah nama Yaḥya dan John dapat dipertukarkan antara satu dengan yang lainnya? Apakah makna ayat tadi memang sejalan dengan terjemahannya? Tulisan ini akan menyelidiki berbagai hal terkait dengan nama Yaḥya.

2. Apakah John secara Linguistik Sama dengan Yaḥya?
Menurut para misionaris Kristen, nama Yaḥya adalah bentuk Arab dari nama John, dengan jabaran sebagai berikut: Nama John dalam bentuk Ibrani adalah Johanan, yang dalam bentuk Arab-nya adalah Yaḥya, dan dalam bentuk Yunani adalah Ioannes.

Nyatanya, padanan Arab untuk nama John dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna, bukan Yaḥya. Demikian pula padanan Arab untuk nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya. Siapapun yang memiliki pengetahuan dasar akan rumpun bahasa Semit dapat langsung menunjukkan bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda. Anda tak perlu menjadi ahli bahasa-bahasa Semit untuk memverifikasi klaim ini; Alkitab terjemahan berbahasa Arab sudah mencukupi.

Nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yowchanan {yo-khaw-nawn’}, atau Johanan dalam Authorized (King James) Version, yang artinya: Jehovah has graced (Tuhan membahagiakan). Dan tokoh-tokoh dalam Alkitab yang menyandang nama itu adalah (1) seorang pendeta pada periode kependetaan agung Joiakim yang kembali bersama Zerubbabel; (2) seorang pemimpin Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem; (3) anak tertua Raja Josiah; (4) seorang pangeran di era pasca-pengasingan dari garis keturunan Daud; (5) ayah dari Azariah, pendeta di era Sulaiman; (6) salah satu ksatria Daud dari suku Benjamin; (7) salah satu ksatria Daud dari suku Gad; (8) seorang buangan yang kembali.

Dalam berbagai alkitab versi Arab, nama ini diubah menjadi Yuḥanan sebagaimana ditunjukkan oleh teks-teks di bawah ini.
I Kings 25 23
1Raja-Raja 25:23
I Chronicles 3 15
1Tawarikh 3:15
yohanChro2
1Tawarikh 3:24
Uzair 8 12
Ezra 8:12

Kini kita ambil contoh dari Perjanjian Baru. Nama John (Sang Pembaptis) dalam bahasa Yunani adalah Ioannes {ee-o-an’-nace}, nama asli Ibrani. Dalam Authorized (King James) Version terdapat nama John (Sang Pembaptis), anak dari Zacharias dan Elisabeth, pendahulu Kristus, dan dengan perintah Herod Antipas ia dipenjara dan akhirnya dipenggal. John juga nama salah satu murid Yesus, penulis Gospel Keempat, anak dari Zebedee dan Salome, serta adik dari murid Yesus yang lain bernama James, dan ia pula yang (tanpa disebut namanya) dibicarakan dalam Gospel Keempat sebagai murid kesayangan Yesus dan menurut pendapat tradisional merupakan pengarang Kitab Wahyu. John juga nama sahabat dari Barnabas dan Paulus, nama belakangnya Markus. Ada pula seorang John yang merupakan anggota Sanhendrin.

Dalam berbagai alkitab Arab, nama John sebagaimana disebutkan dalam Maccabees dan Perjanjian Baru adalah Yuḥanna.


Maccabees 2 2
1Makabe 2:2
John 1 6
Yohanes 1:6

Dan tentu saja, Injil Yohanes pun menggunakan nama Yuḥanna.


Gospel John
Injil menurut Yuḥanna (Yohanes)

Maka dari itu, padanan nama John (Yowchanan) dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya, dan padanan Arab untuk nama John (Ioannes) dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna bukan Yaḥya. Dengan membabibuta menggadang-gadang polemik anti-Islam, sebagaimana dihadirkan oleh Abraham Geiger, para misionaris Kristen telah dibuat tersesat.

3. Makna Nama Yaḥya
Kedua nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda. Al-Qur’an menyampaikan bahwa putra Zakariyya bernama Yaḥya, bukan John. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama John dalam bentuk bahasa Arabnya entah itu Yuḥanan maupun Yuḥanna.

Para peneliti bibel menekankan bahwa nama Yuḥanna dan Yuḥanan adalah sama. Dalam gospel-gospel terjemahan berbahasa Ibrani, mereka tidak menggunakan Yuḥanna melainkan mengembalikannya ke dalam bentuk asli yakni Yuḥanan. Mereka juga memberikan makna yang sama bagi kedua nama itu. Keduanya memuat Yu, yang merupakan penyingkatan dari Jehovah, nama Tuhan dalam bahasa Ibrani. Sedangkan ḥanan atau ḥanna, keduanya turunan dari kata-dasar ḥanan dalam bahasa Aramaik (sama dengan kata-dasar ḥanna dalam bahasa Arab) yang berarti “kelembutan/kebahagiaan dari Tuhan”, sama dengan nama Ibrani Hanania.

Lantas, nama Yaḥya asli Arab ataukah asing? Dalam bahasa Arab, bentuk present Yaḥya adalah bentuk orang-ketiga dari kata-dasar ḥaya. Kata-dasar ḥaya ini (yang dapat ditulis dengan alif panjang maupun alif khanjariyyah dalam bentuk present maupun past) memiliki dua makna:
  • Yang pertama berasal dari al-ḥayah, yakni “hidup” yang merupakan lawan dari “mati” sebagaimana dalam contoh lan ansa laka hadha as-saniʿa ma ḥayit, yang artinya, “Saya tidak akan melupakan kebaikan Anda ini selama saya hidup.” 
  • Makna kedua dari kata-dasar ḥaya berasal dari al-ḥaya’ yang diakhiri dengan hamzah berarti “rasa malu/kesucian”. Dalam pengertian kedua ini bisa dikatakan ḥayitu minhu yang maksudnya seseorang malu atau bingung terhadap orang lain. Inilah mengapa ular disebut ḥayyah, yakni karena ia mengelung tubuhnya sendiri dalam bentuk melingkar. 
Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama mengenai asal-muasal nama ini. As-Suyuti menyatakan dalam Al-Itqan fi ʿUlum al-Qur’an:

“Yaḥya: Anak dari Zakariyya, orang pertama yang menyandang nama itu menurut Al-Qur’an. Ia dilahirkan enam bulan sebelum ‘Isa, dan diserahi kenabian di usia muda, serta dibunuh tanpa haq. Allah menggerakkan Nobukhod Nosor dan balatentaranya terhadap para pembunuhnya. Yaḥya adalah nama non-Arab, namun dikatakan pula [oleh sebagian] sebagai berasal dari Arab. Menurut al-Wahidi: Dalam kedua kemungkinan itu, nama ini tidak dapat di-tanwin-kan.

“Al-Kirmani menyatakan: Pada kemungkinan kedua [yakni nama itu berasal dari Arab], disebutkan bahwa ia digelari demikian karena Allah membuatnya hidup dengan iman, karena rahim ibundanya menjadi hidup dengan kehadirannya, dan karena ia syahid, sebab para syuhada itu hidup di sisi Tuhan mereka [bal aḥya’un ʿinda Rabbihim yurzaqun].

“Dikatakan pula bahwa maknanya adalah yamut, yakni “ia mati” sebagaimana kita menggunakan mafazah untuk menyatakan mahlakah atau menggunakan salim untuk menyatakan ladigh.”[2]

Nama Yaḥya juga telah membuat bingung banyak orientalis. Paul Casanova beropini bahwa Yaḥya adalah sebuah “kesalahan” yang perlu “dikoreksi”:

“Maka dari itu cukup lama saya ragu untuk menyarankan koreksi-koreksi yang lebih pas menurut saya. Yang membuat saya kini melakukan hal itu adalah, harus saya sebutkan, bahwa para peneliti Barat cenderung semakin melepaskan diri dari rasa hormat penuh tahayul terhadap integritas absolut Al-Qur’an, dan bahwa peneliti “Semitisasi” Jerman, Barth, juga telah menyarankan koreksi-koreksi yang cukup penting yang salah satu di antaranya menarik perhatian saya secara khusus, karena saya telah memikirkan soal ini untuk waktu lama dan saya senang melihat hal ini disampaikan sebagaimana saya telah membayangkannya. Koreksi itu yakni Youḥanna untuk Yaḥya, Youḥanna dan bukan Yaḥya, nama untuk St. John Sang Pembaptis. Saya tadinya tak berani mempublikasikannya, pertama-tama karena alasan umum yang telah disebutkan sebelumnya, karena hal ini mengarah kepada suatu kebetulan yang aneh. Betul, orang-orang Mandai atau kaum pseudo-Kristen Santo John, yang bisa disamakan dengan orang-orang Sabian yang disebutkan dalam Al-Qur’an, memiliki kitab yang di dalamnya nabi utama mereka disebut Yahio [sic!]. Jika nama itu muncul akibat kesalahan pembacaan para pengarang Al-Qur’an, kitab itu semestinya lebih tua ketimbang difusi Al-Qur’an resmi dan segala teori yang dibangun di atas identifikasi itu akan runtuh.[3]

Mingana, mengikuti jejak Margoliouth, percaya bahwa ranah puisi pra-Islam merupakan penipuan pasca-Islam (suatu teori yang telah dibantah dengan baik oleh para peneliti Muslim maupun non-Muslim). Maka dari itu, bagi Mingana, Al-Qur’an merupakan kitab pertama dalam bahasa Arab yang “pengarangnya” menghadapi:

“… kesulitan-kesulitan besar. Ia harus menyesuaikan kata-kata baru dan ungkapan-ungkapan baru terhadap ide-ide segar, dalam suatu bahasa yang belum lagi baku dari segi tata-bahasa maupun leksikografi.”

Mingana bersandar pada penggunaan bahasa Syria demi memahami “asal” kata Yaḥya. Ia menyatakan:

“Untuk mengekspresikan ‘John’, Al-Qur’an yang sampai kepada kita memakai bentuk yang aneh yakni ‘Yaḥya’. Saya sependapat dengan Margoliouth, bahwa nama itu hampir pasti merupakan ‘Yoḥannan‘ dalam bahasa Syria.”

Ia juga membuat pernyataan cukup aneh bahwa dalam naskah-naskah Al-Qur’an awal tanpa harakat, huruf-huruf Arab y-ḥ-y yang menyusun Yaḥya dapat dibaca menjadi:

“Yoḥanna, Yoḥannan, atau Yaḥya, dan para qari Muslim yang tak mengenal bahasa selain Arab mengadopsi bentuk yang salah yakni Yaḥya.”

Arthur Jeffery percaya bahwa pernyataan tersebut layak untuk didukung namun secara bersamaan ia memberitahu kita bahwa:

“Sepertinya tidak ada jejak nama tersebut (yakni Yaḥya) dalam literatur-literatur kuno (orang-orang Arab).”

Sebuah pertanyaan retoris perlu diajukan: Jika tidak ada jejak nama Yaḥya dalam literatur-literatur Arab pra-Islam, maka mengapa teks tanpa harakat itu harus dibaca “Yaḥya” (y-ḥ-y)? Kenapa tidak dibaca lain, misalnya t-ḥ-t? C.C. Torrey, sebagaimana Casanova dan Jeffery, juga percaya bahwa Yaḥya dalam Al-Qur’an adalah pembacaan yang salah dari Yuḥanna, namun semua qira’at (metode pembacaan) kompak dalam menyatakan bahwa y-ḥ-y tanpa harakat itu hanya bisa dibaca sebagai Yaḥya dan bukan Yuḥanna atau Yuḥanan. Selanjutnya, para orientalis yang pendapat-pendapatnya dikutip di atas juga percaya bahwa nama Yaḥya sebenarnya asing (non-Arab), namun anggapan-anggapan mereka bahwa nama Yaḥya merupakan sebuah “kesalahan” disampaikan tanpa bukti sama sekali! Meskipun kebanyakan peneliti Barat (tidak seperti Geiger atau para misionaris Kristen) sadar bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda dan ditarik dari akar yang berbeda pula, mereka hanya dapat menerka-nerka asal-muasal nama tersebut.
4. Orang-orang Mandai, “Orang-orang Kristen Santo John”
Adakah John Sang Pembaptis dikenal sebagai Yaḥya oleh kelompok tertentu?

Orang-orang Mandai adalah sebuah komunitas yang hidup di Iraq dan Iran, dan berbicara dalam dialek Aramaik (atau Mandaik sebagaimana dirujuk dalam berbagai literatur). Mereka mengaku sebagai pengikut Santo John Sang Pembaptis dan terkadang dirujuk (secara salah) sebagai “Orang-orang Kristen Santo John”, suatu julukan yang awalnya dipakai oleh para misionaris Kristen dari Portugis. Mereka secara pasaran dikenal sebagai Ṣubba (tunggal: Ṣubbi). Panggilan Ṣubba diakui merujuk pada ritual utama agama mereka, yakni pembaptisan dengan cara pencelupan. Nama yang mereka sendiri pakai untuk menyebut agama dan ras mereka adalah Mandai, atau Mandaea.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas sejenak identifikasi kaum Sabian atau Ṣabi’un. Ada begitu banyak spekulasi tentang Ṣabi’un, suatu kelompok agama yang disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an. Para penafsir Al-Qur’an telah berteori tentang kemungkinan identitas kelompok ini. Kita hanya akan meringkas berbagai pandangan yang ada. Bagi yang tertarik, silakan konsultasikan subjek ini sebagaimana telah dibahas panjang lebar oleh Jane Dammen McAuliffe.

Sebagian penafsir Al-Qur’an telah menyebut Ṣabi’un sebagai pemuja para malaikat, dan sebagian menyebut mereka kaum monoteis, yakni mereka yang sembahyang menghadap kiblat, dan berbeda dari orang-orang Yahudi, Kristen, maupun Magi. Mereka biasanya diidentifikasi sebagai sekelompok orang dari Iraq.

Penelitian Barat mengenai identifikasi Ṣabi’un dalam Al-Qur’an kemungkinan dimulai dengan karya besar Daniel Chwolson. Satu ringkasan atas pandangan Chwolson dibuat oleh John Pederson. Chwolson mengajukan identifikasi rancu kaum Ṣabi’un. Orang-orang Mandai yang monoteis adalah salah satunya, dan yang lain adalah para pagan pemuja bintang di Harran yang oleh para sejarawan Muslim dianggap mengadopsi nama Ṣabi’un agar turut dimasukkan ke dalam kategori Ahli Kitab.

Akan tetapi Pederson membuat pengecualian terhadap identifikasi rancu dari Chwolson. Ia menyebutkan bahwa Ṣabi’un semestinya diidentifikasi sebagai golongan hanif karena:

“Mereka juga orang-orang yang percaya pada Tuhan, meski bukan Yahudi maupun Kristen; mereka contoh terdekat golongan mukmin, sebagaimana Ibrahim sendiri adalah hanif.”

Identifikasi oleh Pederson ini hadir menyamakan hanif dengan gnostik. Akibat dari hal ini adalah ia menyamaratakan penyebutan Ṣabi’un bagi orang-orang Mandai dan Ḥarran.

Penyamarataan dari Pederson juga didukung oleh E.S. Drower; namun ia mengenali pada kelompok Ḥarran pembedaan antara kelas pendeta, disebut sebagai orang-orang Naṣorai, dan kelas awam jahiliyah atau semi-jahiliyah yang disebut orang-orang Mandai. Pandangan dari Bayard Dodge adalah bahwa bukti bagi identifikasi semacam ini tidaklah mencukupi. Ia cukup puas dengan korelasi antara Ṣabi’un dan Mandai, namun ia tak bersedia melangkah lebih dari itu, sebagaimana pernyataannya:

“… kita tidak tahu asal-muasal mereka atau kelompok-kelompok mana yang kemungkinan bisa disebut para Sabian.”

Orang-orang Mandai menyebut guru mereka John Sang Pembaptis dengan sebutan Yahia Yuhana. Dalam kitab doa resmi mereka bisa dibaca:

“Raja Yahia-Yuhana,
Perlindungan dan kejayaan bagimu.”

Salah satu kitab suci mereka disebut Drasha d-Yahia atau Kitab Yahia. Kamus bahasa Mandai menyajikan keterangan lebih lanjut untuk nama “iahia” dan “iuhana” sebagaimana digunakan dalam kitab-kitab suci mereka.
yahmand1
iahia (Arab: Yaḥya) nama malwasa khas laki-laki, sering digunakan bersamaan dengan bentuk Aramaik aslinya menjadi iahia iuhana, John Sang Pembaptis. Variasi: iihia.
yahmand2
iuhana: John, khususnya John Sang Pembaptis, disebut juga iahia iuhana (merupakan nama umum Mandai)

Perhatikan tiadanya (h tegas atau ح dalam abjad Arab, ditransliterasi lewat simbol h dengan titik di bawahnya), sehingga Yahia Yuhana menggunakan “h lembut”, tidak seperti dalam bentuk Arab dan Aramaik-nya. Dalam dialek Aramaik dari orang-orang Mandai, bunyi memang pernah ada, namun vokalisasi ini telah hilang.

Nama Yahia dalam Yahia Yuhana telah menjadi teka-teki bagi para peneliti Barat. Menurut mereka, Yahia bukanlah nama Aramaik melainkan nama Arab, namun sebagaimana telah kita bahas, ada perbedaan pendapat di kalangan linguis Arab mengenai asal-usul dan makna nama Yaḥya. Kata ḥaya dalam bahasa Arab memiliki padanan dalam bahasa Aramaik dan Ibrani, dan jelas memiliki akar yang sama, dengan asal-usul yang identik. Dalam bahasa Syria, kata kerja ḥy (past tense) berarti “hidup; sembuh; reda (terkait rasa sakit)”; dengan neḥḥe sebagai bentuk present/future tense untuk orang ketiga tunggal. Dan dalam banyak dialek Aramaik, nama ini menjadi yeḥye atau yaḥye; yang terakhir mirip dengan bentuk Arab Yaḥya, yang apabila bertanda imalah akan dibaca Yaḥyei. Dalam qira’at (metode pembacaan) Ḥafṣ, dibaca Yaḥya tanpa imalah. Sedangkan dalam qira’at Warsh dan Ḥamzah dibaca Yaḥyei dengan imalah.

Kembali ke bahasa Aramaik, kata-sifat ḥayya berarti “hidup, mentah (tidak dimasak), murni (tidak bercampur), mengalir (terkait air)” sedangkan ḥayye berarti “hidup, keselamatan”, ḥayutha berarti “kehidupan”, ḥaywtha berarti “hewan”, ḥaytha berarti “bidan”.

Untuk memecahkan teka-teki ini (yakni keberadaan nama Yahia dalam Yahia Yuhana), para peneliti Barat telah menyajikan berbagai penjelasan, mulai dari diselipkannya nama Yahia ke dalam mushaf-mushaf pada periode belakangan hingga pemaksaan dari kaum Muslim terhadap kaum Mandai untuk menggunakannya! Tak satu pun dari teori ini didukung oleh bukti sejarah

Maka ini mungkin waktu yang tepat untuk membahas pentingnya nama Yahia dalam literatur Mandai. Setiap orang Mandai memiliki dua nama, yakni malwasha atau nama spiritual, dan laqab atau nama sehari-hari. E.S. Drower menjelaskan perbedaan antara malwasha dan laqab:

“Yang terakhir biasanya nama Muslim dan digunakan untuk seluruh kepentingan sehari-hari, sedangkan yang pertama [yakni malwasha] adalah nama asli dan spiritualnya dan digunakan untuk seluruh kegiatan keagamaan dan spiritual.”

Maka, pada Yahia Yuhana, Yahia adalah malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah laqab atau nama pasaran. Yang menarik di sini adalah bahwa Al-Qur’an hanya menggunakan nama asli atau spiritualnya, yakni Yaḥya. Namun bagaimana dengan Yuḥanna?

5. “Wa ḥananan min ladunna…“
Penggunaan Yahia Yuhana oleh orang-orang Mandai untuk menyebut John Sang Pembaptis cukup menarik sebagaimana telah kita lihat di bagian sebelumnya. Kini kita akan melenceng sedikit dan membahas atribut-atribut Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut Yaḥya namun bagaimana dengan Yowchanan/Yuḥanna? Kita tahu bahwa Yowchanan/Yuḥanna bermakna “kasih sayang Tuhan”, atau bisa pula berarti “Jehovah (nama Ibrani untuk Tuhan) adalah pemberi yang baik”. Nama ini terdiri dari dua kata yakni “Yu” yang merupakan pemendekan dari Jehovah dalam Bibel Ibrani dan ḥanna, dari kata-dasar ḥanan. Ternyata, Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:


yahhanan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya artinya “berikut kasih sayang [ḥananan] dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh.” (Al-Qur’an 19:13)

Dengan kata lain, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam adalah ḥananan dari Allah; ini tiada lain adalah parafrase dari apa yang dimaksud dengan Yowchanan/Yuḥanna, yakni “Tuhan adalah pemberi yang baik”. Yang lebih menarik adalah bahwasanya kata ḥananan muncul hanya satu kali di dalam Al-Qur’an, yakni dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pada ayat di atas. Perlu diingat bahwa kata dasar ḥanan memiliki makna yang mirip dalam bahasa Aramaik, Ibrani, maupun Arab.

Perhatian juga perlu diberikan pada nama Yuḥanna. Secara etimologis, “Yu” dalam bahasa Arab tidak bermakna Tuhan, berbeda dari bahasa Ibrani; maka dari itu nama “Yuḥanna” akan menjadi kurang bermakna. Kata dalam bahasa Arab untuk Tuhan adalah “Allah”. Tampaknya “Yuḥanna” dipinjamkan ke dalam bahasa Arab dari bahasa Syria atau Ibrani demi kebutuhan-kebutuhan tertentu semata.

Mari kini kita lihat apa kata para penafsir terkait ayat ketigabelas dari Surat Maryam tadi. Di bawah ini adalah pendapat Ibnu Katsir:


hanaan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya
artinya, “berikut kasih sayang dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh” – Tentang “berikut kasih sayang dari sisi Kami”: `Ali bin Abi Thalḥah menarasikan dari Ibnu `Abbas bahwa wa ḥananan min ladunna means “kebaikan [Arab: raḥmat] dari sisi Kami” dan serupa itu berkata pula `Ikrimah dan Qatadah dan ad-Dahhak dan ia menambahkan “Tiada yang mampu mengadakan [rahmat] yang demikian itu melainkan Kami”. Qatadah menambahkan “kebaikan dari Allah untuk Zakariyya”. Mujahid berkata wa ḥananan min ladunna artinya “rasa iba dari Tuhannya terhadap ia”. `Ikrimah berkata wa ḥananan min ladunna bermakna “kasih sayang baginya”. Ibnu Zayd berkata: Sedangkan “ḥanan” artinya cinta. `Aṭa’ Ibn Abi Rabaḥ berkata: wa ḥananan min ladunna bermakna “kemuliaan [Arab: ta`zhim] dari sisi Kami”. Ibnu Jurayj memberitahu kami, `Amr Ibn Dinar menyampaikan kepadaku bahwa ia mendengar `Ikrimah menarasikan dari Ibnu `Abbas perkataannya: “Tidak, demi Allah, aku tak tahu apa arti hanan“. Ibnu Jarir berkata: Ibnu Ḥumayd menyampaikan kepada kami, Jarir menarasikan kepada kami dari Manṣur: Aku bertanya kepada Sa`id Ibn Jubayr tentang wa ḥananan min ladunna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang itu dan ia tidak tahu banyak tentang hal tersebut. […]

Banyak referensi Islami seperti Tafsir al-Qurtubi atau Al-Itqan oleh As-Suyuti dan lainnya yang menarasikan keterangan-keterangan serupa dari Ibnu ‘Abbas terkait “ḥanan”.
6. Eksegesis Surah Maryam Ayat 7
“… lam naj’al lahu min qablu samiyya.”
“… tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.” [Al-Qur’an 19:7]

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya mengenai ayat ini:

yahya_ibnkathir
Artinya:
“Dan Mujahid berkata: ‘[Untuk] lam naj’al lahu min qablu samiyya, [samiyya berarti] ‘shabihan’ – yang sepadan dengannya.’ Ia menarik pemaknaan ini dari perkataan Allah [surah 19 ayat 65]: ‘… fa’budhu washthabir liʿibadatihi hal ta’lamu lahu samiyya’, ‘… maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah Engkau mengetahui ada sesuatu yang [layak untuk menjadi] samiyya bagi-Nya?’. Maka arti [dari samiyya] adalah shabihan – yang sepadan dengannya. Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalḥah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa itu artinya: Tiada perempuan mandul yang melahirkan seseorang seperti dia sebelumnnya. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Zakariyya ‘alayhis salaam mandul sebagaimana istrinya [yang mandul sejak semula], tidak seperti Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah. Alasan terkejutnya mereka [Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah] terhadap berita gembira kelahiran Ishaq adalah karena usia tua dan bukan karena kemandulan. Inilah mengapa Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam berkata [dalam keterkejutannya]: ‘abasy-syartumunii ‘alaa am-massaniya l-kibaru fabima tubasy-syiruun’, artinya: ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut? Lalu bagaimana engkau menyampaikannya?’ [surah 15 ayat 54]. Meskipun ia berputrakan Isma’il 13 tahun sebelumnya. Demikian pula istrinya berkata: ‘yaa waylataa a-alidu wa anaa ‘ajuu zuwwa haadzaa ba’lii syaikhan inna haadzaa lasyai-un ‘ajiib. Qaaluu ata’jabiina min amrilLahi rahmatulLahi wabarakaatuHuu ‘alaykum ahla l-bayti innaHuu Ḥamiidu m-Majiid’, artinya: ‘Aduhai, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib. Mereka (para malaikat) berkata: Mengapa engkau merasa heran terhadap ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Mulia’ [surah 11 ayat 72-73].”

Kata kuncinya di sini adalah samiyya dan analisis rinci atas kata ini disajikan pada Appendix A. Kata samiyya muncul hanya dua kali di dalam Al-Qur’an, pada surah 19 ayat 7 dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam dan pada surah 19 ayat 65 yang merujuk kepada Allah

Dengan metode menggunakan ayat Al-Qur’an untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an lainnya, Ibnu Katsir sampai pada poin bahwa kelahiran Yaḥya tidaklah seperti kelahiran-kelahiran lain. Penjelasan ini juga didukung oleh hadits dari Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata bahwa yang dimaksud di sini adalah bahwa tidak pernah ada anak lelaki seperti Yaḥya dalam pengertian terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. Meskipun Ishaq lahir dari orangtua yang juga tua, tak satu pun dari mereka mandul. Dengan alasan inilah Ishaq tidak sama dengan Yaḥya dalam hal kelahiran.

Dan As-Suyuti menyebutkan dalam tafsirnya:

yahya_durr
Artinya:
“Diriwayatkan Al-Faryabi dan Ibnu Abi Shaybah juga ‘Abd ibn Humayd dan Ibnu al-Mundhir serta Ibnu Abi Ḥatim dan Al-Hakim yang menilainya sahih bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’. Diriwayatkan ‘Abdurrazzaq dan Aḥmad dalam Al-Zuhd dari jalur ‘Ikrimah. Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’: Tak pernah seorang perempuan mandul melahirkan anak seperti ia. Diriwayatkan Aḥmad dalam Al-Zuhd dan ‘Abd Ibnu Ḥumayd dan Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim bahwa Sai’id Ibnu Jubayr berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’ yakni [samiyya berarti] shabihan – yang sepadan dengannya. ‘Abd Ibnu Ḥumayd meriwayatkan keterangan serupa dari jalur ‘Atha’. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh dari Yaḥya Ibnu Khallad al-Zarqi bahwa ketika ia [Yaḥya] lahir, ia dibawa kepada Sang Nabi yang memberinya kurma yang telah dikunyah dan berkata: “Aku akan memberinya nama yang tidak pernah diberikan [kepada siapapun] sebelumnya: Yaḥya bin Zakariyya” dan ia pun memanggilnya Yaḥya.

Dari pembahasan di atas, kita lihat bahwa para ‘ulama memiliki dua pandangan terkait ayat lam najʿal lahu min qablu samiyya:
  1. Samiyy berarti shabihan atau mithlan, yakni yang sepadan dengannya. Ayat ini diartikan bahwa kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam tidak seperti kelahiran yang lain, yang mana ia terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. 
  2. Tidak seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam pernah diberi nama demikian oleh Allah.
At-Ṭabari menyajikan hadits untuk kedua penafsiran tersebut, namun berpendapat bahwa penafsiran yang kedua lebih tepat. Al-Qurtubi menyebutkan kedua pendapat tersebut, namun tidak cenderung pada salah satunya. Dan Ibnu Katsir, yang mengutip pendapat At-Tabari, juga tidak cenderung pada yang manapun.

7. Kesimpulan
Geiger dan para misionaris Kristen telah menunjuk kepada suatu kerumitan yang muncul pada ayat ke-17 dalam surah ke-19 di mana kelahiran Yaḥya disebutkan. Menurut pemahaman mereka, nama Yaḥya adalah padanan dalam bahasa Arab untuk nama John. Mereka juga memahami bahwa nama Yaḥya unik, dan tiada seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pernah memiliki nama tersebut. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua-puluh-lima rujukan pada nama John, dan untuk alasan inilah Al-Qur’an dianggap salah. Tulisan ini telah menunjukkan secara menyeluruh bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda dan berasal dari dua akar bahasa yang berbeda.

Geiger dan para Misionaris gagal memahami bahasa asli dari dua nama tsb dan karenanya salah kaprah dalam menyimpulkan bahwa Al-Quran salah.

Ayat dalam QS 19:7 yang dibaca lam najʿal lahu min qablu samiyya dapat diterjemahkan dalam dua pengertian:
  1. Samiyy, berarti shabihan atau mithlan, contohnya; seseorang seperti dia. Terjemahan ayat ini adalah menjelaskan bahwa proses kelahiran Yahya tidak sama dengan anak-anak lainnya karena ia lahir dari ayah yang sudah uzur dan dari ibu yang mandul. 
  2. Nama Yahya unik, dan tidak ada seorang pun sebelum kelahirannya yang pernah diberi nama Yahya oleh Allah. Ini yang tampak jleas luput dari perhatian para misionaris.
Apakah Yaḥya juga disebut Yowchanan [atau Yuḥanna]? Tampaknya begitu, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Melalui Mandaeanlah kita mendapatkan nama ganda Yahia Yuhana. Menurut literatur Mandaic, Yahia adalah nama malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah nama laqab atau awam. Al-Qur'an hanya menggunakan nama sebenarnya dan nama rohani, yaitu Yaḥya; Yuḥanna dinyatakan sebagai parafrasa dalam ayat 19:13 mungkin karena fakta bahwa "Yu" dalam bahasa Arab tidak berarti Tuhan, maka membuat kata "Yuḥanna" secara etimologis tidak memiliki arti apa-apa. Agaknya, "Yuḥanna" dipinjam ke dalam bahasa Arab melalui sumber-sumber Ibrani atau Siria. Yang menarik, Encyclopaedia Judaica di bawah entri 'Yohanes Pembaptis' [37] hanya menyebutkan nama Arab: Yaḥya ibn Zakariyya. Tidak seperti entri untuk Musa, Yesus, dll, tidak ada catatan apapun tentang nama ini.

Penggunaan nama Yahia Yuhana di antara orang-orang Mandaean tentu menarik. Perlu juga dicatat bahwa banyak literatur mereka yang mencatat memang ada mantera Mandaean yang berasal dari masa pra-Islam. [38] Penelitian dan temuan temuan lebih lanjut tentunya akan memberi lebih banyak informasi tentang asal mula sastra Mandaic, insya allah.

Sekali lagi misionaris Kristen gagal menunjukkan kontradiksi “historis” dalam Al-Qur'an. Seandainya mereka mau menyelidiki kontroversi ini, bahkan sedikit saja, maka mereka tidak akan pernah membuat blunder seperti itu. Tetapi sebagaimana kita ketahui, ada preferensi di antara para misionaris Kristen untuk secara buta mengikuti setiap polemik murahan, dan karena perdebatan tentang asumsi "kontradiksi" ini tidak sampai berlarut-larut, maka kita tidak akan terganggu olehnya.


CATATAN:
Lebih lengkap, silahkan pelajari di sini

Dan seperti biasa, Maha Benar Allah Dengan segala Firman-Nya
[Disadur bebas dari ISLAMIC AWARNESS - And No One Had The Name Yaḥya (John?) Before: A Linguistic & Exegetical Enquiry Into Qur'an 19:7]