Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Kajian). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Kajian). Tampilkan semua postingan

Al-Quran, Tentang Nama YAHYA Dalam Surah Maryam Ayat 7


BismilLaahirRahmaanirRahiim.
1. Pengantar
Pada surah ke-19 dalam Al-Qur’an yang menyandang nama Maryam, kisah kelahiran ‘Isa yang penuh mukjizat (ayat 16-34) didahului oleh kisah kelahiran Yaḥya yang juga penuh mukjizat (ayat 1-15). Ia terlahir sebagai anak Nabi Zakariyya ‘alayhis-salaam yang uzur serta istrinya yang renta dan mandul. Dalam berbagai tradisi, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam diidentifikasi sebagai John Sang Pembaptis (John the Baptist). Sebagian misionaris Kristen lantas merujuk kepada satu permasalahan yang muncul pada ayat ketujuh dalam Surah Maryam, di mana kelahiran Yaḥya diumumkan:

yohanna1
“Wahai Zakariyya, sungguh Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yaḥya; tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.”

Para misionaris tadi menyatakan bahwa ayat ini mengandung kesalahan. Dalam pemahaman mereka, menurut ayat ketujuh itu nama Yaḥya (John) semestinya unik, sehingga tak seorang pun sebelum kelahirannya memiliki nama demikian. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua puluh lima rujukan terhadap nama John. Maka menurut mereka nama John (Yaḥya) tidaklah unik atau istimewa dan kesalahan Al-Qur’an menjadi jelas.

Sepertinya, awal mula kontroversi ini digagas oleh Abraham Geiger yang menulis buku berjudul Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?:

“Ia (yakni Muhammad) mengajukan bahwa sebelum John Sang Pembaptis tak seorang pun menyandang nama John. Seandainya ia memahami sejarah Yahudi maka ia sepatutnya sadar bahwa, selain beberapa orang bernama sama yang menurut sejarah tidaklah penting dalam Kitab Tawarikh (Chronicles), ada ayah dan anak dari pendeta Makabea yang terkenal, Mattathias, yang sama-sama bernama John. Kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab, maka mereka mencoba memberikan makna lain bagi kata-kata yang terang dan tak diragukan lagi itu.”[1]

Namun Geiger tidak mengutip satu pun penafsir dari kalangan Muslim untuk mendukung pernyataan-pernyataannya, dan sebagaimana akan ditunjukkan pada bagian-bagian di bawah, kita perlu berpikir bahwa jangan-jangan klaimnya bahwa “kesalahan ini pastilah gamblang bagi para penafsir Arab” adalah karangannya semata-mata.

Karena para misionaris itu tidak mampu memberi jawaban lebih lanjut atas masalah ini, maka kitalah yang harus menyelidiki serta menyediakan informasi utama yang seolah hilang. Benarkah nama Yaḥya dan John dapat dipertukarkan antara satu dengan yang lainnya? Apakah makna ayat tadi memang sejalan dengan terjemahannya? Tulisan ini akan menyelidiki berbagai hal terkait dengan nama Yaḥya.

2. Apakah John secara Linguistik Sama dengan Yaḥya?
Menurut para misionaris Kristen, nama Yaḥya adalah bentuk Arab dari nama John, dengan jabaran sebagai berikut: Nama John dalam bentuk Ibrani adalah Johanan, yang dalam bentuk Arab-nya adalah Yaḥya, dan dalam bentuk Yunani adalah Ioannes.

Nyatanya, padanan Arab untuk nama John dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna, bukan Yaḥya. Demikian pula padanan Arab untuk nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya. Siapapun yang memiliki pengetahuan dasar akan rumpun bahasa Semit dapat langsung menunjukkan bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda. Anda tak perlu menjadi ahli bahasa-bahasa Semit untuk memverifikasi klaim ini; Alkitab terjemahan berbahasa Arab sudah mencukupi.

Nama John dalam Alkitab Ibrani adalah Yowchanan {yo-khaw-nawn’}, atau Johanan dalam Authorized (King James) Version, yang artinya: Jehovah has graced (Tuhan membahagiakan). Dan tokoh-tokoh dalam Alkitab yang menyandang nama itu adalah (1) seorang pendeta pada periode kependetaan agung Joiakim yang kembali bersama Zerubbabel; (2) seorang pemimpin Yahudi setelah jatuhnya Yerusalem; (3) anak tertua Raja Josiah; (4) seorang pangeran di era pasca-pengasingan dari garis keturunan Daud; (5) ayah dari Azariah, pendeta di era Sulaiman; (6) salah satu ksatria Daud dari suku Benjamin; (7) salah satu ksatria Daud dari suku Gad; (8) seorang buangan yang kembali.

Dalam berbagai alkitab versi Arab, nama ini diubah menjadi Yuḥanan sebagaimana ditunjukkan oleh teks-teks di bawah ini.
I Kings 25 23
1Raja-Raja 25:23
I Chronicles 3 15
1Tawarikh 3:15
yohanChro2
1Tawarikh 3:24
Uzair 8 12
Ezra 8:12

Kini kita ambil contoh dari Perjanjian Baru. Nama John (Sang Pembaptis) dalam bahasa Yunani adalah Ioannes {ee-o-an’-nace}, nama asli Ibrani. Dalam Authorized (King James) Version terdapat nama John (Sang Pembaptis), anak dari Zacharias dan Elisabeth, pendahulu Kristus, dan dengan perintah Herod Antipas ia dipenjara dan akhirnya dipenggal. John juga nama salah satu murid Yesus, penulis Gospel Keempat, anak dari Zebedee dan Salome, serta adik dari murid Yesus yang lain bernama James, dan ia pula yang (tanpa disebut namanya) dibicarakan dalam Gospel Keempat sebagai murid kesayangan Yesus dan menurut pendapat tradisional merupakan pengarang Kitab Wahyu. John juga nama sahabat dari Barnabas dan Paulus, nama belakangnya Markus. Ada pula seorang John yang merupakan anggota Sanhendrin.

Dalam berbagai alkitab Arab, nama John sebagaimana disebutkan dalam Maccabees dan Perjanjian Baru adalah Yuḥanna.


Maccabees 2 2
1Makabe 2:2
John 1 6
Yohanes 1:6

Dan tentu saja, Injil Yohanes pun menggunakan nama Yuḥanna.


Gospel John
Injil menurut Yuḥanna (Yohanes)

Maka dari itu, padanan nama John (Yowchanan) dalam Alkitab Ibrani adalah Yuḥanan bukan Yaḥya, dan padanan Arab untuk nama John (Ioannes) dalam Perjanjian Baru adalah Yuḥanna bukan Yaḥya. Dengan membabibuta menggadang-gadang polemik anti-Islam, sebagaimana dihadirkan oleh Abraham Geiger, para misionaris Kristen telah dibuat tersesat.

3. Makna Nama Yaḥya
Kedua nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda. Al-Qur’an menyampaikan bahwa putra Zakariyya bernama Yaḥya, bukan John. Al-Qur’an tidak menyebutkan nama John dalam bentuk bahasa Arabnya entah itu Yuḥanan maupun Yuḥanna.

Para peneliti bibel menekankan bahwa nama Yuḥanna dan Yuḥanan adalah sama. Dalam gospel-gospel terjemahan berbahasa Ibrani, mereka tidak menggunakan Yuḥanna melainkan mengembalikannya ke dalam bentuk asli yakni Yuḥanan. Mereka juga memberikan makna yang sama bagi kedua nama itu. Keduanya memuat Yu, yang merupakan penyingkatan dari Jehovah, nama Tuhan dalam bahasa Ibrani. Sedangkan ḥanan atau ḥanna, keduanya turunan dari kata-dasar ḥanan dalam bahasa Aramaik (sama dengan kata-dasar ḥanna dalam bahasa Arab) yang berarti “kelembutan/kebahagiaan dari Tuhan”, sama dengan nama Ibrani Hanania.

Lantas, nama Yaḥya asli Arab ataukah asing? Dalam bahasa Arab, bentuk present Yaḥya adalah bentuk orang-ketiga dari kata-dasar ḥaya. Kata-dasar ḥaya ini (yang dapat ditulis dengan alif panjang maupun alif khanjariyyah dalam bentuk present maupun past) memiliki dua makna:
  • Yang pertama berasal dari al-ḥayah, yakni “hidup” yang merupakan lawan dari “mati” sebagaimana dalam contoh lan ansa laka hadha as-saniʿa ma ḥayit, yang artinya, “Saya tidak akan melupakan kebaikan Anda ini selama saya hidup.” 
  • Makna kedua dari kata-dasar ḥaya berasal dari al-ḥaya’ yang diakhiri dengan hamzah berarti “rasa malu/kesucian”. Dalam pengertian kedua ini bisa dikatakan ḥayitu minhu yang maksudnya seseorang malu atau bingung terhadap orang lain. Inilah mengapa ular disebut ḥayyah, yakni karena ia mengelung tubuhnya sendiri dalam bentuk melingkar. 
Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama mengenai asal-muasal nama ini. As-Suyuti menyatakan dalam Al-Itqan fi ʿUlum al-Qur’an:

“Yaḥya: Anak dari Zakariyya, orang pertama yang menyandang nama itu menurut Al-Qur’an. Ia dilahirkan enam bulan sebelum ‘Isa, dan diserahi kenabian di usia muda, serta dibunuh tanpa haq. Allah menggerakkan Nobukhod Nosor dan balatentaranya terhadap para pembunuhnya. Yaḥya adalah nama non-Arab, namun dikatakan pula [oleh sebagian] sebagai berasal dari Arab. Menurut al-Wahidi: Dalam kedua kemungkinan itu, nama ini tidak dapat di-tanwin-kan.

“Al-Kirmani menyatakan: Pada kemungkinan kedua [yakni nama itu berasal dari Arab], disebutkan bahwa ia digelari demikian karena Allah membuatnya hidup dengan iman, karena rahim ibundanya menjadi hidup dengan kehadirannya, dan karena ia syahid, sebab para syuhada itu hidup di sisi Tuhan mereka [bal aḥya’un ʿinda Rabbihim yurzaqun].

“Dikatakan pula bahwa maknanya adalah yamut, yakni “ia mati” sebagaimana kita menggunakan mafazah untuk menyatakan mahlakah atau menggunakan salim untuk menyatakan ladigh.”[2]

Nama Yaḥya juga telah membuat bingung banyak orientalis. Paul Casanova beropini bahwa Yaḥya adalah sebuah “kesalahan” yang perlu “dikoreksi”:

“Maka dari itu cukup lama saya ragu untuk menyarankan koreksi-koreksi yang lebih pas menurut saya. Yang membuat saya kini melakukan hal itu adalah, harus saya sebutkan, bahwa para peneliti Barat cenderung semakin melepaskan diri dari rasa hormat penuh tahayul terhadap integritas absolut Al-Qur’an, dan bahwa peneliti “Semitisasi” Jerman, Barth, juga telah menyarankan koreksi-koreksi yang cukup penting yang salah satu di antaranya menarik perhatian saya secara khusus, karena saya telah memikirkan soal ini untuk waktu lama dan saya senang melihat hal ini disampaikan sebagaimana saya telah membayangkannya. Koreksi itu yakni Youḥanna untuk Yaḥya, Youḥanna dan bukan Yaḥya, nama untuk St. John Sang Pembaptis. Saya tadinya tak berani mempublikasikannya, pertama-tama karena alasan umum yang telah disebutkan sebelumnya, karena hal ini mengarah kepada suatu kebetulan yang aneh. Betul, orang-orang Mandai atau kaum pseudo-Kristen Santo John, yang bisa disamakan dengan orang-orang Sabian yang disebutkan dalam Al-Qur’an, memiliki kitab yang di dalamnya nabi utama mereka disebut Yahio [sic!]. Jika nama itu muncul akibat kesalahan pembacaan para pengarang Al-Qur’an, kitab itu semestinya lebih tua ketimbang difusi Al-Qur’an resmi dan segala teori yang dibangun di atas identifikasi itu akan runtuh.[3]

Mingana, mengikuti jejak Margoliouth, percaya bahwa ranah puisi pra-Islam merupakan penipuan pasca-Islam (suatu teori yang telah dibantah dengan baik oleh para peneliti Muslim maupun non-Muslim). Maka dari itu, bagi Mingana, Al-Qur’an merupakan kitab pertama dalam bahasa Arab yang “pengarangnya” menghadapi:

“… kesulitan-kesulitan besar. Ia harus menyesuaikan kata-kata baru dan ungkapan-ungkapan baru terhadap ide-ide segar, dalam suatu bahasa yang belum lagi baku dari segi tata-bahasa maupun leksikografi.”

Mingana bersandar pada penggunaan bahasa Syria demi memahami “asal” kata Yaḥya. Ia menyatakan:

“Untuk mengekspresikan ‘John’, Al-Qur’an yang sampai kepada kita memakai bentuk yang aneh yakni ‘Yaḥya’. Saya sependapat dengan Margoliouth, bahwa nama itu hampir pasti merupakan ‘Yoḥannan‘ dalam bahasa Syria.”

Ia juga membuat pernyataan cukup aneh bahwa dalam naskah-naskah Al-Qur’an awal tanpa harakat, huruf-huruf Arab y-ḥ-y yang menyusun Yaḥya dapat dibaca menjadi:

“Yoḥanna, Yoḥannan, atau Yaḥya, dan para qari Muslim yang tak mengenal bahasa selain Arab mengadopsi bentuk yang salah yakni Yaḥya.”

Arthur Jeffery percaya bahwa pernyataan tersebut layak untuk didukung namun secara bersamaan ia memberitahu kita bahwa:

“Sepertinya tidak ada jejak nama tersebut (yakni Yaḥya) dalam literatur-literatur kuno (orang-orang Arab).”

Sebuah pertanyaan retoris perlu diajukan: Jika tidak ada jejak nama Yaḥya dalam literatur-literatur Arab pra-Islam, maka mengapa teks tanpa harakat itu harus dibaca “Yaḥya” (y-ḥ-y)? Kenapa tidak dibaca lain, misalnya t-ḥ-t? C.C. Torrey, sebagaimana Casanova dan Jeffery, juga percaya bahwa Yaḥya dalam Al-Qur’an adalah pembacaan yang salah dari Yuḥanna, namun semua qira’at (metode pembacaan) kompak dalam menyatakan bahwa y-ḥ-y tanpa harakat itu hanya bisa dibaca sebagai Yaḥya dan bukan Yuḥanna atau Yuḥanan. Selanjutnya, para orientalis yang pendapat-pendapatnya dikutip di atas juga percaya bahwa nama Yaḥya sebenarnya asing (non-Arab), namun anggapan-anggapan mereka bahwa nama Yaḥya merupakan sebuah “kesalahan” disampaikan tanpa bukti sama sekali! Meskipun kebanyakan peneliti Barat (tidak seperti Geiger atau para misionaris Kristen) sadar bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) sama sekali berbeda dan ditarik dari akar yang berbeda pula, mereka hanya dapat menerka-nerka asal-muasal nama tersebut.
4. Orang-orang Mandai, “Orang-orang Kristen Santo John”
Adakah John Sang Pembaptis dikenal sebagai Yaḥya oleh kelompok tertentu?

Orang-orang Mandai adalah sebuah komunitas yang hidup di Iraq dan Iran, dan berbicara dalam dialek Aramaik (atau Mandaik sebagaimana dirujuk dalam berbagai literatur). Mereka mengaku sebagai pengikut Santo John Sang Pembaptis dan terkadang dirujuk (secara salah) sebagai “Orang-orang Kristen Santo John”, suatu julukan yang awalnya dipakai oleh para misionaris Kristen dari Portugis. Mereka secara pasaran dikenal sebagai Ṣubba (tunggal: Ṣubbi). Panggilan Ṣubba diakui merujuk pada ritual utama agama mereka, yakni pembaptisan dengan cara pencelupan. Nama yang mereka sendiri pakai untuk menyebut agama dan ras mereka adalah Mandai, atau Mandaea.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita bahas sejenak identifikasi kaum Sabian atau Ṣabi’un. Ada begitu banyak spekulasi tentang Ṣabi’un, suatu kelompok agama yang disebutkan tiga kali dalam Al-Qur’an. Para penafsir Al-Qur’an telah berteori tentang kemungkinan identitas kelompok ini. Kita hanya akan meringkas berbagai pandangan yang ada. Bagi yang tertarik, silakan konsultasikan subjek ini sebagaimana telah dibahas panjang lebar oleh Jane Dammen McAuliffe.

Sebagian penafsir Al-Qur’an telah menyebut Ṣabi’un sebagai pemuja para malaikat, dan sebagian menyebut mereka kaum monoteis, yakni mereka yang sembahyang menghadap kiblat, dan berbeda dari orang-orang Yahudi, Kristen, maupun Magi. Mereka biasanya diidentifikasi sebagai sekelompok orang dari Iraq.

Penelitian Barat mengenai identifikasi Ṣabi’un dalam Al-Qur’an kemungkinan dimulai dengan karya besar Daniel Chwolson. Satu ringkasan atas pandangan Chwolson dibuat oleh John Pederson. Chwolson mengajukan identifikasi rancu kaum Ṣabi’un. Orang-orang Mandai yang monoteis adalah salah satunya, dan yang lain adalah para pagan pemuja bintang di Harran yang oleh para sejarawan Muslim dianggap mengadopsi nama Ṣabi’un agar turut dimasukkan ke dalam kategori Ahli Kitab.

Akan tetapi Pederson membuat pengecualian terhadap identifikasi rancu dari Chwolson. Ia menyebutkan bahwa Ṣabi’un semestinya diidentifikasi sebagai golongan hanif karena:

“Mereka juga orang-orang yang percaya pada Tuhan, meski bukan Yahudi maupun Kristen; mereka contoh terdekat golongan mukmin, sebagaimana Ibrahim sendiri adalah hanif.”

Identifikasi oleh Pederson ini hadir menyamakan hanif dengan gnostik. Akibat dari hal ini adalah ia menyamaratakan penyebutan Ṣabi’un bagi orang-orang Mandai dan Ḥarran.

Penyamarataan dari Pederson juga didukung oleh E.S. Drower; namun ia mengenali pada kelompok Ḥarran pembedaan antara kelas pendeta, disebut sebagai orang-orang Naṣorai, dan kelas awam jahiliyah atau semi-jahiliyah yang disebut orang-orang Mandai. Pandangan dari Bayard Dodge adalah bahwa bukti bagi identifikasi semacam ini tidaklah mencukupi. Ia cukup puas dengan korelasi antara Ṣabi’un dan Mandai, namun ia tak bersedia melangkah lebih dari itu, sebagaimana pernyataannya:

“… kita tidak tahu asal-muasal mereka atau kelompok-kelompok mana yang kemungkinan bisa disebut para Sabian.”

Orang-orang Mandai menyebut guru mereka John Sang Pembaptis dengan sebutan Yahia Yuhana. Dalam kitab doa resmi mereka bisa dibaca:

“Raja Yahia-Yuhana,
Perlindungan dan kejayaan bagimu.”

Salah satu kitab suci mereka disebut Drasha d-Yahia atau Kitab Yahia. Kamus bahasa Mandai menyajikan keterangan lebih lanjut untuk nama “iahia” dan “iuhana” sebagaimana digunakan dalam kitab-kitab suci mereka.
yahmand1
iahia (Arab: Yaḥya) nama malwasa khas laki-laki, sering digunakan bersamaan dengan bentuk Aramaik aslinya menjadi iahia iuhana, John Sang Pembaptis. Variasi: iihia.
yahmand2
iuhana: John, khususnya John Sang Pembaptis, disebut juga iahia iuhana (merupakan nama umum Mandai)

Perhatikan tiadanya (h tegas atau ح dalam abjad Arab, ditransliterasi lewat simbol h dengan titik di bawahnya), sehingga Yahia Yuhana menggunakan “h lembut”, tidak seperti dalam bentuk Arab dan Aramaik-nya. Dalam dialek Aramaik dari orang-orang Mandai, bunyi memang pernah ada, namun vokalisasi ini telah hilang.

Nama Yahia dalam Yahia Yuhana telah menjadi teka-teki bagi para peneliti Barat. Menurut mereka, Yahia bukanlah nama Aramaik melainkan nama Arab, namun sebagaimana telah kita bahas, ada perbedaan pendapat di kalangan linguis Arab mengenai asal-usul dan makna nama Yaḥya. Kata ḥaya dalam bahasa Arab memiliki padanan dalam bahasa Aramaik dan Ibrani, dan jelas memiliki akar yang sama, dengan asal-usul yang identik. Dalam bahasa Syria, kata kerja ḥy (past tense) berarti “hidup; sembuh; reda (terkait rasa sakit)”; dengan neḥḥe sebagai bentuk present/future tense untuk orang ketiga tunggal. Dan dalam banyak dialek Aramaik, nama ini menjadi yeḥye atau yaḥye; yang terakhir mirip dengan bentuk Arab Yaḥya, yang apabila bertanda imalah akan dibaca Yaḥyei. Dalam qira’at (metode pembacaan) Ḥafṣ, dibaca Yaḥya tanpa imalah. Sedangkan dalam qira’at Warsh dan Ḥamzah dibaca Yaḥyei dengan imalah.

Kembali ke bahasa Aramaik, kata-sifat ḥayya berarti “hidup, mentah (tidak dimasak), murni (tidak bercampur), mengalir (terkait air)” sedangkan ḥayye berarti “hidup, keselamatan”, ḥayutha berarti “kehidupan”, ḥaywtha berarti “hewan”, ḥaytha berarti “bidan”.

Untuk memecahkan teka-teki ini (yakni keberadaan nama Yahia dalam Yahia Yuhana), para peneliti Barat telah menyajikan berbagai penjelasan, mulai dari diselipkannya nama Yahia ke dalam mushaf-mushaf pada periode belakangan hingga pemaksaan dari kaum Muslim terhadap kaum Mandai untuk menggunakannya! Tak satu pun dari teori ini didukung oleh bukti sejarah

Maka ini mungkin waktu yang tepat untuk membahas pentingnya nama Yahia dalam literatur Mandai. Setiap orang Mandai memiliki dua nama, yakni malwasha atau nama spiritual, dan laqab atau nama sehari-hari. E.S. Drower menjelaskan perbedaan antara malwasha dan laqab:

“Yang terakhir biasanya nama Muslim dan digunakan untuk seluruh kepentingan sehari-hari, sedangkan yang pertama [yakni malwasha] adalah nama asli dan spiritualnya dan digunakan untuk seluruh kegiatan keagamaan dan spiritual.”

Maka, pada Yahia Yuhana, Yahia adalah malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah laqab atau nama pasaran. Yang menarik di sini adalah bahwa Al-Qur’an hanya menggunakan nama asli atau spiritualnya, yakni Yaḥya. Namun bagaimana dengan Yuḥanna?

5. “Wa ḥananan min ladunna…“
Penggunaan Yahia Yuhana oleh orang-orang Mandai untuk menyebut John Sang Pembaptis cukup menarik sebagaimana telah kita lihat di bagian sebelumnya. Kini kita akan melenceng sedikit dan membahas atribut-atribut Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an menyebut Yaḥya namun bagaimana dengan Yowchanan/Yuḥanna? Kita tahu bahwa Yowchanan/Yuḥanna bermakna “kasih sayang Tuhan”, atau bisa pula berarti “Jehovah (nama Ibrani untuk Tuhan) adalah pemberi yang baik”. Nama ini terdiri dari dua kata yakni “Yu” yang merupakan pemendekan dari Jehovah dalam Bibel Ibrani dan ḥanna, dari kata-dasar ḥanan. Ternyata, Allah menyatakan dalam Al-Qur’an:


yahhanan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya artinya “berikut kasih sayang [ḥananan] dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh.” (Al-Qur’an 19:13)

Dengan kata lain, Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam adalah ḥananan dari Allah; ini tiada lain adalah parafrase dari apa yang dimaksud dengan Yowchanan/Yuḥanna, yakni “Tuhan adalah pemberi yang baik”. Yang lebih menarik adalah bahwasanya kata ḥananan muncul hanya satu kali di dalam Al-Qur’an, yakni dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pada ayat di atas. Perlu diingat bahwa kata dasar ḥanan memiliki makna yang mirip dalam bahasa Aramaik, Ibrani, maupun Arab.

Perhatian juga perlu diberikan pada nama Yuḥanna. Secara etimologis, “Yu” dalam bahasa Arab tidak bermakna Tuhan, berbeda dari bahasa Ibrani; maka dari itu nama “Yuḥanna” akan menjadi kurang bermakna. Kata dalam bahasa Arab untuk Tuhan adalah “Allah”. Tampaknya “Yuḥanna” dipinjamkan ke dalam bahasa Arab dari bahasa Syria atau Ibrani demi kebutuhan-kebutuhan tertentu semata.

Mari kini kita lihat apa kata para penafsir terkait ayat ketigabelas dari Surat Maryam tadi. Di bawah ini adalah pendapat Ibnu Katsir:


hanaan
wa ḥananan min ladunna wa zakatan wa kana taqiyya
artinya, “berikut kasih sayang dari sisi Kami serta kebersihan, pun ia patuh” – Tentang “berikut kasih sayang dari sisi Kami”: `Ali bin Abi Thalḥah menarasikan dari Ibnu `Abbas bahwa wa ḥananan min ladunna means “kebaikan [Arab: raḥmat] dari sisi Kami” dan serupa itu berkata pula `Ikrimah dan Qatadah dan ad-Dahhak dan ia menambahkan “Tiada yang mampu mengadakan [rahmat] yang demikian itu melainkan Kami”. Qatadah menambahkan “kebaikan dari Allah untuk Zakariyya”. Mujahid berkata wa ḥananan min ladunna artinya “rasa iba dari Tuhannya terhadap ia”. `Ikrimah berkata wa ḥananan min ladunna bermakna “kasih sayang baginya”. Ibnu Zayd berkata: Sedangkan “ḥanan” artinya cinta. `Aṭa’ Ibn Abi Rabaḥ berkata: wa ḥananan min ladunna bermakna “kemuliaan [Arab: ta`zhim] dari sisi Kami”. Ibnu Jurayj memberitahu kami, `Amr Ibn Dinar menyampaikan kepadaku bahwa ia mendengar `Ikrimah menarasikan dari Ibnu `Abbas perkataannya: “Tidak, demi Allah, aku tak tahu apa arti hanan“. Ibnu Jarir berkata: Ibnu Ḥumayd menyampaikan kepada kami, Jarir menarasikan kepada kami dari Manṣur: Aku bertanya kepada Sa`id Ibn Jubayr tentang wa ḥananan min ladunna, dia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu `Abbas tentang itu dan ia tidak tahu banyak tentang hal tersebut. […]

Banyak referensi Islami seperti Tafsir al-Qurtubi atau Al-Itqan oleh As-Suyuti dan lainnya yang menarasikan keterangan-keterangan serupa dari Ibnu ‘Abbas terkait “ḥanan”.
6. Eksegesis Surah Maryam Ayat 7
“… lam naj’al lahu min qablu samiyya.”
“… tiada yang dengan [nama] itu Kami gelari sebelumnya.” [Al-Qur’an 19:7]

Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya mengenai ayat ini:

yahya_ibnkathir
Artinya:
“Dan Mujahid berkata: ‘[Untuk] lam naj’al lahu min qablu samiyya, [samiyya berarti] ‘shabihan’ – yang sepadan dengannya.’ Ia menarik pemaknaan ini dari perkataan Allah [surah 19 ayat 65]: ‘… fa’budhu washthabir liʿibadatihi hal ta’lamu lahu samiyya’, ‘… maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah Engkau mengetahui ada sesuatu yang [layak untuk menjadi] samiyya bagi-Nya?’. Maka arti [dari samiyya] adalah shabihan – yang sepadan dengannya. Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalḥah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa itu artinya: Tiada perempuan mandul yang melahirkan seseorang seperti dia sebelumnnya. Ini juga menunjukkan bahwa Nabi Zakariyya ‘alayhis salaam mandul sebagaimana istrinya [yang mandul sejak semula], tidak seperti Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah. Alasan terkejutnya mereka [Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam dan Sarah] terhadap berita gembira kelahiran Ishaq adalah karena usia tua dan bukan karena kemandulan. Inilah mengapa Nabi Ibrahim ‘alayhis-salaam berkata [dalam keterkejutannya]: ‘abasy-syartumunii ‘alaa am-massaniya l-kibaru fabima tubasy-syiruun’, artinya: ‘Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut? Lalu bagaimana engkau menyampaikannya?’ [surah 15 ayat 54]. Meskipun ia berputrakan Isma’il 13 tahun sebelumnya. Demikian pula istrinya berkata: ‘yaa waylataa a-alidu wa anaa ‘ajuu zuwwa haadzaa ba’lii syaikhan inna haadzaa lasyai-un ‘ajiib. Qaaluu ata’jabiina min amrilLahi rahmatulLahi wabarakaatuHuu ‘alaykum ahla l-bayti innaHuu Ḥamiidu m-Majiid’, artinya: ‘Aduhai, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua, dan suamiku ini sudah sangat tua? Ini benar-benar sesuatu yang ajaib. Mereka (para malaikat) berkata: Mengapa engkau merasa heran terhadap ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Mulia’ [surah 11 ayat 72-73].”

Kata kuncinya di sini adalah samiyya dan analisis rinci atas kata ini disajikan pada Appendix A. Kata samiyya muncul hanya dua kali di dalam Al-Qur’an, pada surah 19 ayat 7 dalam kaitannya dengan Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam dan pada surah 19 ayat 65 yang merujuk kepada Allah

Dengan metode menggunakan ayat Al-Qur’an untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an lainnya, Ibnu Katsir sampai pada poin bahwa kelahiran Yaḥya tidaklah seperti kelahiran-kelahiran lain. Penjelasan ini juga didukung oleh hadits dari Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berkata bahwa yang dimaksud di sini adalah bahwa tidak pernah ada anak lelaki seperti Yaḥya dalam pengertian terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. Meskipun Ishaq lahir dari orangtua yang juga tua, tak satu pun dari mereka mandul. Dengan alasan inilah Ishaq tidak sama dengan Yaḥya dalam hal kelahiran.

Dan As-Suyuti menyebutkan dalam tafsirnya:

yahya_durr
Artinya:
“Diriwayatkan Al-Faryabi dan Ibnu Abi Shaybah juga ‘Abd ibn Humayd dan Ibnu al-Mundhir serta Ibnu Abi Ḥatim dan Al-Hakim yang menilainya sahih bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’. Diriwayatkan ‘Abdurrazzaq dan Aḥmad dalam Al-Zuhd dari jalur ‘Ikrimah. Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’: Tak pernah seorang perempuan mandul melahirkan anak seperti ia. Diriwayatkan Aḥmad dalam Al-Zuhd dan ‘Abd Ibnu Ḥumayd dan Ibnu al-Mundhir dan Ibnu Abi Ḥatim bahwa Sai’id Ibnu Jubayr berkata terkait ‘lam naj’al lahu min qablu samiyya’ yakni [samiyya berarti] shabihan – yang sepadan dengannya. ‘Abd Ibnu Ḥumayd meriwayatkan keterangan serupa dari jalur ‘Atha’. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Tarikh dari Yaḥya Ibnu Khallad al-Zarqi bahwa ketika ia [Yaḥya] lahir, ia dibawa kepada Sang Nabi yang memberinya kurma yang telah dikunyah dan berkata: “Aku akan memberinya nama yang tidak pernah diberikan [kepada siapapun] sebelumnya: Yaḥya bin Zakariyya” dan ia pun memanggilnya Yaḥya.

Dari pembahasan di atas, kita lihat bahwa para ‘ulama memiliki dua pandangan terkait ayat lam najʿal lahu min qablu samiyya:
  1. Samiyy berarti shabihan atau mithlan, yakni yang sepadan dengannya. Ayat ini diartikan bahwa kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam tidak seperti kelahiran yang lain, yang mana ia terlahir dari ayah yang uzur dan ibu yang mandul. 
  2. Tidak seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yahya ‘alayhis-salaam pernah diberi nama demikian oleh Allah.
At-Ṭabari menyajikan hadits untuk kedua penafsiran tersebut, namun berpendapat bahwa penafsiran yang kedua lebih tepat. Al-Qurtubi menyebutkan kedua pendapat tersebut, namun tidak cenderung pada salah satunya. Dan Ibnu Katsir, yang mengutip pendapat At-Tabari, juga tidak cenderung pada yang manapun.

7. Kesimpulan
Geiger dan para misionaris Kristen telah menunjuk kepada suatu kerumitan yang muncul pada ayat ke-17 dalam surah ke-19 di mana kelahiran Yaḥya disebutkan. Menurut pemahaman mereka, nama Yaḥya adalah padanan dalam bahasa Arab untuk nama John. Mereka juga memahami bahwa nama Yaḥya unik, dan tiada seorang pun sebelum kelahiran Nabi Yaḥya ‘alayhis-salaam pernah memiliki nama tersebut. Akan tetapi, dalam Perjanjian Lama ada lebih dari dua-puluh-lima rujukan pada nama John, dan untuk alasan inilah Al-Qur’an dianggap salah. Tulisan ini telah menunjukkan secara menyeluruh bahwa nama Yaḥya dan John (Yuḥanan atau Yuḥanna) adalah dua nama yang sama sekali berbeda dan berasal dari dua akar bahasa yang berbeda.

Geiger dan para Misionaris gagal memahami bahasa asli dari dua nama tsb dan karenanya salah kaprah dalam menyimpulkan bahwa Al-Quran salah.

Ayat dalam QS 19:7 yang dibaca lam najʿal lahu min qablu samiyya dapat diterjemahkan dalam dua pengertian:
  1. Samiyy, berarti shabihan atau mithlan, contohnya; seseorang seperti dia. Terjemahan ayat ini adalah menjelaskan bahwa proses kelahiran Yahya tidak sama dengan anak-anak lainnya karena ia lahir dari ayah yang sudah uzur dan dari ibu yang mandul. 
  2. Nama Yahya unik, dan tidak ada seorang pun sebelum kelahirannya yang pernah diberi nama Yahya oleh Allah. Ini yang tampak jleas luput dari perhatian para misionaris.
Apakah Yaḥya juga disebut Yowchanan [atau Yuḥanna]? Tampaknya begitu, dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui. Melalui Mandaeanlah kita mendapatkan nama ganda Yahia Yuhana. Menurut literatur Mandaic, Yahia adalah nama malwasha atau nama asli dan Yuhana adalah nama laqab atau awam. Al-Qur'an hanya menggunakan nama sebenarnya dan nama rohani, yaitu Yaḥya; Yuḥanna dinyatakan sebagai parafrasa dalam ayat 19:13 mungkin karena fakta bahwa "Yu" dalam bahasa Arab tidak berarti Tuhan, maka membuat kata "Yuḥanna" secara etimologis tidak memiliki arti apa-apa. Agaknya, "Yuḥanna" dipinjam ke dalam bahasa Arab melalui sumber-sumber Ibrani atau Siria. Yang menarik, Encyclopaedia Judaica di bawah entri 'Yohanes Pembaptis' [37] hanya menyebutkan nama Arab: Yaḥya ibn Zakariyya. Tidak seperti entri untuk Musa, Yesus, dll, tidak ada catatan apapun tentang nama ini.

Penggunaan nama Yahia Yuhana di antara orang-orang Mandaean tentu menarik. Perlu juga dicatat bahwa banyak literatur mereka yang mencatat memang ada mantera Mandaean yang berasal dari masa pra-Islam. [38] Penelitian dan temuan temuan lebih lanjut tentunya akan memberi lebih banyak informasi tentang asal mula sastra Mandaic, insya allah.

Sekali lagi misionaris Kristen gagal menunjukkan kontradiksi “historis” dalam Al-Qur'an. Seandainya mereka mau menyelidiki kontroversi ini, bahkan sedikit saja, maka mereka tidak akan pernah membuat blunder seperti itu. Tetapi sebagaimana kita ketahui, ada preferensi di antara para misionaris Kristen untuk secara buta mengikuti setiap polemik murahan, dan karena perdebatan tentang asumsi "kontradiksi" ini tidak sampai berlarut-larut, maka kita tidak akan terganggu olehnya.


CATATAN:
Lebih lengkap, silahkan pelajari di sini

Dan seperti biasa, Maha Benar Allah Dengan segala Firman-Nya
[Disadur bebas dari ISLAMIC AWARNESS - And No One Had The Name Yaḥya (John?) Before: A Linguistic & Exegetical Enquiry Into Qur'an 19:7]




Repositori: Syariat Nabi Isa Alihissalam


ABSTRAK
Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt. mengemban misi dan tugas tertentu untuk disampaikan kepada umatnya untuk membimbing mereka kepada jalan yang benar agar manusia memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Setiap nabi yang diutus oleh Allah swt. dalam menyampaikan risalahnya dibekali dengan berbagai mukjizat. Namun, karena sifat manusia yang cenderung berlebihan, ada sebagian yang beriman dan ada pula yang ingkar. 

Nabi Isa as. adalah salahsatu nabi yang diutus kepada Bani Isra’il dengan membawa ajaran syariat agama. Namun, ajarannya telah banyak disimpangsiurkan oleh pengikutnya. Bahkan mereka menempatkan Nabi Isa as. sama dengan kedudukan Tuhan. Ini merupakan sifat yang berlebihan dan penyelewengan terhadap ajaran yang dibawanya. Al-Qur’an menjelaskan kebenaran tentang risalah-risalah keTuhanan yang dibawa oleh para Nabi. Termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan agama dan syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as.. 

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
  1. Agama apakah yang dibawa oleh Nabi Isa as.dalam al-Qur’an? 
  2. Bagaimanakah syariat agama Nabi Isa as. dalam al-Qur’an?. 
  3. Bagaimana sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as. dalam al-Qur’an?
    Tujuannya adalah mengetahui secara mendalam tentang agama dan syariat Nabi Isa as. yang terdapat dalam Al-Qur’an sehingga diperoleh petunjuk tentang kebenaran syariatnya yang telah banyak disimpangsiurkan oleh mereka yang mengaku sebagai pengikutnya. 

    Penelitian ini bersifat kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan dan menggunakan metode penelitian tafsir tematik, dan hasil penelitian ini adalah:
    1. Agama yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah agama Islam; 
    2. Syariat agama Nabi Isa as. adalah melanjutkan syariat Taurat, membenarkan ajaran Taurat dan diturunkan pula kepadanya syariat Injil untuk menyempurnakannya; 
    3. Sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat Nabi Isa as. terbagi dua, ada yang menerima (yaitu orang-orang Nasrani) dan ada yang menolak (yaitu orang-orang Yahudi). Sungguhpun kajian tentang agama dan syariat Nabi Isa as. telah dipaparkan sedemikian rupa, namun masih banyak celah yang menuntut adanya kajian berikutnya sebagai bentuk pengembangan dengan menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda.
      Catatan: Demi menghormati privasi dan hak cipta penulis, paparan ini tidak meampilkan seluruh konten tesis, namun mengingat substansi dan kepentingannya bagi pembaca, maka hanya bagian akhir dari tesis ini; yakni BAB 5 saja yang ditampilkan.



      BAB 5

      PENUTUP


      1. Agama Nabi Isa as.
      Agama yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah agama Islam. Yakni satusatunya agama yang diwahyukan oleh Allah dan diajarkan oleh para nabi-nabiNya. Islam adalah satu-satunya agama yang diridai oleh Allah. Oleh karenanya tidaklah mungkin Nabi Isa as. membawa agama lain selain Islam karena dia adalah salah satu utusan-Nya yang diutus untuk meluruskan kembali pemahaman kaumnya terhadap ajaran agamanya yang telah diselewengkan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal ini dapat dijumpai pada QS. Ali Imran (3): 19 dan 85. Adapun ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Isa as. adalah salah satu nabi yang diberi syariat untuk menegakkan agama Islam terdapat dalam QS. al-Shura (43): 13.

      2. Syari’at Nabi Isa as.
      Al-Qur’an menjelaskan bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah melanjutkan syariat nabi sebelumnya, yakni syariat Nabi Musa as.. Nabi Isa as. diutus untuk membenarkan syariat Nabi Musa as. yang telah disimpangsiurkan oleh Bani Isra’il Israil, menghalalkan apa yang diharamkan kepada mereka sebelumnya karena kesalahan mereka sendiri, menjelaskan tentang apa yang mereka perselisihkan serta diberi al-kitab (Injil) sebagai syariat khasnya.

      Sebagaimana para Nabi sebelumnya, dalam bidang aqidah Nabi Isa as. mengajak Bani Isra’il hanya untuk menyembah Allah, satu-satunya Dzat yang wajib disembah. Ia menolak tentang ajaran Trinitas‛ yang dianut oleh siapa saja terutama kaumnya.

      Dalam bidang far’iyah ‘amaliyah Nabi Isa as. juga mengajak manusia untuk sholat, menunaikan zakat, berpuasa, menjalankan hukum Taurat dengan benar, dan lain sebagainya. Kemudian dalam bidang khuluqiyah, Nabi Isa mengajak manusia untuk berbakti kepada orang tua, dan tidak bersikap sombong.

      Namun, yang perlu diketahui disini adalah bahwa syariat Nabi Isa as. adalah menekankan pada ajaran cinta kasih. Syariat Taurat mengikat manusia dengan perkara-perkara yang bersifat wajib, sedangkan ajaran cinta kasih melebihi syariat yang bersifat wajib. Ajaran itu membangkitkan nurani manusia untuk berbuat kebajikan, tanpa menunggu perintah dan tanpa berharap balasan.

      Dengan ajaran cinta kasih, Nabi Isa as. merombak setiap aturan yang bersifat lahiriah-formal. Dengan demikian, ia tidak meninggalkan ajaran Taurat, melainkan menegakkan ajaran Taurat.

      3. Sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat Nabi Isa as. 
      Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, bahwa Nabi Isa as. diutus kepada Bani Isra’il untuk meluruskan kembali ajaran Taurat Nabi Musa as.. Namun, seperti para nabi yang diutus sebelumnya, kedatangan Nabi Isa as. kepada Bani Israil juga mengalami rintangan-rintangan. Sebagian dari mereka menerima ajarannya dan sebagian mereka menolak bahkan ingin membunuhnya. Kaum Nabi Isa as. yang menerima ajaran mereka adalah kaum Nasrani. Namun, di antara mereka ada yang setia dan adapula yang tidak setia. 

      Pengikutnya yang setia ini oleh Al-Qur’an disebut Al-Hawariyyun, yang jumlah mereka hanyalah sedikit pada waktu itu. Ada yang menyebutkan jumlahnya hanya sekitar 12 orang. Mereka mengakui kenabian Isa as., menerima ajarannya, dan mengakui hanya Allah, Tuhan yang wajib disembah. Mereka menyebut diri mereka sebagai Muslim. Sedangkan pengikutnya yang tidak setia justru menjadi mayoritas keberadaannya. Mereka bersikap berlebih-lebihan dan mengatakan bahwa Tuhan itu tiga (Trinitas). Adapun kaum Nabi Isa as. yang menolak ajaran Nabi Isa as. adalah kaum Yahudi. Mereka menolak ajaran agamanya dan bahkan ingin membunuhnya. Mereka tidak mengakui kenabian Nabi Isa as. dan ajarannya walaupun telah didatangkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya.

      Kesimpulan
      Allah menegaskan kepada umat Islam melalui kalamnya, Al-Qur’an, bahwa agama yang benar di dunia hanyalah Islam. Allah tidak pernah mengutus para nabinya dengan membawa agama lain selain Islam, termasuk dalam pengutusan Nabi Isa as..

      Oleh karenanya, sudah seharusnya bagi umat Islam untuk melanjutkan dakwah para Nabi untuk menyeru manusia untuk memeluk Islam dan menegakkan ajarannya.


      DAFTAR PUSTAKA

      • Al-Qur’an al-Karim 
      • AlKitab 
      • Abdullah, Zurkanain, Yahudi dalam al-Qur’an: Teks, Konteks & Diskursus 
      • Pluralisme Agama, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2007. 
      • Amini, Ibrahim, Mengapa Nabi Diutus?, terj. M. Ilyas, Jakarta: Al-Huda, 2006. 
      • Amrullah, Haji Abdul Malik Karim, Tafsir al-Azhar, Vol. 3, Jakarta: Pustaka 
      • Panji Mas, 1983. 
      • Andalusi (al), Abu Hayyan, Tafsir al-Bahr al-Muhit, Vol. 7, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993. 
      • Arifin, Bey, Maria, Yesus dan Muhammad, Surabaya: PT Bina Ilmu, 2009. 
      • Asymawi (al), Muhammad Said, Nalar Kritis Syari’ah, terj. Luthfi Thomafi, 
      • Yogyakarta: LKIS, 2004. 
      • Bukhari (al), Abu Abdullah Muhammad bin Isma‘il, Al-Jami‘ al-Sahih, Vol. 2, alQahirah: al-Mat}ba‘ah al-Salafiyyah, 1403 H. 
      • Bahesyti, Muhammad Husaini dan Jawad Bahonar, Philosophy of Islam, terj. 
      • Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2003. 
      • Baidan, Nashruddin, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. 
      • Darwazah, M. ‘Izzah, Al-Tafsir al-Hadith Tartib al-Suwar Hasab al-Nuzul, AlQahirah: Dar al-Gharb al-Islami, 2000. 
      • Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: WALI, 2010. 
      • Farmawi (al), ‘Abd al-Hayy, Metode Tafsir Maudhui: Sebuah Pengantar, terj. 
      • Suryan A. Jamrah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996). 
      • Fathoohi, Louay The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias menurut alQur’an, 
      • Alkitab, dan Sumber-sumber Sejarah, terj. Yuliani Liputo, 
      • Bandung: Mizan Pustaka, 2007 
      • Ghafur, Waryono Abdul, Tafsir Sosial, Yogyakarta: elSAQ Press, 2005.Ghazali, Syaikh Muhammad Tafsir Tematik dalam al-Qur’an, terj. M. Qodirun 
      • Nur dan Ahmad Musyafiq, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004. 
      • Halim, Amanullah, Isa Putra Maria dalam Injil dan al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2011. 
      • Halim, Muhammad Abdul, Memahami al-Qur’an: Pendekatan Gaya dan tema,Bandung: Marja’, 2002. 
      • Haroen,Nasrun, ‚Perspektif al-Qur’an tentang Islam‛, dalam Tema-tema Pokok 
      • al-Qur’an tentang Ketuhanan, ed. Abuddin Nata, Bandung: Angkasa, 2008. 
      • Ibn Kathir, Abu al-Fida’, Tafsir Ibn Kathir, vol. 9, terj. Bahrun Abu Bakar, 
      • Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000. 
      • _________, Qasas al-Anbiya’, diterj. Dudi Rosyadi, Jakarta: al-Kautsar, 2011. 
      • _________, Al-Misbah al-Munir fi Tahdhib Tafsir Ibn Kathir, terj. Ahmad Saikhu, Jakarta: Pustaka Ibn Katsir, 2014. 
      • _________, Terjemah Ringkas Tafsir Ibn Kathi>r, terj. Salim Bahreishy dan Said Bahreishy, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986. 
      • Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an, Hubungan Antar Umat Beragama dalam afsir al-Qur’an Tematik, Jakarta: Departemen Agama RI, 2008. 
      • _______________________________, Kenabian (Nubuwwah) dalam al-Qur’an dalam Tafsir al-Qur’an Tematik, Jakarta: Lajnah Pestashihan Mushaf alQur’an, 2012. 
      • McElwain,Thomas, Bacalah Bible: Merajut Benang Mereah Tiga Iman, terj. 
      • Muhammad Musaddiq, Jakarta: Citra, 2006. 
      • Mubarakfuri (al), Shaikh Shafiyyurrahman, Al-Misbah al-Munir fi Tahdhib Tafsir Ibn Kathir, Vol.3, terj. Ahmad Saikhu, Jakarta: Pustaka Ibn Katsir, 2014. 
      • Muchlas, Imam, Penafsiran al-Qur’an: Tematis Permasalahan, Malang: Univ. Muhammadiyah 
      • Muchlas, Imam dan Masyhud, Al-Qur’an Berbicara tentang Kristen, Surabaya: Pustaka Dai, 2001. 
      • Muhaimin, dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2005. 
      • Muhammad, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, Jakarta: Paramadina, 1998. 
      • Muhammad, Hasyim, Kristologi Qur’an: Telaah Kontekstual Doktrin 
      • Kekristenan dalam al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. 
      • Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, Surabaya: ustaka Progressif, 1997. 
      • Muslim, Al-Imam Abi al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusairi al-Naisaburi, Sahih Muslim, Vol. 1, al-Riyad: Dar al-‘Alim al-Kutub, 19960 93. 
      • Mustaqim, Abdul Epistemologi Tasfir Kontemporer Yogyakarta: LKIS, 2012. 
      • Qardhawy (al), Yusuf, Anatomi Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000. 
      • Qiraati, Muhsin, Lesson From al-Qur’an, terj. MJ. Bafaqih dan Dede Azwar, Bogor: Cahaya, 2004. 
      • Qurt}ubi (al), Tafsir al-Qurt}ubi, Vol. 6, terj. Dudi Rosyadi, dkk, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008. 
      • Rahardjo, Dawam, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep konsep Kunci, Jakarta Selatan: Paramadina, 2002. 
      • Rahman, Taufik, Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2013. 
      • Roham, Abujamin, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1984. 
      • S{abuni (al), Muhammad ‘Ali, Qabas min Nur al-Qur’an: Dirasah Tahliliyah 
      • Muwassa’ah ni Ahdaf wa Maqasid al-Suwar al-Karimah, terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000. 
      • Sader, R., Firman Yesus, terj. Syeikh Al-Hamid, Jakarta: Citra, 2006. 
      • Sayyid ‘Abbas Husayni, Muhammad Legenhausen, dan Muntazir Qa’im, Hadis-hadis ‘Ali tentang ‘Isa dalam Injil‛, AL-Huda, Vol. II, No. 7, (Maret, 2004), 66. 
      • Shafi’i (al), Husain Muh}ammad Fahmi, al-Dalil al-Mufahris li Alfaz}i al-Qur’an al-Karim, al-Qahirah: Dar al-Salam, 2012. 
      • Sharifuddin, Amir, Ushul Fiqh, Vol. 2, Jakarta: Kencana, 2011. 
      • Shihab, M. Quraish, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Qur’an, Tangerang: Lentera Hati, 2013. 
      • ________________, Mukjizat al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, Bandung: Mizan, 1998. 
      • ________________, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 2005. 
      • Siddiqi, Mazheruddin, Konsep Qur’an tentang Sejarah, terj. Nur Rachmi, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003. 
      • Sirry, Mun’im, Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi atas Kritik al-Qur’an terhadap Agama Lain, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012. 
      • Steenbrink, Karel, Nabi Isa dalam al-Qur’an: Sebuah Interpretasi Outsider atas al-Qur’an, terj. Sahiron Syamsuddin dan Fejriyan Yazdajird Iwanebel, Yogyakarta: Suka Press, 2015. 
      • Suma, Muhammad Amin, Ulumul Qur’an, Jakarta: Rajawali Press, 2013. 
      • Suyuti (al), Jalal al-Din Abu ‘Abd al-Rahman, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Mu’asasah al-Kutub al-Thaqafiyah, 2002. 
      • Syafe’i, Rachmat Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2006. 
      • Syaikh, Abdullah bin muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ish{aq Alu, Lubab alTafsir min Ibn Kathir, terj. M. Abdul Ghaffar, t.t: Pustaka Imam Syafi’i, 2006. 
      • T{abari (al), Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir, Tafsir al-Tabari, Vol. 5, terj. Beni Sarbeni, Jakarta: Pustaka Azam, 2008. 
      • Thohir, Muhammad, Ayat-ayat Tauhid: Pencerahan Aqidah Tauhid Berpadu Logika Sains Iptek, Surabaya: Bina Ilmu, 2009. 
      • Usman, Suparman, Hukum Islam: Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001. 
      • Usthuri, Ahmad, Qawa’id Tafsir, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014. 
      • Wahidi (al), Asbab Nuzul al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2009.

      Islam tidak mengenal Penebusan Dosa

      Dari analisis telek Kristen Gagal Murtad yang dicopas dimari.

      MENJAWAB "AN-NUSHUBI" THEOS AN-NAAR AL-NYUNGSEBI 

      ane demen nih buktiin bahwa hayalan tingkat dewa mang tepos emang selalu pas kalo distempel dengan cap "trade mark" ANALISIS TELEK!

      mari kita "review" (minjem bahasa analis telek kita yang suka ngutil bhs inggeris tapi kagak ngeh apa maksud yang dia kutil) 


      A. PENGANTAR
      sebejad2nya orang bejad pasti bakal bingung sendiri kalo ditanya, maksud pengantar analisis telek sang analis kita ini sebetulnya apa? putra2 nabi Adam mempersembahkan "kurban" mereka di altar yang harusnya masih ada di ka'bah? begitukah?

      B. DALIL ALQURAN
      seperti biasa, analis telek kita memutilasi terjemah ayat AlQuran lagi 

      Seharusnya tertulis lengkap begini:

      حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسْتَقْسِمُوا۟ بِٱلْأَزْلَٰمِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ۚ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًۭا ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍۢ لِّإِثْمٍۢ ۙ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ
      dan terjemah indonesianya begini:
      "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 5:3)

      atawa kalo mo gaya pake terjemah inggeris segala, mustinya ditulis lengkap sesuai pemikiran Ibnu Kathir & Mokhsin Khan seperti ini:

      "Prohibited to you are dead animals, blood, the flesh of swine, and that which has been dedicated to other than Allah, and [those animals] killed by strangling or by a violent blow or by a head-long fall or by the goring of horns, and those from which a wild animal has eaten, except what you [are able to] slaughter [before its death], and those which are sacrificed on stone altars, and [prohibited is] that you seek decision through divining arrows. That is grave disobedience. This day those who disbelieve have despaired of [defeating] your religion; so fear them not, but fear Me. This day I have perfected for you your religion and completed My favor upon you and have approved for you Islam as religion. But whoever is forced by severe hunger with no inclination to sin - then indeed, Allah is Forgiving and Merciful." (QS. 5:3)

      C. TAFSIR
      mengusung nama Ibnu kathir, Jalalain, dan Sayyid Abul Ala Maududi ..... konsentrasi analis telek kita adalah menggiring opini pembacanya supaya ikut terheran2 dengan "hilangnya" dalam terjemah indonesia kata "stone altar" atau "altar batu" (yang berasal dari kata "an-nusub" dalam QS. 5:3), yang artinya kurang lebih adalah tempat menyembelih kurban

      D. ASAL USUL TRADISI AN-NUSUB
      nekad mengutip ayat QS. 37:18-18, analis telek kita berusaha membangun image bahwa peristiwa "berkurban" yang pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim atas perintah (tepatnya ujian) dari Allah adalah untuk keselamatan umat manusia setelahnya.

      lebih spesifik lagi, dia coba menggambarkannya mirip2 dengan apa yang diimani umat kristen, yaitu sebagai ritual penebus dosa umat manusia dengan cara menumbalkan Yesus!

      untuk mimpinya ini analis telek kita bahkan bergelayut pada apa yang konon merupakan pemahaman kaum syiah untuk urusan ini. 

      E. PEMBAHASAN
      dalam bahasa yang pabaliut, urusan an-nusub tadi tiba2 saja lenyap dari ocehan analis telek kita, tapi berganti dengan pemaksaan kehendak agar pembaca menerima hayalannya bahwa perintah "berqurban" dari Allah (yang kemudian menjadi bagian dari tradisi ritual turun temurun umat islam diseluruh dunia) sebenarnya adalah bentuk lain dari prosesi penebusan dosa!

      wkwkwkwkwk .......   

      dan cerita analis telek kita pun brenti cuman sampe disitu. kagak ada kesimpulan sama sekali karena nampaknya dia udah kapok bikin kesimpulan dari analisis teleknya yang selalu saja jadi bulan2an bully dari pembaca!
      jadi, ane aja yang buatin deh.

      F. KESIMPULAN
      kesimpulan dari notes theos annar berjudul ALAN NUSUBI adalah ........
      teteub wae ANALISIS TELEK mang!
      wkwkwkwk ....... 

      ALASAN
      (1). sekalipun Paulus idup lagi dan ngajak semua sahabatnya, keluarga besar iblis dari neraka, atau berpura2 dan mengaku sebagai orang arab (seperti yang dilakukannya dulu di depan kaum farisi) lalu dia juga ngajak semua orang arab yang ada didunia ini untuk bantu ente mencari kata "an-nusub" yang artinya "altar batu" dalam naskah asli QS. 5:3, dijamin kagak bakal nemu mang! karena emang kagak ada tertulis disana!

      kagak percaya? coba tunjukin dimana dalam naskah asli QS. 5:3 itu ada kata 'an-nusub" sebagai kata ganti "alan nasubihi" yang artinya adalah "untuk berhala"? 

      jadi, masalah lu sebetulnya apa, sembarangan nuding2 para penyusun AlQuran terjemah indonesia telah dengan sengaja menghilangkan kata "an-nusub" dari QS. 5:3? 

      (2). dalam ritual keagamaan islam, mau dilakukan di atas batu altar atau kagak, yang namanya berqurban teteub aja berqurban mang. boleh dimana saja sepanjang bukan ditempat yang terpapar najis. artinya batu altar yang ente ributin itu sama sekali bukan hal prinsip, kecuali bila berqurban itu dimaksudkan untuk persembahan kepada berhala, kaum pagan seperti ente emang butuh altar batu! 

      (3). dalam ajaran islam, kagak ada tuh yang namanya penebusan dosa! 
      dan supaya ente nyadar, dalam ajaran Yesus, Musa, Daud, Salomo, Abraham dan semua nabi2 leluhur mereka juga sama aja, KAGAK ADA tuh yang namanya ajaran penebusan dosa dengan cara mengorbankan nyawa manusia! Lu belajar lagi dari suhu ane dimari, mang!

      BUKTI-BUKTI
      supaya laen kali ente tau diri dikit dan mau belajar jujur kagak mutilasi ayat AlQuran, ini nih sekalian baca yang betul tafsir QS 37:106-111

      (107) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.(QS. 37:107)
      Ash Shaaffaat 106 - 107
      إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ 107

      Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa apa yang dialami Ibrahim as dan putranya itu merupakan batu ujian yang amat berat. Memang adalah hak Tuhan untuk menguji hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dengan bentuk ujian yang dipilih-Nya berupa beban dan kewajiban yang berat. Bila ujian itu telah ditetapkan, tak seorangpun yang dapat menolak dan menghindarinya. Di balik cobaan-cobaan yang berat itu, tentulah terdapat hikmah dan rahasia yang tidak terjangkau oleh pikiran manusia.

      Ismail as yang semula dijadikan kurban untuk menguji ketaatan Ibrahim as, diganti Allah dengan seekor domba besar yang putih bersih yang tidak ada cacatnya. Peristiwa penyembelihan kambing oleh Nabi Ibrahim as ini yang menjadi ibadah kurban untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dilanjutkan oleh syariat Nabi Muhammad saw. Ibadah kurban ini dilaksanakan pada hari raya haji/raya kurban atau pada hari-hari tasyriq yakni tiga hari berturut-turut sesudah hari raya kurban yakni tanggal 11,12,13, Zulhijah.

      Binatang-binatang kurban itu dari binatang-binatang ternak seperti unta, sapi, kerbau, kambing. Diisyaratkan binatang kurban itu tidak cacat badannya, tidak sakit, dan cukup umur. Menyembelih binatang untuk kurban ini hukumnya sunah muakkadah.
      Firman Allah SWT: 
      فصل لربك وانحر 
      Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. (Q.S. Al Kausar: 2) 

      Dengan disyariatkannya ibadah kurban itu dalam agama Islam, maka peristiwa Ibrahim akan menyembelih anaknya itu tetap dikenang selama-lamanya. Ibadah kurban juga menyemarakkan agama Islam karena daging-daging kurban itu dibagi-bagikan kepada masyarakat terutama kepada fakir miskin.

      (108). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,(QS. 37:108)

      (109). (yaitu:)` Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim `.(QS. 37:109)

      (110). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS. 37:110)

      (111). Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.(QS. 37:111)

      Ash Shaaffaat 108 - 111

      وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ 111
      Dalam ayat-ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa umat manusia dari berbagai agama (samawi) dan golongan mencintai Nabi Ibrahim as, sepanjang masa. Penganut agama Yahudi, Nasrani dan Islam semuanya menghormatinya dan memuji namanya, bahkan kaum musyrikin Arab mengakui bahwa agama mereka juga mengikuti agama Islam (Ibrahim).

      Demikianlah Allah SWT memenuhi permohonan Ibrahim as ketika dia berdoa seperti difirmankan Allah SWT:
      واجعل لي لسان صدق في الآخرين واجعلني من ورثة جنة النعيم

      dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, (Q.S. As Syu'ara: 84-85)

      Kemudian Allah SWT menyebutkan lagi penghargaan kepada Ibrahim as bahwa Dia memberikan salam kesejahteraan kepadanya dan salam kesejahteraan untuk Ibrahim as ini terus hidup di tengah-tengah umat manusia bahkan juga di kalangan malaikat. Dengan demikian ada tiga ganjaran yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya, pertama seekor kambing besar yang didatangkan kepadanya, kedua pengabdian keharuman namanya sepanjang masa dan ucapan salam sejahtera dari Tuhan dan manusia.

      Begitulah Allah SWT memberikan ganjaran kepada hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Semua ganjaran itu sebagai imbalan ketaatannya melaksanakan perintah Allah SWT.

      Ibrahim as mencapai prestasi yang tinggi itu adalah karena dorongan iman yang kuat dan keikhlasan ibadahnya kepada Tuhan sehingga dia termasuk hamba-hamba Allah yang beriman.

      sedangkan tafsir plesetan ente untuk QS. 29:12 mustinya difahami begini:

      Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 12 

      وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ 12

      Menurut Mujahid, ayat ini diturunkan untuk mengungkapkan usaha-usaha orang Quraisy membujuk kaumnya yang telah beriman dengan mengatakan: "Kami dan kamu tidak akan dibangkitkan kembali". Karena itu ikutilah langkah-langkah kami. Andaikata kamu berdosa lantaran pekerjaan ini, kamilah yang memikul dosa itu". Oleh karena itu Allah memperingatkan orang-orang beriman bahwa orang-orang kafir itu berdusta. Sebab pada Hari Kiamat kelak, tidak ada seorangpun diperkenankan memikul dosa orang lain. Allah menegaskan:

      ولا تزر وازرة وزر أخرى وإن تدع مثقلة إلى حملها لا يحمل منه شيء ولو كان ذا قربى

      Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. (Q.S. Fatir: 18) 

      Dan firman Allah:
      يبصرونهم يود المجرم لو يفتدي من عذاب يومئذ ببنيه 

      Sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya. (Q.S. Al Ma'arij: 11)

      Keterangan tentang ini diperkuat-lagi bahagian akhir ayat ini bahwa mereka itu adalah orang-orang behong. Imam Az Zamakhsyary menafsirkan bahwa di antara mereka yang mengajak rekan-rekannya berbuat dosa itu terdapat juga orang-orang yang mengaku beragama Islam. Mereka menjanjikan untuk menanggung siksaannya sehingga orang-orang bodoh dan lemah imannya tergoda dengan bujukan dan rayuan halus itu.
      Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 12

      وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا اتَّبِعُوا سَبِيلَنَا وَلْنَحْمِلْ خَطَايَاكُمْ وَمَا هُمْ بِحَامِلِينَ مِنْ خَطَايَاهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ 12

      Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman: `Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu`, dan mereka (sendiri) sedikitpun tidak (sanggup), memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta.(QS. 29:12)

      (Dan berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman, "Ikutilah jalan kami) maksudnya cara mereka dalam beragama (dan nanti kami akan memikul dosa-dosa kalian") karena kalian menuruti kami jika memang kalian berdosa. Lafal Amar sekali pun sebagai kalimat Insya' akan tetapi menunjukkan makna Khabar atau kalimat berita. Maka Allah berfirman (dan mereka sendiri sedikit pun tidak sanggup memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar pendusta) dalam perkataannya itu.

      udah jelas mang?
      DALAM ALQURAN, KAGAK ADA YANG NAMANYA DOKTRIN PENEBUSAN DOSA!
      jadi, (pinjem istilah dikelas minggu ane), sori2 aja tusei nih, ente memang asli analis telek mang!

      wkwkwkwkwkwk ..........