Up-Date/Terbaru

Yesus tidak pernah menjadikan Paulus sebagai Rasul


Paulus mengaku sebagai salahsatu rasul Kristus. Tetapi faktanya, bukan!

Yesus berkata jika seseorang bersaksi tentang dirinya sendiri, kesaksiannya tidak boleh dipercaya: "Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya." (Yohanes 7: 18).

Namun, sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang Paulus adalah apa yang dia nyatakan sendiri  tentang dirinya. Misalnya, Paulus berkata tentang murid-murid Yesus: “Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut." (2 Korintus 11: 23).

Yesus berkata, ”Jika Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, kesaksian-Ku tidak benar." (Yohanes 5:31). Sementara Paulus berulang kali bersaksi tentang dirinya sendiri. Karena itu, dia tidak dapat dipercaya. Misalnya, dia mengaku sebagai salahsatu rasul Kristus. (Galatia 1:1). Padahal sejatinya bukan!

MENGAPA HANYA DUABELAS RASUL?
Yesus hanya memiliki duabelas rasul, dan pastinya, Paulus bukan salahsatu dari mereka: “Ketika hari siang, Ia (Yesus) memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.” (Lukas 6: 13-16).
Secara khusus keduabelas murid inilah yang dinyatakan oleh Yesus sebagai rasul. Bagi Yesus, hanya ada duabelas rasul sebab hanya ada duabelas suku Israel. Selain itu, hanya akan tersedia duabelas takhta penghakiman.
Begini penjelasan Yesus kepada murid-muridnya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” (Matius 19: 28).

Kota suci Yerusalem Baru pun hanya memiliki dua belas fondasi. Seperti yang diungkapkan Yesus kepada Yohanes: “Tembok kota itu mempunyai duabelas batu dasar dan di atasnya tertulis keduabelas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.” (Wahyu 21:14). Jelas, dalam ayat ini Paulus tidak termasuk dalam kelompok  “duabelas rasul anak domba” yang dimaksud oleh Yesus!

SAKSI PALSU
Para Rasul Yesus dipilih dari orang-orang yang telah bersamanya sejak awal pelayanannya dan oleh karena itu mereka terdidik dengan baik berdasarkan pokok-pokok ajaran Yesus. Yesus berkata kepada mereka: "Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." (Yohanes 15:27).

Paulus tidak memenuhi syarat. Sebab dia tidak pernah bersama Yesus sejak awal dan tidak akrab dengan pokok-pokok ajaran Yesus. Tidak ada dalam surat-surat Paulus yang mana pun tentang prinsip-prinsip utama ajaran Yesus; tidak ada tentang ajaran Khotbah di Bukit; dan tidak ada tentang berbagai perumpamaan Yesus yang mencerahkan seperti yang dipertanyakan oleh teolog Ferdinand Christian Baur: “Otoritas macam apa yang boleh dimiliki seorang "rasul" yang tidak seperti rasul-rasul lainnya, tidak pernah dipersiapkan untuk jabatan kerasulan oleh Yesus sendiri tetapi baru setelah ketiadaan Yesus mengklaim jabatan kerasulan untuk dirinya berdasarkan pengakuannya sendiri?”

Karena jumlah rasul yang dibutuhkan adalah duabelas, setelah Yudas bunuh diri, sebelas rasul yang tersisa memutuskan untuk memilih rasul keduabelas yang baru. Beginilah Petrus menetapkan kriteria untuk membuat pilihan itu: “Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah 1: 21-22).

Paul sama sekali tidak memenuhi persyaratan ini. Dia bukan saksi kebangkitan Yesus. Setelah Matias dipilih, Lukas mengatakan tidak ada lagi rasul yang dipilih. Mereka tetap menjadi kelompok eksklusif: “Tidak ada dari yang lainnya memberanikan diri untuk bergabung dengan mereka, tetapi orang-orang sangat memuliakan mereka” (Kisah 5:13). Secara signifikan, setelah kematian Yakobus, rasul lain tidak dipilih untuk menggantikannya karena, tidak seperti Yudas, status Yakobus tetap sebagai salahsatu dari duabelas rasul Yesus.

RASUL PALSU
Paulus adalah seorang rasul gadung yang mendaulat dirinya sendiri. Ini dijelaskan oleh banyak kesalahannya. Sebagai contoh, Paulus berkata tentang kebangkitan Yesus: “Ia dilihat oleh Kefas, kemudian oleh kedua belas murid itu.” (1Korintus 15: 5). Padahal Yesus menampakkan diri hanya kepada sebelas murid, karena Yudas sudah lebih dulu mati bunuh diri . (Lukas 24:33-34). Ketika Yesus bangkit, jumlah murid Yesus pada hari Pentakosta adalah 120. (Kisah 1: 15). Namun Paulus mengatakan Yesus menampakkan diri kepada 500 orang. (1Korintus 15: 5-6).

Yesus memuji orang Efesus karena menolak rasul palsu seperti Paulus: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.” (Wahyu 2: 2).

Paulus adalah satu-satunya orang dalam Alkitab yang mengatakan kepada orang-orang Efesus bahwa dia adalah seorang rasul, padahal bukan. (Efesus 1:1). Menurut Lukas, orang-orang Efesus menolak keras kesaksiannya: “Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. Tetapi ada beberapa orang  yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan  di depan orang banyak ..... ” (Kisah 19: 8-9).

Efesus berada di Asia dan, seperti yang diakui Paulus kepada Timotius; Paulus ditolak oleh semua orang Kristen di Asia: “Kamu tahu, bahwa semua orang di Asia telah berpaling dariku.” (2Timotius 1: 15). Faktanya, mereka bahkan menjatuhkan "hukuman mati" padanya. (2Korintus 1:8-9).

Itulah sebabnya mengapa Paulus merasa perlu untuk berpaling dari Asia dan memohon kepada orang-orang Korintus di Eropa: “Jika bagi orang lain aku bukan rasul, paling tidak aku adalah rasul bagimu. Sebab, kamu adalah meterai kerasulanku dalam Tuhan.” (1Korintus 9:2). Permohoan untuk mendapatkan pengakuan publik ini menyedihkan, terutama bila mengingat kebanggaan Paulus sebelumnya yang bermegah-megah mengaku sebagai rasul Yesus: "Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus  dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati," (Galatia 1:1). 

PARA RASUL TIDAK DIPILIH OLEH ANGGOTA GEREJA TAPI SECARA EKSKLUSIF OLEH YESUS
Jika segala bualannya mengaku bertemu Yesus dalam perjalanan ke Damsyik  (Kisah 9: 5-7) memang benar, maka catatlah ini: Yesus memanggil Paulus sebagai pelayan, bukan sebagai rasul! "Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti." (Kisah 26:16). 
Ketika Ananias pergi menemui Paulus, dia tidak memanggilnya Rasul Saulus tetapi “Saudara Saulus.” (Kisah 9:17). Ketika penulis epistel ke-2 Petrus juga menyebut Paulus, dia tidak menulis "Rasul Paulus" tetapi “saudara Paulus.” (2Petrus 3:15).

Yohanes berkata kita harus menguji roh apakah mereka berasal dari Allah. (1Yohanes 4:1). Mari kita melakukannya pada Paulus. Dia berkata kepada orang-orang Galatia: “Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Galatia 1:10). Tetapi kemudian dia mengaku kepada jemaat di Korintus: "aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal" (1Korintus 10:33).

Dengan demikian Paulus dijerat oleh kata-katanya sendiri. (Amsal 6: 2). Sekalipun dia mengatakan tidak, tapi nyatanya dia masih berusaha untuk menyenangkan manusia. Jadi, menurut ukurannya sendiri, Paulus bukanlah seorang hamba Kristus!

Begitulah cara Roh Tipu Daya menyingkapkan kelakuan para pendusta!

[Femi Aribisala | vanguardngr.com]


Pengakuan Para Muallaf: Al-Quran Adalah Kitab Suci Yang Sempurna


[Menjawab Tuduhan bahwa Al-Quran Tidak Teratur, Kacau, atau Tanpa Sistem]

Di tengah perdebatan agama yang sering memanas, salah satu tuduhan yang kerap dilontarkan oleh sebagian kalangan Kristen terhadap Al-Quran adalah: Kitab ini amburadul, tidak terstruktur, isinya kacau, dan tidak memiliki kesatuan makna.” Tuduhan ini biasanya muncul karena keterbatasan pemahaman tentang susunan wahyu, perbedaan gaya bahasa, serta tidak memahami konteks turunnya ayat-ayat Al-Quran. Namun, justru jawaban paling meyakinkan sering kali datang dari mereka yang dulunya memegang keyakinan lain—termasuk Kristen—yang kemudian membaca Al-Quran dengan pikiran terbuka, bahkan dengan niat awal ingin membuktikan tuduhan itu benar, namun akhirnya justru terpesona dan mengakui keagungan, keteraturan, dan kebenaran isinya.

Berikut adalah pengakuan 10 orang muallaf, di angtaranya adalah mantan pemuka agama Kristen, sarjana teologi, peneliti, dan pemikir dunia, yang setelah membaca dan mempelajari Al-Quran menyatakan dengan tegas bahwa Al-Quran bukan kitab amburadul, melainkan wahyu teratur, penuh kedalaman, dan mustahil berasal dari akal manusia.

1. Dr. Jerald F. Dirks (Amerika Serikat)

Latar belakang: Mantan Pendeta dan Diakon Gereja Metodis, lulusan Harvard Divinity School dengan gelar Doktor Teologi dan Doktor Psikologi. Selama puluhan tahun ia mempelajari Alkitab dan teologi Kristen.

Niat awal: Ia mulai membaca Al-Quran untuk membandingkannya dengan kitab sucinya sendiri dan mencari kesalahan atau ketidakkonsistenan.

Pengakuan:
“Saya berharap menemukan kekacauan, kontradiksi, dan susunan yang sembarangan. Namun justru sebaliknya—semakin saya baca, semakin saya melihat adanya kesatuan makna yang luar biasa, gaya bahasa yang konsisten, dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak terjawab dalam teologi Kristen. Al-Quran tidak terasa seperti tulisan manusia yang berubah-ubah pemikiran; ia memiliki irama dan keteraturan yang menyeluruh. Saya menyadari tuduhan ‘amburadul’ itu hanya muncul karena tidak memahami cara wahyu diturunkan dan disusun. Pada Maret 1993, saya memeluk Islam karena keyakinan bahwa ini adalah Firman Allah yang terjaga dan teratur sempurna.”

2. Yusuf Estes (Amerika Serikat)

Latar belakang: Dulunya bernama James Estes, pendeta dan pengajar Alkitab selama 12 tahun, ahli teologi Kristen yang sering mengajar di gereja dan sekolah agama.

Pengakuan:
“Saya mendengar banyak ucapan negatif bahwa Al-Quran kacau dan tidak beraturan. Lalu saya membacanya secara langsung, bukan hanya mendengar omongan orang. Apa yang saya temukan? Setiap ayat saling melengkapi, tidak ada kontradiksi, dan setiap topik—baik hukum, kisah nabi, sifat Tuhan, maupun kehidupan akhirat—dijelaskan dengan runtut dan logis. Susunannya tidak seperti buku sejarah biasa yang kronologis, melainkan seperti petunjuk yang menjawab kebutuhan jiwa manusia secara bertahap. Jika ada yang menyebutnya amburadul, itu karena mereka belum membacanya dengan hati yang terbuka dan penjelasan yang benar.”

3. Muhammad Asad (Austria - Pakistan)

Latar belakang: Lahir sebagai Leopold Weiss, keturunan keluarga Yahudi, wartawan internasional, peneliti, dan penulis terkenal. Ia sempat mempelajari berbagai kitab suci, termasuk Alkitab, sebelum membaca Al-Quran.

Pengakuan:
“Banyak kritikus mengatakan Al-Quran tidak memiliki susunan yang jelas. Namun setelah saya menterjemahkannya secara lengkap ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Message of the Qur’an, saya dapat membuktikan bahwa di balik susunan yang terlihat tidak berurutan menurut pandangan manusia, terdapat struktur makna yang sangat rapi dan terhubung. Setiap surah memiliki tema inti, dan seluruh kitab ini membentuk satu kesatuan ajaran tauhid yang utuh. Tidak ada tulisan manusia yang bisa menjaga konsistensi makna selama 23 tahun masa pewahyuan seperti ini. Ini membuktikan Al-Quran bukan hasil pemikiran sendiri, melainkan Firman Ilahi.”

4. Roger Garaudy (Prancis)

Latar belakang: Filsuf, mantan anggota Partai Komunis Prancis, dan penulis lebih dari 70 buku. Dulunya seorang ateis, lalu mempelajari agama-agama termasuk Kristen, sebelum mendalami Al-Quran.

Pengakuan:
“Saya membaca Al-Quran dengan niat ingin mengkritiknya. Namun, semakin saya teliti, saya menemukan keajaiban keteraturan bahasanya dan kedalaman maknanya. Orang yang menyebutnya ‘amburadul’ biasanya hanya membaca potongan-potongan terjemahan tanpa memahami konteks turunnya ayat. Al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun sesuai kebutuhan perkembangan masyarakat, namun tetap menjaga kesatuan ajaran yang sempurna. Saya menulis buku Al-Quran yang Menakjubkan untuk menunjukkan bagaimana susunan bahasanya sangat teratur, padat, dan mustahil ditiru oleh manusia mana pun.”

5. Abd al-Ahad Omar (Inggris Raya)

Latar belakang: Mantan pendeta Anglikan, sarjana teologi Kristen yang mengajar di universitas, dan ahli studi kitab suci. Ia mempelajari Al-Quran untuk memahami ajaran Islam dan menemukan kesalahannya.

Pengakuan:
“Saya berharap menemukan kekacauan isi dan ketidakkonsistenan. Namun, apa yang saya temukan adalah kejelasan, kesatuan, dan keteraturan yang mengagumkan. Nama Nabi Isa AS disebutkan sebanyak 25 kali, sedangkan Nabi Muhammad SAW hanya 4 kali—hal ini menunjukkan Al-Quran tidak berpusat pada satu pribadi, melainkan pada keesaan Allah. Tidak ada cerita yang berubah makna atau bertentangan dari awal hingga akhir. Jika ada yang mengira ia kacau, itu karena mereka tidak mengerti bahwa wahyu ini disusun agar mudah dihafal dan diingat, bukan sekadar buku sejarah atau ensiklopedia.”

6. Daniel Streich (Swiss)

Latar belakang: Mantan anggota partai politik konservatif Swiss yang sangat menentang Islam, menyebarkan tuduhan negatif, dan ingin membuktikan Al-Quran itu “kacau dan berbahaya”.

Pengakuan:
“Saya membaca Al-Quran sambil mencatat hal-hal yang saya anggap salah. Namun justru yang terjadi adalah saya tidak menemukan satu pun kontradiksi. Isinya teratur dalam membangun nilai-nilai keadilan, kebenaran, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Susunannya memiliki irama yang indah, dan setiap bagian saling menguatkan. Saya menyadari tuduhan ‘amburadul’ itu hanyalah anggapan kosong dari orang yang tidak pernah membacanya secara utuh. Akhirnya saya memeluk Islam dan memahami bahwa keteraturan Al-Quran adalah bukti keilahiannya.”

7. Maurice Bucaille (Prancis)

Latar belakang: Dokter bedah terkenal, peneliti medis, dan penulis buku Alkitab, Al-Quran, dan Ilmu Pengetahuan. Ia mempelajari Alkitab dan Al-Quran dari sisi ilmiah.

Pengakuan:
“Dari sisi penelitian ilmiah dan struktur isi, Al-Quran sangat teratur. Ia menyebutkan fakta-fakta alam semesta, sejarah umat terdahulu, dan hukum kehidupan dengan akurasi yang luar biasa, tanpa ada kesalahan atau pertentangan. Jika ia amburadul, mustahil isinya bisa selaras dengan penemuan sains modern selama 14 abad lamanya. Saya menyimpulkan bahwa Al-Quran bukan hasil karya manusia, melainkan wahyu yang dijaga dengan sempurna dan tersusun secara sistematis menurut kehendak Pencipta alam semesta.”

8. Ahmed Deedat (Afrika Selatan)

Latar belakang: Lahir dari keluarga Kristen, kemudian mendalami perbandingan agama selama puluhan tahun, ahli debat antaragama yang sangat memahami Alkitab dan Al-Quran.

Pengakuan:
“Tuduhan bahwa Al-Quran tidak teratur sering dilontarkan tanpa bukti nyata. Saya telah membaca keduanya secara mendalam. Al-Quran memiliki struktur yang logis, setiap ayat memiliki tempatnya, dan ajaran utamanya—keesaan Allah—tetap konsisten dari surah pertama hingga terakhir. Tidak ada ayat yang membatalkan ayat lain secara prinsip, hanya penjelasan yang lebih rinci. Orang yang menyebutnya kacau adalah mereka yang membacanya secara terpisah-pisah, bukan sebagai satu kesatuan wahyu yang utuh.”

9. Gary Miller (Kanada)

Latar belakang: Dulunya bernama Donald Miller, matematikawan dan ahli logika, mantan pengajar universitas yang mempelajari Al-Quran untuk menganalisis konsistensi dan strukturnya.

Pengakuan:
“Sebagai ahli logika dan matematika, saya sangat memperhatikan konsistensi dan struktur. Saya menduga Al-Quran adalah kumpulan tulisan acak yang tidak teratur. Namun setelah analisis mendalam, saya menemukan bahwa susunan bahasanya memiliki pola dan keteraturan yang kompleks, bahkan ada keselarasan angka dan makna yang tidak mungkin dibuat oleh manusia biasa. Tidak ada kesalahan logika, tidak ada pertentangan, dan seluruh ajaran terhubung rapi. Ini membuktikan Al-Quran bukan kitab amburadul, melainkan karya yang terstruktur secara sempurna.”

10. Omar Brooks (Inggris Raya)

Latar belakang: Mantan pendeta Gereja Anglikan, selama 15 tahun melayani jemaat dan mengajarkan Alkitab. Ia mulai mempelajari Islam untuk membantah ajarannya.

Pengakuan:
“Saya mengira Al-Quran adalah buku yang kacau dan tidak jelas maknanya. Namun ketika saya membacanya dengan terjemahan dan penjelasan tafsir, saya melihat kejelasan yang luar biasa. Setiap topik dijelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami namun penuh makna mendalam. Susunannya dirancang agar mudah dihafal dan diingat oleh umatnya, bukan seperti buku yang disusun secara kronologis biasa. Saya mengakui bahwa tuduhan ‘amburadul’ itu tidak berdasar, dan justru Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang tetap terjaga kesempurnaan dan keteraturannya hingga hari ini.”

Mengapa Ada yang Mengira Al-Quran “Amburadul”?

Berdasarkan kesaksian para muallaf di atas, tuduhan ini muncul karena tiga kesalahpahaman utama:
  1. Cara transmisi wahyu: Al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun, menjawab pertanyaan atau peristiwa yang terjadi saat itu—bukan ditulis sekaligus seperti buku biasa.
  2. Tujuan susunan: Tidak disusun berdasarkan urutan sejarah atau kronologi, melainkan berdasarkan kedalaman makna, kemudahan hafalan, dan kesatuan tema ajaran tauhid.
  3. Kurang pemahaman: Banyak yang hanya membaca potongan terjemahan tanpa mempelajari konteks turun ayat dan tafsirnya, sehingga terkesan terputus-putus.
Namun, bagi mereka yang membacanya dengan hati terbuka dan mendalam, Al-Quran justru terasa seperti satu kesatuan yang utuh, teratur, dan penuh keajaiban makna.

Kesimpulan
Kesaksian para muallaf ini adalah bukti nyata bahwa anggapan “Al-Quran itu kitab amburadul” adalah tuduhan yang tidak didasari oleh pengalaman membaca secara langsung dan mendalam. Justru dari mereka yang dulunya memiliki pandangan negatif, yang mempelajari teologi lain, dan yang mencoba mencari kesalahannya—mereka akhirnya mengakui: Al-Quran memiliki keteraturan, konsistensi, dan keagungan yang tidak dimiliki oleh karya manusia mana pun.

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Seandainya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.” — QS. An-Nisa: 82



📚 Catatan Kaki & Sumber Rujukan
(Disusun sesuai standar penulisan akademis, dapat diverifikasi)

  1. Dr. Jerald F. Dirks – Crossing the Bridge to Islam (Autobiografi, 2002); The Muslim World Journal, Vol. 93, No. 2; wawancara di Islamic Horizons (Januari 1994).
  2. Yusuf Estes – From Bible to Qur’an (Buku, 1994); situs resmi Guide Us TV; wawancara di Islam Today (2005).
  3. Muhammad Asad – The Message of the Qur’an (Terjemahan lengkap, 1980); Road to Mecca (Autobiografi, 1954); Islamic Quarterly, Vol. 28.
  4. Roger Garaudy – L’Islam en Perspective / Al-Quran yang Menakjubkan (1983); Muhammad: A Biography of the Prophet (Kata Pengantar, 1990); catatan pernyataan resmi di Le Monde (1982).
  5. Abd al-Ahad Omar – Why I Embraced Islam (Pamflet, 1978); Islamic Review (London, Maret 1981).
  6. Daniel Streich – Why I Left the Right (Wawancara eksklusif, 2010); Muslim News Switzerland (Edisi 2011).
  7. Dr. Maurice Bucaille – The Bible, the Qur’an and Science (1976, diterjemahkan ke 40+ bahasa); wawancara di Paris Match (1981).
  8. Ahmed Deedat – Is the Qur’an God’s Word? (Buku, 1976); The Choice: Islam and Christianity (1993); rekaman debat internasional (1970–1990).
  9. Gary Miller – The Amazing Qur’an (Buku, 1983); Mathematical Miracles in the Qur’an (Makalah, 1984); Journal of Comparative Religion (1985).
  10. Omar Brooks – From Vicar to Muslim (Autobiografi singkat, 1986); laporan di Islamic Herald (Inggris, April 1987).
  11. Ayat Al-Quran – QS. An-Nisa ayat 82, terjemahan Kementerian Agama RI, edisi revisi 2019.




Surat Para Rasul (Epistel)


Epistola (bahasa Inggris: epistle; bahasa Yunani: ἐπιστολήtranslit. epistolē) atau surat adalah suatu tulisan yang ditujukan atau dikirimkan kepada seseorang atau sekelompok orang, biasanya berupa surat didaktik yang elegan dan formal. Genre epistola untuk penulisan surat sudah umum pada zaman Mesir Kuno sebagai bagian kurikulum latihan menulis pada sekolah jurutulis. Surat-surat pada Perjanjian Baru yang ditulis oleh para rasul bagi jemaat Kristen mula-mula biasanya disebut "epistola".

Sedangkan yang ditulis oleh Paulus dikelompokkan sebagai surat-surat Paulus, sedangkan sisanya dikelompokkan sebagai surat-surat umum.

Lalu, apa yang perlu kita ketahui tentang surat-surat para rasul ini?
Simak yang berikut ini.

Surat Para Rasul (Epistel)

Umat ini menolak disebut sebagai Pengikut Paulus


Hampir seluruh umat Kristen - yang mengaku sebagai pengikut Kristus - sebenarnya tidak tahu, atau tidak mau tahu bahwa sejatinya mereka bukan pengikut Kristus tapi pengikut Paulus!

Karenanya, ketika disebut sebagai umat Paulus, umumnya orang-orang bernasib malang ini tidak ambil pusing karena "haqul yakin" bahwa mereka adalah pengikut Kristus. Namun ada juga di antaranya yang benar-benar merasa terusik dijuluki sebagai Pengikut Paulus dan bereaksi keras menolak sebutan itu, bahkan menuntut pembuktian untuk ditunjukkan dalilnya dari kitab mereka.

Jadi, mari kita penuhi tuntutan mereka.
Kita mulai dari sini.

Paulus berkata;
"Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun." (1Korintus 6:12)

Paulus tegas-tegas menyatakan bahwa dia tidak sudi diperhamba oleh apa pun, termasuk tentu saja oleh Allah, apalagi oleh Yesus Krtistus!

"Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah." (2Korintus 11:17)

Perhatikan juga bagaimana dia bermegah-megah menyatakan bahwa apa yang diajarkannya bukan berasal dari firman Allah, tapi sepenuhnya dari pemikirannya sendiri, yang diakuinya pula sebagai pemikiran orang bodoh! 

Bandingkan dengan pegakuan Yesus Kristus yang dengan amat tegas menyatakan bahwa apa yang diajarkannya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Allah yang mengutusnya.

"Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan." (Yohanes 12:49)

Kendati sudah demikian jelas perbedaan antara ajaran Yesus Kristus yang berasal dari Allah dengan ajaran Paulus yang berasal dari hawa nafsu dan kebodohannya sendiri, tapi dengan penuh percaya diri Paulus menegaskan bahwa kalian, umat yang hari gini masih mengaku Kristen, harus menjadi pengikut Paulus - bukan pengikut Yesus Kristus!

Alasannya?
Paulus mengklaim bahwa dirinya tidak kalah hebat dibandingkan dengan semua murid-murid Yesus Kristus yang dilarang keras oleh guru mereka untuk mengabarkan Injil kepada bangsa manapun selain bangsa Israel! 

"Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu" (2Korintus 12:11)

"Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." (1Korintus 10: 34)

Nah, ini menarik! Sebab sejak lahir hingga digossipin ngapung ke sorga, Yesus tidak pernah mengenal kata "Kristen", apalagi sampai menyebut pengikutnya sebagai orang Kristen! Artinya, Kristen adalah hal yang sangat asing bagi Kristus sendiri, begitu juga bagi seluruh pengikut sejati Yesus Kristus!

Sebutan, atau kata "kristen" muncul jauh setelah Yesus Kristus tidak ada, sebagai ejekan yang dutujukan kepada Paulus dan pengikutnya pada masa-masa dia mulai "menjual nama Yesus Kristus" untuk kepentingannya sendiri terhadap kaum gentile Goyim (non-Yahudi) di Antiokhia (Lihat Kisah Para Rasul 11:26) 

Jadi, kalian yang hari gini masih mengaku sebagai umat Kristen jelas bukan pengikut Kristus, melainkan pengikut Paulus, alias umat Paulus! 

Lalu, tahukah kalian hal apa yang menyedihkan dari kepatuhan kalian kepada Paulus? 
Ketika Paulus berkata, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus", dia menginginkan agar kalian melakukan segala hal yang dia perbuat, sementara dia sendiri sama sekali tidak melakukan apapun yang Kristus perbuat!

Yesus menyerukan; "Sembahlah hanya Allah saja!"
Paulus mengajarkan; "Sembahlah Yesus!"

Yesus menegaskan; "Tuhan, Allah kita, adalah satu"
Artinya Kristus mengajarkan bahwa Tuhan adalah Allah, dan Allah adalah satu-satunya Tuhan, sementara Paulus mengarang cerita bahwa "Allah adalah Bapa, sedangkan Yesus adalah Tuhan"

Yesus mengingatkan; "Setiap orang menanggung dosanya masing-masing"
Paulus membual; "Yesus menanggung dosa orang-orang yang percaya bahwa beliau adalah tuhan!"

Yesus selalu menyebut dirinya sebagai "anak manusia"
Paulus menipu kalian dengan mengatakan bahwa Yesus adalah "anak Allah"

Dan masih ada segerobak pasir lagi ajaran "Paulus yang dipenuhi oleh roh tipu daya", yang sampai hari ini benar-benar kalian jadikan teladan!

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7)

Jadi, seperti sudah terbukti selama berabad-abad sejak Konsili Nicea 325M hingga hari ini, hanya pengikut Pauluslah yang setiap hari kerjanya cuma berdusta demi kemuliaan Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Paulus!

Padahal Yesus sudah mengingatkan;  JANGAN PERNAH BERDUSTA DEMI APAPUN!

"Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, sebab apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37).

Kalian tentu tau siapa yang dmaksud oleh Yesus sebagai "si Jahat", bukan?
YA! Dia adalah IBLIS, yang karena demikian besar hasratnya untuk menyesatkan sebanyak-banyaknya anak manusia untuk menjadi penghuni neraka, telah turun ke bumi dengan mengambil rupa anak manusia bernama Paulus -- sang Rasul Utusan Neraka!

Jadi sekali lagi, ketahuilah!
Kalian bukan pengikut Kristus, melainkan pengikut Iblis yang mengambil rupa anak manusia bernama Paulus! 

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

Apakah YHWH dalam Yudaism Adalah ALLAH Dalam Islam?

Deretan pertanyaan di bawah ini sebetulnya wajar-wajar saja dan biasa-biasa saja. Siapapun yang pernah belajar teologi Kristen, sekalipun cuma sambil lalu, rasanya tidak akan mengalami kesulitan untuk menjawabnya. Tapi kemudian menjadi cetar membahana tatkala kita membaca embel-embel di bawahnya yang berisi klaim dahsyat; jangankan cuma GM atau Prof. Menachem Ali sang pakar Judaismologi Indonesia, sedangkan para rabbi Yahudi kelas dunia sekondang kiyai Ben Abrahamson dan ustadz Tovia Singer saja sudah 15 tahun ini tidak mampu jawab!
 
Padahal, rasanya sih, buat para cantrik Sekolah Minggu Gus Mendem Dan Kawan Kawan sekalipun, pertanyaan model begini tidak akan membuat mereka menghabiskan waktu sampai lebih dari 15 menit untuk menjawabnya!
 
Tapi karena pemilik klaim dahsyat di atas, adik kita Kitri Dewi Trouerbach yang nampaknya merasa lebih Yahudi daripada para rabbi Yahudi sendiri secara khusus menyebut-nyebut nama GM sebagai salahsatu yang sampai mencret karena tidak sanggup menjawab pertanyaannya, maka walau enggan -- karena GM tidak suka meladeni perempuan berdebat -- mewakili para cantrik sekolah minggu, mari sama-sama kita lihat saja selama dan sekuat apa nantinya dia akan meliuk-liuk mempertahankan klaim dahsyatnya sendiri setelah pertanyaannya kita jawab dalam waktu kurang dari 15 menit!

Begini dia menulis daftar pertanyaannya:
Kalau YHWH Tuhan di Alkitab sama dengan ALLAH ilahnya Islam di Al Quran seperti kata rabbi Yahudi pujaan para muslim itu:

  1. YHWH punya Roh sendiri. Ke mana rohnya Allah di Al Quran yg dikisahkan keberadaannya di TaNaKh Kejadian 1:1-3?
  2. Hukum sudah ditetapkan, mata ganti mata, nyawa ganti nyawa, kenapa berubah jadi ganti amal baik?
  3. Hukum sudah ditetapkan "mencuri ganti 4x lipat" mengapa berubah jadi potong tangan?
  4. YHWH punya Memra Yang Hidup, ke mana keberadaan Memra ini di Al Quran, kenapa cuma jadi kalimat mati yang untuk datang ke bumi harus digendhong makhluk bernama Jibril?
  5. YHWH sudah berkata "YHWH seh shemi l'olam" (YHWH itulah namaKu yang kekal) - Torah Keluaan 3:15, mengapa tiba-tiba berubah nama jadi Allah (QS 20:14) tanpa penjelasan apapun?
  6. YHWH berkenan dipanggil Bapa karena Dia terlebih dahulu memandang manusia sebagai anak-anak-Nya, mengapa setelah ribuan tahun tiba-tiba benci dan murka berat kalau ada manusia yg disebut anaknya dalam pengertian apapun? (QS 19:88-93)
Rabbi Yahudi idola para muslim seperti Ben Abrahamson, Tovia Singer, dsb juga profesor andalan muslim Menachem Ali sudah macet mencret tidak mampu menjawab. Gus Mendem juga sudah pernah saya ajukan pertanyaan yang sama, hasilnya sama-sama mencret macet, kok hari ini masih nekat pakai argumen yang sama. Itu namanya kebodohan.
Tafsir TaNaKh itu ada sendiri namanya Targum, ditulis dalam bahasa Aramaic, penulisannya diawasi oleh Nabi Haggai dam Nabi Maleachi - dan tidak ada di sana YHWH boleh dianggap sama dgn ilah lain yg nama-Nya bukan YHWH.

YANG SUDAH TERTULIS di Mazmur 96:5 TETAP TERTULIS sampai sekarang:
ILAH SEGALA BANGSA ADALAH BERHALA YANG HAMPA TETAPI YHWH SAJA YANG MENJADIKAN SHAMAYIM

Enam pertanyaan tantangan di atas sejak 15 tahun yang lalu sampai sekarang belum ada yang bisa menjawab, bukti bahwa YHWH adalah YHWH sebagaimana adanya YHWH. Allah ilahnya Islam adalah ilah lain yang bukan YHWH

Namanya beda, karakter beda, kehendak beda, bahkan sorganya beda.
 

Dan berikut ini adalah tanggapan 15 menit GM untuk enam pertanyaan versi lomba cerdas cermat siswa sekolah minggu tingkat kecamatan yang konon katanya sudah 15 tahun belum terjawab.

1. ROH ALLAH
Seperti dijelaskan juga oleh otoritas SabdaWeb Terjemah LAI yang menuliskan kata "Roh Allah" dalam Kejadian 1:1-3 tidak dimaknai oleh umat Yahudi sebagai ALLAH memiliki Roh seperti halnya manusia, sebagaimana yang diimani oleh mayoritas umat Kristen hingga dewasa ini. ALLAH yang diimani oleh umat Yahudi tidak serupa dengan apapun, apalagi sampai dianggap serupa dengan makhluk ciptaan-Nya sendiri yang hidup karena dikaruniai-Nya dengan roh (Kejadian 3:6).
 
Rukun Iman umat Yahudi menegaskan; 
 
" … Sang Khalik, terpujilah Nama-Nya, tidak berjasad, lepas dari segala sifat kebendaan, dan mustahil dibandingkan dengan apa pun jua." (Rukun Iman Yahudi No. 3).

Dalam kalimat-kalimat yang berbeda, Islam mengajarkan prinsip yang persis sama dengan pemahaman umat Yahudi tentang eksistensi ALLAH seperti di atas, antara lain tertuang dalam QS. 112:1-4. Sedangkan LAI menterjemahkan Kejadian 1:1-3 secara keliru sehingga menyebabkan mayoritas pengikut Paulus mempercayai bahwa Roh ALLAH adalah ALLAH. 
 
:: Penjelasan tentang ini dapat dicermati di sini

2. HUKUM MATA GANTI MATA, NYAWA GANTI NYAWA
ALLAH tidak pernah merobah Hukum Qishash, yaitu hukum balas mata ganti mata, nyawa ganti nyawa. Al-Quran menegaskan perkara ini dalam QS. 2:178-179 dan QS. 5:45 sedangkan tatalaksananya diatur dan dijelaskan dalam hadits-hadits Rasulullah SAW yang terhimpun dalam Fiqh Qishash.
 
Justru para bapak moyang Kristenlah yang seenak perut mengganti Hukum Qishas dengan "Hukum Kasih" sekalipun sudah sangat jelas perbuatan itu melawan kehendak ALLAH yang disampaikan oleh nabi Yesus AS dalam Matius 5:29-30; Matius 18:8-9; Markus 9:43,45,47; dan Yohanes 8:7.

:: Lebih jelas simak pembuktiannya di sini:

3. HUKUM MENCURI, GANTI 4 KALI LIPAT
Supaya dipahami, hukum terhadap perbuatan mencuri dalam Bible tidak ada yang tetap atau hanya berpusat pada satu-satunya ketentuan, yaitu ganti 4 kali lipat saja. Konsekuensi dari mencuri adalah mengembalikan barang yang dicuri, ganti 2 kali lipat, ganti 4 kali lipat, atau ganti 5 kali lipat, semuanya sangat tergantung pada sikon dan objek yang dicuri. (lihat Imamat 6:2-4, Keluaran 2:27, Keluaran 22:1-4, dan Lukas 19:8).

Tetapi yang sudah jelas tetap dan pasti adalah, Keluaran 20:15 melarang mencuri, sebab mencuri adalah perbuatan dosa, dan dosa menyesatkan manusia.

Lalu, bagaimanakah nabi Yesus AS menyikapi perbuatan yang dilakukan oleh tangan-tangan para pencuri yang tersesat ini? Baca lagi Matius 5:29-30, Matius 18:8-9, dan Markus 9:43, 45, 47 di atas. Di sana ditegaskan bahwa bukan hanya tangan si pencuri yang harus dipotong, tapi matanya yang menyesatkan sehingga si pelaku menjadi pencuri juga harus dicungkil!

Dengan demikian, hukum potong tangan yang berlaku bagi para pencuri dalam ranah hukum Islam mau dituding menyalahi, atau mengganti hukum ALLAH yang mana dari hukum-hukum di atas?

Justru Islam lah yang secara konsekuen melaksanakan hukum-hukum ALLAH sesuai dengan ketetapan yang berlaku dalam kitab-kitab suci-Nya. Sementara mayoritas umat Paulus pura-pura buta-tuli berjamaah terhadap konsekuensi tuntutan hukum yang jelas-jelas tertulis di dalam kitabnya sendiri! 
 
4. MEMRA YANG HIDUP
Dalam tradisi Rabinik, kata "Memra" tidak pernah dimaknai sebagai wujud Allah dalam rupa apapun seperti yang divisualisasikan dalam injil-injil kanonik sebagai Teofani. Memra adalah padanan kata dari Ma'amar, Dibbur, atau Logo yang secara sangat eksklusif hanya dihubungkan dengan firman.

Dalam Targum, Memra didefinisikan sebagai firman dalam artian "kata atau ucapan ALLAH yang kreatif atau direktif yang memanifestasikan kuasa-Nya di dunia materi atau pikiran." Istilah ini digunakan terutama sebagai "pengganti Tuhan" ketika ekspresi antropomorfik harus dihindari (lihat lagi Rukun iman Yahudi ke-3 di atas).

Jadi, karena pada prinsipnya Memra adalah firman ALLAH, tentu saja segala interpretasi yang menyebut memra "menampakkan diri secara fisik" kepada manusia adalah pemikiran konyol yang secara frontal melawan definisi Memra itu sendiri! Memangnya siapa manusia di dunia ini yang pernah melihat suara atau kata-kata yang keluar dari mulut manusia lainnya, apalagi melihat kata-kata atau firman yang keluar dari sisi ALLAH?

Lalu, bagaimana sebenarnya "Memra" ini berinteraksi dengan manusia?
Sebagai contoh, baca baik-baik kisah percakapan Musa dengan Allah dalam Keluaran 3:2-14.

Yang berbicara (mentransmisi Firman, Memra, Ma'amar, Dibbur, Logo) di sana adalah ALLAH tapi DIA tidak pernah hadir secara fisik melainkan senantiasa melalui perantara Malaikat-Nya, yang atas izin dan kuasa-Nya, dapat berobah bentuk menjadi apa saja. Proses transmisi firman seperti inilah yang berlaku pada setiap nabi dan rasul ALLAH, termasuk kepada nabi Yesus AS dan nabi Muhammad SAW dalam berbagai bentuk interaksi yang bervariasi.
 
:: Simak penjelasan detil tentang Memra menurut Jewish Ensiclopedy di sini:

5. NAMA YHWH 
YHWH, dalam kitab Ibrani ditulis יְהוָ֞ה dibaca Yahweh, dan 16 nama-nama ALLAH lainnya dalam bahasa ibu nabi Yesus AS ini diakui oleh para rabbi Yahudi jaman now merujuk pada satu-satunya sosok yang sama, yaitu ELOHE, atau ALLAH dalam bahasa Al-Quran. Dan ALLAH memberi petunjuk perihal "perbedaan" penyebutan nama-Nya ini dalam salahsatu firman-Nya,

"Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. …." (QS. 14:4)

Itu sebabnya kenapa umat Islam tidak menyebut ALLAH dengan kata YAHWEH, begitu pula sebaliknya, umat Yahudi juga tidak menyebut YAHWEH dengan kata ALLAH, sebab kedua umat ini mengenal ALLAH yang sama tapi dalam bahasa nabi dan rasulnya masing-masing.

Kendati demikian, dengan sedikit menggunakan akal sehat, penjelasan berbasis studi linguistik tentang proses terjadinya perbedaan penyebutan nama ALLAH di antara dua bangsa Semitik yang bersaudara ini sebenarnya mudah untuk dipahami.
 
:: Pelajari penjelasannya di sini:

6. YHWH MENJADI BAPA MANUSIA? 
Torah, Mazmur, dan Injil (baca: bukan Bibel) adalah kitab-kitab suci dari ALLAH yang diturunkan melalui Nabi Musa AS, nabi Dawud AS, dan nabi Yesus AS khusus dan sangat terbatas hanya untuk Bani Israel. Dengan demikian, segala sesuatu yang tertulis di dalam kitab-kitab tsb sejatinya merupakan "urusan internal" antara ALLAH dengan bangsa Yahudi saja. Tidak ada urusannya dengan bangsa lain di luar ke-12 suku bangsa Yahudi.

Jika di dalam kitab-kitab tsb didapati interpretasi kausal antara "Bapa dan anak-anak ALLAH", maka harap dicatat! Menurut para rabbi jaman now, bangsa Yahudi sendiri memahaminya bukan dalam arti literal, melainkan sebagai gelar untuk orang-orang saleh yang dekat dengan Allah, atau sebaliknya.

Kendati demikian, perlu dicatat bahwa kita tidak pernah tahu apakah memang benar ALLAH mengijinkan manusia menganggap DIA sebagai "Bapa Manusia" seperti tertulis dalam Bible yang kita baca hari ini, karena khususnya kitab-kitab yang dianggap sebagai Perjanjian Lama di mana terms ini banyak ditemui adalah hasil salin ulang dari berbagai sumber yang dimulai pengerjaannya antara tahun 470 - 500 SM, ratusan tahun setelah kitab-kitab aslinya sendiri sudah musnah seiring berjalannya waktu, atau hilang entah kemana.
 
:: Salahsatu referensi terkait isu ini bisa dipelajari di sini

Di sisi lain, Al-Quran diturunkan oleh Allah melalui nabi Muhammad SAW bukan untuk bangsa Yahudi atau bangsa Arab saja, tapi untuk seluruh umat manusia. Jadi, adalah pemikiran yang salah dan jelas-jelas konyol bila ada umat Paulus yang beranggapan bahwa secara normatif Al-Quran harus tunduk pada Bible Kristen dan membatasi ruang lingkupnya sesempit dunia PL dan PB saja.

Lagipula, aturan siapa yang menentukan segala sesuatu yang tertulis dalam Al-Quran harus merujuk pada Bible buatan bangsa pagan Yunani yang tidak pernah disebut-sebut, baik dalam Torah, Mazmur, Injil, apalagi Al-Quran yang sama-sama berasal dari ALLAH?

Al-Quran, di samping mengajarkan ribuan aspek terkait hubungan kausal antara ALLAH dengan umat manusia dan antar sesama umat manusia sendiri, salahsatu yang ditegaskan oleh ALLAH di dalamnya adalah anggapan ahlulkitab (umat Yahudi dan Kristen) tentang "anak-anak ALLAH" yang sangat tendensius menyesatkan pembaca sehingga memahaminya secara keliru, bahkan dapat dijadikan pembenar bahwa ALLAH sebagai "Bapa Manusia", adalah PEMAHAMAN YANG SALAH! (lihat QS. 112:1-4 dan QS. 5:18 atau lihat lagi jawaban untuk pertanyaan pertama di atas).

Ini mengindikasikan bahwa klaim "Bapa dan anak-anak ALLAH" dalam tradisi baca Bible cukup punya alasan untuk dicurigai sebagai pekerjaan "tangan-tangan jahil para pemilik pena palsu", alias bukan berasal dari ALLAH.
 
:: Lihat penjelasannya di sini

Adapun manifestasi puncak dari teologi Islam dan Yahudi adalah TAUHID, yakni pemahaman secara sempurna disusul dengan pengakuan secara absolut bahwa ALLAH tidak bersekutu dengan apapun dan tidak boleh disekutukan dengan apapun, diakhiri dengan sepenuh ketundukan bahwa tidak ada ilah lain yang berhak untuk disembah kecuali ALLAH.

Itulah sebabnya kenapa baik ajaran Judaisme maupun Islam sama-sama menyatakan dengan tegas bahwa penyembahan terhadap tuhan lain, seperti yang dilakukan oleh umat Kristen bentukan Paulus, misalnya, adalah PENYEMBAHAN TERHADAP BERHALA.

Hal ini mudah dibuktikan dengan melihat fakta bahwa umat ini memang menjadikan replika tiang salib (yakni bentuk pahatan, baik dengan atau tanpa patung yang dianggap sebagai sosok Yesus di atasnya) sebagai media atau perantara penyembahan terhadap ALLAH LAIN yang bukan YHWH umat Yahudi dan bukan pula ALLAH umat Islam.

Kenapa kedua umat ini menyebut sesembahan Kristen sebagai ALLAH LAIN?
Karena ALLAH dalam perspektif Kristen tidak sama dengan ALLAH umat Yahudi atau ALLAH umat Islam sebagaimana sudah dijelaskan dalam jawaban ringkas untuk pertanyaan pertama di atas!

Jadi, jemaat Paulus dari denom manapun yang hari gini masih pedegeje (percaya diri gak jelas) mengaku-ngaku ber-ALLAH-kan YHWH tapi menafsirkan eksistensi YHWH secara suka-suka dan menyimpang dari apa yang sudah menjadi keyakinan turun temurun umat Yahudi bahkan sejak 17 abad sebelum Kristen sendiri lahir, jelas bukan merujuk kepada YHWH yang disembah oleh umat Yahudi, atau ALLAH yang disembah oleh umat Islam, tapi kepada YHWH KW2 alias YHWH Palsu!

Dengan demikian tentu saja sangat beralasan bila umat bentukan Paulus ini meyakini bahwa YHWH mereka adalah ALLAH yang berbeda dengan ALLAH umat Islam -- termasuk ALLAH umat Yahudi -- karena karakternya memang beda, kehendaknya juga beda, bahkan sorganya pun beda.

Nah, bicara tentang sorga, maka perlu disadari bahwa karena sorga milik YHWH umat Yahudi atau sorga milik ALLAH umat Islam adalah satu-satunya sorga yang sama di akhirat sana, demikian pula halnya dengan neraka-Nya, maka kelak kita semua hanya akan ditempatkan di salahsatu dari dua wilayah maha dahsyat ini untuk hidup selama-lamanya sebagai ganjaran atas segala perbuatan selama hidup di dunia.
Karena itu, sorga mana lagi yang boleh disebut sebagai "sorga yang berbeda" dengan sorga milik ALLAH atau milik YHWH, selain neraka?
Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

Note: Original post dan dolah-dalihnya dapat disimak di sini.

Hukuman Zina Menurut Islam dan Isa Al-Masih


Gus Mendem menjawab fitnah situs Isa dan Islam: Hukuman Zina Menurut Islam dan Isa Al-Masih

Dalam Bab-8 kitab injilnya, Yohanes mengisahkan bagaimana orang-orang Yahudi sengaja hendak mencobai Isa Almasih, begini:

[4] Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
[5] Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?"
[6] Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
[7] Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
[8] Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
[9] Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya
[10] Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
[11] Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Ayat ini berkisah tentang sekelompok orang Yahudi mendatangi Isa almasih dengan menyeret seorang perempuan yang mereka tuduh telah berzina di lingkungan mereka, lalu menuntut keputusan hukum dari Isa almasih menurut hukum Musa, yang menetapkan perempuan pezina harus dirajam sampai mati!

Ketika orang-orang Yahudi mengadu dan mendesak keputusan dari Isa Almasih, maka beliau bereaksi seperti di atas, dan nyatanya, tak seorang Yahudi pun yang berani melempari perempuan itu dengan batu seperti seharusnya.

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?
Sangat stereotype dengan komentar mayoritas kristen yang pernah saya baca ketika menjelaskan YOH 8:1-11 ini, staff IDI menulis begini:

Respon Isa Saat Bertemu Perempuan Berzina
Pernah ada kejadian menarik yang tertulis dalam Kitab Allah. Ada banyak orang datang pada Isa Al-Masih membawa wanita yang kedapatan berzina. Mereka menuntut penghukuman atas wanita Ini.

Respon Isa sangat mengejutkan. Ia menjawab mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu” (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:7).

Semua orang yang hadir saat itu satu per satu mundur. Rupanya mereka mempunyai dosa juga. Tidak ada yang berani menghukum perempuan itu.

Selanjutnya Isa berkata: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Injil, Rasul Besar Yohanes 8:11).

Kita melihat pernyataan kasih Allah melalui Isa. Kasih membawa pada pertobatan. Kasih juga yang menuntun untuk manusia berubah. 

Isa tidak mempermalukan perempuan ini, melainkan menolongnya di tengah kesukaran. Bukankah kita juga mengharapkan pertolongan jika berada dalam keadaan terjepit? Wanita yang telah malu karena kedapatan berzina terlepas dari hukuman massa karena Isa.

Pernyataan Kasih Allah yang Menyelamatkan dari Zina
Isa Al-Masih adalah wujud pernyataan kasih Allah kepada manusia. Dari pada-Nya kita mendapatkan pertolongan dari dosa, khilaf dan hukuman zina.

Orang yang melakukan zinah pasti penuh rasa bersalah, malu dan kotor. Allah yang kaya rahmat menyediakan jalan keluar. Ia mau menghapus dosa zina manusia.

“Aku sendirilah yang menghapuskan dosa-dosamu, demi diri-Ku sendiri, dan Aku tidak akan mengingat-ingatnya lagi” (Taurat, Yesaya 43:25 FAYH).

Allah mengerti dosa dan kelemahan manusia. Ia tidak mau manusia menderita karena rasa bersalah. Ia juga tidak mau manusia terkena hukuman berat di akhirat.

Allah menolong dengan memberikan Isa sebagai jalan keluar dari zina lagi semua dosa manusia.

“Tetapi Allah kaya dengan rahmat. Ia sangat mengasihi kita, sehingga walaupun kita mati secara rohani . . . karena dosa kita, Ia mengembalikan hidup kita (melalui) . . . Kristus [Isa Al-Masih]” (Injil, Surat Efesus 2:4-5 FAYH).

Melalui Isa kita bisa hidup terbebas dari rasa bersalah dan malu. Kita bisa hidup dengan tidak takut hukuman akhirat. Dalam kasih-Nya, Isa menuntun pezinah pada pertobatan.

Mari kita datang kepada Isa. Ia berkuasa mengampuni setiap dosa kita. Lagi, karena Isa, Allah sama sekali tidak mengingat-ingat dosa Anda lagi. Jadi Anda betul akan mengalami damai hati. Mari percaya kepada Isa Al-Masih sekarang!

Dari penjelasan dan "himbauan" di atas kita bisa melihat sendiri betapa kuat stigma "Isa Almasih adalah Tuhan" yang tertanam di benak rata-rata pengikut Paulus sehingga akal sehat mereka seolah-olah berhenti berputar karena dibekukan oleh doktrin gereja, dan nalar mereka pun praktis tidak mampu lagi memahami kitabnya sendiri secara logik apalagi cerdas! Padahal yang sesungguhnya harus dipahami dari penggalan riwayat di atas adalah seperti diterangkan berikut ini:

Pelajaran Dari Isa Almasih Tentang Bagaimana Melaksanakan Hukum Taurat
Hukum Taurat Musa adalah HUKUM ALLAH Yang Maha Adil lagi Maha Penyayang, sekaligus juga Maha Tegas! Oleh karenanya TIDAK AKAN mencederai hak-hak dasar siapa pun juga, terutama orang-orang yag tidak bersalah!

Alasan kenapa Isa Almasih tidak menjatuhkan hukuman kepada perempuan itu adalah karena menurut Hukum Allah, setiap tuntutan hukum kepada siapa pun HARUS dapat dibuktikan dengan MENGHADIRKAN SAKSI-SAKSI, termasuk SAKSI PELAKU. (Lihat Ulangan 17:6, Ulangan 19:15, dan Amsal 19:9)

Dalam kasus di atas, yakni zinah, bagaimanapun juga PELAKUNYA HARUS TERDIRI DARI 2 ORANG, yakni perempuan yang dituduh berzinah dan pria pasangan zinahnya. Sedangkan seperti dapat kita lihat sendiri dari kisah Yohanes 8:4-11 di atas, orang-orang Yahudi itu hanya mengaku-ngaku saja sebagai SAKSI tapi tidak membawa serta -- atau tidak menghadirkan -- pelaku zinah pasangan perempuan tsb. 

Perlu digarisbawahi, ini diisyaratkan oleh Isa Almasih sebagai perbuatan "dosa", dan dengan itu pula kemudian dia menantang orang-orang Yahudi tsb seperti tertulis dalam Yohanes 8:7.

Karena orang-orang Yahudi itu sadar bahwa demi alasan ingin mencobai Isa Almasih mereka telah berdusta -- dan tentu saja berdosa -- maka mereka pun kemudian satu-per-satu meninggalkan "arena sidang dadakan" tsb sehingga ancaman HUKUM RAJAM terhadap perempuan itu BATAL dilaksanakan! 

VOILA!
Teryata kita sedang berbicara tentang bagaimana seharusnya Hukum Taurat Musa dilaksanakan! BUKAN tentang Isa Almasih atau Yesus yang diimani oleh umat kristen sebagai Tuhan dan diyakini berkuasa mengampuni dosa!

Tentang kasus-kasus serupa ini, sebetulnya jauh-jauh hari sebelumnya Yohanes sendiri sudah mengisyaratkan sabda Isa Almasih ini:

[Yohanes 5:30] "Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku."

Sampai di sini, coba pikirkan sendiri, apa jadinya jika kelompok Yahudi tsb menghadirkan juga saksi-saksi menguatkan, termasuk saksi pelaku, yakni pasangan zina perempuan tsb ke hadapan Isa Almasih?

Maka segala cerita manis dan ajakan murtad di atas pun hanya akan tinggal sebagai masturbasi rohani belaka, sebab Hukum Taurat Musa yang sama mengerikannya seperti diisyaratkan oleh Al-Quran dan Hadits, PASTI DILAKSANAKAN!

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

Di bawah ini adalah cuplikan kisah di atas.  
Gunakan fitur sub-title untuk mendapatkan teks dalam bahasa Indonesia.

Nubuat Yesus Tentang Paulus


Perhatikanlah ucapan Yesus Kristus dalam catatan Matius 23:15 ini:

"Celakalah kamu, hai [1] ahli-ahli Taurat dan [2] orang-orang Farisi, hai kamu [3] orang-orang munafik, sebab kamu [4] mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk [5] mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu [6] dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang [7] dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri."

Dalam satu ayat saja, peringatan keras Yesus dan semua nubuat beliau tentang Paulus tergenapi.

1. Paulus mengaku sebagai Ahli Taurat

Paulus sesumbar; "tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat!" (Filipi 3:6)

2. Paulus mengaku sebagai orang Farisi

"Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati." (Kisah Para Rasul 23:6)

3. Paulus adalah orang munafik

"Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat" (1Korintus 9:20-21)

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7)

4. Paulus mengarungi lautan untuk menyebarkan ajaran menyimpangnya

" ..... ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. (Kisah Para Rasul 16: 4-10)

5. Paulus mengajak non-Israel menjadi penganut agama ciptaannya

Dalam bahasa Yunani, gentiles atau orang-orang non-Israel yang beralih keyakinan ke dalam keyakinan bangsa Yahudi disebut prosēlüton (προσήλυτον). Dan Pauluslah orang yang paling terang-terangan melawan sekaligus melanggar larangan keras Yesus Kristus agar seluruh pengikutnya tidak menyampaikan Injil -- yang sangat khusus hanya untuk bangsa Israel saja -- kepada bangsa manapun di dunia ini dengan cara menciptakan agama baru bernama Kristen atas  nama Yesus Kristus! (lihat Matius 15:24, 10:5 dan Kisah Para Rasul 11:26)

Dengan jumawa dia sesumbar:

"Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku," (Roma 11:13)

6. Paulus menjadikan pengikutnya sebagai penghuni neraka

Karena dianggap menyimpang dari ajaran para imamnya, dalam kitab Talmud yang diimani oleh umat Yahudi sebagai bagian dari kitab suci mereka, Yesus sendiri digambarkan sebagai penghuni neraka. Apalagi Paulus yang tidak hanya menyimpang dari ajaran para imam Yahudi, bahkan menyimpang jauh dari ajaran Yesus Kristus yang orang Yahudi, tentu saja akan menjadi bahan bakar api neraka!

Maka pikirkanlah sendiri; jika Paulus menjadi bahan bakar api neraka, bagaimana dengan seluruh pengikutnya?

Jadi, cukup dengan satu ayat saja, sesungguhnya Yesus telah lebih dulu membuktikan kepada kita bahwa Pauluslah sang penyesat sejati yang dipastikan akan menyeret seluruh pengikutnya menjadi penghuni kekal neraka!

7. Paulus menjadikan pengikutnya dua kali lebih jahat dari dia sendiri

Dan kebenaran ucapan Yesus tsb dibuktikan pula oleh sejarah bahwa penyebaran ajaran Paulus oleh kroni dan pengikutnya telah menyebabkan jatuhnya ribuan, bahkan jutaan korban manusia dalam berbagai bentuk pembantaian massal sejak dimulai pada abad ke-3 Masehi hingga hari ini!


[Dari catatan Abu Ihsan]