Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Yesus (Prakelahiran). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yesus (Prakelahiran). Tampilkan semua postingan

Yesus Adalah Makhluk Ciptaan Allah Yang Berasal Dari Tanah


Sekedar membuka "aura" tertutup diseputar kepala para pengikut Paulus.

SAMA SEPERTI MANUSIA LAINNYA, SESUNGGUHNYA YESUS JUGA MAKHLUK CIPTAAN ALLAH YANG ASALNYA DARI TANAH DAN DEBU!

Hampir semua pengikut Paulus siap bertegar tengkuk sampai tengkuknya benar-benar tegar seperti beton demi mempertahankan doktrin gereja bahwa Yesus lebih mulia dari Adam karena Adam diciptakan dari tanah dan debu, sedangkan Yesus tidak!

Kita semua sudah hapal luar kepala bagaimana umat ini meyakini PENCIPTAAN Yesus yang "katanya" BERBEDA dari manusia lainnya karena menurut alkitab, tidak melalui proses reproduksi seperti lazimnya yang terjadi pada makhluk bernama manusia, di mana sang jabang bayi Yesus bukan benih yang tumbuh dari hasil pertemuan antara sperma seorang (manusia) laki laki dengan indung telur di rahim ibunda tercintanya.

Padahal ini cuma PROSES, sebagaimana dimaksudkan oleh Allah agar manusia mengerti bahwa tidak ada yang sulit bagi-Nya untuk menciptakan apapun, termasuk menciptakan anak manusia bernama Yesus (yang dipersiapakan-Nya untuk kelak menjadi salahseoang utusan-Nya bagi bangsa Israel) tanpa perlu ikut campurnya peran seorang ayah! 

Sama seperti penciptaan Adam, penciptaan Yesus juga terjadi melalui SATU KATA dari firman Allah, yang didalam Al-Quran dijelaskan melalui pelajaran hikmah mengenai konsep "KUN - FAYA KUN!", salahsatu "kalimatullah" yang disalahmengerti oleh umumnya laskar odong-odong!

Ini cuma satu dari bermilyar milyar mukjizat Allah yang pernah, sedang dan akan terus terjadi sejak kita mengenal-Nya melalui "kabar baik" dari para nabi, sampai saatnya kelak kita akan bertemu sendiri dengan-Nya di akhirat!

Jadi, mulai dari sekarang cobalah belajar bagaimana merobah paradigma dari mindsetting keliru yang diajarkan oleh gereja kalian seperti diatas tadi, karena sesungguhnya proses penciptaan Yesus bukan merupakan mukjizat Yesus, akan tetapi sepenuhnya adalah mukjizat Allah! 

Yesus tidak memiliki mukjizat apapun, dan karenanya tidak mungkin dapat bermukizat dari dirinya sendiri kecuali sama persis dengan yang terjadi para nabi lainnya. Jadi, yang selama ini kalian kira adalah mukjizat Yesus itu sesungguhnya adalah peristiwa luar biasa yang terjadi karena Allah berkenan menunjukkan Mukjizat-Nya melalui tangan Yesus! 

Kitab kalian sendiri menjelaskan hal ini dalam Kisah Para Rasul 2:22.
Sampai di sini, yang perlu dipahami dengan benar adalah bahwa keajaiban penciptaan Yesus tidak seharusnya terpusat pada diri Yesus, melainkan kepada Allah yang menciptakan Yesus! Allah lah yang Maha ajaib, sementara Yesus tidak!

Yesus adalah 100% manusia. demikian gereja kalian sendiri mengajarkannya. Bahkan kitab kalian tidak sedikitpun ragu menuliskan silsilah Yesus yang disebut-sebut sebagai anak Daud anak Abraham. 

Oleh karena itu tentu saja kita sama-sama tidak akan percaya jika ada yang mengatakan bahwa Daud dan Abraham adalah bangsa Jin, apalagi sebangsa dengan Tuhan! 

Alasannya cukup jelas, karena kita belajar dari kitab suci warisan para nabi bahwa Daud dan Abraham adalah manusia. Karena itu, coba dipikir saja sendiri, bagaimana mungkin ada keturunan mereka yang menjadi tuhan sementara mereka sendiri tetap manusia, dan anehnya, kalian yakini kebenaran cerita tentang tuhan yang anak manusia itu sampai segitunya?

Kalian tahu tidak; siapa Daud, dan siapa Abraham?
Orang-orang dengan riwayat hidup hebat ini adalah anak Adam!

Jadi, dengan meminjam buah hasil masturbasi rohani bapa-bapa gereja kristen awal yang diabadikan dalam injil Matius 1, maka kalimat berikut ini juga sesungguhnya harus kalian imani sebaik kalian mengimani ayat Matius 1:1 sehingga kesimpulan susunan silsilah Yesus menjadi seperti ini: 

[1] Inilah silsilah Yesus, anak Daud anak Abraham.
[2] Inilah silsilah Daud, Anak Abraham anak Adam.
[3] Inilah silsilah Abraham, anak Adam ciptaan Allah.

Ya! Adam, moyang Yesus, moyang Daud, dan moyang Abraham adalah ciptaan Allah, sehingga siapapun yang mengaku-ngaku sebagai keturunannya sudah pasti adalah ciptaan Allah!

Tahukah kalian bagaimana proses penciptaan Adam?
Kitab kalian mengabarkan bahwa Adam diciptakan dari tanah dan debu. Dan hebatnya, dalam sekejap mata langsung menjadi manusia dewasa yang sempurna! 

Bagaimana dengan Yesus?
Yesus harus berdiam dulu selama 9 bulan di rahim ibunya sebelum dilahirkan, sama seperti kita semua yang tidak lahir prematur, kemudian diasuh, dididik, dan dibesarkan hingga dewasa, sama seperti kita semua, tidak ada bedanya secuilpun juga!  

Sedangkan Adam, apakah ketika diciptakan oleh Allah tubuh Adam berbentuk tanah dan debu seperti sosok patung dari tanah liat yang belum kering? Ternyata TIDAK! 

Tubuh Adam sama seperti tubuh kita dengan segala kelengkapannya!
Tapi seperti dijelaskan dalam kitab kalian, segala unsur yang membentuk tubuh Adam dikatakan berasal dari tanah dan debu! Itu sebabnya kenapa masih dalam kitab kalian sendiri, Allah berfirman bahwa kita semua adalah MAKHLUK DARI TANAH YANG AKAN KEMBALI KE TANAH!

Kalau masih belum jelas, baca lagi Pengkhotbah 12:7.
Artinya, semua keturunan Adam adalah makhluk yang tercipta dengan membawa unsur tanah di dalam tubuhnya. Hawa yang konon katanya diciptakan dari rusuk Adam, sekalipun tidak mentah-mentah diciptakan dari tanah dan debu, tapi karena berasal dari tubuh Adam yang segala unsurmya berasal dari tanah, maka jelas dia mewarisi segala unsur tanah dalam diri Adam, dan karenanya termasuk dalam kelompok MAKHLUK DARI TANAH YANG AKAN KEMBALI KE TANAH! 
Bagaimana dengan Daud dan Abraham?
Sama saja! Sebagai anak Adam, mereka juga MAKHLUK DARI TANAH YANG AKAN KEMBALI KE TANAH! 

Bagaimana dengan Maria, ibunda Yesus?
Tidak ada bedanya! Sebagai anak Daud, anak Abraham, anak Adam, bunda Maria juga MAKHLUK DARI TANAH YANG AKAN KEMBALI KE TANAH!

Lantas, bagaimana pula dengan Yesus?
Sami mawon! Sebagai 100% anak manusia bernama Maria yang disebut-sebut pula sebagai anak Daud, anak Abraham, tentu saja Yesus termasuk dalam kelompok MAKHLUK DARI TANAH YANG AKAN KEMBALI KE TANAH!
Lain halnya jika Daud dan Abraham adalah sebangsa jin, atau mereka adalah tuhan, maka bolehlah kalian bercerita bahwa Yesus adalah anak jin atau anak tuhan! Tapi karena Daud dan Abraham adalah manusia, tentu saja anaknya adalah manusia!

Lagipula, kapan dan di mana Yesus pernah menyatakan dirinya sebagai anak Allah?
Anak ayam yang tidak dilahirkan oleh induknya sekalipun, karena naturnya mereka menetas dari telur yang dierami oleh sang induk, tetap saja disebut anak ayam! Tidak ada ayam yang melahirkan kuda atau sebaliknya. Begitu juga halnya dengan manusia, tidak ada manusia yang melahirkan Allah, apalagi sebaliknya!

Dongeng semacam itu cuma ada dalam komunitas manusia semi-purba penyembah dewa-dewa Pagan yang percaya pada tokoh-tokoh mitos ciptaan mereka sendiri yang kemudian mereka beri nama Attis, Mithra, Horus, Krishna, Zeus dlsb. Sama seperti yang dilakukan oleh para bapak moyang gereja awal dulu terhadap Yesus.

Tapi kalau kalian masih ngotot; POKOKNYA Yesus bukan makhluk ciptaan Allah, apalagi yang berasal dari tanah, maka buang itu kitab alkibul yang di dalamnya ada hayalan luar biasa heboh Lukas dan Matius yang nekad menyusun silsilah Yesus dengan mengaitkannya kepada Daud dan Abraham yang pada kenyataannya tokh tetap tidak benar juga!

Artinya, kalau kepingin Yesus menjadi anak Daud anak Abraham, terimalah kodrat Yesus yang sejatinya memang anak  manusia. Tapi kalau kepengen Yesus menjadi anak Allah, pertama tunjukkan dulu bukti dari pernyataan Yesus sendiri bahwa dia adalah anak Allah. Jika memang terbukti, maka berhentilah memaksa Yesus menjadi anak Daud anak Abraham. Jangan gunakan standar ganda yang justru semakin membuktikan bahwa kedua klaim kristen tentang siapa sebenarnya Yesus samasama tidak benar!

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Gus Mendem]

Pra-Eksistensi Yesus Menurut Yahudi Dan Kristen


Salah satu pembaca tulisan saya tampaknya mengalami kesulitan dalam memahami apa yang disebut para sarjana sebagai "pra-eksistensi". Ini adalah istilah teknis, jargon, atau singkatan ilmiah, untuk menunjuk pada motif atau konsep yang terbukti dalam sejumlah teks Yahudi awal dan Kristen awal. Secara khusus, sejumlah teks Kristen perdana menganggap Yesus sebagai "pra-eksistensi". Tetapi ada masalah tertentu, jadi saya akan mencoba menjelaskan masalahnya.

Pertama-tama, untuk mengatakan bahwa sesuatu atau seseorang "sudah ada sebelumnya" dapat berarti bahwa dia atau sesuatu itu ada (dalam beberapa bentuk atau lainnya) sebelum penampilan atau keberadaan duniawi dari sosok atau benda tersebut. Tetapi itu juga bisa berarti bahwa dia bahkan ada sebelum penciptaan dunia. Dalam kasus teks PB tentang Yesus, mereka biasanya menempatkan dia entah bagaimana "ada" di, dan sebagai agen ilahi dari penciptaan segala sesuatu. Lihat, misalnya, 1 Korintus 8: 4-6; Ibrani 1: 1-2; Yohanes 1: 1-3; Kolose 1: 15-16. Selain itu, Filipi 2: 6-8 umumnya dianggap sebagai pendahuluan dari Yesus "dalam rupa Tuhan," yang kemudian menjadi manusia atau tokoh sejarah dan menyerahkan dirinya kepada ketaatan kepada Tuhan, bahkan sampai disalibkan. .

Anggapan Kristen tentang partisipasi Yesus dalam penciptaan dunia ini bagi sebagian besar sarjana dianggap sebagai perampasan kristologis dan adaptasi dari motif yang ditemukan dalam tradisi Yahudi kuno. Dalam Amsal 8: 22-31, misalnya, hikmat ilahi dipersonifikasikan berbicara tentang dirinya sebagai rekan pra-penciptaan Allah, dan rekan kerja dalam penciptaan. Dalam Barukh 3: 9—4: 4, hikmat surgawi ini diidentifikasikan sebagai Taurat historis (Hukum) Allah (khususnya 4: 1), semacam inkarnasi kitab. Dalam teks-teks Kristen perdana, Yesus adalah manusia, ekspresi atau perwujudan historis dari Firman (Kebijaksanaan) ilahi (seperti dalam Yohanes 1: 1-3).

Ini bukanlah pemikiran Platonis. Jika ada, justru tampaknya menjadi motif atau "logika" pemikiran teologis Yahudi kuno. Pada dasarnya, nampaknya logikanya seperti ini: Tuhan tidak membuat rencananya dengan cepat, tetapi mengatur segala sesuatu dari awal. Jadi, tindakan ilahi dalam sejarah mungkin memiliki permulaannya, pada awalnya. Salah satu ungkapan yang dikemukakan oleh para sarjana adalah "hal terakhir adalah hal pertama." Jadi, dalam tradisi Yahudi ada beberapa hal yang dianggap sebagai "pra-eksistensi", termasuk Taurat, pertobatan, dan nama Mesias. [1] Ini pada dasarnya adalah keyakinan bahwa Tuhan telah merencanakan segalanya sejak awal, dan menyediakan penebusan dunia bahkan sebelum Dia menciptakannya.

Ini tampaknya merupakan gagasan yang kuat dalam pemikiran eskatologis/apokaliptik Yahudi kuno. Jadi, misalnya, dalam 1 Henokh 48: 1-3, sosok mesianik ("Yang Terpilih") yang akan muncul dan melaksanakan penghakiman dan penebusan ilahi di hari-hari terakhir digambarkan sebagai dinamai dan dipilih sebelum penciptaan. Para sarjana merenungkan apakah contoh khusus ini adalah pra-eksistensi "nyata", atau sesuatu yang lebih dekat dengan semacam pra-eksistensi "ideal". Sosok itu dinamai dan ditetapkan sebelum penciptaan, tetapi apakah ini berarti bahwa ia memiliki semacam keberadaan yang nyata? Tapi ini mungkin untuk menekan masalah lebih jauh dari yang ingin diselidiki oleh tradisi Yahudi kuno. Penegasan penting dalam teks ini adalah bahwa Tuhan memiliki segala sesuatu yang direncanakan sejak awal, termasuk penyediaan seorang Mesias, dan bahwa penebusan eskatologis bukanlah kasus dimana Tuhan berusaha untuk memperbaikinya.

Dalam bagian-bagian PB, tokoh sejarah, Yesus dari Nazareth, (cukup luar biasa) dianggap berasal dari pra-eksistensi, paling sering untuk menempatkan perannya juga dalam penciptaan dunia, sebagai agen unik penciptaan. Kami tidak memiliki contoh lain dalam tradisi Yahudi tentang figur sejarah yang hampir kontemporer yang dianggap berasal dari masa sebelumnya. Jadi, misalnya, dalam Yohanes 1: 1-3; Kolose 1: 15-16; Ibrani 1: 1-2, teks-teks ini mengklaim bahwa Yesus yang sudah ada sebelumnya adalah "melalui siapa" dunia diciptakan. Menariknya, dengan satu atau dua pengecualian, tulisan PB menunjukkan sedikit perhatian untuk melampirkan Yesus yang sudah ada sebelumnya pada peristiwa lain dalam sejarah alkitabiah. [2] Sebaliknya, perhatian utama tampaknya telah menghubungkan karya eskatologis dan penebusan Yesus dengan "hal pertama" dan penciptaan dunia.

Salah satu diskusi terbaik tentang masalah ini adalah esai oleh Nils Dahl (semua karyanya tetap layak dipelajari). [3] Sebagaimana dicatat Dahl, PB juga menyatakan bahwa orang-orang yang menjadi tebusan sudah dikenal sebelum penciptaan, dan Yesus yang sudah ada sebelumnya telah ditunjuk sebagai penyelamat mereka. Jadi, sekali lagi, pengajuan pra-eksistensi kepada Kristus bukanlah latihan spekulasi untuk kepentingannya sendiri, tetapi sangat terkait dengan kepercayaan tentang kedaulatan dan tujuan penebusan Tuhan, dan sentralitas Yesus dalam semua ini.

Hal lain yang perlu dipahami adalah, bertentangan dengan beberapa asumsi, anggapan tentang pra-eksistensi Yesus tidak membutuhkan waktu puluhan tahun atau berkembang terlambat. Sebaliknya, bukti (khususnya surat-surat Paulus) menunjukkan bahwa gagasan itu sudah dikenal dan tidak kontroversial di kalangan Kristen perdana dalam beberapa tahun pertama setelah penyaliban Yesus. Dan kita dapat memahami mengapa, jika kita mempertimbangkan logika pemikiran eskatologis Yahudi kuno, di mana hal-hal terakhir karenanya juga menjadi hal pertama. Jadi, jika kebangkitan Yesus membuktikan kepada orang-orang percaya yang paling awal bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan eskatologis sejati, maka Dia pasti sudah seperti itu sejak sebelum penciptaan. Singkatnya, itu adalah langkah singkat (tapi luar biasa) dari kepercayaan pada signifikansi eskatologis Yesus ke kepercayaan pada pra-keberadaannya, dan kemungkinan membutuhkan sedikit waktu untuk membuat langkah itu.


Footnotes:
[1] Lihat, misalnya, Larry W. Hurtado, “Pre-Existence,” dalam Dictionary of Paul and His Letters , ed. GF Hawthorne dan RP Martin (Downers Grove: Inter-Varsity Press, 1993), 743-46; Jürgen Habermann ,, Perjanjian Präexistenzaussagen im Neuen , Europäische Hochschulschriften, Reihe 23, Theologie, 362 (Frankfurt am Main: Peter Lang, 1990); RG Hamerton-Kelly, “Ide Pra-Keberadaan dalam Yudaisme Awal: Studi dalam Latar Belakang Teologi Perjanjian Baru” (Th.D., Union Theological Seminary, 1966). JDG Dunn, Christology in the Making: A New Testament Inquiry Into the Origins of the Doctrine of the Incarnation, Edisi ke-2. (Grand Rapids: Eerdmans, 1996), adalah salah satu dari sedikit studi panjang buku tentang topik tersebut, tetapi kesimpulan Dunn, misalnya, bahwa teks PB tidak benar-benar menganggap Yesus sebagai pendahulunya, tidak meyakinkan sebagian besar ahli.
[2] Ada rujukan yang aneh dari Paulus tentang batu yang darinya Israel memperoleh air di padang gurun sebagai "Kristus" (1 Korintus 10: 4), dan juga varian tekstual yang menarik dalam Yudas 5, salah satunya menempatkan Yesus sebagai Tuhan yang menyelamatkan Israel dari Mesir.
[3] Nils A. Dahl, “Christ, Creation and the Church,” dalam Latar Belakang Perjanjian Baru dan Eskatologinya: Studies in Honor of CH Dodd , ed. WD Davies dan D. Daube (Cambridge: Cambridge University Press, 1954), 422-43; diterbitkan ulang dalam NA Dahl, Jesus in the Memory of the Early Church (Minneapolis: Augsburg, 1976), 120-40.





Yesus Sudah Ada Sebelum Abraham?


YESUS BERKATA, "SESUNGGUHNYA SEBELUM ABRAHAM JADI, AKU SUDAH ADA"
LALU, APAKAH ITU BERARTI YESUS ADALAH TUHAN?

Perhatikan ini baik-baik!
Dari penyataan Yesus itu, maka menurut alkitab siapa sesunguhnya yang lebih dulu ada? Yesus sebelum Abraham, atau Adam sebelum Yesus? 

Atau masih ada lagikah cerita dalam kitab kalian yang mengisahkan adanya manusia lain yang lebih dulu ada sebelum Yesus, Abraham, dan Adam?

Mari sama-sama kita lihat dik!

Jika Yohanes 8:58 kalian yakini sebagai bukti pra-eksistensi Yesus, maka tidak perlu repot mengulas konteks ayat itu diucapkan dalam situasi seperti apa dan kepada siapa, karena akan buang-buang waktu percuma, sementara hampir dapat dipastikan nalar kalian nggak bakal nyampe ke sana. Karena itu mari kita lihat dari perspekstif logika berpikir orang waras sajalah!

Begini,
Dalam Yohanes 8:58 konon katanya Yesus pernah berkata, 

"SESUNGGUHNYA SEBELUM ABRAHAM JADI AKU SUDAH ADA"

Cermati baik-baik susunan kalimatnya, dan garis bawahi kata "sebelum Abraham" di sana. Sosok yang ditunjuk dalam teks tsb adalah Abraham, bukan nama lain, tapi Abraham, yang dalam kitab kalian dikenal sebagai putra Terah.

Jadi siapapun yang sudah ada sebelum Abraham, paling banter cuma seumuran dengan Terah, atau bahkan lebih muda dari Terah sendri. Lain ceritanya jika yang disebut adalah nama Adam.

Sedangkan menurut kitab kalian, di atas Terah masih ada beberapa nama lain, seperti Nakhar, Serug, Rehu, Peleg, Herber, Sehelack, Arpasehad, Sem, Noch, Lemek, Meluschelach, Henoe, Jered, Mahaleel, Keenan, Enoch, Seth, sampai kepada Adam, sang manusia pertama di dunia.

Adapun - masih menurut kitab kalian - rentang waktu antara kelahiran Abraham dengan penciptaan Adam berjarak hampir dua ribu tahun (persisnya sekitar 1.948 tahun).

Artinya, jelas sekali Yesus belum ada ketika nama-nama di atas sudah lebih dulu ada, atau kalaupun ada, paling banter, baru sekitar 1800 tahun setelah Adam!

Fakta ini jelas membuktikan bahwa Yohanes 8:58 sama sekali tidak valid untuk dijadikan dalil pendukung mimpi di siang bolong kalian bahwa alkitab menyiratkan informasi pra-eksistensi Yesus untuk mendukung klaim ngawur bahwa Yesus adalah tuhan!

Kenapa?
Karena yang disebut oleh Yesus dan menjadi parameternya adalah nama Abraham. Bukan nama yang lain, sebut saja misalnya nama Adam, agar klaim ngasal kalian menjadi sedikit lebih masuk akal. Jadi, sekalipun anggaplah benar bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham, tapi itu sama sekali tidak berarti bahwa Yesus sudah lebih dulu ada sebelum dunia diciptakan. Sebab, nyatanya Abraham lahir 20 abad setelah Adam yang diciptakan 6 hari setelah dunia tercipta!   

Cukup jelas ya?
Berita tentang Yesus yang sudah ada sebelum Abraham itu sebetulnya cuma bagus untuk membodohi domba doang, dik! Manusia, apalagi manusia berpikir, tidak akan "kena" dibodohi model begini!

Tapi jika kalian masih tetap memaksakan supaya dalil ngasal itu dapat diterima oleh akal sehat umat di luar lingkaran doktrin koplak kristen, maka nasehatku adalah; pelajari lagi kitab kalian dengan menggunakan akal orang waras. Jangan otak domba!

Di atas tadi sudah dibuktikan bahwa anggaplah dalil Yohanes 8:58 harus diterima, maka dalil itu sendiri yang justru mengindikasikan bahwa Yesus baru ada hampir 2.000 tahun setelah Adam tercipta. Artinya, tolong digarisbawahi juga ini: belum cukup hebat untuk dijadikan pembenar bahwa Yesus adalah Tuhan!

Tahukah kalian bahwa di tempat lain, alkitab juga menginformasikan berita yang jauh lebih dahsyat daripada Yohanes 8:58? Lihat Ayub 38:4,21  di mana disebutkan bahwa nabi Allah ini sudah ada sebelum dasar bumi diletakkan, bahkan pada masa itu Ayub sendiri dinyatakan sudah lahir!

Masih tidak percaya?
Perhatikan ayat-ayat dari kitab kalian sendiri ini:

[Ayub 38:4,21] "Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian! Tentu engkau mengenalnya, karena ketika itu engkau telah lahir, dan jumlah hari-harimu telah banyak!"

Kenapa dalil-dalil sedahsyat ini tidak kalian jadikan pembenar untuk menuhankan Ayub juga? Bukankah sangat jelas tertulis bahwa Ayub sudah ada bahkan jauh sebelum Adam, Abraham dan Yesus sendiri ada?

Nah, kalian bingung mau bantah dengan ngarang bebas model apa lagi, bukan?

Jadi, sudahilah angan-angan kosong kalian bahwa Yesus adalah tuhan, karena nyatanya, tidak pernah sekalipun Yesus mengajarkan hal itu dalam seluruh isi alkitab kalian!

Faham ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

Ini ada tips bagus untuk kalian simak dan pahami dengan sebaik-baiknya.

Alfa Omega vs Alpa Menggunakan Logika


YESUS KRISTUS "BERSABDA" BAHWA BELIAU ADALAH ALFA-OMEGA.
ARTINYA KITA HARUS PERCAYA BAHWA YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN!

Berapa sering kita mendengar atau membaca bagaimana meliuknya pembelaan habis-habisan rata-rata umat Paulus untuk membenarkan doktrin yang menjadi keyakinan mereka bahwa Yesus Kristus (pbuh) -- utusan Allah untuk bangsa Israel itu -- adalah tuhan bagi umat Kristen?  

Tidak hanya sekedar berjibaku membenarkan iman sendiri, bahkan tanpa ragu-ragu sedikitpun mereka berusaha pula menjajakan mimpi seumur hidup seluruh pengikut Paulus ini, yaitu produk kedaluwarsa made-in bapak moyang gereja awal yang diberi merek dagang "Yesus adalah Tuhan" plus macem-macem kecap sebagai bonus di sana sini, agar mudah-mudahan "dibeli" oleh umat Islam.

Salahsatu kecap yang mereka yakini lezat dan tak terbantah adalah apa yang kerap digaungkan oleh pendeta mereka di mimbar-mimbar gereja, yaitu pernyataan Yohanes berdasarkan hayalan dan mimpi-mimpinya selama masa pembuangan di Pulau Patmos. Menurut pernyataan Yohanes (jadi bukan menurut pernyataan Yesus Kristus), Yesus Kristus (pbuh) adalah Alfa-Omega. (Lihat Wahyu 22:13)

Dalam teologi dogmatika Kristen, Alfa-Omega umumnya diartikan dan dipahami oleh jemaat kristen tradisional sebagai "yang pertama dan yang terakhir", yang dalam konteks ini diyakini merupakan salahsatu sifat absolut ALLAH, Tuhan nenek moyang seluruh makhluk ciptaan ALLAH di jagad raya ini. Oleh karena itu, Yesus pun dianggap sebagai tuhan!

Nah, adik-adikku yang hari gini masih kristen, perhatikan baik-baik ya?
Alfa-Omega berasal dari bahasa Yunani Koine di daratan Eropa, bahasa yang digunakan oleh bapak moyang gereja awal untuk menulis buku tebal bernama Biblos hasil nyomot dari sana-sini tulisan, kitab-kitab, dan karangan orang-orang terdahulu lalu mereka jadikan sebagai kitab suci Kristen seperti yang terjemahannya kalian imani sebagai buku yang sama sucinya dengan Biblos "asli" sampai sekarang ini. Padahal terjemahan Biblos yang kalian beri nama alkitab -- hasil nyomot perbendaharaan kata dari Al-Quran -- itu sejatinya adalah kitab terjemahan dari salinan terjemahan yang disalin dari salinan terjemah kitab salinan yang diterjemahkan lalu disalin dan diterjemahkan lagi untuk selanjutnya terus menerus diterjemahkan dan disalin terjemahannya hingga sekarang ini!
Oleh karenanya, maka cermati pula baik-baik catatan penting ini!
Pertama; Yesus yang lahir, tumbuh berkembang dan menjadi dewasa hingga dikabarkan mati tersalib di bukit Golgota adalah orang Israel turunan Yahudi tulen yang tidak pernah ke Eropa, dan dipastikan tidak perlu berbicara dengan sesama orang Yahudi Israel dengan menggunakan bahasa Yunani!

Jadi, ketika bapak moyang gereja kalian mengarang cerita lewat tulisan entah siapa yang konon katanya adalah Yohanes dalam (sebuah buku yang kemudian mereka beri nama sebagai) Kitab Wahyu bahwa dalam mimpinya Yohanes mendengar Yesus menyatakan diri sebagai Alfa-Omega, terms yang sama sekali asing dan tidak pernah dikenal dalam tradisi bertutur bangsa Yahudi, tentu saja ungkapan ini menjadi sangat ganjil sekaligus sangat mencurigakan, khususnya bagi umat Yahudi sendiri!

Kedua; Alfa-Omega dalam bahasa Yunani, atau Alif-Ya dalam bahasa Arab, dan jika dipaksakan juga untuk disebut dalam bahasa Ibrani menjadi Aleph-Tav, bagi bangsa Arab dan bangsa Yahudi sebagai sesama pengguna bahasa yang berakar dari bahasa Semitik, dipastikan tidak ada artinya!

Umat Islam dan Umat Yahudi memang sama-sama meyakini bahwa ALLAH itu KEKAL yang digambarkan dengan sebutan Yang awal dan yang akhir, atau lebih spesifik lagi, disebutkan di dalam Al-Quran sebagai yang tidak berawal dan tidak berakhir. 

Dalam Al-Quran hal ini dilambangkan dengan kalimat الاول الاخر (Al Awwal Al Akhir) dan dalam Tanakh dilambangkan dengan kalimat רִאשׁ֔וֹן וְאֶת־ אַחֲרֹנִ֖ים (ri-šō-wn, wə-’eṯ-’a-ḥă-rō-nîm), bukan Alif-Ya atau Aleph-Tav!

Nah, tahukah kalian bahwa konsep Tuhan Sejati Yang Tidak Berawal Dan Tidak Berakhir sebagaimana sama-sama diimani oleh umat Islam dan umat Yahudi sebagai satu-satunya Tuhan yang benar inilah yang kemudian dicomot mentah-mentah oleh para bapak moyang gereja kalian lewat karangan Yohanes guna mendukung doktrin ciptaan mereka sendiri yang tidak pernah diakui oleh Yesus Kristus (pbuh) bahwa beliau adalah tuhan! 

Lihat urutan ke 265 dalam daftar ayat-ayat dalam PB yang terbukti adalah hasil mencontek habis-habisan dari PL milik umat Yahudi di sini

Ketiga: Menisbatkan terms Alfa-Omega kepada Yesus Kristus (pbuh) dengan maksud agar dipahami sebagai bukti bahwa beliau adalah tuhan, justru menggampar sangat keras makna hakiki dari Alfa-Omega itu sendiri!

Kenapa?
Karena arti Alfa-Omega adalah tidak pernah tercipta, DIA sudah ada sebelum segala makhluk di jagad raya ini tercipta, dan tetap ada -- atau tidak diketahui bagaimana kesudahannya -- setelah segala makhluk yang pernah tercipta di jagad raya ini seluruhnya mati! Sedangkan faktanya, Yesus Kristus (pbuh) lahir jutaan, bahkan miliaran tahun setelah segala makhluk di jagad raya ini tercipta, dan dikabarkan pula mati sebelum milyaran makhluk ciptaan sang Alfa-Omega Sejati masih hidup dan secara alamiah terus beregenerasi sampai tiba waktunya kelak kiamat tiba. Dan ironisnya Yohanes yang sama dalam kitab yang sama, yakni dalam Wahyu 3:14, menegaskan pula bahwa sesungguhnya Yesus Kristus (pbuh) adalah ciptaan Allah, sehingga wajar saja terdengar sungguh amat menggelikan jika beliau disebut-sebut mengaku pula sebagai Alfa-Omega!
Artinya, doktrin yang memaksa Yesus Kristus (pbuh) sebagai Alfa-Omega sesungguhnya 100% HOAX, karena selain terbukti melawan kitab kristen sendiri, juga melawan natur bernalar mayoritas manusia berakal yang sehat lahir bathin!

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!



Sama Seperti Kita, Yesus Juga Diciptakan Oleh Allah!


Mari sekali-sekali kita bedah Bibel dengan menggunakan kacamata dan doktrin kristen sendiri, dan kita mulai dari sini:

Mana yang lebih benar untuk menterjemahkan kata dari bibel bahasa Yunani ἀρχὴ = archē?
Sumber atau permulaan?

WAHYU 3:14
“Inilah Firman dari Amin (Yesus), Saksi yang setia dan benar, permulaan (arche) dari ciptaan Allah”

Unitarian yakin betul bahwa ayat ini membuktikan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah, sementara kaum Trinitarian berbeda pandang.

KLAIM TRINITARIAN
Kata ‘permulaan’ dalam Wahyu 3:14 berasal dari bahasa Yunani "arche" yang seharusnya diterjemahkan sebagai sumber, karena “arche” selain berarti permulaan juga bisa berarti kepala, atau pemerintah.

Kepala merupakan sumber. Jadi, Amin saksi yang setia dan benar itu adalah kepala atau sumber ciptaan Allah. Artinya Yesus bukan ciptaan tapi Yesuslah Allah pencipta yang sejati.

JAWAB
Begitu banyak ahli bahasa Yunani yang memahami kata “arche” dalam Wahyu 3:14 sebagai permulaan atau the beginning. Bahkan para pakar Alkitab penganut Tritunggal pun jelas-jelas menerjemahkan kata “arche” sebagai permulaan (the beginning) dalam berbagai versi Alkitab mereka, termasuk Lembaga Alkitab Indonesia.

Tapi memang ada juga beberapa orang - yang demi mengklaim bukti Yesus adalah Allah – ngotot bahwa“arche” dalam Wahyu 3:14 harus diterjemahkan sebagai sumber atau source.

Jadi, terjemahan yang manakah yang benar?
The beginning atau The Source?

Penulis kitab Wahyu adalah Yohanes. Tulisan Yohanes memakai kata “arche” cukup banyak di dalam surat-suratnya, dan pada umumnya berarti permulaan atau awal (menunjuk pada keterangan waktu).

Sebagai perbandingan bisa kita lihat pemakaian kata “arche” dalam Yohanes 1:1 yang tertulis “en arche en ho logos …” yang artinya: “pada mulanya adalah firman …”

Kita semua sepakat bahwa kata “arche” dalam ayat tersebut diterjemahkan dengan tepat sebagai “mulanya” (awalnya). Dan tampaknya tidak seorangpun sarjana Alkitab yang paham bahasa Yunani akan menterjemahkan kata “arche” dalam Yohanes 1:1 sebagai “sumbernya”.

Nah, kata “mulanya” pada Yohanes 1:1 dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dasar mula. Demikian pula kata permulaan pada Wahyu 3:14 berasal dari kata dasar mula.

Jadi kata “arche”, baik dalam Yohanes 1:1 maupun Wahyu 3:14 sama-sama menunjuk pada keterangan waktu mula (the beginning). Samasekali bukan berasal dari kata sumber.

Jika penganut Tritunggal setuju dengan terjemahan “arche” pada Yohanes 1:1 sebagai “mulanya”, maka akan tampak tidak jujur jika demi membenarkan doktrin “Yesus adalah Allah sejati” sekaligus menghilangkan pula kesan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah, kemudian mereka kekeuh memaksa menerjemahkan kata “arche” pada Wahyu 3:14 sebagai “sumbernya”,

Beberapa contoh tulisan Yohanes selain Wahyu 3:14 yang menggunakan kata “arche” yang berarti “mulanya”, permulaan, the beginning (menunjuk keterangan waktu) di antaranya adalah sbb:

  • “Pada mulanya (arche) adalah firman.” (Yoh1:1)
  • “Hal itu dibuat Yesus di Kana Galilea, sebagai yang pertama (arche) .. ” (Yoh 2:11)
  • “ .. karena kamu dari semula (arche) bersama-sama aku.”  (Yoh 15:27)  
  • “Apa yang telah ada sejak semula (arche).” (1Yoh 1:1)
  • “ .. perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya (arche).” (1Yoh 2:7)     
  • “ .. karena kamu telah mengenal Dia, yang dari mulanya (arche).” (Yoh 2:13)
  • “ .. yang ada dari mulanya (arche)" (1Yoh  2:14)   
  • “ .. apa yang telah kamu dengar dari mulanya (arche)” (1Yoh 2:24)
  • “ .. sebab iblis berbuat dosa dari mulanya (arche)"  (1Yoh 3:8)     
  • “ .. berita yang kamu dengar dari mulanya (arche)” (1Yoh 3:11)   
  • “ .. menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya (arche)" (2Yoh 1:5)     
  • “ .. sebagaimana kamu dengar dari mulanya (arche)” (2Yoh 1:6)     

Jelas kata “arche” dalam ayat-ayat tulisan Yohanes tsb berarti “mulanya” atau “the beginning” (keterangan waktu) dan sama sekali tidak ada yang berarti sumber. Dengan demikian maka akan terlihat terlalu sembrono jika penganut Tritunggal - demi berupaya keras menegakkan doktrinya - kemudian memaksa menerjemahkan “arche” dalam Wahyu 3:14 sebagai “sumber”

Sekarang mari kita lihat pula ini:

קָ֭נָנִי = Qa-na-ni atau "Qanah" artinya memiliki atau menciptakan?

AMSAL 8: 22, 23, 25, 26, 30
“Yahweh telah menciptakan aku (hikmat, Yesus bergelar “hikmat” –1Korintus 1:24) sebagai permulaan pekerjaanNya, sebagai perbuatanNya yang pertama dahulu kala. Pada zaman purbakala, aku (pra-eksistensi Yesus) dibentuk, sebelum bumi ada. Sebelum samudera, gunung-gunung, bukit-bukit ada, Aku (praeksistensi Yesus) telah lahir, sebelum Ia (Yahweh) membuat bumi, Aku (praeksistensi Yesus) ada sertanya sebagai anak kesayanaganNya

Unitarian yakin, dalam Amsal 8:22, jika dihubungkan pada Yesus, jelas merupakan bukti Alkitabiah bahwa Yesus (praeksistensinya) adalah ciptaan Allah. Tetapi kaum Trinitarian membantahnya dengan berdalih bahwa dalam ayat tersebut tidak ada kata yang berarti “menciptakan”.

KLAIM TRINITARIAN
Kata “menciptakan” (Ibrani: Qanah) pada ayat 22 tersebut tidak benar. Kata “qanah” harus diartikan sebagai memiliki dan bukan mencipta. Artinya harus dipahami sebagai: Yahweh memiliki Yesus, bukan menciptakan Yesus!

JAWAB
Jika Trinitarian mengklaim bahwa kata “menciptakan” di ayat 22 tersebut salah, lalu bagaimana dengan terjemahan pada frase: “Permulaan pekerjaannya (ayat 22)“Perbuatannya yang pertama dahulu kala”“Aku dibentuk (ayat 23)“sebelum gunung-gunung ada, aku [praeksistensi Yesus] telah lahir[1] (ayat 24,25) sebelum Ia [Yahweh] membuat dataran bumi (ayat 26)”; sebagai Anak[2] kesayanganNya (ayat 30)”.

Dari ayat-ayat tersebut jelas sekali bisa kita pahami bahwa Yesus (sang hikmat) adalah: 

  1. CIPTAAN
  2. HASIL KERJA
  3. PERBUATAN ALLAH
  4. DIBENTUK
  5. DILAHIRKAN
  6. DIPERANAKKAN.

CATATAN
[1] Istilah “lahir” dalam Alkitab mengacu pada arti diciptakan
Lihat Mazmur 90:1-2 “gunung-gunung dilahirkan.” 
Gunung dilahirkan = gunung diciptakan atau dibuat!

[2] Istilah “Anak” (mengandung arti diperanakkan) juga mengacu pada makna diciptakan
Lihat : Mazmur 90:1-2 “bumi dan dunia diperanakkan.” 
Bumi dan dunia diperanakkan = diciptakan atau dibuat!

Nah, jelas sekali Amsal 8: 22-30 banyak berbicara tentang praeksistensi Yesus sebagai mahluk ciptaan Yahweh, yang juga diistilahkan lahirdibentukpermulaan pekerjaan Yahwehperbuatan Yahweh yang pertama dan anak kesayangan (yang diperanakkan).

Lantas apakah terjemahan ayat 22-30 (yang membuktikan dengan akurat bahwa “hikmat” (praeksistensi Yesus) sebagai ciptaan dan hasil pekerjaan  atau karya Yahweh yang pertama tersebut salah semua? 

Bukankah sangat jelas dari ikatan kalimat pada rangkaian ayat 22-30 tersebut dapat dipahami bahwa Sang hikmat (praeksistensi Yesus) adalah HASIL KARYA atau CIPTAAN atau PEKERJAAN YANG PERTAMA dari Bapa (Yahweh)?

Artinya jelas "sang hikmat" (praeksistensi Yesus) adalah mahluk ciptaanbuatan, atau HASIL KARYA Yahweh! 

Sekalipun oleh kaum Trinitarian ngotot kata “qanah” dalam ayat 22a  tetap mati-matian mau diartikan sebagai “memiliki”, hal itu tentu tidak bisa lari dari ayat 22b-30-nya yang dengan tegas membuktikan bahwa Sang Hikmat (praeksistensi Yesus) jelas-jelas adalah Permulaan Pekerjaan AllahDibentuk, yang berarti DICIPTAKAN!

Kemudian jika kaum Trinitarian mengklaim pula bahwa kata “qanah” tidak tepat diartikan sebagai “mencipta”, klaim tersebut adalah suatu dusta besar! 

Kata “qanah” dalam Alkitab jelas juga memiliki arti menciptakan
Hal itu bisa kita simak dari contoh beberapa ayat berikut:

KEJADIAN 14:19, 22: 
“Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pemcipta (qanah) langit dan bumi, kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: Aku bersumpah demi Yahweh, Allah Yang Mahatinggi, Pencipta (qanah) langit dan bumi”.

Kata Ibrani “qanah” memang juga bisa berarti “memiliki atau memperoleh”, namun, dari ayat-ayat tersebut (juga menurut kamus Ibrani) bisa dipahami bahwa dalam bahasa Ibrani bukan hanya kata “bara” saja yang berarti mencipta, kata “qanah” terbukti akurat: juga bermakna mencipta! 

Tetapi, sekali lagi, andaikata kaum Trinitarian masih ngotot mengatakan bahwa “qanah” dalam Amsal 8:22 harus diartikan sebagai memiliki atau memperoleh, maka klaim tersebut tidak bisa lepas dari rangkaian ayat 23-30nya yang mengungkap jelas bahwa sesungguhnya ‘sang hikmat’ adalah: 

  1. Hasil Karya,
  2. Pekerjaan Allah Yang Pertama-Tama,
  3. Dibentuk, dan
  4. Diciptakan Oleh Allah!
KESIMPULAN
Wahyu 3:14 dan Amsal 8:22-30 adalah ayat-ayat yang semakin kokoh menguatkan fakta-fakta Alkitabiah bahwa Yesus Bukan Allah.

Sebaliknya ayat-ayat tersebut menjadi bukti akurat bahwa secara Alkitabiah pula Yesus adalah CIPTAAN ALLAH!


[Sumber: Lee Hercules]

Teori Pra Eksistensi Yesus, Literal atau Ideal?


Tugas utama kalian adalah menemukan sendiri siapa sebenarnya Yesus menurut Alkitab. Ini terdengar mudah dan sederhana, tapi pada gilirannya nanti, akan membawa ajaran kalian sendiri sejak masa kanak-kanak, bias budaya kalian, khususnya tradisi gereja yang diwariskan kepada kalian, kembali ke dalam Akitab seperti seharusnya.

Langkah awal untuk memulainya adalah dengan bertanya; Apakah Yesus sudah ada sebelum kejadian ajaib di dalam rahim Maria? 

Dalam keyakinan mayoritas Kristen, Yesus dipercaya mengetahui bahwa Allah adalah Bapa-Nya tapi dalam artian yang unik, dan karenanya konsepsi tentang ini berbeda dengan konsep tantang keberadaan manusia pada umumnya. Dengan demikian maka pertanyaannya adalah; Apakah Yesus secara pribadi dan secara sadar ada bersama Allah di sorga sebelum dikandung secara ajaib oleh Maria? Apakah "Anak Allah" ini secara pribadi sudah hidup bersama Allah sebelum ia dilahirkan oleh bundanya sebagai "Anak Manusia"?

Kristen tradisional akan menjawab tegas: Ya! Yesus selalu ada sebagai Anak Allah. Sungguh, Yesus ada di sana pada awal penciptaan bersama Allah Bapa dan Roh Allah. Tidak pernah sekalipun terjadi di mana Anak Allah tidak ada secara pribadi. Akan tetapi untuk menyelamatkan umat manusia yang tersesat, Yesus mengesampingkan kemuliaan kekal-Nya, lalu "menjadi daging" agar Ia bisa berdarah dan mati untuk menebus umat manusia dan membawa kita kembali kepada Allah. 

Secara literal teologi modern menyebut turunnya Yesus dari sorga ke bumi di Betlehem ini sebagai "inkarnasi". Sejumlah ayat "shahih" yang kemudian dikutip untuk mendukung keyakinan pra-eksistensi Yesus ini antara lain adalah: 

  1. Yesus adalah Firman yang pada mulanya bersama Allah (Yohanes 1: 1
  2. Yesus berkata dia turun dari Sorga (Yohanes 6:38)
  3. Yesus mengaku sudah ada sebelum Abraham (Yohanes 8:58)
  4. Yesus berdoa agar diberi kemuliaan yang secara pribadi dimilikinya bersama Allah sebelum dunia tercipta (Yohanes 17: 5)
  5. Yesus menciptakan langit dan bumi (Kolose 1:16)
  6. Yesus selalu ada di alam sebagai Allah (Filipi 2: 6)
  7. Dll. 

Setiap Kristen yang membaca ayat-ayat di atas tentu merasa sangat wajar untuk percaya bahwa Yesus memang benar-benar dan secara sadar sudah ada sebelum “inkarnasinya” yang ajaib. Ini bisa disebut sebagai pra-eksistensi 'literal' atau 'aktual' yang kemudian menjadi pandangan mayoritas Kristen hingga dewasa  ini.

Namun, ada tipe kedua dari pra-eksistensi ini yang secara luas diakui oleh para sarjana Alkitab, tetapi sayangnya tidak terdengar oleh kebanyakan jemaat di bangku-bangku gereja. Ini adalah kasus di mana ketidaktahuan tampaknya menjadi berkah. Ketidaktahuan seperti ini sebenarnya memalukan bagi Kekristenan karena mendistorsi Yesus, dan merenggut Yesus dari tatanan tradisi budayanya sebagai orang Yahudi. Ketidaktahuan seperti inilah yang menciptakan “Yesus yang lain”, benar-benar “Kristus palsu” yang bahkan sudah diperingatkan oleh Tuhan sendiri.

Kita semua tahu bahwa prinsip-prinsip pokok dalam Kekristenan pada dasarnya berasal dari berbagai konsep pemikiran dan ajaran yang 15 abad sebelum Kristen sendiri lahir sudah lebih dulu dimiliki dan diyakini oleh umat Yahudi. Dalam pandangan umat ini, sesuatu yang direncanakan (yaitu, diketahui sebelumnya dalam rencana Allah) ada secara ideal, tetapi belum ada secara faktual di bumi dalam pengalaman kita. Tulisan David Capes pada “Preexistence” dalam Dictionary of the Later New Testament & Its Developments mencatat;

“The pre-existent state may be described as ideal (existence in the mind or plan of God) or actual (existence alongside and distinct from God).”​

“Keadaan yang sudah ada sebelumnya dapat digambarkan sebagai ideal (keberadaan dalam pikiran atau rencana Tuhan) atau aktual (keberadaan bersama dan berbeda dari Tuhan).” [1]

Dengan demikian,  dalam keilmuan Alkitab sangat dipahami bahwa pra-eksistensi dapat berarti bahwa sesuatu atau seseorang mungkin secara harfiah ada di Sorga (model 'inkarnasional' yang telah disebutkan sebelumnya) atau mungkin merupakan tipe 'ideal' Yahudi di mana sesuatu atau seseorang mungkin ada, tapi dalam rencana Allah sebelum Allah benar-benar mewujudkannya menjadi keberadaan materi.

Ada segunung literatur Yahudi yang menegaskan bagaimana konsep pra-eksistensi "notional" yang demikian mengakar dalam pemikiran Yahudi pada masa Kristus. Salahsatu sarjana paling terkemuka dalam Studi Kristologi Modern, Larry Hurtado, menyatakan, 

"Saat ini ada konsensus virtual di antara para sarjana bahwa tradisi Yahudi pra-Kristen memberikan latar belakang paling penting untuk gagasan pra-eksistensi dalam Perjanjian Baru." [2]

Mengenai pemahaman Yahudi tentang ini, tulisan pada The ​International Standard Bible Encyclopedia mencatat:

The term foreknowledge is an expansion of the idea of God’s “counsel” or plan, regarding it as an intelligent prearrangement, the idea of foreknowledge being assimilated to that of foreordination. The same idea is found in 1Pet. 1:20. Here the apostle speaks of Christ as a lamb “foreordained” by God before the foundation of the world… It has the idea of a purpose which determines the course of the Divine procedure.​ ​

Terms ramalan, atau nubuatan adalah pengembangan dari gagasan tentang “isyarat” atau rencana Allah, yang dianggap sebagai pengaturan awal yang cerdas, gagasan tentang nubuatan yang diasimilasi dengan gagasan penahbisan sebelumnya. Ide yang sama ditemukan dalam 1Petrus 1:20. Di sini rasul berbicara tentang Kristus sebagai anak domba yang “ditahbiskan sebelumnya” oleh Allah sebelum dunia dijadikan ... Ia memiliki gagasan tentang tujuan yang menentukan jalannya prosedur Ilahi.  [3]

Bukti ini harus dipertimbangkan dengan serius sebelum kita menyimpulkan bahwa Yesus benar-benar hidup dan sadar sebagai Tuhan sebelum kemunculannya di bumi. Jika tidak, kita berisiko memaksakan budaya baca tradisional kita sendiri ke dalam Alkitab, tidak peduli seberapa "ortodoks" mungkin kita membayangkannya. Ini adalah kesalahan eksegesis, karena hanya membaca teks, bukan tafsir, seperti yang dilakukan oleh pembaca teks sebelumnya sejak ribuan tahun yang lalu.

Keberadaan "notional" adalah gagasan bahwa sesuatu atau seseorang mungkin 'ada' dalam rencana Allah sebelum diaktualisasikan di bumi pada waktu yang ditentukan, untuk kemudian menjadi bagian dari sejarah. Apa maksud dari keputusan Allah yang dianggap demikian pasti sehingga dikatakan seolah-olah sudah ada?

Sesungguhnya Allah lah yang “dengan firman-Nya menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada” (Roma 4:17). Artinya, apa yang Allah janjikan, sudah ada bersama Dia “di Sorga”. Ketika orang Yahudi berbicara tentang sesuatu atau seseorang yang sudah ada sebelumnya di sorga, mereka mengerti bahwa itu "ideal" atau "notional" dalam pengetahuan Allah sebelumnya, tetapi belum aktual di bumi. Artinya, semua itu sudah ada, tetapi di dalam rencana Allah.

Ada setumpuk literatur Yahudi yang menegaskan bagaimana konsep pra-eksistensi "notional" ini begitu mengakar dalam pandangan dunia mereka. Diperlukan sebuah buku untuk mencatat bagaimana semua yang mencakup pemikiran ini ada dalam pikiran orang Yahudi. Sayangnya tidak cukup ruang untuk mengutip semua sumber di sini. Namun penting untuk dicatat bahwa penjelasan tentang ini ada di mana-mana dalam literatur Yahudi. Kita juga akan melihat beberapa contoh dari Kitab Suci mereka untuk melengkapi penjelasan singkat ini.

Pertama-tama, mari kita lihat sekilas beberapa tulisan penting Non-Alkitab dari sumber-sumber Yahudi di luar Kitab Suci Ibrani sendiri, yaitu literatur Yahudi paling otoritatif bernama Talmud Babilonia. Kitab ini berisi Mishna dan penjelasan rabbani yang dikumpulkan selama 600 tahun. Banyak dari Talmud Babilonia yanag menjadi latar belakang penting bagi cara berpikir orang Yahudi tentang pra-eksistensi di masa sebelum, selama, dan setelah, periode apostolik Perjanjian Baru, yang oleh para ahli disebut periode Bait Kedua. Perhatikan kutipan berikut dari Talmud Babilonia, traktat Pesahim 54a:

Tujuh hal diciptakan sebelum dunia teripta, yaitu: Taurat, Pertobatan, Taman Eden, Gehena, Tahta Kemuliaan, Bait Suci, dan nama Mesias. 

  1. Taurat: “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, ”(Amsal 8:22).
  2. Pertobatan: “Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya  Engkaulah Allah.  Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: "Kembalilah, hai anak-anak manusia!” (Mazmur 90: 2). 
  3. Taman Eden: “Sejak dulu Tuhan Allah membuat taman di Eden” (Kejadoian 2: 8). 
  4. Gehena: “Karena Tophet ditahbiskan sejak dulu” (Yesaya 30:33). 
  5. Tahta Kemuliaan: “Takhta-Mu tegak  sejak dahulu kala, dari kekal  Engkau ada.” (Mazmur 93: 2). 
  6. Bait Suci: “Takhta kemuliaan, luhur dari sejak semula, tempat bait kudus kita!” (Yeremia 17:12). 
  7. Nama Mesias: "Namanya akan bertahan selamanya dan telah ada sebelum matahari" (Mzm. 72:17 ).

Perhatikan tujuh hal di atas. Beberapa materi seperti Taman Eden dan Kemah, dan beberapa non-materi seperti Pertobatan dan Taurat, dikatakan sudah ada sebelumnya dari penampakan mereka di bumi. Di antara tujuh hal yang sudah ada sebelumnya itu adalah nama Mesias. 

Penjelasan Midrashic lainnya disebut Genesis Raba, atau Kejadian Raba. Dan setelah kita tahu bahwa Taurat adalah cetak biru proses penciptaan, maka kita bisa berbicara tentang pra-eksistensi begini:

Enam hal mendahului penciptaan dunia; beberapa dari mereka benar-benar diciptakan, sementara penciptaan yang lain sudah dipersiapkan. Taurat dan tahta kemuliaan diciptakan, karena ada tertulis, “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.” (Amsal 8:22). Tahta Kemuliaan, seperti tertulis, “Tahta-Mu telah ditetapkan sejak lama” dst. (Mazmur 93: 2). Penciptaan para Leluhur dipersiapkan, karena ada tertulis, "Seperti buah-buah anggur di padang gurun Aku mendapati Israel dahulu; seperti buah sulung sebagai hasil pertama pohon ara Aku melihat nenek moyangmu." (Hosea 9:10). (Penciptaan) Israel dipersiapkan, seperti ada tertulis, "Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala,  yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! " (Mazmur 74: 2). (Penciptaan) Bait Suci dipersiapkan, karena ada tertulis, "Takhta kemuliaan, luhur dari sejak semula, tempat bait kudus kita!" (Yeremia 17:12). Nama Mesias dipersiapkan, karena ada tertulis, “Nama-Nya ada sebelum matahari” (Mazmur 72:17).

Sekali lagi perhatikan perbedaan yang dibuat antara hal-hal yang sebenarnya diciptakan dan hal-hal yang sebelumnya dimaksudkan dalam rencana Allah. Taurat dan Tahta Kemuliaan diciptakan sementara para leluhur, anak-anak Israel, Kuil, dan nama Mesias semuanya terikat dalam tujuan-tujuan Allah dan rancangan yang dipersiapkan, menunggu penciptaan literal pada waktunya.

Kejadian Rabbah, juga dikenal sebagai Bereishit Raba, adalah Midrash penafsiran (eksposisi) pada buku pertama Alkitab Ibrani. Kitab yang ditulis dalam bahasa Aram dan Ibrani ini berisi penjelasan rinci tentang berbagai pasal dan ayat dalam Kitab Kejadian. Karenanya setelah kita mengetahui bahwa Torah adalah sarana yang digunakan oleh Allah untuk menjelaskan proses penciptaan, maka cara mudah untuk memahami konsep ini adalah dengan mendeskripsikan analogi sederhana, misalnya saja seperti ini:

Dalam praktik di dunia manusia, ketika seorang Raja fana membangun sebuah istana, dia tidak melaksanakannya dengan menggunakan keahliannya sendiri tetapi menggunakan keahlian seorang, atau beberapa orang arsitek. Sedangkan di sisi lain, arsitek atau para arsitek ini tidak pula membangunnya dari kepala mereka sendiri, tetapi menggunakan rencana dan diagram untuk mengetahui cara mengatur arsitektur bangunan sesuai dengan kehendak sang Raja. 

Jadi, Allah menjadikan Taurat sebagai petunjuk kepada manusia - seperti halnya diagram - agar manusia mengetahui hal-ikhwal proses penciptaan. Sedangkan Taurat sendiri menyiratkannya dengan pernyataan; “Pada mulanya Allah menciptakan .." (Kejadian 1: 1). Kata "pada mulanya" di sini mengacu pada Taurat seperti dalam ayat, “Tuhan menjadikan aku sebagai permulaan pekerjaanNya,"  (Amsal 8:22). ”

Bagian ini berbicara tentang keberadaan Taurat sebagai konsep, yang dengannya Allah memerintahkan penciptaan sebagaimana digambarkan dalam kitab Kejadian. Untuk memahaminya, mari kita pakai kacamata seorang arsitek yang menggunakan denah dan diagram untuk menyelesaikan karyanya. Dengan cara ini, kita mengerti bahwa Taurat yang di dalamnya menyiratkan rencana-rencana Allah pada hakekatnya merupakan diagram bagi kita sebagai arsitek. Untuk lebih jelasnya lihat Amsal 8:22  yang berbicara tentang sosok Hikmat yang dipersonifikasikan sebagai "pekerja ahli" (Amsal 8:30) yang bekerja bersama Allah Pencipta, yang melaluinya dia mengatur alam semesta. Ini menunjukkan bahwa Taurat dan Hikmah dipahami sebagai yang sudah ada sebelumnya secara khusus sebagai rencana dan tujuan untuk digunakan oleh Allah dalam menciptakan.

Adapun tentang sifat dari hal-hal yang sudah ada  bersama Allah sebelumnya, Allah menjelaskannya dalam frasa, "Pada mulanya Allah menciptakan ...." sebagai berikut:

Enam hal mendahului penciptaan dunia; beberapa dari mereka benar-benar diciptakan, sementara penciptaan yang lain sudah dipersiapkan. Taurat dan tahta kemuliaan diciptakan. Taurat, karena ada tertulis, “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala.” (Amsal 8:22). Tahta Kemuliaan, seperti ada tertulis, “Tahta-Mu telah ditetapkan sejak lama” dst. (Mazmur 93: 2). Penciptaan para Leluhur dipersiapkan, karena ada tertulis, "Seperti buah-buah anggur di padang gurun Aku mendapati Israel dahulu; seperti buah sulung sebagai hasil pertama pohon ara Aku melihat nenek moyangmu." (Hosea 9:10). (Penciptaan) Israel dipersiapkan, seperti ada tertulis, "Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! " (Mazmur 74: 2). (Penciptaan) Bait Suci dipersiapkan, karena ada tertulis, "Takhta kemuliaan, luhur dari sejak semula, tempat bait kudus kita!" (Yeremia 17:12). Nama Mesias dipersiapkan, karena ada tertulis, “Nama-Nya ada sebelum matahari” (Mazmur 72:17).

Seperti sudah ditunjukkan di atas, ada banyak sekali komentar serupa dalam tulisan-tulisan Yahudi. Tapi dalam penjelasan ini cukup kita mengutip penjelasan Dr Smith sebagai berikut:
"That Jews frequently spoke of both people and objects as pre-existing, although this pre-existence is strictly within the mind and purposes of God. In other words, this pre-existence is notional rather than literal. Among those persons pre-existing within God’s mind are the Patriarchs Abraham, Isaac, Jacob, the mediator Moses, the congregation of Israel, and even the Messiah. In regard to objects pre-existing in God’s plans, the temple, the throne of glory, Gehenna, the Garden of Eden, the Torah, the new heavens and the new earth, and the city of Jerusalem are all included. No one seriously considered that the persons mentioned literally possessed a pre-human existence with God in heaven, only to come to earth in some sort of incarnate state. Rather, they were so cherished and valued within the plans for Israel that God had already considered and contemplated them within his design and foreknowledge …​ ​"
"Bahwa orang-orang Yahudi sering menyebut orang dan objek sebagai yang sudah ada sebelumnya, meskipun keberadaan sebelumnya ini hanya ada dalam pikiran dan tujuan Tuhan. Dengan kata lain, keberadaan sebelumnya ini bersifat nosional daripada literal. Di antara orang-orang yang sudah ada sebelumnya ini dalam pikiran Tuhan adalah Patriark Abraham, Ishak, Yakub, perantara Musa, umat Israel, dan bahkan Mesias. Berkenaan dengan objek yang sudah ada sebelumnya dalam rencana Tuhan, Bait Suci, tahta kemuliaan, Gehenna, Taman Eden, Taurat, langit baru dan bumi baru, dan kota Yerusalem semuanya termasuk. Tidak ada yang secara serius menganggap bahwa orang-orang yang disebutkan secara harfiah memiliki keberadaan pra-manusia dengan Tuhan di sorga, hanya untuk datang ke bumi dalam beberapa bentuk inkarnasi. Sebaliknya, mereka begitu disayangi dan dihargai dalam perencanaan untuk Israel sehingga Tuhan telah mempertimbangkan dan merencanakannya dalam rancangan yang sudah DIA ketahui jauh sebelumnya … "

Jika, sebagaimana diketahui oleh semua sarjana Alkitab, bahwa Alkitab berasal dari pola pemikiran Yahudi, maka menjadi masuk akal untuk menanyakan model pra-eksistensi mana yang kita temukan di halaman-halaman Alkitab itu sendiri? Alkitab adalah otoritas terakhir Kristen.

Sebuah contoh klasik dari pra-eksistensi ideal Yahudi yang diambil langsung dari komentar para rabi Kuil Kedua ini dan digunakan sebagai contoh Alkitab adalah tentang kemah yang dibangun Musa di padang gurun. Musa diperintah  untuk membangun kemah menurut "pola" yang ditunjukkan Allah kepadanya di atas gunung (Bilangan 8: 4). Cetak biru surgawi harus diikuti. Para imam dan tabernakel berfungsi sebagai "gambaran dan bayangan dari hal-hal surgawi" (Ibrani 8: 5). Sekali lagi, idenya adalah bahwa literal di bumi sudah ada sebelumnya di Sorga dalam rencana dan tujuan Allah.

Seperti kita ketahui, orang Yahudi menerapkan pemikiran ini pada banyak kekayaan nasional mereka yang besar. Kita telah melihat mereka mengembangkan gagasan tentang “Yerusalem ilahi" yang sudah ada sebelumnya, disiapkan oleh Allah di tempat-tempat surgawi, di sana dari segala waktu, dan dipersiapkan untuk pada suatu hari nanti turun di antara manusia. Rumah lama dilipat dan diambil, dan rumah baru yang indah yang telah Allah bangun datang dan menggantikannya (1Henokh 90: 28,29). Yerusalem yang sebelumnya ada ditunjukkan kepada Adam sebelum dia berdosa. " [4].

Jadi, jika dalam kitab Wahyu 21:10 disebutkan Yerusalem baru terlihat “turun dari sorga, dari Allah”, kita tidak didorong untuk menyimpulkan bahwa kota itu sudah dibangun dan secara harfiah akan melayang turun dari luar angkasa. Dalam pemikiran Yahudi yang benar, Yerusalem baru itu ideal dan bersifat notional, tetapi pasti suatu hari nanti akan menjadi literal karena sudah ada dalam rencana dan janji Allah.

Dengan cara yang sama, maka menurut doktrin kristen, apakah kalian sadar bahwa kalian sudah memiliki tubuh baru yang abadi untuk hari kebangkitan nanti? (2Korintus 5:1) Itu sudah ada sebelumnya di sorga, tetapi kalian belum memilikinya secara harfiah. Namun kalian boleh memilikinya bersama Allah di Sorga, bahkan sekarang (Matius 6: 1). Ini menjelaskan bahwa dalam pemikiran Yahudi yang sempurna bagaimana Yesus dapat berdoa untuk kemuliaan yang dimilikinya bersama Alah di Sorga dari dasar dunia tanpa ada gagasan bahwa dia secara pribadi mengalaminya dalam keadaan pra-inkarnasi. Bahkan, dalam doa yang sama (Yohanes 17: 22 , 24) kalian sebagai orang percaya dalam Mesias juga memiliki kemuliaan yang sama sebelum kalian lahir! (Ngomong-ngomong, terjemahan yang membuat Yesus berkata bahwa dia "kembali" kepada Bapa atau "kembali" ke Sorga sangat, sangat ngawur Teks Yunani tidak mengatakan hal seperti itu, hanya saja dia "pergi ke" Bapa atau "naik ke" Allah di Sorga.)

Dalam ayat yang sudah disinggung sebelumnya, Roma 4:17, di mana Allah “menyebut hal yang tidak (belum) ada sebagai (sudah) ada”, perlu dicatat bahwa konteksnya mengacu kepada Ishak yang “nyata dalam pikiran dan tujuan Allah jauh sebelum Ishak sendiri dilahirkan.” [5].

Demikian pula halnya dengan Yesus Kristus yang "sudah dipilih sebelum dunia diciptakan, tetapi Dia baru dinyatakan pada zaman akhir ini demi kamu." (1Petrus 1:20 ). Kita tahu ini tidak berarti bahwa Yesus secara pribadi sudah ada sebelum dunia diciptakan karena dalam pasal yang sama, kita diberitahu pula bahwa umat Kristen juga telah "mengetahui sebelumnya dari Allah Bapa" (ayat 2). Jadi, Petrus menggunakan gagasan yang sama tentang "mengetahui sebelumnya" untuk merujuk baik kepada umat Kristen maupun kepada Yesus Kristus. Kita tidak benar-benar ada di sorga sebelum lahir. “Itu adalah tujuan ilahi bagi Kristus yang 'ada' sejak awal, bukan untuk siapa tujuan itu harus digenapi; sama seperti Paulus dapat berbicara tentang tujuan ilahi yang juga telah ditentukan sebelumnya bagi mereka yang percaya kepada Kristus” (Roma 8: 28-30).

Demikian pula Alkitab berbicara tentang Yesus sebagai Anak Domba Allah yang disalibkan sebelum penciptaan dunia dimulai (Wahyu 13: 8). Benar bahwa secara tata bahasa ayat tersebut juga dapat dibuat untuk dibaca bahwa nama-nama orang yang diselamatkanlah yang "Telah ditulis sejak dunia dijadikan dalam kitab kehidupan Anak Domba yang disembelih." Tetapi sebenarnya ini merupakan sesuatu yang kerap menjadi perdebatan, karena ada pernyataan yang jelas di tempat lain yang mengajarkan bahwa Yesus diserahkan kepada pihak berwenang untuk disalib "menurut rencana dan pengetahuan Allah yang sudah pasti" (Kisah 2: 23). Intinya jelas bahwa Yesus tidak disalibkan secara harfiah sebelum dunia dimulai. Tetapi dalam pemikiran Yahudi klasik, Allah merencanakan penyaliban sebelum dunia dimulai. Gagasan itu nyata, tetapi belum aktual secara historis. Apa yang terwujud dalam sejarah di bawah Pontius Pilatus sudah terjadi dalam rencana Allah bahkan sebelum dunia diciptakan!

Kitab Efesus sarat dengan konsep pra-eksistensi ini. Kalian percaya bahwa sebagi Kristen, kalian dipilih di dalam Kristus "sebelum dunia dijadikan" dan menurut ketetapan Allah yang pemurah, "ditakdirkan" untuk menjadi anak dalam perencanaan-Nya (Efesus 1: 4- dst). Tapi tidak ada orang percaya Alkitab yang berpikir walau hanya sejenak, bahwa secara pribadi kalian sudah ada sebelum dunia diciptakan. Karena dalam konteks ini, walaupun pemilihan tsb memang sudah ada sebelumnya, tapi itu bersifat notional, bukan literal.

Kelak pada kedatangannya yang kedua, Yesus akan berkata kepada pengikutnya, “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.” (Matius 25:34). Dalam bahasa Paulus, harapan ini "disimpan di sorga bagi kamu." Sedangkan arti "sorga" di sini adalah metafora yang menandakan masa depan yang dijanjikan Allah, di mana tersirat bahwa kalian sudah memilikinya secara notional. Hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh Paulus, bahwa kalian yang telah diselamatkan dan dibenarkan di hadapan Tuhan akan “dimuliakan” (Roma 8: 30). Perhatikanlah bentuk lampau yang digunakan, meskipun penggenapan literalnya ada di masa depan. [6]

Sampai di sini, maka kita sudah boleh sama-sama bertanya sangat serius; jenis pra-eksistensi bagaimana yang ingin  kita terapkan pada Yesus Kristus ketika kita sama-sama membaca Alkitab? Mana yang seharusnya lebih kita percaya; Yesus Kristus yang secara harfiah dan secara pribadi sudah ada sebelum kelahirannya sendiri seperti keyakinan Kristen tradisional dewasa ini, atau konsep asli Yahudi tentang pra-eksistensi sebagai landasan ideal yang cocok dan lebih masuk akal?

Pada kesimpulan simfoni dari kitab Wahyu kita melihat model pra-eksistensi notional ini diperlihatkan. Ketika di pulau Patmos Yohanes mengintip ke dalam realitas apokaliptik yang digambarkannya dalam Kitab Wahyu, dia mencatat untuk para pembacanya paduan suara simfoni dari bala tentara surgawi. Dalam satu penglihatan seperti itu, dua puluh empat orang tua mempersembahkan sujud sembahyang kepada orang yang duduk di atas takhta dan dengan berani menyatakan;
"Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan." (Wahyu 4:11 ).
Frase yang luar biasa ini layak untuk direnungi; “karena kehendak-Mu mereka ada, dan diciptakan.” Kalimat ini memberikan petunjuk untuk dapat memahami pra-eksistensi 'ideal' yang seharusnya berdampak penuh pada kesadaran kalian. Adegan penyembahan ini memberikan kemuliaan dan penghormatan dan kuasa kepada Allah untuk alasan tertentu: Dia adalah pencipta segala sesuatu. Lalu bagaimana tepatnya Allah menciptakan segala sesuatu yang sekarang material dan aktual? Jawabannya adalah, Allah memiliki kemauan, keinginan yang terkandung dalam tujuan-Nya untuk mewujudkan apapun yang Dia inginkan. Rencana Allah bertujuan bahwa segala sesuatu “yang sebelumnya” (sudah) ada, kemudian “diciptakan” sehingga (menjadi) ada .

Dengan kata lain, dalam kehendak Allah, segala hal tergambar sebagai yang sudah ada, sebelum mereka benar-benar diciptakan. Ini adalah "text-book" notional Yahudi tentang pra-eksistensi, karena mereka mengerti dengan benar bahwa semua hal telah ada sebelumnya dalam rencana Allah sebelum pada gilirannya tercipta menjadi eksistensi fisik yang nyata!

Kesimpulannya: Baik dari komentar ekstra-alkitabiah dari Bait Kedua dunia Yahudi (budaya Yesus sendiri), maupun dari seluruh kandungan Kitab Suci mereka sendiri, benda-benda dan orang-orang dinyatakan sudah ada secara notional tanpa perlu memikirkan bagaimana mereka secara harfiah di Sorga sebelum terwujud di bumi pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 
Dengan demikian, ketika paradigma ini dihadapkan pada teks-teks yang menurut pemahaman mayoritas umat Kristen menyiratkan Yesus secara pribadi memang ada secara sadar (sebagai Tuhan) sebelum penampakan fisiknya di bumi, segala kebingungan tentangnya pun praktis sirna! Sebab seperti biasa, bukan teori, tapi kontekslah yang harus menang! 
Jadi, mari kita serahkan saja kepada seorang penulis Yahudi modern untuk menyimpulkannya;

"Mesias… hadir dalam pikiran Allah dan dipilih sebelum penciptaan, dan dari waktu ke waktu diungkapkan kepada orang-orang benar untuk penghiburan mereka; tapi dia… sebenarnya tidak ada sebelumnya. Dia dinamai dan disembunyikan sejak awal dalam pikiran rahasia Allah, akhirnya terungkap di Akhir Zaman sebagai Manusia ideal yang akan membenarkan ciptaan Allah atas dunia.” [7].

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!


CATATAN KAKI:
Paparan di atas dikutip dan disadur bebas dari materi tulisan Dr Dustin R. Smith dalam artikelnya yang berjudul: “John and Jewish Preexistence, "An Attempt to Responsibly Set the Christology of the Fourth Gospel in its Proper Historical and Theological Matrix of Thought", Dipresentasikan pada Konferensi Teologi Universitas Alkitab Atlanta 2015.

[3] Caspar Wistar Hodge, “Foreknow,” di ISBE, v ol. 2, 1130.
[7] Schonfield, Hugh. "The Passover Plot", p. 256