Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Trinitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trinitas. Tampilkan semua postingan

Trinitas, Satu Tuhan Yang Menjadi Tiga, Atau Tiga Tuhan Yang Menjadi Satu?


Terinspirasi dari TS mang Tubagus Alit yang diposting disini, maka saya buatkan trit lain disini  seperti yang kemudian saya salin dibawah ini. 

Saya melihat banyak absurditas iman pengikut Paulus diantaranya juga dari sisi ini:
UMAT KRISTEN MENOLAK KERAS DISEBUT MENYEMBAH TIGA TUHAN KARENA PERCAYA BAHWA TUHAN YANG MEREKA SEMBAH HANYA SATU, YAITU TUHAN YANG MEREKA NAMAI SENDIRI DENGAN SEBUTAN TRITUNGGAL, TRINITAS, ATAU TRINITY.
Namun di sisi lain, mereka tidak mampu menjelaskan kenapa ada kata "TRI" menempel pada kata "TUNGGAL" dalam entitas tuhan "TRITUNGGAL" yang selama ini mereka sembah?

TRI, siapapun pasti tahu artinya adalah TIGA dalam bahasa Sanskrit yang sudah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia dengan arti yang sama.

Dengan demikian, jika umat Kristen bersikukuh bahwa tuhan yang mereka sembah sebenarnya hanya SATU alias TUNGGAL, lalu untuk keperluan apa mereka masih merasa perlu meletakkan kata "TRI" di depan kata "TUNGGAL" sehingga menurut penamaannya sendiri, tuhan mereka menjadi "TRITUNGGAL", alias TIGA menjadi SATU?

Lebih jauh lagi, jika menurut doktrin Kristen tambahan DUA "ekstra" tuhan itu sebetulnya dimaksudkan untuk menegaskan entitas tuhan yang hanya SATU, yaitu mewakili FIRMAN dan ROH-Nya, maka masih menurut doktrin kristen sendiri, bukankah tanpa perlu menambahkan DUA "extra" tuhan tsb, tuhan yang SATU tetap saja berupa ROH dan tetap pula BERFIRMAN?

Bukankah doktrin kristen sendiri yang menyebut Allah adalah ROH?

Lalu buat apa Allah yang diimani oleh umat Kristen sebagai ROH itu harus mebelah diri-Nya menjadi DUA ROH, yaitu Allah yang ROH ALLAH dan Allah yang ROH KUDUS?

Tokh tanpa perlu membelah diri menjadi DUA ROH sekalipun, Allah yang konon katanya adalah ROH itu sudah jelas adalah ROH yang KUDUS, sehingga tentu saja dapat berbuat apapun yang selama ini tercatat dalam kitab mereka pernah dilakukan oleh ROH KUDUS dalam kapasitasnya sebgai "ekstra" tuhan?

Menurut hemat saya, ini betul betul merupakan pemborosan ide ketuhanan, sekaligus juga pembodohan terhadap intelektualitas umat manusia!

Sementara itu, ekstra tuhan lainnya, yaitu FIRMAN yang mereka representasikan dalam wujud manusia bernama Yesus hanya karena kitab mereka menyebut FIRMAN itu telah menjadi MANUSIA ditengah tengah kita (lihat Yohanes 1:14), malah lebih absurd lagi!

Kenapa?
Karena "FIRMAN telah menjadi MANUSIA Yesus" pada prinsipnya tidak sedikitpun berbeda dengan:
  • FIRMAN telah menjadi TERANG, 
  • FIRMAN telah menjadi CAKRAWALA, 
  • FIRMAN telah menjadi DARATAN, 
  • FIRMAN telah menjadi TUMBUHAN, 
  • FIRMAN telah menjadi SIANG DAN MALAM, 
  • FIRMAN telah menjadi SEGALA JENIS HEWAN, 
  • FIRMAN telah menjadi HUJAN DERAS dlsb
      (lihat Kejadian 1:3,6,9,11,14, 24; Ayub 37:6)

Jadi, jika dasar iman untuk menjadikan manusia Yesus sebagai "ekstra" tuhan lalu disembah sebagai tuhan, tentu saja tidak kredibel mengingat status Yesus dalam hal ini tidak ada bedanya dengan TERANG, CAKRAWALA, DARATAN, TUMBUHAN, SIANG DAN MALAM, SEGALA JENIS HEWAN, atau HUJAN DERAS seperti tertulis dengan sangat jelas dalam kitab Kejadian dan Kitab Ayub di atas!

Artinya, jika Yesus adalah FIRMAN yang menjadi MANUSIA lalu diimani dan disembah sebagai Allah itu sendiri atas dasar argumen bahwa FIRMAN yang menjadi Yesus itu berasal dari Allah, maka tidak boleh tidak, umat ini juga harus memperlakukan semua yang disebut dalam Kitab Kejadian 1:3,6,9,11,14, 24; dan Kitab Ayub 37:6 di atas tadi SAMA PERSIS seperti mereka memperlakukan Yesus!

Dengan kata lain, sebenarnya TERANG, CAKRAWALA, DARATAN, TUMBUHAN, SIANG DAN MALAM, SEGALA JENIS HEWAN, HUJAN DERAS dan YESUS, adalah Tuhan Kristen! 

Bukankah menurut kitab mereka sendiri masing masing objek tsb juga merupakan FIRMAN Allah yang MENJADI seperti wujudnya sekarang ini?

Jadi, kembali ke topik;

● Penyangkalan umat kristen terhadap tudingan bahwa mereka menyembah TIGA TUHAN justru gugur oleh pengakuan mereka sendiri bahwa tuhan yang mereka sembah adalah tuhan TRITUNGGAL yang artinya adalah TIGA menjadi SATU.

●● Menyatakan pengakuan iman bahwa Allah adalah ROH lalu mengimani pula bahwa Allah yang ROH ini membelah diri-Nya menjadi ALLAH yang ROH dan Allah yang ROH KUDUS jelas merupakan KESIA-SIAAN ABSOLUT sebab dengan atau tanpa membelah diri sekalipun Allah yang ROH sudah tentu KUDUS dan mahakuasa melakukan apapun yang dapat dilakukan oleh ROH KUDUS tanpa perlu bantuan ROH KUDUS!

●●● Meyakini Yesus adalah jelmaan Allah hanya karena Allah BERFIRMAN, "Jadilah Yesus!" MAKA YESUSPUN JADI, sama artinya dengan meyakini TERANG, atau SEGALA JENIS HEWAN dan ciptaan Allah lainnya sebagai jelmaan Allah pula karena KEJADIAN mereka sama dengan kejadian Yesus yang berasal dari FIRMAN Allah.



Distorsi Trinitarian atas Kata “Echad”


Kata Ibrani untuk “dengar” ialah shema. Karena itu, kata Shema dipakai umat Yahudi sebagai nama kepada proklamasi sakral di Ulangan 6:4: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” [1] Ini sebenarnya sebuah terjemahan yang salah karena ia mengaburkan fakta bahwa “TUHAN” dalam naskah Ibrani asli adalah “Yahweh”. Ayat ini secara harfiah menyatakan, “Dengarlah, hai orang Israel: Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa!” New Jerusalem Bible memberikan terjemahan yang sangat baik: “Listen, Israel: Yahweh our God is the one, the only Yahweh”.

Ada sebuah artikel [2] yang beredar luas di Internet oleh seorang penulis yang tesisnya didasarkan pada tulisan penulis kedua, seorang yang bernama Nick Norelli, yang berpendapat bahwa “satu” dalam Ulangan 6:4 harus ditafsirkan menurut jalur pikir trinitaris. Untuk lebih spesifik, ada dua artikel: artikel yang pertama mengutip Norelli, dan yang kedua oleh Norelli sendiri. Meskipun pembahasan kita berpusat pada dua artikel tersebut, dimulai dengan yang pertama dan dilanjutkan dengan yang kedua, kita sebenarnya menyinggung banyak buku dan artikel yang menyampaikan argumentasi-argumentasi yang kurang lebih sama.

Artikel yang pertama (yang mengutip Norelli) agak pelik karena salah mengeja kata Ibrani untuk “satu” menjadi “eschad” (transliterasi yang benar adalah “echad” atau “eḥad”). Kesalahan ini (yang memperlihatkan ketidaktahuan akan alfabet Ibrani dengan memasukkan “s” yang non-eksisten) tampak konsisten di sepanjang artikel kecuali saat ia mengutip sumber-sumber lain. Hal ini disebut supaya ketika salah ejaan ini muncul dalam pembahasan kita, pembaca tidak akan menganggapnya sebagai salah ketik atau salah kutipan. [3]

Artikel yang pertama, di bagian yang berjudul “The Argument”, dimulai dengan mengutip sebuah pernyataan yang dibuat oleh seorang rabi (yang tidak diberi nama): “Kata echad dalam bahasa Ibrani berfungsi dengan cara yang persis sama dengan kata ‘one’ dalam bahasa Inggris.” Artikel ini selanjutnya mengatakan bahwa rabi itu “lalai menyebutkan, bahwa ada dua kata untuk ‘satu’ dalam bahasa Ibrani”.

Singkatnya, artikel ini menuduh rabi ini telah menutupi bukti penting yang membenarkan kasus trinitarian. Artikel itu melanjutkan: “ketika hal ini menjadi jelas Anda akan melihat bahwa seluruh maksud dari kata Eschad menjadi sangat jelas.” Dengan kata lain, rabi ini dituduh telah menggelapkan perkara dengan menahan informasi penting bahwa ada dua kata Ibrani untuk “satu”. Ini merupakan tuduhan yang amat berani dari seseorang yang bahkan tidak dapat mentransliterasikan kata Ibrani untuk “satu”.

Bertentangan dengan apa yang dituduhkan terhadap rabi itu, saya menyatakan tanpa kekhawatiran akan kontradiksi faktual bahwa rabi itu justru benar ketika ia berkata, “Kata echad dalam bahasa Ibrani berfungsi dengan cara yang persis sama dengan kata ‘one’ dalam bahasa Inggris.” Atau dalam hal ini bahasa Cina, Jerman, dan Perancis. Dan bertentangan dengan tuduhan yang ditujukan terhadap sang rabi, rabi itu tidak lalai menyebutkan bahwa ada kata lain untuk “satu” dalam bahasa Ibrani, karena memang tidak ada kata lain untuk “satu” selain echad! Namun pengkritik rabi dengan membabi buta mengikut seseorang yang bernama Nick Norelli, yang di dalam apa yang kita sebut “artikel kedua” tampaknya tidak lebih berpengetahuan tentang bahasa Ibrani dan dasar eksegesis Alkitabiah dibandingkan dengan pengkritik ini, tetapi tetap menulis sebuah artikel atas subjek ini yang memiliki “bentuk” ilmiah (penuh dengan catatan kaki) tetapi kurang berbobot.

Dalam artikel kedua yang ditulis Norelli,[4] Norelli tampaknya tidak memahami makna dasar dari kata Ibrani yachid yang ia sendiri timbulkan untuk dibahas. Mengenai kata ini ia mengatakan dengan tepat:

JPS Tanach 1917 menerjemahkan yachid sebagai only sebanyak 10 dari 12 kali kata itu muncul dalam teks Ibrani, dua kali yang lainnya diterjemahkan sebagai, solitary, dan 8 dari 10 kali itu kata itu dipakai untuk merujuk pada seorang anak tunggal.

Mari kita jelaskan apa yang dikatakan Norelli: Kata Ibrani yachid muncul 12 kali dalam Alkitab Ibrani; terjemahan JPS 1917 menerjemahkan yachid sebagai only (“hanya, saja”) sebanyak 10 kali, dan sebagai solitary (“tersendiri, tunggal”) sebanyak dua kali. Ini tepat.

Ini berarti menurut observasi Norelli sendiri, tidak satu kali pun kata yachid diterjemahkan sebagai “satu” dalam JPS Tanakh! Dengan kata lain, Norelli sendiri mengakui bahwa tidak sekali pun kata yachid pernah berfungsi sebagai kata Ibrani yang kedua untuk “satu”! Ia tampaknya tidak sadar bahwa ia sedang menyangkal tesisnya sendiri ketika ia mengakui (dengan tepat) bahwa makna dasar dari yachid adalah only (“hanya, saja”) alih-alih “satu”. Kata ini biasanya dipakai dalam konteks seperti only son (“anak tunggal”), tetapi “satu” bukanlah salah satu dari definisinya.

Sama membingungkannya, Norelli lalu menyediakan sebuah daftar yang berisi semua kata yachid yang dipakai dalam Alkitab. Berikut daftarnya, yang saya kumpulkan dari program Bibleworks. Nomor ayat sesuai dengan Alkitab Indonesia, bukan Alkitab Ibrani):
  • Kejadian 22:2 Ambillah anakmu yang tunggal itu
  • Kejadian 22:12 menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku
  • Kejadian 22:16 menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku
  • Hakim 11:34 Dialah anaknya yang tunggal
  • Mazmur 22:21 dan milikku satu-satunya (MILT)
  • Mazmur 25:16 aku sendirian dan tertindas (MILT)
  • Mazmur 35:17 dan satu-satunya milikku (MILT)
  • Mazmur 68:7 tempat tinggal kepada orang-orang sebatang kara
  • Amsal 4:3 sebagai anak tunggal bagi ibuku
  • Yeremia 6:26 seperti menangisi seorang anak tunggal
  • Amsal 8:10 perkabungan karena kematian anak tunggal
  • Zakaria 12:10 seperti orang meratapi anak tunggal

Andai saja Norelli menyimak sekilas daftar ini, ia akan melihat bahwa kata “satu” tidak pernah muncul. Dalam Alkitab-alkitab Inggris, yachid secara konsisten diterjemahkan sebagai only (kecuali dua kali diterjemahkan sebagai lonely, atau “sendirian”, “sebatang kara” yang dalam bahasa Ibrani didasarkan pada konsep only). Meskipun dengan bukti di hadapan mata yang dikumpulkannya sendiri, Norelli tidak dapat melihat bahwa yachid berarti only(“hanya”, “saja”) dan bukan “satu”! Apa masalahnya? Permasalahannya merupakan sesuatu yang pernah saya alami sebelumnya: kebutaan yang disebabkan oleh trinitarianisme; kita menolak untuk melihat apa yang sudah jelas. Ini benar-benar mengerikan, dan kiranya Allah berbelas kasihan atas kita.

Jika Anda mengambil daftar 12 ayat ini ke sebuah kelas Alkitab, dan meminta setiap orang dalam kelas untuk membacakan ayat-ayat tersebut dalam berbagai versi Alkitab (Inggris atau Indonesia) sebanyak yang dapat mereka temukan, dan lihat apakah mereka dapat menemukan bahkan satu versi yang menerjemahkan yachid sebagai “satu”.

Apa yang “lalai disebutkan” Norelli (menggunakan ungkapan yang secara tidak adil dikenakan kepada sang rabi) adalah fakta ini: Sementara Norelli dengan tepat mencatat bahwa yachid muncul 12 kali dalam Alkitab Ibrani, ia gagal menyebutkan fakta krusial bahwa echad muncul 977 kali! Sebuah kekhilafan kecil? Atau apakah ini sebuah tindakan yang disengaja untuk menutupi bukti penting dalam memahami arti “satu”?

Anda tentu ingat bahwa di artikel yang pertama, pengkritik rabi dengan yakin menegaskan bahwa ada dua kata Ibrani untuk “satu”, sambil memberi kesan bahwa kedua kata itu begitu erat terkait sehingga tidak dapat dibedakan secara semantik, berbeda hanya dalam satu hal, yaitu yachid adalah “satu” dalam arti tunggal sedangkan echad bisa jadi tunggal atau gabungan, sehingga memberi dukungan kepada trinitarianisme. Jika ini memang benar, kita akan melihat distribusi yang luas dari kedua kata itu di sepanjang Alkitab Ibrani. Namun statistik menunjukkan bahwa ini sepenuhnya palsu (977 versus 12).

Hanya echad ditemukan di sepanjang Alkitab sedangkan yachid muncul hanya dalam konteks-konteks terbatas. Sebagai contoh, yachid muncul 3 kali di Kejadian 22 untuk merujuk kepada anak “tunggal” Abraham Ishak, dan hal ini sendiri merupakan seperempat dari semua kemunculan yachid di dalam Alkitab! Dari 12 kali kemunculan yachid, 8 merujuk kepada seorang anak tunggal, dan ini sendiri merupakan dua pertiga dari semua referensi. [5]

Dengan perbedaan statistik sebesar 977 versus 12, perbedaan semantiknya dikaburkan oleh kontras numerikal ini. Penulis kedua artikel ini telah “membodohi” (“taken us for a ride”) kita. Atau barangkali mereka sendiri terlebih dulu telah dibodohi orang lain. Artikel-artikel yang ditulis berdasarkan premis yang sama yang termotivasi oleh doktrin seperti ini, banyak sekali beredar di Internet dan di beberapa buku.

Biarlah dinyatakan dengan tegas bahwa echad merupakan satu-satunya kata untuk “satu” dalam bahasa Ibrani, dan bahwa kata yachid (only) tidak akan pernah dapat menggantikan “satu” di dalam Shema (Ul.6:4). Coba baca ayat itu dengan menggantikan kata “satu” dengan only! Namun Norelli berargumentasi bahwa yachid adalah “satu” secara tunggal sedangkan echad bisa jadi tunggal atau gabungan untuk membuat Allah menjadi sebuah trinitas. Anda dapat merancang kemenangan dangkal dengan membuat aturan sendiri, atau dalam kasus ini mengarang-ngarang definisi sendiri, tetapi pada akhirnya Anda hanya menipu diri sendiri dan orang lain, dan ini bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan karena melibatkan firman Allah. Pada akhirnya kepada Allah yang hiduplah kita harus mempertanggung-jawabkan diri kita.

Berkenaan dengan fakta bahwa angka “satu” bisa memiliki makna tunggal atau gabungan, bukankah ini juga berlaku untuk semua bahasa utama yang lain? Kita dapat berbicara tentang satu pribadi atau satu keluarga, jadi bagaimana “satu” harus dimengerti dalam bahasa apa pun ditentukan dari kalimat itu secara keseluruhan, dan bukan dari kata “satu” itu sendiri. Dengan sendirinya kata “satu” tidak dapat dipakai untuk membuktikan bahwa Allah itu sebuah trinitas hanya karena “satu” bisa mengambil makna kesatuan. Arti kata “satu” dalam Ulangan 6:4 hanya dapat ditentukan dari ayat itu atau dari konteksnya, dan keduanya sama sekali tidak memberikan indikasi adanya Allah tritunggal, atau dalam kasus ini “Yahweh” yang tritunggal.

Untuk mengilustrasikan hal tersebut, pernyataan “tidak ada satu belalangpun yang tinggal di seluruh daerah Mesir” (Kel.10:19) mengacu kepada belalang tunggal secara numerik, bukan dua atau tiga belalang menyatu menjadi satu. Di sisi lain, “one man” bisa mengacu kepada seorang manusia secara numerik (“Abraham was only one man, yet he got possess­ion of the land”, Yeh.33:24) atau satu kesatuan dari sekelompok orang (“they came out as one man”, 1Sam.11:7). Jadi makna dari “one man”—apakah tunggal numerik atau gabungan—ditentukan oleh konteks, baik oleh kata he tunggal (Abraham) atau kata they jamak (orang Israel). Catatan: echad (“satu”) dipakai dalam semua ayat tersebut.

Tampaknya Norelli berusaha memperoleh semacam pengaruh psikologis atas para pembacanya, dengan meninggalkan sebuah tanda tanya dalam pikiran mereka: Barangkali, barangkali saja, kata “satu” (“Yahweh Allahmu itu satu”) harus dimengerti sebagai sebuah “satu” gabungan dan dengan demikian sebagai sebuah rujukan kepada Trinitas. Jika Norelli berhasil meninggalkan tanda tanya ini dalam benak para pembacanya, ia sudah mencapai objektifnya sekalipun ia tahu persis bahwa argumentasinya tidak membuktikan apa-apa.

Namun siapa saja yang mengizinkan tanda tanya itu mengendap di pikirannya akan menjadi korban yang mudah bagi kesalahan politeisme trinitarian yang merusak iman biblika. Alkitab Ibrani bersifat monoteistis ketat tanpa kompromi, sebuah fakta yang tidak akan diperdebatkan oleh sarjana Alkitab yang bertanggung jawab. Mengingat Shema dari Ulangan 6:4 dikutip dalam kedua artikel tersebut, mari kita melihatnya sekali lagi: “Dengarlah, hai orang Israel: Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa (satu)!”

Penulis kedua artikel tersebut sebenarnya lebih berani dari kebanyakan trinitarian yang lain karena mereka menerapkan arti “satu” gabungan kepada Yahweh alih-alih kepada Allah. Dalam ayat ini, “satu” merujuk secara spesifik kepada Yahweh, yang segera merobohkan argumentasi mereka. Mengapa? Kata “Yahweh” muncul 6,828 kali dalam Alkitab Ibrani. Kata ganti tunggal “aku” dan bukan kata ganti jamak “kami” dipakai setiap kali Yahweh merujuk kepada Diri-Nya Sendiri sebagai orang pertama. Demikian pula, ketika Yahweh dibicarakan sebagai orang ketiga, kata ganti tunggal “ia” atau “dia” selalu dipakai, bukan “mereka”. Melawan bukti yang berlimpahan ini, Norelli berusaha memperjuangkan kemungkinan kata “satu” memiliki arti gabungan di Ulangan 6:4.

Jika pronomina tunggal orang pertama dan ketiga (“Aku” dan “Ia”) yang muncul ribuan kali itu tidak cukup bukti bagi Norelli dan yang lain yang sepandangan dengannya, bagaimana dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Yahweh adalah Allah dan “tidak ada yang lain” (misalnya Yes.45:5, “Akulah Yahweh dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah”)? Perhatikan sekali lagi pronomina orang pertama tunggal (“Aku”).

Akan tetapi mereka yang menutup matanya kepada kebenaran tidak akan dapat dibujuk dengan bukti Alkitabiah sebanyak apa pun. Apakah mungkin sebenarnya trinitarianisme-lah yang sebenarnya mereka pedulikan, dan bukan kebenaran Alkitab? Tidak mengherankan rabi yang dikutip dalam artikel yang pertama mengungkapkan rasa frustasi terhadap argumentasi trinitarian yang didasari oleh penjelasan echad yang palsu itu. Ia bisa saja menyatakan terus-terang bahwa argumentasi ini nonsens, tetapi cukup sopan untuk tidak mengatakan demikian.

Dan apakah mungkin kedua penulis itu tidak tahu bahwa “Yahweh” bukanlah sebuah nama umum untuk Allah tetapi sebuah nama pribadi untuk Allah Israel? Bagaimana mungkin sebuah nama pribadi mempunyai referensi multi-pribadi? Bagaimana mungkin sebuah nama pribadi seperti Yahweh atau Yesus Kristus atau William Shakespeare, ketika digunakan secara referensial, merujuk kepada lebih dari satu pribadi tertentu? Di bidang kesarjanaan biblika, sudah terkenal bahwa “Yahweh” bukanlah satu cara umum untuk merujuk kepada Allah. “Yahweh” juga bukan sinonim untuk “Allah”. Zondervan Encyclopedia of the Bible, “Names of God”, mencatat:
Jika El (allah) adalah sebuah istilah umum untuk keilahian dalam pikiran orang-orang di daerah-daerah Alkitab dan Timur Dekat Kuno, nama Yahweh adalah nama Ibrani yang spesifik untuk Allah … Adalah signifikan bahwa pemakaian nama ini [Yahweh] untuk Allah merupakan sesuatu yang unik kepada bangsa Israel. Bangsa-bangsa Semit yang lain tampaknya tidak mengetahuinya atau setidaknya tidak memakainya untuk merujuk kepada Yang Ilahi kecuali melalui kontak dengan orang Ibrani yang membawanya kepada perhatian mereka. Nama itu adalah milik khusus umat perjanjian.
Sebagai nama Allah Israel yang dinyatakan secara khusus (Kel.3:14), “Yahweh” bukanlah sebuah referensi multi-pribadi. Nama itu merujuk kepada Dia saja, dan Ia telah menyatakan bahwa “tidak ada Allah kecuali Aku” (Ul.32:39; bdk. Yes.44:8; 45:5, dll.). Hal ini sudah dinyatakan dalam Perintah yang Pertama: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel.20:3; Ul.5:7). Pada Hari itu dapatkah kedua penulis artikel tersebut berharap untuk lolos dari tuduhan serius karena telah melanggar Perintah Pertama?

Saya telah merespon dengan nada keras kepada kedua penulis artikel yang eksposisinya begitu kurang bermutu sehingga tidak layak untuk sebuah studi firman Allah. Karena firman Allah adalah “firman kehidupan”, mereka yang tidak berhati-hati “membagikannya dengan tepat” (2Tim.2:15 ILT) harus mempertanggung jawabkan dirinya kepada Allah yang hidup karena telah memimpin orang lain ke dalam kesalahan. Menguraikan Kitab Suci bukanlah sebuah permainan untuk orang-orang yang mempunyai terlalu banyak waktu. Kita harus berjuang untuk memahami kebenaran Allah tanpa memedulikan harga yang harus dibayar, termasuk doktrin-doktrin yang kita sayangi. Hanya kebenaran Allah yang harus menang jika kita ingin masuk ke dalam hidup yang kekal. Atas alasan yang sama, saya akan dengan hormat dan dengan pikiran terbuka memperhatikan semua eksposisi firman Allah yang benar-benar berkomitmen kepada kebenaran.

Untuk lebih jelasnya, baca juga: ECHAD IN THE SHEMA

[Eric H.H Chang - Distorsi ayat alkitab | Dikutip dari buku The Only Perfect Man]

CATATAN KAKI
[1] Shema aslinya merujuk kepada proklamasi sakral di Ulangan 6:4 tetapi telah diperluas untuk mencakup Ulangan 6:4-9 dan 11:13-21, dan Bilangan 15:37-41.
[3] Kata Ibrani untuk “satu” (אֶחָד) kadang-kadang ditransliterasikan sebagai echad. “c” ditambahkan sebelum “h” untuk menandakan “h” keras atau parau berbeda dari “h” lembut. Dalam beberapa buku, “h” keras ditunjukkan dengan menempatkan sebuah titik di bawahnya (ḥ), tetapi keyboard Inggris tidak dapat mengetiknya dengan mudah, jadi titik itu sering dihilangkan atau “h” ditransliterasikan sebagai “ch”. Namun penulis artikel tidak tahu semua ini, jadi ia mengarang-ngarang eschad yang non-eksisten, tetapi mempunyai keberanian untuk mengkritik seorang rabi yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempelajari Kitab Suci Ibrani, sesuatu yang jelas belum dilakukan oleh pengkritiknya.
[4] https://rdtwot.files.wordpress.com/2007/06/yachid-vs-echad.doc, seperti apa adanya pada March 31, 2013.
[5] Empat yang lain tidak merujuk kepada seorang anak tunggal, dan ditemukan dalam kitab Mazmur dan para penerjemah Alkitab mengalami kesulitan untuk menemukan terjemahan yang sesuai untuk yachid yang sesuai dengan konteks.


Sepenggal Cerita Yesus Tentang Tuhan Tritunggal


Suatu ketika, ...

"Maukah kalian kuberitahu bahwa injil mereka sendiri membuktikan bahwa ajaran tentang Tritunggal itu sebetulnya cuma dusta?" 

Para sahabat menjawab, "Ya, Rabi, ceritakan pada kami!" 

Dan sang Guru pun berujar, "Dalam kitab mereka yang diberi nama Markus, penulisnya mengutip perkataan yang konon katanya berasal dariku begini: 

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." (Markus 3:28-29) 

Kemudian penulis kitab mereka yang lain, mengaku bernama Lukas, ikut pula mengutip ucapan yang sama dengan cara menjiplak dari Markus seperti ini:

Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni. (Lukas 12:10) 

"Ini hanya satu dari banyak bukti lain dalam kitab mereka bahwa ajaran Tritunggal itu adalah dusta. Tahukah kalian mengapa aku berkata demikian?" 

Para sahabat menjawab, "Hanya Allah dan Utusan-Nya yang paling mengetahui, maka beritahu kami, ya, Rabi!" 

Sang Guru pun melanjutkan, "Karena imam-imam mereka mengajarkan bahwa Bapa, Aku, dan Roh Kudus adalah tiga oknum berbeda tapi satu hakekat. Mereka mengimani bahwa Aku adalah Bapa, Bapa adalah Roh Kudus, atau Roh Kudus adalah Bapa dan Bapa adalah Aku. Intinya, menurut imam-imam mereka aku adalah Tuhan!

Ini tentu akan sangat sulit untuk kalian fahami,  sebab aku sendiri pun tidak faham, sama dengan mereka sendiri yang juga tidak faham bagaimana menjelaskan tuhan Tritunggal ini, karena sudah terbukti belum ada seorang pun dari mereka yang dapat menjelaskannya kepada orang banyak kecuali secara taqlid buta mengimaninya begitu saja. 

Jadi, cukuplah kalian ingat bahwa mereka percaya tidak ada perbedaan sedikit pun antara Bapa, Aku, dan Roh Kudus. Sebab menurut mereka, derajatku sama tingginya dengan derajat Bapa dan derajat Roh Kudus yang dianggap sebagai kesatuan Tritunggal Yang Esa." 

Para sahabat berkata, "Selain mengatakan dirimu sebagai Tuhan dan meletakkan derajatmu sama tinggi dengan derajat Bapa dan derajat Roh Kudus adalah dusta yang nyata, maka dusta apa lagikah yang mereka lakukan, ya, Rabi?” 

[Matius 23:1] Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridnya, katanya:

“Markus dan Lukas dalam kitab mereka menuliskan bahwa semua dosa dan hujat anak manusia kepada siapa pun, termasuk kepada diriku dan kepada Bapa, akan diampuni kecuali, ingat, kecuali menghujat Roh Kudus. Dosa menghujat Roh Kudus tidak akan diampuni untuk selama-lamanya! 
"Akan tetapi jika mereka mempercayai bahwa Aku, Bapa, dan Roh Kudus adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara satu sama lain, mengapa hanya dosa menghujat Roh Kudus saja yang tidak diampuni? Bukankah menurut iman mereka sendiri sesungguhnya menghujat Aku dan menghujat Bapa sama saja artinya dengan menghujat Roh Kudus?" 
Dengan demikian, kitab mereka sendiri membuktikan secara terang benderang bahwa Tuhan Tritunggal itu tidak ada! Kitab mereka sendiri yang menunjukkan bukti bahwa Aku tidak sama dengan Bapa, Bapa tidak sama dengan Roh Kudus, demikian pula sebaliknya. 

Seperti kalian ketahui, sesungguhnya kami adalah tiga oknum yang terpisah. Aku hanya seorang Nabi, Roh Kudus hanya malaikat pengantar wahyu, sedangkan Bapa adalah Allah, satu-satunya Tuhan Semesta Alam yang sejati!” 

[Matius 26:1] Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya:

"Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa!" (Markus 12:29) 


[Sumber: Injil kanon Markus, Lukas, dan Matius]



Trinitas, misteri yang mengada-ada!


Seingat saya, rasanya belum pernah kita temui ada pengikut Paulus yang mampu dengan tegas, lugas, dan tuntas menjelaskan apa dan bagaimananya Tuhan Trinitas mereka tanpa menggunakan analogi. 

Tentu saja ini terasa ganjil, karena bagaimana mungkin ada sekumpulan orang mengaku mengimani doktrin Trinitas tapi tidak ada satupun dari mereka yang mampu menjelaskan apa yang diimani sendiri itu dengan baik? 

Apa yang salah?
Doktrin trinitasnyakah, atau otak para pengikutnya?

Dari sekian banyak analogi yang ujungnya dipastikan akan jeblog alias nyungsep, maka ini adalah yang paling populer mereka usung:

Menurut kebanyakan mereka, analogi tentang TRINITAS itu begini:

Manusia disebut sebagai MANUSIA karena adanyanya 3 unsur ini: 
(1) tubuh, 
(2) roh, dan 
(3) jiwa. 

Artinya, agar bisa disebut sebagai manusia, maka ketiga unsur itu HARUS MENJADI SATU SEUTUHNYA. Demikian juga dengan Tuhan menurut kristen.

Tuhan disebut sebagai TUHAN karena adanya 3 unsur ini: 
(1) Bapa, 
(2) Roh Kudus, dan 
(3) Yesus.

Artinya, agar bisa disebut sebagai TUHAN, maka ketiga unsur itu HARUS MENJADI SATU SEUTUHNYA. 

Sekarang, mari kita perhatikan baik-baik apa jadinya jika masing-masing dari tiga unsur manusia di atas kita pisahkan.

 Tubuh manusia tanpa roh dan jiwa jelas disebut MAYAT, alias BUKAN MANUSIA,
 Roh manusia tanpa tubuh dan jiwa jelas disebut ROH, alias BUKAN MANUSIA,
 Jiwa manusia tanpa tubuh dan roh jelas disebut JIWA, alias BUKAN MANUSIA.

Ini sangat jelas mengindikasikan bahwa jika berdiri sendiri-sendiri, tidak ada satupun dari ketiga unsur manusia tadi yang boleh disebut sebagai manusia!

Lalu, bagaima pula jadinya jika ketiga unsur tuhan trinitas juga kita pisahkan?

● Bapa tanpa Roh Kudus dan Yesus seharusnya disebut Bapa saja, sebab dia BUKAN TUHAN
● Roh Kudus tanpa Bapa dan Yesus seharusnya disebut Roh Kudus saja sebab dia BUKAN TUHAN
● Yesus tanpa Bapa dan Roh Kudus seharusnya disebut Yesus saja sebab dia BUKAN TUHAN.

Sama dengan "pemisahan" unsur manusia di atas, maka pemisahan unsur tuhan trinitas juga praktis mengindikasikan dengan sangat jelas bahwa jika berdiri sendiri-sendiri, tidak ada satupun yang boleh dianggap sebagai tuhan!

Jelas bukan?

Jadi, buat apa repot dengan segala macem teori muluk-muluk tentang trinitas, atau tuhan tritunggal ini, jika pada ujungnya tokh logika juga yang akan menentukan; doktrin trinitas itu masuk akal atau tidak?

Dan sayangnya, lebih banyak manusia di muka bumi ini yang menganggapnya TIDAK MASUK AKAL dibanding yang mengimaninya secara buta cuma karena iming-iming jika mati nanti bakal langsung masuk sorga!

Mereka yang tidak percaya itu antara lain punya pemikiran logis kurang lebih begini:

Berdasarkan teori berbasis analogi di atas tadi, Yesus di bumi yang setiap hari, pagi, siang, sore, dan malam berdoa kepada Bapa di sorga jelas bukan Tuhan karena tidak bersatu dengan Bapa di sorga dan dengan Roh Kudus yang entah berada di mana.

Roh Kudus yang dipercaya suka keluyuran sendirian ke sana ke mari sambil tebar informasi tentang Tuhan nyatanya tidak bersama Yesus dan tidak pula bersama Bapa, dan celakanya lagi, terbukti sering sekali memberikan informasi ngaco alias tidak benar menyangkut eksistensi dan kekuasaan Tuhan. Ini juga jadi alasan kenapa Roh kudus itu tidak bisa dipercaya sebagai unsur Tuhan, apalagi sebagai tuhan itu sendiri! 

Masa sih tuhan bisa salah memberi informasi tentang segala sesuatu yang menjadi ciptaan-Nya sendiri? Yang bener sajalah!

Sedangkan Bapa di Sorga, rasanya semua agama di dunia ini percaya bahwa Dia adalah entitas mahatinggi yang menciptakan alam raya berikut seluruh isinya tanpa bantuan siapapun kecuali hanya sendiri saja!

Nah, dengan kapabilitas sedahsyat itu, tentu cuma Bapalah satu-satunya yang pantas disebut sebagai Tuhan!

Artinya, dua unsur trinitas berinisial Roh Kudus dan Yesus Kristus tadi jelas bukan tuhan karena tidak pernah terbukti mampu berperan sebagai tuhan seperti Bapa yang sekalipun sendiri, tapi diyakini oleh pengikut Paulus sebagai satu-satunya entitas yang mampu menciptakan jagad raya beserta seluruh isinya ini! Jelas ini adalah kekuasaan yang tidak mungkin ada pada siapapun kecuali pada Tuhan semesta alam!

Tegasnya, jika sendiri saja Bapa mampu melakukan hal-hal yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh makhluk manapun juga, tentu DIA tidak membutuhkan siapapun sebagai "tuhan lain" yang harus disejajarkan dengan diri-Nya cuma sekedar untuk bantu-bantu doang! 

Ini penghinaan secara terang-terangan kepada kemahakuasaan Bapa namanya! 

Padahal ribuan tahun sebelum gagasan tentang trinitas ini dicetuskan oleh Quintus Septimius Florens Tertullianus -- atau lebih dikenal sebagai Tertullian saja -- sekitar tahun 200 M, Bapa yang cuma sendiri saja itu sudah dengan sangat tegas menginformasikan kepada umat manusia melalui utusan-utusan-Nya, yaitu para nabi terdahulu, bahwa TIDAK ADA SATUPUN YANG SERUPA DENGAN DIA, dan TIDAK ADA SATUPUN YANG BOLEH DISEJAJARKAN DENGAN DIA! 

Dalam bundel buku-buku tebal bernama alkitab milik umat Paulus, penegasan itu tercatat cukup jelas dalam Kitab:

 Ulangan 4:35; 4:39; 5:7; 6:4; 33:26
 2Samuel 7:22
 Keluaran 9:14; 20:5
 Yesaya 43:11-13; 46:9; 48: 12; 54:5; 63:8-9  dan
 Hosea 13:4.

Adapun Tertullian sebagai pencetus gagasan Trinitas sama sekali tidak mampu menjelaskan lebih jauh lagi tentang teorinya itu kecuali sebatas definisi bahwa Trinitas adalah "una substantia trepersonae" (satu substansi dalam tiga pribadi) dengan sedikit tambahan begini: 

"Let us preserve the mystery of the divine economy which dispose the unity into trinity, the Father, the Son, and the Holy Spirit, three not in essence but in grade, not in substance but in form". 

Artinya:

"Marilah kita melestarikan misteri ikatan keilahian yang menjelaskan kesatuan dari yang tiga, Bapa, Anak dan Roh Kudus, tiga bukan dalam esensi, tetapi dalam tingkatan, bukan dalam substansi tetapi dalam bentuk."

Jadi, Tertullian menganjurkan pengikut Paulus agar "melestarikan misteri" trinitas, bukan karena hubungan antara ketiga unsur trinitas itu bersifat misterius, tapi lebih kepada ketidakmampuannya sendiri untuk menjelaskan trinitas secara tegas, lugas, dan tuntas!

Ini bertentangan dengan kehendak Tuhan yang tidak suka misteri, sebab jangankan bermisteri, sedangkan sudah sangat jelas diperkenalkan-Nya melalui para nabi yang menjadi utusan-Nya, termasuk melalui Yesus sekalipun, nyatanya kebanyakan manusia masih mengalami kesulitan untuk mengenali Tuhan sejati. 

Konon pula bila Tuhan "bermain-main" dengan misteri?
Urusan dengan Tuhan tidak bisa dan tidak pernah boleh dianggap sebagai main-main bung!

Perhatikanlah bagaimana jujurnya “mbahnya Romo” Trinitas, Athanasius, bercerita dalam buku The Decline and Fall of the Roman Empire yang ditulis oleh Edward Gibbon ini:

“Teolog besar Kristen Athanasius sendiri secara terbuka mengakui bahwa semakin dia memaksakan pengertiannya untuk menjelaskan ketuhanan Logos (Firman), segala daya dan upaya yang diusahakannya kandas dengan sendirinya; bahwa semakin dia berfikir, semakin dia kurang memahami; semakin banyak penulis, semakin kurang kemampuannya untuk menjelaskan jalan pikirannya sendiri”.

Baru mencoba memformulasikan hubungan Yesus sebagai Logos (Firman) dengan Tuhan Allah saja, dia sudah pusing. Belum lagi di tambah dengan “Tuhan” Roh Kudus!

Monsignor Eugene Clark mengakui konsep Trinitas sulit dimengerti. Untuk itu, menurut dia sebaiknya konsep Trinitas diterima saja walaupun tidak dimengerti.

“Tuhan itu satu, Tuhan itu tiga. Karena tidak ada yang seperti ini di alam ini, sehingga kita terima saja walaupun kita tidak mengerti”

Hubungan ketiga oknum dalam Trinitas dengan susah payah diciptakan oleh Gereja di tengah-tengah pertentangan, kontroversi dan malah pertumpahan darah. Akhirnya Pemimpin Gereja terpaksa harus mengeluarkan pernyataan untuk menerima ajaran Kristen tanpa harus menyelidikinya. 

Uskup Agung Anslem, pemimpin Gereja di Canterbury (1093-1109) dalam bukunya Prosologian I, menulis:

“Saya tidak perlu mengerti untuk percaya, tetapi saya percaya agar saya mengerti.”

Selanjutnya dalam bukunya Cur Deus Homo dia menjelaskan urut-urutan menerima "ajaran yang misterius" dalam Kristen:

“Urutan yang tepat adalah meyakini keimanan Kristen secara mendalam lebih dahulu, baru kemudian mendiskusikannya berdasarkan akal sehat. Dengan demikian, walaupun saya tidak mengerti sama sekali, tidak ada yang akan dapat mengguncang keteguhan iman saya”

Nah, jika para dedengkot kristen saja kebingungan bagaimana menjelaskan trinitas, bagaimana pula para pengekornya yang cuma sekelas odong-odong di grup ini bisa lebih baik lagi menjelaskannya?

Jadi, dengan kata lain konsep tuhan tritunggal itu pada hakekatnya cuma HOAX!
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!


[Gus Mendem]


Catatan Pinggir Sejarah Trinitas


Ketuhan Yesus ditetapkan pada konsili di Nicea tanggal 20 Mei 325M

Kaisar Romawi Constantine, menghimpun 220 uskup di Nicea tahun 325. Sebagian besar mereka berasal dari Gereja bagian Timur yang mendukung Athanasius. Kosili memutuskan mengutuk paham tauhid Arius dan mengumumkan kredo (creed) anti Arian yang dikenal dengan nama "the Creed of Nicea". Dalam konsili inilah diterbitkan S.K. Ketuhan Yesus dan sejak saat itu Yesus diresmikan sebagai Tuhan, malah sekaligus ditetapkan sebagai Tuhan yang sesungguhnya (true God), 300 tahun setelah Yesus tiada. Dalam konsili inilah Kaisar Romawi menetapkan bahwa Yesus satu zat dengan Allah (Homoousios).

"He (Jesus) is God from God, Light from Light and true God from true God" 

[Dia (Yesus) adalah Tuhan yang berasal dari Tuhan, Cahaya yang berasal dari Cahaya, dan Tuhan Sesungguhnya yang berasal dari Tuhan yang sesungguhnya]

Sejak saat itulah Tuhan menjadi dua yakni Tuhan Allah dan Tuhan Yesus yang harus dipercayai bahwa keduanya bersatu padu dalam satu zat (homoousios) sebagaimana yang diputuskan oleh Kaisar Romawi. 

Apakah ada ketetapan resmi untuk menyembah Yesus sebelum abad ke IV? Belum ada! Dalam kitab "Shepherd of Hermes" nama Yesus sama sekali tidak disebut-sebut.

"First of all belive that God is one, who has made all thing, bringing them out of nothing into being." 

[Pertama-tama percayalah bahwa Tuhan itu Esa, yang menciptakan segala makhluk, dari tidak ada menjadi ada]

Selanjutnya dalam Apostle Creed yang menurut Gereja diperkirakan ditulis oleh para rasul pada akhir abad ke-II, ada menyebut nama Yesus, tetapi bukan sebagai Tuhan yang disembah.

"And in Jesus Christ, his only Son, our Lord..." 

[Dan di dalam Yesus Kristus, anaknya yang tunggal, tuan kita]

Kredo ini telah mengalami beberapa kali tambahan dan perubahan sepanjang abad ke IV dan ke-V untuk disesuaikan dengan perkembangan ajaran kristen. Kesulitan apakah yang dihadapi Gereja sehingga dibutuhkan waktu sekian ratus tahun untuk mengangkat status Yesus dari sekedar Nabi menjadi "Tuhan penguasa alam semesta"?

Pertama, di abad pertama perkembangan agama Kristen, persoalan yang cukup berat muncul di permukaan. Bagaimana caranya agar Tuhan Filsafat Yunani yang Mulia, dan sempurna, dapat menyelamatkan manusia yang berdosa dan tidak sempurna. Untuk mengatasi hal ini, logos filsafat Yunani digunakan sebagai perantara Tuhan dan manusia. Beberapa ahli pikir Yunani yang memeluk agama kristen memandang Yesus sebagai Logos filsafat Yunani [Frost, 1989]. 

"Firman itu telah menjadi manusia dan diam diantara kita..." (Yohanes 1:14)

"... Kristus Yesus yanq walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah, itu sebaqai milik yanq harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seoranq hamba dan menjadi sama denqan manusia" (Filipi 2:5-7) Tetapi karena Logos bukan Tuhan maka praktis Yesus pun bukan Tuhan.

Ketika Gereja mulai berusaha mengangkat status Yesus menjadi Tuhan, problem lain tampil ke permukaan. Bagaimana caranya mengangkat status Logos yang lebih rendah dari Tuhan ini menjadi setara dengan Tuhan. Untuk mengatasi hal ini, Gereja memperkenalkan ide Logos (Firman) adalah Tuhan Allah. 

"Pada mulanya adalah Firman Logos Firman Logos itu bersama-sama dengan Tuhan dan Firman Logos itu adalah (dari) Allah. la Logos pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia Logos dan tanpa Dia (Logos) tidak ada sesuatu pun yanq telah jadi dari seqala yanq telah dijadiakan" (Yohanes 1:1-3) 

Paham penyembah berhala ini digunakan sebagai senjata pamungkas oleh para penginjil (termasuk Hamran Ambrie) untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dengan menempatkan Yesus sebagai Logos penyembah berahala. Dengan demikian, tuhan Allah (yang "katanya" adalah Logos) yang berada di sorga sudah turun ke bumi mengambil bentuk manusia dalam diri Yesus. Dalam buku "Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal", hal 94, 

Hamran Ambrie mengatakan: "Dulu wahyu melalui mimpi etc. disebut Firman, tetapi kemudian (setelah ajaran Kristen dicemari filsafat Yunani), Firman itu sendiri menjadi daging kehiduopan melalui kelahiran seorang manusia Maria, maka penyebutan firman itu pun berubah menjadi "Anak Allah". 

Catatan: tambahan dalam kurung dimaksudnya untuk memperjelas. Konsep penyembahan berhala sudah ranum ini, akhirnya tersaji dalam SK Ketuhanan Yesus yang disponsori bersama oleh Kaisar Romawi, Constantine dan para pemimpin Gereja pada Konsili di Nicea 20 Mei 325M.

Dapatkah kita menganggap the Creed of Nicea sebagai formulasi dan definisi Trinitas?

Tidak! 
Karena Konsili tidak pernah menganggap Roh Kudus sebagai Tuhan atau sesuatu yang harus disembah. Dalam konsili tersebut tidak pernah dibahas tentang Roh Kudus. Nanti belakangan, Gereja kemudian menambahkan kalimat tentang Roh Kudus dalam kredo tersebut (Karen Armstrom 1993). "And in the holy Spirit" (Dan dalam Roh Kudus).

Lalu siapa yang pertama memberikan perhatian serius terhadap status Roh Kodus? 

Athanasius! 
Sampai dengan pertengahan abad ke-IV perhatian Gereja dicurahkan pada bagaimana bentuk dan corak hubungan antara Bapa (Tuhan) dan Anak (Yesus). Kalimat yang baru ditambahkan dalam Kredo: dan dalam Roh Kudus, memperlihatkan betapa kecilnya perhatian yang diberikan terhadap status Roh Kudus. Dalam tulisannya "Oration Aqainst the Arians 2:24, 33", athanasius mempromosikan ketuhanan Yesus tanpa menyinggung-nyinggung Roh Kudus. Selanjutnya pada suratnya kepada Serapion berubahlah dia berbicara tentang status Roh Kudus.

S.K. untuk menyembah Roh Kudus di tetapkan? 

Pada Konsili di Konstantinople yang didelenggarakan dari bulan Mei s/d Juli 381M. Konsili ini dapat dikatakan Konsili para pemimpin Capadocian yang mendukung Trinitas. Gregory dari Nazianzus (329-389M), yang merupakan tokoh Capadocian memperkenalkan formula Trinitas dalam bukunya "Five Theological Oration", hal. 39:

"Godhead is one in three and the three are one.... " 

[Kesatuan Tuhan itu adalah satu dalam tiga dan ketiganya adalah satu]

Dia memainkan peranan penting dalam menggolkan ajaran Trinitas dalam konsili. Kaisar Theodorius yang merupakan pendukung Ketuhanan Yesus ingin sekaligus menghabisi paham Tauhid Arius. Dalam konsili inilah untuk pertama kali dinyatakan bahwa Roh Kudus harus disembah. 

"And in the Holy Spirit, the Lord and life giver, who proceeds from the Father. Toqether with the Father and the son he is worshipped and glorified." 

[Dan dalam Roh Kudus, Tuan dan pemberi hidup, yang datang dari bapa. Bersama dengan Bapa dan Anak dia disembah dan dimuliakan]

Jadi, apakah Konsili di Constantinople memutuskan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan? 

Tidak! 
Walaupun dalam Konsili ini Roh Kudus dinyatakan sebagai obyek yang disembah, tetapi belum dinyatakan sebagai Tuhan.

Konsili ini juga dihadiri oleh 36 Uskup Macedonia yang menentang keras segala bentuk penyenbahan terhadap Roh Kudus. Mereka berpendirian bahwa Roh Kudus hanyalah makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu dia bukan Tuhan, sehingga tidak perlu disembah. Namun karena para uskup Capadocia jumlahnya lebih banyak sehingga para uskup Macedonia kalah. Dalam penentuan apakah Roh Kudus adalah Tuhan atau tidak, bantahan mereka masih didengar. Namun ketika para uskup Capadocia ngotot untuk menyembah Roh Kudus, akhirnya para uskup Macedonia menyerah dan meninggalkan ruangan konsili (walk out). 

Lalu kapan ide lengkap tentang Trinitas pertama kali dijelaskan oleh Athanasius?

Antara tahun 359-360M, ketika Athanasius didesak untuk menghadapi kelompok Tropici dari Mesir yang mengajarkan bahwa Roh Kudus hanya sekedar makhluk yang diciptakan dari tidak ada menjadi ada. Uskup mereka, Serapion, yang tidak mampu menghadapi mereka meminta tolong pada Athanasius. Dalam suratnya "Letter to Serapion", Atahnasius untuk pertama kalinya menjelaskan secara detail tentang Teologi Trinitas.

Apakah Athanasian Creed merupakan formulasi yang ditampilkan oleh Athanasius kepada Serapion? 

Tidak! 
Athanasian Creed bukanlah sebuah kredo dan juga tidak ditulis oleh Athanasius. Gereja yang tidak tahu siapa penulis Athanasian Creed, menganggapnya di tulis oleh Athanasius hanya karena dia dianggap sebagai pencipta ajaran Trinitas.

Athanasian Creed yang diperkirakan ditulis pada abad ke VI menetapkan sesuatu yang dapat dianggap sebagai formulasi dan fefinisi akhir dari Trinitas. Ketetapan penting yang tercantum dalam Kredo ini adalah diumumkannya S.K. Ketuhanan Roh Kudus.

"Thus the Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God. Yet there are not three God but only one God." 

[Jadi, Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun bukan tiga Tuhan tetapi hanya satu Tuhan]

Yesus sama sekali tidak dapat menerima mereka yang menyembahnya, dengan mengikuti ajaran penyembah berhala yang diajarkan oleh manusia (Plato dan Zeno). Sementara Yesus sendiri mengajarkan pada umat Israel untuk hanya menyembah Allah.

"Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaku. Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan a jaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia" (Matius 15:8-9) Berbagai kredo yang dihasilkan oleh konsili bukan merupakan penjelasan atau konfirmasi dari Allah atau Yesus tentang siapa Tuhan sebenarnya, melainkan sekedar pertarungan antar pendapat yang selalu dimenangkan oleh kelompok yang didukung Kaisar. Hal ini dijelaskan oleh Uskup John Shelby Spong dalam bukunya: Why Christian must Change or Die, 1998, hal 18.

"The purpose of every written creed historically was not to clari f y the truth o f God. It was, rather, to rule out some contending point o f view." 

[Tujuan dari setiap kredo (yang dihasilkan di setiap konsili) bukan untuk menjelaskan siapa sesungguhnya Tuhan, tetapi sekedar untuk menyingkirkan pendapat yang tidak sejalan (dengan yang dianut Kerajaan dan Gereja)] 

Oleh karena itu Yesus tidak punya urusan dengan ajaran maupun definisi Trinitas sebagaimana yang dianut oleh umat Kristiani saat ini. Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas kepada murid-muridnya, apalagi bermimpi bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas. Hal ini ditegaskan oleh A.N.Wilson dalam bukunya Jesus A Live, 1992, hal XIV:

"I had to admin that I found it impossible to believe that a first century Galilean holy man (Jesus) had at any time of his life believed himself to be the Second Person of the Trinity. " 

[Saya harus mengakui bahwa memang musthahil untuk mempercayai bahwa orang suci dari Galilea di abad ke-I (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya merasa dirinya sebagai oknum kedua dari Trinitas]

Gerejalah yang menciptakan Matius 28:19 dan menyuapkannya kepada Yesus untuk diucapkan. "Karena itu pergilah, jadikanlah senua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus".

Apa yang diajarkan oleh Yesus adalah tauhid (Ke-Esa-an Allah). Filsafat Platonis dan Stoic yang diajarkan Plato (?-347SM) dan Zeno (?-263SM) tentang Logos menjadi jembatan untuk mempertuhankan Yesus menuju konsep Trinitas yang dinanti-nantikan para penyembah berhala untuk dikawinkan dengan ajaran Kristen. Ajaran tiga Tuhan dalam satu yang dianut para penyembah berhala inilah yang menginspirasi para pemimpin Gereja unutk mengembangkan ajaran tersebut dalam Kristen. Upaya para pemimpin Gereja yang saat itu dikenal dengan golongan Apologis untuk mengawinkan ajaran filsafat Yunani dengan ajaran Kristen dijelaskan oleh Paul Tilich dalam bukunya A History of Christian Thought sebagai berikut:

"The Apologist arose to attempt a joining of Christianity dan Greek thought" 

[Para pemimpin Gereja yang umumnya Aplogis - mereka yang ingin mengawinkan filsafat Yunani dengan ajaran Kristen) bangkit untuk mencoba mengawinkan ajaran Kristen dengan filsafat Yunani]

Di satu pihak umat Kristen memiliki Yesus yang diambil dari Yahudi, sememtara dipihak lain, para pengikut ajaran Platonis dan Stoic memiliki Logos yang diambil dari Plato (?-347SM) dan zeno (?-263SM). Hasil akhir dari perpaduan keduanaya yang diterima oleh umat Krsistiani adalah Logos Yesus. Yesus bukan lagi sekedar seorang Nabi Isa untuk bani Israel, tetapi sudah berubah menjadi Yesus baru yang penuh dengan embel-embel Platonis dan Stoic- Yesus Kristus anak Allah, perantara antara Tuhan dan manusia, Tuhan dan juru selamat.

Athanasius kemudian menambahkan satu Tuhan lagi yakni Roh Kudus untuk melengkapi Ketuhanan Kristen menjadi Tiga dalam Satu (Trinitas), persis seperti ajaran Ketuhanan Agama Mesir, dimana Athanasius berdomisili. Pengaruh agama Mesir terhadap Kristen dijelaskan oleh Cave sebagai berikut: 

"The Trinity was a major preoccupation of Egytian theologians.... Three gods are combined and treated as single being, addressed in the singular. In this way the spiritual force of Egyptian religion shows a direct link with Christian theology" 

[Trinitas merupakan paham utama para penganut agama Mesir.... Tiga Tuhan bersatu dan diperlakukan sebagai satu, yang disebut esa. Dalam hal ini nampak kekuatan spiritual agama Mesir yang langsung mempengaruhi agama Kristen]

Apa saja yang ditetapkan oleh Kaisar Romawi dan para pemimpin Gereja dianggap benar, sah dan berlaku untuk umat pada saat itu. Kebenaran dalam Kristen berubah dari satu konsili ke konsili lainnya. Kebenaran sangat tergantung kepada golongan mana yang mayoritas dalam konsili, atau golongan mana yang didukung oleh Kaisar Romawi. 

Oleh karena itu, kutuk mengutuk dalam setiap konsili merupakan hal yang lumrah. Ignatius dalam suratnya kepada orang-orang Smyrna mengatakan: 

"Where the bishop is, there the congregation should be Prophets who appear may be riqht or wrong, but the bishop is right, because the bishop were the representative of the true doctrine." 

[Apa saja pendapat sikap uskup, jemaat harus mengikutinya. Para Nabi boleh benar atau salah, tetapi uskup selalu benar, karena uskup adalah yang mewakili ajaran yang benar]

Keputusan-keputusan Gereja yang di luar ajaran Yesus dilindungi oleh hukum keimanan (regulafidei). Apa yang sudah diyakini dan diucapkan oleh pemimpin Gereja menjadi hokum yang mutlak berlaku, walaupun tidak ada dasarnya atau tidak sejalan dengan Alkitab. Alhasil ajaran Trinitas tumbuh subur dan berkembang dari satu konsili ke konsili lainnya, bukan karan ajaran Trinitas merupakan ajaran yang dipetik dari ajaran murni Yesus, tetapi karena kaisar Romawi mendukung ajaran ini menjadi ajaran resmi kerajaan.

Mereka hidup siang malam dengan Yesus. Saudara-saudaranya, ibunya, familinya melihat Yesus lahir dan tumbuh sebagai seorang bayi. Dalam kenyataan seperti itu, mereka tentu tidak mungkin membayangkan bahwa yang menangis dalam ayunan atau basah guritanya adalah Tuhan yang pernah berpartisipasi dalam penciptaan jagat raya atau penguasa alam semesta. Begitu pula murid-murid seta para pengikutnya. Mereka melihat Yesus sebagai seorang Rabi (guru) mengajarkan Taurat dan berkhotbah di rumah ibadat setiap hari sabtu. Dari berbagai sumber yang dapat diperolah, tidak satu pun pertanda bahwa Yesus pernah disembah sebagai Tuhan di Rumah Ibadat. Murid dan pengikutnya mengenal dirinya sebagai pemimpin mereka, sebagai tuan mereka, malah sebagai nabi, tetapi sama sekali mereka tidak akan pernah menganggap bahwa yang naik berkhotbah di mimbar adalah "Tuhan penguasa alam semesta."

"Dan mereka berusaha menangkap Dia, tetapi mereka takut kepada oranq banyak karena orang banyak itu mengangap dia nabi." (Matius 21:46) 

Yesus telah mengajarkan syahadah sebagai pegangan bagi murid-murid dan pengikutnya agar tidak tercampak ke neraka. 

"Inilah hidup yang kekal itu (masuk sorga), yaitu bahwa mereka menqenal Engkau (Allah) satu-satunya Tuhan yang benar. Dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus." (Yohanes 17:3)

Apakah benar bahwa Yesus bukan Tuhan yang harus di sembah? 

Ya, benar!
  1. Yesus mengajari umatnya agar hanya menyembah Allah. Dia tidak pernah memerintahkan murid-muridnya untuk menyembah dirinya dengan alasan bahwa Allah berada di dalam dirinya. "Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah Engkau berbakti" (Matius 4:10) "Karena itu berdoalah demikian: 'Bapa kami yang di sorga"'(Matius 6:9)
  2. Yesus adalah guru Yahudi yang mengajarkan Taurat untuk hanya menyembah Tuhan Allah. "Denqarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa".(Markus 12:29) Kata "Tuhan itu Esa" berarti Tuhan tidak ada dalam diri Yesus. Andaikata Tuhan itu adalah dirinya, atau ada dalam dirinya, maka dengan tegas beliau akan mengatakan "Tuhan ini" sambil menunjuk dirinya.
  3. Ketika Yesus akan ditangkap di taman Getsemani; "Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri" (Markus 14:50)
Coba bayangkan!
Ketika "Tuhan" dalam keadaan genting, mereka justru lari tunggang langgang meninggalkan dia. Kepada siapa murid-muridnya mencari perlindungan? Kepada setan? Bukankah yang mereka tinggalkan itu adalah Tuhan? Padahal "katanya" segala kuasa di sorga dan di bumi telah diserahkan oleh Tuhan Allah kepada "Tuhan" Yesus? (Matius 28:18)

Jika memang murid-murid Yesus yakin bahwa Yesus adalah Tuhan Penguasa Alam Semesta, dimana segala kuasa disorga dan di bumi sudah diberikan kepada beliau, untuk apa mereka lari? Ini ikut membuktikan bahwa Matius 28:18 adalah ayat palsu yang tidak pernah diucapkan oleh Yesus. 

Di sinilah akal sehat yang dianugrahkan Allah perlu digunkan untuk menyaring mana yang masuk akal, mana yang tidak. Jika Tuhan berkehendak, cukup sekali tiup saja, tentara Romawi sudah pasti akan berterbangan seperti potongan kertas di hempas badai!

Tetapi tidak! Mereka menyadari bahwa Yesus adalah pemimpin mereka. Namun mereka tidak pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan yang mereka sembah. Buktinya dalam keadaan kepepet, mereka lebih memilih menyelamatkan diri masing-masing dan membiarkan "Tuhan" mereka ditangkap dan dihukum salib oleh tentara Romawi!

Sekarang, perhatikan ini:

Syahadat Nicea: 

Credo in unum Deum, Patrem Omnipotentem 
Aku percaya akan satu Allah, Bapa yang Maha Kuasa, 

factorem caeli et terrae, visibilium omnium et invisibilium. 
Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan 

Et in unum Dominum Iesum Christum, Filium Dei Unigenitum, 
Dan akan Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang Tunggal, 

Et ex Patre natum ante omnia saecula. Deum de Deo, lumen de lumine, 
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad. Allah dari Allah, terang dari terang. 

Deum verum de Deo vero. Genitum, non factum, Consubstantialem Patri 
Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa 

per quem omnia facta sunt. 
segala sesuatu dijadikan olehnya. 

Qui propter nos homines et propter nostram salutem descendit de caelis. 
Ia turun dari sorga untuk kita manusia, dan untuk keselamatan kita. 

Et incarnatus est de Spiritu Sancto 
dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus 

ex Maria virgine et homo factus est. 
dari Perawan Maria dan menjadi manusia. 

Crucifixus etiam pro nobis sub Pontio Pilato, 
Ia pun disalibkan untuk kita waktu Pontius Pilatus 

passus et sepultus est. 
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan. 

Et resurrexit tertia die secundum Scripturas. 
Pada hari ketiga Ia bangkit, menurut Kitab Suci. 

et ascendit in caelum, sedet ad dexteram Patris. 
Ia naik ke sorga, duduk di sisi kanan Bapa 

Et iterum venturus est cum gloria, iudicare vivos et mortuos, 
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati; 

cuius regni non erit finis. 
KerajaanNya takkan berakhir. 

Et in Spiritum Sanctum, Dominum et vivificantem, 
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; 

qui ex Patre (Filioque)* procedit. 
Ia berasal dari Bapa (dan Putra)* 

Qui cum Patre et Filio simul adoratur et conglorificatur: 
Yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan. 

qui locutus est per prophetas. 
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi 

Et unam, sanctam, catholicam et apostolicam Ecclesiam. 
Aku percaya akan Gereja yang satu, kudus, katholik* dan apostolik. 

Confiteor unum baptisma in remissionem peccatorum. 
Aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa. 

Et expecto resurrectionem mortuorum, 
Aku menantikan kebangkitan orang mati, 

et vitam venturi saeculi. Amen. 
dan kehidupan di akhirat. Amin. 

Sungguh ribet dan membingungkan bukan?

[Sumber: Bigaku | KOMPASIANA]





Miskonsepsi Trinitas dan ketuhanan Bunda Maria?

Published on facebook January 6, 2012 at 2:03 PM

Di antara keistimewaan Islam adalah apabila berada pada posisi dicerca, dihina, dan dimarginalkan maka yang terjadi justru sebaliknya. Semakin Islam disudutkan maka semakin terlihat kebenaran ajaran dan kesesuaiannya dengan fithrah manusia. 

Agama ini memiliki kemampuan berinteraksi dengan manusia dari berbagai kalangan menurut kadar akalnya masing-masing. Mungkin inilah rahasia mengapa Islam selalu berhasil menundukkan peradaban yang memusuhinya.

Terbukti di sejumlah negara seperti Amerika, Inggris, Belanda, dan negara Barat lainnya yang mengalami kondisi kekosongan spiritual, mulai menunjukkan geliat sebagian penduduknya menuju Islam. Munculnya kartun berisi penghinaan terhadap nabi di surat kabar Jylland Posten atau beredarnya film Fitna yang menghujat Islam hanya merupakan percikan kecil di antara kekhawatiran akan menguatnya syariat Islam di belahan dunia Barat.

Barat juga telah memunculkan sejumlah karya tulis yang menunjukkan kecemasan yang sama. Di antaranya adalah karya Robert Morey bertitle “Islamic Invasion: Confronting the World’s Fastest Growing Religion”.

Dari judulnya saja telah nampak sebuah wajah “ketakutan”. Hatta buku tersebut dikemas dengan “bergaya” sebagai karya tulis ilmiah, namun nyatanya isinya tidak seilmiah kemasannya. Motif kebencian dan islamophobia sedemikian menyeruak dan nampak berpengaruh besar terhadap obyektifitas kajian, tentu saja jika Barat masih mau berfikir tentang subyektif, obyektif, atau pun netralitas. Tidak mengherankan jika sejumlah kalangan muslim meminta buku tersebut dibredel dari peredaran. Namun menurut pendapat umum tindakan demikian kurang bijaksana. Justru buku tersebut merupakan sebuah simbol, asset, dan bukti monumental “kebencian” Barat yang katanya humanis. Fungsinya sebagai salah satu pijakan untuk melihat salah satu struktur dan pola pikir Barat dalam melihat Islam. Pada giliran selajutnya membalikkan keadaan dan akan semakin nampak keunggulan konsep Islam di antara yang lain.

Dalam salah satu tulisannya, Morey mempermasalahkan posisi Maryam dalam Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 73-75 dan 116. Al-Qur'an, dalam pandangan Morey, mengandung kesalahan kosep dalam mengungkapkan doktrin trinitas Kristen. Muhammad, tulis Morey, secara keliru menganggap bahwa umat Nashrani menyembah 3 (tiga) tuhan yaitu : Bapa, Ibu (Maryam), dan Anak (Isa).[1] Guna memperkuat argumentasinya, Morey juga mengutip pendapat Richard Bell dan Encyclopaedia Britanica yang menegaskan bahwa Al-Qur'an memiliki kesalahan konsep tentang trinitas dan Muhammad sebagai penulis Al-Qur'an kurang memahami hal tersebut.[2]

Morey menambahkan bahwa umat Kristiani tidak pernah mengimani tiga Tuhan dan Maria bukan merupakan salah satu oknum dalam ketuhanan Trinitas sebagaimana konsep dalam Al-Qur'an. Morey sendiri nampaknya telah menjadi sedemikian yakin dengan argumentasinya yang didukung oleh sejumlah ‘kebingungan’ penulis dari kalangan Islam tentang tafsir ayat tersebut. Lantas, benarkah Al-Qur'an telah salah ketika menyebutkan bahwa Maryam pernah disembah sebagai tuhan?

FAKTA YANG DILUPAKAN
Ayat Al-Qur'an yang dipermasalahkan oleh Robert Morey adalah Surat Al Maidah ayat 73 sampai 75 sebagai berikut:

73. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.

74. Maka Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

75. Al masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang Sesungguhnya Telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. perhatikan bagaimana kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), Kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat kami itu).

Juga ayat dalam Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 116 sebagai berikut:

116. Dan (Ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah Aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika Aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan Aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Permasalahan pertama yang akan kita bahas terkait konsep penyembahan terhadap Maryam dalam dunia Kristen. Robert Morey secara tegas menolak posisi Maryam sebagai salahsatu Tuhan dari oknum ketuhanan trinitas. Nampak bahwa Morey telah mempersulit dirinya sendiri pada tahap awal dengan menempatkan realitas antara penuhanan Maryam dengan keanggotaannya sebagai salahsatu oknum trinitas.

Senada dengan Morey, Geoffrey Parrinder menyatakan bahwa ayat Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 116 sulit dipahami dalam kekristenan. Menurut Parrinder pada abad V, Nestorius, seorang bangsawan Konstantinopel, telah memprotes penggunaan gelar ”ibu Tuhan” (theotokos, god-bearer) yang berkembang dan diterapkan kepada Maryam. Nestorius menyatakan, seharusnya digunakan kata ’ibu manusia’ Yesus (anthropotokos); ibu Kristus (cristo-tokos).

Nestorius juga tidak bersedia mengakui penggunaan frase seperti itu yang berarti bahwa ”Tuhan telah dilahirkan” dan ”Tuhan telah mengalami penderitaan” sebagaimana banyak digunakan pada hari ini. Nestorius mengajarkan bahwa Yesus adalah organ bejana dan kuil bagi anak Tuhan. Karena pemahaman inilah maka gereja Nestorian akhirnya terpisah.[3]

Bambang Noorsena, tokoh Kristen Orthodoks Syria, nampaknya juga memberikan pengakuan bahwa bentuk pseudotrinity yang terdiri dari Allah, Isa, dan Maryam adalah sebuah realitas yang pernah terjadi. Namun Noorsena membatasi bahwa reaksi Al-Qur'an yang kerap kali kritis terhadap sejumlah keyakinan Kristen, tidak semua didasarkan atas kekristenan yang orthodoks. Penilaian Islam tentang Kristen, menurut Noorsena, tidak ditujukan pada kekristenan yang lurus dan benar, namun lebih ditujukan kepada praktik-praktik sekte-sekte Kristen yang sesat dan menyimpang (heterodoks).[4] Hakikatnya, Noorsena mengakui bahwa praktik penuhanan terhadap pribadi Maryam bukanlah sebuah omong kosong, namun merupakan fakta historis.

Sebagai sebuah realitas historis, sisa-sisa penyembahan terhadap Maryam masih dapat ditemukan hingga hari ini. Di sejumlah wilayah Eropa, termasuk Polandia, bahkan Inggris Raya dan Perancis Selatan, menurut survey yang dilakukan oleh Ean Begg pada tahun 1985, masih ditemukan patung bunda Maria yang berwarna hitam yang dikenal dengan sebutan black virgin atau Black Madonna.[5] Patung tersebut sengaja dibuat untuk dipuja atau disembah sebagai tuhan. Bahkan patun-patung tersebut selalu diasosiasikan dengan sejumlah situs pemujaan kaum pagan dari masa yang jauh lebih kuno.[6]

Ditengarai bahwa penyembahan terhadap pribadi Maria merupakan hasil proses adopsi dan perkembangan dari pemujaan terhadap sejumlah dewi pagan yang memiliki kisah kehidupan sama persis dengan kisah Yesus dan Ibunya, Maria.

Dalam kebudayaan paganisme dikenal Bacchus (Dionysius) yaitu dewa matahari Yunani yang lahir dari kandungan seorang perawan bernama Demeter yang mengandung dari benih Dewa Jupiter tanpa hubungan badan. Bacchus lahir pada tanggal 25 Desember dan terbunuh untuk menebus dosa manusia. Dikisahkan pula bahwa Bacchus kemudian bangkit kembali dari kematiannya.[7]

Bangsa Mesir juga mengenal Osiris, dewa matahari yang lahir pada 25 Desember dari kandungan seorang perawan yang disebut ’Perawan Dunia’. Osiris memiliki 12 orang murid. Salah satu muridnya yang bernama Typhone berkhianat hingga menyebabkan kematian Osiris. Setelah bersemayam selama tiga hari dalam kuburnya, Osiris bangkit kembali dari kematiannya. Ia diyakini sebagai inkarnasi Tuhan dan merupakan salah satu dari oknum trinitas 3 Dewa di Mesir.[8]

Demikian juga dalam cerita mithologi yang lain tersebutlah Mithra yang lahir pada tanggal 25 Desember. Memiliki pemujaan yang dilakukan setiap hari Minggu. Mithra adalah seorang juru selamat yang menebus dosa manusia. Dia tidak disalib namun mengurbankan lembu suci yang darahnya mensucikan dan menebus dosa manusia. Lembu itu tidak lain adalah inkarnasi dari sang Mithra sendiri. Perayaan Mithra biasanya ditandai dengan keberadaan pohon terang.

Penyembahan terhadap sosok ibu Tuhan umumnya terjadi dalam kepercayaan pagan yang dsebutkan di atas. Masing-masing wilayah penyembah paganisme memiliki Tuhan Ibu dan Anak. Di Jerman, Hertha disembah sebagai ibu suci dengan anak dipangkuannya. Di Scandinavia, Disa disembah sebagai tuhan ibu dengan anak dipangkuannya juga. Sedangkan di Romawi purba, Venus atau Fortuna juga dipuja sebagi tuhan Ibu bersama Jupiter anaknya.[9]

Ralph Edward Woodrow dalam buku Babylon Mysteri Religion mengutip buku Frazer, The Golden Bought Volume 1 Halaman 356 menjelaskan fakta bahwa penyembahan terhadap Tuhan Ibu dan Tuhan Anak telah menyebar dan merasuk kepada masyarakat kerjaan Romawi dan sekitarnya. Hal tersebut iungkapkan oleh Woodrow sebagi berikut:

“The Worship of Great Mother … very popular under the Roman Empire, unscriptions prove that the two (the mother and the child) receive divine honors, … not only in Italy and especially at Rome, but also in the provinces, particularly in Arican, Spain, Portugal, France, Germany, and Bulgaria”.[10]

Akibatnya bisa dipastikan, penyembahan Tuhan Ibu dalam Kristen tidak dapat dihindari setelah para penyembah berhala dari Romawi, Yunani, Babilonia, dan Mesir memeluk ajaran Kristen. Dalam agama barunya tersebut para mantan penyembah berhala tidak mendapatkan penyaluran yang sesuai dengan semangat penyembahan Tuhan Ibu. Padahal mereka belum dapat sepenuhnnya meninggalkan ajaran paganisme. Woodrow menulis bahwa kompromi pun terjadi, pihak gereja mencarikn padnan terhadap figure ibu yang disembah oleh kaum mantan kaum pagan dalam khazanah kekristenan. Tuhan Ibu yang dimaksud tidak lain adalah Maria, Ibu Yesus.

“One of the best example of such a carry over from paganism may be seen in the way the worship o the great mother continued – only in a slightly different form and with a new name. You see many pagans had been drawn to Christianity, but so strong was their adoration for the mother goddess, they did not want to forsake her. Compromising church leaders saw that if they could find some similarity in Christianity with the worship of the mother goddess, they could greatly increase their numbers … but who could replace the great mother of paganism? Mary, of course was the most logical person for them to choose … little by little, the worship that had been associated with the pagan mother was transferred to Marry”.[11]

Maka tidak mengherankan pasca munculnya kritik Nestorius yang menolak istilah “bunda Tuhan”, gereja justru mengukuhkan posisi Maria sebagai Theotokos atau Ibu Tuhan dalam Konsili Efesus tahun 431 M. Salah satu butir yang dihasilkan dalam konsili tersebut adalah sebagai berikut : “Menurut pengertian bahwa kesatuan ini tidak mencampur adukkan, kami mengaku bahwa anak dara kudus adalah theotokos (bunda Allah), karena Allah Firman menjelma menjadi manusia dan sejak pembuahan-Nya menyatukan pada diri-Nya bait yang diambil daripadanya (Maria)”.[12]

Berdasarkan informasi Ibnu Patrick, seorang sejarawan dan padri Kristen, menjelang Konsili Nicea 325 M dari jumlah peserta keseluruhan 2.048 orang terdapat sebagian peserta dari mahzab Mariamites dan Remitim yang berpendapat bahwa Yesus dan Ibunya adalah 2 (dua) Tuhan selain Bapa.[13]

Selain itu terdapat aliran Ebionit yang secara jelas juga memuja Maria sebagai Tuhan Ibu. Penganut aliran Ebionit dikenal sebagai aliran yang para penganutnya menggunakan bulu domba sebagai pakaian. Bulu domba tersebut dikenakan agar mereka dapat hidup dalam kesederhanaan. Dalam hal ini tradisi mereka mengenakan kulit domba sebagai pakaian mirip dengan tradisi kaum sufi generasi awal dalam Islam yang menutamakan kezuhudan. Gambaran tentang cara berpakain kaum Ebionit ini dapat kita lihat kemiripannya dengan kisah Perjanjian Baru dalam Ibrani 11: 37.

Tentang apakah penyembahan terhadap Maria adalah bentuk Kekristenan heterodoks yang menyimpang maka biarlah waktu yang akan menentukan. Sebab sejumlah pertarungan keyakinan yang medasar dalam dunia Kristen bahkan belum selesai hingga hari ini.

Sebut saja pertarungan antara kaum Trinitarian dan Unitarian. Satu pihak mengakui trinitas dengan sejumlah argumentasinya dan dipihak lain menolaknya dan menganggap bahwa Yesus hanya seorang nabi dan bukan Tuhan. Sedangkan bagi seorang penganut Kristen, terkait masalah penyembahan dan Ketuhanan Maria tentu akan lebih menguntungkan jika hal ini terhapus saja dari ingatan sejarah.

Masalah trinitas yang diakui mayoritas dunia Kristen dewasa ini juga bukan tanpa cacat sejarah. Konsili Nicea pada 325 Masehi, menurut informasi Ibnu Patrick, dihadiri oleh 2.048 orang peserta yang terdiri diri para uskup. 318 (tiga ratus delapan belas) orang diketahui sebagai pendukung konsep ketuhanan Yesus. Sedangkan 700 (tujuh ratus) orang uskup merupakan pendukung Arius yang menolak hakikat ketuhanan Yesus, dan sisanya memiliki sejumlah kepercayaan yang berbeda, termasuk yang mempercayai Ketuhanan Maria. Namun, anehnya berkat prakarsa Kaisar Konstantin, hanya pendapat 318 orang (pendukung ketuhanan Yesus) tersebut yang kemudian dimenangkan. Jelas kaisar Konstantin telah memerankan agenda politik pribadinya dengan sukses.

Lantas, di mana letak kesalahan atau miskonsepsi Al-Quran tentang trinitas Kristen? Al-Qur'an jelas dalam ayat tersebut tidak membahas tentang trinitas. Hal tersebut hanya merupakan bagian dari upaya Robert Morey dalam menyudutkan Islam. Namun jawaban atas pertanyaan; ”Apakah Al-Qur'an salah?” jawabnya adalah ”Tidak!

Justru kehebatan Al-Qur'an adalah mampu memberikan isyarat bagi pengungkapan kebenaran sejarah, dimana dunia pun telah berusaha secara maksimal untuk melupakannya.

Tuduhan Robert Morey bahwa Al-Qur'an memiliki kesalahan konsepsi tentang trinitas terbukti tidak benar. Konsep Trinitas dalam dunia Kristen sendiri mengalami perkembangan dari masa ke masa termasuk bersentuhan dengan sejumlah peradaban dan kepercayaan lainnya. Kebenaran lain yang terungkap justru teletak pada ketidakbenaran pemahaman Morey terhadap sejarah agamanya sendiri. Sehingga bukunya ”Islamic Invasion” sering diwarnai dengan pemahaman yang tidak berdasar. Sebuah pemikiran yang hanya lahir didasarkan pada kebencian fanatis yang menutup semua pemikiran akal sehat orang waras.



Baca juga:


CATATAN KAKI:
  1. Robert Morey. Islamic Invasion : Confronting the World’s Fastest Growing Religion. (Christian Scholar Press, Las Vegas, 1992). Hal 185
  2. Robert Morey. Ibid. Hal. 186
  3. Geoffrey Parrinder. Yesus dalam Quran. (Terj. oleh Ali Masrur, ett. all). (Bintang Cemerlang, Yogyakarta, 2002). Hal. 88
  4. Bambang Noorsena. Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam. Cetakan IX. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2001). Hal. 6-7
  5. Burton L. Mack. The Lost Gospel: The Book of Q and Christian Origins. (Element Books, Shaftesbury, 1994). Hal. 51 dalam Lynn Picknet and Clive Prince. The Templar Revelation : Secret Guardians of The True Identity of Christ. Edisi Indonesia : The Templar Revelation : Para Pelindung Sejati Identitas Kristus. (Bantam Press, 1997). Terjemah oleh FX Dono Suhadi. Cetakan II. (Serambi, Jakarta, 2006). Hal. 121
  6. Lynn Picknett dan Clive Prince. Ibid. Hal. 33
  7. Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Kristen dan Agama Berhala. (Modus Vol. 1 No. 9 Th. II/2004). Hal. 46
  8. Rationalist Encyclopedia. Artikel tentang Attis dalam Dr. Hamid Qadri. Ibid. Hal. 46
  9. Tim Redaksi. Tuhan Ibu dan Ibu Tuhan. (Modus Vol. 1 No. 5/Th. II/ 2004). Hal. 25
  10. Tim Redaksi. Ibid. Hal. 26
  11. Tim Redaksi. Ibid. Hal. 28
  12. Tony Lane. The Lion Concise Book of Christian Thought. (Lion Publishing, England, 1984). Edisi Indonesia : Runtut Pijar Pemikiran Kristiani. Terjemah oleh Conny Corputy. (BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1990). Hal. 47
  13. Prof. Sjech Abuzahrah. Muhadlarat fi an Nasrabiyah. Edisi Indonesia: Tindjauan Tentang Agama Masehi. (AB. Sitti Sjamsijah, Surakarta, 1969). Hal. 140. Juga DR. Rauf Syalabi. Ya ahl al Kitab Ta’alaw ila kalimat sawa’. Edisi Indonesia: Distorsi Sejarah dan Ajaran Yesus. (Pustaka Alkautsar, Jakarta, 2001). Hal. 127