Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Teologi Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teologi Kristen. Tampilkan semua postingan

Teologi Perjanjian Baru

Perjanjian Baru (bahasa Yunani Koine: Ἡ Καινὴ Διαθήκη, Hē Kainḕ Diathḗkē), atau biasa disingkat PB, merupakan bagian utama kedua kanon Alkitab Kristen, yang bagian pertamanya adalah Perjanjian Lama (PL) yang utamanya didasarkan pada Alkitab Ibrani. Perjanjian Baru berbahasa Yunani ini membahas ajaran-ajaran dan pribadi Yesus, serta berbagai peristiwa dalam Kekristenan pada abad ke-1. Umat Kristen memandang PB bersama-sama dengan PL sebagai kitab suci. PB (baik sebagian maupun secara keseluruhan) telah sering kali menyertai penyebaran agama Kristen di seluruh dunia. Selain itu PB juga dianggap mencerminkan dan berfungsi sebagai suatu sumber bagi moralitas dan teologi Kristen. Berbagai frase dan bacaan yang diambil langsung dari PB juga dimuat (bersama dengan bacaan-bacaan dari PL) ke dalam beragam liturgi Kristen. PB telah mempengaruhi berbagai gerakan keagamaan, filosofis, dan politik dalam dunia Kristen.

Perjanjian Baru merupakan sebuah antologi, yakni koleksi karya-karya Kristiani yang ditulis dalam bahasa Yunani yang umum digunakan pada abad pertama, pada waktu yang berbeda-beda oleh berbagai penulis yang adalah murid-murid Yahudi pertama kali dari Yesus. Dalam hampir semua tradisi Kristen masa kini, PB meliputi 27 kitab. Teks-teks aslinya dituliskan pada abad pertama dan mungkin abad kedua Era Kristen, dan secara umum diyakini tertulis dalam bahasa Yunani Koine, yang mana merupakan bahasa umum (lingua franca) di Mediterania Timur mulai dari masa Penaklukan Aleksander Agung (335–323 SM) sampai evolusi dari bangsa Yunani Bizantium (ca. 600 M). Semua karya yang pada akhirnya tergabung dalam PB ini tampaknya dituliskan paling akhir ca. 150 M, dan beberapa akademisi menganggapnya tidak lebih dari 70 M atau 80 M.

Koleksi teks-teks terkait seperti surat-surat dari Rasul Paulus (suatu koleksi utama yang telah ada pada awal abad ke-2) dan Injil kanonik dari Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes (ditegaskan oleh Ireneus pada akhir abad ke-2 sebagai Keempat Injil) secara bertahap bergabung dengan karya tunggal dan koleksi lainnya dalam beragam kombinasi yang berbeda untuk membentuk berbagai kanon Kitab Suci Kristen. Seiring berjalannya waktu beberapa kitab yang diperdebatkan seperti Kitab Wahyu dan beberapa Surat-surat Umum dimasukkan ke dalam kanon, yang mana pada awalnya karya-karya ini tidak dianggap sebagai Kitab Suci. Karya-karya lainnya yang pada awalnya dianggap sebagai Kitab Suci, seperti 1 KlemensGembala Hermas, dan Diatessaron, tidak dimasukkan dalam kanon Perjanjian Baru. Kanon Perjanjian Lama tidak sepenuhnya seragam di antara semua kelompok Kristen utama seperti Katolik RomaProtestanOrtodoks YunaniOrtodoks Slavia, dan Ortodoks Armenia. Namun demikian kanon Perjanjian Baru yang berisikan 27 kitab ini, setidaknya sejak Abad Kuno Akhir, telah diakui hampir secara universal dalam Kekristenan (lihat: Perkembangan kanon Perjanjian Baru).

Perjanjian Baru memuat:

Kitab-kitab

Dalam naskah-naskah kuno sampai abad ke-5, kitab-kitab ini terbagi atas 4 bagian, untuk memudahkan penggunaan, di mana kitab Kisah Para Rasul selalu digabung dan ditempatkan sebelum surat-surat umum.


Empat Unit Literatur Perjanjian Baru



Injil

  • Matius - Menceritakan kisah Yesus dari segi sebagai Mesias, Raja orang Israel. Injil ini penuh dengan penggenapan nubuat-nubuat Perjanjian Lama.
  • Markus - Menceritakan kisah Yesus dari segi sebagai Hamba.
  • Lukas - Mempresentasikan Yesus sebagai Anak Manusia yang datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang terhilang.
  • Yohanes - Mempresentasikan Yesus sebagai Firman Allah yang menjelma menjadi manusia, Kristus, yang berarti, Yang Diurapi.

Kisah Para Rasul

Surat-surat

Surat-surat Paulus

  • Roma - Penelaahan yang sistematis atas pembenaran, pengudusan, dan pemuliaan. Menelaah rencana Allah atas orang Yahudi maupun non-Yahudi.
  • 1 Korintus - Surat ini menyoroti perpecahan dalam jemaat dan teguran atas pelanggaran susila, masalah mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak beriman, dan kebiasaan-kebiasaan yang salah dalam Perjamuan Kudus. Juga menyinggung tentang penyembahan berhala, pernikahan, dan kebangkitan.
  • 2 Korintus - Pembelaan Paulus atas kerasulannya.
  • Galatia - Paulus membuktikan kesalahan dari legalisme (menganggap Hukum Taurat sebagai mutlak dalam memperoleh keselamatan) dan menelaah mengenai tempat yang layak bagi anugrah di dalam kehidupan orang-orang Kristen.
  • Efesus - Posisi orang percaya di dalam Kristus dan informasi mengenai peperangan rohani.
  • Filipi - Paulus membicarakan tentang pemenjaraannya, kasihnya kepada jemaat di Filipi. Ia mendesak mereka ke arah kesalehan dan memperingatkan mereka akan bahaya legalisme.
  • Kolose - Paulus memfokuskan pada keutamaan Yesus Kristus dalam penciptaan, penebusan, dan kekudusanNya.
  • 1 Tesalonika - Pelayanan Paulus kepada jemaat Tesalonika. Pengajaran mengenai kesucian dan menyinggung tentang kembalinya Kristus untuk yang kedua kalinya.
  • 2 Tesalonika - Koreksi-koreksi atas pendapat yang salah mengenai Hari Tuhan.
  • 1 Timotius - Instruksi-instruksi kepada Timotius mengenai kepemimpinan yang benar dan cara-cara menghadapi ajaran sesat, peranan wanita dalam gereja, doa, dan syarat-syarat bagi penilik jemaat dan diaken.
  • 2 Timotius - Sepucuk surat untuk menguatkan Timotius.
  • Titus - Paulus meninggalkan Titus di Kreta guna menggembalakan gereja-gereja di sana. Syarat-syarat menjadi penatua gereja dan penilik jemaat.
  • Filemon - Sepucuk surat kepada seorang tuan mengenai budaknya yang melarikan diri. Permohonan Paulus kepada Filemon supaya mengampuni Onesimus, budaknya.
  • Ibrani - Sepucuk surat kepada jemaat Kristen Yahudi yang sedang di ambang kembali memeluk Yudaisme. Surat ini menunjukkan keunggulan Kristus dibandingkan dengan sistem Perjanjian Lama. Menyinggung juga tentang keimaman Melkisedek. Penulis tidak diketahui. Beberapa pakar menilai dari gaya tulisannya bahwa penulisnya adalah Paulus, namun karena kurangnya bukti selain gaya penulisan, maka pakar lain memilih untuk tidak berpendapat.

Surat-surat umum

  • Yakobus - Ajaran tentang hubungan antara iman dan perbuatan.
  • 1 Petrus - Surat ini untuk menguatkan penerima suratnya dalam penderitaan mereka dan agar mereka tetap rendah hati.
  • 2 Petrus - Membicarakan mengenai batin tiap pribadi, peringatan mengenai ajaran palsu, dan menyinggung mengenai Hari Tuhan.
  • 1 Yohanes - Surat yang memperingatkan jemaat terhadap ajaran-ajaran sesat pada permulaan sejarah Gereja.
  • 2 Yohanes - Puji-pujian untuk mereka yang berjalan di dalam Kristus dan sebuah peringatan untuk tetap berjalan di dalam kasih Allah.
  • 3 Yohanes - Yohanes berterimakasih kepada Gayus atas kebaikannya terhadap jemaat Allah dan menegur Diotrefes.
  • Yudas - Mengekspos guru-guru palsu dan menggunakan ibarat-ibarat dalam Perjanjian Lama dalam melukiskan penghakiman atas mereka. Nasihat-nasihat untuk meneguhkan iman.

Ketujuh surat terakhir disebut surat-surat umum.

Kitab Wahyu

  • Wahyu - Kitab eskatologi yang dikirimkan kepada jemaat-jemaat yang mengalami penganiayaan oleh pemerintah Roma dan anjuran agar mereka tetap setia di dalam iman mereka.

Naskah-naskah awal 

Rylands Library Papyrus P52 umumnya dianggap sebagai saksi tertua yang masih ada untuk teks Perjanjian Baru, dibuat antara tahun 117 dan 138 Masehi.

Beberapa naskah penting yang berisi teks awal dari kitab-kitab dalam Perjanjian Baru misalnya:



[Sumber: wikipedia]


Yesus Di Mata Murid-Muridnya

Umat Kristen dan umat Islam sama-sama percaya pada Yesus, mencintainya, dan menghormatinya. Namun, cara pandang kedua umat ini sangat berbeda tatkala dihadapkan pada klaim keilahian Yesus.

Eloknya, perbedaan ini dapat dijembatani jika keduanya mau mencari dan merujuk jawaban yang benar pada Alkitab dan Al-Quran. Sebab, sesungguhnya baik Alkitab maupun Al-Quran  sama-sama mengajarkan bahwa Yesus bukan Allah!

Sudah cukup jelas bagi semua orang bahwa Al-Quran menyangkal keilahian Yesus, sehingga kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menjelaskan hal itu.

SEJAK AWAL PENCIPTAAN ALAM  SEMESTA HINGGA DETIK INI, 
YESUS ADALAH BAGIAN DARI CIPTAAN ALLAH, 
DAN TIDAK PERNAH MENJADI ALLAH

Tidak ada penulis alkitab yang percaya bahwa Yesus adalah tuhan
Banyak orang yang salah mengartikan alkitab; mereka mengira bahwa karena kepercayaan kepada Yesus sebagai Tuhan sudah sedemikian luasnya, maka mereka pun percaya bahwa pasti ini berasal dari Allah. Akan tetapi fakta-fakta dari alkitab sendiri menunjukkan dengan sangat meyakinkan berbagai bukti yang justru melawan anggapan itu.

Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa Yesus bukan Tuhan. Dalam Alkitab, Tuhan yang sesungguhnya selalu digambarkan sebagai Allah, sosok lain yang berada jauh di atas Yesus.

Sebagian orang boleh jadi akan mengatakan bahwa segala yang diucapkan oleh Yesus atau yang ia lakukan ketika di dunia membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tapi alkitab sendiri menunjukkan bahwa nyatanya murid-murid Yesus tidak pernah sampai pada kesimpulan seperti itu walaupun mereka adalah orang-orang yang hidup dan berjalan bersama Yesus, sehingga tentu saja mendengar dan melihat sendiri apa saja yang pernah Yesus katakan dan lakukan. Lebih lanjut, Kisah Para Rasul memberitahukan bahwa para murid dibimbing oleh Roh Kudus. Jika Yesus adalah Tuhan, tentu saja mereka sudah lebih dulu mengetahuinya lewat informasi dari Roh Kudus. Tetapi nyatanya mereka tetap menyembah hanya satu-satunya Tuhan yang benar, yaitu Allah, yang disembah oleh Abraham, Musa, dan juga oleh Yesus (Lihat KPR 3:13).

Semua penulis Alkitab percaya bahwa Tuhan yang benar bukan Yesus. Gagasan bahwa Yesus adalah Allah tidak pernah menjadi bagian dari kepercayaan Kristen sampai alkitab dibukukan kemudian. Sedangkan sejarah membuktikan bahwa dibutuhkan waktu selama berabad-abad dan pertumpahan darah ribuan manusia tak berdosa sebelum akhirnya hal ini menjadi bagian dari iman umat Kristen.

Matius, Markus, dan Lukas, penulis ketiga Injil pertama, percaya bahwa Yesus bukan Tuhan (lihat Markus 10:18 dan Matius 19:17). Mereka percaya bahwa Yesus adalah putra Allah dalam arti sebagai orang yang benar. Alkitab menunjukkan bahwa selain Yesus, sebenarnya masih banyak lagi orang-orang yang  juga disebut sebagai anak-anak Allah (lihat Matius 23: 1-9).

Paulus, yang diyakini sebagai penulis dari sekurang-kurangnya tigabelas atau empatbelas surat dalam Alkitab, juga percaya bahwa Yesus bukan Tuhan.  Menurut Paulus, pada mulanya Allah menciptakan Yesus, kemudian menjadikannya sebagai media untuk menciptakan sisa ciptaan (lihat Kolose 1:15 dan 1Korintus 8: 6). Gagasan serupa ditemukan dalam suratnya kepada jemaat Ibrani, dan juga dalam Injil dan surat-surat Yohanes yang dikarang sekitar tujuh puluh tahun setelah Yesus tiada. Kendati demikian, dalam semua tulisan tsb Yesus masih digambarkan sebagai ciptaan Allah dan karenanya selamanya tunduk kepada Allah (lihat 1Korintus 15:28).

Oleh karena Paulus dan Yohanes percaya bahwa Yesus adalah makhluk pertama Allah, beberapa dari apa yang mereka tulis dengan sendirinya menggambarkan Yesus sebagai makhluk sangat istimewa  yang sudah ada sebelum yang lainnya. Ini sering disalahartikan dan disalahpahami sebagai bukti pastilah ia Tuhan. Sedangkan pada kenyataannya, mempercayai Yesus sebagai Allah sama artinya dengan menentang apa yang ditulis oleh para penulis ini. 

Meskipun para penulis alkitab percaya bahwa Yesus lebih hebat dari semua makhluk, namun mereka juga percaya bahwa ia tetap lebih rendah daripada Allah. Bahkan, Yohanes mengutip perkataan Yesus: "... Bapa lebih besar dari pada Aku." (Yohanes 14:28). Dan Paulus menyatakan bahwa kepala setiap wanita adalah suaminya, kepala setiap pria adalah Kristus, dan kepala Kristus adalah Allah (lihat 1 Korintus 11: 3).

Oleh karena itu, untuk menemukan sesuatu di sini dan mengklaim paparan ini mendukung doktrin gereja bahwa Yesus adalah Tuhan, sama artinya dengan telah salah mengutip, dan telah salah pula menginterpretasikan tulisan para penulis alkitab. Apa yang mereka tulis harus dipahami dalam konteks kepercayaan mereka bahwa Yesus adalah ciptaan Allah seperti yang sebelumnya telah mereka nyatakan dengan jelas.

Kita memang melihat bahwa di kemudian hari beberapa penulis memiliki pandangan yang lebih tinggi tentang Yesus, tetapi tidak ada penulis Alkitab yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang benar, yaitu Allah, yang disembah oleh semua nabi, termasuk oleh Yesus (lihat Yohanes 17: 3).

Adapun karena Yesus bukan bagian, dan sama sekali tidak pernah disebut-sebut dalam Perjanjian Lama, maka kita akan fokus pada informasi dari Perjanjian Baru saja yang menjadi sumber lahirnya berbagai doktrin Kristen, termasuk tentu saja, doktrin ketuhanan Yesus yang tidak pernah diajarkan oleh Yesus sendiri.

Pembuktian dari KPR (Kisah Para Rasul)
Dalam injil-injil kanonik, Yesus dicatat banyak menunjukkan berbagai mukjizat yang menakjubkan. Dan orang-orang yang tidak pernah menyaksikan semua keajaiban itu kecuali sekedar  mendengar kabarnya saja, kemudian menganggapnya sebagai  bukti ketuhanan Yesus. Sedangkan  seluruh murid Yesus sendiri, yang bergaul, belajar, dan berjalan bersama Sang Guru selama lebih kurang 3,5 tahun serta menjadi saksi mata atas segala tindakan dan perkataan Yesus  tidak pernah sampai pada kesimpulan seperti itu.

Kisah Para Rasul dalam Alkitab merinci aktivitas para murid selama tiga puluh tahun setelah Yesus dikabarkan naik ke surga. Sepanjang periode ini mereka tidak pernah menganggap Yesus sebagai Tuhan. Mereka secara terus menerus tetap, dan konsisten menggunakan gelar "Allah" untuk merujuk kepada Tuhan yang disembah oleh Yesus. 

Seperti ditegaskan oleh Petrus dalam KPR 2:22, maka tampak jelas bahwa sesungguhnya Allah lah yang melakukan segala mukjizat itu melalui tangan Yesus untuk meyakinkan orang banyak bahwa kedatangan Yesus ke tengah-tengah bangsa Israel adalah sebagai utusan-Nya. Petrus tidak melihat mukjizat sebagai bukti bahwa Yesus adalah Allah.

Faktanya, cara Petrus merujuk pada Allah dan pada Yesus menjelaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Karenanya ia selalu menolak gelar Allah untuk Yesus. 

Perhatikan referensi berikut:
"Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi." (KPR 2:32)

“Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan  dan Kristus." (KPR 2:36)

Kedua ayat ini dengan sangat jelas menunjukkan bahwa Allah bukan Yesus, demikian pula sebaliknya. Jika Yesus adalah Allah, tentu tidak perlu ada ayat seperti di atas, bukan?

Bagi Petrus, Yesus adalah hamba Allah
Petrus berkata, "Allah membangkitkan hamba-Nya ..." (KPR 3:26). Gelar hamba dalam ayat ini merujuk pada Yesus. Ini sudah jelas dari perikop sebelumnya di mana Petrus menyatakan, ”Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita, telah memuliakan hamba-Nya, Yesus.” (KPR 3:13).

Petrus pasti tahu bahwa Abraham, Ishak, dan Yakub tidak pernah berbicara tentang Allah Tritunggal. Mereka selalu berbicara tentang Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Di sini, seperti dalam Matius 12:18, Yesus adalah hamba Allah. Matius memberi tahu kita bahwa Yesus adalah hamba Allah yang sama seperti yang dibicarakan dalam Yesaya 42:1. Jadi, menurut Matius dan Petrus, Yesus bukan Tuhan, melainkan hamba Allah. 

Perjanjian Lama berulang kali menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang berdiri sendiri, tidak bersekutu, dan tidak boleh disekutukan dengan apapun juga. (perhatikan antara lain, Yesaya 45: 5).

Semua murid Yesus berpegang teguh pada prinsip ini. Dalam KPR 4:24 kita diberitahu bahwa orang-orang percaya berdoa kepada Allah dengan mengucapkan kata: “... mereka mengangkat suara mereka bersama dalam doa kepada Tuhan. 'Tuhan Yang Berdaulat,' kata mereka, 'Engkau yang menjadikan langit dan bumi dan lautan, dan segala yang ada di dalamnya. ” Jelas bahwa doa mereka bukan ditujukan kepada Yesus, sebab dua ayat berikutnya merujuk kepada Yesus sebagai "hamba-Mu yang kudus, Yesus, yang telah Engkau-urapi." (KPR 4:27).

Jika Yesus adalah Allah, tentu saja murid-muridnya sudah sejak lama mengatakan hal tsb dengan jelas. Tapi sebaliknya, mereka terus memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias utusan Allah. Dalam Kisah Para Rasul, kita juga diberi tahu bahwa,  ”..... setiap hari mereka melanjutkan pengajaran mereka di Bait Allah dan di rumah-rumah orang dan memberitakan Injil  tentang Yesus yang adalah Mesias.” (KPR 5:42).

Kata "Kristus" dalam bahasa Yunani adalah gelar untuk manusia yang artinya “diurapi.”  Jika Yesus adalah Allah, mengapa para murid selalu merujuk kepadanya dengan gelar  untuk manusia seperti  hamba dan utusan Allah, dan secara konsisten menggunakan gelar Allah untuk pribadi lain yang membangkitkan Yesus?

Adakah yang mereka takutkan? Tidak! Mereka dengan berani memberitakan kebenaran tanpa khawatir terhadap resiko dipenjara oleh penguasa atau bahkan menerima kematian sekalipun! Contohnya, ketika berada di bawah ancaman maut tangan-tangan penguasa, dengan tegas Petrus berkata, ”Kita harus lebih taat kepada Allah daripada manusia! Allah nenek moyang kita membangkitkan Yesus ….." (KPR 5: 29-30).

Apakah Roh Kudus tidak bekerja untuk mereka? Menurut penulis alkitab, ternyata mereka selalu didukung oleh Roh Kudus (lihat KPR 2: 3, 4: 8, dan 5:32). Jadi, apa yang mereka lakukan pada hakekatnya hanya mengajarkan kebenaran sebagaimana yang mereka pelajari dari Yesus, termasuk  bahwa Yesus bukan Allah, melainkan hamba dan utusan-Nya (lihat lagi Matius 15:24-28)

Petrus, yang dipercaya sebagai panatua dari keduabelas murid Yesus - dan karenanya bicara atas nama semua murid Yesus - sudah cukup menegaskan bahwa apapun alasan yang di kemudian hari coba direkayasa oleh orang-orang yang tidak termasuk dalam lingkaran keduabelas murid Yesus, khususnya tentang Yesus adalah Allah, pada kenyataannya adalah AJARAN YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN OLEH YESUS! 


Apokalipsis

Apokalips (bahasa Yunani: αποκαλυψις -transliterasi: "Apokalypsis"), secara harafiah berarti: penyingkapan kain penutup atau cadar), adalah sebuah istilah yang diartikan sebagai penyingkapan kepada orang-orang tertentu yang mendapatkan hak istimewa tentang sesuatu yang tersembunyi dari umat manusia pada umumnya.[1] Akar kata Yunaninya di dalam Septuaginta sama dengan kata dalam bahasa Ibrani galah (גלה), "menyingkapkan". Kitab terakhir dari Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani berjudul Αποκαλυψις Ιωαννου (Penyingkapan kepada Yohanes), dan sering kali diterjemahkan sebagai Wahyu kepada Santo Yohanes, atau Kitab Wahyu. Sebelumnya di antara orang-orang Yahudi helenistik, istilah ini digunakan untuk sejumlah tulisan yang menggambakan dalam cara nubuat dan perumpamaan, akhir atau keadaan dunia yang akan datang (mis. Apokalips Barukh). Kini seluruh karya tulis seperti ini biasanya dikenal sebagai 'sastra Apokaliptik'. Namun, Apokalips secara teknis merujuk kepada penyingkapan Allah, dalam penyamarannya sebagai sang Mesias, dan bukan kepada seluruh kehancuran dunia yang akan menyertai Penyataan Diri Allah sendiri kepada umat manusia.

Dalam terminologi literatur Yahudi dan Kristen perdana, istilah ini merujuk pada penyingkapan tentang hal-hal yang tersembunyi yang diberikan oleh Allah kepada seorang nabi pilihan. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan laporan tertulis tentang penyingkapan tersebut. Sastra apokaliptik cukup penting dalam sejarah tradisi Yahudi-Kristen-Islam, sebagai keyakinan seperti misalnya kebangkitan orang yang sudah mati, hari penghakiman, surga dan neraka dijelaskan secara eksplisit di dalamnya. Keyakinan apokaliptik telah ada sebelum hadirnya Kekristenan. Ia muncul dalam agama-agama lain, dan telah bergabung ke dalam masyarakat sekuler pada masa kini, khususnya melalui budaya populer (lihat Apokaliptisisme). Keyakinan-keyakinan seperti apokalips juga muncul dalam sistem-sistem keagamaan lainnya. Contohnya adalah konsep Hindu tentang pralaya.

Dari abad kedua, istilah "Apokalips" diberlakukan kepada sejumlah buku, baik Yahudi dan Kristen, yang memperlihatkan ciri-ciri khas yang sama. Selain Apokalips Yohanes (yang kini biasanya disebut Kitab Wahyu) termasuk dalam Perjanjian Barufragmen MuratoriKlemens dari Alexandria, dan lain-lainnya menyebutkan Apokalips Petrus. Apokalips Adam dan Abraham (Epifanius) dan Elias (Hieronimus) juga disebutkan; lihat, misalnya, keenam judul seperti ini dalam "Daftar ke-60 Kitab Kanonik".

Jadi, penggunaan kata benda Yunani untuk menunjuk kepada tulisan-tulisan yang tergolong pada kelompok produk sastra tertentu berasal dari orang-orang Kristen, dengan menggunakan Kitab Wahyu dalam Perjanjian Baru sebagai norma aslinya. Pada 1832 Gottfried Christian Friedrich Lücke menjajaki kata "Apokalips" sebagai deskripsi untuk Kitab Wahyu. Penggunaannya diambil dari kata-kata pembukaan kitab ini yang merujuk kepada sebuah apokalips (nubuat) Yesus Kristus yang diberikan kepada Yohanes, yang menuliskan teksnya. Dalam bahasa Yunani kata-kata pembukaannya berbunyi 'Aπōκάλυψις 'Iησōῦ Χριστōῦ.[2]

Ciri-ciri khas

Literatur keagamaan apokaliptik dianggap sebagai sebuah cabang yang khas dari sebuah literatur terlarang. Genre ini mempunyai sejumlah ciri khas.

Wahyu tentang hal-hal yang misterius

Tujuh sangkakala dari Wahyu

Apokalips memuat pewahyuan tentang hal-hal yang misterius, hal-hal yang berada di luar jangkauan pengetahuan biasa manusia. Allah memberikan kepada para nabi, atau orang-orang kudus pengajaran sehubungan dengan hal-hal yang tersembunyi, baik hal-hal yang sama sekali asing bagi pengalaman manusia, atau kejadian-kejadian dalam sejarah manusia yang belum terjadi, atau keduanya.

Beberapa dari rahasia-rahasia surga diungkapkan, secara lebih atau kurang terinci: maksud-maksud rencana Allah bagi umat manusia; perbuatan dan ciri-ciri para malaikat dan roh-roh jahat; penjelasan tentang fenomena alam; kisah tentang Penciptaan dan sejarah tentang umat manusia yang awal; kejadian-kejadian yang belum terjadi, khususnya yang berkaitan dengan masa depan Israel; akhir dunia; penghakiman terakhir, dan nasib umat manusia; zaman mesianik. Dalam Kitab Henokh, apokalips Yahudi yang paling lengkap, wahyu ini mencakup semua unsur yang beraneka ragam ini.


Pernyataan melalui mimpi atau penglihatan

Hikmat yang tersembunyi dinyatakan melalui penglihatan atau mimpi. Berhubung sifatnya yang tidak lazim, bentuk sastranya tergolong yang paling alamiah. Lagi pula, cara pengilhaman dan pengalaman orang yang menerimanya pada umumnya menjadi penting. Biasanya, meskipun tidak selalu, hal itu dikisahkan dari sudut pandang orang pertama. Ada suatu unsur kebanggaan dalam kondisi ini, sehubungan dengan pentingnya rahasia yang akan dinyatakan. Unsur-unsur misteri, sering kali paling utama dalam penglihatan tersebut, diindikasikan dalam peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. Sejumlah ciri khas dari "tradisi apokaliptik" dikaitkan dengn keadaan penglihatan dan pengalaman pribadi orang yang mengalaminya.

Contoh utama dari sastra apokaliptik dalam Alkitab Ibrani adalah dalam Kitab Daniel. Setelah berpuasa lama dan berdiri di tepi sungai, Daniel mendapat penglihatan makhluk ilahi menghampirinya dan diikuti pernyataan yang dicatat dalam Kitab Daniel pasal 10 dan seterusnya. Rasul Yohanes mendapat penglihatan dengan pengalaman yang mirip, dicatat dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen dalam Kitab Wahyu. Ada pula catatan-catatan lain yang di luar Alkitab, misalnya Greek Apocalypse of Baruch; dan Syriac Apocalypse. Juga terjadi ketika sang nabi berbaring di tempat tidurnya, menguatirkan masa depan umatnya, ia berada dalam suatu keadaan trance dan muncullah penglihatan di kepalanya mengenai masa yang datang. Ini dicatat misalnya dalam Kitab Daniel pasal 7Kitab 2 Esdras 3:1-3; dan dalam Kitab Henokh 1:2 dan seterusnya. Gambaran dampak dari penglihatan atas pelihatnya, lihat Daniel 8:27; Henokh 60:3; 2 Esdras 5:14.

Malaikat membawa pernyataan

Malaikat sering menjadi pembawa wahyu. Allah tidak berkata secara langsung, melainkan memberikan instruksi-Nya melalui medium makhluk-makhluk sorgawi, yang menjadi penuntun dalam penglihatan penulis.

Berkaitan dengan masa depan

Dalam komposisi umum kelompok ini perhatian utama penulis adalah pada masa depan. Apokalips terutama adalah suatu nubuat dengan tujuan agamawi tertentu, bermaksud menunjukkan cara Allah bertindak terhadap manusia dan tujuan akhir-Nya. Penulis membeberkan, kadang sangat detail, gambaran masa datang, khususnya yang berhubungan dengan akhir zaman ini.

Hal misterius atau fantastis

Viktor VasnetsovThe Four Horsemen of the Apocalypse ("Empat penunggang kuda dari Kitab Wahyu

Elemen yang misterius, tampak pada hal-hal isi dan cara penulisan, adalah ciri khas dalam setiap karya jenis Apokalips. Literatur tentang penglihatan dan mimpi mempunyai tradisinya sendiri, yang sangat persisten, dan fakta ini dilukiskan dengan sangat baik dalam kelompok tulisan Yahudi (atau Yahudi-Kristen) yang sedang dibahas.

Simbolisme mistik

Kualitas suatu apokalips dapat dilihat dalam seringnya penggunaan simbolisme mistik. Ini dapat dilihat dalam hal gematria yang digunakan untuk mengaburkan makna sebenarnya.

Apokalips sebagai "akhir zaman"

Kata apokalips dalam bahasa Yunani bermakna "pembukaan selubung" (unveiling). Dalam apokalips Yohanes, kitab Wahyu kepada Yohanes, ia merujuk kepada "pembukaan selubung" atau "pernyataan" dari Yesus Kristus sebagai Mesias. Istilah ini kemudian diturunkan maknanya dalam penggunaan umum untuk merujuk kepada kiamat dunia. Namun lebih tepat untuk menafsirkan istilah "kiamat dunia" sebagaimana yang dibaca dalam Alkitab Versi Raja James sebagai "akhir zaman". Kata "dunia" di sini sebenarnya adalah terjemahan dari kata Yunani "eon" atau "zaman".

Gambaran eskatologis akhir zaman pada Perjanjian Lama adalah lukisan penghakiman untuk orang fasik, juga kebangkitan kembali dan pemuliaan mereka yang saleh di hadapan Allah. Kitab Ayub dan kitab Mazmur menggambarkan orang mati diam dalam "Hades" menantikan penghakiman terakhir, dari mana orang jahat akan dibuang ke siksaan kekal dalam api "Sheol" atau neraka.

Surat-surat Perjanjian Baru yang ditulis oleh Rasul Paulus mengembangkan tema penghakiman orang fasik dan pemuliaan mereka yang menjadi milik Kristus atau Mesias. Dalam surat-suratnya kepada jemaat di Korintus dan Tesalonika, Paulus menjabarkan lebih lanjut nasib orang saleh. Ia berbicara mengenai kejadian bersama-sama suatu kebangkitan kembali dan penjemputan mereka yang ada di dalam Kristus, (atau Mesias). Ini dilihat sebagai gabungan peristiwa apokaliptik yang terjadi pada akhir zaman ini dan sebelum kedatangan zaman Seribu Tahun Mesias.

Kekristenan mempunyai harapan "Millennial" (Seribu Tahun) untuk pemuliaan orang saleh sejak muncul dalam Yudaisme dan menyebar ke seluruh dunia pada abad ke-1 M. Literatur puitis dan nubuatan Perjanjian Lama, khususnya dalam Kitab Yesaya kaya dengan gambaran "Milenial". Jemaat Perjanjian Baru setelah Pentakosta sekadar meneruskan tema ini. Rasul Yohanes, ketika dipenjarakan oleh orang Romawi di pulau Patmos, mendapatkan penglihatan dan menulis kitab Wahyu kepada Yohanes di mana pada pasal 20 ditulis sejumlah Referensi kepada suatu masa pemerintahan seribu tahun Kristus/Mesias di atas bumi ini.[3]


Teologi Perjanjian Lama

Teologi Perjanjian Lama merupakan bagian dari Teologi Kristen, secara khusus Teologi Biblika yang membahas tema-tema atau isu-isu teologis yang ada di dalam Alkitab Perjanjian Lama. Sebagai bagian dari Teologi Biblika, Teologi Perjanjian Lama mempunyai suatu fungsi kritis yang dijalankan dalam dialog dengan gereja, tradisinya serta persoalan yang dihadapinya.

Sejarah dan Perkembangan

Era Reformasi Gereja

Teologi Perjanjian Lama tidak dapat dilepaskan dari Teologi Biblika. Perkembangan Teologi Biblika ini mulai terlihat pasca zaman reformasi gereja di mana golongan Protestan sangat menekankan pada prinsip sola scriptura atau Alkitab sebagai satu-satunya sumber dalam berteologi. Dalam periode ini, teologi Biblika dipahami sebagai sebuah teologi yang ajaran-ajarannya bersumber pada Alkitab dan dasarnya adalah Alkitab dan juga dipahami sebagai teologi yang dikandung oleh Alkitab itu sendiri. Namun yang terjadi pada saat itu, Teologi Biblika masih digunakan untuk mendukung sistem doktrin Kristen yang tradisional. Peranan tambahan Teologi Biblika sejajar dengan hal-hal dogmatis ditetapkan secara kuat oleh Abraham Calovius yang berpendapat bahwa Teologi Biblika merupakan nama baru dari Teologi Eksegetika yang berfungsi untuk mendukung dogmatika gereja. Dengan demikian, Teologi Biblika menjadi suatu disiplin tambahan yang mendukung dogmatika gereja.

Pada perkembangan selanjutnya, golongan pietisme dari Jerman mengubah arah perkembangan Teologi Biblika. Di dalam gerakan pietisme ini, Teologi Biblika menjadi alat reaksi terhadap sifat ortodoks Protestan yang kering. Dengan demikian, Teologi Biblika malah digunakan untuk menyerang dogmatika gereja. Akhirnya sejak tahun 1745, Teologi Biblika terpisah dari dogmatika gereja dan menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri.

Abad Pencerahan

Abad Pencerahan menjadi salah satu zaman yang mengubah perkembangan Teologi Biblika, di antaranya adanya reaksi rasionalisme terhadap supernaturalisme sehingga perkembangan tersebut menghasilkan bentuk penafsiran dengan menggunakan metode penelitian sejarah.Karya-karya dari Anton Friedrich Busching yang didorong oleh gerakan pietisme dan rasionalisme ini menimbulkan adanya persaingan antara Teologi Biblika dengan Teologi Dogmatika. Tokoh lainnya yang memengaruhi perkembangan Teologi Biblika pada abad ini adalah Johann Philipp Gabler (1753-1826) yang membedakan antara antara Teologi Biblika Teologi dan Teologi Dogmatika. Menurut Gabler, Teologi Biblika memiliki sifat historis dan meneruskan pemahaman para penulis Alkitab sedangkan Teologi Dogmatika memiliki sifat mendidik, mengajarkan penalaran filosofis seorang teolog tertentu sesuai dengan kemampuan, waktu, usia, tempat, aliran atau mazhab yang dianut oleh teolog tersebut. Pendapat ini kemudian dikembangkan lagi oleh Georg Lorenz Bauer (1755-1806) yang memisahkan Teologi Biblika menjadi Teologi Perjanjian Lama dan Teologi Perjanjian Baru atas dasar penelitian sejarah yang memperlihatkan perbedaan tema teologis yang ada di dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.

Pasca Abad Pencerahan, terbit beberapa jilid buku Teologi Perjanjian Lama yang isinya membahas disiplin ilmu tersebut dari pendekatan masing-masing sesuai dengan zamannya, tidak lagi menggunakan pendekatan historis seperti yang berkembang pada periode sebelumnya. Pendekatan yang pertama-tama berkembang adalah pendekatan filsafat yang menjauhkan Teologi Perjanjian Lama dari rasionalisme. Pendekatan kedua adalah pendekatan dengan menggunakan ilmu pengetahuan Alkitab yang konservatif yang muncul bersamaan dengan mazhab sejarah keselamatan. Pendekatan ini menempatkan kembali Perjanjian Lama sebagai awal atau pembuka sejarah keselamatan manusia yang kemudian dilanjutkan di dalam Perjanjian Baru. Pendekatan berikutnya yang berkembang adalah sejarah agama-agama (religionsgeschicte) yang menghancurkan kesatuan Perjanjian Lama dan dianggap sebagai sebuah koleksi bahan-bahan dari periode yang berdiri sendiri-sendiri dan isinya hanya berupa refleksi beragam dari bangsa Israel.

Abad Modern

Perang Dunia I telah mengubah banyak tatanan masyarakat di dunia, termasuk bagi Teologi Perjanjian Lama yang memasuki masa kebangunan kembali. Era ini ditandai dengan terbitnya buku E. Konig yang berjudul Theologie des Alten Testaments yang mengkaji Perjanjian Lama berdasarkan sejarah tata bahasa dan mengkombinasikan sejarah perkembangan agama Israel dengan sejarah faktor-faktor teologis tertentu dari iman Perjanjian Lama. Pada dekade 1930, Teologi Perjanjian Lama memasuki periode keemasan ketika E. Sellin dan L. Kohler menggunakan susunan Allah-manusia-keselamatan sebagai kerangka untuk menyusun ulang tema-tema teologis yang dapat diambil dari Perjanjian Lama. Periode ini juga menempatkan Teologi Perjanjian Lama dalam Teologi Dialektik. Teologi Dialektik yang juga dikenal sebagai Teologi Neo-Ortodoks menempatkan penafsiran Alkitab bukan sekadar masalah kritik historis tetapi juga menghubungkannya dengan para saksi yang melihat pewahyuan Alkitab secara nyata di dalam dunia.[3] Tokoh yang berperan besar dala Teologi Dialektika ini adalah Karl Barth.

Metode Teologi Perjanjian Lama

Memerhatikan metode yang para teolog gunakan dalam membangun sebuah Teologi Perjanjian Lama menjadi hal yang cukup penting karena dengan metode tertentu, kita dapat mengeluarkan pesan yang beragam dari sejarah Perjanjian Lama melalui penafsiran eksegetis sehingga memberikan dampak pada sejarah dogmatika dan filsafat agama-agama. Sebelum menentukan metode apa yang akan digunakan, para teolog perlu mengetahui tugas dari Teologi Perjanjian Lama yakni tugas deskriptif dan tugas normatif. Tugas deskriptif mengarahkan para teolog untuk memusatkan perhatiannya pada soal menguraikan arti asli dari ayat, bukan makna ayat itu pada masa kini berbeda dengan tugas normatif dari Teologi Perjanjian Lama yang menuntut para teolog untuk memusatkan perhatiannya dalam menguraikan arti dan makna ayat itu bagi masa kini sehingga bersifat normatif bagi iman dan kehidupan saat ini. Dalam perkembangan selanjutnya, para teolog tidak dapat memilih kedua tugas tersebut karena tugas deskriptif maupun normatif dapat saling melengkapi sebuah bangunan Teologi Perjanjian Lama. Berdasarkan pergumulan tersebut, muncul beberapa pendekatan penting yang menjadi metode seorang teolog dalam membangun sebuah Teologi Perjanjian Lama.

Sebelum memahami metode yang akan digunakan, para teolog juga perlu memerhatian beberapa watak yang dimiliki oleh Teologi Perjanjian Lama. Pertama, Teologi Perjanjian Lama perlu dilepaskan dari sifat pengajaran/kerygmatic sehingga fokus dari Perjanjian Lama bukanlah terhadap disiplin ilmu teologi melainkan pada Firman Allah. Kedua, setiap bagian dalam Perjanjian Lama memiliki sifat dan karakter yang kaya dan beragam. Ketiga, Teologi Perjanjian Lama merupakan disiplin ilmu yang menggunakan pendekatan sejarah. Dari ketiga watak tersebut, kemudian muncul empat pendekatan utama yang sering digunakan pada periode saat ini. Empat pendekatan itu adalah:

  1. Pendekatan tipe struktural. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan cara mendeskripsikan kerangka berpikir Perjanjian Lama dengan menggunakan disiplin-disiplin ilmu lain seperti Teologi SistematikaSosiologi atau disiplin ilmu lainnya yang saling berhubungan dan memengaruhi.
  2. Pendekatan tipe diakronik. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan cara menyusun setiap kesaksian dan kisah-kisah sejarah Israel yang terekam dalam berbagai sumber yang beragam.
  3. Pendekatan tipe leksikografis. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan cara menginvestigasi setiap perkataan dan keadaan kelompok tertentu yang disebutkan di dalam Perjanjian Lama.
  4. Pendekatan tipe tema biblika. Pendekatan ini membangun Teologi Perjanjian Lama dengan meneliti teks bukan sekadar redaksionalnya saja melainkan mencari tahu tema yang membangun teks tersebut.

Teologi Perjanjian Lama di Indonesia

Buku-Buku Teologi Perjanjian Lama di Indonesia

Sampai tahun 1969 sebenarnya Indonesia belum memiliki Teologi Perjanjian Lama yang dibuat berdasarkan konteks Indonesia hingga pada akhirnya anak dari teolog terkenal Karl Barth yakni Christoph Barth menyusun sebuah buku Teologi Perjanjian Lama untuk Indonesia yang sebenarnya merupakan kompilasi dari bahan-bahan kuliah yang ia berikan di STT GKE di Banjarmasin dan STT Jakarta. Teologi yang dihasilkan oleh Christoph Barth sangat terpengaruh dari Teologi Perjanjian Lama yang disusun oleh Gerhard von Rad. Salah satu pernyataan yang terkenal dari von Rad adalah pernyataan bahwa Teologi Perjanjian Lama tidak memiliki pusat. Selain itu, von Rad juga menempatkan Teologi Perjanjian Lama sebagai sebuah konsep teologi yang dibangun berdasarkan pekerjaan-pekerjaan Allah sehingga Teologi Perjanjian Lama yang dihasilkan tidak memberi ruang sama sekali terhadap isu-isu yang dianggap tidak termasuk dalam pekerjaan Allah seperti hikmat lokal, keberadaan agama suku, keberadaan agama-agama lain dan sebagainya.

Metode yang diperkenalkan oleh von Rad ternyata tidak dapat dikembangkan dengan baik di Indonesia karena Indonesia adalah negara yang beragam.[1] Oleh karena itu pada tahun 2003, istri dari Christoph Barth yakni Marie-Claire Barth-Frommel merevisi Teologi Perjanjian Lama yang dihasilkan oleh suaminya. Pada edisi revisi ini, Marie-Claire Barth-Frommel menempatkan keberadaan pihak lain (yang awalnya dianggap sebagai pihak-pihak yang tidak termasuk dalam karya Allah) sebagai rekan untuk berdialog dengan tujuan memberikan motivasi kepada para pembaca untuk mewujudkan keadaan masyarakat yang adil dan manusiawi.


[Sumber:wikipedia]