Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Ruh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruh. Tampilkan semua postingan
Ruh

Al-Quran, Tentang Ruh menurut QS. Al-Isra: 85


Firman Allah,

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥
“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isra: 85)

ASBABUN NUZUL
Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dari hadits ‘Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Ketika aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah daerah pertanian dalam keadaan beliau bertumpu pada sebuah tongkat dari pelepah kurma, tiba-tiba lewat beberapa orang Yahudi.

Sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya, “Tanyakan kepada dia tentang ruh.”
Sebagian dari mereka berkata, “(Jangan tanya dia). Jangan sampai dia mendatangkan sesuatu yang kalian benci.”
Berkata lagi (sebagiannya), “Tanyalah dia!”

Mereka pun bertanya tentang ruh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak menjawab sedikit pun. Aku tahu wahyu sedang diturunkan kepada beliau, maka aku pun berdiri dari tempatku. Turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka katakanlah bahwa itu urusan Rabb-ku dan kalian tidaklah diberi ilmu tentangnya kecuali sedikit.” [HR. al-Bukhari no. 4352 dan Muslim no. 5002]

PENJELASAN AYAT
Di kalangan ulama terjadi perselisihan tentang maksud dari kata ruh yang terdapat di dalam ayat ini. Ibnu Tin rahimahullah telah menukilkan beberapa pendapat, di antaranya ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ruh manusia. Ada yang mengatakan ruh hewan dan ada pula yang mengatakan yang dimaksud adalah Jibril ‘alaihissalam.

Ada pula yang mengatakan maksudnya adalah ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam, ada yang mengatakan al-Qur’an, ada yang mengatakan wahyu, dan ada yang mengatakan malaikat yang berdiri sendiri sebagai shaff pada hari kiamat.

Ada lagi yang mengatakan maksudnya adalah sosok malaikat yang memiliki sebelas ribu sayap dan wajah. Ada yang mengatakan ia adalah suatu makhluk yang bernama ruh yang bentuknya seperti manusia, mereka makan dan minum, dan tidak turun satu malaikat dari langit melainkan ia turun bersamanya. Ada lagi yang berpendapat lain. [Fathul Bari, Ibnu Hajar, 8/254, Tafsir al-Qurthubi, 10/324, Tafsir Ibnu Katsir, 3/62]

Namun mayoritas ahli tafsir memilih pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ruh yang terdapat pada kehidupan jasad manusia. Yaitu bagaimana keadaan ruh tersebut, tempat berlalunya di dalam tubuh manusia, dan bagaimana cara dia menyatu dengan jasad dan hubungannya dengan kehidupan Ini adalah sesuatu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. [Tafsir al-Qurthubi, 10/324]

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Yang benar adalah di-mubham-kan (pengetahuan tentang ruh dibiarkan seperti itu, yaitu tersamar) berdasarkan firman-Nya, “Ruh itu dari perkara Rabb-ku,” yaitu merupakan perkara besar dari urusan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak diberikan perinciannya agar seseorang mengetahui secara pasti kelemahannya untuk mengetahui hakikat dirinya dalam keadaan dia meyakini wujud ruh tersebut.

Apabila seorang manusia lemah (mengalami kesulitan) dalam mengetahui hakikat dirinya, maka lebih-lebih lagi (kelemahannya) untuk menjangkau hakikat Al-Haq (Allah subhanahu wa ta’ala). Hikmahnya adalah (untuk menunjukkan bahwa) akal memiliki kelemahan untuk menjangkau pengetahuan tentang makhluk yang dekat dengannya (yaitu ruh). Dengan demikian memberikan pengetahuan kepada akal bahwa menjangkau (pengetahuan) tentang Rabb-Nya lebih lemah lagi.” [Tafsir al-Qurthubi, 10/324]

KETERBATASAN PENGETAHUAN DAN AKAL
Akal merupakan salah satu nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada manusia. Dengan akal seseorang mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya dan mana yang mendatangkan kemudaratan. Dengan akal itu pula seseorang bisa memahami apa saja yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla dan hukum-hukum.

Dengan akal, seorang manusia bisa memahami syariat dan melaksanakan perintah-Nya dengan penuh ketaatan dan ketundukan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata, “Tidak ada makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla yang lebih baik daripada manusia. Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia dalam keadaan memiliki kehidupan, berilmu, memiliki kekuatan, memiliki kehendak, pandai berbicara, mendengar, melihat, pandai mengatur, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.” [Tafsir al-Qurthubi, 20/114]

Namun ketika mereka tidak menggunakan akalnya untuk tunduk terhadap perintah Allah ‘azza wa jalla dan tidak mendengar peringatan-peringatan-Nya, bahkan mengerjakan apa yang diharamkan, maka Allah k mengembalikan mereka ke tempat yang paling buruk yaitu neraka Jahannam. Wal ‘iyadzu billah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ نُزُلَۢا بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٩ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖكُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ٢٠
“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka jannah-jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir) maka tempat mereka adalah an-naar. Setiap kali mereka hendak keluar darinya mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, ‘Rasakanlah siksa an-nar yang dahulu kamu mendustakannya’.” (QS. As-Sajdah: 19-20)

Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala sering menyebutkan di dalam al-Qur’an bentuk pengingkaran terhadap orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk berjalan di atas jalan Allah k dan mengikuti syariat yang telah diperintahkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu) sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

كَذَٰلِكَ يُحۡيِ ٱللَّهُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٧٣
“Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 73)

وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ قَالُوٓاْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمۡ لِيُحَآجُّوكُم بِهِۦعِندَ رَبِّكُمۡۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٧٦
“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami pun telah beriman,’ tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata, ‘Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan Rabbmu; tidakkah kamu mengerti?’.” (QS. Al-Baqarah: 76)

كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢٤٢
“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum hukum-Nya) supayakamu memahaminya.” (QS. Al-Baqarah: 242)

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٣٢
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendagurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya yang menjelaskan bahwa orang yang tidak tunduk terhadap syariat-Nya, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya pada tempat yang semestinya. Sebab akal merupakan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang terbatas kadar keilmuannya, yang seharusnya berada di bawah kekuasaan Allah Yang Mahasempurna dan Maha Berilmu terhadap segala sesuatu.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diimani dan penukilan (berita itu) sahih dari beliau tentang permasalahan yang (bisa) kita saksikan atau pun sesuatu yang (sifatnya) gaib. Kita mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dan kejujuran, baik masuk akal maupun tidak, dan kita belum mengetahui hakikat maknanya.” [Lum’atul I’tiqad poin no. 55]

MEMBANTAH SYARIAT DENGAN AKAL (Metode Orang Kafir)
Sudah menjadi kebiasaan orang-orang kafir untuk selalu menolak apa yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya berupa berita-berita serta ancaman-Nya dengan akal mereka dan menyangka bahwa akal mereka di atas segalanya dalam menentukan keputusan. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan tentang orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan,

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata, Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” (QS. Yasin: 78)

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengabarkan bahwa orang-orang kafir membantah apa yang dikabarkan kepada mereka tentang tauhid dengan akal mereka:

أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ٥
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

Mereka pun membantah tentang kenabian dengan akal mereka,

وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١
Mereka berkata, “Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?” (QS. Az-Zukhruf: 31)

Firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain, yang jika kita memerhatikan dengan saksama akan tampak bahwa sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para pengikut hawa nafsu dari kalangan para penyembah akal seperti kaum filosof, Jaringan Islam Liberal, dan yang sejalan dengan mereka ini hanyalah mengikuti cara-cara nenek moyang mereka dalam ber-istidlal (mengambil dalil) untuk menolak al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menentang para rasul atau berita mereka dengan ma’qulat (sesuatu yang dianggap masuk akal) adalah metode orang-orang kafir.” [Mukhtashar ash- Shawa’iq al-Mursalah, hlm. 121]

Ternyata kebiasaan nenek moyang mereka ini pun diwariskan kepada para penerus pemeluk kesesatan dan para pengekor hawa nafsu untuk memelihara keabadian dan kelestarian budaya setan tersebut beserta para anteknya. Mereka masih saja menjadikan akal mereka sebagai tolak ukur untuk menilai sesuatu benar atau tidak, bahkan sampai kepada tingkat menilai benar tidaknya perkataan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya dengan kedangkalan akal yang mereka miliki.

Berikut ini beberapa contoh penolakan nash-nash dengan akal.

1. Menolak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

إِذّا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً
“Apabila lalat jatuh ke salah satu tempat minum kalian maka hendaklah dia menenggelamkan (lalat tersebut) lalu mengangkatnya. Karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawarnya.” [HR. al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu]

Orang-orang berpenyakit ini pun berkata, “Hadits ini lemah karena bertentangan dengan penelitian para ahli (kesehatan) yang berkesimpulan bahwa pada lalat semuanya terdapat racun dan tidak ada penawarnya!”

Sungguh suatu tindakan yang lancang dalam melemahkan hadits yang para ulama ahli hadits sepakat menerimanya hanya dengan alasan bertentangan dengan hasil penelitian? Apakah mungkin menolak hadits yang sifatnya qath’i (pasti) dengan penelitian yang masih bersifat zhanni (dugaan)? Sungguh ini merupakan suatu kebodohan yang nyata.

2. Menolak kandungan hukum dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۚ
“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian (bahwa) bagi seorang laki-laki mendapat bagian dua kali wanita.” (QS. An-Nisa: 11)

Orang-orang yang berpenyakit ini mengatakan bahwa ayat tersebut sudah tidak relevan karena sekarang sudah ada persamaan hak antara laki-laki dan wanita sehingga (dalam pembagian warisan) mereka harus mendapatkan bagian yang sama.

Sungguh merupakan suatu tindakan yang sangat lancang terhadap ayat Allah Yang Maha adil dan Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Ayat yang muhkam (jelas) ini merupakan ayat yang terus berlaku pada setiap zaman dan tidak dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia atau adanya gerakan emansipasi yang terjadi di zaman tertentu. Semoga Allah k menyumbat mulut orang-orang yang melampaui batas!

SIKAP PARA SAHABAT TERHADAP AKAL
Para sahabat sebagai manusia termulia di antara umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling paham dalam menempatkan akal mereka. Disaat mereka diajak untuk bermusyawarah dalam membicarakan siasat pertempuran, mereka mengungkapkan berbagai siasat dengan kepandaian akal dan pengalaman yang mereka miliki, seperti yang terjadi pada Perang Badr dan Khandaq.

Dalam perdagangan, dengan akal dan kepandaian yang mereka miliki dalam berjual beli mereka mampu melakukan__muamalah jual beli yang mendatangkan keuntungan berlipat tanpa harus berbuat curang. Dalam bercocok tanam, mereka ahli dalam mengembangkan hasil ladang dan tanaman sehingga membawa hasil yang melimpah.

Namun dalam perkara yang telah menjadi ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul- Nya, tidak keluar dari lisan mereka kecuali pernyataan, “Kami dengar dan kami menaatinya!”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥١
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orangorang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang ketaatan kaum Muhajirin dan Anshar, walaupun dalam perkara yang mereka benci. Inilah perkataan mereka, dan sekiranya mereka kaum mukminin maka tentunya mereka pun akan mengatakan (seperti yang dikatakan oleh kaum Muhajirin dan Anshar), ‘Kami mendengar dan kami taat’.” [Tafsir al-Qurthubi, 12/294— 295]

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada kita semua menuju jalan yang lurus.

Wallahul musta’an.


Ruh

Al-Quran, Tentang Ruh


Asbabun Nuzul





“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’” (QS. Al-Isra’: 85)

Imam Ahmad meriwayatkan dari `Abdullah bin Mas’ud, ia bercerita, aku pernah berjalan bersama Rasulullah di sebuah kebun di Madinah, ketika itu beliau dalam keadaan bertongkat dengan pelepah kurma. Kemudian beliau berjalan melewati sekelompok orang dari kaum Yahudi, lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Tanyakan kepadanya tentang ruh.” Sebagian mereka berkata: “Jangan kalian bertanya kepadanya.”

Maka mereka pun -lanjut Ibnu Mas’ud- bertanya kepada Rasulullah tentang ruh, di mana mereka bertanya: “Ya Muhammad, apakah ruh itu?” Dan beliau masih tetap bersandar pada pelepah kurma. Aku menduga Allah menurunkan wahyu kepada beliau, di mana Dia berfirman: wa yas-aluunaka ‘anir ruuhi qulir ruuhu min amri rabbii wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilan (“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”)

Lebih lanjut Ibnu Masud bercerita, kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Sudah kami katakan kepada kalian, janganlah kalian bertanya kepadanya.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Siyaq (redaksi) ayat ini secara lahiriyah menunjukkan bahwa ayat ini turun di Madinah dan turun ketika Rasulullah ditanya oleh orang-orang Yahudi tentang ruh di Madinah, padahal surat ini secara keseluruhan adalah Makkiyyah.

Mengenai hal tersebut, pernah ada yang menjawab bahwa mungkin saja ayat tersebut turun di Madinah an-Nabawiyyah untuk yang kedua kalinya sama seperti ketika diturunkan di Makkah sebelumnya. Dan mungkin juga wahyu itu telah turun kepada beliau, lalu beliau menjawab pertanyaan yang mereka ajukan itu dengan menggunakan ayat tersebut yang telah diturunkan sebelum pertanyaan itu diajukan, yaitu firman-Nya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh.”

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna ruh dalam ayat ini, mengenai hal itu terdapat beberapa pendapat. Maksud pertama, yang dimaksud adalah arwah anak cucu Adam.

Mengenai firman-Nya, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh,” al-`Aufi menceritakan dari Ibnu `Abbas, yang demikian itu, orang-orang Yahudi pernah berkata kepada Nabi saw: “Beritahukan kepada kami tentang ruh dan bagaimana ruh yang terdapat di dalam jasad itu di adzab. Sedangkan ruh itu dari Allah, dan tidak pernah turun sedikit pun kepadanya, berada di dalamnya, maka tidak ditarik sedikit pun dari mereka!?. Lalu Jibril datang kepada beliau seraya berujar: “Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’”

Maka Rasulullah saw. pun memberitahu mereka tentang hal itu. Lalu mereka bertanya: “Siapa yang mengajarimu seperti ini?” Beliau menjawab: “Jibril yang telah membawakan wahyu ini kepadaku dari sisi Allah.” Mereka berkata kepada beliau: “Demi Allah, tidak ada yang memberitahukan kepadamu melainkan musuh kami.”

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman yang artinya: “Katakanlah: `Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 97)

Ada yang mengatakan, yang dimaksud dengan ruh di sini adalah Jibril. Dan ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud ruh adalah Malaikat yang agung, yang besar dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya.

Firman Nya: qulir ruuhu min amri rabbii (“Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku.’”) Maksudnya, dari keadaan-Nya dan ilmu tentangnya hanya dikhususkan pada-Nya dan tidak diberikan pada kalian. Oleh karena itu, Dia berfirman: wa maa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilan (“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”)

Maksudnya, Allah Ta’ala tidak memberi ilmu tentang ruh itu kepada kalian melainkan hanya sedikit saja. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat menyelami ilmunya kecuali yang dikehendaki-Nya saja. Dengan kata lain, jika dibandingkan dengan ilmu Allah Ta’ala, ilmu kalian teramat sangat sedikit. Masalah ruh yang kalian tanyakan ini ilmunya hanya dimiliki oleh-Nya semata dan tidak diberikan kepada kalian, sebagaimana Dia tidak memberikan ilmu-Nya kepada kalian melainkan hanya sedikit saja. Wallahu a’lam.

Kemudian as-Suhaili menyebutkan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para ulama, yakni, apakah ruh itu jiwa atau ada pengertian lainnya.

Ada yang menetapkan bahwa ruh adalah suatu dzat yang sangat lembut seperti udara yang beredar di dalam jasad, seperti beredarnya air di dalam akar pohon. Ditetapkan pula bahwa ruh yang ditiupkan Malaikat ke dalam janin adalah jiwa dengan syarat berhubungan dengan badan, karena adanya hubungan dengan badan dan geraknya jiwa itu dengan sebab adanya ruh dengan sifat-sifat yang baik atau buruk. Jiwa itu bisa jiwa muthmainnah (tenang) atau jiwa yang menyuruh kepada keburukan.

Lebih lanjut ia mengatakan, sebagaimana air merupakan kehidupan bagi pohon, yang melalui perpaduannya muncul nama baru. Jika ia bercampur dengan anggur dan diperas, maka akan menjadi minuman perasan anggur atau minuman khamr. Dan pada saat itu tidak lagi disebut sebagai air kecuali disebut kata kiasan. Demikian juga dengan ruh, jiwa itu tidak disebut ruh melainkan disebut dalam kata kiasan. Dan ruh pun tidak dapat disebut jiwa kecuali melalui pengungkapan seperti itu. Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa ruh itu merupakan pokok dan materi jiwa dan jiwa itu sendiri terdiri dari ruh. Dilihat dari hubungannya dengan badan, maka ia adalah jiwa, tetapi itu tidak dari semua sisi. Pengertian tersebut adalah baik. 

Wallahu a’lam.

RINGKASAN
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (al-Israa’: 85)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa pada suatu hari Nabi saw. berjalan dengan tongkat di Madinah disertai oleh Ibnu Mas’ud, dan lewat di depan segolongan Yahudi. Salah seorang mereka berkata: “Mari kita bertanya kepadanya.” Merekapun berkata: “Coba terangkan kepada kami tentang ruh.” Nabi berdiri sesaat seraya mengangkat kepala ke langit. Terlihat beliau sedang diberi wahyu. Kemudian bersabda bahwa … ar-ruuhu min amri rabbii, wamaa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilaa ... (ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (al-Israa’: 85). Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Quraisy berkata kepada kaum Yahudi: “Ajarilah kami sesuatu untuk ditanyakan kepada orang ini (Muhammad).” Berkatalah orang Yahudi: “Cobalah tanyakan kepadanya tentang ruh.” Merekapun menanyakannya kepada Nabi saw. Turunnya ayat ini (al-Israa’: 85) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai tuntunan kepada Rasulullah saw. dalam menjawab pertanyaan tersebut.

Keterangan: Terkait hal ini Ibnu Katsir mengemukakan sebagai berikut: dua dari kejadian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ayat ini (al-Israa’: 85) turun berkenaan dengan kedua peristiwa tersebut. Demikian pula menurut pendapat al-Hafidz Ibnu Hajar, dengan tambahan bahwa diamnya Nabi saw ketika ditanya oleh Yahudi, boleh jadi menunggu penjelasan lebih jauh tentang masalah itu. Sekiranya bukan karena menunggu penjelasan lebih jauh, tentu yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih.

Menurut Imam as-Suyuthi, apa yang diriwayatkan oleh al-Bukhari itu lebih shahih, karena sumber rawinya hadir pada waktu terjadinya peristiwa itu, sedang Ibnu ‘Abbas tidak hadir dalam peristiwa itu.

Catatan: Ayat ini menjelaskan bahwa sejak dahulu hingga selamanya, pengetahuan umat Yahudi tentang ruh memang sangat sedikit!

-------------------------------------
Perlu penulis tambahkan:
“Orang-orang telah berbicara tentang esensi dan hukum ruh, bahkan mereka telah menyusun berbagai macam kitab yang membahas tentang hal itu. Dan di antara orang yang bagus pembahasannya dalam masalah ini adalah al-Hafizh Ibnu Mandah dalam sebuah kitab yang pernah kami dengar.”

[Sumber: Al-Quran Mulia]

Ruh

Al-Quran, tentang perbedaan antara Jiwa dan Ruh

Sebelum lebih jauh membicarakan Jiwa, ada baiknya jika  lebih dulu kita pahami perbedaan antara Jiwa dan Ruh, sebab tidak sedikit di antara kita yang masih rancu dalam memahami keduanya.

Pengertian Ruh di antaranya adalah untuk menggambarkan ‘sesuatu’ yang menyebabkan timbul atau munculnya kehidupan pada objek-objek yang tadinya (merupakan benda) mati, sekaligus 'menularkan' sifat-sifat ketuhanan kepada objek tsb. Selain itu, kata Ruh juga digunakan untuk menggambarkan eksistensi malaikat, dalam bentukan kata Ruh Al-Qudus dan Ruh Al-Amin. 

Ayat berikut ini menggambarkan fungsi kehidupan.
"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As Sajadah: 9)
Setidak-tidaknya ada tiga hal yang menyebabkan Ruh dan Jiwa berbeda. Yang pertama, karena substansinya. Yang kedua, karena fungsinya. Dan yang ketiga, karena sifatnya.

Perbedaan yang pertama, pada substansinya.
Jiwa dan Ruh berbeda dari segi kualitas eksistensinya. Jiwa digambarkan sebagai eksitensi yang dapat berubah-ubah kualitas: naik dan turun, jelek dan baik, kotor dan bersih, dan seterusnya. Sedangkan Ruh digambarkan sebagai eksistensi yang selalu baik dan suci, berkualitas tinggi. Bahkan digambarkan sebagai 'turunan' dari Dzat Ketuhanan.
"Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr: 29)
Tingginya kualitas Ruh itu tergambar dari dua hal, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Yang pertama, ditunjukkan oleh tunduknya malaikat kepada manusia. Dan yang kedua, ditunjukkan oleh penggunakan kata ganti "KU", yang menggambarkan bahwa Allah menyatakan betapa dekatnya eksistensi yang bernama Ruh itu dengan Allah.

Kita tahu, malaikat tunduk kepada Adam setelah Allah 'meniupkan' Ruh-Nya kepada Adam, yakni setelah Allah menyempurnakan kejadian Adam sebagai seorang manusia. Jadi, kita dapat mengambil kesimpulan umum, bahwa kualitas Ruh itulah yang menyebabkan meningkatnya kualitas seorang manusia, dari sebelumnya tidak meiliki ruh kemudian memilikinya, sehingga menjadikan para malaikat menghormatinya.

Yang kedua, tingginya derajat eksistensi yang disebut Ruh itu terlihat dari bagaimana Allah menyebutnya sebagai "Ruh-Ku." Tidak pernah Allah, dalam semua firman-Nya, menggunakan kata ganti kepunyaan 'KU' untuk Jiwa. Misalnya, mengatakan 'Jiwa-KU'. Tetapi Dia menggunakan kata ganti kepunyaan itu, untuk menggambarkan Ruh.

Penting untuk dipahami bahwa penggunaan kata "Ruh-Ku" ini tentu tidak boleh ditafsirkan secara keliru misalnya sebagai Ruh Allah yang masuk ke dalam diri manusia. Melainkan harus dipahami, karena memang demikian adanya, sebagai Ruh milik (ciptaan) Allah yang ditiupkan ke dalam diri makhluk ciptaan-Nya. Meskipun di ayat lain, Allah juga mengatakan "sebagian dari Ruh-Ku", yang menuntun kita pada pemahaman bahwa Allah ‘mengimbaskan’ sebagian dari sifat-sifat-Nya kepada manusia lewat Ruh itu.

Dengan Ruh itulah kemudian manusia menjadi memiliki kehendak. Dengan Ruh itu pula manusia bisa berilmu pengetahuan. Dengan Ruh itu pula ia menjadi bijaksana, memiliki perasaan cinta dan kasih sayang, serta berbagai sifat ketuhanan, tapi dalam skala manusia. Ya, Ruh adalah dzat yang menjadi media penyampai sifat-sifat Ketuhanan di dalam kehidupan manusia.
" ... dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari Ruh Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab Nya; dan adalah dia termasuk orang-orang yang ta'at." (QS. At-Tahrim: 12)

"Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (QS. As Sajadah: 9)
Dalam kaitannya dengan fisik, Allah menjelaskan bahwa Ruh tersebutlah yang menjadikan fungsi-fungsi kehidupan seperti penglihatan, pendengaran dan hati seorang manusia bisa dipahami oleh jiwa. Jika tidak karena Ruh, maka fungsi penglihatan, pendengaran dan 'hati' tidak menghasilkan kefahaman sebagaimana seorang manusia. Melainkan, bagaikan seekor hewan saja. Hal ini dikemukakan oleh Allah dalam firman-Nya.
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al A'raaf: 179)
Jadi kita bisa merasakan betapa istimewanya Ruh. Ruh lah yang menjadikan kita sebagai manusia seutuhnya, yang 'menularkan' sifat-sifat Allah yang Serba Sempurna dalam skala kehidupan manusia. Karena demikian tingginya kualitas Ruh itu, maka dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa Ruh adalah urusan Allah.
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al- Israa': 85)

Perbedaan yang kedua antara Jiwa dan Ruh adalah pada fungsinya.
Jiwa digambarkan sebagai ‘sosok’ yang bertanggung jawab atas segala perbuatan kemanusiaannya. Bukan Ruh yang bertanggung jawab atas segala perbuatan manusia, melainkan Jiwa.

Ruh adalah dzat yang selalu baik dan berkualitas tinggi. Sebaliknya Hawa Nafsu adalah dzat yang berkualitas rendah dan selalu mengajak kepada keburukan. Sedangkan Jiwa adalah dzat yang bisa memilih kebaikan atau keburukan tersebut. Maka, Jiwa harus bertanggung jawab terhadap pilihannya itu.

Setiap Jiwa akan menerima konsekuensi atau balasan dari perbuatan jeleknya atau perbuatan baiknya. la terkena dosa dan pahala. Sedangkan Ruh, selalu ‘mengajak’ kepada kebaikan. Ini juga ada kaitannya dengan istilah Ruh yang digunakan untuk menyebut malaikat. Malaikat adalah agent kebaikan. Lawan dari Iblis dan setan sebagai agent kejahatan.
"Demi malaikat-malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan," (QS. Al Mursalat: 1)

"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah." (QS. Fathiir: 5)

Dan yang ketiga, Perbedaan itu ada pada sifatnya. 
Jiwa bisa merasakan kesedihan, kekecewaan, kegembiraan, kebahagiaan, ketentraman, ketenangan, dan kedamaian. Sedangkan Ruh bersifat stabil dalam 'kebaikan' tanpa mengenal perbandingan. Ruh adalah kutub positif dari sifat kemanusiaan. Sebagai lawan dari sifat setan yang negatif.

Dalam kalimat yang berbeda, Ruh juga digambarkan bagaikan malaikat yang mengajak pada cahaya yang terang benderang, melepaskan diri dari dunia kegelapan hawa nafsu. Seiring dengan substansi malaikat yang terbuat dari cahaya.

Sedangkan Jiwa adalah sosok yang 'bergerak' dan kualitasnya berubah terus di antara 'kutub cahaya' sang Ruh dengan 'kutub kegelapan' tubuh manusia yang terbuat dari tanah. Antara 'kutub malaikat' dan 'kutub setan'.

Jadi kalau digambarkan secara ringkas, Allah menciptakan tubuh manusia dari material tanah dan kemudian 'meniupkan' sebagian Ruh-Nya kepada tubuh itu. Maka, hiduplah' bahan organik tanah' menjadi tubuh manusia, disebabkan oleh adanya Ruh. Dan akibat dari bersatunya tubuh dan Ruh, sejak saat itu pula mulai aktiflah Jiwa manusianya.

Jadi, Jiwa adalah akibat. Bukan penyebab. Penyebab utama adalah masuknya Ruh ke dalam tubuh , kemudian muncullah Jiwa sebagai interaksi antara Ruh dengan tubuh.

Di dalam tubuh yang sudah ada Ruhnya itulah Jiwa berkembang mencapai bentuknya yang tertinggi. Ada dua kutub yang saling tarik-menarik di dalam diri kita, yaitu: Ruh dan tubuh.

Ruh mewakili sifat-sifat malaikat yang penuh dengan ketaatan, keikhlasan, akal sehat, kesucian, cinta kasih dan kesempurnaan. Sedangkan tubuh mewakili sifat-sifat iblis dan setan yang menggambarkan kehidupan materialistik, pemenuhan kebutuhan badaniah, keserakahan, kesombongan, pertentangan, kemarahan, dan segala tipu daya kehidupan.

Dalam kalimat berbeda, Ruh menggambarkan Akhirat sebagai kehidupan yang sesungguhnya, sedangkan tubuh menggambarkan Dunia sebagai kehidupan sementara yang penuh kepura-puraan dan semu.

Ruh adalah Akal Sehat, sedangkan tubuh adalah Hawa Nafsu!


[Sumber: News7Share]
Ruh

Al-Quran, tentang hakekat Ruh menurut ajaran Islam


Bagaimanakah hakikat RUH berdasarkan hadis-hadis Islam, 
dan mengapa hal ini tidak diutarakan secara komprehensif dalam Al-Quran?

Pertanyaan
Dalam al-Quran terdapat ayat yang berbunyi, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra [17]: 85) Mohon jelaskan: pertama, mengapa Rasulullah Saw tidak ingin menegaskan informasi dan pengetahuan yang lebih luas terkhusus mengenai ruh? Kedua, berdasarkan hadis-hadis yang ada, apa sebenarnya hakikat ruh itu? Apakah ruh dapat dilihat?

Jawaban Global
Kata ruh mempunyai maksud yang berbeda dalam berbagai disiplin ilmu. Kata ini dalam masing-masing ilmu memiliki makna istilah yang khas, begitu pula dalam al-Quran, terdapat makna tipikal yang yang diungkapkan dengan intepretasi-intepretasi yang berbeda.

Terdapat beberapa asumsi mengenai hakikat dari makna ruh yang dipersoalkan pada ayat ini, di antaranya: ruh hewani, ruh insani (jiwa-berpikir), ruh al-qudus atau Jibril, dan ruh yang bermakna makhluk yang lebih tinggi dari malaikat. Namun yang pasti bukanlah ruh hewani yang merupakan subyek kajian dalam ilmu Kedokteran, karena pengetahuan terhadap ruh ini bukan merupakan suatu persoalan yang jauh dari jangkauan ilmu.

Demikian juga ruh ini bukanlah Jibril, karena dalam sebagian ayat-ayat al-Quran, ruh telah disebutkan berdampingan dengan malaikat dan dipandang sebagai persoalan yang berbeda dengan malaikat, secara tegas sebagian hadis juga menunjukkan perkara ini.

Berpijak pada ayat ini tentang hakikat ruh, hanya dalam batasan ini bisa dikatakan bahwa ruh adalah suatu hakikat yang non-materi dan menjadi urusan Tuhan, suatu perkara yang dinisbahkan kepada Tuhan, tidak terikat oleh ruang dan waktu serta tidak memiliki tipologi materi.

Memahami bagaimana perkara ketuhanan ini dan tingkatan-tingkatannya digolongkan sebagai rahasia-rahasia pengetahuan syuhudi (irfani) dan tidak boleh ada persangkaan bahwa Rasulullah Saw sendiri tidak memilik pengetahuan ini, namun karena mayoritas manusia tidak menjangkau pengetahuan seperti ini, maka membicarakannya akan menyebabkan kebingungan dan keheranan akal, dengan demikian, persoalan hakikat ruh tidak diungkapkan secara luas dalam aspek lahiriah al-Quran.

Dari ungkapan di atas menjadi jelas bahwa karena ruh merupakan suatu hakikat yang tidak berada dalam koridor ruang-waktu dan tidak memiliki tipologi materi, maka ia tidak berada dalam cakupan indera lahiriah dan penglihatan kasat mata. Akan tetapi, sebagian efek-efek dan manifestasi-imaginal (mitsali) ruh hadir dalam materi lembut, seperti dalam kehadiran ruh badan-imaginal (mitsali) di alam barzakh.

Perlu diungkapkan bahwa dalam tradisi sebagian disiplin ilmu dan begitu juga dalam ungkapan-ungkapan yang aplikatif, secara lahiriah ruh digunakan untuk menunjuk bentuk [badan] mitsali ini, karena bentuk [badan] ini mengandung ruh yang telah berpisah dari badan-jasmani dan secara luas bisa menampakkan pengaruh-pengaruh ruh. Badan-mitsali ini dapat dilihat dan diindera di alamnya sendiri [alam mitsali atau barzakhi].

Namun hal ini tidak dapat diperbandingkan dengan ruh yang disandarkan secara langsung kepada Tuhan dan merupakan sejenis perkara Ilahi, karena keberadaan ruh di alam eksistensi [alam akal, mitsal, materi] lebih tinggi dari perkara-perkara tersebut dan tergolong sebagai rahasia-rahasia Ilahi.

Jawaban Detil

1. Pendahuluan 
Salah satu pembahasan penting dan mendasar dalam agama-agama, hikmah [Hikmah Muta’aliyah], filsafat, dan irfan adalah pengenalan dan pengetahuan tentang ruh dari dimensi antropologi-filosofis (pengetahuan filosofis mengenai manusia) dan kosmologi.

Di kalangan para teolog dan filosof Islam, terdapat beragam pendapat mengenai hakikat ruh, begitu pula, masalah ini terungkap secara global dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis.

Namun secara umum, pengetahuan tentang ruh dalam koridor makna-makna Quraninya (yang banyak mengisyaratkan tentang suatu hakikat yang lebih tinggi dari malaikat) tidak terjangkau oleh semua disiplin ilmu empirik dan pikiran-pikiran para intelektual, tapi dapat dicapai oleh suatu pengetahuan yang bersifat syuhudi dan irfani. Sebagaimana mereka mengatakan bahwa makrifat tentang jiwa yang tidak lain adalah makrifat tentang Tuhan adalah mengenal hakikat ruh.[1]

2. Apa yang dimaksud dengan ruh? 
Perlu diutarakan bahwa apa yang dimaksudkan dari kata ruh pada beragam disiplin pengetahuan adalah berbeda-beda, dan kata ini dalam setiap disiplin ilmu, baik dalam ilmu-ilmu klasik maupun kontemporer memiliki makna istilah tipikalnya tersendiri, begitu pula dalam istilah quraninya memiliki makna yang khusus yang digunakan dalam ungkapan-ungkapan yang berbeda seperti kata al-ruh, [2] ruhi, [3] ruh minhu, [4] ruh al-amin, [5] ruh al-qudus, [6] dan lain sebagainya.

3. Ruh dalam ayat 85 surah Isra
Salah satu ayat-ayat penting dalam al-Quran yang mengutarakan tentang hakikat ruh secara umum adalah ayat 85 surah Isra (18) yang menyatakan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Terdapat beberapa kemungkinan tentang ruh yang disebutkan pada ayat di atas, ruh hewani, ruh insani (jiwa-berpikir), ruh al-Qudus atau Jibril, dan ruh yang bermakna suatu makhluk yang lebih tinggi dari malaikat.

Namun yang pasti, yang dimaksudkan oleh ayat tersebut bukanlah ruh hewani yang merupakan subyek kajian ilmu Kedokteran, karena pengenalan terhadap hakikat ruh ini berada dalam jangkauan berbagai disiplin ilmu dan dalam berbagai ilmu Kedokteran klasik dan psikologi modern, terdapat beragam pemikiran yang tergagaskan tentang hakikat ruh ini.

Begitu pula, tidak bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ruh tersebut adalah Jibril, karena kata ruh selain yang dimaksudkan oleh ayat ini, telah dinyatakan berulang-ulang dalam banyak ayat al-Quran. Dan dengan alasan karena disebutkan bersama dengan malaikat dan yang terpilih dari mereka (al-malaikatuh wa ar-ruh, malaikat dan ruh), maka sudah pasti bahwa ruh bukanlah malaikat, di samping itu sebagian hadis-hadis menegaskan tentang perbedaan dua realitas ini. Mengenai hakikat ruh yang terdapat pada ayat, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh...”, Allamah Thabathabai mengatakan bahwa secara lahiriah, ruh adalah suatu ciptaan yang lebih luas [dan lebih tinggi] dari Jibril dan selain Jibril.

Di bawah ini akan disebutkan sebagian hadis-hadis yang menunjuk bahwa ruh bukan malaikat dan bukan Jibril:

Seorang datang menghampiri Imam Ali As dan bertanya, “Apakah ruh adalah Jibril itu sendiri?” beliau bersabda, “Jibril adalah dari malaikat dan ruh bukanlah Jibril.” [7]

Abu Bashir bertanya kepada Imam Shadiq As tentang firman Tuhan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku,” Imam Shadiq As bersabda, “Ruh adalah suatu ciptaan yang lebih agung [lebih luas, lebih besar, dan lebih tinggi] dari Jibril dan Mikail As. Ruh ini bersama Rasulullah Saw dan para Imam Ahlulbait dan berasal dari alam malakut.” [8]

Kendati demikian, kita menyaksikan dalam sebagian ayat-ayat al-Quran yang memperkenalkan Jibril As sebagai Ruh al-Amin, namun bentuk penggabungan dari kedua tema ini adalah sebagaimana yang ditegaskan oleh Allamah Thabathabai Qs, “Dari ungkapan al-Quran dapat disimpulkan bahwa Jibril dan para malaikat adalah “pembawa” dan “penyampai” ruh dan mereka akan senantiasa bersama dengannya dalam [perjalanan] menurun dan menaik. Dan dari aspek inilah, ruh dari satu sisi adalah realitas yang tak terpisah dari malaikat dan Jibril, dan dari sisi yang lain sebagai realitas yang terpisah dari mereka.”[9]

4. Hakikat Ruh dalam al-Quran dan ayat 85 surah Isra
Mengenai hakikat ruh ini, pada ayat tersebut, secara umum Allah Swt berfirman, “Katakanlah, ruh itu termasuk urusan [perkara] Tuhan-ku.” Supaya hakikat tentang “urusan Ilahi” ini menjadi jelas bagi kita, kita dapat merujuk pada sebagian ayat-ayat seperti, “Sesungguhnya perkara-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” [10] Urusan-Nya adalah demikian, bahwa ketika Dia menghendaki sesuatu, hanya dengan mengatakan “Jadilah”, maka sesuatu tersebut akan segera terwujud.

Menurut Allamah Thabathabai dalam Tafsir al-Mizân, ayat ini menunjukkan bahwa ruh merupakan salah satu dari urusan Allah yang dinisbatkan pada zat-Nya, dan karena yang termasuk dalam “urusan Ilahi” adalah kalimat “kun” (jadilah), yang tak lain adalah kalimat pewujudan dan mengisyarahkan pada perbuatan khusus bagi Zat Ilahi, oleh karena itu, ruh juga termasuk dalam urusan Ilahi dalam skala masa dan tempat, dan dan sama sekali tidak bisa diperhitungkan dengan kriteria-kriteria materi lain yang manapun.[11]

Dalam al-Quran, ruh ini didefinisikan dengan berbagai intepretasi, salah satunya disebutkan secara sendiri dan secara mutlak, seperti ayat di atas. Demikian juga kadangkala disebutkan bersama malaikat, dan terkadang dikatakan sebagai sebuah hakikat yang akan ditiupkan pada manusia secara umum, suatu waktu juga merupakan sebuah hakikat yang menyertai orang-orang beriman, dan kali lain sebagai sebuah hakikat dimana para nabi berinteraksi dengannya.

5. Kenapa tidak ada penjelasan lebih mendalam tentang hakikat ruh?
Secara umum, mengenai hakikat ruh, cukup untuk dikatakan bahwa ruh merupakan sebuah hakikat non-materi (mujarrad) dan merupakan salah satu dari urusan Allah, akan tetapi pemahaman tentang bagaimana urusan ketuhanan ini dan tahapan-tahapannya, membutuhkan ilmu syuhudi, dan termasuk dari rahasia-rahasia mukasyafah, dan karena mayoritas manusia tidak memiliki pemahaman seperti ini, maka membincangkan masalah ini akan menyebabkan keheranan akal, dan mungkin juga akan menyebabkan ketersesatan.

Karena itu, dalam al-Quran al-Karim tidak ada penjelasan yang lebih mendalam mengenai pengenalan ruh.

Dari sini, tidak boleh ada persangkaan bahwa Rasulullah sendiri tidak memiliki ilmu ini, sebagaimana pengenalan hakikat ruh secara perolehan dan yakin merupakan bagian dari derajat para arif, dan penjelasan rahasia-rahasianya bagi mereka yang mencintai ilmu ini, tidak akan memiliki manfaat ilmiah.[12]

Sedangkan yang dimaksud dalam kalimat “wa mâ ûtîtum minal ‘ilmi illâ qalîlâ” adalah bahwa apa yang dimanfaatkan oleh ulama dari aspek lahirian masalah ini, hanyalah sedikit dari yang banyak, dan hakikat ruh merupakan sebuah persoalan yang lebih luas, dan memahaminya tidak akan mungkin diterima kecuali melalui ilmu perolehan (ilm hushuli).

6. Apakah ruh dapat dilihat?
Dari apa yang telah lalu menjadi jelas bahwa karena ruh adalah sebuah hakikat yang tidak terikat oleh ruang dan waktu dan tidak memiliki karakteristik materi, maka ruh ini tidak berada dalam cakupan indera lahiriah dan penglihatan kasat mata.

Kendati mukasyafah dan syuhud sebelumnya, ruh dapat diterima bagi para maksum, dan mungkin para arif juga memiliki syuhud ini secara global, dan tidak ada perbedaan dengan kenonmaterian ruh.

Demikian juga, sebagian dari pengaruh dan manifestasi ruh (bukan zat ruh itu sendiri) bisa tertampakkan dalam bentuk materi lembut, seperti badan mitsali yang merupakan bentuk ruh di alam barzah dan memiliki karakteristik-karakteristik yang mirip dengan jasmani duniawi dalam sebuah derajat yang lebih tinggi dari lathafat dan nuraniyat.

Perlu disebutkan bahwa dalam tradisi sebagian disiplin ilmu, demikian juga dalam sebagian perubahan yang aplikatif, menunjuk pada bentuk [badan] mitsali ini, karena bentuk [badan] ini mengandung ruh yang telah berpisah dari badan-jasmani dan secara luas bisa menampakkan pengaruh-pengaruh ruh. Badan-mitsali ini dapat dilihat dan diindera di alamnya sendiri [alam mitsali atau barzakhi]. Namun hal ini tidak bisa diperbandingkan dengan ruh yang disandarkan secara langsung kepada Tuhan dan merupakan sejenis perkara Ilahi, karena keberadaan ruh di alam eksistensi [alam akal, mitsal, materi] lebih tinggi dari perkara-perkara tersebut dan tergolong sebagai rahasia-rahasia Ilahi. [iQuest]

CATATAN KAKI
[1] Ahmad bin Muhammad Husain Ardakani, Mar-ât al-Akwân (tahrir Syarh Hidayah Mulla Shadra), hlm. 37, Nasyir, Mirats Maktub.
[2] “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Qs. Al-Isra [17]: 85); “(Dia-lah) yang mengangkat derajat (para hamba yang saleh), yang mempunyai ‘Arsy, yang mengutus Jibril dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Al-Ghafir [40]: 15).
[3] “Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Qs. Shad [38]: 72).
[4]”Menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya.” (Qs. Al-Mujadalah [58]: 22); “Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.” (Qs. Al-Nisa [4]: 171).
[5] “Ar-Ruh al-Amin (Jibril) telah menurunkannya.” (Qs. Al-Syuara [26]: 193).
[6] .”Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa dan telah menyusulinya (berturut-turut) setelah itu dengan rasul-rasul, serta Kami telah menganugerahkan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putra Maryam dan memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.” “Rasul-rasul itu Kami lebih utamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berbicara (langsung) dengannya dan sebagian yang lain Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami menganugrahkan kepada Isa putra Maryam tanda-tanda (kebesaran Kami) yang jelas serta Kami memperkuatnya dengan Rûhul Qudus.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 87 dan 253); “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus.” (Qs. Al-Maidah [5]: 110); “Katakanlah, “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs. Al-Nahl [16]: 102).
[7] Kulaini, Kâfî, jil. 1, hal. 274, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, 1365.
[8] Ibid, jil. 1, hlm. 273.
[9] Sayyid Muhammad Husain Thabathabai, Al-Mîzân, Sayyid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 13, hlm. 171-172, Jamiah Mudarrisin, Qom, 1374.
[10] “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka terjadilah ia.” (Qs. Yasin [36]: 82).
[11] Al-Mîzân, jil. 1, hlm. 528-29.
[12] Ma-rât al-Akwân (Syarh Hidâyah Mulla Shadra) hal. 36.