Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Problematika Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Problematika Kristen. Tampilkan semua postingan

Benarkah Allah Adalah Roh?


Sebagai makhluk ciptaan Allah, saya tidak percaya, bahkan sangat tidak percaya, bahwa nabi Yesus Kristus (pbuh) pernah mengucapkan kalimat seperti yang dikarang oleh para editor alkitab dalam Yohanes 4:24, di mana disebutkan bahwa "Allah adalah Roh ..... dst"

Sebagai gantinya, saya lebih percaya pada ucapan beliau yang juga dicatat dalam injil Yohanes 5:37 dengan narasi yang seharusnya lebih lengkap, kurang lebih begini:

"Kalian tidak pernah mendengar suara-Nya, apalagi melihat wujud-Nya, karena Allah memang tidak dapat didengar dan tidak dapat dilihat oleh manusia!"

Alasannya?
Pertama, makna eksplisit dan implisit dari Yohanes 5:37 tsb sesuai dengan ajaran semua nabi terdahulu dan ajaran nabi terkemudian, sebagaimana ditulis oleh Musa dalam kitabnya, bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah!

Kenapa?
Karena yang terdengar dan terlihat sudah pasti adalah ciptaan, sedangkan Allah tidak sama dan tidak menyerupai apapun dari seluruh ciptaan-Nya, apalagi menyerupai Tuhan hasil ciptaan dari hayalan manusia!

Kedua, kalimat dalam Yohanes 4:24 itu dikarang oleh penulisnya kurang lebih 80 tahun setelah nabi Yesus Kristus (pbuh) sendiri tiada. Artinya dia tidak pernah menjadi saksi mata dan mendengar sendiri bahwa memang benar nabi Yesus Kristus (pbuh) pernah berkata bahwa Allah adalah Roh!

Di samping itu, tidak pernah jelas pula kata apa dan dalam bahasa apa yang sesungguhnya tertulis dalam Yohanes 4:24 itu pada awalnya, karena selama hampir 19 abad, ratusan bahkan mungkin ribuan kata dan ayat-ayat, termasuk Yohanes 4:24, dalam kitab kristen ini secara terus menerus direvisi oleh para editornya mengikuti perintah dan pesan sponsor dari petinggi gerejanya masing-masing. 

Ketiga, ketika coba menjelaskan eksistensi Allah seperti dimaksud oleh nabi Yesus Kristus (pbuh) dalam Yohanes 5:37, para editor alkitab mengalami kebingungan luar biasa tentang bagaimana menggambarkan Allah yang dipercaya ADA, tapi tidak terdengar dan tidak pula terlihat itu.

Di dalam kebingungan dan keterbatasan nalar kristen mereka, seperti sudah lama diisyaratkan oleh nabi Yesus kristus (pbuh) dalam Yohanes 16:12, bahwa kecerdasan iman pengikutnya jauh di bawah kecerdasan iman pengikut "si Penghibur" yang datang kemudian, akhirnya para editor ini memutuskan untuk menuliskan - atas nama Yohanes - bahwa Allah adalah Roh, mengikuti asumsi produk keterbatasan akal mereka yang cuma sampai pada kesimpulan sedangkal itu, bahwa sosok hidup yang ADA tapi tidak telihat oleh manusia hanya Roh. Dan karenanya, mereka pun menyamakan Allah dengan Roh!

Di Indonesia, salahsatu sumber catatan sejarah kitab kristen sendiri, yaitu Sabda Web, menunjukkan bukti-bukti bahwa dalam Terjemah Lama (TL) Kisah Para Rasul yang disebut-sebut sebagai tulisan Lukas, Allah digambarkan sebagai "Zat yang tidak dapat dijelaskan".

"Maka oleh sebab kita dijadikan Allah, tiadalah patut kita menyangkakan ZAT Allah itu serupa dengan emas atau perak atau batu yang berukir dengan kepandaian dan akal manusia."

Bukan hanya Lukas, Paulus yang disebut-sebut sebagai pengarang kitab Ibrani dan epistel Timotius juga menggambarkan Allah sebagai zat

Ya, menurut kitab kristen sendiri, Allah adalah ZAT, seperti tertulis dengan sangat jelas di antaranya begini:

"Yang hanya mempunyai ZAT yang tiada mati, dan mendiami terang yang tiada terhampiri; Yang tiada pernah dilihat atau dapat dilihat orang, maka bagi-Nyalah kemuliaan dan kuasa yang kekal. Amin."

"Maka Ialah menjadi cahaya kemuliaan Allah dan ZAT Allah yang kelihatan, serta Ia menanggung segala sesuatu dengan firman kuasa-Nya; dan setelah Ia membuat persucian segala dosa, maka duduklah Ia di sebelah kanan Yang Mahabesar di dalam ketinggian;"

"Karena sedangkan Taurat itu hanya menunjukkan bayang-bayang segala berkat yang akan datang itu, bukannya ZAT yang sungguh segala perkara itu, maka ia itu dengan korban itu juga, yang senantiasa dipersembahkan oleh imam-imam tiap-tiap tahun, sekali-kali tiada dapat menyempurnakan orang-orang yang menghampiri itu."

Jadi, siapapun umat kristen Indonesia dewasa ini yang meyakini Allah adalah Roh dan Roh Allah adalah Allah patut merenungi pertanyaan sangat serius ini; "sudah benarkah iman saya selama ini?"

Kenapa?
Karena jika benar Allah adalah Roh -- dan Roh Allah adalah Allah -- maka menurut kitab kristen sendiri, semua manusia adalah Allah!

Perhatikan lagi firman Yang Mahakudus, bahwa sejak pada mulanya, Roh-Nya sudah lebih dulu berdiam pada diri setiap manusia.

Berfirmanlah TUHAN: "Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia .... dst."

Ini dengan sendirinya membuktikan bahwa apa yang tertulis dalam Yohanes 4:24 adalah informasi yang tidak sama dengan eksistensi Allah yang sebenarnya. Atau dengan kata lain, iman kristen adalah iman yang tidak sama dengan iman yang dikehendaki oleh Allah yang sebenarnya!

Lalu, bagaimanakah agar iman kita sesuai dengan iman yang dikehendaki oleh Allah?

Nabi Yesus Kristus (pbuh) berpesan agar pengikutnya mengenal Allah, satu-satunya Tuhan yang seumur hidup beliau sembah, begini:

Sabda Isa kepadanya, "Kasihilah Allah, Tuhanmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu.

Artinya, dalam mengenal Allah, maka hati, jiwa, dan segenap akal budi harus lebih dominan daripada secara membuta percaya begitu saja pada semua tulisan dalam kitab yang bolak-balik direvisi, lalu diamini oleh para pendeta dan pastur dengan tambahan berbagai "improvisasi indah" yang menghanyutkan nalar dalam setiap khotbah mereka di mimbar gereja!

Ini sesuai dengan perintah Allah melalui ajaran "Si Penghibur" yang menghendaki agar setiap manusia menggunakan akalnya secara paripurna untuk berpikir lebih dulu sebelum mengamini, apalagi mengimani segala sesuatu yang dikatakan berasal dari Allah!

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya." (QS. 10:100)


Demikian.
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

[Dari catatan lama GM]

Kristen Bukan Pengikut Yesus



Fakta sejarah alkitabiah

KRISTEN BUKAN PENGIKUT YESUS KRISTUS!

Umumnya pengikut Paulus beranggapan bahwa "KRISTEN" adalah agama pengikut Yesus, atau agama yang di bawa oleh Yesus. Tidak sedikit pula yang meyakini bahwa "KRISTEN" adalah sebutan bagi para pengikut Yesus yang bergelar "Kristus".

Artinya, mereka percaya bahwa arti "KRISTEN" adalah pengikut Yesus Kristus. Dan karena merasa sebagai pengikut Yesus Krisitus, maka mereka pun menyebut diri sebagai "UMAT KRISTEN".

  • Tapi, benarkah Kristen adalah agama para pengikut Yesus?
  • Benarkah Yesus mengajarkan kekristenan kepada para pengikutnya?
  • Benarkah Yesus mengenal agama Kristen?
  • Atau, apakah Kristen benar benar agama yang berasal dari ajaran Yesus?

Mari sama-sama kita simak penjelasan berdasar alkitab tentang siapakah Kristen dan darimana asal muasal Kristen!

Kita ringkas saja, begini:

Jauh setelah Yesus tiada, murid-murid Yesus tetap mengemban amanat beliau untuk meneruskan ajaran Tauhid yang dibawanya. Amanat yang diberikan Yesus kepada murid muridnya adalah mewartakan kabar baik dari Tuhan HANYA kepada bangsa Israel saja! (lihat Matius 10:5-6)

Perintah Yesus kepada murid-muridnya ini cukup jelas dan tegas; HANYA BOLEH mengabarkan ajaran Yesus kepada bangsa Israel saja!

Tapi beberapa tahun setelah Yesus tiada, para pengikut Yesus mulai menyebarkan ajaran beliau tidak lagi terbatas HANYA kepada bani Israel saja tapi termasuk juga kepada bangsa non-Israel. Di sinilah awal mulanya mereka tidak lagi mematuhi perintah Yesus, alias mulai membangkang dan berimprovisasi sendiri!

Walaupun pada umumnya ajaran Yesus mereka sampaikan kepada bangsa Yahudi, tapi termsuk dalam hal ini, juga kepada orang-orang di luar bani Israel (Venicia, Syprus, Antiokhia dll). Bahkan ada yang menyebarkan ajaran Yesus kepada orang orang Yunani yang ada di Antiokhia!

Penyimpangan ajaran Yesus ini didengar oleh pengikut setia Yesus di Yerusalem, lalu mereka mengutus Barnabas untuk menemui para pembangkang ini ke Antiokhia. Barnabas menasehati mereka supaya tetap setia kepada Tuhan dan patuh pada amanat Yesus. Selanjutnya Barnabas memui Paulus untuk bersama-sama menetap sementara di Antiokhia.

Selama 1 tahun di Antiokhia mereka berdakwah kepada banyak orang-orang non-Yahudi. Padahal ini jelas-jelas sangat dilarang oleh Yesus! Selanjutnya, orang-orang ini, para pembangkang ajaran Yesus berikut orang-orang non-Israel inilah, yang untuk pertama kalinya dijuluki sebagai "KRISTEN". (Lihat KPR 11:26)

Maka menjadi jelas bagi kita semua bahwa KRISTEN (sebutan jemaat non-Israel di Antiokhia) BUKAN pengikut Yesus!

Padahal sudah amat terang kesaksian Yesus sendiri dalam Matius 15:24 yang menegaskan bahwa beliau dutus HANYA untuk domba-domba tersesat dari bani Israel saja. Bukan untuk domba negeri-negeri lain, apalagi sampai menyeberang laut ke Yunani?

Kristen yang tidak mengetahui sejarah awal kekristenan tentu akan segera berdalih bahwa menyebarkan Kristen ke seluruh dunia adalah perintah Yesus sendiri sebagaimana tertulis dalam ayat palsu Matius 28:18.

Tentang ini, silahkan simak bantahannya di sini: 

KESIMPULANNYA
Baik jemaat yang pertama kali disebut "KRISTEN" di Antiokhia maupun orang orang yang pada jaman now mengaku-ngaku sebagai umat "KRISTEN", dipastikan BUKAN pengikut Yesus Kristus!

Begitu yang perlu kita ketahui bersama.
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk.
.

Sumber: chirpstori | 

Tuhan Ingkar Janji?


Lagi, ayat-ayat "sangat mencurigakan" dalam alkitab!

TUHAN INGKAR JANJI?

Ah, Mustahil! Mana mungkin Tuhan ingkar janji?
Baiklah! 

Jika kita sepakat bahwa MUSTAHIL Tuhan ingkar janji, maka mari sama-sama kita perhatikan ayat-ayat alkitab berikut ini.

[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

Kitab yang sama ini mengisahkan bahwa Abraham memiliki dua orang anak. Lalu anak yang manakah yang dimaksud oleh Tuhan dalam perjanjian-Nya?

Jawabannya tertulis di bawah ini:

[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Wah! Ternyata menurut kitab ini, perjanjian itu diadakan oleh Tuhan dengan anak Abram yang bernama Ishak, yang kelak akan menjadi nenek moyang bangsa Israel, dan diulang lagi seperti di bawah ini:

[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

Apakah kemudian kitab ini membuktikan bahwa perjanjian tsb benar-benar dipenuhi oleh Tuhan?
Begini faktanya:


Jika anda benar-benar memperhatikan peta geografis yang dimaksud dalam perjanjian di atas, maka kita segera tahu bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini tidak ada satupun negeri dari keturunan Ishak [Israel] yang menguasai wilayah dari Mesir hingga sungai Eufrat.

Bahkan di masa puncak kejayaan bangsa Israel yang mampu membagun kerajaan terbesarnya di bawah pemerintahan Daud hingga Solomon sekalipun, ternyata wilayah yang dikuasainya hanya sebatas pojok sebelah utara mesir, dan luasnya pun tidak lebih besar dari luas pulau Jawa!

Dan silahkan anda yang kristen kaget barang sejenak -- atau kejang-kejang sekalian -- saat menyadari fakta yang ada, bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini seluruh wilayah dari Mesir hingga Sungai Efrat tsb nyatanya dipenuhi oleh bangsa-bangsa Arab keturunan Ismael!

Nah, bagaimana ini? Kenapa Tuhan kok ingkar janji? 
Sampai di sini, sekali lagi, pasti anda akan bilang;
"Ah! Mustahil Tuhan ingkar janji!"

Dengan demikian kita perlu mulai serius memikirkan bahwa jika memang mustahil, pasti ada yang "tidak beres" di sini!

Tapi kira-kira apa yang tidak beres itu?

  1. Mungkin tulisan ini salah menafsirkan informasi dari alkitab? 
  2. Mungkin alkitab yang dijadikan rujukan salah menuliskan informasinya? 
  3. Mungkin informasi alkitab sebenarnya tidak salah, tapi para editornya telah dengan sengaja mengganti nama-nama yang dimaksud dalam perjanjian tsb?

Dapatkah anda tolong bantu mencaritahu perihal temuan fakta alkitabiah yang 'sangat mencurigakan' ini?

Jika dapat, maukah anda untuk selanjutnya menjelaskan kepada kami duduk perkara yang sebenarnya berikut bukti-bukti empiris yang mendukung penjelasan anda?

Monggo, silahken.

[Sumber: xucinxgaronx | Islam Menjawab Fitnah]


Akal Akalan Yahudi Yang Dimanfaatkan Oleh Kristen

ABRAHAM DAN PERINTAH SUNAT
DALAM BERBAGAI DISKUSI lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, soal ritual khitan (sunat) sering dimunculkan oleh umumnya kaum Muslim adalah pertanyaan tentang mengapa ajaran Kristen tidak lagi mementingkan sunat sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan keturunannya sampai kepada Yesus Kristus? Sebab sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya juga melaksanakannya.

Sebaliknya, sanggahan yang umumnya diberikan oleh Kristen adalah bahwa sunat hanya diwajibkan bagi Abraham dan keturunannya (atau kemudian dipersempit lagi menjadi hanya untuk umat Yahudi sesuai alkitab Perjanjian Lama), sedangkan mereka sebagai orang non-Yahudi tidak terkena kewajiban tersebut, ini juga berdasarkan alkitab Perjanjian Baru, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Paulus.

Kisah tentang asal-muasal kewajiban sunat bersumber dari Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) yaitu ketika menceritakan kisah keluarga Abraham.

Dalam kronologis ceritanya, dimulai kitab Kejadian 12 ketika Tuhan berfirman memerintah Abraham (ketika itu masih bernama Abram) untuk pergi dari negerinya ke suatu tempat yang akan ditunjuk Tuhan, di situ Tuhan sudah mulai memberikan janji kepada Abraham:

[Kejadian 12:2] Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

[Kejadian 12:7] Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu."

Berdasarkan dari apa yang dijanjikan Tuhan tersebut, kita bisa melihat kata ‘bangsa’ dan ‘negeri’, ini bisa diartikan ‘kekuasaan untuk memerintah’ atau bisa juga diartikan ‘dominasi untuk mendiami suatu wilayah’, jadi Tuhan telah menjanjikan Abraham bahwa kelak dia dan anak keturunannya akan berdiam dalam suatu wilayah, berkuasa, mempunyai kesempatan mencari nafkah dengan mengelola wilayah tersebut. Namun terlihat ini masih merupakan janji ‘sepihak’ dan belum berbentuk perjanjian.
PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-1
Dalam Kejadian 13 sekali lagi Tuhan menyatakan janji kepada Abraham:
[Kejadian 13:14] Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
[Kejadian 13:15] sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.
[Kejadian 13:16] Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.
[Kejadian 13:17] Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu."

Di sini janji Tuhan mulai lebih terperinci:

  1. Wilayah tersebut terbentang "sejauh mata memandang" dari posisi Abraham pada waktu itu (tanah Kanaan, sesuai Kejadian 13:12)
  2. Jumlah keturunan Abraham "seperti debu tanah banyaknya’"
  3. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dijalani (disinggahi) oleh Abraham.

Namun sampai di sini kita masih bisa menyebutnya sebagai "janji sepihak" dan belum berupa perjanjian. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham baru disebut secara jelas pada Kejadian 15, setelah Tuhan memerintahkan Abraham untuk menyampaikan beberapa korban dan menjelaskan nasib yang akan diterima anak keturunan Abraham kelak, lalu dibuatlah perjanjian:

[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
[Kejadian 15:19] yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,
[Kejadian 15:20] orang Het, orang Feris, orang Refaim,
[Kejadian 15:21] orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."

Jadi perjanjian antara Abraham dengan Tuhannya adalah dengan tanda perjanjian berupa pengorbanan binatang lembu, kambing, domba dan burung (Kejadian 15:9)

PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-2
Sampai di sini kronologis ceritanya sangat runtut dan logis. "Kekacauan" alur cerita terjadi pada kisah selanjutnya. Setelah diselingi kisah keluarga Abraham, yaitu antara istrinya Sarai dan "budak" perempuannya Hagar pada Kejadian 16, cerita soal perjanjian antara Tuhan dengan Abraham muncul lagi pada Kejadian 17.

[Kejadian 17:2] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

Rupanya Tuhan merasa perlu untuk mengulang perjanjian yang sudah diadakan sebelumnya, dalam perjanjian JILID-2 ini tercantum "hak dan kewajiban" kedua-belah pihak:

[Kejadian 17:4] "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
[Kejadian 17:6] Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
[Kejadian 17:7] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
[Kejadian 17:8] Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."

Hak dan kewajiban Tuhan kelihatannya banyak mengulang kembali dari apa yang terdapat pada perjanjian JILID-1, cuma di sini terlihat ada yang "menyempal" yaitu ayat Kejadian 17:8, yang menyebut khusus tanah Kanaan, berbeda dengan perjanjian sebelumnya yang menyebut wilayah yang lebih luas. Mengapa terjadi perubahan? Kita bisa melihat kelanjutan ceritanya begini:

[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sarailah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
[Kejadian 17:20] Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."

REKAYASA HAK PERJANJIAN ISMAEL DAN ISHAK
Ooo..ternyata rupanya ini menyangkut Ismail dan Ishak! Terlihat jelas adanya upaya "penggiringan" cerita untuk mengeluarkan Ismail dari perjanjian JILID-1 dengan membuat perjanjian JILID-2, dan ini terkait dengan penguasaan tanah Kanaan tempat di mana mayoritas bangsa Yahudi berdiam. Ini diperkuat lagi dengan adanya ayat lain pada kitab Keluaran:

[Keluaran 2:24] Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

Setelah menggiring hak perjanjian tersebut kepada Ishak dan menyingkirkan Ismail, maka "giringan" selanjutnya adalah kepada Yakub anak Ishak dan menyingkirkan saudara kembar tuanya Esau. Pihak Kristen di sini memberikan alasan bahwa pembatalan perjanjian tersebut karena Esau dikatakan "tidak menghargai" perjanjian tersebut. Dalam Kejadian 25 dan 27 digambarkan hak tersebut dicabut dari Esau justru karena dia ditipu 2 kali oleh Yakub. Dengan giringan tersebut maka lengkaplah dasar "konstitusional" dari anak keturunan Yakub untuk memonopoli tanah Kanaan dan kebenaran ajaran Abraham!

Berbeda dengan perjanjian sebelumnya, perjanjian JILID-2 ini dikukuhkan dengan tanda yang lain, yaitu "sunat" atau khitan.

[Kejadian 17:9] Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
[Kejadian 17:10] Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
[Kejadian 17:11] haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

Posedur sunat diterangkan sangat jelas, menyebutkan mana bagian yang harus dipotong, siapa saja yang harus disunat, umur berapa harus disunat, dan apa konsekuensinya jika tidak disunat:

[Kejadian 17:12] Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
[Kejadian 17:13] Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
[Kejadian 17:14] Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

Isi perjanjian JILID-2 ini ternyata banyak menimbulkan pertanyaan, seperti di antaranya:

  1. Kewajiban sunat yang ditujukan pada "kamu dan keturunanmu, berada di antara kamu" menjadi kontradiksi dengan pengecualian kepada Ismail, apakah Ismail termasuk di dalamnya atau tidak? Di sini kelihatan seolah Tuhan tidak cermat dalam membuat perjanjian, dan ternyata Ismail "katut" alias ikutan disunat juga (Kejadian 17:23, dan Kejadian 17:25), para netters Kristen berdalih bahwa ketika sunat tersebut dilakukan, kebetulan Ismail berada dalam rumah, maka sesuai perjanjian harus ikut disunat sekalipun tidak termasuk dalam perjanjian, artinya di sini memakai satu ayat dan membuang, atau mengabaikan ayat yang lain, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.
  2. Memasukkan kalimat "dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu, orang yang engkau beli dengan uang" ke dalam perjanjian. Apakah artinya mereka dan keturunan mereka juga termasuk keluarga Abraham dan diberi hak atas tanah Kanaan? Menurut penafsiran salah seorang netters Kristen, para orang yang dibeli tersebut tidak punya hak, mereka disunat karena kebetulan berada dalam rumah Abraham dan menjadi "property"nya. Penafsiran ini juga terlihat berbenturan dengan janji Tuhan yang ada pada Kejadian 17:7 yang sama sekali tidak menyentuh adanya orang di luar Abraham dan keturunannya (harap diingat, dalam perjanjian JILIOD-2 tersebut sudah jelas disebut adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak).
  3. Penyebutan ketentuan waktu disunat umur 8 hari juga menimbulkan masalah, apakah sunat bagi si bocah merupakan tanda perjanjian antara dia sendiri dengan Tuhan, atau antara orang-tuanya dengan Tuhan, mengingat si bocah masih belum mengerti mengapa "burungnya" dipotong. Bagaimana kalau ternyata si bocah setelah besar dan mengerti tidak mau ikut perjanjian (seperti kasus Esau) misalnya? Ada pendapat menarik dari netters Kristen di sini yang menyatakan itu adalah tanda perjanjian antara orang-tuanya dengan Tuhan. Di sini juga muncul pertanyaan: Bagaimana halnya dengan orang-tua yang tidak punya anak laki-laki? Apakah perjanjian tersebut bisa dilakukan tanpa tanda yang sudah disyaratkan? Ada yang menjawab bahwa bagi keluarga yang tidak punya anak laki-laki, ya, tidak perlu adanya tanda sunat. Tapi bukankah dengan demikian syarat perjanjian tersebut lagi-lagi tidak terpenuhi (ingat adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak yang tertulis secara jelas).

KOMPLIKASI di atas menunjukkan adanya keanehan pada perjanjian tersebut yang "dinyatakan" sebagai Firman Tuhan. Sebab, mustahil Tuhan akan menyatakan hal-hal yang membingungkan dan saling "tembak-menembak" di antara kata-kata-Nya sendiri.

TUHAN RAGU-RAGU 
Cerita tentang perjanjian ini ternyata juga "tidak nyambung" dengan cerita selanjutnya:

[Kejadian 18:10] Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
[Kejadian 18:11] Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
[Kejadian 18:12] Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"

Ternyata Sara tidak tahu tentang firman Tuhan sebelumnya yang menginformasikan dia akan mempunyai anak yang dinamai Ishak (Kejadian 17:19), apakah Firman Tuhan tersebut ditujukan hanya kepada Abraham dan beliau tidak memberitahukannya kepada istrinya?

[Kejadian 18:17] Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
[Kejadian 18:18] Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
[Kejadian 18:19] Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

Melalui kalimat yang LUCU karena menggambarkan Tuhan yang terlihat bimbang, kita diinformasikan bahwa ternyata Abraham-pun juga merasa heran ketika diberitahu bahwa istrinya Sara akan melahirkan anak di hari tuanya. Kesan yang muncul sekitar perjanjian JILID-2 ini adalah cerita tersebut dikarang belakangan dan disisipkan. Seandainya Kejadian 17 kita hapus semuanya, maka cerita antara Kejadian 15, 16 dan 18 terlihat "masih agak nyambung".

Maka marilah kita mencoba meneliti sumber informasinya. Kitab Kejadian terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam 5 Kitab Musa [pentateuch] atau yang biasa disebut Taurat yang pada mulanya dipercayai ditulis nabi Musa AS. Namun dalam perkembangan selanjutnya -- bahkan para ahli Alkitabpun tidak lagi mempercayai ini -- sekalipun dalam 5 kitab tersebut dinyatakan memang ada yang berasal dari ajaran nabi Musa.

Hal ini tidak perlu diceritakan panjang lebar karena sudah banyak disampaikan orang, mari kita mengambil intinya saja bahwa: Kitab Kejadian merupakan tulisan dari kaum Yahudi, jauh setelah jaman Musa dan sekalipun banyak juga bersumber dari ajaran nabi tersebut, namun tidak sedikit yang berasal dari karangan para Rabi Yahudi yang tentu saja dipengaruhi oleh situasi sosial politik pada saat karangan tersebut dibuat. Termasuk di sini perilaku para pemuka agamanya. Adapun mengenai bagaimana karakter umat Yahudi sesudah kematiannya, nabi Musa sendiri sudah meramalkan:

[Kejadian 31:26] "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.
[Kejadian 31:27] Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.
[Kejadian 31:29] Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."

SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DARI REKAYASA INI?
Ramalan nabi Musa terhadap umatnya tersebut jelas terkait dengan kekhawatiran beliau terhadap Taurat. Di sini kita bisa bertanya: Siapakah yang sebenarnya akan mengambil keuntungan besar dengan adanya perjanjian JILID-2 ini? Jawaban yang lugas tentulah YAHUDI!

Cerita soal perjanjian JILID-2 tersebut kelihatannya sengaja dikarang untuk "melegalisir" monopoli Yahudi terhadap kebenaran ajaran Abraham melalui perjanjiannya dengan Tuhan, namun disajikan dengan kurang cermat sehingga menimbulkan kesan tambal-sulam.

Dan ini pada awalnya justru menyulitkan para pengikut Yesus Non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat serangan "Yahudi-sunat" ini kepada pengikut Yesus tentang monopoli kebenaran berdasarkan Taurat (Yesus menyatakan bahwa keberadaan beliau bukan untuk melenyapkan ataupun merubah hukum Taurat, dan memastikan tidak satu iota-pun dari Taurat yang akan hilang):

[Kisah 15:1] Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."

Ini menunjukan Yahudi "memperalat" sunat untuk menunjukkan monopolinya terhadap ajaran Taurat dan secara gamblang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yahudi yang sudah menggenggam hak monopoli perjanjian Tuhan dengan Abraham.


PAULUS YANG KEBABLASAN
Paulus sebagai orang yang sedang giat-giatnya mempromosikan ajaran Kristen terhadap Non-Yahudi, tentu saja merasa terhambat dan terhalangi oleh adanya pernyataan ini. "Target market" Paulus adalah orang Yunani dan Romawi yang dari sononya memang "takut" disunat, dan pernyataan Yahudi ini akan bisa membuat ajaran yang disodorkannya tidak laku dan tidak dibeli orang, dan Paulus bakalan bangkrut! Maka dia pun kemudian mengeluarkan penafsirannya tentang sunat, diantaranya ada pada Roma 5. Intinya dia menyatakan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh sunat atau tidak sunat (ini sebenarnya banyak kemiripan dengan ajaran Islam) namun penafsiran selanjutnya terlihat mengarah menjadikan Yesus sebagai penyelamat, dengan dasar argumentasi yang rumit mengaitkan antara "iman kepada Yesus dengan nilai suatu perbuatan"

[anda dapat menyimak tulisan sdr. Amor yang dengan sangat baik menyampaikan "‘pelintiran" Paulus soal iman dan perbuatan terkait dengan sunat Abraham ini di sini]

"Titik ekstrim" Yahudi yang menyatakan keselamatan terkait dengan pelaksanaan hukum Taurat dibalas dengan "titik ekstrim" lainnya dari Paulus yang menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada iman kepada Yesus. Saking berapi-apinya, Paulus pun menyampaikan ancaman ini:

[Galatia 5:2] Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
[Galatia 5:3] Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
[Galatia 5:4] Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

Ini terlihat sebagai suatu ajaran yang kebablasan dan menyulitkan penganut Kristen di jaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memberikan bukti sunat sangat baik bagi kesehatan. Maka ini menjadi buah simalakama bagi umat Kristen yang ingin bersunat dengan alasan kesehatan karena takut "kualat" seperti yang diancam oleh Paulus.

Pada waktu itu bantahan-bantahan Paulus memang banyak ditujukan kepada ajaran Yahudi karena memang Islam belum muncul. Ketika ajaran Islam mulai diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan isinya banyak mengkoreksi, baik ajaran Yahudi maupun Kristen, maka "moncong senjata" pun dialihkan.

Yahudi dan Kristen yang tadinya "gontok-gontokan" soal keyakinan masing-masing seakan-akan menemukan musuh bersama yang membuat mereka terlihat kompak kembali. Dan yang paling seru adalah bahwa urusan sunat yang tadinya menjadi "senjata andalan" Yahudi dalam menghadapi Kristen justru banyak dijadikan oleh umat Kristen untuk menyerang Islam.

Perjanjian JILID-2 yang menyingkirkan Ismail yang dalam ajaran Islam merupakan nenek moyang kaum Quraisy, sukunya nabi Muhammad SAW, digunakan untuk menyatakan bahwa ajaran Islam "tidak punya tempat" dalam sejarah perkembangan ajaran Tuhan.

Kristen di satu sisi menentang sunatnya, tapi di lain pihak mengakui perjanjiannya. Dan agar mereka dapat berada di posisi aman dalam kasus ini, maka ajaran Paulus soal sunat pun digunakan dengan penafsiran yang penuh dengan gaya AKROBATIK!

Tidakkah rekayasa ayat-ayat alkitab ini selalu menarik untuk disimak?
Wallahu 'alam bis shawab.


[Sumber: answering-ff.org | Panda]

Seputar Kebohongan Alkitab Tentang Kisah Keluarga Abraham


Judul di atas sengaja disuguhkan untuk membuktikan bahwa "Taurat" yang sekarang adalah Taurat yang sudah dirombak oleh tangan-tangan Bani Israel. Namun demikian, di sini hanya disuguhkan 2 contoh saja, sekedar untuk membuktikan bahwa "Taurat" sekarang sudah benar-benar dirubah dan ditambah!

Sebelum terlalu jauh, ada baiknya kita lihat dulu Kitab Kejadian berikut ini:

16:16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

21:5 Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.

25:9 Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia (Abraham) dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre,

Dalam Kejadian 16, disebutkan Ismail lahir ketika Abraham berumur 86 tahun. Sedangkan dalam Kejadian 21, Ishak lahir ketika Abraham berumur 100 tahun. Ini berarti selisih usia antara Ismail dan Ishak adalah 14 tahun. Dalam Kejadian 25, Ismail dan Ishak secara bersama-sama menguburkan bapaknya, Abraham.

Jika anda sudah cukup memperhatikan catatan di atas, maka marilah sekarang kita perhatikan tela'ah alkitabiah berikut ini:

PERISTIWA TERBENTUKNYA SUMUR ZAM-ZAM
Menurut catatan Alkitab dalam Kitab Kejadian 21:8-13, setelah menyapih Ishak, yang berarti Ismail berusia sekitar 16 tahun, Sarah cemburu dengan Ismail ketika melihat ia bermain bersama Ishak. Kemudian, ia meminta agar Abraham membuang Hagar dan Ismail. Abraham konon merasa tertekan dengan permintaan ini, tetapi Allah meyakinkan Abraham bahwa ia harus mengikuti permintaan Sarah. Kisah Alkitab kemudian dilanjutkan dalam Kitab Kejadian berikut ini:

[Kejadian 21:14-19 - DRB 1582 & KJV 1611]."Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah dia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah erat-erat dengan tanganmu, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum."

Dalam kutipan di atas, cetak tebal ditambahkan untuk frasa-frasa kunci yang mengilustrasikan kemustahilan catatan Kitab Kejadian mengenai Ismail yang berusia 16 tahun pada saat itu. Hagar dengan berbagai cara harus memperlakukan Ismail dengan cara:

  • meletakkan Ismail, roti dan sekirbat air di atas bahunya
  • membuang Ismail ke bawah semak-semak (membaringkannya)
  • mengangkat Ismail dari tempat ia terbaring dan memegang erat-erat Ismail dengan tangannya.

Tindakan Hagar di atas, mana mungkin dilakukan untuk anak berusia 16 tahun? Tindakan seperti itu hanya mungkin dilakukan terhadap seorang balita yang belum disapih dan belum bisa berjalan. Padahal sebelumnya, Ismail sudah bisa bermain bersama dengan Ishak (lihat Kejadian 21:9), yang berarti Ismail sudah cukup besar dan mampu mengasuh adiknya.

Perhatikan juga nama tempat yang tertulis dalam Taurat adalah Bersyeba, padahal peristiwa tersebut terjadi di lembah Baka/Mekah. Tidak ada bukti sama sekali bahwa peristiwa tersebut terjadi di Bersyeba (Palestina dan sekitarnya), tetapi bukti-bukti itu justru dapat dilihat di Baka/Mekah, yaitu Bukit Shafa dan Marwah, dan Sumur Zam-Zam. Oleh karena Ismail, semenjak diungsikan hingga wafatnya adalah di kota Baka/Mekah.

Ketika itu, Ismail memang masih bayi yang baru beberapa hari dilahirkan. Untuk menghindari kecemburuan Sara, istri pertama Abraham, Allah memerintahkan Abraham untuk mengungsikan Ismail dan ibunya, Hagar, ke lembah Baka/Mekah. Sesampainya di lembah Baka/Mekah, Abraham diperintahkan oleh Allah untuk kembali ke Palestina (Kanaan) menemui Sara dan meninggalkan Ismail dan Hagar di lembah tersebut. Beberapa saat kemudian, Ismail menangis kehausan dan segala persediaan sudah habis. Hagar pun harus mondar mandir antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali untuk mencari air dan tidak pula ia dapatkannya. Atas pertolongan Allah melalui malaikat Jibril, tiba-tiba muncullah mata air yang deras dari bawah kaki Ismail, dan Hagar pun berteriak kegirangan, "Zam Zam, Zam Zam!" Oleh karena itu, mukjizat Nabi Ismail ini sekarang dikenal sebagai Sumur Zam-Zam.

Indikasi peristiwa terbentuknya Sumur Zam-Zam di Baka/Mekah ini masih dapat ditemukan dalam Kitab Mazmur berikut ini:

84:5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!

84:6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

Jelas sekali bahwa kisah di atas merupakan salah satu bukti telah terjadinya perombakan di dalam Taurat. Ismail yang berusia 16 tahun diperlakukan seperti bayi yang masih berumur 2 bulanan. Perombak Taurat tampaknya ingin menunjukkan seolah-olah Ishaklah kakak Ismail, oleh karena Ishak baru saja disapih yang berarti usianya sekitar 2 tahunan, sementara Ismail masih bayi (padahal usia Ismail sekitar 16 tahunan). Dengan demikian, perombak Taurat dapat mengarang kisah bohong selanjutnya seperti di bawah ini.

KISAH QURBAN DAN PENYEBUTAN ISHAK SEBAGAI ANAK TUNGGAL
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. (Kejadian 22:1-13).

Dalam kisah di atas, terdapat 2 kejanggalan besar, yaitu:

  1. Ishak disebut sebagai anak tunggal Abraham, padahal Ishak adalah adik Ismail.
  2. Usia Ishak baru saja disapih, tapi diperlakukan seperti anak berusia 16 tahun ketika akan disembelih Abraham.

Silahkan periksa kembali Kejadian 21 di atas. Di sana Ismail yang berusia 16 tahun diperlakukan seperti anak yang baru berumur 2 bulanan. Dengan dasar ini, perombak Taurat ingin menunjukkan seolah-olah Ishaklah kakak Ismail, karena Ishak baru saja disapih sementara Ismail masih bayi. Karenanya, mereka dengan konyol menyebut Ishak sebagai anak tunggal Abraham. Padahal, bukti-bukti Alkitab sendiri sudah jelas, bahwa Ismail adalah kakak Ishak!

Kejanggalan-kejanggalan di atas tampaknya diakibatkan oleh banyaknya tangan-tangan Bani Israel yang turut merombak, sehingga antara pasal yang satu dengan yang lain kelihatan tidak ada kesesuaian. Sangat mungkin, ketika mengumpulkan Taurat, mereka tidak meneliti sedemikian jauh sehingga kejanggalan itu tetap saja terlihat dengan jelas.

Umat Yahudi dan Kristen menganggap penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Abraham adalah karena Ishak merupakan anak dari istri yang sah, yaitu Sara. Padahal, dalam Kitab Kejadian 16:3 dikatakan bahwa Abraham mengambil Hagar sebagai istrinya. Ini berarti, Hagar juga adalah istri sah Abraham. Suatu alasan yang tidak masuk akal! Sesungguhnya, alasan tersebut sengaja dibuat oleh Bani Israel oleh karena mereka iri/dengki bahwa yang menjadi penerus agama samawi, sebagaimana masih dapat terlihat dengan jelas dalam "Taurat dan Injil", adalah keturunan Ismail (Muhammad).

Dalam kisah versi Taurat di atas, peristiwa penyembelihan itu terjadi di Moria, padahal peristiwa tersebut sebenarnya terjadi di Mina.

Sekarang, marilah kita lihat kisah penyembelihan Ismail menurut Al-Qur'an (QS. 37:102-113):
[102] Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
[103] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
[104] Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
[105] sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
[108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
[109] (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".
[110] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
[112] Dan Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan kelahiran Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
[113] Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

Lihat ayat 102, memang tidak tersebut nama Ismail, sebab memang tidak perlu, mengingat sudah demikian populernya Ismail di Mekah pada saat itu. Sebut saja, adanya situs-situs peninggalan Ismail berupa kuburan Ismail, Ka'bah, Hijir Ismail, Sumur Zam-Zam, dan Bukit Shafa dan Marwah, serta situs peninggalan Ibrahim, maqam Ibrahim. Tapi identifikasi Ismail ini tidak diragukan lagi, oleh karena pada ayat 112, Ishak baru dilahirkan. Jadi, anak tunggal pada waktu penyembelihan itu adalah Ismail, bukan Ishak sebagaimana tertulis dalam "Taurat" sekarang.

Jika masih penasaran ingin membuktikannya dengan bersandar pada penjelasan lebih detil dari Al-Qur'an, maka perhatikan jugalah yang berikut ini:

Ayat-ayat di atas memang tidak secara spesifik menuliskan nama anak yang dikorbankan Ibrahim as, namun bukan berarti tidak bisa diketahui "siapa" anak yang dimaksud.

Inilah ketinggian sastra Al Quran. Kendati namanuya tak disebut, namun makna yang hakiki dari ayat-ayat Al-Qut'an dimaksud tetap dapat diketahui.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, karena inilah kalimat kunci agar kita bisa mengetahui bahwa anak  Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail.

  • Pada ayat ke 112 Allah berfirman :

Di dalam ayat ini terdapat huruf   و (wauw) ‘Athf  litartibi wa litisholi, maknanya, huruf wauw yang menghubungkan dua peristiwa yang berbeda, secara berurutan sesuai tertib/urutan waktunya, yaitu peristiwa pertama tentang penyembelihan anak Nabi Ibrahim as yang telah dewasa yaitu Nabi Ismail as dan dilanjutkan dengan peristiwa kedua, yaitu kelahiran Ishaq as.

  • Dasar yang menetapkan bahwa anak itu Ismail as. adalah kalimat  عليه di ayat 113

kata  عليه  di sini adalah milik Nabi Ismail  dan bukan Nabi Ibrahim, mengapa demikian, karena pada kelanjutan ayat Allah berfirman : Dzurriyatihima

dhamir هِـمَا adalah milik Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah saudara seayah, sehingga anak cucu mereka yang disebut Allah, bukan anak cucu Ibrahim dan Ishaq, karena keduanya adalah bapak beranak, jadi yang tepat adalah anak cucu Ibrahim dari putra beliau Ismail dan Ishaq.

Boleh jadi ada yang mempersoalkan bahwa dalam ayat 112 tidak ada kata ghulam atau maulid yang berarti kelahiran, tapi kata  بشّـر pada ayat ini merupakan bentuk musytarak, yakni satu kata yang memiliki banyak arti (Homonim).
Sama halnya denga kata المطهرون yang memiliki beberapa makna, antara lain:

  1. suci dari hadast
  2. suci dari najis
  3. orang yang belum batal wudhu
  4. orang beriman, bahkan
  5. berarti malaikat.

Kata BISA dalam bahasa Indonesia, mempunyai beberapa arti, yaitu:

  1. dapat
  2. racun

Demikian pula kata بشّـر memiliki 2 arti :

1. Kabar gembira biasa seperti tersebut di dalam Surat Al Baqarah 25
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Baqarah: 25) 

2. Kelahiran anak seperti Firman Allah di dalam Surat Az Zukhruf 17 dan An-Nahl:58
dan apabila salah seorang di antara  mereka diberi kabar gembira dengan apa * yang dijadikan sebagai misal bagi Allah yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan marah. (QS. Az-Zukhruf: 17) 

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (QS. An Nahl: 58)

Ibnu Katsier di dalam pengantar Tafsirnya mengatakan, bahwa sebaik-baiknya tafsir Alquran adalah mencari penjelasan dari ayat-ayat Al Quran itu sendiri.  


Coba perhatikan jawaban anak Nabi Ibrahim yang hendak dikorbankan itu pada ayat 102:
Ia menjawab: “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar ( من الصبرين )

Di dalam Alquran, nabi yang memiliki predikat khusus sebagai (الصبرين)  hanya 3 orang, yaitu:

  1. Nabi Ismail
  2. Nabi Idris
  3. Nabi Dzulkifli

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.  Al Anbiya’ 85

Jadi jelaslah, bahwa Alquran telah menunjukkan hujjah yang terang, bahwa anak Nabi Ibrahim as yang hampir disembelih adalah Nabi Ismail as.

Inilah bukti nyata, bahwasannya kita ummat Islam dituntut bersungguh-sungguh di dalam mempelajari Alquran, tidak seperti kebanyakan kita saat ini, Alquran hanya jadi penghias lemari buku, Alquran hanya sekedar dijadikan ajang lomba membaca. Alquran dibaca hanya saat Ramadhan tiba dan berlomba-lomba paling banyak tammat dalam sebulan.

Hal seperti itu boleh dan sah-sah saja, namun alangkah indahnya kalau selain kita baca, kita perdalam pula ilmu yang tersimpan di dalam ayat-ayat suci tersebut, agar kita tidak menjadi seperti yang disindir Allah di Q.S. Al Jumuah:

" Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. "

Perlu diketahui juga bahwa Ibrahim (Abraham) bukanlah seorang Yahudi ataupun Kristen. Perhatikan Firman Allah berikut ini (QS. 3:67-71):

[67] Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Kristen, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."
[68] Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.
[69] Segolongan dari Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.
[70] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).
[71] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?

Lihat ayat 67, bahwa Ibrahim (Abraham) bukanlah seorang Yahudi ataupun Kristen. Bagi orang awam mungkin kelihatan aneh. Bagaimana mungkin Abraham disebut Yahudi ataupun Kristen sementara Yehuda dan Yesus belum lahir? Ayat di atas diturunkan sekaligus untuk memberi jawaban kepada golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) pada waktu itu yang mengklaim Abraham sebagai golongan mereka (hingga sekarang).

Lihat juga ayat 68, bahwa nabi yang paling dekat dengan Ibrahim adalah Nabi Muhammad. Karena hanya umat Muhammad-lah yang senantiasa memuliakan nabi Ibrahim (Sholawat Nabi dalam setiap sholat).


[Sumber: Islam  Menjawab Fitnah]

Benarkah Nabi Ibrahim Tidak Pernah Ke Mekkah?


Sebuah fakta yang sampai hari ini sengaja ditutup-tutupi oleh otoritas gereja-gereja Kristen (penerbit Bible kontemporer) dalam kitab Kejadian pasal 13 adalah perjalanan Abraham (Nabi Ibrahim) dari Mesir ke Selatan.

Setting peristiwa dalam Kitab Kejadian pasal 13 adalah:

  • Abraham (Nabi Ibrahim) masih beristerikan Sarah.
  • Belum menikahi Hagar.
  • Belum mempunyai anak.

Yang menarik dalam ulasan ini adalah kenyataan - jika kita memahaminya dengan bahasa denotasi - yang menunjukkan bukti bahwa sesungguhnya Nabi Ibahim pernah pergi ke Selatan Mesir. Dan tak ada lagi wilayah selatan Mesir (Sinai) selain Semenanjung Arabia.

Tentu saja tulisan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Paran, Ka'bah, maupun kisah pengorbanan anak tunggal Nabi Ibrahim, karena seperti telah disinggung diatas, setting peristiwa Kitab Kejadian 13 adalah saat Nabi Ibrahim belum memperisteri Hajar, dan belum memiliki seorang anak pun.

Memang benar bahwa-sepanjang yang kita ketahui dari al-Qur'an dan Hadits, kepergian nabi Ibrahim ke Arabia terjadi ketika beliau mengantar Hajar dan Ismail, diikuti kisah-kisah lain yang menyertainya. Jadi, Hadits tidak menceritakan bahwa sang nabi pernah ke Arabia sebelum memperistri Hajar. Namun bukan berarti kita tidak boleh meneliti riwayat beliau (jauh sebelum menikahi Hajar) sebagaimana para peneliti Muslim berusaha mengungkap di mana tanah kelahiran Nabi Ibrahim.

PERGI KE SELATAN MESIR 
Menurut versi Kristen, kronologi kehidupan Abraham adalah seperti dibawah ini:

1. Berangkat dari Ur-Kasdim (Kej 11:31)
2. Sampai di Haran (Kej 11:31).
3. Sampai di Sikhem (Kej 12:6)
4. Sampai pegunungan sebelah Timur Betel. (Kej 12:
5. Sampai ke tanah Negeb (Kej 12:9) Ketika ada kelaparan di negeri itu, Abraham pergi ke Mesir.
6. Sampai di Mesir (Kej 12:10)
7. ke tanah Negeb (Kej 13:1)
8. Menuju ke Betel (Kej 13:3)
9. Pindah ke Mamre, dekat Hebron (Kej 13:1)
10. Abraham punya anak Ismael ketika di Kanaan (Kej 16:3)
11. Abraham ke tanah Negeb (Kej 20:1)
12. Abraham punya anak Ishak sewaktu berada di tanah Negeb (Kej 21:2)
13. Hagar dan Ismael mengembara di gurun Bersyeba (Kej 21:14)
14. Hagar dan Ismael akhirnya tinggal di gurun Paran (Kej 21:21)
15. Abraham menanam pohon di Bersyeba (Kej 21:33)
16. Abraham ke tanah Moria (Kej 22:2)
17. Abraham pergi dan tinggal di Bersyeba (Kej 22:19) Sara nampaknya tetap tinggal di Hebron.
18. Sara wafat di Hebron (Kej 23:2)
19. Abraham dimakamkan di gua Makhpela (Hebron) (Kej 25:9)


Dari versi Kristen di atas, sekilas tampaknya nabi Ibrahim (Abraham) memang tidak pernah ke Semenanjung Arabia (di mana kota Mekkah saat ini berada). Namun bila summary itu disandingkan dengan apa yang diajarkan di dalam Islam, maka muncul pertanyaan; Apakah betul seperti itu? Benarkah versi Kristen tidak metutup-tutupi sejarah?

Sebelumnya kita telah membuktikan bahwa Kejadian pasal 17, 21, dan 22 adalah palsu. Dan kini, mari kita meneliti Kitab  Kejadian pasal 13, dan perhatikanlah yang di bawah ini.

Kejadian 13 : 1
[KJV]  And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south.
(Dan Abram pergi keluar dari Mesir, ia, dan istrinya, dan semua kepunyaannya, dan Lot dengannya, menuju selatan.)

Note:
Negeb (bahasa Ibrani) artinya adalah "Selatan" yaitu arah geografi SELATAN.

Berbeda dengan LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) yang menerjemahkan Negeb menjadi Tanah Negeb (Kanaan Selatan-wilayah Palestina Selatan); 3 Bible kuno yaitu King James Version (KJV) 1611; Bible Bishops tahun (Bishops) 1568; dan Douay-Rheims Bible (DRB) 1899 justru menerjemahkan Negeb dengan baik dan benar yaitu SELATAN.

Kejadian 13 : 1
[Bishops] "And so Abram gat hym vp out of Egypt, he and his wife, and al that he had, and Lot with hym, toward the South".

[DRB] "And Abram went up out of Egypt, he and his wife, and all that he had, and Lot with him into the south".

[KJV] "And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south".

Ketika Taurat (Kejadian 13:1) menceritakan bahwa Abraham keluar dari Mesir menuju ke Selatan, maka dengan secepat kilat (hanya dengan pemisah satu ayat saja) Taurat segera melanjutkan ceritanya menjadi sebagai berikut:

“Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Selatan sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai.”  (Kejadian 13:3),

Dalam susunan ayat Kitab Kejadian 13:1-3 ini tampak jurang yang sangat lebar di tengah-tengah narasi periwayatan!

Taurat secepat kilat menyatakan bahwa nabi Ibrahim (Abraham) telah kembali dari Selatan tanpa memberikan informasi kepada kita, katakanlah, tentang mengapa ia keluar dari Mesir dan langsung menuju Selatan, untuk tujuan apa ia pergi ke Selatan, apa saja peristiwa yang dialaminya selama berada di Selatan, bahkan sekedar menyebutkan berapa lama saja masa yang dijalaninya di Selatan pun tidak. Ini bertentangan dengan kebiasaan Taurat yang selalu memaparkan secara detail kronologis suatu peristiwa -- bahkan secara berulang-ulang -- hingga terasa membosankan.

Dari sini dapat "dirasakan" bahwa riwayat perjalanan nabi Ibrahim ke Selatan dalam alkitab telah "diputus" secara sengaja, di mana sang nabi diceritakan tiba-tiba saja telah kembali dari Selatan menuju ke utara, tepatnya ke Bethel-Ai, tempat di mana mula-mula kemahnya berdiri. Maka dari sinilah selanjutnya kita akan menelusuri kisah yang sebenarnya!

Yang dimaksud dengan "Selatan" di sini adalah Semenanjung Arabia karena beberapa faktor berikut ini:



A. PALESTINA SELATAN (Gurun Negeb) terletak di Timur Mesir (Timur Sinai), sedangkan Semenanjung Arabia terletak di selatan Mesir (Timur Sinai).

B. SELATAN MESIR dalam Kitab Kejadian 13 bukanlah Sudan, karena jika Sudan, maka Nabi Ibrahim lagi-lagi harus melewati Mesir. Dan kitab Kejadian pasal 13 tidak mencatat bahwa ia bolak-balik Mesir, tidak mencatat bolak-balik disambut Firaun, dan tidak pula mencatat Nabi Ibrahim bolak-balik diantar untuk kedua kalinya oleh para ponggawa Firaun.

Walau sudah jelas bahwa sebenarnya nabi Ibrahim pernah melakukan perjalanan ke Semenanjung Arabia, namun umat Kristen biasanya akan menolak keras fakta ini dengan mengemukakan argumentasi bahwa Negeb adalah Tanah Selatan (Tanah Negeb), yaitu Palestina Selatan.

Kejadian 20 : 1
"Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing."

Sebetulnya, ayat di atas sudah menjelaskan sendiri bahwa yang dimaksud dengan south country  adalah daerah yang meliputi wilayah antara Kadesh dan Syur.

Sekarang mari kita re-konstruksi perjalanan Abraham dengan mencacat bahwa sebelum kisah dalam Kitab Kejadian 20 itu, diceitakan bahwa YHWH memusnahkan kaum Sodom dan Gomora yang ada di lembah Yordan.

Kejadian 19 : 29
"Demikianlah pada waktu Allah memusnahkan kota-kota di Lembah Yordan dan menunggangbalikkan kota-kota kediaman Lot, maka Allah ingat kepada Abraham, lalu dikeluarkan-Nyalah Lot dari tengah-tengah tempat yang ditunggangbalikkan itu."

Dari situ kemudian Abraham berjalan ke gurun Negeb, mengambil rute ke utara untuk kemudian menetap di Gerar

Jika mengikuti versi Alkitab, semuanya tampak masuk akal. Sedangkan jika mengikuti logika muslim, Abraham berangkat dari sekitar lembah Yordan menuju ke selatan, ke Mekah kota yang belum ada pada jaman itu, yang jauhnya ribuan kilometer, kembali lagi ke utara melewati lagi wilayah Yordan dan menetap di Gerar sekitar Gaza yang jaraknya ribuan kilometer dari Mekah.

Jika versi Kristen mengatakan bahwa Negeb sama dengan Tanah Negeb (Palestina Selatan), maka itu adalah sebuah kebohongan! Mereka yang tidak "melek" bahasa Ibrani mungkin bisa ditipu, namun yang dapat memahami bahasa Ibrani dengan sendirinya akan mengatakan bahwa ajaran Kristen telah berdusta!

Perhatikan ini:

  • 'Erets (ארצ): tanah, negeri.
  • Negeb (נגב): selatan. Negeb (selatan) adalah lawan kata dari tsāpōn (utara).

Konsekuensinya adalah jika Taurat menyebut "Tanah Negeb" (Palestina Selatan) maka Taurat berbahasa Ibrani harus mencatat "Erets Negeb", karena jika hanya menulis "Negeb" (tanpa embel-embel "erets"), maka artinya menjadi "selatan" atau tegasnya adalah arah geografi: selatan.

Sekarang kita lihat Kejadian 13:1 dan Kejadian 13:3 di bawah ini.

Kejadian 13 : 1
Bahasa Ibraniוַיַּעַל אַבְרָם מִמִּצְרַיִם הוּא וְאִשְׁתֹּו וְכָל־אֲשֶׁר־לֹו וְלֹוט עִמֹּו הַנֶּֽגְבָּה ׃ 

Transliterasi: wayya‘al ’abərām mimmisərayim hû’ wə’išətwō wəkāl-’ăšer-lwō wəlwōt ‘immwō hannegəbâ.

KJV Bible: And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south.

Terjemahan Bebas: Dan Abraham pergi keluar dari Mesir, ia, dan istrinya, dan semua kepunyaannya, dan Lot dengannya, menuju selatan.

Kejadian 13 : 3

Bahasa Ibrani: וַיֵּלֶךְ לְמַסָּעָיו מִנֶּגֶב וְעַד־בֵּֽית־אֵל עַד־הַמָּקֹום אֲשֶׁר־הָיָה שָׁם [אָהֳלֹה כ] (אָֽהֳלֹו ק) בַּתְּחִלָּה בֵּין בֵּֽית־אֵל וּבֵין הָעָֽי

Transliterasi: wayyēlekə ləmassā‘āyw minnegeb wə‘ad-bêt-’ēl ‘ad-hammāqwōm ’ăšer-hāyâ šām ’âŏlōh ’âŏlwō batəhillâ bên bêt-’ēl ûbên hā‘āy.

KJV BIble: And he went on his journeys from the south even to Bethel, unto the place where his tent had been at the beginning, between Bethel and Hai.

Terjemahan Bebas: Dan ia berangkat dalam perjalanannya dari selatan hingga dekat Bethel, tempat dimana kemahnya bermula, antara Bethel dan Hai.

Dari dua ayat di atas, kita dapat melihat bahwa Kejadian 13:1 dan Kejadian 13:3 sama sekali tidak mencatat "Erets Negeb", melainkan hanya "Negeb." Jadi, arti yang benar adalah "selatan". Jelaslah bahwa perjalanan nabi Ibrahim keluar dari Mesir adalah menuju Selatan. Dan Selatan tak lain adalah Semenanjung Arabia.

Dengan demikiani, sesungguhnya nabi Ibrahim memang pernah berangkat ke selatan Mesir, suatu kenyataan yang sangat dibenci oleh orang-orang kufur yang senantiasa menutup-nutupi kebenaran dengan cara mengedit Bible guna menyisipkan kata "tanah" sehingga arti pun berubah menjadi "erets negeb" atau "Tanah Negeb" (Palestina Selatan), sebagaimana digambarkan berikut ini:

[GNB] Abram went north out of Egypt to the southern part of Canaan with his wife and everything he owned, and Lot went with him.
[LAI BIS] Abraham meninggalkan Mesir dan pergi ke arah utara, menuju ke bagian selatan Kanaan dengan istrinya serta segala miliknya, dan Lot ikut juga.
[LAI TB] Maka pergilah Abraham dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia.

CATATAN: 
Perhatikan bahwa Bible editan yang bernama GNB (Good News Bible), LAI BIS (Bahasa Indonesia Sehari-hari) mengatakan bahwa Abraham pergi keluar dari Mesir ke arah utara. Padahal naskah Ibraninya tidak ada kalimat "ke arah utara." Kemudian kita juga dapat melihat Pendeta Kristen mengedit "selatan" menjadi tanah Negeb/Tanah Selatan/Kanaan Selatan (wilayah Palestina Selatan).

LAI TB (Terjemahan Baru) adalah Bible produksi LAI (Lembaga Alkitab Indoensia) yang lama. LAI TB menyisipkan kata "erets" (tanah) sehingga kalimat pun berubah menjadi "Tanah Negeb/Tanah Selatan" (merujuk wilayah Kanaan Selatan/Palestina Selatan).
LAI TB (Terjemahan Baru) adalah Bible produksi LAI (Lembaga Alkitab Indoensia) yang lama. LAI TB menyisipkan kata "erets" (tanah) sehingga kalimat pun berubah menjadi "Tanah Negeb/Tanah Selatan" (merujuk wilayah Kanaan Selatan/Palestina Selatan).
LAI BIS:  Abraham meninggalkan Mesir dan pergi ke arah utara, menuju ke bagian selatan Kanaan dengan istrinya serta segala miliknya, dan Lot ikut juga. LAI TB Maka pergilah Abraham dari Mesir ke Tanah Negeb dengan isterinya dan segala kepunyaannya, dan Lotpun bersama-sama dengan dia.

Kisah "Negeb" dalam Kejadian 13:1-3 berbeda dengan kisah "Negeb" dalam Kejadian 20:1, karena Taurat berbahasa Ibrani untuk Kejadian 20:1 dengan jelas mencatat Erets Negeb.

Kejadian 20 : 1
Bahasa Ibraniוַיִּסַּע מִשָּׁם אַבְרָהָם אַרְצָה הַנֶּגֶב וַיֵּשֶׁב בֵּין־קָדֵשׁ וּבֵין שׁוּר וַיָּגָר בִּגְרָֽר ׃

Transliterasi:wayyissa‘ miššām ’abərâām ’arətsâ hannegeb wayyēšeb bên-qādēš ûbên šûr wayyāgār bigərār

KJV Bible:And Abraham journeyed from thence toward the south country, and dwelled between Kadesh and Shur, and sojourned in Gerar.

Terjemahan Bebas: Dan Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar.

Jadi Kejadian 20:1 itu tidak perlu diperselisihkan karena Taurat mencatat "Negeb" dengan disertai kata "Erets", yang artinya merujuk Gurun Negeb Israel.

Jika argumentasi Kristen bahwa Negeb dalam Kejadian 13 adalah Tanah Negeb, karena merujuk "Negeb" dalam Kejadian 20:1 jelas itu hanya bersifat penafsiran, karena arti yang benar itu adalah selatan.

Sangat lucu jika Kristen memaksakan bahwa Negeb (Selatan) dalam Taurat adalah Tanah Negeb (Tanah Selatan/Israel Selatan), karena konsekuensinya sangat...sangat.. berat. Dalam Perjanjian Lama akan banyak ditemui kata "Negeb tanpa embel-embel eres" dan "Negeb dengan embel-embel eres".

Berikut ini mari kita  kutip beberapa contoh penggunaan kata Ibrani "Negeb" dalam Bible:

Kejadian 24 : 62
Bahasa Ibraniוְיִצְחָק בָּא מִבֹּוא בְּאֵר לַחַי רֹאִי וְהוּא יֹושֵׁב בְּאֶרֶץ הַנֶּֽגֶב ׃

Transliterasi: wəyitsəhāq bā’ mibwō’ bə’ēr lahay rō’î wəhû’ ywōšēb bə’erets hannegeb

KJV Bible: And Isaac came from the way of the well Lahairoi; for he dwelt in the south country.

Terjemahan bebas: Dan Ishak datang dari arah sumur Lahairoi; ia tinggal di Negeri Selatan/Tanah Negeb.  

Kejadian 13 : 14
Bahasa Ibrani: וַֽיהוָה אָמַר אֶל־אַבְרָם אַחֲרֵי הִפָּֽרֶד־לֹוט מֵֽעִמֹּו שָׂא נָא עֵינֶיךָ וּרְאֵה מִן־הַמָּקֹום אֲשֶׁר־אַתָּה שָׁם צָפֹנָה וָנֶגְבָּה וָקֵדְמָה וָיָֽמָּה׃

Transliterasi: wayhwâ ’āmar ’el-’abərām ’ahărê hipāred-lwōt mē‘immwō śā’ nā’ ‘êneykā ûrə’ēh min-hammāqwōm ’ăšer-’atâ šām tsāpōnâ wānegəbâ wāqēdəmâ wāyāmmâ:

KJV Bible: And the LORD said unto Abram, after that Lot was separated from him, Lift up now thine eyes, and look from the place where thou art northward, and southward, and eastward, and westward:
CEV Bible: After Abram and Lot had gone their separate ways, the LORD said to Abram: Look around to the north, south, east, and west.
ESV Bible: The LORD said to Abram, after Lot had separated from him, "Lift up your eyes and look from the place where you are, northward and southward and eastward and westward,
LAI TB: Setelah Lot berpisah dari pada Abraham, berfirmanlah TUHAN kepada Abraham: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
LAI BIS: Setelah Lot pergi, TUHAN berkata kepada Abraham, "Dari tempat engkau berdiri itu, pandanglah baik-baik ke segala arah;

Kejadian 20 : 1
Bahasa Ibraniוַיִּסַּע מִשָּׁם אַבְרָהָם אַרְצָה הַנֶּגֶב וַיֵּשֶׁב בֵּין־קָדֵשׁ וּבֵין שׁוּר וַיָּגָר בִּגְרָֽר ׃

Transliterasi:  wayyissa‘ miššām ’abərâām ’arətsâ hannegeb wayyēšeb bên-qādēš ûbên šûr wayyāgār bigərār:

KJV Bible: And Abraham journeyed from thence toward the south country, and dwelled between Kadesh and Shur, and sojourned in Gerar.
CEV Bible: Abraham moved to the Southern Desert, where he settled between Kadesh and Shur. Later he went to Gerar, and while there
ESV Bible: From there Abraham journeyed toward the territory of the Negeb and lived between Kadesh and Shur; and he sojourned in Gerar.
LAI TB: Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia menetap antara Kadesh dan Syur. Ia tinggal di Gerar sebagai orang asing.
LAI BIS: Abraham pindah dari Mamre ke bagian selatan tanah Kanaan, dan menetap di antara Kades dan Syur. Beberapa waktu kemudian, ketika ia tinggal di Gerar,  

Yosua 11 : 2
Bahasa Ibrani: וְֽאֶל־הַמְּלָכִים אֲשֶׁר מִצְּפֹון בָּהָר וּבָעֲרָבָה נֶגֶב כִּֽנֲרֹות וּבַשְּׁפֵלָה וּבְנָפֹות דֹּור מִיָּֽם ׃

Transliterasi: wə’el-hamməlākîm ’ăšer missəfwōn bâār ûbā‘ărābâ negeb kinărwōt ûbaššəfēlâ ûbənāfwōt dwōr mîyām.

KJV Bible: And to the kings that were on the north of the mountains, and of the plains south of Chinneroth, and in the valley, and in the borders of Dor on the west.
CEV Bible: the kings in the northern hill country and in the Jordan River valley south of Lake Galilee, and the kings in the foothills and in Naphath-Dor to the west.
ESV Bible: and to the kings who were in the northern hill country, and in the Arabah south of Chinneroth, and in the lowland, and in Naphoth-dor on the west,
LAI TB: serta kepada raja-raja yang di sebelah utara, di Pegunungan, di Araba-Yordan di sebelah selatan Kinerot, di Daerah Bukit dan di tanah bukit Dor di sebelah barat. dll
LAI BIS: kepada raja-raja di pegunungan sebelah utara, di Lembah Yordan sebelah selatan Galilea, di daerah kaki pegunungan, dan di daerah pesisir dekat Dor.

Kejadian 28 : 14  
Bahasa Ibrani:    הָיָה זַרְעֲךָ כַּעֲפַר הָאָרֶץ וּפָרַצְתָּ יָמָּה וָקֵדְמָה וְצָפֹנָה וָנֶגְבָּה וְנִבְרֲכוּ בְךָ כָּל־מִשְׁפְּחֹת הָאֲדָמָה וּבְזַרְעֶֽךָ  

Transliterasi: wəhāyâ zarə ‘kē ka‘əpar hā’āres úpārasātā yāmâ wāqēdəmâ wəsāponâ wānegəbâ wənibərəkú bəkē kal-mišəpəhot hā’dămâ úbəzarə‘ek.

KJV Bible: And thy seed shall be as the dust of the earth, and thou shalt spread abroad to the west, and to the east, and to the north, and to the south: and in thee and in thy seed shall all the families of the earth be blessed.
CEV Bible: Your descendants will spread over the earth in all directions and will become as numerous as the specks of dust. Your family will be a blessing to all people.
ESV Bible: Your offspring shall be like the dust of the earth, and you shall spread abroad to the west and to the east and to the north and to the south, and in you and your offspring shall all the families of the earth be blessed.
LAI TB: Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, dan engkau akan mengembang ke sebelah timur, barat, utara dan selatan, dan olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
LAI BIS: Keturunanmu akan sebanyak debu di bumi. Mereka akan memperluas wilayah mereka ke segala arah, dan melalui engkau dan keturunanmu, Aku akan memberkati semua bangsa di bumi.

Yosua 17 : 9
Bahasa Ibrani:    וְיָרַד הַגְּבוּל נַחַל קָנָה נֶגְבָּה לַנַּחַל עָרִים הָאֵלֶּה לְאֶפְרַיִם בְּתֹוךְ עָרֵי מְנַשֶּׁה וּגְבוּל מְנַשֶּׁה מִצְּפֹון לַנַּחַל וַיְהִי  תֹצְאֹתָיו הַיָּֽמָּה

Transliterasi: wəyārād hagəbúl nahal qānâ negəbâ lanahal ‘rîm hā’ēlēh lə’epərayim bətowkə ‘rê mənašeh úgəbúl mənašeh misəpown lanahal wayahî tos’otāyw hayyâmâ.

KJV Bible: And the coast descended unto the river Kanah, southward of the river: these cities of Ephraim are among the cities of Manasseh: the coast of Manasseh also was on the north side of the river, and the outgoings of it were at the sea.
CEV Bible: Then the border went west to the Kanah Gorge and ran along the northern edge of the gorge to the Mediterranean Sea. The land south of the gorge belonged to Ephraim. And even though there were a few towns that belonged to Ephraim north of the gorge, the land north of the gorge belonged to Manasseh. The western border of Manasseh was the Mediterranean Sea, and the tribe shared a border with the Asher tribe on the northwest and with the Issachar tribe on the northeast.
ESV Bible: Then the boundary went down to the brook Kanah. These cities, to the south of the brook, among the cities of Manasseh, belong to Ephraim. Then the boundary of Manasseh goes on the north side of the brook and ends at the sea,
LAI TB: Kemudian batas itu turun ke sungai Kana, ke sebelah selatan sungai itu. Kota-kota di sana adalah kepunyaan suku Efraim, sekalipun di tengah-tengah kota-kota suku Manasye. Selanjutnya batas daerah Manasye itu lewat dari sebelah utara sungai itu dan berakhir ke laut.
LAI BIS: Selanjutnya garis batas wilayah Manasye itu turun sampai ke anak Sungai Kana. Kota-kota di sebelah selatan anak sungai itu adalah kepunyaan Efraim, meskipun berada di dalam wilayah Manasye. Garis batas wilayah Manasye itu selanjutnya mengikuti jalan ke sebelah utara anak sungai itu, lalu berakhir di Laut Tengah.

Kesimpulan yang kita dapati di sini adalah bahwa Taurat jelas sekali menceritakan perjalanan nabi Ibrahim ke selatan Mesir, atau ke Semenanjung Arabia!

Namun, sangat disayangkan bahwa kehadiran nabi Ibrahim di selatan Mesir, yaitu Semenanjung Arabia (kejadian 13:1-3) tidak dapat kita temui lagi dalam kisah-kisah Taurat selanjutnya. Justru yang terlihat adalah kepalsuan-kepalsuan yang ada dalam Taurat khususnya Kitab Kejadian pasal 21 dan pasal 22.

Umat Kristen mengatakan: Bayangkanlah! Jika kita aplikasikan logika muslim di atas, terlihat betapa sangat tidak logis perjalanan Abraham dari Mesir menuju ke Betel harus melalui Mekah!

Untuk itu, coba kita cermati lagi Kitab Kejadian 13:1.

"And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south." (Dan Abraham keluar dari Mesir, ia dan istrinya, dan semua yang ia miliki, dan Lot dengannya, menuju ke selatan).

Artinya, Kitab Kejadian 13:1, berdasarkan kandungan ayat, bukanlah berita kepulangan Abraham dari Mesir ke Betel-Ai, melainkan perjalanan lanjutan Abraham ke Selatan Mesir!

Ingatlah bahwa Tanah Negeb/Palestina Selatan, bukan terletak di Selatan Mesir, melainkan di Timur Mesir.

Dan kalimat "And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south." Bukanlah berita kepulangan Nabi Abraham ke Bethel-Ai, melainkan perjalanan lanjutan Abraham ke Selatan Mesir.

Berita kepulangan Abraham menuju Betel, bukan berdasarkan Kejadian 13:1, melainkan Kejadian 13:3.

And he went on his journeys from the south even to Bethel, unto the place where his tent had been at the beginning, between Bethel and Hai. (Kejadian 13:3).

SANG PENGEMBARA
"Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara."  (Ulangan 26:5)

Ayat ini rasanya sudah lebih dari cukup untuk "membungkam" mulut besar para Teolog Kristen.

Ingatlah, bahwa nabi Ibrahim adalah seorang pengembara. Tentu saja kita tidak bisa menyamakan kebiasaan seorang pengembara dan seorang petani. Yang satu gemar mengadakan perjalanan dan yang lain cenderung menetap. Darah nabi Ibrahim mengalir pada anak cucunya yaitu Arab, Israel, dan Edom. Ketiga bangsa tersebut, dicatat oleh sejarah sebagai bangsa-bangsa yang gemar melakukan perjalanan jauh.

APAKAH DI YAMAN SUDAH ADA KEHIDUPAN PADA ABAD 19 SM?

Kejadian 10:24-30
"Arpakhsad memperanakkan Selah, dan Selah memperanakkan Eber. Bagi Eber lahir dua anak laki-laki; nama yang seorang ialah Peleg, sebab dalam zamannya bumi terbagi, dan nama adiknya ialah Yoktan. Yoktan memperanakkan Almodad, Selef, Hazar-Mawet dan Yerah, Hadoram, Uzal dan Dikla, Obal, Abimael dan Syeba, Ofir, Hawila dan Yobab; itulah semuanya keturunan Yoktan. Daerah kediaman mereka terbentang dari Mesa ke arah Sefar, yaitu pegunungan di sebelah timur."

KLAIM PENDUDUK YAMAN (Selengkapnya lihat di sini)

"Joktan, or Qahtan in Arabic, was the father of Almodad, Sheleph, Hazarmaveth, Jerah, Hadoram, Uzal, Diklan, Obal, Abimael, Sheba, Ophir, Havilah and Jobab. These are associated with the pre-Islamic civilizations of south Arabia, including various tribes of Yemen and Hadramaut. The modern Arab tribes of Ajman, Harasi, Janibia, Kathri, and al-Murrah claim descent from Joktan/Qahtan."

Joktan, atau dalam bahasa Arabnya Qathan, adalah ayahnya Almodad, Sheleph, Hazarmaveth, Jerah, Hadoram, Uzal, Diklan, Obal, Abimael, Sheba, Ophir, Havilah (Hawila) dan Jobab. Mereka semua diasosiasikan dengan peradaban pra-Islam di Arabia Selatan, mencakup berbagai bangsa di Yaman dan Hadramaut. Bangsa-bangsa Arab modern dari Ajman, Harasi, Janibia, Kathri, dan al-Murrah mengklaim sebagai keturunan dari Joktan/Qathan.

Joktan menurut Bible adalah cicit Nabi Nuh, atau tepatnya Joktan adalah putra Eber putra Sam putra Nuh, alias Joktan bin Eber bin Sam bin Nuh.

Bangsa-bangsa Arab modern dari Ajman, Harasi, Janibia, Kathri, dan al-Murrah mengklaim sebagai keturunan dari Joktan/Qathan. Artinya Yaman telah dihuni di masa cicit nya nabi Nuh, jauh sebelum nabi Abraham lahir (sekitar abad 19 SM)

HADITS BUKHARI TENTANG 'JURHUM'
Berdasarkan hadits sahih Bukhari dinyatakan bahwa Ismail memperistri wanita dari Jurhum yang berasal dari Yaman. Artinya di abad 19 SM, Yaman telah dihuni oleh Jurhum. Jadi, Yaman telah dihuni oleh manusia, jauh sebelum Nabi Ibrahim (Abraham) lahir.

YAMAN ADALAH NEGERI PENGHASIL EMAS
Jangan dilupakan pula bahwa Yaman adalah negeri penghasil emas.

LAI BIS: Kejadian 12 
12 Kalau orang Mesir melihatmu, mereka akan menduga bahwa engkau istriku lalu saya pasti dibunuh dan engkau dibiarkan hidup.
13 Jadi sebaiknya kaukatakan saja bahwa engkau adik saya supaya saya dibiarkan hidup dan diperlakukan dengan baik karena engkau."
14 Dan benarlah, setelah Abraham melintasi perbatasan dan sampai di negeri Mesir, orang Mesir melihat bahwa Sarai cantik sekali.
15 Beberapa orang pegawai istana melihat dia dan memberitahukan kepada raja betapa cantiknya wanita itu; sebab itu dia dibawa ke istana raja.
16 Demi Sarai, raja memperlakukan Abraham dengan baik dan memberikan kepadanya hamba-hamba, kawanan domba dan kambing, sapi, keledai dan unta.
17 Tetapi karena raja mengambil Sarai, TUHAN mendatangkan penyakit-penyakit yang mengerikan atas raja dan orang-orang di dalam istananya.
18 Lalu raja memanggil Abraham dan bertanya kepadanya, "Apa yang telah kaulakukan terhadap aku ini? Mengapa tidak kauberitahukan bahwa ia istrimu?
19 Mengapa kaukatakan bahwa dia adikmu dan membiarkan aku mengambilnya menjadi istriku? Ini dia, istrimu; ambillah dan pergilah!"
20 Raja memberi perintah kepada beberapa pegawainya, dan mereka mengeluarkan Abraham dari negeri itu bersama-sama dengan istrinya dan segala miliknya.

KESIMPULAN: 
Firaun tidak merampas kembali barang-barang pemberiannya setelah mengetahui bahwa Sarah ternyata adalah istri sang nabi. Firaun justru menitahkan orang-orangnya untuk mengantarkan beliau.

KJV: Kejadian 13 : 1
"And Abram went up out of Egypt, he, and his wife, and all that he had, and Lot with him, into the south." (Dan Abraham keluar dari Mesir, ia dan istrinya, dan semua yang ia miliki, dan Lot dengannya, menuju selatan.)

Abraham keluar dari Mesir (Sinai yang adalah daerah Mesir) pergi ke selatan. Palestina Selatan (gurun Negeb) di timur Sinai. Dan selatan tak lain adalah Semenanjung Arabia.

KJV: Kejadian 13 : 2
"And Abram was very rich in cattle, in silver, and in gold." (Dan Abraham sangat kaya, [dan ia memiliki] ternak, perak, dan emas.)

Lihat! Sang nabi membawa barang tambahan yaitu emas dan perak. Yaman adalah negeri elok, subur, penghasil emas.

KJV: Kejadian 13 : 3
"And he went on his journeys from the south even to Bethel, unto the place where his tent had been at the beginning, between Bethel and Hai." (Dan ia pergi melanjutkan perjalanannya dari selatan hingga ke Bethel, pada tempat dimana kemah pertamanya berdiri, antara Bethel dan Hai).

Nah, jadi cerita kepulangan Abraham adalah berdasarkan Kejadian 13:3, bukan Kejadian 13:1. Dari selatan maka sang nabi dan rombongan terus berjalan dari persinggahan ke persinggahan hingga ke Betel.

CATATLAH INI:

  • Selatan Mesir bukan Sudan, karena jika Sudan, sang nabi lagi-lagi harus melewati Mesir. Kejadian 13 sama sekali tidak mencatat Ibrahim bolak-balik Mesir untuk kedua kalinya.
  • Selatan Mesir bukan Palestina Selatan, karena Palestina Selatan terletak ditimur Sinai.
  • Selatan diperkirakan Yaman (penghasil emas) dimana diantara Yaman dan Betel terdapat tanah tandus yang tak berpenghuni yaitu tanah suci Mekkah.

Apakah saat itu Sang Nabi juga melewati Tanah Mekkah? Wallahualambissawab!
Sesungguhnya tanggungjawab ini dipikul oleh pendeta Yahudi yang telah mengedit Taurat.

SELATAN ARAH GEOGRAFI
Ada juga komentar umat Kristen yang mengatakan bahwa Yaman bukan terletak di selatan Mesir, melainkan tenggara Mesir. Perlu kita tegaskan lagi bahwa jika ada orang yang mengatakan demikian artinya mereka buta Geografi dan sama sekali tidak mengerti Geografi, bahkan di level pemula.

Penjelasan bahwa Yaman terletak di Selatan Mesir (Sinai) bersandar pada dali-dalil berikut:

South is most commonly a noun, adjective, or adverb indicating direction or geography. South is one of the four cardinal directions or compass points. It is the opposite of North and at right angles to East and West. By Western convention, the bottom side of a map is South. (Lihat selengkapnya di sini)

Southeast or south east is the ordinal direction halfway between south and east. It the opposite of northwest. (Lihat selengkapnya di sini)

With the cardinal points thus defined, by convention cartographers draw standard maps with north (N) at the top, and east (E) at the right. In turn, maps provide a systematic means to record where places are, and cardinal directions are the foundation of a structure for telling someone how to find those places. North (N) does not have to be at the top. Portable GPS-based navigation computers can be set to display maps either conventionally (N always up, E always right) or with the current instantaneous direction of travel, called the heading, always up - and whatever direction is +90° from that to the right. (Lihat selengkapnya di sini)

  •  North (N): 0° = 360°
  •  East (E): 90°
  •  South (S): 180°
  •  West (W): 270°

An ordinal, or intercardinal, direction is one of the four intermediate compass directions located halfway between the cardinal directions.

  • Northeast (NE), 45°, halfway between north and east, is the opposite of southwest.
  • Southeast (SE), 135°, halfway between south and east, is the opposite of northwest.
  • Southwest (SW), 225°, halfway between south and west, is the opposite of northeast.
  • Northwest (NW), 315°, halfway between north and west, is the opposite of southeast.

APLIKASI KOMPARATIF DALAM DUNIA NYATA
Provinsi Kalsel diukur dari pusat kalimantan (ditengah-tengah P. Kalimantan).

  • Terletak sekitar 135°. Artinya di tenggara.
  • Seseorang BOLEH mengatakan Kalsel di Kalimantan Selatan.
  • Dan orang lain juga BOLEH mengatakan Kalsel di Kalimantan tenggara.
(Lihat juga peta Jaksel, Jaktim, Sumsel, Sumut, dll.)

"Al Ula oasis is halfway between Madinah and Tabuk, around 370 kilometres north of Madinah."  Read More

Perhatikan: Jika kita melanjutkan membaca "Read More" di atas maka kita akan mendapati bahwa situs tsb menegaskan bahwa "Al-Ula" terletak di 370 km arah utara Madinah. Tapi bagi yang tidak memahami Geografi -- atau karena alasan fanatisme agama -- tentu akan membantah penjelasan tsb.

:
Bagi yang memahami Geografi, akan mengatakan, bisa UTARA bisa pula BARAT LAUT. Kedua-duanya BENAR!

Jadi, mengenai penyimpangan derajat, sepanjang itu tidak terlampau besar, maka kita BOLEH berkesimpulan Mekkah terletak di selatan Sinai dan BOLEH juga mengatakannya terletak di tenggara Sinai.

Tenggara adalah 135°. Selatan adalah 180°. Sinai ke Mekkah terletak diantara 180° (selatan) dan 135° (tenggara).

Selanjutnya, lihat pula posisi Mekkah dan Sinai dibawah ini:


Aturan manakah yang menyebutkan bahwa jika posisi wilayah terletak diantara 180° (selatan) dan 135° (tenggara) itu bukan selatan, melainkan tenggara?

Adakah aturan kalau 175° itu bukan selatan, melainkan tenggara? Adakah aturan kalau 95° itu bukan timur, melainkan tenggara? Adakah aturan kalau 355° itu bukan utara, melainkan barat laut?

Dari Sinai (Mesir), Mekkah lebih dekat ke arah selatan dari pada ke arah timur, oleh karena itulah saya mengatakan Mekkah terletak di selatan Sinai (Mesir).

Argumentasi versi Kristen lainnya: Perhatikan peta di bawah ini. Ini adalah peta jalur perdagangan pada abad ke 6 BC (1400 tahun sesudah Ibrahim).

Sumber: nabaetan.net

Berdasarkan peta jalur perdagangan ini, jika orang dari Mesir melakukan perjalanan menuju Yemen, maka dia tidak langsung ke selatan, kerena sepanjang pesisir Barat Arabia (Laut Merah) adalah pegunungan. Maka Ibrahim harus ke Timur dulu melewati Sinai, Negev, kemudian ke Petra lalu ke Tenggara.

Artinya, jika mengikuti rute jalur perdagangan kemenyan, maka dari Mesir Nabi Ibrahim harus ke Timur (Gerar atau Barsheba) dulu, baru kemudian ke arah Tenggara.

Jawaban untuk argumentasi ini adalah, jika berdasarkan rute kemenyan abad 6 SM, benar!  Namun sejauh yang dapat kita temui di dalam Kitab Kejadian pasal 12-13, Abaraham sama sekali tidak dikisahkan membawa-bawa kemenyan. Abraham mengadakan perjalanan, dari Palestina ke Mesir, lalu dari Mesir ke selatan. Sedangkan apa saja yang dilakukannya selama di Selatan, daerah-daerah mana saja yang dilaluinya, dan catatan-catatan penting lainnya? Wallahualam! Bukankah Taurat adalah kitab suci yang isinya sudah banyak dipalsukan?

Yeremia 8 : 8
"Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat TUHAN? Sesungguhnya, pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi bohong."

QS Al An'aam 6 : 91
"kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya."

QS An Nisaa' 4 : 46
"Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya."

QS Al Maa'idah 5 : 41
"dan di antara orang-orang Yahudi. amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya."
Ada lagi tuduhan umat Kristen yang lebih ekstrim begini: Seorang pengembara pun pasti punya akal sehat dan cenderung akan melalui daerah yang subur daripada harus melalui padang pasir yang kering kerontang. Perhatikanlah bahwa saat di Mesir, Abraham mendapatkan banyak ternak dan budak-budak.

Kejadian 12 : 16
"Firaun menyambut Abraham dengan baik-baik, karena ia mengingini perempuan itu, dan Abraham mendapat kambing domba, lembu sapi, keledai jantan, budak laki-laki dan perempuan, keledai betina dan unta."

Saat keluar dari Mesir, Abraham membawa seluruh kekayaannya, berarti termasuk semua budak dan ternaknya.

Kejadian 12 : 20
Lalu Firaun memerintahkan beberapa orang untuk mengantarkan Abraham pergi, bersama-sama dengan isterinya dan segala kepunyaannya.

Bayangkan, Abraham yang membawa banyak budak dan ternak kemudian memilih untuk pergi ribuan kilometer ke Yaman dengan melalui padang pasir yang kering-kerontang tanpa air sama sekali. Kemudian menurut muslim pergi ke Mekkah yang saat itu juga tidak ada airnya sama sekali.

Berikut adalah terjemahan SAHIH BUKHARI Volumn 004, Book 055, Hadith Number 583.

"Ibrahim membawa Hajar dan putranya Ishmael selagi ismail sedang menyusui ibunya ke suatu tempat dekat Ka'Ba di bawah sebuah pohon pusat Zam-Zam, di tempat yang paling tinggi di mesjid itu. Waktu itu tidak ada seorang pun di Mecca, tidak pula air."


Jadi, bayangkanlah! Abraham membawa budak-budak dan ternak-ternaknya melintasi padang pasir ribuan kilometer yang kering kerontang, menuju Mekkah yang tidak ada airnya. Hanya pendapat orang gila model muslim saja yang mampu melakukan hal tersebut! Ke mana orang akan membawa ternak-ternaknya? Tentu saja ke daerah yang subur, yaitu fertile crescent! 


Jawaban yang tidak kalah ekstrimnya begini: Abraham adalah seorang pengembara. Yaman adalah penghasil emas. Yaman adalah negeri yang makmur. Di Semenanjung Arabia terdapat tanah suci, jadi sangat logis jika nabi Ibrahim melaluinya. Kenyataan bahwa Abraham dalam Kejadian 13 itu memang pergi ke selatan Mesir. Anda justru membantah apa yang dikatakan oleh Bible anda.

Anda ceroboh. Hadits BUKHARI Volume 004 Book 055 Number 583 menceritakan kondisi Mekkah dan sekitarnya SAJA yang kala itu kering kerontang. Hadits tsb tidak menceritakan bahwa antara Palestina hingga Mekkah adalah daerah tanpa air, tanpa kurma, tanpa buah-buahan. [Lihat detilnya di sini]

Silahkan Googling dulu semua data mengenai kondisi Geografis Arab Saudi. Tampaknya anda terlalu buta Geografi. Jika saja anda mengikuti saran di atas, maka anda akan tahu bahwa tanah Arabia itu tidak seluruhnya 100% pasir tanpa air, dll.

Perlu Anda ketahui bahwa daerah Semenanjung Arabia (khususnya Hijaz) tdk kering semua. Dibeberapa tempat terdapat oasis, pohon kurma, dan lahan-lahan yang dapat ditanami utk bercocok tanam maupun wilayah yang dapat digunakan untuk mengembala (peternakan).

Akhirnya, tulisan ini kita cukupkan sampai di sini saja dulu. Semoga tela'ah objektif atas pejalanan Nabi Ibrahim ke tanah Arab yang "dikaburkan" di dalam alkitab ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

QS Al An'aam 6 : 91
"kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya."

QS An Nisaa' 4 : 46
"Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya."

QS Al Maa'idah 5 : 41 
"dan di antara orang-orang Yahudi. amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya."

QS Al Maa'idah 5 : 13
"karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat)."



[Dipetik dari Catatan Yasir Master]



Sumber: