Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Paulus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Paulus. Tampilkan semua postingan

Yesus tidak pernah menjadikan Paulus sebagai Rasul


Paulus mengaku sebagai salahsatu rasul Kristus. Tetapi faktanya, bukan!

Yesus berkata jika seseorang bersaksi tentang dirinya sendiri, kesaksiannya tidak boleh dipercaya: "Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya." (Yohanes 7: 18).

Namun, sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang Paulus adalah apa yang dia nyatakan sendiri  tentang dirinya. Misalnya, Paulus berkata tentang murid-murid Yesus: “Apakah mereka pelayan Kristus? --aku berkata seperti orang gila--aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut." (2 Korintus 11: 23).

Yesus berkata, ”Jika Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, kesaksian-Ku tidak benar." (Yohanes 5:31). Sementara Paulus berulang kali bersaksi tentang dirinya sendiri. Karena itu, dia tidak dapat dipercaya. Misalnya, dia mengaku sebagai salahsatu rasul Kristus. (Galatia 1:1). Padahal sejatinya bukan!

MENGAPA HANYA DUABELAS RASUL?
Yesus hanya memiliki duabelas rasul, dan pastinya, Paulus bukan salahsatu dari mereka: “Ketika hari siang, Ia (Yesus) memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul: Simon yang juga diberi-Nya nama Petrus, dan Andreas saudara Simon, Yakobus dan Yohanes, Filipus dan Bartolomeus, Matius dan Tomas, Yakobus anak Alfeus, dan Simon yang disebut orang Zelot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iskariot yang kemudian menjadi pengkhianat.” (Lukas 6: 13-16).
Secara khusus keduabelas murid inilah yang dinyatakan oleh Yesus sebagai rasul. Bagi Yesus, hanya ada duabelas rasul sebab hanya ada duabelas suku Israel. Selain itu, hanya akan tersedia duabelas takhta penghakiman.
Begini penjelasan Yesus kepada murid-muridnya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” (Matius 19: 28).

Kota suci Yerusalem Baru pun hanya memiliki dua belas fondasi. Seperti yang diungkapkan Yesus kepada Yohanes: “Tembok kota itu mempunyai duabelas batu dasar dan di atasnya tertulis keduabelas nama kedua belas rasul Anak Domba itu.” (Wahyu 21:14). Jelas, dalam ayat ini Paulus tidak termasuk dalam kelompok  “duabelas rasul anak domba” yang dimaksud oleh Yesus!

SAKSI PALSU
Para Rasul Yesus dipilih dari orang-orang yang telah bersamanya sejak awal pelayanannya dan oleh karena itu mereka terdidik dengan baik berdasarkan pokok-pokok ajaran Yesus. Yesus berkata kepada mereka: "Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku." (Yohanes 15:27).

Paulus tidak memenuhi syarat. Sebab dia tidak pernah bersama Yesus sejak awal dan tidak akrab dengan pokok-pokok ajaran Yesus. Tidak ada dalam surat-surat Paulus yang mana pun tentang prinsip-prinsip utama ajaran Yesus; tidak ada tentang ajaran Khotbah di Bukit; dan tidak ada tentang berbagai perumpamaan Yesus yang mencerahkan seperti yang dipertanyakan oleh teolog Ferdinand Christian Baur: “Otoritas macam apa yang boleh dimiliki seorang "rasul" yang tidak seperti rasul-rasul lainnya, tidak pernah dipersiapkan untuk jabatan kerasulan oleh Yesus sendiri tetapi baru setelah ketiadaan Yesus mengklaim jabatan kerasulan untuk dirinya berdasarkan pengakuannya sendiri?”

Karena jumlah rasul yang dibutuhkan adalah duabelas, setelah Yudas bunuh diri, sebelas rasul yang tersisa memutuskan untuk memilih rasul keduabelas yang baru. Beginilah Petrus menetapkan kriteria untuk membuat pilihan itu: “Jadi harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah 1: 21-22).

Paul sama sekali tidak memenuhi persyaratan ini. Dia bukan saksi kebangkitan Yesus. Setelah Matias dipilih, Lukas mengatakan tidak ada lagi rasul yang dipilih. Mereka tetap menjadi kelompok eksklusif: “Tidak ada dari yang lainnya memberanikan diri untuk bergabung dengan mereka, tetapi orang-orang sangat memuliakan mereka” (Kisah 5:13). Secara signifikan, setelah kematian Yakobus, rasul lain tidak dipilih untuk menggantikannya karena, tidak seperti Yudas, status Yakobus tetap sebagai salahsatu dari duabelas rasul Yesus.

RASUL PALSU
Paulus adalah seorang rasul gadung yang mendaulat dirinya sendiri. Ini dijelaskan oleh banyak kesalahannya. Sebagai contoh, Paulus berkata tentang kebangkitan Yesus: “Ia dilihat oleh Kefas, kemudian oleh kedua belas murid itu.” (1Korintus 15: 5). Padahal Yesus menampakkan diri hanya kepada sebelas murid, karena Yudas sudah lebih dulu mati bunuh diri . (Lukas 24:33-34). Ketika Yesus bangkit, jumlah murid Yesus pada hari Pentakosta adalah 120. (Kisah 1: 15). Namun Paulus mengatakan Yesus menampakkan diri kepada 500 orang. (1Korintus 15: 5-6).

Yesus memuji orang Efesus karena menolak rasul palsu seperti Paulus: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.” (Wahyu 2: 2).

Paulus adalah satu-satunya orang dalam Alkitab yang mengatakan kepada orang-orang Efesus bahwa dia adalah seorang rasul, padahal bukan. (Efesus 1:1). Menurut Lukas, orang-orang Efesus menolak keras kesaksiannya: “Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. Tetapi ada beberapa orang  yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan, malahan mengumpat Jalan Tuhan  di depan orang banyak ..... ” (Kisah 19: 8-9).

Efesus berada di Asia dan, seperti yang diakui Paulus kepada Timotius; Paulus ditolak oleh semua orang Kristen di Asia: “Kamu tahu, bahwa semua orang di Asia telah berpaling dariku.” (2Timotius 1: 15). Faktanya, mereka bahkan menjatuhkan "hukuman mati" padanya. (2Korintus 1:8-9).

Itulah sebabnya mengapa Paulus merasa perlu untuk berpaling dari Asia dan memohon kepada orang-orang Korintus di Eropa: “Jika bagi orang lain aku bukan rasul, paling tidak aku adalah rasul bagimu. Sebab, kamu adalah meterai kerasulanku dalam Tuhan.” (1Korintus 9:2). Permohoan untuk mendapatkan pengakuan publik ini menyedihkan, terutama bila mengingat kebanggaan Paulus sebelumnya yang bermegah-megah mengaku sebagai rasul Yesus: "Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus  dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati," (Galatia 1:1). 

PARA RASUL TIDAK DIPILIH OLEH ANGGOTA GEREJA TAPI SECARA EKSKLUSIF OLEH YESUS
Jika segala bualannya mengaku bertemu Yesus dalam perjalanan ke Damsyik  (Kisah 9: 5-7) memang benar, maka catatlah ini: Yesus memanggil Paulus sebagai pelayan, bukan sebagai rasul! "Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti." (Kisah 26:16). 
Ketika Ananias pergi menemui Paulus, dia tidak memanggilnya Rasul Saulus tetapi “Saudara Saulus.” (Kisah 9:17). Ketika penulis epistel ke-2 Petrus juga menyebut Paulus, dia tidak menulis "Rasul Paulus" tetapi “saudara Paulus.” (2Petrus 3:15).

Yohanes berkata kita harus menguji roh apakah mereka berasal dari Allah. (1Yohanes 4:1). Mari kita melakukannya pada Paulus. Dia berkata kepada orang-orang Galatia: “Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” (Galatia 1:10). Tetapi kemudian dia mengaku kepada jemaat di Korintus: "aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal" (1Korintus 10:33).

Dengan demikian Paulus dijerat oleh kata-katanya sendiri. (Amsal 6: 2). Sekalipun dia mengatakan tidak, tapi nyatanya dia masih berusaha untuk menyenangkan manusia. Jadi, menurut ukurannya sendiri, Paulus bukanlah seorang hamba Kristus!

Begitulah cara Roh Tipu Daya menyingkapkan kelakuan para pendusta!

[Femi Aribisala | vanguardngr.com]


Umat ini menolak disebut sebagai Pengikut Paulus


Hampir seluruh umat Kristen - yang mengaku sebagai pengikut Kristus - sebenarnya tidak tahu, atau tidak mau tahu bahwa sejatinya mereka bukan pengikut Kristus tapi pengikut Paulus!

Karenanya, ketika disebut sebagai umat Paulus, umumnya orang-orang bernasib malang ini tidak ambil pusing karena "haqul yakin" bahwa mereka adalah pengikut Kristus. Namun ada juga di antaranya yang benar-benar merasa terusik dijuluki sebagai Pengikut Paulus dan bereaksi keras menolak sebutan itu, bahkan menuntut pembuktian untuk ditunjukkan dalilnya dari kitab mereka.

Jadi, mari kita penuhi tuntutan mereka.
Kita mulai dari sini.

Paulus berkata;
"Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun." (1Korintus 6:12)

Paulus tegas-tegas menyatakan bahwa dia tidak sudi diperhamba oleh apa pun, termasuk tentu saja oleh Allah, apalagi oleh Yesus Krtistus!

"Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah." (2Korintus 11:17)

Perhatikan juga bagaimana dia bermegah-megah menyatakan bahwa apa yang diajarkannya bukan berasal dari firman Allah, tapi sepenuhnya dari pemikirannya sendiri, yang diakuinya pula sebagai pemikiran orang bodoh! 

Bandingkan dengan pegakuan Yesus Kristus yang dengan amat tegas menyatakan bahwa apa yang diajarkannya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan dari Allah yang mengutusnya.

"Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan." (Yohanes 12:49)

Kendati sudah demikian jelas perbedaan antara ajaran Yesus Kristus yang berasal dari Allah dengan ajaran Paulus yang berasal dari hawa nafsu dan kebodohannya sendiri, tapi dengan penuh percaya diri Paulus menegaskan bahwa kalian, umat yang hari gini masih mengaku Kristen, harus menjadi pengikut Paulus - bukan pengikut Yesus Kristus!

Alasannya?
Paulus mengklaim bahwa dirinya tidak kalah hebat dibandingkan dengan semua murid-murid Yesus Kristus yang dilarang keras oleh guru mereka untuk mengabarkan Injil kepada bangsa manapun selain bangsa Israel! 

"Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu" (2Korintus 12:11)

"Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus." (1Korintus 10: 34)

Nah, ini menarik! Sebab sejak lahir hingga digossipin ngapung ke sorga, Yesus tidak pernah mengenal kata "Kristen", apalagi sampai menyebut pengikutnya sebagai orang Kristen! Artinya, Kristen adalah hal yang sangat asing bagi Kristus sendiri, begitu juga bagi seluruh pengikut sejati Yesus Kristus!

Sebutan, atau kata "kristen" muncul jauh setelah Yesus Kristus tidak ada, sebagai ejekan yang dutujukan kepada Paulus dan pengikutnya pada masa-masa dia mulai "menjual nama Yesus Kristus" untuk kepentingannya sendiri terhadap kaum gentile Goyim (non-Yahudi) di Antiokhia (Lihat Kisah Para Rasul 11:26) 

Jadi, kalian yang hari gini masih mengaku sebagai umat Kristen jelas bukan pengikut Kristus, melainkan pengikut Paulus, alias umat Paulus! 

Lalu, tahukah kalian hal apa yang menyedihkan dari kepatuhan kalian kepada Paulus? 
Ketika Paulus berkata, "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus", dia menginginkan agar kalian melakukan segala hal yang dia perbuat, sementara dia sendiri sama sekali tidak melakukan apapun yang Kristus perbuat!

Yesus menyerukan; "Sembahlah hanya Allah saja!"
Paulus mengajarkan; "Sembahlah Yesus!"

Yesus menegaskan; "Tuhan, Allah kita, adalah satu"
Artinya Kristus mengajarkan bahwa Tuhan adalah Allah, dan Allah adalah satu-satunya Tuhan, sementara Paulus mengarang cerita bahwa "Allah adalah Bapa, sedangkan Yesus adalah Tuhan"

Yesus mengingatkan; "Setiap orang menanggung dosanya masing-masing"
Paulus membual; "Yesus menanggung dosa orang-orang yang percaya bahwa beliau adalah tuhan!"

Yesus selalu menyebut dirinya sebagai "anak manusia"
Paulus menipu kalian dengan mengatakan bahwa Yesus adalah "anak Allah"

Dan masih ada segerobak pasir lagi ajaran "Paulus yang dipenuhi oleh roh tipu daya", yang sampai hari ini benar-benar kalian jadikan teladan!

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7)

Jadi, seperti sudah terbukti selama berabad-abad sejak Konsili Nicea 325M hingga hari ini, hanya pengikut Pauluslah yang setiap hari kerjanya cuma berdusta demi kemuliaan Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Paulus!

Padahal Yesus sudah mengingatkan;  JANGAN PERNAH BERDUSTA DEMI APAPUN!

"Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, sebab apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37).

Kalian tentu tau siapa yang dmaksud oleh Yesus sebagai "si Jahat", bukan?
YA! Dia adalah IBLIS, yang karena demikian besar hasratnya untuk menyesatkan sebanyak-banyaknya anak manusia untuk menjadi penghuni neraka, telah turun ke bumi dengan mengambil rupa anak manusia bernama Paulus -- sang Rasul Utusan Neraka!

Jadi sekali lagi, ketahuilah!
Kalian bukan pengikut Kristus, melainkan pengikut Iblis yang mengambil rupa anak manusia bernama Paulus! 

Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!

Nubuat Yesus Tentang Paulus


Perhatikanlah ucapan Yesus Kristus dalam catatan Matius 23:15 ini:

"Celakalah kamu, hai [1] ahli-ahli Taurat dan [2] orang-orang Farisi, hai kamu [3] orang-orang munafik, sebab kamu [4] mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk [5] mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu [6] dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang [7] dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri."

Dalam satu ayat saja, peringatan keras Yesus dan semua nubuat beliau tentang Paulus tergenapi.

1. Paulus mengaku sebagai Ahli Taurat

Paulus sesumbar; "tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat!" (Filipi 3:6)

2. Paulus mengaku sebagai orang Farisi

"Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati." (Kisah Para Rasul 23:6)

3. Paulus adalah orang munafik

"Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat" (1Korintus 9:20-21)

"Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?" (Roma 3:7)

4. Paulus mengarungi lautan untuk menyebarkan ajaran menyimpangnya

" ..... ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!" Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. (Kisah Para Rasul 16: 4-10)

5. Paulus mengajak non-Israel menjadi penganut agama ciptaannya

Dalam bahasa Yunani, gentiles atau orang-orang non-Israel yang beralih keyakinan ke dalam keyakinan bangsa Yahudi disebut prosēlüton (προσήλυτον). Dan Pauluslah orang yang paling terang-terangan melawan sekaligus melanggar larangan keras Yesus Kristus agar seluruh pengikutnya tidak menyampaikan Injil -- yang sangat khusus hanya untuk bangsa Israel saja -- kepada bangsa manapun di dunia ini dengan cara menciptakan agama baru bernama Kristen atas  nama Yesus Kristus! (lihat Matius 15:24, 10:5 dan Kisah Para Rasul 11:26)

Dengan jumawa dia sesumbar:

"Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku," (Roma 11:13)

6. Paulus menjadikan pengikutnya sebagai penghuni neraka

Karena dianggap menyimpang dari ajaran para imamnya, dalam kitab Talmud yang diimani oleh umat Yahudi sebagai bagian dari kitab suci mereka, Yesus sendiri digambarkan sebagai penghuni neraka. Apalagi Paulus yang tidak hanya menyimpang dari ajaran para imam Yahudi, bahkan menyimpang jauh dari ajaran Yesus Kristus yang orang Yahudi, tentu saja akan menjadi bahan bakar api neraka!

Maka pikirkanlah sendiri; jika Paulus menjadi bahan bakar api neraka, bagaimana dengan seluruh pengikutnya?

Jadi, cukup dengan satu ayat saja, sesungguhnya Yesus telah lebih dulu membuktikan kepada kita bahwa Pauluslah sang penyesat sejati yang dipastikan akan menyeret seluruh pengikutnya menjadi penghuni kekal neraka!

7. Paulus menjadikan pengikutnya dua kali lebih jahat dari dia sendiri

Dan kebenaran ucapan Yesus tsb dibuktikan pula oleh sejarah bahwa penyebaran ajaran Paulus oleh kroni dan pengikutnya telah menyebabkan jatuhnya ribuan, bahkan jutaan korban manusia dalam berbagai bentuk pembantaian massal sejak dimulai pada abad ke-3 Masehi hingga hari ini!


[Dari catatan Abu Ihsan]


Yesus Yang Lain Dan Injil Yang Lain



PERNAH DENGAR BERITA TENTANG ADANYA 
"YESUS YANG LAIN DAN INJIL YANG LAIN?"

Ya! Yesus yang lain dan Injil yang lain!
Itulah Yesus YANG BENAR dan Injil YANG BENAR!

Paulus sangat mengetahui hal ini, dan karena itu dia wanti-wanti berpesan agar pengikutnya jangan sekali-kali percaya pada Yesus yang lain dan Injil yang lain ini, sebab menurut Paulus, baik Yesus yang lain maupun Injil yang lain tsb sudah dinyatakannya sebagai TERKUTUK!

2 Korintus 11:4 
"Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima."

Galatia 1:8
"Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia!" 

Mau lebih komplit?
Baca lagi di sini.

Dan tahukah anda SIAPA Yesus yang lain dan MANA Injil yang lain itu?
Dia adalah NABI ALLAH bernama Isa Almasih dengan KITAB SUCINYA sendiri, yaitu Injil yang banyak diceritakan dalam Al-Quran! 

Jadi, Injil Yesus bukan keempat injil kanon dalam alkitab seperti yang diakui oleh Paulus sebagai injilnya tsb. 

CATATAN: Nampaknya ini terlalu berat buat laskar Paulus di sini.


https://web.facebook.com/groups/1374667833014969/posts/1654140875067662

Supaya Menjadi Tuhan, Yesus Harus Mati Lebih Dulu



Menurut Paulus,

SEUMUR HIDUPNYA YESUS TIDAK PERNAH JADI TUHAN KECUALI CUMA SATU HARI, ITUPUN DALAM ANGAN-ANGAN PAULUS, SETELAH KONON KATANYA, DIA DIBANGKITKAN OLEH ALLAH DARI KEMATIAN.

Kalian yang hari gini masih kristen dan setiap hari mati-matian coba meyakinkan umat lain bahwa Yesus adalah Tuhan, memang benar-benar tidak tau diri, tidak pernah baca kitab sendiri!
Bukalah kitab kalian dik, lalu baca baik-baik apa yang ditulis oleh Paulus rasul gadung kalian itu dalam Roma 14:9
"Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya ia menjadi tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup"
Kalian tau apa arti kalimat di atas?
YA! Menurut kitab dan rasul gadung kalian sendiri, sebelum mati di tiang salib dan bangkit di hari ketiga, jelas Yesus BUKAN TUHAN!
Kenapa?
Karena menurut Paulus, agar bisa menjadi tuhan, Yesus harus mati lebih dulu. 
Jadi, sesuai ajaran ngawur Paulus, maka CATAT INI!
Selama hidup, yaitu sejak lahir sampai digossipin mati di tiang salib, jelas Yesus bukan tuhan, bukan?
Nah, teori asbun Paulus ternyata ditolak mentah-mentah oleh Kefas dalam perbantahannya dengan penguasa setelah timbul gonjang-ganjing di bumi Yudea sejak Yesus "menghilang", tapi tidak jelas entah ke mana.
Begini panatua dari keduabelas murid utama Yesus itu menjelaskannya seperti tercatat dalam Kisah Para Rasul:
"Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu," (KPR 3:26)
"Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi." (KPR 2:32)
”Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita, telah memuliakan hamba-Nya, Yesus.” (KPR 3:13).
Nah, menurut murid sejati Yesus -- jadi bukan menurut yang mengaku-ngaku sebagai murid Yesus, alias murid gadung bernama Paulus -- Yesus memang dibangkitkan oleh Allah. Tapi bukan untuk menjadi tuhan seperti hayalan tingkat dewa Paulus, melainkan sebagai HAMBA yang dimuliakan-Nya!
Artinya apa, adik-adik?
Setelah bangkitpun ternyata  fakta tertulis dari kitab kalian sendiri juga tegas-tegas menyatakan bahwa Yesus BUKAN TUHAN, melainkan hanya HAMBA TUHAN!
Bualan Paulus dalam Roma 14:9 sungguh terlalu amat dangkal, sama sekali jauh dari cerdas! Sebab orang-orang yang hidup sejaman dengannya sekalipun, jika benar-benar menggunakan akalnya dengan baik tentu akan meludahinya karena takut tertular tulah Paulus! (dalam tradisi kuno umat Yahudi, praktek meludah ini dimaksudkan untuk mrenghindari tulah dari pengidap morbus insputatus seperti yang menjangkiti Paulus!)
Apalagi orang-orang jaman now?
Orang gila sekalipun tau bahwa tidak ada yang pantas dianggap sebagai tuhan jika dia pernah mati, lalu dibangkitkan pula dari kematiannya oleh Tuhan lain!
Yang menganggap teori ngawur Paulus itu sebagai sebuah keniscayaan tentu lebih gila dari orang gila!
Jelas ya?
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!





Dosa Waris atau Dusta Waris?


Tela'ah sambil lalu .....
CATATAN TERCECER TENTANG DOSA ASAL 

MASIH MENURUT PAULUS, tatkala Adam dan Hawa memakan buah dari pohon terlarang di taman eden, maka seketika itu juga dosa (asal) mereka diyakini menjalar ke setiap tubuh anak cucu mereka.

Begini dia menjelaskannya:
[Roma 5:12] Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Salahsatu "kutuk" dari dosa asal tsb, (konon) ditegaskan pula oleh Tuhan begini:
[Kejadian 3:16] Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."
Artinya, karena dosa Adam dan Hawa tadi, maka sejak dahulu kala hingga hari ini seluruh perempuan keturunan mereka yang pernah lahir ke dunia pasti merasakan birahi kepada suaminya, dan sama pastinya, akan mengalami kesakitan (luar biasa) ketika melahirkan!

Ini menarik!
Kendati kata "dosa asal" atau "dosa waris" tidak akan pernah kita temui dalam keseluruhan isi alkitab, namun pengikut Paulus meyakini sepenuhnya bahwa "kematian" Yesus di tiang salib adalah bagian dari proses penebusan "kutuk dosa asal" dari Adam dan Hawa tadi.

Adapun satu-satunya dalil terkuat yang paling sering disebut-sebut untuk mendukung doktrin ini adalah omongan Paulus yang ini:
[Galatia 3:13] "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!"
Artinya, Paulus meyakinkan pengikutnya bahwa "kutuk dosa asal" atas setiap keturunan Adam dan Hawa tadi -- khususnya bagi mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan -- dengan sendirinya sudah DITEBUS atau DIHAPUSKAN oleh Tuhan melalui peristiwa penyaliban Yesus!

Sampai di sini, ceritanya tambah menarik. 
Kenapa?

Begini:
Bila omongan Paulus itu BENAR, bahwa dosa asal sudah ditebus, maka konsekuensi logis yang HARUS DIBUKTIKAN KEBENARANNYA oleh seluruh pengikut Paulus sendiri adalah, bahwa setelah peristiwa penyaliban Yesus, maka SEHARUSNYA "kutuk" yang tertulis dalam Kejadian 3:16 SUDAH TIDAK BERLAKU LAGI, alias GUGUR dari diri semua orang percaya! 

Benar atau salah?
Coba mari kita tanya mereka; 
"Kenyataannya bagaimana, pakbro dan makbro?"

Sampai hari ini ternyata semua perempuan bersuami, tidak perduli dia percaya Yesus adalah Tuhan atau tidak, secara kodrati tetap memiliki rasa birahi pada suaminya masing-masing! 

Sedangkan fakta lain yang lebih pasti dan tidak bisa dibantah adalah, terlepas dia percaya Yesus adalah tuhan atau bukan, secara alamiah, semua perempuan yang melahirkan sama-sama merasakan sakit yang amat sangat dan sulit dijelaskan!

Nah, sampai di sini, tahukah kalian apa arti semua ini? 
Tulisan Editor Alkitab dan bualan Paulus tentang dosa asal atau dosa waris terbukti cuma GOMBAL MUKIYO yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, alias HOAX!
Dengan demikian, maka pertanyaan kunci kita adalah:
SIAPA YANG BERDUSTA DALAM CERITA INI?

  • TUHANKAH?
  •  EDITOR ALKITABKAH? 
  •  PAULUSKAH? atau .... 
  •  PENGIKUT PAULUS?
Monggo, silahken diwolak-walik dewe iman lan akalmu bro! 

CATATAN: Simak dolah-dalih sebelumnya di sini.




Paulus, Rasul Palsu!


Kita sudah sering membahas demikian banyak bukti bahwa konsep ketuhanan versi Paulus dan doktrin-doktrinnya tidak ditemui dalam ajaran Yesus, apalagi dalam kitab-kitab suci umat Yahudi, tapi justru menjadi pertentangan di antara keduanya. Fakta ini tentu saja merupakan bagian penting untuk djadikan alasan menolak klaim kerasulan Paulus.

Kendati tidak semua bukti yang ada bertentangan dengan kebenaran, namun ada lebih dari cukup bukti lain yang menunjukkan bahwa Paulus bukan rasul sejati Yesus, konon pula rasul terhebat yang pernah ada, seperti yang selalu didengung-dengungkannya.

Ada sejumlah fakta sejarah, termasuk hal-hal yang diucapkan oleh Yesus dan Paulus sendiri sebagaimana tercatat dalam alkitab yang membuat kita yakin bahwa kerasulan Paulus sama sekali tidak diakui oleh kerajaan langit!

Beberapa fakta menarik seputar kasus ini yang menarik untuk diperhatikan dan dicatat adalah:

TIDAK ADA ORANG LAIN YANG MENGAKUI KERASULANNYA
Dari 22 kali pernyataan eksplisit ditambah 3 kali pernyataan implisit - total  25 kali pernyataan  - dalam Alkitab di mana Paulus disebut-sebut sebagai "rasul", hanya dua pernyataan yang berasal dari orang lain selain dirinya sendiri! Adapun kedua pernyataan tsb berasal dari orang yang sama. Bukan dari Yesus atau dari murid Yesus yang mana pun juga, tetapi dari teman seperjalanan Paulus yang paling dekat, sekaligus sekretaris pribadinya, yaitu Lukas.

Kedua kisah itu ditemukan pada catatan Lukas dalam Kisah Para Rasul 14: 4, 14. Dalam dua ayat ini Paulus disebut sebagai rasul bersama Barnabas. Pada saat hal tsb ditulis, Lukas nampaknya sudah sangat terbiasa dan demikian akrab dengan Paulus sepanjang perjalanan mereka, dan kerap menyebut idolanya tsb sebagai rasul. Dasarnya tentu saja karena Lukas setuju pada anggapan dan penilaian Paulus terhadap dirinya sendiri yang dia pikir adalah seorang rasul.

Dari sini kita melihat dengan sangat jelas bahwa Paulus adalah fans terberat kerasulannya sendiri, sementara Lukas, sebagai satu-satunya orang terdekatnya, adalah penggemar nomor dua. Selebihnya, kita tidak akan menemukan siapapun di dalam alkitab yang pernah mengakui kerasulan Paulus!

"AKU SUKA BICARA TENTANG AKU!"
Tidak ada penulis surat-surat Epistel dalam Alkitab yang menulis suratnya seperti Paulus. Beberapa bagian tulisannya mungkin saja benar, akan tetapi ada satu aspek yang menarik ketika kita memperhatikan bagaimana Paulus memposisikan dan memandang dirinya sendiri. Dia memiliki cara untuk menarik perhatian pembaca agar fokus pada dirinya dengan penggunaan kata ganti pribadinya. Ketika sampai pada seberapa sering dia menggunakan kata-kata seperti, "Aku", "diriku", "milikku", atau "yang kumiliki" dan ungkapan-ungkapan lain semisal itu, rating dalam keseluruhan surat-suratnya hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari siapapun yang coba bersaing dengannya.

Itu sebabnya sekalipun dalam beberapa literatur kristen nama Paulus disebut-sebut sebagai penulis kitab Ibrani, tapi ada sejumlah alasan mengapa dewasa ini banyak sarjana alkitab yang meyakini Paulus bukan penulis kitab tsb. Salahsatu alasan yang jelas adalah, dalam surat-surat lain yang dipercaya merupakan buah karyanya, Paulus tidak pernah ragu untuk mengidentifikasi dirinya berikut atribut yang direkayasanya sendiri. Sementara penulis kitab Ibrani, anehnya, tutup mulut dalam urusan ini. Banyak sarjana percaya bahwa Barnabaslah penulis kitab Ibrani, tetapi ada juga yang memperkirakan Apolos sebagai kandidat yang sama memungkinkannya. Tapi ini topik yang berbeda. Intinya, tidak ada yang tahu secara pasti siapa sebenarnya penulis kitab Ibrani.

Sementara para bapa gereja berspekulasi mengindikasikan bahwa Paulus adalah sang penulis kitab Ibrani, Paulus sendiri jelas tidak pas didudukkan dalam posisi ini manakala kita juga mempertimbangkan tingkat statistik penggunaan kata ganti diri di dalamnya. Penulis Ibrani hanya menyebut dirinya sebanyak 9 kali, yaitu sekitar 1,3 kata ganti orang per seribu kata. Dan ini tidak menggambarkan kebiasaan Paulus!

Untuk membantu anda menempatkan ini dalam perspektif yang benar, mari kita bandingkan kitab Ibrani dengan kitab Roma. Keduanya adalah kitab yang relatif besar dengan paparan hampir sama panjang, masing-masing dibagi menjadi 13 dan 16 bab. Namun hanya dalam paruh pertama dari pasal pertama surat Roma yang berjumlah 16 ayat saja, Paulus sudah menggunakan kata ganti diri dua kali lebih banyak daripada yang digunakan oleh penulis Ibrani dalam seluruh kitab tsb!

Sedangkan dalam kitab Roma, Paulus menyebut dirinya sendiri sebanyak 103 kali, yaitu sekitar 18,2 per seribu kata! Itu 13x lebih besar dari kitab Ibrani. Dalam 1Korintus, Paulus menyebut dirinya sebanyak 175 kali, dalam 2Korintus, 103 kali lagi, dan dalam Galatia yang relatif singkat sekalipun, ia menyebut dirinya sebanyak 69 kali, atau sama dengan 25 kata ganti orang per 1000 kata!

Seharusnya Paulus sama herannya dengan kita semua tiap kali membuat pernyataan tentang dirinya sendiri seperti yang luar biasa sering ia lakukan dalam mengkomunikasikan apa yang menurutnya sebagai kebenaran dari Tuhan.

KLAIM KERASULANNYA BERDIRI SENDIRI
Selain dua belas murid yang menghabiskan tiga setengah tahun bersama Yesus, tidak ada satupun selain Paulus yang teridentifikasi sebagai orang yang luar biasa sering mengklaim diri sendiri sebagai "rasul". Hanya Petrus yang pernah menyebut dirinya sebagai rasul dalam pembukaan 2 suratnya yaitu 1Petrus dan 2Petrus. Tapi di belakang hari, para sarjana menemukan alasan untuk menduga kuat bahwa sebenarnya Pauluslah yang menulis Epistel 1&2Petrus dengan menggunakan nama Petrus. Sementara Barnabas disebut sebagai rasul bersama dengan Paulus oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul 14:14. Selebihnya tidak ditemui catatan tentang Barnabas atau murid-murid Yesus lainnya yang mengklaim gelar itu untuk diri mereka sendiri.

PANDANGAN KITA TERHADAP GEREJA AWAL TERPOLARISASI
Siapapun yang coba mengevaluasi Perjanjian Baru, dipastikan akan segera menyadari bahwa Paulus adalah kontributor terbesar pada paruh bagian dari buku tebal yang di indonesia diberi nama alkitab ini. Ketika membaca Kisah Para Rasul, misalnya, tidak bisa tidak kita akan mendapat kesan bahwa sebagian besar dari perbuatan-perbuatan Allah untuk gereja awal terjadi melalui Paulus. Dan sesungguhnya ini menyesatkan, karena Kisah Para Rasul ditulis menurut sudut pandang, atau berdasarkan perspektif dari satu orang saja, yaitu Lukas.

Lukas mendampingi Paulus dalam perjalanan misionarinya, dan sebagian besar muatan Kisah Para Rasul yang konon katanya tulisan Lukas itu sepenuhnya berbasis pada kisah perjalanan ini. Dengan demikian apa yang kemudian kita ketahui dari Kisah Para Rasul sebetulnya hanya cerita karangan yang berasal dari bagaimana Lukas menginterpretasikan apa yang dilihat, dialami, dan didengarnya sendiri dari Paulus dalam perjalanan tsb, mirip dengan sebuah jurnal pribadi yang sebenarnya hanya untuk diri sendiri. Karenanya tidak mengherankan jika kisah tentang Paulus di sana pun seolah bagaikan digelar di atas panggung utama yang gemerlapan!



Sepertinya ada alasan khusus mengapa Lukas memilih untuk mengikuti Paulus dan mencatat kisahnya sejak awal. Seperti kita ketahui, meski ini sangat bertentangan dengan ajaran Yesus sebagaimana dapat kita buktikan melalui catatan Matius 15:24 dan Matius 10:5, tapi Paulus berhasil meyakinkan orang banyak bahwa ia adalah rasul Kristus bagi bangsa-bangsa di luar bangsa Israel. Dan Lukas, sebagai seorang non-Yahudi yang ingin mengenal dan mendekati Tuhan sejati, melihat Paulus adalah mediator yang memungkinkan keinginannya tsb dapat terwujud baginya.

Perhatikan tulisan Paulus dalam Roma 10:12 ini;

"Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya." 

Pada masa itu, non-Yahudi mana yang ingin dekat dengan Allah Israel yang tidak akan benar-benar "jatuh hati" kepada Paulus?

Padahal sudah sangat jelas, bahkan pada awal-awal pengabaran injilnya, Yesus sudah mengatakan dengan bahasa yang tidak memerlukan penafsiran macam-macam bahwa dia adalah utusan Allah khusus dan sangat terbatas hanya untuk bangsa Israel saja, seperti tercatat dalam Matius 15:24, "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."  

Kendati pandangan kita terhadap Kisah Para Rasul terpolarisasi dan bias, tulisan itu sendiri masih sangat penting untuk membantu kita memahami apa yang terjadi pada masa itu. Tanpanya kita tidak akan memiliki alternatif pemikiran lain sama sekali. Apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Paulus sebagaimana dicatat oleh Lukas tetap berharga, dan kita tidak mempunyai alasan untuk mempersoalkan apa yang ditulis oleh Lukas berdasarkan apa yang dilihat dan didengarnya selama dalam perjalanan misionarinya bersama Paulus itu.

Pemikiran pribadi Lukas sendiri yang kadang-kadang menyela dalam tulisannya mungkin perlu dipertanyakan, tetapi hanya sedikit dan itupun jarang. Paling tidak, begitu menurut kalangan internal Jristen sendiri. Karenanya kita tidak didorong untuk mencari-cari alasan guna menuduh Lukas bermaksud jahat. Namun yang sangat penting untuk diingat dan dicatat di sini adalah bahwa Kisah Para Rasul sebenarnya ditulis berdasarkan sudut pandang pribadi Lukas sendiri, sehingga tidak dapat diartikan sebagai ajaran yang berasal dari murid-murid Yesus, atau dari Yesus, apalagi dari Tuhannya Yesus!

Tidak diragukan, sebenarnya Tuhan sendiri melakukan banyak hal besar lain pada saat perjalanan Paulus dan Lukas itu dilakukan. Kita memang tidak memiliki catatan rinci tentang itu, tetapi tentunya memiliki banyak petunjuk. Tuhan pasti bekerja melalui para murid Yesus sejati, dan beberapa dari hal tsb dicatat pada bagian awal Kisah Para Rasul. Yohanes bekerja keras untuk Tuhannya, tetapi hanya sedikit yang kita dengar tentangnya hingga tiba saatnya ketika kita membaca surat-surat Yohanes dan kitab Wahyu pada bagian akhir Perjanjian Baru.

KLAIM KERASULAN PAULUS


KETERANGAN SECARA EKSPLISIT
  1. Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita, (Titus 1:1)
  2. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, (1Timotius 1:1)
  3. Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul--yang kukatakan ini benar, aku tidak berdusta--dan sebagai pengajar orang-orang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran. (1Timotius 2:7)
  4. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus, (2Timotius 1:1)
  5. Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. (Timotius 1:11)
  6. juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. (1Tesalonika 2:6)
  7. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita, (Kolose 1:1)
  8. Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. (Efesus 1:1)
  9. Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. (Roma 1:1)
  10. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. (Roma 1:5)
  11. Aku berkata kepada kamu, hai bangsa-bangsa bukan Yahudi. Justru karena aku adalah rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi, aku menganggap hal itu kemuliaan pelayananku, (Roma 11:13)
  12. Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku. (Roma 16:7)
  13. Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita, (1Korintus 1:1)
  14. Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. (1Korintus 4:9)
  15. Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan? (1Korintus 9:1)
  16. Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku. (1Korintus 9:2)
  17. Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya. (2Korintus 1:1)
  18. Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa. (2Korintus 12:12)
  19. Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, (Galatia 1:1)
  20. juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. (Galatia 1:17)
KETERANGAN SECARA IMPLISIT
  1. Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu. (2Korintus 12:11)
  2. Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu. (2Korintus 11:5)
  3. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. (1Korintus 15:9)
KETERANGAN LUKAS
  1. Tetapi setelah hal itu didengar oleh kedua rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, lalu dikoyakkannya pakaiannya sendiri sambil berlari masuk ke dalam orang banyak serta berteriak, (Kisah Para Rasul 14:142)
  2. Tetapi penduduk kota itu bertentangan satu dengan yang lain; ada yang berpihak kepada orang-orang Yahudi dan ada yang berpihak kepada rasul-rasul itu. (Kisah Para Rasul 14:4)
Dari pernyatan-pernyataan di atas, timbul pertanyaan: Haruskah kita percaya begitu saja pada kesaksian seseorang yang membuat klaim luar biasa hebat tentang dirinya sendiri, sementara apa yang kita miliki untuk membuktikan kebenaran klaimnya itu sama sekali tidak ada selain pengakuan sepihak darinya saja, plus satu atau dua pernyataan serupa dari satu-satunya pengagum beratnya yang sekaligus juga adalah asistennya sendiri?

Jika demikian, maka kita juga harus mengakui kebenaran klaim Jim Jones dan David Koresh yang sudah sangat jelas tidak dapat diterima oleh setiap orang yang sehat akal budinya!

Artinya, seluruh klaim Paulus dan pernyataan Lukas diatas juga sama saja bohongnya dengan pengakuan dua orang aneh yang mendadak masyhur karena klaim "serupa tapi tak sama" dengan klaim Paulus!

Kecuali jika ada bukti sangat kuat yang dapat dijadikan pendukung klaim sehebat "self-proclaim" Paulus di atas, maka apapun cerita selanjutnya menjadi tidak labih dari sekedar membuang garam ke laut saja!

Tidak seperti Paulus, seorang nabi atau rasul sejati tidak perlu bersusah payah untuk meyakinkan siapapun bahwa mereka adalah siapa mereka yang sebenarnya. Bahkan dalam Yohanes 5:31 Yesus mengatakan bahwa jika dia sendiri yang memberikan kesaksian tentang dirinya, maka kesaksiannya itu pasti tidak benar. Tapi dalam konteks ini, jika ditanya siapakah dari sekian banyak nabi, yang sudah tentu adalah manusia, yang tidak memerlukan siapapun untuk bersaksi tentang siapa dirinya, maka jawabnya adalah Yesus!

Kitab-kitab Allah membuktikan bahwa Yesus adalah pengikut ajaran Musa, menaruh hormat kepada para nabi terdahulu dan terkemudian, memahami dengan sempurna kandungan Mazmur dan Taurat, mengajarkan konsep ketuhanan monotheisme yang jelas, membimbing pengikutnya ke jalan sorga, bersedia dibaptis oleh saudara kesayangannya; Yohanes Pembaptis, memukau banyak orang dengan berbagai mukjizat dari Allah, dan masih sederet panjang lagi hal-hal luar biasa lainnya yang tidak dimiliki oleh Paulus, sekalipun dalam kesombongannya, Paulus memposisikan dirinya setara dengan Yesus sebagai utusan khusus Allah kepada bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) yang disebut oleh Yesus sebagai Goyim, dengan mengklaim bagi dirinya sendiri sebuah nubuat yang dikabarkan secara eksklusif kepada nabi Yesaya dalam kitab Yesaya 49: 6 yang kemudian dikutip oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul 13:47 sbb:

"Karena demikianlah Tuhan telah memerintahkan kita: 'Aku telah menetapkan kamu menjadi terang bagi bangsa-bangsa lain supaya kamu menjadi keselamatan bagi ujung-ujung bumi."

Perlu dicatat, ayat ini hanyalah klaim sepihak dari Paulus yang tidak banyak diketahui orang sebenarnya berasal dari hasil mencontek tidak sedikit tulisan-tulisan hebat dalam kitab suci umat Yahudi untuk bermegah-megah, agar klaim kerasulannya dipercaya oleh orang-orang yang membaca tulisannya sebagai sebuah kebenaran berdasarkan "dekrit surgawi."

PAULUS RASUL TERHEBAT!
Anggapan Paulus tentang dirinya sendiri tidak berhenti hanya sampai mengaku sebagai rasul Kristus saja. Dia juga melakukan semua yang dapat dilakukannya untuk dipahami oleh seluruh pengikutnya bahwa kedudukannya lebih tinggi dari siapapun juga. Paulus bahkan berani meremehkan murid-murid Yesus yang diangkat dan digembleng sendiri selama tiga setengah tahun oleh sang guru untuk menjadi saksinya!

Dari sekian banyak kutipan keblinger menyanjung diri sendiri Paulus, di antaranya adalah sebagai berikut:

"Tetapi menurut pendapatku sedikitpun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu. .... Demi kebenaran Kristus di dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh siapapun di daerah-daerah Akhaya." (2 Korintus 11: 5,10)

Adakalanya, seolah-olah dia juga sadar harus punya rasa malu membandingkan statusnya dengan status keduabelas murid Yesus, sehingga dia akan mengawali kesombongannya dengan pernyataan yang tidak layak, yang menistakan dirinya sendiri. Tidak diragukan lagi, harapannya tentu saja agar orang-orang akan memeluknya sebagai rasul terhebat karena dia sangat rendah hati.

Perhatikan misalnya ini,
Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia  Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku  tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua;  tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku."  (1Korintus 15: 9,10)

Terlepas dari dustanya bahwa ajaran Yesus telah terpecah menjadi dua - yang artinya menyelisihi, atau menentang pernyataan Yesus dalam Matius 15:24 tadi - yaitu untuk orang Yahudi dan orang-orang non-Yahudi, faktanya ia seolah-olah memiliki hak sangat eksklusif atas orang-orang non-Yahudi, sementara keduabelas murid Yesus dianggapnya harus tetap tinggal bersama orang-orang Yahudi saja. Paulus bahkan memiliki lidah pahit untuk secara khusus merendahkan Petrus, Yakobus, dan Yohanes ketika ia meremehkan mereka di hadapan orang-orang Galatia.

"Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu--bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka  --bagaimanapun juga, mereka yang terpandang itu tidak memaksakan sesuatu  yang lain kepadaku. Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat,  sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus,  Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru  jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; " (Galatia 2: 6,7,9)

Ini tidak lain hanyalah dusta yang arogan. Beberapa ayat kemudian, Paulus melakukan serangan murahan lagi kepada Petrus. Manakala Petrus tidak memiliki kesempatan untuk membela diri, Paulus menyombongkan diri kepada orang-orang Galatia bagaimana ia menuding Petrus sebagai orang munafik, dan bagaimana ia menempatkannya di hadapan seluruh jemaat Antiokhia.

"Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.  Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi? " (Galatia 2: 11-14)

Sebelumnya, dalam Galatia 1: 8,9, Paulus memerintah semua pengikutnya untuk "mengutuk" siapa saja yang memberitakan Injil yang berbeda dari Injilnya. Ada kecenderungan bahwa Paulus ingin orang-orang Galatia berpikir seperti itu terhadap Petrus, kalau bukan terhadap Yakobus, atau  terhadap Yohanes. Jelas bagi siapa pun yang membaca kitab Galatia bahwa Paulus menuntut gereja Galatia untuk tidak mengikuti siapa pun kecuali hanya dia, bahkan murid-murid sejati Yesus di Yerusalem sekalipun.

Di samping kesombongan Paulus yang luar biasa, kita juga dapat dengan mudah melihat bahwa Paulus sendiri sebetulnya adalah biangnya orang munafik yang mengutuk Petrus sebagai orang munafik karena menampung orang-orang bukan Yahudi, sementara dia  sendiri berada di antara orang-orang bukan Yahudi dan bertindak seperti orang Yahudi di sekitar orang Yahudi. Inilah yang dianjurkannya supaya dilakukan, sebagaimana dia memerintahkan jemaat Korintus untuk mempraktekannya.

"Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka." (1Korintus 9: 19-22)

"Karena itu, apakah kamu makan atau minum, atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Jangan tersinggung, baik kepada orang-orang Yahudi atau orang-orang Yunani atau ke gereja Allah, sama seperti aku juga menyenangkan semua orang dalam semua hal-hal , tidak mencari keuntungan saya sendiri, tetapi keuntungan banyak orang, agar mereka dapat diselamatkan. Tirulah aku, sama seperti aku juga meniru Kristus."  (1Korintus 10: 31-33)

Bandingkan dengan tuduhannya kepada Petrus dalam Galatia 2: 11-14 di atas!

Artinya, ketika Paulus berkata, "Tirulah aku, sama seperti aku juga meniru Kristus!", pengikutnya harus melakukan apa yang dia perbuat, sementara dia sendiri sama sekali tidak meniru Yesus! Adakah yang bisa membayangkan Yesus bersikap seperti bunglon dengan mengatakan sesuatu seperti "Aku telah menjadi segalanya bagi semua orang" atau "Aku menyenangkan semua orang dalam segala hal"?

Jadi, Paulus, sosok yang mengaku lebih besar dan lebih hebat daripada keduabelas murid Yesus, yang meremehkan Petrus, Yakobus, dan Yohanes dengan mengatakan bahwa mereka hanya "tampak" sebagai pilar gereja, dan bahwa mereka "tidak punya nilai tambah" baginya, sebenarnya tidak lain daripada seorang pembual besar!

Paulus yang membual tentang bagaimana dia menegur Petrus, menyebutnya sebagai orang munafik, dan secara halus mengutuk para murid Yesus dengan memprovokasi orang-orang Galatia untuk menganggap siapa pun yang yang berbeda dengannya adalah terkutuk, sebenarnya adalah manusia paling munafik di antara semua orang munafik!

Keyakinan pengikutnya bahwa kata-kata Paulus sangat sempurna sehingga orang tidak dapat melihat kesalahan di dalamnya adalah keyakinan yang membuta, alias sama gilanya dengan hayalan Paulus sendiri yang membayangkan dirinya adalah seorang rasul! Siapapun yang berperilaku sesuai dengan ajaran Paulus, mengikuti gayanya yang arogan, tentu saja mudah ditengarai sebagai orang yang amat sombong namun sekaligus bodoh luar biasa!

 Apa yang diucapkan oleh Solomo ini rasanya cukup relevans.

"Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.." (Amsal 27: 2)

Sementara itu, bandingkanlah seluruh "self-proclaim kerasulan" Paulus di atas dengan peringatan dari Yesus berikut ini:

"Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga."  (Matius 24:24)

"Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang." (Matius 24:5)

Ya! Menyesatkan banyak orang dengan menggunakan nama Yesus!
Itulah Paulus!

Masih belum cukupkah bukti dari alkitab sendiri bahwa sesungguhnya Paulus adalah rasul palsu?
Jika belum, silahkan cermati pula pembuktian lainnya di sini



[Sumber: Scott Nelson | Jesus and Judaism vs Paul and Christianity]

Paulus Yang Dipenuhi Oleh Roh Tipu Daya


Saul Hakham Yahudi, atau Paulus sang Rasul?
Paulus sang Rasul (3M-62M): Nama Ibraninya adalah Saul. Seorang penduduk Roma yang beragama Yahudi, lahir pada tahun 3 masehi di kota Tarsus di sebelah selatan Turki, dari kedua orang tua Yahudi keturunan Ibrahim. Ayahnya adalah orang Persia keturunan Benyamin anak Yakub (Israel) (Roma 11:1). 

Paulus sendiri tidak meyakini ketuhanan Al-Masih. Dia juga memandang para pengikut Al-Masih hanya sebagai ancaman agama dan politik terhadap negara. Oleh karena itu dia menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat pedih dan mengusir mereka baik di dalam ataupun di luar Yerusalem (Al-Quds).

Dalam perjalanannya dari Yerusalem menuju Damaskus untuk menangkap orang-orang Kristen yang kabur dari Yerusalem, dia berkata bahwa Al-Masih telah menampakkan diri kepadanya dan menuntunnya ke jalan iman kepadanya (Kisah Para Rasul 22:1-11), dan sejak saat itu Paulus memikul tugas menyebarkan ajaran Kristen, yang mana dia menulis empat betas surat (dengan asumsi bahwa dia adalah penulis surat kepada kaum Ibrani) yang seluruhnya dimasukkan ke dalam Alkitab dan dijadikan landasan di masa yang akan datang -melalui keputusan Dewan Gereja Umum- pembentukan agama Kristen seperti formatnya yang sekarang ini. Sampai-sampai julukan agama Kristen berubah menjadi Al-Masihiyyah Paulus (Kristen Paulus).

Paulus berpindah-pindah tempat pada saat penyebaran ajaran Kristen ke beberapa negara (Cyprus, Antiokhia, Yerusalem, Syria, dan Roma), hingga dia mati terbunuh di Roma pada 22 Februari 62 Masehi (Ensiklopedia Encarta). Pendapat lain mengatakan bahwa dia mati pada peristiwa terbakarnya Roma di masa pemerintahan Nero pada bulan Juli 64 Masehi (Kamus Alkitab. Kamus Alkitab juga menyebutkan pendapat Ensiklopedia di atas). Pada saat itu, kota Tarsus, kota di mana Paulus dibesarkan, merupakan pusat perkembangan ilmu dan filsafat Stoicisme (ketenangan), yang memfokuskan ajaran-ajarannya pada akhlak, dan aliran Panteisme (Wihdatui wujud). 

Pengaruh aliran pemikiran tersebut tampak jelas dalam berbagai ungkapan Paulus tentang dasar-dasar ajaran Kristen, seperti yang dijelaskan dalam kamus Alkitab (Halaman: 196). Ini berarti bahwa Paulus memiliki latar belakang budaya filsafat Yunani, dan juga budaya Yahudi (Perjanjian Lama) karena dia orang Yahudi.Kami akan memulai dengan menggambarkan Paulus tentang dirinya dalam suratnya kepada penduduk Roma, dia berkata: 

[Roma 1:1]  Dan Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul (apostle) dan dikuduskan (separated) untuk memberitakan Injil Allah. 

Dapat kita perhatikan ayat di atas, bahwa ungkapan Yang dipanggil menjadi rasul berarti bahwa kata rasul adalah ungkapan Paulus sendiri. Ini tidak sama artinya dengan kata Rasul untuk Nabi Musa. Bisa jadi maksudnya apostle dalam bahasa Inggris yang juga berarti murid (hawariy) bukan seorang nabi -seperti yang disebutkan dalam teks King James dalam bahasa Inggris- ini merupakan kata yang tepat di dalam menggambarkan hakekat Paulus yang menyatakan bahwa dia adalah seorang murid dan bukan seorang nabi.

At-Tafsir At-Tathbiqi li Al-Kitab Al-Muqaddas, halaman 2373 menjelaskan arti ayat di atas, "Ketika Paulus seorang Yahudi yang fanatik dan yang suka menindas orang-orang Kristen itu beriman maka Allah menggunakannya untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia."

Demikianlah! Sebenarnya Paulus tidak memiliki risalah khusus. Bahkan tugas utamanya hanya terbatas (menurut pemahamannya) dalam penyebaran kabar gembira dan Injil, seperti yang dikatakannya:

[Roma 15:19] Oleh kuasa tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat dan oleh kuasa roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem ke llirikum, aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. 

Arti tersebut dipertegas kembali dalam ayat berikut ini:

[2Korintus 11:16-17] Kuulangi lagi: Jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya aku pun boleh bermegah sedikit. Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai orang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai orang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah. 

Seperti yang kita lihat, bahwa ini adalah ayat yang menegaskan bahwa Paulus bukanlah seorang rasul atau nabi, namun dia berusaha untuk masuk ke dalam golongan nabi, tanpa wahyu. Paulus pun mengakuinya secara terang-terangan (Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai orang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai orang bodoh) maksudnya adalah bahwa perkataannya bukanlah wahyu, tapi hanya sekadar kebodohan dirinya, dan dia berhak untuk bangga dengan kebodohannya, seperti yang tertulis dalam terjemahan modern dari ayat tersebut.

[2Korintus 11:16] Aku mengatakannya sekali lagi: Jangan hendaknya ada orang yang menganggap aku bodoh. Dan jika kamu menganggap demikian, terimalah aku sebagai orang bodoh supaya aku bisa berbangga diri sedikit. 

Paulus berusaha mengangkat dirinya sendiri, dengan mengaku bahwa dia tidak jauh berbeda dengan seorang rasul yang memiliki keistimewaan, meskipun dirinya sendiri tidak berarti apa-apa, dan meskipun dia membanggakan kebodohannya secara terang-terangan.

[2Korintus 12:11] Sungguh aku telah menjadi bodoh, tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikitpun, namun dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu. 

Terjemahan terbaru Alkitab memperjelas arti ayat tersebut,

Sungguh aku telah menjadi bodoh, tetapi kamulah yang memaksa aku. Sebenarnya kamu harus memujiku. Karena aku tidak berbeda dalam segala hal dengan rasul-rasul yang luar biasa itu. 

Seperti yang kita lihat bahwa Paulus mengakui kebodohannya secara terang-terangan, meskipun demikian dia berusaha untuk mendapatkan simpati dan pujian dari masyarakat (Sebenarnya kamu harus memujiku). 

Tidak hanya itu, bahkan terkadang dia berbicara seperti orang gila, ketika dia menjelaskan bahwa dia adalah pelayan utama Al-Masih dan terbaik, karena dia lebih banyak memikul beban.

[2 Korintus 11:22-23] Apakah mereka orang lbrani? Aku juga orang Ibran. Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham. Apakah mereka pelayan Kristus? -Aku berkata seperti orang gila- aku lebih lagi! Aku banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. 

Tidaklah benar bahwa Paulus terpaksa mengatakan hal itu, karena orang-orang ragu dengan risalah yang dibawanya. Dalam kondisi apa pun, seorang rasul tidak dibenarkan berbicara seperti orang gila. Bagaimana mungkin orang-orang akan mempercayai perkataan orang gila?

Paulus berpendapat bahwa dirinya tidak jauh berbeda -sama sekali- dengan para rasul yang memiliki kelebihan, meskipun dia mengakui bahwa dirinya bodoh dan tidak berarti apa-apa! Dan Paulus terus meyakini hal itu, meskipun dia tidak pandai dalam berkata-kata.

[2Korintusl 1:5-6] Tetapi menurut pendapatku sedikit pun aku tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu. Jikalau aku kurang paham dalam hal berkata-kata, tidaklah demikian dalam hal pengetahuan; sebab kami telah menyatakannya kepada kamu pada segala waktu dan dalam segala hal. 

Paulus berusaha mencari dukungan orang-orang, meskipun harus membayar mahal, rneskipun dia harus melepaskan keyakinan Kristennya, dia rnengatakan:

[1Korintus 9:19-21] Sungguhpun aku bebas dari semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku seperti orang Yabudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup diluar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. 

Ini merupakan ayat yang merefleksikan filsafat Paulus secara umum, dia membaca dengan cara apa saja, dan melalui agama apa saja, demi mendapatkan daya tarik masyarakat dan popularitas mereka (Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat), dia berusaha untuk mendapatkan keuntungan dengan semua resiko, meskipun dia harus tampil seperti penyembah berhala!

Secara jelas terlihat bahwa pemikiran tersebut bukanlah wahyu Tuhan, jika hal itu ditinjau dari segala aspek. Wahyu Tuhan yang benar (Perjanjian Terbaru) haruslah terbebas dari penerimaan dan penolakan manusia terhadap rasul. Yang wajib dilakukan oleh rasul, hanyalah membawa agama yang benar saja, tanpa melihat apakah agama yang dibawanya diterima oleh masyarakat atau tidak. Bukanlah sikap yang dapat dibenarkan, jika seorang rasul membaca sesuai dengan keinginan suatu kelompok, karena hal yang demikian itu dapat menghilangkan esensi agama dalam tabligh Ilahi. Inilah firman Allah yang khusus diberikan kepada setiap rasul,

"Jika kamu berpaling, maka sungguh telah kusampaikan kepadamu petunjuk yang aku diutus untuk menyampaikannya. Dan Tuhanku akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain dan kamu tidak dapat membuat mudarat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu." (QS. Hud: 57)

Maksud ayat di atas adalah, jika mereka berpaling atau menantang para nabi dan rasul, maka hendaknya nabi/rasul itu mengatakan kepada mereka, "Aku telah menyampaikan apa yang telah ditugaskan kepadaku untuk kalian semua, jika kalian mengambilnya, maka itu adalah sebuah keberuntungan bagi kalian, dan jika kalian meninggalkannya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala akan menggantikan kalian dengan sebuah kaum yang lain, lalu mengadzab kalian, kalian juga tidak akan pernah membuat mudarat kepada-Nya, meskipun kalian meninggalkannya." 

Ayat-ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan hal tersebut silih berganti, untuk menjelaskan kepada kita, bahwa ketika manusia menantang sesuatu yang disampaikan oleh rasul, maka tidak ada kewajiban bagi rasul itu, kecuali menyampaikan saja. 

Firman Allah,
"Dan jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan dengan terang." (QS. An-Nahl: 82)

Pemikiran matematis dan redaksi hukum pun terus menentang hal yang terkait dengan maksud di atas. 

Allah berfirman,
"Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian terus terang. Dan aku tidak mengetahui apakah ancaman itu sudah dekat atau masih jauh? Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tiada mengetahui boleh jadi hal itu (penundaan adzab) cobaan bagi kamu atau menjadi kesenangan sampai kesuatu waktu. (Muhammad) berkata: Ya Tuhanku berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami adalah Tuhan yang Maha Pemurah lagi yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan." (QS. Al-Anbiyaa': 109-112)


Perhatikan kalimat ini,

"Jika mereka berpaling, maka katakanlah: Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian terus terang" 

Artinya: Jika mereka menantangmu, maka katakanlah kepada mereka -sekarang juga- kita akan berpisah setelah sama-sama mengetahui kebenaran, agar mereka memikul dosa-dosa mereka sendiri. Saya berharap para agamawan Kristen membandingkan redaksi ini dengan redaksi yang yang dikatakan oleh Paulus sang rasul yang bodoh, plin-plan, dan munafik, yang berbicara seperti orang gila, menurut pengakuan dirinya sendiri. Di dalam Al-Qur'an, kata "berpaling" disebutkan sebanyak 33 kali. Kata tersebut telah membuat diri kita tertunduk menangis kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena kita lalai dalam melaksanakan hak-Nya.

Oleh karena itu misi yang dibawa oleh rasul, hanyalah sebatas melaksanakan perintah Allah semata, dan hanyalah melaksanakan tugas tersebut dengan ketekunan dan kekhusyu'an, hingga pada tingkatan bergetarnya jiwa dan raga secara bersamaan, seperti firman Allah kepada rasul-Nya,

"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik." (QS. Al-Hijr: 94) 

Inilah sebuah perintah yang dapat menggetarkan rasul dan para pengikutnya, sehingga hati dan lisan pun sulit mengungkapkan kalimat  "Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan", yang tidak mungkin bagi kita memahami arti kalimat tersebut, kecuali setelah menghubungkannya dengan firman Allah, yang menggambarkan refleksi turunnya wahyu kepada gunung-gunung. 

Firman Allah,
"Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur 'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpainaan-perurnpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berftkir." (QS. Al-Hasyr: 21)

Biarkanlah para agamawan Kristen merenungi kalimat "supaya mereka berfikir" yang dimaksudkan dalam ayat tersebut!

Pertanyaan yang terlontar sekarang; Apakah Nabi Muhammad berusaha mencari kemuliaan diri dan menarik simpati orang lain, seperti yang Paulus lakukan?

 Inilah firman Allah di dalam Al-Qur'an,
"Katakanlah: Upah yang aku minta kepadamu, adalah untuk kamu. Upahku hanya dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Saba': 47)

Seperti yang telah kita ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta'alalah yang langsung memberikan ganjaran pahala kepada para rasul. Adapun ganjaran orang yang beriman akan kembali ke dirinya sendiri. Dialah orang yang akan memanfaatkan ganjaran keimanannya dan keselamatan akhirat yang diharapkannya, yaitu dengan tercapainya tujuan dari penciptaan makhluk di dunia ini, yang tercermin dari: Iman yang didasari oleh akal. Maksudnya adalah Iman orang yang berakal dan melaksanakan aturan/syariat (pentingnya melaksanakan amal saleh). 

Pelaksanaan syariat bukanlah sesuatu yang dibuat oleh manusia, namun itu adalah perintah dan hukum Allah Subhanahu wa Ta'ala yang wajib kita ikuti, bagi setiap hamba yang beriman kepada-Nya. Inilah perkataan Allah kepada Musa Alaihis Salam:

[Ulangan 26:16] Pada hari ini Tuhan, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. 

Kita kembali membahas Paulus sang Rasul (atau Paulus seorang hawari [murid Isa]), dia berupaya menolak segala tuduhan kebohongan terhadap dirinya dalam berbagai surat.

[2Korintus 11:31] Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta. 

[Galatia 1:20] Di hadapan Allah kutegaskan: Apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 

[Timotius 2:7] Untuk kesaksian itulah aku telah ditetapkan sebagai pemberita dan rasul -yang kukatakan benar dan aku tidak berdusta- dan sebagai pengajar orang-orang yang bukan Yahudi, dalam iman dan kebenaran. 

Beginilah Paulus membela dirinya sepanjang surat yang telah dibuatnya, dia mengaku bahwa dia tidak berbohong sama sekali, dia pun mempertahankan kebodohannya, seperti yang kita lihat pada ayat-ayat sebelumnya, sebagaimana Paulus meminta kepada orang-orang tentang prediksi kebodohannya.

[2Korintus 11:1] Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil ini. Memang kamu sabar terhadap aku! 

Jadi, risalah menurut Paulus hanyalah sekadar persaingan dan perlombaan dalam menafsirkan teks-teks Injil, dengan para pendusta lainnya, seperti dalam teks berikut ini:

[2Korintus 11:12-13] Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan/dibanggakan. Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. 

Oleh karena itu, Paulus selalu menuduh orang lain berdusta, dan nabi palsu, dengan tujuan -masih menurut pandangannya- membanggakan dan mengaktualisasikan diri sendiri menurut pandangan kontemporer. Maka dari itu, risalah/misi menurut pandangan Paulus hanyalah sekadar perang pemikiran dengan orang lain, untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri (apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan/dibanggakan}.

Inilah sekilas pandang mengenai Paulus sang Murid (bukan sang rasul), sosok pembentuk akidah Kristen, seperti yang kita lihat sekarang ini. Lihadah bagaimana dia menggambarkan diri dan sifatnya. Nah, adakah seorang rasul yang berkata kepada kaumnya,
  • "Sungguh aku telah menjadi bodoh tetapi kamu yang memaksa aku!" 
  • "Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku!" 
  • "Aku berkata seperti orang gila!" 
  • "Namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itui" 
  • "Meskipun aku tidak berarti sedikit pun!"
  • "Aku tidak berdusta!"
Dia pun berupaya untuk mendapatkan kemuliaan dirinya sendiri, 
  • "Sebenamya aku harus kamu puji!" 
Dia juga senantiasa bertindak munafik di hadapan manusia agar menguasai mereka, sampai-sampai dia rela menampilkan dirinya seakan-akan dia seorang penyembah berhala, 
  • "Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat!" 
Dia ingin menaklukkan orang-orang sekalipun harus membayar mahal, sekalipun harus berpura-pura menjadi penyembah berhala, kafir dan hidup tanpa hukum/syariat! Mungkinkah orang seperti Paulus ini dapat dikategorikan sebagai seorang rasul? 

Firman Allah,
"... Tidak adakah di antara kamu yang berakal?" (QS. Hud: 78)

Lalu, apakah konpensasinya? Di dalam Al-Qur'an Allah menjelaskan risalah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Dan dia tidak menuturkan (Al-Qur'an) menurut hawa nafsunya. la (Al-Qur'an) tiada lain kecuali wahyu yang di wahyukan. Yang mengajarinya (Jibril) yang sangat kuat." (QS. An-Najm: 3-5)

Saya berharap sekali agamawan Kristen membaca lagi ayat-ayat di atas beberapa kali, agar mereka dapat memahami artinya. Sadarkah para agamawan Kristen itu, bahwa seorang rasul tidak menuturkan menurut hawa nafsunya? Bahwa yang dibicarakannya itu tiada lain kecuali wahyu yang di wahyukan, dan agama adalah ilmu yang mengajarinya (Jibril) yang sangat kuat, bukan dengan takhayul, mitos, kebodohan, kejahilan dan bukan upaya untuk mengaktualisasikan diri.

Jika kita berbicara mengenai surat Paulus, kita tidak menemukan kata "wahyu", kecuali hanya sekali (Roma 11: 4). Itu pun karena dia berbicara tentang Nabi Elia, bukan tentang dirinya sendiri. Apakah para pembohong ini memperhatikan hal tersebut? 

Ketahuilah, bahwa seorang rasul sudah seharusnya dibimbing oleh wahyu Tuhan yang benar dalam setiap ucapannya. 

Firman Allah,
"Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Maka apakah kamu tidak menukirkan(nya)?" (QS. Al-An'am:50)

Saya sangat berharap para pembohong ini mau membaca ayat-ayat di atas berulang kali, sehingga mereka sadar akan kebenaran yang mereka yakini dan mengetahui apa sebenarnya esensi wahyu Tuhan yang benar itu. Oleh karena itu, permasalahan agama adalah permasalahan ilmiah yang dapat dicerna oleh akal dan logika, bukan permasalahn yang dipenuhi dengan kebodohan dan kejahilan. 

"Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" 

Renungan Seperti yang telah kita lihat -pada alenia-alenia di atas- bahwa Paulus, hanyalah salah seorang penyebar Injil, atau malah merupakan salah seorang penafsir Injil perdana. Dia pun mengakui hal itu secara terang-terangan, dan juga mengakui bahwa dia tidak berbicara atas nama wahyu yang turun dari langit, melainkan berbicara atas dasar kebudayaan yang dianutnya yang berkembang pada saat itu (tanpa melihat kebodohannya, yang diakuinya sendiri). 

Dan, yang kita ketahui -sekarang ini- bahwa Paulus telah menulis empat belas surat (jika kita menganggap dialah penulis surat kepada kaum Ibrani itu), yang telah dimasukkan seluruhnya ke dalam Alkitab, yang nantinya -melalui keputusan Dewan Tinggi Gereja- dinyatakan sebagai dasar ajaran Kristen dalam formatnya sekarang ini. 

Pauluslah yang menentukan ketuhanan Al-Masih, dia juga yang menyatakan Al-Masih anak Tuhan (Trinitas), dia juga yang mengatakan adanya kesalahan fatal, serta yang mengatakan tentang pengorbanan dan salib, dan pemyataan lainnya. Inilah bentuk ajaran Kristen yang tidak lagi bersandarkan pada Al-Masih, akan tetapi bersandarkan pada Paulus.Pertanyaan yang terlontar sekarang!

Pertama: Bagaimana mungkin seorang agamawan Kristen membiarkan Tafsiran Paulus (surat-surat Paulus) itu menyusup ke dalam Alkitab (tanpa melihat kebenarannya) dan menganggap tafsiran tersebut (surat-surat Paulus itu) sebagai bagian pelengkap dan penyempuma agama Kristen?

Kedua: Bagaimana mungkin para agamawan Kristen membiarkan pandangan Paulus terhadap agama Kristen, sebagai satu-satunya pandangan yang benar bagi ajaran Kristen, serta memaksakannya kepada semua orang (pandangan yang memformat ajaran Kristen seperti sekarang ini). Bahkan pandangan Paulus tersebut melarang orang-orang memandang Al-Masih dengan pandangan yang sebenamya!

Ketiga: Apakah pandangan Paulus itu benar dalam memahami dan menafsirkan ajaran Kristen? Kita perhatikan disini, seandainya para ulama Islam mengikuti konsep tersebut di atas, maka sudah bisa dipastikan tafsir-tafsir Al-Qur'an perdana (seperti: Tafsir AthThabari, Qurthubi, Ibnu Katsir dan lainnya) dinyatakan sebagai bagian dari Al-Qur'an itu sendiri. Ini berarti, mencampur-adukkan wahyu Ilahi dengan teks buatan manusia. Namun hal tersebut tidak pernah terjadi dalam ajaran Islam. Begitu juga dengan sunah nabawiyah (segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baik berupa perkataan, perbuatan atau diamnya beliau), bukanlah termasuk dari ayat-ayat Al-Qur'an. Bahkan sunah nabawiyah tersebut telah digolongkan dalam suatu cabang ilmu terpisah yang dapat diteliti, diperdalam dan diuji keabsahannya. Sampai-sampai sunah nabawiyah itu dapat digolong-golongkan berdasarkan kepada mutawatir atau tingkatan lainnya oleh para ulama dan agamawan Islam.

Pada umumnya, kejadian seperti ini bukanlah sebuah keanehan dalam pemikiran Kristen. Karena Injil-injil itu sendiri ditulis tanpa adanya wahyu dari langit (karena kata "wahyu" tidak disebutkan sama sekali dalam keempat Injil yang menyatakan cara penulisan Injil-injil tersebut). Bahkan Injil-injil ini ditulis dalam bentuk cerita yang mencerminkan pandangan sang penults terhadap kejadian yang berlangsung pada saat kehidupan Yesus. Ini dapat terlihat dengan jelas dalam surat Lukas (Injil Lukas). Injil Lukas, tak ubahnya seperti sebuah surat yang ditulis oleh "Lukas" kepada seseorang yang bernama Teofilus (At-Tafsir At-Tathbiqi tidak menyebutkan hubungannya dengan Lukas) untuk menceritakan kepadanya kejadian yang dilihat pada saat itu, seperti yang ada dalam pembukaan Injilnya yang mengatakan,

[Lukas 1:1-5] Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang persitiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita. Seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetabui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar. Pada Zaman Herodas, Raja Yudea, adalah seorang imam bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. 

Bahwa Injil Lukas (Injil ketiga dari Alkitab) mirip dengan sebuah cerita (yang diriwayatkan oleh Lukas) atas kejadian yang terjadi pada saat itu tentang kehidupan Yesus. Inilah bentuk penulisan Injil yang sama dengan injil lainnya -yang diriwayatkan oleh Matius, Markus, dan Yohanes- yaitu penulisan kisah suatu kejadian yang berlangsung pada saat Yesus hidup, sesuai dengan riwayat sang penulis, tanpa melalui wahyu. Dan tidak disebutkan kata "wahyu" secara jelas di keempat Injil tersebut, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. 

Telah sama-sama diketahui bahwa penulisan injil dimulai antara tahun 70 dan tahun 115, dan tidak seorang pun dari para penulis Injil itu mengenal Yesus Al-Masih atau mendengar pembicaraannya. Begitu pula, Injil pertama kali ditulis dengan bahasa Yunani, padahal Yesus berbicara dengan bahasa Aramaik.

Di sisi lain, saat kita melihat ke wahyu dalam pemikiran Al-Qur'an (Perjanjian Terbaru), maka kita akan mendapatkan bahwa wahyu teriihat sangat jelas. Tidak ada percampuran ayat dan misteri di dalamnya. Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Rasul-Nya,

"Dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ahzab: 2)

Konsep wahyu bukanlah pemikiran yang baru dalam agama Islam, akan tetapi merupakan bentuk hubungan antara Allah dan para Rasul-Nya, sama seperti hubungan antara langit dan bumi. Oleh karena itu, Allah berfirman kepada Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam agar mengatakan kepada umat manusia,

"Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang terang." (QS. Al-Ahqaf:9)

Arti rasul dan risalah itu sendiri berbeda di dalam Al-Qur'an. Allah berfirman,
"Dan Kami turunkan Al-Qur 'an dengan sebenar-benamya dan Al-Qur'an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan." (QS. Al-Israa': 105)

Ilmu Paulus  
Berkenaan dengan Ilmu yang dimiliki Paulus, kita dapat melihat dia mengaku terus terang bahwa dia belajar ilmu kepada orang-orang bodoh, orang-orang bijak dan kepada filosof-filosof Yunani:

[Roma 1:14] Aku berhutang baik kepada orang Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang yang tidak terpelajar." 

Bahwa suratnya -seperti yang terlihat dalam teks di atas- adalah percampuran budaya juga kekacauan penulisan dan pemikiran. Bersarnaan dengan itu Paulus saling bertentangan dengan "Tuhan Yesus" yang menolak hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak.

[1Korintus 1:19-20] Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan."  Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? 

Seperti yang kita lihat, bahwa Paulus menerima hikmah dan kebodohan secara bersamaan, sedangkan Tuhannya Yesus menolak hikmah dan tidak menerima kecuali dengan kebodohan. Maka, Tuhan Yesus tidak melihat hikmah alam ini kecuali kebodohan. Paulus menjelaskan kepada kita bahwa Tuhan tidak memberikan pilihannya kecuali kepada kebodohan, bahkan lebih memuliakan kebodohan daripada orang yang memiliki hikmah.

[1Korintus 1:27] Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat. 

Sudah dapat dipastikan, bahwa seandainya Paulus menganggap dirinya pilihan Tuhan, berarti sebenamya dia bodoh -menurut teks di atas- bukan termasuk golongan orang yang bijak. Dan Paulus memberikan ringkasan kepada kita bahwa "pengorbanan dan penyaliban" -poros ajaran Kristen- tidak akan berhasil mendominasi ajaran tersebut, kecuali dengan hilangnya hikmat/ilmu dan lenyapnya pemahaman bersamaan dengan hadirnya kebodohan.

[1Korintus 1:18-20] Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan, pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan." Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? 

Paulus telah menjelaskan bahwa Tuhan Yesus hanya melihat jalan kebodohan dan kedunguan, ini merupakan jalan yang terbaik untuk lebih mengenalnya.

[1Korintus 1:21] Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleb hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. 

Artinya, bahwa sang Khalik menganggap baik, seandainya jalan yang ditempuh menuju kepada-Nya melalui jalan kebodohan dan kedunguan! Oleh karena itu, Paulus mensucikan kebodohan dan mengangkatnya melampaui hikmah.

[1Korintus 3:18-20] Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, blarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia itu adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: "la yang menangkap orang yang berhidmat dalam kecerdikannya."  Dan di tempat lain: "Tuhan mengetahui rancangan-rancangan orang berhikmat; sesunggubnya semuanya sia-sia belaka. 

Inilah pemikiran Tuhan Yesus tentang hikmat dan orang-orang yang bijak. Dia melihat bahwa pemikiran orang-orang yang bijak adalah kesalahan.

Berkenaan dengan wahyu Ilahi yang benar (Perjanjian Terbaru), kata "hikmah" disebutkan bersamaan dengan pemahaman ilmu dan wahyu, seperti yang ada pada firman Allah,

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kamu seorang Rasul (Muhammad.) di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Qur'an dan hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-aqarah: 151)

Kata hikmah dalam pemikiran Islam selalu bergandengan dengan kebaikan (semua kebaikan) bagi manusia, karena hal ini merupakan pemberian dan anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Firman Allah,

"Allah menganugerahkan hikmah (kemampuan mendalami dan memahami ajaran Allah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal." (QS. Al-Baqarah: 269)

Inilah Firman Allah tentang Isa putra Maryam dan risalah yang dibawanya,

"Dan Dia mengajarkannya Alkitab, Hikmah, Taurat, dan Injil." (QS. Ali Imran: 48)

Sedangkan Paulus (sang rasul) -pembuat ajaran Kristen- mengatakan (Apa yang aku katakan, aku mengatakannya bukan sebagai orang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai orang bodoh) artinya perkataan itu bukanlah wahyu. Dia berbicara (seperti orang gila) dialah yang mempertahankan kebohongannya dan mempertahankan kebodohannya serta menolak ilmu di setiap perkataannya (yang suci). Dialah yang mengangkat kebodohan di atas hikmah, bahkan meminta seluruh umat Kristen untuk bersikap bodoh, agar mereka menjadi orang bijak. 

Sesungguhnya akidah Trinitas tidak akan sempurna, kecuali dengan kebodohan dan kedunguan. Maka, dengan semua yang dilakukan Paulus ini, orang-orang Kristen mengkategorikan Paulus ke dalam golongan para nabi yang benar. Dan, mengkategorikan Muhammad SAW yang membawa kebenaran, ilmu dan logika ke dalam golongan nabi palsu! Mereka, bukanlah orang yang pertama kali melakukan hal seperti ini, karena sebelum mereka, telah ada kaum Tsamud -kaum Nabi Shaleh- yang lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk, sehingga turun firman Allah atas mereka,

"Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk, maka mereka disambar petir (sebagai) adzab yang menghinakan desebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa." (QS. Fushshaat:17-18)

Paulus dan Hukum Taurat  Sebenarnya Paulus sang rasul, atau yang lebih tepat Paulus sang murid, telah menghilangkan moral dan meruntuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Dia juga telah menyebarkan kerusakan dan melanggar ajaran Musa dan Isa secara terang-terangan. Tidak hanya sebatas ini saja, bahkan dia telah merusak sendi-sendi agama itu sendiri. Sebelum kami menjelaskan pemahaman ini, izinkanlah kami rnemulai penjelasan firman Tuhan kepada Musa Alaihissalam seperti yang terdapat dalam Kitab Ajaran (Taurat Musa):

[Ulangan 27:26] Terkutuklah orang yang tidak menepati perkataan hukum Taurat (An-Namus) ini dengan perbuatan. Dan seluruh bangsa itu haruslah berkata: Amin! 

Bahkan Tuhan mereka telah memberi peringatan kepada Musa dan bangsa Yahudi yang tidak melaksanakan hukum. Juga, mengancarn dengan siksaan, jika mereka tidak melaksanakannya.

[Ulangan 28:58-62] Jika engkau tidak melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat yang tertulis dalam kitab ini, dan engkau tidak takut dengan Nama yang mulia dan dahsyat ini, yakni akan TUHAN, Allahmu.  Maka Tuhan akan menimpakan pukulan-pukulan yang ajaib kepadamu dan kepada keturunanmu, yakni pukulan-pukulan yang keras lagi lama dan penyakit-penyakit yang jahat lagi lama. la akan mendatangkan pula segala wabah Mesir yang kau takuti itu kepadamu, sehingga semuanya itu melekat kepadamu. Juga berbagal-bagai penyakit dan pukulan yang tidak tertulis dalam kitab Taurat ini, akan ditimbulkan Tuhan menimpa engkau, sampai engkau punah. Daripada kamu hanya sedikit orang yang tertinggal, padahal kamu dulu seperti bintang-bintang di langit banyaknya -karena engkau tidak mendengarkan suara Tuhan, Allahmu. 

Seperti yang kita lihat dari ayat ini bahwa syariat (hukum Taurat) adalah suara Tuhan. Maka terkutuklah orang yang tidak melaksanakannya. Namun, apakah syariat yang dimaksud itu? Maksud dari syariat (hukum Taurat) dalam perkataan yang singkat adalah: Bertauhid dan berakhlak mulia yang disebutkan oleh Tuhan dan dilaknat orang yang tidak melaksanakannya, Dia berkata:

Ulangan 27:15-24
[15] Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi Tuhan, buatan tangan seorang tukang dan yang mendirikannya dengan sembunyi... 
[16] Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu bapanya... 
[17] Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia... [1] 
[18] Terkutuklah orang yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat... 
[19] Terkutuklah orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda... 
[20] Terkutuklah orang yang tidur dengan istri ayahnya, sebab ia telah menyingkap punca kain ayahnya... 
[21] Terkutuklah orang yang tidur dengan binatang apa pun... 
[22] Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak ayah dan anak ibunya... 
[23] Terkutuklah orang yang tidur dengan mertuanya perempuan... 
[24] Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan bersembunyi... 

Beginilah hukum syariat senantiasa menyerukan nilai-nilai akhlak yang mulia. Tuhan pun turun ke bumi (dalam bentuk Yesus menurut ajaran Kristen) dalam Perjanjian Baru untuk menegaskan pentingnya pelaksanaan syariat (Hukum Taurat) secara berkesinambungan, Dia mengatakan:

[Matius 5:17-18] Janganlah kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 

Inilah sikap Tuhan dalam dua perjanjian, baik yang lama ataupun yang baru. Lalu, bagaimanakah sikap Paulus terhadap pelaksanaan hukum ini? Sebenarnya Paulus telah mencampakkan syariat (hukum Taurat) ke neraka, sebelum langit dan bumi ini binasa, seperti yang telah Tuhan firmankan. Paulus sendiri menganggap bahwa syariat (Hukum Taurat) dan cara pelaksanaannya adalah perbuatan terlaknat yang tidak wajib untuk dilaksanakan. Dia berkata:

[Galatia 3:13] Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklab orang yang digantung pada kayu salib!" 

Ini berarti, bahwa Tuhan mengingkari dirinya sendiri! Hanya dengan satu ayat saja, Paulus telah menghancurkan syariat beserta segala isinya. Dia berkata bahwa syariat itu kutukan, bahkan mengatakan bahwa Tuhan itu sendiri terkutuk [dengan jalan menjadi kutuk karena kita], karena manusia telah menggantungkan Tuhannya di kayu (salib). Maka dari itu, Paulus berkata bahwa Tuhan telah melaknat dirinya sendiri, dan dia mengatakan terkutuklah orang-orang yang berpegang kepada hukum Taurat dan melaksanakannya.

[Galatia 3:9-10] Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.  Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada dibawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." 

At-Tafsir At-Tathbiqi li Al-Kitab Al-Muqaddas menjelaskan arti yang berkenaan dengan maksud ayat di atas hlm. 2502:

[Yesuslah yang telah mengambil sendiri kutukan hukum Taurat tersebut, saat dia rela dirinya digantung di kayu disalib (Galatia 3:13). Dia telah melaksanakannya, agar kita tidak menanggung derita itu. Beginilah cara yang dimungkinkan kita dapat selamat bersamanya. Satu-satunya syarat adalah dengan menerima perbuatan Yesus, yang dilakukannya diatas kayu salib (Kolose 1:20-23)].

Syarat yang dimaksudkan -sebagaimana yang telah kita ketahui- adalah nilai-nilai moral. Artinya, agama Kristen mengutuk orang-orang yang berakhlak mulia! Beginilah "Tuhan telah wafat" oleh tangan manusia dalam Perjanjian Baru. Dan, Paulus mencampakkan hukum Taurat ke neraka! Atas dasar inilah, di dalam ajaran Kristen tidak ada pencegahan bemuansa religius terhadap suatu kejahatan! Tidak ada aturan, tidak ada norma dan tidak ada akhlak! Inilah cara Paulus membebaskan hawa nafsu manusia, agar melakukan apa saja yang mereka inginkan. Dan, Paulus pun mengumumkan bahwa syariat tidak lagi dibutuhkan oleh umat Kristen, setelah manusia menyalib Tuhan dan membunuhnya di kayu salib, dia mengatakan:

[Galatia 3:24-25] Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.  Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun. 

Maksudnya, kita sudah tidak memiliki penuntun lagi. Dan, Paulus telah menghapuskan seluruh hukum Taurat.

[Afesus 2:15] Sebab dengan mati-Nya (tubuh Yesus yang disalib) sebagai manusia la telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya dan dengan itu mengadakan damai sejahtera. 

[Galatia 2:16] Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya o/en iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "Tidak ada seorangpun dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat." 

Maksud ayat di atas adalah bahwa melaksanakan syariat tidak dapat mengarahkan seseorang kepada kebaikan! Bahkan, Paulus menegaskan bahwa orang yang berambisi melaksanakan syariat (hukum Taurat) akan kehilangan nikmat Tuhan.

[Galatia 5:4] Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia [kehilangan nikmat]. 

Paulus pun melanjutkan lagi pembicaraannya, bahwa tidak dibutuhkan lagi amal saleh, dia mengatakan:

[Roma 3:27-28] "... Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat." 

Terlihat jelas sikap Paulus yang membebaskan manusia dari nilai kemanusiaan dan agama. Dan, Paulus menjadikan keimanan kepada Yesus, jalan yang cukup untuk keselamatan dan ketaatan tanpa membutuhkan amal saleh. 

Hal ini sangat bertentangan sekali dengan perkataan Yesus (Tuhan menurut pandangan Kristen):

[Matius 12:36-37] Tetapi aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmn engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum. 

Beginilah! Tuhan telah berseteru dengan dirinya sendiri! Akibat dari perbuatan Paulus sang rasul dan amal saleh tidak lagi dibutuhkan dalam ajaran Kristen.

[2Timotius 1:9-10] Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya [nikmat-Nya] sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman. Dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. 

Hal tersebut ditegaskan kembali pada ayat lainnya:

[Titus 3:4-5] Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh kudus.  

Ayat-ayat lain pun terus bergulir. Sehingga hanya dengan beriman kepada Yesus -tanpa melihat amal saleh yang dilakukannya- seorang penganut Kristen dapat selamat.

[Roma 10:9-10] Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia di antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan 

Oleh karena itu, Milankton berkata dalam bukunya Al-Amakin Al-Lahutiyah (Tempat-tempat Ketuhanan), "'Jika kamu mencuri, berbuat zina, atau berbuat fasik, maka janganlah risaukan perbuatan itu! Akan tetapi, janganlah kamu lupa, bahwa Allah adalah seorang kakek yang banyak memiliki kebaikan, dan Dia telah terlebih dahulu mengampuni segala kesalahanmu -beberapa waktu lamanya- sebelum kamu melakukan kesalahan itu."

Seperti yang dikatakan Martin Luther seorang pendiri aliran Protestan, "Bahwa Injil tidak meminta kita untuk melakukan amal saleh (agar kita termasuk golongan orang yang taat), bahkan sebaliknya, justru menolak segala amal perbuatan kita. Sebenarnya, agar kita tampak saleh, kita harus memperbesar dan memperbanyak dosa. "Jika kita tambahkan dari uraian di atas, bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk menikmati segala yang ada di dunia."  Di sini terlihat, bahwa agama Kristen menyerukan ajaran yang hina. 

Teks-teks tersebut memiliki dampak yang sangat besar terhadap hukum Taurat dalam ajaran Kristen. Para perintis agama Kristen telah mengetahui -sebelum yang lainnya- bahwa semua larangan berubah menjadi halal. Oleh karena itu, agama Kristen dan agama sebelumnya yaitu Yahudi telah melepaskan diri dari belenggu hukum dan semua pesan moral yang terkandung di dalamnya, sehingga kondisi tersebut -sebagaimana yang disimpulkan oleh para peneliti- terealisasi dalam masyarakat Kristen di zaman modem sekarang ini eperti di antaranya: 
  • menyebarnya zina dan perbuatan keji, 
  • banyaknya kejahatan, 
  • perbedaan ras, 
  • perpecahan keluarga, 
  • hubungan masyarakat yang buruk, 
  • tersebarnya minuman keras, 
  • kehidupan tanpa agama, 
  • bersikap kejam terhadap bangsa lainnya. 
Kekejaman terhadap bangsa lain terliha tjelas dalam pembasmian masyarakat dunia ketiga, terutama negara Islam. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan CIA (Central Intelligence of America) mengatakan, "Jumlah penduduk dan kedaulatan dunia ketiga harus dibatasi dengan cara apa pun, seperti: peperangan, penyakit dan epidemi. Atau, dengan cara lainnya, baik yang legal ataupun yang illegal, agar negara-negara tersebut tidak dapat menikimati sumber daya alam yang mereka miliki, karena surnber tersebut dianggap milik Amerika dan Iriggris (negara Eropa secara umum). 

Adapun negara-negara 'yang rnenjadi sasaran utama hasil perielitian mereka adalah Mesir, Iran, dan seluruh negara-negara Arab, juga negara-negara di benua Afrika dan Asia.Bencana peperangan tersebut dipimpin oleh Amerika Serikat dan Israel, dengan bukti adanya 12 pusat penelitiari ilmiah di Amerika yang merampungkan pembuatan virus dan penyakit yang diambil dari gen manusia, yang dapat menular ke populasi tertentu yang sama gennya, dan tidak akan menular ke populasi yang berlainan gen.

Begitulah caranya Kristen Eropa menghidupkan kembali -berlandaskan Alkitab sebagai rujukan- komunitas Darwin yang suka bunuh-membunuh saudaranya sesama manusia. Dan, menganggap nukum rimba nierupakan hukum alam yang berlaku, karena kebenaran agama telah musnah.Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa bencana dan kehancuran moral yang mendominasi dunia Eropa dan Barat Kristen secara umum (yang sengaja mereka ekspor kepada kita saat ini), disebabkan oleh Alkitab yang mereka anggap -meskipun rnemiliki banyak nilai negatif- sebagai kata-kata Tuhan yang memberikan petunjuk dan kebaikan serta surga dan keagungan Tuhan.

Saya ingin -untuk terakhir kalinya- menunjukkan berita di internet yang mengatakan bahwa Paulus berusaha menghilangkan akhlak dan norma-norma agama yang ada di agama Kristen, begitu juga kebohongan dan propaganda umat Kristen terhadap Islam. Di antaranya, mengekspos jawaban para pelayan Tuhan dari pertanyaan yang diajukan oleh seorang Muslim:
"Apakah menurut anda, dengan diselamatkannya umat manusia oleh Yesus di tiang salib berarti meniadakan 'hisab'[2] sekaligus memberikan peluang kepada umat Kristen untuk melakukan kemaksiatan, sebab Yesus telah menyelamatkan mereka? Dengan kata lain, anda mengira tidak ada 'hisab' dan neraka?!"

Para pelayan Tuhan itu menjawab sambil tercengang dan kaget:

"Kami tidak tahu dari manakah anda mendapatkan informasi yang aneh seperti ini? Apakah anda membacanya dari Alkitab yang diyakini oleh umat Kristen, lalu menyampaikannya? Seandainya anda baru membacanya sekali, maka janganlah membuat tuduhan yang tidak mendasar seperti ini!"

Inilah cara mereka menipu yang lainnya. Mereka memanfaatkan kebodohan pendengar atau pembaca agar dapat menipu dan membohonginya!


CATATAN KAKI: 
[1] Bandingkanlah dengan apa yang dilakukan oleh bangsa Israel sekarang ini, yang menghancurkan bangsa Palestina dan menguasai tanah mereka, tanpa ada alasan yang benar.
[2] Lihat penjelasannya di sini.

[Sumber: Islam Menjawab Tantangan | Gerakan Anti Kristenisasi]