Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Nabi Ismael. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Ismael. Tampilkan semua postingan

Bukti Al-Quran Bahwa Ismael Yang Akan Dikorbankan


TANYAYth. Pak Ustadz,
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pa Ustadz, sebenarnya yang dikorbankan oleh Nabi Ibrahim itu, Nabi Isma’il atau Nabi Ishak? Dan adakah riwayat yang mempunyai dasar yang kuat bahwa nabi Isma’il adalah yang menurunkan bangsa Quraisy? Di dalam kitab Injil dikisahkan yang diperintahkan oleh Allah untuk dikorbankan oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ishak. Apakah ayat ini sudah dipalsukan? 
Terima kasih atas jawaban Pa Ustadz.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

JAWAB: Assalamu alakum warahmatullahi wabarakatuh,

Jika kita telusuri kitab-kitab tafsir, terus terang sebenarnya ada juga mufassirin yang menafsrikan bahwa yang akan disembelih itu adalah Nabi Ishaq as, bukan Nabi Islamil as. Namun argumen atau hujjah mereka terlalu lemah bila dihadapkan pada argumentasi jumhur yang mengatakan bahwa yang akan disembelih itu adalah Nabi Ismail as.

Perbedaan itu muncul karena tidak tertulisnya nama Nabi Ismail secara eksplisit di dalam ayat yang menceritakan tentang kisah penyembelihan tsb dalam surat Ash-Shaaffaat ayat 99-102.

Sementara kita meyakini bahwa yang akan disembelih adalah nabi Ismail as. berdasarkan dalil-dalil berikut

Hadits Rasulullah SAW
Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits yang menceritakan tentang dirinya.

Aku adalah anak keturunan dua orang zabihain (orang yang disembelih). [HR. Al-Hakim].

Yang dimaksud dengan dua orang zabihain adalah dua orang yang dalam hidupnya terancam akan disembelih. Yang pertama adalah ayah kandungnya langsung yaitu Abdullah. Dan kedua adalah kakek buyutnya yaitu Ismail. Karena Nabi Muhammad memang keturunan dari Nabi Ismail as., bukan keturunan dari Nabi Ishaq as.

Dan julukan Ibnu Zabihain adalah julukan yang terkenal, karena diriyawatkan bahwa orang Arab pun menyapa beliau SAW dengan panggilan itu.
Kisah tentang ayah kandung Rasulullah SAW yang juga terancam akan disembelih adalah kisah yang juga sudah kita kenal yaitu nazar kakeknya Abdul Muttalib. Sang kakek ini ketika menggali sumur zamzam pernah bernazar untuk menyembelih anak. Ketika berhasil menggali sumur zamzam, maka Abdul Muttalib berkewajiban untuk melaksanakan nazar, lalu diundilah dengan menggunakan anak panah, namun selalu keluar nama Abdullah anaknya yang sangat dicintainya itu. Sehingga setelah beberapa kali selalu nama Abdullah yang keluar, akhirnya ada orang yang menasehatinya untuk menggantinya dengan 100 ekor unta. Barulah setelah Abdul Muttalib menyembelih 100 ekor unta, tidak lagi keluar nama Abdullah dari anak panah undian.

Argumen Abu Amru bin Al-Ala
Diriwayatkan dari Al-Ashmai bahwa dia bertanya kepada Abu Amru bin Al-Ala tentang siapakah sesungguhnya anak nabi Ibrahim yang disembelih? Ismail-kah atau Ishaq?

Beliau menjawab, ”Wahai Asmai, di mana otakmu? Sejak kapan Nabi Ishaq itu tinggal di Makkah. Yang di Makkah itu adalah Nabi Ismail as. Dialah yang membangun Ka’bah bersama ayahnya. Dan tempat penyembelihan itu adanya juga di Makkah."

Dalil Al-Quran Tentang Ciri Nabi Ismail
Meski tidak disebutkan secara eksplisit, namun ayat Quran menunjukkan bahwa yang disembelih itu adalah Ismail, bukan Ishaq. Buktinya, ketika Quran menyebut nama Ismail, beliau disifati dengan sifat penyabar (shabirin).

Dan Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anbiya: 85)

Dan yang dimaksud dengan sabar pada Ismail adalah sabarnya atas penyembelihan. Dan selain itu Allah juga mensifati beliau dengan sifat Shadiqul Wa’di atau orang yang menepati janjinya.

Dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Al-Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. (QS Maryam: 54)

Dan yang dimaksud dengan yang menepati atau benar janjinya adalah Ismail yang telah berjanji untuk sabar menghadapi cobaan dari Allah untuk disembelih, lalu beliau menepati janjinya untuk tetap bersabar.

Dalil Ayat Qur’an Tentang Kondisi Nabi Ishaq as
Sedangkan sebaliknya, jika kita teliti secara cermat, Allah SWT menyebutkan tentang kondisi Nabi Ishaq yang memiliki anak bernama Yaqub. Silahkan perhatikan ayat berikut:

Dan isterinya berdiri lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang Ishaq dan setelah Ishaq: Ya’qub. (QS  Ash-Shaaffaat: 112)

Jika dipaksakan juga bahwa yang akan disembelih adalah Nabi Ishaq, maka ada dua kemungkian kapan turunnya perintah penyembelihannya.

Kemungkinan pertama: 
Perintah penyembelihan itu sebelum lahirnya anak Ishaq yaitu Yaqub. Dan kemungkinan ini jelas tidak bisa diterima. Mengapa? Bagaimana mungkin Allah memerintahkan untuk menyembelih Ishaq padahal sementara itu Allah juga memberi informasi bahwa Ishaq itu akan punya anak yang bernama Yaqub. Jadi seolah-olah sejak awal perintah untuk menyembelih Ishaq itu sudah ketahuan akhirnya bahwa Ishaq tidak akan mati, lantaran ada informasi bahwa nanti dia akan punya anak yang namanya Yaqub. Kalau Ibrahim tahu bahwa perintah penyembelihan itu pasti akan diganti dengan seekor kambing dan bahwa anaknya itu terus akan hidup dan malah akan punya anak segala, namanya bukan ujian, kan? Tapi main-main.

Kemungkinan kedua: 
Perintah untuk menyembelih Ishaq itu setelah Ishaq punya anak yang bernama Yaqub. Artinya, bisa saja perintah itu datang dan Ishaq sudah dewasa dan bahkan sudah punya anak. Ini malah lebih tidak bisa diterima lagi, sebab langsung bertentangan dengan ayat Al-Quran. Sebab mengenai kisah penyembelihan anak Ibrahim itu, Allah menyebutkan sebagai berikut:

Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS As-Shaaffaat: 102)

Jadi usia anak yang akan disembelih itu adalah ketika masih belia dan baru belajar (berusaha) berjalan menyusul ayahnya. Bukan anak yang sudah mempunyai anak, atau sudah jadi bapak buat anak lain.

Dengan demikian, dua kemungkinan di atas praktis sama-sama tertolak!

Ayat Al-Quran tentang urutan Kisah
Semua sepakat bahwa anak Nabi Ibrahim yang pertama adalah Ismail dan yang kedua adalah Ishaq. Sebelum punya anak, Ibrahim memohon kepada Allah agar diberi anak.

Ya Tuhanku, Berilah Aku keturunan yang shalih. (QS As-Shaaffaat: 100)

Karena tidak mungkin Ibrahim meminta anak ketika sudah punya anak pertama. Secara logika, orang yang berdoa meminta anak adalah orang yang belum punya anak. Lalu Allah mengabulkan doa Ibrahim dengan firman-Nya:

Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. (QS As-Shaaffaat: 101)

Dan ayat seterusnya menceritakan tentang anak pertama yang akan disembelih itu. Jadi amat jelas bahwa yang disembelih adalah anak pertama yang bernama Ismail karena selesai Allah memberitakan bahwa doa Ibrahim dikabulkan dan diberi anak, langsung ayat berikutnya berbicara tentang kisah penyembelihan anaknya. Selesai kisah penyembelihan anak, baru Allah berkisah tentang anak Ibrahim yang lain yaitu Ishaq. Amat tidak logis bila yang disembelih adalah Ishaq, karena bukan demikian urut-urutan kisahnya.

Khabar Tentang Kisah Penyembelihan di Makkah
Selain semua hujjah di atas, masyarakat Makkah memang sangat mengenal kisah penyembelhan itu. Dan yang utama adalah kisah penggantungan tanduk kambing di Ka’bah. Dan itu menunjukkan bahwa anak Ibrahim yang disembelih adalah yang tinggal di Makkah.

Sedangkan bila yang akan disembelih adalah Ishaq, maka seharusnya tanduk kambing yang digantung itu bukan di Makkah tapi di Baitul Maqdis, Syam.

Dengan demikian, petunjuk dari Al-Quran yang menyiratkan bahwa anak yang akan disembelih itu adalah Ismail, bukan Ishak, sangat jelas. Didukung pula oleh dalil hadits yang matsur, keterangan tafsir antara satu ayat dengan ayat lain, kenyataan sejarah, dan tentu saja logika.

Namun tidak ada salahnya jika kita cermati juga apa hujjah/argumentasi mereka yang mengatakan bahwa anak yang disembelih itu adalah Ishaq.

Ayat Quran
Mereka mengatakan bahwa ayat Quran (Surah [37] As-Saffat) menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim Hijrah dan mereka maksudkan ke negeri Syam (ayat 99). Setelah itu muncul ayat yang menyebutkan kisah penyembelihan anak (ayat 102). Jadi yang disembelih adalah Ishak karena Ishaq yang tinggal di Syam.

Hujjah ini terkoreksi dengan sendirinya, sebab ayat yang menceritakan bahwa Ibrahim hijrah ke Syam (ayat 99) itu disisipi doanya yang meminta anak (ayat 100) dan ayat yang menceritakan diberinya Ibrahim seorang anak (ayat 101). Baru ayat berikutnya kisah tentang penyembelihan (ayat 102). Jadi 4 ayat itu berbeda waktunya. Ayat 99 terjadi ketika beliau hijrah dari Iraq ke Syam, ayat 100 terjadi di Syam ketika beliau belum punya anak, karena bila yang dia sudah punya anak sebelumnya, tidak mungkin doanya minta anak. Lalu ayat selanjutnya di Makkah ketika beliau dianugerahi anak pertama yaitu Ismail (ayat 101) dan berikutnya penyembelihan Ismail itu juga di Makkah (ayat 102).

Dalil Hadits
Ada hadits yang isinya menyebutkan demikian:

Rasulullah SAW ditanya tentang manakah nasab yang paling mulia. Beliau SAW menjawab, ”Yusuf Siddiqullah, bin Yaqub Israilullah, bin Ishaq Zabihullh bin Ibrahim Khalilullah.

Namun sayang sekali hadits ini tidak kuat dan sementara ulama mengatakan bahwa semua julukan itu bukan asli hadits tapi hanya dari perawinya saja. Sehingga kata-kata Ishaq Zabihullah (yang disembelih Allah) bukan teks asli dari hadit melainkan tambahan dari perawi. Dan tentu saja tidak bisa diterima sebagai sabda Rasulullah SAW.

Tapi menurut sebuah riawayat bahwa yang berpaham akan hal ini adalah: Umar ra, Ali ra, al-Abbas ra, Ibnu Masud dan Kaab Al-Ahbar. Selain itu juga ada Ikrimah, Said bin Jbair, As-Suddi, Az-zuhri dan Muqatil.

Sebaliknya yang mengatakan bahwa anak yang disembelih adalah Ismail antara lain adalah: Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Said bin al-Musayyib, Al-Hasan, Mujahid dan Al-Kalbi.

Semua ini bisa Anda baca Pada beberapa kitab tafsir seperti Al-Qurthubi, At-Tafsir Al-Kabir karya Al-Fakhrurrazi, Tafsir Al-Baidhawi serta Tafsir Ibnu Katsir.

Wallahu Alam Bish-shawab, 
wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
[Ust. Ahmad Sarwat, Lc. | Eramuslim]


Teka Teki Anak Perjanjian Abraham


Kita langsung saja. 
Perhatikan ayat alkitab berikut ini: 
[Kejadian 17:18-19] “Ah, sekiranya Ismael diperkenaankan hidup dihadapan-Mu! Tetapi Elohim berfirman: Tidak ...."
Ini adalah salahsatu bentuk keculasan umat ini yang benar-benar disengaja agar terkesan bahwa keturunan Abraham melalui Hagar tidak direstui, bahkan ditolak mentah-mentah oleh Allah! Tetapi jika kita jeli dan cermat dalam membaca alkitab, maka sesungguhnya alur cerita yang sebenarnya tidak demikian! Tidak ada sedikitpun penolakan Allah terhadap Ismael yang kelak menjadi leluhur Nabi Muhammad SAW, dan tidak ada pula penolakan Allah akan permohonan Abraham untuk putra sulungnya Ismael! Sekali lagi, TIDAK ADA! 

Alur cerita dalam Alkitab bisa kita kutip seperti apa adanya berikut ini:

Kejadian 17:15-19  LAI - Terjemah Baru 
15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. 16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya." 17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" 18 Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" 19 Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian  yang kekal untuk keturunannya." 

Mencermati secara utuh ayat-ayat alkitab di atas, jelas terlihat bahwa Allah sama sekali tidak menolak permohonan nabi Abraham kepada-Nya perihal putra tunggal beliau, Ismael. 

Dengan demikian, makna sesungguhnya dari ayat-ayat ini adalah sebagai berikut:

Dari Sara, istri beliau yang pertama, Abraham tidak mempunya anak. Untuk itu Allah berjanji kepada Abraham bahwa Dia akan memberikan keturunan kepada Abraham melalui Sara walaupun umur Sara sudah sembilan puluh tahun dan Abrahan sendiri sudah seratus tahun.

Sebagai manusia biasa, wajar jika di dalam hatinya, Abraham merasa kurang yakin apakah masih mungkin memperoleh keturunan pada usianya yang sudah seratus tahun, sudah kakek-kakek dan tua renta, sementara istrinya Sara sudah pula menjadi nenek-nenek berumur sembilan puluh tahun. Sementara pada waktu peristiwa "percakapan" antara Allah dan Abraham itu tejadi, beliau sudah mempunya seorang putra bernama Ismael. Karena itulah kemudian Abraham berkata kepada Allah, biarlah, tokh baginya sudah cukup dengan mempunya Ismael? Tetapi Allah yang Mahamengetahui segala sesuatu berkehendak memberinya keturunan dari Sara. Dan terbukti memang setelahnya Sara mengandung dan melahirkan seorang putra yang kemudian mereka beri nama Ishak.

Nah, dari alur cerita tersebut, sangat jelas terlihat bahwa Allah sama sekali tidak menafikan keberadaan Ismael dari Hagar, Istri kedua beliau, namun di sisi lain berkehendak pula memberikan keturunan kepada Abraham dari Sara walaupun mereka sudah lanjut usia. Jadi, para misionaris yang dalam upaya penginjilannya kerap menampilkan mutilasi ayat-ayat kitab suci, bahkan termasuk dari kitab mereka sendiri, sebenarnya bertujuan menyesatkan pembaca dengan cara menimbulkan kesan bahwa seolah-olah permohonan Abraham untuk Ismael ditolak oleh Allah.

Jika kita baca kitab Kejadian 17:15-19 tadi dalam versi terjemahan bahasa Indonesia 1941; maka tidak akan kita temui permohonan Abraham dengan ucapan “Ah, ..... sekiranya” pada ayat ke-18 dan penolakan Allah dengan kata “Tidak!” pada ayat ke-19, yaitu ayat-ayat yang ternyata sudah dirobah sedemikian rupa oleh para editornya pada terbitan alkitab tahun-tahun setelahnya.  

Cermati narasi ayat-ayat di bawah ini, lalu bandingkan dengan ayat-ayat yang sama dari alkitab yang diterbitkan belakangan seperti sudah lebih dulu disebutkan di atas.

Kejadian 17: 15-19 Ejaan Lama Terbitan 1941 
(15) Dan lagi firman Allah kepada Ibrahim, maka akan hal Sarai, istrimoe itoe djangan lagi engkau panggil namanja Sarai, melainkan Sara itoelah akan namanja. (16) Karena akoe akan memberi berkat kepadanja serta daripadanja djoega akoe akan menganoegerahkan se’orang anak laki-laki kepadamoe; bahkan akoe akan memberi berkat kepadanja, sehingga ija akan djadi asal beberapa bangsapon akan berpentjaran dan daripadanja. (17) Maka pada masa itoe soedjoedlah Ibrahim dengan moekanja sampai ka boemi sambil tertawa, lalu berkata ija dalam hatinja: “Bolehkah djadi kanak-kanak bagai sa’orang jang soedah seratoes tahoen oemoernja? Bolihkan Sara jang soedah sambilan poeloeh tahoen oemoernja itoe lagi beranak? (18) Maka sembah Ibrahim kepada Allah : “ja Toehan, bijar apalah Ismail sahadja hidoep di hadapan hadiratMoe. (19) Maka firjman Allah, bahwa sasoenggoehnja Sarah, istrimoe itoe, beranak kelak bagimoe laki-laki sa’orang, hendaklah engkau namai akan dia Ishak; maka Akoe akan menegoehkan perdjandjiankoe dengan dia, ija-itoe soeatoe pardjandjian jang kekal, serta dengan anak-boeahnja jang kemoedian dari-padanja.
Dari perbandingan ayat-ayat yang sama dari kitab yang sama tapi dari cetakan tahun yang berbeda ini kita bisa melihat sediri, bahkan dengan sangat jelas, bahwa setiap kali alkitab dicetak ulang, maka selalu saja mengalami perobahan ayat-ayat yang bahkan adakalanya merobah arti ayat-ayat tersebut secara sangat signifikan!
Perobahan pada ayat-ayat yang berhubungan dengan Ismael sebagai leluhur nabi Muhammad SAW yang diplintir-plintir tersebut, tentu saja sangat mempengaruhi pemahaman umat Kristen tentang keadaan yang sebenarnya sehingga mereka, yang tidak memiliki cukup pengetahuan tentang sejarah perubahan ayat-ayat dalam kitabnya sendiri, lalu dengan serta merta latah ikut merendahkan Ismael, Hagar, dan umat Islam, persis seperti burung beo yang menirukan ucapan manusia tanpa tahu apa yang diucapkannya!

Jika Allah sebagaimana digambarkan dalam alkitab seolah seperti manusia yang cenderung bersifat diskriminatif, suka membedakan antara orang yang satu dengan orang lainnya, tentu saja Dia sama lemahnya dengan kita semua dan bukan Allah yang pantas untuk kita puji dan sembah setiap hari. Menurut ajaran Islam, Allah Mahaadil dan dipastikan berlaku sangat adil terhadap setiap makhluk ciptaan-Nya, termasuk, tentu saja manusia. Jadi, segala tudingan sumir terhadap Ismael dan Hagar yang merupakan leluhur Nabi Muhammad SAW berdasarkan alkitab sesungguhnya sama sekali tidak beralasan. 

Dusta dan distorsi terjemah ayat-ayat alkitab jelas ditujukan oleh para petinggi kristen kepada Ismael.

Kejadian 17:19
 וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים אֲבָל שָׂרָה אִשְׁתְּךׇ יֹלֶדֶת לְךׇ בֵּן וְקָרָאתָ אֶת שְׁמוֺ יִצְחָק וַהֲקִמֹתִי אֶת בְּרִיתִי אִתּוֺ לִבְרִית עוֺלָם לְזַרְעוֺ אַחֲרָיו:

wayomer Elohim AVAL sarah isyteka yoledet lekha ben weqaraat et syemo Yitzchaq wahaqimoti et b'riti ito liv'rit 'olam l'zar'o acharin

Krejadian 17:19 
Tetapi Elohim berfirman: "Akan tetapi isterimu Sara yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya."
Jelas dalam teks ibrani di atas tidak terdapat kata "Lo" (לוא)  yang artinya "Tidak!"
Ketika Ismael berusia 13 tahun, Allah sekali lagi mendatangi Ibrahim melalui malaikat-Nya, dan janji lama yang sama diulangi lagi kepada Ibarahim (Kejadian pasal 17).

Belakangan – ketika Ibrahim berusia 100 tahun dan Sarah 90 tahun - ternyata Sarah juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ishak, ini sesuai dengan janji-Nya.

Setelah Ishak berusia sekitar 2 tahun, maka Hajar dan putranya Ismael, menurut alkitab, diusir oleh Sarah. Sehinga Hagar dan Ismael – putranya yang ketika tu sudah berusia sekitar 16 tahun tapi digambarkan oleh ara editor alkitab seolah-olah masih bayi – terpaksa mengembara di padang gurun Bersyeba. Di tengah perjalanan persediaan air habis sehingga mereka kehausan, kemudian sebuah mata air menyembur atas perintah Tuhan. Setelah itu tidak ada lagi berita apapun tentang Ismael dalam alkitab, kecuali bahwa Ismaie menikahi seorang wanita Mesir, dan ketika Ibrahim meninggal, ia hadir bersama Ishak untuk menguburkan ayah mereka.

Tetapi di sisi lain, alkitab secara rinci melanjutkan kisah tentang Ishak, dua orang putranya, dan kedatangan Yakub ke Mesir, yang diakhiri dengan kisah meninggalnya Yusuf.

Peristiwa penting dalam sejarah Abraham berikutnya, seperti terekam dalam Kejadian 22, adalah pengorbanan anak satu-satunya kepada Tuhan, tetapi kemudian ditebus dengan seekor sembelihan yang besar.

Demikian catatan singkat tentang Abraham dalam hubungannya dengan Hak Kelahiran dan Anak Perjanjian.

Ada 3 hal penting yang harus digarisbawahi disini bagi setiap orang yang beriman kepada Allah:
Pertama, Ismael adalah anak sah Abraham, putra pertamanya, dan karenanya segala klaimnya tentang hak kelahiran adalah adil dan sah!

Kedua, perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan anak tunggalnya adalah tentang Ismael (karena ketika peristiwa itu terjadi, Ishak berlum lahir). Sedangkan perjanjian dan hukum khitan itu tidak akan memiliki nilai dan arti penting jika janji yang diulang-ulang itu tidak terkandung dalam firman Tuhan, “Melaluimu semua bangsa bumi akan diberkahi” dan khususnya ungkapan Benih “yang akan keluar dari mangkuk-mangkuk ia akan menjadi ahli warismu” (Kejadian 15:4). 

Janji itu dipenuhi ketika Ismael lahir (Kejadian 16), dan Abraham mendapat penghiburan bahwa pelayan utamanya Eliezer tidak akan lagi menjadi ahli warisnya.
Konsekuensinya, kita harus mengakui bahwa Ismael adalah pewaris martabat dan hak istimewa Abraham yang riil dan sah. Hak prerogatif bahwa “karena Ibrahim maka semua bangsa di bumi akan diberkahi” yang demikian sering diulang-ulang adalah warisan karena hak kelahiran Ismael. Warisan yang menjadi hak Ismael bukanlah tenda tempat di mana Abraham biasa bernaung atau seekor unta tertentu yang biasa ditunggangi oleh Abraham, melainkan hak untuk menaklukkan dan menduduki selama-lamanya wilayah yang terbentang sangat luas mulai dari sungai Nil sampai dengan sungai Eufrat, yang terbukti hingga kini dihuni oleh sekitar 10 bangsa-bangsa yang berasal dari keturunan Ismael. Negeri-negeri tersebut belum pernah ditaklukkan oleh keturunan Ishak, sebagai bukti pemenuhan yang nyata dari perjanjian antara Allah dengan Abraham untuk Ismael! 
Ketiga, Ishak juga lahir dan diberkati oleh Allah, dan bahwa untuk kaumnyalah negeri Kanaan dijanjikan dan terbukti benar-benar dikuasai oleh Yoshua. Tidak seorang muslim pun pernah berpikir untuk meremehkan kedudukan Ishak sebagai seorang nabi, karena memusuhi nabi Allah sama artinya dengan memusuhi Allah yang mengutus para nabi-Nya. Oleh karenanya, ketika umat Islam dihadapkan pada tuntutan untuk membedakan derajat antara Ismael dan Ishak, tidak ada sikap lain yang pantas ditunjukkan kecuali bersikap hormat pada kedua hamba Allah yang dimuliakan oleh Allah tersebut.


[Sumber: Benjamin Keldani, Menguak misteri Muhammad | Willy Versace Al-Aydruze Andri]

Tuhan Ingkar Janji?


Lagi, ayat-ayat "sangat mencurigakan" dalam alkitab!

TUHAN INGKAR JANJI?

Ah, Mustahil! Mana mungkin Tuhan ingkar janji?
Baiklah! 

Jika kita sepakat bahwa MUSTAHIL Tuhan ingkar janji, maka mari sama-sama kita perhatikan ayat-ayat alkitab berikut ini.

[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

Kitab yang sama ini mengisahkan bahwa Abraham memiliki dua orang anak. Lalu anak yang manakah yang dimaksud oleh Tuhan dalam perjanjian-Nya?

Jawabannya tertulis di bawah ini:

[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Wah! Ternyata menurut kitab ini, perjanjian itu diadakan oleh Tuhan dengan anak Abram yang bernama Ishak, yang kelak akan menjadi nenek moyang bangsa Israel, dan diulang lagi seperti di bawah ini:

[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

Apakah kemudian kitab ini membuktikan bahwa perjanjian tsb benar-benar dipenuhi oleh Tuhan?
Begini faktanya:


Jika anda benar-benar memperhatikan peta geografis yang dimaksud dalam perjanjian di atas, maka kita segera tahu bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini tidak ada satupun negeri dari keturunan Ishak [Israel] yang menguasai wilayah dari Mesir hingga sungai Eufrat.

Bahkan di masa puncak kejayaan bangsa Israel yang mampu membagun kerajaan terbesarnya di bawah pemerintahan Daud hingga Solomon sekalipun, ternyata wilayah yang dikuasainya hanya sebatas pojok sebelah utara mesir, dan luasnya pun tidak lebih besar dari luas pulau Jawa!

Dan silahkan anda yang kristen kaget barang sejenak -- atau kejang-kejang sekalian -- saat menyadari fakta yang ada, bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini seluruh wilayah dari Mesir hingga Sungai Efrat tsb nyatanya dipenuhi oleh bangsa-bangsa Arab keturunan Ismael!

Nah, bagaimana ini? Kenapa Tuhan kok ingkar janji? 
Sampai di sini, sekali lagi, pasti anda akan bilang;
"Ah! Mustahil Tuhan ingkar janji!"

Dengan demikian kita perlu mulai serius memikirkan bahwa jika memang mustahil, pasti ada yang "tidak beres" di sini!

Tapi kira-kira apa yang tidak beres itu?

  1. Mungkin tulisan ini salah menafsirkan informasi dari alkitab? 
  2. Mungkin alkitab yang dijadikan rujukan salah menuliskan informasinya? 
  3. Mungkin informasi alkitab sebenarnya tidak salah, tapi para editornya telah dengan sengaja mengganti nama-nama yang dimaksud dalam perjanjian tsb?

Dapatkah anda tolong bantu mencaritahu perihal temuan fakta alkitabiah yang 'sangat mencurigakan' ini?

Jika dapat, maukah anda untuk selanjutnya menjelaskan kepada kami duduk perkara yang sebenarnya berikut bukti-bukti empiris yang mendukung penjelasan anda?

Monggo, silahken.

[Sumber: xucinxgaronx | Islam Menjawab Fitnah]


Hagar, Ibunda Ismael Bukan Budak Tapi Putri Raja Mesir

Menurut tulisan yang terdapat dalam Targum - kitab tafsir Taurat Yahudi - seorang Rabbi (pendeta Yahudi) yang termasyhur, yaitu Salomon bin Ishak (1040-1105) dari Troye (Ilion, Pergame, sekarang Hissarlick di Turki) mengatakan, Hagar adalah puteri dari Firaun yang karena rasa suka dan hormatnya kepada Ibrahim kemudian menikahkan putrinya dengan Ibrahim sehingga keduanya pun menjadi keluarga. Sementara versi lainnya mengatakan bahwa sang putri sendirilah yang karena demikian terpesona pada ajaran-ajaran Ibrahim, kemudian rela melepaskan segala atributnya sebagai putri Raja agar dapat hidup bersama Ibrahim di tengah-tengah keluarga sang Nabi.

Targum berisi kitab-kitab sejarah dan kitab Para Nabi. Kebiasaan membacakan Kitab Suci kepada jemaat di synagoge dengan diikuti uraian secara lisan dalam bahasa Aram (atau bahasa Ibrani) mulai berkembang pada abad-abad akhir Sebelum Masehi. 

Sebab sejak masa pembuangan, bahasa Ibrani atau bahasa Aram makin kurang populer sebagai bahasa sehari-hari para penuturnya sendiri, sehingga tiap kali kitab-kitab suci umat Yahudi dibacakan kepada mereka, perlu dilengkapi dengan tafsiran teks dari kitab-kitab tsb dalam bahasa yang sungguh-sungguh mereka fahami. Rabbi yang bertugas untuk memberikan uraian lisan ini disebut methurgeman (penerjemah atau penafsir) sedangkan uraian sang methurgeman disebut Targum.

Rabbi Salomon bin Ishak menyebutkan: Hagar adalah puteri dari “Firaun”, karena pada masa itu belum ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya Dinasti Fir'aun pernah "disela" selama lebih kurang 160 tahun oleh Dinasti Raja-Raja Hyksos yang menundukkan kekuasaan Dinasti Firaun. 

Pada kisah yang sama dalam Bibel dan Al-Quran, kitab yang disebut belakangan menuliskan bahwa pada jamannya, Nabi Yusuf AS berhadapan dengan Malik, bukan Fir’aun. 

Raja berkata "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus." (QS. Yusuf:43)

Perhatikan, Al-Quran dengan jelas menyebutkan bahwa yang berkata dalam ayat tsb adalah Raja, atau Al-Malik. Bukan Fir'aun. Sedangkan pada jaman lain, Nabi Musa AS dalam Al-Quran disebut berhadapan dengan Firaun. 

Dan Fir'aun berkata: "Datangkanlah kepadaku semua Ahli-ahli sihir yang pandai! Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: ‘Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan." (QS. Yunus:79)

Perhatikan pula bagaimana jelasnya Al-Quran menyebut nama Raja dengan siapa tatkala itu nabi Musa AS sedang berhadapan. 

Bandingkan dengan Bible yang sama sekali tidak mengenal Penguasa Mesir Kuno selain daripada Dinasti Fir’aun. Nama Raja dalam kisah dari dua jaman berbeda dan dua Dinasti Raja yang berbeda di atas sama-sama disebut sebagai Firaun. Padahal fakta sejarahnya tidak demikian. Sebagai contoh, perhatikan buktinya dari ayat-ayat berikut:

[Kejadian 41:4] Lembu-lembu yang buruk bangunnya dan kurus badannya itu memakan ketujuh ekor lembu yang indah bangunnya dan gemuk itu. Lalu terjagalah Firaun.

[Keluaran 7:11] Kemudian Firaun pun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan merekapun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka.

Bagi umat Islam tentu tidak perlu bukti pendukung tentang Dinasti Fir'aun, Penguasa Mesir Kuno yang pernah digantikan oleh Dinasti Raja-Raja Hyksos selama 160 tahun. Tetapi bagi non-Muslim tentu saja dibutuhkan rujukan arkeologis. Dan inilah bukti yang dibutuhkan tsb!
Rahasia membaca tulisan Mesir kuno Hieroglyph, pada akhirnya berhasil dipecahkan oleh Jean Francois Cahampollion (1780 - 1832). Dengan terbacanya hieroglyph, maka terkuaklah sejarah Mesir Kuno dengan sejelas-jelasnya, antara lain Hyksos (Al-Malik = Raja Gembala) dari Kan'an pernah menaklukkan Mesir dan menumbangkan Dinasti Fir'aun.

Dari tulisan Hieroglyph tsb kemudian diketahui pula bahwa dinasti Hyksos menguasai Mesir selama kurang lebih 160 tahun (1700-1550) sebelum Miladiyah. Dinasti Raja-Raja Hyksos, sebagai dinasti ke XV dan ke XVI penerus raja-raja Mesir sebelumnya mendapatkan legitimasinya berdasarkan catatan Hieroglyph yang tertera pada Daftar Penguasa Mesir di Turin, yaitu situs kuno yang terletak sekitar tepi danau Manzala di mana terdapat reruntuhan kota Tanis. Kota ini pernah menjadi kota pelabuhan yang makmur pada masanya, dan tidak jauh dari situs ini terletak situs Avaris, bekas markas angkatan perang yang dibangun oleh Hyksos, Raja Gembala atau Raja Tanah Atas.

Peninggalan arkeologis bertuliskan aksara Hieroglyph yang ditemukan di Turin tsb mencatat bahwa dalam daftar Penguasa Mesir; The Hyksos, atau The Shepherd Kings yang memerintah sejak 1730 s.d 1580 SM menginvasi Mesir dan berhasil menundukkan dinasti Firaun ke XV sekaligus menggantikannya dengan dinasti Hyksos yang dimulai dari Raja Salitis, dilanjutkan oleh penerusnya Bnon – Apachnan (Khian) – Khamudi 16th Dynasty AnatHer – UserAnat – Semqen – Zaket – Wasa – Qar - Pepi III – Bebankh – Nebmaatre – Nikare II – Aahotepre – Aaneterire – Nubankhre – Nubuserre – Khauserre – Khamure – JacobEl – Yakbam – Yoam – Apophis (Auserre Apepi) - dan berakhir pada dinasti Amu, yang dikalahkan oleh Ahmose pada 1580 SM.

Disebutkan pula bahwa pernah terjadi suatu rentang waktu di mana penguasa Mesir Kuno tidak bergelar Fir'aun (Per-Ah, Phar-Aoh) melainkan Raja (dalam Al-Quran disebut Al-Malik). Jadi, dokumen Hieroglyph di situs Turin tsb menunjukkan bukti kebenaran dan mu'jizat Al-Quran yang sebelumnya tidak diketahui, karena hieroglyph baru dapat dibaca dan dimengerti pada tahun 1824 atas jasa Jean Francois Champollion (1780 - 1832).

Sebagai catatan, dinasti Hyksos dari kaum Al 'Ibriyah Al Qadimah menerima kedatangan kepala kaum Al 'Ibriyah Al Jadidah, yaitu Nabi Ibrahim AS yang berkunjung ke Mesir. Nabi Ibrahim AS diterima dengan sangat baik oleh Salitis, Raja pertama dari Dinasti Hyksos, karena bangsa Hyksos berasal dari kaum 'Ad yang bernabikan Nabi Hud AS. Selain Nabi Ibrahim AS diperlakukan dengan baik sebagai tamu oleh Salitis, sang Raja bahkan menikahkan putrinya, yaitu Hajar (Hagar) dengan Nabi Ibrahim AS. Bangsa Hyksos ini adalah bangsa yang merubuhkan hampir seluruh kuil tempat menyembah dewa-dewa Mesir Kuno. 

Ini diberitakan oleh JOSEPHUS yang mengutip MANETHO: 
"By main force they easily overpowered the rulers of the land, and they razed to the ground the temples of gods." 

Manetho, juga dikenal sebagai Manethon dari Sebennytos, adalah seorang sejarawan Mesir dan tokoh agama dari Sebennytos (Jaman Mesir purba disebut: Tjebnutjer) yang hidup pada zaman Periode Parsi Kedua. 

Dalam Bible, status Hagar disebutkan sebagai berikut:

KJVR-Gen 16:3 And Sarai Abram's wife took Hagar her maid the Egyptian, after Abram had dwelt ten years in the land of Canaan, and gave her to her husband Abram to be his wife. 

[Terjemahan LAI: Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, -- yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya]. 

Ini adalah di antara sedikit sisa-sia Biblos yang masih asli, yaitu penegasan bahwa Hagar adalah isteri Abraham. Yang termasuk Israiliyat adalah her maid the Egyptian, maksudnya Hajar adalah orang Mesir pelayan Sarah. Ini Israiliyat yang berbau rasialis. Karena Hajar bukan Bani Israil maka derajatnya pun direndahkan sampai sedemikian rupa!

KESIMPULANNYA, BIBEL TELAH MEMALSUKAN SEJARAH! 
Padahal yang benar adalah: Ibrahim telah dinikahkan dengan Hajar puteri Raja Mesir Salitis dari Dynasty Hyksos. [The Hyksos (The Shepherd Kings) 1730 - 1580 BC invaded Egypt, and conquered the Pharao Dynasty].

Jadi, demi upaya mempertahankan pembenaran yang salah, maka segala daya upaya pun dilakukan, terutama untuk menyesatkan umat manusia!


Referensi:
Hagar, Jewish Midras & Aggadah (Jewish Womwn's Archive) 


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]

Akal Akalan Yahudi Yang Dimanfaatkan Oleh Kristen

ABRAHAM DAN PERINTAH SUNAT
DALAM BERBAGAI DISKUSI lintas agama, khususnya antara Islam dan Kristen, soal ritual khitan (sunat) sering dimunculkan oleh umumnya kaum Muslim adalah pertanyaan tentang mengapa ajaran Kristen tidak lagi mementingkan sunat sebagaimana yang diajarkan dalam Perjanjian Lama, sebagai suatu tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham dan keturunannya sampai kepada Yesus Kristus? Sebab sebagai pengikut Yesus, umat Kristen seharusnya juga melaksanakannya.

Sebaliknya, sanggahan yang umumnya diberikan oleh Kristen adalah bahwa sunat hanya diwajibkan bagi Abraham dan keturunannya (atau kemudian dipersempit lagi menjadi hanya untuk umat Yahudi sesuai alkitab Perjanjian Lama), sedangkan mereka sebagai orang non-Yahudi tidak terkena kewajiban tersebut, ini juga berdasarkan alkitab Perjanjian Baru, sesuai dengan ajaran yang disampaikan Paulus.

Kisah tentang asal-muasal kewajiban sunat bersumber dari Kitab Kejadian pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) yaitu ketika menceritakan kisah keluarga Abraham.

Dalam kronologis ceritanya, dimulai kitab Kejadian 12 ketika Tuhan berfirman memerintah Abraham (ketika itu masih bernama Abram) untuk pergi dari negerinya ke suatu tempat yang akan ditunjuk Tuhan, di situ Tuhan sudah mulai memberikan janji kepada Abraham:

[Kejadian 12:2] Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

[Kejadian 12:7] Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu."

Berdasarkan dari apa yang dijanjikan Tuhan tersebut, kita bisa melihat kata ‘bangsa’ dan ‘negeri’, ini bisa diartikan ‘kekuasaan untuk memerintah’ atau bisa juga diartikan ‘dominasi untuk mendiami suatu wilayah’, jadi Tuhan telah menjanjikan Abraham bahwa kelak dia dan anak keturunannya akan berdiam dalam suatu wilayah, berkuasa, mempunyai kesempatan mencari nafkah dengan mengelola wilayah tersebut. Namun terlihat ini masih merupakan janji ‘sepihak’ dan belum berbentuk perjanjian.
PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-1
Dalam Kejadian 13 sekali lagi Tuhan menyatakan janji kepada Abraham:
[Kejadian 13:14] Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan,
[Kejadian 13:15] sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.
[Kejadian 13:16] Dan Aku akan menjadikan keturunanmu seperti debu tanah banyaknya, sehingga, jika seandainya ada yang dapat menghitung debu tanah, keturunanmupun akan dapat dihitung juga.
[Kejadian 13:17] Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu."

Di sini janji Tuhan mulai lebih terperinci:

  1. Wilayah tersebut terbentang "sejauh mata memandang" dari posisi Abraham pada waktu itu (tanah Kanaan, sesuai Kejadian 13:12)
  2. Jumlah keturunan Abraham "seperti debu tanah banyaknya’"
  3. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dijalani (disinggahi) oleh Abraham.

Namun sampai di sini kita masih bisa menyebutnya sebagai "janji sepihak" dan belum berupa perjanjian. Perjanjian antara Tuhan dengan Abraham baru disebut secara jelas pada Kejadian 15, setelah Tuhan memerintahkan Abraham untuk menyampaikan beberapa korban dan menjelaskan nasib yang akan diterima anak keturunan Abraham kelak, lalu dibuatlah perjanjian:

[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:
[Kejadian 15:19] yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon,
[Kejadian 15:20] orang Het, orang Feris, orang Refaim,
[Kejadian 15:21] orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu."

Jadi perjanjian antara Abraham dengan Tuhannya adalah dengan tanda perjanjian berupa pengorbanan binatang lembu, kambing, domba dan burung (Kejadian 15:9)

PERJANJIAN TUHAN DENGAN ABRAHAM JILID-2
Sampai di sini kronologis ceritanya sangat runtut dan logis. "Kekacauan" alur cerita terjadi pada kisah selanjutnya. Setelah diselingi kisah keluarga Abraham, yaitu antara istrinya Sarai dan "budak" perempuannya Hagar pada Kejadian 16, cerita soal perjanjian antara Tuhan dengan Abraham muncul lagi pada Kejadian 17.

[Kejadian 17:2] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak."

Rupanya Tuhan merasa perlu untuk mengulang perjanjian yang sudah diadakan sebelumnya, dalam perjanjian JILID-2 ini tercantum "hak dan kewajiban" kedua-belah pihak:

[Kejadian 17:4] "Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.
[Kejadian 17:6] Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
[Kejadian 17:7] Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.
[Kejadian 17:8] Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka."

Hak dan kewajiban Tuhan kelihatannya banyak mengulang kembali dari apa yang terdapat pada perjanjian JILID-1, cuma di sini terlihat ada yang "menyempal" yaitu ayat Kejadian 17:8, yang menyebut khusus tanah Kanaan, berbeda dengan perjanjian sebelumnya yang menyebut wilayah yang lebih luas. Mengapa terjadi perubahan? Kita bisa melihat kelanjutan ceritanya begini:

[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!"
[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Sarailah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
[Kejadian 17:20] Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.
[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga."

REKAYASA HAK PERJANJIAN ISMAEL DAN ISHAK
Ooo..ternyata rupanya ini menyangkut Ismail dan Ishak! Terlihat jelas adanya upaya "penggiringan" cerita untuk mengeluarkan Ismail dari perjanjian JILID-1 dengan membuat perjanjian JILID-2, dan ini terkait dengan penguasaan tanah Kanaan tempat di mana mayoritas bangsa Yahudi berdiam. Ini diperkuat lagi dengan adanya ayat lain pada kitab Keluaran:

[Keluaran 2:24] Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub.

Setelah menggiring hak perjanjian tersebut kepada Ishak dan menyingkirkan Ismail, maka "giringan" selanjutnya adalah kepada Yakub anak Ishak dan menyingkirkan saudara kembar tuanya Esau. Pihak Kristen di sini memberikan alasan bahwa pembatalan perjanjian tersebut karena Esau dikatakan "tidak menghargai" perjanjian tersebut. Dalam Kejadian 25 dan 27 digambarkan hak tersebut dicabut dari Esau justru karena dia ditipu 2 kali oleh Yakub. Dengan giringan tersebut maka lengkaplah dasar "konstitusional" dari anak keturunan Yakub untuk memonopoli tanah Kanaan dan kebenaran ajaran Abraham!

Berbeda dengan perjanjian sebelumnya, perjanjian JILID-2 ini dikukuhkan dengan tanda yang lain, yaitu "sunat" atau khitan.

[Kejadian 17:9] Lagi firman Allah kepada Abraham: "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun.
[Kejadian 17:10] Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat;
[Kejadian 17:11] haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu.

Posedur sunat diterangkan sangat jelas, menyebutkan mana bagian yang harus dipotong, siapa saja yang harus disunat, umur berapa harus disunat, dan apa konsekuensinya jika tidak disunat:

[Kejadian 17:12] Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.
[Kejadian 17:13] Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.
[Kejadian 17:14] Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku."

Isi perjanjian JILID-2 ini ternyata banyak menimbulkan pertanyaan, seperti di antaranya:

  1. Kewajiban sunat yang ditujukan pada "kamu dan keturunanmu, berada di antara kamu" menjadi kontradiksi dengan pengecualian kepada Ismail, apakah Ismail termasuk di dalamnya atau tidak? Di sini kelihatan seolah Tuhan tidak cermat dalam membuat perjanjian, dan ternyata Ismail "katut" alias ikutan disunat juga (Kejadian 17:23, dan Kejadian 17:25), para netters Kristen berdalih bahwa ketika sunat tersebut dilakukan, kebetulan Ismail berada dalam rumah, maka sesuai perjanjian harus ikut disunat sekalipun tidak termasuk dalam perjanjian, artinya di sini memakai satu ayat dan membuang, atau mengabaikan ayat yang lain, padahal dua-duanya berasal dari Tuhan.
  2. Memasukkan kalimat "dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu, orang yang engkau beli dengan uang" ke dalam perjanjian. Apakah artinya mereka dan keturunan mereka juga termasuk keluarga Abraham dan diberi hak atas tanah Kanaan? Menurut penafsiran salah seorang netters Kristen, para orang yang dibeli tersebut tidak punya hak, mereka disunat karena kebetulan berada dalam rumah Abraham dan menjadi "property"nya. Penafsiran ini juga terlihat berbenturan dengan janji Tuhan yang ada pada Kejadian 17:7 yang sama sekali tidak menyentuh adanya orang di luar Abraham dan keturunannya (harap diingat, dalam perjanjian JILIOD-2 tersebut sudah jelas disebut adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak).
  3. Penyebutan ketentuan waktu disunat umur 8 hari juga menimbulkan masalah, apakah sunat bagi si bocah merupakan tanda perjanjian antara dia sendiri dengan Tuhan, atau antara orang-tuanya dengan Tuhan, mengingat si bocah masih belum mengerti mengapa "burungnya" dipotong. Bagaimana kalau ternyata si bocah setelah besar dan mengerti tidak mau ikut perjanjian (seperti kasus Esau) misalnya? Ada pendapat menarik dari netters Kristen di sini yang menyatakan itu adalah tanda perjanjian antara orang-tuanya dengan Tuhan. Di sini juga muncul pertanyaan: Bagaimana halnya dengan orang-tua yang tidak punya anak laki-laki? Apakah perjanjian tersebut bisa dilakukan tanpa tanda yang sudah disyaratkan? Ada yang menjawab bahwa bagi keluarga yang tidak punya anak laki-laki, ya, tidak perlu adanya tanda sunat. Tapi bukankah dengan demikian syarat perjanjian tersebut lagi-lagi tidak terpenuhi (ingat adanya hak dan kewajiban kedua-belah pihak yang tertulis secara jelas).

KOMPLIKASI di atas menunjukkan adanya keanehan pada perjanjian tersebut yang "dinyatakan" sebagai Firman Tuhan. Sebab, mustahil Tuhan akan menyatakan hal-hal yang membingungkan dan saling "tembak-menembak" di antara kata-kata-Nya sendiri.

TUHAN RAGU-RAGU 
Cerita tentang perjanjian ini ternyata juga "tidak nyambung" dengan cerita selanjutnya:

[Kejadian 18:10] Dan firman-Nya: "Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki." Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya.
[Kejadian 18:11] Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
[Kejadian 18:12] Jadi tertawalah Sara dalam hatinya, katanya: "Akan berahikah aku, setelah aku sudah layu, sedangkan tuanku sudah tua?"

Ternyata Sara tidak tahu tentang firman Tuhan sebelumnya yang menginformasikan dia akan mempunyai anak yang dinamai Ishak (Kejadian 17:19), apakah Firman Tuhan tersebut ditujukan hanya kepada Abraham dan beliau tidak memberitahukannya kepada istrinya?

[Kejadian 18:17] Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?
[Kejadian 18:18] Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?
[Kejadian 18:19] Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya."

Melalui kalimat yang LUCU karena menggambarkan Tuhan yang terlihat bimbang, kita diinformasikan bahwa ternyata Abraham-pun juga merasa heran ketika diberitahu bahwa istrinya Sara akan melahirkan anak di hari tuanya. Kesan yang muncul sekitar perjanjian JILID-2 ini adalah cerita tersebut dikarang belakangan dan disisipkan. Seandainya Kejadian 17 kita hapus semuanya, maka cerita antara Kejadian 15, 16 dan 18 terlihat "masih agak nyambung".

Maka marilah kita mencoba meneliti sumber informasinya. Kitab Kejadian terdapat dalam Perjanjian Lama khususnya dalam 5 Kitab Musa [pentateuch] atau yang biasa disebut Taurat yang pada mulanya dipercayai ditulis nabi Musa AS. Namun dalam perkembangan selanjutnya -- bahkan para ahli Alkitabpun tidak lagi mempercayai ini -- sekalipun dalam 5 kitab tersebut dinyatakan memang ada yang berasal dari ajaran nabi Musa.

Hal ini tidak perlu diceritakan panjang lebar karena sudah banyak disampaikan orang, mari kita mengambil intinya saja bahwa: Kitab Kejadian merupakan tulisan dari kaum Yahudi, jauh setelah jaman Musa dan sekalipun banyak juga bersumber dari ajaran nabi tersebut, namun tidak sedikit yang berasal dari karangan para Rabi Yahudi yang tentu saja dipengaruhi oleh situasi sosial politik pada saat karangan tersebut dibuat. Termasuk di sini perilaku para pemuka agamanya. Adapun mengenai bagaimana karakter umat Yahudi sesudah kematiannya, nabi Musa sendiri sudah meramalkan:

[Kejadian 31:26] "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau.
[Kejadian 31:27] Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati.
[Kejadian 31:29] Sebab aku tahu, bahwa sesudah aku mati, kamu akan berlaku sangat busuk dan akan menyimpang dari jalan yang telah kuperintahkan kepadamu. Sebab itu di kemudian hari malapetaka akan menimpa kamu, apabila kamu berbuat yang jahat di mata TUHAN, dan menimbulkan sakit hati-Nya dengan perbuatan tanganmu."

SIAPA YANG DIUNTUNGKAN DARI REKAYASA INI?
Ramalan nabi Musa terhadap umatnya tersebut jelas terkait dengan kekhawatiran beliau terhadap Taurat. Di sini kita bisa bertanya: Siapakah yang sebenarnya akan mengambil keuntungan besar dengan adanya perjanjian JILID-2 ini? Jawaban yang lugas tentulah YAHUDI!

Cerita soal perjanjian JILID-2 tersebut kelihatannya sengaja dikarang untuk "melegalisir" monopoli Yahudi terhadap kebenaran ajaran Abraham melalui perjanjiannya dengan Tuhan, namun disajikan dengan kurang cermat sehingga menimbulkan kesan tambal-sulam.

Dan ini pada awalnya justru menyulitkan para pengikut Yesus Non-Yahudi. Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat serangan "Yahudi-sunat" ini kepada pengikut Yesus tentang monopoli kebenaran berdasarkan Taurat (Yesus menyatakan bahwa keberadaan beliau bukan untuk melenyapkan ataupun merubah hukum Taurat, dan memastikan tidak satu iota-pun dari Taurat yang akan hilang):

[Kisah 15:1] Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."

Ini menunjukan Yahudi "memperalat" sunat untuk menunjukkan monopolinya terhadap ajaran Taurat dan secara gamblang menyatakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Yahudi yang sudah menggenggam hak monopoli perjanjian Tuhan dengan Abraham.


PAULUS YANG KEBABLASAN
Paulus sebagai orang yang sedang giat-giatnya mempromosikan ajaran Kristen terhadap Non-Yahudi, tentu saja merasa terhambat dan terhalangi oleh adanya pernyataan ini. "Target market" Paulus adalah orang Yunani dan Romawi yang dari sononya memang "takut" disunat, dan pernyataan Yahudi ini akan bisa membuat ajaran yang disodorkannya tidak laku dan tidak dibeli orang, dan Paulus bakalan bangkrut! Maka dia pun kemudian mengeluarkan penafsirannya tentang sunat, diantaranya ada pada Roma 5. Intinya dia menyatakan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh sunat atau tidak sunat (ini sebenarnya banyak kemiripan dengan ajaran Islam) namun penafsiran selanjutnya terlihat mengarah menjadikan Yesus sebagai penyelamat, dengan dasar argumentasi yang rumit mengaitkan antara "iman kepada Yesus dengan nilai suatu perbuatan"

[anda dapat menyimak tulisan sdr. Amor yang dengan sangat baik menyampaikan "‘pelintiran" Paulus soal iman dan perbuatan terkait dengan sunat Abraham ini di sini]

"Titik ekstrim" Yahudi yang menyatakan keselamatan terkait dengan pelaksanaan hukum Taurat dibalas dengan "titik ekstrim" lainnya dari Paulus yang menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada iman kepada Yesus. Saking berapi-apinya, Paulus pun menyampaikan ancaman ini:

[Galatia 5:2] Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
[Galatia 5:3] Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
[Galatia 5:4] Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

Ini terlihat sebagai suatu ajaran yang kebablasan dan menyulitkan penganut Kristen di jaman modern ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan ternyata memberikan bukti sunat sangat baik bagi kesehatan. Maka ini menjadi buah simalakama bagi umat Kristen yang ingin bersunat dengan alasan kesehatan karena takut "kualat" seperti yang diancam oleh Paulus.

Pada waktu itu bantahan-bantahan Paulus memang banyak ditujukan kepada ajaran Yahudi karena memang Islam belum muncul. Ketika ajaran Islam mulai diajarkan oleh nabi Muhammad SAW dan isinya banyak mengkoreksi, baik ajaran Yahudi maupun Kristen, maka "moncong senjata" pun dialihkan.

Yahudi dan Kristen yang tadinya "gontok-gontokan" soal keyakinan masing-masing seakan-akan menemukan musuh bersama yang membuat mereka terlihat kompak kembali. Dan yang paling seru adalah bahwa urusan sunat yang tadinya menjadi "senjata andalan" Yahudi dalam menghadapi Kristen justru banyak dijadikan oleh umat Kristen untuk menyerang Islam.

Perjanjian JILID-2 yang menyingkirkan Ismail yang dalam ajaran Islam merupakan nenek moyang kaum Quraisy, sukunya nabi Muhammad SAW, digunakan untuk menyatakan bahwa ajaran Islam "tidak punya tempat" dalam sejarah perkembangan ajaran Tuhan.

Kristen di satu sisi menentang sunatnya, tapi di lain pihak mengakui perjanjiannya. Dan agar mereka dapat berada di posisi aman dalam kasus ini, maka ajaran Paulus soal sunat pun digunakan dengan penafsiran yang penuh dengan gaya AKROBATIK!

Tidakkah rekayasa ayat-ayat alkitab ini selalu menarik untuk disimak?
Wallahu 'alam bis shawab.


[Sumber: answering-ff.org | Panda]

Seputar Kebohongan Alkitab Tentang Kisah Keluarga Abraham


Judul di atas sengaja disuguhkan untuk membuktikan bahwa "Taurat" yang sekarang adalah Taurat yang sudah dirombak oleh tangan-tangan Bani Israel. Namun demikian, di sini hanya disuguhkan 2 contoh saja, sekedar untuk membuktikan bahwa "Taurat" sekarang sudah benar-benar dirubah dan ditambah!

Sebelum terlalu jauh, ada baiknya kita lihat dulu Kitab Kejadian berikut ini:

16:16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.

21:5 Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya.

25:9 Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia (Abraham) dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre,

Dalam Kejadian 16, disebutkan Ismail lahir ketika Abraham berumur 86 tahun. Sedangkan dalam Kejadian 21, Ishak lahir ketika Abraham berumur 100 tahun. Ini berarti selisih usia antara Ismail dan Ishak adalah 14 tahun. Dalam Kejadian 25, Ismail dan Ishak secara bersama-sama menguburkan bapaknya, Abraham.

Jika anda sudah cukup memperhatikan catatan di atas, maka marilah sekarang kita perhatikan tela'ah alkitabiah berikut ini:

PERISTIWA TERBENTUKNYA SUMUR ZAM-ZAM
Menurut catatan Alkitab dalam Kitab Kejadian 21:8-13, setelah menyapih Ishak, yang berarti Ismail berusia sekitar 16 tahun, Sarah cemburu dengan Ismail ketika melihat ia bermain bersama Ishak. Kemudian, ia meminta agar Abraham membuang Hagar dan Ismail. Abraham konon merasa tertekan dengan permintaan ini, tetapi Allah meyakinkan Abraham bahwa ia harus mengikuti permintaan Sarah. Kisah Alkitab kemudian dilanjutkan dalam Kitab Kejadian berikut ini:

[Kejadian 21:14-19 - DRB 1582 & KJV 1611]."Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah dia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan peganglah erat-erat dengan tanganmu, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum."

Dalam kutipan di atas, cetak tebal ditambahkan untuk frasa-frasa kunci yang mengilustrasikan kemustahilan catatan Kitab Kejadian mengenai Ismail yang berusia 16 tahun pada saat itu. Hagar dengan berbagai cara harus memperlakukan Ismail dengan cara:

  • meletakkan Ismail, roti dan sekirbat air di atas bahunya
  • membuang Ismail ke bawah semak-semak (membaringkannya)
  • mengangkat Ismail dari tempat ia terbaring dan memegang erat-erat Ismail dengan tangannya.

Tindakan Hagar di atas, mana mungkin dilakukan untuk anak berusia 16 tahun? Tindakan seperti itu hanya mungkin dilakukan terhadap seorang balita yang belum disapih dan belum bisa berjalan. Padahal sebelumnya, Ismail sudah bisa bermain bersama dengan Ishak (lihat Kejadian 21:9), yang berarti Ismail sudah cukup besar dan mampu mengasuh adiknya.

Perhatikan juga nama tempat yang tertulis dalam Taurat adalah Bersyeba, padahal peristiwa tersebut terjadi di lembah Baka/Mekah. Tidak ada bukti sama sekali bahwa peristiwa tersebut terjadi di Bersyeba (Palestina dan sekitarnya), tetapi bukti-bukti itu justru dapat dilihat di Baka/Mekah, yaitu Bukit Shafa dan Marwah, dan Sumur Zam-Zam. Oleh karena Ismail, semenjak diungsikan hingga wafatnya adalah di kota Baka/Mekah.

Ketika itu, Ismail memang masih bayi yang baru beberapa hari dilahirkan. Untuk menghindari kecemburuan Sara, istri pertama Abraham, Allah memerintahkan Abraham untuk mengungsikan Ismail dan ibunya, Hagar, ke lembah Baka/Mekah. Sesampainya di lembah Baka/Mekah, Abraham diperintahkan oleh Allah untuk kembali ke Palestina (Kanaan) menemui Sara dan meninggalkan Ismail dan Hagar di lembah tersebut. Beberapa saat kemudian, Ismail menangis kehausan dan segala persediaan sudah habis. Hagar pun harus mondar mandir antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali untuk mencari air dan tidak pula ia dapatkannya. Atas pertolongan Allah melalui malaikat Jibril, tiba-tiba muncullah mata air yang deras dari bawah kaki Ismail, dan Hagar pun berteriak kegirangan, "Zam Zam, Zam Zam!" Oleh karena itu, mukjizat Nabi Ismail ini sekarang dikenal sebagai Sumur Zam-Zam.

Indikasi peristiwa terbentuknya Sumur Zam-Zam di Baka/Mekah ini masih dapat ditemukan dalam Kitab Mazmur berikut ini:

84:5 (84-6) Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!

84:6 (84-7) Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.

Jelas sekali bahwa kisah di atas merupakan salah satu bukti telah terjadinya perombakan di dalam Taurat. Ismail yang berusia 16 tahun diperlakukan seperti bayi yang masih berumur 2 bulanan. Perombak Taurat tampaknya ingin menunjukkan seolah-olah Ishaklah kakak Ismail, oleh karena Ishak baru saja disapih yang berarti usianya sekitar 2 tahunan, sementara Ismail masih bayi (padahal usia Ismail sekitar 16 tahunan). Dengan demikian, perombak Taurat dapat mengarang kisah bohong selanjutnya seperti di bawah ini.

KISAH QURBAN DAN PENYEBUTAN ISHAK SEBAGAI ANAK TUNGGAL
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu." Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan." Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. (Kejadian 22:1-13).

Dalam kisah di atas, terdapat 2 kejanggalan besar, yaitu:

  1. Ishak disebut sebagai anak tunggal Abraham, padahal Ishak adalah adik Ismail.
  2. Usia Ishak baru saja disapih, tapi diperlakukan seperti anak berusia 16 tahun ketika akan disembelih Abraham.

Silahkan periksa kembali Kejadian 21 di atas. Di sana Ismail yang berusia 16 tahun diperlakukan seperti anak yang baru berumur 2 bulanan. Dengan dasar ini, perombak Taurat ingin menunjukkan seolah-olah Ishaklah kakak Ismail, karena Ishak baru saja disapih sementara Ismail masih bayi. Karenanya, mereka dengan konyol menyebut Ishak sebagai anak tunggal Abraham. Padahal, bukti-bukti Alkitab sendiri sudah jelas, bahwa Ismail adalah kakak Ishak!

Kejanggalan-kejanggalan di atas tampaknya diakibatkan oleh banyaknya tangan-tangan Bani Israel yang turut merombak, sehingga antara pasal yang satu dengan yang lain kelihatan tidak ada kesesuaian. Sangat mungkin, ketika mengumpulkan Taurat, mereka tidak meneliti sedemikian jauh sehingga kejanggalan itu tetap saja terlihat dengan jelas.

Umat Yahudi dan Kristen menganggap penyebutan Ishak sebagai anak tunggal Abraham adalah karena Ishak merupakan anak dari istri yang sah, yaitu Sara. Padahal, dalam Kitab Kejadian 16:3 dikatakan bahwa Abraham mengambil Hagar sebagai istrinya. Ini berarti, Hagar juga adalah istri sah Abraham. Suatu alasan yang tidak masuk akal! Sesungguhnya, alasan tersebut sengaja dibuat oleh Bani Israel oleh karena mereka iri/dengki bahwa yang menjadi penerus agama samawi, sebagaimana masih dapat terlihat dengan jelas dalam "Taurat dan Injil", adalah keturunan Ismail (Muhammad).

Dalam kisah versi Taurat di atas, peristiwa penyembelihan itu terjadi di Moria, padahal peristiwa tersebut sebenarnya terjadi di Mina.

Sekarang, marilah kita lihat kisah penyembelihan Ismail menurut Al-Qur'an (QS. 37:102-113):
[102] Maka tatkala anak itu (Ismail) sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".
[103] Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
[104] Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
[105] sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[106] Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[107] Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
[108] Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,
[109] (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".
[110] Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
[111] Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
[112] Dan Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan kelahiran Ishak, seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh.
[113] Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.

Lihat ayat 102, memang tidak tersebut nama Ismail, sebab memang tidak perlu, mengingat sudah demikian populernya Ismail di Mekah pada saat itu. Sebut saja, adanya situs-situs peninggalan Ismail berupa kuburan Ismail, Ka'bah, Hijir Ismail, Sumur Zam-Zam, dan Bukit Shafa dan Marwah, serta situs peninggalan Ibrahim, maqam Ibrahim. Tapi identifikasi Ismail ini tidak diragukan lagi, oleh karena pada ayat 112, Ishak baru dilahirkan. Jadi, anak tunggal pada waktu penyembelihan itu adalah Ismail, bukan Ishak sebagaimana tertulis dalam "Taurat" sekarang.

Jika masih penasaran ingin membuktikannya dengan bersandar pada penjelasan lebih detil dari Al-Qur'an, maka perhatikan jugalah yang berikut ini:

Ayat-ayat di atas memang tidak secara spesifik menuliskan nama anak yang dikorbankan Ibrahim as, namun bukan berarti tidak bisa diketahui "siapa" anak yang dimaksud.

Inilah ketinggian sastra Al Quran. Kendati namanuya tak disebut, namun makna yang hakiki dari ayat-ayat Al-Qut'an dimaksud tetap dapat diketahui.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, karena inilah kalimat kunci agar kita bisa mengetahui bahwa anak  Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail.

  • Pada ayat ke 112 Allah berfirman :

Di dalam ayat ini terdapat huruf   و (wauw) ‘Athf  litartibi wa litisholi, maknanya, huruf wauw yang menghubungkan dua peristiwa yang berbeda, secara berurutan sesuai tertib/urutan waktunya, yaitu peristiwa pertama tentang penyembelihan anak Nabi Ibrahim as yang telah dewasa yaitu Nabi Ismail as dan dilanjutkan dengan peristiwa kedua, yaitu kelahiran Ishaq as.

  • Dasar yang menetapkan bahwa anak itu Ismail as. adalah kalimat  عليه di ayat 113

kata  عليه  di sini adalah milik Nabi Ismail  dan bukan Nabi Ibrahim, mengapa demikian, karena pada kelanjutan ayat Allah berfirman : Dzurriyatihima

dhamir هِـمَا adalah milik Ismail dan Ishaq, karena mereka adalah saudara seayah, sehingga anak cucu mereka yang disebut Allah, bukan anak cucu Ibrahim dan Ishaq, karena keduanya adalah bapak beranak, jadi yang tepat adalah anak cucu Ibrahim dari putra beliau Ismail dan Ishaq.

Boleh jadi ada yang mempersoalkan bahwa dalam ayat 112 tidak ada kata ghulam atau maulid yang berarti kelahiran, tapi kata  بشّـر pada ayat ini merupakan bentuk musytarak, yakni satu kata yang memiliki banyak arti (Homonim).
Sama halnya denga kata المطهرون yang memiliki beberapa makna, antara lain:

  1. suci dari hadast
  2. suci dari najis
  3. orang yang belum batal wudhu
  4. orang beriman, bahkan
  5. berarti malaikat.

Kata BISA dalam bahasa Indonesia, mempunyai beberapa arti, yaitu:

  1. dapat
  2. racun

Demikian pula kata بشّـر memiliki 2 arti :

1. Kabar gembira biasa seperti tersebut di dalam Surat Al Baqarah 25
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Baqarah: 25) 

2. Kelahiran anak seperti Firman Allah di dalam Surat Az Zukhruf 17 dan An-Nahl:58
dan apabila salah seorang di antara  mereka diberi kabar gembira dengan apa * yang dijadikan sebagai misal bagi Allah yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan marah. (QS. Az-Zukhruf: 17) 

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (QS. An Nahl: 58)

Ibnu Katsier di dalam pengantar Tafsirnya mengatakan, bahwa sebaik-baiknya tafsir Alquran adalah mencari penjelasan dari ayat-ayat Al Quran itu sendiri.  


Coba perhatikan jawaban anak Nabi Ibrahim yang hendak dikorbankan itu pada ayat 102:
Ia menjawab: “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insya Allah ayah akan mendapatiku sebagai anak yang sabar ( من الصبرين )

Di dalam Alquran, nabi yang memiliki predikat khusus sebagai (الصبرينhanya 3 orang, yaitu:

  1. Nabi Ismail
  2. Nabi Idris
  3. Nabi Dzulkifli

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.  Al Anbiya’ 85

Jadi jelaslah, bahwa Alquran telah menunjukkan hujjah yang terang, bahwa anak Nabi Ibrahim as yang hampir disembelih adalah Nabi Ismail as.

Inilah bukti nyata, bahwasannya kita ummat Islam dituntut bersungguh-sungguh di dalam mempelajari Alquran, tidak seperti kebanyakan kita saat ini, Alquran hanya jadi penghias lemari buku, Alquran hanya sekedar dijadikan ajang lomba membaca. Alquran dibaca hanya saat Ramadhan tiba dan berlomba-lomba paling banyak tammat dalam sebulan.

Hal seperti itu boleh dan sah-sah saja, namun alangkah indahnya kalau selain kita baca, kita perdalam pula ilmu yang tersimpan di dalam ayat-ayat suci tersebut, agar kita tidak menjadi seperti yang disindir Allah di Q.S. Al Jumuah:

" Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, Kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. "

Perlu diketahui juga bahwa Ibrahim (Abraham) bukanlah seorang Yahudi ataupun Kristen. Perhatikan Firman Allah berikut ini (QS. 3:67-71):

[67] Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Kristen, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."
[68] Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.
[69] Segolongan dari Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.
[70] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).
[71] Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang hak dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?

Lihat ayat 67, bahwa Ibrahim (Abraham) bukanlah seorang Yahudi ataupun Kristen. Bagi orang awam mungkin kelihatan aneh. Bagaimana mungkin Abraham disebut Yahudi ataupun Kristen sementara Yehuda dan Yesus belum lahir? Ayat di atas diturunkan sekaligus untuk memberi jawaban kepada golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) pada waktu itu yang mengklaim Abraham sebagai golongan mereka (hingga sekarang).

Lihat juga ayat 68, bahwa nabi yang paling dekat dengan Ibrahim adalah Nabi Muhammad. Karena hanya umat Muhammad-lah yang senantiasa memuliakan nabi Ibrahim (Sholawat Nabi dalam setiap sholat).


[Sumber: Islam  Menjawab Fitnah]