Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Nabi Adam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nabi Adam. Tampilkan semua postingan

Di Manakah Adam Dan Hawa Diciptakan?

Anda yang beragama Abrahamik (Islam, Kristen atau Yahudi) boleh jadi ada yang pernah bertanya, dimanakah sesungguhnya Adam dan Hawa diciptakan? Di sorgakah, atau di bumi? Jika di sorga apakah sorga yang ini merupakan sebatas penggambaran tempat di bumi atau sorga yang sesungguhnya? untuk lebih memahaminya, mari kita simak uraian berikut ini.

Memastikan di mana tepatnya Adam dan Hawa diciptakan berdasarkan kitab-kitab suci bukanlah hal mudah. Hal ini karena kitab suci hanya memberi sedikit petunjuk dan bahasanya juga dapat diartikan berdasar multi tafsir. Pertama-tama yang harus diperhatikan disini adalah bahwa menurut pemahaman umum Islam, Adam dan Hawa diciptakan di sorga. Sedangkan menurut Kristen, Adam dan Hawa diciptakan di Bumi, yaitu di taman Eden (sorga Dunia). Antara sorga, Bumi dan Taman Eden tentu memiliki pemahaman dan pengertian bahasa yang beda pula. 

Berhubung ini adalah blog agama, maka mari kita coba memahami berdasarkan pemahaman agama baik Islam atau Kristen. Menurut pemahaman umum ajaran Islam, Adam dan Hawa diciptakan di sorga, yang setelah melakukan kesalahan maka mereka dibuang turun ke bumi. Konsep Islam bahwa Adam dan Hawa diciptakan di sorga dapat dipertanggungjawabkan melalui ayat-ayat Al-Quran sendiri. 

[QS 2:214] Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. 

Ayat Al-Quran diatas (yang berwarna dasar kuning) dengan jelas mengatakan bahwa untuk mencapai sorga perlu cobaan. Itulah mengapa jika Adam dan Hawa diciptakan di sorga, saat di sorga mendapatkan cobaan dari Allah. Lantas jika ada pertanyaan mengapa cobaannya di sorga? Mengapa tidak di bumi? 

Apa yang terjadi dengan Adam dan Hawa diatas hampir sama dengan apa yang dikatakan di Kitabnya orang Hindhu. Menurut Purana : Orang bijak mengutuk Lingga Siwa, jatuh kebumi dan membakar segalanya bagai api. Parwati berubah jadi Yoni dengan tenang memegang lingga kedalam Yoninya. Anda bisa membacanya lebih lengkap disini. 

Dalam terjemahan Al-Quran memang ada beberapa perbedaan pemilihan kata, misalnya dalam kalimat yang di terjemahkan dalam bahasa Indonesia tertulis “sorga” tetapi di terjemahan Inggis tertulis “Taman (Garden)”.

[QS 2:35] Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu sorga ini,

[QS. 02:35] 
Abdullah Yusuf Ali: We said: “O Adam! dwell thou and thy wife in the Garden;
M.M.W.Pickthal: And We said: O Adam! Dwell thou and thy wife in the Garden, 
M.H.Shakir: And We said: O Adam! Dwell you and your wife in the garden.......

Jadi pada dasarnya ada terjemahan yang mengartikan tempat hidup Adam dan Hawa pertama kali dengan sorga tapi ada yang sebatas Taman. Sebenarnya yang perlu diperhatikan di sini bukan sorga atau Taman, tapi kata “Turun”. Nah Kata Turun ini tentu merujuk dari tempat yang tadinya tinggi ke rendah. Sekarang mari kita lihat ayat lengkapnya sekali lagi:

[QS 2.38] Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari sorga itu! 

[QS. 2:38] 
Abdullah Yusuf Ali: We said: “Get ye down all from here;  
M.M.W.Pickthal: We said: Go down, all of you, from hence;

Yang berbahasa Inggris kalimatnya hanya sebatas menyuruh turun, sedangkan kata “sorga” tidak ditambahkan.

[7:24] Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian (Adam & Hawa), sebahagian kamu (Keturunan Adam & Hawa) menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan."

[7:25] Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.

Ada sebagian Muslim yang memahami kedua ayat di atas sebagai bukti Adam dan Hawa diciptakan di Bumi. Tetapi mari kita lihat lagi.

[QS 7:24] Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian (Adam & Hawa), Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan".

[QS 2:36] Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari sorga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."  

[QS 7:25] Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.

Kalau kita perhatikan kedua ayat di atas, kata “Turun” merujuk ke “Bumi”, seandainya Adam dan Hawa diciptakan di bumi mungkin kata “Turun” kurang pas. Kalau tercipta di bumi, lalu harus turun dari mana? apakah ini kata kiasan? Apakah turun dari gunung? Kata “Turun” dan “Bumi” seolah-olah mengindikasikan Adam datang ke Bumi dalam keadaan sudah tercipta dari tempat lain layaknya Avatar. Tetapi ada juga terjemahan yang tidak menulisnya sebagai "Turun". 

[QS. 2:38] M.H.Shakir: We said: Go forth from this (state) all; (pergi dari sini)

Sekarang coba kita baca dari segi penciptaan Alam Semesta: Katakanlah: Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa .. (QS. 41:9)

Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa .. (QS. 41:12)

Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. (QS. 41:10)

Dalam QS.  7:54 secara total Allah menciptakan alam semesta 6 masa. Bumi dalam QS 41:9 dalam 2 masa, dalam QS 41:12, penciptaan 7 langit dalam dua masa atau langit dan bumi bersamaan waktunya, yaitu 2 masa, dan kadar makanan dalam 4 masa sehingga total menjadi 6 masa. Jadi, ada kemungkinan kadar makanan tidak diciptakan secara serentak. Mana yang lebih dulu diciptakan? Tentu tujuh langit dan bumi dulu dan setelah itu kadar makanan. Di ayat ini tidak disinggung mengenai penciptaan manusia. 

[QS. 2:30] "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” 
[QS. 38:71] "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia (Khalifah) dari tanah." 
[QS. 2:30] Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"  

Ayat ini mengindikasikan bahwa harus ada yang mengelola bumi. Kata “menjadikan” mengandung banyak arti, bisa berarti “menciptakan” atau “mengutus”. Misalnya kalimat “menjadikan raja” itu berarti dia sebelumnya bukanlah berada di posisi (singgasana) raja yang setelah dijadikan raja dia menduduki singgasna raja (jadi seperti utusan). 

[QS 38:72-77] Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir. Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?" Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari sorga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk,

[QS.38:77] Abdullah Yusuf Ali: (Allah) said: “Then get thee out from here: for thou art rejected, accursed.
M.M.W.Pickthal: He said: Go forth from hence, for lo! thou art outcast,
M.H.Shakir: He said: Then get out of it, for surely you are driven away:

Sebenarnya agak susah memang untuk menyimpulkan apakah Adam dan Hawa diciptakan di sorga atau Bumi. Tapi ada satu petunjuk yang bisa kita simpulkan bahwa mereka diciptakan di sorga, yaitu lewat Kehadiran Allah dalam QS. 38:72-77 di atas, di mana menyiratkan semua berkumpul di tempat yang sama. Perhatikan ayat-ayat di atas, bahwa ketika Allah mengatakan "keluarlah" atau "turunlah", itu mengindikasikan bahwa Allah juga hadir disana. Nah itu lebih afdol jika Allah tetap disinggasana-NYA, Karena dalam pemahaman Islam Allah itu tetap di tempat-NYA, bukan sesekali naik ke Langit atau turun ke Bumi.

Mungkin ada sebagian dari anda yang bertanya, jika memang dari sorga dengan cara apa Adam dan Hawa diturunkan? Tentu ini mudah bagi Allah sang pencipta. Tetapi untuk lebih meyakinkan, anda pasti tahu kisah Isra Miraj, nah bisa saja Adam dan Hawa turun lewat cara itu atau mungkin dengan cara lain.

[QS 17:1] Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sekarang mari kita baca kisah penciptaan Adam dan Hawa menurut Al-Kitab Injil (Bible). Kisah penciptaan mereka bisa dibaca di Kitab Kejadian. Sebelumnya mari kita lihat ayat Kitab Kejadian dalam Kristen: 
  • [Kejadian I:3-5] Dikatakan bahwa cahaya diciptakan hari pertama
  • [Kejadian I:14-19] Dikatakan benda yang memancarkan cahaya, Bintang, Matahari diciptakan pada hari ke-4
(Bagaimana mungkin Penyebab cahaya diciptakan pada hari ke-4 dan cahaya diciptakan pada hari pertama?)
  • [Kejadian I:9-13] Dikatakan Bumi diciptakan pada hari ke-3
(Bagaimana mungkin ada siang dan malam tanpa tanpa Matahari “penyebab cahaya”. Tidak mungkin bumi ada dulu daripada Matahari)
  • [Kejadian I:11-13] Dikatakan Tumbuhan, Empon-empon, semak belukar, pohon, mereka ciptakan pada hari ke-3
(Bagaimana mungkin tumbuhan bisa hidup tanpa ada sinar Matahari)

Bisa kita lihat bahwa ayat-ayat tentang penciptaan di Alkitab Injil menimbulkan pertanyaan bahwa ayat-ayat diatas tidaklah ilmiah. Setelah hari yang ketujuh lah penciptaan Adam (manusia) dimulai, dimana bisa dibaca di Kitab Kejadian 2-4. Di bawah ini aku copykan beberapa ayat-ayat pokoknya saja.

[Kejadian 2:7-10] ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu. Ada suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang.

[Kejadian 2:11] Yang pertama, namanya Pison, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Hawila, tempat emas ada.

[Kejadian 2:13] Nama sungai yang kedua ialah Gihon, yakni yang mengalir mengelilingi seluruh tanah Kush.

[Kejadian 2:14] Nama sungai yang ketiga ialah Tigris, yakni yang mengalir di sebelah timur Asyur. Dan sungai yang keempat ialah Efrat.

[Kejadian 2:21] Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

[Kejadian 2:22] Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Nah dari semua ayat Kejadian diatas perhatikanlah bahwa Adam dan Hawa diciptakan di Taman Eden. Dimanakah Taman Eden itu? Anda bacalah nama-nama sungai didalamnya. Ada 4 sungai yang dicantumkan disana yaitu:
  • Pison di Hawila (Sekitar India)
  • Gihon di Tanah Kush ( Sekitar Pegunungan Hundhu Kush)
  • Eufrat di Asyur (Sekitar Irak)
  • Tigris di Asyur (Sekitar Irak)
Jadi bisa disimpulkan bahwa Taman Eden itu ada di suatu tempat melingkupi suatu daerah antara India, Pegunungan Hindhu Kush dan Irak. Nah percayakah ada Taman Eden di daerah tersebut? Taman Eden berarti Taman sorga dimana tak ada taman lain yang seindah dengannya. Tetapi apakah hal itu bisa dibuktikan secara keilmuan modern? Jika memang Taman Eden itu ada disana bukankah seharusnya kita bisa melihatnya sekarang meski hanya sisa-sisa? Dan bukankah sekarang ini banyak dijumpai tempat yang indah di bumi ini selain didaerah tersebut?

[Kejadian 2:9] Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Nah apakah benar ada pohon dari seluruh bumi terkumpul didaerah antara India, Hindhu Kush sampai Irak?

[Kejadian 3:17] Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

[Kejadian 3:23] Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.

Sebenarnya ada sebuah pertanyaan besar dari ayat Kejadian 3:17 ini, dikatakan: “ dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu”. Jika Adam dan Hawa diciptakan di Bumi bukankah mereka sudah mendapat rezeki dari tanah? Ayat ini seolah-olah memberitakan bawa selama di Taman Eden mereka tidak bersinggungan dengan hal-hal yang berbau tanah.

Seorang ahli filsuf dari Yunai yaitu Philo mengatakan tentang "original man," or "heavenly man," dimana dilahirkan dalam image atau gambaran Tuhan. Perkataan Philo ini mirip ayat Alkitab Injil sebagai berikut:

[Yakobus 3:9] Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,

Heavenly Man (Manusia sorga) itu merupakan penggambaran sempurna dari Logos atau sifat Ilahi yang tanpa gender sebagai ide atau Firman yang cerdas. Yang darinya kemudian lahirlah manusia Bumi.

Kisah “Heavenly Man” ini juga hampir mirip dengan kisah di Agama Hindhu yaitu “Purusa” meskipun tak sama persis. Purusa meliputi bagian-bagian dari para dewa (gambaran). Di Rigweda, Purusa digambarkan sebagai Raksasa Purba yang dikorbankan oleh para Dewa dimana dari tubuhnya tercipta dunia.

Lalu bagaimana kesimpulannya? Jika disuruh untuk memilih tentu kaum Muslim akan memilih versi Islam dan Kaum Kristen memilih versi Kristen. Tetapi ada satu hal mendasar bahwa dalam beberapa literatur Muslim dikatakan bahwa setelah Adam dan Hawa diusir dari sorga, mereka berdua diturunkan ke Bumi di daerah seperti yang tersebut dalam Alkitab Injil, yaitu sekitar India dan Arab atau Irak. 

[Sumber: Pak Wedul Sherenian | Islam Menjawab Fitnah]

Al-Quran, Tentang Adam Dan Tragedi Buah Khuldi


Mari kita simak informasi Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Thaahaa (20): 121-122: “Maka keduanya memakan dari pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun surga, Dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Tuhan memilihnya maka Dia menerima taubatnya Dan memberi petunjuk.”

Buah Khuldi dianggap sebagai biang keladi turunnya Adam dan Hawa dari surga. Seandainya Adam dan Hawa tak makan buah khuldi, niscaya mereka tidak akan diusir dari surga. Dan kita, semua keturunan adam, masih tetap tinggal di surga dengan segala kenikmatannya sampai kini.

Begitulah keyakinan sebagian besar kita (khususnya Kristen) tentang peristiwa di sekitar turunnya Adam dan Hawa dari surga. Setan menggunakan buah khuldi itu untuk menyesatkan Adam dan Hawa agar keduanya membangkang perintah Allah SWT.

Ada beberapa kontroversi yang muncul seputar turunnya Adam dan Hawa dari surga ini. Di antaranya adalah tentang buah khuldi yang ternyata tidak disebut secara eksplisit oleh Allah. Allah hanya menyebut pohon tersebut secara sepintas lalu tanpa menyebutkan nama. Nama ‘buah khuldi’ justru muncul dari istilah yang digunakan oleh setan ketika merayu Adam dan Hawa untuk memakannya. Itu pun tidak secara eksplisit menyebut buah, melainkan menyebut "syajaratul khuldi" alias ‘pohon keabadian’. Demikian ulasan Agus Mustofa dalam bukunya: Adam Tak Diusir dari Surga.

Pohon keabadian itulah yang memunculkan istilah buah khuldi. Padahal, kata ‘buah’ pun secara eksplisit tidak disebut dalam Al-Qur’an. Allah hanya mengatakan bahwa Adam dan Hawa memakan bagian dari pohon itu. Cuma karena kebiasaannya yang dimakan adalah buah, maka kebanyakan kita mempersepsikan sebagai buah khuldi. Di kalangan kawan-kawan yang beragama kristen malah digambarkan sebagai buah Apel.

Sebenarnya kalau kita cermati substansi ayat-ayat yang terkait dengan pohon khuldi, bentuk fisiknya tidaklah menjadi masalah penting. Yang lebih penting adalah LARANGAN Allah untuk mendekati pohon itu. Terbukti, Allah tidak menyebut nama pohon, kecuali hanya menyinggung sepintas lalu dengan sebutan ‘pohon ini’ (haadzihis syajarat). Dan bukan hanya sekali, melainkan beberapa kali. Termasuk setan pun hanya menyebut dengan ‘pohon ini’.

Munculnya istilah pohon khuldi itu, sekali lagi, karena kita sendiri yang menamakannya berdasarkan ‘rayuan setan’ kepada Adam. Dan yang menarik adalah, larangan Allah kepada Adam untuk mendekati pohon itu adalah karena Allah tidak menginginkan Adam menjadi orang yang zalim sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an:  “…dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al-A’raaf:19)

Jadi, kunci pemahaman atas pohon khuldi itu sebenarnya adalah kata ‘zalim’. Bahwa jika Adam dan Hawa mendekati atau apalagi memakannya, mereka bakal menjadi orang yang zalim. Dengan kata lain agar kita bisa memahami substansi pohon larangan itu, maka kita juga harus memahami makna kata zalim.

Kata zalim di dalam Al-Qur’an diulang-ulang oleh Allah dalam ratusan ayat. Tak kurang dari 200 ayat, dengan segala variasinya. Makna yang paling dominan adalah ‘melanggar perintah Allah’, kemudian diikuti dengan arti yang hampir sama seperti ‘menyekutukan Allah’, mengikuti yang selain Allah. Berbuat tanpa petunjuk Allah, '‘menentang peringatan Allah’, ‘mendustakan allah’, dan sebagainya.

Pada ayat yang lain,  Allah memberikan gambaran bahwa orang-orang zalim itu adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya tanpa memiliki ilmu pengetahuan tentangnya. Mereka adalah termasuk orang-orang yang tersesat dan tidak memperoleh petunjuk dari Allah.

Jadi substansi pohon larangan itu sebenarnya adalah UJIAN KETAATAN Adam dan Hawa. Fisik benda yang dilarang tidaklah menjadi hal penting, sebagimana tersirat dari cara Allah bercerita, yang tanpa menyinggung langsung materinya. Yang lebih penting adalah bahwa Allah menguji Adam dan Hawa dengannya, apakah mereka termasuk orang-orang yang taat kepada-Nya atau tidak.

Ketika Adam dan Hawa diperintahkan untuk tinggal di sorga, Allah memberikan fasilitas kenikmatan sesuai dengan kebutuhan dasar hidup mereka. Yaitu makanan, minuman dan pasangan hidup, sambil menguji mereka apakah fasilitas kehidupan surga itu membuat mereka lupa diri atau tidak. Allah hanya memberikan satu larangan saja, yang disimbolkan sebagai ‘pohon’.

Pohon itu menyimpulkan dua hal sekaligus. Yaitu makanan dan aurat. Karena itu perintah-Nya dikaitkan dengan kedua hal sekaligus. Awalnya, Allah mengatakan Adam dan Hawa boleh memakan apa saja yang ada di dalam surga, kecuali pohon itu. Allah memberikan gambaran tidak langsung bahwa larangan itu berkaitan dengan makanan.

Dan pada cerita selanjutnya, disebutkan bahwa memakan sebagian pohon itu bisa menyebabkan auratnya terbuka. Ini menyiratkan bahwa pohon itu tidak hanya mewakili larangan terhadap makanan, melainkan juga simbol hawa nafsu yang tersimpan di dalam diri setiap manusia.

Allah menegaskan bahwa di surga itu Adam dan Hawa tak akan kekurangan apa pun sebab selama masih berada di dalamnya, mereka dijamin tidak akan kekurangan makanan, minuman, atau pun pakaian. Mereka tidak akan telanjang. Juga tidak kepanasan. Artinya dari segi fasilitas, semuanya tersedia.

Maka, ketika Adam dan Hawa terbuka auratnya karena memakan pohon khuldi, tentu saja itu bukan karena di dalam surge sudah tidak ada fasilitas pakaian. Bukan! Tetapi lebih dikarenakan terjadi ‘transformasi kesadaran’ di dalam diri mereka tentang makna aurat.

Sebelum memakan pohon khuldi itu pemahaman mereka tentang aurat tidak sama dengan sesudah memakannya. Karena itu kalimat yang bercerita tentang aurat mereka itu bukan berbunyi “terbukalah” aurat mereka malainkan “tampaklah” begi keduanya aurat-auratnya. Hal ini menujukkan bahwa itu bukan proses fisik belaka, melainkan lebih bersifat transformasi kesadaran akan makna aurat. Tadinya tidak tampak, sekarang menjadi tampak. Adam menjadi ‘melihat’ aurat Hawa. Demikian pula sebaliknya, Hawa menjadi bisa ‘melihat’ aurat Adam. Padahal, tadinya mereka tidak melihatnya sebagai aurat.

Jadi, hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa keterbukanya aurat Adam dan Hawa itu lebih kepada keterbukaan persepsi mereka atas sesuatu yang memalukan, sesuatu yang seharusnya disembunyikan kepada lawan jenisnya. Adam menjadi malu kepada Hawa, dan Hawa demikian pula sebaliknya. Sehingga mereka menutupinya dengan daun-daun surga.


[Oleh: Ir. Rony Ardiansyah, MT, IP-U. | Peminat Sains Qur’an, Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR]

Al-Quran, Tentang Adam, Iblis, Dan Dosa Manusia


Dengan memetik ayat surah Al-A'raf, kemarin malam seorang ngeyeler kristen berinisial Theos An-Nar menulis di salahsatu forum dialog lintas agama begini:

Post terakhir untuk didiskusikan hari ini:
Apakah kau bisa menjelaskan padaku, apa maksud dari ayat Alquran ini:

QS 7:20
fawaswasa lahumaa sysyaythaanu liyubdiya lahumaa maa wuuriya 'anhumaa min saw-aatihimaawaqaala maa nahaakumaa rabbukumaa 'an haadzihi sysyajarati illaa an takuunaa malakayni aw takuunaa mina lkhaalidiin.

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".

PERHATIKAN KALIMAT INI --- > " ... melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)."

Ada yang mau diskusi tentang hal ini?

  1. Adam dilarang oleh Allah memakan buah itu karena apa menurut Allahmu?
  2. Godaan Iblis adalah supaya Adam menjadi hidup kekal di dalam surga, maka setelah Adam mendengar godaan iblis itu, maka seharunya Adam hidup kekal di surga. Lalu kenapa Adam bisa mati akhirnya dalam penceritaan Adam dan Hawa di surga itu?
  3. Adam menurut Alquran, dari yang tidak kekal menjadi kekal setelah memakan godaan iblis itu, lalu kenapa keturunan Adam akhirnya menemui kematian bila Adam sudah menjadi kekal di surga dengan memakan godaan iblis itu?

Menaggapi soalan di atas, dengan sedikit revisi saya menulis begini:

Jawaban 1: 
Menurut Allah seluruh umat manusia, jadi bukan Allahku seorang, larangan itu hanya ujian bagi Adam. Allah ingin membuktikan kepada Adam sendiri seberapa tangguh sebenarnya dia dalam melawan godaan Iblis demi mempertahankan kepatuhan dan ketundukannya kepada Allah.

Di belakang hari, terbukti Adam ternyata tidak cukup tangguh dan karenanya Allah kemudian mengajarkan kepada Adam sebab-sebab dan alasan kenapa Allah menyebut Iblis (dan setan) adalah musuh utama bagi setiap anak manusia.

Allah Maha Mengetahui bahwa pada dasarnya manusia antara lain memiliki sifat congkak tapi bodoh. Sehingga pelajaran yang paling efektif (terbukti hingga hari ini) adalah melalui pengalaman pahit! Ini pernah kusebut sebagai pelajaran pertama bagi seluruh umat manusia menyangkut segala atribut terkait dengan eksistensi iblis.

Bentuk ujian bagi Adam berikut anak cucunya bermacam-macam, dimulai dari Adam sendiri, yaitu larangan mendekati pohon terlarang yang kemudian diikuti dengan pelajaran pahit sebagai akibat yang harus ditanggungnya karena melanggar larangan Allah tsb.

Salahsatu contoh yang mudah kita mengerti dalam kehidupan masyarakat modern seperti sekarang ini misalnya, adalah larangan Allah untuk mendekati zina. Tidak perlu disebut angkanya, tapi setiap kita pasti punya pengetahuan sendiri tentang berapa banyak anak-cucu Adam yang sanggup melawan godan iblis untuk tidak terlibat di dalamnya, bukan?

Jawaban 2: 
Apa pun yang dibisikkan iblis kepada Adam agar Adam mau menuruti ajakannya 'melanggar' larangan Allah adalah tipu daya semata. Sama seperti kenikmatan dunia yang dijanjikan iblis kepada setiap kita untuk melanggar perintah Allah. Setelah kita lakukan (bila kepatuhan kita kepada Allah memang lemah), ternyata tidak pernah terbukti, bahkan rata-rata bukti yang kita saksikan sendiri adalah kebalikannya!

Jadi apa yang kau garisbawahi;
PERHATIKAN KALIMAT INI --- > melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)". Pada prinsipnya tidak pernah dapat dibuktikan sebagai suatu keniscayaan. Tokh itu bukan firman Allah, melainkan hanya akal-akalan iblis saja.

Adapun perkara mati bagi Adam (dan seluruh anak-cucunya) tidak ada hubungannya dengan pemahaman kristen yang mengira bahwa Adam dan seluruh keturunannya seharusnya hidup kekal di sorga. Dalam hal ini Al-Quran sudah lebih dari cukup menjelaskan bahwa sejak sebelum Adam sendiri diciptakan, Allah sudah lebih dulu memberitahu para malaikat bahwa DIA akan menciptakan khalifah di muka bumi, bukan di sorga, yaitu manusia bernama Adam.

Meskipun para malaikat memprotes dengan alasan yang masuk akal, tapi Allah menjawab bahwa DIA tahu apa yang tidak diketahui oleh para malaikat. Ini adalah isyarat bahwa Allah mempunyai rencana besar (grand design) untuk Adam dan seluruh keturunannya, dan justru inilah yang sesungguhnya perlu digarisbawahi; HANYA Allah saja yang Paling Mengetahui setiap detil dari rencana besar tsb!

Jawaban 3: Perhatikan lagi jawaban nomor 2 diatas. Dan hanya sebagai tambahan, Al-Qur'an tidak pernah secara eksplisit menyebutkan bahwa kehidupan abadi manusia hanya di sorga tanpa melalui kehidupan fana di dunia yang diikuti dengan kematian, lalu (pada gilirannya nanti akan) dibangkitkan kembali untuk memulai kehidupan abadinya di negeri akhirat.

Sesuai ketetapan Allah menyangkut ajal, Adam memang telah wafat (dan tentunya sedang menjalani kehidupan abadi di akhirat), tapi ini tidak menjadikan seluruh anak-cucunya harus hidup abadi di dunia. Kenapa? Karena sama seperti leluhurnya, setiap anak manusia (bahkan dalam Al-Qur'an disebutkan setiap yang bernyawa) akan mengalami mati. Ini adalah ketetapan Allah yang tidak menyelisihi ayat mana pun di dalam Al-Qur'an.

KESIMPULAN:

  1. Konsep dosa waris dan upah maut seperti yang diajarkan kristen MUSTAHIL disejajarkan apalagi disamakan dengan ajaran Islam. Islam tidak mengenal dosa waris dan penebusan dosa.
  2. Islam mengajarkan bahwa dosa adalah tanggungjawab setiap individu dan hanya dapat dihapus melalui permohonan pengampunan dosa oleh individu sendiri. Islam juga mengajarkan seluk-beluk pertaubatan yang mengikat antara individu dan Allah. Segala hal menyangkut pertanggugjawaban dosa individu tidak akan dipengaruhi oleh campur tangan fihak lain meski itu kerabat paling dekat sekalipun. Apa yang dapat dilakukan oleh keluarga dalam hal ini hanya sebatas memohonkan pengampunan bagi sang individu, sedangkan keputusan akhir sepenuhnya bergantung pada murka atau ridha Allah semata.
  3. Islam tidak mengenal kehidupan abadi di dunia (mortality) karena kehidupan abadi yang sesunguhnya (immortality) adalah di akhirat.
  4. Islam mengajarkan bahwa dunia adalah tempat setiap anak manusia diuji guna menentukan sendiri (dalam kristen di sebut free will) di mana kelak ia akan menjalani kehidupan abadinya. Manusialah sesungguhnya yang memilih sendiri apakah ia ingin hidup abadi di sorga atau di neraka. Sedangkan risalah dan petunjuk mengenai bagaimana cara memilih kedua tempat ini sudah sangat jelas diberikan oleh Allah melalui ajaran semua nabi dan rasul yang diutus-Nya sejak nabi pertama Adam as, hingga nabi terakhir sekaligus penutup risalah seluruh nabi Allah, yaitu Muhammad saw.
Kenapa saya memilih menjawab tidak jauh-jauh dari issue menyangkut hidup kekal, dosa waris, dan penebusan dosa? Jawabnya adalah karena belajar dari pengalaman beinteraksi dengan ybs selama ini rasanya saya dapat menduga 'ke mana' sebetulnya arah pertanyaan di atas mau dibawa.

Ia ingin membuktikan bahwa konsep ajaran kristen menyangkut issue di atas didukung oleh ayat-ayat Al-Qur'an. Sayangnya, harapan itu mustahil terpenuhi karena menunjuk surah Al-A'raf yang dipilihnya sendiri, maka ayat-ayat Al-Qur'an berikutnya jelas-jelas menolak semua konsep ajaran kristen yang selama ini mereka yakini.

Perhatikanlah penjelasan SURAH AL-A'RAAF berikut ini:

[20] Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: `Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam syurga).`

Lihat juga Surah Thaha:
(Maka setan mulai menggoda keduanya) yakni iblis (untuk menampakkan) memperlihatkan (kepada keduanya apa yang tertutup) dengan wazan fu`ila dari lafal al-muwaaraah (dari mereka, yaitu auratnya dan setan berkata, "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini melainkan) karena khawatir (supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat) dan menurut suatu qiraat dibaca dengan malikaini/lam dikasrahkan (atau tidak menjadi orang-orang yang kekal dalam surga") berdasarkan hal itu maka memakan pohon itu adalah suatu keharusan sebagaimana yang disebutkan pula di dalam ayat lain, yaitu, "Maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon kekekalan dan kerajaan yang tidak akan binasa." (Q.S. Thaha 120)

[21] Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. `Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua`

Untuk menguatkan bisikan jahat dan tipu dayanya itu dia bersumpah kepada Adam dan Hawa, bahwa dia sebenarnya adalah pemberi nasihat yang benar-benar menginginkan kebahagiaan keduanya dan apa yang dinasihatkannya itu adalah benar dan timbul dari hati nuraninya penuh dengan keikhlasan.

[22] maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun syurga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: `Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:` Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?

Dengan cara ini tampak oleh Adam kesungguhan iblis yang tidak sedikit pun membayang di mukanya sesuatu yang mencurigakan, dan apa yang dikemukakannya dan diadviskannya itu adalah bohong atau tipu daya belaka, maka terpengaruhlah keduanya kepada bujukan iblis penipu itu, lalu memakan buah pohon yang Allah melarang mendekatinya, lalu keduanya lupa sama sekali akan kedudukan mereka dan larangan Allah kepada mereka sebagaimana firman Allah:

Lihat juga Surah Thaha:
Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu) dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat.
(Q.S Taha: 115)

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa yang terpengaruh lebih dahulu dari bujukan iblis itu ialah Hawa yang kemudian menyuruh suaminya memakan buah yang dilarang Allah memakannya sebagaimana pengakuan Adam a.s. di dalam riwayat berikut: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Adam memakan buah kayu itu dikatakan kepadanya, kenapa kamu memakan buah kayu yang Aku larang memakannya itu? Adam menjawab: "Hawa yang menyuruh saya." Kenyataan menunjukkan bahwa wanita itu mudah dan gampang terpengaruh kepada sesuatu apalagi yang berupa bujukan dan rayuan tanpa memikirkan dan memperhitungkan akibatnya, kecuali yang kuat imannya. Tatkala keduanya telah merasakan buah yang dimakannya itu, maka mulai tampak oleh mereka aurat masing-masing. Adam a.s. ketika melihat auratnya memetik daun pohon di dalam surga untuk menutupi auratnya, demikian pula Hawa.

Setelah kejadian tersebut Allah swt. mencercanya karena tidak mengindahkan larangan-Nya dan tidak mematuhi-Nya namun ia terpedaya dan menuruti bujukan iblis penipu itu lalu memperingatkannya: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu dan memakan buahnya. Dan telah menandaskan kepadamu, bahwa setan itu adalah musuhmu yang nyata apabila kamu turutkan kemauan dan kehendaknya Aku mengeluarkan kamu dari kehidupan yang lapang, senang dan bahagia kepada kehidupan yang penuh kesulitan, penderitaan dan kesusahan." Sejalan dengan hal tersebut Allah swt. berfirman:

Lihat juga surah Thaha:
Maka Kami berkata: "Hai Adam sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga yang menyebabkan kamu jadi celaka." (Q.S Taha: 117)

Perhatikan lagi ayat 22 di atas:
(Maka setan membujuk keduanya) untuk menurunkan kedudukan keduanya (dengan tipu daya) darinya. (Tatkala keduanya telah merasai buah pohon itu) mereka berdua telah memakannya (nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya) yakni kedua kemaluan masing-masing tampak oleh lainnya; kedua anggota tubuh itu dinamakan sau`ah, sebab jika terbuka akan membuat malu orang yang bersangkutan (dan mulailah keduanya menutupi) maksud keduanya mengambil penutup untuk menutupi (kedua auratnya dengan daun-daun surga) untuk menutupinya. (Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, 'Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua.')" yang jelas permusuhannya; kata tanya menunjukkan makna penegasan. 

[23] Keduanya berkata:` Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.`

Setelah Adam a.s. dan istrinya menyadari kesalahan yang diperbuatnya, yaitu menuruti ajakan setan dan meninggalkan perintah Allah swt. dia segera bertaubat, menyesali perbuatannya. Dengan segala rendah hati, penuh khusyuk dan di waktu dia berdoa dia mengucapkan:

Atas ucapan doa yang benar-benar keluar dari lubuk hatinya dengan penuh kesadaran disertai dengan keikhlasan, maka Allah swt. memperkenankan doanya, mengampuni dosanya dan melimpahkan rahmat kepadanya. Firman Allah swt.:

Lihat juga surah Al-Baqarah:
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S Al Baqarah: 37)

[24] Allah berfirman:` Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.`

Setelah selesai peristiwa Adam a.s. sejak dia membuat kedurhakaan yang menjadikan dia sesat, lalu dia taubat dan taubatnya diterima Allah swt. sehingga menjadilah dia orang pilihan kembali dan mendapatkan pimpinan dari Allah swt. sebagaimana firman-Nya:

Lihat juga surah Thaha:
Dan durhakalah Adam kepada Tuhan, maka sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman, "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama." (Q.S Taha: 121-123)

Telah menjadi sunnatullah bahwa setiap perbuatan buruk akan mempunyai akibat yang buruk pula. Di bumi ini akan terjadilah permusuhan, sebagian akan menjadi musuh dari sebagian yang lain. Iblis dan kawan-kawannya akan selalu memusuhi anak cucu Adam a.s. Sebaliknya anak cucu Adam a.s. harus selalu waspada dan tetap memandang dan menjadikan iblis itu musuh yang sangat berbahaya karena kalau tidak mereka akan dijebloskan ke dalam neraka sebagai firman Allah swt.:

Lihat juga surah Fatir:
Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu) karena sesungguhnya setan-setan itu hanyalah mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S Fatir: 6)

Mereka akan tinggal dan menetap di bumi dilengkapi dengan sumber penghidupan yang menjadi kesenangannya sampai kepada waktu yang telah ditentukan oleh Allah swt., yaitu pada waktu berakhirnya ajal dan tibanya hari kiamat sesuai dengan firman Allah swt.:

Lihat juga surah Al-A'raf:
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. (Q.S Al-A'raf: 10)

[25] Allah berfirman: 'Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.'

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa di bumi inilah mereka akan hidup sepanjang umur yang telah ditakdirkan bagi mereka dan di bumi ini pula mereka akan mati apabila sampai ajal mereka, suatu ketentuan yang tak dapat diubah lagi, tidak bisa dimajukan dan tidak bisa pula ditangguhkan sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah Al-A'raf:
Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. (Q.S Al A'raf; 34)

Lihat juga surah Al-Munafiqun:
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya (ajalnya). (Q.S Al-Munafiqun:11)

Lihat juga surah Taha:
Selanjutnya di bumi ini pulalah mereka akan dibangkitkan dan ayat 25 ini sejalan dengan firman Allah swt.:

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (Q.S Taha: 55)

[26] Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Pada ayat ini Allah swt. menyeru kepada anak cucu Adam dan memperingatkan nikmat yang begitu banyak yang telah dianugerahkan-Nya supaya mereka tidak melakukan maksiat, tetapi hendaklah mereka bertakwa kepada-Nya di mana mereka berada sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw.:

اتق الله حيثما كنت
Bertakwalah kepada Allah swt. di mana saja engkau berada. [H.R At Turmuzi dari Mu'az bin Jabal]

Dialah yang menurunkan hujan dari langit, menyebabkan adanya kapas, rami, wool dan sebagainya yang kesemuanya itu dapat dijadikan bahan pakaian sesudah diolah untuk dipakai menutupi aurat kita, tubuh kita dan untuk menahan panas dan dingin dan dipakai dalam peperangan untuk menahan senjata (baju besi), dijadikan keindahan sebagai perhiasan, satu hal yang disukai oleh Allah swt. sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:

إن الله جميل يحب الجمال
Sesungguhnya Allah itu sangat indah menyenangi keindahan. [H.R Muslim dan Turmuzi dari Ibnu Mas'ud]

Ini semuanya adalah merupakan pakaian dan keindahan lahiriah. Di samping itu ada lagi macam pakaian yang sifatnya abstrak (rohaniah) jauh lebih baik dari pakaian lahiriah tadi karena ia dapat menghimpun segala macam kebaikan, yaitu takwa kepada Allah swt.
Sabda Nabi Muhammad saw.:

عليك بتقوى الله فإنها جماع كل خير
Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah karena sesungguhnya takwa itu menghimpun segala kebaikan. [H.R Abu Ya'la dari Abu Said]

Dengan takwa itu Allah swt. senantiasa memberikan kepada kita petunjuk untuk dapat mengatasi dan keluar dari kesulitan yang dihadapi, Dia akan memberikan kepada kita rezeki dari arah yang tidak terduga-duga sebelumnya dan selalu dimudahkan urusan kita sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah At-Talaq:
Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Q.S At Talaq: 2-4)

Segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah swt. seperti memberikan pakaian adalah tanda bagi kekuasaan Allah swt. dan membuktikan kebaikan-Nya kepada anak cucu Adam a.s. maka pada tempatnyalah kalau kita selalu mengingat Allah swt. mensyukuri nikmat-Nya, menjauhi ajakan setan dan tidak berlebih-lebihan dalam ucapan dan lain-lain sebagainya.

[27] Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari syurga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperhatikan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Pada ayat-ayat ini, Allah swt. menyerukan kepada anak cucu Adam sekali lagi untuk memperingati mereka jangan sampai lalai dan lengah melupakan dan menyia-nyiakan dirinya, tidak mensucikan dan membentenginya dengan takwa tetapi hendaklah mereka selalu berpikir mengingat Allah karena kalau tidak hatinya akan berkarat sebagaimana berkaratnya besi. Dengan demikian mereka akan mempunyai kekuatan yang membaja untuk menghadapi bujukan dan rayuan setan dan selamatlah mereka dari tipu dayanya dan tidak akan mengalami nasib buruk sebagaimana yang telah dialami ibu bapak manusia yaitu Adam a.s. dengan istrinya Siti Hawa, sehingga keduanya dikeluarkan dari surga, pakaiannya tanggal sehingga auratnya kelihatan. Setan dan pengikutnya turun-temurun memusuhi terus-menerus anak cucu Adam. Dia senantiasa mengintip dan memperhatikan di mana adanya kelemahan-kelemahan mereka di sanalah dia memasukkan jarumnya sebagai godaan dan tipuan. Dialah musuh yang sangat berbahaya karena dia melihat mereka, sedang mereka tidak melihatnya. Dia lebih berbahaya dari musuh biasa yang dapat dilihat karena musuh-musuh lahiriah itu dapat diketahui di mana adanya dan ke mana arah tujuannya malah lebih berbahaya lagi dari musuh dalam selimut. Dia mengalir pada tubuh manusia seperti mengalirnya darah sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:

إن الشيطان يجري من ابن آدم مجرى الدم
Sesungguhnya setan itu mengalir pada tubuh anak cucu Adam melalui saluran darah. [H.R Bukhari dan Muslim dari Anas]

Tidak ubahnya dengan bahaya penyakit yang tidak kelihatan kecuali dengan alat mikroskop yang biasanya dibawa oleh lalat atau nyamuk yang dimasukkan ke dalam makanan dan minuman. Ia menembus masuk ke dalam tubuh tanpa diketahui yang akibatnya menyedihkan sekali karena sukar akan dapat sembuh dalam waktu singkat dan ada kemungkinan tidak dapat sembuh lagi karena parahnya. Berbeda dengan penyakit yang dapat dilihat dengan mata kepala seperti kudis dan sebagainya dengan cepat-cepat diobati dan dalam waktu singkat sudah dapat sembuh. Kekhawatiran-kekhawatiran yang berakibat buruk seperti tersebut di atas itu dapat terjadi hanya pada manusia yang kurang atau sama sekali tidak beriman, karena mereka itulah yang akan menjadi mangsanya dan kepada merekalah Allah swt. telah menjadikan setan sebagai pemiliknya.

[28] Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: `Kami mendapati nenek-moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah:` Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji. `Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, orang-orang yang telah menjadikan setan sebagai pemimpinnya apabila berbuat kejahatan, seperti bertawaf di sekeliling Kakbah dalam keadaan telanjang, mengingkari Allah dan menyekutukan-Nya, yang dicela oleh manusia sekitarnya, mereka mengemukakan alasan dan uzur bahwa begitulah yang kami ketahui dan kami dapati dari nenek moyang kami. Kami hanya mengikuti apa yang telah dikerjakan mereka, bahkan Allah telah memerintahkan kepada kami yang demikian itu, dan kami hanya menuruti perintah-Nya. Pengakuan mereka tentunya tidak dapat dibenarkan, karena Allah swt. mempunyai sifat kesempurnaan tidak mungkin dan tidak masuk akal akan menyuruh dan memerintahkan mereka berbuat jahat dan keji seperti perbuatan tersebut di atas. Sebenarnya yang memerintahkan mereka berbuat jahat dan keji tentunya tiada lain melainkan setan sebagaimana firman Allah:

Lihat juga surah Al-Baqarah dan surah Al-Isra:
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). (Q.S Al Baqarah: 268)

Mereka mengeluarkan perkataan yang dialamatkan kepada Allah swt. bahwa Dialah yang menyuruh berbuat jahat dan keji. Itu adalah ucapan yang tidak beralasan yang tidak didasarkan atas pengetahuan padahal yang demikian itu akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat sebagaimana firman Allah swt.:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan ditanya.(Q.S Al Isra': 36)

[29] Katakanlah:` Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan.` Dan (katakanlah): `Luruskanlah muka (diri) mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya.`

Pada ayat ini Allah swt. memperbaiki kekeliruan mereka, yaitu supaya mereka mengetahui bahwasanya Tuhan kami hanya memerintahkan kepada kami supaya kami beristiqamah, berlaku adil di dalam semua hal dan urusan dan tidak melampaui batas sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah An-Nahl dan surah Al-An'am:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. (Q.S An-Nahl: 90)

Selanjutnya Allah swt. menyuruh supaya mereka mengarahkan mukanya ke Kakbah yang telah ditetapkan menjadi kiblat bagi setiap orang yang salat, baik di merjid maupun di tempat lain penuh dengan keikhlasan karena sesuatu amal tanpa disertai dengan keikhlasan tak akan diterima oleh Allah swt. sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.:

إن الله تعالى لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا
Sesungguhnya Allah swt. tidak akan menerima amal kecuali dikerjakan dengan ikhlas untuk (memperoleh rida)-Nya. [H.R Nasa'i dari Abu Umamah]

Untuk mendorong mereka supaya tetap ingat dan patuh kepada Allah swt. tidak terpengaruh kepada ajakan dan bujukan setan, mereka harus selalu ingat kepada Allah sebagaimana mereka diciptakan-Nya pada permulaannya, mereka akan kembali kepada-Nya pada hari pembalasan di mana mereka akan mempertanggungjawabkan semua amal yang telah mereka kerjakan di dunia ini. Firman Allah swt.:

Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu. (Q.S Al-An'am: 94)

[30]. Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa manusia itu terbagi atas dua golongan. Golongan pertama yaitu golongan yang telah diberi petunjuk oleh Allah swt. di dunia ini dan diberi taufik mengerjakan salat, menyembah-Nya dengan ikhlas dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Sedang golongan kedua ialah golongan yang telah sesat karena mengikuti ajakan setan dan meninggalkan perintah Allah Penciptanya. Setan itulah yang dijadikan pelindungnya, bukan Allah swt. Anehnya mereka sudah sesat menempuh jalan yang dilarang oleh Allah swt. mengerjakan perbuatan yang tidak diridai-Nya, tetapi masih menyangka bahwa mereka memperoleh petunjuk. Orang yang demikian itu adalah orang yang paling merugi sebagaimana firman Allah swt.:

Lihat juga surah An-Nahl dan surah Al-Kahfi
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya di dalam kehidupan di dunia ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (Q.S Al Kahfi: 103-104)


[Sumber: Tafsir Al-Qur'an DEPAG RI | Gus Mendem Menjawab Fitnah]