Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Islam Bertanya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Bertanya. Tampilkan semua postingan

Darimana Datangnya Gagasan Bahwa Yesus Adalah Anak Tuhan?


Gagasan itu berasal dari kepercayaan kaum pagan, atau para  penyembah berhala, bahwa Tuhan beranak pinak di bumi. 

Di berbagai wilayah dan kota-kota besar dalam wilayah dominasi kerajaan Romawi di luar Palestina, orang-orang menyembah “Tuhan beserta keluarganya”, 

Mulai dari Tuhan tiga sampai ratusan. Mereka menganggap bahwa setiap tindakan Tuhan menjadi oknum lain di samping Tuhan. Misalnya firman Tuhan menjadi oknum lain (Anak Allah) yang namanya Yesus. Tindakan Tuhan memberi hidup, menjadi oknum lain yang namanya Roh Kudus dlsb.

Siapa pencetus ide Anak Allah?
Ide Anak Tuhan merupakan hal yang lumrah di masyarakat Yahudi. Mereka menganggap bahwa bangsa Israel adalah “Anak-anak Tuhan”. Bagi mereka istilah “Anak Tuhan” bukan untuk individu. “Anak-anak Tuhan” dalam pengertian individu merupakan paham penyembah berhala yang menganggap bahwa Tuhan beranak di dunia. (Tillich 1968)

Paulus yang menganggap Yesus lahir melalui intervensi Roh Kudus, memperkenalkannya kepada para penyembah berhala di kerajaan Romawi sebagai “Anak Tuhan (Allah)”.

[Lukas 1:35] “Jawab malaikat itu kepadanya: `Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah” 

[Kisah Para Rasul 9:20] “Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah” 

Pekerjaan Paulus yang mulai merusak ajaran Tauhid yang diajarkan Yesus ini dikutuk oleh Allah dalam surah Maryam:88-92:

“Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak’. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat munqkar. Hampir-hampir lagit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yanq Pemurah mempunyai anak” (QS. Maryam:88-92)

Apa arti Anak Tunggal Allah?
Umat Kristen dengan bangga menjelaskan bahwa Yesus diperanakkan bukan dicipta. Menurut mereka, semua mahluk dicipta oleh Tuhan, demikian pula Nabi Adam. Tetapi Yesus lahir dari intervensi Roh Kudus yang datang menaungi perawan Maria sehingga hamil. Dari berbagai legenda, Tuhan menghamili seorang perempuan hanya sekali, sehingga disetiap zaman hanya ada seorang Anak Tuhan (anak tunggal).

[Lukas 1:35]. “Jawab malaikat itu kepadanya: ‘Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah” 

Apakah anak Allah setara dengan Allah?
Dalam filsafat Yunani, kedudukan Anak Tuhan dan dewa-dewa lainnya lebih rendah dari Tuhan. Sesuai ajaran filsafat Yunani, ketika Tuhan yang suci tidak dapat berhubungan dan menyelamatkan dunia serta manusia yang berdosa, dia mengirim anaknya atau dewa lain untuk mengatasi persoalan di dunia. 

Tapi rupanya Paulus dan para kroninya yang dari generasi ke generasi menjadi petinggi Gereja ingin "menaikkan" kedudukan Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan) setara dengan Bapa atau Tuhan itu sendiri. Dan ini, tentu saja, menghadapi berbagai kendala, sebab manalah mungkin hal itu dapat diterima oleh akal manusia waras?

Kenapa?

Pertama, karena Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa, sehingga secara otomatis Bapa memiliki kekuasaan untuk memerintah Anak, sedangkan Anak tiadak punya kuasa untuk memerintah Bapa.

Kedua, karena Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa, maka jelas ada suatu saat dimana Bapa sudah ada, sedangkan Anak belum ada. Jika kedua-duanya sama-sama ada, tentu tidak ada Bapa dan Anak, bukan?

[Kisah Para Rasul 13:33] “….AnakKu Engkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini”. 

Ayat di atas memperlihatkan bahwa kemarin Bapa sudah ada, sedangkan Anak belum ada. 

Ketiga, karena para pemimpin Gereja mengatakan bahwa Bapa 100% Tuhan, sedangkan Anak (Yesus) adalah 100% Tuhan dan sekaligus 100% manusia, maka tentu saja keduanya tidak sama, apalagi setara.

Jadi, keyakinan umat kristen yang mengira Yesus adalah tuhan karena ucapannya "aku dan bapa adalah satu", jelas tidak dapat diterima!

Jelas ya?

[Belajar dari catatan mbak Yusni | Di Bawah Panji Panji Islam]


Benarkah Yesus Pernah MATI Tersalib?

Coba kita kutip teks-teks Al-Qur'an yang menyatakan bahwa secara umum murid-murid nabi Isa as -Hawariyyin- adalah orang-orang yang beriman, taat dan setia kepada nabi Isa as, dan dari sebuah Hadits yang kita kutip menunjukkan bahwa orang yang kemudian ditangkap dan disalib adalah salah seorang murid nabi Isa as yang dengan kerelaannya bersedia untuk diserupakan dengan nabi Isa as, sehingga dari al-Quran dan al-Hadits kita memperoleh kesimpulan bahwa orang yang dibunuh dan disalib bukanlah nabi Isa as dan bukan pula seorang pengkhianat.

Dan dari penelusuran teks-teks Bible sendiri, yaitu sebuah kitab yang diimani oleh umat Kristiani yang meyakini bahwa Yudas adalah seorang pengkhianat, ternyata banyak ayat yang secara implisit "tersamar" menyatakan bahwa Yudas Iskariot bukanlah seorang pengkhianat, namun seorang yang disebut Yesus sebagai seorang yang terbesar dan termulia di antara keduabelas murid-muridnya. 

Secara implisit pula kita dapatkan dari Bible bahwa kemudian Yudas diserupakan dengan Yesus ketika orang-orang yang akan menangkap Yesus terjatuh ke tanah, sehingga tidak menyaksikan proses penyerupaan Yudas ke Yesus. Sehingga mereka menyangka bahwa orang yang mereka tangkap adalah Yesus Kristus, padahal sesungguhnya adalah Yudas Iskariot yang telah diserupakan dengan Yesus. Pada tulisan  tersebut telah terbukti bahwa orang yang ditangkap adalah Yudas Iskariot, dan pada kajian ini, kita akan membuktikan juga bahwa orang yang ditangkap itu memang Yudas Iskariot, namun dari sisi yang lain. 

Jika sebelumnya kita membuktikan dari sisi fragmen saat-saat menjelang pengepungan dan menjelang penangkapan, maka kali ini kita akan membuktikan dari sisi setelah proses penangkapan dan pengadilan atas orang yang ditangkap.

Ternyata murid Yesus yang lain yang bernama Petrus mengetahui bahwa orang yang telah ditangkap dan sedang di adili oleh orang-orang Yahudi bukanlah Yesus, melainkan temannya yaitu Yudas yang telah diserupakan dengan Yesus sehingga Petrus menyangkal kalau dikatakan orang yang telah ditangkap dan sedang diadili adalah Yesus Kristus gurunya. Petrus adalah salah seorang dari duabelas orang murid Yesus yang selalu setia menemani dan taat mengikuti ajaran Yesus. Petrus adalah orang yang paling berani dalam membela Yesus.

Ketika orang-orang Yahudi bersama sejumlah pasukan mengepung Yesus dan murid-muridnya, Petrus dengan heroiknya tampil ke depan tanpa rasa takut sedikitpun menghadapi mereka yang berjumlah jauh lebih banyak. Konon Petrus dengan pedangnya berhasil memotong telinga salah seorang dari pasukan yang bernama Malchus, namun Yesus yang telah mengetahui kekuatan musuh jauh lebih besar dan mengetahui perlawanan tidak akan menghasilkan kemenangan sedikitpun, seketika itu juga Yesus menghentikan perlawanan Petrus. 

Yang perlu dicatat dalam kisah di atas adalah keberanian Petrus menghadapi sedemikian banyak orang yang akan menangkap Yesus. Sikap semacam itu adalah sikap orang yang teguh iman, tidak takut mati, rela berkorban jiwa, atau tegasnya, adalah sikap seorang kesatria.

Sikap semacam itu adalah hal yang biasanya dimiliki oleh seorang yang teguh memegang prinsip dan ideologi, seperti halnya dalam Islam, para sahabat utama Nabi Muhammad saw juga rela mengorbankan harta dan jiwa mereka demi membela Islam dan Nabi Muhammad saw. Demikian pula dengan kaum Hawariyyin seperti Petrus. Aadalah wajar bila dia bersikap demikian untuk membela Yesus gurunya, apalagi duabelas murid Yesus adalah orang-orang pilihan Yesus sendiri yang diangkat dari duabelas suku Israel. 

Bible mengisahkan, konon Petrus menyangkal pernah bersama-sama dengan Yesus, menyangkal mengenal Yesus dan menyangkal sebagai murid Yesus. Menurut Bible, secara implisit penyangkalan tersebut dilakukan Petrus hanyalah untuk menghindari agar dirinya tidak ikut ditangkap bersama-sama Yesus atau dengan kata lain Petrus takut untuk ditangkap. 

Kisah tersebut tentu saja melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik akal sehat, apakah mungkin Petrus yang heroik dan tidak takut mati, hanya dalam hitungan  jam saja tiba-tiba menjadi seorang pengecut yang takut ditangkap dan takut mati? Apakah Yesus salah memilih orang untuk dijadikan muridnya, ataukah Yesus telah gagal membentuk keimanan bagi murid-muirdnya? Untuk dapat menjawab semua itu, perlu diselidiki dan dikaji apa makna dan motif sesungguhnya dari penyangkalan Petrus tersebut.

LINTASAN KISAH
Sebelum kita mengkaji latar belakang dan motif penyangkalan Petrus, marilah kita lihat lintasan kisah yang melatar-belakanginya. Ketika orang-orang Yahudi dan pasukan prajurit Romawi berhasil mengepung Yesus dan murid-muridnya, tampilah Petrus melawan mereka untuk membela dan menyelamatkan Yesus. Dalam sekejap salah seorang dari mereka terpotong telinganya oleh pedang Petrus, namun melihat kekuatan musuh yang jauh lebih besar dan melihat perlawanan Petrus tidak akan berarti apa-apa, maka Yesus menghentikan perlawanan Petrus tersebut. Lalu Yesus tampil ke depan berkata kepada orang-orang yang ingin menagkapnya: “Siapakah yang kamu cari?” Tanya Yesus. “Yesus dari Nazaret” Jawab pasukan itu. lalu Yesus menegaskan, “Akulah Dia!” 

Saat itu juga mereka mundur hingga terjatuh ke tanah. Tentu bukan tanpa sebab hingga mereka mundur dan terjatuh ke tanah, pasti ada sesuatu yang menyebabkannya, penyebab itulah yang oleh para penulis Injil tidak dijelaskan dalam Injilnya. Dalam tulisan sebelumnya telah kita bahas bahwa saat itulah terjadinya proses perubahan wajah Yudas yang menyerupai wajah Yesus. Karena mereka terjatuh ke tanah, maka mereka tidak menyaksikan proses perubahan tersebut. Inilah rencana Allah SWT untuk menyelamatkan Yesus. Dan setelah itu, Yudas yang telah diserupakan dengan Yesus berkata kepada mereka yang akan menangkap Yesus: “Siapakah yang kamu cari?” Tanya Yudas yang sudah berubah wujud menyerupai Yesus. “Yesus dari Nazaret.” Jawab pasukan itu lagi. “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi” Tegas Yudas yang berwajah Yesus. Maka orang-orang Yahudi itupun menangkap Yudas yang mereka kira adalah Yesus dan membawanya kepada imam-imam Yahudi untuk diadili.

Sementara itu Petrus mengikuti dari kejauhan untuk mengetahui nasib apa yang akan menimpa sahabatnya itu.  Sepertinya Petrus mengetahui bahwa bukan Yesus yang ditangkap tetapi seseorang yang diserupakan dengan Yesus. Namun, umat Kristen meyakini bahwa orang yang ditangkap adalah Yesus bukan Yudas, karena ayat-ayat dalam Bible secara tekstual memang menyatakan demikian. Tetapi keyakinan tsb sangat lemah, karena banyak mengabaikan kejanggalan-kejanggalan kontekstualnya, yang pada kesempatan yang lalu telah membuktikan bahwa Yesus dan murid-muridnya sama sekali tidak membicarakan tentang seorang pengkhianat, tetapi seorang yang terbesar di antara keduabelas murid-muridnya. Dan umat Kristen tentu sepakat bahwa orang yang di-maksud Yesus adalah Yudas Iskariot, dan itu berarti Yudas bukanlah seorang pengkhianat!

Kembali lagi pada kisah Petrus, Petrus terus mengikuti Yudas yang ditangkap untuk diserahkan kepada imam-imam Yahudi. sesampainya mereka di bait Allah tempat Yudas akan disidang, Petrus berhenti dan menunggu di luar untuk mengetahui nasib Yudas selanjutnya. Ketika Petrus sedang menunggu jalannya sidang itulah datang orang-orang Yahudi kepada Petrus, dan sepertinya mereka mengenali Petrus sebagai orang yang selalu bersama-sama dengan Yesus dan sebagai murid Yesus. 

Di sinilah terjadi dialog antara orang-orang Yahudi dengan Petrus di mana dalam dialog tersebut orang-orang Yahudi mendakwa Petrus sebagai orang yang selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili, dan mendakwa Petrus sebagai murid orang yang sedang diadili. Namun Petrus menyangkal semua dakwaan tersebut, Petrus tidak mengakui selalu bersama-sama, mengenal dan sebagai murid orang yang sedang disidang. 

Penyangkalan-penyangkalan Perus itulah yang diyakini oleh Umat Kristiani sebagai penyangkalan terhadapa Yesus. Sekarang mari kita lihat dialog selengkapnya.


FRAGMEN PENYANGKALAN
Berikut kutipan dialog antara orang-orang Yahudi dengan Petrus:

  • Injil Matius 26:69-74,
  • Injil Markus 14:67-71
  • Injil Lukas 22:56-60 ,
  • Injil Yohanes 18-25-28
  • Yahudi 1 : Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.
  • Petrus : Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.
  • Yahudi 2 : Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.
  • Petrus : Aku tidak kenal orang itu.
  • Yahudi 3 : Pasti engkau juga salah seorang dari. ….mereka, itu nyata dari bahasamu.
  • Petrus : Aku tidak kenal orang itu.

Kata "itu" yang digarisbawahi dalam fragmen di atas adalah sebagai kata ganti yang menunjuk kepada "seseorang" yang sedang diadili. Ketika orang-orang Yahudi berkata kepada Petrus "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu", orang-orang Yahudi tersebut mendakwa Petrus adalah orang yang selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili, yang mereka pikir adalah Yesus.

Terhadap dakwaan tersebut, Petrus menyangkal dengan mengatakan "Aku tidak tahu apa yang engkau maksud." Jawaban Petrus tersebut menunjukkan bahwa dia tidak dapat memahami bila dikatakan orang yang sedang diadili adalah Yesus dan tidak dapat mengerti bila dikatakan dia selalu bersama-sama dengan orang yang sedang diadili. Jawaban Petrus tersebut mempunyai dua kemungkinan:

Pertama, Petrus menyangkal bila dikatakan selalu bersama-sama dengan Yesus, dan itu berarti orang yang sedang diadili adalah Yesus. 

Kedua, Petrus menyangkal jika maksud peranyaannya adalah bahwa orang yang sedang diadili adalah Yesus, sehingga dia juga menyangkal bila dikatakan selalu bersama-sama dengan orang tersebut. Dalam dakwaan berikutnya yaitu yang kedua dan ketiga, Petrus didakwa "Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu", Petrus secara konsisten berturut-turut menyangkal "Aku tidak kenal orang itu.", 

Jawaban Petrus tersebut juga mempunyai dua kemungkinan.

Pertama, Petrus menyangkal kenal dengan Yesus, hal itu berarti orang yang sedang disidang adalah Yesus,

Kedua, Petrus menyangkal kenal pada orang yang disidang, hal itu berarti bukan Yesus orang yang sedang disidang.

Dalam Yohanes 18:25 dakwaannya berbunyi, "Bukankah engkau juga seorang muridnya?" Dalam dakwaan tersebut, kata "nya" yang bergaris bawah adalah sebagai kata ganti yang menunjuk kepada orang yang sedang diadili. Terhadap dakwaan tersebut Petrus menyangkal "Aku bukan muridnya", yang mempunyai dua kemungkinan juga.

Pertama, Petrus menyangkal bila dikatakan sebagai murid Yesus, hal itu berarti orang yang sedang diadili adalah Yesus,

Kedua, Petrus hanya menyangkal bila dikatakan murid dari orang yang sedang diadili. Berarti orang yang sedang diadili 
bukan Yesus.

YESUS ATAU YUDAS?
Sekarang mari kita uji dua kemungkinan di atas.
Siapa sebenarnya yang sedang disangkal oleh Petrus? Yesuskah, ataukah orang lain yang diserupakan dengan Yesus?

Bila kita mengasumsikan orang yang sedang disidang adalah Yesus, maka artinya orang yang disangkal oleh Petrus adalah Yesus.

Asumsi tersebut melahirkan pertanyaan sangat mendasar, mungkinkah Petrus menolak mengakui bahwa ia mengenal dan selalu bersama-sama dengan Yesus, dan menolak mengakui pula sebagai murid Yesus? Jika mungkin, lalu apa motif Petrus melakukan itu semua? Asumsi di atas, walau bagaimanapun praktis membuat kita menganggap Petrus sebagai seorang pengecut, pembohong, munafik, dan manusia tidak teguh iman!

Disebut pengecut dan pembohong, karena sejatinya Petrus adalah murid Yesus dan orang yang selalu bersama-sama dengan Yesus. Disebut munafik dan tidak teguh iman karena beberapa jam sebelumnya Petrus telah menunjukkan sikap sebagai seorang kstaria yang sangat heroik dalam membela Yesus.

Ditinjau dari catatan-catatan yang melatarbelakanginya, maka tidak ada satu motifpun yang mendorong Petrus untuk menjadi seorang pengecut. Apakah Petrus takut ditangkap hingga harus menyangkal segala dakwaan orang-orang Yahudi? Tentu saja tidak!

Jika orang-orang Yahudi ingin menangkap murid-murid Yesus juga, tentu mereka sudah menangkapnya ketika mereka mengepung Yesus dan murid-muridnya di taman Getsemani. Tapi pada kenyataannya tidak. Mereka membiarkan murid-murid Yesus pergi. 


Menyebut Petrus sebagai pengecut, secara tidak langsung telah memberikan label kepada Yesus sebagai orang yang tidak teliti dan gagal. Ya, gagal membentuk keimanan Petrus sehingga menjadi seorang pengecut, pembohong, munafik dan tidak teguh iman! Tidak teliti karena telah salah memilih orang yang akan diberi pelimpahan kepemimpinan selanjutnya.

Yohanes 21:17 mencatat: 

Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”  

Tentu saja tuduhan sebagai pengecut dan munafik itu menjadi tidak mungkin, karena sejarah telah membuktikan bahwa Petruslah yang kemudian memegang kepemimpinan. Karenanya, mustahil Petrus menjadi seorang pengecut, menyangkal gurunya yang sangat dikasihinya itu.

Jika bukan Yesus yang diadili, lalu siapa yang disangkal Petrus?
Umat Kristen yang rajin membaca Bible t
entu akan menjawab bahwa orang yang diadili adalah orang yang ditangkap di taman Getsemani, lalu diadili untuk kemudian disalib!

Memberikan nama Yudas sebagai orang yang diadili ternyata selaras dengan keseluruhan konteks ayat-ayat Bibel yang mencatat peristiwa ini. Selaras bahwa Yesus secara kontekstual menyebut Yudas sebagai orang yang terbesar, bukan sebagai pengecut.  Yudas telah membuat Yesus sangat terharu.

Kenapa Yesus terharu?
Karena Yudas berkorban nyawa menggantikan Yesus untuk ditangkap dan dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Kisah tsb selaras pula dengan sifat Petrus yang pemberani, heroik dan pantas menjadi seorang pengganti kepemimpinan Yesus.

Dengan demikian maka yang disalib bukan Yesus, melainkan Yudas! 

Wallahu’alam


[Sumber: Indra Wibowo] 



Allah adalah Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhannya Yesus!



ALKITAB MENEGASKAN BAHWA "TUHAN" DAN "ALLAH" BUKAN DUA DEITI YANG TERPISAH 
AKAN TETAPI SEBAGAI SATU ENTITAS YANG SAMA.

Frase "TUHAN, ALLAHMU" yang MEMBUKTIKAN bahwa TUHAN dan ALLAH adalah SATU DEITI YANG SAMA disebutkan sebanyak 398 kali dalam alkitab, yakni 391 kali dalam Perjanjian Lama, dan 7 kali dalam Perjanjian Baru.

Dari 7 penyebutan "TUHAN, ALLAHMU" dalam Perjanjian Baru tsb, 6 di antaranya dinyatakan sendiri oleh Yesus Kristus.

Artinya, Yesus sangat mengetahui bahwa ALLAH adalah SATU-SATUNYA TUHAN, atau SATU-SATUNYA TUHAN adalah ALLAH, alias bukan merupakan dua oknum yang berbeda.

Akan tetapi umat Kristen yang mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus mengimani bahwa ALLAH dan TUHAN adalah DUA oknum yang BERBEDA berdasarkan ajaran Paulus dalam 1 Korintus 8:6 yang kemudian dijadikan landasan PENGAKUAN IMAN KRISTEN dalam teks KREDO RASULI sbb:

Aku percaya akan ALLAH,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi;
dan akan Yesus Kristus,
Putra-Nya yang tunggal, TUHAN kita,
yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh Perawan Maria;
yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Pontius Pilatus
disalibkan, wafat, dan dimakamkan;
yang turun ke tempat penantian
pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati;
yang naik ke surga,
duduk di sebelah kanan Allah Bapa
yang mahakuasa;
dari situ Ia akan datang
mengadili orang yang hidup dan yang mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik² yang kudus,
persekutuan para kudus,
pengampunan dosa,
kebangkitan badan,
kehidupan kekal.
Amin.


Ini adalah BUKTI bahwa doktrin Kristen tentang ketuhanan Tritunggal, di mana ALLAH dipisahkan dari TUHAN jelas merupakan doktrin yang menafikan eksistensi ALLAH, melawan kehendak TUHAN, dan menentang ajaran semua nabi, termasuk ajaran Yesus sendiri, yang sebenarnya sudah sangat jelas tertulis dalam alkitab! Perhatikan lagi cerita kita sebelumnya tentang ini  di sini:

Contoh ayat-ayat semisal ini sudah menjelaskan sendiri bahwa artinya hanya ada SATU TUHAN, yaitu ALLAH!

"Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Akulah TUHAN, Allahmu." (Imamat 18:2)

Atau

"Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (Ulangan 28:2)

Jadi, pengakuan iman kristen bahwa hanya ada SATU ALLAH yaitu Bapa, dan hanya ada SATU TUHAN yaitu Yesus Kristus, jelas tidak sama dengan apa yang selama ribuan tahun diajarkan oleh ALLAH melalui semua nabi dan rasul-Nya! 

Dengan demikian, petunjuk dari alkitab di atas prkatis menggugurkan segala teori dogmatis kristen tentang ketuhanan Tritunggal yang sejak pada mulanya memang sama sekali tidak pernah dikenal oleh nabi mana pun dalam sejarah kitab-kitab suci terdahulu, apalagi oleh Yesus sendiri!

Artinya, umat Paulus yang tidak sadar diri mengaku-ngaku sebagai pengikut Yesus tapi percaya dan mengimani bahwa Yesus adalah salahsatu oknum tuhan tritunggal versi doktrin kristen, tidak perlu berharap apapun dari Yesus kecuali sesaat setelah mati nanti, langsung ditendang ke neraka!

Demikianlah fakta alkitabiyahnya.
Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!


[GM | Menyibak Tabir Di Balik Doktrin Kristen]

Apakah "ALLAH" dan "TUHAN" dalam Alkitab adalah dua Deiti yang berbeda?


Pengikut Paulus tidak terima disebut menyembah TIGA TUHAN dan karenanya selalu berusaha untuk menjelaskan bahwa sejatinya mereka juga BERTAUHID yakni menyembah TUHAN YANG MAHAESA, yaitu SATU TUHAN, tapi dengan TIGA KEPRIBADIAN.

Untuk menegaskan "ketauhidan" ini, umumnya mereka mengutip tulisan rasul gadung Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus yang satu ini:

" .... namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup." (1 Korintus 8:6)

Mencermati ayat di atas, kita yang berada di luar lingkar doktrin gereja-gereja kristen rasanya dapat dengan mudah melihat "ketidakberesan" di sini, karena apa yang kemudian menjadi dasar syahadat umat Kristen seperti tertulis dalam kredo (pengakuan iman) Rasuli misalnya, sebenarnya adalah kalimat akal-akalan saja.

Paulus coba memanipulasi pengikutnya bahwa sekalipun dia menyebut HANYA ADA SATU ALLAH yaitu Bapa di sorga, namun dia juga menyebut HANYA ADA SATU TUHAN, yaitu Yesus Kristus, yang dalam hal ini jelas menunjukkan adanya DUA DEITI yang sama-sama berstatus TUHAN! Ajarannya ini sangat bertentangan dengan ajaran semua nabi, termasuk ajaran Yesus sendiri! 

Kenapa?
Karena menurut alkitab, baik para nabi maupun Allah sendiri selalu menyandingkan kata ALLAH dan TUHAN sebagai oknum yang sama!

Perhatikan ayat-ayat alkitab berikut ini:

  • Ulangan 4:35 - Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa TUHANLAH ALLAH, tidak ada yang lain kecuali Dia.
  • Ulangan 4:39 - Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANLAH ALLAH yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.
  • Ulangan 6:4 - Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu ALLAH kita, TUHAN itu esa [Catatan: dalam Markus 12:28-34 Yesus dan seorang juru tulis Yahudi yang dia temui memahami teks ini dengan benar.]
  • 2Samuel 7:22 - Sebab itu Engkau besar, ya TUHAN ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada ALLAH selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.
  • 1Raja-raja 8:60 - supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa TUHANLAH ALLAH, dan tidak ada yang lain.
  • 2Raja-raja 19:15 - Hizkia berdoa di hadapan TUHAN dengan berkata: "Ya TUHAN, ALLAH Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah ALLAH segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.
  • 1Tawarikh 17:20 - Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada ALLAH selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami
  • Mazmur 18:31 - Sebab siapakah ALLAH selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali ALLAH kita?
  • Yesaya 37:16 - "Ya TUHAN semesta alam, ALLAH Israel, yang bertakhta di atas kerubim! Hanya Engkau sendirilah ALLAH segala kerajaan di bumi; Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi.
  • Yesaya 37:20 - Maka sekarang, ya TUHAN, ALLAH kami, selamatkanlah kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkau sendirilah TUHAN."
  • Yesaya 43:10-11 - Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada ALLAH dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
  • Yesaya 45:21 - Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada ALLAH selain dari pada-Ku! ALLAH yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!

Dan masih banyak lagi ayat-ayat serupa dalam alkitab yang membuktikan bahwa ALLAH adalah satu-satunya Tuhan!

Artinya, ALLAH dan TUHAN bukan BAPA dan YESUS seperti ajaran Paulus dalam 1 Korintus 8:6, melainkan hanya Bapa sendiri!

Jadi, mengaitkan Yesus, apalagi dengan tambahan Roh Kudus sebagai oknum TUHAN, jelas bukan merupakan ajaran ALLAH dalam alkitab!

Dengan demikian, doktrin kristen yang mengklaim bahwa mereka juga bertauhid, alias hanya bertuhankan satu yaitu ALLAH saja, namun bersamaan dengan itu mengimani pula Yesus sebagai TUHAN dan Roh Kudus sebagai oknum TUHAN yang lain (lebih rinci, lihat penjelasannya di sini), jelas merupakan klaim yang bertentangan dengan ajaran nabi manapun juga, termasuk menentang ajaran Yesus sendiri! 

Perhatikan juga bagaimana jelasnya Yesus menyebut kata TUHAN dan ALLAH sebagai satu-satunya TUHAN dalam Markus 12: 29:

Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan ALLAH kita, Tuhan itu esa. Kasihilah TUHAN, ALLAHmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Jadi, membedakan ALLAH dengan TUHAN dalam pengakuan iman seperti tertulis dalam Kredo Rasuli yang menyebut-nyebut kata "Allah", "Yesus Kristus" dan "Roh Kudus" sebagai sesama tuhan sama artinya dengan secara sadar mengakui bahwa sejatinmya Tuhan umat Krisen memang ada TIGA! 

Dan Tuhan yang TIGA itu jelas bukan YHWH yang disembah oleh umat Yahudi, dan bukan pula ALLAH yang disembah oleh umat Islam. Karena bagi umat Yahudi dan umat Islam, baik YHWH maupun ALLAH adalah Tuhan yang sama-sama tidak bersekutu dengan apapun juga, apalagi sampai punya anak bernama Yesus Kristus!


Silsilah Yesus, Siapa Yang berdusta, Tuhan, Penulis Injil, Atau Editor Alkitab?

Menurut saya, Matius 1:1 dan Roma 1:3 adalah dua ayat dalam alkitab yang merupakan 'kesalahan paling memalukan' sepanjang abad Masehi. Sungguh kasihan Matius, yang namanya dicatut sebagai penulis Injil yang tidak pernah ditulisnya itu.

Bagaimana mungkin umat Kristen dapat menerima begitu saja Yesus yang mereka percaya sebagai 'Anak Allah' (terlahir dari roh Allah) dan sangat dibanggakan karena bukan hasil pembuahan dari hubungan pasutri ayah bundanya, tapi sekali lagi, dari roh Allah, dibuatkan silsilahnya dari garis keturunan ayah asuhnya, Yusuf?

Semua literatur di seluruh dunia berkaitan dengan Yesus (Isa Ibn Maryam) nampaknya sudah sepakat bahwa Yesus terlahir dari seorang perawan suci bernama Maria. Akan tetapi demi memenuhi 'gagasan cemerlang' gereja, maka mereka pun tidak malu-malu untuk menarik garis keturunan Yesus melalui Yusuf, suami Maria.

Ini, tentu saja, adalah sebuah kebodohan yang luar biasa. Sebab bagaimana kita dapat menerima 'akte kelahiran' Yesus yang bukan darah daging Yusuf tapi "dipaksa" mengikuti garis keturunannya demi menyambung tali keturunannya dari Daud hingga Abraham? Ada apa sebenarnya di balik silsilah 'rudapaksa' Yesus ini?

Benarkah karena kebodohan, atau justru karena kelicikan, tapi tetap saja bodoh?
Mengapa mereka menggunakan standar ganda untuk menjelaskan silsilah Yesus yang di satu sisi mati-matian dipertahankan sebagai 'anak Allah' tapi di sisi lain memaksakan pula agar Yesus disebut sebagai anak Daud anak Abaraham?    

Yang paling dekat urusannya dengan silsilah Yesus ini adalah kandungan Kitab Ulangan 18:18 yang juga sudah 'diubah-suai' oleh gereja dari bunyi aslinya yang ada menyebut kata “Saudara Bangsa Mereka” disulap menjadi “Bangsa Mereka Sendiri”

Tidak percaya? Silahkan cross-check di sini:
 (KJV) I will raise them up a Prophet from among their brethren, like unto thee, and will put my words in his mouth; and he shall speak unto them all that I shall command him.

Bandingkanlah dengan berikut ini:
(GNB) I will send them a prophet like you from among their own people; I will tell him what to say, and he will tell the people everything I command.

(BIS) Dari bangsa mereka sendiri Aku akan mengutus kepada mereka seorang nabi seperti engkau. Aku akan mengatakan kepadanya apa yang harus dikatakannya, lalu ia akan menyampaikan kepada bangsa itu segala yang Kuperintahkan.

Ternyata ayat Kitab Ulangan 18:18 Ini ada hubungannya dengan nubuat akan datangnya seorang Nabi yang seperti Musa (as), sebagaimana disebutkan dalam ayat ke-18 s.d ayat ke-20:

[18:18] seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

[18:19] Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.

[18:20] Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus dibunuh. (al. Douay Rheims & New Century Version).

Untuk memenuhi ramalan tersebut dan 'gagasan cemerlang' tadi, maka gereja yang mencatut nama Matius, dengan menjadikan Septuaginta Perjanjian Lama berbahasa Yunani sebagai salah satu sumber inspirasi penulisan kitab Matius, berusaha meyakinkan pembaca dengan melakukan manipulasi dalam kitab Matius yang dimulai dengan kata kunci ini:

[Matius 1:1] Inilah silsilah Yesus anak Daud anak Abraham.

Sekarang coba kita buka Kitab Matius 1 dan perhatikanlah ayat ke-17:
"Jadi seluruhnya ada: empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus."

Sang penulis berulang-ulang menekankan 3 rangkaian yang masing-masing terdiri dari 14 keturunan. Jika nama-nama tersebut dijumlahkan, maka jumlahnya adalah 41 keturunan. Padahal jika mengacu pada Matius 1:17 (salah satu rangkaian tersebut berjumlah 13 keturunan), jumlah seharusnya adalah 42 keturunan. Dari sini saja si penulis Matius sudah keliru menuangkan gagasan cemerlang gereja itu.

Mengapa mereka membuat 3 rangkaian kalimat yang masing-masing berjumlah 14 keturunan? Jawabannya mudah saja, yaitu untuk menyesuaikan sandi numerologi huruf-huruf bahasa Ibrani pada abad pertama Masehi. Sandi numerologinya terletak pada kata "DAWUD" atau "DAVID".

Mengingat huruf Ibrani tidak mengenal vokal, tetapi hanya konsonan, maka kata "DAVID" dalam teks Ibraninya adalah "DVD". Dari sini diperoleh rangkaian huruf DVD dan dapat dipecah berdasarkan numerologi mereka. Huruf "D" adalah huruf ke-4 dalam urutan abjad Ibrani, sedangkan huruf "V" adalah huruf ke-6, sehingga kata "DVD" berarti 4 + 6 + 4 = 14. Jadi, angka 14 inilah yang menjadi inspirasi 'gagasan cemerlang' mereka untuk penyebutan '14 keturunan' dalam Matius 1:17.

Padahal, seperti dapat dibaca sendiri, Kitab Perjanjian Lama menyebutkan bahwa keturunan Daud yang menjadi raja adalah: (1) Salomo, (2) Rehabeam, (3) Abia, (4) Asa, (5) Yosafat, (6) Yoram, (7) Ahazia, (8) Yoas, (9) Amazia, (10) Azarya (Uzia), (11) Yotam, (12) Ahas, (13) Hizkia, (14) Manasye, (15) Amon, (16) Yosia, (17) Yoyakim, dan (18) Yekhonya.
Jadi, ada 18 keturunan sebelum pembuangan orang-orang Yehuda ke Babel. Bukan 14 keturunan. Namun demikian, demi memenuhi gagasannya sebagaimana dijelaskan di atas, pengarang Matius menghilangkan 4 nama: (7) Ahazia, (8) Yoas, (9) Amazia, dan (17) Yoyakim agar berjumlah "14 keturunan", sehingga sesuai dengan gagasan si penulis Matius.
Dan inilah yang disebut kelicikan tapi tetap bodoh tadi. Sebab jelas sekali si penulis Matius ingin menanamkan pemahaman di benak pembaca -- bahwa oleh karena keyakinan umat Yahudi tentang "mesias" yang diidam-idamkan itu akan datang dari keturunan Daud -- maka si penulis pun  membuat daftar "silsilah Yesus" dengan "memaksakan" garis keturunan Yesus melalui ayah asuhnya, Yusuf, guna menyambung tali keturunan hingga Daud!

Oleh karena itu, secara vulgar dan tanpa malu-malu mereka pun membuat "Injil Matius" dengan permulaan ayat yang menyatakan bahwa Yesus adalah anak Daud!

Sangat boleh jadi tidak semua umat Kristen sempat atau berani 'mengorek-ngorek' isi alkitabnya sampai sejauh ini. Tapi umat Muslim belajar dari Al-Qur'an bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen yang melakukan 'ubah-suai' terhadap ayat-ayat wahyu Allah dalam alkitab ini sesungguhnya mengetahui dengan terang benderang bahwa nubuat dalam Kitab Ulangan 18:18-20 itu dimaksudakan untuk 'saudara mereka' dari tanah Arab yang semua rinciannya mengarah pada sosok Nabi Muhammad (saw). Tapi mereka tidak sudi menerimanya dan berusaha untuk mengalihkan ciri-ciri itu kepada Yesus. Padahal ciri-ciri seperti yang digambarkan dalam nubuat itu sama sekali tidak cocok dengan Yesus. Dengan demikian, kemudian timbullah pertanyaan yang sangat mengganggu umat Kristen: Siapakah Nabi yang mirip dengan Nabi Musa? Jawabnya adalah seperti yang diterangkan di sini.



Baca juga:

Tantangan Buat Para Pendeta Dan Pastur


TANTANGAN BUAT PARA PASTUR & PENDETA KRISTEN!
Matius menulis begini:
[Matius 2:23] Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya GENAPLAH firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.

Silahkan cari di seluruh bab alkitab anda, lalu tunjukkan pada kami: Sebenarnya Matius 2:23 ini MENGGENAPI firman-firman yang mana?

Mana Bukti Shahih Alkitab Tentang "Kenaikan" Yesus Ke Sorga?


Kita langsung saja.
AYAT-AYAT 'MISTERIUS' DALAM ALKITAB

Berikut ini adalah Injil Markus 16:9-20 yang mengisahkan peristiwa kebangkitan hingga terangkatnya Yesus ke sorga sebagaimana tertulis dalam alkitab.



MARKUS 16
[9] Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.
[10] Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.
[11] Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
[12] Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.
[13] Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya.
[14] Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.
[15] Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.
[16] Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
[17] Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
[18] mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
[19] Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.
[20] Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

Ayat ayat di atas adalah landasan pembaptisan dan penginjilan umat kristen. Tapi SILAHKAN BELALAKKAN MATA ANDA untuk MENCARI ayat ayat tersebut pada KANON ALKITAB CODEX SINAITICUS!

Bagi yang penasaran ingin menelusuri sendiri sampai ke sumbernya, silahkan berkunjung ke alamat ini:

TERNYATA MARKUS 16:9-20 TIDAK DIJUMPAI DALAM KANON ALKITAB CODEX SINAITICUS! Satu lagi bukti ayat-ayat palsu dalam alkitab!

Tuhan Ingkar Janji?


Lagi, ayat-ayat "sangat mencurigakan" dalam alkitab!

TUHAN INGKAR JANJI?

Ah, Mustahil! Mana mungkin Tuhan ingkar janji?
Baiklah! 

Jika kita sepakat bahwa MUSTAHIL Tuhan ingkar janji, maka mari sama-sama kita perhatikan ayat-ayat alkitab berikut ini.

[Kejadian 15:18] Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman: “Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat:

Kitab yang sama ini mengisahkan bahwa Abraham memiliki dua orang anak. Lalu anak yang manakah yang dimaksud oleh Tuhan dalam perjanjian-Nya?

Jawabannya tertulis di bawah ini:

[Kejadian 17:18] Dan Abraham berkata kepada Allah: “Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!”

[Kejadian 17:19] Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.

Wah! Ternyata menurut kitab ini, perjanjian itu diadakan oleh Tuhan dengan anak Abram yang bernama Ishak, yang kelak akan menjadi nenek moyang bangsa Israel, dan diulang lagi seperti di bawah ini:

[Kejadian 17:21] Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga.”

Apakah kemudian kitab ini membuktikan bahwa perjanjian tsb benar-benar dipenuhi oleh Tuhan?
Begini faktanya:


Jika anda benar-benar memperhatikan peta geografis yang dimaksud dalam perjanjian di atas, maka kita segera tahu bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini tidak ada satupun negeri dari keturunan Ishak [Israel] yang menguasai wilayah dari Mesir hingga sungai Eufrat.

Bahkan di masa puncak kejayaan bangsa Israel yang mampu membagun kerajaan terbesarnya di bawah pemerintahan Daud hingga Solomon sekalipun, ternyata wilayah yang dikuasainya hanya sebatas pojok sebelah utara mesir, dan luasnya pun tidak lebih besar dari luas pulau Jawa!

Dan silahkan anda yang kristen kaget barang sejenak -- atau kejang-kejang sekalian -- saat menyadari fakta yang ada, bahwa sejak dahulu kala hingga hari ini seluruh wilayah dari Mesir hingga Sungai Efrat tsb nyatanya dipenuhi oleh bangsa-bangsa Arab keturunan Ismael!

Nah, bagaimana ini? Kenapa Tuhan kok ingkar janji? 
Sampai di sini, sekali lagi, pasti anda akan bilang;
"Ah! Mustahil Tuhan ingkar janji!"

Dengan demikian kita perlu mulai serius memikirkan bahwa jika memang mustahil, pasti ada yang "tidak beres" di sini!

Tapi kira-kira apa yang tidak beres itu?

  1. Mungkin tulisan ini salah menafsirkan informasi dari alkitab? 
  2. Mungkin alkitab yang dijadikan rujukan salah menuliskan informasinya? 
  3. Mungkin informasi alkitab sebenarnya tidak salah, tapi para editornya telah dengan sengaja mengganti nama-nama yang dimaksud dalam perjanjian tsb?

Dapatkah anda tolong bantu mencaritahu perihal temuan fakta alkitabiah yang 'sangat mencurigakan' ini?

Jika dapat, maukah anda untuk selanjutnya menjelaskan kepada kami duduk perkara yang sebenarnya berikut bukti-bukti empiris yang mendukung penjelasan anda?

Monggo, silahken.

[Sumber: xucinxgaronx | Islam Menjawab Fitnah]


Tanya Jawab Seputar Doktrin Trinitas Dalam Kristen


1. Apakah Yesus Mengajarkan Trinitas? 
Tanya: Apakah Allah mewahyukan dan mendefinisikan Trinitas kepada Yesus?
Jawab: Berdasarkan Alkitab, Allah tidak pernah mewahyukan dan mendefinisikan Trinitas kepada Yesus. Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Allah mewahyukan Trinitas Kepadanya. Yesus sendiri tidak pernah menyebut-nyebut Trinitas, apalagi sampai menyatakan bahwa dirinya adalah bagian dari Trinitas.

A. N.Wilson dalam bukunya Jesus A Life, 1992, hal 16 mengungkapkan:
"I had to admit that I found it impossible to believe that a first-century Galilean holy man (Jesus) had at any time of this life believed himself to be the Second Person of the Trinity).

Terjemah: "Saya harus mengakui bahwa memang tidak mungkin untuk mempercayai bahwa orang suci dari Galelia abad ke-1M (Yesus) pernah sekali saja dalam hidupnya berfikir bahwa dirinya adalah oknum kedua dari Trinitas.


2. Apakah Trinitas Adalah Ajaran Para Nabi Terdahulu?
Tanya: Apakah Allah pernah mewahyukan Trinitas kepada Para Nabi sebelum Yesus?
Jawab: Tidak! Allah tidak pernah mewahyukan maupun mendefinisikan Trinitas kepada nabi­-nabi sebelum Yesus. Mereka semua menerima wahyu tentang Tauhid. Tidak secuil pun ajaran tentang Trinitas ditemui dalam Perjanjian Lama.

Buku Encyclopedia of Religion mencatatkan hal ini:
"Theologians today are in agreement that the Hebrew Bible does not contain a doctrine of the Trinity."

Terjemah: "Para ilmuwan Kristen dewasa ini sepakat bahwa ajaran Trinitas tidak ada dalam Alkitab (Perjanjian Lama) bahasa Ibrani."


Selanjutnya buku New Catholic Encyclopedia juga menegaskan:
"The doctrine of the Holy Trinity is not taught in the Old Testament".

Terjemah: "Ajaran Trinitas tidak pernah diajarkan dalam Perjanjian Lama."

Perhatikanlah apa yang disampaikan oleh para nabi utusan Allah dalam Perjanjian Lama:

[Ulangan 6:4] "Dengarlah hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa"
[Yesaya 46:9] "Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku"

Andaikata Allah mewahyukan Trinitas kepada nabi-nabi Yahudi sebelum Yesus, tentu saja sudah sejak lama orang Yahudi menyembah Trinitas.

Namun bagaimana mungkin Allah mewahyukan Trinitas kepada Yesus agar umat Yahudi menyembah trinitas, sementara Yesus sendiri yang mengajarkan Tuhan itu Esa adalah seorang putra Yahudi yang sekalipun lahir ratusan tahun setelah para nabi-nabi ternama seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Daud dan lain-lain tiada, justru meneruskan ajaran Tuhan itu Esa? 

3. Apakah Murid-Murid Yesus Mengenal Trinitas? 
Tanya: Apakah Yesus mengajarkan dan mendefinisikan Trinitas kepada Murid ­muridnya? 
Jawab: Yesus tidak pernah mengajarkan atau mendefinisikan Trinitas kepada murid­-muridnya. Sebaliknya beliau mengajarkan keesaan Allah.

[Markus 12:29] "Denqarlah hai oranq Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa"

Sejarawan Arthur Weigall dalam bukunya Paganism in Our Chrisrianity menulis: "Jesus Christ never mentioned such a phenomenon, and nowhere in the New Testament does the word Trinity appear. The idea was only adopted by the Church three hundred years after the death of our Lord."

Terjemah: "Yesus Kristus tidak pernah menyinggung tentang fenomena seperti itu (Trinitas), dan kata Trinitas tidak di temukan dimana pun dalam kitab Perjanjian Baru. Ide ini baru dianut Gereja tiga ratus tahun setelah Yesus tiada."

Dalam Al-Qur'an Allah menegaskan bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas:
"Sesungguhnya telah kafirlah orang-oranq yanq berkata: 'Sesungguhnya Allah ialah Almasih putra Maryam', padahal Almasih (sendiri) berkata: 'Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu'.

"Sesungguhnya oranq yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan sorqa baginya, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-oranq zalim itu seorang penolong pun." (Q.S. Al-Maidah 5:72)
4. Benarkah Amanat Agung Merupakan Perintah Dari Tuhan Trinitas?
Tanya:  Merujuk pada Matius 28:19, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus", benarkah bahwa yang disebut-sebut oleh umat kristen sebagai Amanat Agung itu merupakan perintah dari Tuhan Trinitas?
Jawab: Ayat emas yang selalu dikutip oleh kebanyakan umat kristen guna menunjang iman mereka terhadap eksistensi Trinitas di atas adalah AYAT PALSU! Karena sebenarnya, Injil Matius pasal 28 berakhir pada ayat 15, sedangkan lima ayat berikutnya, Matius 28:16-20, adalah ayat-ayat yang ditambahkan oleh gereja di kemudian hari. Mereka yang dikaruniai akal sehat dan membaca pasal 28 ini dengan cermat akan segera mendeteksi bahwa injil Matius 28:15 merupakan penutup Injil Matius.

[Matius 28:15] "Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan cerita ini tersiar diantara orang Yahudi sampai saat ini".

Perhatikan kalimat, "cerita ini tersiar sampai saat ini" di atas yang menunjukkan bahwa peristiwanya sudah lama berlaku. Ini memperlihatkan bahwa Injil ini sudah lama selesai ditulis. Cerita ini sudah menjadi cerita rakyat yang dikisahkan secara turun temurun hingga kemudian ayat 16-20 ditambahkan. Alasan penambahan ayat-ayat dalam Matius 28 ini mudah dimengerti, yakni karena Gereja ingin menambahkan doktrin keimanan mereka dalam Injil. Mereka tanpa ragu, apalagi malu menambahkan ayat-ayat palsu tersebut, walaupun pada akhirnya tertangkap logika pembaca sebagai sebuah alur perikop yang sangat janggal!

Mengenai ayat-ayat palsu yang ditambahkan kemudian oleh Gereja tsb, perhatikanlah pernyataan para pakar Alkitab dan sejarah Kristen seperti di antaranya; Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah Nobel tahun 1959, dalam bukunya The Original New Testament, hal 124:

"This (Matthew 28:15) would appear to be the end of the Gospel (of Matthew). What follows (Matthew 28:16-20) from the nature of what is said, would the be a latter addition."

Terjemah: Ayat ini (Matius 28:15) nampak sebagai penutup injil (Matius). Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya (Matius 28:16-20), dari kandungan isinya, nampak sebagai (ayat-ayat) yang baru ditambahkan kemudian. 


Selanjutnya, Robert Funk, Professor dalam Ilmu Perjanjian Baru, Universitas Harvards, dalam bukunya The Five Gospels, mengomentari ayat-ayat tambahan ini sebagai berikut: 

"The great commission in Matthew 28:16-20 have been created by the individual evangelist reflect the evangelist idea of launching a word mission of the church. 

Jesus probably had no idea of launching a world mission and certainly was not the institution builder. (It is) not reflect direct instruction from jesus." 


Terjemah: "Perintah utama dalam Matius 28:18-20 diciptakan oleh para penginjil, memperlihatkan ide untuk menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh dunia. 

Yesus sangat mungkin tidak pernah berpikir untuk mengadakan misi penyebaran  ajarannya ke seluruh dunia, dan  yang pasti bukan pendiri lembaga (penyebaran gama Kristen) tsb. Ayat ini tidak menggambarkan perintah yang diucapkan Yesus."

Seandainya ayat tersebut memang diucapkan oleh Yesus sekalipun, belum dapat dianggap sebagai rumusan Trinitas, sebab ayat ini hanya menyebut tiga oknum, tapi tidak pernah menegaskan bahwa yang tiga tsb adalah satu. 

5. Berarti Murid-Murid Yesus Tidak pernah Mengajarkan Trinitas? 
Tanya: Berdasarkan penjelasan No.4 di atas, berarti kita sepakat bahwa murid-murid Yesus tidak pernah mengajarkan Trinitas? 
Jawab: BENAR! Murid-murid Yesus adalah orang-orang Yahudi. Mereka tidak pernah mengajarkan Trinitas kepada golongan mereka. Apa yang mereka ajarkan adalah ajaran Tauhid yang diajarkan Yesus kepada mereka. 

Dari ratusan Injil yang ditulis orang pada abad pertama sampai awal abad keempat, tidak satu pun yang mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang harus di sembah. Pemimpin murid-murid Yesus sepeninggal Yesus adalah adiknya sendiri, Yakobus, yang mengajarkan Tauhid sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus. 

Sejarah memperlihatkan bahwa ajaran tentang Trinitas mulai berkembang setelah Paulus mengawinkan ajaran Yahudi dengan ajaran penyembah berhala, agar cocok dan kemudian dianut juga oleh penyembah berhala bangsa-bangsa selain bangsa Israel. 

Ajaran Trinitas menuju dan mencapai formulasi akhir setelah orang-orang Romawi dan Mesir memasukkan ajaran penyembah berhala ke dalam ajaran Kristen. 

Perhatikanlah khotbah Petrus di Tripoli, Libia, yang diabadikan kedalam kitab Pseudoclementine Homilies 11:35 berikut ini: 

"Our Lord and Prophet (Yesus), who has sent us, declared to us that the Evil One, having disputed with him forty days, but failing to prevail against him, promise He would send Apostles from amonq his subjects to device them. Therefore, above all, remember to shun any Apostle, teacher, or prophet who does not accurately compare his teachinq with (that of) James, the brother of our Lord, and this, even if he comes to you with recommendations." 

Terjemah: "Tuan dan nabi kita (Yesus), yang mengirim kami, menyatakan kepada kami bahwa Setan berdebat dengannya selama 40 hari, tetapi gagal mengalahkan­nya, dia berjanji (setan) akan mengirim rasul-rasul dari golongannya untuk menyesatkan mereka (pengikut-pengikut Yesus). Oleh karena itu sangat penting untuk di ingat, agar menghindari rasul, guru, atau (yang mengaku) nabi yang ajarannya tidak sesuai dengan ajaran (tauhid) Yakobus, saudara tuan saya (Yesus), walaupun dia datang kepadamu dengan mengatakan bahwa dia sudah direstui." 

Dengan memperhatikan khotbah Petrus di atas dengan mudah kita dapat menebak siapa rasul, guru, dan nabi palsu yang dia maksudkan. 

Encyclopedia of Religion and Ethics menjelaskan berikut ini: "At first the Christian faith was not Trinitarian. lt was not so in the apostolic and sub apostolic ages, as reflected in the (New Testament) and other early Christian writings." 

Terjemah: "Pada mulanya keimanan Kristen bukan Trinitas. Tidak ada ajaran Trinitas di zaman murid-murid Yesus maupun sesudahnya, sebagaimana dapat dilihat dalam (Kitab Perjanjian Baru) maupun karya para penulis Kristen awal lainnya."  


6. Benarkah Paulus Yang Mengajarkan Trinitas?
Tanya: Sebagai pendiri agama Kristen, apakah Paulus juga mengajarkan dan memformulasikan Trinitas?   
Jawab: BUKAN! Paulus (5-67M) tidak pernah mengajarkan dan memformulasikan ide Trinitas. Silahkan baca surat-suratnya kepada orang-orang Romawi di Roma, Korintus, Filipi, Efesus dan lain-lain, anda tidak akan menemukan secuil pun ajaran Trinitas di dalamnya. Malah sebaliknya Paulus menekankan keesaan Tuhan.  

[1korintus 8:5-6] "Memang benar ada banyak "Allah" (Tuhan) dan banyak "tuhan" (tuan - pemimpin) yang demikian namun bagi kita hanya ada satu "Allah" (Tuhan) Saja yaitu bapa, yang dari padaNya berasa (segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu tuhan (tuan - pemimpin) saja, yaitu Yesus Kristus."  

Kendati sangat jelas terlihat dari banyak tulisannya bahwa Paulus berusaha sekuat tenaga untuk mengkultuskan Yesus sebagai Anak Allah dan Juru Selamat -- meskipun untuk itu ia mendapat tantangan hebat dari umat Yahudi yang mengharamkan istilah "Anak Allah" kepada Yesus -- namun pada jamannya, Paulus nampaknya belum sampai pada taraf mempertuhankan Yesus, atau menyamakannya dengan Tuhan Allah.  

Akan tetapi justru karena gagasan Paulus yang mempromosikan Yesus sebagai anak Allah itulah maka dalam perkembangannya, ajaran kristen akhirnya melenceng jauh dari ajaran murni Yesus yang berbasis Tauhid -- yaitu mengakui hanya satu Tuhan yang wajib disembah yaitu Allah -- menjadi Trinitas yang mencampur-adukkan unsur-unsur Pagan ke dalam ajaran murni Yesus! 

7. Di Bagian Mana Alkitabkah Dapat Ditemui Ajaran Trinitas?
Tanya: Jika Paulus tidak mengajarkan Trinitas, apakah kita dapat menemukan Trinitas dalam Alkitab?   
Jawab: TIDAK! Ajaran Trinitas tidak ditemukan baik dalam kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Edmund J. Fortman dalam bukunya The Triune God menjelaskan: 

"The Old Testament tells us nothing explicitly or by necessary implication of a Triune God who is Father,  Son and Holy Spirit.

There is no evidence that any sacred writer ever suspected the existence of a (Trinity) whitin the Godhead. 

Even to see in (the Old Testament) suggestion or foreshadowing or veiled siqn of the Trinity of persons, is to go beyond the words and inent of the sacred writers." 

Terjemah: Kitab Perjanjian Lama tidak menjelaskan apa pun secara eksplisit, atau implikasi dari perlunya Kesatuan Tiga Tuhan ini, yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus. 

Tidak ada bukti tentang kecurigaan para penulis kitab suci tentang adanya tiga unsur (Trinitas) dalam Ketuhanan. 

Bahkan bila diteliti dari kitab Perjanjian Lama, sugesti pendapat, pemikiran, dan tanda-tanda terselubung tentang adanya kesatuan tiga oknum dalam Kitab Perjanjian Lama, sangat jauh melampaui kata-­kata maupun maksud para penulis kitab-kitab itu sendiri. 

Mengenai kitab Perjanjian Baru, buku Encyclopedia of Religion menulis:
"Theologians agree that the New Testament also does not contain an explicit doctrine of the Trinity." 

Terjemah: Para Teolog Kristen sependapat bahwa secara eksplisit doktrin Trinitas juga tidak ada dalam muatan Perjanjian Baru. 

Pernyataan tentang Trinitas ditemukan dalam Alkitab berbahasa Indonesia (1Yohanes 5:7-8): 

[1Yohanes 5:7] "Sebab ada tiga yang memberi kesaksian {di dalam sorga: Bapa Firman dan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu". Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi}: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu. 

Ini adalah satu-satunya formulasi Trinitas tentang Tuhan, Yesus, dan Roh Kudus, yang dianggap sempurna dalam Alkitab. Namun kemudian ternyata bahwa ayat ini (perhatikan tanda "{}" yang di bubuhkan oleh penterjemah Alkitab LAI) adalah ayat palsu yang baru diselipkan atas restu Gereja ketika Alkitab dicetak di Frankfurt, Jerman pada tahun 1574. Perhatikan catatan kaki dari Alkitab New International Version, hal. 907 yang menyebutkan: "(Ayat ini) tidak ditemukan di semua naskah Alkitab yanq ditulis sebelum abad XVI" 
Sangat disayangkan Lembaga Alkitab Indonesia tidak jujur menjelaskan bahwa ayat dalam { "tanda kurung" } tsb adalah AYAT PALSU. Tapi terlepas dijelaskan atau tidak, tokh kita sudah lihat sendiri bahwa baik istilah Trinitas maupun ajaran tentang Trinitas itu sendiri sesungguhnya  TIDAK PERNAH ADA dalam Alkitab!  

8. Dari Mana Sebenarnya Asal Usul Trinitas? 
Tanya: Apa arti Trinitas dalam kristen, dan dari manakah asal muasalnya?   
Jawab: Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah tiga oknum Tuhan yakni Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus. Ketiganya adalah satu kesatuan.

Dogma ini berasal dari paham Platonis yang dicetuskan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad ke-2M [Tony lane 1984].

Edward Gibbon
dalam bukunya The Decline and fall of the Roman Empire, hal 388, menulis: 

"Plato consider the divine nature under the thee fold modification: of the first cause, the reason, or Logos; and the soul or spirit of the universe, the Platonic system as three Gods, united with each other by a mysterious and ineffable qeneration; and the Logos was particularly considered under the more accessible character of the Son of an eternal Father and the Creator and Governor of the world." 

Terjemah: Plato menganggap natur keilahian terdiri dari  tiga unsur, yaitu: Penyebab awal, Firman (Logos), dan Roh alam semesta. Dalam sistem Platonis adalah tiga Tuhan yang menyatu antara satu sama lain melalui kehidupan yang baka dan misterius; dan khususnya Firman (Logos), dianggap karakter yang paling sesuai sebagai Anak Bapa yang baka dan sebagai pencipta dan pengatur alam semesta. 

Ajaran tiga Tuhan dalam satu ini bukan hanya dianut masyarakat Yunani dan Romawi, tetapi juga mereka yang mendiami wilayah Asia Barat, Tengah, Afrika Utara dan pengaruhnya menyebar ke beberapa kawasan lainnya di dunia. 


"Throuqhout the ancient word, as far back as Babylonia the worship of pagan qods qrouped in triplets were common. This practice was also prevalent, before, during, and after Christ in Egypt, Greece and Rome. After the death of the Apostles, such pagan beliefs began to invade Christianity." 

Terjemah: Sepanjang zaman purbakala, sejak masa kerajaan Babilonia, penyembahan manusia kepada Dewa-Dewa Pagan  dalam kesatuan "kembar tiga" adalah hal yang umum. Kebiasaan ini juga banyak ditemukan sebelum, pada masa, dan sesudah Yesus; di Mesir, Yunani dan Romawi. Setelah kematian murid-murid Yesus, kepercayaan penyembah berhala ini mulai merasuk ke dalam ajaran Kristen. 

9. Lalu, Apa Maksud Ucapan Yesus, "Aku Dan Bapa Adalah Satu"?
Tanya: Dalam Yohanes 10:30 Yesus berkata: "Aku dan Bapa adalah satu." Tidakkah itu berarti bahwa Yesus adalah sama atau "ko-ekual" dalam status dengan Bapa? 
Jawab: Dalam bahasa Yunani [Latin] "heis" berarti "satu" secara bilangan (berjenis kata laki-laki), sedang "hen" berarti "satu" dalam "kesatuan" atau esensinya. Dalam catatan pinggir New American Standard Bible (NASB) terbaca; Satu - (Lit.neuter) kesatuan atau satu essensi (atau intisari, hakikat). 

If one wishes to argue that the word "hen" supports their claim for Jesus being "co-equal" in status with his Father, please invite his/her attention to the following verse: Jesus said: "And the glory which Thou has given me, I have given to them (disciples); that they may be one, just as we are one." (John 17:22). 

Terjemah: Jika umat Kristen tetap membantah bahwa justru kata "hen" tadi mendukung pernyataan mereka bahwa Yesus "co-equal" (dua-duanya sama) dalam status dengan Bapanya, maka cobalah tarik perhatian mereka untuk mengikuti ayat berikut ini: "Dan Kemuliaan yang telah Engkau (Bapa) berikan kepadaku, telah aku berikan pula kepada mereka (para pengikut Yesus), supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu" (Yohanes 17: 22). 

If he/she was to consider/regard/believe the Father and Jesus Christ to be "one" meaning "co-equal" in status on the basis of John 10:30, then that person should also be prepared to consider/regard/believe "them" - the disciples of Jesus, to be "co-equal" in status with the Father and Jesus ("just as we are one") in John 17:22. I have yet to find a person that would be prepared to make the disciples (students) "co-equal" in status with the Father or Jesus. 

Terjemah: Jika dia mempertimbangkan/menganggap/percaya bahwa Bapa dengan Yesus itu "satu" dalam arti "co-equal" (Dua-duanya sama) dalam status dengan berdasar kepada Yohanes 10:30, maka orang tadi mesti pula bersiap-siap untuk dia mempertimbangkan/menganggap/percaya bahwa "mereka" (para murid Yesus) juga "co-equal" dalam statusnya dengan Yesus dan Bapa (seperti dalam ayat: "sama seperti kita adalah satu") dalam Yohanes 17: 22. Selama ini saya belum pernah menemukan orang yang siap untuk meyakini bahwa murid-murid Yesus adalah "co-equal" dalam status dengan Bapa atau Yesus sendiri. 

The unity and accord was of the authorized divine message that originated from the Father, received by Jesus and finally passed on to the disciples. Jesus admitted having accomplished the work which the Father had given him to do. (Jn.17:4). 

Terjemah: Kesatuan dan persetujuan adalah kewenangan pesan suci yang berasal dari Bapa, diterima oleh Yesus dan akhirnya diteruskan kepada para pengikutnya. Yesus mengakui telah menyelesaikan pekerjaan yang telah diberikan Bapa kepadanya untuk dikerjakan (Lihat Yohanes 17: 4: "Aku telah mempermuliakan engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya"). 

HOT TIP
Jesus said: "I go to the Father; for the Father is greater than I." (Jn.14:28). This verse unequivocally refutes the claim by any one for Jesus being "co-equal" in status with his Father. 

Terjemah: Yesus berkata: "Aku pergi kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripada Aku" (Yohanes 14: 28). Ayat ini dengan begitu gamblang membuka kesalahan atas pengakuan (klaim) dari siapapun yang menyatakan bahwa Yesus "co-equal" (kedua duanya tepat sama) dalam status dengan bapaknya.[*] 

[*] Dalam bahasa kitab suci, ungkapan-ungkapan seperti ini sering terjadi, dan hendaknya pembaca berlaku arif dan memiliki kehalusan jiwa untuk menangkap ungkapan tadi sebagai pelajaran. Sebab ini bukanlah arti yang sebenarnya. 

Dalam Al-Quran misalnya, terdapat ayat yang bermakna: "Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar, ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar ..." [QS.8:17], Atau dalam hadits Qudsi dikatakan, bila seorang hamba mendekat secara sempurna, bukan sekedar dengan penunaian yang wajib tetapi lengkap dengan sunnah-sunnahnya, maka, "Aku menjadi matanya ketika dia melihat, menjadi tangannya ketika dia memukul menjadi kakinya ketika dia berjalan." 

Kalimat kalimat seperti ini, tidak boleh langsung disimpulkan bahwa "benar benar orang itu bermata Allah, bertangan dan berkaki Allah," tetapi pada tingkat kebersihan jiwa seperti itu, orang tadi dalam melihat, menggerakkan tangan dan melangkah, senantiasa selaras dengan apa yang diridhoi Allah. 

Umat kristen nampaknya terlalu terburu-buru menyimpulkan yang tersurat, sehingga "kebablasan" berani berkata bahwa Yesus adalah Allah, dan Allah adalah Yesus dalam arti satu, sama, itu itu juga! Padahal orang bercinta saja jika mengatakan, "Kau dan Aku adalah satu" tentu artinya bukan mereka yang saling dimabuk cinta itu melebur dari dua orang menjadi satu orang, bukan? 

Di kalangan ulama Islam pun dahulu pernah terjadi penyimpulan kasar berdasar kata tersurat, yakni banyak ulama berfatwa bahwa orang yang telah berwudhu, bisa batal wudhunya bila "menyentuh" perempuan, mereka memahami kesimpulan itu dengan mengambil dasar Al-Quran S.4:43. Untung Al-Quran masih memiliki teks aslinya, bahkan tafsir murid langsung Nabi pun masih ada, sehingga gampang ditelusuri maksud yang sebenarnya, bahwa ternyata menurut Ibnu Abbas ra [Sahabat Nabi SAW], bahwa menyentuh di sana bukan sekedar "menyentuh," tetapi semacam ungkapan sopan yang menyiratkan arti "lebih intim," atau katakanlah 'sentuhan' yang bisa menyebabkan hamil, seperti secara sopan diungkap Maryam dalam QS. 19:20. 

Bagi kristen, apalagi yang menerima 'kebenaran kristen' cuma dari teks bahasa Insonesia saja, memang agak sulit untuk menelusuri arti sebenarnya dari kata kata yang tersurat dalam injil mereka sendiri.  

10. Bagaimanakah Definisi Trinitas?
Tanya: Sudah 9 pertanyaan, tapi nampaknya semakin menjelaskan ketidak-jelasan trinitas secara meyakinankan. Lantas, sebenarnya apa sih definisi trinitas? 
Jawab: Athanasian Creed (abad VI M) mendefinisikan Trinitas sebagai: 

"The Father is God, the Son is God, and the Holy Ghost is God. And yet there Gods but one God." 

Terjemah: Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan. Namun bukan tiga Tuhan melainkan satu Tuhan. 

The Orthodox Christianity kemudian mendefinisikan lagi Trinitas sebagai: 
"The Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God, and toqether, not exclusively, the form one God." 

Terjemah: Bapak adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan, dan bersama-sama, bukan sendiri-sendiri, membentuk satu Tuhan. 

Sebelumnya sudah banyak para pemimpin Gereja yang mencoba memasukkan ajaran Platonis dan agama Mesir tentang tiga Tuhan dalam satu. Namun upaya tesebut baru pada tahap adanya tiga unsur atau oknum yang memiliki ikatan satu dengan lainnya saja. 

Ketetapan ketiga oknum: Tuhan, Anak, dan Roh Kudus masing-masing dianggap Tuhan setara dan abadi, tidak pernah ada sebelum ditetapkananya Athanasian Creed (Kredo Athanasius) pada abad ke-4M.  

11. Masih Adakah Dalil Lain Tentang Trinitas? 
Tanya: Terkait Trinitas, pendapat tokoh-tokoh sejarah mana sajakah yang dianggap penting untuk kita ketahui? 
Jawab: (1) Irenaeus (125-203) menjelaskan bahwa Tuhan tidak sendirian. Selalu ada Firman dan Hikmah bersamanya, Anak dan Roh, yang melaluinya Tuhan menciptakan segala sesuatu secara bebas dan spontan. 

"The Church, though scattered thoroughout the whole world to the earth, has received from the apostles and their disciples this faith: in one God, the Father almighty, maker of heaven and earth and sea and all thing in them; and in one Christ Jesus, the Son of God, who was made flesh for our salvation, and in the Holy Spirit." 

Terjemah: Gereja, yang walaupun tersebar di seluruh dunia, sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para Rasul dan murid-murid mereka keyakinan ini: (Percaya) kepada Tuhan Yang Maha Besar, pencipta Sorga dan bumi dan laut dan segala yang ada di dalamnya; dan dalam satu Kristus, Yesus, Anak Tunggal Allah, yang telah menjadi daging demi keselamatan kita, dan didalam Roh Kudus. 

Dalam definisi ini jelas sekali bahwa sampai akhir abad ke-2M, para pemimpin Gereja dan umat Kristen masih beranggapan bahwa Allah (Bapa) adalah satu-satunya Tuhan yang Maha Besar. Yesus hanya dikenal sebagai Anak Allah sebagaimana yang dikumandangkan oleh Paulus. 

(2) Tertulian (160-230) merupakan yang pertama menggunakan istilah Trinitas. Dia mendefinisikan Trinitas sebagai: "una substantia trepersonae" (satu zat dalam tiga oknum). Dia mengatakan: 

"Let us preserve the mystery of the divine economy which dispose the unity into trinity, the Father, the Son, and the Holy Spirit, three not in essence but in grade, not in substance but in form". 

Terjemah: Marilah kita menjaga misteri ikatan keilahian yang menjelaskan kesatuan dari yang tiga, Bapa, Anak dan Roh Kudus, tiga bukan dalam sari, tetapi dalam tingkatan, bukan dalam zat tetapi dalam bentuk. 

Menurut Tertullian, ketiga oknum; Bapa, Anak, dan Roh Kudus memiliki tingkatan yang berbeda-beda. 

(3) Origen (185-250) mengajarkan tiga Tuhan dalam Trinitas bertingkat: Bapa lebih besar dari Anak, yang lebih besar dari Roh Kudus. Hanya Bapa satu-satunya Tuhan yang sesungguhnya. dan untuk ini ia menegaskan: 

"First, that there is one God. Secondly, that Jesus Christ himself was born of the Father before all creatures. Thirdly, that the Holy Spirit was associated in honor and dignity with the Father and Son." 

Terjemah: Pertama, bahwa ada satu Tuhan. Kedua, bahwa Yesus Kristus sendiri lahir dari Bapa sebelum segala sesuatu dicipta. Ketiga, bahwa Roh Kudus berkaitan dalam kemuliaan dan kehormatan dengan Bapak dan Anak. 

Dalam definisinya, Origen menegaskan bahwa Tuhan Allah itu Esa. Kedudukan Yesus adalah dibawah Tuhan Allah (Bapa), dan kedudukan Roh Kudus di bawah Yesus.

12. Dari Manakah Asalnya Pemikiran Yesus Adalah Anak Allah?
Tanya: Dari manakah datangnya gagasan Yesus adalah Anak Tuhan atau Tuhan itu sendiri? 
Jawab: Ide itu berasal dari paham penyembah berhala bahwa Tuhan beranak pinak di bumi. Di berbagai wilayah dan kota-kota besar di kerajaan Romawi di luar Palestina orang menyembah "Tuhan beserta keluarganya", mulai dari Tuhan tiga sampai ratusan. Mereka menganggap bahwa setiap tindakan Tuhan menjadi oknum lain di samping Tuhan. Misalnya firman Tuhan menjadi oknum lain (Anak Allah) yang namanya Yesus. Tindakan Tuhan memberi hidup, menjadi oknum lain yang namanya Roh Kudus. 

Tanya: Lalu, siapakah pencetus ide "Anak Allah (Tuhan)"? 
Jawab: Anak Tuhan adalah hal yang sangat lumrah di tengah-tengah masyarakat Yahudi. Mereka menganggap bahwa bangsa Israel adalah "anak-anak Tuhan". Bagi mereka istilah "Anak Tuhan" bukan untuk individu. "Anak-anak Tuhan" dalam pengertian individu merupakan paham penyembah berhala yang menganggap bahwa Tuhan beranak di dunia. (Tillich 1968) 

Drapper dalam bukunya Conflict between Religion and Science menceritakan bahwa Plato lahir di Athena tahun 429 SM. Ibunya adalah Paraction yang bertunangan dengan Arus.

Namun sebelum mereka menikah, Paraction telah dihamili oleh Tuhan Apollo yang merupakan "Roh Kudus" dalam ketuhanan bangsa Yunani.

Tuhan Appolo mengancam Arus untuk menghormati Roh Kudus dan tidak mendekati Paraction yang telah dihamilinya. Oleh sebab itu Plato di sebut "Anak Tuhan". Pythagoras yang lahir tahun 575 SM yang dianggap lahir tanpa ayah, juga disebut "Anak Tuhan". 

Paulus yang menganggap Yesus lahir melalui intervensi Roh Kudus, memperkenalkannya kepada para penyembah berhala di kerajaan Romawi sebagai "Anak Tuhan (Allah)". 

"Jawab malaikat itu kepadanya: `Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yanq Maha Tinqqi akan menaunqi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah" (Lukas 1:35). 

"Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah" (Kisah Para Rasul 9:20) 

Pekerjaan Paulus yang mulai merusak ajaran Tauhid yang diajarkan Yesus ini dikutuk oleh Allah dalam surah Maryam 19:88-92: 
"Dan mereka berkata: 'Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak'. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat munqkar. Hampir-hampir lagit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yanq Pemurah mempunyai anak" (QS. 19:88-92) 

13. Apa Arti Anak Tunggal Allah,  Setarakah Dia Dengan Allah?
Tanya: Apa arti "Anak Tunggal Allah (Tuhan)"? 
Jawab: Umat Kristen dengan bangga menjelaskan bahwa Yesus diperanakkan bukan dicipta. Menurut mereka, semua mahluk dicipta oleh Tuhan, demikian pula Nabi Adam. Tetapi Yesus lahir dari intervensi Roh Kudus yang datang menaungi perawan Maria sehingga hamil. Dari berbagai legenda, Tuhan menghamili seorang perempuan hanya sekali, sehingga disetiap zaman hanya ada seorang Anak Tuhan (anak tunggal). 

"Jawab malaikat itu kepadanya: 'Roh Kudus akan turun atasmu dan Kuasa Allah yang Maha Tinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan akan disebut kudus, Anak Allah" (Lukas 1:35). 

Tanya: Apakah anak Allah (Tuhan) setara dengan Allah (Tuhan)? 
Jawab: Dalam filsafat Yunani, kedudukan Anak Tuhan dan dewa-dewa lainnya lebih rendah dari Tuhan. Sesuai ajaran filsafat Yunani, ketika Tuhan yang suci tidak dapat berhubungan dan menyelamatkan dunia serta manusia yang berdosa, dia mengirim anaknya atau dewa lain untuk mengatasi persoalan di dunia. Para pemimpin Gereja yang bermaksud untuk menaikkan kedudukan Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan) agar setara dengan Tuhan Bapa menghadapi berbagai kendala. 

Pertama, karena Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa sehingga secara otomatis bapa memiliki kekuasaan untuk memerintahkan Anak, tetapi tentu anak tiada punya kuasa untuk memerintah Bapa. 

Kedua, karena Bapa bukan Anak dan Anak bukan Bapa, ada suatu saat di mana Bapa sudah ada, sedangkan Anak belum ada. Kalau kedua-duanya sama-sama ada, tentu tidak ada Bapa dan Anak, saudara pun tidak. 

[Kis. 13:33] "AnakKu Enqkau! Aku telah memperanakkan Engkau pada hari ini". 

Ayat di atas memperlihatkan bahwa sebelumnya Bapa sudah ada, sedangkan Anak belum ada. Jadi pernyataan Hamran Ambrie dalam bukunya "Keilahian Yesus Kristus dan Allah Tritunggal Yang Esa", hal.116 yang mengatakan: "Tidak ada yang terdahulu atau terkemudian di antara satu dengan yang lainnya", adalah SALAH. 

Ketiga, karena para pemimpin Gereja mengatakan bahwa Bapa 100% Tuhan, sedangkan Anak (Yesus) adalah 100% Tuhan dan sekaligus 100% manusia sehingga keduanya, tentu saja, TIDAK SAMA atau setara.


[Sumber: Islam Menjawab Fitnah]