Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Islam (Ghaib). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam (Ghaib). Tampilkan semua postingan

Allah Kita Maha Ghaib, Nak!


Allah ‘Azza wa Jalla, adalah Dzat Yang MAHA GHAIB, Dialah Pencipta para MAKHLUK GHAIB yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala manusia, kecuali dengan seizin-Nya, namun kita mengenal mereka sebagai MALAIKAT, IBLIS, SYETAN, JIN dan lain sebagainya.

DIA juga yang menciptakan ALAM-ALAM GHAIB yang hingga saat ini juga tidak dapat kita lihat dengan mata kepala kita (invisible), kecuali atas izin-Nya kepada manusia-manusia tertentu seperti para Nabi. Suatu alam yang tidak diketahui bagaimana bentuknya, di mana letaknya dan siapa sajakah penghuninya?

Itulah alam-alam ghaib yang mungkin pernah kita dengar namanya seperti di antaranya; Alam Qubur, Barzah, Malakut, Zabarut, Sidhratal Muntaha, ‘Arsy, Surga maupun Neraka dan lain sebagainya.

Sebagai ilustrasi, hampir semua kita pernah membaca atau mendengar firman Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an tentang kejadian manusia dan jin yaitu:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ      [wamaa khalaqtu aljinna waal-insa illaa liya'buduuni]

“Tidaklah Aku jadikan jin dan manusia, melainkan untuk mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyaat [51]:56)

Dalam hal ini, meskipun sama-sama di ciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya, namun anehnya kita manusia tidak mampu melihat wujud jin atau syaitan. Apalagi, konon pula melihat malaikat dalam wujud yang sebenarnya? Sebaliknya, jin, setan dan malaikat, semua dapat melihat wujud asli kita sebagai manusia.

Termasuk dalam kekhususan penciptaan jin adalah mereka mampu melihat wujud manusia, namun sebaliknya, manusia tidak mampu melihat mereka dalam wujud aslinya.

Allah SWT berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS Al-A'rof [7]:27)

Bekata Syaikhul Islam Rahimahullah: "Ia dinamakan JIN karena ketertutupan-nya dari pandangan manusia."

Tidak seorangpun mampu melihat jin, kecuali apabila mereka telah mengubah diri mereka (menjelma) dalam beberapa bentuk, dan tentunya, dengan se-izin Allah SWT.

Kita percaya bahwa setiap anak manusia pasti "ditemani" oleh dua malaikat (Raqib & Atid) yang bertugas pencatat amal baik dan pencatat amal buruk setiap manusia - yang semuanya akan terhimpun dalam suatu kitab amalan masing-masing manusia yang kelak akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah Azza wa Jalla di yaumil akhir.

Begitu juga halnya dengan para jin. Mereka juga di temani oleh malaikat pencatat amal baik-buruknya, dan kelak akan mempertanggung-jawabkannya di hadapan Allah.

Sebagai manusia, kita pasti tidak mampu melihat kedua malaikat yang selalu menemani kita siang dan malam tersebut, sebaliknya, kedua malaikat itu dapat melihat wujud kita yang sebenarnya, bahkan melihat apa yang ada di dalam hati kita atau yang sedang kita lakukan sehari-hari untuk kemudian mereka catat dalam buku amalan kita masing-masing.

Sama halnya seperti ketidakmampuan manusia untuk melihat malaikat, manusia juga tidak mampu melihat wujud jin yang ghaib, kecuali dengan izin Allah.

Sebaliknya, dapatkan para jin (makhluk ghaib yang mampu melihat wujud manusia itu) melihat wujud asli malaikat yang menemani dan mencatat perbuatan masing-masing mereka sepanjang siang dan malam tersebut? 

Jawabannya adalah, Tidak! 

Jin tidak punya kemampuan untuk melihat malaikatnya masing-masing, yang ternyata merupakan makhluq ghaib juga bagi mereka!

Begitu jugalah halnya dengan para malaikat yang ghaib tsb, yang mampu melihat para jin (sebagai sesama makhluk ghaib) dan melihat manusia yang tidak ghaib. Mereka juga terhijab pada sesuatu yang lebih tinggi kedudukannya daripada mereka sendiri, misalnya:   
  • Malaikat penghuni langit pertama, tidak dapat melihat sosok malaikat penghuni langit kedua, kecuali dengan izin Allah. 
  • Malaikat penghuni langit kedua tidak bisa melihat sosok malaikat penghuni langit ketiga. 
  • Begitulah seterusnya hingga malaikat penghuni langit keenam tidak mampu melihat sosok malaikat penghuni langit ke tujuh. 
Sedangkan kebalikannya, 
  • Malaikat penghuni langit ketujuh dapat melihat malaikat penghuni langit keenam, tapi tidak dapat melihat malaikat penghuni langit kelima, 
  • Malaikat penghuni langit keenam dapat melihat malaikat penghuni langit kelima, tapi tidak dapat melihat malaikat penghuni langit keempat, 
  • Begitulah seterusnya hingga malaikat penghuni langit ketiga tidak dapat melihat malaikat penhuni langit pertama. 
Adapun malaikat Jibril, selaku penghulu para malaikat, dapat melihat seluruh malaikat penghuni semua lapisan langit, melihat jin, melihat manusia, dan melihat seluruh makhluk hidup ciptaan Allah atas ijin Allah. Demikian juga dengan malaikat Izrail, yang atas ijin Allah bertugas untuk mencabut roh (nyawa) setiap makhluk hidup, bila masing-masing ajalnya sudah tiba. 

Sampai di sini, jika kemudian kita bertanya, dapatkah para malaikat melihat Allah? 
Jawabannya, Tidak! Kecuali atas izin-Nya!

Dengan demikian, bagaimana mungkin kita yang hanya untuk melihat wujud asli dari makhluk-makhluk ghaib ciptaan Allah SWT di atas saja sudah tidak mampu, ingin melihat DIA Sang Maha Ghaib, Tuhan pencipta seluruh makhluk ghaib tsb?

Renungkanlah penjelasan di atas barang sejenak, tapi renungkan dengan menggunakan akal secara paripurna! 

Kendati demikian, jangan berputus asa. Sebab seperti sudah dijanjikan-Nya kepada setiap manusia yang rindu untuk melihat Allah, dan diajarkan pula oleh Rasulullah saw, maka In Sha Allah, di akhirat kelak kita berkesempatan untuk melihat Allah sejelas kita melihat bulan pada malam bulan purnama!

إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ

"Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, karena mereka melihat kepada Rabb mereka." (Al-Qiyamah[75]: 22-23)

Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa manusia bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?" Beliau menjawab: "Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan pada malam purnama di saat tidak ada awan di bawahnya?" Mereka menjawab: "Tidak, ya Rasulullah!" Beliau berkata: "Apakah kalian pun berdesak-desakan ketika melihat matahari di saat tidak ada awan?" Mereka menjawab: "Tidak." Beliau berkata: "Maka sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu!" [HR. Bukhari No. 764]. 

Banyak dari kita yang mungkin tidak sempat berfikir bahwa sesungguhnya Allah telah mengajari kita untuk mengerti satu hal yang pasti, yakni bahwa selama masih hidup di dunia fana ini, mustahil manusia dapat melihat wujud Allah!

Al-Qur'an banyak sekali mengisyaratkan bahwa "pertemuan manusia dengan Allah" hanya akan terjadi kelak di alam akhirat saja!

Wallahualambissawab.


Baca juga:




    Ingin Melihat Wujud Allah?


    Kita berangkat dari cara berpikir umat Kristen apabila ditanya tentang eksistensi Tuhan yang dapat menjelma menjadi manusia dengan jawaban: ”Terserah Tuhan dong, Dia kan Maha Kuasa, mau menjelma jadi manusia, kek, mau jadi trinitas, kek, atau jadi apa pun, tentu saja Dia dapat melakukannya!”

    Maka jawaban tersebut dapat dipakai juga untuk menjelaskan eksistensi Tuhan menurut Al-Qur’an, yakni bahwa dengan demikian Tuhan juga punya kuasa untuk menjadikan diri-Nya seperti disebutkan berikut ini:

    "(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat." (QS. As-Syuura[42]:11)

    "Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas[112]:4)

    Jadi, jika berdasarkan informasi dari sumber di luar Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Tuhan dapat menjelma menjadi apa saja yang Dia mau, maka sumber tersebut juga harus dapat menerima bahwa Tuhan juga dapat menjadikan diri-Nya tidak setara dengan apapun atau tidak menyerupai sesuatupun, karena memang begitulah sesungguhnya Dia sebagaimana yang diajarkan-Nya melalui Al-Qur'an. [1] Penjelasan kedua ayat ini memastikan bahwa eksistensi atau wujud Tuhan tidak dapat dijangkau oleh panca-indera kita, karena kalau dapat, maka hal itu tidak sesuai dengan pernyataan di atas.

    Dalam ayat lain, Allah SWT menegaskan:

    "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'Aam[6]:103)

    Logika yang kita gunakan untuk menerima Tuhan yang menjelma menjadi manusia karena 'Tuhan punya kuasa untuk menjadi apapun yang Dia inginkan', dapat juga kita gunakan untuk menerima pernyataan Al-Qur'an di atas.

    Lalu, menjawab pertanyaan: “Mengapa melalui panca-inderanya manusia tidak dapat mendeteksi keberadaan Tuhan? Coba kita robah menjadi begini: ”Mengapa Tuhan tidak memberikan kemampuan kepada manusia untuk dapat melihat-Nya dengan panca indera?"

    Karena konsisten dengan alasan Kristen soal kekuasaan Tuhan tadi, maka berdasarkan kuasa-Nya - dan jika Dia kehendaki, tentu saja manusia akan dapat melihat wujud Tuhan. Tetapi dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Tuhan tidak memberikan kemampuan kepada panca-indera manusia untuk menjangkau eksistensi-Nya.

    Apa sih alasannya? Tentu saja Tuhan tidak perlu menjelaskan apa-apa untuk kita. Sebab berdasarkan kuasa yang Dia miliki, Tuhan dapat berbuat apapun yang Dia kehendaki tanpa perlu harus repot-repot memberikan alasan-Nya kepada manusia.

    Coba perhatikan ayat ini:

    "Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diriMu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau." Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." (QS. Al-A'raaf [7]:143)

    Keinginan Nabi Musa AS untuk melihat wujud Tuhan adalah semata-mata karena beliau ingin memperkuat keimanannya, namun akhirnya Nabi Musa AS malah bertaubat karena telah meminta hal tersebut. Di sini digambarkan bahwa keinginan untuk dapat melihat Tuhan dengan panca indera merupakan hal yang tidak baik.

    Selanjutnya Al-Qur’an menggambarkan keinginan manusia untuk melihat Tuhan - yakni oleh Fir’aun - namun dengan cara yang agak ‘lucu’:

    "Dan berkatalah Fir'aun: "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta". Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian." (QS. Al-Mu'min[40]:36-37)

    Dasar dari keinginan Fir’aun ini adalah dalam konteks ‘menantang’ Musa. Al-Qur’an menjelaskan bahwa perbuatan ini adalah perbuatan buruk, sekalipun Fir’aun menganggapnya baik.

    Selanjutnya Al-Qur’an menjelaskan keinginan manusia lainnya, yaitu kaum Yahudi, umat Nabi Musa yang ingin melihat Allah dengan panca indera. Dasar dari keinginan ini adalah keingkaran, yaitu setelah Allah memberikan bukti keberadaan-Nya melalui ‘tanda-tanda’ yang disampaikan melalui Nabi Musa, namun mereka meminta lebih, yaitu ingin melihat Tuhan. Allah SWT menggolongkan tindakan ini sebagai suatu kezaliman dan karenanya mendapat hukuman dari Allah seperti diceritakan dalam Al-Qur'an berikut ini:

    "Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya." (QS. Al-Baqarah[2]:55)

    "Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma'afkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata." (QS. An-Nisaa[4]:153)

    Kemudian ada satu ayat yang menggambarkan kondisi di akhirat, yaitu penyesalan dari orang-orang yang tersesat di dunia:

    "Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman." (QS. Al-Furqaan[25]:21)

    Itupun disebut Alllah SWT sebagai suatu kezaliman dan tindakan yang ‘memandang besar diri sendiri’.

    Jadi, kesimpulannya, Al-Qur’an menyampaikan kepada kita bahwa Tuhan tidak memilih berdasarkan kuasa-Nya agar manusia dapat menjangkau eksistensi-Nya dengan panca indera. Dan Tuhan juga telah menetapkan bahwa keinginan ataupun permintaan untuk itu merupakan suatu kezaliman.

    Dari sisi manusianya sendiri, kita tentu boleh-boleh saja memikirkan kira-kira apa alasannya. Seperti misalnya: ”Melihat matahari saja mata kita tidak sanggup, bagaimana pula jadinya jika kita melihat Tuhan yang menciptakan matahari?” Tapi itu hanya berdasarkan akal pikiran kita saja, sekalipun alasan tersebut rasanya cukup masuk akal.

    Lalu ada pertanyaan begini: “Bagaimana Al-Qur’an mengajarkan kepada manusia sehingga dapat mengenal Tuhan yang tidak dapat terdeteksi melalui panca indera?”

    Jawabnya adalah; Al-Qur'an mengajarkan bahwa yang dapat dideteksi oleh panca-indera manusia adalah ‘tanda-tanda’ keberadaan-Nya. Bukan eksistensi (wujud) Tuhan itu sendiri. Tanda-tanda tersebut dapat dijangkau oleh panca indera dan juga akal pikiran kita. Malah melalui Al-Qur’an Allah justru mewajibkan setiap manusia untuk mengamati dengan panca inderanya dan memikirkan dengan akal pikirannya semua ‘tanda-tanda’ keberadaan Tuhan ini agar kita dapat meyakini bahwa Tuhan memang ada, eksis, wujud.

    Perhatikanlah firman Allah SWT berikut ini:

    "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Al-Fushshilat[41]:53)

    "Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Fushshilat[41]:39)

    "Dan Dia memperlihatkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya); maka tanda-tanda (kekuasaan) Allah yang manakah yang kamu ingkari?" (QS. Al-Mu'min[40]:81)

    "Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)." (QS. Al-Mu'min[40]:13)

    "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al-Baqarah[2]:164)

    "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir." (QS. Yunus[10]:24)

    "Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya." (QS. Al-Hadid[57]:17)

    Intinya adalah, segala yang ada di alam semesta ini merupakan bukti tentang eksistensi Allah, tapi ini tentu hanya berlaku bagi orang yang melihat dengan ‘hati’ dan mampu berpikir seperti yang digambarkan oleh Tuhan melalui firman-Nya berikut ini:

    "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (QS. Al-Hajj[22]:46)

    "Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu." (QS. Al-An'aam[6]:25)

    "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al-Jaatsiyah[45]:23)

    Ternyata yang dikatakan ‘mampu’ melihat tanda-tanda eksistensi Allah itu bukan hanya terbatas pada pandangan mata atau mendengar dengan telinga saja, tapi mata dan telinga yang dibimbing oleh hati yang tunduk dan tulus ingin mengetahui eksistensi Tuhan. Jadi tidak aneh kalau banyak mahasiswa sekolah seminari yang khusus mempelajari Al-Qur’an, sekalipun sudah membaca Al-Qur’an seluruhnya dan berkali-kali, namun karena dasarnya punya niat yang tidak baik, maka Al-Qur’an tidak akan dapat menjadi petunjuk agar mereka kembali ke jalan yang benar, malah semakin dibaca semakin tersesat, dan yang rugi tentu saja diri mereka sendiri.

    Sebaliknya bagi orang yang punya niat baik dan tulus, benar-benar ingin mengenal Allah dan ingin mendapat bimbingan-Nya, maka tidak perlu harus melihat Tuhan dengan panca indera, Allah akan memberikan bimbingan ke arah pengenalan kepada-Nya melalui tanda-tanda keberadaan Tuhan, dan orang tersebut makin mengenal Allah tanpa harus melihat wujud-Nya.

    "(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat." (QS. Al-Anbiyaa [21]:49)

    "Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu)." (QS. Al-Faathir[35]:18)

    "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih." (QS. Al-Maa'idah [5]:94)

    Dengan konsep ketuhanan ini, lalu kitapun boleh bertanya: ”Bagaimana persepsi dan gambaran yang ada dalam diri seorang Muslim tentang Tuhannya?” Katakanlah, ketika seorang Muslim bersujud di tengan malam, sendirian, mengadu kepada Tuhannya tentang masalah yang tengah dihadapi, atau ketika seorang Muslim terjebak dalam situasi hidup dan mati di mana tidak ada tempat atau sesuatu pun untuk dimintai pertolongannya kecuali Allah, lalu Muslim tersebut berteriak: ”Ya, Allah. Tolonglah hamba-Mu ini!”

    Kira-kira bagaimana wujud Tuhan yang tergambar di benaknya?
    Hampir dapat dipastikan TIDAK ADA!

    Tidak satu pun wujud atau bentuk yang dapat dibayangkan oleh manusia akan muncul sebagai sosok Tuhan dalam benaknya kecuali keyakinan bahwa Allah itu ADA! Kekuasaan-Nya sangat dekat, Dia pasti mendengar jeritan minta tolong si Muslim. Dia berkuasa untuk menolong, dan jika Dia menolong, maka TIDAK ADA SESUATUPUN YANG DAPAT MENGHALANGI! Demikian pula sebaliknya.

    Begitulah eksistensi Tuhan yang selalu ada dalam hati setiap Muslim.

    Lukisan mural berjudul Penciptaan Adam karya Michelangelo di atap Kapel Sistine di Vatikan yang menggambarkan peristiwa penciptaan Adam dan Hawa.

    Sekarang mari kita berandai-andai jika kita menjadi seorang penganut Kristen misalnya. Ketika kita menyeru: ”Ooo, Yesus! Tolonglah saya!” apa yang tergambar dalam hati dan pikiran kita? Tentu saja akan muncul sesosok laki-laki, berambut panjang, hidung mancung model Eropah, ganteng, berjanggut, mungkin telanjang atau hanya mengenakan sepotong kain penutup aurat saja.

    Lantas jika kita berdo’a: ”Bapa yang ada di surga,...”, apa yang tergambar di benak kita? Tentu saja gambaran sesosok manusia yang pasti lebih tua dari Yesus, bertubuh gempal, berjanggut putih, berkulit putih pula, wajahnya teduh dan penuh senyum seperti wajah pak Harto.

    Lalu, di manakah Bapa? Bapa tidak berada di depan atau di samping kita, tapi nun jauh di surga, di atas awan, Bapa melihat dari kejauhan.

    Jika kemudian kita menjerit: ”Ya, Ruh Kudus, ...”, gambaran yang kemudian muncul di benak kita pun tidak lain dari seekor burung merpati yang mengepakkan sayapnya di antara awan di langit.

    Lebih hebat lagi, bagaimana pula jika kita menyebut sekaligus ketiganya: ”Wahai Bapa, Yesus, dan Ruh Kudus, tolonglah saya…!”, gambaran yang muncul dalam hati dan pikiran kita tentu saja ketiganya datang dengan wujudnya masing-masing.

    Sebagai penganut Kristen, pastilah kita akan mengalami kesulitan luar biasa karena harus bersusah-payah menipu diri sendiri coba ‘memblender’ ketiga wujud tersebut menjadi satu yang disebut sebagai Tuhan!

    Padahal sejak awal penciptaan manusia sendiri, Tuhan sudah mengajarkan kepada manusia bahwa Dia sama sekali tidak sama dengan dzat apa pun yang dapat dibayangkan oleh akal dan dicapai oleh panca indera manusia. Tuhan kita MAHA GHAIB!

    Jadi, seperti sudah disebutkan di atas, memiliki keinginan untuk melihat wujud-Nya saja sudah merupakan sesuatu yang menyelisihi ajaran Tuhan, apalagi meyakini bahwa bentuk-bentuk yang menyerupai makhluk ciptaan-Nya sebagai wujud Tuhan sendiri, tentu saja merupakan suatu perbuatan yang sangat melawan kehendak-Nya.

    Perhatikanlah peringatan Tuhan di dalam Al-Quran berikut ini:

    "Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, 'Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara." (QS. An-Nisaa[4]"171)


    [Sumber: Pak Archa dalam Kajian Lintas Agama]


    [1] Lihat Surah Al-Ikhlas

    Cobalah Bayangkan Eksistensi Allah

    BERITA LAMA - Sekitar 5 tahun lalu (catatan in dibuat 4 Juni 2010), sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Prof. Frank Steiner dari Universitas Ulm, Jerman, melakukan observasi dan penelitian terhadap alam semesta untuk memastikan bentuk sebenarnya dari alam semesta raya ini. Kita tahu bahwa yang umumnya diperkirakan orang selama ini adalah bahwa alam semesta ini berbentuk bulat, bundar, atau bahkan ada pula yang menyebut bentuknya datar saja.

    Menggunakan peralatan milik NASA yang diberi nama WMAP (Wilkinson Microwave Anisotropy Prob), pada akhir penelitiannya mereka membuat sebuah kesimpulan yang sangat mencengangkan.

    Menurut hasil penelitian tersebut, alam semesta ini ternyata bentuknya menyerupai terompet!

    Adapun ringkasan ilustrasi yang mereka gambarkan adalah bahwa pada bagian ujung belakang terompet (baca: alam semesta) merupakan alam semesta yang tidak dapat diamati (unobservable), sedang bagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem tata surya berada, merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable).

    Bentuk Alam Semesta
    Di dalam kitab Tanbihul Ghofilin Jilid-1 halaman 60 ada sebuah hadits panjang yang menceritakan tentang kejadian kiamat yang pada bagian awalnya sangat menarik untuk dicermati.

    Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ketika Allah telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah menjadikan sangkakala (terompet) dan diserahkan kepada malaikat Izrofil, kemudian ia letakkan dimulutnya sambil melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintah". Saya bertanya: “Ya Rasulullah apakah sangkakala itu?” Jawab Rasulullah: “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya tanya: “Bagaimana besarnya?” Jawab Rasulullah: “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutusku sebagai Nabi, besar bulatannya itu seluas langit dan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali. Pertama: Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan). Kedua: Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan). Ketiga: Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”

    Dalam hadits di atas disebutkan bahwa sangkakala atau terompet malaikat Izrofil itu bentuknya seperti tanduk dan terbuat dari cahaya. Ukuran bulatannya seluas langit dan bumi. bukankah bentuk 'laksana tanduk' mengingatkan kita pada terompet orang-orang jaman dahulu yang pada umumnya terbuat dari tanduk?

    Kalimat seluas langit dan bumi dapat dipahami sebagai ukuran yang meliputi seluruh wilayah langit (sebagai lambang alam tak nyata/ghaib) dan bumi (sebagai lambang alam nyata/syahadah). Atau dengan kata lain, bulatan terompet malaikat Isrofil itu melingkar membentang dari alam nyata hingga alam ghaib.

    Jika kesahihan hadits di atas dapat dibuktikan dan data yang diperoleh lewat WMAP memang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, maka dapat dipastikan bahwa kita ini sesungguhnya bagaikan kupu-kupu yang hidup di tengah-tengah kaldera sebuah gunung berapi paling aktif yang siap meletus kapan saja.

    Allah sendiri telah mengabarkan kedahsyatan terompet malaikat Izrofil itu kepada manusia melalui Firman-Nya:

    “Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” (QS. An-Naml[27]:87)

    Makhluk langit saja terkejut, apalagi makhluk bumi yang notabene jauh lebih lemah dan lebih kecil. Sedangkan pada sambungan hadits di atas masih ada sedikit tambahan tentang seperti apa keterkejutan dan ketakutan makhluk bumi kelak.

    “Pada saat tergoncangnya bumi, manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya, yang menyusui lupa pada bayinya, anak-anak jadi beruban dan setan-setan berlarian.”

    Ada sebuah pertanyaan yang patut untuk direnungi dalam-dalam di sini:

    Jika sangkakalanya saja sebesar itu, maka sebesar apakah peniupnya?
    Terlebih lagi, sebesar apa pula Yang Menciptakan keduanya?
    Subhanallah!

    "Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: "Jadilah, lalu terjadilah", dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-An'Aam[6]:73)

    Maha Benar Allah Dengan Segala Firman-Nya.


    [Dari judul asli, Di manakah Allah meletakkan Sangkakala Malaikat Izrofil?]

    Kehidupan Setelah Mati


    Mungkin sebagian kita masih meragukan tentang kehidupan setelah mati, bagaimana caranya Allah SWT mengembalikan tubuh kita yang telah hancur di dalam tanah serta mengembalikan ruh (yang dicabut dari tubuh saat kematian) bersatu kembali dengan tubuh kita. Sementara itu, betapa banyak pula manusia yang sangat ketakutan menghadapi kematian sehingga berharap dapat hidup selamanya untuk menikmati dunia dan segenap isinya.

    Kehidupan setelah mati adalah hal yang mudah bagi Allah SWT, semudah Allah SWT menciptakan segala sesuatu dari tiada menjadi ada. Dalam kehidupan dunia pun kita bisa membuktikan adanya kebangkitan. Jika hidup di negara yang mengalami pergantian 4 musim, maka dapat kita saksikan tumbuh-tumbuhan yang tadinya subur menjadi layu (kuning), lalu berguguran dan pada akhirnya membeku di musim salju (bagaikan pohon yang mati). Saat musim semi tiba udara menjadi hangat, dedaunan mulai tumbuh, kuncup bunga berkembang dan rerumputan pun tumbuh subur kembali.


    "DIAlah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati, lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu." (Qs. Faathir [35]: 9).


    "Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-NYA, kamu melihat bumi itu kering tandus. Maka apabila Kami turunkan hujan pada permukaannya ia berubah menjadi subur. Sesungguhnya Tuhan yang Maha menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati. Sesungguhnya DIA Maha berkuasa atas segala sesuatu." (Qs. Fushshilat [41]: 39).


    Seorang Badui memungut sekerat tulang, dan menantang Muhammad saw: “Hai Muhammad, siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?”

    Allah menjawab dengan firmanNYA,

    "(Dan) Dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kejadiannya. Ia katakan: “Siapa pula yang sanggup menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh itu?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Allah yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Tahu tentang segala makhluk.” (Qs. Yaasiin [36]: 78-79).


    Sangat mudah bagi Allah SWT menggabungkan kembali ciptaannya yang telah hancur, sedangkan dari yang tiada bisa ia ciptakan menjadi ada yakni bumi, langit dan seisinya.


    Saat jabang bayi dalam kandungan lebih kurang selama 9 bulan, ia akan mengalami masa kegelapan, hidup didalam air dan tempat yang sempit didalam perut ibunya. Jika ia bisa berfikir dan berbicara, maka manusia dil uar (perut ibunya) dapat memberikan informasi kepadanya tentang kehidupan dunia yang penuh cahaya, tumbuh-tumbuhan hijau, interaksi sesama makhluk dan kenikmatan lainnya.

    Maka ia tentu akan bertanya: “Untuk apa aku didalam perut yang gelap dan sempit ini, kenapa aku tidak segera dikeluarkan?”

    Manusia diluar akan menjelaskan: “Engkau harus menjalani proses di sana (dalam perut) agar tubuhmu sempurna dan siap untuk menghadapi kehidupan dunia.”

    Sang jabang bayi kemudian mengerti lalu akan berkata: “Baiklah, saya akan mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi dunia yang penuh kenikmatan dan tantangan itu.”

    Dialog diatas sebagai ilustrasi saja dari perpindahan dua alam, alam pra-kelahiran dan alam pasca kelahiran. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia (alam kehidupan) dan alam setelah kematian (kebangkitan), maka seharusnya dunia ini (alam kehidupan) merupakan persiapan yang matang untuk menghadapi alam kebangkitan yang abadi.

    Jika kita memahami hakikat hidup ini yang sesungguhnya bersifat sangat sementara, dan memahami pula bahwa ada kehidupan yang abadi setelah kematian, maka kita akan berkata persis seperti jabang bayi tadi: “Baiklah, saya akan mempersiapkan diri sebaik mungkin dengan menjalankan semua perintah Allah SWT dan meninggalkan semua laranganNYA, agar saya siap menghadapi kehidupan setelah mati, dan mendapatkan kebahagiaan yang abadi.”

    Masalahnya adalah, kadang-kadang kita melupakan ajaran Allah SWT dalam Al-Qur’an serta sunnah tentang kehidupan setelah mati, atau tidak ada manusia yang telah mengalami kematian yang dapat memberikan penjelasan kepada kita tentang kehidupan setelah mati itu. Jika kita selalu mengingat kematian dan kehidupan setelahnya, tentu kita akan berhati-hati dalam menjalani kehidupan dan selalu berjalan di atas “rel” yang telah ditentukan-NYA.

    Orang yang selalu ingat akan kematian adalah orang-orang yang cerdas, karena ia selalu mempersiapkan diri menghadapi kematian itu. Dan ia tidak akan merasa takut terhadap kematian, karena kematian adalah gerbang kehidupan berikutnya yang indah dan abadi. Hanya manusia yang tidak punya bekal saja yang takut menghadapi kematian. Seseorang yang sangat mendambakan kematian akan berucap seperti Rasulullah SAW saat menghadapi sakratul maut: “Aku hanya ingin kembali keharibaan Allah!” Hal ini menunjukkan kerinduan yang sangat untuk bertemu Rabbnya.

    Untuk itu, tidak seharusnya kita takut akan kematian karena hal itu hanya akan terjadi sekali saja dalam kehidupan kita. Lakukanlah persiapan yang matang untuk menghadapinya. Dan berharaplah agar pada saatnya nanti malaikat maut akan berkata kepada kita; "Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-NYA. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-KU, dan masuklah kedalam syurga-KU. (Qs. Al-Fajr [89]: 27-30).

    Wallahualam.


    [Sumer: HayatulIslam.Net | Oleh Azhari]