Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alkitab. Tampilkan semua postingan

Maap, Kitab Anda Bukan "Al Kitab" Yang Dimaksud Oleh Al-Quran

Catatan dari grup dialog lintas iman di sebalah

Ini bukan kali pertama, tapi sudah lumayan sering kita memergoki tidak sedikit umat Paulus yang demikian yakin bahwa Bible yang dibentuk oleh Paulus dan kroninya dengan cara; mencomot kitab suci umat Yahudi, membuat kitab kitab injil versi sendiri, dan dari menghimpun berbagai karangan orang orang yang tidak jelas indentitasnya -- termasuk memalsukan ayat-ayat yang dicontek dari kitab-kitab umat Yahudi hasil comotan tadi -- sebagai kitab suci yang dikenal dan diakui eksistensinya oleh Al-Quran!

Dasarnya adalah karena mereka menemukan, atau paling tidak, diberitahu oleh pengikut Paulus sok tau lainnya bahwa kata "alkitab" disebut sebut sampai sebanyak 74 kali dalam terjemahan bahasa Indonesia Al-Quran. Salahsatu contoh, misalnya, bisa disimak disini.

Padahal tidak satupun dari semua sebutan itu yang merujuk pada kitab buatan Paulus dkk yang diberi nama "Biblios" dalam bahasa aslinya; Yunani, atau diubahsuai menjadi "Bible" oleh para pengguna bahasa Inggrisnya.

Sesuai dengan konteks periwayatannya, kata "alkitab" dalam Al-Quran sebenarnya merujuk secara khusus -- dan berdiri sendiri sendiri -- masing-masing untuk
  • Ummu alkitab (di lauh mahfuz), 
  • Shuhuf Ibrahim, 
  • Shuhuf Musa, 
  • Taurat, 
  • Mazmur, 
  • Injil, dan 
  • Al-Quran.

Kata "alkitab" dalam Al-Quran sama sekali tidak ada urusannya dengan kumpulan atau klipping campursari kitab-kitab karangan manusia yang diberi nama:  injil-injil, comotan duplikat kitab Taurat dan Mazmur, dan aneka ragam tulisan lain yang dipaksakan menjadi bagian integral dalam "Biblios" atau "Bible" yang entah bagaimana ceritanya, di indonesia malah diberi nama "alkitab" dengan cara mencomot pula perbendaharaan kata dari Al-Quran!

Jadi, semakin jelas bahwa kata 'alkitab' dalam Al-Quran tidak ada secuilpun kaitannya dengan bible yang di Indonesia diganti namanya menjadi 'alkitab' itu.

Kenapa?
Karena di negara lain, namanya bukan 'alkitab' melainkan tetap Bible.
Dengan demikian, maka sempurnalah ketololan kristen manapun yang hari gini masih GR mengira Al-Quran mengakui Bible yang berubah nama menjadi alkitab!

Jika memang Al-Quran berbicara tentang Bible, tentu yang tertulis adalah 'Bible' supaya manusia di seluruh dunia mengerti bahwa yang dibicarakan adalah Bible. Karena jika yang dimaksud sebagai alkitab dalam Al-Quran adalah Bible, tentu cuma kristen Indonesia saja yang mengerti, sedangkan kristen lain di seluruh muka bumi ini cuma bisa plonga plongo doang. Allahnya Yesus sudah pasti tidak akan membiarkan hal sebodoh itu terjadi. Percayalah!

Celakanya, dan ini seharusnya membuat semua pengikut Paulus pantas merasa malu, adalah fakta keblinger dimana hampir semua pengiman kitab tidak jelas buatan Paulus dkk ini kerap menuduh Al-Quran menyontek, khususnya ayat ayat Taurat dan Mazmur, dari Bible mereka!

Bagaimana orang-orang ini bisa demikian tidak tahu diri sembarangan saja menuduh Al-Quran menyontek ayat ayat dari kitab kitab yang sebenarnya mereka bajak dari umat Yahudi? Sementara apa yang mereka lakukan bukan hanya sekedar mencontek, tapi sudah amat jelas sebagai perbuatan maling!

Sedangkan di sisi lain, Al-Quran secara jelas menegaskan bahwa kitab-kitab suci bernama Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, Taurat, Mazmur, Injil, dan Al-Quran berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah, satu-satunya Tuhan semua nabi yang mewariskan kitab-kitab tsb kepada masing-masing umatnya, sehingga kemiripan, kesamaan, atau keterkaitan antar narasi pada ayat ayat dalam semua kitab suci tsb tentu bukan hal yang aneh, karena selain menerangkan bahwa kitab-kitab tsb berasal dari Allah yang sama, Al-Quran -- sebagai kitab suci terakhir dari Allah untuk seluruh umat manusia -- juga mengindikasikan bahwa ajaran Tauhid yang dibawa oleh para nabi tsb bersifat progresif, alias berkembang mengikuti kondisi jaman dari masing masing nabi yang mewariskan kitab-kitab suci tsb, sampai pada akhirnya ajaran monotheis seluruh nabi tsb menjadi sempurna saat firman terakhir Allah diabadikan di dalam Al-Quran.

Sedangkan Bible, yang mereka kira adalah "alkitab" sebagaimana disebut-sebut dalam Al-Quran jelas bukan kitab suci warisan nabi manapun juga (karena memang tidak ada satu nabipun yang mewariskannya kepada umat bernasib malang ini), melainkan hanya kitab buatan manusia yang diinisiasi oleh rasul gadung Paulus dkk, yang secara sembarangan mencomot isinya dari sana sini, lalu megklaim klipping seluruh hasil comot tsb sebagai sebuah kitab suci.

Bagaimana mungkin kitab tidak jelas yang direkayasa oleh rasul gadungan bisa disebut sebagai kitab suci -- yang difahami oleh umumnya orang orang beriman sebagai kitab yang berisi firman Allah melalui salahsatu nabi-Nya -- sedangkan sang rasul gadung sendiri tidak pernah terbukti sebagai seorang nabi, apalagi rasul, kecuali cuma dari pengakuan, atau self-proclaim-nya sendirian saja?

Sungguh Aneh!
Setelah 19 abad lebih berlalu, tapi umat ini masih belum sadar juga bahwa sesungguhnya para pendahulu merekalah yang paling pantas disebut sebagai biangnya tukang nyontek sejati, bahkan tidak keliru bila disebut sebagai maling kitab suci umat lain!

Dan itulah yang mereka wariskan kepada umat bernasib malang tapi tidak sadar diri ini hingga hari ini!


[Dari catatan lama GM]

Kitab Suci Injil


Banyak pengikut Paulus yang "nggak ngeh", termasuk pendeta produk Sekolah Tinggi Teologi jaman now, bahwa untuk mengulang sukses Alkitab Klinkert terbitan 1870, maka pada tahun 2000 sekali lagi LAI menerbitkan sebuah buku tebal berjudul Kitab Suci Injil yang "sangat Islami", konon katanya hasil terjemahan Bible berbahasa Yunani terbitan tahun 1912 dengan tujuan mudah ditebak, agar umat Islam yang kebetulan membacanya akan terkecoh lalu mengira dan percaya bahwa kitab tsb adalah kitab yang disebut-sebut di dalam Al-Quran sebagai kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa Alayhi Salam.

Itu sebabnya kenapa di dalam kitab tsb nama Yesus Kristus tidak pernah ditulis, tetapi diganti dengan nama Isa Almasih (versi online masih dapat dilihat di sini).

Sedangkan bagaimana "islaminya" buku tsb, dapat sama-sama kita cermati dalam kutipan kata pengantarnya sbb:

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang atas terbitnya edisi kedua Kitab Suci Injil terjemahan tahun 1912 dalam bahasa Indonesia. Edisi pertama dari Kitab Suci terjemahan tahun 1912 ini, terbit di Asia Tenggara pada tahun itu juga, terdiri atas seluruh Kitab Taurat, Zabur, dan Injil, ditulis dalam bahasa Melayu serta dicetak dalam huruf Arab yang juga disebut huruf Jawi. Edisi ini beredar terutama di Sumatra, Kalimantan, semenanjung Malaysia, dan Singapura. Pada tahun 1929, Kitab Suci Zabur dan Injil dari terjemahan ini diterbitkan dalam huruf Latin dengan menggunakan ejaan yang lazim dipakai di Indonesia pada zaman itu. Di Indonesia, edisi itu dipakai terutama di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Di beberapa daerah tertentu, Kitab Injil terjemahan tahun 1912 ini telah dicetak ulang dan terus dipakai sampai tahun 1970-an. Bahkan Kitab Taurat, Zabur, dan Para Nabi tetap dipakai hingga sekitar tahun 1990-an.

Walaupun Kitab Suci Injil telah diterjemahkan ke dalam ribuan bahasa, naskah aslinya yang tertulis dalam bahasa Yunani tidak pernah berubah. Kitab Suci Injil terjemahan 1912 edisi kedua ini merupakan hasil pembaharuan dari edisi pertamanya, dan telah melewati proses pemeriksaan berulang kali oleh sebuah tim ahli bahasa Yunani dan bahasa Indonesia. Maksudnya ialah supaya setiap kata dan kalimat dalam bahasa Indonesia tidak melenceng dari arti dan maksud yang terdapat dalam bahasa aslinya. Karena Kitab Suci adalah sempurna dalam bahasa aslinya, teks bahasa Yunani sengaja disertakan dalam Kitab Suci edisi kedua ini, supaya Kitab Injil ini dapat dibaca dan dipelajari pula dalam bahasa aslinya.

Secara umum, edisi kedua ini dari Kitab Suci Injil ini tidak jauh berbeda dari edisi pertamanya. Nama-nama, istilah-istilah, dan gaya bahasa yang ada pada edisi pertama sejauh mungkin dipertahankan dalam edisi kedua. Walaupun demikian, ada juga beberapa perubahan, antara lain:
  1. Edisi kali ini memakai Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD-1972) sebagai ganti ejaan yang lama.
  2. Tata bahasa modern yang baku di Indonesia pada saat ini dipakai menggantikan tata bahasa yang lama.
  3. Istilah-istilah yang sudah tidak lazim diganti dengan istilah-istilah yang umum dipakai sekarang ini, seperti: bini menjadi istri, tasik menjadi danau, Griek menjadi Yunani, jin yang najis menjadi roh jahat, dsb.
  4. Dalam naskah bahasa asli Kitab Injil (bahasa Yunani), sering muncul istilah kurios, yang mengandung beberapa arti, antara lain: tuan, pemimpin, pemilik, penguasa, junjungan, atau Tuhan. Dalam edisi yang pertama, pada umumnya kurios diterjemahkan menjadi Rabbi (dari kata dasar Rabb) jika yang dimaksudkan adalah Al Masih. Sedangkan dalam edisi kedua ini, untuk terjemahan kata kurios yang menunjuk kepada Al Masih, tim ahli Kitab Suci dan bahasa telah menemukan sebuah istilah yang lebih dikenal, lebih mudah dipahami, serta lebih lazim dipakai di Indonesia pada masa kini, yaitu Junjungan, Tuan, atau Junjungan Yang Ilahi, dan pemakaiannya tergantung pada konteks dan artinya di dalam kalimat.

Penjelasan tentang istilah-istilah lain bisa ditemukan pada kamus kecil yang ditempatkan pada bagian akhir dari Kitab Suci ini.

Akhir kata, semoga Kitab Suci ini dapat mendatangkan berkah bagi Bapak, Ibu, serta Saudara pembaca, dan semoga Sabda Allah yang abadi ini tinggal di dalam diri Bapak, Ibu, serta Saudara dengan berlimpah-limpah hingga akhir zaman. Amin.

Lembaga Alkitab Indonesia
[Terjemahan 1912, dalam huruf Arab:]


CATATAN: 
Jika tertarik untuk mempelajari isu ini lebih lanjut, silahkan berkunjungi ke sini. 

Baru dari kata pengantarnya saja, sebenarnya sudah banyak hal ganjil yang mengundang pertanyaan, apalagi jika menilik keseluruhan isi kitab yang "dianggap suci" ini. Namun untuk permulaan, GM cuma ingin menanggapi teks yang diberi tinta warna merah saja.  

Perhatikanlah bagaimana menyesatkannya penjelasan tentang alih bahasa Kurios yang diterjemahkan menjadi Rabbi di atas itu. LAI menyebutkan bahwa kata Rabbi yang dinisbatkan kepada Isa Almasih berasal dari akar kata Rabb yang dalam bahasa Arab dipahami sebagai personifikasi Tuhan. Jadi bukan dari bahasa Yunani yang tidak mengenal kata "Rabb" yang justru sedang mereka terjemahkan dalam kitab ini. 

Pada masa kenabiannya, Isa Almasih memang disebut "Rabbi" oleh para sahabat dan pengikutnya.  Sedangkan arti "Rabbi" dalam bahasa sehari-hari Isa Almasih sendiri sama sekali tidak ada hubungannya dengan Rabb dalam bahasa Arab, apalagi dimaknai sebagai jelmaan Tuhan! 

Dalam tradisi bertutur bangsa Yahudi, Rabbi adalah kata yang lazim digunakan untuk menyebut orang-orang alim yang dihormati.      

Rabi atau Rabbi (Ibrani Klasik רִבִּ×™ ribbÄ«; Ashkenazi modern dan Israel רַבִּ×™ rabbÄ«) dalam Yudaisme, berarti "guru", atau dalam pengertian secara harafiah adalah "yang agung". Kata "Rabbi" berasal dari akar kata bahasa Ibrani RaV, yang dalam bahasa Ibrani alkitabiah berarti "besar" atau "terkemuka (dalam hal pengetahuan keagamaan)".

Dalam aliran-aliran Yudea kuno, kaum bijaksana disapa sebagai רִבִּ×™ (Ribbi atau Rebbi) — dalam abad-abad belakangan ini berobah ucapannya menjadi "Rabbi" (guruku). Juga kata Rabuni (Markus 10:51; Yohanes 20:16) sama artinya dengan Rabbi, yaitu "guruku". Dalam masyarakat Yahudi, sebutan penghormatan ini lambat laun dipergunakan sebagai gelar, dan akhiran pronomina "i" ("-ku") kehilangan maknanya karena seringnya kata ini digunakan. Di Eropa Timur, Rabi diucapkan sebagai "Ravin," (Раввин).

Dari dulu sampai sekarang peran Rabbi dalam masyarakat Yahudi mempunyai banyak sisi. Pada jaman dahulu, Rabbi merupakan gelar seseorang yang terpelajar, yaitu guru yang menguasai keseluruhan 613 mitzvot (hukum agama) Yahudi, atau orang yang ditunjuk sebagai pemimpin agama di komunitasnya. Saat ini para Rabbi masih bertanggungjawab untuk mengajarkan ajaran agama Yahudi secara umum, dan Halakha (aturan-aturan agama) secara khusus; dan umumnya berhak menentukan penerapan hukum Yahudi. 

Nah, itulah pengertian Rabbi yang sebenarnya, apalagi jika dikaitkan kepada nabi Isa Almasih, sang Guru!

Kata lain yang juga membuat kita merngerenyitkan dahi ketika membacanya adalah "sabda Allah." Kendati entah sejak kapan KBBI mendefinisikan kata sabda sebagai "perkataan atau ucapan Tuhan, Nabi, Raja dan sebagainya" , namun kita tidak pernah menemukan kata "sabda Allah" dalam literatur Islam manapun di muka bumi ini karena menurut akal dan hirarkhinya, kedudukan Allah tidak setara dengan hamba-Nya yang bergelar Nabi dan Raja. Dalam kitab Kristen sendiri Allah tidak disebut bersabda tapi berfirman!   


Jika memang kata sabda dimaknai sama artinya dengan firman, tentu sudah sejak lama kita mendengar dari mulut para pendeta Kristen bahwa Yesus Kristus adalah sabda yang hidup! Bukan seperti dalam doktrin kekristenan dan menjadi angan-angan mayoritas umat Kristen selama ini bahwa Yesus Kristus adalah firman yang hidup!     

Dari sini kita bisa melihat sendiri betapa menyesatkannya orang-orang yang memiliki akses penuh untuk mengotak-atik buku terjemahan yang dianggap sebagai kitab suci oleh umat Kristen, bukan?

Ya, begitulah!
Semoga bermanfaat!

[Gus Mendem]

ALKITAB BUKAN FIRMAN TUHAN


Alkitab bukan firman Tuhan, melainkan karangan manusia.

KESAKSIAN DAN PERNYATAAN PARA TEOLOG 

1. Pendeta Dr. R. Soedarmo [Pendeta di gereja kristen Jawa Salatiga, Dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, Dosen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Anggota Badan Pengurus Dewan Gereja Indonesia, ketua seksi Perjanjian Lama LAI, dlsb] membuat pernyataan ALKITAB MUNGKIN SEKALI ADA KESALAHAN

“Dengan pandangan bahwa alkitab hanya catatan saja dari orang,  maka diakui juga bahwa di dalam kitab suci tsb mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu alkitab dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki” (Ikhtisar Dogmatika BPK Jakarta, 1965, hlm. 47). “Di dalam perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan kebenarannya, antara lain surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” [Ikhtisar Dogmatika, hal. 49].

2. Dr. G. C. Van Niftrik dan Dr. B. J. Bolland:  ALKITAB KHILAF

“Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun, dan fakta. Dan tak perlu kita pertanggungkan kekhilafan-kejhilafan itu pada caranya, isi alkitab telah disampaikan kepada kita, sehingga kita dapat berkata: “Dalam naskah aslinya tentu tidak terdapat kesalahan-kesalahan, tetapi kekhilafan itu barulah kemudian terjadi di dalam turunan naskah itu. Isi alkitab juga dalam bentuknya yang asli, telah datang kepada kita dengan perantaraan manusia” [Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta, 1967, hal 298].

3. Dr. B.J. Bolland:  KITAB DANIEL ADALAH KARANGAN BUTA

Bolland dalam bukunya Kunci Kitab Daniel halaman 5-12 mengatakan bahwa Kitab Daniel milik Protestan yang terdiri dari 12 pasal, pasal 1-6 adalah “Karangan Buta (Anonim), “ sedangkan pasal 7-12 disebut sebagai “karangan Samaran (Pseudinim).”

4. Drs. M. E. Duyverman:  KESALAHAN PADA PENYALINAN ALKITAB

“Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar di antara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam gereja” [Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, 1966, hal. 24-25].

5. Dr. A. Powel Davies: INJIL-INJIL SYNOPTIK CUMA MEDIA SALING SALIN SAJA

“The first three, or Sypnoptic Gospels tell much same story. There are discrepancies; but it is impossible to a considerable extent to reconcile them. John’s Gospel, however, tells quit a different story from the other three. If John is right, then the other three are wrong; If the Synoptic are right, the John’s Gospel must surely be in error” (The meaning of the Dead Sea Scrolls The New American Library, 1961, p. 106).

(Tiga injil pertama, yaitu Injil Synoptic, membawakan cerita yang sama. Akan tetapi terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya, sehingga tidaklah mungkin sedemikian jauh untuk mendamaikan ayat-ayat ini. Namun Injil Yohanes menceritakan cerita-cerita yang amat berbeda dari ketiga Injil pertama itu. Bila Injil Yohanes yang betul, maka ketiga Injil yang lain itu salah; bila ketiga Injil itu betul, maka Injil Yohanes yang pasti salah!)

6. Dr. Walter Lempp: SAINS DALAM KEJADIAN-1 SUDAH KETINGGALAN JAMAN!

“Susunan semesta alam yg diuraikan dalam Kitab Kejadian 1 tidak dapat dibenarkan lagi oleh ilmu pengetahuan modern” [Tafsiran Kejadian, hal. 58].

“Pandangan Kejadian-1 dan seluruh alkitab tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah sangat jauh ketinggalan jaman” [Tafsir Kejadian, hal. 65].

7. Robert W. Funk, Roy W. Hoover, and The Jesus Seminar: 82% KANDUNGAN INJIL BUKAN UCAPAN YESUS!

“Eighty-two percent of the words ascribed to Yesus in the Gospels were not actually spoken by him” (Robert W. Funk, Roy W Hoover, and The Jesus Seminar, The Five Gospels, What did Jesus Really Say?, Harper San Francisco, 1997, p. 5).

(Delapan puluh dua persen kalimat yang katanya diucapkan Yesus di dalam kitab-kitab Injil sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh Yesus).


(a). KITAB TAURAT DALAM BIBLE BUKAN TULISAN MUSA
“Sampai abad ke-18 umum diterima oleh kalangan orang Yahudi dan orang Kristen bahwa Pentateuch (Taurat) itu dikarang oleh Nabi Musa sendiri. Hanya tentang Ulangan 34: 5-12 (wafat Musa) kadang-kadang diterangkan bahwa bagian itu dikarang oleh Yusak: tetapi terdapat juga keterangan bahwa Musa sendiri menubuatkan hal wafatnya sendiri. Akan tetapi, sejak abad ke-18 tradisi mengenai Musa sebagai pengarang mulai diragukan” [Pembimbing ke Dalam Perjanjian Lama, BPK Jakarta, 1963 hal. 40-41].

(b). KITAB MAZMUR DALAM ALKITAB BUKAN TULISAN DAUD
“Jadi benarkah Daud itu pengarang Mazmur yang 73 jumlahnya? Belum tentu! Sudah beberapa kali kita menjumpai gejala bahasa orang Israel suka menggolongkan karangan-karangan di bawah nama orang termasyhur. Oleh karena itu tentu tidak mustahil pengumpulan mazmur-mazmur itu (atau orang-orang yang hidup kemudian) memakai nama Daud, karena raja itu termasyhur sebagai pengarang mazmur. Dengan lain perkataan, pemakaian nama Daud, Musa, Salomo di sana merupakan tradisi kuno, yang patut diperhatikan, tetapi tradisi itu tidak mengikat” [Pembimbing ke Perjanjian Lama, BPK Jakarta, 1963 hal. 205].

9. Pendeta David J. Fant, New York Bible Society: NASAKAH ASLI ALKITAB TELAH HILANG!

“The question naturally arises, do any of the original manuscripts of the Bible still exist? The answer is No. The original manuscripts were on papyrus and other perishable materials and have long since disappeared” [Rev. David J. Fant, Simple Helps and Visual Aids to Understanding The Bible, p. 6].

(Persoalan yang biasanya ditanya, apakah naskah-naska asli alkitab masih ada hingga kini? Jawabannya tidak! Naskah-naskah asli di atas papirus dan bahan-bahan lain yang mudah rusak semuanya telah lama hilang)

10. M.E Kemp: NAMA PENULIS KITAB SEJARAH DALAM ALKITAB TIDAK DIKETAHUI

“Berapa kitabkah yang termasuk dalam Kitab Sejarah dan apa saakah nama kitab-kitab itu? Kitab-kitab sejarah ada 12, yaitu: Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1Samuel, 2Samuel, 1Raja-raja, 2Raja-raja, 1Tawarikh, 2Tawarikh, Ezra, Nehemia dan Ester.

Siapakah penulis kitab-kitab Sejarah itu? Nama penulis kitab-kitab sejarah itu tidak pernah diketahui dengan pasti, kecuali kitab Nehemia yang ditulis oleh Nehemia sendiri” [M.E. Kemp, Bible Questions and Answers (edisi Indonesia: Tanya Jawab Alkitab), Yayasan Kalam Hidup, Bandung, cet. Ke-14, 1994, hal 23].

11. Dr David L Baker (Teolog kelahiran Inggris, dosen bidang Perjanjian Lama di STT HKBP dan STT Jakarta), mengakui bahwa SEBAGIAN ISI KITAB PENGKHOTBAH ITU NEGATIF

“Penulis Kitab Pengkhotbah merenungkan maksud kehidupan manusia di dunia yang fana ini dan mengungkapkan perasaannya bahwa segala sesuatu adalah sia-sia. Tidak ada gunanya! Seperti banyak manusia pada masa kini, dia mengalami depresi dan frustasi. Boleh dikatakan dia seorang pesimis. 

Kitab Pengkhotbah agak sulit ditafsirkan, karena sebagian isinya sangat negatif, demikian juga sikap penulisnya” (Dr David L Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama: Suatu Pengantar Ringkas, hlm. 94).

12. Stefan Leks, pakar bibliologi Katolik: TEKS ASLI ALKITAB MEMANG TIDAK ADA!

“Salah satu pertanyaan mendasar yang seringkali dikemukakan oleh para pembaca Kitab Suci (alkitab) menyangkut teksnya sendiri adalah: sejauh manakah teks itu pasti? Jangan-angan teks itu sudah diubah dan dimanipulasi. Jangan-angan ada teks-teks yang disingkirkan oleh pihak tertentu, dan sebagainya.

Di seluruh dunia tidak usah dicari teks asli alkitab, sebab teks itu memang tidak ada. Yang kita miliki sekarang ialah salinan dari salinan-salinan terdahulu, dan diantara bermacam-macam salinan yang kita miliki itu terdapat cukup banyak perbedaan. Perjanjian Lama berisikan teks-teks yang dibuat oleh bangsa Israel. Penyusunannya meliputi beberapa abad lamanya. Hampir semua teks itu dituliskan dalam bahasa Ibrani kuno, sedangkan beberapa bagiannya dituliskan dalam bahasa Aram, bahkan dalam bahasa Yunani. Perjanjian Baru berisikan teks-teks dalam bahasa Yunani (koine) yang pada abad pertama menjadi bahasa internasional Kristen. Sedangkan proses penyusunannya meliputi beberapa puluh tahun” [Stefan Leks, Inspirasi dan Kanon Kitab Suci, Kanisius, Yogyakarta 1992, hal. 73-74].

Nah, sekarang mari sama-sama kita cermati dengan segenap akal budi, apa arti dari pernyataan para teolog di atas itu? Dapatkah kita secara aoprior menyatakan bahwa alkitab bebas dari segala kemungkinan pemalsuan? Tentu saa tidak!

Palsu adalah lawan dari asli, otentik, atau tulen. Dengan kata lain, palsu berarti tidak asli, tidak otentik, dan tidak tulen. Membuat pernyataan bahwa alkitab sekarang itu palsu, atau tidak otentik, bukanlah suatu hujatan, melainkan suatu kesimpulan dari hasil berpikir logis dan ilmiah.

Lembaga Alkitab Indonesia sendiri, melalui webnya alkitab.or.id telah mengakui bahwa alkitab sekarang memang berbeda dengan alkitab yang otentik. Hal ini dikarenakan proses penyalinan dan penerjemahan di masa lalu dan masa-masa berikutnya hingga sekarang.

Kepalsuan alkitab juga disebabkan oleh penjagaan alkitab yang hanya mengandalkan satu sistem penjagaan, yaitu penulisan. Berbeda dengan Al-Quran yang dijaga melalui hafalan dan tulisan. Sistem penjagaan Al-Quran telah terbukti menjaga keaslian Al-Quran.

Al-Quran, pada masa Nabi masih hidup, telah dihafal oleh banyak shahabat, dan juga ditulis dalam berbagai media catatan. Karenanya, jika ada seseorang yang keliru membaca apalagi sampai mengartikan satu kata saja, maka akan banyak shahabat lain yang meluruskan.

Sedangkan alkitab, tidak ada yang sanggup menghafalnya. Bahkan Injil-Injil yang terdapat dalam alkitab itu sendiri sebenarnya  tidak ditulis pada masa Yesus. Tapi disusun berdasarkan cerita-cerita kabar burung dari orang-orang yang tidak dijamin integritasnya. Konsekuensinya, Injil-Injil dalam alkitab sebenarnya tidak punya nilai otentik sama sekali. Jangankan berasal dari Tuhan, atau sekurang-kurangnya dari Yesus, kita semua tahu bahwa injil-injil tsb bahkan bukan berasal  dari murid-murid Yesus!

Dan hal ini sudah dikemukakan dengan jujur oleh para teolog dan pakar alkitab sendiri sebagaimana disebutkan di atas.

Dr. R. Soedarmo menyatakan, “Dengan memandang bahwa Kitab Suci (alkitab) hanya catatan saja dari orang,  maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan.” (Ikhtisar Dogamtika, BPK Jakarta, 1965 hal. 47]

Hal ini berbeda dengan Al-Quran. Al-Quran bukanlah jurnal dari seseorang, tetapi merupakan wahyu dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Jibril Ar-Ruhul Qudus, kemudian Nabi mengajarkannya kepada para shahabat untuk dihafal dan dicatat dan diberitah pula bahwa itu adalah Al-Quran surat kesekian ayat kesekian.

Dr. R. Soedarmo juga menyatakan, “Di dalam Perjanjian Baru pun ada kitab-kitab yang diragukan kebenarannya, antara lain Surat Wahyu dan Yakobus yang disebut surat Jeram” [Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, 1965 hal. 49]

Dr.G.C Van Niftrik dan Dr. B.J Bolland berkata: “Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan di dalam alkitab; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka tahun dan fakta.” (Dogmatika Masa Kini, BPK Jakarta,1967, hal 298).

Pernyataan yang lebih lugas justru datang dari petinggi Institut Alkitab Moody, salah satu Misi Penyebaran Injil Kristen yang terkenal di dunia; DR. W. Graham Scroggie yang menulis dalam bukunya;
“Injil adalah karangan manusia, walaupun demikian ada orang yang terlalu fanatik buta tanpa berpedoman kepada ilmu pengetahuan, menyangkal kenyataan ini. Kitab-kitab itu muncul melalui fikiran manusia, ditulis dalam bahasa manusia, diabadikan melalui tangan-tangan manusia dan memiliki gaya yang menunjukkan karakteristik manusia.”
Dengan kata lain, Injil bukanlah firman Tuhan, ia hanyalah karangan manusia. Berbeda dengan Al-Quran yang memang merupakan wahyu dari Allah dan memiliki gaya yang menunjukkan karakteristik ilahiyah yang tidak dapat ditiru oleh  manusia mana pun. Jika para penyair Arab berkolaborasi dengan para ilmuwan lalu mereka membuat satu surat saja untuk menandingi Al-Quran, niscaya mereka tidak akan sanggup.

Jika benar bahwa Al-Quran itu berasal dari Muhammad yang manusia, maka tidak dapat dipungkiri bahwa kejeniusan Muhammad mengalahkan ilmuwan dan pakar sains modern manapun dari berbagai disiplin ilmu modern jaman ini. Dan tentunya sangat jauh di atas kejeniusan para pengarang alkitab dan ini yang sangat menyakitkan; sangat jauh melampaui kejeniusan Yesus yang dipercaya oleh pengikut Paulus sebagai Tuhan!

Allah Yang menurunkan Al-Quran telah menciptakan sistem pemeliharaan sedemikian rupa sehingga Dia menjamin keaslian Al-Quran. Dari cara-Nya menurunkan Al-Quran ayat demi ayat, penciptaan peristiwa sebelum Dia menurunkan suatu ayat, dapat dilihat bahwa Allah ingin agar Al-Quran ini mudah diingat dan dipahami.

Hal ini tidak terjadi pada kitab-kitab sebelumnya yang turun sekaligus satu kitab dalam satu waktu. Karena Dia tidak berkehendak menjadikan hukum dan kitab-kitab sebelum Al-Quran itu menjadi hukum yang abadi. Dia menghendaki agar Al-Quran itulah yang menjadi kitab dan hukum yang abadi.

Allah ingin menunjukkan Al-Quran di atass kitab-kitab palsu yang beredar saat itu hingga sekarang. Allah membiarkan kitab-kitab terdahulu dipalsukan. Lalu dari kitab-kitab palsu itu pun kemudian muncul ajaran-ajaran palsu. Sehingga akan terlihat oleh mereka yang menggunakan akalnya dengan baik mana ajaran yang berasal dari Tuhan, dan mana ajaran yang berasal dari karangan manusia, seperti digambarkan oleh  DR. W. Graham Scroggie di atas.

Sekarang nyatalah bahwa alkitab yang diimani umat kristen saat ini memang palsu. dan itu adalah kesimpulan ilmiah, bukan hujatan yang didasari oleh kebencian.

Oleh karenanya kita membutuhkan kitab asli yang memuat ajaran yang benar-benar berasal dari Tuhan Sang Pencipta alam semesta berikut segenap makhluk, termasuk umat manusia, untuk membimbing kita ke dalam keselamatan yang kekal. 

Dan Kitab Itu Adalah Al-Quran!


[Catatan Kristen Terbukti Sesat | Dari berbagai sumber] 

Bagi Yang Meragukan Bahwa Alkitab Telah Dipalsukan

BAGI UMAT KRISTEN YANG MERAGUKAN KITABNYA TELAH DIPALSUKAN



Seorang pembaca melaporkan kasus peredaran beberapa buku Kristen yang menggugat keabsahan Al-Qur'an, salah satunya buku penginjilan berjudul "ISMAEL  SAUDARAKU", ditulis oleh seseorang yang mengaku bernama Umar Tariqas. Buku 45 halaman ini menggugat empat tema Al-Qur'an yang membongkar otentisitas Bibel, doktrin penyaliban Yesus, doktrin ketuhanan Yesus, dan dogma Trinitas.

Pada bagian kedua “Bincang-Bincang Soal Isu Alkitabmu Palsu,” secara khusus Tariqas mengklaim umat Islam yang meyakini kepalsuan Alkitab (Bibel), sebagai keyakinan yang salah dan tak berdasar sama sekali:

“Tudingan Muslim dalam perkara “Alkitabmu palsu”, sulit dicarikan ayatnya dari Quran. Muslim hanya menuduh menurut kesan-kesan dan slogan yang telah ditanamkan dalam-dalam ke hati mereka melalui sejarah dan tradisi keagamaan yang sedemikian lama. Apa yang tertanam dalam, tentu sulit dibongkar oleh tangan-tangan luar. Oleh karena itu Anda tidak perlu membuang energi dengan adu ”jual-beli” argumentasi” (hal. 2).

Setelah itu, secara demonstratif Tariqas mengutip belasan ayat-ayat Al-Qur'an yang sering dikutip para mufassir untuk menyatakan kepalsuan kitab-kitab terdahulu, antara lain: QS 2:41, 2:42, 2:75, 2:79, 2:146, 3:71, 3:78, 4:46, 5:13, 5:14, dan 5:15. Menurut Tariqas, ayat-ayat ini sama sekali tidak menyatakan kepalsuan kitab-kitab terdahulu, melainkan hanya kecaman terhadap perilaku kaum yang hobi merubah kitab suci:

“Jadi, apa persisnya substansi Alkitab yang dipersoalkan oleh Muhammad disitu? Muhammad tidak pernah mempermasalahkan Kitab yang beredar, melainkan orang-orang yang melancungkan Kalimat-Nya dalam tutur katanya, dalam ajarannya, dan dalam otaknya karena kelupaan. Tidak ada ancaman Alkitab palsu yang dikhawatirkan atau yang diharamkan Muhammad”  (hal. 4).

Aneh sekali jika Tariqas tidak bisa menangkap makna belasan ayat yang sudah sangat jelas menyatakan adanya tahrif (pemalsuan) kitab-kitab terdahulu.

Memang pada ayat tersebut tidak terdapat kalimat “Inilah Alkitab (Bibel), kitab yang palsu.” Tapi bila mau berpikir agak cerdas sedikit, ungkapan Al-Qur'an yang berisi fakta-fakta bahwa kaum Ahli Kitab sering melakukan pemalsuan terhadap ayat-ayat Allah, otomatis sekaligus bukti adanya kepalsuan Alkitab.

Dengan salah satu ayat saja dari belasan ayat yang disebutkan Tariqas, sudah lebih dari cukup untuk disimpulkan bahwa kitab-kitab terdahulu mengalami pemalsuan.

“Segolongan dari mereka (Yahudi) mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui” (Qs Al-Baqarah 75).

Dalam ayat tersebut diungkapkan kata “yuharrifuunahu,” berasal dari kata “tahriif,” maksudnya melakukan penambahan dan pengurangan lafazh di dalam Taurat, atau menggantikan bagian-bagian tertentu dengan yang lain sehingga sesuai dengan selera dan hawa nafsu mereka.

Tahrif terhadap kitab suci adalah tindakan yang sangat berbahaya, karena bisa merubah status hukum dari halal menjadi haram, dan sebaliknya.

Karena sedemikian besar bahaya tahrif terhadap kitab suci, maka Allah melaknat dan mengancam pelakunya dengan siksaan yang maha dahsyat:

“Maka kecelakaan yang besar bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan-tangan mereka sendiri, kemudian mereka mengatakan ini berasal dari Allah untuk mendapatkan keuntungan yang sedikit, Maka kecelakaan yang besar bagi mereka akibat tulisan tangan mereka, dan kecelakaan yang besar bagi mereka akibat perbuatan mereka” (Al-Baqarah 79).

Ancaman dengan menggunakan tiga kalimat “waylun” ini membuat bulu kudu merinding. Menurut Al-Mu’jam al-Wasith, makna umum “waylun” adalah solusi paling buruk.” Sedangkan menurut tafsir Al-Wajiz li-Kitabillahil-‘Aziz, “waylun” adalah azab yang keras, kecelakaan besar, kutukan, kesengsaraan.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa wail adalah sebuah lembah di neraka Jahanam. Rasulullah SAW bersabda: “Al-Wayl adalah sebuah lembah di Neraka Jahanam, yang orang kafir akan jatuh ke dalamnya selama 40 tahun sebelum mencapai dasarnya” (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).

Jadi, keyakinan umat Islam bahwa kitab-kitab terdahulu adalah akidah yang benar sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Karenanya, Rasulullah SAW mengajarkan agar umat Islam agar bersikap kritis terhadap apapun yang disampaikan oleh Ahli Kitab:

“Apabila ada ahli kitab yang berkata kepadamu, maka janganlah kamu benarkan dan jangan pula kamu dustakan. Katakanlah: “kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami (Al-Qur’an) dan apa yang diturunkan kepada orang-orang sebelum kami dari Tuhan (Rabb) kami.” Apabila yang disampaikan itu haq (benar), janganlah kamu dustakan. Jika batil janganlah kamu benarkan” (HR Abu Daud)

Standar untuk menguji kebenaran kitab suci Yahudi dan Nasrani adalah Al-Qur’an. Jika sesuai dengan Al-Qur’an berarti ia benar – tetapi kita tidak bisa memandangnya sebagai firman Allah. Sebaliknya bila bertentangan berarti batil, dan kita wajib menolak kebatilan itu.

Misalnya, umat Islam beriman kepada Injil yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Isa AS (Qs Al-Ma’idah 46). Meski dalam Alkitab (Bibel), kitab suci kristiani terdapat empat Injil yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes, namun umat Islam tidak boleh mengimani dan mengamini empat Injil Kristen ini sebagai wahyu Allah seratus persen. Karena keempat Injil ini sangat diragukan kebenarannya.

Menurut hasil penelitian 72 profesor dan pakar Bibel kaliber internasional yang tergabung dalam “The Jesus Seminar,” disimpulkan bahwa 82 persen kalimat yang redaksinya diucapkan Yesus di dalam kitab-kitab Injil, sebenarnya tidak pernah disabdakan oleh Yesus:

“Eighty-two percent of  the words ascribed to Jesus in the Gospels were not actually spoken by him.” (Robert W Funk, Roy W Hoover, and The Jesus Seminar, The Five Gospels, What did Jesus Really Say?, hal. 5).

Para profesor dan ilmuwan Kristen itu begitu giat meneliti Bibel karena haus dan lapar akan kebenaran.

Berbeda dengan penginjil Tariqas yang malas membuang energi untuk berargumen dan meneliti, sehingga buta terhadap kondisi kitab sucinya sendiri.

Sikapilah fakta-fakta Bibel yang diungkap para ilmuwan Kristen ini dengan objektif, jujur dan lapang dada, supaya tidak jatuh dalam penyesalan abadi di Hari Pembalasan!

Teolog Kristen pun Mengakui Kepalsuan Bibel
Tariqas menuding keyakinan umat Islam terhadap kepalsuan Bibel sebagai slogan dan kesan-kesan yang tidak ada dalilnya. Bahkan ia menuduh umat Islam tidak memahami kandungan Al-Qur'an karena meyakini kepalsuan Bibel:

“Namun bila mereka itu Muslim, maka sulit untuk kita mencari dasar tuduhannya. Mungkin orang semacam ini kurang memahami ajaran Quran, atau terlanjur membutakan hatinya sendiri. Sekali Muslim menuding keabsahan Alkitab, mereka langsung masuk ke dalam dilema yang tidak terselesaikan” (hlm. 6).

Itu hanya retorika penginjil untuk menutupi kelemahan kitab sucinya. Keyakinan umat Islam bahwa kitab-kitab  terdahulu sudah tidak asli, adalah akidah yang benar sesuai Al-Qur'an dan Sunnah. Justru mati-matian membela Bibel sebagai kitab suci yang otentik dan asli tanpa ada pemalsuan sedikit pun, adalah keyakinan yang menyalahi Alkitab (Bibel) sendiri.

Pasalnya, dalam terbitan Bibel sendiri diakui dan ditulis jelas bahwa banyak ayat-ayat yang benar-benar palsu. Misalnya, dalam Injil Markus 9 ayat 44 dan 46 tertulis:

“44 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] 45 Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; 46 [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.]”

Tanda kurung dalam ayat 44 dan 46 itu bukan salah ketik maupun salah cetak, tapi menyimpan misteri teologis.

Dalam Bibel bahasa Melayu tahun 1929, kedua ayat yang divonis palsu oleh lembaga Katolik itu sama sekali tidak dicantumkan. Karenanya, dalam susunan ayat Bibel kuno itu terlihat itu loncat-loncat tidak memuat ayat 44 dan 46 (hlm 116). Tak ada penjelasan apapun mengapa ayatnya tidak urut dari ayat 43 loncat ke ayat 45, lalu dari ayat 45 loncat lagi ke 47.

Lembaga Biblika Indonesia (LBI) dalam “Kitab Suci Perjanjian Baru” terbitan Arnoldus Ende tahun 1977/1978, tanpa ragu-ragu memvonis keduanya sebagai ayat palsu dengan catatan kaki sebagai berikut:

“44, 46. Kedua ayat ini tidak asli dan hanya mengulang ayat 48.” (hlm 113).

Semakin jelas bahwa kepalsuan kitab terdahulu adalah keyakinan yang faktual, ilmiah dan sesuai dengan nas Ilahi. Sebaliknya, meyakini otentisitas Bibel adalah halusinasi yang sangat tidak Alkitabiah!

[A. Ahmad Hizbullah MAG | Suara Islam]

Benarkah Alkitab adalah sebuah Kitab Suci?


Menanggapi sisi buram alkitab memang bukanlah persoalan yang baru. Cerita lama yang sudah menjadi cerita bersambung secara turun temurun karena kecacatan yang mudah sekali terlihat walau di mata orang awam sekalipun. Akan tetapi cerita ini akan menjadi sangat menarik untuk diungkapkan ketika ada ayat-ayat yang menggunakan kalimat tidak sedap, baik dari segi etika maupun moral tertulis di dalamnya. Pengungkapan ini bukan akal-akalan umat Muslim, tetapi justru seharusnya diungkapkan oleh pecinta Alkitab sendiri.

Dan hal luar biasa aneh - yang sudah menjadi biasa - segera terlontar dari umat Kristen yang buta (tak pernah baca) alkitab atau kurang memahami Alkitabnya sendiri tatkala pengungkapan ini datangnya dari kalangan muslim, maka mereka pun berkata;

"Wajar saja jika anda mencari-cari kesalahan dari Alkitab, karena anda tak paham pada kalimat-kalimat agung di dalamnya."

Mengapa demikian? Sebab ketika umat kristen menghadiri 'ritual ibadah' di gereja-gereja atau sebut saja bait suci untuk mendengarkan khotbah dari pemuka-pemuka agama mereka, dapat dipastikan bahwa yang mereka dengar dan terima dari para pengkhotbah adalah ayat-ayat yang enak di telinga dan menyejukkan di relung hati para jemaatnya. Maka menjadi wajar-wajar saja  jika penganut Alkitab itu sangat tidak memahami apa yang tersembunyi dan dianggap sebagai pesan-pesan Tuhan di dalam Alkitabnya.

Lho, kok bisa? Tentu saja bisa. Sebab yang selamanya disampaikan oleh para pengkhotbah adalah  ayat-ayat yang enak ditelinga dan menyejukkan hati tadi saja. Sementara ribuan ayat-ayat yang tidak masuk di akal sehat secara kompak disembunyikan oleh para pengkhotbah ini di mana pun mereka berada.

Tidak percaya? Mari sama-sama kita telusuri. Kata Alkitab diambil dari bahasa Arab 'kitab' dengan kata sandang, 'al'. Sedangkan Bibel diambil dari dalam bahasa Inggris "Bible" yang diterjemahkan dari bahasa Yunani "Biblos" yang artinya 'kumpulan kitab-kitab'. Sebagai sebuah kitab suci umat Kristen ternyata alkitab atau Bibel yang sekarang ini rupanya sudah tidak asli, atau kalaupun dipertahankan mati-matian sebagai asli, maka kata yang paling pas adalah 'aspal' alias asli atpi palsu. Hal itu dapat dibuktikan dengan pemikiran-pemikiran sederhana seperti berikut ini:

1. KEBERADAAN NASKAH ASLI ALKITAB
Di seluruh dunia ini tidak seorangpun perlu bersusah payah lagi mencari teks asli kitab Injil, sebab teks itu memang tidak ada. (Stefan Leks, pakar Bibliologi Katolik, Inspirasi Kanon Kitab Suci). Setelah menelusuri asal usul kitab yang asli, para teolog menemui kebuntuan dalam mencari petunujuk siapa sebenarnya penulis asli Alkitab. Karena naskah asli injil (alkitab) itu sudah musnah. Sementara Alkitab yang ada sekarang ini adalah salinan dari naskah-naskah kuno yang tak diketahui asal usulnya, siapa penulisnya, tanggal atau tahun penulisannya. Semua data tentang ini sangat buram. Tahun 200SM Injil Perjanjiann Lama atau kitab Musa (kitab Yahudi yang disakralkan oleh kristen) diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Lalu, pertama kali diterbitkan di Mesir dengan nama Septuaginta, karena disusun oleh 70 ahli bahasa yang mengarangnya. Septuaginta juga sering diberi kode angka Romawi berupa LXX. Berangkat dari sini, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa apa yang tertulis di dalam Alkitab yang ada di depan mata sekarang ini adalah Injil asli?

2. PROSES PENERJEMAHAN
Naskah terkuno yang disalin oleh para teolog adalah terjemahan Septuaginta yang sudah banyak mengalami kerusakan saat mulai diterjemahkan ke dalam bahasa lain, karena naskah kuno tersebut tidak lagi memakai bahasa aslinya, yaitu bahasa Aram. Naskah-naskah tersebut banyak yang sudah robek-robek dan hilang, atau tak terbaca lagi kalimat-kalimatnya. Kitab Musa ini terdiri dari Kejadian, Keluaran, Imamat (orang-orang Lewi), ulangan, dan bilangan:

  • Kitab Kejadian menceritakan sejarah dunia, sejak mulai diciptakan langit dan bumi hingga menetapkan Yakub atau Israel di tanah Mesir. Semuanya menceritakan kejadian-kejadian manusia dan nabi-nabi. Dalam kitab kejadian inilah penghinaan, pencelaan, fitnah tanpa limit terhadap nabi-nabi Allah.
  • Kitab Keluaran menuturkan sejarah Bani Israel di Mesir, keluarnya bani Israel dari mesir dan hukum agama Yahudi.
  • Kitab Ulangan menuturkan sebahagian hukum Yahudi tentang peperangan, politik, ekonomi, sosial dan ibadah.
  • Kitab Imamat yang sebahagian besar membahas masalah ibadah, terutama yang berkaitan dengan korban, dan urusan mesbah.
  • Kitab Bilangan membahas sensus kabilah2 Bani Israel, tentara, harta mereka.
  • Kitab Nyanyian/Syair/Kidung. Terdiri dari kitab Ayub, Mazmur Daud, Amsal Salomo, Pengkotbah dan Kidung Agung.
  • kitab-kitab Sejarah. Membahas sejarah Bani Israel sejak pendudukan mereka terhadap negri Kanaan dan mapan di Palestina, terdiri dari kitab Yosua, Hakim-Hakim, Samuel I dan II, Raja-Raja I dan II, Tawarikh I dan II, Ezra, Nehemia dan Ester.
  • Kitab Nabi-Nabi: Yeyasa, Yeremia, Ratapan Yeremia, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus/Yunan, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakaria dan Maleki.

Total seluruh Alkitab ini diperkirakan sebanyak 76 buah. Itu sebabnya tradisi, alias kebiasaan  menterjemahkan Alkitab yang terus berkembang dari masa ke masa telah menjadikan Alkitab sebagai best seler atu buku terlaris sepanjang masa. Dalam bahasa Inggris saja saat ini sudah ada 50 versi terjemahan. Sementara di Indonesia sendiri sudah ada Alkitab dalam bahasa Batak, Karo, Simalungun Minangkabau, Sunda, Jawa, Papua, Manado, Bugis, Madura, dlsb yang totalnya mencapai 35 bahasa daerah. Lalu muncul pertanyaan, apakah dengan menggunakan sedemikian banyak bahasa itu dapat menaikkan derajat Alkitab sebagai kitab suci yang benar-benar berasal dari Yesus? Tentu tidak, bahkan semakin jauh dari teks aslinya. Dan sebagai konsekuensi logisnyai, sudah tidak dapat lagi diukur 'berapa jauhn' penyimpangan maknanya. Artinya, semakin banyak dialih-bahasakan maka akan semakin buramlah nilai-nilai keasliannya.

3. KEPASTIAN NAMA PARA PENULIS
"Nama penulis Injil asli tidak diketahui dengan pasti. Kecuali kitab Nehemia yang ditulis oleh Nehemia sendiri" (M.E.Kemp, Bible Qustions and Answers--Edisi Indonesia:Tanya-Jawab Alkitab). Para teolog Kristen sudah angkat tangan karena tidak pernah sedikitpun menemukan petunjuk atau informasi yang mengarah kepada kepastian siapa pengarang atau penulis Injil, terutama kitab-kitab Perjanjian Lama. Musa sendiri tidak pernah menulis Kitab Ulangan, karena beliau tidak pernah menyeberangi sungai Yordan. Seluruh kitab Musa yang asli dipahatkan dengan sangat jelas di tepi satu mezbah/altar (Ulangan 27, Yosua 8: 32) yang terdiri dari 12 batu sesuai dengan 12 Imam. Hal ini berarti kitab Nabi Musa yang asli jauh lebih kecil daripada kitab yang beredar saat ini.

Penerbit COLLINS dalam alkitab Revised Standard Version tahun 1971 hal 12-17 menyebutkan bahwa sebagian besar kitab Perjanjian Lama tidak diketahui penulisnya, sebagian lainnya diragukan, dan sebagian lagi sama sekali tidak diketahui sejarahnya. Ir. M Herlianto dalam diktat Kursus alkitab dan Teologi yang berjudul "PENGANTAR PERJANJIAN LAMA" yang diterbitkan oleh Laymen Devekopment Foundation menyebutkan bahwa penulis Alkitab masih tetap kontraversial:

MARKUS
Lembaga Biblika Indonesia mengakui bahwa sampai saat ini penulis Injil Markus tidak jelas, meski ada dugaan penulisnya bukan Yesus dan bukan murid Yesus, tapi diduga murid Petrus. Injil ini ditulis sekitar tahun 65 atau 70 M.

MATIUS
"Tradisi kuno menganggap bahwa Injil ini berasal dari rasul Matius, tetapi para ilmuan dewasa ini menolak pendapat ini. Pengarangnya secara tepat masih dapat diberi nama Matius. Dia menyontek Injil Markus secara bebas. Padahal ketika Yesus mengajar, Markus adalah anak yang masih ingusan yang belum pernah bertemu Yesus" (J.B Philips, The Goespels Translated into Modern English). Para misionaris bersikukuh bahwa injil Matius ditulis oleh murid Yesus yang bernama Matius yang berprofesi sebagai pemungut cukai, tapi ditentang oleh para teolog lainnya. Sebab menurut perhitungan teolog, waktu Yesus lahir, Matius sudah berumur 5 tahun, tapi baru menulis Injil pd usia 55 tahun. Berarti ia harus memiliki ingatan yang luar biasa kuat untuk merekam setiap detil kejadian 50 tahun sebelumnya.

LUKAS
Tak ada satupun keterangan yang menyatakan Lukas sebagai murid Yesus. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Lukas adalah dokter (tabib) pribadi Paulus. Makanya tidak mengherankan jika dalam Injil Lukas ini (kisah rasul-rasul) terlihat sekali Paulus sangat diagung-agungkan, bahkan mendapat gelar Hermes, nama salah seorang dewa Romawi yang terkenal. Pertanyaan sederhana saja, benarkah Lukas yang menulis Injil itu, atau Paulus, tapi menggunakan nama Lukas?

YOHANES
"Memang ada banyak kejadian yang diceritakan dalam Injil Yohanes yang berpijak pada fakta sejarah, termasuk peristiwa penyaliban Yesus. Tetapi itu semua sudah melewati penyulingan otak penginjil terkait, lalu keluar dalam keadaan sudah berubah" (Crawford Burkitt, sarjana teolog Prancis). LAI dalam Injil Yohanes edisi studi pada halaman 7 mengatakan bahwa Injil Yohanes/Yahya tidak diketahui samasekali siapa penulisnya. Karena Yahya sang pembabtis sudah dibunuh oleh raja Herod Agrippa II semasa Yesus masih hidup. Sedangkan Yahya bin Zabdi salah seorang murid Yesus konon juga sudah tewas dalam penjara pada tahun 67M. Pendeta Gaius menyakini bahwa penulis Injil Yohanes adalah seorang Gnostik bernama Cerinthus. Ia kemungkinan besar adalah seorang anggota penuh jemaat Nikolaus yang telah jauh terlibat dalam konspirasi pembentukan agama kristen. Bukti bahwa Injil Yohanes adalah sebuah karya Gnostik adalah:

  1. Teologi Pagan menurut Poimandres, berdasarkan tulisan Hermetik, dewa Pagan yang disembah para agama Pagan digambarkan sebagai akal (Yunani: Nous) dan firman (Yunani: Logos). Tuhan sebagai akal memancarkan firman yang hidup dan menjadi anak Tuhan. Hal ini persis ditemukan dalam Injil Yohanes 1: 1-5.
  2. Teologi Kultus Kesuburan, Tuhan berinkarnasi menjadi anaknya sendiri yang berjalan di atas bumi dalam bentuk manusia, dibunuh dan dibangkitkan kembali. Sebagai penjelmaan dari panen dan kehidupan tumbuh-tumbuhan. Silahkan lihat Yohanes 1:14.
  3. Teologi Dualisme. Doktrin-doktrin Majusi persia meyakini bahwa Tuhan (Ahura Mazda) telah menjadikan Mitra, Tuhan kebenaran dan Cahaya sebagai zat yang memiliki keagungan yang sejajar dengan dirinya. Silahkan pelajari Injil Yohanes 1:6-14.

4. PERSOALAN LINGUISTIK DAN MASA PENULISAN ALKITAB

Alkitab ditulis di tempat dan waktu yang berbeda-beda, mulai dari Mesopotamia, Babilonia, Mesir, Palestina, Roma, hingga Yunani. Konon katanya, bahasa yang digunakan adalah bahasa Aram, Ibrani, dan Yunani. Kumpulan dari berbagai tulisan selama berabad-abad itulah yang disebut sebagai Alkitab. Tapi sepertinya dunia sudah sepakat bahwa Injil Asli ditulis dalam bahasa Yunani.  Padahal sebagaimana kita ketahui, Yesus dalam kesehariannya menggunakan bahasa Hebrew dan Aramaik. Mengapa penulisan Alkitab justru menggunakan bahasa Yunani yang tidak ada hubungannya dengan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Yesus, yakni Hebrew dan Aramik?

5. TRADISI KANONISASI ALKITAB
"Tidak ada tulisan-tulisan Injil yang kemudian diterbitkan; termasuk yang sekarang ini, tersebut dalam Perjanjian Baru yang mengaku memiliki otoritas Kanonasi pada saat kemunculannya" (Dr. Adam F. Fadly). Tradisi kanonisasi alkitab telah menimbulkan berbagai macam versi. Yakni versi Yahudi, Katolik, Protestan.

Ketiga Alkitab ini masing-masing tidak sama antara satu sama lain. Baik daftar nama, judul-judul, urutan dan jumlahnya. Contoh: Kitab Perjanjian Lama Katolik berjumlah 72 Kitab, sedangkan Kitab Perjanjian Lama Protestan berjumlah 66 kitab. Alkitab Katolik berselisih 153 pasal dengan alkitab Protestan. Jika diambil rata-rata setiap pasal ada 40 ayat saja, maka selisih di antara keduanya dapat mencapai 6.120 ayat.

Pertanyaan serius yang kemudian timbul adalah; sebagai sesama yang mengakui Ketuhanan Yesus, Katolik dan Protestan sama-sama menghormati Alkitab sebagai kitab suci. Tapi mengapa terdapat perbedaan yang demikian mencolok? Pertanyaan berikutnya, tentu saja, semakin serius; manakah yang sebetulnya firman Tuhan? Tak mungkin dua-duanya firman Tuhan, pasti salah satunya bukan firman Tuhan, atau mungkinkah dua-duanya bukan firman Tuhan?

Dengan begitu banyaknya kitab Injil yang beredar seperti sekarang ini, tentu menimbulkan pertanyaan yang sangat sulit terjawab oleh kalangan kristen sendiri. Sebab bertambah lagi pertanyaannya; berapakah jumlah Injil yang diwahyukan kepada Yesus, jika jawabannya satu Injil saja, lalu yang lain itu Injil dari mana? Dari ratusan Injil yang beredar, kenapa hanya 4 Injil yang dianggap sah oleh kristen? Standar apa yang digunakan oleh otoritas Kristen dalam melegalisasikan ke 4 Injil tersebut? Apakah injil-injil yang ada saat ini diwahyukan oleh Tuhan dengan cara yang sama? Jika sama, mengapa harus diembel-embeli dengan nama pengarangnya yang sudah menjadi rahasia umum sebenarnya fiktif itu? Mengapa ada banyak perbedaan dan pertentangan antar Injil? Mengapa antara Injil yang satu dengan Injil yang lain terdapat banyak sekali perbedaan dalam mengisahkan peristiwa tentang Yesus meskipun untuk tema yang sama? Semakin digali, maka semakin banyak pertanyaan yang muncul seputar Injil.

6. KONTRADIKSI AYAT-AYAT ALKITAB
"Sulit bagi umat Kristen, tak terkecuali pendeta/pastur dan pakar teologi mereka untuk mempertahankan asumsi bahwa Alkitab (The Holy Bible) yang ada ditangan mereka sekarang saat ini adalah 100% firman Tuhan. Satu persatu pakar alkitab mengungkapkan bukti demi bukti, baik melalui telaah manuskrip sampai studi teks terhadap Alkitab yang akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa alIkitab adalah "Kitab Suci Yang Penuh Dengan Masalah alias Kitab Suci Yang Penuh Dengan Kegelapan" (Dr. Jim Walker, The Dark Bible). Untuk mengetahui apa masalah yang dimaksud oleh Doktor ini, coba mari sama-sama kita lihat contoh berikut:

A. "Karena inilah aku hendak berkeluh kesah dan meratap, hendak berjalan dengan tidak berkasut dan telanjang, hendak melolong seperti srigala dan meraung seperti burung unta" (Mikha 1:8).

Penjelasan: nabi-nabi kecil merasa dipengaruhi Yesaya dan kata-kata mikha ini menunjukan bahwa ia akan meniru tindakan bertelanjang Yesaya sebagai suatu bukti untuk nubuatnya. Bayangkan di dalam pikiran anda, seorang laki-laki religius melepaskan pakaiannya, lalu lari berputar-putar dengan berbugil ria dan bernubuat di depan umum, meratap melolong bak srigala sekuat-kuatnya. Apa jadinya jika hal ini terjadi di zaman sekarang? Pasti Satpol PP atau petugas panti sosial akan mengejarnya dan memberikan suntikan penenang saat itu juga, dan pastilah orang ini akan berubah status dari seorang religius menjadi pasien rawat inab RSJ!

B. "Mereka bersundal di Mesir, mereka bersundal pada masa mudanya; di sana susunya dijamah-jamah dan dada keperawanannya dipegang-pegang" (Yehezkiel 23:3)

C. "Setiap orang yang didapati akan ditikam, dan setiap orang yang tertangkap akan rebah oleh Pedang. Bayi-bayi mereka akan diremukkan di depan mata mereka, rumah-rumah mereka akan dirampoki, dan istri-istri mereka akan ditiduri" (Yesaya 13:15-16). Ayat inilah yang menginspirasi Kristen Poso membunuh ratusan anak-anak, balita, memperkosa ratusan perempuan muslim dan melakukan pembataian massal yang sangat sadis.

D. Siapakah nama pemberian Tuhan kepada bayi Yesus? Matius 1:22-23 dan Yesaya 7:14 = Imanuel versus Lukas 2:21 dan Matius 1:25 = Yesus

E. Jam berapa Yesus disalib? Markus 15:25 = jam 9 Yohanes 19:14 = lewat dari jam 12. Ini hanya sedikit contoh dari puluhan ribu ayat-ayat kontradiksi Alkitab.

Bagaimana mungkin ayat-ayat kontradisksi tersebut dapat dipercaya sebagai firman Tuhan? Mungkinkah Tuhan berbuat demikian banyak kesalahan hanya untuk urusan seremeh penulisan sebuah kitab? Tentu saja TIDAK!

7. REVISI ISI ALITAB
"Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan/kekeliruan dalam alkitab; kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakataa" (Dr. G.C Van Niftrik dan Dr. B.; Bolland, Dokmatika Masa Kini). Meski demikian, para pendeta dan penginjil tetap menganggap Alkitab mereka asli dan terjamin dari kekeliruan, walaupun fakatanya sangat bertolak belakang sekali. LAI saja sudah beberapa kali merevisi kalimat-kalimat yang ada dalam alkitab seperti di antaranya:

Ibrani 10:12 cetakan tahun 1929 "Tetapi ja ini sesoedah mempersembahkan satoe koerban jang kekal karena dosa2 orang, laloe doedoek disebelah kanan Allah,  Pakai 'jang kekal', 'dosa2 orang', 'doedoek disebelah kanan Allah'. Tanpa terdapat kata-kata "selama-lamanya". Tapi dalam Ibrani 10:12 cetakan 1968, 1982 "Tetapi ia, mempersembahkan satu korban karena segala dosa lalu duduklah di sebelah kanan Allah selama-lamanya. Dikurangi 'kekal' lalu ditambahkan "segala' ditambah lagi 'selama-lamanya. Mengapa harus direvisi? Apakah Tuhan telah memerintahkan kepada seseorang agar Alkitab direvisi? Atau, bolehkah manusi merobah-robah isi Alkitab sesuka hatinya?

Kriteria utama sebagai tolok ukur kebenaran dan kesucian kitab suci adalah tidak dicampuri oleh hasil-hasil pikiran dan angan-angan manusia, serta bebas dari kesalahan. Sebab Tuhan yang Maha Benar adalah sumber dari segala kebenaran dan mustahil Tuhan melakukan kesalahan. Wahyu dari Tuhan tidak akan pernah salah, tidak akan mengalami perobahan, penambahan dan pengurangan sedikitpun. Jika ada kitab suci yang mengalami perobahan, pengurangn, penambahan, bahkan pengalihan arti ayat-ayat sucinya jelas bukan lagi sebuah kitab suci, akan tetapi menjadi sekedar kitab yang disucikan.

8. HISTORISITAS DAN KEILMIAHAN
Dalam Alkitab, "injil-injil itu berisi tafsiran sejarah yang diungkapkan melalui sudut pandang tertentu dalam rangka mendukung klaim gereja" (Ralph P.Martin, Reconciliation: A Study of Paul's Theology). Maurice Bucaille dalam bukunya The Bible, The Quran and Science memaparkan sejumlah kritik terhadap historisitas dan keilmiahan peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam Bibel. Misalnya tentang penciptaan alam dalam Kitab Kejadian (Genesis) yang bertentangan dengan kaidah-kaidah sains modern. Sejarah telah mencatat, karena berani mengatakan bahwa bumi itu mengitari matahari, hal yang dianggap kelancangan karena berani menentang kaidah-kaidah Injil, maka Galileo Galilei, Copernicus, dan Bruno dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup!

Sebuah penyangkalan terhadap kebenaran yang luar biasa keji di kalangan Kristen semata-mata hanya karena masalah perbedaan pendapat tentang sains, lalu orang yang berbeda pendapat itu harus dimusnahkan dengan cara dibakar hidup-hidup. Padahal ternyata menurut sains modern hari ini pendapat itu terbukti kebenarannya. "Biarlah Ia menghujani mereka dengan bara api! Biarlah Ia menjatuhkan mereka ke dalam jurang hingga tidak bisa bangkit (Mazmur: 140:11). Jika menuruti kaidah hukum Injil ini, dapat dibayangkan berapa ratus juta, atau berapa milyar manusia Kristen dewasa ini - yang pasti mengamini pendapat Galileo itu - harus dibakar hidup-hidup karena menentang Injil? Boleh jadi akan musnahlah seluruh umat kristen di dunia ini! Renungkanlah sendiri, benarkah Tuhan sampai sedemikian bodoh dan sedemikian kejam karena membuat teori yang salah lalu menghukum ''bakar hidup-hidup' manusia yang coba mengoreksi kesalahan teori-Nya?

9. KISAH CABUL DALAM ALKITAB
"Kapan pun kita mencari bacaan cerita-cerita cabul, godaan-godaan yang menggairahkan birahi, eksekusi-eksekusi super kejam, pembalasan dendam yang tiada henti, maka lebih dari separuhnya dapat ditemui di dalam Alkitab. Karenanya akan lebih konsisten jika kita menyebutnya Alkitab sebagai FIRMAN SETAN. Inilah sejarah kejahatan yang telah dilayani untuk membuat kebrutalan dan merusak umat manusia" (Thomas Paine).

Daud M. Carr, Profesor PL di Union Theological Seminary, memandang Alkitab sebagai firman yang erotis dalam bukunya The Erotic Word. Sedangkan Osho dalam website www.otoons.com menilai alkitab penuh dengan pornografi yang, bahkan jauh lebih buruk daripada majalah Play Boy, Play Girl, dan Penthouse. Dia mengatakan: "INILAH KITAB SUCI PORNO YANG TERBESAR".

Dalam Alkitab diceritakan dengan gamblang tentang ketelanjangan, perzinahan, pemerkosaan, sodomi, pelacuran, Incest (hubungan seks sedarah), hamil di luar nikah, pesta seks semalam suntuk, homo dan lesbian, perangsang seksual, oral sex, penyebutan buah dada, buah pelir, zakar kuda dan lain sebagainya. Bahkan para nabi sendiri dikisahkan tak luput dari prilaku tak senonoh ini, seperti di antaranya:
  1. Nabi Nuh mabuk-mabukan sampai teler dan telanjang bugil (Kejadian 9: 18-27).
  2. Nabi Luth menghamili kedua putri kandungnya sendiri dalam dua malam secara bergiliran (Kejadian 19:30-38). Heboh! Skandal seks ayah dan anak kandung oleh seorang nabi?
  3. Nabi Daud melakukan skandal seks dengan Batsyeba, istri anak buahnya sendiri. Setelah Batsyeba mengandung suaminya dibunuh oleh Daud, kemudian Batsyeba dinikahi Daud diboyong ke istana (II Samuel l l: 2-27).
  4. Ketika sudah tua, Nabi Daud tidur dengan perawan yang masih muda (I Raja-raja 1: 1-3).
  5. Nabi Yakub bekerja sama dengan ibu kandungnya untuk membohongi dan menipu ayah kandungnya, supaya Israel diberkati (Kejadian 27: 1-46).
  6. Yehuda (putra Nabi Yakub) menghamili menantunya sendiri (Kejadian 38: 13-19). Skandal seks ayah dan menantu dalam kitab suci!?
  7. Absalom (putra Nabi Daud) memperkosa gundik ayahnya sendiri (11 Samuel 16: 21-23). Perselingkuhan anak dengan ibu (gundik ayah) dalam Kitab Suci?!
  8. Amnon (putra Daud) memperkosa saudara perempuannya (II Samuel 13:7-14). Incest antara anak nabi dengan saudaranya sendiri?
  9. Ruben (putra tertua Nabi Yakub) melakukan hubungan seks dengan Bilha, gundik ayahnya (Kejadian 35:22). Gundik ayah diperkosa anaknya sendiri?
  10. Nabi Sulaiman (Salomo) tidak taat kepada Tuhan karena lebih mencintai 700 istri dan menyimpan 300 gundik (I Raja-raja 11:3) Mustahil ada nabi yang rakus wanita..
  11. Nabi Harun membuat dan menyembah patung emas (Keluaran 32:2-4).
  12. Nabi Isa (Yesus) orang bodoh, idiot, dan emosional. Pada waktu bukan musim buah ara, Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Markus ll: 12-14; bandingkan: Yohanes 2:4 dan Yohanes 7:8-10).
  13. Dan masih banyak lagi.

Penghinaan kepada nabi-nabi Allah ini sungguh sangat keterlaluan sekali, fitnah yang tak tanggung-tanggung. Jika benar para nabi itu adalah pendosa, tentu saja TIDAK MUNGKIN menjadi utusan Allah di bumi ini.

10. KALIMAT SADISTIS DALAM ALKITAB
"Bahkan hari ini, peperangan paling kejam dan paling sadis, terorisme, dan kejahatan-kejahatan yang dipenuhi kebencian juga terjadi di seluruh penjuru bumi karena dilandasi oleh kepercayaan-kepercayaan agama masa lampau. Banyak di antaranya secara langsung berasal dari ayat-ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru." (Dr. Jim Walker, The Dark Bible). Tindakan para penganut kepercayaan Bibel ini saat Perang Teluk nyata-nyata telah mendorong seorang pembom F-16, misalnya, menuliskan Yesaya 21:9 pada rudal-rudal yang akan dilepaskannya. Michael Griffin membunuh Dr. David Gunn pada tanggal 10 Maret 1993 karena terinspirasi oleh Kejadian 9:5-6.

Kalimat-kalimat sadis dan amoral memang sangat banyak bertaburan di dalam Alkitab seperti misalnya: gantunglah; bakarlah hidup-hidup; patoklah kepalanya; gilaslah bayi-bayi itu; bunuh dan musnahkanlah semua yang bernyawa, termasuk keledai; makanlah anak-anakmu; bencilah keluargamu; belahlah perut perempuan hamil, dan gilas bayi-bayinya; perkosalah dlsb. Sekedar contoh, perhatikan yang berikut ini:

A. Bunuhlah semua orang yang tak beriman.
"Nabi atau pemimpin itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap Tuhan, Allahmu." (Ulangan 13:5). "Bunuhlah dengan mata pedang penduduk kota itu, dan tumpaslah dengan mata pedang kota itu serta segala isinya dan hewannya." (Ulangan 13:15).

Hukum-hukum agama yang mengerikan ini memberi amanat kepada pengikut-pengikutnya untuk membunuh semua mahkluk, bahkan anak-anak mereka sendiri! Dapat dibayangkan betapa mengerikannya yang mereka alami. Tak satupun yang bernyawa dibiarkan menghirup udara. Pernyataan-pernyataan Alkitab tersebut memberikan inspirasi kepada kalangan fundamentalis yang beriman secara fanatik untuk membunuh lawan-lawan yang tak seiman dengannya karena dianggap tidak mau mengikuti perintah Tuhannya.

B. Tuhan memberi perintah untuk berzina.
"Beginilah firman Tuhan; Bahwasannya malapetaka akan kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluarga sendiri. Aku akan mengambil istri-istrimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan istri-istrimu di siang hari." (II Samuel 12:11).

Tidak saja memaafkan perzinaan, tetapi secara harfiah Tuhan juga menyebabkan perzinaan itu sendiri terjadi. Padahal dalam Kitab Wahyu 2:20, Yeremia 3:2,9. Tuhan mengutuk keras para pezina, dan masih banyak lagi.

Banyak sarjana-sarjana teologi berpendapat bahwa "sedikit alasan untuk tidak berfikir bahwa kekerasan atau kekejaman-kekejaman itu telah diilhami oleh Alkitab (Injil). Kekerasan demi kekerasan takkan pernah berhenti selama ayat-ayat yang ada dalam alkitab itu terus berada di sana dan memberi inspirasi kepada pengikut-pengikutnya.

Manusia harus melihat perang agama yang terjadi di seluruh penjuru dunia ini untuk mengamati potensi destrukataif yang kekal dari kepercayaan tersebut. Manusia harus melihat perseteruan antara umat Katolik dan umat Protestan di Irlandia, konflik di Timur Tengah, yakni bagaimana orang-orang Yahudi memerangi umat Kristen dan Muslim. Banyak tentara mempergunaklan ayat-ayat dari Alkitab untuk menjadi pembenaran pembinasaan yang sangat mengerikan terhadap musuh-musuh mereka. Apakah memang seperti ini bentuk-bentuk ajaran Tuhan kepada umat manusia?

Dari hanya 10 pokok-pokok pemikiran di atas saja, maka akan mudah dibuktikan bahwa sebuah kitab suci yang berisi kumpulan firman Tuhan akan jauh, bahkan sama sekali tak mungkin tersentuh oleh hal-hal seperti diuraikan di atas.

Akan tetapi jika ternyata menyentuh, atau malah semuanya ada, maka kitab itu sama sekali tidak pantas untuk disebut sebagai sebuah kitab suci. Kitab serupa itu hanyalah sebuah kitab biasa yang dipaksakan sebagai sebuah kitab suci, atau sekedar kitab yang disucikan saja. Sedangkan bila kita betul-betul memperhatikan ayat-ayat "menyeramkan" yang ada di dalamnya, maka sesungguhnya kitab ini lebih pantas disebut sebagai kitab yang mengandung  FIRMAN SETAN, yang entah bagaimana ceritanya telah disisipkan ke dalam kitab yang seharusnya disebut kitab suci ini!

Wallahualambissawab.


Baca juga Daftar Kesalahan Ayat- Ayat Dalam Alkitab
Q-7

Al-Quran, Tentang Fungsi Sebagai Penyempurna Kitab-Kitab Terdahulu


"Aku telah diberikan tujuh buah surat panjang (Sab'ul Ath Thiwal) sebagai tempat (pengganti) Taurat. Dan aku juga telah diberikan beberapa surat yang ayatnya berjumlah seratus lebih (Al-Miani) sebagai tempat (pengganti) Zabur. Dan aku telah diberikan beberapa surat yang jumlah ayatnya kurang dari seratus (Al-Matsani) sebagai tempat (pengganti) Injil, serta dilebihkan dengan surat-surat pendek (al-Mufashol)" [HR. Thabrani di Kitab Al Kabir Shahih Jamiush Shagir 1/30 - dan berkata Syaikh Albani  tentang hadits ini: Sanadnya Shahih]. 

Kitab Al-Qur'an
Al-Qur'an  adalah kitab suci agama Islam. 
Umat Islam memercayai bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah hanya yang diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril. Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surah Al-'Alaq ayat 1-5

Kitab Al-Qur'an: "sungguh kami telah menurunkan Az-Zikir (Al-Qur'an) dan sungguh kami akan memeliharanya."  

Diberikan kepada nabi muhammad saw,  sebagai penyempurna kitab sebelumnya dari awal mula Al-Qur'an diturunkan sampai sekarang dan seterusnya akan selalu terjaga keaslianya.dan juga allah menjamin kitab suci Al-Qur'an akan selalu terjaga keaslianya.

Hubungan dengan kitab-kitab lain
Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan Al-Qur'an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab tersebut:

Bahwa Al-Qur'an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab tersebut. QS(2:4)

Bahwa Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48)

Bahwa Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)

Bahwa Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut. Cerita tersebut pada beberapa aspek penting berbeda dengan versi yang terdapat pada teks-teks lain yang dimiliki baik olehYahudi dan Kristen.

Kitab Taurat
Kitab Taurat atau Torah dalam bahasa Ibrani adalah lima kitab pertama Tanakh, atau Alkitab Perjanjian Lama. Kitab Taurat dalam bahasa Yunani disebut Pentateukh.

Kitab Taurat:  "sesungguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir."  

Di turunkan kepada Nabi Musa As. di bukit Sinai isinya mengandung 10 hukum Tuhan yang di kenal dengan Ten Commandments. Kitab taurat adalah ajaran allah dan merupakan petunjuk yang benar terhadap kaum bani israil.

Kitab Zabur
Zabur (bahasa Arab) disamakan oleh sebagian ulama dengan Mazmur, yang menurut Islam, adalah salah satu kitab suci yang diturunkan sebelum Al-Qur'an (selain Taurat dan Injil). Istilah zabur adalah persamaan dengan istilah Ibranizimra, bermaksud "lagu, musik." Ia, bersama dengan zamir ("lagu") danmiz m or ("mazmur" atau Psalm), merupakan derivasi zamar, artinya "nyanyi, nyannyikan pujian, buatkan musik." Umat Muslim percaya bahwa Zabur adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada kaum Bani Israil melalui utusannya yang bernama Nabi Daud.

Kitab Injil
Injil (Yunani: euangelion - "kabar baik" atau "berita baik" atau "berita suka cita") adalah istilah yang digunakan untuk menyebut keempat kitab pertama dalam Alkitab Perjanjian Baru. Kitab-kitab tersebut adalah: Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, dan Injil Yohanes. Kata injil sendiri berasal dari bahasa Arab.
Injil biasanya mengandung arti:
  1. Pemberitaan tentang aktivitas penyelamatan Allah di dalam Yesus dari Nazaret atau berita yang disampaikan oleh Yesus dari Nazaret. Inilah asal-usul penggunaan kata "Injil" menurut Perjanjian Baru (lihat Surat Roma 1:1 atau Markus 1:1).
  2. Dalam pengertian yang lebih populer, kata ini merujuk kepada keempat Injil kanonik (Matius, Markus, Lukasda dan Yohanes) dan kadang-kadang juga karya-karya lainnya yang non-kanonik (mis. Injil Tomas), yang menyampaikan kisah kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus.
  3. Sejumlah sarjana modern menggunakan istilah "Injil" untuk menunjuk kepada sebuah genre hipotetis dari sastra Kristen perdana [bdk. Peter Stuhlmacher, ed., Das Evangelium und die Evangelien, Tübingen 1983, juga dalam bahasa Inggris:  The Gospel and the Gospels].

Di berikan kepada nabi Isa, dan secara garis besar sama dengan kitab Allah yang sebelumnya. 
Kitab Injil: "dan kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi bani Israil) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Tuaurat. dan kami telah memberikan kepadanya kitab injil, sedangkan di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi)."

Kitab zabur diberikan kepada Nabi Daud. Isi pokok kitab Zabur adalah tentang kewajiban meyembah ALLAH SWT

1. Fungsi dan Peranan Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah wahyu Allah (7:2) yang berfungsi sebagai mu'jizat bagi Rasulullah Muhammad saw (17:88; 10:38) sebagai pedoman hidup bagi setiap Muslim (4:105; 5:49,50; 45:20) dan sebagai korektor dan penyempurna terhadap kitab-kitab Allah yang sebelumnya (5:48,15; 16:64 ), dan bernilai abadi.

Sebagai mu'jizat, Al-Qur'an telah menjadi salah satu sebab penting bagi masuknya orang-orang Arab di zaman Rasulullah ke dalam agama Islam, dan menjadi sebab penting pula bagi masuknya orang-orang sekarang, dan (insya Allah) pada masa-masa yang akan datang. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dapat meyakinkan kita bahwa Al-Qur'an adalah firman-firman Allah, tidak mungkin ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw yang ummi (7:158) yang hidup pada awal abad ke enam Masehi (571 - 632 M). Diantara ayat-ayat tersebut umpamanya: 39:6; 6:125; 23:12,13,14; 51:49; 41:11-41; 21:30-33; 51:7,49 dan lain-lain.

Demikian juga ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di Mesir, Negeri Saba'. Tsamud, 'Ad, Yusuf, Sulaiman, Dawud, Adam, Musa dan lain-lain dapat memberikan keyakinan kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia. Ayat-ayat yang berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen dan lain-lain juga menjadi bukti lagi kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah wahyu Allah SWT. (30:2,3,4;5:14).

Bahasa Al-Qur'an adalah mu'jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapihan susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa Arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-Qur'an. Karena gaya bahasa yang demikian itulah Umar bin Khattab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur'an awal surat Thaha yang dibaca oleh adiknya Fathimah. Abul Walid, diplomat Quraisy waktu itu, terpaksa cepat-cepat pulang begitu mendengar beberapa ayat dari surat Fushshilat yang dikemukakan Rasulullah sebagai jawaban atas usaha-usaha bujukan dan diplomasinya.
Bahkan Abu Jahal musuh besar Rasulullah, sampai tidak jadi membunuh Nabi karena mendengar surat adh-Dhuha yang dibaca Nabi. Tepat apa yang dinyatakan Al-Qur'an, bahwa sebab seorang tidak menerima kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi adalah salah satu diantara dua sebab, yaitu:
  • Tidak berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh.
  • Tidak sempat mendengar dan mengetahui Al-Qur'an secara baik (67:10, 4:82). Oleh Al-Qur'an disebut Al-Maghdhub (dimurkai Allah) karena tahu kebenaran tetapi tidak mau menerima kebenaran itu, dan disebut adh-dhollin (orang sesat) karena tidak menemukan kebenaran itu. Sebagai jaminan bahwa Al-Qur'an itu wahyu Allah, maka Al-Qur'an sendiri menantang setiap manusia untuk membuat satu surat saja yang senilai dengan Al-Qur'an (2:23, 24, 17:88). Sebagai pedoman hidup, Al-Qur'an banyak mengemukakan pokok-pokok serta prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan mahluq lainnya.

Didalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti: beribadah langsung kepada Allah (2:43, 183, 184, 196, 197; 11:114), berkeluarga (4:3, 4, 15, 19, 20, 25; 2:221; 24:32; 60:10, 11), bermasyarakat (4:58; 49:10, 13; 23:52; 8:46; 2:143), berdagang (2:275, 276, 280; 4:29), utang-piutang (2:282), kewarisan (2:180; 4:7-12, 176; 5:106), pendidikan dan pengajaran (3:159; 4:9,63; 31:13-19; 26:39, 40), pidana (2:178; 4:92, 93; 5:38; 10:27; 17:33; 26:40), dan aspek-aspek kehidupan lainnya yang oleh Allah dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat dan setiap waktu (7:158; 34:28; 21:107).

Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan seluruh tata nilai tersebut dalam kehidupannya (2:208; 6:153; 9:51). Dan sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang Al-Qur'an sebagai bentuk pelanggaran dan dosa (33:36). Melaksanakannya dinilai ibadah (4:69; 24:52; 33:71), memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci (61:10-13; 9:41), mati karenanya dinilai sebagai mati syahid (3:157, 169), hijrah karena memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi (4:100, 3:195), dan tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zhalim, fasiq, dan kafir (5:44,45,47). 

Sebagai korektor Al-Qur'an banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang dibahas oleh kitab-kitab Taurat, Injil, dan lain-lain yang dinilai Al-Qur'an sebagai tidak sesuai dengan ajaran Allah yang sebenarnya. Baik menyangkut segi sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum,prinsip-prinsip ketuhanan dan lain sebagainya. Sebagai contoh koreksi-koreksi yang dikemukakan Al-Qur'an tersebut antara lain sebagai berikut :

a. Tentang ajaran Trinitas (5:73).
b. Tentang Isa (3:49, 59; 5:72, 75).
c. Tentang penyaliban Nabi Isa (4:157,158).
d. Tentang Nabi Luth (29:28-30; 7:80-84) perhatikan, (Genesis : 19:33-36).
e. Tentang Harun (20:90-94), perhatikan, (keluaran : 37:2-4).
f.  Tentang Sulaiman (2:102; 27:15-44), perhatikan (Raja-raja 21:4-5) dan lain-lain.

KITAB-KITAB ALLAH
Telah diterangkan sebelumnya bahwa seorang Nabi menerima syariat melalui wahyu yang berasal dari tuhan untuk dan dirinya dan juga bisa diberikan kepada selainnya, sedangkan rasul adalah seorang Nabi yang bertugas menyampaikan syariat, petunjuk aatau hal lainnya kepada sebagian umat yang menjadi tanggungannya, jadi seorang Rasul pastilah dia seorang Nabi dan dengan demikian seorang Nabi belum tentu berfungsi sebagai Rasul.

Rasul menerima suhuf atau Kitab yang dalam arti harfiahnya bermakna lembaran-lembaran yang tertulis, tertulis dalam arti belum tentu yang ditulis oleh si penerima wahyu,  tentang syariat, perintah atau larangan, diantaranya adalah:
  • Nabi ibrahim AS
  • Nabi Musa AS, disebut Taurat, berisi hukum syariat yang ditujukan kepada Bani Israil.
  • Nabi Daud AS, disebut Zabur, juga ditujukan kepa Bani Israil.
  • Nabi Isa al-Masih AS, disebut injil yang merupakan penyempurnaan dan penjelas bagi kitab-kitab sebelumnya yaitu Zabur dan Taurat dan ditujukan juga untuk Bani Israil.
  • Nabi Muhammad SAW, disebut Al-Qur'an, merupakan petunjuk berupa syariat dan hukum bagi seluruh umat manusia dan sebagai penjelas dan penyempurna kitab-kitab Allah sebelumnya. Jadi Al-Quran merupakan wahyu tertulis terakhir (Final Revelation) berisi tentang penjelasan segala sesuatu yang diperlukan manusia dalam menempuh kehidupan di dunia agar mencapai kesejahteraan, keselamatan dengan tujuan akhir adalah kebahagiaan hidup di akhirat nanti.

Semua kitab-kitab tersebut berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Tuhan Semesta Alam, Allah SWT. Oleh karena sumbernya satu, maka semua ajarannya adalah sejalan selaras dan bisa dijadikan dasar untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya. 

Allah SWT menurunkan kitab kepada umat manusia dengan tujuan memberikan petunjuk jalan, hukum-hukum dan syariat yang bisa digunakan oleh manusia yang beriman untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Pengertian Kitab dan Suhuf
Kitab yaitu kumpulan wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul untuk diajarkan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Suhuf yaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada rasul, tetapi masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah. Ada persamaan dan perbedaan antara kitab dan suhuf:

Persamaan
  • Kitab dan suhuf sama-sama wahyu dari Allah.

Perbedaan
  • Isi kitab lebih lengkap daripada isi suhuf
  • Kitab dibukukan sedangkan suhuf tidak dibukukan.

Allah menyatakan bahwa orang mukmin harus meyakini adanya kitab-kitab suci yang turun sebelum Al Qur’an seperti disebutkan dalam firman Allah berikut ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.” (QS An Nisa: 136) 

Selain menurunkan kitab suci, Allah juga menurunkan suhuf yang berupa lembaran-lembaran yang telah diturunkan kepada para nabi seperti Nabi Ibrahim a.s dan nabi Musa a.s. 

Firman Allah SWT .
“(yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa.” (QS. Al A’la: 19)

Kitab-kitab Allah berfungsi untuk menuntun manusia dalam meyakini Allah SWT dan apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT berikut. 

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya dan apa yang kami berikan kepada Musa dan Isa seperti apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya.” (QS Al Baqarah: 136),

Prilaku yang mencerminkan Keimanan Kepada Kitab Allah
  1. Meyakini bahwa Kitab Allah itu benar datang dari Allah.
  2. Menjadikan kitab Allah sebagai Pedoman (hudan) khusus kitab yang diturunkan kepada kita
  3. Memahami isi kandungannya.
  4. Mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari Umat manusia, khususnya umat muslim harus meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab Nya kepada para nabi atau Rasul sebagai pedoman hidup bagi umatnya masing-masing. Al Qur’an sebagai kitab Allah yang terakhir dan penyempurna sebelumnya telah diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.

Para Nabi/Rasul yang menerima kitab wahyu tersebut yang bertugas menyampaikan pesan wahyu tersebut, bisa diartikan sebagai penyelamat bagi umat yang diperintahkan Allah untuk menyampaikannya. Jadi Nabi Ibrahim adalah penyelamat umatnya, Nabi Musa adalah penyelamat Bani israil kemudian oleh Nabi-nabi lainnya (yang tidak diberitakan oleh Al-Qur'an) serta diikuti oleh Nabi Isa Al-Masih AS.

Para Nabi/Rasul seluruhnya adalah penyelamat atau juru selamat bagi umatnya, dikarenakan mereka menerima wahyu dan sekaligus menjelaskan tentang wahyu tersebut untuk keselamatan umatnya dalam menempuh kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Al-Qur'an sebagai final revelation, ditujukan kepada seluruh umat manusia dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, berisi seluruh rangkuman dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, petunjuk jalan, pembeda antara yang bathil dan yang hak, sebagai penerang dikarenakan berisi segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia. 

Seluruh Ilmu Pengetahuan terdapat dalam Al-Qur'an, sosial, keluarga, pendidikan, ekonomi, tata-negara, teknologi, tata-niaga (bisnis), hukum, kesehatan, militer, dan lain sebagainya. 

Oleh karena itu Al-Qur'an pantas menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia sepanjang jaman hingga hari kiamat. Dengan demikian siapa yang ingin mencari keselamatan, pelajarilah Al-Qur'an, dan ikuti petunjuknya. 

Nabi Muhammad SAW sebagai pengemban tugas penyampaian wahyu terakhir bisa dikatakan berfungsi sebagai penyelamat seluruh umat manusia. Ya, Nabi Muhammad adalah Juruselamat seluruh umat manusia!

[Sumber: Al-Qur'an Menjawab]