Up-Date/Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Tafsir). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran (Tafsir). Tampilkan semua postingan

Repositori: Syariat Nabi Isa Alihissalam


ABSTRAK
Setiap nabi dan rasul yang diutus oleh Allah swt. mengemban misi dan tugas tertentu untuk disampaikan kepada umatnya untuk membimbing mereka kepada jalan yang benar agar manusia memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Setiap nabi yang diutus oleh Allah swt. dalam menyampaikan risalahnya dibekali dengan berbagai mukjizat. Namun, karena sifat manusia yang cenderung berlebihan, ada sebagian yang beriman dan ada pula yang ingkar. 

Nabi Isa as. adalah salahsatu nabi yang diutus kepada Bani Isra’il dengan membawa ajaran syariat agama. Namun, ajarannya telah banyak disimpangsiurkan oleh pengikutnya. Bahkan mereka menempatkan Nabi Isa as. sama dengan kedudukan Tuhan. Ini merupakan sifat yang berlebihan dan penyelewengan terhadap ajaran yang dibawanya. Al-Qur’an menjelaskan kebenaran tentang risalah-risalah keTuhanan yang dibawa oleh para Nabi. Termasuk di dalamnya yang berkaitan dengan agama dan syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as.. 

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
  1. Agama apakah yang dibawa oleh Nabi Isa as.dalam al-Qur’an? 
  2. Bagaimanakah syariat agama Nabi Isa as. dalam al-Qur’an?. 
  3. Bagaimana sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as. dalam al-Qur’an?
    Tujuannya adalah mengetahui secara mendalam tentang agama dan syariat Nabi Isa as. yang terdapat dalam Al-Qur’an sehingga diperoleh petunjuk tentang kebenaran syariatnya yang telah banyak disimpangsiurkan oleh mereka yang mengaku sebagai pengikutnya. 

    Penelitian ini bersifat kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan dan menggunakan metode penelitian tafsir tematik, dan hasil penelitian ini adalah:
    1. Agama yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah agama Islam; 
    2. Syariat agama Nabi Isa as. adalah melanjutkan syariat Taurat, membenarkan ajaran Taurat dan diturunkan pula kepadanya syariat Injil untuk menyempurnakannya; 
    3. Sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat Nabi Isa as. terbagi dua, ada yang menerima (yaitu orang-orang Nasrani) dan ada yang menolak (yaitu orang-orang Yahudi). Sungguhpun kajian tentang agama dan syariat Nabi Isa as. telah dipaparkan sedemikian rupa, namun masih banyak celah yang menuntut adanya kajian berikutnya sebagai bentuk pengembangan dengan menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda.
      Catatan: Demi menghormati privasi dan hak cipta penulis, paparan ini tidak meampilkan seluruh konten tesis, namun mengingat substansi dan kepentingannya bagi pembaca, maka hanya bagian akhir dari tesis ini; yakni BAB 5 saja yang ditampilkan.



      BAB 5

      PENUTUP


      1. Agama Nabi Isa as.
      Agama yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah agama Islam. Yakni satusatunya agama yang diwahyukan oleh Allah dan diajarkan oleh para nabi-nabiNya. Islam adalah satu-satunya agama yang diridai oleh Allah. Oleh karenanya tidaklah mungkin Nabi Isa as. membawa agama lain selain Islam karena dia adalah salah satu utusan-Nya yang diutus untuk meluruskan kembali pemahaman kaumnya terhadap ajaran agamanya yang telah diselewengkan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan hal ini dapat dijumpai pada QS. Ali Imran (3): 19 dan 85. Adapun ayat yang menjelaskan bahwa Nabi Isa as. adalah salah satu nabi yang diberi syariat untuk menegakkan agama Islam terdapat dalam QS. al-Shura (43): 13.

      2. Syari’at Nabi Isa as.
      Al-Qur’an menjelaskan bahwa syariat yang dibawa oleh Nabi Isa as. adalah melanjutkan syariat nabi sebelumnya, yakni syariat Nabi Musa as.. Nabi Isa as. diutus untuk membenarkan syariat Nabi Musa as. yang telah disimpangsiurkan oleh Bani Isra’il Israil, menghalalkan apa yang diharamkan kepada mereka sebelumnya karena kesalahan mereka sendiri, menjelaskan tentang apa yang mereka perselisihkan serta diberi al-kitab (Injil) sebagai syariat khasnya.

      Sebagaimana para Nabi sebelumnya, dalam bidang aqidah Nabi Isa as. mengajak Bani Isra’il hanya untuk menyembah Allah, satu-satunya Dzat yang wajib disembah. Ia menolak tentang ajaran Trinitas‛ yang dianut oleh siapa saja terutama kaumnya.

      Dalam bidang far’iyah ‘amaliyah Nabi Isa as. juga mengajak manusia untuk sholat, menunaikan zakat, berpuasa, menjalankan hukum Taurat dengan benar, dan lain sebagainya. Kemudian dalam bidang khuluqiyah, Nabi Isa mengajak manusia untuk berbakti kepada orang tua, dan tidak bersikap sombong.

      Namun, yang perlu diketahui disini adalah bahwa syariat Nabi Isa as. adalah menekankan pada ajaran cinta kasih. Syariat Taurat mengikat manusia dengan perkara-perkara yang bersifat wajib, sedangkan ajaran cinta kasih melebihi syariat yang bersifat wajib. Ajaran itu membangkitkan nurani manusia untuk berbuat kebajikan, tanpa menunggu perintah dan tanpa berharap balasan.

      Dengan ajaran cinta kasih, Nabi Isa as. merombak setiap aturan yang bersifat lahiriah-formal. Dengan demikian, ia tidak meninggalkan ajaran Taurat, melainkan menegakkan ajaran Taurat.

      3. Sikap Bani Isra’il terhadap ajaran agama dan syariat Nabi Isa as. 
      Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, bahwa Nabi Isa as. diutus kepada Bani Isra’il untuk meluruskan kembali ajaran Taurat Nabi Musa as.. Namun, seperti para nabi yang diutus sebelumnya, kedatangan Nabi Isa as. kepada Bani Israil juga mengalami rintangan-rintangan. Sebagian dari mereka menerima ajarannya dan sebagian mereka menolak bahkan ingin membunuhnya. Kaum Nabi Isa as. yang menerima ajaran mereka adalah kaum Nasrani. Namun, di antara mereka ada yang setia dan adapula yang tidak setia. 

      Pengikutnya yang setia ini oleh Al-Qur’an disebut Al-Hawariyyun, yang jumlah mereka hanyalah sedikit pada waktu itu. Ada yang menyebutkan jumlahnya hanya sekitar 12 orang. Mereka mengakui kenabian Isa as., menerima ajarannya, dan mengakui hanya Allah, Tuhan yang wajib disembah. Mereka menyebut diri mereka sebagai Muslim. Sedangkan pengikutnya yang tidak setia justru menjadi mayoritas keberadaannya. Mereka bersikap berlebih-lebihan dan mengatakan bahwa Tuhan itu tiga (Trinitas). Adapun kaum Nabi Isa as. yang menolak ajaran Nabi Isa as. adalah kaum Yahudi. Mereka menolak ajaran agamanya dan bahkan ingin membunuhnya. Mereka tidak mengakui kenabian Nabi Isa as. dan ajarannya walaupun telah didatangkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya.

      Kesimpulan
      Allah menegaskan kepada umat Islam melalui kalamnya, Al-Qur’an, bahwa agama yang benar di dunia hanyalah Islam. Allah tidak pernah mengutus para nabinya dengan membawa agama lain selain Islam, termasuk dalam pengutusan Nabi Isa as..

      Oleh karenanya, sudah seharusnya bagi umat Islam untuk melanjutkan dakwah para Nabi untuk menyeru manusia untuk memeluk Islam dan menegakkan ajarannya.


      DAFTAR PUSTAKA

      • Al-Qur’an al-Karim 
      • AlKitab 
      • Abdullah, Zurkanain, Yahudi dalam al-Qur’an: Teks, Konteks & Diskursus 
      • Pluralisme Agama, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2007. 
      • Amini, Ibrahim, Mengapa Nabi Diutus?, terj. M. Ilyas, Jakarta: Al-Huda, 2006. 
      • Amrullah, Haji Abdul Malik Karim, Tafsir al-Azhar, Vol. 3, Jakarta: Pustaka 
      • Panji Mas, 1983. 
      • Andalusi (al), Abu Hayyan, Tafsir al-Bahr al-Muhit, Vol. 7, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1993. 
      • Arifin, Bey, Maria, Yesus dan Muhammad, Surabaya: PT Bina Ilmu, 2009. 
      • Asymawi (al), Muhammad Said, Nalar Kritis Syari’ah, terj. Luthfi Thomafi, 
      • Yogyakarta: LKIS, 2004. 
      • Bukhari (al), Abu Abdullah Muhammad bin Isma‘il, Al-Jami‘ al-Sahih, Vol. 2, alQahirah: al-Mat}ba‘ah al-Salafiyyah, 1403 H. 
      • Bahesyti, Muhammad Husaini dan Jawad Bahonar, Philosophy of Islam, terj. 
      • Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2003. 
      • Baidan, Nashruddin, Metodologi Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. 
      • Darwazah, M. ‘Izzah, Al-Tafsir al-Hadith Tartib al-Suwar Hasab al-Nuzul, AlQahirah: Dar al-Gharb al-Islami, 2000. 
      • Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta: WALI, 2010. 
      • Farmawi (al), ‘Abd al-Hayy, Metode Tafsir Maudhui: Sebuah Pengantar, terj. 
      • Suryan A. Jamrah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996). 
      • Fathoohi, Louay The Mystery of Historical Jesus: Sang Mesias menurut alQur’an, 
      • Alkitab, dan Sumber-sumber Sejarah, terj. Yuliani Liputo, 
      • Bandung: Mizan Pustaka, 2007 
      • Ghafur, Waryono Abdul, Tafsir Sosial, Yogyakarta: elSAQ Press, 2005.Ghazali, Syaikh Muhammad Tafsir Tematik dalam al-Qur’an, terj. M. Qodirun 
      • Nur dan Ahmad Musyafiq, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004. 
      • Halim, Amanullah, Isa Putra Maria dalam Injil dan al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2011. 
      • Halim, Muhammad Abdul, Memahami al-Qur’an: Pendekatan Gaya dan tema,Bandung: Marja’, 2002. 
      • Haroen,Nasrun, ‚Perspektif al-Qur’an tentang Islam‛, dalam Tema-tema Pokok 
      • al-Qur’an tentang Ketuhanan, ed. Abuddin Nata, Bandung: Angkasa, 2008. 
      • Ibn Kathir, Abu al-Fida’, Tafsir Ibn Kathir, vol. 9, terj. Bahrun Abu Bakar, 
      • Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000. 
      • _________, Qasas al-Anbiya’, diterj. Dudi Rosyadi, Jakarta: al-Kautsar, 2011. 
      • _________, Al-Misbah al-Munir fi Tahdhib Tafsir Ibn Kathir, terj. Ahmad Saikhu, Jakarta: Pustaka Ibn Katsir, 2014. 
      • _________, Terjemah Ringkas Tafsir Ibn Kathi>r, terj. Salim Bahreishy dan Said Bahreishy, Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1986. 
      • Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an, Hubungan Antar Umat Beragama dalam afsir al-Qur’an Tematik, Jakarta: Departemen Agama RI, 2008. 
      • _______________________________, Kenabian (Nubuwwah) dalam al-Qur’an dalam Tafsir al-Qur’an Tematik, Jakarta: Lajnah Pestashihan Mushaf alQur’an, 2012. 
      • McElwain,Thomas, Bacalah Bible: Merajut Benang Mereah Tiga Iman, terj. 
      • Muhammad Musaddiq, Jakarta: Citra, 2006. 
      • Mubarakfuri (al), Shaikh Shafiyyurrahman, Al-Misbah al-Munir fi Tahdhib Tafsir Ibn Kathir, Vol.3, terj. Ahmad Saikhu, Jakarta: Pustaka Ibn Katsir, 2014. 
      • Muchlas, Imam, Penafsiran al-Qur’an: Tematis Permasalahan, Malang: Univ. Muhammadiyah 
      • Muchlas, Imam dan Masyhud, Al-Qur’an Berbicara tentang Kristen, Surabaya: Pustaka Dai, 2001. 
      • Muhaimin, dkk, Studi Islam dalam Ragam Dimensi dan Pendekatan, Jakarta: Kencana, 2005. 
      • Muhammad, Ahl al-Kitab: Makna dan Cakupannya, Jakarta: Paramadina, 1998. 
      • Muhammad, Hasyim, Kristologi Qur’an: Telaah Kontekstual Doktrin 
      • Kekristenan dalam al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005. 
      • Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia, Surabaya: ustaka Progressif, 1997. 
      • Muslim, Al-Imam Abi al-Husain bin al-Hajjaj al-Qusairi al-Naisaburi, Sahih Muslim, Vol. 1, al-Riyad: Dar al-‘Alim al-Kutub, 19960 93. 
      • Mustaqim, Abdul Epistemologi Tasfir Kontemporer Yogyakarta: LKIS, 2012. 
      • Qardhawy (al), Yusuf, Anatomi Masyarakat Islam, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000. 
      • Qiraati, Muhsin, Lesson From al-Qur’an, terj. MJ. Bafaqih dan Dede Azwar, Bogor: Cahaya, 2004. 
      • Qurt}ubi (al), Tafsir al-Qurt}ubi, Vol. 6, terj. Dudi Rosyadi, dkk, Jakarta: Pustaka Azzam, 2008. 
      • Rahardjo, Dawam, Ensiklopedi al-Qur’an: Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep konsep Kunci, Jakarta Selatan: Paramadina, 2002. 
      • Rahman, Taufik, Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia, 2013. 
      • Roham, Abujamin, Pembicaraan di Sekitar Bible dan Qur’an dalam Segi Isi dan Riwayat Penulisannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1984. 
      • S{abuni (al), Muhammad ‘Ali, Qabas min Nur al-Qur’an: Dirasah Tahliliyah 
      • Muwassa’ah ni Ahdaf wa Maqasid al-Suwar al-Karimah, terj. Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2000. 
      • Sader, R., Firman Yesus, terj. Syeikh Al-Hamid, Jakarta: Citra, 2006. 
      • Sayyid ‘Abbas Husayni, Muhammad Legenhausen, dan Muntazir Qa’im, Hadis-hadis ‘Ali tentang ‘Isa dalam Injil‛, AL-Huda, Vol. II, No. 7, (Maret, 2004), 66. 
      • Shafi’i (al), Husain Muh}ammad Fahmi, al-Dalil al-Mufahris li Alfaz}i al-Qur’an al-Karim, al-Qahirah: Dar al-Salam, 2012. 
      • Sharifuddin, Amir, Ushul Fiqh, Vol. 2, Jakarta: Kencana, 2011. 
      • Shihab, M. Quraish, Kaidah Tafsir: Syarat, Ketentuan, dan Aturan yang Patut Anda Ketahui dalam Memahami Ayat-ayat Al-Qur’an, Tangerang: Lentera Hati, 2013. 
      • ________________, Mukjizat al-Qur’an: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah, dan Pemberitaan Ghaib, Bandung: Mizan, 1998. 
      • ________________, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 2005. 
      • Siddiqi, Mazheruddin, Konsep Qur’an tentang Sejarah, terj. Nur Rachmi, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003. 
      • Sirry, Mun’im, Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi atas Kritik al-Qur’an terhadap Agama Lain, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012. 
      • Steenbrink, Karel, Nabi Isa dalam al-Qur’an: Sebuah Interpretasi Outsider atas al-Qur’an, terj. Sahiron Syamsuddin dan Fejriyan Yazdajird Iwanebel, Yogyakarta: Suka Press, 2015. 
      • Suma, Muhammad Amin, Ulumul Qur’an, Jakarta: Rajawali Press, 2013. 
      • Suyuti (al), Jalal al-Din Abu ‘Abd al-Rahman, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, Beirut: Mu’asasah al-Kutub al-Thaqafiyah, 2002. 
      • Syafe’i, Rachmat Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka Setia, 2006. 
      • Syaikh, Abdullah bin muhammad bin ‘Abdurrahman bin Ish{aq Alu, Lubab alTafsir min Ibn Kathir, terj. M. Abdul Ghaffar, t.t: Pustaka Imam Syafi’i, 2006. 
      • T{abari (al), Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir, Tafsir al-Tabari, Vol. 5, terj. Beni Sarbeni, Jakarta: Pustaka Azam, 2008. 
      • Thohir, Muhammad, Ayat-ayat Tauhid: Pencerahan Aqidah Tauhid Berpadu Logika Sains Iptek, Surabaya: Bina Ilmu, 2009. 
      • Usman, Suparman, Hukum Islam: Asas-asas dan Pengantar Studi Hukum Islam dalam Tata Hukum Indonesia, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001. 
      • Usthuri, Ahmad, Qawa’id Tafsir, Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014. 
      • Wahidi (al), Asbab Nuzul al-Qur’an, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2009.

      Ruh

      Al-Quran, Tentang Ruh menurut QS. Al-Isra: 85


      Firman Allah,

      وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٥
      “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” (QS. Al-Isra: 85)

      ASBABUN NUZUL
      Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya dari hadits ‘Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Ketika aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah daerah pertanian dalam keadaan beliau bertumpu pada sebuah tongkat dari pelepah kurma, tiba-tiba lewat beberapa orang Yahudi.

      Sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya, “Tanyakan kepada dia tentang ruh.”
      Sebagian dari mereka berkata, “(Jangan tanya dia). Jangan sampai dia mendatangkan sesuatu yang kalian benci.”
      Berkata lagi (sebagiannya), “Tanyalah dia!”

      Mereka pun bertanya tentang ruh, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak menjawab sedikit pun. Aku tahu wahyu sedang diturunkan kepada beliau, maka aku pun berdiri dari tempatku. Turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka katakanlah bahwa itu urusan Rabb-ku dan kalian tidaklah diberi ilmu tentangnya kecuali sedikit.” [HR. al-Bukhari no. 4352 dan Muslim no. 5002]

      PENJELASAN AYAT
      Di kalangan ulama terjadi perselisihan tentang maksud dari kata ruh yang terdapat di dalam ayat ini. Ibnu Tin rahimahullah telah menukilkan beberapa pendapat, di antaranya ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ruh manusia. Ada yang mengatakan ruh hewan dan ada pula yang mengatakan yang dimaksud adalah Jibril ‘alaihissalam.

      Ada pula yang mengatakan maksudnya adalah ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam, ada yang mengatakan al-Qur’an, ada yang mengatakan wahyu, dan ada yang mengatakan malaikat yang berdiri sendiri sebagai shaff pada hari kiamat.

      Ada lagi yang mengatakan maksudnya adalah sosok malaikat yang memiliki sebelas ribu sayap dan wajah. Ada yang mengatakan ia adalah suatu makhluk yang bernama ruh yang bentuknya seperti manusia, mereka makan dan minum, dan tidak turun satu malaikat dari langit melainkan ia turun bersamanya. Ada lagi yang berpendapat lain. [Fathul Bari, Ibnu Hajar, 8/254, Tafsir al-Qurthubi, 10/324, Tafsir Ibnu Katsir, 3/62]

      Namun mayoritas ahli tafsir memilih pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah ruh yang terdapat pada kehidupan jasad manusia. Yaitu bagaimana keadaan ruh tersebut, tempat berlalunya di dalam tubuh manusia, dan bagaimana cara dia menyatu dengan jasad dan hubungannya dengan kehidupan Ini adalah sesuatu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. [Tafsir al-Qurthubi, 10/324]

      Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Yang benar adalah di-mubham-kan (pengetahuan tentang ruh dibiarkan seperti itu, yaitu tersamar) berdasarkan firman-Nya, “Ruh itu dari perkara Rabb-ku,” yaitu merupakan perkara besar dari urusan Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak diberikan perinciannya agar seseorang mengetahui secara pasti kelemahannya untuk mengetahui hakikat dirinya dalam keadaan dia meyakini wujud ruh tersebut.

      Apabila seorang manusia lemah (mengalami kesulitan) dalam mengetahui hakikat dirinya, maka lebih-lebih lagi (kelemahannya) untuk menjangkau hakikat Al-Haq (Allah subhanahu wa ta’ala). Hikmahnya adalah (untuk menunjukkan bahwa) akal memiliki kelemahan untuk menjangkau pengetahuan tentang makhluk yang dekat dengannya (yaitu ruh). Dengan demikian memberikan pengetahuan kepada akal bahwa menjangkau (pengetahuan) tentang Rabb-Nya lebih lemah lagi.” [Tafsir al-Qurthubi, 10/324]

      KETERBATASAN PENGETAHUAN DAN AKAL
      Akal merupakan salah satu nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang diberikan kepada manusia. Dengan akal seseorang mampu membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya dan mana yang mendatangkan kemudaratan. Dengan akal itu pula seseorang bisa memahami apa saja yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla dan hukum-hukum.

      Dengan akal, seorang manusia bisa memahami syariat dan melaksanakan perintah-Nya dengan penuh ketaatan dan ketundukan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

      لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ ٤
      “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

      Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata, “Tidak ada makhluk ciptaan Allah ‘azza wa jalla yang lebih baik daripada manusia. Allah ‘azza wa jalla menciptakan manusia dalam keadaan memiliki kehidupan, berilmu, memiliki kekuatan, memiliki kehendak, pandai berbicara, mendengar, melihat, pandai mengatur, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.” [Tafsir al-Qurthubi, 20/114]

      Namun ketika mereka tidak menggunakan akalnya untuk tunduk terhadap perintah Allah ‘azza wa jalla dan tidak mendengar peringatan-peringatan-Nya, bahkan mengerjakan apa yang diharamkan, maka Allah k mengembalikan mereka ke tempat yang paling buruk yaitu neraka Jahannam. Wal ‘iyadzu billah.

      Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

      أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ نُزُلَۢا بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٩ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖكُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ٢٠
      “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka jannah-jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasiq (kafir) maka tempat mereka adalah an-naar. Setiap kali mereka hendak keluar darinya mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka, ‘Rasakanlah siksa an-nar yang dahulu kamu mendustakannya’.” (QS. As-Sajdah: 19-20)

      Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala sering menyebutkan di dalam al-Qur’an bentuk pengingkaran terhadap orang-orang yang tidak menggunakan akalnya untuk berjalan di atas jalan Allah k dan mengikuti syariat yang telah diperintahkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

      أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤
      “Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajibanmu) sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

      كَذَٰلِكَ يُحۡيِ ٱللَّهُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٧٣
      “Demikianlah Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah: 73)

      وَإِذَا لَقُواْ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ قَالُوٓاْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمۡ لِيُحَآجُّوكُم بِهِۦعِندَ رَبِّكُمۡۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٧٦
      “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami pun telah beriman,’ tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata, ‘Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujahmu di hadapan Rabbmu; tidakkah kamu mengerti?’.” (QS. Al-Baqarah: 76)

      كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢٤٢
      “Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum hukum-Nya) supayakamu memahaminya.” (QS. Al-Baqarah: 242)

      وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٣٢
      “Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendagurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)

      Firman Allah subhanahu wa ta’ala lainnya yang menjelaskan bahwa orang yang tidak tunduk terhadap syariat-Nya, pada hakikatnya mereka adalah orang-orang yang tidak menggunakan akalnya pada tempat yang semestinya. Sebab akal merupakan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang terbatas kadar keilmuannya, yang seharusnya berada di bawah kekuasaan Allah Yang Mahasempurna dan Maha Berilmu terhadap segala sesuatu.

      Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Segala sesuatu yang diberitakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diimani dan penukilan (berita itu) sahih dari beliau tentang permasalahan yang (bisa) kita saksikan atau pun sesuatu yang (sifatnya) gaib. Kita mengetahui bahwa itu adalah kebenaran dan kejujuran, baik masuk akal maupun tidak, dan kita belum mengetahui hakikat maknanya.” [Lum’atul I’tiqad poin no. 55]

      MEMBANTAH SYARIAT DENGAN AKAL (Metode Orang Kafir)
      Sudah menjadi kebiasaan orang-orang kafir untuk selalu menolak apa yang datang dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya berupa berita-berita serta ancaman-Nya dengan akal mereka dan menyangka bahwa akal mereka di atas segalanya dalam menentukan keputusan. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan tentang orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan,

      وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ٧٨
      “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya, ia berkata, Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” (QS. Yasin: 78)

      Allah subhanahu wa ta’ala juga mengabarkan bahwa orang-orang kafir membantah apa yang dikabarkan kepada mereka tentang tauhid dengan akal mereka:

      أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ ٥
      “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shad: 5)

      Mereka pun membantah tentang kenabian dengan akal mereka,

      وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١
      Mereka berkata, “Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?” (QS. Az-Zukhruf: 31)

      Firman-firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lain, yang jika kita memerhatikan dengan saksama akan tampak bahwa sesungguhnya apa yang dilakukan oleh para pengikut hawa nafsu dari kalangan para penyembah akal seperti kaum filosof, Jaringan Islam Liberal, dan yang sejalan dengan mereka ini hanyalah mengikuti cara-cara nenek moyang mereka dalam ber-istidlal (mengambil dalil) untuk menolak al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menentang para rasul atau berita mereka dengan ma’qulat (sesuatu yang dianggap masuk akal) adalah metode orang-orang kafir.” [Mukhtashar ash- Shawa’iq al-Mursalah, hlm. 121]

      Ternyata kebiasaan nenek moyang mereka ini pun diwariskan kepada para penerus pemeluk kesesatan dan para pengekor hawa nafsu untuk memelihara keabadian dan kelestarian budaya setan tersebut beserta para anteknya. Mereka masih saja menjadikan akal mereka sebagai tolak ukur untuk menilai sesuatu benar atau tidak, bahkan sampai kepada tingkat menilai benar tidaknya perkataan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya dengan kedangkalan akal yang mereka miliki.

      Berikut ini beberapa contoh penolakan nash-nash dengan akal.

      1. Menolak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

      إِذّا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِي الْآخَرِ شِفَاءً
      “Apabila lalat jatuh ke salah satu tempat minum kalian maka hendaklah dia menenggelamkan (lalat tersebut) lalu mengangkatnya. Karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lain terdapat penawarnya.” [HR. al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu]

      Orang-orang berpenyakit ini pun berkata, “Hadits ini lemah karena bertentangan dengan penelitian para ahli (kesehatan) yang berkesimpulan bahwa pada lalat semuanya terdapat racun dan tidak ada penawarnya!”

      Sungguh suatu tindakan yang lancang dalam melemahkan hadits yang para ulama ahli hadits sepakat menerimanya hanya dengan alasan bertentangan dengan hasil penelitian? Apakah mungkin menolak hadits yang sifatnya qath’i (pasti) dengan penelitian yang masih bersifat zhanni (dugaan)? Sungguh ini merupakan suatu kebodohan yang nyata.

      2. Menolak kandungan hukum dari firman Allah subhanahu wa ta’ala,

      يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۚ
      “Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian (bahwa) bagi seorang laki-laki mendapat bagian dua kali wanita.” (QS. An-Nisa: 11)

      Orang-orang yang berpenyakit ini mengatakan bahwa ayat tersebut sudah tidak relevan karena sekarang sudah ada persamaan hak antara laki-laki dan wanita sehingga (dalam pembagian warisan) mereka harus mendapatkan bagian yang sama.

      Sungguh merupakan suatu tindakan yang sangat lancang terhadap ayat Allah Yang Maha adil dan Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Ayat yang muhkam (jelas) ini merupakan ayat yang terus berlaku pada setiap zaman dan tidak dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia atau adanya gerakan emansipasi yang terjadi di zaman tertentu. Semoga Allah k menyumbat mulut orang-orang yang melampaui batas!

      SIKAP PARA SAHABAT TERHADAP AKAL
      Para sahabat sebagai manusia termulia di antara umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling paham dalam menempatkan akal mereka. Disaat mereka diajak untuk bermusyawarah dalam membicarakan siasat pertempuran, mereka mengungkapkan berbagai siasat dengan kepandaian akal dan pengalaman yang mereka miliki, seperti yang terjadi pada Perang Badr dan Khandaq.

      Dalam perdagangan, dengan akal dan kepandaian yang mereka miliki dalam berjual beli mereka mampu melakukan__muamalah jual beli yang mendatangkan keuntungan berlipat tanpa harus berbuat curang. Dalam bercocok tanam, mereka ahli dalam mengembangkan hasil ladang dan tanaman sehingga membawa hasil yang melimpah.

      Namun dalam perkara yang telah menjadi ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul- Nya, tidak keluar dari lisan mereka kecuali pernyataan, “Kami dengar dan kami menaatinya!”

      Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

      إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُٱلۡمُفۡلِحُونَ ٥١
      “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orangorang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)

      Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang ketaatan kaum Muhajirin dan Anshar, walaupun dalam perkara yang mereka benci. Inilah perkataan mereka, dan sekiranya mereka kaum mukminin maka tentunya mereka pun akan mengatakan (seperti yang dikatakan oleh kaum Muhajirin dan Anshar), ‘Kami mendengar dan kami taat’.” [Tafsir al-Qurthubi, 12/294— 295]

      Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada kita semua menuju jalan yang lurus.

      Wallahul musta’an.


      Arti Dan Tafsir QS. Al-Haaqqa [69]:15-17


      Ketika keotentikan kabar dari bibel bahwa bumi berbentuk datar dan memiliki 4 sudut sebagai cerminan visualisasi dari "flat earth" diangkat ke permukaan, dan tentunya menjadi tertawaan pemirsa, maka Theos An-Naar, produsen Analisis Telek kita pun buru-buru menerbitkan tulisan berjudul PENJURU - PENJURU LANGIT berdasarkan terjemah Indonesia QS. 69:15-17 berikut tafsir-tafsir dalam bahasa Inggris dari Jalalain, Ibnu Abbas, Ibnu Kathir, dan Al-Tustari 

      Mungkin tulisan itu - lihat di sini atau di sini - dimaksudkannya sebagai "tandingan" menjawab dagelan bibel perkara "flat earth", bahwa menurut nalarnya yang payah, ternyata error serupa juga ditemui di dalam Al-Quran!

      Guna mengukuhkan anggapannya ini, dia menambahkan lagi informasi ekstra bahwa arti kata "arjāihā" yang tertulis sebagai "edge" dalam terjemah bahasa Inggris QS. 69:17 adalah TEPI, dengan menafikan arti lain yang juga "applied", yaitu UJUNG, atau BATAS AKHIR.  

      Blunder lagi!

      Perhatikan (1) Judul, (2) Pengantar, (3) Dalil Al-Quran, (4) Sorot Kata, (5) Tafsir, dan (6) Pembahasan; dalam konstruksi tulisannya yang seperti biasa; tidak pernah nyambung antara judul, konten, dan kesimpulan, alias seperti kata mang Tubagus Bontot dan om Andry Chakra dalam SS di sini; analisis teleknya selalu saja wira-wiri dari Pasar Senen, ke Pasar Rebo, lalu ke Pasar Minggu, lanjut  ke Pasar Baru, namun tetap saja berakhir NYUNGSEP di Pasar Induk!
      Puncaknya, sebagai bukti kenapa tulisannya ini, demikian pula semua tulisannya yang lain selalu kena stempel ANALISIS TELEK adalah karena dia melakukan logical fallacy cukup parah dengan mengaitkan informasi tentang 8 malaikat pengusung arsyi - yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kosmologi masyarakat purba - tentang bentuk bumi!
      Artinya, jika ditanya apa hubungan judul tulisannya PENJURU - PENJURU LANGIT dengan apa yang saya quote dalam kotak kuning di atas, saya yakin dia akan mengajak kita untuk mondar-mandir lagi dari satu pasar ke pasar lainnya karena bingung tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tulisannya sendiri!

      Kenapa?

      Karena QS. 69:15-17 bercerita tentang peristiwa luar biasa dahsyat pada hari kiamat di mana bentuk alam semesta ini sudah tidak jelas lagi akibat porak poranda dalam prosesnya menuju kehancuran massif yang paling akhir!

      Lantas kondisi ini ingin dikaitkannya dengan pemahamannya yang payah bahwa bentuk bumi - sejak awal hingga kiamat nanti - adalah datar?

      Gagal faham kronis!

      Perhatikanlah bagaimana sebenarnya QS. 69:15-17 itu harus dimaknai. Dan karena dalam konteks ini produsen ANALISIS TELEK kita selalu mengutip teks dalam bahasa Inggris, maka untuknya sengaja saya pilihkan terjemah bahasa Inggris dari Muhammad Picktal yang lumayan dikenal luas, berikut tafsir dari Al-Maududi yang dikenal lebih luas lagi sebagaimana tergambar di bawah ini.

      Coba perhatikan dengan seksama, adakah pembahasan yang menyiratkan kata "penjuru-penjuru langit" dalam seluruh narasi berikut?

      Saya kira yang sedikit ini sudah lebih dari cukup untuk mementahkan lagi segala bentuk usaha sutradara Dagelan Bakul Jamu yang masih belum kapok-kapok juga coba mencari celah kesalahan Al-Quran yang tentu saja mustahil akan dapat dibuktikannya!

      Semoga bermanfaat!
      Salam bagi umat yang mengikuti petunjuk!




      Al-Qur'an, Surah Al-Ikhlas


      KEUTAMAAN SURAT AL-IKHLAS

      Surat Al-Ikhlas memiliki banyak keutamaan, antara lain:
      Surat ini berisikan sifat Allâh Azza wa Jalla, orang yang mencintainya dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla.

      عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ رَجُلًا عَلَى سَرِيَّةٍ وَكَانَ يَقْرَأُ لِأَصْحَابِهِ فِي صَلَاتِهِمْ فَيَخْتِمُ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فَلَمَّا رَجَعُوا ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلُوهُ لِأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ فَسَأَلُوهُ فَقَالَ لِأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ
      Dari ‘Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seorang laki-laki memimpin sekelompok pasukan, (ketika mengimami shalat) dia biasa membaca di dalam shalat jama’ah mereka, lalu menutup dengan ”Qul huwallaahu ahad”. Ketika mereka telah kembali, mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka beliau berkata:  “Tanyalah dia, kenapa dia melakukannya!” Lalu mereka bertanya kepadanya, dia menjawab: “Karena surat ini merupakan sifat Ar-Rahmaan (Allâh Yang Maha Pemurah), dan aku suka membacanya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Beritahukan kepadanya bahwa Allâh mencintainya”. [HR. Al-Bukhâri, no. 7375; Muslim, no. 813]
      Sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân

      عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالُوا وَكَيْفَ يَقْرَأْ ثُلُثَ الْقُرْآنِ قَالَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ
      Dari Abud Darda’ dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda, “Apakah seseorang dari kamu tidak mampu membaca sepertiga al-Qur’ân di dalam satu malam?” Para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang (mampu) membaca sepertiga al-Qur’ân (di dalam satu malam)?” Beliau bersabda: “Qul Huwallaahu Ahad sebanding dengan sepertiga al-Qur’ân.”  [HR. Muslim, no. 811]
      Maknanya adalah bahwa kandungan al-Qur’ân ada tiga bagian:
      1) hukum-hukum, 2) janji dan ancaman, 3) nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . Dan surat ini semuanya berisi tentang nama-nama dan sifat-sifat Allâh Azza wa Jalla . [Majmu’ Fatawa 17/103]
      SEBAB TURUN SURAT AL-IKHLAS
      Sebab turun surat al-Ikhlâs ini adalah pertanyaan orang-orang kafir tentang Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana disebutkan di dalam hadits :
      عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
      Dari Ubayy bin Ka’ab Radhiyallahu anhu bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allâh menurunkan: (Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa). [HR. Tirmidzi, no: 3364; Ahmad, no: 20714; Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah 1/297. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani]
      Hadits ini menunjukkan bahwa surat al-Ikhlâs termasuk surat Makiyyah, dan nampaknya termasuk surat yang awal turun di kota Makkah.
      ARTI AYAT DAN TAFSIRNYA
      قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
      Katakanlah: “Dia-lah Allâh, yang Maha Esa”.
      Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yakni: Dia Yang pertama dan Esa, tidak ada tandingan dan pembantu, tidak ada yang setara dan tidak ada yang menyerupai-Nya, dan tidak ada yang sebanding (dengan-Nya). Kata ini tidak digunakan untuk menetapkan pada siapapun selain pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala , karena Dia Maha Sempurna dalam seluruh sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya”. [Tafsir Ibnu Katsir]
      Para Ulama penyusun Tafsir al-Muyassar berkata, “Katakanlah wahai Rasul, ‘Dia-lah Allâh Yang Esa dengan ulûhiyah (hak diibadahi), rubûbiyah (mengatur seluruh makhluk), asma’ was shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya), tidak ada satupun yang menyekutui-Nya dalam perkara-perkara itu”. [Tafsir al-Muyassar, 11/96]
      اللَّهُ الصَّمَدُ
      Allâh adalah ash-Shamad.
      Ash-Shamad adalah satu nama di antara Asmaul Husna yang dimiliki Allâh Azza wa Jalla . Penjelasan para Ulama Salaf tentang makna ash-Shamad berbeda-beda, tetapi semua perbedaan itu bisa diterima, karena maknanya tidak kontradiksi, bahkan saling melengkapi. Oleh karena itu  semua arti itu dapat ditetapkan pada diri Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Inilah keterangan para Ulama tentang makna ash-Shamad:
      • (Rabb) yang segala sesuatu menghadap kepada-Nya dalam memenuhi semua kebutuhan dan permintaan mereka. Ini pendapat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ikrimah.
      • As-Sayyid (Penguasa) yang kekuasaan-Nya sempurna; as-Syarîf (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna; al-‘Azhîm (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna; al-Halîm (Maha Sabar) yang kesabaran-Nya sempurna; al-‘Alîm (Mengetahui) yang ilmu-Nya sempurna; al-Hakîm (Yang Bijaksana) yang kebijaksanaan-Nya sempurna. Dia adalah Yang Maha Sempurna dalam seluruh sifat kemuliaan dan kekuasaan, dan Dia adalah Allâh Yang Maha Suci. Sifat-Nya ini tidak layak kecuali bagiNya, tidak ada bagi-Nya tandingan dan tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Maha Suci Allâh Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Ini pendapat Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu dari riwayat ‘Ali bin Abi Thalhah Radhiyallahu anhu.
      • Yang Maha Kekal setelah semua makhluk-Nya binasa. Ini pendapat al-Hasan dan Qatâ
      • Al-Hayyu al-Qayyûm (Yang Maha Hidup, Maha berdiri sendiri dan mengurusi yang lain), yang tidak akan binasa. Ini pendapat al-Hasan.
      • Tidak ada sesuatupun yang keluar dari-Nya dan Dia tidak makan. Ini pendapat ‘Ikrimah.
      • Ash-Shamad adalah yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Ini pendapat ar-Rabi’ bin Anas.
      • Yang tidak berongga. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ‘Atha bin Abi Rabbah, ‘Athiyah al-‘Aufi, adh-Dhahhak, dan as-Suddi.
      • Yang tidak memakan makanan dan tidak minum minuman. Ini pendapat asy-Sya’bi.
      • Cahaya yang bersinar. Ini pendapat Abdullah bin Buraidah
      Imam Thabarani rahimahullah berkata, “Semua makna ini benar, dan ini semua merupakan sifat Penguasa kita ‘Azza wa Jalla. Dia adalah tempat menghadap di dalam memenuhi semua kebutuhan, Dia adalah yang kekuasaan-Nya sempurna, Dia adalah ash-Shamad, yang tidak berongga, dia tidak makan dan tidak minum,  Dia adalah Yang Maha Kekal setelah makhlukNya (binasa)“.
      Dan imam al-Baihaqi juga berkata seperti ini. [Lihat semua keterangan di atas di dalam Tafsir Ibnu Katsir surat al-Ikhlas]
      Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah menyebutkan lima makna ash-Shamad, lalu berkata, “Perselisihan ini termasuk ikhtilaf tanawwu’ (perselisihan jenis) dalam ungkapan, bukan perselisihan dalam makna. Karena semua pendapat ini kembali kepada satu makna, yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya. Dan janganlah merisaukanmu pengingkaran sebagian khalaf terhadap sebagian makna-makna yang diriwayatkan dari Salaf ini, demikian juga anggapan mereka (khalaf) bahwa perkataan-perkataan Salaf ini tidak didukung oleh lughah (bahasa Arab). Karena itu adalah perkataan orang yang tidak memahami (kedudukan-pen) tafsir Salaf, dan dia tidak mengambil faedah ketetapan makna-makna lafazh lughah (bahasa Arab) dari tafsir salaf, Wallahu a’lam.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/201, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr]
      لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
      Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
      Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Yaitu: (Allah) ini Yang berhak diibadahi, Dia tidak dilahirkan sehingga akan binasa. Dia juga bukan suatu yang baru yang didahului oleh tidak ada lalu menjadi ada. Bahkan Dia adalah al-Awwal yang tidak ada sesuatupun sebelum-Nya, dan al-Âkhir yang tidak ada sesuatupun setelah-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyaar]
      وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
      Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
      Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada seorangpun yang menyamai-Nya dalam seluruh sifat-sifat-Nya”. [Syarh Aqîdah Wasitiyah, hlm. 114, penerbit. Dar Ibnu Haitsam]
      Syaikh Musa’id ath-Thayyâr hafizhahullah berkata, “Dan tidak ada tandingan yang menyamai-Nya dalam nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya.” [Tafsir Juz ‘Amma, 1/77, Syaikh Musa’id ath-Thayyâr]
      BANTAHAN ANGGAPAN “ALLAH MEMILIKI ANAK”
      Banyak sekali bantahan Allâh Azza wa Jalla di dalam kitab suci-Nya terhadap orang-orang yang  beranggapan bahwa Allâh memiliki anak, antara lain firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
      بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُنْ لَهُ صَاحِبَةٌ ۖ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
      Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.[Al-An’am/6: 101]
      Maksudnya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah pemilik dan pencipta segala sesuatu, maka bagaimana mungkin ada di antara makhluk-Nya yang menandingi-Nya. Allâh Maha Tinggi dan Maha Suci dari anggapan mereka itu.
      Sesungguhnya beranggapan bahwa Allâh memiliki anak merupakan celaan manusia kepada Allâh Yang Maha Kuasa, padahal mereka sangat tidak pantas mencela-Nya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ أَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ إِنِّي لَنْ أُعِيدَهُ كَمَا بَدَأْتُهُ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ أَنْ يَقُولَ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُؤًا أَحَدٌ
      Allâh berkata: “Anak Adam mendustakanKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Dia juga mencelaKu, padahal dia tidak pantas melakukannya. Adapun pendustaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku tidak akan menghidupkannya kembali sebagaimana Aku telah memulai penciptaannya. Sedangkan celaannya kepadaKu adalah perkataannya bahwa Aku memiliki anak, padahal Aku adalah Ash-Shamad, Aku tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara denganKu.” [HR. Bukhori, no. 4975]
      Karena besarnya dosa keyakinan Allâh Azza wa Jalla memiliki anak, maka hampir-hampir dunia ini hancur karenanya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
      وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَٰنُ وَلَدًا ﴿٨٨﴾ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا ﴿٨٩﴾ تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ﴿٩٠﴾ أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَٰنِ وَلَدًا
      Dan mereka berkata, “Rabb yang Maha Pemurah mempunyai anak”.  Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan bahwa Allâh yang Maha Pemurah mempunyai anak.  [Maryam/19: 88-91]
      Namun walaupun demikian besar dosa manusia itu, tetapi Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Sabar. Bahkan Dia tetap memberikan rizqi dan kesehatan sementara di dunia ini kepada orang-orang yang sangat lancang tersebut. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
      لَيْسَ أَحَدٌ أَوْ لَيْسَ شَيْءٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ
      Tidak ada seorangpun yang lebih sabar daripada Allâh terhadap gangguan yang dia dengarkan. Sebagian manusia menganggap Allâh memiliki anak, namun Dia tetap memberikan keselamatan/kesehatan dan memberi rizqi kepada mereka. [HR. Al-Bukhâri, no. 6099; Muslim, no. 2804]
      KANDUNGAN SURAT AL-IKHLAS
      Surat ini memuat berbagai kandungan dan faedah yang agung, antara lain:
      • Penetapan sifat ahadiyyah (keesaan) bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala .
      • Penetapan sifat shamadiyyah bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Yaitu sifat Allâh yang tidak membutuhkan perkara yang dibutuhkan oleh makhluk-Nya, karena kesempurnaan kekuasaan-Nya
      • Mengenal Allâh dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya[1].
      • Penetapan tauhid dan kenabian.
      • Kedustaan orang yang menganggap Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki anak.
      • Kewajiban beribadah kepda Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata, karena hanya Dia yang memiliki hak untuk diibadahi.[2]

      Inilah sedikit penjelasan tentang surat yang mulia ini, semoga bermanfaat.
      Wallahu A’lam.
      [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVII/1434H/2013M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
      ________
      Footnote
      [1] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi
      [2] Lihat, kitab Aisarut Tafâsîr, surat al-Ikhlâs, 1-5, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi



      Isa Alamsih jalan yang lurus (Tafsir QS. Az-Zukhruf 57-65)


      وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ (57) وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ (58) إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ (59) وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ (60) وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (61) وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (62) وَلَمَّا جَاءَ عِيسَى بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلأبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (63) إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (64) فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ (65) 

      Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata, "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan tatkala Isa datang membawa keterangan, dia berkata, "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku.” Sesungguhnya Allah, Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu. Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka; lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim, yakni siksaan hari yang pedih (kiamat).

      Allah Swt. berfirman, menceritakan tentang kebandelan orang-orang Quraisy dalam kekafirannya dan kesengajaan mereka bersikap ingkar dan mendebat Nabi Saw.

      {وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ}
      Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quarisy) bersorak karenanya. (QS. 43:57)

      Bukan hanya seorang telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. Mujahid, Ikrimah, As-Saddi, dan Ad-Dahhak, bahwa mereka tertawa, yakni merasa heran dengan perumpamaan tersebut. Qatadah mengatakan bahwa mereka merasa tekejut dengan perumpamaan itu, lalu tertawa. Ibrahim An-Nakha'i mengatakan bahwa mereka berpaling darinya.

      Latar belakang turunnya ayat ini seperti yang diketengahkan oleh Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab As-Sirah disebutkan bahwa menurut berita yang sampai kepadanya, pada suatu hari Rasulullah Saw. duduk bersama Al-Walid ibnul Mugirah di dalam Masjidil Haram. Lalu datanglah An-Nadr ibnul Haris yang langsung bergabung dengan mereka di majelis itu, dan di dalam majelis tersebut terdapat banyak lelaki dari kaum Quraisy.

      Maka Rasulullah Saw. membuka pembicaraan, tetapi pembicaraannya di tentang oleh An-Nadr ibnul Haris. Maka Rasulullah Saw. membalasnya hingga mengalahkannya, lalu beliau Saw. membacakan kepada An-Nadr ibnul Haris dan juga kepada mereka firman Allah Swt.:

      {إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ}
      Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. (QS. 21:98), dan beberapa ayat berikutnya.

      Kemudian Rasulullah Saw. bangkit, dan saat itu datanglah Abdullah ibnuz Zaba'ri At-Tamimi, lalu ikut bergabung ke dalam mejelis tersebut. Maka Al-Walid ibnul Mugirah berkata kepadanya, "Demi Allah, An-Nadr ibnul Haris tidak mau berdiri untuk anak Abdul Muttalib (maksudnya Nabi Saw.) dan tidak mau pula duduk (dengannya). Sesungguhnya Muhammad menduga bahwa kita dan apa yang kita sembah selain Allah ini akan menjadi umpan neraka Jahanam."

      Abdullah ibnuz Zaba'ri berkata, "Ingatlah, demi Allah; seandainya aku menjumpainya, niscaya aku debat dia. Tanyakanlah kepada Muhammad, 'Apakah semua yang disembah selain Allah dimasukkan ke dalam Jahanam bersama para pengabdinya?' Kita menyembah para malaikat, orang-orang Yahudi menyembah Uzair, dan orang-orang Nasrani menyembah Al-Masih Isa ibnu Maryam."

      Maka merasa heranlah Al-Walid bersama orang-orang yang ada di dalam majelis itu terhadap ucapan Abdullah ibnuz Zaba'ri, dan mereka berpandangan bahwa Abdullah ibnuz Zaba'ri telah mendebat dan mengalahkan alasan Muhammad.

      Lalu hal tersebut diceritakan kepada Rasulullah Saw, maka beliau Saw. bersabda:

      "كُلُّ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُعْبَدَ مِنْ دُونِ اللَّهِ، فَهُوَ مَعَ مَنْ عَبَدَهُ، فَإِنَّهُمْ إِنَّمَا يَعْبُدُونَ الشَّيْطَانَ وَمَنْ أَمَرَهُمْ بِعِبَادَتِهِ"
      Barang siapa yang senang dirinya disembah selain Allah, maka dia bersama dengan orang-orang yang menyembahnya. Dan sesungguhnya yang mereka sembah itu hanyalah setan dan orang-orang yang memerintahkan kepada  mereka untuk menyembahnya.

      Lalu turunlah firman Allah Swt.:
      {إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ}
      Sesungguhnya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka. (QS. 21:101)

      Yaitu Isa dan Uzair serta orang-orang yang disembah lainnya bersama keduanya dari kalangan para rahib dan para pendeta yang telah menjalani masa hidupnya dalam ketaatan kepada Allah Swt. Lalu oleh orang-orang yang sesudah mereka dari kalangan orang-orang yang sesat, mereka dijadikan sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

      Telah disebutkan pula di dalam Al-Qur'an yang mengisahkan bahwa mereka menyembah para malaikat yang mereka anggap sebagai anak-anak perempuan Allah, yaitu melalui firman-Nya:

      {وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ}
      Dan mereka bekata, "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Mahasuci Allah Sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. (QS. 21: 26)

      Disebutkan pula perihal Isa a.s, bahwa dia disembah selain Allah. Maka Al-Walid dan orang-orang yang ada di dalam majelis itu merasa kagum dengan hujah dan alasan yang dikemukakan oleh Abdullah ibnuz Zaba'ri.

      {وَلَمَّا ضُرِبَ ابْنُ مَرْيَمَ مَثَلا إِذَا قَوْمُكَ مِنْهُ يَصِدُّونَ}
      Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. (QS. 43:57)

      Yakni mereka menyoraki ucapanmu itu. kemudian disebutkan dalam firman selanjutnya perihal Isa a.s.:

      {إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ. وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ. وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ}
      Ia tiada lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau kami kehendaki. benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (QS. 43:59-61)

      Yakni mukjizat-mukjizat yang telah diberikan kepadanya, seperti menghidupkan orang-orang yang mati dan menyembuhkan segala macam penyakit; hal itu sudah cukup sebagai bukti yang menunjukkan akan pengetahuan tentang hari kiamat. Dalam firman berikutnya disebutkan:

      {فَلا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ}
      Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. 43: 61)

      Ibnu Jarir menyebutkan melalui riwayat Al-Aufi, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. (QS. 43:57) Yakni kaum Quraisy. Dan tatkala disebutkan kepada mereka firman-Nya: Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya. (QS. 21: 98), hingga beberapa ayat sesudahnya. Maka orang-orang Quraisy bertanya kepada Nabi Saw, "Siapakah Ibnu Maryam itu?" Rasulullah Saw. menjawab: Dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Mereka berkata, "Demi Allah, tiada yang dikehendaki oleh orang ini melainkan agar kita menjadikannya sebagai tuhan, sebagaimana orang-orang Nasrani menjadikan Isa putra Maryam sebagai tuhan yang disembah mereka." Maka Allah Swt. berfirman: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (QS. 43: 58)

      Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasym ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Razin, dari Abu Yahya maula Ibnu Aqil Al-Ansari yang mengatakan bahwa Ibnu Abbas r.a. pernah mengatakan, "Sesungguhnya aku mengetahui suatu ayat dari Al-Qur'an (makna yang dimaksud olehnya) tiada seorang pun yang menanyakannya kepadaku. Dan aku tidak mengetahui apakah orang lain telah mengetahuinya hingga mereka tidak menanyakannya, ataukah memang mereka tidak mengetahuinya yang karenanya mereka tidak menanyakannya?" Kemudian Ibnu Abbas r.a. melanjutkan pembicaraannya dengan kami, dan ketika ia bangkit meninggalkan kami, maka kami saling mencela di antara sesama kami, mengapa kami tidak menanyakan tentang ayat itu. Lalu aku (Abu Yahya) berkata, "Akulah yang akan menanyakannya besok." Dan pada keesokan harinya aku bertanya, "Hai Ibnu Abbas, kemarin engkau mengatakan bahwa ada suatu ayat Al-Qur'an yang tiada seorang pun menanyakannya kepadamu, sedangkan engkau tidak mengetahui apakah orang lain telah mengetahui (makna)nya ataukah mereka tidak mengetahuinya." Aku melanjutkan pertanyaanku, "Maka ceritakanlah kepadaku tentang ayat tersebut dan ayat yang telah engkau baca sebelumnya." Ibnu Abbas r.a. bersedia, lalu ia mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada orang-orang Quraisy:

      "يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ فِيهِ خَيْرٌ"
      Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya tiada seorang pun yang disembah selain Allah terdapat kebaikan pada dirinya.

      Dan orang-orang Quraisy telah mengetahui bahwa orang-orang Nasrani menyembah Isa putra Maryam dan pendapat mereka terhadap Muhammad Saw. Maka mereka mengatakan, "Hai Muhammad, bukankah engkau mengira bahwa Isa putra Maryam adalah seorang nabi dan hamba Allah yang saleh? Maka jika engkau benar, dia adalah tuhan mereka seperti apa yang dikatakan oleh mereka." Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. (QS. 43: 57) Aku bertanya, "Apakah arti yasiduna?" Ibnu Abbas menjawab, "Mereka tertawa karenanya." Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (QS. 43: 61) Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah munculnya Isa putra Maryam a.s. sebelum hari kiamat.

      Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ya'qub Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Asim ibnu Abun Nujud, dari Abu Ahmad maula Al-Ansar, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda: Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya tiada seorang pun yang di sembah selain Allah pada dirinya terkandung kebaikan. Maka mereka mengatakan kepadanya, "Bukankah engkau meyakini bahwa Isa putra Maryam adalah seorang nabi dan hamba Allah yang saleh yang juga disembah selain dari Allah? Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan, tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. (QS. 43:57)

      Mujahid sehubungan dengan ayat ini mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, orang-orang Quraisy mengatakan, "Sesungguhnya Muhammad menginginkan agar dirinya disembah oleh kita sebagaimana Isa disembah oleh kaumnya." Hal yang sama telah dikatakan oleh Qatadah.

      Firman Allah Swt.:
      {وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هُوَ}
      Dan mereka berkata, "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau dia?” (QS. 43: 58)

      Qatadah mengatakan bahwa orang-orang Quraisy mengatakan, "Tuhan-tuhan kami lebih baik daripada dia."

      Qatadah mengatakan bahwa Ibnu Mas'ud r.a. membaca ayat ini dengan bacaan berikut:

      "وَقَالُوا أَآلِهَتُنَا خَيْرٌ أَمْ هَذَا"
      Dan mereka berkata, "Manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan kami atau ini?”

      Yang mereka maksudkan adalah Muhammad Saw.

      Firman selanjutnya:
      {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا}
      Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja. (QS. 43: 58)

      Yakni dengan tujuan membantah, padahal mereka mengetahui bahwa Isa tidak termasuk ke dalam pengertian ayat, karena ungkapannya memakai kata yang ditujukan kepada yang tidak berakal alias benda mati, yaitu firman Allah Swt.

      {إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ}
      Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahanam. (QS. 21: 98)

      Kemudian khitab ini ditujukan kepada orang-orang Quraisy, dan mereka tiada lain hanyalah penyembah berhala-berhala dan tandingan-tandingan yang mereka ada-adakan. Mereka sama sekali bukan penyembah Al-Masih, dan itu tidak mungkin termasuk ke dalam pengertian ini. Karena itulah maka ucapan mereka tiada lain hanya semata-mata sebagai bantahan dari mereka, bukan berarti mereka meyakini kebenarannya.

      قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ، رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى: حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ أَبِي غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ، إِلَّا أُورِثُوا الْجَدَلَ"، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ}

      Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Namir, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Dinar, dari Abu Galib, dari Abu Umamah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tidak sekali-kali suatu kaum sesat sesudah mendapat petunjuk yang telah ada di kalangan mereka, melainkan akan diwariskan kepada mereka suka berbantah. Kemudian Rasulullah Saw. membaca firman-Nya: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (QS. 43: 58)

      Imam Turmuzi, Imam Ibnu Majah, dan Ibnu Jarir telah meriwayatkan hadis ini melalui Hajjaj ibnu Dinar dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih, kami tidak mengenalnya melainkan melalui riwayat Hajjaj ibnu Dinar. Demikianlah menurut apa yang dikatakannya.

      Hadis yang semisal diriwayatkan pula melalui jalur lain dari Abu Umamah r.a. dengan sedikit tambahan. Untuk itu Ibnu Abu Hatim mengatakan:

      حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَيَّاشٍ الرَّمْلِيُّ، حَدَّثَنَا مؤمَّل، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، أَخْبَرَنَا ابْنُ مَخْزُومٍ، عَنِ الْقَاسِمِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الشَّامِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ -قَالَ حَمَّادٌ: لَا أَدْرِي رَفَعَهُ أَمْ لَا؟ -قَالَ: مَا ضَلَّتْ أُمَّةٌ بَعْدَ نَبِيِّهَا إِلَّا كَانَ أَوَّلَ ضَلَالِهَا التَّكْذِيبُ بِالْقَدَرِ، وَمَا ضَلَّتْ أُمَّةٌ بَعْدَ نَبِيِّهَا إِلَّا أُعْطُوا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ: {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ}
      telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Iyasy Ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Muammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Makhzum, dari Al-Qasim ibnu Abdur Rahman As-Sami, dari Abu Umamah r.a. —Hammad mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apakah Abu Umamah me-rafa'-kan hadis ini atau tidak—disebutkan: Tidak sekali-kali suatu umat sesat sepeninggal nabinya, melainkan mula-mula kesesatan yang dilakukannya ialah mendustakan takdir. Dan tidak sekali-kali suatu umat sesat sepeninggal nabinya, melainkan mereka akan diberi berbantah-bantahan (suka membantah kebenaran). Kemudian Nabi Saw. membaca firman-Nya: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (QS. 43: 58)

      قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ أَيْضًا: حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبَّادٍ، عَنْ جَعْفَرٍ، عَنِ الْقَاسِمِ ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى النَّاسِ وَهُمْ يَتَنَازَعُونَ فِي الْقُرْآنِ، فَغَضِبَ غَضَبًا شَدِيدًا حَتَّى كَأَنَّمَا صُبَّ عَلَى وَجْهِهِ الْخَلُّ، ثُمَّ قَالَ: "لَا تَضْرِبُوا كِتَابَ اللَّهِ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ، فَإِنَّهُ مَا ضَلَّ قَوْمٌ قَطُّ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ"، ثُمَّ تَلَا {مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلا جَدَلا بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ}
      Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abdur Rahman, dari Ubadah ibnu Abbad, dari Ja'far, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah r.a. yang mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw. keluar menemui orang-orang yang saat itu sedang berbantah-bantahan mengenai Al-Qur'an. Maka beliau Saw. marah dengan kemarahan yang sangat sehingga seakan-akan seperti dituangkan cuka pada wajah beliau Saw, lalu beliau Saw. bersabda: Janganlah kalian mengadukan sebagian Kitabullah dengan sebagian yang lain. Karena sesungguhnya tidak sekali-kali suatu kaum sesat, melainkan diberikan kepada mereka suka membantah. Kemudian beliau Saw. membaca firman-Nya: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu, melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (QS. 43: 58)

      Adapun firman Allah Swt.:
      {إِنْ هُوَ إِلا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ}
      Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepada nya nikmat. (QS. 43: 59)

      Yakni tiada lain Isa adalah seorang hamba Allah Swt. yang telah diberi karunia kenabian dan kerasulan dari-Nya.
      {وَجَعَلْنَاهُ مَثَلا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ}
      dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. (QS. 43: 59)

      Yaitu sebagai bukti, alasan, dan keterangan yang menunjukkan kekuasaan Kami terhadap apa yang Kami kehendaki.

      Firman Allah Swt.:
      {وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ} أَيْ: بَدَلَكُمْ {مَلائِكَةً فِي الأرْضِ يَخْلُفُونَ}
      Dan kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. (QS. 43: 60)

      As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menjadi pengganti kalian di muka bumi.
      Ibnu Abbas r.a. mengatakan —juga Qatadah— bahwa makna yang dimaksud ialah sebagian dari mereka mengganti sebagian yang lain, sebagaimana sebagian dari kalian mengganti sebagian yang lain.

      Pendapat ini pada garis besarnya sama dengan pendapat yang pertama.
      Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah menjadi pengganti dari kalian dalam meramaikan bumi.

      Firman Allah Swt.:
      {وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ}
      Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (QS. 43: 61)

      Pada tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq sebelum ini telah disebutkan sebagian darinya, bahwa yang dimaksud ialah mukjizat yang diberikan oleh Allah Swt. kepada Isa, yaitu dapat menghidupkan orang mati, dapat menyembuhkan orang yang buta dan orang yang berpenyakit supak serta penyakit-penyakit lainnya. Tetapi pendapat ini masih perlu diteliti lagi.

      Tafsir yang terjauh ialah apa yang dikatakan oleh Qatadah dari Al-Hasan Al-Basri dan Sa'id ibnu Jubair, bahwa damir yang ada pada lafaz innahu kembali merujuk kepada Al-Qur'an, bahkan yang benar damir itu kembali kepada Isa a.s. karena konteks kalimat sedang membicarakan tentang dia. Kemudian yang dimaksud dengan maknanya ialah bahwa turunnya Isa adalah kelak sebelum hari kiamat, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

      {وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ}
      Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. (QS. 4: 159)

      Yakni sebelum Isa mati dengan sebenarnya.
      {وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا}
      Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka. (QS. 4:159)

      Pengertian ini diperkuat dengan adanya bacaan lain yang menyebutkan:
      {وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ}
      Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (QS. 43: 61)

      Yaitu sebagai tanda dan dalil yang menunjukkan akan terjadinya hari kiamat.

      Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. (QS. 43: 61) Artinya, pertanda akan terjadinya hari kiamat itu ialah munculnya Isa dekat sebelum kiamat.

      Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Abu Malik, Ikrimah, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.

      Telah disebutkan pula dalam sebuah hadis yang berpredikat mutawatir yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah memberitakan turunnya Isa a.s. sebelum hari kiamat sebagai seorang pemimpin yang adil lagi hakim yang adil.

      Firman Allah Swt.:
      {فَلا تَمْتَرُنَّ بِهَا}
      Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang hari kiamat itu. (QS. 43:61)

      Janganlah kalian meragukan hari kiamat, sesungguhnya hari kiamat itu pasti akan terjadi dan tidak terelakkan lagi.
      {وَاتَّبَعُونِ}
      dan ikutilah aku. (QS. 43:61)

      dalam semua apa yang kusampaikan kepada kalian.

      {هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ. وَلا يَصُدَّنَّكُمُ الشَّيْطَانُ}
      Inilah jalan yang lurus. Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan. (QS. 43:61-62)

      dari mengikuti jalan yang hak.

      {إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ. وَلَمَّا جَاءَ عِيسَى بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ}
      Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. Dan tatkala Isa datang membawa keterangan, dia berkata, "Sesungguhnya aku. datang dengan membawa hikmah.” (QS. 43:62-63)

      Yakni kenabian.
      {وَلأبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ}
      dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya. (QS. 43:63)

      Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah urusan agama, bukan urusan duniawi. Apa yang dikatakan oleh Ibnu Jarir ini baik lagi cocok. Kemudian Ibnu Jarir menjawab terhadap pendapat orang yang menduga bahwa lafaz ba’du sini bermakna kullun, lalu mengemukakan ucapan Labid seorang penya'ir sebagai dasar pegangan pendapatnya, yaitu:

      تَرّاك أمْكنَة إذَا لَمْ أرْضَها  أَوْ يَعْتَلق بَعْضَ النُّفُوسِ حمَامُها
      Aku musnahkan Seberapa tempat bila aku tidak menyukainya, atau kematian akan menimpa jiwa ini.

      Mereka menakwilkan lafaz ba’di sini dengan pengertian 'semua jiwa'.
      Ibnu Jarir membantah bahwa sesungguhnya yang dimaksud oleh penyair hanyalah jiwanya sendiri saja, lalu diungkapkan dengan kata ba’di. Pendapat Ibnu Jarir ini dapat diterima.

      Firman Allah Swt.:
      {فَاتَّقُوا اللَّهَ}
      maka bertakwalah kepada Allah. (QS. 43:63)

      Yakni dalam semua hal yang kuperintahkan kepada kalian untuk mengerjakannya.
      وَأَطِيعُونِ}
      dan taatlah (kepada) ku. (QS. 43:63)

      Yaitu dalam semua yang kusampaikan kepada kalian.

      {إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ}
      Sesungguhnya Allah, Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu. Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. (QS. 43: 64)

      Maksudnya aku dan kalian adalah hamba-hamba Allah lagi berhajat kepada-Nya, sama-sama diperintahkan untuk menyembah kepada-Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya.

      {هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ}
      ini adalah jalan yang lurus. (QS. 43:64)

      Apa yang kusampaikan kepada kalian ini adalah jalan yang lurus, yaitu menyembah Allah semata.

      Firman Allah Swt.:
      {فَاخْتَلَفَ الأحْزَابُ مِنْ بَيْنِهِمْ}
      Maka berselisihlah golongan-golongan (yang terdapat) di antara mereka. (QS. 43:65)

      Yakni beberapa golongan dari mereka berselisih pendapat sehingga jadilah mereka bercerai-berai tentangnya. Sebagian di antara mereka mengakui bahwa Isa adalah hamba dan rasul Allah, golongan inilah yang benar. Dan sebagian yang lain mengatakan bahwa dia adalah anak Allah; sebagian lainnya mengatakan bahwa dia itulah Allah, Mahasuci Allah lagi Mahatinggi dari ucapan mereka dengan ketinggian yang setinggi-tingginya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

      {فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ أَلِيمٍ}
      lalu kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang zalim, yakni siksaan hari yang pedih (kiamat). (QS. 43:65)



      [Sumber: Tafsir Ibnu Katsir